Anda di halaman 1dari 14

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam evolusi perkembangan pelayanan farmasi telah terjadi pergeseran orientasi
pelayanan farmasi dari orientasi terhadap produk menjadi orientasi terhadap kepentingan
pasien yang dilatarbelakangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan serta menguatnya tuntutan terhadap jaminan keselamatan pasien. Orientasi
terhadap kepentingan pasien tanpa mengesampingkan produk dikenal dengan konsep
Pharmaceutical Care. Dengan banyak ditemukannya masalah yang berkaitan dengan obat
dan penggunaannya; semakin meningkatnya keadaan sosio-ekonomi dan tingkat pendidikan
masyarakat; serta adanya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan kefarmasian yang
bermutu terutama di rumah sakit maupun di komunitas, Pharmaceutical Care merupakan
hal yang mutlak harus diterapkan.
Reaksi Obat Merugikan (ROM) atau Adverse Drug Reactio (ADR) merupakan suatu
kejadian yang tidak diharapkan dari pengalaman pasien akibat terapi obat potensial
mengganggu keberhasilan terapi yang diharapkan. Saat pasien menjalani suatu
pengobatan, beberapa memperoleh hasil yang tepat atau berhasil menyembuhkan
penyakit yang dideritanya. Namun tidak sedikit yang gagal dalam menjalani terapi,
sehingga mengakibatkan biaya pengobatan semakin mahal dan berujung pada kematian.
Reaksi Obat Merugikan (ROM) sering kali menyebabkan hambatan-hambatan
dalam pelaksanaan layanan kesehatan (health care).
Masalah reaksi obat yang merugikan dalam klinik tidak dapat dikesampingkan
begitu saja, oleh karena kemungkinan dampak negatif yang terjadi, misalnya kegagalan
pengobatan, timbulnya keluhan penderitaan atau penyakit baru karena obat (drug-
induced disease atau iatrogenic disease), yang semula tidak diderita oleh pasien,
pembiayaan yang harus ditanggung sehubungan dengan kegagalan terapi, memberatnya
penyakit atau timbulnya penyakit baru (dampak ekonomik).
Maka dari itu, saya mencoba menjelaskan melalui makalah ini mengenai jurnal yang
berasal dari negara India, yakni A Prospective Study on Adverse Drug Reactions of antibiotics
in A Tertiary Care Hospital atau studi tentang ROM yang nantinya diharapkan dilakukan
dalam pelayanan tersier di rumah sakit, dimana pelayanan kesehatan tersier adalah
pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan subspesialis serta subspesialis luas. Selain
itu, saya akan memaparkan apa perbedaan antara ADR dan efek samping obat (ESO).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa itu ADR?

1
2. Bagaimana peran apoteker dalam menanggulagi ADR?
3. Bagaimana studi ADR dari antibiotik yang diharapkan di rumah sakit pada jurnal
ini?
4. Apakah perbedaan ADR dan ESO?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui apa itu ADR
2. Mengetahui peran apoteker dalam menanggulangi ADR
3. Mengetahui studi ADR dari antibiotik yang diharapkan dilakukan di rumah sakit di
India
4. Mengetahui perbedaan ADR dan ESO

2
BAB II. ISI

2.1. ADR
Obat merupakan suatu bahan atau paduan bahan yang dimaksudkan untuk
digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka, atau kelainan badaniah dan rohaniah
pada manusia atau hewan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian
badan manusia. Masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat (Drug
Related Problem) salah satunya berkaitan dengan penggunaan reaksi obat yang tidak
dikehendaki (ROTD).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendefenisikan ROTD sebagai respon
terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan serta terjadi pada dosis lazim
yang dipakai oleh manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis, dan terapi. Perlu
digarisbawahi bahwa ROTD terjadi pada dosis normal, bukan karena kelebihan dosis
ataupun toksisitas , maupun penyalahgunaan obat.
Dalam abad terakhir banyak kemajuan telah dibuat untuk menemukan, menguji,
dan memasarkan obat-obatan yang menyembuhkan penyakit dan meredakan kesakitan.
Meskipun setiap upaya telah dilakukan oleh Industri Farmasi dan lembaga pengawasan
pemerintah terhadap keamanan dan keefektifan obat yang dipasarkan, semua obat
mempunyai kemungkinan menyebabkan kerugian/kerusakan dalam individu yang rentan.
Semua yang memanufaktur, mendispensing, menulis, mengawasi, dan menggunakan obat
mempunyai tanggungjawab untuk memastikan penggunaan yang tepat dan mengurangi
kemungkinan penyakit yang diimbas oleh obat.
ROTD dapat berentang dari reaksi relatif minor sampai reaksi hebat bergantung pada
ROTD yang toksisitasnya dapat atau tidak diperkirakan , digolongkan dalam Tipe A, Tipe B,
Tipe C, Tipe D, atau Tipe E.
Farmakovigilan adalah ilmu yang memadukan penemuan, pengkajian, pemahaman,
dan pencegahan efek yang tidak dikehendaki (merugikan) terutama pada terapi pengobatan
jangka panjang dan jangka pendek (WHO, 1972).
Monitoring ROTD melalui farmakovigilan sangat penting untuk keselamatan pasien
(Avery et al, 2011) dan memberikan jaminan atas khasiat obat (Lepakhin, 2002).
Penggolongan ROTD pada umumnya dibagi menjadi 2 kelompok, yakni :
1) Reaksi tipe A (Augmented) merupakan reaksi yang muncul secara berlebihan dimana
reaksi dg dosis obat yg diminum
2) Reaksi tipe B (Bizzare) merupakan rx yg aneh dan tidak terkait sama sekali dengan dosis

3
Ciri-ciri ROTD :
TIPE A
1. Dapat diramalkan dari pengetahuan farmakologisnya
2.Tergantung dosis
3.Mortalitas rendah
4.Dapat di tangani dengan pengurangan dosis
5.Angka kejadian tinggi
TIPE B
1.Tidak dapat diramalkan dari pengetahuan farmakologisnya
2.Mordibitas rendah
3.Mortalitas tinggi
4.Dapat di tangani hanya dengan penghentian pengobatan
5.Angka kejadian rendah
Faktor yg mempengaruhi ROTD antara lain :
1. Polifarmasi
Peresapan (prescribing) ini sering terjadi pada penderita lanjut usia atau pada
penderita yang mengalami beberapa penyakit sekaligus.
2. Jenis kelamin
Lebh sering terjadi pada wanita.
3. Kondisi penyakit yang diderita
Adanya penyakit lainygmenyertai dapat mempengaruhi respon obat dan munculnya
ROTD secara bermakna melalui perubahan proses farmakokinetik atau kepekaan jaringan.
4. Usia
Karena pasien tua lebih sering mendapat terapi Obat. Perubahan farmakokinetika
yang faktor tersebut sangat tergantung pada pada kondisi organ-organ tubuh penderita.
5. Ras dan polifarmasi genetika
Perbedaan secara genetika tampak dalam laju metabolism pada banyak obat
sehingga meskipun obat diberikan dg dosis yg sama dlm mg/kg akanmenghasilkan variasi
kadar yng sangat besar di dalam plasma pd pasien yg berbeda.
Guna menetapkan kemungkinan reaksi yang dicurigai dan disebabkan oleh suatu
obat tertentu, adalah mungkin berguna menetapkan suatu dengan kepastian
berdasarkan pedoman. Karch dan Lasgna membagi atas lima derajat kepastian, yaitu:

4
1. Pasti (Definite)
- Hubungan sementara yang jelas antara pemberian obat dan reaksi. Urutan waktu
pemberian obat dan terjadinya reaksi adalah wajar.
- Adanya penegasan laboratorium dan/atau
- Kejadian berhenti dengan menghentikan obat
- Kejadian kembali, dengan pemberian obat itu kembali - Kejadian itu berkaitan dengan
apa yang diketahui tentang obat.
2. Dapat Mungkin (Probable)
- Urutan waktu pemberian dan terjadinya reaksi adalah wajar
- Berkaitan dengan apa yang diketahui dari obat itu
- Perbaikan setelah penghentian obat jika tidak ada obat lain yang dihentikan
- Tidak secara wajar diterangkan oleh penyakit pasien
- Suatu reaksi yang tidak biasa dari obat dengan tidak hadirnya faktor lain
3. Mungkin (Possible)
- Urutan waktu pemberian dan terjadinya reaksi adalah wajar
- Berkaitan dengan apa yang diketahui dari obat itu
- Dapat merupakan akibat penyakit pasien atau terapi lain
- Sembuh setelah penghentian obat
- Hubungan sementara antara pemberian obat dan reaksi tidak jelas
4. Bersyarat (Conditional) ROTD bersyarat adalah :
- Suatu reaksi yang mengikuti rentetan sementara yang wajar dari pemberian obat
- Suatu reaksi yang tidak mengikuti pola respons yang telah diketahui dari obat yang
dicurigai
- Namun, tidak dapat dijelaskan dengan layak oleh karakteristik yang diketahui dari
status klinik pasien
5. Sangsi/ Ragu-Ragu (Doubtful)
ROTD yang meragukan ialah setiap reaksi yang tidak memenuhi kriteria tersebut di
atas.
Begitu ada gejala yang diduga sebagai ROTD, rincian tentang pengobatan pasien
perlu juga dimiliki termasuk obat bebas dan obat bebas terbatas (over-the-counter)
serta obat tradisional, jadi tidak hanya obat–obatan yang diresepkan oleh dokter saja. Ketika
menanggapi gejala yang disampaikan oleh pasien terdapat beberapa hal yang dapat
dinyatakan dengan tujuan untuk mengindentifikasi apakah terdapat reaksi yang berkaitan
dengan kemungkinan adanya ROTD. Hal hal tersebut adalah waktu, dosis, sifat
permasalahan, pengalaman, penghentian/ keterulangan.

5
2.2. Antibiotik
Antibiotika ialah zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi, yang dapat
menghambat pertumbuhan atau membasmi jenis mikroba lain.
Antibiotika ( latin : anti = lawan, bios = hidup ) adalah xzat-zat kimia yang dihasilkan
miro organisme hidup tertuam fungi dan bakteri ranah. Yang memiliki kahsiat mematikan
atau mengahambat pertumbuahn banyak bakteri dan beberapa virus besar, sedangkan
toksisitasnya bagi manusia relative kecil.
Beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel (penisilin dan sefalosforin) atau
membran sel (kleompok polimiksin), tetapi mekanisma kerja yang terpenting adalah
perintangan selektif metabolisme protein bakteri sehingga sintesis protein bakteri, sehingga
sintesis protein dapat terhambat dan kuman musnah atau tidak berkembang lagi misalnya
kloramfenikol dan tetrasiklin.
Golongan antibiotik :
1. Penisilin
Penisilin diperoleh dari jamur Penicilium chrysogeneum dari bermacam-macam jemis
yang dihasilkan (hanya berbeda mengenai gugusan samping R ) benzilpenisilin ternyata
paling aktif. Sefalosforin diperoleh dari jamur cephalorium acremonium, berasl dari
sicilia (1943) penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan cara menghambat sintesi
dinding sel.
2. Sefalosforin

6
Sefalosforin merupakan antibiotic betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat
sintesis dinding mikroba. Farmakologi sefalosforin mirip dengan penisilin, ekseresi
terutama melalui ginjal dan dapat di hambat probenisid.
3. Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik dengan spectrum luas. Penggunaannya semakin lama
semakin berkurang karena masalah resistansi.
4. Aminoglikosida
Aminoglokosida bersifat bakterisidal dan aktif terhadap bakteri gram posistif dan gram
negative. Aminasin, gentamisin dan tobramisin d juga aktif terhadap pseudomonas
aeruginosa. Streptomisin aktif teradap mycobacterium tuberculosis dan penggunaannya
sekarang hamper terbatas untuk tuberkalosa.
5. Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan antibiotic dengan spectrum luas, namun bersifat toksik. Obat
ini seyogyanya dicadangkan untuk infeksi berat akibat haemophilus influenzae, deman
tifoid, meningitis dan abses otak, bakteremia dan infeksi berat lainnya. Karena
toksisitasnya, obat ini tidak cocok untuk penggunaan sistemik.
6. Makrolid
Eritromisin memiliki spectrum antibakteri yang hamper sama dengan penisilin, sehingga
obat ini digunakan sebagai alternative penisilin. Indikasi eritremisin mencakup indikasi
saluran napas, pertusis, penyakit gionnaire dan enteritis karena kampilo bakteri.
7. Polipeptida
Kelompok ini terdiri dari polimiksin B, polimiksin E (= kolistin), basi-trasin dan gramisidin,
dan berciri struktur polipeptida siklis dengan gugusan-gugusan amino bebas. Berlainan
dengan antibiotika lainnya yang semuanya diperoleh dari jamur, antibiotika ini
dihasilkan oleh beberapa bakteri tanah. Polimiksin hanya aktif terhadap basil Gram-
negatif termasuk Pseudomonas, basitrasin dan gramisidin terhadap kuman Gram-positif.
8. Golongan Antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetka ini aktif te rhadap kuman mikobakterium.
Termasuk di sini adalah obat-obat anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin,
INH, dapson, etambutol dan lain-lain.

2.3. Bentuk Pelayanan Kesehatan


1. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (primer)
Pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan yang bersifat dasar dan dilakukan
bersama masyarakat dan dimotori oleh:
a. Dokter Umum (Tenaga Medis)
b. Perawat Mantri (Tenaga Paramedis)

7
Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan kesehatan
masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan, yang pertama kali diperlukan
masyarakat pada saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau kecelakaan. Primary
health care pada pokoknya ditunjukan kepada masyarakat yang sebagian besarnya
bermukim di pedesaan, serta masyarakat yang berpenghasilan rendah di perkotaan.
Pelayanan kesehatan ini sifatnya berobat jalan (Ambulatory Services).Diperlukan untuk
masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan
mereka atau promosi kesehatan.
Contohnya : Puskesmas, Puskesmas Keliling, Klinik.
2. Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua (sekunder)
Pelayanan kesehatan sekunder adalah pelayanan yang lebih bersifat spesialis dan
bahkan kadang kala pelayanan subspesialis, tetapi masih terbatas. Pelayanan kesehatan
sekunder dan tersier (secondary and tertiary health care), adalah rumah sakit, tempat
masyarakat memerlukan perawatan lebih lanjut (rujukan). Di Indonesia terdapat berbagai
tingkat rumah sakit, mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan rumah sakit kelas A.[3]
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:
a. Dokter Spesialis
b. Dokter Subspesialis terbatas
Pelayanan kesehatan ini sifatnya pelayanan jalan atau pelayanan rawat (inpantient
services).Diperlukan untuk kelompok masyarakat yang memerlukan perawatan inap, yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer.
Contoh : Rumah Sakit tipe C dan Rumah Sakit tipe D
3. Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga (tersier)
Pelayanan kesehatan tersier adalah pelayanan yang lebih mengutamakan pelayanan
subspesialis serta subspesialis luas.
Pelayanan kesehatan dilakukan oleh:
a. Dokter Subspesialis
b. Dokter Subspesialis Luas
Pelayanan kesehatan ini sifatnya dapat merupakan pelayanan jalan atau pelayanan
rawat inap (rehabilitasi). Diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasien yang sudah
tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder.
Contohnya: Rumah Sakit tipe Adan Rumah sakit tipe B.

8
2.4. Perbedaan ADR dan Efek Samping Obat
Adverse Drug Reaction / ADR didefinisikan sebagai reaksi yang tidak dikehendaki dan
bersifat merugikan akibat respon pemakaian obat pada dosis sesuai anjuran pada manusia
untuk keperluan terapi, profilaksis, diagnosis, maupun untuk modifikasi fungsi fisiologis.
Side Effect, yaitu berbagai efek yang tidak dikehendaki dari suatu obat yang terjadi
pada pemakaian dosis normal pada manusia, berkaitan kandungan zat pada obat tersebut.
Perbedaan antara keduanya adalah ADR pasti bersifat merugikan, sedangkan efek
samping memang sebagian tidak menghendaki munculnya efek ini tetapi sebagian lagi
menganggap efek samping ini bermanfaat bagi pasien. Misalnya, obat ini memiliki efek
samping mengantuk. Untuk pasien terutama pasien rawat inap, akan sulit untuk memiliki
waktu tidur yang nyenyak. Oleh karena obat ini pasien dapat tertidur pulas.

9
BAB III. PEMBAHASAN

Berdasarkan teori diatas, maka perlu rasanya untuk mencari tahu bagaimana
mekanisme studi prospektif ADR di rumah sakit tipe A maupun B yang notabene-nya adalah
rumah sakit yang mumpuni karena kemampuan dokter-dokter yang berada disana. Saya
mencoba untuk menganalisa jurnal India dimana jurnal ini membahas bagaimana studi
prospektif ADR khususnya antibiotik di rumah sakit yang mengadakan pelayanan kesehatan
tersier (rumah sakit tipe A dan B). Penelitian pada jurnal ini dilakukan selama 6 bulan dan
dilihat prospective spontaneuos reporting di rumah sakit tersebut. Penelitian menggunakan
Naranjo Scale.
Setelah penelitian selama 6 bulan, didapatkan fakta bahwa terdapat 49 kasus ADR
antibiotik yang terjadi disana. Peneliti mencoba menganalisa kasus berdasarkan umur, yakni
dewasa (25-50 tahun) dan geriatrik. Setelah dianalisa, peneliti mendapatkan data bahwa
usia dewasa lebih banyak persentasi kasus ADR yang terjadi dibandingkan geriatrik.
Sementara itu, berdasarkan sistem organ yang dipengaruhi, persentase terbesar terdapat
pada saluran cerna (GIT) dan kulit.
Berdasarkan pada jurnal, antibiotik yang paling banyak menyebabkan ADR ini terjadi
adalah sefalosporin sebesar 34,69% dan fluorokuinolon sebesar 30,16%. ADR yang terjadi
kebanyakan merupakan reaksi tipe A (59,18%). Untuk penilaian (assestment) keparahan,
didominasi dengan nilai moderate (63,26%), kemudian mild dan severe. Untuk derajat
kepastian, 71,42% probable, 18,36% possible dan definite 10,20%.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ADR dari antibiotik cukup banyak terjadi pada
rumah sakit yang mengadakan pelayanan kesehatan tersier dalam kurun waktu 6 bulan.
Kemungkinan terjadinya peningkatan cost percuma pun sangat tinggi di rumah sakit ini
akibat ADR ini dan menyebabkan pasien lebih lama berada di rumah sakit. Sistem kesehatan
di rumah sakit ini seharusnya mendukung pelaporan spontan ADR antibiotik, pengumpulan
dokumen, dan pelaporan secara periodik ke pusat farmakovigilance daerah untuk keamanan
penggunaan obat.
Pelaporan spontan yang diharapkan merupakan koleksi sukarela laporan ADR; dokter
dan apoteker diminta untuk melaporkan semua ADR serius diduga, dan semua reaksi diduga
produk baru. Skema pelaporan spontan ini tidak dapat memberikan perkiraan risiko karena
jumlah kasus yang sebenarnya adalah selalu diremehkan dan jumlah pasien yang dirawat
dengan obat tidak diketahui. Skema memberikan peringatan dini berharga atau sinyal dari
ADR. Beberapa keuntungan dari skema:
1. Hal ini mudah tersedia untuk semua dokter dan apoteker untuk melaporkan
2. Ini mencakup semua agen terapeutik, termasuk vaksin dan obat-obatan herbal

10
3. Hal ini mampu mendeteksi baik reaksi langka dan umum
4. Hal ini relatif murah untuk beroperasi.
Apoteker memiliki peran penting atau kontribusi dalam pencegahan, identifikasi,
dokumentasi dan pelaporan ADR.
 Identifikasi dan dokumentasi, apoteker Rumah Sakit harus selalu waspada untuk faktor
kemungkinan yang bisa menunjukkan ADR selama melakukan tinjauan rutin terhadap
resep.
Obat yang dapat digunakan untuk mengobati ADR:

Drug products Possible reason for use

Antacids GI side-effects of NSAIDs or other drugs


Laxatives Constipation from opioids or TCA
Antimuscarinics Parkinsonian side-effects from
antipsychotic or antidepressants
Antihistamines Allergic reactions such as rashes
Hydrocortisone cream Skin reactions
Topical skin preparations Skin reactions
Hydrocortisone injection Bronchospasm or cardiac shock

 Monitoring dan Pelaporan , Apoteker aktif dapat meningkatkan tingkat pelaporan,


mereka harus bertindak sebagai fasilitator dengan mendorong dokter untuk
melaporkan ADR.
 PENCEGAHAN , Karena banyaknya ADR yang hrs dicegah, bagian utama dari peran
apoteker dalam ADR harus mengurangi terjadinya masalah. Apoteker di semua cabang
profesi saat ini terlibat dalam meningkatkan penggunaan obat-obatan pada pasien
melalui :
- Mengidentifikasi potensi efek samping terapi obat
- Menghindari polifarmasi yang tidak perlu dengan mendorong dan melakukan
review terapi sudah ditentukan.
Review memungkinkan:
a. identifikasi obat-obatan tidak lagi diperlukan
b. orang-orang yang tidak memiliki indikasi yang jelas
c. mengungkapkan efek yang merugikan yang dapat dicegah dengan perubahan terapi
d. Duplikasi atau obat-obatan serupa.
- Memilih obat yang lemah tingkat beracunnya.
- Hati-hati mempertimbangkan kebutuhan dosis untuk setiap pasien

11
- Memastikan bahwa pemantauan obat terapeutik atau tes laboratorium lainnya
yang sesuai dilakukan.
- Memeriksa riwayat alergi atau reaksi obat sebelumnya.
- Memeriksa untuk interaksi obat dan memberikan saran tentang tindakan apa yang
harus mengambil; meningkatkan atau menurunkan dosis satu obat, pemantauan
pasien, mengganti satu obat dengan yang lain.
- Pendidikan pasien terhadap rejimen obat mereka, terutama bila pengobatan baru
dimulai.
- Mendorong pasien untuk menyelesaikan program obat dan obat-obatan yang tidak
terpakai dibuang untuk mencegah penimbunan dan berbagi obat.
- Mendorong pasien untuk melaporkan setiap gejala baru.
- Mempertanyakan pasien pada setiap terapi obat baru, termasuk obat non-resep.
- Memberikan nasihat kepada pasien diharapkan efek samping terapi dan kursus
yang aman dari tindakan yang harus mereka terjadi.
- Mengambil sejarah obat, yang dapat mengidentifikasi dampak buruk sebelumnya
atau alergi terhadap obat tertentu.
- Menyusun formularium dan menentukan protokol untuk memastikan pilihan yang
tepat obat, dan penggunaan yang tepat dalam situasi tertentu.
- Memberikan saran tentang menyederhanakan dosis dan regimen obat untuk
mendorong kepatuhan yang baik.
 Reaksi hipersensitivitas , reaksi hipersensitif yang kekebalannya ditengahi melalui
serangkaian langkah-langkah reproducible.

12
BAB IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan evolusi perkembangan pelayanan farmasi menjadi orientasi terhadap
kepentingan pasien tanpa mengesampingkan produk (Pharmaceutical Care), apoteker
bertanggung jawab dalam memberikan edukasi segala yang berhubungan tentang obat yang
patut diketahui oleh pasien demi terciptanya pengobatan yang rasional dan menghindari
adanya ADR yang dapat meningkatkan cost bagi pasien.
Pada jurnal ini, kasus ADR banyak terjadi pada orang dewasa dan antibiotik yang
banyak menyebabkan ADR adalah sefalosporin dan fluorokuinolon dengan penilaian
keparahan moderate dan derajat pemastian probable.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Penerbit EGC Kedokteran.


Katzung, Bethram G. 2002. Basic and Clinical Pharmacology 9th. USA: McGraw-Hill
Companies Inc.
Shamna, M., et all. 2014. A Prospective Study on Adverse Drug Reactions of Antibiotics in
Tertiary Care Hospital. Saudi Pharmaceutical Journal. India : King Saud University. vol
22 : 303-308

14