Anda di halaman 1dari 8

29

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut ini akan disajikan hasil penerapan jurnal tentang kegiatan pemberian
terapi reminiscence yang telah dilakukan pada pasien Demensia di ruang Bismo
dan Kenanga RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Hasil ini menyajikan
data sebelum dilakukan terapi reminiscence dan setelah dilakukan terapi
reminiscence yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2017 – 26 Juli 2017 dengan
jumlah 5 responden. Hasil penelitian ini berisi data umum dan data khusus yang
akan menguraikan tentang scoring MMSE dan tingkat Depresi sebelum dan
sesudah dilakukan terapi reminiscence.
4.1 Data Umum

Tabel 4.1 Data Umum Responden Terapi Reminiscence.

NO Nama Responden Usia Diagnosa Medis


Responden
1. Ny. S 65 Dimensia Vaskular
2. Ny. T 62 Dimensia
3. Ny. E 63 Dimensia
4. Tn. S 68 Dimensia
5. Ny. M 68 Dimensia Vaskular

Responden terapi reminiscence diikuti oleh 5 responden yang terdiri dari 4


responden perempuan dan 1 responden laki-laki. Rata-rata usia rersponden yaitu 65
tahun. Responden memiliki diagnose medis dimensia vascular sebanyak 2 responden
dan dimensia murni sebanyak 3 responden.

4.2 Hasil Pre-Post Terapi Reminiscence

Tabel 4.2 Hasil Pre-Post Terapi Reminiscence

No Inisial Skoring MMSE Skor Depresi


Pre-Test Post-Test Pre-test Post-test
1. Ny. S Nilai : 23 Nilai : 27 Nilai : 14 Nilai : 9
Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi :
Probable Normal Depresi normal
Gangguan
Kognitif
Meningkat Menurun
30

2. Ny. T Nilai : 21 Nilai : 25 Nilai : 14 Nilai : 12


Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi :
Probable Normal Depresi depresi
Gangguan
Kognitif
Meningkat Menurun
3. Ny. E Nilai : 23 Nilai : 26 Nilai : 14 Nilai:7
Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi :
Probable Normal Depresi normal
Gangguan
Kognitif
Meningkat Menurun
4. Tn.S Nilai : 22 Nilai : 23 Nilai : 14 Nilai : 10
Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi
Probable Probable Depresi Depresi
Gangguan Gangguan
Kognitif Kognitif
Meningkat Menurun
5. Ny. M Nilai : 22 Nilai : 23 Nilai : 14 Nilai : 13
Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi : Klasifikasi :
Probable Probable Depresi depresi
Gangguan Gangguan
Kognitif Kognitif
Meningkat Menurun
Keterangan :

a. semakin tinggi skor pada instrument MMSE menandakan bahwa kondisi


ingatan dan kognitif responden semakin baik
b. semakin tinggi skor pada instrument GDS menandakan bahwa responden
semakin mengalami depresi

Hasil aplikasi review jurnal yang dilakukan selama 3 hari pada tanggal 24
hingga 26 Juli 2017 tentang pengaruh terapi reminiscene terhadap tingkat kognitif
dan tingkat depresi yang dilakukan pada 5 lansia yang mengalami demensia
didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Ny. S mendapatkan skor Pre-Test MMSE Sebesar 23 Poin, setelah dilakukan terapi
reminiscene scoring MMSE meningkat menjadi 27 Poin. Sedangkan untuk scor
31

depresi pre-test Ny. S mendapatkan 14 poin setelah dilakukan terapi brain gym dan
puzzle mendapatkan 9 poin.
2. Ny. T mendapatkan skor Pre-Test sebesar 21 Poin, setelah dilakukan terapi
reminiscene scoring MMSE tetap 25 Poin. Sedangkan untuk scor depresi pre-
test Ny. T mendapat 14 poin setelah dilakukan terapi brain gym dan puzzle
berubah menjadi 12 poin.
3. Ny. E mendapatkan skor pre test sebesar 23 poin, setelah dilakukan terapi
reminiscene scoring MMSE tetap menjadi 26 poin. Sedangkan scor depresi
pre- test Ny. E mendapat 14 poin setelah dilakukan terapi brain gym dan
puzzle berubah menjadi 7 poin.
4. Tn. S mendapatkan skor pre test sebesar 22 poin, setelah dilakukan terapi
reminiscene scoring MMSE tetap menjadi 23 poin. Sedangkan scor depresi
pre- test Ny. E mendapat 14 poin setelah dilakukan terapi brain gym dan
puzzle berubah menjadi 10 poin.
5. Ny. M mendapatkan skor pre test sebesar 22 poin, setelah dilakukan terapi
reminiscene scoring MMSE tetap menjadi 23 poin. Sedangkan scor depresi
pre- test Ny. E mendapat 14 poin setelah dilakukan terapi brain gym dan
puzzle berubah menjadi 13 poin.

4.3 Pembahasan

Responden penelitian yang digunakan adalah sesorang dengan rata-rata usia


diatas 60 tahun sehingga responden yang digunakan merupakan responden
dengan usia lanjut. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang RI No.13 tahun
1998 pasal 1 ayat (2) (3) yang menyatakan bahwa seseorang yang disebut lansia
adalah laki-laki maupun perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih (Pudjiastuti,
2003).
Seluruh responden penelitian memiliki diagnose medis dimensia. Diagnose
medis lansia yang menjadi responden yaitu demensia vascular dan dimensia
alzaimer. Terdapat 2 responden yang mengalami dimensia vascular dan 2 orang
mengalami dimensia Alzheimer. Seluruh responden mengalami penurunan
kognitif dan daya ingat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat William F. Ganong
(2010), yang mengatakan bahwa demensia adalah penurunan fungsi intelektual
yang menyebabkan hilangnya independensi sosial. Seseorang yang mengalami
dimensia akan menyebabkan hilangnya fungsi intelektual dan memori yang
sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari. Demensia
merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya
32

pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari
(Nugroho, 2008). Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan
memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita Demensia
seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku
harian (behavior symptom) yang menganggu (disruptive) ataupun tidak
menganggu (non-disruptif) (Voicer. L., Hurley, A.C., Mahoney, E.1998).
Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat dimensia
yang dialami oleh responden yaitu menggunakan instrument Mini Mental State
Examination (MMSE). Berdasarkan hasil pre-intervensi yang dilakukan 5
responden mengalami peningkatan. Hasil yang didapatkan 5 responden
mengalami portable gangguan kognitif. Responden pada umumnya mengalami
kemunduran pada bebrapa aspek dalam MMSE namun tidak seluruhnya.
Sebagian besar responden tidak mampu mengingat tanggal dan hari serta ketidak
mampuan dalam berhitung. Menurut O’Bryant (2008), MMSE merupakan
instrument skrining dimensia pada pasien dengan gangguan dimensia untuk
mendapatkan data perubahan fungsi kognitif yang terdiri dari orientasi waktu ke
waktu, tempat, registrasi, atensi, kalkuklasi, pengulangan kata, penamaan benda,
menulis, dan menyalin gambar. Adapun klasifikasi dari instrument MMSE yaitu
skor 25-30: normal, 20-24: dimensia ringan, 13-19: demensia sedang, dan 0-12:
demensia ringan (Alzheimer’s association, 2007). Menurut Nugroho (2008),
stadium awal atau demensia ringan menunjukkan gejala kesulitan dalam
berbahasa, mengalami penurunan daya ingat secara bermakna, disorientasi waktu
dan tempat, kesulitan membuat keputusan, kehilangan inisiatif dan motivasi.
Selain dilakukan skrining MMSE juga dilakukan skrining Depresi pada lansia.
Instrument yang digunakan yaitu Geriatric Depression Scale (GDS). Hasil dari skrining
depresi menunjukkan bahwa 5 responden mengalami depresi. Hal ini terjadi bias
disebabkan oleh harga diri responden yang rendah dan kesedihan responden karena
berada di rumah sakit jiwa dan jauh dari keluarga. Hal tersebut juga bisa di perparah
dengan tidak adanya kunjungan keluarga secara rutin. Menurut Kemenkes RI (2010),
depresi merupakan gambaran klinis aspek perilaku yang terjadi pada kerusakan otak
selain agitasi, dapat terjadi karena adanya halusinasi, perilaku kekerasa, sulit tidur, dan
pada demensia terjadi wandering atau berjalan mondar mandir.
Menurut Rahayu (2014), mengatakan bahwa adanya penurunankualitas hidup
tersebut dapat memicu terjadinya depresi pada lansia dimensia. Depresi merupakan
gangguan mood yang disebabkan oleh adanya perasaan sedih, gangguan nafsu makan,
gangguan tidur dan gangguan kognitif (Potter, 2007). Menurut Steffens (2008), depresi
pada pasien demensia merupakan gejala klinis dari progrefisitas penyakit demensia.
33

Mackin dan Arean (2005, dalam Wheeler, 2008) menyatakan bahwa intervensi utama
untuk depresi pada lansia dapat diberikan Terapi Kognitif dan Perilaku atau Cognitif
Behavior Therapy (CBT), Reminiscence Therapy (RT) dan kombinasi Interpersonal
Psychotherapy (IPT) dan medikasi. Cole (2005, dalam Wheeler, 2008) juga menegaskan bahwa
Cognitif Behavior Therapy dan Reminiscence Therapy mempunyai potensi untuk mencegah
maupun mengatasi depresi pada lansia yang memiliki faktor risiko untuk mengalami depresi,
termasuk kesedihan, gangguan tidur, gangguan kronis, depresi dan gender wanita.
Reminiscence adalah proses mengingat kembali kejadian dan pengalaman masa lalu
(Johnson, 2005). Reminiscence Therapy adalah suatu terapi yang memberikan perhatian
terhadap kenangan terapeutik pada lansia (Webster, 1999, dalam Collins 2006).
Dalam kegiatan terapi ini, terapis memfasilitasi lansia untuk mengumpulkan kembali memori-
memori masa lalu sejak masa anak, remaja dan dewasa serta hubungan klien dengan
keluarga, kemudian dilakukan sharing dengan klien lain. Melalui terapi ini diharapkan
lansia akan mengenang kembali masa lalunya yang menyenangkan dan dapat meningkatkan
integritas diri lansia.
Reminiscence dipilih sebagai intervensi dalam mengurangi keparahan demensia dan depresi
karena melalui terapi Reminiscence lansia dapat mengingat masa lalunya melalui benda-benda
yang sering dijumpai dan digunakan. Terapi Reminiscence di lakukan menggunakan 4 sesi yang
terdiri dari sesi 1 bina hubungan saling percaya dan mengingatkan tentang peralatan masak, sesi 2
tentang mengingatkan alat transportasi yang pernah di gunakan pada zaman dahulu, sesi 3
mengingtakan tentang alat hiburan yang dahulu pernah di tonton, dan sesi 4 yaitu tentang alat
rumah tangga. Keempat sesi tersebut di lakukan pada hari:
A. Sesi 1: bina hubungan saling percaya dan mengingatkan tentang peralatan masak dilakukan
pada hari senin pada tanggal 24 juli 2017 pukul 16.00 WIB
B. Sesi 2: alat transportasi yang pernah di gunakan pada zaman dahulu dilakukan pada hari senin
pada tanggal 25 juli 2017 pukul 09.00 WIB
C. Sesi 3: alat hiburan yang dahulu pernah di tonton dilakukan pada hari senin pada tanggal 25
juli 2017 pukul 16.00 WIB
D. Sesi 4: alat rumah tangga dilakukan pada hari senin pada tanggal 26 juli 2017 pukul 16.00
WIB
Terapi Reminiscence memiliki proses dalam setiap sesinya yaitu perkenalan atau fase
orientasi, kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan gambar-gambar dalam setiap sesi,
selanjutnya responden menebak atau menyebutkan nama peralatan tersebut secara bergantian,
salah satu responden akan menceritakan pengalamannya tentang penggunaan alat-alat
tersebut, kemudian diberikan reinforcement positif pada setiap responden, sebagai
evaluasinya responden di minta untuk mengulang alat-alat yang telah di sebutkan tadi.
Berikut merupakan hasil yang didapatkan dari 4 sesi yaitu;

No Sesi Kegiatan Hasil Sesi Kegiatan

1. Sesi 1: 1 bina hubungan saling Pada sesi 1 seluruh responden mampu


percaya dan mengingatkan tentang menyebutkan nama, berkenalan, berjabat
peralatan masak tangan, dan ada kontak mata antara
responden dan peneliti. Pada sesi 1 Ny. S,
Ny. T, Ny. E, Tn. S, dan Ny. M mampu
menyebutkan seluruh gambar yang di
34

tunjukkan oleh peneliti yaitu teko, cobek,


dan tampah. Seluruh responden mampu
menyebutkan bahan yang digunakan dalam
pembuatan alat masak, seperti cobek yang
di buat dari kayu atau batu. Kemudian ke 5
reponden bercerita tentang pengalamannya
dalam menggunakan ke tiga peralatan
masak tersebut. Ke lima responden mampu
menceritakan kebiasaan menggunakan alat
masak tersebut di rumah, serta kelima
responden mampu mengungkapkan
perasaan dan mampu menyebutkan
kembali alat masak yang di bahas dalam
sesi 1.

2. Sesi 2: alat transportasi yang pernah Responden lupa akan nama peneliti yang
di gunakan pada zaman dahulu memberikan materi pada sesi 1. Sehingga
peneliti mengulang kembali perkenalan.
Sebelum sesi 2 di berikan 3 responden
mampu menyebutkan 2 alat masak yang
dibahas di sesi satu yaitu cobek dan
tampah, dan 2 responden tidak mampu
menyebutkan kembali peralatan yang di
bahas dalam sesi 1. Namun, setelah di
tunjukkan kembali gambarnya, responden
mampu menyebutkan nama alat tersebut.
Selanjutnya pada sesi 2 peneliti
menunjukkan alat transportasi yang pernah
digunakan, yaitu delman dan sepeda ontel.
Seluruh responden mampu menyebutkan
nama alat tersebut. Seluruh responden
mampu menceritakan pengalaman dalam
menggunakan alat transportasi tersebut.
serta kelima responden mampu
mengungkapkan perasaan dan mampu
menyebutkan kembali alat transportasi
yang di bahas dalam sesi 2.

3. Sesi 3: alat hiburan yang dahulu Responden lupa akan nama peneliti yang
pernah di tonton memberikan materi pada sesi 1 dan 2.
Sehingga peneliti mengulang kembali
perkenalan. Sebelum sesi 3 di berikan 4
responden mampu menyebutkan 2 alat
masak yang dibahas di sesi satu yaitu
35

cobek dan tampah, dan 1 responden tidak


mampu menyebutkan kembali peralatan
yang di bahas dalam sesi 1. Peneliti juga
mengevaluasi sesi 2 yaitu 3 responden
mampu menyebutkan alat transportasi yang
dibahas dalam pertemuan sesi 2, dan 2
responden lupa. Namun, setelah di
tunjukkan kembali gambarnya, responden
mampu menyebutkan nama alat tersebut.
Selanjutnya pada sesi 3 peneliti
menunjukkan alat hiburan yang pernah
digunakan, yaitu radio dan wayang.
Seluruh responden mampu menyebutkan
nama alat radio dan mampu menyebutkan
acara hiburan wayang Seluruh responden
mampu menceritakan pengalaman dalam
menggunaka tersebut. serta kelima
responden mampu mengungkapkan
perasaan dan mampu menyebutkan
kembali media hibutan yang di bahas
dalam sesi 3.

4. Sesi 4: alat rumah tangga Responden ingat 3 nama peneliti yang


memberikan materi pada sesi 1, 2, dan 3.
Sehingga seluruh peneliti mengulang
kembali perkenalan. Sebelum sesi 4 di
berikan 5 responden mampu menyebutkan
3 alat masak yang dibahas di sesi satu yaitu
cobek, teko dan tampah, dan 1 responden
tidak mampu menyebutkan kembali
peralatan yang di bahas dalam sesi 1.
Peneliti juga mengevaluasi sesi 2 yaitu 3
responden mampu menyebutkan alat
transportasi yang dibahas dalam pertemuan
sesi 2, dan 2 responden lupa. Evaluasi pada
sesi 3 yaitu 4 responden mampu mengingat
pembahasan materi yang di bahas pada sesi
3, dan 1 orang tidak mampu mengingat
sama sekali. Namun, setelah di tunjukkan
kembali gambarnya, responden mampu
menyebutkan nama alat tersebut.
Selanjutnya pada sesi 4 peneliti
menunjukkan alat rumah tangga yang
36

pernah digunakan, yaitu setrika, lampu


templek dan lesung. Seluruh responden
mampu menyebutkan nama alat tersebut.
Seluruh responden mampu menceritakan
pengalaman dalam menggunaka tersebut.
serta kelima responden mampu
mengungkapkan perasaan dan mampu
menyebutkan kembali alat rumah tangga
yang di bahas dalam sesi 4.

Pada tanggal 26 juli 2017 dilakukan post test menggunakan alat intrumen MMSE dan
GDS. Hasil yang didapatkan yaitu 5 responden mengalami peningkatan skoring dalam
instrument MMSE. Hal tersebut menandakan bahwa responden mengalami perbaikan ingatan.
Peningkatan skor terjadi karena adanya perbaikan dan latihan dalam mengingat. Hasil post tes
GDS mengalami penurunan skoring pada seluruh responden. Penurunan skoring menandakan
bahwa adanya penurunan dari depresi lansia. Hal tersebut terjadi karena adanya interaksi yang
dilakukan oleh lansia sesiap sesinya. Sehingga lansia memiliki kegiatan dan mampu
menyalurkan cerita masa lalunya.