Anda di halaman 1dari 28

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lanjut usia merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia (Budi Anna Keliat, 1999 dalam Maryam, dkk, 2008). Sedangkan
menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 tahun 1998 tentang kesehatan
dikatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari60 tahun (Maryam dkk, 2008). Menurut Undang-Undang RI No.13 tahun
1998 pasal 1 ayat (2) (3) tentang Kesejahteraan Lanjut Usia dinyatakan bahwa
yang disebut lansia adalah laki-laki maupun perempuan yang berusia 60 tahun
atau lebih. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu
proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan stres lingkungan (Pudjiastuti, 2003).
Proses penuaan penduduk tentunya berdampak pada berbagai aspek
kehidupan, baik sosial, ekonomi, dan terutama kesehatan. Fungsi organ tubuh
akan semakin menurun baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit
karena dengan semakin bertambahnya usia (Bureau, 2009). Proses penuaan sudah
mulai berlangsung sejak seseorang mencapai dewasa, misalnya dengan terjadinya
kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf dan jaringan lain sehingga
tubuh ‟mati‟ sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas,
pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang mulai menurun.
Menurut Nugroho (2012), saat ini diseluruh dunia jumlah lansia
diperkirakan lebih dari 625 juta jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60
tahun), pada tahun 2025, lansia akan mencapai 1.2 milyar. Usia makin bertambah,
maka otak juga mulai menua. Proses menua adalah proses alamiah yang akan
dialami semua makhluk hidup. Fenomena menua juga terjadi pada sel-sel otak.
Pada usia 70 tahun, bagian otak yang rusak bisa mencapai 5-10 % pertahun, hal
ini berakibat pada proses berfikir yang menjadi lamban, sulit berkonsentrasi dan
kemampuan daya ingat menurun (Widianti, et al, 2010).
Permasalahan yang sering dihadapi lansia seiring dengan berjalannya waktu,
yaitu terjadi penurunan berbagai fungsi organ tubuh (Bandiyah, 2009). Salah
satunya penurunan fungsi otak. Penurunan fungsi otak dapat menyebabkan
beberapa penyakit seperti gangguan neurologis, psikologis, delirium dan
demensia (Sarwono, 2010). Ada sekitar 46 juta jiwa yang menderita penyakit
dimensia di dunia, dan sebanyak 22 juta jiwa di antaranya berada di Asia. Di
2

negara maju seperti Amerika Serikat saat ini ditemukan lebih dari 4 juta orang
usia lanjut penderita dimensia. Angka ini diperkirakan akan meningkat hampir 4
kali pada tahun 2050. Hal tersebut berkaitan dengan lebih tingginya harapan
hidup pada masyarakat di negara maju, sehingga populasi penduduk lanjut usia
juga bertambah. Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk
terbanyak ke-4 di dunia (Depkes, 2016).
Selain dimensia depresi merupakan salah satu masalah yang juga dapat
muncul pada lansia. Depresi yang dialami oleh lansia diperkirakan nantinya
akan menambah masalah yang timbul dan akan dihadapi oleh lansia. Menurut
Segal, et al. (2009 dalam Syarniah, 2010) depresi pada lansia dapat
mengakibatkan munculnya penyakit fisik, penyalahgunaan obat, alkohol dan
nikotin, angka kematian yang lebih tinggi bahkan bunuh diri. Penurunan
fungsi fisik merupakan salah satu konsekuensi dari depresi yang dialami oleh
lansia (Blazer, et al.,2002; Mehta, et al., 2002, dalam Miller, 2004). Perubahan
pada lansia salah satunya perubahan fisiologis dapat menjadi pencetus
terjadinya depresi pada lansia (Blazer, 2002 dalam Miller, 2004 dalam Syarniah
2010). Miller (2004 dalam Syarniah, 2010) menyatakan bahwa ada
hubungan antara depresi yang terjadi pada lansia dengan perubahan pada
otak, sistem saraf dan sistem neuroendokrin. Sejauh ini, prevalensi depresi
pada lansia di dunia berkisar 8%-15% dan hasil meta analisis dari laporan negara-
negara di dunia mendapatkan prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah
13,5% dengan perbandingan wanita-pria 14,1:r8,6 (Evy, 2008). Menurut hasil
survey World Health Organizion (WHO) 1990) setiap tahunnya terdapat 100 juta
kasus depresi (Handajani, 2003). Diperkirakan dimasa mendatang (2020) pola
penyakit negara berkembang akan berubah, yaitu depresi berat uniipolar akan
menggantikan penyakit-penyakit saluran pernafasan bawah sebagai urutan teratas
(Amir,2005).
Berbagai terapi dilakukan untuk menangani depresi dan dimensia, seperti
senam otak, terapi musik, dan sebagainya. Terapi reminiscene juga merupakan
tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi otak untuk mengingat pada
lansia. Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) Reminiscence atau kenangan adalah
suatu kemampuan pada lansia yang dipandu untuk mengingat memori masa
lalu dan ‟disharingkan‟ (disampaikan) memori tersebut dengan keluarga,
kelompok atau staf. Meiner dan Lueckenotte (2006) menjelaskan bahwa Terapi
Reminiscence adalah suatu terapi pada lansia yang didorong (dimotivasi)
3

untuk mendiskusikan kejadian-kejadian masa lalu untuk mengidentifikasi


keterampilan penyelesaian masalah yang telah dilakukan mereka pada masa lalu.
Pada mini riset pada kali ini dilakukan tindakan reminiscene dengan
modifikasi bersama dengan dilakukanya terapi aktifitas kelompok untuk dimensia
dan depresi pada lansia.

1.2 Tujuan Umum


Mengaplikasikan jurnal penelitian pengaruh terapi reminiscene dan Puzzle
terhadap dimensia dan gangguan depresi pada lansia di Ruang Psikogeriatrik
Bismo dan Kenanga RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
1.3 Tujuan Khusus
1.3.1 Mengidentifikasi dimensia dan Depresi lansia sebelum terapi reminiscene
di Ruang Psikogeriatrik Bismo dan Kenganga RSJ. Dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang.
1.3.2 Mengidentifikasi dimensia dan Depresi lansia setelah terapi reminiscene di
Ruang Psikogeriatrik Bismo dan Kenganga RSJ. Dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang
1.3.3 Menganalisis pengaruh reminiscene di Ruang Psikogeriatrik Bismo dan
Kenganga RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


4

2.1 Konsep Lanjut Usia


2.1.1 Pengertian Lansia
Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia)
apabila usianya 65 tahun ke atas (Setianto, 2004). Menurut Undang-Undang RI
No.13 tahun 1998 pasal 1 ayat (2) (3) tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
dinyatakan bahwa yang disebut lansia adalah laki-laki maupun perempuan yang
berusia 60 tahun atau lebih. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap
lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan
tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan (Pudjiastuti, 2003). Kegagalan
ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
secara individual ( Effendi; Maryam, dalam Tobias, 2015.) Mengacu pada
beberapa pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa lansia merupakan
seseorang yang telah mencapai umur setidaknya 60 tahun atau lebih. Lansia
mengalami penurunan kemampuan tubuh seiring bertambahnya usia untuk
beradaptasi dengan stress baik fisik maupun lingkungan
2.1.2 Batasan Umur Lansia
Usia yang dijadikan patokan untuk lanjut usia berbeda-beda, umumnya
berkisar antara 60-65 tahun (Padila, 2013) Beberapa pendapat para ahli tentang
batasan umur lansia adalah sebagai berikut:
a. Menurut World Health Organization (2011) membagi lansia menjadi tiga
kriteria yaitu :
1) old, usia 60-74 tahun;
2) old-old, usia 75-84 tahun;
3) oldest-old, usia >85 tahun.
b. Menurut Hurlock (dalam Padila, 2013) membagi lansia menjadi dua kriteria
yaitu early old age, usia 60-70 tahun dan advanced old age, usia > 70 tahun.
c. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro (dalam Padila, 2013) membagi
usia menjadi tiga kriteria yaitu :
1) usia dewasa muda (elderly adulthood), usia 18/20-25 tahun;
2) usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, usia 25-60/65 tahun;
3) lanjut usia (geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut
usia (getiatric age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu
young old (70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun).
2.1.3 Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia berdasarkan
Depkes RI (2003) yang terdiri dari :
5

a. pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun;


b. lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih;
c. lansia resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 70 tahun atau lebi h
atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan;
d. lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa;
e. lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
2.1.4 Tugas Perkembangan Lansia
Merujuk pada tahap perkembangan Erikson (Santrock, 2002), usia lanjut
merupakan tahap fase integritas versus keputusasaan. Pada fase ini, individu
melihat kembali apa yang telah dilakukan dalam kehidupannya. Melalui jalan yang
berbeda, lansia telah mengembangkan harapan yang positif di setiap periode
sebelumnya. Pandangan tentang masa lalu (retrospective glances) dan kenangan
akan menampakkan suatu gambaran dari kehidupan yang dilewatkan dengan baik,
dan lansia akan merasa puas (integrity), namun jika lansia melalui satu atau lebih
tahapan-tahapan yang awal dengan suatu cara yang negatif (terisolasi di dalam
masa dewasa awal atau terhambat di masa dewasa tengah, misalnya), pandangan
tentang masa lalu akan menampilkan keragu-raguan, kemurungan, dan
keputusasaan terhadap keseluruhan nilai dari kehidupan seseorang (Santrock,
2002). MenurutBurnside (1979), Duvall (1977) dan Havighurst (1953) dikutip
oleh Potter & Perry (2005) dalam Azizah (2011), tugas perkembangan lansia
meliputi :
a. Menyesuaikan terhadap penurunan kekuatan fisik dan kesehatan
b. Menyesuaikan terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan
c. Menyesuaikan terhadap kematian pasangan.
d. Menerima diri sendiri sebagai individu lansia
e. Mempertahankan kepuasan pengaturan hidup
f. Mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang dewasa
g. Menentukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup
2.1.5 Proses Penuaan
Menjadi tua atau menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang
6

telah melalui tahap-tahap kehidupannya, yaitu neonatus, toddler, preschool,


school, remaja, dewasa dan lansia. Tahap berbeda ini dimulai baik secara
biologis maupun psikologis. (Padila, 2013) Aging process atau proses penuaan
merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh
setiap orang. Proses penuaan sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai
dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan
saraf dan jaringan lain sehingga tubuh ‟mati‟ sedikit demi sedikit.
Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan
seseorang mulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis alat tubuh
yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut
maupun saat menurunnya. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan
berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit
demi sedikit sesuai dengan bertambahnya usia (Mubarak et al, 2011).
2.1.6 Perubahan-Perubahan yang Terjadi Akibat Proses Penuaan
Menurut Nugroho (2000) perubahan yang terjadi pada lansia dapat
diklasifikasikan menjadi tiga bagian diantaranya adalah sebagai-berikut:
a. Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari tingkat sel
sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernapasan,
pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan suhu tubuh,
muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen. Pada
sistem persarafan terjadi rata-rata penurunan saraf neurokortikal sebesar 1 per
detik (Pakkenberg dkk, 2003), hubungan persarafan cepat menurun, lambat
dalam merespons baik dari gerakan maupun jarak waktu, khususnya dengan
stress (Nugroho, 2000).
b. Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor.
Perubahan-perubahan mental ini erat sekali hubungannya dengan perubahan
fisik, keadaan kesehatan, tingkat pendidikan atau pengetahuan, dan situasi
lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi mental
diantaranya:
1) Perubahan fisik;
2) Kesehatan umum;
3) Tingkat pendidikan;
4) Keturunan;
7

5) Lingkungan;
6) Tingkat kecerdasan. (Nugroho, 2000).
c. Perubahan Psikososial
Menurut Nugroho (2000) perubahan psikososial pada lansia terjadi terutama
ketika lansia memasuki masa pensiun. Lansia mengalami beberapa
perubahan keadaan seperti kehilangan sumber financial, kehilangan status
atau jabatan (post power syndrome), kehilangan teman atau relasi,
kehilangan pekerjaan atau kegiatan, dan merasakan kesadaran akan kematian
(sense of awareness of mortality).
2.1.7 Permasalahan Psikososial yang Terjadi pada Lansia
Menurut Maryam dkk (2008) masalah kesehatan jiwa yang sering timbul pada
lansia adalah: depresi, insomnia, paranoid, demensia dan ansietas. Depresi
merupakan masalah yang sering dihadapi oleh lansia. Kaplan dan Sadock
(1997dalam Azizah, 2011) mengungkapkan bahwa gejala depresi ditemukan pada
25% dari semua penduduk komunitas lanjut usia dan pasien rumah
perawatan (home nursing care). Kerentanan seorang lansia terhadap kejadian
depresi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal, namun multifaktorial, yaitu
faktor biologis, fisis, psikologis, dan sosial.

2.2. Konsep Demensia


2.2.1 . Pengertian
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi
kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada
intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi,
persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan bersosialisasi.
(Arif Mansjoer, 1999). Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa
gangguan fungsi vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum,
pikiran abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat
terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009).
Demensia adalah penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan hilangnya
independensi sosial. (William F. Ganong, 2010). Demensia adalah sindroma klinis
yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat
sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari. Demensia merupakan
keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain
yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari (Nugroho, 2008).
8

Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat
mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita Demensia seringkali menunjukkan
beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavior symptom)
yang menganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptif) (Voicer. L.,
Hurley, A.C., Mahoney, E.1998). Mengacu pada beberapa pernyataan diatas maka
dapat disimpulkan bahwa demensia adalah penurunan kemampuan mental yang
biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran,
penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi
kemunduran kepribadian. Penyakit yang dapat dialami oleh semua orang dari
berbagai latar belakang pendidikan maupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat
perawatan khusus untuk demensia, namun perawatan untuk menangani gejala
boleh dilakukan
2.2.2 Etiologi
Penyebab utama dari penyakit demensia adalah penyakit alzheimer, yang
penyebabnya sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit
Alzheimer disebabkan karena adanya kelainan faktor genetik atau adanya kelainan
gen tertentu. Pada penyakit alzheimer, beberapa bagian otak mengalami
kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap
bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan
jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan
protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi.
Penyebab kedua dari Demensia yaitu, serangan stroke yang berturut-turut.
Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan
atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap
menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan
akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut dengan infark. Demensia yang
disebabkan oleh stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian penderitanya
memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan
kerusakan pembuluh darah di otak.
Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi 3
golongan besar :
a. Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak dikenal
kelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara biokimiawi pada
sistem enzim, atau pada metabolism
b. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat diobati,
penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :
9

1) Penyakit degenerasi spino-serebelar.


2) Subakut leuko-ensefalitis sklerotik van Bogaert
3) Khorea Huntington
c. Sindoma demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati, dalam
golongan ini diantaranya :
1) Penyakit cerebro kardiovaskular
2) Penyakit- penyakit metabolik
3) Gangguan nutrisi
4) Akibat intoksikasi menahun
2.2.3 Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala dari Penyakit Demensia menurut Nugroho, (2008) antara
lain :
1. Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.
2. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
3. Gangguan kepribadian dan perilaku (mood swings).
4. Defisit neurologi dan fokal.
5. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang.
6. Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi, waham, dan paranoid.
7. Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)
8. Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.
9. Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian.
10. Lupa meletakkan barang penting.
11. Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting.
12. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa”
2.2.4 Klasifikasi Demensia
A. Menurut Kerusakan Struktur Otak
a. Tipe Alzheimer
Alzheimer adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mengalami
kematian sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan
sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer
mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan
juga penurunan proses berpikir. Sekitar 50-60% penderita demensia
disebabkan karena penyakit Alzheimer. Demensia ini ditandai dengan
gejala :
1) Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
2) Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia,
gangguan fungsi eksekutif,
3) Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
4) Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
5) Kehilangan inisiatif.
Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya
deteorisasi intelektual :
1) Stadium I (amnesia)
a) Berlangsung 2-4 tahun
10

b) Amnesia menonjol
c) Perubahan emosi ringan
d) Memori jangka panjang baik
e) Keluarga biasanya tidak terganggu
2) Stadium II (Bingung)
a) Berlangsung 2 – 10 tahun
b) Episode psikotik
c) Agresif
d) Salah mengenali keluarga
3) Stadium III (Akhir)
a) Setelah 6 - 12 tahun
b) Memori dan intelektual lebih terganggu
c) Membisu dan gangguan berjalan
d) Inkontinensia urin
b. Demensia Vascular
Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di
otak dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat
terjadinya demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak
akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat diduga
sebagai demensia vaskular.
Tanda-tanda neurologis fokal seperti :
1) Peningkatan reflek tendon dalam
2) Kelainan gaya berjalan
3) Kelemahan anggota gerak
B. Menurut Umur:
1) Demensia senilis ( usia >65tahun)
2) Demensia prasenilis (usia <65tahun)
C. Menurut perjalanan penyakit :
1) Reversibel (mengalami perbaikan)
2) Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma,
vit.B, Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb). Pada demensia
tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan meningkatnya cairan
serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :
a) Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret).
b) Inkontinensia urin.
c) Demensia.
D. Menurut sifat klinis:
1) Demensia proprius
2) Pseudo-demensia.

2.3 Konsep Depresi


2.3.1. Definisi Depresi
11

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang


berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,
anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan,
2010). Sue (1986 dalam Suprayitno, 2009 dalam Syarniah, 2010)
mendefinisikan depresi sebagai suatu keadaan emosi yang mempunyai
karakteristik seperti perasaan sedih, perasaan gagal dan tidak berharga, dan
menarik diri dari orang lain ataupun lingkungan.
Menurut Depkes RI (2007) gangguan depresi adalah gangguan psikiatri
yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis
yakni gangguan episode depresi, gangguan distimik, gangguan depresi mayor
dan gangguan depresi unipolar serta bipolar. Menurut beberapa pengertian
diatas maka dapat disimpulkan bahwa depresi merupakan suatu gangguan
kejiwaan yang berpusat pada alam perasaan suatu individu, yang sebagian
besar merupakan gangguan mood ditandai dengan perasaan sedih yang
berkepanjangan, perasaan gagal dan tidak berharga beserta gejala penyerta
lainnya yaitu, perubahan pola tidur, perubahan pola makan, konsentrasi
menurun, rasa putus asa dan gejala lainnya.
2.3.2 Faktor Predisposisi
Berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan
yang parah. Teori dan model berikut ini menunjukkan rentang faktor-faktor
penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinasi (Stuart, 2006)
a. Faktor genetik (genetic factor). Faktor genetik dianggap memengaruhi
transmisi gangguan afektif melalui riwayat keluarga dan keturunan.
b. Teori agresi yang ditujukan kepada diri (aggression turned inward
theory). Teori ini menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan
marah yang ditujukan kepada diri sendiri.
c. Teori kehilangan objek (object loss theory). Teori ini merujuk kepada
perpisahan traumatik individu dengan benda atau seseorang yang sangat
berarti.
d. Teori organisasi kepribadian (personality organization theory). Teori ini
menguraikan bagaimana konsep diri yang negative dan harga diri rendah
memengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap stressor.
12

e. Model kognitif (cognitive model). Model ini menyatakan bahwa depresi


merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang
terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan diri sendiri.
f. Model ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness model).
Model ini menunjukkan bahwa bukan semata-mata trauma yang
menyebabkan depresi, tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai
kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya, oleh karena itu ia
berhenti melakukan respons yang adaptif.
g. Model perilaku (behavioral model). Model ini berkembang dari kerangka teori
belajar sosial, yang mengasumsi penyebab depresi terletak pada
kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.
h. Model biologis (biological model). Model ini menguraikan perubahan kimia
dalam tubuh yang terjadi selama masa depresi, termasuk defisiensi
katekolamin, disfungsi endokrin, hipersekresi kortisol, disregulasi
neurotransmitter, dan variasi periodik dalam irama biologis
2.3.3 Tanda dan Gejala Depresi
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan
afektif dan mood) yang ditandai kemurungan, kesedihan, kelesuan,
kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, dan merasa tidak berdaya,
perasaan bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa (Yosep, 2009).
Gejala lain yang sering menyertainya adalah :
a. sulit konsentrasi dan daya ingat menurun;
b. nafsu makan dan berat badan menurun;
c. gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan) disertai mimpi-mimpi yang
tidak menyenangkan, misal mimpi orang yang sudah meninggal;
d. agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik);
e. hilang perasaan senang, semangat, dan minat, meninggalkan hobi;
f. kreativitas dan produktivitas menurun;
g. gangguan seksual (libido menurun);
h. pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) –
III yang merujuk pada ICD 10 (International Classification Diagnostic 10),
depresi dapat ditegakkan apabila gejala yang muncul adalah :
a. gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat)
1) afek depresif;
13

2) kehilangan minat dan kegembiraan;


3) berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah
lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan
menurunnya aktivitas.
b. gejala lainnya
1) konsentrasi dan perhatian berkurang.
2) harga diri dan kepercayaan diri berkurang.
3) gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
4) pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
5) gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.
6) tidur terganggu.
7) nafsu makan berkurang.
2.3.4 Dampak Depresi terhadap Lansia
Depresi yang dialami oleh lansia diperkirakan nantinya akan menambah
masalah yang timbul dan akan dihadapi oleh lansia. Menurut Segal, et al. (2009
dalam Syarniah, 2010) depresi pada lansia dapat mengakibatkan munculnya
penyakit fisik, penyalahgunaan obat, alkohol dan nikotin, angka kematian
yang lebih tinggi bahkan bunuh diri. Penurunan fungsi fisik merupakan
salah satu konsekuensi dari depresi yang dialami oleh lansia (Blazer, et al.,2002;
Mehta, et al., 2002, dalam Miller, 2004). Lansia yang mengalami depresi
juga akan lebih banyak keluhan fisik dan melaporkan kesehatan dirinya lebih
buruk (Han, 2002; Oxman, et al., 2000; Xavier, et al.,2002, dalam Miller 2004).
Meninjau dari sisi psikologis, Miller (2004) mengungkapkan bahwa depresi
pada lansia dapat menimbulkan perasaan cemas, iritabel, penurunan harga diri,
tidak ada perasaan atau perasaan kosong dan perasaaan negatif tentang diri
sendiri.
Sedangkan dari aspek sosial depresi ini akan mengakibatkan lansia
kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sosial dengan orang lain.
Dampak psikososial ini sangat berpengaruh terhadap motivasi lansia untuk
melakukan aktivitas dan interaksi dengan orang lain. Dengan demikian
lansia yang mengalami depresi dapat juga mengalami masalah sosial.
2.3.5 Psikopatologi Depresi pada Lansia
Perubahan- perubahan pada lansia salah satunya perubahan fisiologis
dapat menjadi pencetus terjadinya depresi pada lansia (Blazer, 2002 dalam
Miller, 2004 dalam Syarniah 2010). Miller (2004 dalam Syarniah, 2010)
14

menyatakan bahwa ada hubungan antara depresi yang terjadi pada lansia
dengan perubahan pada otak, sistem saraf dan sistem neuroendokrin.
Adanya disregulasi neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, asetilkolin
dan norepineprin juga menjadi faktor penyebab atau faktor yang
mempengaruhi terjadinya depresi.
Perubahan sistem neuroendokrin yang berperan terhadap terjadinya depresi
adalah penurunan kortisol dalam plasma, perubahan sekresi hormon
pertumbuhan (growth hormone), perubahan respon hormon tiroid dan
peningkatan aktivitas adrenal di kelenjar hipothalamus. Faktor predisposisi
lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya depresi pada lansia adalah
faktor genetik, perubahan fisiologis otak, dan gangguan irama sirkadian seperti
pola tidur (Syarniah, 2010)
Stres yang dialami oleh individu mengakibatkan hipersekresi kortisol yang
dapat mengakibatkan peningkatan pemecahan glukokortikoid untuk
pemenuhan glukosa, tetapi glukosa yang dihasilkan tidak dapat diabsorbsi
oleh sel hippocampus otak (bagian sistem limbik). Glukokortikoid yang
berlebihan juga menyebabkan terjadi kerusakan pompa kalsium pada sel
hippocampus sehingga sel mengalami kelebihan kalsium dan defisit glukosa.
Kalsium intrasel yang berlebihan menjadi faktor penyebab
kerusakan/kematian sel. Akibat defisit glukosa dan kalsium radikal intrasel
maka sel hippocampus mengalami kematian sel sehingga ukuran hippocampus
mengalami pengurangan. Dengan demikan fungsi hippocampus juga
terganggu dan berdampak pada defisit serotonin (5HIAA), dan norepinefrin.
Defisit serotonin mengakibatkan penurunan sekresi hormon pertumbuhan
(growth hormone), sekresi prolaktin, peningkatan Tiroid Stimulating Hormone
(TSH), dan peningkatan sekresi kortisol. Akibatnya individu mengalami
distress gastrointestinal, nyeri kronis atau intermitten, iritabel, palpitasi,
pusing, kehilangan energi, perubahan dorongan seksual, penurunan nafsu
makan atau gangguan tidur yang merupakan gejala dari depresi (Stuart & Laraia,
2005 dalam Syarniah, 2010). Norepinefrin berfungsi memberikan energi ke
tubuh untuk bergerak selama stress sehingga pada saat stress individu merasa
tidak ada energi (Videbeck, 2008 dalam Syarniah, 2010).
Psikopatologi depresi pada lansia menunjukkan bahwa penururnan kondisi
fisiologis dan akumulasi stress yang dialami lansia akan menjadi faktor pencetus
terjadinya depresi pada lansia. Aktivitas merupakan pencegahan yang efektif
15

dalam meminimalisir depresi (Kring et al, 2007). Penyebab depresi karena


ketidakmampuan melakukan fungsi-fungsi fisik tertentu, seperti
menggerakkan anggota tubuh bagian tertentu, sehingga lansia merasa tidak
mampu dan merasa tidak berdaya, lansia bereaksi dengan kemarahan terhadap
peristiwa kehilangan tersebut yang kemudian diarahkan kepada diri sendiri
sehingga menyebabkan penurunan harga diri dan terjadinya depresi
(Bramastyo, 2009). Keluhan yang dialami lansia secara fisik adalah, rasa
pusing, penurunan libido dan dorongan seksual, nyeri, ansietas dan gangguan
tidur. Keluhan psikologis yang dialami antara lain merasa sedih, kurang
bertenaga, merasa mudah lelah dan keluhan lain yang diikuti dengan penurunan
aktivitas motorik dan interaksi sosial (Syarniah, 2010).

2.3.6 Pemeriksaan Depresi pada Lansia


Untuk mengetahui tingkat depresi yang terjadi pada lansia maka perlu
dilakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandardisasi dan dapat
dipercaya serta valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada lansia
(Stanley &Beare 2006). Salah satu alat yang paling mudah untuk digunakan dan
diinterpretasikan di berbagai tempat adalah Geriatric Depression Scale
(GDS)(Yesavage dalam Padila, 2013). GDS poin dibuat sebagai alat
penapisan depresi pada lansia. GDS tersebut menggunakan format laporan
sederhana yang diisi sendiri dengan jawaban “ya” atau “tidak” dan dapat
dibacakan pada klien dengan gangguan penglihatan, serta memerlukan waktu
sekitar 10 menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan alat psikometrik dan
tidak mencakup hal-hal somatik yang tidak berhubungan dengan pengukuran
mood lainnya. Setelah pasien memberikan jawaban dalam pertanyaan-
pertanyaan yang terdapat dalam skrining ini, maka dilakukan penjumlahan
dan dikategorikan berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan dalam skrining
ini yaitu normal, depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat (Kurlowicz
& Greenberg, 2007).
Skala Geriatric Depresion Scale merupakan alat ukur depresi pada lansia
yang bersifat universal dan lebih akurat daripaa alat ukur depresi yang lain
(Ebersole, et al., 2005) Kuesioner ini memiliki 15 pertanyaan dan semua
pertanyaan dalam kuesioner ini berbentuk skala Likert, dengan pilihan
jawaban yang memiliki rentang nilai 0-1 yang hanya diketahui peneliti. Tingkat
depresi diperoleh dengan menjumlahkan seluruh jawaban responden dan
16

kemudian saat analisa hasil penelitian diklasifikasikan menjadi 4 kategori,


yaitu nilai 0-4 dikategorikan normal, nilai 5-8 dikategorikan depresi ringan,
nilai 9-11 dikategorikan depresi sedang dan nilai 12-15 dikategorikan depresi
berat.
2.4 Terapi Kelompok Reminiscence
2.4.1 Pengertian Terapi Kelompok Reminiscence
Kelompok adalah kumpulan individu dua orang atau lebih. Kelompok
dapat dikategorikan dengan berbagai cara, antara lain berdasarkan konseptual
dari kelompok tersebut, berdasarkan tujuan dan penanganan serta berdasarkan
jumlah dari anggota kelompok atau hubungan interpersonal anggotanya (Boyd &
Nihart, 1998). Reminiscence adalah terapi yang memberikan perhatian terhadap
kenangan terapeutik pada lansia (Webster, 1999 dalam Collins, 2006). Menurut
Bluck dan Levine (1998, dalam Collins, 2006) Reminiscence adalah proses
yang dikehendaki atau tidak dikehendaki untuk mengumpulkan kembali
memori-memori seseorang pada masa lalu. Memori tersebut dapat merupakan
suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah
terlupakan yang dialami langsung oleh individu. Kemudian memori tersebut
dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi atau ‟disharingkan‟ dengan orang
lain. Johnson (2005) mendefinisikan Reminiscence adalah proses mengingat
kembali kejadian dan pengalaman masa lalu, dan telah dibentuk sebagai suatu
topik utama baik dalam teori maupun aplikasi pada psikogerontologi.
Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) Reminiscence atau kenangan adalah
suatu kemampuan pada lansia yang dipandu untuk mengingat memori masa
lalu dan ‟disharingkan‟ (disampaikan) memori tersebut dengan keluarga,
kelompok atau staf. Meiner dan Lueckenotte (2006) menjelaskan bahwa Terapi
Reminiscence adalah suatu terapi pada lansia yang didorong (dimotivasi)
untuk mendiskusikan kejadian-kejadian masa lalu untuk mengidentifikasi
keterampilan penyelesaian masalah yang telah dilakukan mereka pada masa lalu.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Terapi
Kelompok Reminiscence adalah suatu terapi yang dilakukan pada lansia
secara berkelompok dengan cara memotivasi lansia untukmengingat kembali
kejadian dan pengalaman masa lalu serta kemampuan penyelesaian
masalahnya kemudian disampaikan dengan keluarga, teman kelompok atau staf.

2.4.2 Manfaat Terapi Kelompok Reminiscence


17

Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) Terapi Reminiscence bertujuan


untuk meningkatkan harga diri dan membantu individu mencapai kesadaran
diri dan memahami diri, beradaptasi terhadap stress dan melihat bagian
dirinya dalam konteks sejarah dan budaya. Sedangkan menurut Nussbaum,
Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher,
2003) Terapi Reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan
kelompok dan meningkatkan keintiman sosial.
Frisch dan Frisch (2006) juga menyatakan bahwa Terapi Reminiscence
bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan sosialisasi. Tujuan lain
dilakukannya Terapi Reminiscence adalah untuk meningkatkan fungsi
kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi prilaku (RIPFA, 2006). Boyd
dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam
Ebersole, et al., 2005) menyatakan bahwa Terapi Reminiscence bertujuan tidak
hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan
kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang
lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat
menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Terapi Kelompok
Reminiscence mempunyai potensi untuk menurunkan isolasi sosial,
memperbaiki fungsi kognitif dan depresi, dan meningkatkan harga diri,
perasaan berharga, keterampilan sosial dan kepuasan hidup (Chao, et al.,
2006; Lin, et al., 2003, dalam Parese, Simon & Ryan, 2008).
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa Terapi Kelompok
Reminiscenceyang diberikan pada lansia berguna untuk meningkatkan harga
diri dan perasaan tidak berharga, membantu lansia untuk mencapai
kesadaran diri, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap stress dengan
mengadopsi keterampilan penyelesaian masalah dimasa lalu serta meningkatkan
hubungan sosial lansia. Hal ini berarti Terapi Kelompok Reminiscence dapat
meningkatkan harga diri lansia, memulihkan perasaan ketidakberdayaan dan
keputusasaan serta meningkatkankemampuan sosial lansia dengan orang lain,
sehingga diagnosa keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan,
keputusasaan dan isolasi sosial pada lansia dengan depresi diharapkan dapat
teratasi.
2.5.3 Tipe Terapi Kelompok Reminiscence
Kennard (2006) mengkategorikan ada 3 tipe utama Terapi Reminiscence,
yaitu:
18

a. Simple atau Positive Reminiscence


Tipe ini untuk merefleksikan informasi dan pengalaman serta perasaan yang
menyenangkan pada masa lalu. Cara menggali pengalaman tersebut dengan
menggunakan pertanyaan langsung yang tampak seperti interaksi sosial
antara klien dan terapis. Simple Reminiscence ini bertujuan untuk membantu
beradaptasi terhadap kehilangan dan memelihara harga diri.
b. Evaluative Reminscence
Tipe ini lebih tinggi dari tingkatan pertama, seperti pada terapi life
review atau pendekatan dalam menyelesaikan konflik.
c. Offensive Defensive Reminiscence
Tipe ini dikatakan juga berkala, tidak menyenangkan dan informasi yang
tidak menyenangkan. Pada tipe ini dapat menyebabkan atau menghasilkan
perilaku dan emosi. Tipe ini juga dapat menimbulkan resolusi terhadap
informasi yang penuh konflik dan tidak menyenangkan.
Ketiga tipe Terapi Reminiscence tersebut dapat diaplikasikan dalam proses
kegiatan Terapi Kelompok Reminiscence.
2.4.4 Media dalam Terapi Kelompok Reminiscence
Media yang digunakan dalam kegiatan Terapi Reminiscence adalah benda-
benda yang berhubungan dengan masa lalu lansia. Menurut Collins (2006)
media yang dapat digunakan dalam kegiatan Terapi Reminscence adalah
Reminiscance kit (kotak yang diisi dengan berbagai barang-barang pada
masa lalu, majalah, alat untuk memasak, dan membersihkan), foto pribadi
masing-masing anggota, alat untuk memutar musik dan video, video dan
kaset, buku, pulpen, stimulus bau yang berbeda (seperti coffee, keju, cuka),
rasa (seperti coklat, jeruk, kulit pie dan lain-lain), dan bahan-bahan lain untuk
menstimulasi sensori sentuhan (seperti bulu binatang, wol dan flanel, pasir,
lumpur dan lain-lain). Media ini dapat pula digunakan untuk kegiatan
Terapi Reminiscence yang dilakukan secara berkelompok.
Benda-benda masa lalu ini digunakan sebagai media untuk membantu
lansia mengingat kembali masa lalunya berkaitan dengan benda tersebut.
Media ini diharapkan akan mempercepat daya ingat lansia untuk mengingat
kembali pengalaman masa lalunya yang berkaitan dengan benda tersebut
dan akan diceritakan pada orang lain sehingga proses dan tujuan terapi dapat
tercapai.
2.4.5 Pelaksanaan Terapi Kelompok Reminiscence
19

Menurut Kennard (2006) dan Ebersole, et al., (2005) Terapi Reminiscence


dapat diberikan pada lansia secara individu, pada keluarga maupun
kelompok. Pelaksanaan Terapi Reminiscence secara kelompok mempunyai
keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dilaksanakan secara individu.
Keuntungan yang dicapai apabila terapi ini dilaksanakan secara kelompok
adalah lansia akan mempunyai kesempatan untuk berbagi (sharing)
pengalaman dengan anggota kelompok, meningkatkan kemampuan
komunikasi dan sosialisasi lansia serta efisiensi biaya dan efektifitas waktu.
Selain media yang berkaitan dengan benda masa lalu lansia, perawat juga
memerlukan item pertanyaan yang berkaitan dengan masa lalu klien sesuai
dengan topik pada setiap pelaksanaan terapi. Beberapa pertanyaan yang
diajukan perawat untuk review kehidupan dan pengalaman lansia menurut
Haights (1989, dalam Collins, 2006) adalah terbagi dalam masa anak-anak, masa
remaja, keluarga dan rumah serta masa dewasa. :
a. Masa anak-anak
1. Hal apa yang pertama kali yang paling diingat selama hidup Saudara
?
2. Coba ingat jauh ke belakang semampu Saudara.
3. Hal apa lagi yang dapat diingat tentang masa kecil Saudara ?
4. Masa kecil yang seperti apa yang Saudara alami ?
5. Seperti apakah orang tua Saudara ? Apakah mereka orang tua yang keras
atau lemah ?
6. Apakah Saudara mempunyai kakak atau adik ? Ceritakan tentang mereka
satu persatu.
7. Apakah seseorang yang dekat dengan Saudara meninggal ketika Saudara
sedang tumbuh ?
8. Apakah orang yang penting bagi Saudara telah pergi? Dans eterusnya
b. Masa Remaja
1. Apa yang Saudara pikirkan tentang diri dan hidup Saudara sebagai
remaja, apa yang Saudara ingat pertama kali pada masa ini ?
2. Hal apa saja yang paling berkesan yang terekam di memori Saudara
sebagai seorang remaja ?
3. Siapa orang yang penting bagi Saudara saat itu ? Ceritakan pada
saya tentang mereka.
4. Apakah Saudara menghadiri tempat ibadah dan bagaimana dengan grup
20

Saudara ?
5. Apakah Saudara pergi ke sekolah ? Apa arti sekolah bagi Saudara ?
6. Apakah Saudara bekerja selama tahun ini ?
7. Ceritakan pada saya pengalaman-pengalaman tersulit selama masa remaja.
Dan seterusnya.
c. Keluarga dan rumah
1. Bagaimana selama ini orang tua Saudara menjalani kehidupan
perkawinan ?
2. Bagaimana orang lain dalam kehidupan keluarga Saudara selama ini ?
3. Bagaimana suasana di dalam keluarga Saudara sejak dahulu hingga
kini ?
4. Pernahkan Saudara mendapat hukuman saat kecil? Untuk apa?
5. Siapa yang memberikan hukuman ? Siapa yang menjadi ”Boss” pada saat
itu ? dan seterusnya
d. Masa Dewasa
1. Tempat apa yang menurut Saudara adalah tempat yang religius sepanjang
hidup Saudara ?
2. Sekarang saya ingin berbicara tentang hidup Saudara sebagai orang
dewasa, dimulai pada saat usia Saudara 20an. Ceritakan pada saya tentang
kejadian-kejadian penting yang terjadi selama usia dewasa Saudara.
3. Kehidupan mana yang Saudara sukai, ketika Saudara usia 20an
atau 30an ?
4. Orang seperti apakah diri Saudara sekarang ini ? Apakah Saudara
menikmatinya ?
5. Ceritakan tentang pekerjaan Saudara. Apakah Saudara menikmati
pekerjaan Saudara ? Apakah gaji yang Saudara dapatkan cukup untuk
hidup ?
6. Apakah hubungan Saudara dengan orang lain berjalan baik ?
7. Apakah Saudara menikah? (jika ya). Seperti apakah istri / suami Saudara ?
(jika belum) Mengapa belum menikah ?
8. Apakah Saudara pikir menikah lebih baik atau bahkan lebih buruk?
9. Apakah Saudara menikah lebih dari 1 kali ?
10. Secara keseluruhan apakah Saudara mendapatkan kebahagiaan atau tidak
dari perkawinan Saudara ?
11. Menurut Saudara apakah seks itu penting ?
21

12. Hal apa yang paling sulit Saudara temukan selama masa dewasa ini:
a) Apakah seseorang yang dekat dengan Saudara meninggal atau pergi ?
b) Pernahkah Saudara sakit atau mendapat kecelakaan ?
c) Apakah Saudara sering pindah tempat tinggal ? Sering pindah tempat
d) kerja ?
e) Apakah Saudara pernah merasa kesepian ? Merasa terbuang ?
f) Apakah Saudara pernah merasa diperlukan ?
e. Kesimpulan
1. Secara keseluruhan, Saudara pikir kehidupan seperti apa yang telah
Saudara dapatkan ?
2. Jika Saudara akan diberikan kesempatan untuk merubah hidup, apa yang
akan Saudara ubah ? Apa yang akan Saudara pertahankan ?
3. Kita sudah membicarakan tentang kehidupan Saudara beberapa saat tadi.
Mari kita diskusikan semua perasaan dan ide-ide Saudara tentang
kehidupan Saudara. Apa yang ingin Saudara katakan tentang tujuan
hidup ? (coba 3 tujuan dan mengapa ? ).
4. Setiap orang pernah merasa kecewa. Hal apa yang masih membuat
Saudara merasa kecewa dalam hidup ?
5. Dalam periode yang mana, kejadian yang membuat hidup Saudara
bahagia ? dan seterusnya
Terapi Kelompok Reminiscence dapat dilaksanakan dalam beberapa
pertemuan (sesi). Terapis dapat menentukan jumlah sesi yang akan digunakan
dalam kegiatan terapi tersebut. Collins (2006) menetapkan prosedur
pelaksanaan Terapi Reminiscence dalam 12 sesi konseling, yaitu :
a. Sesi 1: Sesi ini dimulai dengan leader (pemimpin kelompok)
memberikan pertanyaan untuk memecahkan suasana dan untuk beberapa
menit saling berbagi informasi satu sama lain untuk membentuk rasa
saling percaya dan kemudian menggunakan reminiscence kit (kotak yang
diisi dengan berbagai barang-barang pada masa lalu, majalah, alat untuk
memasak, membersihkan dan lain-lain), kelompok berdiskusi dan
menggali, partisipan akan diikutsertakan dalam aktivitas kelompok
dalam beberapa kegiatan dan berkomunikasi tentang memori tiap-tiap
benda masa lalu. Bagian kedua dari sesi berfokus pada bagaimana
individu, tempat dan kejadian dalam memori yang membentuk siapa
mereka saat ini.
22

b. Sesi 2:Gunakan format pertanyaan untuk life review dan pengalaman


(Haights, 1989, dalam Collins, 2006), pertanyaan dihubungkan dengan
periode perkembangan masa anak-anak yang akan dijelaskan dalam
kelompok. Anggota kelompok akan didorong untuk menggambarkan
bagaimana pengalaman tersebut memberikan efek pada kehidupan saat ini.
c. Sesi 3: Gunakan format pertanyaan untuk life review dan pengalaman
(Haights, 1989, dalam Collins, 2006), pertanyaan dihubungkan dengan
periode perkembangan masa remaja yang akan dijelaskan dalam
kelompok. Anggota kelompok akan didorong untuk menggambarkan
bagaimana pengalaman tersebut memberikan efek pada kehidupan saat ini.
d. Sesi 4: Gunakan format pertanyaan untuk life review dan pengalaman
(Haights, 1989, dalam Collins, 2006), pertanyaan dihubungkan dengan
periode perkembangan masa dewasa yang akan dijelaskan dalam kelompok.
Anggota kelompok akan didorong untuk menggambarkan bagaimana
pengalaman tersebut memberikan efek pada kehidupan saat ini.
e. Sesi 5: Gunakan format pertanyaan untuk life review dan pengalaman
(Haights, 1989, dalam Collins, 2006), pertanyaan dihubungkan dengan
keluarga dan keadaan rumah yang menjadi tujuan dalam kelompok. Anggota
kelompok akan didorong untuk menggambarkan bagaimana pengalaman
tersebut memberikan efek pada kehidupan saat ini.
f. Sesi 6: Gunakan foto-foto pribadi yang disediakan oleh anggota kelompok
sebagai media untuk diskusi dan eksplorasi kelompok, anggota
kelompok akan saling berbagi tentang fotonya dan kenangan yang
berhubungan dengan dirinya dan akan menggambarkan bagaimana
kenangan tersebut akan membentuk siapa dirinya pada saat ini.
g. Sesi 7: Gunakan topik: perjalanan yang dialami oleh anggota kelompok
yang dialami beberapa tahun yang lalu, kenangan yang timbul akan
diproses dan anggota kelompok dimotivasi untuk berbagi tentang apa yang
mereka pelajari dari perjalanan tersebut dan bagaimana akhirnya mereka
menjadi individu yang berbeda terkait dengan pengalaman ini.
h. Sesi 8: Gunakan videoklip film atau sinema yang bervariasi yang
dihubungkan dengan penuaan sebagai media diskusi dan eksplorasi
kelompok. Anggota kelompok didorong untuk berbagi pikiran dan perasaan
yang diperoleh dari melihat videoklip tersebut. Anggota kelompok akan
23

dimotivasi untuk berbagi tentang masalah yang tidak terselesaikan pada


masa lalu dan berlanjut hingga saat ini.
i. Sesi 9: Anggota kelompok akan diberi kesempatan untuk menulis atau
menggambar akhir dari sesi sebelumnya (sesi 8) yang menunjukkan
kenangan kebahagiaan atau kenangan yang menyedihkan. Pada sesi ini
anggota kelompok akan sharing kembali tentang tulisan maupun gambar
yang telah dibuat tadi.
j. Sesi 10: Gunakan musik dari generasi yang lalu sebagai media bagi
kelompok untuk berdiskusi dan eksplorasi, anggota kelompok akan
dimotivasi untuk berbagi tentang pikiran dan perasaan yang diperoleh
dari mendengarkan musik tersebut. Anggota kelompok akan dimotivasi
untuk berbagi tentang masalah yang tidak terselesaikan pada masa lalu dan
berlanjut hingga saat ini.
k. Sesi 11: Gunakan stimulus bau yang berbeda (seperti kopi, keju, cuka), rasa
(seperti coklat, jeruk, kulit pie dll), dan bahan-bahan lain untuk menstimulasi
sensori sentuhan (seperti bulu binatang, wol dan flanel, pasir, lumpur
dll), anggota kelompok akan diminta untuk mendiskusikan kenangan
yang berhubungan dengan sensori-sensori tersebut). Pada bagian kedua
dari sesi konseling anggota kelompok akan diminta untuk sharing
kembali dengan anggota kelompok lain apa yang mereka harapkan selama
proses kelompok ini.
l. Sesi 12: Gunakan format pertanyaan untuk life review dan pengalaman
(Haights, 1989, dalam Collins, 2006), desain pertanyaan merupakan
kesimpulan dari proses life review yang ditujukan pada anggota
kelompok. Kemudian anggota kelompok diberi kesempatan untuk sharing
dengan tiap anggota tentang apa yang mereka peroleh dan mereka
pelajari dari pengalaman sharing dalam kelompok.

Sesi yang digunakan dalam Terapi Kelompok Reminiscence kelompok ini


dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Sesi Terapi Kelompok Reminiscence


Sesi Tema Kegiatan Hasil Yang Diharapkan
1 1. Bina 1. Anggota saling Para anggota
Hubungan memperkenalkan diri dan memperkenalkan diri satu
saling berkenalan dengan anggota sama lain, dengan sangat
percaya lainnya hati-hati
24

antar 2. Menceritakan nama benda, melafalkan nama rekannya


anggota manfaat, bahan, cara dengan benar.
2. Alat masak penggunaan, kebiasaan Mereka mengatakan bersal
jaman serta pengalamannya dari
dahulu menggunakan alat masak mana
jaman dahulu Anggota kelompok
menyebutkan satu persatu
nama gambar alat masak: teko,
tampah, uleg dan cobek yang
ditunjukkkan oleh terapis dan
diminta menceritakan manfaat,
bahan yang digunakan untuk
membuat alat tersebut, cara
penggunaan, kebiasaan serta
pengalaman yang dilakukan
dengan alat masak tersebut
2 Transportasi Menceritakan nama benda, Anggota kelompok
jaman dahulu manfaat, bahan, cara menyebutkan satu persatu
penggunaan, kebiasaan serta nama gambar alat trasnportasi
pengalamannya jaman dahulu: dokar dan
menggunakan alat sepeda yang ditunjukkkan oleh
transportasi jaman dahulu terapis dan
dimintamenceritakan manfaat,
bahan yang digunakan untuk
membuat alat tersebut, cara
penggunaan, kebiasaan serta
pengalaman yang dilakukan
dengan transportasi tersebut
3 Alat rumah Menceritakan nama benda, Anggota kelompok
tangga jaman manfaat, bahan, cara menyebutkan satu persatu
dahulu penggunaan, kebiasaan serta nama gambar alat rumah
pengalamannya tangga jaman dahulu: Lesung,
menggunakan alat rumah setrika arang yang
tangga jaman dahulu ditunjukkkan oleh terapis dan
dimintamenceritakan manfaat,
bahan yang digunakan untuk
membuat alat tersebut, cara
penggunaan, kebiasaan serta
pengalaman yang dilakukan
dengan alat rumah tangga
tersebut
4 Kegiatan di Menceritakan nama benda, Anggota kelompok
malam hari saat manfaat, bahan, cara menyebutkan satu persatu
jaman dahulu penggunaan, kebiasaan serta nama gambar yang
pengalamannya melakukan menggambarkan kegiatandi
kegiatan di malam hari saat malam hari: lampu minyak,
jaman dahulu radio, wayang yang
ditunjukkkan oleh terapis dan
diminta menceritakan manfaat,
bahan yang digunakan untuk
membuat alat tersebut, cara
penggunaan, kebiasaan serta
pengalaman yang dilakukan
pada kegiatan di malam hari
25

BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konsep

Klien dengan dimensia

Klien mengalami gangguan kognitif


Klien mengalami gejala depresi

3.2 Deskripsi Kerangka Konsep


Jurnal ini diaplikasikan pada kelompok lansia yang mengalami
demensia. Lansia yang telah di diagnosa demensia tersebut digambarkan telah
mengalami penurunan fungsi kognitif diakibatkan karena demensia itu sendiri,
lalu dilakukan Pre-Test menggunakan instrument kuisioner MMSE dan GDS.
MMSE yang terdiri dari 11 item pertanyaan dengan skor total 30. Pertanyaan
ini dibagi menjadi 5 bagian yaitu orientasi, registrasi memori, atensi dan
kalkulasi, pengenalan kembali dan bahasa. Sedangkan GDS terdiri dari 15
soal untuk mendeteksi depresi pada penderita demensia.
Setelah didapatkan hasil Pre Test Scoring MMSE dan GDS, dilanjutkan dengan
pemberian perlakuan yaitu dengan Reminiscence Therapy.
Reminiscence Therapy merupakan terapi yang memberikan perhatian
terhadap kenangan terapeutik pada lansia. Memori tersebut dapat merupakan
suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah
26

terlupakan yang dialami langsung oleh individu. Kemudian memori tersebut


dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi yang diceritakan kepada orang
lain. Sehingga terapi ini merupakan suatu proses mengingat kembali kejadian
dan pengalaman masa lalu, dan telah dibentuk sebagai suatu topik utama baik
dalam teori maupun aplikasi pada psikogerontologi.
Terapi Kelompok Reminiscence adalah suatu terapi yang dilakukan pada
lansia secara berkelompok dengan cara memotivasi lansia untuk mengingat
kembali kejadian dan pengalaman masa lalu serta kemampuan penyelesaian
masalahnya kemudian disampaikan dengan keluarga, teman kelompok atau
staf. Sebelum dan sesudah diterapkan perlakuan, dilakukan Pre dan Post Test
untuk melihat keefektifan Terapi tersebut dapat berpengaruh atau tidak dalam
peningkatan Skor Post-Test.

3.3 Metode Penelitian


1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini (Aplikasi Jurnal) menggunakan desain eksperimen quasi
experimental design dengan menggunakan rancangan one group pre-post test.
Rancangan penelitian eksperimental yang digunakan adalah rancangan yang
sederhana dimana subjek penelitian terdiri dari satu kelompok sebagai sampel
penelitian. Sampel yang digunakan sebanyak 4 orang dengan diagnosa
Demensia Kemudian dilakukan

Pre : Alat ukur MMSE dan Geriatric Depression Scale (GDS)

Perlakuan : Reminiscence Therapy

Post : alat ukur Mini Mental State Exam (MMSE) dan


Geriatric Depression Scale (GDS)

Pengaruh terapi Reminiscence

MMSE Test dan GDS kemudian dibandingkan hasil skoringnya sebelum dan
sesudah penerapan terapi Reminiscence tersebut.
2. Sampel
Kriteria inklusi untuk dijadikan sampel adalah sebagai berikut :
a. Pasien yang kooperatif
b. Dapat membaca dan menulis
27

c. Pasien Telah dilakukan MMSE Test dan GDS


Kriteria eksklusi untuk dijadikan sampel adalah sebagai berikut :
a. Pasien tidak kooperatif
b. Pasien dengan gangguan pendengaran
c. Pasien dengan gangguan pengelihatan
3. Sampling
Tehnik sampling yang digunakan adalah Purposive sampling, yaitu
pengambilan sampel dengan tehnik penentuan sampel yang mengambil
berdasarkan anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi sebagai
responden atau sampel (Sugiyono, 2012). Jumlah sampel pada penelitian ini
berjumlah 5 responden.
4. Lokasi dan waktu penelitian
Lokasi Penelitaian (Aplikasi Jurnal) ini dilakukan di RSJ dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang, di ruang perawatan Psikogeriatri: Bismo dan
Kenanga. Waktu penelitian dilakukan selama 3 (tiga) hari, pada hari Senin,
tanggal 24 Juli 2017 sampai Hari Rabu, tanggal 26 Juli 2017.
5. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam aplikasi jurnal ini adalah :
a. Gambar (alat masak, kendaraan, alat rumah tangga, dan kegiatan malam
hari)
b. Instrumen Kuisioner MMSE
c. Instrumen GDS

3.4 Hipotesis Penelitian


Penerapan Terapi Reminiscence dapat berpengaruh terhadap tingkat kognitf
dan tingkat depresi pada lansia dengan Demensia.

3.5 Aplikasi Pelaksanaan Terapi Reminiscence di Ruang Bismo dan kenanga


RSJ Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang
Pelaksanaan terapi Reminiscence dilakukan pada tanggal 24 Juli 2017
sampai Hari Rabu, tanggal 26 Juli 2017. Adapun pasien yang digunakan sebagai
sampel dalam mengikuti terapi Reminiscence adalah 5 orang dengan demensia
yang berada di ruang Kenanga dan Bismo. Pelaksanaan dilakukan pada jam
08.15 dan jam 09.00 WIB. Pasien sebelumnya dikontrak waktu selama 45 menit
untuk melakukan terapi Reminiscence.
Terapi Reminiscence dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut,
pertama perawat menguji pasien yang sudah memenuhi kriteria inklusi dengan
MMSE (Mini Mental State Exam) dan Geriatric Depression Scale (GDS). Setelah
didapatkan hasil perawat menunjukkan beberapa gambar. Kemudian responden
28

diminta menyebutkan nama benda tersebut dan menyebutkan fungsinya.


Responen kemudian diminta menceritakan kenangan masa lalunya terkait
pengalaman responden sesuai gambar yang ditunjukkan. Setelah terapi selesai,
dilakukan pengukuran kembali dengan menggunakan instrumen MMSE dan
GDS