Anda di halaman 1dari 50

85

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab 5 menguraikan tentang hasil dan pembahasan mengenai hubungan

gaya asuh dan struktur kekuatan keluarga dengan risiko penyalahgunaan NAPZA:

alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.

Alkohol merupakan salah satu jenis zat adiktif yang bersifat depresan dan dapat

memabukkan. Alkohol yang digunakan tidak sesuai dengan indikasi medis atau

kesehatan merupakan suatu hal yang berisiko terhadap penyalahgunaan zat.

Penelitian dilaksanakan di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten

Jember. Tingkat sekolah menengah atas dan sederajat di Kecamatan Kalisat ini

terbagi menjadi dua status, yaitu negeri dan swasta. Sekolah yang digunakan

dalam penelitian ini terletak di enam Desa, yaitu Desa Gumuksari, Glagahwero,

Kalisat, Patempuran, Plalangan, dan Gambiran. Siswa baik dari sekolah negeri

atau pun swasta mayoritas merupakan suku Madura. Selain itu, siswa tidak hanya

berdomisili dari Kecamatan Kalisat, yang berarti bahwa juga terdapat siswa yang

berasal dari luar Kecamatan Kalisat, seperti dari Kecamatan Pakusari, Sukowono,

Sumberjambe, Jelbug, Arjasa, dan lainnya. Beberapa sekolah swasta yang berasal

dari yayasan merupakan sekolah yang dilingkupi dengan lingkungan pesantren.

85
86

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Analisa Univariat

Data univariat dalam penelitian ini meliputi karakteristik responden dan

variabel penelitian. Data karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin,

kelas, suku, pekerjaan orangtua, pendidikan orangtua, dan pendapatan orangtua

siswa SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Variabel penelitian

meliputi gaya asuh orangtua, struktur kekuatan keluarga, dan risiko

penyalahgunaan alkohol siswa SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten

Jember.

a. Gambaran Karakteristik Responden di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember

Data karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia, jenis

kelamin, kelas, suku, pekerjaan orangtua, pendidikan orangtua, dan pendapatan

orangtua siswa SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Hasil

penelitian karakteristik responden adalah sebagai berikut.

1) Usia

Distribusi berdasarkan usia remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember Tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat


Kabupaten Jember Tahun 2016 berdasarkan dengan usia (n=249).
Variabel Mean Median Modus SD Minimum-
maksimum
Usia 16,6 17 16 0,865 15-19

Sumber: Data Primer, April 2016


87

Hasil analisis berdasarkan tabel 5.1 didapatkan data bahwa rata-rata usia

remaja adalah 16,6 tahun dengan nilai tengah yaitu usia 17 tahun. Usia remaja

yang paling banyak yaitu 16 tahun dengan standar deviasi 0,865 tahun. Usia

termuda yaitu 15 tahun dan usia tertua 19 tahun.

2) Jenis Kelamin, Suku, Pekerjaan Orangtua, Pendidikan Orangtua, dan

Pendapatan Orangtua Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember

Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat


Kabupaten Jember Tahun 2016 berdasarkan dengan Jenis Kelamin, Kelas,
Suku, Pekerjaan Orangtua, Pendidikan Orangtua, dan Pendapatan Orangtua.
No Karakteristil Responden Frekuensi Persentase (%)
1 Jenis Kelamin
Laki-laki 184 73,9
Perempuan 65 26,1
Total 249 100
2 Suku
Jawa 104 41,8
Madura 145 58,2
Total 249 100
3 Pekerjaan Orangtua
PNS 24 9,6
Wiraswasta 78 31,3
Swasta 19 7,6
Buruh (Petani/Bangunan) 124 49,8
Tidak Bekerja 4 1,6
Total 249 100
4 Pendidikan Orangtua
SD 106 42,6
SMP 56 22,5
SMA 67 26,9
Perguruan Tinggi 19 7,6
Lain-lain 1 0,4
Total 249 100
5 Pendapatan Orangtua
< Rp 1.629.000 183 73,5
≥ Rp 1.629.000 66 26,5
Total 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016
Hasil analisis berdasarkan tabel 5.2 didapatkan data bahwa sebagian besar

remaja memiliki jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 184 remaja (73,9%) dan
88

65 remaja perempuan (26,1%). Sebanyak 58,2% (145 remaja) berasal dari suku

Madura dan 41,8% (104 remaja) berasal dari suku Jawa. Tabel di atas

menunjukkan bahwa remaja dengan orangtua yang bekerja sebagai buruh

(petani/bangunan) memiliki jumlah terbanyak, yaitu 124 orangtua (49,8%).

Berdasarkan pada tingkat pendidikan terakhir orangtua, yaitu sebanyak 106

(42,6%) SD, 56 (22,5%) SMP, 67 (26,9%) SMA, 19 (7,6%) Perguruan Tinggi,

dan sisanya lain-lain. Sebagian besar orangtua remaja memiliki pendapatan

kurang dari Rp 1.629.000 yaitu sebanyak 183 orangtua (73,5%).

b. Gambaran Distribusi Gaya asuh orangtua pada Remaja di SMA/Sederajat

Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Gaya asuh orangtua terbentuk berdasarkan indikator responsiveness

(ketanggapan) dan demandingness (kontrol) yang kemudian dibagi menjadi empat

bentuk gaya asuh, yaitu ketanggapan rendah kontrol tinggi (otoriter), ketanggapan

tinggi kontrol tinggi (otoritatif), ketanggapan rendah kontrol rendah (melalaikan),

dan ketanggapan tinggi kontrol rendah (memanjakan).

Tabel 5.3 Distribusi Gaya asuh orangtua pada Remaja di SMA/Sederajat


Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016
Gaya Asuh Frekuensi Persentase (%)
Otoriter 43 17,3
Otoritatif 116 46,6
Melalaikan 44 17,7
Memanjakan 46 18,5
Total 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016
Tabel 5.3 menunjukkan distribusi frekuensi gaya asuh orangtua. Hasil

gaya asuh pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Tahun 2016 menunjukkan bahwa kurang dari setengah total responden memiliki
89

gaya asuh otoritatif yaitu sebanyak 116 remaja (46,6%), gaya asuh memanjakan

sebanyak 46 remaja (18,5%), gaya asuh melalaikan sebanyak 44 remaja (17,7%),

dan gaya asuh otoriter sebanyak 43 remaja (17,3%).

c. Gambaran Distribusi Struktur Kekuatan Keluarga pada Remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Pengkategorian variabel struktur kekuatan keluarga digolongkan dengan

menggunakan cut of point dan digolongkan menjadi dua kategori yaitu baik dan

kurang baik yang dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4 Distribusi Struktur Kekuatan Keluarga pada Remaja di SMA/Sederajat


Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016
Struktur Kekuatan Keluarga Frekuensi Persentase (%)
Baik 143 57,4
Kurang Baik 106 42,6
Total 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Tabel 5.4 menunjukkan distribusi frekuensi hasil struktur kekuatan

keluarga. Hasil struktur kekuatan keluarga dari 249 remaja didapatkan sebanyak

143 remaja (57,4%) dengan kategori baik dan sebanyak 106 remaja (42,6%)

dengan kategori kurang baik.

d. Gambaran Distribusi Indikator Struktur Kekuatan Keluarga pada Remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Pengkategorian indikator struktur kekuatan keluarga digolongkan dengan

menggunakan cut of point dan digolongkan menjadi dua kategori yaitu baik dan

kurang baik yang dapat dilihat pada tabel 5.5.


90

Tabel 5.5 Distribusi Indikator Struktur Kekuatan Keluarga pada Remaja di


SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016
No Indikator Struktur Frekuensi Persentase (%)
Kekuatan Keluarga
1 Otoritas
Baik 160 64,3
Kurang Baik 89 35,7
Total 249 100
2 Pengambilan Keputusan
Baik 147 59,0
Kurang Baik 102 41,0
Total 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Tabel 5.5 menunjukkan distribusi frekuensi hasil indikator struktur

kekuatan keluarga. Hasil indikator otoritas struktur kekuatan keluarga dari 249

remaja didapatkan sebanyak 160 remaja (64,3%) dengan kategori baik dan

sebanyak 89 remaja (35,7%) dengan kategori kurang baik. Lebih dari setengah

total responden memiliki pengambilan keputusan baik yaitu sebanyak 147 remaja

(59%) dan 102 remaja (41%) memiliki pengambilan keputusan kurang baik.

e. Gambaran Distribusi Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada Remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Risiko penyalahgunaan alkohol digolongkan menjadi empat kategori yaitu

risiko rendah, risiko sedang, risiko tinggi, dan kemungkinan ketergantungan yang

dapat dilihat pada tabel 5.6.


91

Tabel 5.6 Distribusi Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada Remaja di


SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016
Risiko Penyalahgunaan Frekuensi Persentase (%)
Alkohol
Risiko Rendah 178 71,5
Risiko Sedang 41 16,5
Risiko Tinggi 19 7,6
Kemungkinan Ketergantungan 11 4,4
Total 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Tabel 5.6 menunjukkan distribusi frekuensi risiko penyalahgunaan

alkohol. Hasil analisa berdasarkan peringkat risiko penyalahgunaan alkohol

didapatkan data bahwa sebagian besar remaja mengalami risiko rendah yaitu

sebanyak 178 remaja (71,5%), selanjutnya disusul oleh risiko sedang sebanyak 41

remaja (16,5%), risiko tinggi sebanyak 19 remaja (7,6%), dan kemungkinan

ketergantungan sebanyak 11 remaja (4,4%).

5.1.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan gaya pengasuhan

dengan risiko penyalahgunaan alkohol dan hubungan struktur kekuatan keluarga

dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan

Kalisat Kabupaten Jember.

a. Analisa Hubungan Gaya Pengasuhan dengan Risiko Penyalahgunaan Alkohol

pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Analisa hubungan antara gaya asuh dan risiko penyalahgunaan alkohol ini

dibentuk dalam tabel 4x4 yang dapat dilihat pada tabel 5.7.
92

Tabel 5.7 Hubungan Gaya Pengasuhan dan Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada
Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember (n =
249) Sebelum dilakukan Penggabungan Sel
Gaya Risiko Penyalahgunaan Alkohol p-
Pengasuhan Risiko Risiko Risiko Kemungkinan Total value
Rendah Sedang Tinggi Ketergantungan
n % n % n % n % n %
Otoriter 9 20,9 19 44,2 9 20,9 6 14 43 100
Otoritatif 110 94,8 5 4,3 1 0,9 0 0 116 100
Melalaikan 19 43,2 13 29,5 7 15,9 5 11,4 44 100 0,000
Memanjakan 40 87 4 8,7 2 4,3 0 0 46 100
Total 178 71,5 41 16,5 19 7,6 11 4,4 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Berdasarkan pada tabel 5.7 terdapat 6 sel yang memiliki nilai expected

kurang dari 5 (lihat lampiran H.3.a), karena dalam uji chi square terdapat syarat

bahwa tidak diperbolehkan ada nilai expected yang kurang dari 5 dan nilai

observasi sama dengan 0, maka dilakukan penggabungan sel oleh peneliti menjadi

4x3. Penyajian data tentang gaya asuh dan risiko penyalahgunaan alkohol

selanjutnya dapat dilihat pada tabel 5.8.

Tabel 5.8 Hubungan Gaya Pengasuhan dan Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada
Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember (n =
249) Setelah dilakukan Penggabungan Sel
Gaya Risiko Penyalahgunaan Alkohol p-
Pengasuhan Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Total value
N % n % N % n %
Otoriter 9 20,9 19 44,2 15 34,9 43 100
Otoritatif 110 94,8 5 4,3 1 0,9 116 100
Melalaikan 19 43,2 13 29,5 12 27,3 44 100 0,000
Memanjakan 40 87 4 8,7 2 4,3 46 100
Total 178 71,5 41 16,5 30 12 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Hasil penyajian pada tabel 5.8 dapat diketahui bahwa responden yang

memiliki gaya asuh otoriter mengalami risiko rendah terhadap penyalahgunaan

alkohol sebanyak 9 remaja (20,9%), risiko sedang sebanyak 19 remaja (44,2%),

dan risiko tinggi sebanyak 15 remaja (34,9%). Remaja yang memiliki gaya asuh
93

otoritatif mayoritas berada dalam risiko rendah yaitu sebanyak 110 remaja

(94,8%), risiko sedang sebanyak 5 remaja (4,3%), dan remaja yang berada dalam

risiko tinggi dalam penyalahgunaan alkohol sebanyak 1 remaja (0,9%). Gaya asuh

melalaikan pada remaja didapatkan bahwa sebanyak 19 remaja (43,2%)

mengalami risiko rendah terhadap penyalahgunaan alkohol, 13 remaja (29,5%)

risiko sedang, dan 12 remaja (27,3%) mengalami risiko tinggi. Remaja dengan

gaya asuh memanjakan sebagian besar berada dalam risiko rendah terhadap risiko

penyalahgunaan alkohol yaitu sebanyak 40 remaja (87%), risiko sedang sebanyak

4 remaja (8,7%), dan 2 remaja (4,3%) berada dalam risiko tinggi dalam

penyalahgunaan alkohol.

Hasil analisis diperoleh nilai p-value 0,000. Koefisien ini lebih kecil dari

taraf signifikansi sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif

(Ha) diterima yaitu ada hubungan antara gaya asuh dengan risiko penyalahgunaan

alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.

b. Analisa Hubungan Struktur Kekuatan Keluarga dengan Risiko

Penyalahgunaan Alkohol pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember

Analisa hubungan antara struktur kekuatan keluarga dan risiko

penyalahgunaan alkohol dapat dilihat pada tabel 5.9.


94

Tabel 5.9 Hubungan Struktur Kekuatan Keluarga dan Risiko Penyalahgunaan


Alkohol pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat
Kabupaten Jember (n = 249)
Struktur Risiko Penyalahgunaan Alkohol
Kekuatan Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Total
p-value
Keluarga N % n % N % n %
Baik 113 79 20 14 10 7 143 100
Kurang 65 61,3 21 19,8 20 18,9 106 100 0,004
Total 178 71,5 41 16,5 30 12 249 100
Sumber: Data Primer, April 2016

Tabel 5.9 merupakan tabel silang antara struktur kekuatan keluarga dengan

risiko penyalahgunaan alkohol. Hasil penyajian pada tabel di atas dapat diketahui

bahwa pada remaja dengan struktur kekuatan baik sebagian besar berada dalam

risiko rendah terhadap penyalahgunaan alkohol yaitu sebanyak 113 remaja (79%),

risiko sedang sebanyak 20 remaja (14%), dan risiko tinggi sebanyak 10 remaja

(7%). Remaja dengan kekuatan kurang baik memiliki risiko rendah sebanyak 65

remaja (61,3%), risiko sedang sebanyak 21 remaja (19,8%), dan 20 remaja

(18,9%) mengalami risiko tinggi terhadap penyalahgunaan alkohol.

Hasil analisis diperoleh nilai p-value 0,004. Koefisien ini lebih kecil dari

taraf signifikansi sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif

(Ha) diterima yaitu ada hubungan antara struktur kekuatan keluarga dengan risiko

penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember.

5.1.3 Analisa Multivariat

Analisa multivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara gaya asuh

dan struktur kekuatan keluarga dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada

remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Variabel


95

independen yaitu gaya asuh dan struktur kekuatan keluarga Variabel dependen

yaitu risiko penyalahgunaan alkohol ada 3 kategori yakni risiko rendah, risiko

sedang, dan risiko tinggi. Berdasarkan syarat uji regresi logistik bahwa kelompok

pada variabel dependen harus dikotom, maka pada penelitian ini dilakukan dummy

yaitu dengan mengelompokkan hasil variabel dependen menjadi dua kelompok,

yaitu risiko rendah dan risiko tinggi. Adapun langkah-langkah dalam pemodelan

multivariat ini adalah sebagai berikut.

a. Seleksi Bivariat

Setiap variabel independen dilakukan analisis bivariat dengan variabel

dependen dengan menggunakan uji regresi logistik sederhana. Bila menghasilkan

p value < 0,25 maka variabel tersebut dapat masuk dalam tahap pemodelan

multivariat, tetapi jika dihasilkan p value > 0,25 namun secara substansi penting

maka variabel tersebut dapat dimasukkan dalam model multivariat. Hasil

pemilihan variabel kandidat multivariat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.10 Variabel Kandidat Multivariat


No Variabel p value
1 Gaya Pengasuhan 0,036
2 Struktur Kekuatan Keluarga 0,005
Sumber: Data Primer, April 2016

Berdasarkan pada tabel 5.10 dapat diketahui bahwa nilai p value pada

variabel gaya asuh orangtua yaitu 0,036 dan struktur kekuatan keluarga yaitu

0,005. Maka kedua variabel tersebut dapat masuk dalam tahap pemodelan

multivariat karena memiliki nilai p value < 0,25.


96

b. Pemodelan Multivariat

Pembuatan pemodelan ini semua variabel kandidat diuji cobakan secara

bersama-sama dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Penyusunan model

semua variabel dapat dilihat pada tabel 5.11 berikut.

Tabel 5.11 Hasil Analisis Multivariat Variabel Gaya Pengasuhan dan Struktur
Kekuatan Keluarga
No Variabel B Wald p value OR
1 Gaya Pengasuhan -0,493 5,461 0,019 0,611
2 Struktur Kekuatan Keluarga 1,245 8,893 0,003 3,472
Sumber: Data Primer, April 2016

Berdasarkan tabel 5.11 dapat terlihat bahwa kedua variabel yaitu gaya

asuh dan struktur kekuatan keluarga memiliki nilai p value < 0,05. Hal ini berarti

bahwa tidak ada variabel yang harus dieliminasi.

Analisis multivariat dari tabel 5.11 diketahui bahwa gaya asuh dan struktur

kekuatan keluarga nilai p value < 0,05, artinya masing-masing variabel memiliki

hubungan yang signifikan terhadap risiko penyalahgunaan alkohol. Variabel gaya

asuh orangtua memiliki p value 0,019 < 0,05 sehingga Ho gagal diterima atau

yang berarti gaya asuh memberikan hubungan yang signifikan terhadap kejadian

risiko penyalahgunaan alkohol. Struktur kekuatan keluarga mempunyai nilai p

value 0,003 < 0,05 sehingga Ho gagal diterima atau yang berarti gaya asuh

memberikan hubungan yang signifikan terhadap kejadian risiko penyalahgunaan

alkohol.

Besarnya hubungan ditunjukkan oleh nilai Odds Ratio (OR). Hastono

(2007) menyatakan bahwa untuk melihat variabel mana yang paling besar

pengaruhnya terhadap variabel dependen, dilihat dari nilai exp (B) atau OR untuk

variabel yang signifikan, semakin besar nilai OR berarti semakin besar


97

pengaruhnya terhadap variabel dependen yang dianalisis. Hasil analisis pada

penelitian ini didapatkan bahwa OR dari variabel struktur kekuatan keluarga

adalah 3,472, artinya remaja dengan struktur kekuatan keluarga kurang baik akan

berisiko tinggi terhadap penyalahgunaan alkohol sebesar 3 kali lipat dibandingkan

remaja dengan struktur kekuatan keluarga baik setelah dikontrol variabel gaya

asuh orangtua.

5.2 Pembahasan

Pembahasan pada penelitian ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang

meliputi interpretasi dan diskusi hasil. Kegiatan yang dilakukan dalam

pembahasan yaitu membandingkan antara hasil penelitian dan konsep teoritis serta

hasil penelitian sebelumnya.

5.2.1 Karakteristik Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten

Jember

a. Usia

Berdasarkan pada tabel 5.1 tentang karakteristik usia remaja dalam

penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata remaja yang berisiko terhadap

penyalahgunaan alkohol yaitu berusia 16,6 tahun dan paling banyak usia 17 tahun.

Usia remaja berada dalam rentang antara 15-19 tahun. Wong (2008)

mengemukakan bahwa remaja dalam rentang usia 15-17 tahun merupakan masa

remaja pertengahan dan usia 18-20 tahun merupakan masa remaja akhir. Tahap

perkembangan kesehatan psikologis pada remaja dengan usia 15-17 tahun yaitu

memiliki kecenderungan terhadap pengalaman dari dalam dirinya, kecenderungan


98

untuk menarik diri jika merasa bersedih atau terluka, kebimbangan emosi dalam

rentang waktu tertentu, umumnya memiliki perasaan yang tidak adekuat.

Sedangkan masa remaja usia 18-20 tahun memiliki emosi yang lebih konstan dan

kemarahan cenderung disembunyikan.

Masa remaja yang juga disebut sebagai masa transisi mengalami

perubahan-perubahan kognitif yaitu meningkatnya berpikir abstrak, idealistik, dan

logis. Perubahan-perubahan sosio-emosional selama masa remaja meliputi

tuntutan untuk mencapai kemandirian, konflik dengan orangtua, dan keinginan

lebih banyak untuk meluangkan waktu bersama teman sebaya (Santrock, 2007a).

Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok merupakan hal yang penting

karena remaja merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok tersebut dapat

memberikan status bagi remaja (Wong, 2008).

Penelitian yang dilakukan oleh Kalara et al (2014) didapatkan bahwa dari

38 responden terdapat 23 remaja (60,6%) mengkonsumsi alkohol sejak usia 16-18

tahun. Hal ini dapat terjadi karena pada usia remaja pergaulannya semakin luas

dan pengaruh lingkungan juga semakin banyak sehingga menyebabkan

ketegangan dan konflik pada remaja. Remaja umumnya lebih menampilkan

perilaku yang dapat memberikan kepuasan dan memenuhi kebutuhan sosial serta

psikologisnya. Remaja cenderung mencoba-coba dengan perilaku yang dianggap

dapat mendukung perkembangannya, termasuk minum minuman beralkohol.

Penelitian lain oleh Kurniawati et al (2010) dengan hasil sebanyak 57

remaja (66,3%) mengkonsumsi alkohol pertama kali pada usia 15-20 tahun dan

sebagian besar diajak oleh teman. Desakan untuk konform pada teman sebaya
99

cenderung sangat kuat selama masa remaja (Santrock, 2007b). Hal ini didukung

oleh Martono & Joewana (2008) bahwa remaja akan mencari kebebasan yang

semu dan kepribadian yang semu pada teman sebayanya untuk menggantikan

fungsi orangtua.

b. Jenis Kelamin

Berdasarkan pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja

memiliki jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 184 remaja (73,9%) dan 65

remaja perempuan (26,1%). Masa remaja berkaitan dengan pubertas, dimana baik

pada remaja perempuan maupun laki-laki akan mengalami kematangan seksual

primer dan sekunder. Remaja perempuan pada awal pubertas akan mengalami

penonjolan pada payudara yang juga diikuti dengan pertumbuhan rambut pubis.

Remaja perempuan juga akan mengalami menstruasi yang terjadi sekitar dua

tahun setelah perubahan pubertas pertama (Wong, 2008). Berbeda dengan remaja

laki-laki, pada remaja laki-laki saat awal pubertas akan mengalami pembesaran

testis disertai dengan penipisan, kemerahan, dan peningkatan kelonggaran

skrotum. Hal tersebut diikuti dengan pertumbuhan rambut pubis, peningkatan

otot, perubahan suara, dan munculnya rambut di daerah wajah (Wong, 2008).

Jenis kelamin merupakan salahsatu faktor yang dapat mempengaruhi

terjadinya risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja. Sesuai dengan laporan

Riskesdas Jawa Timur (2007) bahwa persentase laki-laki yang mengkonsumsi

alkohol 3,8% lebih besar dibandingkan perempuan. Selain itu, penelitian yang

dilakukan oleh Maisya & Susilowati (2014) diketahui bahwa sebagian besar

(78,9%) perilaku berisiko pada remaja laki-laki lebih tinggi daripada remaja
100

perempuan (30,8%). Hal ini dapat terjadi karena adanya nilai dalam masyarakat

bahwa laki-laki lebih diberi kebebasan daripada perempuan.

c. Suku

Berdasarkan pada tabel 5.2 diketahui bahwa sebanyak 58,2% (145 remaja)

berasal dari suku Madura dan 41,8% (104 remaja) berasal dari suku Jawa. Suku

merupakan bagian dari budaya yang membentuk pola perilaku, keyakinan, dan

hal-hal lain yang dihasilkan oleh suatu kelompok orang tertentu yang diwariskan

dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Studi mengenai budaya dan

etnisitas tentang remaja merupakan suatu disiplin ilmu karena adanya kontak

diantara orang-orang yang berasal dari berbagai budaya dan etnis yang berbeda-

beda semakin bertambah (Santrock, 2007b). Adanya imigrasi dalam suatu

lingkungan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan populasi remaja.

Suku atau budaya dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi baik pada struktur kekuatan keluarga maupun gaya pengasuhan

orangtua. Baik pada suku Jawa maupun Madura tidak ada perbedaan yang

mencolok diantara keduanya dalam hal merawat anaknya. Orangtua menganggap

bahwa anak adalah karunia dari Tuhan sehingga mereka akan menjaga dan

merawat anaknya dengan sebaik-baiknya. Orangtua dalam hal ini akan

mempertimbangkan aturan-aturan dalam konteks budayanya. Pada umumnya,

seorang laki-laki dianggap sebagai orang yang paling berwenang dalam keluarga

dan memiliki lebih banyak tanggungjawab, sedangkan perempuan lebih

bertanggungjawab terhadap keuangan dan membuat keputusan ekonomi keluarga

(Friedman et al, 2010). Dalam hal pengasuhan anak, sesuai dengan pendapat
101

Kardiner dalam Friedman et al (2010) menyatakan bahwa teknik yang diterapkan

oleh setiap keluarga di anggota masyarakat dalam pengasuhan anak terpola secara

budaya dan akan cenderung serupa, meskipun tidak identik.

d. Pekerjaan Orangtua

Berdasarkan pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa remaja dengan orangtua

yang bekerja sebagai buruh (tani/bangunan) memiliki jumlah terbanyak, yaitu 124

orangtua (49,8%), wiraswata 78 orangtua (31,3%), PNS 24 orangtua (9,6%),

swasta 19 orangtua (7,6%), dan 4 orangtua (1,6%) tidak bekerja. Pekerjaan

orangtua sebagai buruh akan mendapatkan penghasilan yang sedikit karena upah

yang kecil dan frekuensi kerja yang tidak tetap. Penghasilan yang diperoleh dari

hasil kerjanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan

tidak dapat ditabung. Namun, pada orangtua yang memiliki lahan pertanian

sendiri akan memperoleh penghasilan saat masa panen. Orangtua akan

memdapatkan keuntungan yang besar jika hasil panen bagus dan harga jual hasil

pertanian tinggi. Bekerja sebagai buruh akan menghabiskan waktu orangtua di

sawah atau ladang, sehingga remaja kurang mendapatkan pengawasan terhadap

perilakunya.

Selain buruh, beberapa orangtua juga ada yang bekerja sebagai

wiraswasta, pegawai negeri, dan swasta. Orangtua yang bekerja sebagai

wiraswasta yaitu berdagang dengan mendirikan kios atau pun berdagang keliling.

Orangtua yang bekerja sebagai pegawai baik negeri maupun swasta akan

mendapatkan gaji yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
102

Pekerjaan orangtua merupakan sumber penghasilan keluarga yang dapat

memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga sehari-hari. Orangtua yang memiliki

pekerjaan yang mapan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, memenuhi

kebutuhan anak, dan struktur kekuatan serta fungsi pengasuhan dapat terlaksana

dengan baik. Namun, hal ini tidak sepenuhnya dapat menjadi patokan, karena

semuanya kembali pada kemampuan orangtua dalam membagi waktu bersama

anaknya dengan pekerjaannya.

e. Pendidikan Orangtua

Berdasarkan pada tabel 5.2, tingkat pendidikan terakhir orangtua yaitu

sebanyak 106 (42,6%) SD, 56 (22,5%) SMP, 67 (26,9%) SMA, 19 (7,6%)

Perguruan Tinggi, dan sisanya lain-lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran

dan pelatihan. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan informal pertama yang

diperoleh anak. Berarti bahwa pendidikan dalam keluarga marupakan suatu wadah

untuk mengajarkan mengenai sikap dan perilaku seorang anak.

Pendidikan menjadi suatu peranan penting bagi orangtua, karena baik

secara langsung maupun tidak langsung orangtua melalui tindakannya akan

membentuk watak anak dan dapat menentukan sikap serta tindakannya di

kemudian hari. Orangtua yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan semakin

mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimiliki,

dan sebaliknya jika orangtua memiliki tingkat pendidikan rendah akan

menghambat dalam penerimaan informasi dan nilai-nilai baru yang diperkenalkan


103

(Mubarok dalam Amalia, 2015). Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh

Kharmina (2011) bahwa tingkat pendidikan orangtua memiliki pengaruh positif

dan signifikan terhadap pola asuh sebesar 19,1%. Namun, pendidikan orangtua

yang tinggi tidak dapat menjadi jaminan bahwa orangtua akan menjalankan fungsi

pengasuhan dengan baik. Hal ini dapat dipengaruhi oleh hal-hal lain, seperti

kepribadian orangtua dan pengalaman pengasuhan orangtua.

f. Pendapatan Orangtua

Berdasarkan pada tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar orangtua

remaja memiliki pendapatan < Rp 1.629.000 yaitu sebanyak 183 orangtua

(73,5%) dan 66 orangtua memiliki pendapatan ≥ Rp 1.629.000. Angka pendapatan

ini sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 68 Tahun 2015 tentang

Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun 2016. Pendapatan

orangtua menggambarkan tingkat sosio-ekonomi keluarga. Menurut Magnuson &

Duncan dalam Santrock (2007b) bahwa anak-anak dan remaja yang memiliki latar

belakang sosio-ekonomi rendah berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

Gangguan penyesuaian sosial dan masalah psikologis lebih banyak terjadi pada

remaja miskin dibandingkan dengan remaja yang secara ekonomi beruntung

(Gibbs & Huang dalam Santrock, 2007b).

Riset yang dilakukan oleh Barus (2013), bahwa kondisi sosial ekonomi

keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja.

Salah satu bentuk dari permasalahan kenakalan remaja yaitu penyalahgunaan

minuman alkohol. Hal ini dapat terjadi karena adanya tuntutan kehidupan yang

keras sehingga menjadikan remaja dengan kelas sosial ekonomi rendah menjadi
104

agresif, sementara orangtuanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan

ekonomi kurang meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan

pengawasan kepada anak-anaknya.

5.2.2 Gaya Pengasuhan pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember

Berdasarkan pada tabel 5.3 tentang gaya asuh pada remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016 menunjukkan

bahwa kurang dari setengah total responden memiliki gaya asuh otoritatif atau

demokratis yaitu sebesar 46,6%, memanjakan sebesar 18,5%, melalaikan sebesar

17,7%, dan otoriter sebesar 17,3%. Jenis gaya asuh tersebut terbentuk berdasarkan

dimensi dimensi kontrol (demandingness) dan tanggap atau kehangatan

(responsiveness) yang kemudian diklasifikasikan menjadi empat gaya

pengasuhan, yaitu kontrol tinggi ketanggapan rendah (otoriter), kontrol tinggi

ketanggapan tinggi (otoritatif), kontrol rendah ketanggapan rendah (melalaikan),

dan kontrol rendah ketanggapan tinggi (memanjakan) (Bornstein, 2008; Santrock,

2010). Gaya pengasuhan orangtua kepada anak dipercaya dapat memiliki dampak

terhadap perkembangan anak (Lestari, 2012).

Kohn (dalam Habibi, 2015) menyatakan bahwa gaya asuh merupakan

sikap orangtua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orangtua dalam

hal ini merupakan cara orangtua memberikan aturan-aturan, hadiah atau hukuman,

cara orangtua menunjukkan otoritasnya, dan cara orangtua memberikan perhatian

serta tanggapan terhadap anak. Gaya asuh terdiri atas beberapa elemen untuk
105

menciptakan iklim emosional di mana orang tua mengkomunikasikan sikap dan

praktik dalam membesarkan anak (Benson & Haith, 2009).

Gambaran gaya asuh otoriter orangtua pada penelitian ini yaitu sebanyak

43 remaja (17,3%). Hal ini didukung dengan hasil penelitian bahwa sebanyak 35

remaja (14,1%) orangtua sering berlaku kasar saat remaja tidak patuh. Orangtua

yang menerapkan gaya asuh otoriter bersifat menghukum dan membatasi,

orangtua sangat berusaha agar remaja mengikuti pengarahan yang diberikan dan

menghormati pekerjaan dan usaha-usaha yang telah dilakukan orangtua. Orangtua

yang otoriter menetapkan batasan-batasan dan kendali yang tegas (Santrock,

2007b). Adanya batasan yang tegas dengan sedikit kelonggaran pada anak remaja

dapat menyebabkan perasaan yang kurang nyaman. Anak akan merasa di kontrol

hal tersebut dapat menyebabkan buruknya penyesuaian diri pada anak (Lestari,

2012). Orangtua dalam hal ini menerapkan bahwa setiap aturan dan perkataan

harus dilakukan oleh remaja sesuai dengan perintahnya, dan biasanya orangtua

cenderung untuk memberikan sanksi kepada remaja atas kesalahannya.

Santrock (2007b) mengemukakan bahwa orangtua yang otoriter kurang

memberikan peluang kepada remaja untuk mengemukakan pendapatnya secara

verbal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil penelitian bahwa sebanyak 64

remaja (25,7%) tidak pernah diberikan peluang oleh orangtuanya untuk

menceritakan masalah yang dihadapinya. Sesuai dengan pendapat Miller (2016)

bahwa orangtua yang otoriter akan menerapkan sanksi tegas dan komunikasi yang

buruk, serta komunikasi hanya berpusat pada orangtua. Hal ini didukung oleh
106

penelitian Anisa (2009) bahwa semakin tinggi otoriter orangtua maka semakin

rendah komunikasi interpersonal anak.

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 46,6% remaja memiliki gaya asuh

otoritatif. Orangtua yang mengasuh anaknya dengan cara otoritatif akan

mendorong remaja untuk mandiri namun masih membatasi dan mengendalikan

diri mereka. Orangtua memberikan kesempatan kepada remaja untuk

mengemukakan pendapatnya secara verbal. Selain itu, orangtua juga bersifat

hangat dan mengasuh (Santrock, 2007b). Adanya kehangatan dan komunikasi

antara orangtua dan remaja dapat menyebabkan remaja merasa dihargai sehingga

secara sosial mampu mengekspresikan dirinya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan

hasil penelitian bahwa sebanyak 82 remaja (32,9%) selalu mendapatkan pujian

dari orangtuanya ketika nilainya baik. Pemberian pujian kepada remaja sangat

penting dilakukan oleh orangtua. Remaja yang statusnya sebagai seorang anak

akan merasa senang dan merasa diperhatikan oleh orangtuanya sehingga secara

tidak langsung hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri

remaja terhadap lingkungannya.

Orangtua yang otoritatif belum sepenuhnya memberikan otonomi kepada

anaknya. Orangtua memberikan ruang kepada anak untuk berpendapat dan secara

bersamaan orangtua juga mengakui perspektif anak yang kemungkinan juga

bertentangan dengan orangtua (Miller, 2016). Hal ini dapat ditunjukkan dengan

hasil penelitian bahwa sebanyak 56 remaja (22,5%) dan 53 remaja (21,3%)

menjawab selalu dan sering dalam hal orangtua menghargai pendapat remaja.

Orangtua yang memberikan kehangatan dan ketanggapan, keadaan ini dapat


107

meningkatkan kualitas anak untuk bersikap responsif terhadap pesan orangtua

(Miller, 2016). Hal ini didukung oleh Santrock (2007b) bahwa pengasuhan

orangtua yang bersifat otoritatif berkaitan dengan perilaku remaja yang kompeten

secara sosial. Remaja dari orangtua otoritatif biasanya memiliki kemandirian dan

tanggungjawab sosial. Peneliti menganalisis bahwa remaja yang diberikan

kehangatan dalam berargumentasi oleh orangtuanya akan lebih mampu untuk

beradaptasi dengan lingkungannya. Remaja dalam hal ini akan

mempertimbangkan pesan-pesan dan saran-saran dari orangtuanya sebagai suatu

acuan dalam bertindak.

Gambaran pelaksanaan gaya asuh melalaikan pada penelitian ini yaitu

sebesar 17,7%. Pengasuhan dengan gaya melalaikan, orangtua tidak terlibat dalam

kehidupan remaja. Orangtua dalam pengasuhan ini bersifat lalai berkaitan dengan

perilaku remaja yang tidak kompeten secara sosial, khususnya kurangnya

pengendalian diri (Santrock, 2007b). Hasil penelitian bahwa sebanyak 24 remaja

(9,6%) menyatakan sering dan 8 remaja (3,2%) menyatakan selalu dalam hal

orangtua yang membiarkan remaja pergi keluar rumah tanpa memberi kabar.

Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk memperoleh perhatian dari

orangtuanya, remaja yang dilalaikan oleh orangtuanya akan merasa bahwa hal-hal

lain dalam kehidupan orangtuanya lebih penting dari dirinya (Santrock, 2007b).

Peneliti berpendapat bahwa remaja yang dilalaikan atau dibiarkan oleh

orangtuanya akan merasa kurang diperhatikan, hal ini dapat menyebabkan remaja

tidak nyaman di rumah dan akan cenderung untuk mencari pengalaman baru di

lingkungan luarnya sebagai suatu pelampiasan dari rasa ketidaknyamanan dan


108

kesepiannya. Sebagaimana Santrock (2007b) juga menyatakan bahwa remaja yang

orangtuanya lalai biasanya tidak kompeten secara sosial, memperlihatkan

pengendalian yang buruk, dan tidak menyikapi pengendalian dengan baik.

Pengasuhan orangtua yang lalai terjadi karena kurangnya pengawasan dari

orangtua kepada remaja (Santrock, 2007b).

Gambaran gaya asuh orangtua pada penelitian ini yang menerapkan gaya

asuh memanjakan sebanyak 18,5%. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil

penelitian bahwa sebanyak 27 remaja (10,8%) dan 18 remaja (7,2%) menyatakan

sering dan selalu dalam hal orangtua yang memanjakan remaja. Orangtua yang

mengasuh anaknya dengan gaya memanjakan memiliki keterlibatan yang tinggi

dan memberikan sedikit tuntutan atau kendali kepada remaja. Orangtua yang

memanjakan membiarkan remajanya melakukan apa pun yang mereka inginkan

(Santrock, 2007b). Sesuai dengan pendapat Asmussen (2011) bahwa orangtua

yang memanjakan bersikap lebih menerima dan positif terhadap anak-anak

mereka, tetapi sedikit menerapkan aturan. Pendekatan orangtua sepenuhnya

terpusat pada anak. Akibatnya, remaja tidak pernah belajar untuk mengendalikan

perilakunya sendiri dan selalu berharap agar kemauannya dipenuhi (Santrock,

2007b). Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil penelitian bahwa saat remaja

merasa sedih maka orangtua menghibur dengan memenuhi semua keinginan

remaja, yaitu sebanyak 32 remaja (12,9%) menyatakan sering dan 21 remaja

(8,4%) menyatakan selalu. Orangtua yang memanjakan akan cenderung untuk

memenuhi setiap keinginan anaknya. Bila orangtua merasa tidak dapat


109

memenuhinya, maka orangtua akan mengusahakan agar anaknya mendapatkan

apa yang diinginkannya.

Hasil gaya asuh orangtua pada penelitian ini menunjukan bahwa gaya asuh

otoritatatif lebih banyak diterapkan kepada remaja. Hal ini dapat dikarenakan oleh

budaya yang dianut oleh orangtua. Budaya orangtua yang meyakini bahwa anak

merupakan karunia dari Tuhan dan harus di didik dan di asuh dengan penuh kasih

sayang. Orangtua dalam hal ini akan berusaha untuk memberikan pengasuhannya

dengan baik sebagai wujud rasa syukurnya dan dengan harapan agar anaknya akan

menjadi anak yang baik.

5.2.3 Struktur Kekuatan Keluarga pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan

Kalisat Kabupaten Jember

Berdasarkan pada tabel 5.4 tentang struktur kekuatan keluarga pada remaja

di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember Tahun 2016

menunjukkan bahwa hasil struktur kekuatan keluarga dari 249 remaja didapatkan

sebanyak 143 remaja (57,4%) dengan kategori baik dan sebanyak 106 remaja

(42,6%) dengan kategori kurang baik. Hal ini berarti bahwa lebih dari setengah

remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat mendapatkan kekuatan keluarga

yang baik.

Kekuatan keluarga merupakan kemampuan potensial atau aktual dari

anggota keluarga untuk mengubah perilaku anggota keluarga yang lain (Olson &

Cromwell dalam Friedman et al, 2010). Kekuatan melibatkan hubungan

interpersonal antar anggota keluarga, dimana salah seorang dari anggota keluarga
110

memiliki pengaruh atau kendali yang lebih besar dari anggota keluarga yang lain

(UK Essays, 2015). Kekuatan keluarga dapat dilihat dalam konteks interaksi

keluarga yang berkesinambungan. Komunikasi dalam keluarga menunjukkan

peran dan kekuasaan keluarga yang dapat terlihat dalam proses keluarga dari

kegiatan harian hingga negosiasi, isu, dan konflik yang rumit (Friedman et al,

2010).

Keluarga yang merupakan suatu sistem sosial antar anggota keluarga

memiliki struktur yang menentukan siapa yang memiliki hak atau kuasa atas suatu

fenomena. Dalam berbagai hal, struktur kekuatan keluarga dapat berbeda-beda

dalam suatu keluarga, dengan adanya peran yang menentukan siapa yang

mempunyai kewenangan dalam hal tersebut. Adanya struktur ini dapat membantu

keluarga dalam memecahkan suatu permasalahan dalam keluarga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada indikator struktur kekuatan

sebanyak 64,3% remaja memiliki otoritas baik dan 35,7% remaja memiliki

otoritas kurang baik. Kekuatan keluarga berkaitan dengan sumber dan kontrol atas

sumber (misalnya uang) merupakan kekuasaan. Kekuasaan atas sumber dalam hal

ini merupakan otoritas. Sebagaimana menurut Friedman et al (2010) bahwa

otoritas adalah keyakinan bersama anggota keluarga yang berdasarkan pada

kebudayaan dan normatif serta yang merancang anggota keluarga sebagai

seseorang yang berhak membuat keputusan dan menerima posisi kepemimpinan

(Friedman et al, 2010). Biasanya dalam kebanyakan keluarga, orangtua yang

memiliki kontrol atas sumber ini (UK Essays, 2015).


111

Terlaksananya indikator otoritas yang baik didukung dengan hasil

penelitian bahwa sebanyak 103 remaja (41,4%) dan 132 remaja (53%) menjawab

setuju dan sangat setuju tentang otoritas orangtua dalam pembiayaan semua

kebutuhan hidup remaja. Hal ini berarti bahwa orangtua merupakan pemegang

kuasa atau otoritas dalam pembiayaan kehidupan remaja. Remaja yang merupakan

pelajar dan belum bekerja masih bergantung dengan orangtua untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya, seperti kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Selain

itu, sebagian besar remaja membenarkan bahwa orangtua berhak untuk

menentukan jumlah uang saku yang diberikan kepada remaja. Indikator ini

terlaksana dengan baik dapat dikarenakan adanya keyakinan dan peran tradisional

sebagai landasan yang kuat dari keluarga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada indikator struktur kekuatan

keluarga sebanyak 59% remaja memiliki pengambilan keputusan yang baik dan

41% remaja memiliki pengambilan keputusan kurang baik. Kekuatan keluarga

ditunjukkan dengan kemampuan anggota keluarga dalam mengambil keputusan.

Pembuatan keputusan ini diarahkan pada pencapaian persetujuan dan komitmen

dari anggota keluarga untuk melaksanakan serangkaian tindakan yang ditetapkan

(Friedman et al, 2010). Hal ini didukung oleh Goldenberg & Goldenberg (dalam

Koolaee et al, 2015) bahwa kekuatan keluarga yang diatur dengan tanggungjawab

dalam pengambilan keputusan untuk membesarkan anak dan juga menetapkan

prinsip-prinsip untuk anak-anak.

Tercapainya indikator pengambilan keputusan dengan baik dapat didukung

dengan hasil penelitian bahwa orangtua memberikan saran kepada remaja dalam
112

bermain dan pemanfaatan uang saku (54,6% dan 54,2%). Hal ini berarti bahwa

dalam proses pengambilan keputusan remaja melibatkan orangtuanya dan

sebaliknya. Pengambilan keputusan yang melibatkan orangtua dan remaja secara

diskusi atau tawar menawar dapat menimbulkan adanya komunikasi dua arah

yaitu antara orangtua dan remaja, sehingga dengan proses pengambilan keputusan

ini diharapkan remaja dapat mengambil keputusan dengan mempertimbangkan

atas saran yang diberikan oleh orangtua.

Struktur kekuatan keluarga memiliki peran yang penting dalam tugas

kesehatan keluarga. Adanya struktur kekuatan keluarga yang baik pada keluarga

dapat mempertahankan otoritas dan pengambilan keputusan yang baik pula pada

remaja. Selain itu, dengan adanya struktur kekuatan keluarga yang baik maka

keluarga secara langsung dapat berinteraksi dengan remaja, hal ini dapat menjadi

sebuah strategi koping yang positif bagi keluarga maupun remaja dalam

menyelesaikan permasalahannya sehingga remaja memiliki kemampuan dalam

memecahkan masalah secara positif.

5.2.4 Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan

Kalisat Kabupaten Jember

Berdasarkan pada tabel 5.6 dapat dilihat tentang hasil analisa tentang

risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember Tahun 2016. Data menunjukkan bahwa sebagian besar remaja

mengalami risiko rendah yaitu sebanyak 178 remaja (71,5%), risiko sedang
113

sebanyak 41 remaja (16,5%), risiko tinggi sebanyak 19 remaja (7,6%), dan

kemungkinan ketergantungan sebanyak 11 remaja (4,4%).

Alkohol merupakan salah satu jenis zat adiktif yang dapat menyebabkan

mabuk, jalan sempoyongan, bicara cadel, kekerasan/perbuatan merusak,

ketidakmampuan belajar dan mengingat, dan kecelakaan (karena mengendarai

dalam keadaan mabuk) (Joewana, 2008). Snyder (2007) menyatakan bahwa

banyak remaja yang minum alkohol secara illegal dan tidak bertanggungjawab.

Alkohol dapat mempengaruhi kondisi mental dan perilaku dimana remaja yang

bersangkutan menjadi terhambat dan terganggu dalam membuat penilaian

(Santrock, 2007b).

Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat sebagian besar berada dalam

risiko rendah yaitu 71,5%. Hal ini berarti sebanyak 178 remaja memiliki total skor

AUDIT 0-7. Remaja yang berada dalam risiko rendah merupakan remaja yang

belum pernah mengkonsumsi alkohol maupun yang telah mengkonsumsi alkohol,

namun masih dalam tahap yang rendah dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Hal ini

didukung dengan hasil penelitian bahwa sebanyak 155 remaja (62,2%) tidak

pernah minum minuman yang mengandung alkohol. Remaja dalam hal ini

menjadi berisiko karena terdapat faktor-faktor yang yang memungkinkan untuk

mengkonsumsi alkohol, seperti pengaruh teman sebaya, lingkungan, keluarga, dan

individu itu sendiri. Hal ini didukung dengan pernyataan responden bahwa latar

belakang dirinya mengkonsumsi alkohol yaitu adanya permasalahan dalam

keluarga dan adanya rasa ingin tahu atau keinginan untuk mencoba minum
114

alkohol. Selain itu, remaja yang umumnya rentan terhadap pengaruh lingkungan

karena proses pencarian jati diri.

Sesuai dengan pernyataan oleh Potter & Perry (2005); Havighurst dalam

Yusuf (2004) bahwa masa remaja merupakan masa pematangan identitas diri,

kematangan emosional dan sosial. Pada tingkat risiko rendah, remaja berada

dalam zona I yaitu membutuhkan edukasi terkait dengan alkohol (Babor et al,

2001). Remaja perlu mengetahui tentang alkohol dan berbagai dampak yang dapat

ditimbulkan akibat mengkonsumsi alkohol.

Gambaran risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat

Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember pada tingkat risiko sedang yaitu sebanyak

16,5%. Hal ini berarti sebanyak 41 remaja memiliki total skor AUDIT 8-15.

Remaja pada tingkat risiko sedang berada dalam zona II yaitu dengan intervensi

singkat menggunakan saran sederhana dan edukasi (Babor et al, 2001). Remaja

dengan risiko sedang hendaknya untuk mulai mengurangi kebiasaan remaja dalam

konsumsi alkohol dan edukasi yang diberikan umumnya sama dengan zona I.

Hasil penelitian didapatkan bahwa kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi

alkohol beragam, yaitu sebanyak 39 remaja (15,7%) mengkonsumsi alkohol

sebanyak 1 atau 2 gelas, 18 remaja (7,2%) 3 atau 4 gelas, 25 remaja (10%) 5 atau

6 gelas, 8 remaja (3,2%) 7-9 gelas, dan 4 remaja (1,6%) 10 gelas atau lebih pada

hari-hari biasa saat mengkonsumsi alkohol. Remaja memiliki kebiasaan minum

minuman beralkohol dapat dikarenakan pengaruh dari teman sebaya. Remaja yang

awalnya tidak mengetahui tentang minuman alkohol mkemudian memiliki teman

yang memiliki kebiasaan minum alkohol dapat terpengaruh. Remaja dalam hal ini
115

apabila diajak oleh temannya untuk mengkonsumsi alkohol akan merasa bimbang.

Adanya persepsi yang salah pada remaja bahwa dengan minum alkohol dapat

menunjukkan keberanian diri, lebih kekinian, dan terlihat lebih keren dapat

menyebabkan remaja untuk menggunakan alkohol. Adanya peran media yang

memperlihatkan tentang gambar-gambar maupun iklan tentang minuman alkohol

dapat menyebabkan remaja untuk tertarik dan mencobanya. Penelitian oleh

Pitasari & Kurniajati (2013) bahwa remaja paling banyak memiliki tahap

penyalahgunaan alkohol pada tahap sosial dan rekreasi yaitu sebesar 33,3%.

Penelitian lain dilakukan oleh Kalara et al (2014) bahwa teman sebaya berperan

sebesar 84,3% untuk mengkonsumsi alkohol. Gallup Youth Survey juga telah

menguji bagaimana tekanan teman dapat mempengaruhi remaja dan menemukan

bahwa ketika bertambah usia, remaja cenderung mengalah pada tekanan teman

(Snyder, 2007).

Selain itu, faktor pendidikan orangtua dapat menjadi salah satu hal yang

mempengaruhu remaja dalam mengkonsumsi alkohol. Orangtua yang memiliki

pendidikan tinggi akan mampu memberikan pengetahuannya tentang bahaya

alkohol kepada remaja, dan sebaliknya orangtua yang memiliki pendidikan rendah

secara pengetahuan akan kurang sehingga remaja tidak dibekali tentang bahaya

alkohol. Hal ini dapat didukung oleh beberapa remaja menyatakan bahwa tidak

mengetahui secara jelas tentang akibat yang timbul dari mengkonsumsi alkohol.

Namun, juga terdapat remaja yang mengetahui tentang dampak dari minuman

beralkohol namun masih tetap mengkonsumsinya. Hal ini didukung dengan

penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2013) tentang Perilaku Remaja Pengguna
116

Minuman Keras di Desa Jatigono Kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang, bahwa

46,5% remaja memiliki pengetahuan baik dan 16,3% memiliki pengetahuan

kurang baik. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor internal seperti intelegensi

dan minat remaja, serta faktor eksternal seperti keluarga dan masyarakat.

Gambaran risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat

Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember pada tingkat risiko tinggi sebesar 7,6%. Hal

ini berarti sebanyak 19 remaja memiliki total skor AUDIT 16-19. Remaja pada

tingkat risiko tinggi berada dalam zona III yaitu dengan memberikan saran,

konseling dan pemantauan berlanjut (Babor et al, 2001). Konseling dapat berupa

anjuran untuk mengurangi konsumsi alkohol dan menjelaskan tentang dampak

buruk dari alkohol yang dikonsumsi secara terus-menerus, seperti berkurangnya

daya ingat, gagal menjalankan aktivitas, prestasi menurun, dan terjadinya

gangguan kesehatan.

Remaja yang memiliki kebiasaan minum alkohol biasanya akan mulai

merasa bahwa minum minuman beralkohol merupakan suatu hal yang biasa. Hal

ini didukung dengan hasil penelitian bahwa dalam setahun terakhir remaja tidak

dapat berhenti minum, yaitu sebanyak 28 remaja (11,2%) kurang dari sebulan, 12

remaja (4,8%) setiap bulan, 6 remaja (2,4%) setiap minggu, dan 2 remaja (0,8%)

setiap hari atau hampir setiap hari tidak dapat bergenti minum alkohol. Pada

tingkat yang lebih tinggi, hal ini dapat terjadi karena remaja merasa bahwa minum

alkohol merupakan suatu kebiasaan pada dirinya dan hal ini dapat menyebabkan

adanya rasa butuh terhadap alkohol pada remaja. Remaja akan melakukan

berbagai cara agar dirinya dapat minum alkohol. Remaja yang masih belum
117

bekerja apabila tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli alkohol, maka

hal ini dapat menyebabkan remaja untuk melakukan tindakan kriminalitas, seperti

pemalahan dan pencurian.

Selain itu, remaja yang memiliki kebiasaan mengkomsi alkohol dapat

mengalami kegagalan dalam beraktivitas. Hal ini didukung dengan hasil

penelitian bahwa remaja mengalami kegagalan dalam melakukan aktivitas karena

alkohol dalam setahun terakhir, yaitu sebanyak 26 remaja (10,4%) kurang dari

sebulan, 12 remaja (4,8%) setiap bulan, dan 7 remaja (2,8%) mengalami

kegagalan aktivitas setiap minggu karena minum alkohol. Hal ini dapat terjadi

karena alkohol merupakan zat yang bekerja menekan sistem saraf pusat. Remaja

sesudah minum alkohol akan menjadi lebih mudah bersosialisasi dan banyak

bicara. Alkohol menekan pusat-pusat inhibitori pada otak yang menyebabkan

individu tidak malu-malu dan semangat yang tinggi. Tetapi ketika tingkat

intoksikasi meningkat, efek depresi menyebar dan mereduksikan kegiatan dalam

daerah otak yang berfungsi sebagai rangsangan, kemudian individu akan

mengalami sedasi dan tertidur (Semiun, 2006).

Pratama (2013) menemukan bahwa pada remaja pengguna minuman

beralkohol memiliki sikap kurang baik sebanyak 20,9% dan tindakan yang buruk

sebanyak 58,1%. Selain itu, sebanyak 48,8% remaja tidak ingin berubah, 34,9%

ingin berubah, dan sisanya ragu-ragu ingin berubah atau tidak. Sikap yang baik

pada remaja dapat dipengaruhi oleh adanya reinforcing yaitu tokoh masyarakat

yang sering mengadakan kegiatan pengajian remaja dan faktor tenaga kesehatan

yang aktif dalam mengadakan sosialisasi tentang dampak dari minuman


118

beralkohol. Sikap tidak ingin berubah pada remaja dikarenakan adanya stres dan

anggapan bahwa minuman alkohol dapat menghilangkan tekanan atau stres yang

dialami.

Gambaran risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat

Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember pada tingkat kemungkinan ketergantungan

sebesar 4,4%. Hal ini berarti sebanyak 11 remaja memiliki total skor AUDIT lebih

dari 20. Remaja pada tingkat ini berada dalam zona IV yaitu dapat diberikan

intervensi dengan melakukan rujukan untuk evaluasi diagnostik dan kemungkinan

pengobatan untuk ketergantungan alkohol. Jika layanan ini tidak tersedia, klien

dapat dikelola di perawatan primer, adanya komunitas berbasis dukungan sangat

membantu dalam permasalahan ini (Babor et al, 2001).

Remaja yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol, kegiatan dalam

daerah otak sebagai rangsangan dapat tereduksi sehingga dapat menyebabkan

lemahnya daya ingat remaja. Hal ini didukung dengan hasil penelitian bahwa

remaja merasa tidak ingat dengan kejadian sebelumnya setelah minum dalam

setahun terakhir, yaitu sebanyak 28 remaja (11,2%) kurang dari sebulan, 8 remaja

(3,2%) setiap bulan, 7 remaja (2,8%) setiap minggu, dan 3 remaja (1,2%) setiap

hari atau hampir setiap hari merasa tidak ingat dengan kejadian sebelumnya

setelah minum alkohol. Hal ini berarti bahwa alkohol dapat menurunkan

kemampuan berfikir dan mengingat pada remaja yang mengkonsumsi alkohol.

Mengingat bahwa remaja yang secara keseluruhan merupakan seorang pelajar, hal

ini akan sangat mengganggu kemampuan dan proses belajar remaja dalam
119

menerima maupun mengaplikasikan pelajaran yang telah didapatkan, sehingga

akan mempengaruhi prestasi remaja.

Hal ini didukung dengan penelitian oleh Brown di San Diego (dalam

Snyder, 2007) tentang pengaruh alkohol pada otak peminum muda dengan

membandingkan otak pengguna alkohol yang berusia 14 sampai 21 tahun dengan

pemuda yang tidak minum alkohol. Penelitian tersebut menemukan bahwa otak

para peminum mengalami pengerutan yang signifikan pada daerah yang

mengendalikan ingatan dan kemampuan belajar.

Penelitian oleh Pitasari & Kurniajati (2013) mendapatkan hasil bahwa

remaja mengalami tahap penyalahgunaan dan ketergantungan terhadap alkohol

masing-masing sebanyak 13,3%. Remaja yang suka minum menemukan dirinya

berhadapan dengan ketergantungan pada alkohol, sindrom kehamilan dan janin

karena alkohol, penyakit seks menular, kekerasan seks, depresi dan keinginan

untuk bunuh diri. Gallup Youth Survey mengamati perilaku berisiko pada remaja

dan menemukan bahwa alkohol sering masuk di dalamnya (Snyder, 2007).

5.2.5 Hubungan Gaya Pengasuhan dengan Risiko Penyalahgunaan Alkohol pada

Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember

Berdasarkan pada tabel 5.8 dapat diketahui tentang hubungan gaya

pengasuhan dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat

Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Hasil analisis dengan uji statistik chi

square diperoleh nilai p value 0,000. Koefisien ini lebih kecil dari taraf

signifikansi sebesar 0,05, sehingga dapat diketahui bahwa ada hubungan antara
120

gaya pengasuhan dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Hal ini didukung oleh

Santrock (2007b) bahwa pengasuhan orangtua dapat mendukung perkembangan

sosial pada remaja. Benson & Haith (2009) menyatakan bahwa gaya asuh terdiri

atas beberapa elemen untuk menciptakan iklim emosional di mana orang tua

mengkomunikasikan sikap dan praktik dalam membesarkan anak. Hal ini sejalan

dengan penelitian Prayugo (2014) bahwa terdapat hubungan antara pola asuh

orangtua terhadap perilaku mengkonsumsi minuman beralkohol pada remaja di

Desa Wonojati Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember (p < 0,05).

Hoskins (2014) menyatakan bahwa pengasuhan orangtua dapat

memberikan dampak terhadap perkembangan dan pemeliharaan masalah perilaku

di kalangan remaja. Orangtua dalam hal praktik pengasuhan menerapkan kontrol

perilaku dan pemeliharaan. Kontrol perilaku yang dilakukan orangtua, seperti

pemantauan dan kedisiplinan, sedangkan perilaku pemeliharaan orangtua seperti

kehangatan orangtua dan dukungan orangtua, penalaran induktif, dan komunikasi

orangtua-anak.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dengan gaya asuh

otoriter menyebabkan risiko penyalahgunaan alkohol dengan risiko rendah

sebesar 20,9%, risiko sedang 44,2%, dan risiko tinggi 34,9%. Orangtua dengan

gaya asuh otoriter menerapkan kontrol tinggi dan keterlibatan rendah, hal ini

menyebabkan orangtua untuk cenderung lebih membatasi anak remajanya. Sesuai

dengan pendapat Shaffer & Kipp (2010) bahwasannya pada pengasuhan otoriter,

orangtua memberlakukan banyak aturan, mengharapkan ketaatan yang ketat, dan


121

akan jarang menjelaskan kepada remaja mengapa perlu untuk mematuhi semua

peraturan tersebut. Orang tua ini akan sering mengandalkan hukuman dan taktik

yang kuat untuk mendapatkan pemenuhan. Orang tua yang otoriter tidak sensitif

terhadap sudut pandang yang berbeda pada remaja. Sebaliknya, orangtua lebih

mendominasi dan mengharapkan remjaa untuk menerima kata-kata mereka dan

menghormati otoritas mereka.

Grolnick (dalam Hong, 2012) menyebutkan bahwa orang tua dengan gaya

otoriter dapat mengurangi motivasi intrinsik anak-anak menyebabkan mereka

menjadi bergantung pada sumber ekstrinsik, sehingga merusak proses belajar.

Anak dengan pengasuhan orangtua yang otoriter sering memicu keterampilan

komunikasi yang kurang (Verenikina, Vialle & Lysaght dalam Hong, 2012). Hal

ini didukung oleh penelitian Mensah et al (2013) dengan hasil adanya hubungan

negatif antara gaya asuh otoriter dengan inkompetensi sosial anak (r = -0,46). Hal

ini berarti bahwa semakin otoriter pengasuhan orangtua maka anak akan semakin

mengalami inkompetensi sosial. Anak dan remaja dalam hal ini dapat menjadi

kurang mandiri.

Orangtua yang otoriter akan menetapkan batas-batas kendali yang tegas

dan harus mengikuti pengarahannya. Hal ini menyebabkan remaja merasa kurang

nyaman seperti merasa di kontrol dan hal tersebut dapat berhubungan dengan

buruknya penyesuaian diri pada remaja (Lestari, 2012). Selain itu, remaja tidak

dapat mengembangkan kemampuan menilai dan mengendalikan diri (Martono &

Joewana, 2008). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Sofa (2015) dengan

metode korelasional yang menunjukkan adanya hubungan yang positif antara gaya
122

asuh otoriter dengan kenakalan remaja (r = 0,804 p < 0,05), yang berarti bahwa

semakin otoriter pengasuhan orangtua maka semakin tinggi tingkat kenakalan

remaja. Remaja yang diasuh secara otoriter, selain remaja akan merasa kurang

nyaman, remaja juga dapat mengalami depresi. Hal ini didukung oleh penelitian

Madyarini et al (2015) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang sigifikan

positif antara gaya asuh otoriter dengan depresi pada remaja (r = 0,281 p = 0,001).

Remaja yang mendapatkan pengasuhan secara otoriter dari orangtua akan

cenderung untuk merasa di tekan oleh orangtuanya. Remaja merasa kurang bebas

untuk melakukan berbagai kegiatan yang disukainya, karena orangtua yang terlalu

banyak mengatur remaja. Remaja yang dalam fase perkembangannya bertugas

untuk mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab, maka apabila remaja

terlalu banyak diatur oleh orangtua tanpa memberikan kelonggaran atau hanya

memberikan sedikit kebebasan kepada reamaja, dan apabila remaja tidak mampu

menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya maka hal ini dapat menimbulkan

masalah berisiko bagi remaja, seperti penyalahgunaan alkohol.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dengan gaya asuh

otoritatif menyebabkan risiko penyalahgunaan alkohol dengan mayoritas risiko

rendah yaitu sebesar 94,8%, risiko sedang 4,3%, dan risiko tinggi 0,9%.

Steinberg & Silk dalam Santrock (2007b) mengungkapkan bahwa pengasuhan

orangtua yang bersifat otoritatif berkaitan dengan aspek-aspek positif dari

perkembangan. Orangtua yang otoritatif mencapai keseimbangan yang baik antara

pengendalian dan otonomi, memberikan peluang kepada remaja untuk

mengembangkan kemandirian sambil memberikan standar, batasan, dan


123

bimbingan yang diperlukan oleh remaja (Reuter & Conger dalam Santrock,

2007b). Hal tersebut didukung oleh penelitian Mehrinejad et al (2015) bahwa

orangtua dengan pengasuhan otoritatif memiliki hubungan yang signifikan dengan

kretaifitas pada remaja (r = 0,14 p = 0,005).

Selain itu, Baumrind (dalam Lestari, 2012) mengungkapkapkan bahwa

orangtua yang otoritatif akan mendorong anak untuk mampu bersosialisasi dengan

baik, punya inisiatif, dan mandiri. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Fuadi

(2012) dengan hasil bahwa gaya asuh otoritatif memiliki hubungan yang positif

dengan komunikasi interpersonal remaja (r = 0,860 p = 0,000). Orangtua dengan

pengasuhan otoritatif cenderung lebih banyak melibatkan anak-anaknya dalam

dialog verbal dan membiarkan remaja mengekspresikan pandangan-pandangannya

(Kuczynski & Iollis dalam Santrock, 2007b). Adanya keterlibatan dan komunikasi

antara remaja dan orangtua akan menimbulkan perasaan dihargai pada remaja dan

hal ini dapat membantu remaja untuk lebih mengenal cara berhubungan sosial

dengan lebih baik.

Remaja yang mendapatkan pengasuhan otoritatif dari orangtua biasanya

remaja lebih cenderung mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Remaja dalam hal ini diberikan hak oleh orangtua untuk menyatakan

pendapatnya, apabila orangtua merasa bahwa yang dilakukan oleh remaja kurang

sesuai maka orangtua akan memberikan nasehat kepada remaja, dan orangtua

dalam hal ini menghargai pendapat remaja. Pengasuhan otoritatif oleh orangtua

secara sosial dapat menjadikan remaja mampu untuk berperilaku secara


124

bertanggungjawab sehingga remaja dapat terlindungi dari masalah berisiko pada

remaja, seperti penyalahgunaan alkohol.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dengan gaya asuh

melalaikan menyebabkan risiko penyalahgunaan alkohol dengan risiko rendah

sebesar 43,2% risiko sedang 29,5%, dan risiko tinggi 27,3%. Orangtua dengan

gaya melalaikan memiliki pendekatan yang sangat lemah dan merasa tidak punya

banyak waktu untuk membesarkan anak (Maccoby & Martin dalam Shaffer &

Kipp, 2010). Orangtua tidak terlibat dan tidak sensitif terhadap kebutuhan anak-

anak mereka (Shaffer & Kipp, 2010). Hal ini dapat menyebabkan remaja untuk

melakukan semua hal dengan semaunya sendiri tanpa ada rasa takut dalam dirinya

karena kurangnya kontrol dan keterlibatan orangtua dalam kehidupan remaja.

Hoeve et al (2009) menyatakan bahwa orangtua yang kurang memantau anak-

anaknya memiliki hubungan terkait dengan kenakalan anak. Hal ini didukung

dengan penelitian oleh Sofa (2015) bahwa terdapat hubungan yang signifikan

positif antara gaya asuh melalaikan dengan kenakalan remaja (r = 0,492).

Remaja yang mendapatkan pengasuhan secara melalikan berarti orangtua

cenderung untuk membiarkan remaja. Hal ini berarti bahwa orangtua kurang

perduli terhadap kegiatan ataupun suatu hal yang terjadi pada remaja. Remaja

menjadi bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkan tanpa ada rasa takut

bahwa orangtua akan mengkhawatirkan keadaannya. Remaja kurang dibekali

tentang bagaimana cara berperilaku yang baik atau buruk. Hal ini menyebabkan

remaja untuk mudah terbawa oleh arus dari luar, sehingga apabila lingkungan
125

remaja kurang mendukung maka akan menyebabkan remaja terpengaruh dengan

berbagai masalah seperti penyalahgunaan alkohol.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja dengan gaya asuh

memanjakan menyebabkan risiko penyalahgunaan alkohol dengan sebagian besar

risiko rendah sebesar 87%, risiko sedang 8,7%, dan risiko tinggi 4,3%. Hal ini

dapat dikarenakan pada gaya memanjakan orangtua memiliki dukungan dan

keterlibatan yang tinggi pada kehidupan remaja. Dukungan orangtua

mencerminkan ketanggapan orangtua atas kebutuhan anak remaja (Lestari, 2012).

Orangtua dengan gaya memanjakan akan cenderung menerapkan pola penerimaan

yang tinggi tetapi membuat sedikit tuntutan (Shaffer & Kipp, 2010). Shahamat

(dalam Mehrinejad, 2015) juga menyatakan bahwa orangtua dengan gaya

memanjakan akan sering mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang. Hal ini

dapat menjadi suatu hal yang tertanam dalam diri remaja untuk selalu memberikan

kenyamanan kepada orang lain termasuk orangtua dan teman-temannya. Hal ini

dapat ditunjukkan dengan hasil penelitian bahwa sebagian besar remaja berada

dalam risiko rendah (87%).

Namun, pada gaya memanjakan orangtua juga cenderung mengizinkan

remaja untuk mengekspresikan perasaannya secara bebas, tidak memonitor

kegiatan remaja, dan jarang melakukan kontrol yang kuat atas perilaku remaja

(Shaffer & Kipp, 2010). Keadaan ini memungkinkan bagi remaja untuk membuat

keputusan mereka sendiri. Hal ini dapat ditunjukkan dengan hasil penelitian

bahwa sebanyak 8,7% remaja mengalami risiko sedang dan 4,3% risiko tinggi

dalam penyalahgunaan alkohol. Remaja dengan pengasuhan secara memanjakan


126

orangtua cenderung untuk mendahulukan kepentingan remaja. Remaja yang

dimanjakan biasanya orangtua berusaha untuk selalu menuruti apa yang

diinginkan oleh remajanya sehingga dapat menyebabkan remaja kurang

kompeten.

5.2.6 Hubungan Struktur Kekuatan Keluarga dengan Risiko Penyalahgunaan

Alkohol pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten

Jember

Berdasarkan pada tabel 5.9 dapat diketahui tentang analisis hubungan

struktur kekuatan keluarga dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di

SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Hasil analisis

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara struktur kekuatan keluarga dengan

risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja di SMA/Sederajat Kecamatan Kalisat

Kabupaten Jember (p = 0,004 < a 0,005). Hasil pada penelitian ini sejalan dengan

hasil penelitian oleh Nurhayati (2011) bahwa terdapat hubungan antara kekuatan

keluarga dengan perilaku seksual berisiko pada remaja.

Hasil analisis menunjukkan bahwa remaja dengan struktur kekuatan

keluarga kurang baik menyebabkan risiko penyalahgunaan alkohol sedang dan

tinggi masing-masing sebesar 19,8% dan 18,9%, sedangkan 61,3% merupakan

risiko rendah. Lain halnya pada remaja dengan struktur kekuatan baik sebagian

besar remaja berada dalam risiko rendah terhadap penyalahgunaan alkohol yaitu

sebesar 79%, risiko sedang dan tinggi yaitu 14% dan 7%. Struktur kekuatan

keluarga sangat penting untuk mempertahankan otonomi dan pengambilan


127

keputusan dalam keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Goldenberg &

Goldenberg (dalam Friedman et al, 2010) bahwa keluarga dengan anak remaja

menghadapi tantangan organisasional dengan menghargai otonomi dan

kemandirian. Orangtua tidak lagi mempertahankan otoritas yang komplet, namun

mereka juga tidak dapat melepaskan otoritasnya.

Friedman et al (2010) menyatakan bahwa kekuatan keluarga berfokus

pada proses pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh

Koolaee et al (2014) bahwa proses pengambilan keputusan dalam sebuah keluarga

memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku menyimpang pada remaja.

Ayah dalam hal ini memiliki peran yang lebih kuat terkait dengan kenakalan

remaja. Rata-rata struktur kekuatan keluarga dari kelompok remaja nakal sebesar

162,6 dan kelompok remaja tidak nakal sebesar 185,74. Sehingga dapat diketahui

bahwa ada perbedaan yang signifikan antara remaja yang nakal dan tidak nakal

dengan struktur kekuatan keluarga (p < 0,001).

Struktur kekuatan keluarga menggambarkan kemampuan keluarga dalam

mengubah perilaku anggota keluarga yang lain. Dalam hal ini berarti keluarga

berperan dalam mempertahankan perilaku hidup yang sehat kepada anggota

keluarganya termasuk remaja. Remaja yang memiliki perilaku kurang baik maka

orangtua dalam hal berperan untuk mengubah perilaku tersebut agar menjadi baik.

Begitu pula pada remaja yang sudah memiliki perilaku baik maka orangtua

berperan untuk mempertahankan perilaku remaja sehingga tidak menimbulkan

perilaku yang menyimpang, seperti penyalahgunaan alkohol. Orangtua berperan


128

untuk menerapkan aturan-aturan kepada remaja dan aturan ini juga harus diterima

dan dilaksanakan oleh remaja.

5.2.7 Variabel yang Memiliki Hubungan Paling Besar terhadap Risiko

Penyalahgunaan Alkohol pada Remaja di SMA/Sederajat Kecamatan

Kalisat Kabupaten Jember

Hasil analisis pada penelitian ini menghasilkan variabel yang memiliki

hubungan paling besar terhadap risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja

adalah struktur kekuatan keluarga. Kekuatan keluarga sebagai suatu ikatan yang

sangat penting dalam hubungannya dengan perkembangan anak remaja. Kekuatan

bersifat multidimensi, yang berarti kekuatan mencakup komponen struktur sosial,

interaksi (proses), dan hasil (McDonalds dalam Friedman et al, 2010).

Kekuatan keluarga berperan penting dalam halnya mencegah

penyalahgunaan alkohol pada remaja. Kekuatan keluarga dapat berbeda-beda

dalam suatu keluarga, dengan adanya peran yang menentukan siapa yang

mempunyai kewenangan dalam hal tersebut. Keluarga yang memiliki ikatan

kekuatan keluarga yang kuat akan ada rasa tanggungjawab bersama. Martono &

Joewana ( 2008) menyatakan bahwa keluarga dengan ikatan yang kuat aka nada

kedekatan, kesamaan tujuan, dan saling percaya yang menjadikan anggota

keluarga mempunyai rasa memiliki.

Keluarga yang memiliki struktur kekuatan yang lemah dapat

meningkatkan timbulnya masalah berisiko pada remaja, termasuk masalah

penyalahgunaan alkohol. Keluarga ini tidak memiliki kedekatan yang kuat,


129

dingin, tidak saling percaya, dan tidak memiliki tujuan yang sama antar anggota

keluarga (Martono & Joewana, 2008). Hal ini juga sesuai didukung dengan

pernyataan Santrock (2007b) bahwa remaja yang berada dalam keluarga yang

tidak bahagia dengan diwarnai banyak ketegangan, kurang perhatian dari

orangtua, memiliki kelekatan yang tidak aman dengan orangtua, dan memiliki

orangtua yang kurang mampu mengelola kehidupan keluarganya dengan baik

(kurang pengawasan, kurang memiliki ekspektasi yang ditetapkan dengan jelas,

dan kurang memberikan penghargaan terhadap perilaku positif) dapat

menyebabkan remaja untuk berisiko dalam penyalahgunaan alkohol.

Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan gejolak dan merupakan

masa pencarian jati diri sehingga sangat memungkinkan bagi remaja untuk

mencoba ha-hal baru dalam kehidupannya, termasuk alkohol. Remaja dalam tahap

perkembangannya membutuhkan peran dari orangtua untuk mengawasi

perkembangan remaja. Remaja yang dipersiapkan menjadi seorang yang dewasa

membutuhkan kebebasan untuk mencari jati dirinya, namun orangtua seharusnya

tidak memberikan kebebasan secara penuh kepada remaja. Selain kebebasan,

orangtua memberikan tanggungjawab kepada remaja untuk dapat

mempertanggungjawabkan pilihan dari remaja. Orangtua perlu memberikan

aturan-aturan yang rasional dan dapat diterima oleh remaja.

Hal tersebut sejalan dengan Ruutel et al (2014) dalam penelitiannya

tentang keterkaitan pola konsumsi alkohol pada remaja dengan struktur keluarga

dan paparan keluarga yang mabuk mendapatkan hasil bahwa remaja yang tinggal

bersama orangtua yang protektif terhadap konsumsi alkohol, remaja dengan


130

orangtua tunggal, dan remaja dengan orangtua tiri akan cenderung lebih banyak

mengkonsumsi alkohol. Adanya paparan dari keluarga yang juga mengkonsumsi

alkohol secara signifikan dapat menyebabkan remaja untuk minum alkohol.

Selain struktur kekuatan keluarga, gaya pengasuhan orangtua juga

berhubungan dengan risiko penyalahgunaan alkohol pada remaja. Keluarga

sebagai suatu struktur menetapkan aturan yang harus diyakini dan dijalankan oleh

setiap anggota keluarga. Keluarga berperan dalam menerapkan benteng

pertahanan yang kuat pada remaja sehingga remaja dapat terlindungi dari berbagai

permasalahan atau penyimpangan. Keluarga dalam menjalankan aturan ini

diperlihatkan melalui gaya asuh orangtua. Orangtua tidak dapat menyamakan

dalam mengasuh setiap remaja, hal ini dikarenakan remaja memiliki karakteristik

yang berbeda antara remaja yang satu dengan remaja yang lain. Orangtua dalam

menerapkan pengasuhan dapat melihat karakter yang dimiliki oleh remaja

sehingga remaja mampu menerima fungsi pengasuhan orangtua dengan baik.

5.3 Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa

keterbatasan penelitian, diantaranya:

a. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti menggunakan kuesioner

dan tidak dilakukan cross cek data secara langsung untuk menilai kebenaran

data yang terkumpul. Peneliti merasa terdapat siswa yang tidak memberikan

jawaban sesuai dengan kenyataan, sehingga hal ini dapat menimbulkan bias.
131

Untuk meminimalkan hal tersebut maka peneliti mengobservasi dan

mendampingi siswa saat proses pengumpulan data.

b. Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang direncanakan oleh peneliti pada awalnya yaitu pada

pertengahan sampai akhir bulan Maret 2016, namun pada kenyataannya

penelitian baru dapat terlaksana pada awal bulan April sampai pertengahan

April 2016. Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti yang juga melaksanakan

uji validitas dan reliabilitas juga tidak tepat sesuai jadwal yang direncanakan.

Hal ini dikarenakan peneliti harus menyesuaikan dengan jadwal sekolah, yang

kebetulan sekolah juga sedang menjalankan try out persiapan Ujian Nasional.

Begitu juga saat penelitian, peneliti juga harus menyesuaikan dengan jadwal

sekolah yang juga bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Nasional.

c. Sumber Daya

Peneliti merasa cukup kesulitan dalam menentukan jumlah responden

penelitian karena beberapa sekolah tidak memberikan data siswa dengan

alasan datanya hilang dan jarang dilakukan pengisian presensi daftar hadir,

sehingga peneliti menentukan jumlah responden penelitian berdasarkan pada

data yang telah diberikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Selain

itu, pemilihan sampel pada penelitian ini tidak sepenuhnya menggunakan

teknik pemilihan sampel secara random. Pada teknik pengambilan sampel

secara random yang seharusnya peneliti menentukan sampel dengan

melakukan metode randomisasi pada populasi penelitian, namun dalam hal ini

peneliti memberikan kuesioner penelitian kepada seluruh populasi penelitian


132

yaitu siswa kelas X dan XI, hal ini karena peneliti merasa khawatir jika

langsung menentukan sampel secara random nantinya hanya terdapat remaja

yang berada dalam kategori risiko rendah atau tidak memenuhi dalam kategori

risiko sedang, risiko tinggi, maupun kemungkinan ketergantungan

penyalahgunanan alkohol. Keadaan ini mendasari peneliti untuk memberikan

kuesioner penelitian kepada semua populasi penelitian, kemudian dari

kuesioner yang telah diisi tersebut peneliti menentukan sampel penelitian

dengan cara melihat jawaban remaja pada kuesioner risiko penyalahgunaan

alkohol dan kelengkapan jawaban seluruh kuesioner penelitian, hal ini

dilakukan oleh peneliti guna memudahkan peneliti dalam melakukan analisa

dan pembahasan penelitian.

Namun, peneliti yang merencanakan untuk menyebarkan kuesioner kepada

seluruh siswa kelas X dan XI, namun pada beberapa sekolah dengan jumlah

siswa yang besar dan terbagi dalam beberapa kelas, pada kenyataannya

peneliti tidak dapat memasuki setiap kelas untuk menyebarkan kuesioner. Hal

ini karena dari pihak sekolah berkenan untuk mengintensifkan pembelajaran

mengingat bahwa akan dilaksanakan ujian semester, sehingga hanya ada

beberapa kelas yang diberikan kuesioner penelitian. Beberapa sekolah lainnya

saat pelaksanaan penelitian juga banyak siswa yang tidak hadir, yang

dikarenakan pembelajaran yang kurang intensif mengingat bahwa baru

selesainya pelaksanaan Ujian Nasional, sehingga peneliti memberikan

kuesioner penelitian hanya kepada siswa yang hadir saat pelaksanaan

penelitian.
133

5.4 Implikasi Keperawatan

Penelitian ini memiliki implikasi bahwa seorang perawat berperan dalam

memfasilitasi perkembangan remaja. Perawat dapat melakukan tindakan prevensi

untuk menekan terjadinya risiko penyalahgunaan alkohol, baik melalui prevensi

primer, prevensi sekunder, maupun prevensi tersier. Prevensi primer dapat

dilakukan melalui promosi kesehatan baik kepada remaja maupun kepada

keluarga dan masyarakat tentang akibat minum minuman beralkohol pada remaja.

Promosi kesehatan yang dilakukan dapat melalui berbagai cara, media, dan

pendekatan yang dapat diterima oleh keluarga dan masyarakat, sehingga dapat

mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Promosi kesehatan yang dilakukan di

masyarakat dapat melalui pendekatan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama,

maupun kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Keterlibatan kelompok

remaja juga akan sangat mendukung upaya pencegahan risiko penyalahgunaan

alkohol pada remaja.

Perawat berperan dalam pelaksanaan prevensi sekunder yaitu dengan

melakukan deteksi dini tentang penggunaan alkohol pada remaja, hal ini dapat

dilaksanakan oleh puskesmas terutama perawat komunitas. Perawat komunitas

berperan dalam upaya pemantauan, penjaringan melalui pemeriksaan untuk

menentukan secara dini adanya masalah penggunaan alkohol pada remaja.

Kegiatan ini dapat mencakup berbagai upaya seperti pencegahan, konseling, dan

tindakan intervensi yang sesuai dengan indikasinya. Dukungan keluarga sangat

penting dalam upaya keberhasilan pelaksanaan prevensi ini.


134

Selain itu, perawat juga perperan dalam pelaksanaan prevensi tersier yaitu

dengan melaksanakan program pemulihan, terapi, dan rehabilitasi. Hal ini

dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Kegiatan pemulihan yang

dapat dilaksanakan yaitu dengan menghentikan pemakaian alkohol, membangun

jaringan sosial yang mendukung proses pemulihan, memulihkan hubungan

dengan sesama terutama keluarga, dan membangun penilaian diri yang positif.

Adapun kegiatan terapi dan rehabilitasi dapat dilakukan oleh tenaga professional

yang telah berpengalaman dan terlatih.