Anda di halaman 1dari 28

PEMANFAATAN DAUN TURI (Sesbania grandiflora) DALAM PEMBUATAN TEH

HERBAL SEBAGAI OLAHAN INOVATIF RENDAH KAFEIN

PROPOSAL SKRIPSI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Metodologi Penelitian
Yang diampu oleh Dr.Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P.

Oleh :
Giri Halimah Sa’diyah Ulul Asmi 150543605644

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI
April 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Turi merupakan pohon yang berkayu lunak dan berumur pendek. Tingginya dapat
mencapai 5-12 m. Akarnya berbintil-bintil dan berguna untuk menyuburkan tanah.
Bunganya besar dan keluar dari rantingnya. Bunganya apabila mekar, berbentuk seperti
kupu-kupu. Memiliki daun penumpu sepanjang 1/2-1 cm. Anak daunnya bentuknya jorong
memanjang, rata, dan menyirip genap. Panjang tangkai daun 20–30 cm. Tangkainya pendek,
dan setiap tangkai berisi 20-40 pasang anak daun. Warna bunganya ada yang merah dan ada
juga yang putih. Buahnya berbentuk polong, meggantung, bersekat, dengan panjang 20-55
cm, sewaktu muda berwarna hijau, dan sudah tua berwarna kuning keputih-putihan.
Sedangkan bijinya berbentuk bulat panjang, dan berwarna coklat muda (Wikipedia, 2016).

Daun turi sendiri memiliki berbagai manfaat seperti Disentri, Buang air besar darah,
Mencret, Diare, Untuk penyembuhan luka, Untuk mengobati luka memar dan Bengkak-
bengkak, Radang usus, Cacar air, kesleo, Batuk, Beri-beri, Keputihan, Membantu produksi
ASI, Radang tenggorokan, Sakit kepala, Rematik. Namun, dalam kenyataannya
pemanfaatan daun turi belum begitu maksimal karena belum banyak masyarakat mengetahui
manfaat yang kaya terkandung di dalam daun turi. Selain itu msyarakat juga menganggap
daun turi ini hanya sebatas sebagai makanan ternak dan sebagian menganggap sebagai
sampah dari pohon turi itu sendiri, dengan persepsi masyarakat yang rendah tentang daun
turi juga menyebabkan populasi dari daun turi semakin turun Karena kurangnya minat
masyarakat untuk menanam dan memanfaatkan daun turi tersebut.

Jika kita lihat teh yang merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi
di dunia yang dibuat dari tanaman Camellia sinensis (Putri, Devi Dianita & Ulfin Ita, 2015:
105). Teh juga memiliki manfaat bagi tubuh jika dikonsumsi dengan benar yang mana teh
dapat bersifat antibakteri dan antioksidan. Namun dibalik manfaat yang dikandungnya, teh
memiliki bahaya bagi tubuh sehingga perlu diperhatikan pada saat konsumsinya. Konsumsi
teh yang berlebih juga dapat mengakibatkan insomnia kuat, gelisah, delirium, takikardia,
ekstrasistole pernapasan meningkat, tremor otot, dan diuresis. Karena teh yang lama
direndam maka kafein di dalam teh akan semakin terekstrak dan terjadi oksidasi.
Kafein sendiri merupakan stimulan alami yang ditemukan dalam kacang-kacangan,
berry, daun pada tanaman-tanaman tertentu. Kafein umumnya dikonsumsi pada produk kopi
atau teh, dan beberapa telah memperkirakan bahwa minuman ini mungkin yang paling
banyak dikonsumsi di dunia (Samiadi, Aprilia Lika, 2017). Tingkat kafein yang tinggi selain
menjadikan kerja sistem saraf yang berlebih juga dapat menyebabkan penyakit jantung yang
berujung pada kematian, menurut penelitian kandungan kafein pada teh dan kopi pada tahun
2007 menunjukkan bahwa kafein yang berlebih pada tubuh dapat mengakibatkan timbulnya
tekanan darah yang tinggi sehingga dapat menyebabkan penyakit jantung itu sendiri.

Beberapa pengembangan teh yang rendah kafein pun bermuculan, yang pada hasil
analisis di dalam penelitian ini, menemukan beberapa daun yang dapat dijadikan teh seperti
dun sirsak, daun kelor, daun benalu, dan lain-lain. Namun belum ada di dalam
pengembangan tersebut yang mengenai tentang daun turi, padahal daun turi selain bunganya
yang dapat dijadikan sebagai obat herbal dan sayur lalapan, daunnya memiliki kandungan
tersendiri yang baik bagi tubuh. berdasarkan latar belakang yang telah diapaparkan, peneliti
mengadakan penelitian tentang “ Pemanfaatan Daun Turi (Sesbania Grandiflora) Dalam
Pembuatan Teh Herbal Sebagai Olahan Inovatif Rendah Kafein “

2. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui jenis daun turi dan cara pembuatan teh daun turi.
2. Untuk mengetahui kandungan daun turi sebagai pengganti obat batuk kimia.
3. Untuk mengetahui prospek masyarakat terhadap teh daun turi.

3. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Teh pada umumnya merupakan hasil pengeringan dari pucuk daun teh yang masih
muda dan kemudian dihaluskan serta dijadikann sebagai teh sedu atau pun teh celup. Aroma
dan rasa yang diberikan teh pada umumnya wangi melati yang mana daun teh kering tersebut
di campur dengan bunga melati, sehingga didapatkan aroma wangi pada saat teh di sedu atau
di campur dengan air. Meski teh yang sering dikonsumsi masyarakat menawarkan berbagai
aroma yang bervariasi saat ini, namun efek samping yang diberikan juga besar karena
kandungan kafein pada daun teh yang tinggi sehingga memberikan efek pada ginjal yang
mudah terkontaminasi jika sering mengkonsumsinya. Pada teh daun turi menawarkan
sebuah aroma daun yang sangat tajam dan pahit jika dikonsumsi, namun konsumen bisa
menggunakan madu sebagai penambah aroma dan rasa manis sehingga ketika dikonsumsi
lebih enak. Hal tersebut disebabkan karena pada daun turi tidak diberikan campuran seperti
pembuatan teh yang dicampur dengan bunga melati sehingga menjadikan teh ini terasa lebih
pahit jika dirasakan.

Pada pengolahan produk teh daun turi ini, tetap memperhatikan tingkat pengeringan
yang meliputi waktu, suhu dan jumlah daun yang dikeringkan agar didapatkan teh daun turi
yang lebih baik dan memiliki aroma yang khas pada saat hasil akhir.

4. Pentingnya dan pengembangan

Daun turi merupakan salah satu tumbuhan yang di tanam sebagai tumbuhan hias di halaman-
halaman rumah dan di sawah-sawah sebagai tanaman pelindung. Daun turi dapat pula hidup
pada tanah asam dan kadang juga tumbuh subur di tanah berair. Akan tetapi, turi tidak baik
ditanam pada ketinggian lebih dari 1.500 mdpl. Turi biasanya digunakan sebagai tanaman
pelidung pohon rambatan bagi tanaman lada atau vanila.

Perbanyakan turi dilakukan dengan biji atau stek batang.Biji-biji tersebut disemai terlebih
dahulu. Biji yang ditabur tanpa naungan dapat berkecambah hingga 80%, namun
perkembangbiakan dengan stek batang dilakukan kadang-kadang saja. Dengan dibuatnya
produk daun turi perkembangan dan pemanfaatan daun turi diharapkan dapat menjadi batu
loncat bagi masyarakat sehingga memperkecil pengangguran. Selain itu dengan
dikembanngkannya teh daun turi, diharapkan juga masyarakat mau untuk menjaga dan
menanam daun turi sehingga populasinya tidak hilang dan punah. Pengembangan yang
dimaksudkan juga diharapkan teh daun turi ini tidak hanya sebatas sebagai olahan teh
sederhana, namun lebih kepengolahan yang membuat teh daun turi ini menjadikan teh yang
memiliki rasa hampir sama dengan teh dari pohon teh, namun kebermanfaatannya yang
berbeda dan resikonya yang lebih kecil dibandingkan teh, sehingga konsumen sendiri tidak
terlalu berpikir lagi untuk memilih rasa dari teh daun turi yang dianggap memiliki rasa pahit.

5. Definisi Operasional

1. Teh Daun Turi merupakan teh yang dibuat dari proses pengeringan daun turi yang masih
muda dan kemudian dihaluskan sehingga terciptanya serbuk daun turi kering dengan rasa
khas daun turi dan rasa yang agak pahit ketika disedu.
2. Teh herbal merupakan jenis teh yang dibuat dari berbagai bahan herbal atau bahan alami
yang memiliki kandungan kimia yang sangat rendah sehingga ketika dikonsumsi akan lebih
aman dibandingkan dengan bahan teh yang dipakai dari campuran bahan kimia.

3. Daun Turi merupakan daun dari pohon turi yang memiliki diameter daun yang kecil
berkisar 3-5 cm yang memiliki nilai kandungan zat yang banyak seperti protein, karbohidrar,
Kalium, dan lain-lain.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Daun Turi Merah

1. Pengertian

Turi merupakan pohon yang berkayu lunak dan berumur pendek. Tingginya dapat mencapai
5-12 m. Akarnya berbintil-bintil dan berguna untuk menyuburkan tanah. Bunganya besar dan
keluar dari rantingnya. Bunganya apabila mekar, berbentuk seperti kupu-kupu. Warna
bunganya ada yang merah dan ada juga yang putih. Ada juga yang berwarna gabungan
kedua-duanya. Letaknya menggantung dengan 2-4 bunga dan bertangkai, kuncupnya
berbentuk sabit. Rantingnya menggantung, kulit luar berwarna kelabu hingga kecoklatan.
Kulit luarnya ini tidak rata dengan alur membujur dan melintang tidak beraturan dengan
lapisan gabus yang mudah terkelupas. Pada bagian dalam, batangnya berlendir dan berair
yang berwarna merah, dan rasanya pahit. Percabangan baru keluar apabila panjangnya sudah
mencapai 5 meter. Daunnya majemuk dan tersebar. Memiliki daun penumpu sepanjang 1/2-
1 cm. Anak daunnya bentuknya jorong memanjang, rata, dan menyirip genap. Panjang
tangkai daun 20–30 cm. Tangkainya pendek, dan setiap tangkai berisi 20-40 pasang anak
daun. Warna bunganya ada yang merah dan ada juga yang putih.Buahnya berbentuk polong,
meggantung, bersekat, dengan panjang 20-55 cm, sewaktu muda berwarna hijau, dan sudah
tua berwarna kuning keputih-putihan. Sedangkan bi Spesies ini tersebar di India Timur
sampai Australia. Di Indonesia, tumbuhan ini ditanam sebagai tumbuhan hias di halaman-
halaman rumah dan di sawah-sawah sebagai tanaman pelindung. Ia dapat pula hidup pada
tanah asam dan kadang juga tumbuh subur di tanah berair.Akan tetapi, turi tidak baik
ditanam pada ketinggian lebih dari 1.500 mdpl.Turi biasanya digunakan sebagai tanaman
pelidung pohon rambatan bagi tanaman lada atau vanila.

Perbanyakan turi dilakukan dengan biji atau stek batang.Biji-biji tersebut disemai terlebih
dahulu. Biji yang ditabur tanpa naungan dapat berkecambah hingga 80%, namun
perkembangbiakan dengan stek batang dilakukan kadang-kadang saja.

jinya berbentuk bulat panjang, dan berwarna coklat muda Daun, bunga dan polongnya yang
masih muda dapat dimakan sebagai sayur atau lalap setelah direbus terlebih dahulu. Daun
muda ini baunya tetap tidak enak dan berlendir, sekalipun telah dikukus. Namun lalapan
daun ini baik dimakan ibu untuk menambah ASI. Bunganya terasa gurih dan manis, sehingga
digemari sebagai campuran pecel. Untuk membuat pecel ini, bunga turi (bisa juga diganti
kacang panjang) ini dicampur dengan "ganteng" taoge, bersama dengan kulit melinjo yang
sudah dikukus direbus sampai cukup masak. Kalau merebus bahan-bahan ini hanya setengah
matang, akan menyebabkan rasa "gatal" di tenggorokan karena bulunya belum rontok. Buah
turi yang berwarna putih merupakan sayur yang sangat digemari di Jawa. Polongnya pun
dapat dimakan layaknya kacang panjang. Pepagan turi mengeluarkan getah bening yang
akan mengeras menjadi gom apabila kena udara. Gom ini dimanfaatkan sebagai pengganti
gom arab, dan digunakan dalam makanan dan perekat.Di Karimunjawa, lendirnya digunakan
untuk pewarna.

Getah turi itu dimanfaatkan nelayan zaman dahulu untuk mengolesi tali pancing dan jala
agar lebih awet. Getah ini juga dapat dicampurkan ke dalam cat hitam yang dipakai untuk
mengawetkan tambang atau kayu bangunan; selain itu getah juga bersifat mengikat cat. Gom
turi digunakan pula sebagai perekat dalam penjilidan buku.

Di samping getah, cairan rebusan pepagan turi dipakai untuk merendam alat-alat penangkap
ikan sehingga tahan lama. Di Kebumen, air rebusan yang dicampur dengan jelaga dipakai
untuk memberi warna hitam pada kerajinan anyaman bambu.

2. Kandungan kimia yang terkandung dalam daun turi diantaranya adalah

kandungan pada kulit batang terdapat adanya tanin, egatin, zantoagetin, basorin, resin,
kalsium oksalat, sulfur, peroksidase, zat warna. Pada daun terdapat saponin, tanin,
glikoside, peroksidase, vitamin A dan B dan pada bunga terdapat kalsium, zat besi, zat
gula, vitamin A dan B (Arland, 2007).

Kandungan gizi tersebut adalah 36.3 g protein, 7.5 g lemak, 47.1 g karbohidrat,
1684 mg Ca, 258 mg fospor (P), 21 mg Na, 2,005 mg K, 25,679 mg b-karoten, 1.00 mg
thiamin, 1.04 mg riboflavin, 9.17 mg niacin dan vitamin (A,B1, dan C) (Duke,1983).

Pucuk atau daun muda turi lebih banyak digunakan karena diketahui mempunyai
khasiat. Dalam 100 gram daun muda, ia mengandung 77,2 g air;

8,4mg protein; 1,1g lemak; 9,7g karbohidrat; 1,8g serat dan 181 mg kalsium.

Selain itu, ia juga menyimpan 29 mg fosfor; 0,3mg ferum; 23mg natrium; 356mg
kalium; 0.6mg vitamin B1; 0,71mg vitamin B2 dan 11mg vitamin C serta 2,4 mg
niasin (Depkes RI, 2008). Turi mengndung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi
tiap 100 gram adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2 Kandungan Gizi daun Turi Merah


Kandungan Gizi Turi Merah
Karbohidrat (g) 47.1
Ca (mg) 1684
Protein (g) 36.3
Lemak (g) 7.5
Fospor (P) (mg) 258
Na (mg) 21
K (mg) 2,005
Thiamin 1.00
Riboflavin 1.04
Niacin 9,17
Vitamin A,B1, dan Vitamin C

Mengkonsumsi turi dalam jumlah yang cukup memberikan manfaat yangbesar. Dalam
daun turi terdapat berbagai kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, vitamin dan
mineral. Peran utama karbohidrat di dalam tubuh adalah menyediakan glukosa bagi
tubuh, yang kemudian di ubah menjadi energi. Karbohidrat juga baik untuk
perkembangan otak dan sistem syaraf. Selain fungsinya diatas krbohidrat mempunyai
fungsi sebagai hormon pertumbuhan.

Hormon pertumbuhan dikeluarkan oleh kelenjar pituitary anterior juga


meningkatkan gula darah yang menyebabkan meningkatnya asam amino dan

sintesis protein oleh semua sel, menurunnya pengambilan glukosa oleh sel dan

meningkatkan mobilisasi lemak untuk energi ( Sunita, 2003). Dalam nahan pangan
nabati, karbohidrat merupakan komponen yang relatif paling banyak, sehingga
karbohidrat merupakan sumber energi yang pertama dan utama yang disediakan
melalui makanan kita sehari-hari.
Berdasarkan sifat ketersediaanya bagi tubuh maka karbohidrat di kelompokkan
menjadi dua golongan, yaitu karbohidrat tersedia dan tidak tersedia.

Daun turi merupakn termasuk karbohidrat yang tidak tersedia. Karbohidrat yang tidak
tersedia merupakan karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim- enzim yang
terdapat dalam saluran pencernaan manusia, sehingga akhirnya tidak dapat diserap oleh
tubuh. Karbohidrat yang termasuk dalam kelompok ini dalah polisakarida turunan dari
hemiselulosa, lignin, gum, dan pektin): serta beerapa macam disakarida misalnya
laktulosa. Karbohidrat yang tidak tersedia ini dapat difermentasi oleh mikroflora yang
terdapat dalam saluran pencernaan, menjadi asam lemak rantai pendek dan dalam
saluran pencernaan, menjadi asam lemak rantai pendek dan asam laktat. Sebagian dari
hasil fermentasi ini akan diserap oleh usus besar dan akhirnya dimetabolisme dalam tubuh
(Muchtadi, 2008)..
Polisakarida yang terdapat pada daun turi berupa pektin dan selulosa. Pektin
merupakan suatu bahan yang bersifat lendir dalam tumbuh-tumbuhan, yang
menghsilkan selai dan memberika sifat khas pada makanan yang telah dimasak,
sehingga sering disebut hemeselulosa. Sedangkan selulosa merupak polisakarida yang
susunan molekulnya sangat besar dan banyak diperoleh dalam dinding sel tanaman
maupun seratnya. Selain itu selulosa merupakan bagian terpenting dari kayu dengan
berbagi serat sayur-sayuran. Walaupun selulosa tidak dapt dicerna,

tetapi dapt memnberikan rangsangan pada otot peristaltik pada saluran pencernaan kita
(Hariani, 2008).

Dalam daun turi juga mengandung protein. Munurut Muchtadi, (2008)

menyatakan bahwa protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena

selain sebagai sumber energi, protein berfungsi sebagai zat pembangun tubuh dan zat

pengatur di dalam tubuh.


Selain zat pembangun, fungsi utamanya bagi tubuh adalah membentuk jaringan baru

(misalnya membentuk janin pada masa kehamilan seorang ibu atau jaringan baru pada

proses pertumbuhan anak), di samping untuk memelihar jaringan yang telah ada

(pengganti bagian-bagian yang aus atau rusak). Fungsi utama protein adalah sebagai

pertumbuhandan pemeliharaan jaringan, pembentukan senyawa tubuh yang esensial,

pembentukan antibodi, transpor zat gizi dan mempertahankan netralitas tubuh.

Vitamin juga terdapat pada daun turi. Diantarany adalah vitamin A, B1, dan

Vitamin C. Yang paling besar kandungan vitamin yang terdapat pada daun turi adalah

vitamin C. Vitamin C memegang peranan utama dalam pembentukan kolagen

interseluler. Kolagen adalah sejenis protein yang merupaka salah satu komponen

utama dari jaringan ikat, jaringan tulang rawan, matrik tulang, dentin, lapisan

endotellium pembuluh darah (Hariani, 2008). Vitamin C bersifat mudah diabsorsi

secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke

peredaran darah melalui vena porta. Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam

tubuh, yaitu sebagai koenzim dan koofaktor dalam tubuh. Vitamin C juga membantu

absorpsi kalsium dengan menjaga agar kalsium berada dalam bentuk larutan. Vitamin

C ini juga dikatakan dapat mencegah dan menyembuhkan penyakit kanker,

kemungkinan karena vitamin C dapat mencegah pembentrukan nitrosamin yang

bersifat karsinogenik. Di samping itu peranan vitamin C sebagai antioksidan diduga

dapat mempengaruhi pembentukan sel-sel tumor. Akan tetapi hal ini belum dibuktikan

secara ilmiah. Vitamin C juga dapat menurunkan taraf trigliserida serum tinggi yang

berperan dalam terjadinya penyakit jantung (Sunita, 2003 ).


Selain kandunga vitamin C diatas, vitamin A juga mempunyai peranan penting

terhadap tubuh. Vitamin A berperan penting dalam sintesa protein, sedangkan protein

berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga vitamin A dapat berakibat lebh lanjut

terhadap pertumbuhan. Fungsi vitamin A juga dalam proses reproduksi berperan penting

dalam proses pembentukan hormon steroid, testosterone, progresteron, estrogen dan

sebagainya, sedangkan hormone steroid mengatur fungsi yang berhubungan dengan

reproduksi, sehingga vitamin A ikut dalam proses reproduksi (Hariani,2008).

Vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan yang normal. Pertumbuhan

hewan percobaan terhenti bila tidak tidak disuplai vitamin A dan persediaan vitamin A

dalam tubuhnya telah habis. Pertumbuhan sel-sel epitel, baik yang terdapat pada

permukaan kulit saluran kemin, dan pernafasan, menjadi abnormal apabila difesiensi

vitamin A. Beberapa macam vitamin berfungsi sebagai ko- enzim, yaitu senyawa yang

memebantu fungsi enzim. Senyawa sebagai ko-enzim pada enzi-enzim yang diperlukan

untuk memperoleh energi baik dari karbohidrat, lemak, maupun protein.

Menurut Arief (1989) vtamin A adalah zat makanan (nutrisi) yang diperlukan

tubuh dalam jumlah yang kecil. Dalam proses reproduksi berpewran sebagai pemacu dan

pertumbuhan dan perkembangan sel supaya berjalan secara normal. Vitamin A ini lumayan

relatif stabil terhadap panas, sehingga apabila mengalami pemanasan kandungan terhadap daun

turi tidak banyak yang hilang (Poedjiadi, 1994). Sedangkan mineral merupakan unsur-unsur

yang berbeda dalam bentuk sederhana.Dalam ilmu gizi disebut unsur- unsur mineral dan

nutrien. Mineral ini berfungsi sebagai zat gizi anorganik (Msetyo, 2001).
Mineral merupakan zat makanan yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, tetapi

seringkali menimbulkan masalah gizi karena konsumsinya yang tidak terpenuhi. Unsur

mineral ini penting peranannya dalam proses ,metabolisme zat gizi seperti karbohidrat,

lemak, protein. Mineral bersifat esensial bagi tubuh karena merupakan unsur organik

yang tidak dapat dikonversikan dari zat gizi lain sehingga harus selalau tersedia dalam

makanan yang dikonsumsi (Bender, 1993). Mineral dibagi dalam dua kelompok yaitu

mineral-mineral yang jumlahnya dalam tubuh lebih besar dari 0.01% berat badan

diperlukan dalam tubuh kurang dari 100 mg/hari yang disebut sebagai micromineral

(Piliang, 2001).

Sementara menurut Bender (1990), mineral diperlukan tubuh dalam jumlah

yang bervariasi, mulai dari satuan gram per hari untuk unsur-unsur mineral makro

(kalsium, natrium, kalium, fosfor dan klorida) sampai milligram (besi, zinc dan

tembaga) migrogram (selenium, kromium) per hari untuk unsure-unsur mineral mikro

yang disebut juga trace elements (Erli, 2004).

Menurut Muchtadi (2008), bahwa secara umum suatu elemen mineral


dianggap esensial bagi tubuh,hal ini telah dibuktikan oleh lebih dari satu peneliti. Tubuh
mempunyai beberapa cara untuik mengontrol jumlah yang diserap dari saluran
pencvernaan, dan mengatur jumlah mineral yang ditahan oleh tubuh. Pengeluaran dan
kebihan mineral dapat dilakukan melalui ginjal, hati, serta kulit.

Kalcium (Ca) merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam

tubuh, yaitu 1,5 -2 % dari berat orang dewasa atau kurang lebih sebanyak 1 kg.
Dari jumlah ini, 99 5 berada pada jaringan keras, yaitu gigi dan tulang dan gigi terutama

dalam bentuk hidrogsiapatit. Dalam keadaan normal sebanyak 30-50 % kalsium yang

dikonsumsi pada laki-laki tinggi dari pada perempuan pada semua golongan manusia.

Kalsium hanya dapat diabsorpsi bila terdapat dalam bentuk larut dalam air dan tidak

mengendap kerena unsur oksalat. Kalsium yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui

feses. Jumlah kalsium yang dieksresi melalui urine mencerminkan jumlah kalsium yang

diabsorpsi. Kehilangan kalsium melalui urin meningkat pada asidosis dan pada

konsumsi fosfor tinggi. Kehilangan kalsium juga terjadi melaui sekresi cairan yang

masuk kedalam saluran cerna, dan melalui keringat (Sunita, 2004)..

Khasiat turi yang terdapat pada daun dan bunganya dapat memperlancar

peningkatan produksi air susu Ibu (ASI), selain itu juga dapat digunakan sebagai

sayur-sayuran, lalapan dan pecel. Masyarakat sebagian besar menggunakan daun turi

yang masih muda dengan dikukus dan dilalap. Karena sifatnya yang tidak beracun,

maka kedua jenis pohon turi dapat dimanfaatkan sebagai obat. Turi dapat mengobati

penyakit diare, pusing, radang tenggorokan, demam, sakit kepala, hidung berlendir

dan rematik (Arland, 2007). Pada daunnya juga digunakan sebagai obat batu

ginjal dan antioksidan. Hampir semua bagian pohon turi dapat dimanfaatkan oleh

manusia, bunganya banyak mengandung vitamin dan dapat dijadikan sayur pecel.

Selain itu daun muda dan polong muda dapat juga dipakai sebagai sayur. Bijinya

dapat dimanfaatkan sebagai tempe karena tingginya protein yang terkandung di

dalamnya. Sedangkan manfaat lain adalah daun dan ranting muda sangat baik

untuk makanan ternak, pohon turi juga dapat dijadikan sebagai pohon penghijauan

(Dhyan, 2008)
3. Kafein

Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam famili methylxanthine bersama-sama


senyawa teofilin dan teobromin. Kafein ialah serbuk putih yang pahit. Kafein memiliki berat
molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air).
Nama sistematik kafein ialah:

o 1,3,7-trimetilxanthine

o 3,7-dihidro-1,3,7-trimetil-1 H-purin-2,6-dione

Kafein mempunyai daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat, stimulan otot
jantung, meningkatkan aliran darah melalui arteri koroner, relaksasi otot polos bronki, dan
aktif sebagai diuretika, dengan tingkatan yang berbeda. Dan, tidak sama dengan yang lain,
daya kerja sebagai stimulan sistem syaraf pusat dari kafein sangat menonjol sehingga
umumnya digunakan sebagai stimulan sentral.

Kafein biasanya aman dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan. Para ahli
menyarankan 200-300 miligram konsumsi kafein dalam sehari merupakan jumlah yang
cukup untuk orang dewasa. Tapi, mengonsumsi kafein sebanyak 100 miligram tiap hari
dapat menyebabkan individu tersebut tergantung pada kafein. Maksudnya, seseorang dapat
mengalami gejala seperti rasa lelah, perasaan terganggu atau sakit kepala jika ia tiba-tiba
berhenti mengonsumsi kafein.

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan intoksikasi kafein (yaitu mabuk akibat
kafein). Antara gejala penyakit ini ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka
merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi
walaupun hanya 250 mg kafein yang diambil. Jika lebih 1 g kafeina diambil dalam satu hari,
gejala seperti kejangan otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia
kardium (gangguan pada denyutan jantung) dan bergejolaknya psikomotor (psychomotor
agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafein juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit
kerisauan.

Setiap orang berbeda kadar kepekaannya terhadap kafein. Beberapa kepekaan


terhadap pengaruh kafein terhadap ibu yang sedang hamil telah diungkapkan, yaitu dapat
menyebabkan kelahiran bayi yang cacat. Penelitian terhadap manusia dan hewan belum
konklusif hasilnya; apakah benar dengan konsumsi normal sehari-hari dapat mengakibatkan
kelahiran bayi yang cacat. Walaupun demikian karena adanya ketidakpastian dalam
penelitian terhadap manusia dan telah adanya bukti yang nyata bahwa beberapa bayi cacat
terjadi pada hewan percobaan, maka dapat disarankan untuk perempuan yang sedang hamil
untuk mengurangi konsumsi kafeinnya perhari.

Bagi orang yang mempunyai tekanan darah tinggi, teh memang dapat membantu melindungi
jantung. Akan tetapi bagi yang telah terlanjur menderita penyakit jantung, mereka harus
menghindari minum teh kental, karena kadar kafein dalam teh bisa merangsang orang dan
menaikkan tekanan darahnya. Bila mereka tetap minum teh maka jantungnya akan berdetak
cepat, merasa sangat gelisah bahkan mengalami arrhythmia atau tidak adanya irama jantung.

5. Prospek Industri Turi

Pada Industri Turi perlu di galakan dan disebarluaskan, terutama di daerah-daerah yang
penduduknya rata rata memiliki tanaman ini di perkarangan rumah ataupun di halaman
rumah masing-masing. Tanpa kita sadari Pada prospek penanaman turi ini sangat bermanfaat
untuk meningkatkan konsumsi sayur yang memiliki nilai gizi tinggi tanpa perlu membeli
dengan harga yang mahal. Oleh karena itu dengan adanya inisiatif dengan menanam tanaman
yang dapat di manfaatkan untuk peningkatan nilai gizi dapat di lakukan di setiap rumah yang
telah memiliki keluarga, untuk menunjang pada mengkonsumsi Pola makanan yang sehat.
Selain hal tersebut, pemanfaatan pohon turi yang diambil daunnya untuk dijadikan teh dapat
meningkatkan produktivitas dari masyarakat sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan
baru yang lebih luas karena semakin menipisnya lapangan pekerjaan yang ada. selain itu
dengan dibentuknya tempat produksi daun turi, maka dapat dijadikan sebagai prospek usaha
masyarakat dalam hal cindera mata atau oleh-oleh dari bahan dasar daun turi. Cindera mata
yang dimaksud adalah berupa gantungan kunci dari daun turi yang dimasukkan ke dalam
marmer atau bentuk makanan dari daun turi.

6. Teknik Pembuatan Teh Daun Turi

Pada uraian sebelumnya, telah dijelaskna bahwa teh daun turi memiliki kasiat yang
salah satunya untuk meredakan penyakit tenggorokan atau batuk yang dapat dikonsumsi
dengan cara diseduh atau dengan kata lain dijadikan serbuk teh. Berikut bahan dan cara
pembuatan teh daun turi.

1. Bahan yang diperlukan

Bahan pembuatan teh daun turi membutuhkan bahan dasar dan bahan pendukung.
Kedua bahan tersebut tidak boleh kurang sedikitpun, karena jika kurang ataupun salah satu
tidak ada akan mempengaruhi hasil akhir dari teh daun turi baik dari aroma maupun rasa
yang dihasilkan.

a. Bahan Dasar

adapun bahan-bahan dasar pembuatan teh daun turi yang tidak boleh tertinggal sebagai
berikut :

 Air Bersih

Air yang digunakan dalam pencucian daun turi harus menggunakan air yang bersih.
Dengan ciri-ciri air bersih yaitu air tidak berbau dan tidak berwarna karena jika pada tahap
awal pencucian tidak menggunakan air yang benar-benar bersih, akan menyebabkan hasil
akhir menjadi beraroma tidak sedap.

 Daun Turi

Daun turi yang digunakan juga harus memperhatikan dari kualitas petikan daun, jadi
daun yang dipetik harus berwarna hijau, tidak boleh berwarna kuning ataupun coklat. Hal
tersebut akan menyebabkan aroma turi menjadi kurang sedap ketika dikeringkan.

2. Cara pembuatan Teh Daun Turi


Dalam Pembuatan teh daun turi membutuhkan alat yang memiliki berbagai fungsi
sehingga dapat menciptakan teh daun turi yang beraroma dan memiliki kandungan gizi yang
tinggi, terdapat alat utama yaitu pengering, penggiling dan pengayak yang berguna untuk
menyaring hasil yang sudah dikeringkan.
A. Alat Utama
Alat yang digunakan untuk kegiatan pembuatan dan tidak boleh sampai tertinggal
karena memiliki peran yang penting saat pembuatan teh daun turi. Berikut alat utama nya :
1. Oven Pengering
Alat yang digunakan untuk mengeringkan Daun turi sebelum dilakukan penyortiran.
2. Pengayak berupa ayakan sederhana dari kawat berpori kecil.
Alat yang digunakan untuk menyaring daun kering yang sudah dikeringkan sehingga
didapatkan daun yang tidak lembut namun agak memiliki tekstur yang masih kasar.
3. wadah penyimpang berupa kaca atau toples kaca
Alat yang berguna agar aroma dan rasa dari teh daun turi tetap terjaga baik dari aroma
maupun dari segi rasa.
4. penggiling berupa blender
Digunakan untuk mencacah daunt eh kering agar tidak ada daun yang berukuran besar
dan hal tersebut berpengaruh pada kualitas teh pada saat dikonsumsi.

B. Proses Pembuatan Teh Daun Turi :

1. Pelayuan daun turi

Daun turi yang telah dipetik akan terjadi perubahan – perubahan senyawa polisacharida dan
protein. Ini mengakibatkan perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam
amino akan meningkat demikian pula dengan asam - asam organik lainnya. Semua
perubahan ini dalam istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi
pengaruh terhadap mutu teh.

Perubahan – perubahan kimiawi ini akan terganggu apabila daun turi terkena udara panas
secara berlebihan akan mengalami kerusakan mekanis. Agar daun dapat digiling dengan baik
pada proses penggilingan maka daun harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus
dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk. Pelayuan
fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan waktu kurang dari 6
jam.

Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan
rusak tidak akan menghasilkan mutu yang baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di
dalam pucuk segar harus dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur
dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.

Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan oven dengan suhu yang rendah
dan daun turi disusun secara bersap dengan wadah datar, kemudian di layukan dalam waktu
10-15 menit dengan suhu 20-30 derajat Celsius.

2. Penggilingan Daun Turi Layu

Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh adalah :


Mememarkan dan menggiling seluruh bagian Daun Turi agar sebanyak mungkin sel – sel
daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.
Memperkecil daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade – grade teh yang
diharapkan oleh pemasaran. Memeras cairan sel daun keluar sehingga menempel pada
seluruh permukaan partikel – pertikel teh. Pada proses penggilingan dilakukan dengan
memblender daun turi dengan alat blender dalam waktu 2-3menit.

3. Proses Fregmentasi
Proses fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap program
giling harus di tunjang oleh kelengkapan alat yang tepat dan cukup jumlahnya dengan
layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula dengan potensi hasil
kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang mantap ( konstan ) dari hari ke hari,
merupakan tujuan yang utama.

Didalam tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh,
sehinnga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama.

Hasil penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan
persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang kecil.
Persentase bubuk 1 dan bubuk 2 harus sama dengan persentase bagian muda atau halus
dari analisa pucuknya, dan kisama pula dengan persentase mutu ke 1 hasil sortasi
keringnya.
Waktu lama fermentasi dihitung ketika daun turi muda layu masuk kedalam alat blender
giling petama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam mesin pengering.
Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan mengalami waktu lama
fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian output gilingan dan input (
kapasitas ) mesin pengeringnya . Untuk itu setiap bubuk hasil penggilingan harus
ditimbang dan dicatat. program giling diatas ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan
bubuk 2 masing –masing 30 % dan 40 % ( jumlah 78 % sampai 80 %)

Ruang penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi
penguapan air dari teh yang sedang digiling. Khususnya bubuk basah yang sedang
menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam bentuk
basah dapat menghambat proses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar dan cukup
karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.

Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar
selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan
harus cukup tersedia.

4. Pengeringan

Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula
untuk menurunkan kandungan air didalam teh sampai +3 % kandungan air yang rendah ini
bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya. Proses pengeringan
secara sederhana dapat digunakan alat oven yang memiliki pengaturan suhu sehingga dapat
diatur suhu pengeringan yaitu 80o C.

5. Proses Penyimpanan
Pada proses ini teh yang sudah kering langsung di simpan pada toples kaca yang
bertujuan untuk menjaga aroma dan rasa teh dan menghindarkan dari kontaminasi zat di
dalam udara yang dapat merusak kondisi teh daun turi itu sendiri.
Alur Pembuatan Teh Daun Turi :

Daun Turi Penyortiran Pelayuan Penggilingan


Daun Turi daun Turi daun Turi

Proses Proses
Penyimpana Pengeringan
Fregmentasi
n
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Pengambilan data dilakukan selama proses pembuatan Teh Daun Turi. Suhu, jumlah
bahan dan cara pembuatan akan diperhitungkan untuk mendapat sampel dan akan diuji
secara organoleptik. Dari sampel yang dihasilkan akan dipilih sampel dengan rasa yang
paling layak. Kemudian dari dari sampel tersebut akan diuji dalam laboratorium untuk
mengetahui kandungan protein, rasa, warna, dan aroma pada produk jadi.
Bahan-bahan seluruhnya akan dibeli di pasar tradisional. Penelitian akan dilakukan
dengan membeli semua bahan tersebut kemudian mengolahnya sesuai standar dan menguji
kandungan Kafein, rasa, warna, dan aroma. Selain itu juga akan di uji coba ke masyarakat,
apakah masyarakat bisa menerima dan menyukai produk Teh Daun Turi tersebut.
Produk Pengujian Indikator
Teh Daun Turi Tekstur Tektur yang diteliti adalah hasil
akhir dari Teh Daun Turi. Tekstur
yang diharapkan adalah halus dan
tidak terdapat daun yang
berukuran besar.
Warna Warna yang diteliti adalah warna
Hitam Kecoklatan
Rasa Rasa diteliti adalah adalah rasa
tidak terlalu pahit
Kandungan Kafein Kandungan Kafein yang
Teh Daun Turi terkandung dalam Teh Daun Turi
Harus serendah mungkin (kurang
dari 1 %)

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling


1. Populasi
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan obyek yang karakteristiknya hendak diduga
(djarwanto, 2000:107). Populasi yang menjadi target dalam penelitian ini adalah konsumen
yang pernah membeli produk petis dari Teh Daun Turi di pasar tradisional. Jadi jumlah
populasi yang dimaksud adalah jumlah yang membeli produk teh daun turi dalam kurun
waktu 6 bulan.
2. Sampel

Menurut Djarwanto (2000:108), sampel adalah bagian dari populasi yang


karakteristiknya hendak diselidiki, dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi
(jumlahnya lebih sedikit daripada jumlah populasi).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari pembeli yang
pernah membeli Teh Daun Turi dalam 3 bulan terakhir. Sampel disini merupakan orang-
orang yang membeli dalam 3 bulan terakhir dengan jumlahnya dibagi 2 dengan populasi
yang didapatkan.

3. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability


sampling yaitu sampling insidental. Menurut Sugiyono (2010:66), nonprobability sampling
adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi
setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Pada sampling insidental
peneliti menarik sampel berdasarkan kebetulan. Kriterianya adalah konsumen yang pernah
membeli Teh Daun Turi di pasar tradisional sebanyak lebih dari 1 kali selama 3 bulan
terakhir.

C. Analisi Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian yang berjudul “ Pemanfaatan Daun
Turi (Sesbania grandiflora) Dalam Pembuatan Teh Herbal Sebagai Olahan Inovatif Rendah
Kafein” menggunakan teknik Analisa data berupa Uji ANAVA yang mana uji ini digunakan
untuk mengetahui signifikansi dari data homogen dari penelitian. Teknik analisa data dengan
uji ANAVA juga sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui signifikansi hasil
dari pembuatan teh herbal dari daun turi aerta prospek ke dalam pasar. Hipotesis penelitian
di uji menggunakan bantuan program SPSS 16.0 For Windows dan dilakukan pada taraf
signifikasi 5 %. Pengujian hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :

1. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak


2. Jika nilai probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

Selain itu, untuk mengetahui konsistensi sintaks pembelajaran yang diterapkan selama
pembelajaran, dilakukan Analisa data keterlaksanaan sintaks dengan 2 cara yaitu
menggunakan lembar observasi dan menggunakan Analisa regresi linier yang diperoleh dari
skor pretest dan posttest.
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. Khasisdt turi. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php


Diakses Tanggal 25 September 2008

Adi, Parwata Oki dan Fanny Sastra Dewi. 2008. Isolasi dan Uji aktivitas
antibakteria minyak atsiri dari rimpang lengkuas (Alpinia galanga
L.). Jurusan Kimia. Jurnal Kimia 2 (2) : 100-104. FMIPA. Universitas
Udayana : Bukti jimbaran.

Arlan. 2007. Tanaman Obat. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php


Diakses Tanggal 30 Juli 2008

Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.

Baskoro, Anton. 2008. ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui. Banyu Media: Yogyakarta

Bagrana, J.T & Turner, C.D. 1980. Endokrinologi Umum. Airlangga Universitas Press:
Surabaya

Bavelander, Judith.A. 1979. Dasar- dasar Histologi Edisi kedelapan. Erlangga


.P.T Gelora Aksara : Jakarta
Brade, W. 1992. A. review of influence of breeding, feeding and other factors on
milk production and composition. Animal Research and Defelopment-
institut for Scientific Cooperation, Tubingen, Vol. 36, p.68-91.

Pidada, Rai. IB. 2002. Perbandingan Pengaruh infus daun Katu dan daun lampes
Harapan: Jakarta

Anonim. 2016. Daun Turi, (https://id.wikipedia.org/wiki/Turi), (Online), diakses 29 April


2017.
Samiadi, Aprilia Lika. 2017. Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi Terhadap Kafein dalam
Teh Hitam,
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=415166&val=4187&ti
tle=Pengaruh%20Suhu%20dan%20Waktu%20Ekstraksi%20terhadap%20K
adar%20Kafein%20dalam%20Teh%20Hitam.), (Online), diakses 29 April
2017.