Anda di halaman 1dari 5

SOAL

1. Jelaskan perbedaan konsep antara etika, moral, dan akhlak ditinjau dari segi fokus
kajiannya, sumbernya dalam memandang perbuatan manusia yang bersifat baik atau
buruk!
2. Jelaskan kedudukan akhlak dalam ajaran islam!
3. Mengapa akhlak menjadi simbol harkat dan martabat seorang muslim!
4. Bagaimana pandangan anda tentang upaya-upaya pembentukan akhlak!
5. Bagaimanakah tuntutan agama dalam mengaktualisasikan akhlak dalam kehidupan
sehari-hari!

JAWAB
1. Secara etimologi akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti
menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluk (yang diciptakan)
dan khalq(penciptaan). Sedangkan pengertian akhlak menurut istilah merupakan
kebenaran wahyu yang bersumber dari Al-qur`an dan hadis serta cakupannya berlaku
secara umum dan universal, tidak terikat waktu juga tempatnya. Adapun etika secara
istilah telah dikemukakan oleh para ahli salah satunya yaitu Ki Hajar Dewantara
menurutnya etika adalah ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di
dalam hidup manusia semuanya, terutama yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa
yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya yang
merupakan perbuatan. Berdasarkan pembahasan pengertian tersebut etika berupaya
membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan bila dilihat dari segi
sumbernya, maka etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Oleh karena itu
sebagai sebuah produk pemikiran maka ia tidak bersifat mutlak dan absolut
kebenarannya, pun tidak universal. Sementara itu bila dilihat dari segi fungsinya maka
etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang
dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu ia berperan sebagai konseptor terhadap
sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Sedangkan moral secara etimologi
berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan.
Didalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan
baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Selanjutnya moral secara
terminologi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari
sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dikatakan benar,
salah, baik atau buruk. Berdasarkan pengertian tersebut moral merupakan istilah yang
digunakan untuk memberikan batasan untuk memberikan terhadap aktivitas manusia
dengan nilai atau hukum baik atau buruk, benar atau salah. Dalam kehidupan sehari-
hari dikatakan bahwa orang yang mempunyai tingkah laku yang baik sebagai orang
yang bermoral. Jika dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan
manusia baik atau buruk dengan tolak ukur akal pikiran, dalam penbahasan moral
tolak ukurnya adalh norma-norma yang hidup di masayarakat. Sedangkan perbedaan
antara akhlak dengan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan dapat di lihat pada sifat
dan kawasan pembahasannya, di mana etika lebih bersifat teoritis dan memandang
tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila lebih bersifat praktis,
yang ukurannya adalah bentuk perbuatan. Serta sumber yang dijadikan patokan untuk
menentukan baik dan buruk pun berbeda, di mana akhlak berdasarkan pada al-Qur’an
dan al-Sunnah, etika berdasarkan akal pikiran, sedangkan moral, kesusilaan dan
kesopanan berdasarkan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat. Hubungan antara
akhlak dengan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan ini bisa di lihat dari segi fungsi
dan perannya, yakni sama-sama menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan
yang dilakukan oleh manusia untuk ditentukan baik dan buruknya, benar dan salahnya
sehingga dengan ini akan tercipta masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan
tenteram serta sejahtera lahir dan batin.

2. Akhlak memiliki kedudukan yang tinggi dalam islam, hal tersebut dapat dibuktikan
dengan beberapa sebab yakni:
 Islam telah menjadikan akhlak sebagai alasan kenapa agama Islam diturunkan. Hal
ini jelas dalam sabda Rasulullah , “Aku diutus hanyalah semata-mata untuk
menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia”
 Islam menganggap orang yang paling tinggi darjat keimanan ialah mereka yang
paling mulia akhlaknya. Dalam hadis telah dikatakan ”Ya Rasulullah, mukmin yang
manakah paling afdhal imannya. Rasulullah s.a.w. bersabda orang yang paling baik
akhlaknya antara mereka.”
 Islam menganggap bahwa akhlak yang baik adalah merupakan amalan yang utama
dapat memberatkan neraca amal baik di akhirat kelak. Hal ini telah dinyatakan
dengan jelasnya dalam hadis Rasulullah. “Perkara yang lebih berat diletakkan
dalam neraca hari akhirat ialah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”
 Dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa mereka yang berjaya memenangi kasih
sayang Rasulullah dan mendapat sesuatu kedudukan yang hampir dengan
Rasulullah pada hari akhirat ialah orang yang lebih baik akhlaknya. Dalam hadis
Rasulullah s.a.w. telah bersabda “Yang paling aku kasihi di antara kamu dan yang
paling dekat kedudukannya padaku di hari akhirat orang yang paling baik
akhlaknya di antara kamu.”
Akhlak dalam islam memiliki nilai yang mutlak, karena persepsi antara akhlak baik
dan buruk memiliki nilai yang dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi apapun
(Syafri,2012). Bahkan akhlak, menjadi modal awal pembangunan masyarakat. Sebagai
contoh, kemuliaan akhlak Rasulullah SAW secara historis telah memberikan
kontribusi pada kemajuan peradaban masyarakat Arab, dari fanatisme etnis menjadi
fanatisme keagamaan secara luas. Melalui pendidikan akhlak Rasulullah, lahirlah
manusia-manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia, seperti Abu Bakar yang
pemberani, teguh pendirian, penyabar, dan Usman bin Affan yang dermawan.
3. Dalam Islam manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan dengan
sebaik-baiknya penciptaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(At-Tin ayat 4). Posisi kholifah yang bertugas memakmurkan bumi Allah SWT
rasanya sudah cukup mewakili berbagaimacam kemuliaan manusia yang diberikan
olehNya. Ditambah, derajat manusia bahkan lebih mulia dari malaikat sekalipun.
Karena malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara
manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya. Dalam kehidupannya manusia
memiliki harkat dan martabatnya sebagai manusia yang diciptakan dengan berbagai
kelebihan dan kesempurnaan. Sebenarnya harkat sendiri memiliki pengertian yakni
sesuatu yang harus dijaga dan tak boleh mati, kebenaran tersebut yang akhirnya
melahirkan martabat. Dan martabatlah yang membuat segala menjadi terhormat.
Harga diri adalah wujud dari keinginan untuk tetap terhormat. Terhormat beda dengan
gila hormat. Terhormat adalah sebuah tindakan untuk menjaga martabat dengan
melakukan tindakan berdasarkan asas kebenaran dan tatanan. yang akhirnya melahirkan
martabat. Dan martabatlah yang membuat segala menjadi terhormat. Harga diri adalah wujud
dari keinginan untuk tetap terhormat. Terhormat beda dengan gila hormat. Terhormat adalah
sebuah tindakan untuk menjaga martabat dengan melakukan tindakan berdasarkan asas
kebenaran dan tatanan. Kehormatan merupakan hak asasi dalam Islam. Yang dimaksud
dengan kehormatan di sini, bahwa setiap Muslim berhak hidup dalam kehormatan. Ini
berarti pula bahwa manusia hadir di muka bumi ini bukan hanya untuk hidup, tetapi
juga hidup dalam kemuliaan dan dengan tujuan tertentu. Atau dalam bahasa lain,
kehormatan manusia adalah penghargaan yang harus diterimanya sebagai konsekuensi
kemanusiaannya. Sedangkan manusia bukanlah sesuatu yang bersifat statis, namun
sesuatu yang bersifat dinamis dan fluktuasi. Martabat, butuh pemeliharaan, perjuangan
untuk meningkatkan dan mengekalkannya. Walaupun sebagai manusia, Tuhan telah
menempatkan manusia itu, sebagai makhluk yang memiliki martabat yang lebih tinggi
dari makhluk lain. Karena itu apabila manusia disamakan dengan binatang maka tidak
dibenarkan. Karena derajat manusia lebih tinggi dari binatang, karena dia adalah
makhluk berpikir atau berakal. Semua obyek di dunia ini, kecuali manusia, memiliki
nilai tukar, yakni harga yang dengannya obyek-obyek itu bisa dijual. Bahkan obyek
yang harganya tinggi sekalipun, masih dapat dibeli, tetapi manusia memiliki
kehormatan dan kemuliaan (nilai intrinsik yang tak ternilai) dan karena itu, manusia
tidak boleh diukur dengan harga. Dari perspektif Islam, bisa juga diketahui bahwa
kemuliaan atau kehormatan manusia bersifat mutlak, tanpa harus melihat perbedaan
ras, golongan, umur, warna kulit, kekayaan, status soial, jabatan, atau jenis kelamin.
Sehingga dalam cakupannya harkat dan martabat perlu adanya akhlak yang masuk
kedalam setiap individu guna menjaga dan melindungi dari sekian banyak faktor yang
mempengaruhi individu tersebut, dapat dari luar maupun didalam individu itu sendiri.

4. Menurut saya pendidikan akhlak sangat penting dan menjadi bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia. Akhlak merupakan mutiara hidup yang
membedakan antara manusia dengan hewan. Jika manusia tanpa akhlak, maka akan
hilanglah derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah SWT yang paling mulia
diantara mahluk lain. Karena akhlak merupakan fondasi yang utama dalam
pembentukan pribadi manusia yang seutuhnya, maka pendidikan yang mengarah
terbentuknya pribadi yang berakhlak. Akhlak merupakan hal yang pertama yang harus
dilakukan, sebab akan melandasi kestabilan kepribadian manusia secara keseluruhan.
Islam juga menginginkan akhlak yang mulia, karena akhlak yang mulia ini di samping
akan membawa kebahagiaan bagi manusia juga dapat membawa keselamatan diakhirat
kelak. Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang manfaatnya
adalah orang yang bersangkutan. Sehingga hal tersebut dapat sejalan dengan tujuan
pendidikan akhlak yaitu agar setiap orang berbudi pekerti, bertingkah laku,
berperingai atau beradat istiadat yang baik yang sesuai dengan ajaran islam.

5. Islam menempatkan akhlak pada tempat yang sangat strategis, hal ini terwujud dalam
beberapa hal diantaranya, Rassulullah SAW diutus kepada umatnya untuk membawa
risalah yang telah diwahyukan Allah SWT melalui Malaikat Jibril AS, diantaranya
yaitu untuk menyempurnakan Akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam
salah satu hadisnya; “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluluran
Akhlak.” mendefinisikan agama sebagai akhlak yang baik. Dalam sabda Rasulullah
SAW, ketika beliau ditanya tentang makna agama, Beliu menjawab; “bahwa agama
adalah akhlak yang baik”. Rasulullah SAW juga bersabda “Timbangan yang berat
pada hari perhitungannanti adalah Takwa kepad Allah dan Akhlak yang mulia”. Maka
dari itu manusia dituntut untuk berakhlak entah itu pada sesama manusia, diri sendiri,
lingkungan bahkan kepada benda mati sekalipun. Sebagai contoh yakni alam
merupakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta isinya. Allah melalui
Al-Qur’an mewajibkan kepada manusia untuk mengenal alam semesta beserta isinya.
Manusia sebagai khalifah diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola bumi dan
mengelola alam semesta ini. Manusia diturunkan ke bumi untuk membawa rahmat dan
cinta kasih kepada alam seisinya. Oleh karena itu, manusia mempunyai tugas dan
kewajiban terhadap alam sekitarnya, yakni memakmurkan, mengelola, dan
melestarikan alam, sebagaimana firman-Nya,“Dia menciptakan kalian dari bumi dan
menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.” Dalam Islam ada aturan untuk
mengendalikan diri dalam berinteraksi dengan alam, yaitu ketika sedang melakukan
ihram, seseorang dilarang mencabuti tumbuhan dan berburu binatang.Pada intinya,
etika Islam terhadap alam semesta hanya mengajarkan satu hal saja yaitu perintah
untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi.Akhlak manusia terhadap alam bukan
semata-mata untuk kepentingan alam, tetapi jauh dari itu untuk memelihara,
melestarikan dan memakmurkan alam ini. Dengan memenuhi kebutuhannya sehingga
kemakmuran, kesejahteraan, dan keharmonisan hidup dapat terjaga. Berakhlak dengan
alam sekitar dapat kita lakukan dengan cara melestarikan alam sekitar sebagai sumber
daya yang dapat memberikan kebutuhan hidup di bumi. Namun kerusakan alam dan
ekosistem di lautan dan di daratan juga terjadi akibat manusia yang tidak sadar,
sombong, egois, rakus dan angkuh dan hal itu merupakan bentuk akhlak yang buruk
dan sangat tidak terpuji.Musibah yang menimpa manusia pada hakekatnya adalah
peringatan dari perbuatannya sendiri. Ini sesuai dengan hukum kausal karena manusia
merusak lingkungannya sendiri, maka timbullah berbagai kesulitan hidup dan
malapetaka. Jadi, sebagai konsekuensi dari perbuatan melakukan kerusakan itu,
manusia harus bertanggungjawab. Dengan demikian manusia bukan saja dituntut agar
tidak ikut andil dan tidak angkuh terhadap sumber daya yang dimiliknya, melainkan
juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah
menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.