Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

SOL (Space Occupying Lesion)

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah
mengenai adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak.
(Suzanne dan Brenda G Bare. 2007). SOL disebut juga tumor otak atau tumor
intracranial yaitu proses desak ruang yang timbul didalam rongga tengkorak
baik.
2. Etiologi
Penyebab tumor sampai saat ini belum diketahui secara pasti, walaupun
telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu
ditinjau yaitu:
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggotaanggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-
Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru,
memperlihatkan faktor familial yang jelas.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest).
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh.
Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam
tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat
memicu terjadinya suatu glioma.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus
dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan
hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem
saraf pusat.
5. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik
seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan
yang dilakukan pada hewan.
3. Manifestasi Klinik
Tumor otak menunjukkan manifestasi klinis yang tersebar bila tumor ini
menyebabkan peningkatan TIK( tekanan intra kranial ) serta tanda dan gejala
lokal sebagai akibat dari tumor yang mengganggu bagian spesifik dari otak.
Gejala peningkatan tekanan intra kranial. Sesuai dengan hipotesis monro–
killie yang di modifikasi, bahwa tengkorak adalah sebuah ruangan kaku yang
berisi materi esensial, yang tidak dapat tertekan : benda otak , darah dalam
vaskuler,dan cairan serebro spinal (CSS). Jika salah satu komponen dalam
tengkorak ini volumenya meningkat , TIK akan meningkat , kecuali satu dari
komponen lain menurunkan volumenya. Konsekuensinya , terdapat perubahan
volume otak bila terjadi gangguan seperti tumor otak atau edema serebral ini
akan menimbulkan tanda dan gejala peningkatan tekanan intra kranial .
Gejala–gejala peningkatan TIK di sebabkan oleh tekanan yang berangsur
angsur terhadap otak akibat pertumbuhan tumor. Pengaruhnya adalah
gangguan keseimbangan yang nyata antara otak , cairan serebro spinal, dan
darah serebral semua terletak di dalam tengkorak. Sebagai akibat pertumbuhan
tumor , maka kompensasi penyesuaian diri dapat dilakukan melalui penekanan
pada vena–vena intra kranial, melalui penurunan volume cairan serebro spinal
(melalui peningkatan absorpsi dan menurunkan produksi) , penurunan sedang
pada aliran darah serebral dan menurunya masa jaringan otak intra seluler dan
exstra seluler. Bila kompensasi semua ini gagal , pasien mengalami tanda dan
gejala peningkatan TIK.
Gejala–gejala TIK. Gejala yang biasanya banyak terjadi akibat tekanan ini
adalah sakit kepala, muntah, papil edema (choked disc atau edema saraf optik),
perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensorik
dan disfungsi saraf kranial.
Sakit kepala, meskipun tidak selalu ada, tetapi ini banyak terjadi pada pagi
hari dan menjadi buruk oleh karena batuk, menengang atau melakukan gerakan
yang tiba–tiba. Keadaan ini disebabkan oleh serangan tumor, tekanan atau
penyimpanan struktur, sensitif nyeri atau oleh karena edema yang mengiringi
adanya tumor.
Sakit kepala selalu di gambarkan dalam atau meluas atau dangkal tetapi
terus menerus. Tumor frontal menghasilkan sakit kepala pada frontal bilateral:
tumor kelenjar hipofisis menghasilakn nyeri yang menyebar antara dua pelipis
(bitemporal): tumor serebelum menyebabkan sakit kepala yang terletak pada
daerah suboksipital bagian belakang kepala.
Muntah, kadang-kadang dipengaruhi oleh asupan makanan,yang selalu
disebabkan adanya iritasi pada pusat vagal dimedula. Jika muntah dengan tipe
yang kuat,ini digambarkan sebagai muntah proyektil.
Papiledema (edema pada saraf optik) ada sekitar 70% -75% dari pasien
dan dihubungkan dengan gangguan penglihatan seperti penurunan ketajaman
penglihatan,diploppia (pandangan ganda) dan penurunan lapang
pandangan. Gejala terlokalisasi. lokasi gejala-gejala terjadi sepesifik sesuai
dengan gangguan daerah otak yang terkena, menyebabkan tanda-tanda yang
ditunjukkan lokal, seperti pada ketidak normalan sensori dan motorik,
perubahan penglihatan dan kejang. Karena fungsi-fungsi dari bagian-bagian
berbeda dari otak yang tidak diketahui, lokasi tumor dapat ditentukan pada
bagiannya, dengan mengindentifikasi fungsi yang dipengaruhi oleh adanya
tumor.
Tanda dan gejala umum:
a. Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin tambah bila batuk dan
membungkuk.
b. Kejang.
c. Tanda-tanda peningkatan TIK: nyeri kepala, papil edema, muntah.
d. Perubahan kepribadian.
e. Gangguan memori dan alam perasa.
Gejala terlokalisasi (spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena):
a. Tumor korteks motorik; gerakan seperti kejang kejang yang terletak pada
satu sisi tubuh (kejang jacksonian)
b. Tumor lobus oksipital; hemianopsia homonimus kontralateral (hilang
Penglihatan pada setengah lapang pandang, pada sisi yang berlawanan
dengan tumor) dan halusinasi penglihatan
c. Tumor serebelum; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan dengan
kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan
nistagmus (gerakan mata berirama dan tidak disengaja)
d. Tumor lobus frontal; gangguan kepribadia, perubahan status emosional dan
tingkah laku, disintegrasi perilaku mental, pasien sering menjadi ekstrim
yang tidak teratur dan kurang merawat diri
e. Tumor sudut serebelopontin; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (gangguan
saraf kedelapan), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (saraf
kelima), kelemahan atau paralisis (saraf kranial keketujuh), abnormalitas
fungsi motorik
f. Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,
gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia.
4. Patofisiologis
Tumor otak menyebabkan timbulnya ganguan neurologik progresif,
gangguan neurologik pada tumor otak biasanya disebabkan oleh dua factor-
faktor gangguan fokal akibat tumor dan peningkataan TIK.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dari
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan
neural. Perubahan suplai darah akibat tekanan tumor yang bertumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak.
Peningkatan TIK dapat disebabkan oleh beberapa factor: bertambahnya
massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan
sirkulasi cairan serebrospinal. Beberepa tumor dapat menyebabkan
pendarahan. Obstruksi vena dan edema akibat kerusakan sawar darah otak,
semuanya menimbulkan volume intracranial dan TIK. Pada mekanisme
kompensasi akan bekerja menurunkan volume darah ntrakranial, volume CSF<
kandunan cairan intra sel dan mengurangi sel-sel parenkim. Peningkatan
tekanan yang tidak diobati mengakibatkan terjadinya herniasi unkus atau
serebelum. Herniasi menekan mensefalon menyebabkan hilangnya kesadaran.
Pada herniasi serebelum, tonsil bergeser ke bawah melalui foramen magnum
oleh suatu massa posterior. Kompresi medulla oblongata dan henti nafas terjadi
dengan cepat, perubahan fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan TIK
adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik ( pelebaran nadi) dan gagal
nafas.
5. Pathway

Idiopatik

Tumor otak

Penekanan jaringan otak


Bertambahnya massa

Invasi jaringan otak Nekrosis jar. otak Penyerapan cairan otak

Kerusakan jar. Neuron Gang.Suplai Hipoksia Obstruksi vena di otak


( Nyeri ) darah jaringan

Kejang Gang.Neurologis Gang.Fungsi Ketidakefektifan Oedema


fokal otak Perfusi jaringan
cerebral
Defisit Disorientasi Peningkatan Hidrosefalus
neurologis TIK Nyeri Nyeri akut
kepala

Resiko Cidera Hambatan


 Aspirasi sekresi
mobilitas fisik
 Obs. Jalan nafas
 Dispnea
 Henti nafas Bradikardi progresif, Bicara terganggu,
hipertensi sitemik, afasia Hernialis ulkus
 Perubahan pola
nafas gang.pernafasan

Ancaman Hambatan Menisefalon


kematia komunikasi verbal tekanan

Ansietas
6. Komplikasi
 Gangguan fungsi neurologis
Jika tumor otak menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan pada
serebelum maka akan menyebabkan pusing, ataksia (kehilangan
keseimbangan) atau gaya berjalan yang sempoyongan dan kecenderunan
jatuh ke sisi yang lesu, otot-otot tidak terkoordinasi dan ristagmus (gerakan
mata berirama tidak disengaja) biasanya menunjukkan gerakan horizontal.
 Gangguan kognitif
Pada tumor otak akan menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan
sehingga dampaknya kemampuan berfikir, memberikan rasional, termasuk
proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memerhatikan juga akan
menurun.
 Gangguan tidur & mood
Tumor otak bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar pireal, sehingga
hormone melatonin menurun akibatnya akan terjadi resiko sulit tidur, badan
malas, depresi, dan penyakit melemahkan system lain dalam tubuh.
 Disfungsi seksual
a. Pada wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang mensekresi kuantitas
prolaktin yang berlebihan dengan menimbulkan amenurrea atau
galaktorea (kelebihan atau aliran spontan susu)
b. Pada pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impoteni dan
hipogonadisme.
c. Gejala pada seksualitas biasanya berdampak pada hubungan dan
perubahan tingkat kepuasan
7. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
a. CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran,
kepadatan, jejas tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta
memberi informasi tentang sistem vaskuler.
b. MRI : Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam
batang otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam
gambaran yang menggunakan CT Scan
c. Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan
untuk memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.
d. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor
e. Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal.
8. Penatalaksanaan
Metode umum untuk penatalaksanaan tumor otak meliputi:
1. Pembedahan
Pembedahan intracranial biasanya dilakukan untuk seluruh tipe kondisi
patologi dari otak untuk mengurangi TIK dan mengangkat tumor.
Pembedahan ini dilakukan melalui pembukaan tengkorak, yang disebut
dengan Craniotomy.
 Perawatan pre operasi pada pasien yang dilakukan pembedahan
intracranial adalah:
a. Mengkaji keadaan neurologi dan psikologi pasien
b. Memberi dukungan pasien dan keluarga untuk mengurangi
perasaanperasaan takut yang dialami.
c. Memberitahu prosedur tindakan yang akan dilakukan untuk
meyakinkan pasien dan mengurangi perasaan takut.
d. Menyiapkan lokasi pembedahan, yaitu: kepala dengan menggunakan
shampo antiseptik dan mencukur daerah kepala.
 Menyiapkan keluarga untuk penampilan pasien yang dilakukan
pembedahan, meliputi:
1. Balutan kepala.
2. Edema dan ecchymosis yang biasanya terjadi dimuka.
3. Menurunnya status mental sementara.
 Perawatan post operasi, meliputi :
a. Mengkaji status neurologi dan tanda-tanda vital setiap 30 menit
untuk 4 - 6 jam pertama setelah pembedahan dan kemudian setiap
jam. Jika kondisi stabil pada 24 jam frekuensi pemeriksaan dapat
diturunkan setiap 2 samapai 4 jam sekali.
b. Monitor adanya cardiac aritmia pada pembedahan fossa posterior
akibat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
c. Monitor intake dan output cairan pasien. Batasi intake cairan sekitar
1.500 cc / hari.
d. Lakukan latihan ROM untuk semua ekstremitas setiap pergantian
dinas.
e. Pasien dapat dibantu untuk alih posisi, batuk dan napas dalam setiap
2 jam.
f. Posisi kepala dapat ditinggikan 30 -35 derajat untuk meningkatkan
aliran balik dari kepala. Hindari fleksi posisi panggul dan leher.
g. Cek sesering mungkin balutan kepala dan drainage cairan yang
keluar.
h. Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin, seperti :
pemeriksaan darah lengkap, serum elektroit dan osmolaritas, PT,
PTT, analisa gas darah
i. Memberikan obat-obatan sebagaimana program, misalnya :
antikonvulsi,antasida, atau antihistamin reseptor, kortikosteroid.
j. Melakukan tindakan pencegahan terhadap komplikasi post operasi.
2. Radioterapi
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang
pula merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di
sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot
pectoralis, radang tenggorkan.
3. Chemoterapi
Kemoterapi dilakukan dalam berbagai cara, termasuk secara sistemik,
intracranial atau dengan memasukkan polimer yang membawa agen
kemoterapi secara langsung ke jaringan tumor. Masalah utama dengan
komplikasi depresi sum-sum tulang, paru, dan hepar tetap merupakan
factor penyulit utama dalam kemoterapi. Sawar darah otak juga
mempersulit pemberian agen kemoterapi. Penelitian sawar darah otak
dengan manitol hiperosmotik member hasil yang mengecewakan,
penelitian mengenai penggunaan dexametason untuk menutup sawar darah
otak dan efek obat antiepilepsi pada metabolism obat kemoterapi masih
terus dilakukan dan mulai memberikan hasil.
4. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah
bermetastase.
5. Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor
intrakranial, namun tidak berefek langsung terhada tumor.Pemilihan terapi
ditentukan dengan tipe dan letak dari tumor. Suatu kombinasi metode
sering dilakukan.
9. Asuhan Keperawatan
a. Data fokus pengkajian
1) Identitas klien : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit dan askes.
2) Keluhan utama : nyeri kepala disertai penurunan kesadaran.
3) Riwayat penyakit sekarang : demam, anoreksi dan malaise peninggian
tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal.
4) Riwayat penyakit dahulu : pernah, atau tidak menderita infeksi telinga
(otitis media, mastoiditis) atau infeksi paru – paru (bronkiektaksis,
abses paru, empiema), jantung (endokarditis), organ pelvis, gigi dan
kulit).
5) Aktivitas / istirahat
Gejala : malaise
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter.
6) Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis
Tanda : TD : meningkat N : menurun (berhubungan dengan
peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor).
7) Eliminasi
Gejala : -
Tanda : adanya inkonteninsia dan atau retensi.
8) Nutrisi
Gejala : kehilangan nafsu makan, disfagia (pada periode akut)
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
9) Hygiene
Gejala : -
Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan, perawatan diri
(pada periode akut).
10) Neurosensori
Gejala : sakit kepala, parestesia, timbul kejang, gangguan penglihatan.
Tanda : penurunan status mental dan kesadaran. Kehilangan memori,
sulit dalam keputusan, afasia, mata : pupil unisokor (peningkatan TIK),
nistagmus, kejang umum lokal.
11) Nyeri / kenyamanan
Gejala : sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher
/ pungung kaku.
Tanda : tampak terus terjaga, menangis / mengeluh.
12) Pernapasan
Gejala : adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : peningkatan kerja pernapasan (episode awal). Perubahan mental
(letargi sampai koma) dan gelisah
13) Keamanan
Gejala : adanya riwayat ISPA / infeksi lain meliputi : mastoiditis, telinga
tengah, sinus abses gigi, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, fungsi
lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala.

b. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
kurangnya darah ke jaringan otak.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kesadaran
akibat tekanan pada serebelum (otak kecil).
4. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan bicara terganggu
5. Ansietas

c. Intervensi keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No Diagnosa Keperawatan
NOC NIC
1 Ketidakefektifan perfusi  Circulation status Peripheral Sensation Management
jaringan cerebral  Tissue Prefusion : cerebral (Manajemen sensasi perifer)
berhubungan dengan Kriteria Hasil : - Monitor adanya daerah tertentu yang
kurangnya darah ke  Mendemonstrasikan status hanya peka terhadap
jaringan otak sirkulasi yang ditandai dengan panas/dingin/tajam/tumpul
 Tekanan systole dan diastole - Monitor adanya paretese
dalam rentang yang diharapkan - Instruksikan keluarga untuk
 Tidak ada ortostatik hipertensi mengobservasi kulit jika ada lesi atau
 Tidak ada tanda-tanda laserasi
peningkatan tekanan - Gunakan sarung tangan untuk proteksi
intrakranial (tidak lebih dari 15 - Batasi gerakan pada kepala, leher, dan
mmHg) punggung
- Monitor kemampuan BAB
 Mendemonstrasikan - Kolaborasi pemberian analgetik
kemampuan kognitif yang - Monitor adanya tromboplebitis
ditandai dengan - Diskusikan mengenai penyebab
 Berkomunikasi dengan jelas perubahan sensasi
dan sesuai dengan kemampuan
 Menunjukkan perhatian,
konsentrasi dan orientasi
 Memproses informasi
 Membuat keputusan dengan
benar
 Menunjukkan fungsi sensori
motori cranial yang utuh :
tingkat kesadaran membaik,
tidak ada gerakan gerakan
involunter
2 Nyeri akut berhubung-an  Pain Level, Pain Management
dengan peningkatan TIK  Pain Control, - Lakukan pengkajian nyeri secara
 Comfort Level komprehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
 Mampu mengontrol nyeri (tahu dan faktor presipitasi
penyebab nyeri, mampu - Observasi reaksi nonverbal dari
menggunakan teknik non ketidaknyamanan
farmakologi untuk mengurangi - Gunakan teknik komunikasi terapeutik
nyeri, mencari bantuan) untuk mengetahui pengalaman nyeri
 Melaporkan bahwa nyeri pasien
berkurang dengan - Kaji kultur yang mempengaruhi respon
menggunakan manajemen nyeri nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala, - Evaluasi pengalaman nyeri masa
intensitas, frekuensi dan tanda lampau
nyeri) - Evaluasi bersama pasien dan tim
 Menyatakan rasa nyaman kesehatan lain tentang ketidakefektifan
setelah nyeri berkurang kontrol nyeri masa lampau
- Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
- Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
- Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic Administration
- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri sebelum pemberian
obat
- Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
- Tentukan pilihan analgesik tergantung
tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara teratur
- Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgesik pertama kali
- Berikan analgesik tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
- Evaluasi efektivitas analgesik, tanda
dan gejala
3 Hambatan mobilitas  Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation
fisik berhubungan  Mobility Level - Monitoring vital sign sebelum/sesudah
dengan penurunan  Self care : ADLs latihan dan lihat respon pasien saat
kesadaran akibat tekanan  Transfer performance latihan
pada serebelum (otak Kriteria Hasil : - Konsultasikan dengan terapi fisik
kecil).  Klien meningkat dalam tentang rencana ambulasi sesuai
aktivitas fisik dengan kebutuhan
 Mengerti tujuan dari - Bantu klien untuk menggunakan
peningkatan mobilitas tongkat saat berjalan dan cegah
 Memverbalisasikan perasaan terhadap cedera
dalam meningkatkan kekuatan - Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan
dan kemampuan berpindah lain tentang teknik ambulasi
 Memperagakan penggunaan - Kaji kemampuan pasien dalam
alat bantu mobilisasi (walker) mobilisasi
- Latih pasien dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
- Dampingi dan bantu pasien saat
mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan
ADLs pasien
- Berikan alat bantu jika klien
memerlukan
- Ajarkan pasien bagaimana merubah
posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan
4 Hambatan komunikasi  Anxiety self control Communication Enhancement : Speech
verbal berhubungan  Coping Deficit
dengan bicara terganggu  Sensory function : hearing & - Gunakan penerjemah, jika diperlukan
vision - Beri satu kalimat simple setiap
 Fear self control bertemu, jika diperlukan
Kriteria Hasil : - Konsultasikan dengan dokter
 Komunikasi : penerimaan, kebutuhan terapi wicara
interpretasi dan ekspresi pesan, - Dorong pasien untuk berkomunikasi
tulisan, dan non verbal secara perlahan dan untuk mengulangi
meningkat permintaan
 Komunikasi ekspresif - Dengarkan dengan penuh perhatian
(kesulitan berbicara) : ekspresi - Berdiri didepan pasien ketika berbicara
pesan verbal dan atau non - Gunakan kartu baca, kertas, pensil,
verbal yang bermakna bahasa tubuh, gambar, daftar kosakata
 Komunikasi reseptif (kesulitan bahasa asing, computer, dan lain-lain
mendengar) : penerimaan untuk memfasilitasi komunikasi dua
komunikasi dan intrepretasi arah yang optimal
pesan verbal dan/atau non - Ajarkan bicara dari esophagus, jika
verbal diperlukan
 Gerakan terkoordinasi : mampu - Beri anjuran kepada pasien dan
mengkoordinasi gerakan dalam keluarga tentang penggunaan alat bantu
menggunakan isyarat bicara (misalnya, prostesi
 Pengolahan informasi : klien trakeoesofagus dan laring buatan
mampu untuk memperoleh, - Berikan pujian positive, jika diperlukan
mengatur, dan menggunakan - Anjurkan pada pertemuan kelompok
informasi - Anjurkan kunjungan keluarga secara
 Mampu mengontrol respon teratur untuk member stimulus
ketakutan dan kecemasan komunikasi
terhadap ketidakmampuan - Anjurkan ekspresi diri dengan cara lain
berbicara dalam menyampaikan informasi
 Mampu memanajemen (bahasa isyarat)
kemampuan fisik yang dimiliki
 Mampu mengkomunikasikan
kebutuhan dengan lingkungan
sosial
5 Ansietas  Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
 Anxiety level kecemasan)
 Coping - Gunakan pendekatan yang
Kriteria Hasil : menenangkan
 Klien mampu mengidentifikasi - Nyatakan dengan jelas harapan
dan mengungkapkan gejala terhadap pelaku pasien
cemas - Jelaskan semua prosedur dan apa yang
 Mengidentifikasi, dirasakan selama prosedur
mengungkapkan dan - Pahami prespektif pasien terhadap
menunjukkan teknik untuk situasi stress
mengontrol cemas - Temani pasien untuk memberikan
 Vital sign dalam batas normal keamanan dan mengurangi takut
 Postur tubuh, ekspresi wajah, - Dorong keluarga untuk menemani anak
bahasa tubuh dan tingkat - Lakukan back / neck rub
aktivitas menunjukkan - Dengarkan dengan penuh perhatian
berkurangnya kecemasan - Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
- Instruksikan pasien menggunakan
teknik relaksasi
- Berikan obat untuk mengurangi
kecemasan