Anda di halaman 1dari 16

Blok 21

TUGAS

BLOK 21: EMERGENCY MEDICINE AND

TRAUMATOLOGY

MAKALAH FARMAKOLOGI

TOKSOKOLOGI FORENSIK

DISUSUN OLEH:

RIZKI APRILIANI

N 101 13 073

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2017
BAB I
PENDAHULUAN

Sampai saat ini, terdapat banyak kasus keracunan dan pencemaran


lingkungan yang sulit terungkap, yang umumnya disebabkan karena seringkali data
yang diperlukan tidak cukup untuk dapat membuktikan penyebabnya, seperti kasus
Buyat, kasus keracunan di Magelang, kasus kematian aktivis HAM Munir, dan
kasus keracunan makanan yang seringkali terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kurangnya pemahaman mengenai hal-hal apa saja yang diperlukan untuk dapat
membuat suatu kesimpulan mengenai kasus terkait keracunan dan pencemaran
lingkungan menjadikan strategi pengumpulan data-data yang diperlukan seringkali
tidak tepat.
Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan, dapat dibagi dalam dua
kelompok, yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian, misalnya
kematian akibat keracunan morfin, sianida, karbon monoksida, keracunan
insektisida, dan lain sebagainya, dan kelompok yang kedua adalah untuk
mengetahui mengapa suatu peristiwa, misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan
lalu lintas, kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. Dengan
demikian, tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi
atas peristiwa yang terjadi.
Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu
penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat
diabaikan. Jumlah maupun jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi dengan
makin banyaknya macam-macam zat pembasmi hama. Selain karena faktor murni
kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah dan jenisnya ini dapat
disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan meracuni
seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab Undang-
Undang Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak
dijelaskan batasan dari keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasan-
batasan racun menurut beberapa ahli, untuk tindakan kriminal ini, adanya racun
harus dibuktikan demi tegaknya hukum.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TOKSIKOLOGI FORENSIK


2.1.1 Definisi dan Peran Toksikologi Forensik
Toksikologi (berasal dari kata Yunani, toxicos dan logos) merupakan studi
mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari suatu zat terhadap
organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari mengenai gejala,
mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistim biologis
makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau mengkaji
akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap manusia dan
lingkungannya.
Toksikologi forensik, adalah penerapan toksikologi untuk membantu
investigasi medikolegal dalam kasus kematian, keracunan maupun penggunaan
obat-obatan. Dalam hal ini, toksikologi mencakup pula disiplin ilmu lain seperti
kimia analitik, farmakologi, biokimia dan kimia kedokteran.
Hal yang menjadi perhatian utama dalam toksikologi forensik bukanlah
keluaran aspek hukum dari investigasi secara toksikologi, namun mengenai
teknologi dan teknik dalam memperoleh serta menginterpretasi hasil seperti:
pemahaman perilaku zat, sumber penyebab keracunan, metode pengambilan
sampel dan metode analisa, interpretasi data terkait dengan gejala/efek atau dampak
yang timbul serta bukti-bukti lainnya yang tersedia.
Seorang ahli toksikologi forensik harus mempertimbangkan keadaan suatu
investigasi, khususnya adanya catatan mengenai gejala fisik, dan adanya bukti
apapun yang berhasil dikumpulkan dalam lokasi kriminal/kejahatan yang dapat
mengerucutkan pencarian, misalnya adanya barang bukti seperti botol obat-obatan,
serbuk, residu jejak dan zat toksik (bahan kimia) apapun yang ditemukan.
Dengan informasi tersebut serta sampel yang akan diteliti, ahli toksikologi
forensik harus dapat menentukan senyawa toksik apa yang terdapat dalam sampel,
dalam konsentrasi berapa, dan efek yang mungkin terjadi akibat zat toksik tersebut
terhadap seseorang (korban). Dalam mengungkap kasus kejahatan lingkungan,
toksikologi forensik digunakan untuk memahami perilaku pencemar, mengapa

3
dapat bersifat toksik terhadap biota dan manusia, dan sejauhmana risikonya, serta
mengidentifikasi sumber dan waktu pelepasan suatu bahan pencemar.
Toksikologi forensik adalah salah satu dari cabang ilmu forensik. Menurut
Saferstein yang dimaksud dengan Forensic Science adalah ”the application of
science to low”, maka secara umum ilmu forensik (forensik sain) dapat dimengerti
sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk penegakan
hukum dan peradilan.
Guna lebih memahami pengertian dan ruang lingkup kerja toksikologi
forensik, maka akan lebih baik sebelumnya jika lebih mengenal apa itu bidang ilmu
toksikologi. Ilmu toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek
berbahaya zat kimia atau racun terhadap mekanisme biologis suatu organisme.
Racun adalah senyawa yang berpotensi memberikan efek yang berbahaya terhadap
organisme. Sifat racun dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun
di reseptor, sifat fisiko kimis toksikan tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem
bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan.
Tosikologi forensik menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu
toksikologi untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari toksikologi forensik
adalah melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari racun dari bukti fisik
dan menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam ungkapan apakah ada atau
tidaknya racun yang terlibat dalam tindak kriminal, yang dituduhkan, sebagai bukti
dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan. Hasil analisis dan interpretasi
temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu laporan yang sesuai dengan
hukum dan perundanganundangan.
Menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP), laporan ini dapat disebut dengan
Surat Keterangan Ahli atau Surat Keterangan. Jadi toksikologi forensik dapat
dimengerti sebagai pemanfaatan ilmu tosikologi untuk keperluan penegakan hukum
dan peradilan. Toksikologi forensik merupakan ilmu terapan yang dalam praktisnya
sangat didukung oleh berbagai bidang ilmu dasar lainnya, seperti kimia analisis,
biokimia, kimia instrumentasi, farmakologitoksikologi, farmakokinetik,
biotransformasi.

4
2.1.2 Prinsip Dasar dalam Investigasi Toksikologi
Dalam menentukan jenis zat toksik yang menyebabkan keracunan,
seringkali menjadi rumit karena adanya proses yang secara alamiah terjadi
dalam tubuh manusia. Jarang sekali suatu bahan kimia bertahan dalam bentuk
asalnya didalam tubuh. Bahan kimia, ketika memasuki tubuh akan mengalami
proses ADME, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.
Misalnya, setelah memasuki tubuh, heroin dengan segera termetabolisme
menjadi senyawa lain dan akhirnya menjadi morfin, menjadikan investigasi
yang lebih detil perlu dilakukan seperti jenis biomarker (petanda biologik) zat
racun tersebut, jalur paparan zat, letak jejak injeksi zat pada kulit dan
kemurnian zat tersebut untuk mengkonfirmasi hasil diagnosa. Zat toksik juga
kemungkinan dapat mengalami pengenceran dengan adanya proses
penyebaran ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk terdeteksi.
Walaupun zat racun yang masuk dalam ukuran gram atau miligram,
sampel yang diinvestigasi dapat mengandung zat racun atau biomarkernya
dalam ukuran mikrogram atau nanogram, bahkan hingga pikogram.
Bapak Toksikologi Modern, Paracelsus (1493-1541) menyatakan
bahwa "semua zat adalah racun; tidak ada yang bukan racun. Dosis yang
tepat membedakan suatu racun dengan obat". Toksikan (zat toksik) adalah
bahan apapun yang dapat memberikan efek yang berlawanan (merugikan).
Racun merupakan istilah untuk toksikan yang dalam jumlah sedikit (dosis
rendah) dapat menyebabkan kematian atau penyakit (efek merugikan) yang
secara tiba-tiba. Zat toksik dapat berada dalam bentuk fisik (seperti radiasi),
kimiawi (seperti arsen, sianida) maupun biologis (bisa ular). Juga terdapat
dalam beragam wujud (cair, padat, gas). Beberapa zat toksik mudah
diidentifikasi dari gejala yang ditimbulkannya, dan banyak zat toksik
cenderung menyamarkan diri.
Sulit untuk mengkategorisasi suatu bahan kimia sebagai aman atau
beracun. Tidak mudah untuk membedakan apakah suatu zat beracun atau
tidak. Prinsip kunci dalam toksikologi ialah hubungan dosis-respon/Efek.
Kontak zat toksik (paparan) terhadap organisme/tubuh dapat melalui jalur
tertelan (ingesti), terhirup (inhalasi) atau terabsorpsi melalui kulit. Zat toksik

5
umumnya memasuki organisme/tubuh dalam dosis tunggal dan besar (akut),
atau dosis rendah namun terakumulasi hingga jangka waktu tertentu (kronis).
Tabel 2.1 Contoh zat-zat toksik dan gejalanya.
Zat Toksik Gejala
Asam (nitrat, hidroklorat, Luka bakar pada kulit, mulut, hidung,
sulfat) membran mukosa

Anilin Kulit muka dan leher menghitam (gelap)


Arsen Diare parah
Atropin Pelebaran pupil mata
Basa (kalium, hidroksida) Luka bakar pada kulit, mulut, hidung,
membran mukosa
Asam karbolat (atau fenol Bau desinfektan
lainnya) Karbon monoksida Kulit berwarna merah terang Kematian
Sianida cepat, kulit memerah
Keracunan makanan Muntah, nyeri perut
Senyawa logam Diare, muntah, nyeri perut
Nikotin Kejang
Asam oksalat Bau bawang putih
Natrium fluorida Kejang
Striknin Kejang, muka dan leher menghitam
(gelap)

2.1.3 Kriteria Diagnosis Kasus Keracunan


1. Anamnesa yang menyatakan bahwa korban benar-benar kontak
dengan racun (secara injeksi, inhalasi, ingesti, absorbsi, melalui kulit
atau mukosa).
Pada umumnya anamnesa tidak dapat dijadikan pegangan
sepenuhnya sebagai kriteria diagnostik, misalnya pada kasus bunuh diri
– keluarga korban tentunya tidak akan memberikan keterangan yang
benar, bahkan malah cenderung untuk menyembunyikannya, karena
kejadian tersebut merupakan aib bagi pihak keluarga korban.
2. Tanda dan gejala-gejala yang sesuai dengan tanda / gejala keracunan
zat yang diduga.
Adanya tanda/gejala klinis biasanya hanya terdapat pada kasus yang
bersifat darurat dan pada prakteknya lebih sering kita terima kasus-kasus
tanpa disertai dengan data-data klinis tentang kemungkinan kematian

6
karena kematian sehingga harus dipikirkan terutama pada kasus yang
mati mendadak, non traumatik yang sebelumnya dalam keadaan sehat.
3. Secara analisa kimia dapat dibuktikan adanya racun di dalam sisa
makanan / obat / zat yang masuk ke dalam tubuh korban.
Kita selamanya tidak boleh percaya bahwa sisa sewaktu zat yang
digunakan korban itu adalah racun (walaupun ada etiketnya) sebelum
dapat dibuktikan secara analisa kimia, kemungkinan-kemungkinan
seperti tertukar atau disembunyikannya barang bukti, atau si korban
menelan semua racun – kriteria ini tentunya tidak dapat dipakai.
4. Ditemukannya kelainan-kelainan pada tubuh korban, baik secara
makroskopik atau mikroskopik yang sesuai dengan kelainan yang
diakibatkan oleh racun yang bersangkutan.
Bedah mayat (otopsi) mutlak harus dilakukan pada setiap kasus
keracunan, selain untuk menentukan jenis-jenis racun penyebab
kematian, juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan lain sebagai
penyebab kematian. Otopsi menjadi lebih penting pada kasus yang telah
mendapat perawatan sebelumnya, dimana pada kasus-kasus seperti ini
kita tidak akan menemukan racun atau metabolitnya, tetapi yang dapat
ditemukan adalah kelainan-kelainan pada organ yang bersangkutan.
5. Secara analisa kimia dapat ditemukan adanya racun atau metabolitnya
di dalam tubuh / jaringan / cairan tubuh korban secara sistemik.
Pemeriksaan toksikologi (analisa kimia) mutlak harus dilakukan.
Tanpa pemeriksaan tersebut, visum et repertum yang dibuat dapat
dikatakan tidak memiliki arti dalam hal penentuan sebab kematian.
Sehubungan dengan pemeriksaan toksikologis ini, kita tidak boleh
terpaku pada dosis letal sesuatu zat, mengingat faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kerja racun. Penentuan ada tidaknya racun harus
dibuktikan secara sistematik, diagnosa kematian karena racun tidak dapat
ditegakkan misalnya hanya berdasar pada ditemukannya racun dalam
lambung korban.
Dari kelima kriteria diagnostik dalam menentukan sebab kematian
pada kasus-kasus keracunan seperti tersebut di atas, maka kriteria

7
keempat dan kelima merupakan kriteria yang terpenting dan tidak boleh
dilupakan.

2.1.4 Analisis Toksikologi


Analisis toksikologi merupakan pemeriksaan laboratorium yang
berfungsi untuk:
1. Analisa tentang adanya racun.
2. Analisa tentang adanya logam berat yang berbahaya.
3. Analisa tentang adanya asam sianida, fosfor dan arsen.
4. Analisa tentang adanya pestisida baik golongan organochlorin maupun
organophospat.
5. Analisa tentang adanya obat-obatan misalnya: transquilizer, barbiturate,
narkotika, ganja, dan lain sebagainya.
Analitikal toksikologi meliputi isolasi, deteksi, dan penentuan
jumlah zat yang bukan merupakan komponen normal dalam material
biologis yang didapatkan dalam otopsi. Guna toksikologi adalah menolong
menentukan sebab kematian.
Kadang-kadang material didapatkan dari pasien yang masih hidup,
misalnya darah, rambut, potongan kuku atau jaringan hasil biopsi. Hasil
toksikologi disini membantu dalam menentukan kasus-kasus yang diduga
keracunan. Pada pengiriman material untuk analitikal toksikologi,
diharapkan dokter mengirimkan material sebanyak mungkin, dengan
demikian akan memudahkan pemeriksaan dan hasilnya akan lebih
sempurna. Jaringan tubuh masing-masing memiliki afinitas yang berbeda
terhadap racun-racun tertentu, misalnya:
 Jaringan otak adalah material yang paling baik untuk pemeriksaan racun-
racun organis, baik yang mudah menguap maupun yang tidak mudah
menguap.
 Hepar dan ginjal adalah material yang paling baik untuk menentukan
keracunan logam berat yang akut.
 Darah dan urin adalah material yang paling baik untuk analisa zat organik
non volatile, misalnya obat sulfa, barbiturate, salisilat dan morfin.

8
 Darah, tulang, kuku, dan rambut merupakan material yang baik untuk
pemeriksaan keracunan logam yang bersifat kronis.
Untuk racun yang efeknya sistemik, harus dapat ditemukan dalam darah
atau organ parenkim ataupun urin. Bila hanya ditemukan dalam lambung saja
maka belum cukup untuk menentukan keracunan zat tersebut. Penemuan
racun-racun yang efeknya sistemik dalam lambung hanyalah merupakan
penuntun bagi seorang analis toksikologi untuk memeriksa darah, organ, dan
urin ke arah racun yang dijumpai dalam lambung tadi. Untuk racun-racun yang
efeknya lokal, maka penentuan dalam lambung sudah cukup untuk dapat dibuat
diagnosa.
Secara umum tugas analisis toksikolog forensik (klinik) dalam
melakukan analisis dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu: 1)
penyiapan sampel “sample preparation”, 2) analisis meliputi uji penapisan
“screening test” atau dikenal juga dengan “general unknown test” dan uji
konfirmasi yang meliputi uji identifikasi dan kuantifikasi, 3) langkah terakhir
adalah interpretasi temuan analisis dan penulisan laporan analisis. Berbeda
dengan kimia analisis lainnya (seperti: analisis senyawa obat dan makanan,
analisis kimia klinis) pada analisis toksikologi forensik pada umumnya analit
(racun) yang menjadi target analisis, tidak diketahui dengan pasti sebelum
dilakukan analisis. Tidak sering hal ini menjadi hambatan dalam
penyelenggaraan analisis toksikologi forensik, karena seperti diketahui saat ini
terdapat ribuan atau bahkan jutaan senyawa kimia yang mungkin menjadi
target analisis. Untuk mempersempit peluang dari target analisis, biasanya
target dapat digali dari informasi penyebab kasus forensik (keracunan,
kematian tidak wajar akibat keracunan, tindak kekerasan dibawah pengaruh
obat-obatan), yang dapat diperoleh dari laporan pemeriksaan di tempat
kejadian perkara (TKP), atau dari berita acara penyidikan oleh polisi penyidik.
Sangat sering dalam analisis toksikologi forensik tidak diketemukan
senyawa induk, melainkan metabolitnya. Sehingga dalam melakukan analisis
toksikologi forensik, senyawa metabolit juga merupakan target analisis.
Sampel dari toksikologi forensik pada umumnya adalah spesimen biologi
seperti: cairan biologis (darah, urin, air ludah), jaringan biologis atau organ

9
tubuh. Preparasi sampel adalah salah satu faktor penentu keberhasilan analisis
toksikologi forensik disamping kehadalan penguasaan metode analisis
instrumentasi. Berbeda dengan analisis kimia lainnya, hasil indentifikasi dan
kuantifikasi dari analit bukan merupakan tujuan akhir dari analisis toksikologi
forensik. Seorang toksikolog forensik dituntut harus mampu menerjemahkan
apakah analit (toksikan) yang diketemukan dengan kadar tertentu dapat
dikatakan sebagai penyebab keracunan (pada kasus kematian).

2.1.5 Jenis-Jenis Keracunan


A. Keracunan Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) adalah racun yang tertua dalam sejarah
manusia. Sejak dikenal cara membuat api, manusia senantiasa terancam
oleh asap yang mengandung CO. Gas CO adalah gas yang tidak berwarna,
tidak berbau dan tidak meransang selaput lendir, sedikit lebih ringan dari
udara sehingga mudah menyebar.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan CO
Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan
anamnesis adanya kontak dan di temukannya gejala keracunan CO.-Pada
korban yang mati tidak lama setelah keracunan CO, ditemukan lebam mayat
berwarna merah terang (cherry pink colour) yang tampak jelas bila kadar
COHb mencapai 30% atau lebih. Warna lebam mayat seperti itu juga dapat
ditemukan pada mayat yang di dinginkan, pada korban keracunan sianida
dan pada orang yang mati akibat infeksi oleh jasad renik yang mampu
membentuk nitrit, sehingga dalam darahnya terbentuk nitroksi hemoglobin.
Meskipun demikian masih dapat di bedakan dengan pemeriksaan sederhana.
Pada mayat yang didinginkan dan pada keracunan CN, penampang
ototnya berwarna biasa, tidak merah terang. Juga pada mayat yang di
dinginkan warna merah terang lebam mayatnya tidak merata selalu masih
ditemukan daerah yang keunguan (livid). Sedangkan pada keracunan CO,
jaringan otot, visera dan darah juga berwarna merah terang. Selanjutnya
tidak ditemukan tanda khas lain. Kadang-kadang dapat ditemukan tanda

10
asfiksia dan hiperemia visera. Pada otak besar dapat ditemukan petekiae di
substansia alba bila korban dapat bertahan hidup lebih dari ½ jam.
Pada analisa toksikologik darah akan di temukan adanya COHb pada korban
keracunan CO yang tertunda kematiannya sampai 72 jam maka seluruh CO
telak di eksresi dan darah tidak mengandung COHb lagi, sehingga
ditemukan lebam mayat berwarna livid seperti biasa demikian juga jaringan
otot, visera dan darah. Kelainan yang dapat di temukan adalah kelainan
akibat hipoksemia dan komplikasi yang timbul selama penderita di rawat.
Otak, pada substansia alba dan korteks kedua belah otak, globus
palidus dapat di temukan petekiae. Kelainan ini tidak patognomonik untuk
keracunan CO, karena setiap keadaan hipoksia otak yang cukup lama dapat
menimbulkan petekiae. Pemeriksaan mikroskopik pada otak memberi
gambaran:
- Pembuluh-pembuluh halus yang mengandung trombihialin
- Nikrosis halus dengan di tengahnya terdapat pembuluh darah yang
mengandung trombihialin dengan pendarahan di sekitarnya, lazimnya
di sebut ring hemorrage
- Nikrosis halus yang di kelilingi oleh pembuluh-pembuluh darah yang
mengandung trombi
- Ball hemorrgae yang terjadi karena dinding arterior menjadi nekrotik
akibat hipoksia dan memecah.
Pada miokardium di temukan perdarahan dan nekrosis, paling sering
di muskulus papilaris ventrikal kiri. Pada penampang memanjangnya,
tampak bagian ujung muskulus papilaris berbercak-bercak perdarahan atau
bergaris-garis seperti kipas berjalan dari tempat insersio tendinosa ke dalam
otak.
Ditemukan eritema dan vesikal / bula pada kulit dada, perut, luka,
atau anggota gerak badan, baik di tempat yang tertekan maupun yang tidak
tertekan. Kelainan tersebut di sebabkan oleh hipoksia pada kapiler-kapiler
bawah kulit. Pneunomonia hipostatik paru mudah terjadi karena gangguan
peredaran darah. Dapat terjadi trombosis arteri pulmonalis.

11
B. Keracunan Sianida
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, karena garam sianida
dalam takaran kecil sudah cukup untuk menimbulkan kematian pada seseorang
dengan cepat seperti bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa tokoh nazi. Kematian
akibat keracunan CN umumnya terjadi pada kasus bunuh diri dan pembunuhan.
Tetapi mungkin pula terjadi akibat kecelakaan di laboratorium, pada
penyemprotan (fumigasi) dalam pertanian dan penyemprotan di gudang-gudang
kapal.
Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan Sianida
Pada pemeriksaan korban mati, pada pemeriksaan bagian luar jenazah,
dapat tercium bau amandel yang patognomonig untuk keracunan CN, dapat tercium
dengan cara menekan dada mayat sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung.
Bau tersebut harus cepat dapat ditentukan karena indra pencium kita cepat
teradaptasi sehingga tidak dapat membaui bau khas tersebut. Harus dingat bahwa
tidak semua orang dapat mencium bau sianida karena kemampuan untuk mencium
bau khas tersebut bersifat genatik sex-linked trait.
Sianosis pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan lebam mayat
berwarna terang, karena darah vena kaya akan oksi-Hb. Tetapi ada pula yang
mengatakan karena terdapat Cyanmet-Hb.
Pada pemeriksaan bedah jenazah dapat tercium bau amandel yang khas pada
waktu membuka rongga dada, perutdan otak serta lambung(bila racun melalui
mulut) darah, otot dan penampang tubuh dapat berwarna merah terang. Selanjutnya
hanya ditemukan tandatanda asfiksia pada organ tubuh.
Pada korban yang menelan garam alkalisianida, dapat ditemukan kelainan
pada mukosa lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan karena
terbentuk hematin alkali dan pada perabaan mukosa licin seperti sabun. Korosi
dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat terjadi antemortal atau
posmortal.

12
C. Keracunan Arsen (As)
Senyawa arsen dahulu sering mengunakan sebagai racun untuk membunuh
orang lain, dan tidaklah mustahil dapat ditemukan kasus keracunan dengan arsen
dimasa sekarang ini. Disamping itu keracunan arsen kadang-kadang dapat terjadi
karena kecelakaan dalam industri dan pertanian akibat memakan/meminum
makanan/minuman yang terkontaminasi dengan arsen. Kematian akibat keracunan
arsen sering tidak menimbulkan kecurigaan karena gejala keracunan akutnya
menyerupai gejala gangguan gastrointestinal yang hebat sehingga dapat didiagnosa
sebagai suatu penyakit.

Pemeriksaan Kedokteran Forensik As


Korban mati keracunan akut. Pada pemeriksaan luar ditemukan tanda- tanda
dehidrasi. Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda-tanda iritasi lambung,
mukosa berwarna merah, kadang-kadang dengan perdarahan (flea bitten
appearance). Iritasi lambung dapat menyebabkan produksi musin yang menutupi
mukosa dengan akibat partikel-partikel As berwarna kuning sedangkan As2O3
tampak sebagai partikel berwarna putih.
Pada jantung ditemukan perdarahan sub-endokard pada septum. Histologik
jantung menunjukkan infiltrasi sel-sel radang bulat pada miokard. Sedangkan organ
lain parenkimnya berwarna putih.-Korban mati akibat keracunan arsin. Bila korban
cepat meninggal setelah menghirup arsin, akan terlihat tanda-tanda kegagalan
kardiorespirasi akut. Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan ikterus dengan
anemia hemolitik, tanda-tanda kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak dengan
nekrosis fokal serta nekrosis tubuli. Korban mati akibat keracunan kronik. Pada
pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk. Pada kulit terdapat pigmentasi coklat
(melanosis arsenik).

D. Keracunan Alkohol
Alkohol banyak terdapat dalam berbagai minuman dan sering menimbulkan
keracunan. Keracunan alkohol menyebabkan penurunan daya reaksi atau
kecepatan, kemampuan untuk menduga jarak dan ketrampilan mengemudi
sehingga cenderung menimbulkan kecelakaan lalu-lintas di jalan, pabrik dan
sebagainya. Penurunan kemampuan untuk mengontrol diri dan hilangnya kapasitas

13
untuk berfikir kritis mungkin menimbulkan tindakan yang melanggar hukum
seperti perkosaan, penganiayaan, dan kejahatan lain ataupun tindakan bunuh diri.

Pemeriksaan Kedokteran Forensik Keracunan Alkohol


Pada orang hidup, bau alkohol yang keluar dari udara pernapasan
merupakan petunjuk awal. Petunjuk ini harus dibuktikan dengan pemeriksaan kadar
alkohol darah, baik melalui pemeriksaan udara pernapasan atau urin, maupun
langsung dari darah vena.
Kelainan yang ditemukan pada korban mati tidak khas, Mungkin ditemukan
gejala-gejala yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan tanda
perbendungan, darah lebih encer, berwarna merah gelap. Mukosa lambung
menunjukkan tanda perbendungan, kemerahan dan tanda inflamasi tapi
kadangkadang tidak ada kelainan.
Organ-organ termasuk otak dan darah berbau alkohol. Pada pemeriksaan
histopatologik dapat dijumpai edema dan pelebaran pembuluh darah otak dan
selaput otak, degenerasi bengkak keruh pada bagian parenkim organ dan inflamasi
mukosa saluran cerna.-Pada kasus keracunan kronik yang, meninggal, jantung
dapat memperlihatkan fibrosis interstisial, hipertrofi serabut otot jantung, sel-sel
radang kronik pada beberapa tempat, gambaran seran lintang otot jatunng
menghilang, hialinisasi, edema dan vakuolisasi serabut otot jantung. Schneider
melaporkan miopati alhokolik akut dengan miohemoglobinuri yang disebabkan
oleh nekrosis tubuli ginjal dan kerusakan miokardium.

14
BAB III
KESIMPULAN

Toksikologi adalah studi mengenai perilaku dan efek yang merugikan dari
suatu zat terhadap organisme/mahluk hidup. Dalam toksikologi, dipelajari
mengenai gejala, mekanisme, cara detoksifikasi serta deteksi keracunan pada sistim
biologis makhluk hidup. Toksikologi sangat bermanfaat untuk memprediksi atau
mengkaji akibat yang berkaitan dengan bahaya toksik dari suatu zat terhadap
manusia dan lingkungannya.
Toksikologi forensik, adalah penerapan toksikologi untuk membantu
investigasi medikolegal dalam kasus kematian, keracunan maupun penggunaan
obat-obatan. Dalam hal ini, toksikologi mencakup pula disiplin ilmu lain seperti
kimia analitik, farmakologi, biokimia dan kimia kedokteran.
Toksikologi forensik merupakan ilmu terapan yang dalam praktisnya sangat
didukung oleh berbagai bidang ilmu dasar lainnya, seperti kimia analisis, biokimia,
kimia instrumentasi, farmakologi toksikologi, farmakokinetik, dan biotransformasi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adiwisastra, A., 2005, Keracunan, Sumber, Bahaya serta Penanggulangannya,.


Angkasa, Bandung.

Andarwendah, Sumardi, 2002, Keracunan Arsen, Program Pendidikan Pasca


Sarjana Hyperkes, FK-UGM.

Bell, S. Forensic Chemistry. Pearson Education Inc., 2006

Budiawan. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus Keracunan dan


Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
2008; 1(1):35-39

Casarett, L.J. and Doull, J. Toxicology, the Basic Science of Poisons. McGraw-Hill
Companies, Inc., New York, 2011

Hadikusumo, Nawawi, 2007, Ilmu Kedokteran Forensik, IKF III, FK Uiversitas


Gajah Mada.
Idries, A.M., dkk, 2005, Ilmu Kedokteran Kehakiman, PT. Gunung Agung, Jakarta.

Simpson, Keith, 2009, Forensic Medicine, eight edition, The English Language
Book Society and Edward Arnold (Publishers) LTD.

Thienes, Clinton H., 2012, Clinical Toxicology, Heurg kimpton Publishers,


London, Great Britain.

Wirasuta, M. G, Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis,


Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):47-55

16