Anda di halaman 1dari 35

REFERAT

Fraktur Colles

Pembimbing :
dr.

Oleh :
Siti Solekah S.Ked
16710356

SMF ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2017

1
PEMERINTAH KABUPATEN PASURUAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL
Jl. Raya Raci – Bangil, Telp. (0343) 744900
Fax. (0343) 744940
PASURUAN

LEMBAR PENGESAHAN

KEPANITERAAN KLINIK FK-UWKS


RSUD BANGIL KABUPATEN PASURUAN

Telah dipresentasikan di :
Bangil, ..............................................................2017
Stase Bedah

Mengetahui,
Pembimbing Bagian/SMF Bedah

dr. Arianto Prabowo SP.OT


NIP :

2
PEMERINTAH KABUPATEN PASURUAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANGIL
Jl. Raya Raci – Bangil, Telp. (0343) 744900
Fax. (0343) 744940
PASURUAN

LEMBAR PENGESAHAN

KEPANITERAAN KLINIK FK-UWKS


RSUD BANGIL KABUPATEN PASURUAN

Telah dipresentasikan di :
Bangil, ..............................................................2017
Stase Bedah

Mengetahui,
Ketua Bagian SMF Bedah

dr.Moch Jundi Agustoro,SP.B


NIP :

3
DAFTAR ISI

Halaman

Judul ............................................................................................................ 1
Halaman Pengesahan .................................................................................. 2
Daftar Isi ...................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................6
1.1. Latar Belakang .......................................................................... 6
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................... 6
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................... 7
1.4. Metode Penulisan ...................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAK.......................................................................8


2.1. Anatomi .................................................................................... 8

2.2. Klasifikasi ................................................................................ 10

2.3. Klasifikasi Menurut Frykmann ................................................ 11

2.4 Epidemiologi ............................................................................. 12

2.5 Patofisiologi .............................................................................. 13

2.6 Manifestasi Klinik ....................................................................... 15

2.7 Diagnosis Klinik ......................................................................... 16

2.8 Pemeriksaan Radiologi ................................................................16

2.9 Pemeriksaan CT-Scan...................................................................22

2.10 Pemeriksaan MRI..................................................................... 24


2.11 Diagisa Banding ...................................................................... 24
2.12 Penatalaksanaan ...................................................................... 29

4
BAB III KESIMPULAN………………………...…………………..34
3.1.Kesimpulan…………………… ………………………..34

DAFTAR PUSTAKA

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai jalan,
jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan dan
kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah akibat
kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma – trauma lain yang dapat mengakibatkan fraktur
adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga.

Batang femur dapat mengalami fraktur oleh trauma langsung, puntiran (twisting),
atau pukulan pada bagian depan lutut yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan
raya. Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh dan batang femur pada orang dewasa
sangat kuat. Dengan demikian, trauma langsung yang keras, seperti yang dapat dialami
pada kecelakaan automobil, diperlukan untuk menimbulkan fraktur batang femur.
Perdarahan interna yang masif dapat menimbulkan renjatan berat.
Fraktur bukan hanya persoalan terputusnya kontinuitas tulang dan bagaimana
mengatasinya, akan tetapi harus ditinjau secara keseluruhan dan harus diatasi secara
simultan. Harus dilihat apa yang terjadi secara menyeluruh, bagaimana, jenis penyebabnya,
apakah ada kerusakan kulit, pembuluh darah, syaraf, dan harus diperhatikan lokasi
kejadian, waktu terjadinya agar dalam mengambil tindakan dapat dihasilkan sesuatu yang
optimal.

1.2RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis ingin mengetahui anatom,definisi,

patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, komplikasi fraktur colles

6
1.3TUJUAN PENULISAN

1. Memahami anatomi, definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik,

diagnosis banding, penatalaksanaan dan prognosis, komplikasi fraktur colles,

2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah dibidang kedokteran

1.4METODE PENULISAN

Refrat ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan dengan mengacu kepada beberapa

literature

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI

Radius adalah tulang di sisi lateral antebrachii

Articulation yang terdapat pada os radius

1) Articulation humeroradialis yaitu articulation antara capitulum humeri os humerus

dengan fovea articularis os radii

2) Articulation radioulnaris proximal yaitu articulation antara incisura radialis os ulna

dengan circumferential articularis caput radii os radii. Diperkuat oleh ligamentum

ulnare radii

3) Articulation radioulnaris distal yaitu yaitu antara incisura ulnaris os radii dengan caput

ulna. Diperkuat oleh ligamentum radioulnare

8
4) Articulation radiocarpalis yaitu antara facies articularis carpalis os radii dengan facies

articularis os scaphoideum et os lunatum

Os ulna dan Os radius dihubungkan oleh articulation radioulnar yang diperkuat oleh

ligamentum anulare yang melingkari kapitulum radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang

diperkuat oleh ligament radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes

interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat.

Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya

hanya mengenai satu tulang,hamper selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan

patah tersebut.

Selain itu, Os radius dan Os ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu otot supinator,

m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang membuat gerakan pronasi-supinasi. Ketiga otot itu

bersama dengan otot lain yang berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan

bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi, terutama pada radius.

Otot-otot yang terdapat pada antebrachii ventral superficial adalah m.Brachioradialis, m.

Extensor Carpi Radialis Longus, m. Extensor Carpi Radialis Brevis

Otot-otot yang terdapat pada antebrachii dorsal superficial adalah m. Ekstensor Digitorum,

m. Ekstensor Ekstensor Minimi, m. Ekstensor Carpi Ulnaris.

Otot-otot yang terdapat pada antebrachii dorsal profunda adalah m. Supinator, m.Ekstensor

Pollicis Longus, m.Extensor Indicis, m,Abductor Pollicis Longus, m. Ekstensor Pollicis Brevis.

Dari semua otot-otot antebrachii, otot berorigo pada os radii adalah m.Fleksor Digitorum

Superfisial, m.Flexor Pollicis Longus, m.Extensor Pollicis Brevis.

9
Dari semua otot di antebrachii, otot yang berinsersi pada os radii adalah m.Pronator

Teres, m.Pronator Quadratus, m.Bracioradialis (Sjamsuhidayat,2004)

2.2 DEFINISI

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik

yang bersifat total maupun yang parsial. Bila trauma terjadi pada atau dekat persendian, mungkin

terdapat fraktur pada tulang disertai dislokasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Dislokasi adalah

keadaan tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis. Kebanyakan

fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar

dan tarikan..

Fraktur Colles adalah fraktur radius bagian distal (sampai 1 inchi dari ujung distal) dengan

angulasi ke posterior, dislokasi ke posterior, dan deviasi fragmen distal ke radial; dapat bersifat

kominutiva dan dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna. Dislokasi ini menyebabkan bentuk

lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai bentuk garpu( dinner-fork

deformity). Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius
10
distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. Cedera yang

digambarkan oleh Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang pada radius tepat di

atas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. Sejak saat itu fraktur jenis ini

diberi nama sebagai fraktur Colles sesuai dengan nama Abraham Colles. Biasanya penderita jatuh

terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan

diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di

mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan (Mansjoer 2000).

2.3 KLASIFIKASI MENURUT FRYKMAN

Klasifikasi ini berdasarkan biomekanik serta uji klinik,juga memisahkan antara intra dan

ekstra artikular serta ada tidaknya frukture pada ulna distal. Pada klasifikasi ini nomor yang lebih

besar menunjukkan fase penyembuhan yang lebih rumit dan prognosa yang lebih jelek

(Frykmann,1967)

11
2.4 EPIDEMIOLOGI

Fraktur distal radius terutama frakture calles lebih sering ditemukan pada wanita,
dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun. Secara umum insidennya kira-kira 8 % - 15 %
dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat.dari suatu survey epidemiologi yang
dilakukan di swedia, didapatkan angka 74,5% dari fraktur pada lengan bawah merupakan
fraktur distal radius. Umur di atas 50 tahun pria dan wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50
tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama di mana fraktur colles lebih kurang

12
60% dari seluruh fraktur radius. Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata-rata
pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50-59 tahun (Dias dkk, 1980;
Sarmiento dkk, 1980).

2.5 PATOFISIOLOGI

Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya merupakan trauma

langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan

tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah distal ke arah dorsal.

Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai

garpu, seperti yang terjadi pada fraktur Colles.

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah penderita terjatuh

dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan. Pada saat terjatuh sebahagian energi

yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke

13
distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara

batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.

Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam posisi

terbuka dan pronasi. Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke

daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana

garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan

Sehingga tulang yang kemungkinan mengalami fratur pada posisi tersebut adalah radius distal

14
Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti gambar di atas, maka gaya yang kuat akan

berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya

bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah distal radius sebab dilihat dari struktur jaringannya

saja tulang daerah tersebut memang rawan patah (Price, 1990)

2.6 MANIFESTASI KLINIK

Terdapat Pembengkakan pada pergelangan tangan jika fraktur berat karena terjadi extra vasasi

darah Nyeri pada pergerakan atau penekanan. Terbatasnya gerakan sendi pergelangan tangan

Deformitas yang menyerupai garpu, dikenal sebagai “dinner fork deformity” (dimana bagian distal

fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial, bagian distal ulna menonjol ke arah volar,

sementara tangan biasanya dalam posisi pronasi) (Long,2000)

15
2.7 DIAGNOSIS KLINIK

Biasanya penderita mengeluh deformitas pada pergelangan tangan dengan adanya riwayat

trauma sebelumnya. Pada penemuan klinis untuk fraktur distal radius terutama fraktur Colles akan

memberikan gambaran klinis yang klasik berupa “dinner fork deformity atau silver fork deformity,

yaitu bagian distal fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial, bagian distal ulna menonjol

ke arah volar, sementara tangan biasanya dalam posisi pronasi, dan gerakan aktif pada pergelangan

tangan tidak dapat dilakukan. Selain itu juga didapatkan lekakuan, gerakan yang bebas terbatas,

dan pembengkakan di daerah yang terkena, nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.

2.8 PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara

klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa

dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang.

16
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur

kominutif dan mengetahui letak persis patahannya. Pada gambaran radiologis dapat

diklasifikasikan stabil dan instabil. Dikatakan stabil apabila hanya terjadi satu garis patahan,

dan instabil bila patahannya kominutif dan “crushing” dari tulang cancellous.

Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto tulang yang

bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto antero-posterior (AP) dan lateral. Bila kedua proyeksi ini

tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi

tegak lurus satu sama lain. Perlu diingat bahwa bila hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada

kemungkinan fraktur tidak dapat dilihat. Proyeksi tambahan oblik biasanya juga dibutuhkan

untuk menilai trauma pada persendian. Pada fraktur ekstremitas, daerah yang difoto harus

cukup luas dengan mencakup setidaknya satu persendian. Namun, pemeriksaan radiologis

tulang yang berada di antara dua sendi sebaiknya mencakup keseluruhan panjang tulang mulai

dari persendian proksimal hingga persendian distal tulang tersebut. Untuk melihat fraktur pada

tulang radius bagian distal, khususnya fraktur Colles, dibuat foto proyeksi AP dan lateral.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto Roentgen:

1) Adakah fraktur, dimana lokasinya?

2) Tipe (jenis) fraktur dan kedudukan fragmen

3) Bagaimana struktur tulang: biasa?patologik?

4) Bila dekat/pada persendian:adakah dislokasi?fraktur epifisis?

Pemeriksaan foto Roentgen pada kasus curiga fraktur digunakan untuk:

1) Mendiagnosis adanya fraktur dengan memperhatikan lokasinya, tipe (jenis fraktur),

dan kedudukan fragmen. Bila dekat atau pada persendian, maka dapat diperhatikan

17
adanya dislokasi, fraktur epifisis, dan pelebaran sela sendi karena efusi ke dalam

rongga sendi.

2) Menentukan struktur tulang apakah tulang dasarnya normal atau patologis.

3) Memperlihatkan posisi ujung tulang sebelum dan sesudah terapi fraktur. Foto

roentgen dilakukan segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila

dilakukan reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen intramedular(kadang-

kadang pen menembus tulang) ataupun plate and screw(kadang-kadang screw

lepas).

4) Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur

- Pembentukan callus

- Konsolidasi

- Remodeling: terutama pada anak-anak

- Adanya komplikasi

 Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto rontgen:

a) Foto tulang apa

b) Jenis tulang (anak/ dewasa)

c) Alignment: Simetris/tidak

d) Bone : Ada fraktur/ tidak

Jika ada:

o Jenisnya

o lokasi fraktur

o kedudukan fraktur

o ada callus atau tidak

18
o ada komplikasi atau tidak

o ada reaksi periosteal atau tidak

o keadaan struktur tulang(korteks dan medulla)

e) cartilago:

o Apakah ada dislokasi/tidak

o Destruksi

o Bagaimana celah sendinya

f) Soft Tissue: apakah ada swelling atau tidak

(Grainger, 1999)

Pemeriksaan Radiologis Konvensional pergelangan tangan proyeksi

PA dan lateral

19
Colles Fracture-PA Radiograph

Colles Fracture-Lateral Radiograph

20
“Dinner Fork Deformity”

21
2.9 PEMERIKSAAN CT-SCAN

Ct-scan bersifat lebih sensitif daripada radiografi konvensional untuk mendeteksi

kerusakan tulang karena dapat menampilkan potongan aksial, koronal dan sagital dari objek.

Selain itu ct scan digunakan jika ingin memperlihatkan gambaran yang cukup pada sendi

radiokarpal dan jaringan lunak, yang tidak dapat dilihat jelas pada radiografi konvensional

(Patel,2007)

Ct Scan penampang axial menunjukkan fraktur kominutif distal os.Radius

22
Ct Scan penampang coronal menunjukkan adanya fraktur kominutif distal os.Radius

Ct Scan penampang sagital menunjukkan adanya fraktur kominutif os.Radius

23
2.10 PEMERIKSAAN MRI (Magnetic Resonance Imaging)

MRI digunakan jika ingin melihat lebih jelas jaringan lunak khusunya adanya cedera ligamen

dan triangular fibrocartilage complex (TFCC) atau dapat juga digunakan jika curiga terdapat

fraktur yang tidak dapat diperlihatkan pada radiografi konvensional.

MRI tidak rutin digunakan pada evaluasi awal fraktur radius distal akut pada trauma tangan.

Namun bagaimanapun, pencitraan ini berguna untuk melilai kelainan tulang, ligamen, dan jaringan

lunak yang berkaitan dengan fraktur radius distal. MRI rutin digunakan untuk menilai integritas

ligamentum intercarpal, kompleks rawan fibroid triangularis, dan nervus medianus pada carpal

tunnel (Rasad,2009)

2.11 DIAGNOSA BANDING

1) Fraktur Smith

Fraktur Smith adalah fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi fragmen

distal ke voler. Fraktur Smith dikenal sebagai kebalikan dari fraktur Colles. Jika fraktur

Colles terjadi karena jatuh pada permukaan tangan pada bagian volar, maka fraktur Smith

terjadi karena seseorang jatuh pada permukaan tangan bagian dorsal, sehingga terjadi

dislokasi fragmen distal ke arah volar. Gambaran klinisnya dikenal sebagai garden spade

deformity.

24
2) Fraktur Galeazzi

Fraktur Galeazzi adalah fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi ulna bagian

distal. Terjadinya fraktur ini biasanya akibat trauma langsung sisi lateral ketika jatuh.

25
3) Fraktur Barton

Fraktur Barton adalah fraktur oblik dari tulang radius distal intraartikuler, dengan

patahan distal radius terdislokasi ke arah volar (fraktur Barton volar) atau ke arah

dorsal (fraktur Barton dorsal). Fraktur Barton merupakan dislokasi sendi radiocarpal

(Rasjad,2003)

26
DD Definisi Manifestasi Klinis

Deformitas pada fraktur ini


 Fraktur metafisis distal
berbentuk seperti sendok
radius dengan jarak _+ 2,5
makan (dinner fork
cm dari permukaan sendi
deformity). Pasien terjatuh
distal radius
dalam keadaan tangan
 Dislokasi fragmen
terbuka dan pronasi, tubuh
Fraktur Colles distalnya ke arah
beserta lengan berputar ke ke
posterior/dorsal
dalam (endorotasi). Tangan
 Subluksasi sendi
terbuka yang terfiksasi di
radioulnar distal
tanah berputar keluar
 Avulsi prosesus stiloideus
(eksorotasi/supinasi).
ulna.

Fraktur Smith merupakan Penonjolan dorsal fragmen

fraktur dislokasi ke arah proksimal, fragmen distal di

anterior (volar), karena itu sisi volar pergelangan, dan

sering disebut reverse Colles deviasi ke radial (garden

fracture. Fraktur ini biasa spade deformity).


Fraktur Smith
terjadi pada orang muda.

Pasien jatuh dengan tangan

menahan badan sedang posisi

tangan dalam keadaan volar

fleksi pada pergelangan

27
tangan dan pronasi. Garis

patahan biasanya transversal,

kadang-kadang intraartikular.

Fraktur Galeazzi merupakan Tampak tangan bagian distal

fraktur radius distal disertai dalam posisi angulasi ke

dislokasi sendi radius ulna dorsal. Pada pergelangan

distal. Saat pasien jatuh tangan dapat diraba tonjolan

dengan tangan terbuka yang ujung distal ulna.


Fraktur Galeazzi
menahan badan, terjadi pula

rotasi lengan bawah dalam

posisi pronasi waktu menahan

berat badan yang memberi

gaya supinasi.

Fraktur Barton Fraktur oblik dari tulang Tangan ini akibat terjatuh

radius distal intraartikuler, dengan tangan terentang

dengan patahan distal

terdislokasi ke arah volar

atau ke arah dorsal.

Fraktur Barton merupakan

dislokasi sendi radiocarpal

28
2.12 PENATALAKSANAAN

1. Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips yang

dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam

posisinya.

2. Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan

traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan tangan

untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan

menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi,

deviasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi

memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher

metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada posisinya

dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20

derajat saja pada tiap arah. Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan

bahu dan jari segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami

sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.

29
Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke depan, (c) deviasi

ulnar. Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang basah, (f)

slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras

Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang sering terjadi

dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran

ulang sering terjadi lagi.

Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara radiologi,

slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krepsementara.

(a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien

secara teratur

30
3. Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk

keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi radius

dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga

4. Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan komplikasi

jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles tipe IA atau IB dan tipe IIA yang boleh

ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada

ahli orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu diketahui, sebagai berikut

a) Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan

dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen

b) Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23 derajat

di sebelah palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak

c) Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini

dapat dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang

lama sampai terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi.

Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka beberapa hal

berikut dapat dilakukan :

a) Lakukan tindakan di bawah anestesi regional

b) Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese

finger traps dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi.

Beban seberat 8-10 pon digantungkan pada siku selama 5-10 menit atau

sampai fragmen disimpaksi.

31
c) Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan

menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal

menggunakan jari-jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan,

maka beban dapat diturunkan.

d) Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi

terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat

deviasi ulna.

e) Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan

pemasangan anteroposterior long arms splint

f) Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa

telah tercapai posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf

medianusnya

g) Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam

untuk mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya

dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan

dua minggu pasca trauma. Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-

6 minggu, sedangkan untuk fraktur yang bergeser membutuhkan waktu 6-

12 minggu. (Apley & Solomon, 1995)

32
Reduksi pada fraktur Colles

33
BAB III

KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Fraktur colles adalah fraktur metafisis distal radius yang sudah mengalami osteoporosis,

garis fraktur transversal, komplit, jaraknya 2-2,5cm proximal garis sendi, bagian distal beranjak

ke dorsal dan angulasi ke radial serta fraktur avulsi dari processus styloideus ulna.

Fraktur colles disebabkan biasanya pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan

pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di

tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).

Manifestasi klinik Fraktur colles terdapat : pembengkakan pada pergelangan tangan, nyeri

pada pergerakan atau penekanan, terbatasnya gerakan sendi pergelangan tangan, deformitas yang

menyerupai garpu, dikenal sebagai “dinner fork deformity”.

Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah : pemeriksaan radiologi, , Scan

CT Scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging)

34
DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah:Sistem Muskuloskeletal. Edisi 2.

Jakarta:EGC.2004.Hal 840-70

Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta:Balai Penerbit FKUI. 2009. Hal 31-43

Patel, Pradip R. Lecture Notes Radiologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2007. Hal 222-

30

Mansjoer, A,. Kapita Selekta Kedokteran.Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius. Jakarta: 2000

Price, Sylvia. 1990. Patofisiologi dan Konsep Dasar Penyakit. EGC: Jakarta

Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 2. Makassar:Bintang

Lamumpatue. 2003. Hal 355-419

Grainger, R.G. Diagnostic Radiology. 2th Edition. Elsevier.1999. Page 1474-9

Appley. Alan Graham, Solomon. Louis. Apley’s System of Orthophaedics and Fractures.

Butterworth-Heinemann. 1995

Long,B.C.2000. Perawatan Medikal Bedah. Edisi 7. Yayasan Alumni Pendidikan

Keperawatan Pajajaran: Bandung

35