Anda di halaman 1dari 13

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. TR
Umur : 29 tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Penjaga warnet
Status : Sudah menikah
Alamat : Bangil
No. RM :-
Tgl. Pemeriksaan : 3 Oktober 2016

II. ANAMNESIS
 Keluhan Utama:
kedua mata buram ± 2 bulan.

 Riwayat penyakit sekarang:


pasien datang dengan keluhan kedua matanya buram jika melihat
jauh ± 2 bulan, sedangkan melihat dekat terlihat jelas dan keluar air
mata ± 2 bulan, pusing dan silau jika terkena sinar. Pasien sering
berada di depan komputer dan ada riwayat pemakaian kacamata.

 Riwayat Penyakit Dahulu:


1. Riwayat Diabetes Melitus dan Hipertensi disangkal
2. Riwayat trauma disangkal

 Riwayat Penyakit Keluarga:


Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini

1
Keluarga tidak ada riwayat pemakaian kacamata

 Riwayat Pengobatan:
Belum diberi obat

 Riwayat Sosial:
Bekerja menggunakan komputer

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Kondisi Umum dan Vital Sign
- Keadaan Umum (KU) : Baik
- Kesadaran : Kompos Mentis
- Suhu : 36.7 0C
- RR : 20 x/menit
- Tensi : 120/80 mmHg
- Nadi : 80 x/menit

2. Status Lokalis

OD Pemeriksaan Mata OS
6/40 S -1.00 C -0.75 x 35
6/40 C -1.25 x 155 6/6 Visus
6/6

Pergerakan

2
 Hiperemi (-)  Hiperemi (-)
 Sikatriks (-) Palpebra  Sikatriks (-)
 edema (-)  Edema (-)

 Hiperemi (-)
 CI (–)
 Hiperemi (-)
 PCI (–)
 CI (–)
 jaringan fibrovaskular
 PCI (–) Konjungtiva
(-)
 jaringan fibrovaskular (-)
 Sekret (-)
 Sekret (-)

 Hiperemi sclera (-)  Hiperemi sclera (-)


Sklera
 Ikterus (-)  Ikterus (-)
 Jernih, Edema (-),
 infiltrate (-)
 Jernih, Edema(-),
Kornea
 infiltrate (-)

Dalam COA Dalam


Reguler, Sinekia (-) Iris Reguler, Sinekia (-)
 Bulat, diameter 3 mm  Bulat, diameter 3 mm
Pupil
 Reflek cahaya (+)  Reflek cahaya (+)
Jernih Lensa Jernih
N/P TIO N/P

3
4
BAB II

DIAGNOSIS BANDING

1. Miopia Astigmatisma
2. Presbiopia
3. Hipermetropia

Miopia adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata
dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias membentuk bayangan di
depan retina. Hal ini disebabkan mata memiliki kekuatan optik yang terlalu tinggi
karena kornea yang terlalu cembung atau panjang aksial bola mata yang terlalu
besar.
Patofisiologi miopi:
1. Miopia aksial karena karena panjang sumbu aksial mata lebih panjang dari
normal
2. Miopia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari
normal
3. Miopia refraktif/ miopia indeks karena indeks bias mata lebih tinggi dari
normal
Gejala klinis:
1. Penglihatan jarak jauh buram dan penglihatan jarak dekat lebih baik
2. Sakit kepala (jarang)
3. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh
4. Suka membaca
5. Terdapat kecenderungan mengalami juling saat melihat jauh. Hal ini
disebabkan pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat
sehingga mata selalu dalam keadaan konvergensi yang akan menimbulkan
keluhan asthenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap maka
penderita akan terlihat juling ke dalam atau esotropia.
Menurut derajat beratnya miopia dibagi menjadi:
1. Miopia ringan: S -0,25 s/d S -3.00
2. Miopia sedang: S -3.25 s/d S -6.00
3. Miopia berat: S-6.25 atau lebih
Menurut perjalanannya miopia dibagi menjadi:

5
1. Miopia stationer adalah miopia yang menetap setelah dewasa
2. Mipopia progresif adalah miopia yang bertambah terus pada usia dewasa
akibat bertambah panjangnya bola mata
3. Miopia maligna adalah miopia yang berjalan progresif, yang dapat
mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia
pernisiosa/ miopia degeneratif
Cara menegakkan diagnosis:
Refraksi subjektif
Metode trial and error
1. Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 feet
2. Digunakan kartu snellen yang diletakkan setinggi mata penderita
3. Mata diperiksa satu persatu
4. Ditentukan visus atau tajam penglihatan masing-masing mata
5. Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis negatif
Refraksi objektif
1. Retinoskopi: dengan lensa kerja S +2.00 pemeriksa mengamati refleksi
fundus yang bergerak berlawanan dengan arah gerakan retinoskop (against
movement) kemudian dikoreksi dengn lensa sferis negatif sampai tercapai
netralisasi
2. Autorefraktometer (komputer)

Astigmatisma adalah kelainan refraksi dimana pembiasan pada meridian


yang berbeda tidak sama. Dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) sinar sejajar
yang masuk ke mata difokuskan pada lebih dari satu titik.
Patofisiologi
1. Kelainan bentuk kornea (terdapat perubahan kelengkungan kornea, diuji
dengan tes placido). Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar
kornea tidak teratur. Media refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan
yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai 80% s/d 90% dari
astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah lensa kristalin. Kesalahan
pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea
dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior posterior
bolamata. Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena
kelainan kongenital, kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan
kornea serta akibat pembedahan kornea.
2. Pada sebagian kecil dapat pula disebabkan kelainan lensa: kekeruhan pada
lensa (katarak insipien atau imatur). Semakin bertambah umur seseorang,

6
maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga semakin berkurang dan
lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan yang dapat
menyebabkan astigmatismus.
3. Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty
4. Trauma pada kornea
5. Tumor
Pembagian astigmatisma:
1. Astigmatisma reguler
Pada bentuk ini selalu didapatkan dua meridian yag saling tegak lurus.
 Disebut astigmatism with the rule bila meridian vertikal
mempunyai daya bias terkuat. Bentuk ini lebih sering pada
penderita muda.
 Disebut astigmatism against the rule bila meridian horisontal
mempunyai daya bias terkuat. Bentuk ini lebih sering pada
penderita yang lebih tua. Kelainan refraksi ini bisa dikoreksi
dengan lensa silinder.

2. Astigmatism ireguler
Pada bentuk ini didapatkan titik fokus yang tidak beraturan. Penyebab
tersering adalah kelainan kornea seperti sikatriks kornea, keratokonus.
Bisa juga disebabkan kelainan lensa seperti katarak imatur. Kelainan
refraksi ini tidak dapat dikoreksi dengan lensa silinder.

Berdasarkan letak titik fokus meridiannya astigmatisma dapat dibagi atas:


1. Astigmatisma miopia simpleks: fokus bayangan pada salah satu meridian
jatuh di depan retina (cth: c-0.75x90)
2. Astigmatisma miopia kompositus: fokus bayangan pada kedua meridian
jatuh di depan retina (cth : s-0,50 c-1.00 x 90)
3. Astigmatisma campuran/ astigmatisme mixtus: fokus bayangan salah satu
meridian jatuh di depan retina dan meridian lain jatuh dibelakang retina
(cth: s-1.00 c+2.00x 90)
4. Astigmatisma hipermetropia simpleks: fokus bayangan salah satu meridian
jatuh di belakang retina (cth: c+2.00x90)
5. Astigmatisma hipermetropia kompositus: fokus bayangan kedua meridian
jatuh di belakang retina ( cth: s+2.00 c+2.50 x 90)
Manifestasi klinis:
1. Penglihatan buram

7
2. Terdapat head tilting
3. Pasien sering kali menengok untuk dapat melihat dengan jelas
4. Pasien sering kali menyipitkan mata untuik dapat melihat dengan jelas
5. Bahan bacaan didekatkan agar dapat melihat dengan jelas
Diagnosis/ cara pemriksaan:
Refraksi subjektif
Metode trial and error
1. Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 feet
2. Digunakan kartu snellen yang diletakkan setinggi mata penderita
3. Mata diperiksa satu persatu
4. Ditentukan visus atau tajam penglihatan masing-masing mata
5. Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa silinder negatif atau positif
dengan aksis diputar 0-1800. Kadang-kadang perlu dikombinasikan dengan
lensa sferis negatif atau positif

Refraksi objektif:
1. Retinoskopi: dengan lensa S + 2.00, pemeriksa mengamati refleks fundus,
bila berlawanan dengan gerakan retinoskop (against movement) dikoreksi
dengan lensa sferis negatif sedangkan bila searah dengan gerakan
retinoskop (with movement) dikoreksi dengan lensa sferis positif.
Meridian yang netral lebih dulu adalah komponen sferisnya. Meridian
yang belum netral dikoreksi dengan silinder positif sampai tercapai
netralisasi. Hasil akhirnya dilakukan transposisi
2. Autorefraktometer

Presbiopia adalah kondisi yang muncul akibat proses penuaan dan


berujung pada tidak cukupnya daya akomodasi untuk kerja dekat pada pasien
yang gangguan refraksi jauhnya telah diperbaiki.
Etiologi disebabkan proses penuaan yang mengakibatkan berkurangnya
elasatisitas lensa sehingga lensa tidak dapat berakomodasi.
Manifestasi klinis:
1. Penurunan tajam penglihatan pada penglihatan dekat, terutama apabila
pencahayaan yang kurang
2. Nyeri kepala dapat dirasakan setelah pasien mengerjakan tindakan
yang memerlukan penglihatan dekat dalam jangka panjang
Pemeriksaan presbiopia:

8
1. Pasien diberi kartu baca dengan jarak baca 30-40 cm
2. Pasien diminta membaca huruf terkecil pada kartu baca
3. Berikan lensa sferis + 1.00 D dinaikkan perlahan hingga tulisan
terkecil pada kartu baca terbaca
4. Pemeriksaan dilakukan satu mata terlebih dahulu baru dilanjutkan
mata yang lainnya.

Hipermetropia adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk


ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias membentuk
bayangan di belakang retina. Hal ini disebabkan mata memiliki power optik yang
terlalu rendah.
Patofisiologi
1. Hipermetropia aksial karena sumbu aksial mata lebih pendek dari normal
2. Hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa lebih lemah
dari normal
3. Hipermetropia indeks karena indeks mata lebih rendah dari normal
Gejala klinis
1. Penglihatan jauh kabur terutama pada hipermetropia 3 D atau lebih,
hipermetropi pada orang tua di mana amplitudo akomodasi menurun
2. Penglihatan dekat kabur lebih awal terutama bila lelah, bahan cetakan
kurang terang atau penerangan kurang
3. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada pengguanaan
mata yang lama dan membaca dekat
4. Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif/ eye strain) terutama bila
melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas pada waktu
yang lama, misalnya menonton TV
5. Mata sensitif terhadap sinar
6. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia
7. Perasaan mata juling karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti
konvergensi yang berlebihan pula
Hipermetropia dapat diklasifikasikan atas:
1. Hipermetropia manifes: didapatkan tanpa pemberian sikloplegik dan dapat
dikoreksi dengan lensa terkuat. Dibagi atas dua:
a. Absolut: tidak dapat diimbangi dengan akomodasi
b. Fakultatif: dapat diimbangi dengan akomodasi. Apabila diberikan
lensa positif yang tepat, maka otot akomodasi akan mengalami
relaksasi

9
2. Hipermetropia laten: selisih antara hipermetropia total dan manifes.
Hipermetropia laten ini diatasi oleh pasien dengan melakukan akomodasi
terus-menerus
3. Hipermetropia total: hipermetropia laten dan manifes, didapatkan setelah
pemeriksaan dikerjakan dengan sikloplegik

10
BAB III
DIAGNOSIS AKHIR

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan


penunjang. Penulis mendiagnosis, bahwa pasien menderita Miopia
Astigmatisma.

Miopia Hipermetropia presbiopia


astigmatisma
Usia Muda muda Tua > 45 tahun
Kabur + + +
(jika melihat jauh) (jika melihat (jika melihat jauh
dekat) dan dekat)
Sakit kepala Jarang + -
(terutama daerah
frontal)
Memicingkan mata + - -
jika melihat jauh
Posisi Ketika Objek Didekatkan Objek Dijauhkan Objek dijauhkan
Membaca
Penglihatan tidak - + -
enak/ asthenopia (terutama melhat
akomodatif jarak yang tetap
dan diperlukan
penglihatan jelas
jangka waktu yang
lama
Sensitif terhadap - + -
sinar
Spasme akomodasi - + -
(mengakibatkan
pseudomiopia)
Koreksi kacamata Lensa sferis Lensa sferis positif Lensa sferis positif
negatif terlemah terkuat yang sesuai pedoman
yang menghasilkan umur, yaitu umur 40
menghasilkan tajam penglihatan tahun diberi
tajam penglihatan terbaik tambahan sferis
terbaik dan +1.00 dan setiap 5
silinder negatif tahun diatasnya
atau positif ditambahkan lagi
sferis +0.50

11
BAB IV
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan:

1. Kacamata
Koreksi dengan lensa sferis negatif terlemah yang menghasilkan tajam
penglihatan terbaik dan silinder negatif atau positif
2. Lensa kontak
Untuk: anisometropia dan miopia tinggi
3. Bedah refraktif:
a. Bedah refraktif kornea: tindakan untuk merubah kurvatura
permukaan anterior kornea (Excimer laser, operasi lasik)
b. Bedah refraktif lensa: tindakan ekstraksi lensa jernih, biasanya
diikuti dengan implantasi lensa intraokuler

12
BAB V
PROGNOSIS, KOMPLIKASI DAN EDUKASI

1. Prognosa: Bonam

2. Komplikasi:

a. Ablasio retina terutama pada miopia tinggi


b. Strabismus
 Esotropia bila miopia cukup tinggi bilateral
 Exotropa pada miopia denhgan anisometropia
c. Ambliopia terutama pada miopia dan anisometropia

3. Edukasi
Progesivitas miopia dihambat dengan mengurangi usaha akomodasi dan
menggunakan kacamata dengan koreksi terbaik. Aktivitas melihat dekat juga
mempengaruhi cepatnya progerivitas miopia, sehingga pasien dianjurkan untuk
lebih sering melakukan aktivitas yang memanfaatkan penglihatan jauh.

13