Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA Pare-Pare, Desember 2017

REFERAT

THALASEMIA

OLEH :

MUH. FACHREZA P. GOMA

111 2016 2154

PEMBIMBING : dr. H. Haeruddin Pagara, Sp. A

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD ANDI MAKASSAU

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat


tanduk, misalnya statum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku yang
disebabkan golongan jamur dermatofita.1 Dermatofita merupakan golongan jamur
yang mencerna keratin.1 Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti, yang
terbagi dalam 3 genus yaitu Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.1
Hingga kini dikenal sekitar 41 spesies dermatofita yang terbagi dari 2 spesies
Epidermophyton, 17 spesien Microsporum, dan 21 spesien Trichophyton.1
Dermatofitosis dibagi berdasarkan lokasi sehingga dikenal bentuk tinea kapitis,
tinea barbe, tinea pedis et manum, tinea unguium, dan tinea korporis.1

Tinea kapitis (ringworm of the scalp) merupakan dermatofitosis pada kulit


kepala dan berhubungan dengan rambut yang disebabkan oleh spesies
Microsporum dan Trichophyton.1,3 Terdapat 3 cara penularan dermatofita yaitu
infeksi antropofilik, infeksi zoofilik dan infeksi geofilik.4

Tinea kapitis merupakan penyakit jamur yang sering terjadi pada anak-
anak dibandingkan orang dewasa.2,5 Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
tinea kapitis adalah higienitas yang buruk, kepadatan penduduk dan status sosial
ekonomi yang rendah.3,5 Di negara-negara maju, Trichophyton tonsurans
merupakan penyebab paling umum, sedangkan di negara-negara berkembang
penyebab paling umum adalah Microsporum canis.5

Kelainan pada tinea kapitis dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-
merahan, alopesia dan kadang terjadi gambaran yang lebih berat yang disebut
kerion.1 Dalam klinik tinea kapitis dapat dilihat sebagai tiga bentuk yaitu gray
patch, kerion, dan black dot ringworm.1 Untuk menegakkan diagnosis maka
dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti lampu wood, microskopis
menggunakan KOH dengan mengambil sampel dengan kerokan pada lesi.1,2,6

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tinea kapitis adalah suatu infeksi pada kulit kepala dan rambut yang
disebabkan oleh spesies dermatofita.1,3 Dermatofita merupakan golongan jamur
yang menyebabkan dermatifitosis yang mempunyai sifat mencerna keratin. 1

2.2 Epidemiologi

Tinea kapitis merupakan penyakit yang sudah dianggap sebagai masalah


kesehatan yang serius pada beberapa dekade dan sering muncul pada anak- anak
usia antara 3 sampai 14 tahun.3,5 Namun pada orang dewasa jarang terjadi, hal ini
terjadi akibat perubahan pada pH kulit kepala dan peningkatan asam lemak yang
berguna sebagai proteksi atau sebagai jamurstatik.4,5,7

Tinea kapitis sering terjadi di daerah pedesaan dan tranmisi meningkat


dengan higienitas yang buruk, kepadatan penduduk dan status sosial ekonomi
yang rendah.3,5 Kejadian pada orang dewasa biasanya lebih sering terjadi pada
wanita dibandingkan laki-laki, pada orang dengan imunitas yang rendah, dan pada
orang yang berkulit hitam dibandingkan kulit putih.4,7 Ada tiga cara penularan
dermatofita yaitu : 4

 Infeksi antropofilik yang menyebar dari satu anak ke anak yang lain dapat
hadir sebagai kasus sporadis. Terjadi penyebaran melalui kontak langsung
atau melalui penyebaran udara dari spora dan penyebaran tidak langsung
yaitu terkontaminasi dari benda-benda seperti sisir , sikat , topi dan lain
sebagainya.
 Infeksi menyebar dari hewan ke anak ( infeksi zoofilik ) melalui kontak
langsung maupun dengan lingkungan disekitar hewan yang terinfeksi
seperti karpet, pakaian, furnitur dan lain sebagainya.

3
 Infeksi menyebar dari tanah ke manusia ( infeksi geofilik ) namun jarang
terjadi.

2.3 Etiologi

Tinea kapitis terjadi akibat dermatofita spesies Microsporum dan


Trichophyton. Setiap negara dan daerah memiliki perbedaan pada spesies
penyebab tinea kapitis misalnya di amerika serikat dan Eropa Barat 90 % kasus
tinea kapitis yang disebabkan oleh T. tonsurans dan jarang disebabkan M. Canis,
sedangkan di Eropa Timur dan Selatan serta Afrika Utara disebabkan oleh T.
violaceum.7 Di inggris kasus terbanyak disebabkan oleh infeksi M.canis yang di
dapatkan dari kucing.7 Spesies penyebab terjadinya tinea kapitis gray patch adalah
microsporum dan trikofiton. Pada tinea kapitis black dot terutama disebabkan oleh
Tricophyton tonsurans, T. violaceum dan T. mentagrophytes. Penyebab utama
tinea kapitis kerion adalah Microsporum canis, M. gypseum, T. tonsurans, dan T.
violaceum. Sedangkan pada tinea favus disebabkan oleh spesies T. schoenleinii,
T. violaceum, dan M. Gypseum.8

2.4 Klasifikasi 9

2.4.1 Infeksi Ektothrix

Invasi terjadi pada batang rambut luar. Hifa fragmen ke arthroconidia ,


menyebabkan kerusakan kutikula. Infeksi ini disebabkan oleh Microsporum spp.
(M. audouinii dan M. canis)

2.4.2 Infeksi Endothrix

Infeksi terjadi di dalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula.


Arthroconidia ditemukan dalam batang rambut. Infeksi ini disebabkan oleh
Trichophyton spp. (T. tonsurans di Amerika Utara , T. violaceum di Eropa , Asia ,
sebagian Afrika).

 "Black Dot " Tinea capitis

4
Merupakan varian endothrix yang menyerupai dermatitis seboroik.

 Kerion

Merupakan varian endothrix dengan plak inflamasi.

 Favus

Merupakan varian endothrix dengan arthroconidia dalam batang rambut.


Sangat jarang di Eropa Barat dan Amerika Utara . Di beberapa bagian dunia
(Timur Tengah, Afrika Selatan) masih endemik .

Gambar 2.1 Gambaran Ektothrix dan Endothrix 3

2.5 Patogenesis

Infeksi dermatofita melibatkan 3 step utama yaitu : 3

1. Perlekatan pada keratinosit Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan


untuk bisa melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar ultraviolet, suhu,
kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang diproduksi oleh
keratinosit serta asam lemak yang diproduksi oleh glandulasebasea juga bersifat
fungistatik

5
2. Penetrasi melewati dan di antara sel Setelah terjadi perlekatan, spora
berkembang dan menembus stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat
daripada proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase
dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma dan
maserasi juga membantu memfasilitasi penetrasi jamur kejaringan. Pertahanan
baru muncul ketika begitu jamur mencapai lapisan terdalam dari epidermis.

3. Pembentukan respon penjamu Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun


pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed
Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam
melawan dermatofita. Pada pasien yang belum pernah terinfeksi dermatofita
sebelumnya, infeksi primer menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin tes
hasilnya negative.infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang
dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Antigen dermatofita diproses
oleh sel langerhans epidermis dan dipresentasikan dalam limfosit T di nodus
limfe. Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ketempat yang terinfeksi
untuk menyerang jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier
epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi.
Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh.

Dermatofit ectothrix merupakan bentuk infeksi pada perifolikel stratum


korneum, kemudian menyebar ke sekitar dan ke dalam batang rambut dari
pertengahan hingga akhir anagen rambut sebelum masuk ke folikel untuk
menembus korteks rambut. Arthroconidia kemudian mencapai korteks rambut
sehingga pada pemeriksaan mikroskopis pada sediaan rambut yang diambil akan
ditemukan arthroconidia dan dapat juga ditemukan hifa intrapilari. Invasi rambut
oleh dermatofita , terutama M. audouinii ( anak ke anak , melalui tukang cukur ,
topi , kursi teater ) , M. canis ( muda hewan peliharaan ke anak dan kemudian
anak ke anak ) , atau T. tonsurans.3,6

Patogenesis pada arthroconidia endothrix sama seperti ectothrix yaitu


awalnya menyerang stratum korneum dari kulit kepala, yang dapat diikuti oleh

6
infeksi pada batang rambut namun arthroconidia tetap didalam batang rambut,
menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan korteks yang intak. Hal ini
yang menyebabkan rambut menjadi sangat rapuh dan pada permukaan kulit
kepala akan ditemukan folikel yang hilang, meninggalkan titik hitam kecil “black
dot” serta inflamasi yang parah yang ditemukan pada semua kasus.3,6

2.6 Manifestasi klinis

Tinea kapitis dapat hadir dengan beberapa gejala klinis, tergantung jenis
organisme, jenis invasi pada rambut, tingkat resistensi dan respon inflamasi.6
Manifestasi klinis tinea kapitis pada tiap negara bervariasi dari rambut kusam,
rambut patah dengan skala ringan sampai berat, nyeri, inflamasi.6 Kelainan pada
tinea kapitis dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan
kadang terjadi gambaran yang lebih berat yang disebut kerion, limfadenopati
servical dan oksipital.1,6

 Non-inflamasi atau gray patch1,3,6

Gejala klinis terutama disebabkan oleh M. Audouinii dan M. Ferrigineum


yang sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit timbul akibat invasi rambut
ektothrix. Lesi bermula dari papul eritematosa yang kecil disekitar rambut,
kemudian papul akan melebar dan membentuk bercak yang menjadi pucat dan
bersisik mengelilingi batang rambut dan akhirnya menyebar secara sentrifugal
yang melibatkan folikel rambut disekitarnya. Keluhan penderita adalah rasa gatal,
warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilau. Rambut mudah patah dan
terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri yag
menyebabkan alopesia setempat.

7
Gambar 2.2 Tinea Kapitis “Gray Patch” 3,7

 Black dot 1,3,6

Gejala yang timbul disebabkan oleh T. tonsurans dan T. violaceum. Lokasi


arthrospores berada didalam batang rambut yang membuat rambut menjadi lebih
rapuh. Pada permulaan penyakit, gambaran klinis menyerupai kelainan yang
disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terinfeksi akan patah tepat
pada muara folikel dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh dengan
spora. Ujung rambut didalam folikel akan muncul gambaran “black dot” pada
pemeriksaan klinis. Pada skala yang luas dengan rambut rontok yang minimal dan
peradangan dapat menyerupai dermatitis seboroik atau psoriasis. Pada infeksi
black dot sering terjadi inflamasi dimana peradangan terjadi dari folikulitis ke
kerion. Pada beberapa kasus tinea kapitis black dot juga dapat ditemukan
gangguan pada kuku dan rambut yang hilang.

8
Gambar 2.3 Tinea Kapitis “Black Dot” 3,7

 Kerion 1,3,6,8

Kerion merupakan jenis tinea kapitis yang bersifat inflamasi dan merupakan
tinea kapitis dengan peradangan yang berat. Hal ini disebabkan oleh organisme
zoofilik seperti T. verrucosum dan T. mentogrophyte atau dermatofit geophilik
semeprti M. Gypseum. Reaksi peradangan berupa pembengkakan yang
menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel radang yang padat disekitarnya
sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang berkelompok dan
kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan
parut (sikatriks) dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang
menonjol kadang-kadang dapat terbentuk. Tinea kapitis anthropophilik dapat tiba-
tiba menjadi inflamasi dan berkembang menjadi kerion akibat hipersensitivitas
yang tinggi.

9
Gambar 2.4 Kerion pada Kulit Kepala 3

 Favus 3,6,8

Favus merupakan gejala tinea yang jarang, gejala di sebabkan T. schoenleinii.


Organisme dapat mempengaruhi kulit dan kuku juga hal ini di tandai dengan
warna krusta kekuningan yang dikenal sebagai skutula disekitar rambut. Skutula
memiliki berbau yang khas yaitu berbau tikus “moussy odor” dan rambut secara
ekstensif akan hilang menjadi alopesia dan atrofi.

10
Gambar 2.5 Tinea Kapitis Favus 3,9

2.7 Diagnosis

Diagnosis tinea capitis ditegakkan berdasarkan pada hasil gejala klinis dan
hasil tes laboratorium. Tes laboratorium yang dapat digunakan yaitu :

 Lampu Wood1,6,9

Filter sinar ultraviolet (Wood) memunculkan fluoresensi hijau dari beberapa


jamur dermatofita , terutama spesies Microsporum. Lampu Wood adalah prosedur
screening yang berguna untuk mengambil spesimen dari Infeksi Microsporum.
Pada grey patch ringworm dapat dilihat fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada
rambut yang sakit melampaui batas-batas grey patch.

 Pemeriksaan KOH1,6,9

Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula


dengan pembesaran 10x10, kemudian pembesaran 10x45. Sediaan diambil dari
kulit kepala dengan cara kerokan pada lesi yang diambil menggunakan blunt solid
scalpel atau dengan menggunakan sikat.

11
Pengambilan sampel terdiri rambut sampai akar rambut serta skuama. Setelah
sampel diambil kemudian sampel diletakkan di atas gelas alas, kemuadian
ditambahkan 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan
rambut adalah 10% dan untuk kulit 20%. Setelah sediaan dicampurkan dengan
KOH, ditunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat
pelarutan makan dapat dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api kecil. Pada
saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut, pemanasan sudah cukup. Biala terjadi
penguapan, maka akan terbentuk kristal KOH, sehingga tujuan yang diinginkan
tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat
warna pada sediaan KOH misalnya tinta Parker super-chroom blue black.

 Kultur1,6,9

Medium kultur yang digunakan untuk jamur dermatofit adalah sabouraud


dextrose agar. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong
pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamu.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan
yaitu sabouraud dextros agar. Antibiotik seperti kloramfenikol dan cycloheximide
ditambahkan ke media untuk mencegah pertumbuhan dari bakteri atau jamur
kontaminan. Kerokan yang diambil pada lesi di kulit kepala dengan menggunakan
sikat kemudian di ratakan di permukaan media kultur. Kebanyakan dermatofit
tumbuh pada suhu 26oC dan diperlukan waktu tumbuh setelah 2 minggu untuk
dilakukan pemeriksaan.

2.8 Diagnosis Banding1

 Dermatitis Seboroik

Peradangan yang erat dengan keativan glandula sebasea yang aktif pada bayi
dan insiden puncak pada usia 18-40 tahun. Manifestasi pada dermatitis seboroik
didapatkan eritema, skuama yang berminyak dan kekuningan dengan batas tidak
tegas, rambut rontok mulai dari verteks dan frontal. Krusta tebal dapat berbau
tidak sedap dan meluas ke dahi, glabela, telinga postaurikular,leher, daerah

12
supraorbital, liang telinga luar, lipatan nasolabial, sternal,payudara,interskapular,
umbilikus, lipat paha dan anogenital

 Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik merupakan peradangan kulit kronis dan residif, yang


umumnya terjadi selama masa anak-anak yang berhubungan dengan peningkatan
kadar IgE dalam serum dan faktor genetik dimana dipengaruhi oleh kromosom
5q31-33. Manifestasi klinis di dapatkan pruritus hilang timbul sepanjang hari
namun hebat pada malam hari, sehingga penderita akan menggaruk dan timbul
berupa papul, likenifikasi, eritema, erosi, ekskoriasi, eksudasi,krusta. Predileksi
pada anak biasanya di muka dan pipi sedangkan dewasa pada lipat siku, lipat
lutut, samping leher dan sekitar mata.

 Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimunm bersifat kronik dan


residif, di tandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan trasparan disertai fenomena tetesan lilin,
auspitz dan kobner. Penyakit ini mengenai semua umur namun umumnya pada
dewasa dan pria lebih banyak dibandingkan wanita. Predileksi psoriasis adalah
skalp, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut serta lumbosacral.

 Alopesia Areata

Etiologi alopesia areata sampai sekarang belum diketahui namun sering


dihubungkan dengan infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres emosional. Gejala
klinis terdapat bercak berbentuk bulat atau lonjong dan terjadi kerontokan rambut
pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata. Pada tepi daerah yang botak ada
rambut yang terputus, bila dicabut terlihat bulbus yang atrofi. Pada pemeriksaan
histopatologi ditemukan rambut banyak dalam fase anagen, folikel rambut
terdapat berbagai ukuran, tetapi lebih kecil dan tidak matang, bulbus rambut
didalam dermis dan dikelilingi oleh infiltrasi limfosit.

13
 Pseudopelade Brocq

Pseudepelade brocq memiliki manifestasi yaitu kebotakan yang disertai


kerusakan folikel rambut sehingga tampak sebagai bercak parut multipel yang
bulat, lonjong atau tidak teratur dengan ukuran numular dan berwarna merah
muda dengan permukaan yang berkilat. Pada pemeriksaan histopatologi
didapatkan reaksi inflamasi disekitar folikel dan perivaskular, atrofi epidermis,
dan fibrosis tampak pada dermis.

2.9 Tatalaksana

Prinsip managemen untuk tinea kapitis yaitu terdiri dari pengobaan


sistemik, pengobatan topikal dan tindakan preventif.6 Tujuan pengobatan adalah
untuk mencapai klinis dan kesembuhan secepat mungkin serta mencegah
penyebaran.2,4

Terapi Topikal 1,2,5,6

Pengobatan topikal antijamur tidak dianjurkan untuk terapi tunggal dalam


pengobatan tinea kapitis. Namun hal ini mungkin dapat mengurangi penularan
kepada orang lain dengan menurunkan pertumbuhan spora jamur. Selenium
sulfida, shampo ketokonazol dan shampo povidone iodine digunakan seminggu 2-
3 kali, untuk mengurangi spora jamur dan infeksivitas. Pada saat menggunakan
shampo sebaiknya didiamkan selama 5 menit sebelum dibilas. Penggunaan obat-
obat topikal konvensional yang digunakan misalnya asam salisilat 2-4%, asam
benzoat 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5% dan zat warna
(hijau brilian 1% dalam cat Castellani) dikenal banyak ibat topikal baru. Obat-
obat baru ini diantaranya tolnaftat 2%, tolsiklat, haloprogin, derivat-derivat
imidazol, siklopiroksolamin dan naftifine masing-masing 1%.

Terapi Oral

Obat antimitotik digunakan untuk penetrasi folikel rambut.6 Gold standar


terapi oral untuk tinea kapitis pada empat dekade adalah griseofulvin.6 Obat baru

14
yang dapat digunakan untuk alternatif terapi tinea kapitis adalah flukonazole,
ketokonazole,itrakonazole, dan terbinafine.6

 Griseofulvin1,2,4,6,10

Merupakan turunan dari spesies penicillium mold. Griseofulvin sebagai


fungistatik dengan efek inhibitor RNA jamu, DNA, menghambat sintesis asam
nukleat, microtubular assembly, dan merusak sintesis dinding sel. Dosis
rekomendasi untuk tinea kapitis adalah 20mg/kg/hari untuk micronized form dan
15mg/kg/hari untuk ultramicronized form atau 0,5-1 g untuk orang dewasa dan
0,25-0,5 g untuk anak-anak. Lama pengobatan umumnya 6-12 minggu. Terapi
tergantung pada organisme ( misalnya infeksi T. tonsurans mungkin memerlukan
pengobatan jangka panjang ) tetapi bervariasi antara 8 dan 10 minggu . Efek
samping termasuk mual dan ruam pada 8 ± 15 % .

Obat ini kontra indikasi pada kehamilan. Griseofulvin tidak larut dalam air
dan absorbsinya buruk dari saluran pencernaan. Sehingga untuk mempertinggi
absorpsi obat dalam usus, sebaiknya obat dimakan bersama-sama makanan yang
banyak mengandung lemak seperti susu, kacang, mentega. Efek samping
griseofulvin jarang dijumpai, namun keluhan utama ialah sefalgia pada 15%
penderita. Efek sampig lainnya dapat berupa gangguan traktus digestinus ialah
nausea, vomitus, dan diare. Griseovulvin juga bersifat fotosensitif dan dapat
mengganggu fungsi hepar.

 Antijamur Golongan Azole1,2,4,6,10

Obat antijamur golongan azole termasuk ketokonazole,itrakonazole dan


flukonazole. Mereka bekerja dengan menghambatan pembentukan ergosterol
dalam jamur dengan inhibitor sitokrom p450-dependent enzymes di dalam
membran sel.

Untuk tinea kapitis dosis itraconazole umumnya diberikan 3-5 mg / kg/ hari
selama empat sampai enam minggu atau 2 x 100-200 mg/hari. Itraconazole

15
memiliki spektrum yang sangat luas terhadap jamur , termasuk aspergillus dan
dermatofit. Kontraindikasi pada pasien dengan gagal jantung kongestif.

Ketokonazole merupakan obat jamur yang bersifat fungistatik dapat diberikan


obat sebanyak 200 mg/hari selama 10 hari- 2 minggu pada pagi hari setelah
makan. Kontraindikasi ketokonazol adalah pada penderita kelainan hepar.

Flukonazol memberikan efek yang efektif terhadap berbagai organisme yang


berbeda termasuk Trichophyton dan spesies Microsporum. Flukonazol , berbeda
dengan antijamur azol lainnya karena sangat larut dalam air dan memiliki
bioavailabilitas yang sangat baik. Dosis flukonazol berkisar 1,5-6 mg/kg/hari.
Penggunaan flukonazol merupakan kontraindikasidalam

kombinasi dengan astemizol dan terfenadine serta tidak dianjurkanpada pasien


dengan penyakit hati atau disfungsi ginjal atau dikombinasi dengan eritromisin

 Terbinafine1,2,4,6,10

Terbinafine adalah fungisidal terhadap kedua Trichophyton dan Microsporum


spp. Terbinafine adalah obat allylamine sebagai antijamur spektrum luas.
Terbinafine bekerja dengan memblok pembentukan ergosterol pada membran sel
jamur dengan menghambat squalene epoksidase yang mengarah ke akumulasi
squalene . Obat ini dimetabolisme di hati dan diekskresikan terutama dalam urin .
Terbinafine tersedia sebagai krim atau dalam bentuk tablet (250mg) . Di beberapa
negara tablet pediatrik tersedia ( 125mg ) . Dosis 62,5 mg-250 mg sehari
tergantung pada berat badan atau dosis dewasa adalah 250 mg sedangkan pada
anak-anak digunakan berdasarkan pada berat badan yaitu : < 20 kg (62,5 mg/hari)
, 20 – 40 kg (125 mg/ hari) dan > 40 kg (250 mg/hari). Durasi pengobatan
dilakukan selama 4 minggu, namun jika penyebabnya adalah T. tonsurans
membutuhkan pengobatan selama satu bulan. Efek samping terinafine ditemukan
pada 10% pada penderita yaitu gangguan gastrointestinal seperti nausea, vomitus,
nyeri lambung, diare, konstipasi, umumnya ringan. Sefalgia ringan dan dilaporkan
3,3-7% gangguan fungsi hepar.

16
BAB III

KESIMPULAN

Tinea kapitis (ringworm of the scalp) merupakan dermatofitosis pada kulit


kepala dan berhubungan dengan rambut yang disebabkan oleh spesies
Microsporum dan Trichophyton.1,3 Tinea kapitis sering muncul pada anak- anak
usia antara 3 sampai 14 tahun dan jarang terjadi pada dewasa.3 Manifestasi klinis
tinea kapitis pada tiap negara bervariasi dari rambut kusam, rambut patah dengan
skala ringan sampai berat, nyeri, inflamasi serta dapat juga ditemukan alopesia
parsial dengan beberapa tingkat peradangan, limfadenopati servical dan oksipital.6

Pengobatan untuk tinea kapitis sebagai gold standar adalah griseofulvin


sedangkan obat baru yang dapat digunakan untuk alternatif terapi tinea kapitis
adalah flukonazole, ketokonazole, itrakonazole, dan terbinafine. Untuk
mengurangi penularan dapat menggunakan selenium sulfida, shampo ketokonazol
dan shampo povidone iodine digunakan seminggu 2 kali, untuk mengurangi spora
jamur dan infeksivitas. Namun pengobatan ini tidak dapat digunakan sebagai
terapi tunggal. 1,2,4,6,10

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Unandar Budimulja. Mikosis: dalam Prof.Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta : FKUI. 2008; p.92-99

2. E.M Higgins, dkk. Guideline for The Management of Tinea Capitis.British


Journal of Dermatology. 2000; 143:53-58

3. Shannon Verma, Michael P. Hefferman. Superficial Fungal infection


:Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg IM,
Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI, dkk. Fitzpatrick’s
Dermatology in General Medicine 7th ed. Volume 1 & 2. New York Mc Graw
Hill, 2008 : p 1807-1813

4. Health Protection Agency. Tinea Capitis in The United Kingdom: A report on


its diagnosis, management and prevention. London : Health Protection Agency,
March 2007

5. N rebollo, dkk. Tinea Capitis. Review Article. Actas Dermosifiliogr.


2008;99:91-100

6. Maha A, Dayel, Iqbal Bukhari. Tinea Capitis. The Gulf Journal of Dermatology
and Venereology.Vol.1. No.1. 2004

7. Robin Graham-Brown, Tony Burns. Dermatologi. Edisi 8. Jakarta : Erlangga.


2005 ; p. 35

8. Prof.Dr.R.S.Siregar. Penyakit Kulit Jamur. Edisi 2. Jakarta : EGC.2004; p.24

9. Klaus Wolff, Richard Allen Johnson, dkk. Fitzpatrick’s Color Atlas & Synopsis
of Cinival Dermatology 5th ed.New York Mc Graw Hill. 2007

10. Brendan P. Kelly. Superficial Fungal Infections : Pediatrics in Review.


American Academy of Pediatrics. 2012;33;

18