Anda di halaman 1dari 14

MASALAH SISTEM PERKEMIHAN

DI SUSUN OLEH

Umi Nur habiba (21406031)


Ni wayan desiani (214060
Sry Wahyuni (21406029)
Mirna (214060

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAKASSAR

2017
Diagnosa Keperawatan (ISK)

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung
kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih
ataupun struktur traktus urinarius lain.
3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra,
kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.

Kriteria Hasil :

 Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih

Intervensi:

 Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam
dan pantau hasil urinalisis ulang. Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan
atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan

 Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri. Rasional: membantu mengevaluasi
tempat obstruksi dan penyebab nyeri

 Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan. Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan


tegangan otot.

 Berikan perawatan perineal. Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra

 Jika dipaang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari. Rasional: Kateter memberikan
jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan.

 Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan. Rasional : relaksasi, menghindari terlalu
merasakan nyeri.

Diagnosa 2 : Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung
kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.

Kriteria Hasil :

 Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri,
disuria)
Intervensi:

 Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin. Rasional: memberikan informasi


tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
 Dorong meningkatkan pemasukan cairan. Rasional: peningkatan hidrasi membilas
bakteri.
 Kaji keluhan pada kandung kemih. Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan
distensi jaringan (kandung kemih/ginjal)
 Observasi perubahan tingkat kesadaran. Rasional: akumulasi sisa uremik dan
ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat

Kolaborasi:

 Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin. Rasional: pengawasan


terhadap disfungsi ginjal
 Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan
berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Rasional: aam urin menghalangi
tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan
infeksi saluran kemih.

Diagnosa 3 : Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

KriteriaHasil :

 Menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, dan


tindakan perawatan diri preventif.

Intervensi:

 Berikan waktu kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak di ketahui tentang
penyakitnya. Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang
penyakitnya.

 Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang. Rasional: memberikan
pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi.

 Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran,


jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat,
persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan.
Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu
mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.

 Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih
delapan gelas per hari. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-
tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
 Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang
rencana pengobatan. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan
ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.
Diagnosa benigna prostat hyperplasia (BPH

1. Nyeri b.d proses penyakit (retensi urine, distensi urine)


2. Gangguan pola eliminasi urine b.d retensi urine, nokturia, urgensi
3. Resiko infeksi b.d infeksi dan perkembangan calculi
4. Ansietas b.d tidakan oprasi

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Nyeri b.d proses penyakit (retensi urine, distensi urine,
NOC:
Pasien akan memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator sebagai
berikut( sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, selalu):
- Pasien mengenali awitan nyeri
- Menggunakan tindakan pencegahan
- Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
NIC:
- Manajement nyeri
Activity:
a) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan
durasi, frekuensi , kualitas, intensitas, keparahan nyeri dan factor presipitasinya
b) Ajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti umpan-balik, distraksi, relaksasi,
imajinasi terbimbing.
c) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung
dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
d) Kendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan.
e) Pastikan pemberian analgesik terapi.

2. Gangguan pola eliminasi urine b.d retensi urine, nokturia, urgensi


NOC: pola eliminasi urine dapat normal kembali
NIC : manajement eliminasi urine
Activity:
a. Ukur dan catat urine setiap kali berkemih
b. Anjurkan untuk berkemih setiap 2 – 3 jam
c. Palpasi kandung kemih tiap 4 jam

3. Resiko infeksi b.d infeksi dan perkembangan calculi


NOC:
Faktor risiko infeksi akan hilang, dibuktikan oleh pengendalian risiko komunitas: status
imun, keperahan infeksi, terbebas dari tanda gejala infeksi.

NIC: Pengendalian infeksi


Activity:
a) Pantau tanda dan gejala infeksi(misalnya: suhu tubuh, denyut jantung, penampilan
luka, penampilan urine, suhu kulit, lesi kulit, keletihan dan malaise)
b) Kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi( misalnya, usia
lanjut, usia kurang dari 1 tahun, luluh imun, dan malnutrisi)
c) Pantau hasil laboratorium (hitung darah lengkap, hitung granulosit, absolute,
protein serum, dan albumin)

4. Ansietas b.d tindakan operasi


NOC:
Ansietas berkurang, dibuktikan dengan tingkat ansietas ringan sampai sedang, selalu
menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas, konsentrasi dan koping, memiliki tanda-
tanda vital dalam batas yang normal.
NIC: Penurunan ansietas
Activity:
a) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik
b) Pada saat ansietas berat, damping pasien, bicara dengan tenang, dan berikan
ketenangan serta ras nyaman
c) Sediakan pengalihan melalui televise, radio, permainan, serta terapi okupasi untuk
menurunkan ansietas
Diagnosa sindrom nefrotik

Diagnosa
No keperawatan NOC NIC RASIONAL
(NANDA)
1. Kelebihan Tujuan: 1. Pantau asupan
1. Pemantauan
volume cairan Setelah dilakukan dan haluaran membantu
berhubungan tindakan selama cairan setiap menentukan status
dengan 3x24 jam pergantian cairan pasien.
akumulasi cairan diharapkan 2. Timbang berat
2. Penimbangan
di dalam Kelebihan volume badan tiap hari berat badan harian
jaringan. cairan terkontrol
3. Programkan adalah pengawasan
dengan pasien pada diet status cairan
Kriteria Hasil: rendah natrium terbaik.
a. Pasien tidak selama fase Peningkatan berat
menunjukan edema badan lebih dari 0,5
tanda-tanda 4. Kaji kulit, kg/hari diduga ada
akumulasi cairan. wajah, area retensi cairan.
b. Pasien tergantung untuk
3. Suatu diet rendah
mendapatkan edema. Evaluasi natrium dapat
volume cairan derajat edema mencegah retensi
yang tepat. (pada skala +1 cairan
a. . sampai +4). 4. Edema terjadi
5. Awasi terutama pada
pemerikasaan jaringan yang
laboratorium, tergantung pada
contoh: BUN, tubuh.
kreatinin, 5. Mengkaji
natrium, kalium, berlanjutnya dan
Hb/ht, foto dada penanganan
6. Berikan obat disfungsi/gagal
sesuai indikasi ginjal. Meskipun
Diuretik, contoh kedua nilai
furosemid (lasix), mungkin
mannitol (Os- meningkat,
mitol; kreatinin adalah
indikator yang
lebih baik untuk
fungsi ginjal karena
tidak dipengaruhi
oleh hidrasi, diet,
dan katabolisme
jaringan.
6. Diberikan dini
pada fase
oliguria untuk men
gubah ke fase
nonoliguria, untuk
melebarkan lumen
tubular dari
debris, menurunkan
hiperkalimea, dan
meningkatkan
volume urine
adekuat
2 Perubahan nutrisi Tujuan : 1. Kaji / catat
1. Membantu dan
kurang dari Setelah dilakukan pemasukan diet. mengidentifikasi
kebutuhan tubuh tindakan selama
2. Timbang BB defisiensii dan
berhubungan 3x24 jam tiap hari. kebutuhan diet.
dengan diharapkan 3. Tawarkan
2. Perubahan
kehilangan nafsu kebutuhan nutrisi perawatan mulut kelebihan 0,5 kg
makan terpenuhi dengan sebelum dan dapat menunjukkan
(anoreksia) Kriteria hasil: sesudah makan . perpindahan
Klien dapat
4. Berikan keseimbangan
Mempertahankan makanan sedikit cairan.
berat badan yang tapi sering. 3. Meningkatkan
diharapkan 5. Berikan diet nafsu makan
tinggi protein dan
4. meminimalkan
rendah garam. anoreksia dan mual
6. Berikan sehubungan dengan
makanan yang status uremik
disukai dan
5. Memenuhi
menarik kebutuhan protein,
7. Awasi yang hilang
pemeriksaan bersama urine.
laboratorium, 6. Pasien cenderung
contoh: BUN, mengonsumsi lebih
albumin serum, banyak porsi
transferin, makan jika ia diberi
natrium, dan beberapa makanan
kalium. kesukanannya.
7. Indikator
kebutuhan nutrisi,
pembatasan, dan
efektivitas terapi.

3 Resiko Tujuan : 1. . Awasi TTV 1. Hipotensi


kehilangan Setelah dilakukan
2. Kaji masukan ortostatik dan
volume cairan tindakan selama dan haluaran takikardi indikasi
intravaskuler 3x24 jam cairan. Hitung hipovolemia.
berhubungan diharapkan Resiko kehilangan tak
2. Membantu
dengan kehilangan cairan kasat mata. memperkirakan
kehilangan tidak terjadi
3. Kaji membran kebutuhan
protein, cairan dengan Kriteria mukosa penggantian cairan.
dan edema. Hasil: Tidak mulut dan 3. Membran mukosa
ditemukannya elastisitas turgor kering, turgor kulit
atau tanda- kulit buruk, dan
tandanya kehilan4. Berikan cairan penurunan nadi
gan cairan sesuai indikasi ; dalah indikator
intravaskuler misalnya albumin dehidrasi
seperti: 5. Berikan cairan
4. penggantian
a. Masukan dan parenteral sesuai cairan tergantung
keluaran dengan petunjuk dari berapa
seimbang 6. Awasi banyaknya cairan
b. Tanda vital yang pemerikasaan yang hilang atau
stabil laboratorium, dikeluarkan.
c. Elektrolit dalam contoh protein 5. Pemberian cairan
batas normal (albumin) parenteral
d. Hidrasi adekuat diperlukan, dengan
yang ditunjukkan tujuan
dengan mempertahankann
turgor kulit yang hidrasi yang
normal adekuat.
6. Mengkaji untuk
penanganan medis
berikutnya
Diagnosa Ca kandung kemih
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf,


infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi / iritasi kandung kemih.
3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik
yang berhubungan dengan kanker.
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf,
infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
 Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan nyeri pasien
terkontrol.
Dengan kriteria hasil:
· Skala nyeri berkurang sampai hilang.
· Pasien mengungkapkan perasaan nyaman berkurangnya nyeri
 Intervensi:
1) Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
R : Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan
asuhan
2) Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi,
ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya
R :Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau
malah menyebabkan komplikasi
3) Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan
seperti mendengarkan musik atau nonton TV
R :Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan
perhatian klien dari rasa nyeri
4) Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi,
visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan
therapeutic
R :Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan
menurunkan stress dan ansietas
5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu
R :Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri
dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk
mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri

2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi.


 Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan pola
eliminasi urine kembali normal.
Dengan kriteria hasil :
· Tidak ada nyeri saat BAK.
 Intervensi :
1) Observasi output dan intake cairan selama 24 jam.
R : Untuk mengetahui tingkat keparahan obstruksi yang terjadi agar
dapat di jadikan acuan dalam melakukan indakan keperawatan
selanjutnya
2) Anjurkan pasien mempertahankan intake cairan yang adekuat
R : Agar dpa memperlunak sehubungan dengan obstruksi yang terjadi
3) Jelaskan pada pasien dan keluarga bahwa kanker kandung kemih
menyebabkan iritasi kandung kemih sehingga terjadi urgensi.
R : Mengurangi tingka kecemasan keluarga dan memnambah
pengetahuan tentang kanker kndung kemih pada keluarga
4) Kolaborasi pemberian analgesik atau antipasmodik
R : Untuk mengurangi gejala iritasi saat BAK dan menghambat
kontraksi kandung kemih yang tidak stabil.
2. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik
yang berhubungan dengan kanker.
 Tujuan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 7x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat.
Dengan kriteria hasil :
· Porsi makan pasien habis.
· Pasien menunjukkan berat badan stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi
 Intervensi:
1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan
kebutuhannya.
R: Memberikan informasi tentang status gizi klien.
2) Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan
berat badan
R: Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat
badan klien
3) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan
intake cairan yang adekuat
R: Kalori merupakan sumber energy
4) Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan
makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas
R: Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang
menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus
berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas
5) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama
teman atau keluarga
R: Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri
6) Berikan pengobatan sesuai indikasi ( Tindakan Kolaborasi)
R: Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan
meningkatkan status kesehatan klien
4. Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio
ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga
ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran,
perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik
 Tujuan :
· Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
· Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
· Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan
 Intervensi :
1) Berikan informasi tentang prognosis secara akurat
R: Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya
2) Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi.
Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai
R: Dapat menurunkan kecemasan klien
3) Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam
pengobatan
R: Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek
sampingnya
4) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
R: Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat
5) Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar
R: Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar
ditolong