Anda di halaman 1dari 36

Prosedur

Dasar
Audit
Akuntansi
Keuangan
(Selangkah-
Demi-
Selangkah)
IR
PUSTE

MAY
2,
2016

Bicara prosedur
audit sudah pasti
scope-nya sangat
luas dan kompleks,
tak akan cukup di
INSPE
PUST tulis di media online.
ContacTetapi secara garis
Email: besar, prosedur
itpuste
audit hanya terdiri
dari 7 (tujuh)
langkah saja. Di
RELAT
ITEMS
ruang terbatas ini
saya akan
perkenalkan
prosedur dasar audit
selangkah-demi-
selangkah. Karena
audit, saat ini, juga
banyak dipakai di
wilayah lain
(termasuk di IT),
maka judul tulisan
ini menjadi:
Prosedur Dasar
Audit Akuntansi
Keuangan
(selangkah-demi-
selangkah.)

Yang namanya
perkenalan, sudah
pasti tidak akan
mendalam dan
detail. Semata-mata
hanya untuk
pengenalan awal.
Sedangkan detailnya,
saya akan bahas di
JAK secara
bertahap. Idealnya,
termasuk insights
(tips and trick) dalam
menjalankan proses
audit yang
sesungguhnya di
lapangan.

Saya termasuk
junior dan baru
kemarin sore, masih
ada banyak auditor
kawakan di luar sana
yang sudah kenyang
makan asam-gram-
nya auditing.
Sebenarnya, sayapun
ingin menimba
pengetahuan dari
mereka, sayang saya
belum pernah
menemukan
media/blog yang
khusus membahas
tips-trick auditing
yang sungguh-
sungguh
didedikasikan untuk
membantu junior
seperti saya.

Entah karena tidak


ada yang
memfasilitasi, atau
karena para auditor
tidak punya cukup
waktu (yang ini saya
ragu; banyak auditor
yg sempat ngeblog
soal gossip artis,
politik, rajin update
status di FB, nge-
tweet di Twitter, dll).
Atau karena pelit—
takut ilmunya habis
tercuri? Hahaha..
Mudah-mudahan
tidak. Setahu saya
ilmu tak akan habis
hanya karena dibagi.

Entahlah. Yang jelas,


setiap orang punya
preference, dan saya
menghomati itu. So,
we will see what we
can do ά Mudah-
mudahan ada
diantara senior yang
sempat membaca
JAK dan berkenan
ikut sharing
pengalaman mereka
di sini (setidaknya via
ruang komentar).

Kembali ke topic
utama; prosedur
dasar audit
(selangkah-demi-
selangkah). Sebelum
itu, mengapa laporan
keuangan perlu
diaudit?

Mengapa Laporan
Keuangan Perlu
Diaudit?

Secara umum,
laporan keuangan
perlu diaudit supaya
informasi keuangan
yang disajikan di
dalam laporan
keuangan bersifat
adil (fair) bagi
semua pihak yang
berkepentingan
(manajemen,
pemegang saham,
pemerintah, dan
kreditur).Kata ‘fair’
dalam hal ini
maksudnya: akurat
dan tidak bias (tidak
disalah-
interpretasikan),
bapak/ibu dosen di
kampus mungkin
menggunakan istilah
“tidak
menyesatkan”.

Apa ukuran “akurat”


dan “tidak bias”
dalam hal ini?

Akurat – Nilai
nominal
(angka
rupiah/dollar/d
yang
tercantum
dalam
catatan
transaksi
sesui dengan
bukti
transaksi, dan
perhitungan-
perhitungan
matematis
sudah benar.

Tidak bias –
perlakuan
akuntansi
(pengukuran,
pengakuan,
penyajian
laporan),
termasuk
metode/pende
yang
digunakan
dalam proses
akuntansi
yang
diterapkan,
telah sesuai
dengan PSAK.
Siapa yang
memastikan laporan
keuangan telah
akurat dan tidak
bias?Auditor
independent.
Mengapa auditor
independent?
Karena, IDEALNYA:

Auditor
independent,
melalui
pelatihan
khusus
auditing,
dianggap
memiliki
kompetensi
yang cukup
untuk
melakukan
tugas
tersebut.

Auditor
independent,
dianggap
mampu
bersikap dan
memberi
pendapat
yang tidak
memihak
(bahasa
kerennya
“obyektif”)
mengenai isi
laporan
keuangan.
Sungguhkah auditor
independent memiliki
kompetensi yang
cukup untuk
menjalankan
tugasnya? Yup,
secara teori dan
konsep, meskipun
tingkat kemampuan
masing-masing
auditor tidak sama.

Sungguhkah auditor
independent mampu
bersikap obyektif
dalam bersikap dan
memberi pendapat
mengenai laporan
keuangan yang
diperiksa?

Apakah Opini
Auditor Independent
Benar-Benar
Obyektif?

Khusus mengenai
“obyektifitas” opini
auditor independent,
saya pernah di-
check-mate oleh
senior admin-nya
JAK. Dia
mengatakan:

“Cerita
darimana
pendapat
auditor
independent
obyektif?
Yang
namanya
pendapat
(opinion)

tentang
apapun
dan oleh
siapapun,
kan
dikemukaka
oleh
subyek, ya
sudah
pasti
mengandung
unsur
subyekti ta
dengan
kadar
yang
mungkin
berbeda-
beda.
Termasuk
opini yang
dikeluarkan
oleh
auditor,
meskipun
diberi
embel-
embel
independent
Saya cuma bisa
nyengir. Jika dipikir-
pikir, argument yang
dikemukakan kawan
admin itu ada
benarnya. Tapi,
kantaran penasaran
maka saya nekat
memberi bantahan
dengan mengatakan:

“Buktinya
kita
(auditor
independent
dipakai,
artinya
kan
pengguna
jasa
percaya
bahwa
kita
memang
obyektif”.
“Betul”, kawan admin
senior menjawab
lagi. “Dasar
pertimbangan
mengapa
shareholders dan
klien lainnya
menggunakan
auditor bukan karena
mereka percaya
auditor bisa obyektif
seratus-persen, tapi
karena mereka
percaya auditor
MASIH lebih obyektif
jika dibandingkan
dengan yang
pembuat assersi
(pembuat assersi =
manjemen yang
membuat laporan
keuangan).”

Kepalang basah
saya pikir. Saya
belum mau
menyerah, saya
katakan, “Bukan
hanya shareholders,
Ditjen Pajak (DJP)
pun percaya dengan
hasil audit kita lho”

Kawan admin itu


‘menyergap’ saya
dengan pertanyaan,
“Memangnya DJP
tidak akan melakukan
pemeriksaan
(kepatuhan) terhadap
laporan keuangan
yang sudah diaudit
oleh auditor
independent?
Setahuku tetap
diperiksa—meskipun
tidak seketika saat
setor SPT.”

Melihat saya masih


agak lama mikir, dia
melanjutkan:

“Gini aja deh.


Mengapa hasil audit
yang disampikan oleh
auditor independent
tidak disebut SURAT
KEPUTUSAN atau
KETETAPAN atau
setidak-tidaknya
PERNYATAAN, tetapi
malah disebut
OPINI?”

Saya masih belum


sempat menjawab
dia sudah
melanjutkan lagi:
“Karena hasil audit
tidak bersifat
mengikat. Tidak
bersifat mengikat
karena auditor, ikatan
akuntan, pembuat
standard dan publik
di lingkungan bisnis
secara keseluruhan,
menyadari akan
adanya unsur
relativitas dan
uncertainties
(ketidakpastian) di
dalamnya. Sehingga,
batasan OBYEKTIF
dalam konteks ini
hanya sebatas
konvensi dan
kesepakatan umum.”

Debat dengan senior


yang satu itu
memang repot.
Ilmunya dia terlalu
kompleks. Dan,
pemikiran-
pemikirannya tidak
pernah linear, selalu
lateral (berdimensi).
Itu salah satu alasan
yang membuat saya
selalu betah ngobrol
berlama-lama
dengan dia. Lumayan
untuk menambah
cakrawala berpikir.

Pertanyaan
selanjutnya:
bagaimana seorang
auditor menjalankan
proses audit?

LANGKAH-
LANGKAH DALAM
PROSES AUDIT
Seperti sudah saya
kemukakan di awal
tulisan, seorang
auditor menjalankan
proses audit melalui
7 (tujuh) tahapan
atau langkah. Yaitu:

Langkah-1:
Membuat
Perencana
Audit (Audit
Planning)

Langkah-2:
Mengumpulka
dan
Mengevaluasi
Informasi
Sehubungan
dengan
Auditee dan
Lingkungannya

Langkah-3:
Memeriksa
Risiko Salah-
Saji Yang
Bersifat
Material

Langkah-4:
Merancang
Respon Audit
dan Prosedur
Audit
Lanjutan

Langkah-5:
Menjalankan
Audit
Lanjutan

Langkah-6:
Mengkaji Dan
Memeriksa
Kembali Hasil
(Temuan)
Audit

Langkah-7:
Mengkomunik
Hasil
(Temuan)
Audit

Selanjutnya kita
bahas masing-
masing langkah
tersebut satu-per-
satu.

Langkah-1:
Membuat
Perencanaan Audit
(Audit Planning)

Perencanaan audit
yang dikenal dengan
istilah “audit
planning” dimulai
dengan mempelajari
permintaan
(‘pesanan’) dari klien.
Berdasarka
permintaan ini,
auditor membuat
rencana kerja audit.
Tingkat kepadatan
aktivitas dan waktu
yang dibutuhkan
dalam fase ini,
bervariasi—
tergantung apakah
auditee (perusahaan
yang akan diaudit)
baru pertamakalinya
ditangani atau sudah
kesekian kalinya;
perusahaan auditee
baru biasanya
membutuhkan 
perencanaan yang
KEGIATAN PUSTERAD
 lebih banyak,
sehingga
 membutuhkan waktu Kegiatan Pusterad
yang lebih panjang.

Dalam penyusunan

rencana audit, ada

 beberapa faktor
yang penting untuk
dipertimbangkan
oleh auditor,
diantaranya:

1. Ekonomi – Secara
teori, ada berbagai
faktor ekonomi
BERITA TERBARU
(lokal, nasional, dan


internasional), SERTIJAB DANPUSTERAD DARI MAYJEN
terutama yang TNI HADI PRASOJO KEPADA MAYJEN TNI
HARTOMO
dianggap
BERITA JANUARY 18, 2018
mempengaruhi
situasi bidang usaha PUSTERAD MEMPERINGATI MAULID NABI
perusahaan auditee, MUHAMMAD S.A.W. (12 ROBIUL AWAL
1438 H)
yang perlu BERITA DECEMBER 21, 2016
dipertimbangkan
dalam penyusunan Operasi Pasukan Khas – Malaysian GGK,
rencana audit.  PASKAL and PASKAU
BERITA DECEMBER 6 2016
BERITA DECEMBER 6, 2016
Namun dalam
prakteknya sangat
SERAH TERIMA WADAN PUSTERAD
jarang dilakukan— BERITA NOVEMBER 8, 2016

kecuali untuk situasi


yang sangat
menghebohkan. DIRGAHAYU TNI KE-71
BERITA OCTOBER 5, 2016

2. Bidang Usaha
Perusahaan Auditee VIDEO TERBARU
– Misalnya: bidang
usaha perusahaan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan

auditee adalah  Seksual Pada Anak


SCROLL FOR MORE
VIDEO MAY 11, 2016

kontraktor, maka
situasi umum bidang
usaha
perkontraktoran
perlu menjadi
pertimbangan dalam
penyusunan rencana
audit. Khusus faktor
ini, auditor biasanya
menggunakan
pengalamannya di
perusahaan-
perusahaan lain yang
sejenis.

3. Aktivitas Bisnis
Perusahaan Auditee
– Untuk perusahaan
auditee baru, ini
membutuhkan waktu
yang relative lebih
lama (dengan tingkat
kepadatan aktivitas
yang lebih tinggi) jika
dibandingkan
dengan perusahaan
yang sudah pernah
diaudit sebelumnya.
Pemahaman
mengenai aktivitas
bisnis perusahaan
auditee (khususnya
auditee baru)
diperoleh melalui
berbagai aktivitas,
antara lain:

Melakukan
komunikasi
(minta
keterangan)
dengan
auditor
sebelumnya,
yang dikenal
dengan istilah
“predecessor
auditor”;
mengunjungi
lokasi
perusahaan
(terutama
dimana
fasilitas dan
aktivitas
utama
perusahaan
berada);

Mempelajari
laporan
keuangan
periode
sebelumnya
(sebelum dan
setelah
diaudit) dan
laporan
interim
periode
berjalan;
Mempelajari
laporan
auditor
sebelumnya
(jika sudah
pernah
diaudit);

Mempelajari
laporan
keuangan
fiskal
(termasuk
SPT) periode
sebelumnya;

Mempelajari
laporan hasil
audit pajak
(jika sudah
pernah
diaudit); dan

Mempelajari
laporan pajak
bulanan jika
ada.

Selain ketiga faktor


utama di atas,
auditor juga perlu
meminta
informasi(keterangan
dari manajemen
perusahaan auditee
guna memperoleh
input yang lebih
lengkap. Untuk
auditee yang yang
sudah pernah
ditangani
sebelumnya (sudah
termasuk
pelanggan), auditor
biasanya hanya perlu
berkomunikasi
dengan pihak
manajemen, kalau-
kalau ada perubahan
signifikan
sehubungan dengan
aktivitas bisnis
auditee (misalnya:
perubahan
kepemilikan,
manajemen, wilayah
opersi yang
diperluas,
pengembangan
produk baru,
penggunaan sumber
pembiayaan yang
baru, dlsb). Pihak
manajemen
perusahaan biasanya
diwakili oleh “komite
audit” perusahaan
auditee—yang terdiri
dari dewan direksi,
eksekutif, dan
internal auditor.

Dengan berbagai
informasi yang telah
dihimpun dan
dipelajari, auditor
bisa membuat
perencanaan audit
yang lebih konkret
untuk:

Meminta
surat
penugasan
(engagement
letter) dari
klien

Menyusun
team audit
(auditor dan
assistant)
yang akan
ditugaskan
(menyangkut
jumlah dan
kompetensi/le
auditor,
biasanya
managing
partner
langsung
menunjuk
nama)

Jadwal kerja
audit
(menyangkut
waktu, lokasi,
dan obyek
yang akan
diaudit dan
siapa yang
akan
melaksanakan
Kecuali audit
investigasi, ini
biasanya
disesuaikan
dengan
kebijakan
operasional
perusahaan,
agar tidak
menimbulkan
polemic yang
tidak perlu
selama
proses audit
nantinya.

Budget audit
(menyangkut
total waktu
dan
perencanaan
biaya yang
diperlukan
untuk
melaksankan
keseluruhan
kegiatan
audit).

Secara keseluruhan,
bisa dibilang:
disamping
penentuan jadwal
kerja, esensi audit
planning adalah
menentukan (dan
penyusunan)
strategy audit, yang
akan diterapkan agar
tujuan audit tercapai.

Langkah-2:
Mengumpulkan dan
Mengevaluasi
Informasi
Sehubungan dengan
Auditee dan
Lingkungannya

Mengumpulkan dan
mengevaluasi
informasi
sehubungan dengan
Auditee dan
lingkungannya
adalah aktivitas
penting yang harus
dilakukan oleh
auditor untuk:

Mapping
awal,
sebelum
melakukan
pemeriksaan
terhadap
risiko salah-
saji dalam
laporan
keuangan
perusahaan
auditee.

Merancang
alur, waktu
dan prosedur
audit lebih
lanjut

Membuat
penilaian
(judgment)
awal,
mengenai:
materialitas,
kesesuaian
laporan
keuangan
auditee
dengan
prinsip-prinsip
akuntansi,
dan
identifikasi
awal
mengenai
wilayah yang
memerlukan
perlakuan
audit khusus.

Fase kedua ini,


diidentikan dengan
apa yang disebut
“Risk Assessment”—
yang esensinya tiada
lain adalah
pemetaan
kemungkinan adanya
kesalahan dan
penyimpangan
(dalam obyek audit)
lebih dini—sebelum
risk
assessmentsesunggu
dilakukan (di langkah
berikutnya). Prosedur
risk assessment di
tahapan ini biasanya
dilakukan dengan
berbagai macam
aktivitas, antara lain:
meminta susunan
kepemilikan
perusahaan,
susunan manajemen
dan strukur
organisasi secara
keseluruhan,
melakukan observasi
dan inspeksi.

Melalui risk
assessment
procedure ini,
auditor juga
berusaha untuk
memperoleh
berbagai informasi
sehubungan dengan:
alur operasi
perusahaan,
kepemilikan,
hubungannya
dengan pemerintah,
hubungan-hubungan
istimewa dengan
pihak tertentu,
metode pembiayaan
(debt/equity) jangka
pendek dan panjang,
misi dan visi
perusahaan, strategi
dan manajemen
risiko yang
diterapkan—yang
menjadi dasar
pijakan pihak
manajemen
perusahaan auditee
dalam menilai kinerja
keuangan
perusahaan dan
penyusunan sistim
pengendalian
internalnya.

Dengan melakuan
itu semua, auditor
bisa memperoleh
gambaran awal
mengenai asersi (
terdiri dari: saldo
akun, kelompok
transaksi dan
disclosure)yang
kemungkinan besar
mengandung ‘risiko-
salah-saji’ (material
misstatement risk)
tinggi.
ASPEK UTAMA,
yang wajib masuk
dalam petimbangan
di tahap ini
adalahaspek SISTIM
PENGENDALIAN
INTERN (Internal
control) yang
diterapkan di dalam
perusahaan auditee.

Tentu. Tidak semua


unsur dan aspek
pengendalian
internal control
perusahaan auditee
relevan dengan
tujuan audit yang
dilaksanakan.
Pengendalian intern
yang dianggap
relevan oleh auditor
adalah yang
diperkirakan
berpengaruh
terhadap mampu-
atau-tidaknya
perusahaan auditee
untuk membuat
laporan keuangan
yang sesuai dengan
PSAK.

Seperti
diuangkapkan dalam
COSO Framework,
pengendalian intern
(internal control)
didefinisikan sebagai
suatu proses (yang
dipengaruhi oleh
dewan direksi,
manajemen dan
pegawai
perusahaan) untuk
memberikan jaminan
akan terwujudunya:

Pelaporan
keuangan
yang handal
(reliability of
financial
reporting);

Keefektifan
dan efisisensi
operasional
perusahaan
(effectiveness
and efficiency
of
operations);
dan

Kepatuhan
terhadap
peraturan dan
perundang-
undangan
yang berlaku
(compliance
with
applicable
laws and
regulations)

Dalam konteks
audit, pengendalian
intern terdiri dari 5
komponen, yang
saling berubungan
satu dengan lainnya,
antra lain:
Lingkungan
pengendalian

Pemeriksaan
risiko

Aktivitas
pengendalian

Informasi dan
komunikasi

Pengawasan
(monitoring)

Note: lebih detailnya,


silahkan baca COSO
Framework, yang
baru-baru ini (per
2012) mengalami
perubahan yang
cukup signifikan.

Karena begitu
pentingnya aspek
pengendalian intern,
dalam proses audit,
maka auditor
diwajibkan untuk
memperoleh
pemahaman yang
cukup mengenai
setiap penerapan
kompenen internal
control tersebut, di
dalam perusahaan
auditee, sehingga
dapat dijadikan
bahan pertimbangan
dalam pemeriksaan
risiko salah-saji dan
penyusunan strategi
audit lanjutan.
Seperti telah
disampikan di atas,
untuk pemahaman
yang cukup
mengenai hal ini,
auditor tidak saja
meminta “dokumen
prosedur dan
kebijakan”—yang
biasanya
mencerminkan
sistim pengendalian
intern perusahaan
auditee, tetapi juga
melakukan
pengamatan
(observasi) dan
inspeksi di lapangan
untuk melihat
apakah prosedur dan
kebijakan
perusahaan telah
dilaksanakan dengan
benar dan
konsisten. Dalam
prose ini, auditor
selalu melakukan
koordinasi dan
komunikasi yang
diperlukan dengan
pigak internal auditor
perusahaan.

Hal terakhir yang


dilakukan oleh
auditor, dalam fase
ini, adalah
mengasimilasikan
dan mensitesiskan
pemahaman semua
informasi yang
mungkin
mempengaruhi
proses audit secara
keseluruhan—
terutama sekali
terkait dengan
wilayah-wilayah yang
dianggap
mengandung risiko
salah saji yang
bersifat metrial.

LANGKAH-3:
MEMERIKSA
RISIKO SALAH-
SAJI YANG
BERSIFAT
MATERIAL (RISKS
OF MATERIAL
MISSTATEMENT)
Laporan keuangan
(perusahaan auditee)
terdiri dari rangkaian
asersi (pernyataan)
manajemen
sehubungan dengan
laba-rugi dan posisi
keuangan
perusahaan, yang
presentasikan dalam
bentuk transaksi,
saldo akun dan
diskolsur.

Menggunakan
pemahaman yang di
peroleh di langkah
pertama dan kedua,
auditor melakukan
pemeriksaan risiko
salah-saji yang
bersifat material,
baik dalam tingkat
asersi yang relevan
maupun dalam
tingkat laporan
keuangan secara
keseluruhan.

Risiko salah saji


yang bersifat
material
digolongkan
menjadi 2 macam,
yaitu:

Inherent Risk
– Risiko
salah-saji
yang bersifat
inherent alias
tidak ada
hubungannya
dengan
pengendalian
internal; dan

Control Risk
– Risiko yang
ada
hubungannya
dengan
efektifitas
fungsi internal
control
(dalam hal ini,
sistim
pengendalian
internal
perusahaan
auditee
dianggap
mengalami
gagal fungsi
atau minimal
kurang
efektif).

Untuk memastikan
apakah risiko salah-
saji besifat material
memang ada atau
tidak, konkretnya,
auditor melakukan
pemeriksaan
terhadap: transaksi,
saldo akun dan
disklosur, yang
dalam langkah-2
sebelumnya
diperkirakan
mengandung risiko
salah saji yang
tinggi. Untuk masing-
masing asersi
(transaksi, saldo
akun dan disklosur),
auditor mencari tahu:

Apa yang
salah (atau
tidak sesuai)
di sini?

Bagaimana
kesalahan
(atau
ketidaksesuaia
itu terjadi?

Berapa
nominal/rupiah
yang terlibat
dalam
salahan
(ketidaksesuai
itu?

Untuk setiap
kesalahan (atau
ketidaksesuaian)
yang ditemukan—
terutama yang
bersifat material,
seorang auditor
biasanya berdiskusi
dengan anggota
team audit lainnya
untuk mengetahui
apakah anggota
team lainnya
menemukan
kesalahan
(ketidaksesuaian)
yang sejenis (dengan
pola/modus sejenis
juga) atau tidak.

Jika iya, maka


auditor biasanya
mulai mencurigai
adanya unsur
kesengajaan di
dalamnya, yang bisa
saja mengarah ke
tindakan fraud. Bila
diperlukan (dan
diminta oleh klien),
maka team auditor
bisa meminta
bantuan team
auditor khusus (yang
memiliki
komepetensi dan
sertifikasi khusus)
untuk melakukan
investigasi fraud,
yang biasanya
dilakukan oleh Fraud
Examiner(yang
bertitel Certified
Fraud Examiner =
CFE).

Proses lain yang tak


kalah pentingnya,
dalam fase ini,
adalah melakukan
identifikasi terhadap
apa yang disebut
dengan “Significant
Risk”, yaitu: risiko
yang membutuhkan
prosedur audit
khusus.

Misalnya: Auditor
sedang melakukan
audit terhadap
perusahaan
kontraktor. Dalam
perusahaan
kontraktor, wilayah
pengakuan
pendapatan-dan-
biaya cenderung
mengandung risiko
salah-saji yang
tinggi. Dalam kondisi
demikian, auditor
bisa memutuskan
bahwa wilayah
pengakuan
pendapatan-dan-
biaya membutuhkan
prosedur audit
khusus.

Prosedur audit
khusus yang
dimaksudkan di sini
yaitu,  auditor perlu:

Melakukan
evaluasi
terhadap
rancangan
sistim
pengendalian
yang
mestinya bisa
mencegah
risiko tersebut
(sering
disebut
“control test”
saja); dan

Melakukan
prosedur
substantive
(sering
disebut
“substantive
test” saja),
yang memiliki
tautan jelas
dengan risiko
yang
dimaksud.

(Catatan: kita akan


bahas ini di fase
berikutnya, langkah-
4).

Sayang, ruang ini


tidak cukup untuk
menampung semua
langkah yang
diperlukan dalam
audit. Terpaksa
harus saya penggal
sampai di sini
dahulu. Di Bagian
kedua (segera) akan
saya bahas
mengenai langkah
berikutnya, yaitu:

Langkah-4:
Merancang
Respon Audit
dan Prosedur
Audit
Lanjutan

Langkah-5:
Menjalankan
Posedur Audit
Lanjutan

Langkah-6:
Mengkaji Dan
Memeriksa
Kembali Hasil
(Temuan)
Audit

Langkah-7:
Mengkomunik
Hasil
(Temuan)
Audit

Di bagian-2 nanti,
saya akan lanjutkan
sedikit mengenai
significant risk,
termasuk aspek lain
yang mungkin
membuat timbulnya
significant risk, apa
yang harus
dilakukan oleh
auditor dalam
merespon hasil
pemeriksaan risiko
salah-saji yang
bersifat material,
bagaimana
menjalankan
prosedur audit
lanjutan,
mengevaluasi dan
memeriksa kembali
hasil audit, dan
mengkomunikasikan
hasil temuan audit.
Untuk sementara,
bersabar dahulu.
Sampai bertemu di
bagian kedua dari
seri pengenalan
prosedur audit ini.

 CLICK TO
ADD A
COMMENT

MORE IN IR
PUSTERAD

Tingkatka
Pengabdi
Dalam
Mencetak
SDM
Kadet
AAL
Pusterad
APRIL 13,
2016

Copyright © 2016. Pusat


Teritorial Angkatan Darat |

Design by Difacom