Anda di halaman 1dari 12

DAPARTEMEN KONSERVASI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Terjemahan Jurnal
27 Desember 2017

Keberhasilan Perawatan Direct Pulp Capping menggunakan bahan Bioceramic pada Gigi
Permanen Dewasa dengan Paparan Karies

(Treatment Outcome Following Direct Pulp Capping Using Bioceramic Materials in Mature
Permanent Teeth with Carious Exposure: A Pilot Retrospective Study)

Nama : Mushidayah Aulia


Stambuk : J11113521
Dibacakan : Rabu, 27 Desember 2017
Tempat : RSGM Kandea
Pembimbing : drg. Nurhayati Natsir, Ph.D, Sp.KG
Sumber : J Endod 43(10):1635-1639 / 2017

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN KLINIK

DEPARTEMEN KONSERVASI

FAKULTAS KEDOTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2017
Keberhasilan Perawatan Direct Pulp Capping menggunakan bahan Bioceramic pada Gigi
Permanen Dewasa dengan Paparan Karies – Sebuah Penelitian Pilot Retrospective

S. Linu, BDS, M.S. Lekshmi, BDS, V.S. Varunkumar, MDS, and V.G. Sam Joseph, MDS, M Phil

ABSTRAK

Pendahuluan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi sekuel dari Direct pulp
capping (DPC) menggunakan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) dan biodentine pada gigi
permanen dewasa dengan paparan karies. Metode: Catatan klinis dari 30 pasien (15 diantaranya
dengan MTA dan biodentine) dirawat dengan teknik direct pulp capping dari januari 2015
sampai juni 2015 diambil kembali. Tingkat keberhasilan (berdasarkan pada gejala, tes
sensibilitas dan analisis radiografi) dan efek samping dianalisis. Hasil: Pasien diamati pada
bulan ke-1, 3, 6, 12 dan 18 setelah perawatan. Empat kasus (2 diantaranya dari MTA dan
biodentine) hilang untuk difollow-up. Kelompok MTA dan biodentine masing-masing
menunjukkan tingkat keberhasilan dari 84,6% dan 92,3%, dengan keseluruhan tingkat
keberhasilan 88,5%. Secara radiografi, pembentukan jembatan dentin terlihat telah diobservasi
masing-masing pada 69,2% (9/13) dan 61,5% (8/13) dari semua kasus yang selesai dengan MTA
dan biodentine. Kasus yang selesai dengan MTA menunjukkan diskolorasi korona direview.
Kalsifikasi difus dari ruang pulpa diobservasi pada 1 kasus (7,7%) dengan MTA dan 3 kasus
(23,1%) dengan biodentine. Kesimpulan: Kemunculan bahan bioceramic dengan
biokompabilitas yang lebih baik dan sifat menutup dapat membuat hasil dari teknik direct pulp
capping pada gigi permanen dewasa dengan paparan karies lebih dapat diprediksi. Tingkat
keberhasilan diobservasi pada penelitian ini harus dikonfirmasi melalui percobaan dikontrol
secara acak dengan periode follow-up yang panjang. Akibat dari efek samping seperi diskolorasi
korona dan kalsifikasi ruang pulpa juga diperlukan untuk dievaluasi.

Kata Kunci: bahan bioceramic, direct pulp capping, gigi permanen dewasa

Pulpa gigi dilindungi dari lingkungan mulut dengan jaringan yang kaku dari email, dentin
dan sementum.1 Selain membentuk gigi selama masa kanak-kanak, pulpa gigi yang utuh dapat
memberikan beberapa mekanisme pertahanan yang mungkin mencegah invasi bakteri, Oleh
karena itu sangat penting untuk mempertahankan pulpa yang terpapar daripada dengan
menggantinya dengan bahan pengisi saluran akar sintetis.2,3

Perawatan pulpa vital ditujukan untuk mempertahankan dan memelihara kesehatan pulpa
pada gigi dimana pulpa terpapar disebabkan karena trauma, karies, atau prosedur restoratif.4
Pilihan perawatan untuk pulpa yang terpapar pada gigi permanen dewasa termasuk Direct pulp
capping (DPC), pulpotomi dan pulpektomi. Direct pulp capping didefenisikan sebagai
“menempatkan bahan gigi seperti kalsium hidroksida atau Mineral Trioxide Aggregate (MTA)
secara langsung pada pulpa vital yang terpapar secara mekanis atau traumatis, sehingga terjadi
penutupan luka pulpa yang memudahkan pembentukan dentin reparatif dan pemeliharaan
vitalitas pulpa”.5 Secara tradisional jika gigi terkena karies, vitalitasnya dapat dipertahankan
dengan pulpotomi parsial setelah mengeluarkan pulpa bagian korona sampai kepada tingkat
jaringan pulpa yang sehat.6

Kurangnya prediktabilitas hasil prosedur perawatan direct pulp capping setelah pulpa
terpapar karies3,7 telah dinyatakan berdasarkan protokol tradisional dan bahan yang tidak
menghasilkan lingkungan yang menguntungkan untuk pembentukan jaringan keras. Tingkat
keberhasilan biasanya berkisar 30% sampai 85%.3,7-11 Pengenalan MTA dan bioceramic lain atau
semen berbasis kalsium silikat, bersamaan dengan strategi perawatan yang lebih maju, telah
mengubah secara nyata konsep lama bahwa pulp capping setelah pulpa terpapar karies harus
dihindari.2,12,13

Bubuk MTA adalah campuran dari dikalsium silikat, trikalsium silikat, trikalsium aluminat,
kalsium sulfat, tetrakalsium aluminoferit, dan bismut oksida yang dicampur dengan air suling
selama manipulasi.14,15 Dikalsium silikat, trikalsium silikat, kalsium karbonat, kalsium oksida,
dan zirkonium oksida merupakan serbuk biodentine dan liquidnya mengandung air, kalsium
klorida, dan agen plasticizing.16 BioAggregate, EndoSequence merupakan bahan perbaikan akar
campuran semen yang diperkaya kalsium, dan TheraCal adalah beberapa semen kalsium silikat
lainnya yang digunakan dalam perawatan endodontik. Selama manipulasi dari semen berbasis
kalsium silikat, kalsium hidroksida dan kalsium silikat hidrat adalah senyawa utama yang
terbentuk dan gel hidrat silikat kalsium mengeras membentuk struktur keras.15,17

Meskipun beberapa penelitian telah dipublikasikan untuk menilai hasil direct pulp capping
dengan menggunakan bahan bioceramic pada gigi permanen muda, namun tidak banyak literatur
yang tersedia sehubungan dengan prosedur pada gigi permanen dewasa. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menilai hasil direct pulp capping dengan MTA dan Biodentine pada gigi
permanen dewasa dengan paparan karies.

BAHAN DAN METODE

Seleksi Pasien
Departemen Konservatif Kedokteran Gigi dan Endodontik, Government Dental College,
Thiruvananthapuram, memiliki protokol klinis untuk direct pulp capping menggunakan semen
bioceramic. Dalam penelitian ini, profil perawatan dari pasien yang dirawat dengan teknik ini
setelah mengikuti protokol ini dari Januari 2015 sampai Juni 2015 diambil terlepas dari
keberhasilannya. Kasus yang memenuhi kriteria berikut dimasukkan dalam analisis hasil:
1. Pasien dalam kelompok usia 15 sampai 30 tahun
2. Keluhan kavitas pada gigi permanen dewasa dan / atau kepekaan terhadap makanan
dingin dan / atau pada saat makan.
3. Tidak ada riwayat nyeri pada saat malam atau nyeri spontan
4. Gigi rahang bawah dengan karies terbatas pada permukaan oklusal
5. Uji kepekaan pulpa menimbulkan respon positif
6. Pemeriksaan radiografi menunjukkan karies dalam mendekati pulpa, tanpa tanda-tanda
patologi periapikal
7. Pasien yang sehat secara sistemik

Gigi dengan rasa sakit yang hebat / menetap terhadap uji sensibilitas pulpa dan pulpa yang
terpapar secara iatrogenik dikeluarkan dari penelitian ini. Sebanyak 30 gigi permanen dewasa
yang memenuhi kriteria dipilih untuk dianalisis.

Prosedur Klinis
Informed consent diperoleh dari semua pasien. Sensibilitas gigi dinilai dengan digital
electrical pulp tester (Digitest II Pulp Vitality Tester; Parkell Inc, Edgewood, NY). Anestesi
lokal (lignocaine 2%, adrenaline 1:200000; Aculife Healthcare Pvt. Ltd, Gujarat, Indian) dan
isolasi tercapai dengan menggunakan rubber dam (Hygienic; Coltene Whaledent AG, Altstatten,
Switzerland). Pembersihan dan desinfeksi permukaan gigi dicapai dengan menggunakan pumice
slurry, rubber cup dan sodium hipoklorit 5% (Pyrex Exports, Roorkee, Indian). Karies awalnya
diangkat dengan round bur diamond steril (BR 31; Mani Inc, Utsunomiya, Japan) kecepatan
tinggi, dilanjutkan dengan carbide round bur steril kecepatan rendah, nomor 4 dan nomor 6 (SS
White, Lakewood, NJ), saat mendekati pulpa. Pada kasus dengan pulpa yang terpapar saat
pengangkatan karies, perdarahan dikontrol dengan menggunakan cotton pellet yang direndam
dengan sodium hipoklorit 5% selama 10 menit. Setelah mengontrol perdarahan, perawatan direct
pulp capping dilakukan dengan menggunakan bahan MTA (ProRoot MTA; Maillfer, Dentsply,
Swiss) atau Biodentine (Septodont, Saint-Maur-des-Fosses, France). Bahan dicampur sesuai
dengan instruksi pabriknya. Pada kasus yang dirawat dengan MTA, bahan ditempatkan pada
daerah yang terpapar dan disekitar dentin dengan ketebalan lapisan 1,5 sampai 3,0 mm. Resin
modifikasi glass ionomer (GC Fuji II LC; GC Corp, Tokyo, Japan) ditempatkan di atas MTA.
Restorasi akhir dilakukan dengan menggunakan komposit resin-bonded (3M ESPE, St. Paul,
MN) seminggu kemudian. Pada kasus yang dirawat dengan Biodentine, kavitas tersebut diisi
penuh dengan bahan ini. Pada kunjungan kembali setelah 2 minggu, Biodentine direduksi
menjadi basis dan tingkat pengganti dentin dan gigi dipulihkan secara permanen dengan
komposit resin-bonded.
Tabel 1. Perbedaan Demografi dan Karakteristik Klinis Awal
Variabel Bahan DPC
MTA Biodentine
n (%) n (%)
Usia, tahun
15-20 5 (38,5) 9 (69,2)
21-25 5 (38,5) 4 (30,8)
26-30 3 (23,1) 0
Jenis kelamin
Laki-laki 3 (23,1) 2 (15,4)
Perempuan 10 (76,9) 11 (84,6)
Tipe gigi
Molar pertama rahang bawah 7 (53,8) 6 (46,2)
Molar kedua rahang bawah 6 (46,2) 7 (53,8)
Adanya nyeri pre operatif
Ada 11 (84,6) 10 (76,9)
Tidak ada 2 (15,4) 3 (23,1)
Periode follow-up, bulan
1 2 (15,4) 1 (7,7)
12 6 (46,2) 7 (53,8)
18 5 (38,5) 5 (38,5)
DPC, Direct pulp capping; MTA, Mineral Trioxide Aggregate

Tabel 2. Perbedaan Hasil Perawatan


Variabel Bahan DPC
MTA, n (%) Biodentine, n
(%)
Hasil perawatan
Sukses 11 (84,6) 12 (92,3)
Gagal 2 (15,4) 1 (7,7)
DPC, Direct pulp capping; MTA, Mineral Trioxide Aggregate

Evaluasi Follow-Up
Catatan pasien dan radiografi dianalisis untuk data recall klinis pada interval 1, 3, 6, 12, dan
18 bulan. Data yang terdiri dari rasa sakit (pada perkusi / spontan / malam) setelah perawatan,
status kepekaan gigi, tanda radiologi patologi periapikal, dan pembentukan jembatan dentin
dinilai. Gigi yang tetap asimtomatik dengan respon positif terhadap tes kepekaan dan / atau bukti
radiografi pembentukan jembatan jaringan keras tanpa tanda radiografi patologi periapikal
dianggap berhasil.

Analisis Statistik
Perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS untuk Windows
versi 19.0 (Statistical Presentation System Software; SPSS Inc., New York, NY). Statistik
deskriptif yang tepat dihitung. Dalam pengujian untuk perbedaan antara kelompok, tes Fisher
exact digunakan.
 Hipotesis nol: Tidak ada perbedaan skor yang signifikan antara keduanya kelompok;
yaitu, ղ1=ղ2
 Hipotesis alternatif: Ada perbedaan skor yang signifikan antara kelompok; yaitu ղ1≠ղ2
 Tingkat signifikansi: P < 0,05

Tabel 3. Perbedaan Hasil Perawatan Lain


Variabel Bahan DPC
MTA, n (%) Biodentine, n
(%)
Terlihat secara radiografi
Jembatan dentin
Terlihat 9 (69,2) 8 (61,5)
Tidak terlihat 4 (30,8) 5 (38,5)
Diskolorasi korona
Ada 9 (69,2) 0
Tidak ada 4 (30,8) 13 (100)
Kalsifikasi difus ruang pulpa
Ada 1 (7,7) 3 (23,1)
Tidak ada 12 (92,3) 10 (76,9)
DPC, Direct pulp capping; MTA, Mineral Trioxide Aggregate
*P < 0,05 (Signifikan secara statistik)

Tabel 4. Hasil Perawatan pada Kelompok Usia Berbeda


Kelompok Usia Hasil Perawatan
Sukses, n (%) Gagal, n (%)
15-20 13 (92,9) 1 (7,1)
21-25 8 (88,9) 1 (11,1)
26-30 2 (66,7) 1 (33,3)

HASIL
Karakteristik demografi dan karakteristik klinis awal dievaluasi untuk menilai perbandingan
antara kelompok MTA dan Biodentine. Usia, jenis kelamin, jenis gigi, tanda dan gejala pre
operatif, dan masa tindak lanjut sebanding di antara kelompok (Tabel 1). Dari 30 pasien, 4 kasus
hilang untuk ditindaklanjuti: 2 masing-masing dari kelompok MTA dan Biodentine. Kelompok
MTA menunjukkan tingkat keberhasilan 84,6% (11/13) dan kelompok Biodentine dengan
tingkat 92,3% (12/13). Tingkat keberhasilan keseluruhan adalah 88,5% (23/26). Tiga kasus (1
dari kelompok Biodentine dan 2 dari kelompok MTA) menghasilkan kegagalan (Tabel 2).
Hasil yang analog diamati pada kasus pembentukan jembatan dentin (69,2% vs 61,5%) dan
kalsifikasi ruang pulpa pada gigi yang dilakukan dengan MTA dan Biodentine, sedangkan
perubahan warna korona yang signifikan diamati pada gigi dengan MTA (69,2%) (Tabel 3).
Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik yang diamati pada tingkat keberhasilan
antara kelompok usia yang berbeda (Tabel 4).

Gambar 1. Representatif kasus dari kelompok MTA. (A) Radiografi pre operatif menunjukkan karies yang dalam.
(B) Pulpa yang terpapar (tanda panah) setelah pembuangan karies. (C) Radiografi pasca operatif immediate. (D)
Radiografi review 1 tahun. (E) Diskolorasi mahkota (tanda panah) pada 1 tahun review

Gambar 2. Representatif kasus dari kelompok biodentine. (A) Radiografi pre operatif menunjukkan karies yang
dalam. (B) Pulpa yang terpapar (tanda panah) setelah pembuangan karies. (C) Radiografi setelah penempatan
biodentine. (D) Pembentukan jembatan dentin dan kalsifikasi ruang pulpa (tanda panah) pada radiografi 1 tahun
review.

DISKUSI
Perawatan pulpa vital merupakan teknik yang disukai untuk menangani pulpa yang terpapar
pada gigi permanen immature atau belum dewasa sehingga memungkinkan penyelesaian
perkembangan akar.18 Teknik ini jarang dipraktikkan pada gigi permanen dewasa yang karies
karena kurangnya hasil yang dapat diprediksi.2,3,7 Tingkat invasi bakteri pada pulpa sulit untuk
dinilai dalam paparan karies dibandingkan dengan paparan traumatik atau mekanis. Keberhasilan
prosedur direct pulp capping bergantung pada pembentukan barrier yang tahan terhadap bakteri
yang dapat melindungi jaringan pulpa yang terpapar.8 Bahan tradisional, seperti kalsium
hidroksida, kurang memiliki kemampuan untuk membentuk barrier yang memuaskan.19
Munculnya bahan bioceramic baru yang menginduksi pembentukan barrier pada jaringan keras
dapat diprediksi20-22 dan menutupi permukaan23-26 memberikan kesempatan baru untuk prosedur
direct pulp capping pada gigi permanen dewasa dengan paparan karies.
Informasi yang terbatas tersedia untuk direct pulp capping dengan menggunakan bahan
bioceramic pada gigi permanen manusia. Nowicka dkk20 membandingkan Biodentine dengan
MTA untuk pulp capping pada gigi molar manusia secara klinis maupun secara histologis dan
ditemukan Biodentine sama baiknya dengan MTA untuk pulp capping. Penggunaan Biodentine
disajikan oleh Bhat dkk27 dalam kasus mereka melaporkan direct pulp capping pada gigi seri
yang immature dan menyimpulkan bahwa Biodentine adalah produk yang menjanjikan yang
memiliki potensi signifikan untuk mempertahankan vitalitas pulpa dalam kasus yang dipilih
secara hati-hati untuk direct pulp capping. Tingkat keberhasilan 100% direct pulp capping
dengan MTA dan Biodentine dilaporkan oleh Katge dkk28 pada anak-anak berusia 7 hingga 9
tahun. Penelitian yang telah dikutip sebelumnya telah dilakukan pada gigi permanen muda
dengan apeks akar immature.23,24 Tingkat keberhasilan yang luar biasa dari 100% mungkin
karena potensi reparatif yang tinggi dari gigi permanen yang immature. Studi ini mengevaluasi
hasil direct pulp capping pada gigi permanen dewasa dengan paparan karies, yang belum banyak
dipelajari.
Tingkat keberhasilan 88,5% yang diamati dalam penelitian ini sebanding dengan studi yang
dilakukan pada gigi permanen dewasa menggunakan bahan bioceramic dimana keberhasilannya
adalah 85,37% selama periode 1 tahun.29 Laporan lain menyebutkan 97,1% keberhasilan MTA
pada gigi permanen dewasa selama periode 9 tahun.30 Dalam penelitian ini, semua kegagalan
terjadi dalam 2 minggu pertama setelah prosedur. Kegagalan itu mungkin karena penilaian klinis
yang tidak akurat pada tingkat penyebaran radang ke jaringan pulpa, yang bisa dikonfirmasi
hanya dengan pemeriksaan histologis. Kegagalan yang terjadi segera setelah pulp capping
mungkin merupakan hasil dari keadaan pulpa yang terganggu.31 Gigi yang bertahan selama 2
minggu pertama tetap tidak bergejala, vital, dan fungsional selama masa tindak lanjut 12 sampai
18 bulan.
Pasien yang relatif muda yang memiliki kavitas yang terbatas pada permukaan oklusal dipilih
untuk penelitian ini, yang mungkin telah berkontribusi pada tingkat keberhasilan yang lebih
tinggi dalam penelitian ini. Usia mungkin menjadi faktor pembatas keberhasilan direct pulp
capping karena kemampuan untuk mengatasi kegagalan diperhitungkan pada usia tua.2
Ukuran sampel yang lebih kecil mungkin telah berkontribusi terhadap kurangnya perbedaan
yang signifikan secara statistik yang diamati pada tingkat keberhasilan antara kelompok usia
yang berbeda. Karies yang dibatasi pada permukaan oklusal telah menghasilkan isolasi yang
lebih baik, pengangkatan karies, dan penempatan material.
Teknik paraleling kerucut panjang dengan pemegang film digunakan pada hampir semua
kasus untuk mendapatkan gambaran radiografi. Radiodensitas Biodentine dan gigi tiruan yang
sebanding membuat sulit untuk memahami pembentukan jembatan dentin pada kelompok
Biodentine. Secara keseluruhan, pembentukan jembatan dentin secara radiografi (65,4%) kurang
dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bogen dkk30 dan Katge dkk28, yang masing-
masing melaporkan 82,0% dan 90,5%.
Potensi perubahan warna yang lebih tinggi dari ProRoot MTA dengan Biodentine
dikonfirmasi oleh Marconyak dkk.32 Bismut oksida, yang memberikan radiopasitas ke MTA,
terdisosiasi menjadi bismut metalik berwarna gelap dan oksigen tampak pada saat dihadapkan
pada cahaya.33 Overoksidasi oksida bismut dengan adanya sodium hipoklorit, yang digunakan
untuk mengontrol perdarahan dari daerah yang terpapar mungkin juga menyebabkan perubahan
warna.34 Efek perubahan warna bisa saja juga disebabkan adanya darah yang kontak dengan
MTA selama penempatan bahan.35 Perubahan warna korona dapat menimbulkan tantangan
estetika pada gigi anterior dan mungkin menyerupai karies sekunder (Gambar 1).
Kalsifikasi difus pada ruang pulpa diamati pada 15,4% (4/26) kasus selama kunjungan pada
saat follow-up. Dalam studi oleh Bogen dkk,30 10,2% kasus menunjukkan kalsifikasi serupa
dengan MTA selama 9 tahun. Kalsifikasi lengkap dari ruang pulpa (metamorfosis kalsifikasi)
dianggap sebagai kerusakan biologis dalam fungsi jaringan dan pembentukan jaringan yang ideal
harus dibatasi pada lokasi luka atau paparan pulpa.36 Kalsifikasi ini bisa menyulitkan perawatan
saluran akar jika diindikasikan dimasa yang akan datang (Gambar 2).

KESIMPULAN
Direct pulp capping dapat mempertahankan vitalitas gigi, yang akan membantu retensi
jangka panjang dan fungsi normal gigi. Penelitian ini mengamati tingkat keberhasilan 88,5%
pada gigi permanen dewasa dengan paparan karies dengan bahan bioceramic. Pemahaman klinis
yang lebih baik mengenai status histologis peradangan pulpa dapat memperbaiki prediktabilitas
prosedur, karena semua kegagalan terjadi dalam 2 minggu pertama prosedur. Ukuran sampel
yang lebih kecil dan periode tindak lanjut yang pendek adalah keterbatasan penelitian ini. Uji
coba terkontrol acak dengan ukuran sampel yang tepat dan lama masa follow-up diperlukan
untuk menegaskan potensi yang menjanjikan dari bahan bioceramic sebagai agen direct pulp
capping untuk gigi permanen dewasa dengan paparan karies.

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua staf dan mahasiswa pascasarjana di
Departemen Konservatif Kedokteran Gigi dan Endodontik, Government Dental College,
Thiruvananthapuram, atas bantuan mereka selama penelitian berlangsung. Penulis menolak
adanya benturan kepentingan yang terkait dengan penelitian ini.
REFERENSI
1. Yu C, Abbott PV. An overview of the dental pulp: its functions and responses to injury.
Aust Dent J 2007;52:S4–16.
2. Ward J. Vital pulp therapy in cariously exposed permanent teeth and its limitations. Aust
Endod J 2002;28:29–37.
3. Barthel CR, Rosenkranz B, Leuenberg A, dkk. Pulp capping of carious exposures:
treatment outcome after 5 and 10 years: a retrospective study. J Endod 2000;26:525–8.
4. Hilton T. Keys to clinical success with pulp capping: a review of the literature. Oper Dent
2009;34:615–25.
5. American Association of Endodontists. American Association of Endodontists Glossary
of Endodontic Terms, 9th ed. Chicago: American Association of Endodontists; 2016.
6. Cvek M. A clinical report on partial pulpotomy and capping with calcium hydroxide in
permanent incisors with complicated crown fracture. J Endod 1978;4:232–7.
7. Al-Hiyasat AS, Barrieshi-Nusair KM, Al-Omari MA. The radiographic outcomes of
direct pulp-capping procedures performed by dental students: a retrospective study. J Am
Dent Assoc 2006;137:1699–705.
8. Baume LJ, Holz J. Long term clinical assessment of direct pulp capping. Int Dent J
1981;31:251–60.
9. Horsted P, Sandergaard B, Thylstrup A, dkk. A retrospective study of direct pulp capping
with calcium hydroxide compounds. Endod Dent Traumatol 1985;1:29–34.
10. Auschill TM, Arweiler NB, Hellwig E, dkk. Success rate of direct pulp capping with
calcium hydroxide. Schweiz Monatsschr Zahnmed 2003;113:946–52.
11. Matsuo T, Nakanishi T, Shimizu H, dkk. A clinical study of direct pulp capping applied
to carious-exposed pulps. J Endod 1996;22:551–6.
12. Langeland K. Management of the inflamed pulp associated with deep carious lesion. J
Endod 1981;7:169–81.
13. Bergenholtz G. Advances since the paper by Zander and Glass (1949) on the pursuit of
healing methods for pulpal exposures: historical perspectives. Oral Surg Oral Med Oral
Pathol Oral Radiol Endod 2005;100:S102–8.
14. Camilleri J, Montesin FE, Brady K, dkk. The constitution of mineral trioxide aggregate.
Dent Mater 2005;21:297–303.
15. Camilleri J. The chemical composition of mineral trioxide aggregate. J Conserv Dent
2008;11:141–3.
16. Dawood AE, Parashos P, Wong RHK, dkk. Calcium silicate-based cements: composition,
properties, and clinical applications. J Investig Clin Dent 2017;8:1–15.
17. Camilleri J. Hydration mechanisms of mineral trioxide aggregate. Int Endod J 2007;
40:462–70.
18. Bogen G, Chandler NP. Vital pulp therapy. In: Ingle JI, Bakland LK, Baumgartner JC,
eds. Ingle’s Endodontics, 6th ed. Hamilton, Ontario: Decker; 2008:1317.
19. Cox CF, S€ubay RK, Ostro E, dkk. Tunnel defects in dentin bridges: their formation
following direct pulp capping. Oper Dent 1996;21:4–11.
20. Nowicka A, Lipski M, Parafiniuk M, dkk. Response of human dental pulp capped with
Biodentine and mineral trioxide aggregate. J Endod 2013;39:743–7.
21. Reston EG, de Souza Costa CA. Scanning electron microscopy evaluation of the hard
tissue barrier after pulp capping with calcium hydroxide, mineral trioxide aggregate
(MTA) or ProRoot MTA. Aust Endod J 2009;35:78–84.
22. Nowicka A, Wilk G, Lipski M, dkk. Tomographic evaluation of reparative dentin
formation after direct pulp capping with Ca(OH)2, MTA, Biodentine and dentin bonding
system in human teeth. J Endod 2015;41:1234–40.
23. Nakata TT, Bae KS, Baumgartner JC. Perforation repair comparing mineral trioxide
aggregate and amalgam using an anaerobic bacterial leakage model. J Endod 1998;
24:184–6.
24. Hashem AAR, Hassanien EE. ProRoot MTA, MTA-Angelus and IRM used to repair
large furcation perforations: sealability study. J Endod 2008;34:59–61.
25. Sinkar RC, Patil SS, Jogad NP, dkk. Comparison of sealing ability of ProRoot MTA,
RetroMTA and Biodentine as furcation repair materials: an ultraviolet
spectrophotometric analysis. J Conserv Dent 2015;18:445–8.
26. Katge FA, Shivasharan PR, Patil D. Sealing ability of mineral trioxide aggregate PlusTM
and BiodentineTM for repair of furcal perforation in primary molars: an in vitro study.
Contemp Clin Dent 2016;7:487–92.
27. Bhat SS, Hegde SK, Adhikari F, dkk. Direct pulp capping in an immature incisor using a
new bioactive material. Contemp Clin Dent 2014;5:393–6.
28. Katge FA, Patil DP. Comparative analysis of 2 calcium silicate-based cements
(Biodentine and mineral trioxide aggregate) as direct pulp-capping agent in young
permanent molars: a split mouth study. J Endod 2017;43:507–13.
29. Jang Y, Song M, Yoo IS, dkk. A randomized controlled study of the use of ProRoot
mineral trioxide aggregate and Endocem as direct pulp capping materials: 3-month
versus 1-year outcomes. J Endod 2015;41:1201–6.
30. Bogen G, Kim JS, Bakland LK. Direct pulp capping with mineral trioxide aggregate: an
observational study. J Am Dent Assoc 2008;139:305–15.
31. Bergenholtz G, Sp_angberg L. Controversies in endodontics. Crit Rev Oral Biol Med
2004;15:99–114.
32. Marconyak LJ, Kirkpatrick TC, Roberts HW, dkk. A comparison of coronal tooth
discoloration elicited by various endodontic reparative materials. J Endod 2016; 42:470–
3.
33. Vall_es M, Mercad_e M, Duran-Sindreu F, dkk. Influence of light and oxygen on the
color stability of five calcium silicate-based materials. J Endod 2013;39: 525–8.
34. Camilleri J. Color stability of white mineral trioxide aggregate in contact with
hypochlorite solution. J Endod 2014;40:436–40.
35. Felman D, Parashos P. Coronal tooth discoloration and white mineral trioxide aggregate.
J Endod 2013;39:484–7.
36. Komabayashi T, Zhu Q. Innovative endodontic therapy for anti-inflammatory direct pulp
capping of permanent teeth with a mature apex. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral
Radiol Endod 2010;109:75–81.