Anda di halaman 1dari 26

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Ada banyak ahli yang menyatakan pendapatnya tentang definisi belajar.

Belajar pada hakikatnya erat kaitannya dengan perubahan tingkah laku manusia.

Menurut Sadirman (2012: 20) belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah

laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,

mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Menurut Rohmah (2015:

172) “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang

terjadi sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Belajar adalah perubahan

kepribadian sebagai pola baru yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan,

kepandaian/suatu pengertian”.

Menurut Arsyad (2010: 1) belajar adalah suatu proses yang kompleks yang

terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena

adanya interaksi antara seseorang dengan lingkunganya. Oleh karena itu, belajar

dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu

telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin

disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau

sikapnya.

7
8

Hal serupa dikatakan oleh Hamalik (2009: 52) bahwa belajar adalah

modifikasi atau memperkuat tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. Belajar

juga diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi

dengan lingkunganya. Tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan,

keterampilan, dan penanaman sikap mental/nilai-nilai. Pencapaian tujuan belajar

berarti akan menghasilkan, hasil belajar (Sardiman, 2007: 28).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah suatu proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku seseorang sebagai

hasil pengalaman berinteraksi dengan lingkungan dalam mencapai suatu tujuan.

Menurut Dimyati (2013: 235-254), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah

sebagai berikut:

1. Faktor-faktor Intern

Faktor intern yang dialami siswa dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh

pada proses belajar sebagai berikut:

a. Sikap terhadap Belajar

b. Motivasi Belajar

c. Konsentrasi Belajar

d. Mengelola bahan belajar

e. Menyimpan perolehan hasil belajar

f. Menggali hasil belajar yang tersimpan

g. Rasa percaya diri siswa

h. Kebiasaan belajar

i. Intelegensi dan keberhasilan belajar


9

j. Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar

2. Faktor-faktor Ekstern

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapat dikelompokkan

menjadi 3 faktor, yaitu:

a. Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,

suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar

belakang kebudayaan.

b. Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,

relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar

pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar.

c. Faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, masa media,

teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning)

Segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang ke

efektifan dan efesiensi proses mempelajari masalah tertentu.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang

mempengaruhi belajar yang dicapai oleh siswa faktor ekstern yang berpengaruh itu

terletak pada faktor sekolah yaitu relasi guru dengan siswa. Dari sekian banyak faktor

yang mempengaruhi belajar maka peneliti menjadikan model pembelajaran sebagai

bukti penyelenggaraan proses pembelajaran.


10

Pembelajaran Matematika di SMP/MTs

Istilah mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), mathematique (Prancis),

matematico (Itali), matematiceski (Rusia), atau mathematic/wiskunde (Belanda)

berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan

Yunani, mathematike, yang berarti ‘relating to learning’. Perkataan itu mempunyai

akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science).

Perkataan mathematike berhubungan pula sangat erat dengan sebuah kata lainnya

yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar (berpikir).

Menurut Hudojo (1988: 3) matematika sebagai ilmu mengenal struktur dan

hubungan-hubungannya, simbol-simbol diperlukan. Secara singkat dikatakan bahwa

matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun secara

hirarkis dan penalarannya deduktif.

Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka

konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi

simbol-simbol itu (Susanto, 2013: 183).

Dari beberapa definisi tersebut, maka matematika adalah ilmu tentang ide-ide

atau konsep-konsep yang didalamnya terdapat simbol-simbol, bentuk dan susunan

yang merupakan hasil dari pola berpikir deduktif. Sedangkan pembelajaran

matematika adalah suatu bentuk interaksi antara siswa dengan guru matematika

dalam proses belajar mengajar untuk membantu mengembangkan kemampuan,

pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memperjelas dan menyederhanakan suatu

keadaan melalui abstraksi, idealisasi dan generalisasi untuk suatu studi ataupun

pemecahan masalah.
11

Menurut Hamzah (2014: 386) tujuan Pembelajaran matematika di SMP/MTs:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan

mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat,

dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi gagasan dan

pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,

merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi

yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu

memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,

serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

2.2 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Divisions

2.3.1 Model Pembelajaran

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam

merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends (dalam

Suprijono, 2009: 46) model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan

digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam

kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

Joyce & Weil yang dikutip oleh Rusman (2010: 133), berpendapat bahwa

model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
12

membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-

bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Adapun

Soekamto, dkk. (dalam Trianto, 2011: 22) mengemukakan maksud dari model

pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis

dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu,

dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar

dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Dari beberapa definisi yang telah dikemukan di atas dapat disimpulkan bahwa

model pembelajaran adalah suatu pola atau kerangka konseptual yang dibuat untuk

merencanakan suatu kegiatan belajar mengajar guna mencapai tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Rusman, 2011: 136).

1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.

2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.

3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.

4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah

pembelajaran (syntax); (2) adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial; (4)

sistem pendukung.

5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran.

6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model

pembelajaran yang dipilihnya.

Macam-macam model pembelajaran antara lain ialah model pembelajaran

langsung (direct instruction), model pembelajaran berbasis masalah, dan model

pembelajaran kooperatif (cooperative Learnig) (Suprijono: 46-68).


13

3.2.1 Model Pembelajaran Kooperatif

Sanjaya, (2008: 242-243), mengemukakan “pembelajaran kooperatif

merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan/tim

kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang

kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).Setiap

individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk

keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang

sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok”.

Rusman, (2011: 203) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah

suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Slavin, (dalam

Taniredja, dkk, 2011: 56) berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan

kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami

konsep yang difasilitasi oleh guru.

Selain itu, menurut Ibrahim (dalam Rusman, 2011: 208) pembelajaran

kooperatif adalah suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa

berkelompok untuk menjalin kerja sama dan saling ketergantungan dalam struktur

tugas, tujuan dan hadiah.

Pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok.

Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan

pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model

pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas

lebih efektif (Suprijono, 2009: 58).


14

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-

tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan

terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Tujuan penting lain dari

pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja

sama dan kolaborasi (Rusman, 2011: 209-210).

Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang

menggunakan pembelajaran kooperatif.Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam

model pembelajaran kooperatif pada tahap pelaksanaan dari awal hingga akhir dapat

dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru

Tahap 1 Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang

Menyampaikan tujuan dan ingin dicapai pada kegiatan pelajaran dan

memotivasi siswa menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari

dan memotivasi siswa belajar.

Tahap 2 Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan

Menyajikan informasi jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Tahap 3 Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya

Mengorganisasikan siswa ke membentuk kelompok belajar dan membimbing

dalam kelompok-kelompok setiap kelompok agar melakukan transisi secara


15

belajar efektif dan efesien.

Tahap 4 Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada

Membimbing kelompok saat mereka mengerjakan tugas mereka.

bekerja dan belajar

Tahap 5 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang

Evaluasi telah dipelajari atau masing-masing kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya.

Tahap 6 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya

Memberikan penghargaan maupun hasil belajar individu dan kelompok.

(Sumber: Rusman, 2011: 211)

Keunggulan pembelajaran kooperatif diantaranya adalah sebagai berikut

(Sanjaya, 2008: 249-250):

1. melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,

akan tetapi dapat menambah kepercayaaan kemampuan berpikir sendiri,

menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.

2. membelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan

ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan

ide-ide orang lain.


16

3. pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan

menyadari akan segala keterbatasan serta menerima segala perbedaan.

4. pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk

lebih bertanggung jawab dalam belajar.

5. pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan

informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).

Disamping keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki keterbatasan,

diantaranya (Sanjaya, 2008: 250-251).

1. Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif memang butuh

waktu.

2. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil

kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil

atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu.

3. Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran

berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.

4. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat

penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya

didasarkan kepada kemampuan secara individual.

Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, walaupun

prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah. Jenis-jenis model

tersebut adalah model Student Team Achievment Division (STAD), model jigsaw,

investigasi kelompok (Group Investigation), model make a match (membuat

Pasangan), model TGT (Teams Games Tournaments), dan model struktural (Rusman,
17

2011: 213-225). Dari beberapa jenis moel pembelajaran kooperatif peneliti

menggunakan model pembelajran kooperatif tipe STAD.

2.3.2 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement

Divisions

Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division

(STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di

Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran

kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang

cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran

kooperatif.

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe

pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim

belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat

kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa

bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah

menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang

materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan

Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa

untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran

guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan

informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal

atau teks.
18

Menurut Slavin (dalam Noornia, 1997: 21) ada lima komponen utama dalam

pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu:

a. Penyajian Kelas

Penyajian kelas merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal

dengan menggunakan presentasi verbal atau teks. Penyajian difokuskan pada konsep-

konsep dari materi yang dibahas. Setelah penyajian materi, siswa bekerja pada

kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.

b. Menetapkan siswa dalam kelompok

Kelompok menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena didalam

kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar siswa untuk mencapai

kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk

saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar.

Lebih khusus lagi untuk mempersiapkan semua anggota kelompok dalam

menghadapi tes individu. Kelompok yang dibentuk sebaiknya terdiri dari satu siswa

dari kelompok atas, satu siswa dari kelompok bawah dan dua siswa dari kelompok

sedang. Guru perlu mempertimbangkan agar jangan sampai terjadi pertentangan antar

anggota dalam satu kelompok, walaupun ini tidak berarti siswa dapat menentukan

sendiri teman sekelompoknya.

c. Tes dan Kuis

Siswa diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian

kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa
19

usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat

berharga bagi kesuksesan kelompok.

d. Skor peningkatan individual

Skor peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras

memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor

peningkatan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat

diambil dari skor tes yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang dilakukan

oleh guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.

e. Pengakuan kelompok

Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha

yang telah dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau

bentuk penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan

bersama. Pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.

Menurut Maidiyah (1998: 7-13) langkah-langkah pembelajaran

kooperatif metode STAD adalah sebagai berikut:

a. Persiapan STAD

1) Materi

Materi pembelajaran kooperatif metode STAD dirancang sedemikian rupa untuk

pembelajaran secara kelompok. Sebelum menyajikan materi pembelajaran, dibuat

lembar kegiatan (lembar diskusi) yang akan dipelajari kelompok kooperatif dan

lembar jawaban dari lembar kegiatan tersebut.

2) Menetapkan siswa dalam kelompok


20

Kelompok siswa merupakan bentuk kelompok yang heterogen. Setiap kelompok

beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang

dan rendah. Bila memungkinkan harus diperhitungkan juga latar belakang, ras dan

sukunya. Guru tidak boleh membiarkan siswa memilih kelompoknya sendiri karena

akan cenderung memilih teman yang disenangi saja. Sebagai pedoman dalam

menentukan kelompok dapat diikuti petunjuk berikut (Maidiyah, 1998:7-8):

a) Merangking siswa

Merangking siswa berdasarkan hasil belajar akademiknya di dalam kelas. Gunakan

informasi apa saja yang dapat digunakan untuk melakukan rangking tersebut. Salah

satu informasi yang baik adalah skor tes.

b) Menentukan jumlah kelompok

Setiap kelompok sebaiknya beranggotakan 4-5 siswa.

Untuk menentukan berapa banyak kelompok yang dibentuk, bagilah banyaknya siswa

dengan empat. Jika hasil baginya tidak bulat, misalnya ada 42 siswa, berarti ada

delapan kelompok yang beranggotakan empat siswa dan dua kelompok yang

beranggotakan lima siswa. Dengan demikian ada sepuluh kelompok yang akan

dibentuk.

c) Membagi siswa dalam kelompok

Dalam melakukan hal ini, seimbangkanlah kelompok- kelompok yang dibentuk yang

terdiri dari siswa dengan tingkat hasil belajar rendah, sedang hingga hasil belajarnya

tinggi sesuai dengan rangking. Dengan demikian tingkat hasil belajar rata- rata semua

kelompok dalam kelas kurang lebih sama.

d) Mengisi lembar rangkuman kelompok


21

isikan nama-nama siswa dalam setiap kelompok pada lembar rangkuman kelompok

(format perhitungan hasil kelompok untuk pembelajaran kooperatif metode STAD).

3) Menentukan Skor Awal

Skor awal siswa dapat diambil melaluiPre Test yang dilakukan guru sebelum

pembelajaran kooperatif metode STAD dimulai atau dari skor tes paling akhir yang

dimiliki oleh siswa. Selain itu, skor awal dapat diambil dari nilai rapor siswa pada

semester sebelumnya.

4) Kerja sama kelompok Sebelum memulai pembelajaran kooperatif, sebaiknya

diawali dengan latihan-latihan kerja sama kelompok. Hal ini merupakan kesempatan

bagi setiap kelompok untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan saling

mengenal antar anggota kelompok.

5) Jadwal Aktivitas

STAD terdiri atas lima kegiatan pengajaran yang teratur, yaitu penyampaian materi

pelajaran oleh guru, kerja kelompok, tes penghargaan kelompok dan laporan berkala

kelas.

b. Mengajar

Setiap pembelajaran dalam STAD dimulai dengan presentasi kelas, yang meliputi

pendahuluan, pengembangan, petunjuk praktis, aktivitas kelompok, dan kuis.

Dalam presentasi kelas, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1) Pendahuluan
22

a) Guru menjelaskan kepada siswa apa yang akan dipelajari dan mengapa hal itu

penting untuk memunculkan rasa ingin tahu siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan

cara memberi teka-teki, memunculkan masalah-masalah yang berhubungan dengan

materi dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.

b) Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menentukan konsep

atau untuk menimbulkan rasa senang pada pembelajaran.

2) Pengembangan

a) Guru menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dari pembelajaran.

b) Guru menekankan bahwa yang diinginkan adalah agar siswa mempelajari dan

memahami makna, bukan hafalan.

c) Guru memeriksa pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan

pertanyaan-pertanyaan.

d) Guru menjelaskan mengapa jawabannya benar atau salah.

e) Guru melanjutkan materi jika siswanya memahami pokok masalahnya.

3) Praktek terkendali

a) Guru menyuruh siswa mengajarkan soal-soal atau jawaban pertanyaan-pertanyaan

yang diajukan oleh guru.

b) Guru memanggil siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan

soal-soal yang diajukan oleh guru. Hal ini akan menyebabkan siswa mempersiapkan

diri untuk menjawab pertanyaan atau soal-soal yang diajukan.


23

c) Guru tidak perlu memberikan soal atau pertanyaan yang lama penyelesaiannya pada

kegiatan ini. Sebaliknya siswa mengerjakan satu atau dua soal, dan kemudian guru

memberikan umpan balik.

c. Kegiatan Kelompok

1) Pada hari pertama kegiatan kelompok STAD, guru sebaiknya menjelaskan apa yang

dimaksud bekerja dalam kelompok, yaitu:

a) Siswa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman dalam

kelompoknya telah mempelajari materi dalam lembar kegiatan yang diberikan oleh

guru.

b) Tidak seorang pun siswa selesai belajar sebelum semua anggota kelompok

menguasai pelajaran.

c) Mintalah bantuan kepada teman satu kelompok apabila seorang anggota kelompok

mengalami kesulitan dalam memahami materi sebelum meminta bantuan kepada

guru.

d) Dalam satu kelompok harus saling berbicara sopan.

2) Guru dapat mendorong siswa dengan menambahkan peraturan- peraturan lain sesuai

kesepakatan bersama. Selanjutnya kegiatan yang dilakukan guru adalah:

a) Guru meminta siswa berkelompok dengan teman sekelompoknya.

b) Guru memberikan lembar kegiatan (lembar diskusi) beserta lembar jawabannya.

c) Guru menyarankan siswa agar bekerja secara berpasangan atau dengan seluruh

anggota kelompok tergantung pada tujuan yang dipelajarinya. Jika mereka

mengerjakan soal-soal maka setiap siswa harus mengerjakan sendiri dan selanjutnya
24

mencocokkan jawabannya dengan teman sekelompoknya. Jika ada seorang teman

yang belum memahami, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk

menjelaskan.

d) Tekankanlah bahwa lembar kegiatan (lembar diskusi) untuk diisi dan dipelajari.

Dengan demikian setiap siswa mempunyai lembar jawaban untuk diperiksa oleh

teman sekelompoknya.

3) Guru melakukan pengawasan kepada setiap kelompok selama siswa bekerja dalam

kelompok. Sesekali guru mendekati kelompok untuk mendengarkan bagaimana

anggota kelompok berdiskusi.

d. Kuis atau Tes

Setelah siswa bekerja dalam kelompok selama kurang lebih dua kali penyajian, guru

memberikan kuis atau tes individual. Setiap siswa menerima satu lembar kuis. Waktu

yang disediakan guru untuk kuis adalah setengah sampai satu jam pelajaran. Hasil

dari kuis itu kemudian diberi skor dan akan disumbangkan sebagai skor kelompok.

e. Penghargaan Kelompok

1) Menghitung skor individu dan kelompok

Setelah diadakan kuis, guru menghitung skor perkembangan individu dan skor

kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh setiap individu. Skor

perkembangan ditentukan berdasarkan skor awal siswa.

2) Menghargai hasil belajar kelompok


25

Setelah guru menghitung skor perkembangan individu dan skor kelompok, guru

mengumumkan kelompok yang memperoleh poin peningkatan tertinggi. Setelah itu

guru memberi penghargaan kepada kelompok tersebut yang berupa sertifikat atau

berupa pujian. Untuk pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.

f. Mengembalikan kumpulan kuis yang pertama

Guru mengembalikan kumpulan kuis pertama kepada siswa

2.4 Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran,

perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guru menunjang keberhasilan

proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan

aktivitas siswa, yaitu meningkatnya jumlah siswa yang terlibat aktif belajar,

meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab, meningkatnya jumlah

siswa saling berinteraksi membahas materi pembelajaran (Kunandar, 2008: 277).

Menurut Dzamarah & Zain, (2006: 44-45) biasanya aktivitas anak didik akan

berkurang bila bahan pelajaran yang guru berikan tidak atau kurang menarik

perhatiannya, disebabkan cara mengajar yang mengabaikan prinsip-prinsip mengajar,

seperti apersepsi dan korelasi, dan lain-lain. Aktivitas anak didik bukan hanya secara

individual, tetapi juga dalam kelompok sosial. Aktivitas anak didik dalam kelompok

sosial akan membuahkan interaksi dalam kelompok. Interaksi dikatakan maksimal

bila interaksi itu terjadi antara guru dengan semua anak didik, antara anak dengan

guru, dan antara anak didik dengan anak didik dalam rangka bersama-sama mencapai

tujuan yang telah ditetapkan bersama.


26

Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Menurut

Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2006: 101), aktivitas siswa dapat digolongkan

sebagai berikut:

1. Visual activities, misalnya membaca, memerhatikan gambar demonstrasi,

percobaan, pekerjaan orang lain.

2. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,

mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan interupsi.

3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi,

musik, pidato.

4. Writing activities, misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

5. Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.

6. Motor activities, seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model

mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.

7. Mental activities, misalnya menanggapi, mengingat, memecahkan soal,

menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.

8. Emotional activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira,

bersemangat, bergairah, berani, tenang, dan gugup.

Menurut Sudirman dkk. (dalam Djamarah & Zain, 2006: 49) aktivitas sebagai

sumber belajar biasanya meliputi:

1. Tujuan khusus yang harus dicapai oleh siswa.

2. Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari.

3. Aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan pengajaran.
27

Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti di uraikan diatas, menunjukkan bahwa

aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi.

2.5 Hasil Belajar

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,

sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar

berupa:

1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk

bahasa, baik lisan maupun tertulis.

2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan

lambang.

3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas

kognitifnya sendiri.

4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani

dan urusan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian

terhadap objek tersebut (Suprijono, 2009: 5-6).

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku secara keseluruhan bukan hanya

salah satu aspek potensi kemampuan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang

dikatagorisasi oleh pakar diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah

melainkan komprehensif (Suprijono, 2009: 7).


28

Menurut Dimyati & Mudjiono,(2002: 20) hasil belajar merupakan suatu

puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi

guru.Hasil belajar dapat berupa dampak pengajar dan dampak pengiring. Kedua

dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa. Menurut Sudjana (dalam Kunandar,

2008: 276) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan

alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes

lisan, maupun tes perbuatan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar

tentang simbol-simbol, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap, keterampilan, dan

pola-pola perbuatan yang diukur dengan menggunakan alat pengukuran berupa tes

yang disusun secara terencana, baik berupa tes tertulis, tes lisan, maupun tes

perbuatan.

Hasil belajar matematika merupakan tolak ukur atau gambaran berhasil atau

tidaknya suatu pembelajaran matematika. Untuk melihat hasil belajar matematika

dilakukan suatu evaluasi hasil belajar matematika terhadap siswa yang bertujuan

untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai materi atau belum.

2.6 Evaluasi Hasil Belajar

Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation; dalam

bahasa Arab: al-Taqdir; dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya

adalah value; dalam bahasa Arab: al-Qimah; dalam bahasa Indonesia berarti: nilai.

Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan (educational evaluation =

al_taqdir al-Tarbawiy) dapat diartikan sebagai: penilaian dalam bidang pendidikan


29

atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan (Sudijono, 2011:

1).

Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai

tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program (Syah, 2009: 197). Roestiyah

yang dikutip oleh Djamarah & Zain, (2005: 50) mengatakan bahwa evaluasi adalah

kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan

dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang

dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah

kegiatan yang dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap kapabilitas dan tingkat

keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan guna megetahui

sebab akibat dan hasil belajar siswa.

Tujuan penggunaan evaluasi menurut Pasaribu & Simanjuntak yang dikutip

oleh Dzamarah & Zain (2006: 50-51) adalah sebagai berikut.

1. Tujuan umum dari evaluasi adalah:

a. mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam

mencapai tujuan yang diharapkan.

b. memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang di dapat.

c. menilai metode belajar yang digunakan.

2. Tujuan khusus dari evaluasi adalah:

a. merangsang kegiatan siswa.

b. menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.


30

c. memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan, dan

bakat siswa yang bersangkutan.

d. memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang

tua dan lembaga pendidikan.

e. untuk memperbaiki mutu pembelajaran/cara belajar dan metode mengajar.

Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal

58 (1) evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untuk memantau proses,

kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik, secara berkesinambungan.

Dengan demikian, maka evaluasi hasil belajar harus dilakukan guru secara kontinu,

bukan hanya pada musim-musim ulangan terjadwal atau ujian semata.

2.7 Kerangka Berpikir

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk

meningkatkan keaktifan siswa adalah dengan model pembelajaran kooperatif tipe

STAD. Model pembelajaran ini merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan

pembelajaran yang menempatkan siswa kelas VII D sebagai subjek. Dengan model

ini, mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positifModel

pembelajaran ini bertujuan untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial

agar siswa tidak pasif sehingga diharapkan seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif

dalam kegiatan pembelajaran. Atas dasar pemikiran tersebut maka model

pembelajaran STAD akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas

VIID SMP IT Nurul Fikri Banjarmasin pada materi Persamaan dan Pertidaksamaan

Linier.
31

Bagan Kerangka Berpikir Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Student Team Achievement Divisions (STAD)

Kondisi
Awal

Guru

Metode Langsung Metode Ceramah

Aktivitas dan Hasil Belajar

Tindakan

NHT

Hasil Yang
Diharapkan

Siklus

Apakah Aktivitas Deskripsi


dan Hasil Belajar Rencana
Tidak Mencapai Indikator Ya Tindakan
Keberhasilan Pelaksanaan
Tindakan
Observasi dan
Evaluasi
refleksi
32

2.8 Hipotesis Tindakan

Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah jika diterapkan

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD maka

akan terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi system

persamaan linier di kelas Student Team Achievement Divisions (STAD)