Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan desa merupakan bagian integral dari pembangunan nasional,

dengan demikian pembangunan desa mempunyai peranan yang penting dan bagian yang

tidak terpisahkan serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah dan

nasional. Hal tersebut terkait dengan begitu banyaknya program dan kegiatan yang

dirancang oleh pemerintah untuk pembangunan desa.

Pembangunan di negara yang sedang berkembang mengandung dua dimensi,

yaitu tujuan dan proses. Tujuan pembangunan sudah pasti kondisi kehidupan yang lebih

baik sebagaimana yang diinginkan oleh masyarakat. Sedangkan proses untuk mencapai

tujuan itu dinyatakan dalam berbagai strategi pembangunan.

Todaro (2000) mengemukakan bahwa pembangunan bersifat multidimensional

yang mengandung perubahan besar dalam struktur sosial, perilaku penduduk dan institusi

nasional dalam upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mengurangi

ketimpangan dan mengeradikasi kemiskinan absolut.

Data penduduk Indonesia pada tahun 2005 menunjukkan proporsi penduduk yang

bertempat tinggal di perdesaan jika dibandingkan di perkotaan tidak lagi berbeda jauh,

yakni 113,7 juta jiwa di perdesaan dan 106,2 juta jiwa di perkotaan (BPS, 2005). Namun,

perbandingan tingkat kesejahteraan masyarakat dan tingkat pembangunan wilayah di

antara keduanya menunjukkan kawasan perdesaan masih relatif tertinggal jika

dibandingkan dengan perkotaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan pada tahun 2004

Universitas Sumatera Utara


mencapai 24,6 juta jiwa, jauh lebih tinggi daripada di perkotaan, yaitu 11,5 juta jiwa.

Sementara itu, jangkauan pelayanan infrastruktur di perdesaan masih jauh dari memadai.

Misalnya, baru sekitar 6,4 persen rumah tangga perdesaan yang telah dilayani oleh

infrastruktur perpipaan air minum, sedangkan di perkotaan mencapai 32 persen (Yadi,

2010).

Permasalahan yang dihadapi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat

perdesaan dapat dimasukkan ke dalam beberapa permasalahan utama sebagai berikut (1)

masih kurang berkembangnya kehidupan masyarakat perdesaan karena terbatasnya akses

masyarakat perdesaan, terutama kaum perempuan, ke sumber daya produktif, seperti

lahan, permodalan, infrastruktur, dan teknologi serta akses terhadap pelayanan publik dan

pasar; (2) masih terbatasnya pelayanan prasarana dan sarana permukiman perdesaan,

seperti air minum, sanitasi, persampahan, dan prasarana lingkungan lain; (3) masih

terbatasnya kapasitas kelembagaan pemerintahan di tingkat lokal dan kelembagaan sosial

ekonomi untuk mendukung peningkatan sumber daya pembangunan perdesaan; dan (4)

masih kurangnya keterkaitan antara kegiatan ekonomi perkotaan dan perdesaan yang

mengakibatkan makin meningkatnya kesenjangan ekonomi dan kesenjangan pelayanan

infrastruktur antarwilayah (Yadi, 2010).

Upaya mempercepat pembangunan regional dapat dilaksanakan dengan

meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tingkat produktivitasnya. Efisensi dalam

kegiatan ekonomi harus didukung oleh infrastruktur yang memadai sehingga mendorong

peningkatan potensi daerah masing-masing secara berkesinambungan. Pertumbuhan

potensi daerah akan pertukaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan

memungkinkan bergeraknya perekonomian daerah sesuai dengan potensinya serta secara

Universitas Sumatera Utara


bersama-sama menuju proses pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin meningkat

sesuai dengan kemampuannya yang optimal.

Walaupun kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia telah berlangsung

cukup lama dengan biaya yang cukup besar dan kontribusinya dalam peningkatan

pertumbuhan ekonomi cukup signifikan, namun masih banyak masalah yang dihadapi

beberapa wilayah di Indonesia, antara lain perencanaan yang lemah, kuantitas yang

belum mencukupi dan kualitas yang masih rendah (Ikhsan, 2004).

Salah satu masalah yang dihadapi dalam peningkatan ekonomi lokal adalah

kurang tersedianya infrastruktur yang memadai, terutama di daerah perdesaan. Kondisi

pelayanan infrastruktur perdesaaan umumnya masih kurang, hal ini terlihat dari sebagian

besar penduduk di desa tertinggal harus menempuh jarak sejauh 6-10 km ke pusat

pemasaran (terutama pusat kecamatan), bahkan di desa lainnya penduduk harus

menempuh jarak lebih dari 10 km dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Penduduk

yang terlayani air minum perpipaan perdesaan masih sangat rendah, selebihnya masih

mengambil langsung dari sumber air yang belum terlindungi. Sementara itu, banyak

petani di desa tertinggal memiliki luas lahan pertanian kurang dari 0,5 ha (lahan

marjinal). Dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan strategi penanganan penyediaan

infrastruktur perdesaan yang dapat mendukung terjaminnya peningkatan dan

keberlanjutan kegiatan perekonomian di perdesaan (Ikhsan, 2004).

Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua

pihak secara bersama dan terkoordinasi sehingga u diperlukan perubahan yang bersifat

sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Untuk

menanggulangi permasalahan kemiskinan di perdesaan, pemerintah telah mencanangkan

Universitas Sumatera Utara


program revitalisasi pertanian dan pembangunan dengan pemenuhan kebutuhan

pendukung produksi (khususnya pertanian) dan pendukung pasca produksi (khususnya

pemasaran).

Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan

lapangan kerja, pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

(PNPM) Mandiri mulai tahun 2007. Pada tahun 2008 PNPM Mandiri diperluas dengan

melibatkan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)

untuk mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah sekitarnya.

PNPM Mandiri diperkuat dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang

dilaksanakan oleh berbagai departemen/sektor dan pemerintah daerah. Kabupaten

Langkat merupakan salah satu daerah Kabupaten yang mendapat program PISEW.

Pelaksanaan PNPM Mandiri 2008 juga diprioritaskan pada desa-desa tertinggal.

Salah satu tujuan dari program PISEW adalah mempercepat pembangunan

ekonomi masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal. Adapun lingkup kegiatan meliputi

pembangunan infrastruktur skala kecil perdesaan dengan kategori infrastruktur yang

dibangun: a) Transportasi (jalan, jembatan, titian); b) Peningkatan produksi Pertanian

(irigasi tersier); c) Pemasaran hasil pertanian (pasar desa); d) Air Bersih dan sanitasi

(Prasarana Air Bersih, MCK); e) Kesehatan (pembangunan posyandu, puskesdes dan

rehabilitasi puskesmas); dan f) Pendidikan (rehabilitasi sekolah dasar dan sekolah

menegah pertama, Penyediaan Meubeler).

Infrastruktur di Kabupaten Langkat penting dibangun disebabkan kehidupan

masyarakat tidak dapat terlepas dari kebutuhan infrastruktur yang memadai. Infrastruktur

adalah fasilitas fisik beserta layanannya yang diadakan untuk mendukung bekerjanya

Universitas Sumatera Utara


sistem sosial-ekonomi, agar menjadi lebih berfungsi bagi usaha memenuhi kebutuhan

dasar dan memecahkan berbagai masalah.

Selama ini pembangunan infrastruktur menjadi bagian integral dari pembangunan

nasional pada umumnya dan Kabupaten Langkat pada khususnya. Infrastruktur

merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Kegiatan sektor transportasi

merupakan tulang punggung pola distribusi baik barang maupun penumpang.

Ketersediaan infrastruktur air minum dan sanitasi, secara luas dan merata, serta

pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menentukan tingkat kesejahteraan

masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa program PISEW bukan sekedar berbicara

mengenai berapa panjang jalan yang telah dibangun, berapa jembatan yang telah

dibangun, atau berapa irigasi yang telah dibangun, akan tetapi yang terpenting dan

merupakan pokok permasalahan adalah bagaimana program PISEW tersebut dapat

terlaksana sesuai dengan tujuan dan mengembangkan wilayah di Kabupaten Langkat.

Pada penelitian ini permasalahan dibatasi pada aspek manfaat pelaksanaan program

PISEW dan pengembangan wilayah di Kabupaten Langkah melalui pendapatan

masyarakat, kesempatan kerja, kelancaran usaha, peningkatan pendidikan dan kesehatan.

Mengingat begitu besarnya dana yang telah disalurkan melalui Program

Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) di Kabupaten Langkat,

maka dipandang perlu diketahui secara jelas bagaimana pengaruh Program PISEW

terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Langkat, untuk itu perlu mengkaji manfaat

pelaksanaan Program PISEW guna dapat memberikan masukan dan pertimbangan pada

Universitas Sumatera Utara


kebijakan Pemerintah Kabupaten Langkat yang akan datang dalam mewujudkan program

tersebut.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini

adalah:

1. Bagaimana pengaruh program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi terhadap

pengembangan wilayah di Kabupaten Langkat?

2. Bagaimana persepsi masyarakat mengenai hasil kerja pengembangan infrastruktur

sosial ekonomi di Kabupaten Langkat ?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis:

1. Pengaruh program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi terhadap

pengembangan wilayah di Kabupaten Langkat.

2. Persepsi masyarakat mengenai hasil kerja pengembangan infrastruktur sosial ekonomi

di Kabupaten Langkat.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi pemerintah Kabupaten

Langkat dalam merencanakan dan mengimplementasikan program pengembangan

Universitas Sumatera Utara


infrastruktur sosial ekonomi wilayah yang lebih baik di masa mendatang, sehingga

kesejahteraan rakyat dan pengembangan wilayah menjadi lebih meningkat.

2. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat dan pihak swasta yang terlibat langsung

dalam program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah untuk dapat

lebih dapat bijaksana dalam mengelola infrastruktur sosial ekonomi.

3. Sebagai sumbangsih ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang pembangunan dan

pengembangan wilayah. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat bagi para peneliti

lain yang berminat melakukan kajian sejenis.

Universitas Sumatera Utara