Anda di halaman 1dari 7

h) Tidak menimbulkan alergi

Pemberian formula akan merangsang aktifitas system IgE dan dapat menimbulkan alergi.
ASI menimbulkan efek ini

i) Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan


Waktu menyusu kulit bayi akan menempel pada kulit ibu. Kontak kulit yang dini akan
sangat besar pengaruhnya pada perkembangan bayi kelak. Walaupun seorang ibu dapat
memberikan kasih saying yang besar dengan memberikan susu formula, tetapi menyusui sendiri
akan memberikan efek psikologis yang sangat besar. Dengan photo inframera, payudara ibu
menyusui lebih hangat disbanding payudara ibu tidak menyusui.
Interaksi yang timbul antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa aman bagi bayi.
Perasaan aman ini penting untuk menimbulkan dasar kepercayaan pada bayi. Yaitu dengan
mempercayai orang lain (ibu) maka akan timbul rasa percaya diri sendiri.

j. Menyebabkan pertumbuhan yang baik


Bayi yang mendapatkan ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir,
Pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas.

k) Mengurangi kejadian karies dentis.


Insiden caries denttis pada bayi yang mendapat susu formula lebih tnggi disbanding yang
mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur
menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan susu formula dan menyebabkan asam yang
terbentuk merusak gigi. Kecuali itu ada anggapan bahwa kadar selenium yang tinggi dalam ASI
akan mencegah caries dentis.

l) Mengurangi kejadian maloklusi

Salah satu penyebab moloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong kedapan
akibat menyusu dengan botol dan dot.

b. Manfaat ASI Untuk Ibu

1) Aspek Kesehatan Ibu


Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar
hipofisis. Oksitisin membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca
persalinan. Kejadian karsinoma mammae pada ibu yang menyusui lebih rendah
disbanding ibu yang tidak menyusui.
2) Aspek keluarga berencana
Menyusui secara murni (eksklusif) dapat menjarangkan kehamilan. Ditemukan
rata-rata jarak kelahiran ibu menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak menyusui
adalah 11 bulan. Hormon yang menyebabkan laktasi bekerja menekan hormone untuk
ovulasi, sehingga dapat menunda kembalinya kesuburan. Ibu yang sering hamil kecuali
menjadi beban bagi ibu sendiri, juga merupakan resiko tersendiri bagi ibu untuk
mendapatkan penyakit seperti anemia, resiko kesakitan dan kematian akibat persalinan.
3) Aspek psikologis
Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua
manusia.

c. Manfaan Asi Untuk Keluarga


1) Aspek ekonomi.
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk
membelikan susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. Kecuali itu, penghematan
juga disebabkan karena bayi yang mendapat ASI lebih jarang sekali sehingga mengurangi
biaya.
2) Aspek Psikologis
Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana
kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dan keluarga.

3)Aspek Kemudahan.

Menyusui praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Keluarga
tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol dan dot yang harus selalu dibersihkan, tidak
perlu minta pertolongan orang lain.

d. Manfaat ASI Untuk Negara

1). Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak

Adanya factor protektif dan nutrient yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi
bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epideiologi
menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diaer, etitis
media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah.

2). Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gabung akan memperpendek
lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan biaya yang diperlukan untuk
perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang sakit dibandingkan anak yang
tidak mendapat ASI

3). Mengurangi devisa untuk membeli susu formula

ASI dapat dianggap kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan
dapat menghemat devisa Negara sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk
membeli susu formula.
4). Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga
kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.

HALAMAN 25

Karbohidrat, protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan
bayi (Proverawati dan Rahmawati, 2012).
4. Hambatan menyusui

Aktivitas menyusui bayi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Saat menyusui,
ibu sering kali menemuiberbagai kendala. Beragam factor yang menjadi kendala ketika
menyusui dibedakan menjadi dua, yakni factor internal dan eksternal (Sunar, 2012).

a. Faktor internal.
Faktor internal sangat mempengaruhi keberhasilan menyusui bayi. Diantaranya
adalah kurangnya pengetahuan yang terkait dengan penyusuan. Karena tidak mempunyai
pengetahuan yang memadai, ibu tidak mengerti tentang cara menyusui bayi yang tepat,
manfaat ASI, berbagai dampak yang akan ditemui bila ibu tidak menyusui bayinya, dan
lain sebagainya.
b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal terkait segala segal sesuatu yang tidak akan terjadi bila factor
internal dapat dipenuhi oleh ibu, missal

1. ASI belum keluar pada hari-hari pertama setelah kelahiran bayi, sehingga ibu
berfikiran untuk memberikan susu formula
2. Ibu bekerja diluar rumah, sehingga tidak dapat memberikan ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama bayinya. Faktor ini terkait dengan pengetahuan ibu.
3. Ketidakpahaman ibu mengenai kolostrum, yakni ASI yang keluar pada hari
pertama hingga kelima atau ketujuh.
4. Sebagian ibu beranggapan bahwa kandungan gizi dalam ASI rendah, sehingga
kualiatas ASI kurang baik. Sebenarnya bayi dan ASI bersifat parasitbagi ibu.

5. Tanda Bayi Cukup Asi


Menurut Nanny (2011), bayi usia 0-6 bulandapat dinilai mendapat ASI bila
mencapai keadaan sebagi berikut.
a. Bayi minum ASI tiap 2-3jam atau dalam 24 jam minimal mendapat ASI 8 kali
pada 2-3 minggu pertama
b. Kotoran berwarna kuning pada frekuensi sering dan warna menjadi lebih muda
pada hari kelima setelah lahir
c. Bayi akan buang air kecil paling tidak 6-8 kali sehari.
d. Payudara terasa lembek, yang menandakan ASI telah habis
e. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal
f. Peryumbuhan berat dan dan tinggi badan bayi sesuai dengan grafik pertumbuhan
g. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan perkembangan motoriknya sesuai
dengan rentang usia)
h. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar akan bangun dan tidur dengan
cukup.
i. Bayi menyusu dengan kuat, kemudian melemah dan tertidur.
6. Cara Pemberian ASI
a. Pilih posisi yang nyaman lalu bersihkan putting susu sampai ke arahluar dengan kapas
dan air hangat
b. Posisikan bayi dengan baik sehingga posisi bayi berhadapan dengan ibu dan perut bayi
menempel perut ibu.
c. Masase payudara dan keluarkan sedikit ASI untuk membasahi putting susu dengan
dioleskan
d. Topang payudara dengan empat jari menahan bagian bawah dan ibu jari diatas sampai
bayimembuka mulut dengan merangsang menempelkan putting susu kesalah satu pipi
bayi.
e. Setelah mulut bayi membuka masukkan putting susu sampai daerah areola
f. Susui bayi selama mengnginkan dan berikan ASI secara bergantian pada kedua payudara.
g. Setelah bayi selesai menyusui. Oleskan ASI pada putting susu dan areola dan biarkan
kering sendiri
h. Setelah menyusui, bila bayi tidak tidur sendawakan bayi dengan meletakkan bayi
tengkurap di pangkuan kemudian ditepuk-tepuk sampai bayi bersendawa.

C. Kemandirian Dalam Pemberian ASI

1. Kemandirian

Kemandirian adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing


untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri, mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk
mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan didi dan melaksanakan tugas-tugasnya,
bertanggung jawab atas apa yang dilakukanya (Desmita, 2011).

Kemandirian adalah suatu sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama
perkembanganya, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapai
berbagai situasi lingkungan, sehingga individu akhirnya akan mampu berfikir dan bertindak
sendiri dengan kemandirianya ( Tjandraningtyas, 2004).

Dari uraian tersebut maka kemandirian dalam rooming in yaitu ibu memiliki
keyakinan bahwa ibu dapat memberkan ASI pada bayinya segera setelah lahir baik pemberian
kolostrum maupun ASI.

2. Bentuk Kemandirian

Menurut Robert Havighurst (1972 dalam Desmita (2011) membedakan


kemandirian atas empat bentuk kemandirian yaitu:

a. Kemandirian Emosi
Kemandirian emosi yaitu kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak tergantungnya
kebutuhan emosi kepada orang lain.
b. Kemandirian Ekonomi
Kemandirian ekonomi yaitu kemampuan mengatur ekonomi sendiri dan tidak
tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain.
c. Kemandirian Intelektual
Kemandirian intelektual yaitu kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang di
hadapi
d. Kemandirian Sosial
Kemandirian social yaitu kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan
tidak tergantungpada aksi orang lain.

3. Pelaksanaan Pemberian ASI Dalam Rawat Gabung


Pelaksanaan pemberian ASI dalam rawat gabung merupakan ahir dari kegiatan
yang telah dimulai dari perawatan prenatal sampai ruang bersalin dan kemudian diruang rawat
gabung. Hal itu dimaksudkan untuk mempersiapkan ibu agar sudah memulai adaptasi, mengerti
dan ahirnya dapat menerima konsep rawat gabung (Soetjingsih, 1997).

4. Hubungan Rooming In dengan Kemandirian


Dalam pelaksaaanya bayi harus dekat ibunya semenjak dilahirkan sampai saatnya
pulang. Suatu hasil penelitian di Ghana pada tahun 2006 yang diterbitkan oleh jurnal
Pediatricsdalam Siswono (2007) menunjukkan bahwa 16 % kematian bayi dapat dicegah mela;ui
pemberian ASI pada bayi sejak pertama kelahiranya. Upaya pemberian ASI ini merupakanusaha
sadar kesehatan ibu dan kemandirianya memberikan ASI pada bayi.
Bberapa indicator keberhasilan ibu dalam kemandirian asi pada bayinya adalah
ibu dapat menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan
memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh para petugas, dan ibu
mempunyai pengalaman baru dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di rumah sakit.
Perlu upaya meningkatkan kemampuan ibu dalam memberikan ASI pada bayinya, hal ini harus
didukung oleh intervensi instansi kesehatan agar peningkatan pemberian ASI pada bayi baru
lahir dengan pelaksanaan rawat gabung tercapai (Pardede, 2009)

D. Nifas
1. Defenisi Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berahir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil (Nanny,2011).
Masa nifas berlangsungselama kira-kira 6 minggu atau 42 hari. Namun secara
keseluruhan akan ppulih dalam waktu 3 bulan (Anggraini,2010)
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang diambil setelah plasenta keluar dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti semula (sebelum hamil), masa nifas
berlangsung kira-kira selama 6 minggu (Sulistyawati, 2009)

2. Tujuan Asuhan Masa Nifas


Menurut Anggraini (2010), tujuan asuhan masa nifas adalah :
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya , baik fisik maupun psikologi
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi maslah, mengobati atau merujuk
bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pelayanan KB
d. Mendapatkan kesehatan emosi

3. Tahapan Masa Nifas

Menurut Anggraini (2010), tahapan masa nifas dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :