Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FILARIASIS

A. Tinjauan Teoritis
1. Konsep Dasar Filariasis
a. Pengertian
Beberapa pengertian Filariasis yang dibedakan menurut sumber, yaitu :
1.) Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda
yang tersebar di Indonesia (Widoyono, 2008, hal.139)
2.) Filariasis ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi
cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk pada kelenjar
getah bening, Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak
mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa
pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-
laki. (Witagama,dedi.2009).
3.) Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis cacing filaria seperti
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori yang hidup di
dalam saluran limfe dan pembuluh limfe serta ditularkan oleh berbagai
spesies nyamuk (Soedarto, 2007, hal.86).
4.) Filariasis adalah penyakit yang dapat disebabkan oleh infestasi satu atau dua
cacing jenis filaria yaitu Wucheria bancrofti atau Brugia malayi yang
bentuknya langsing dan ditemukan di dalam sistem peredaran darah limfe,
otot, jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrata (T Pohan,Herediman,
2009, hal. 1767).
5.) Filariasis adalah penyakit infeksi yang bersifat menahun yang disebabkan
cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan
cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, kantong buah zakar,
payudara dan kelamin wanita.Semua orang baik laki-laki, perempuan, anak-
amak dan orang tua dapat terserang penyakit ini.
(anosetiabudi.blogspot.com, 2008)

b. Klasifikasi
Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai.
Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:
a. Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel)
bila tungkai diangkat.
b. Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal
(irreversibel) bila tungkai diangkat.
c. Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila
tungkai diangkat, kulit menjadi tebal.
d. Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit
(elephantiasis). (T.Pohan,Herdiman,2009)

c. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti,
Brugia Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh
manusia terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. infeksi cacing ini menyerang
jaringan viscera, parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea, family
onchorcercidae.
Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun
dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing
(microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.
Penyebarannya diseluruh Indonesia baik di pedesaan maupun diperkotaan.
Nyamuk merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk yang diketahui
bertindak sebagai vektor dari genus: mansonia, culex, anopheles, aedes dan armigeres.
a. W. bancrofti perkotaan vektornya culex quinquefasciatus
b. W. bancrofti pedesaan: anopheles, aedes dan armigeres
c. B. malayi : mansonia spp, an.barbirostris.
d. B. timori : an. barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan
tipenya.Di Indonesia semuanya nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur
hidup ketiga spesies sama Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan
lingkungan habitatnya. ( Got, sawah, rawa, hutan )

 ciri-ciri cacing dewasa atau makrofilaria :


a. Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe.
b. Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm.
c. Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm.
d. Berkembang secara ovovivipar.
 Mikrofilaria:
a. Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
b. Mempunyai sarung. 200 – 600 X 8 um.
 Faktor yang mempengaruhi :
a. Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
b. Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan,
reservoir, vector.
c. Lingkungan social – ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat,
Kebiasaan ,dsb.
d. Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb (Witagama,dedi.2009)

Siklus Hidup Cacing Filaria


Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk
tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terserang filariasis, sehingga
mikrofilaria yang terdapat ditubuh penderita ikut terhisap kedalam tubuh nyamuk.
Mikrofilaria tersebut masuk kedalam paskan pembungkus pada tubuh nyamuk, kemudian
menembus dinding lambung dan bersarang diantara otot-otot dada (toraks). Bentuk
mikrofilaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih satu
minggu larva ini berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang disebut
larva stadium II. Pada hari ke sepuluh dan seterusnya larva berganti kulit untuk kedua
kalinya, sehingga tumbuh menjadi lebih panjang dan kurus, ini adalah larva stadium III.
Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi mula-mula ke
rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk.

Apabila nyamuk yang mengandung mikrofilaria ini menggigit manusia. Maka


mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif ikut masuk
kedalam tubuh manusia (hospes). Bersama-sama dengan aliran darah dalam tubuh
manusia, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limfe. Didalam
pembuluh limfe larva mengalami dua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi cacing
dewasa yang sering disebut larva stadium IV dan larva stadium V. Cacing filaria yang
sudah dewasa bertempat di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe
dan akan terjadi pembengkakan.

 Cacing filaria sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


a. Cacing dewasa (makrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih kekuningan.
Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih
susu.
b. Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65-100 mm dan ekornya lurus
berujung tumpul. Untuk makrofilaria yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm
dan ekor melingkar. Sedangkan mikrofilaria memiliki panjang kurang lebih 250 mikron,
bersarung pucat.
c. Tempat hidup makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe dan kelenjar limfe. Tetapi
pada malam hari mikrofilaria terdapat didalam darah tepi sedangkan pada siang hari
mikrofilaria terdapat di kapiler alat-alat dalam seperti paru-paru, jantung dan hati.

d. Patofisiologi
Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit akan
menuju pembuluh limfa dan nodus limfa. Di pembuluh limfa terjadi perubahan dari larva
stadium 3 menjadi parasit dewasa. Cacing dewasa akan menghasilkan produk – produk
yang akan menyebabkan dilaasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang
berakibat aliran limfa retrograde. Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan
terbentuk limfedema. (Witagama,dedi.2009)
Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan antigen
parasit mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan sitokin seperti IL 1, IL 6,
TNF α. Sitokin - sitokin ini akan menstimulasi sum- sum tulang sehingga terjadi
eosinofilia yang berakibat meningkatnya mediator proinflamatori dan sitokin juga akan
merangsang ekspansi sel B klonal dan meningkatkan produksi IgE. IgE yang terbentuk
akan berikatan dengan parasit sehingga melepaskan mediator inflamasi sehingga timbul
demam. Adanya eosinofilia dan meningkatnya mediator inflamasi maka akan
menyebabkan reaksi granulomatosa untuk membunuh parasit dan terjadi kematian parasit.
Parasit yang mati akan mengaktifkan reaksi inflam dan granulomatosa. Proses
penyembuhan akan meninggalkan pembuluh limfe yang dilatasi, menebalnya dinding
pembuluh limfe, fibrosis, dan kerusakan struktur. Hal ini menyebabkan terjadi ekstravasasi
cairan limfa ke interstisial yang akan menyebabkan perjalanan yang kronis.
(harun,riyanto.2010)

e. WOC (Web Of Caution )

Cacing Filaria

Masuk ke darah

Nyamuk Filaria

Larva

Sampai ke Jaringan Limfe

Parasit Dewasa (Produk – Produk


Mikroorganisme)
Mediator Inflamasi

Aliran Limfe Rusak Disfungsi Katup Hipotalamus

Limfe Edema ( Pembengkakan


Limfe)
Terjadi Perubahan Demam Di daerah Lipatan (paha, Pecah
Fisik ketiak)
Harga Diri Peningkatan suhu Kemerahan, panas, Mengeluarkan nanah
Rendah tubuh sakit & darah
f. Manifestasi Klinis
Hipertermi
Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan Kerusakan
Nyeri oleh cacing dewasa Integritas
pada sistem
Kulit
limfatik dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Selain itu, juga oleh reaksi
hipersensitivitas dengan gejala klinis yang disebut occult filariasis.
Dalam proses perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan limfangitis dan limfadenitis
akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik.
Perjalanan penyakit berbatas kurang jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya, tetapi
bila diurutkan dari masa inkubasi dapat dibagi menjadi:
a. Masa prepaten
Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia yang
memerlukan waktu kira-kira 3¬7 bulan. Hanya sebagian tdari penduduk di daerah endemik
yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua
kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok
yang asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
b. Masa inkubasi
Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya gejala klinis yang
biasanya berkisar antara 8-16 bulan.
c. Gejala klinik akut
Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang disertai panas dan
malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut
dapat mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
d. Gejala menahun
Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang
ditemukan pada stadium ini, sedangkan limfadenitis masih dapat terjadi. Gejala kronis ini
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani
keluarganya. (Witagama,dedi.2009)
 Filariasis bancrofti
Pada filariasis yang disebabkan Wuchereria bancrofti pembuluh limfe alat kelamin
laki-laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis dan orchitis. Limfadenitis inguinal
atau aksila, sering bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri
dalam 3-15 hari. Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun.
 Filariasis brugia
Pada filariasis yang disebabkan Brugia malayi dan Brugia timori limfadenitis paling
sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang
disertai limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri, dan sering terjadi
limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama
beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 kali dalam satu tahun sampai beberapa kali
perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus
dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu hingga 3 bulan.
 Filariasis bancrofti
Keadaan yang sering dijumpai adalah hidrokel. Di dalam cairan hidrokel dapat
ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai
bawah, skrotum, vulva atau buah dada, dengan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali
dari ukuran asalnya. Chyluria dapat terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita
menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan. Elefantiasis terjadi di tungkai bawah
di bawah lutut dan lengan bawah. Ukuran pembesaran ektremitas umumnya tidak melebihi
2 kali ukuran asalnya. (Witagama,dedi.2009)

g. Pemeriksaan Diagnostik
1.) Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis
klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and
Chronic Disease Rate).
Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis
adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala
menahun.
2.) Diagnosis Parasitologik
Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada
pemeriksaan darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang
hari, 30 menit setelah diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat
ditentukan species cacing filaria.
3.) Radiodiagnosis
Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal
penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign).
Pemeriksaan limfos intigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel
dengan radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik, sekalipun
pada penderita yang mikrofilaremia asimtomatik.

4.) Diagnosis Immunologi


Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi, amikrofilaremia
dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan
cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.
Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia, tidak
membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi
metabolit, ekskresi dan sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis
parasitologik. Gib 13, antibodi monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi
yang cukup baik dengan mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.
(Marty,Aileen,M.2009)

h. Penatalaksanaan
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik
untuk filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal.
Obat ini ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi
samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa
demam, berupa sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing,
anoreksia, kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal
dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien,
hidrokel, funikulitis dan epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah
dosis pertama, hilang spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita
mikrofilaremik. Reaksi samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis
pertama, hilang spontan setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering
ditemukan pada penderita dengan gejala klinis. Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan
obat simtomatik.(Harun,riyanto.2010)
Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis brugia,
sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai dosis total standar,
atau diberikan tiap minggu atau tiap bulan. Karena reaksi samping DEC sering
menyebabkan penderita menghentikan pengobatan, maka diharapkan dapat dikembangkan
penggunaan obat lain (seperti Ivermectin) yang tidak/kurang memberi efek samping
sehingga lebih mudah diterima oleh penderita.
DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan peroral
sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3
jam, dan diekskresi melalui air kemih. DEC tidak diberikan pada anak berumur kurang dari
2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah.
Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6
mg/kg berat badan, sedangkan untuk filariasis brugia diberikan 5 mg/kg berat badan
selama 10 hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg berat badan selama 2¬3
minggu.
Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia, gejala akut,
limfedema, chyluria dan elephantiasis dini. Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali
untuk mendapatkan penyembuhan sempurna. Elephantiasis dan hidrokel memerlukan
penanganan ahli bedah.(harun,riyanto.2010)
Pengobatan nonfarmako pada filariasis adalah istirahat di tempat tidur,
pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi edema, peninggian tungkai,
perawatan kaki, pencucian dengan sabun dan air, ekstremitas digerakkan secara teratur
untuk melancarkan aliran, menjaga kebersihan kuku, memakai alas kaki, mengobati luka
kecil dengan krim antiseptik atau antibiotik, dekompresi bedah, dan terapi nutrisi rendah
lemak, tinggi protein dan asupan cairan tinggi.
Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan menggunakan DEC ada
beberapa cara yaitu dosis standard, dosis bertahap dan dosis rendah. Dianjurkan Puskesmas
menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan mf rate sampai < 1%. Pelaksanaan
melalui peran serta masyarakat dengan prinsip dasa wisma. Penduduk dengan usia kurang
dari 2 tahun, hamil, menyusui dan sakit berat ditunda pengobatannya. DEC diberikan
setelah makan dan dalam keadaan istirahat.
1. Dosis standar Dosis tunggal 5 mg/kg berat badan; untuk filariasis bancrofti selama 15
hari, dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.
2. Dosis bertahap Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, dan 1/2 tablet
untuk usia kurang dari 10 tahun; disusul 5 mg/kg berat badan pada hari 5 - 12 untuk
filariasis bancrofti dan pada hari 5 - 17 untuk filariasis brugia.
3. Dosis rendah Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, 1/2 tablet untuk usia
< 10 tahun, seminggu sekali selama 40 minggu. (Marty,Aileen,M.2009). Pencegahan `
Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan, dengan cara
pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmisi oleh vektor.
Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan:
1. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0%
2. Menurunkan microfilarial (mf) rate menjadi < 5% 3. Mempertahankan Chronic Disease
Rate (CDR) Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang potensial masih ada
penularan dan daerah endemis baru. Dengan prioritas sasaran ditujukan pada:
a. Daerah endemis lama dengan mf rate > 5%
b. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah pembangunan, transmigrasi,
pariwisata dan perbatasan
Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan, pemberantasan nyamuk dan penyuluhan.
Pengobatan merupakan kegiatan utama dalam pemberantasan filariasis, yang akan
menurunkan ADR dan mf rate.
Di suatu daerah yang diperkirakan endemik filariasis, perlu diselenggarakan suatu
surveilans epidemiologis. Pada daerah tersebut 10% dari penduduknya perlu diperiksa
untuk menentukan Acute Disease Rate dan mf rate. Pengobatan massal dilakukan bila
ADR > 0%, dan mf rate > 5%; sedangkan pengobatan selektif dilakukan bila ADR =
0%, dan mf rate < 5%. (Marty,Aileen,M.2009)

Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:


1. Pemberantasan nyamuk dewasa
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : aerial spraying
2. Pemberantasan jentik nyamuk
a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : minyak tanah
c. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan rawa dan
saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
b. Menggunakan repellent
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan
sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan
filariasis.
Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk
daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera
memeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat
DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.
Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan melakukan
pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria.
(Marty,Aileen,M.2009)
i. Komplikasi
a. Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena.
b. Elephantiasis tungkai.
c. Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva
vagina dan payudara,
d. Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pda saluran limfe testis berulang:
pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan
yang berada di dalam rongga itu memang adadan berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
e. Kiluria : kencing seperti susu karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing
dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.
(T.Pohan,Herdiman.2009)

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pasien Filariasis

a. Pengkajian

1) Data perawatan

Pengkajian adalah hal yang paling penting dilakukan oleh perawat untuk mengenal
masalah pasien agar dapat menjadi pedoman dalam melakukan tindakan keperawatan.
Pada pengkajian pasien Filariasis didapatkan data sebagai berikut:

a) Data subjektif, yaitu terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki,
nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak dan kakinya yang sakit tampak
lebih besar dari kaki yang satunya serta demam berulang selama 4 hari.
b) Data objektif, yaitu tampak meringis ketika berjalan, skala nyeri 7, nyeri tekan (+),
non pitting oedema (+), N: 110 x/mnt, RR 24x/mnt, TD 130/60 mmHg, Suhu 38,5°c
Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai Nyeri, wajah tampak memerah,
kulit teraba hangat, inflamasi pada kelenjar getah bening, susah berjalan.

2) Diagnosa keperawatan

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening.
b. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe.
c. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik.
d. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit.

3) Perencanaan

Perencanaan keperawatan terdiri atas dua tahap yaitu prioritas diagnosa dan rencana
keperawatan. Perencanaan perawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan
yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien.
Perencanaan ditulis sesuai dengan prioritas diagnosa yang ada.

1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening.
Tindakan keperawatan:

1. Berikan kompres pada daerah frontalis dan axial.


2. Monitor vital sign, terutama suhu tubuh.
3. Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan, misalnya
sediakan selimut yang tipis.
4. Anjurkan kien untuk banyak minum air putih.
5. Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas tinggi.
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).

2) Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe.


Tindakan keperawatan:

1. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.


2. Observasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).
3. Anjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat anelgetik).

3) Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik.


Tindakan keperawatan:

1. Akui kenormalan perasaan.


2. Dengarkan keluhan pasien dan tanggapan – tanggapannya mengenai keadaan yang
dialami.
3. Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan penolakan
atau tudak terlalu menpermasalahkan perubahan aktual.
4. Anjurkan kepada orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal
(bercerita tentang keluarga).
5. Terima keadaan pasien, perlihatkan perhatian kepada pasien sebagai individu.
6. Berikan informasi yang akurat. Diskusikan pengobatan dengan jujur jika pasien
sudah berada pada fase menerima.
7. Kolaborasi : Rujuk untuk berkonsultasi atau psikoterapi sesuai dengan indikasi
Pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu pasien untuk menerima dan
mengatasinya secara efektif.

4) Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh.


Tindakan keperawatan:

1. Lakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS).


2. Tingkatkan tirah baring / duduk.
3. Berikan lingkungan yang tenang.
4. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi.
5. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas.
5) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit.
Tindakan keperawatan:

1. Ubah posisi di tempat tidur dan kursi sesering mungkin (tiap 2 jam sekali).
Gunakan pelindung kaki, bantalan busa/air pada waktu berada di tempat tidur dan
pada waktu duduk di kursi.
2. Periksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin.
3. Anjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak.
4. Kolaborasi : Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi, dan mencegah
terjadinya dekubitus.
c. Pelaksanaan
Dalam tahap ini akan dilaksanakan tindakan keperawatan yang disesuaikan
dengan rencana.

1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening.
Pelaksanaan keperawatan:

1. Memberikan kompres pada daerah frontalis dan axial.


2. Memonitor vital sign, terutama suhu tubuh.
3. Memantau suhu lingkungan dan memodifikasi lingkungan sesuai kebutuhan,
misalnya sediakan selimut yang tipis.
4. Menganjurkan kien untuk banyak minum air putih.
5. Menganjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas
tinggi.
6. Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).

2) Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe.


Pelaksanaan keperawatan:

1. Memberikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), mengajarkan teknik


relaksasi.
2. Mengobservasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).
3. Menganjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri.
4. Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat
anelgetik).

3) Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik.


Pelaksanaan keperawatan:

1. Mengakui kenormalan perasaan.


2. Mendengarkan keluhan pasien dan tanggapan – tanggapannya mengenai keadaan
yang dialami.
3. Memperhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan
penolakan atau tudak terlalu menpermasalahkan perubahan aktual.
4. Menganjurkan kepada orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal
(bercerita tentang keluarga).
5. Menerima keadaan pasien, memperlihatkan perhatian kepada pasien sebagai
individu.
6. Memberikan informasi yang akurat. Mendiskusikan pengobatan dengan jujur jika
pasien sudah berada pada fase menerima.
7. Berkolaborasi : Rujuk untuk berkonsultasi atau psikoterapi sesuai dengan indikasi
Pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu pasien untuk menerima dan
mengatasinya secara efektif.

4) Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh.


Pelaksanaan keperawatan:

1. Melakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS).


2. Meningkatkan tirah baring / duduk.
3. Memberikan lingkungan yang tenang.
4. Meningkatkan aktivitas sesuai toleransi.
5. Mengevaluasi respon pasien terhadap aktivitas.

5) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit.
Pelaksanaan keperawatan:

1. Mengubah posisi di tempat tidur dan kursi sesering mungkin (tiap 2 jam sekali).
Menggunakan pelindung kaki, bantalan busa/air pada waktu berada di tempat tidur
dan pada waktu duduk di kursi.
2. Memeriksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin.
3. Menganjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak.
4. Berkolaborasi : Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi, dan mencegah
terjadinya dekubitus.

d. Evaluasi
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang
rencana keperawatan. Tujuan evaluasi adalah menentukan kemampuan pasien dalam
mencapai tujuan yang telah ditentukan, menilai efektivitas rencana keperawatan atau
strategi asuhan keperawatan.
Dalam proses keperawatan berdasarkan permasalahan yang muncul maka hal-
hal yang diharapkan pada evaluasi adalah sebagai berikut :

1.) Suhu tubuh pasien dalam batas normal.


2.) Nyeri berkurang atau hilang.
3.) Gambaran diri lebih nyata dan mengakui diri sebagai individu yang mempunyai
tanggung jawab sendiri.
4.) Menunjukkan perilaku yang mampu kembali melakukan aktivitas.
5.) Mempertahankan keutuhan kulit, lesi pada kulit dapat hilang.
B. Tinjauan Kasus

1. Pengkajian

a. Pengumpulan Data

Pengkajian dilakukan pada tanggal 14 Maret 2013 pukul 08.00 Wita di ruang
Jempiring RSUD Kabupaten Buleleng berdasarkan atas anamnesa, observasi, pemeriksaan
fisik, dan catatan medis pasien.

1) Identitas

a) Klien

(1) Nama : Ny. S

(2) Tanggal lahir / umur: 10 Maret 1974 / 39 tahun

(3) Jenis kelamin : Perempuan

b) Suami Klien

(1) Nama : Tn. A

(2) Umur : 40 tahun

(3) Pendidikan : SMA

(4) Pekerjaan : Sopir

(5) Agama : Hindu

(6) Alamat : Jl. Pulau Bali No. 7 Singaraja

2) Kedudukan klien dalam keluarga

Jenis Kelamin Keadaan Sekarang


No Nama (Inisial) Umur Ket
L P Sehat Sakit Mati

1. Ny. S √ 39 thn √ Istri


3) Alasan dirawat

a) Keluhan utama

(1) Keluhan utama saat MRS

Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam berulang-ulang


selama 4 hari, demam hilang bila istirahat dan demam akan muncul
lagi ketika bekerja berat.

(2) Keluhan utama saat pengkajian


Klien merasakan nyeri, panas, dan sakit yang menjalar dari pangkal
kaki ke arah ujung kaki dengan skala nyeri 7, nyeri terasa berulang-
ulang.

b) Riwayat penyakit

Klien mengatakan mengalami demam berulang – ulang selam 4 hari,


demam hilang bila klien istirahat dan muncul lagi ketika bekerja berat.
Dan disertai nyeri, panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki ke
arah ujung kaki. Klien sempat dibawa ke puskesmas terdekat untuk
diperiksa. Setelah dilakukan pemeriksaan, kemudian klien diberi obat,
keluarga klien tidak ingat nama obat yang diberikan. Karena
keadaannya tidak berubah, kemudian klien dibawa ke dokter. Di dokter
klien dirujuk ke RSUD Kabupaten Buleleng. Melalui UGD pasien
dianjurkan untuk rawat inap di ruang Jempiring untuk mendapatkan
perawatan lebih lanjut setelah dilakukan pemeriksaan.

Diagnosa medis: Filariasis

Terapi tanggal 14 Maret 2011, obat filariasis yang bisa diberikan:

- Dietilkarbamazin (DEC)

- Ivermectin (Mactizan)

- Albendazol 400 mg dosis tunggal


5) Penyakit yang pernah diderita

Saat pengkajian klien mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami


penyakit seperti ini sebelumnya.

6) Riwayat penyakit keluarga/keturunan

Saat pengkajian klien mengatakan di keluarganya tidak pernah ada yang


menderita penyakit seperti ini.

7) Kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual

a) Biologis

(1) Bernapas

Sebelum dan saat pengkajian klien mengatakan adanya gangguan


yang dialami dalam bernapas, baik saat menarik napas maupun saat
menghembuskan napas.

(2) Makan dan minum

Makan : Klien mengatakan sebelum sakit dan saat pengkajian


klien masih tetap makan 3 kali sehari, dan habis 1 porsi
(nasi, lauk, dan sayur), terkadang buah.

Minum : Klien mengatakan sebelum sakit dan saat pengkajian


klien biasa minum 5-6 gelas per hari (1300-1500 cc).

(3) Eliminasi
BAB : Klien mengatakan sebelum sakit dan saat pengkajian
pasien tidak mengalami gangguan dalam BAB, klien BAB
1 kali sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning
kecoklatan, bau khas feses.

BAK : Klien mengatakan sebelum sakit dan saat pengkajian


pasien tidak mengalami gangguan dalam BAK. Pasien
BAK 3-4 kali sehari dengan volume 500-700 cc/hari,
warna kuning, bau pesing.
(4) Gerak dan aktivitas

Sebelum sakit kilien biasa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa


halangan dan saat pengkajianklien tampak merasakan nyeri,
kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarga seperti makan, minum,
BAB, dan BAK.

(5) Istirahat dan tidur

Sebelum sakit dan saat pengkajian klien mengatakan klien tidak


mengalami gangguan dalam istirahat dan tidur, klien biasa tidur
malam dari pukul 22.00-05.00 Wita.

(6) Pengaturan suhu tubuh

Sebelum sakit klien tidak pernah mengalami peningkatan suhu


tubuh. Saat sakit dan saat pengkajian klien mengatakan panas badan
naik.

(7) Kebersihan diri

Klien mengatakan sebelum sakit klien biasa mandi 2 kali sehari di


kamar mandi dengan memakai sabun, keramas 3 kali seminggu,
gosok gigi 2 kali sehari. Saat pengkajian pasien hanya dilap 2 kali
sehari. Pasien terlihat cukup bersih.

b) Psikologis

(1) Rasa aman

Klien mengatas cemas terhadap penyakit yang dideritanya.

(2) Rasa nyaman

Klien mengatakan kurang nyaman dengan keadaannya sekarang.

(3) Persepsi tentang penyakit

Klien kurang mengetahui atau mengerti mengenai penyakitnya.


(4) Daya Konsentrasi

Klien dapat berkonsentrasi dengan baik.

(5) Konsep Diri

Klien mengalami konsep diri yang rendah.

(6) Koping

Klien mengalami koping yang rendah.

c) Sosial

(1) Sosial klien

Hubungan klien dengan suami sangat erat dan keluarga klien juga
sangat kooperatif baik dengan sesama pasien, perawat dan tim medis
lainnya.

(2) Tempat tinggal

Klien tinggal di di Jalan Pulau Bali No. 7 Singaraja.

d) Spiritual

Klien menganut agama Hindu dan klien biasa sembahyang setiap hari.
Saat sakit dan saat pengkajian klien hanya bisa berdoa dari tempat tidur.

8) Pengetahuan klien tentang kesehatan

a) Pengetahuan tentang kesehatan

Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakit, penyebab dan


pengobatan anaknya. Klien mengatakan tidak tahu tindakan pertama
yang dilakukan di rumah untuk menurunkan panas badannya dan
menghilangkan rasa nyeri yang dirasakannya.

b) Perawatan klien

Klien mengatakan jika kliennya sakit maka klien akan minum obat
pasaran yang dijual di warung-warung. Jika setelah diberikan obat yang
telah dibelinya di warung klien juga tidak sembuh maka klien akan
berobat ke dokter.

c) Nutrisi klien

Klien mengatakan sangat penting untuk makan makanan yang bergizi


karena itu akan mempengaruhi kesehatan klien dan keluarganya.

11) Pemeriksaan fisik

a) Keadaan umum

(1) Kebersihan Klien : Cukup bersih

(2) Keadaan kulit : Turgor kulit baik

(3) Kesadaran : CM (Composmentis)

b) Ukuran-ukuran

(1) Berat badan : 60 kg

(2) Tinggi badan : 162 cm

c) Gejala kardinal

(1) Suhu : 38,5°C

(2) Tekanan darah : 130/60 mmHg

(3) Nadi : 110 x/mnt

(4) Pernapasan : 24 x/mnt

d) Keadaan fisik

(1) Kepala

Kebersihan cukup, bentuk simetris, warna rambut hitam,


penyebaran rambut merata, ketombe tidak ada, nyeri tekan tidak
ada.

(2) Mata
Konjungtiva merah muda, gerakan bola mata terkoordinasi, mata
simetris, sklera putih, bentuk pupil bulat.

(3) Telinga

Bentuk simetris, peradangan tidak ada, serumen tidak ada,


pendengaran baik.

(4) Hidung

Bentuk simetris, nyeri tekan tidak ada, pembengkakan tidak ada,


epistaksis tidak ada, dan membran timpani baik.

(5) Mulut

Mukosa bibir kering, bibir pecah-pecah, reflek menelan baik,


pembesaran tonsil tidak ada, persebaran gigi merata, lidah kotor,
karies tidak ada, lesi tidak ada dan peradangan tidak ada.

(6) Leher

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada bendungan vena


jugularis, adanya nyeri tekan pada getah bening, dan tidak ada
kesulitan dalam menelan.

(7) Thorak

Bentuk dada simetris, suara nafas tidak ada bunyi tambahan, tidak
ada retraksi otot dada, suara jantung S1 S2 tunggal reguler, nyeri
dada tidak ada.

(8) Abdomen

Benjolan pada perut tidak ada, nyeri tekan tidak ada, bentuk
simetris, bising usus 10 x/menit, keadaan hepar normal.

(9) Ekstremitas

Atas : Dalam keadaan baik.


Bawah : Kaki klien tampak besar sebelah, nyeri tekan (+), non
piting edema (+), klien mengatakan panas dan sakit
yang menjalar dari pangkal hingga ujung kaki. Klien
tampak meringis ketika berjalan, nyeri bertambah saat
kaki klien bergerak.

(10) Genetalia

Kebersihan cukup.

(11) Anus

Kebersihan cukup, tidak ada hemoroid.

12) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

a) Tanggal 14 Maret 2013

Hasil Nilai normal

Hb 10,8 gr/dL 12 – 16 gr/dL

Ht 36,80 % 37 – 47 %

Leukosit 12.000/mm3 5.000 – 10.000/mm3

Trombosit 423.000/mm3 150.000 – 450.000/mm3

b. Analisa Data

ANALISA DATA KEPERAWATAN PASIEN Ny. S

DENGAN FILARIASIS

DI RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG


TANGGAL 14 MARET 2013

No Data Subjektif Data Objektif Kesimpulan

1 2 3 4

1. -Klien mengatakan - Klien tampak Nyeri


terasa panas dan meringis ketika
sakit menjalar dari berjalan.
pangkal kaki ke arah
ujung kaki. - Skala nyeri 7.

-Kilen mengatakan - Nyeri tekan (+).


kakinya yang sakit - N: 110x/mnt, RR:
tampak lebih besar 24x/mnt, TD : 130/60
dari yang satunya. mmHg, suhu:
38,5°C .

- Leukosit 9500/mm3
2. - Klien mengatakan - Suhu 38,5°C, N: Hipertermi
demam berulang 110x/mnt, TD :
selama 4 hari. 130/60 mmHg, RR :
24x/mnt.
- Demam hilang bila
beristirahat dan - Wajah klien tampak
demam muncul memerah.
ketika bekerja berat.
- Kulit Klien terasa
hangat.

- Bibir pasien kering

c. Diagnosa Keperawatan

1) Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe ditandai dengan


klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah
ujung kaki, serta kakinya yang sakit tampak lebih besar dari yang satunya,
tampak meringis ketika berjalan, skala nyeri 7, nyeri tekan (+), Nadi
110x/mnt, RR 24x/mnt, TD 130/60 mmHg, suhu 38,5°C, Leukosit
9500/mm3 .

2) Hipertermi berhubungan dengan mediator inflamasi ditandai dengan klien


mengatakan demam berulang selama 4 hari, demam hilang bila beristirahat
dan demam muncul ketika bekerja berat, wajah klien tampak memerah,
kulit klien terasa hangat, bibir pasien kering, Nadi 110x/mnt, RR 24x/mnt,
TD 130/60 mmHg, suhu 38,5°C.

2. Perencanaan

a. Prioritas Masalah

Prioritas masalah berdasarkan Hirarki Maslow, sifat masalah, berat ringannya


masalah, yaitu:

1) Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe ditandai dengan


klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah
ujung kaki, serta kakinya yang sakit tampak lebih besar dari yang satunya,
tampak meringis ketika berjalan, skala nyeri 7, nyeri tekan (+), Nadi
110x/mnt, RR 24x/mnt, TD 130/60 mmHg, suhu 38,5°C, Leukosit
9500/mm3 .

2) Hipertermi berhubungan dengan mediator inflamasi ditandai dengan klien


mengatakan demam berulang selama 4 hari, demam hilang bila beristirahat
dan demam muncul ketika bekerja berat, wajah klien tampak memerah,
kulit klien terasa hangat, bibir pasien kering, Nadi 110x/mnt, RR 24x/mnt,
TD 130/60 mmHg, suhu 38,5°C.
b. Rencana Perawatan

RENCANA PERAWATAN PASIEN Ny. S

DENGAN FILARIASIS

DI RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG

TANGGAL 14 MARET 2013


Hari/Tgl/Jam Diagnosa Keperawatan Rencana Tujuan Rencana Tindakan Rasional

1 2 3 4 5

Kamis, Nyeri berhubungan dengan Setelah diberikan askep selama - Kaji Tanda – Tanda - Untuk mengetahui
pembengkakan kelenjar 3x24 jam diharapkan panas Vital. peningkatan nyeri yang
14-03-13, limfe ditandai dengan klien pasien turun, dengan kriteria: dialami pasien.
08.00 Wita mengatakan terasa panas dan
- Suhu tubuh 36-37º C. - Untuk mengetahui
sakit menjalar dari pangkal - Kaji keluhan nyeri perkembangan nyeri
- Skala nyeri
kaki ke arah ujung kaki, serta berkurang/hilang. yang dirasakan. pasien.
kakinya yang sakit tampak - Pasien dapat merasa
lebih besar dari yang tenang. - Untuk membantu
satunya, tampak meringis - Pasien bisa berjalan - Beri pasien posisi mengurangi rasa nyeri
tanpa meringis. yang nyaman. pasien.
ketika berjalan, skala nyeri 7,
nyeri tekan (+), Nadi
- Untuk membantu
110x/mnt, RR 24x/mnt, TD - Ajarkan pasien teknik mengurangi nyeri.
130/60 mmHg, suhu 38,5°C, relaksasi pasien
Leukosit 9500/mm3 . - Untuk mengurangi
- Kolaborasi dalam nyeri
pemberian obat anti
piretik dan antibiotika.
Kamis, Hipertermi berhubungan Setelah diberikan askep selama - Observasi Tanda – - Untuk mengetahui
3x24 jam diharapkan nutrisi Tanda Vital khususnya keadaan umum pasien.
14-03-13, dengan mediator inflamasi
pasien terpenuhi, dengan suhu.
08.00 Wita ditandai dengan klien - Kompres hangat
kriteria:
- Berikan kompres membantu menurunkan
mengatakan demam berulang
- Suhu dalam batas hangat pada bagian dahi suhu tubuh .
selama 4 hari, demam hilang normal dan ketiak.
bila beristirahat dan demam (36-370 C).
- Bibir pasien tidak - Pakaian tipis dapat
muncul ketika bekerja berat, - Pakaikan pakaian yang membantu mempercapat
kering.
tipis yang dapat menyerap evaporasi.
wajah klien tampak - Kulit klien tidak terasa
keringat .
hangat lagi.
memerah, kulit klien terasa - Wajah klien tidak
tampak memerah lagi. - Memberi banyak
hangat, bibir pasien kering, - Anjurkan pasien untuk minum dapat
Nadi 110x/mnt, RR 24x/mnt, banyak minum ± 2000- menurunkan suhu tubuh
2500 cc/hari. pasien.
TD 130/60 mmHg, suhu
38,5°C.
- Kolaborasi dengan - Untuk membantu
dokter dalam pemberian
3. Pelaksanaan

PELAKSANAAN KEPERAWATAN PASIEN Ny. S

DENGAN FILARIASIS

DI RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG

TANGGAL 14 MARET 2013

Tindakan
Hari/Tgl/Jam Dx No Evaluasi Paraf
Keperawatan

1 2 3 4 5

Kamis, 1 - Mengobservasi Tanda - TD : 130/60 mmHg DG


– Tanda Vital. N : 110x/mnt
14-03-13, R :24x/mnt
08.00 Wita S : 38,5o C

- Mengkaji keluhan - Pasien mengeluh


nyeri yang dirasakan nyeri pada kaki
pasien. yang bangkak,
skala nyeri 7,
merasa nyeri pada
saat digerakkan.

- Memberi pasien - Pasien merasa


posisi yang nyaman. nyaman dengan
posisi terlentang
dengan 1 bantal di
kepalanya.

- Pasien diajarkan
- Mengajarkan pasien
untuk melakukan
teknik relaksasi.
teknik nafas dalam

09.30 Wita 1 - Berkolaborasi dalam - Pasien DG


pemberian analgetik. diberikan
Albendazol 400
mg .

Kamis, 2 Mengobservasi Tanda - - TD : 130/60 mmHg DG


Tanda Vital khususnya N : 110x/mnt
14-03-13, suhu. R :24x/mnt
10.00 Wita S : 38,5o C

10.30 Wita 2 Memberikan kompres - Kompres DG


hangat pada dahi dan hangat diberikan
ketiak. pada dahi dan
ketiak, pasien
tampak diam dan
tenang.
10.45 Wita 2 - Menganjurkan - Dibantu DG
pasien untuk banyak keluarga, pasien
minum ± 2000-2500 diberikan minum
cc/hari. yang banyak.

12.00 Wita 2 Berkolaborasi dengan - Obat sudah DG


dokter dalam dimasukkan
pemberian obat melalui oral.
antipiretik.

4. Evaluasi
EVALUASI KEPERAWATAN PASIEN Ny. S

DENGAN FILARIASIS

DI RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG

TANGGAL 14 MARET 2013

Hari/Tgl/Jam Diagnosa Keperawatan Evaluasi

1 2 3

Kamis, Nyeri berhubungan dengan S : Pasien mengeluh nyeri


pembengkakan kelenjar limfe berkurang, skala nyeri
14-03-13 ditandai dengan klien 2.
14.00 Wita mengatakan terasa panas dan
sakit menjalar dari pangkal kaki O : Pasien tidak tampak
ke arah ujung kaki, serta kakinya meringis lagi, pasien
yang sakit tampak lebih besar tampak tenang, skala
dari yang satunya, tampak nyeri 2.
meringis ketika berjalan, skala A : Masalah teratasi
nyeri 7, nyeri tekan (+), Nadi sebagian.
110x/mnt, RR 24x/mnt, TD
130/60 mmHg, suhu 38,5°C, P : Lanjutkan intervensi.
Leukosit 9500/mm3 .

Kamis, Hipertermi berhubungan dengan S : Klien mengatakan


mediator inflamasi ditandai sudah tidak demam
31-10-07 dengan klien mengatakan lagi.
15.00 Wita demam berulang selama 4 hari,
demam hilang bila beristirahat O : Suhu 36,5oC.
dan demam muncul ketika A : Masalah teratasi.
bekerja berat, wajah klien
tampak memerah, kulit klien P : Pertahankan keadaan
terasa hangat, bibir pasien pasien.
kering, Nadi 110x/mnt, RR
24x/mnt, TD 130/60 mmHg,
suhu 38,5°C.

DAFTAR PUSTAKA
Widoyono. (2008). Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.

Soedarto. (2007). Sinopsis Kedokteran Tropis. Jakarta: Airlangga University Press.

Mansjoer, A., dkk. (2000). Kapita selekta kedokteran jilid II edisi ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius.

Syaifullah. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III edisi keempat. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.