Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

AG - 06
PEMERIKSAAN INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN

1. Tujuan Umum dan Sasaran Praktikum


a) Tujuan Umum
Dapat menentukan % indeks kepipihan dan kelonjongan suatu agregat
yang dapat digunakan dalam campuran beraspal
b) Sasaran Praktikum
a. Dapat memahami prosedur pelaksanaan pengujian indeks kepipihan
dan kelonjongan suatu agregat.
b. Dapat terampil menggunakan peralatan pengujian indeks kepipihan
dan kelonjongan suatu agregatdengan baik dan benar.
c. Dapat melakukan pencatatan data dan analisa yang diperoleh.
d. Dapat menyimpulkan besarnya nilai indeks kepipihan dan
kelonjongan yang diuji berdasarkan standar yang dipakai untuk
perkerasan jalan.

2. Teori Dasar
Bentuk butiran agregat adalah ukuran normal dari sebuah agregat dimana
ukuran nominal ini bergantung kepada besar ukuran agregat dominan pada
suatu gradasi tertentu. Pengujian ini bertujuan untuk menguji keseragaman
agregat pada suatu proyek, agar memperluas perencanaan dan pelaksanaan
pekerjaan pada proyek.
Ada 3 macam bentuk agregat dengan pengertian sebagai berikut :
1. Butiran agregat berbentuk lonjong
Butiran agregat yang mempunyai rasio panjang terhadap lebar lebih besar
dari nilai yang ditentukan dalam spesifikasi.
2. Butiran agregat berbentuk pipih
Butiran agregat yang mempunyai rasio lebar terhadap tebal besar dari nilai
yang ditntukan dalam spesifikasi.

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 1


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

3. Butiran agregat berbentuk pipih dan lonjong


Butiran agregat yang mempunyai rasio panjang terhadap tebal besar dari
nilai yang ditentukan dalam spesifikasi.
Dari ketiga bentuk indeks bentuk agregat dapat dibedakan atas :
a) Butir memanjang
Dikatakan seperti ini apabila panjangnya melebihi dua sumbu pokok. Butir
ini juga dikatakan panjang apabila panjangnya lebih besar 3 kali lebarnya.
b) Butir pipih
Dikatakan pipih apabila tebalnya jauh lebih kecil dari 2 dimensi lainnya
dan biasanya tebal agregat kurang dari 1/3 tebal ukuran agrerat rata-rata
kepipihan berpengaruh buruk kepada daya tahan atau keawetan beton
aspal karena agregat ini cenderung berkedudukan pada bidang rata,
sehingga terdapat rongga udara dibawahnya.
c) Butir bulat
Dikatakan bulat apabila rasio permukaan volume kecil, agregat bulat
mempunyai rongga udara minimum 33 %. Hal ini berarti butir pipih
mempunyai rasio luas permukaan volume kecil. Butir bulat ini biasanya
berbentuk bulat penuh atau telur, termasuk jenis ini adalah kerikil, kerikil
yang berasal dari sungai atau pantai.
d) Butir bersudut
Dikatakan butir bersudut apabila permukaan agregat bersudut agak tajam.
Ikatan antara butiran bersudut ini sangat baik, sehingga mempunyai daya
lekat yang lebih baik pula dan butiran bersudut ini mempunyai rongga
berkisaran 30 – 40 %. Butiran bersudut biasa diperoleh dari batu pecah.
e) Butir tidak beraturan
Dikatakan butir tidak beraturan karena bentuk alaminya memang tidak
beraturan sebagian terjadi karena pengerasan dan mempunyai sisi atau tepi
yang berat. Yang termasuk jenis ini adalah kerikil sungai, kerikil darat
yang berasal dari lahar gunung berapi.
f) Butir panjang dan pipih

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 2


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

Dikatakan seperti ini karena jenis ini mempunyai panjang yang jauh lebih
besar dari semua tebalnya, sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari
tebalnya. Umumnya butiran ini berjumlah kecil dari 15 % saja, karena
akan berpengaruh terhadap daya tahan atas keawetan beton aspal.

Berdasarkan SNI 03-4137-1996 untuk agregat pipih dan lonjong maksimal


dalam penggunaannya dibatasi yaitu 10 % :
1. Jika perbandingan antara rata-rata diameter dengan diameter terpanjang
kurang dari 0,55 maka bentuk agregat tersebut lonjong.
2. Jika perbandingan antara diameter terpendek dengan rata-rata diameter
kurang dari 0,60 maka bentuk agregat termasuk pipih.

Untuk menghitung indeks kepipihan dan kelonjongan dapat dihitung


menggunakan rumus sebagai berikut :
· Indeks kepipihan = M3F / M2 x 100 %
· Indeks kelonjongan = M3E / M2 x 100 %
Dimana : M2 = Total berat sampel memiliki persentase besar dari 5
%.
M3E = Total berat sampel tertahan alat pengujian
kelonjongan
M3F = Total berat sampel yang lolos pengujian kepipihan

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 3


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

3. Tabel Data
PEMERIKSAAN INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN

Tanggal : 30 Oktober 2015


Dikerjakan oleh : Kelompok II (Dua)
Jenis contoh : Cipping
Sumber contoh : Bili-bili

No. Saringan Berat % Lolos uji Tertahan uji


tertahan tertahan kepipihan kelonjongan
1 28.0 (1) 0 0 - -
2 20.0 (3/4) 476,92 47,692 319,75 304,00
3 14.0 (1/2) 477,99 47,799 278,83 292,18
4 10.0 (3/8) 45,09 4,509 32,27 28,68
Total M1 = 1000 M2 = 1000
M3F = 630,85
M3E = 624,86
INDEKS KEPIPIHAN (%) = M3F/M2 = 630,85/1000 × 100% = 63,085 %
INDEKS KELONJONGAN (%) = M3E/M2 = 624,86/1000 × 100% = 62,486 %

Asisten Praktikum

Juadrianto Sallao, ST.

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 4


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

4. Analisa Data
Dari pengujian indeks kepipihan dan kelonjongan agregat yang dilakukan,
diperoleh data sebagai berikut :
M 3F
Indeks Kepipihan = x100%
M2
630,85
= x100%
1000
= 63,085 %

M 3E
Indeks kelonjongan = x100%
M2
624,86
= x100%
1000
= 62,486 %

Tabel Hasil Pemeriksaan:


Spesifikasi
Bina Marga
Persentase Persentase
Jenis Cara Nomor
Indeks Indeks Satuan
Pemeriksaan Pengujian Saringan
Kepipihan Kelonjongan Min Maks

3/4” 31,975 30,400


Indeks
Kepipihan ASTM 1/2” 27,883 29,218
- 10 %
dan Indeks D-4791 3/8” 3,227 2,868
Kelonjongan
1/4” - -
Sumber : Hasil Pengujian Laboratorium

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 5


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

5. Analisa Data, Kesimpulan dan Saran


a. Analisa Data
Pengujian kepipihan dan kelonjongan perlu dilakukan untuk
mengetahui berat persentase kepipihan agregat dan kelonjongan agregat.
Agregat yang baik digunakan dalam konstruksi adalah agregat yang
berbentuk tajam. Untuk agregat pipih dan lonjong dalam pemakaiannnya
harus di batasi.

b. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh persentase indeks kepipihan
pada saringan No.3/4”, 1/2“, dan 3/8” melewati batas maksimum
(>10%). Faktor yang mempengaruhi adalah agregat dari sampel yang
dominan berbentuk pipih sehingga persentase agregat yang lolos uji
kepipihan besar.
2. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh persentase indeks kelonjongan
pada saringan No.3/4”, 1/2“, dan 3/8” melewati batas maksimum
(>10%). Faktor yang mempengaruhi adalah agregat dari sampel yang
dominan berbentuk lonjong sehingga persentase agregat yang lolos uji
kepipihan besar.

c. Saran
1. Diharapkan para praktikan lebih aktif dan teliti dalam melaksanakan
seluruh prosedur pelaksanaan serta pengujian sampel sehingga data
yang diperoleh lebih akurat.
2. Apabila ada hal yang kurang dimengerti baik selama pelaksanaan
praktikum maupun dalam proses pengolahan data, diharapkan untuk
tidak ragu bertanya kepada asisten.
3. Sebaiknya alat-alat praktikum yang kurang lengkap segera
dilengkapi agar tidak menghambat proses pelaksanaan praktikum.

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 6


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 7


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

7. Saran

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 8


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 9


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

8. Gambar Alat

Gambar 1. Alat Penguji Kepipihan dan Kelonjongan Agregat

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 10


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

Gambar 2. Saringan 1”, 3/4”, 1/2”, 3/8”, 1/4”, dan Pan

Gambar 3. Timbangan dengan Kapasitas 5000 gr (Ketelitian 1 gr)


Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 11
Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

Gambar 4. Proses Pengujian Kepipihan dan kelonjongan Agregat

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 12


Laporan Praktikum Perkerasan Jalan dan Aspal KELOMPOK V

10. Daftar Pustaka

a. RSNI-T-01-2005 ; Cara uji butiran agregat kasar berbentuk pipih,


lonjong, atau pipih dan lonjong
b. SNI 03-1968-1990 ; Metode pengujian tentang analisis saringan agregat
halus dan kasar
c. SNI 03-6889-2002 ; Tata cara pengambilan contoh agregat
d. SNI 13-6717-2002 ; Tata cara penyiapan benda uji dari contoh agregat.
e. SNI 03-4137-1996 untuk pengujian kepipihan dan kelonjongan.

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan 13