Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Magang merupakan kegiatan kurikuler yang menjadi mata kuliah di Program S1.
Dalam mata kuliah ini kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara langsung di dunia
kerja. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keahlian praktis
yang sesuai dengan situasi dan kondisi kerja nyata (riil) yang tidak diperoleh di
perguruan tinggi. Hasil dari kegiatan magang ini akan menjadi salah satu syarat bagi
mahasiswa penentu bagi keberhasilan mereka di dunia kerja setelah lulus.
Setiap mahasiswa Program S1 wajib mengikuti magang yang pelaksanaannya
langsung di perusahaan atau di instansi pemerintah. Magang ini merupakan satu dari
sekian banyak mata kuliah yang ada di Program S1. Mahasiswa harus
melaksanakannya langsung di perusahaan atau di instansi pemerintah. Magang ini
merupakan satu dari sekian banyak mata kuliah yang ada di Program S1.
Mahasiswa harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh supaya pelaksanaan
magang itu berhasil secara maksimal. Dalam pelaksanaan magang ini diharapkan
ada kecocokan antara kompetensi yang didapatkan mahasiswa di bangku kuliah
dengan aktifitas praktik yang dilakukan di perusahaan atau di instansi pemerintah
tempat magang.
Di sisi lain, diperlukan suatu sinergi antara dunia kerja dengan lembaga
pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara lebih luas.
Maka, melalui kegiatan magang ini, diharapkan akan terjalin hubungan kemitraan
antara Program S1 dengan dunia kerja. Dengan kemitraan tersebut dihrapkan akan
terbentuk sebuah program pendidikan vokasi yang mempunyai kurikulum dan proses
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Magang bertujuan untuk melatih siswa agar terbiasa dengan lingkungan kerja,
sehingga dari magang kerja tersebut mahasiswa dilatih cara kerja yang baik dan
benar. Sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja, mahasiswa bisa memahami
betapa sulitnya bekerja dan perlu banyak latihan sebelum memasuki dunia kerja dan
disiplin merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi mahasiswa
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat
BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial Kesehatan. BPJS bertujuan untuk mewujudkan
terselenggaranya pemberian jaminan agar terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang
layak bagi setiap Peserta dan/atau anggota keluarganya.

1
Selama magang, mahasiswa diperkenalkan dengan seluruh staff yang ada di
kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Pati dan dipersilahkan untuk mempelajari proses
atau kegiatan yang berlangsung di institusi tersebut, namun tetap difokuskan ke
bagian Pelayanan Kepesertaan. Di bagian Pelayanan Kepesertaan merupakan
bagian yang berada di garis terdepan dari BPJS Kesehatan, karena berhubungan
langsung dengan peserta atau pelanggan.
Selama kegiatan ini berlangsung, mahasiswa dituntut untuk mempelajari jobdesc
atau uraian/rincian kerja dari unit kerja tersebut, serta kinerja yang dilakukan oleh
para pegawai yang berkaitan dengan sisi manajerial (perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi), kebijakan dan hukum yang melandasinya.
Kemudian, dengan ilmu yang telah dipelajari di kampus, mahasiswa mencoba
untuk mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di institusi dan secara tidak
langsung hal ini adalah bentuk evaluasi kinerja yang dapat dilakukan pihak BPJS
Kesehatan. Selain itu, mahasiswa nantinya dapat memahami value yang ada di
setiap bagian sehingga mahasiswa dapat mengetahui, memahami serta
mendapatkan pengalaman langsung tentang dunia kerja nyata.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menambah pengetahuan, pengalaman kerja, dan
mendapat kesempatan untuk belajar mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat di
bangku perkuliahan untuk diterapkan di dunia kerja sesuai dengan pembelajaran
yang telah didapatkan di kampus.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu untuk menerangkan uraian tugas di tempat praktik kerja
lapangan.
b. Mahasiswa mampu menganalisa permasalahan yang ada dan memberikan
rekomendasi di tempat praktik kerja lapangan.
c. Mahasiswa mampu ikut serta dalam proses manajerial serta operasional
kerja di tempat praktik kerja lapangan.

2
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Memperoleh wawasan tentang ruang lingkup dan kemampuan praktik dalam
lingkup asuransi.
b. Memperoleh pengalaman kerja di dunia kerja nyata.
c. Mahasiswa dapat melatih diri dalam kegiatan manajerial dan operasional
yang dilakukan di BPJS Kesehatan
d. Mahasiswa mampu berfikir kritis mengidentifikasi masalah yang ada di
tempat praktik kerja lapangan.
2. Bagi Fakultas
a. Sebagai jembatan penghubung antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia
kerja.
b. Menjalin kerja sama yang baik antara lembaga pendidikan dengan instansi
dalam upaya memberikan bekal mehasiswa untuk mengetahui dunia kerja.
3. Bagi Instansi
a. Sebagai jembatan penghubung antara lingkungan kerja dengan lingkungan
pendidikan tinggi.
b. Menjalin kerjasama yang baik dengan dunia luar.

3
BAB II

METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Lokasi Pelaksanaan


Kegiatan magang ini dilaksanakan selama empat minggu yaitu dimulai pada
Senin 5 Januari 2015 sampai Jumat 30 Januari 2015. Jam kerja dimulai pukul 07.30
dan berakhir pukul 16.30 WIB.
Adapun lokasi yang diambil dalam melaksanakan kegiatan Magang ini yaitu
di BPJS Kesehatan Kabupaten Pati yang bertempat di Jl P Diponegoro 34 Pati dan
mahasiswa ditempatkan di bagian Kepesertaan.

B. Pelaksanaan Kegiatan
Magang diawali dengan perkenalan dengan pegawai yang berada di kantor
BPJS Kesehatan. Kemudian mahasiswa dipersilahkan untuk mengamati proses yang
ada di pelayanan edukasi dan setelah mahasiswa mengetahui pelayanan edukasi
kemudian ke pelayanan kepesertaan mulai dari pelayanan pendaftaran peserta,
pencetakan kartu peserta dan pendistribusian kartu kepada peserta BPJS
Kesehatan. Magang dilaksanakan selama kurang lebih 4 minggu dimulai dari tanggal
5 Januari 2015 sampai dengan 30 Januari 2015. Hari aktif kerja yaitu lima hari
selama satu minggu, mulai hari Senin sampai hari Jumat, dan hari Sabtu dan Minggu
libur.

C. Ruang Lingkup Kegiatan


Ruang lingkup kegiatan magang di BPJS Kesehatan Kabupaten Pati ini,
mahasiswa ditempatkan di bagian Kepesertaan. Dengan deskripsi sebagai berikut :
Pada bagian Kepesertaan ruang lingkup kegiatannya adalah melayani
pendaftaran peserta baik pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja, maupun
pekerja penerima upah (terdiri dari PNS/TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai
Pemerintah non Pegawai Negeri, Pegawai Swasta dan pekerja lain yang tidak
termasuk di atas yang menerima upah) mulai dari entry data peserta dan keluarga,
pencetakan dan distribusi kartu BPJS Kesehatan, perubahan data peserta dan
hingga penanganan keluhan dari peserta maupun faskes yang bekerjasama dengan
BPJS Kesehatan Kabupaten Pati.

4
D. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu:


1. Metode Observasi
Yaitu mencari data dengan pengamatan langsung baik dengan cara bekerja
langsung maupun mengamati keadaan yang ada. Pencarian data dibantu oleh
pegawai di bagian tersebut baik tentang data yang dibutuhkan maupun tentang
pekerjaan yang dilakukan.
2. Metode Interview / Wawancara
Mengadakan wawancara, konsultasi dan diskusi dengan orang-orang yang
terkait langsung, yaitu dengan Kepala Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Pati
serta staff yang bersangkutan.
3. Studi Literatur
Untuk mendapatkan data penunjang diperlukan tinjauan literatur dari buku buku
panduan teori serta jurnal menyangkut pengertian, istilah-istilah asuransi serta
tahapan fungsi operatif manajemen ideal pada pengaturan tenaga kerja.

E. Metode Penulisan Laporan


Dalam penulisan laporan magang ini menggunakan metode deskriptif yaitu
suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.

F. Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan

Mahasiswa magang di BPJS Kesehatan Pati selama kurang lebih 4 minggu


ingin mendapatkan suatu pengalaman yang berharga yang nantinya bisa menjadi
bekal atau gambaran bagaimana nanti kedepannya akan menghadapi dunia kerja
yang sangat ketat dan banyak persaingan. Untuk itu mahasiswa diharapkan dapat
aktif dalam magang dan dapat menerapkan teori yang didapatkan dibangku kuliah
kemudian diaplikasikan ke dalam suatu praktek atau magang. Disini mahasiswa siap
menaati peraturan yang ada di BPJS Kesehatan Pati dan membantu staff dalam
bekerja.

Adapun lampiran kegiatan magang di BPJS Kesehatan Pati adalah sebagai


berikut :

Nama : Wasis Nur Rohmansyah


NIM : 201102269

5
Tabel 2.1 Kegiatan Harian Magang di BPJS Kesehatan Pati
No Hari, Tanggal Kegiatan Harian Keterangan

Senin, 05 Januari  Perkenalan dan orientasi


1.
2015  Mengamati proses di ruang
edukasi untuk memberikan
sosialisasi tentang BPJS
Kesehatan
 Memahami pelayanan
kepesertaan
 Mencetak kartu BPJS
Kesehatan
Selasa, 06  Mencetak kartu peserta
2.
Januari 2015 BPJS Kesehatan
 Entry data peserta
Rabu, 07 Januari  Mencetak kartu peserta
3.
2015 BPJS Kesehatan
 Mencatat kartu yang sudah
dicetak
Kamis, 08 Januari  Mencetak kartu peserta
4.
2015 BPJS Kesehatan
 Mencatat kartu yang sudah
dicetak
 Mendistribusikan kartu ke
peserta
Jumat, 09 Januari  Rekapitulasi peserta BPJS
5.
2015 Kesehatan
 Entry kepesertaan Badan
Usaha (BU)
Senin, 12 Januari  Mencetak kartu peserta
6.
2015 BPJS Kesehatan
berdasarkan BU yang telah
mendaftar
 Mencatat kartu yang telah
dicetak berdasarkan BU
masing-masing

6
Selasa, 13 Seminar Nasional “Palliative Care” Ijin dari kampus
7.
Januari 2015 di JHK Kudus
Rabu, 14 Januari  Entry kepesertaan
8.
2015  Rekapitulasi dokter
keluarga, dokter gigi dan
klinik
Kamis, 15 Januari  Mencetak kartu peserta
9.
2015 BPJS Kesehatan
 Mencatat kartu yang telah
dicetak
 Entry kepesertaan
Jumat, 16 Januari  Rekapitulasi data dari
10.
2015 dokter, dokter gigi dan klinik
 Entry data skrining riwayat
penyakit
Senin, 19 Januari  Arsip faskes menurut
11.
2015 kecamatan
 Entry data skrining riwayat
penyakit
Selasa, 20  Entry data skrining riwayat
12.
Januari 2015 penyakit
 Rekapitulasi data dari
dokter, dokter gigi dan klinik
Rabu, 21 Januari  Mencetak kartu peserta
13.
2015 BPJS Kesehatan dari BU
 Mencatat kartu yang telah
dicetak berdasarkan data
dari keluarga maupun BU
 Arsip dokumen dokter,
dokter gigidan klinik
Kamis, 22 Januari  Menjilid dokumen yang akan
14.
2015 dikirim kepada dokter
 Arsip dokumen dokter
 Entry data bulanan
puskesmas

7
Jumat, 23 Januari  Entry data skrining riwayat
15.
2015 penyakit
 Rekapitulasi data bulanan
Senin, 26 Januari  Entry perubahan dokter
16.
2015 keluarga
 Entry data skrining riwayat
penyakit
 Rekapitulasi data bulanan
puskesmas
Selasa, 27  Entry data skrining riwayat
17.
Januari 2015 penyakit
 Menjilid dokumen
 Entry perubahan dokter
keluarga
Rabu, 28 Januari  Entry data faskes
18.
2015  Entry data skrining riwayat
penyakit
 Arsip dokumen
Kamis, 29 Januari  Menjilid dokumen
19.
2015  Entry perubahan dokter
 Rekapitulasi data pukesmas
Jumat, 30 Januari  Menjilid dokumen
20.
2015  Entry data skrining riwayat
penyakit
 Pelepasan / Perpisahan

Itulah kegiatan harian yang bisa mencerminkan implementasi BPJS


Kesehatan yang bisa menjadi suatu pengalaman yang berharga untuk mengarungi
ketatnya dunia kerja. Dan juga menjadi suatu pelajaran yang mungkin dikampus tidaj
diajarkan. Ini juga bisa menjadi suatu dorongan dan motivasi kepada mahasiswa
untuk lebih sungguh-sungguh dalam bekerja karena bisa dijadikan latihan untuk
bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan.

Mulai dari edukasi atau sosialisasi kepada peserta tentang alur pendaftaran
sampai kegunaan kartu BPJS Kesehatan telah mahasiswa dapatkan. Kemudian
mengetahui tentang kepesertaan, cetak kartu, sampai mencatat daftar dokter
keluarga dan klinik.

8
BAB III
GAMBARAN UMUM INSTITUSI MAGANG

A. Sejarah

Sebelum menjadi BPJS Kesehatan, perusahaan adalah PT Askes (Persero)


yang merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh
pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi
Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis
Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya. Sejarah singkat
penyelenggaraan program Asuransi Kesehatan sebagai berikut :

 1968

Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur


pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan
ABRI) beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
230 Tahun 1968. Menteri Kesehatan membentuk Badan Khusus di lingkungan
Departemen Kesehatan RI yaitu Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan
Kesehatan (BPDPK), dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (Prof.
Dr. G.A. Siwabessy) dinyatakan sebagai embrio Asuransi Kesehatan Nasional.

 1984

Untuk lebih meningkatkan program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi


peserta dan agar dapat dikelola secara profesional, Pemerintah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan
bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun (PNS, ABRI dan Pejabat Negara)
beserta anggota keluarganya. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun
1984, status badan penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada
Bhakti.

 1991

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991, kepesertaan


program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada Bhakti
ditambah dengan Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota
keluarganya. Disamping itu, perusahaan diijinkan memperluas jangkauan
kepesertaannya ke badan usaha dan badan lainnya sebagai peserta sukarela.

9
 1992

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 status Perum


diubah menjadi Perusahaan Perseroan (PT Persero) dengan pertimbangan
fleksibilitas pengelolaan keuangan, kontribusi kepada Pemerintah dapat
dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada peserta dan manajemen lebih
mandiri.

 2005

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1241/Menkes/XI/2004


PT Askes (Persero) ditunjuk sebagai penyelenggara Program Jaminan
Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM). PT Askes (Persero) mendapat
penugasan untuk mengelola kepesertaan serta pelayanan kesehatan dasar dan
rujukan

 2008

Pemerintah mengubah nama Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat


Miskin (PJKMM) menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas). PT Askes (Persero) berdasarkan Surat Menteri Kesehatan RI
Nomor 112/Menkes/II/2008 mendapat penugasan untuk melaksanakan
Manajemen Kepesertaan Program Jamkesmas yang meliputi tatalaksana
kepesertaan, tatalakasana pelayanan dan tatalaksana organisasi dan
manajemen.

Sebagai tindak lanjut atas diberlakukannya Undang-undang Nomor 40/2004


tentang SJSN PT Askes (Persero) pada 6 Oktober 2008 PT Askes (Persero)
mendirikan anak perusahan yang akan mengelola Kepesertaan Askes Komersial.
Berdasarkan Akta Notaris Nomor 2 Tahun 2008 berdiri anak perusahaan PT
Askes (Persero) dengan nama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang dikenal
juga dengan sebutan PT AJII

 2009

Pada tanggal 20 Maret 2009 berdasarkan Surat Keputusan Menteri


Keuangan Nomor Kep-38/KM.10/2009 PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia
selaku anak perusahaan dari PT Askes (Persero) telah memperoleh ijin
operasionalnya. Dengan dikeluarkannya ijin operasional ini maka PT Asuransi
Jiwa Inhealth Indonesia dapat mulai menyelenggarakan asuransi kesehatan bagi
masyarakat.

10
 2011

Terkait UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional di


tahun 2011, PT Askes (Persero) resmi ditunjuk menjadi Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) yang meng-cover jaminan kesehatan seluruh rakyat
Indonesia yang tertuang dalam UU BPJS Nomor 24 tahun 2011.

Munculnya UU SJSN ini juga dipicu oleh UUD Tahun 1945 dan
perubahannya Tahun 2002 dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 28H ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3), serta Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) mengamanatkan untuk
mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional. Hingga disahkan dan
diundangkan UU SJSN telah melalui proses yang panjang, dari tahun 2000 hingga
tanggal 19 Oktober 2004.

Diawali dengan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000, dimana Presiden


Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep SJSN.
Pernyataan Presiden tersebut direalisasikan melalui upaya penyusunan konsep
tentang Undang-Undang Jaminan Sosial (UU JS) oleh Kantor Menko Kesra (Kep.
Menko Kesra dan Taskin No. 25KEP/MENKO/KESRA/VIII/2000, tanggal 3 Agustus
2000, tentang Pembentukan Tim Penyempurnaan Sistem Jaminan Sosial Nasional).
Sejalan dengan pernyataan Presiden, DPA RI melalui Pertimbangan DPA RI No.
30/DPA/2000, tanggal 11 Oktober 2000, menyatakan perlu segera dibentuk Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat
sejahtera.

Dalam Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara


pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 (Ketetapan MPR RI No. X/ MPR-RI
Tahun 2001 butir 5.E.2) dihasilkan Putusan Pembahasan MPR RI yang menugaskan
Presiden RI “Membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan
perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu”.

Pada tahun 2001, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri mengarahkan


Sekretaris Wakil Presiden RI membentuk Kelompok Kerja Sistem Jaminan Sosial
Nasional (Pokja SJSN).

Pada saat yang sama, Menteri BUMN selaku RUPS mengesahkan laporan
posisi keuangan penutup PT Askes (Persero) setelah dilakukan audit kantor akuntan

11
publik. Menteri Keuangan mengesahkan laporan posisi keuangan pembuka BPJS
Kesehatan dan laporan keuangan pembuka dana jaminan kesehatan. Untuk pertama
kali, Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) diangkat menjadi Dewan
Pengawas dan Direksi BPJS Kesehatan untuk jangka waktu paling lama 2 tahun
sejak BPJS Kesehatan mulai beroperasi.

Mulai 1 Januari 2014, program-program jaminan kesehatan sosial yang telah


diselenggarakan oleh pemerintah dialihkan kepada BPJS Kesehatan. Kementerian
kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas. Kementerian
Pertahanan,TNI dan POLRI tidak lagi menyelenggarakan program pelayanan
kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu berkaitan
dengan kegiatan operasionalnya yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah. PT
Jamsostek (Persero) tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kesehatan
pekerja.

B. Landasan hukum

1. Undang-Undang Dasar 1945

2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional

3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan


Sosial

PT Askes (Persero) yang berkedudukan di Jakarta didirikan dengan Akte


Notaris Muhani Salim, SH Nomor 104 tanggal 20 Agustus 1992 yang telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Akte Notaris NM Dipo Nusantara Pua Upa, SH Nomor
37, tanggal 19 Agustus 2008 yang mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan
sebagai berikut :

Maksud dan tujuan perseroan ialah turut melaksanakan dan menunjang


kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional
pada umumnya, khususnya di bidang asuransi sosial melalui penyelenggaraan
asuransi/jaminan kesehatan bagi pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran,
perintis kemerdekaan beserta keluarganya, dan masyarakat lainnya, serta
optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan jasa yang
bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, guna meningkatkan nilai manfaat bagi
peserta dan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

12
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Perseroan dapat
melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan asuransi kesehatan yang bersifat menyeluruh (komprehensif)


bagi Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun, Veteran dan Perintis
Kemerdekanaan beserta Keluarganya.
2. Menyelenggarakan asuransi kesehatan bagi Pegawai dan Penerima Pensiun
Badan Usaha dan Badan lainnya.
3. Menyelenggarakan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang telah membayar
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah sesuai dengan prinsip
penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional.
4. Melakukan kegiatan investasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

C. Visi BPJS Keseehatan


Visi BPJS Kesehatan adalah CAKUPAN SEMESTA 2019 dimana paling
lambat 1 Januari 2019, seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan kesehatan
nasional untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan
dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatannya yang diselenggarakan oleh BPJS
Kesehatan yang handal, unggul dan terpercaya.

D. Misi BPJS Kesehatan


1. Membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga dan mendorong
partisipasi masyarakat dalam perluasan kepesertaan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN).
2. Menjalankan dan memantapkan sistem jaminan pelayanan kesehatan yang
efektif, efisien dan bermutu kepada peserta melalui kemitraan yang optimal
dengan fasilitas kesehatan.
3. Mengoptimalkan pengelolaan dana program jaminan sosial dan dana BPJS
Kesehatan secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel untuk mendukung
kesinambungan program.
4. Membangun BPJS Kesehatan yang efektif berlandaskan prinsip-prinsip tata
kelola organisasi yang baik dan meningkatkan kompetensi pegawai untuk
mencapai kinerja unggul.
5. Mengimplementasikan dan mengembangkan sistem perencanaan dan evaluasi,
kajian, manajemen mutu dan manajemen risiko atas seluruh operasionalisasi
BPJS Kesehatan.

13
6. Mengembangkan dan memantapkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan.

E. Budaya Perusahaan
Dalam proses membangun keyakinan dan nilai-nilai (beliefs and values) yang
harus dipegang teguh oleh seluruh jajaran perusahaan mulai dari tingkat pelaksana
sampai ke tingkat manajemen telah disepakati hal-hal yang menjadi ciri-ciri bagi
budaya perusahaan, sesuai dengan visi dan misi perusahaan, yaitu :
1. Integritas
2. Kerjasama
3. Pelayanan Prima
4. Inovatif

1) Integritas
Integritas merupakan prinsip kami dalam menjalankan setiap tanggung jawab
dengan profesional, jujur, taat azas dan dedikasi yang tinggi untuk menjadi mitra
terpercaya bagi stakeholder.
Setiap Duta BPJS yang menjunjung tinggi nilai - nilai integritas, diharapkan
memperlihatkan sikap dan perilaku sebagai berikut :
1. Melaksanakan tugas dan pekerjaan secara konsisten sesuai kode etik.
2. Disiplin terhadap waktu dan penyelesaian pekerjaan.
3. Selaras antara kata dan perbuatan.
4. Bertanggung jawab terhadap hasil yang dicapai (tidak menyalahkan
pihak lain).
2) Kerjasama
Kerjasama merupakan upaya kami menciptakan sinergi antar individu dan
unit kerja dalam suasana keterbukaan untuk meraih kesuksesan berkelanjutan.
Perilaku yang diharapkan dari Duta BPJS yang menjunjung tinggi semangat
kerjasama adalah :
1. Memahami dan menjalankan perannya sebagai anggota tim dengan baik-
baik
2. Melakukan komunikasi secara efektif untuk membangun koordinasi antar
individu dan unit kerja
3. Menerima dan memberikan kritik/saran secara terbuka sebagai nilai
tambah bagi pencapaian tujuan perusahaan

14
4. Saling melengkapi kapabilitas antar karyawan dalam menyelesaikan
fungsi dan tugas.
3) Pelayanan Prima
Pelayanan Prima merupakan tekad kami untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan internal dan eksternal bahkan melebihi harapan mereka. Manifestasi
sikap dan perilaku yang diharapkan dalam rangka mewujudkan budaya
pelayanan prima dari seorang Duta BPJS, adalah sebagai berikut :
1. Menunjukkan sikap ramah, tanggap dan informatif dalam menghadapi
setiap pelanggan.
2. Memberikan layanan sesuai standar layanan yang ditetapkan secara
konsisten.
3. Memberikan solusi secara cepat dan akurat terhadap kebutuhan
pelanggan.
4) Inovatif
Inovatif merupakan cara kami mencapai keuanggulan berkelanjutan melalui
pembelajaran secara terus menerus, baik dari keberhasilan maupun kegagalan.
Perilaku inovatif yang diharapkan dari Duta BPJS adalah :
1. Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi secara aktif dan mandiri
sesuai dengan bidang terkait.
2. Menemukan peluang untuk mengantisipasi tantangan ke depan dan
menciptakan hal - hal baru.
3. Saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar individu di dalam
bidang keahlian tertentu untuk mendapatkan praktik terbaik.
4. Menghadapi perubahan secara proaktif

Budaya Perusahaan BPJS Kesehatan haruslah tercermin pada sikap dan


perilaku dari setiap individu di BPJS Kesehatan di dalam pelaksanaan tugas
perusahaan. Mereka yang menerapkan keempat elemen budaya Perusahaan maka
akan menjadi "insan BPJS" yang sejati.
Selain tata nilai organisasi, terdapat sepuluh perilaku utama duta Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, antara lain :
1. Mendahulukan kepentingan organisasi di atas kepentingan individu atau
kelompok
2. Selaras antara pikiran, ucapan, dan tindakan
3. Berani mengakui dan mempertanggungjawabkan kesalahan
4. Meningkatkan kompetensi secara berkesinambungan
5. Mengutamakan kualitas proses dan hasil kerja

15
6. Berpikir positif dan mau menyesuaikan diri terhadap perubahan
7. Bersikap proaktif terhadap kebutuhan peserta
8. Berempati dan sabar dalam melayani peserta
9. Merencanakan anggaran berdasarkan prioritas kebutuhan
10. Hemat dan rasional dalam penggunaan anggaran

F. Struktur Organisasi
Lampiran (terlampir L II)
G. Deskripsi Organisasi
1. Kepala Operasional Kabupaten/Kota
Seorang Kepala Operasional Kab/Kota bertanggung jawab untuk
memastikan tercapainya sasaran Kantor Cabang dengan tersedianya pelayanan
kepada peserta. Berikut uraian tanggung jawab Kepala Operasional
Kabupaten/Kota :
a. Bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Cabang.
b. Memiliki subordinat yang bertanggung jawab langsung kepadanya yaitu staff
operasional kabupaten/kota.
c. Bertanggung jawab atas semua aktifitas di wilayah Kantor Kabupaten/Kota
yang menjadi kewenangannya, yang terdiri dari fungsi kepesertaan,
pelayanan kesehatan, hubungan pelanggan dan kemitraan untuk wilayah
diluar jangkauan kantor cabang sedangkan untuk fungsi keuangan pemangku
jabatan bertanggung jawab pada penggunaan petty cash.
d. Berkoordinasi dengan Kepala Kantor Cabang secara rutin minimal 1 kali
sebulan.
e. Melakukan koordinasi dengan stake holder, seperti pejabat Pemerintah
Daerah terkait Pimpinan provider serta pimpinan organisasi Peserta.
f. Melakukan advokasi dengan pemerintah daerah terkait BPJS bekerjasama
dengan bagian Kepesertaan dan pelayanan Pelanggan dan bagian
Pemasaran kantor Cabang.
g. Untuk memastikan terjaganya kepuasan peserta, pemangku jabatan dapat
melakukan survey mandiri kepuasan peserta.
h. Jika terdapat laporan keluhan mengenai pelayanan obat dimana disebabkan
ketersediaan obat yang kosong distributor atau tidak diproduksi pabrikan.
i. Laporan; Laporan Kepesertaan, jaminan pelayanan, hubungan pelanggan,
kemitraan pelayanan kesehatan, dan kemitraan nonprovider untuk wilayah
diluar jangkauan kantor cabang, Laporan Pemberian Informasi dan

16
Penanganan keluhan dari KPP, Laporan Pelayanan kesehatan, laporan
Kemitraan Non provider, Laporan pemasaran terkait BPJS.
j. Tantangan utama pemangku jabatan adalah dalam hal menjaga kepuasan
peserta dan kemitraan dengan pihak provider maupun non provider di
lingkungan wilayah kerjanya.
2. Staff kepesertaan
Staff kepesertaan pada kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Pati terdiri
dari satu pegawai tetap dan dua pegawai tidak tetap, dengan uraian tanggung
jawab sebagai berikut :
a. Pelayanan kepesertaan meliputi penerimaan peserta baru, entry pendaftaran
peserta, pencetakan VA, pencetakan kartu, laporan bulanan kepesertaan
b. Legalisasi alkes
c. Verifikasi klaim kolektif optik
d. Penanganan keluhan
3. Staff BPJS center
Staff BPJS center terdiri dari pegawai tetap BPJS Kesehatan yang
ditempatkan pada masing – masing rumah sakit pemerintah dan rumah sakit
swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dan memiliki uraian tugas
sebagai berikut :
a. Legalisasi Surat Eligibiltas Peserta (SEP)
b. Verifikasi tagihan RJTL dan RITL
c. Legalisasi PRB
d. Penanganan keluhan

H. Deskripsi Lokasi Magang


1) Deskripsi Unit
Kantor BPJS Kesehatan memiliki fokus kegiatan pada pelayanan
kepesertaan dan dipimpin oleh kepala KLOK dengan staff kepesertaan terdiri dari
3 staff. Bangunan ini terdiri dari ruang pelayanan peserta dibagian depan dengan
3 meja, 3 kursi kerja, 3 komputer yang masih aktif, 3 printer, dan 2 saluran
telepon, ruang kepala KLOK, ruang rapat yang digunakan untuk aktivitas
kepesertaan lain seperti pencetakan kartu, legalisasi klaim dan lain – lain dengan
1 meja rapat, 8 kursi dan 5 komputer yang masih aktif, 1 ruang penyimpanan
dokumen baru, 2 gudang penyimpanan dokuman lama, 1 ruang sholat, dan
dapur. BPJS Kesehatan Kabupaten Pati berada di bawah BPJS Kesehatan KC
Kudus bersama kantor BPJS Kesehatan lainnya sepertia BPJS Kesehatan
Kabupaten Jepara, Rembang dan Blora. Lingkungan ber-AC, sebagian besar

17
waktu pegawai berada dalam ruangan kantor dengan dukungan fasilitas yang
baik dan memadai. Risiko kecelakaan kerja para pegawai sangat minimal dan
tingkat stress yang dihadapi relatif sedang.

2) Gambaran Aktivitas dan Alur Kerja Operasional

Gambar 3.1 Komunikasi dan Pemberian Informasi secara Langsung

Peserta Staff Kepesertaan Ka Kepesertaan dan


Pelayanan Pelanggan

Melakukan inisiasi
Meminta informasi Menerima informasi komunikasi dan pem-
berian informasi

Mencatat identitas
Melakukan inisiasi
peserta dan
komunikasi dan pem-
informasi yang
berian informasi
diminta

Memberikan
informasi yang dibu-
tuhkan

Membuat laporan Menyetujui laporan

18
Gambar 3.2 Komunikasi dan Pemberian Informasi secara tidak Langsung (Booklet,
Leaflet, TV, Media Cetak,dll

Peserta Staff Kepesertaan Ka Kepesertaan dan


Pelayanan Pelanggan

Mencatat identitas
Melakukan inisiasi
Meminta informasi peserta dan
komunikasi dan pem-
informasi yang
berian informasi
diminta

Melakukan
identifikasi jumlah
kebutuhan sarana
informasi dan durasi
waktu

Melakukan distribusi
sarana informasi dan
frekuensi pemberian
informasi

Mencatat sarana
informasi yang didis-
tribusikan dan
merekap frekuensi
pemberian informasi

Membuat laporan Menyetujui laporan

19
Gambar 3.3 Pendaftaran Perserta Individu di Kantor BPJS Kesehatan

Staff Kepesertaan Peserta Bank

Melakukan inisiasi
pelaksanaan pendaftaran
peserta
Mengisi dan
menyampaikan
Menerima dokumen formulir Daftar Isian
Peserta (DIP)
Memeriksa kelengkapan
dokumen

Melakukan verifikasi dan


validasi data

Melakukan entry data

Memberi Nomor Identitas


Tunggal dan VA

Memberikan informasi Menerima informasi


jumlah iuran yang harus jumlah tagihan iuran
dibayarkan

Peserta membayar Menerima iuran


iuran

Menerima bukti Memberikan bukti


pembayaran iuran pembayaran

Melakukan pencetakan Menyampaikan ke


kartu staff administrasi
kepesertaan

Mencatat tanda terima Menerima kartu


kartu peserta peserta

20
Gambar 3.4 Pendaftaran Perserta Individu melalui Web
Staff Kepesertaan Peserta Bank

Melakukan inisiasi
pelaksanaan pendaftaran
peserta
Mengisi Form Daftar
Isian Peserta dan
Memeriksa aplikasi web
mendatangi kantor
untuk mengecek
BPJS Kesehatan
pendaftar

Memberikan
Melakukan konfirmasi konfirmasdi dan men-
kepada peserta datangi kantor BPJS
Kesehatan

Menerima berkas dan me-


lakukan verifikasi berkas Membawa berkas yang
dibutuhkan

Memberi nomor tunggal Menerima informasi


dan virtual account (VA) jumlah tagihan iuran

Melakukan Menerima iuran


pembayaran iuran

Menyampaikan ke staff Menerima bukti Memberikan bukti


administrasi kepesertaan pembayaran pembayaran

Melakukan pencetakan
kartu peserta

Menerima kartu
Mencatat tanda terima
peserta
kartu peserta

21
Gambar 3.5 Update Data oleh Peserta

Peserta Staff Kepesertaan

Melakukan inisiasi
pelaksanaan
update data

Mengisi dan me- Menerima


nyampaikan dokumen
formulir
perubahan data
peserta

Memeriksa keleng-
kapan dokumen

Melakukan update
data

22
Gambar 3.6 Penanganan Keluhan Langsung
Peserta Staff kepesertaan Ka Kepesertaan dan
Pelayanan Pelanggan

Menyampaikan Mencatat identitas Melakukan inisiasi


keluhan peserta penanganan keluhan

Melakukan koordinasi
Mencatat keluhan
dengan unit lain jika
yang disampaikan
diperlukan

Mendapatkan Memberikan
penjelasan penjelasan

Melakukan
konfirmasi kepuasan
peserta

Membuat laporan Menyetujui laporan

Gambar 3.7 Penanganan Keluhan Tidak Langsung


Peserta Staff Kepesertaan Ka Kepesertaan dan
Pelayanan Pelanggan

Menyampaikan Melakukan validasi Melakukan inisiasi


keluhan keluhan penanganan keluhan

Melakukan koordinasi
Menyiapkan konsep
dengan unit lain jika
jawaban
diperlukan

Menerima Menyampaikan
jawaban jawaban

Mencatat keluhan
dalam aplikasi
keluhan

Membuat laporan menerima laporan


23
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Peserta Jaminan Kesehatan

Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 bulan di
Indonesia, yang telah membayar iuran, meliputi :

1. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI) : fakir miskin dan orang
tidak mampu, dengan penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
2. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari :
 Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
a. Pegawai Negeri Sipil
b. Anggota TNI
c. Anggota Polri
d. Pejabat Negara
e. Pegawai Pemerintah non Pegawai Negeri
f. Pegawai Swasta
g. Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd f yang menerima upah

Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 bulan.

 Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya


a. Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri, dan
b. Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima upah.

Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 bulan.

 Bukan pekerja dan anggota keluarganya


a. Investor
b. Pemberi Kerja
c. Penerima Pensiun, terdiri dari :
 Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun
 Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun
 Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun
 Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun yang
mendapat hak pensiun
 Penerima pensiun lain

24
 Janda, duda, atau yatim piatu dari penerima pensiun lain yang
mendapat hak pensiun
d. Veteran
e. Perintis Kemerdekaan
f. Janda, duda, atau yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan
g. Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd e yang mampu
membayar iuran.

Anggota Keluarga yang Ditanggung


1. Pekerja Penerima Upah :
 Keluarga inti meliputi istri/suami dan anak yang sah (anak kandung, anak
tiri dan atau anak angkat), sebanyak-banyaknya 5 orang.
 Anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang
sah, dengan kriteria :
a. Tidak atau belum menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri
b. Belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun yang
melanjutkan pendidikan formal
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja:
Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga yang diinginkan (tidak
terbatas).
3. Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan yang meliputi anak
ke-4 dan seterusnya, ayah,ibu dan mertua.
4. Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan yang meliputi
kerabat lain seperti Saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll.

Hak dan Kewajiban Peserta

Hak Peserta

1. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan


kesehatan
2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur
pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan
4. Menyampaiakan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis
ke kantor BPJS Kesehatan

25
Kewajiban Peserta

1. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuranyang besarnya


sesuai dengan ketentuan yang berlaku
2. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian,
kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I
3. Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang
lain yang tidak berhak
4. Menaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan

B. Prosedur Pendaftaran Peserta


1. Pendaftaran bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI)
Pendataan fakir miskin dan orang tidak mampu yang menjadi peserta PBI
dilakukan oleh lembaga yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang
statistik (Badan Pusat Statistik) yang diverifikasi dan divalidasi oleh Kementerian
Sosial.
Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, juga terdapat
penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan SK
Gubernur/Bupati/Walikota bagi pemuda yang mengintegrasikan Jamkesda ke
program JKN.

2. Pendaftaran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU)


Perusahaan / Badan Usaha mendaftarkan seluruh karyawan beserta anggota
keluarganya ke Kantor BPJS Kesehatan dengan melampirkan :
- Formulir Registrasi Badan Usaha / Badan Hukum lainnya
- Data migrasi karyawan dan anggota keluarganya sesuai dengan
format yang ditentukan oleh BPJS Kesehatan.

Perusahaan / Badan Usaha menerima nomor Virtual Account (VA) untuk


dilakukan pembayaran ke Bank yang telah bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI),
bukti pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan untuk dicetak
kartu atau mencetak e-ID secara mandiri oleh Perusahaan / Badan Usaha.

3. Pendaftaran bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)


 Calon peserta mendaftar secara perorangan di Kantor BPJS Kesehatan
 Mendaftarkan seluruh anggota keluarga yang ada di Kartu Keluarga
 Mengisi formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dengan melampirkan :

26
a. Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
b. Fotokopi KTP/Paspro, masing-masing 1 lembar
c. Fotokopi Buku Tabungan salah satu peserta yang ada di KK
d. Pasfoto 3X4, masing-masing sebanyak 1 lembar
 Setelah mendaftar, calon peserta memperoleh Nomor Virtual Account
(VA)
 Melakukan pembayaran iuran ke Bank yang bekerja sama
(BRI/Mandiri/BNI)
 Bukti pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan

C. Iuran Peserta
1. Bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan iuran dibayar
oleh Pemerintah.
2. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) yang bekerja pada Lembaga
Pemerintahan terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri,
pejabat negara, dan pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% dari
gaji atau upah per bulan dengan ketentuan : 3% dibayar oleh pemberi kerja dan
2% dibayar oleh peserta.
3. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD dan
Swasta sebesar 4,5% dari gaji atau upah per bulan dengan ketentuan : 4%
dibayar oleh Pemberi Kerja dan 0,5% dibayar oleh Peserta.
4. Iuran untuk keluarga tanbahan Pekerja Penerima Upah yang terdiri dari anak ke-
4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar 1% dari gaji atau
upah per orang per bulan, dibayar oleh penerima upah.
5. Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti saudara
kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll); peserta pekerja bukan penerima upah
serta iuran peserta bukan pekerja adalah sebesar:
a. Sebesar Rp.25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang per
bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
b. Sebesar Rp.42.500 (empat puluh dua ribu lima ratus rupiah) 
per orang per
bulan dengan manfaat pelayanan di ruang 
perawatan Kelas II.
c. Sebesar Rp.59.500,- (lima puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) 
per orang
per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.
6. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan, dan janda, duda,
atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan, iurannya
ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari 45% (empat puluh lima persen) gaji

27
pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III/a dengan masa kerja 14 (empat
belas) tahun per bulan, dibayar oleh Pemerintah.
7. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan.

Denda Keterlambatan Iuran

1. Keterlambatan pembayaran Iuran untuk Pekerja Penerima Upah dikenakan


denda administratif sebesar 2% (dua persen) per bulan dari total iuran yang
tertunggak paling banyak untuk waktu 3 (tiga) bulan, yang dibayarkan bersamaan
dengan total iuran yang tertunggak oleh Pemberi Kerja.
2. Keterlambatan pembayaran Iuran untuk Peserta Bukan Penerima Upah dan
Bukan Pekerja dikenakan denda keterlambatan sebesar 2% (dua persen) per
bulan dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 6 (enam) bulan
yang dibayarkan bersamaan dengan total iuran yang tertunggak.

D. Fasilitas Kesehatan Bagi Peserta


Fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan terdiri dari:
1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama :
a. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Non Perawatan dan Puskesmas
Perawatan (Puskesmas dengan Tempat Tidur).
b. Fasilitas Kesehatan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI)
- TNI Angkatan Darat : Poliklinik kesehatan dan Pos Kesehatan.
- TNI Angkatan Laut : Balai kesehatan A dan D, Balai Pengobatan A, B,
dan C, Lembaga Kesehatan Kelautan dan Lembaga Kedokteran Gigi.
- TNI Angkatan Udara : Seksi kesehatan TNI AU, Lembaga Kesehatan
Penerbangan dan Antariksa (Laksepra) dan Lembaga Kesehatan Gigi &
Mulut (Lakesgilut).
c. Fasilitas Kesehatan milik Polisi Republik Indonesia (POLRI), terdiri dari
Poliklinik Induk POLRI, Poliklinik Umum POLRI, Poliklinik Lain milik POLRI
dan Tempat Perawatan Sementara (TPS) POLRI.
d. Praktek Dokter Umum / Klinik Umum, terdiri dari Praktek Dokter Umum
Perseorangan, Praktek Dokter Umum Bersama, Klinik Dokter Umum / Klinik
24 Jam, Praktek Dokter Gigi, Klinik Pratama, RS Pratama.
2. Fasilitas Kesehatan Tingakat Lanjutan :
a. Rumah Sakit, terdiri dari RS Umum (RSU), RS Umum Pemerintah Pusat
(RSUP), RS Umum Pemerintah Daerah (RSUD), RS Umum TNI, RS Umum
Bhayangkara (POLRI), RS Umum Swasta, RS Khusus, RS Khusus Jantung

28
(Kardiovaskular), RS Khusus Kanker (Onkologi), RS Khusus Paru, RS
Khusus Mata, RS Khusus Bersalin, RS Khusus Kusta, RS Khusus Jiwa, RS
Khusus Lain yang telah terakreditasi, RS Bergerak dan RS Lapangan.
b. Balai Kesehatan, terdiri dari : Balai Kesehatan Paru Masyarakat, Balai
Kesehatan Mata Masyarakat, Balai Kesehatan Ibu dan Anak dan Balai
Kesehatan Jiwa.
3. Fasilitas kesehatan penunjang yang tidak bekerjasama secara langsung dengan
BPJS Kesehatan namun merupakan jejaring dari fasilitas kesehatan tingkat
pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan yang bekerjasama dengan
BPJS Kesehatan, meliputi :
a. Laboratorium Kesehatan
b. Apotek
c. Unit Transfusi Darah
d. Optik

Pelayanan Kesehatan yang Dijamin

1. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Pelayanan kesehatan tingkat pertama,


meliputi pelayanan kesehatan non spesialistik yang mencakup:
a. Administrasi pelayanan
b. Pelayanan promotif dan preventif
c. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
e. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
f. Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis
g. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pratama
h. Rawat Inap Tingkat Pertama sesuai dengan indikasi medis.
2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, meliputi pelayanan kesehatan
rawat jalan dan rawat inap, yang mencakup:
a. Administrasi pelayanan
b. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis
dan subspesialis
c. Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun non bedah sesuai dengan
indikasi medis
d. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
e. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis
f. Rehabilitasi medis

29
g. Pelayanan darah
h. Pelayanan kedokteran forensik klinik
i. Pelayanan jenazah pada pasien yang meninggal setelah dirawat inap di
fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan bpjs kesehatan, berupa
pemulasaran jenazah tidak termasuk peti mati dan mobil jenazah
j. Perawatan inap non intensif
k. Perawatan inap di ruang intensif.
3. Persalinan. Persalinan yang ditanggung BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama maupun Tingkat Lanjutan adalah persalinan sampai dengan
anak ketiga, tanpa melihat anak hidup/meninggal.
4. Ambulan. Ambulan hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas
Kesehatan satu ke fasilitas kesehatan lainnya, dengan tujuan menyelamatkan
nyawa pasien.

E. Manfaat BPJS Kesehatan


Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi :
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non
spesialistik mencakup:
1. Administrasi pelayanan
2. Pelayanan promotif dan preventif
3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis
4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis
7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama
8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
b. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, yaitu pelayanan kesehatan
mencakup:
1. Rawat jalan, meliputi:
a) Administrasi pelayanan
b) Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter
spesialis dan subspesialis
c) Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
d) Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
e) Pelayanan alat kesehatan implant
f) Pelayanan penunjang diagnostic lanjutan sesuai dengan indikasi medis
g) Rehabilitasi medis

30
h) Pelayanan darah
i) Peayanan kedokteran forensik
j) Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan
2. Rawat Inap yang meliputi:
a) Perawatan inap non intensif
b) Perawatan inap di ruang intensif
c) Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri

31
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil magang yang dilakukan oleh Penyusun kurang lebih selama 1 bulan
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dilihat dari potensi yang ada di BPJS Kesehatan Cabang Pati, Sumber Daya
Manusis (SDM) kariawan BPJS Kesehatan didukung oleh pengetahuan provider
tentang pelayanan kesehatan sangat baik untuk pelaksaan pelayanan kesehatan
kepada peserta BPJS Kesehatan.
2. Pelayanan yang diberikan kepada peserta hampir memenuhi standar pelayanan
yang menjadi target BPJS Kesehatan.
3. Pelayanan kepesertaan memberikan suatu pelayanan yang terbaik kepada
peserta untuk memperlancar proses pendataan peserta.
4. Peserta yang sudah mendaftar harus membayar iuran per bulan sesuai kelas dan
faskes yang sudah ditentukan. Untuk kelas 3 sebesar Rp. 25.500, kelas 2
sebesar 42.500 dan kelas 1 sebesar Rp. 59.500.
B. Saran
Berdasarkan pengalaman Penyusun selama magang di BPJS Kesehatan,
Penyusun mengutarakan bebrapa saran antara lain sebagai berikut :
1. Kritik dan saran dari peserta BPJS Kesehatan lebih diperhatikan.
2. Lebih banyak mengadakan sosialisasi ke Peserta BPJS Kesehatan agar semua
peserta mengetahui bagaimana cara pendafataran mulai dari alur pendaftaran
peserta sampai kegunaan kartu BPJS Kesehatan.

32
DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2001. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. Jakarta :

Erlangga.

Buku Panduan Layanan bagi Peserta BPJS Kesehatan

www.bpjs-kesehatan.go.id

33
LAMPIRAN

Lampiran I Contoh Kartu Peserta BPJS Kesehatan

34

Anda mungkin juga menyukai