Anda di halaman 1dari 131

TANFIDZ

MUKTAMAR XX
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

Tema:
Menggerakkan Daya-Kreatif
Mendorong Generasi Berkemajuan

Pimpinan Pusat
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
2016
Editor
Fauzan Anwar Sandiah
Khairul Arifin

Tata Letak dan Sampul


Khairul Arifin

Penerbit
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Jl. KH. A. Dahlan No. 103 Yogyakarta


Telp/Fax. (0274) 411293

Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta


Telp./Fax. (021) 3103940

E-mail: sekretariat@ipm.or.id
Web: www.ipm.or.id

Copyright © PP IPM, 2016


Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pengantar
Ketua Umum Pimpinan Pusat
Ikatan Pelajar Muhammadiyah
2016-2018

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...


Alhamdulillahiroobil„alamin, puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT
atas segala limpahan karunia, hidayah serta inayahNya sehingga kita
semua masih tetap konsisten berjuang untuk kemaslahatan umat, bangsa,
dan persyarikatan dalam bingkai Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Shalawat
serta salam kita sanjungkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, sebagai
sosok suri tauladan kita hingga akhir zaman.
Berkat ridho Allah SWT Tanfidz Keputusan Muktamar Ikatan Pelajar
Muhammadiyah XX dapat terselesaikan dan semoga kita mampu bersyukur
untuk selalu Ihsan dalam mengemban amanah sebagai Kholifah Fil Ardh.
Amien.
Serangkaian transformasi penting di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah
(IPM) menjadi petunjuk bagaimana dinamika gerakan ini terus hidup.
Dinamika tersebut tidak saja yang terlihat pada diskursus formal semacam
keputusan Muktamar yang sifatnya internal organisasi, melainkan juga sikap
IPM dalam merespon realitas. Satu hal yang seringkali terlupakan adalah
peran IPM dalam sejarah pembentukan identitas pelajar Muslim Indonesia.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai organisasi massa berbasis
pelajar tentunya memiliki berbagai macam potensi yang bisa dikembangkan.
Pelajar sebagai agent of change diharapkan mampu mematangkan segala
kemampuan diri sehingga bisa mengimplementasikannya menjadi sebuah
kerja dan karya yang nyata. Tak dapat dipungkiri, kedepan akan sangat
banyak tantangan dan hambatan yang akan menghadang gerakan dakwah
kita sebagai bentuk dinamika pergerakan untuk mencapai cita-cita. Basis-
basis gerakan IPM yang ada di ranting harus bisa massif sebagai sumber
motor penggerak ikatan dan inspirasi kreatifitas yang tak kenal henti.

3
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Tanfidz hasil keputusan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah XX ini


diharapkan dapat sebagai pijakan dan pedoman dalam menjalankan segala
aktivitas organisasi di semua jenjang kepemimpinan IPM. Tentunya setelah
dipilah dan dipilih, sesuai dengan kondisi dan situasi yang berkembang. Kita
semua berharap semua keputusan Muktamar dapat ditaati dan dilaksanakan
disemua jenjang struktur pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Memasuki usia setengah abad lebih, IPM memiliki beban berat sebagai
central of intellectuality, central ideology dan perkaderan Persyarikatan
Muhammadiyah, maka kebijakan yang ditelurkan haruslah menjadi pijakan
dalam melakukan berbagi agenda gerakan.
Pentingnya selalu menumbuhkan spirit berkemajuan untuk menjadi lebih
berkualitas dan berkeunggulan dalam segala bidangnya. Makna
berkeunggulan yaitu unggul dalam hal kompetitif dan komparatif. Jika
dilombakan dengan yang lain, maka dia menang. Jika dibandingkan dengan
yang lain, maka dia lebih baik. Bangun kepemimpinan yang kuat, Bangun
tata kelola yang baik, dan mempertajam kekhasan yang unggul dari IPM.
Generasi Berkemajuan ditandai oleh keberhasilannya menemukan ruang diri
yang selalu kontekstual dengan semangat zaman.
Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Velandani Prakoso,
Ketua Umum PP IPM

4
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Daftar Isi
Pengantar Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM 2016-2018___3
Daftar Isi___5
Surat Keputusan Pengesahan Tanfidz Keputusan
Muktamar XX IPM___6
Surat Instruksi Pelaksanaan Tanfidz Muktamar XX IPM___7
Keputusan Induk Muktamar XX IPM___8
Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah___11
Surat Keputusan Pengesahan Struktur Pimpinan Pusat IPM
Periode 2016-2018___12
Tanfidz Muktamar XX IPM___14
BAB I: Pendahuluan___15
BAB II: Bedah Tema Muktamar XX___28
BAB III: Kebijakan Program Jangka Panjang 2014-2024___35
BAB IV: Pedoman Program IPM___42
BAB V: Program Kerja IPM Periode 2016-2018___50
BAB VI: Agenda Aksi___67
Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga___71
Penutup___122
Lampiran___123

5
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

6
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

7
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pelajar Muhammadiyah

KEPUTUSAN INDUK
MUKTAMAR XX IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH
NOMOR: 09-SK/PLENO IX/PP IPM /2016

Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah setelah:


Menimbang : Tema Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah
“Menggerakkan Daya Kreatif Mendorong Generasi
Berkemajuan”
Memperhatikan : 1. Amanat Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Bapak Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
2. Pidato Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Prof. Dr. H. Mudjir Efendy, M.Ap.
3. Sambutan Gubernur Kalimantan Timur Drs. H.
Awang Faroek, M.M. M.Si.
4. Pidato Iftitah Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan
Pelajar Muhammadiyah Ipmawan Muhammad
Khoirul Huda.
5. Usul saran peserta Muktamar XX dari sidang
Pleno I sampai pleno IX
Mengingat : 1. Anggaran Dasar IPM pasal 27
2. Anggaran Rumah Tangga IPM pasal 30

MEMUTUSKAN
Menetapkan
Pertama : Mengesahkan Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan
Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Periode 2014–2016;
Kedua : Mengesahkan Progress Report dan Pandangan Umum
Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah se-
Indonesia;
Ketiga Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Ikatan Pelajar
Muhammadiyah
Keempat : Mengesahkan Anggota Sidang Komisi A, B, C Muktamar
XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah;

8
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Kelima : Mengesahkan Hasil Pembahasan Sidang Komisi


Muktamar XIX Ikatan Pelajar Muhammadiyah:
Komisi A: Program Kerja
1. Bidang Organisasi
2. Bidang Perkaderan
3. Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan (PIP)
4. Bidang Kajian dan Dakwah Islam (KDI)
5. Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga
(ASBO)
6. Bidang Advokasi
7. Bidang Pengembangan Kreativitas dan
Kewirausahaan (PKW)
8. Bidang Ipmawati
Komisi B: Lembaga-Lembaga
1. Lembaga Media Komuniasi Teknologi dan
Informasi (MKTI)
2. Lembaga Lingkungan Hidup
Komisi C: Agenda Aksi
1. Gerakan Jihad Literasi
2. Gerakan Pendampingan Teman Sebaya
3. Gerakan Konservasi Ekologi;

Keenam : Mengesahkan dan Menetapkan Hasil Pemilihan Formatur


Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muham-madiyah periode
2016-2018 sebagai berikut:
1. Muhammad Abid Mujaddid
2. Rafika Rahmawati
3. Nurcholis Ali Sya’bana
4. Muhammad Irsyad
5. Hafiz Syafa’aturrahman
6. Khairul Sakti Lubis
7. Amiruddin Awalin
8. Anshar HS
9. Velandani Prakoso

9
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Ketujuh : Mengesahkan dan Menetapkan Ipmawan/ti Velandani


Prakoso sebagai Ketua Umum dan Ipmawan/ti Hafiz
Syafaaturrahman sebagai Sekretaris Jenderal Pimpinan
Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode 2016-2018
berdasarkan keputusan rapat formatur;
Kedelapan : Keputusan ini berlaku sejak ditetapkannya.

Ditetapkan di : Jakarta,

Pada : 1 Rabiul Awal1438 H


Bertepatan : 1 Desember 2016 M
Pukul : 20.30-22.30 WIB

Pimpinan Sidang
Ketua, Sekretaris, Anggota,

dto. dto. dto.

Jaenal Tuheitu Syahrian Melda Citra Dewi


24.05.37930 28.04.31584 29.00.00000

10
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

11
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

12
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

13
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

TANFIDZ MUKTAMAR XX
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

14
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB I
PENDAHULUAN

Perjalanan organisasi di masa ini dan masa mendatang sangat bergantung


pada pemahaman atas kondisi-kondisi mendesak yang tengah terjadi, baik
itu melingkupi kondisi lokal, nasional, hingga internasional. Berbagai
dinamika yang berkaitan dengan organisasi dibahas dan ditentukan dalam
Muktamar. Oleh karena itu, materi Muktamar IPM XX disusun melalui
pemahaman-pemahaman atas kondisi yang mendesak hari ini dan bagi
masa yang akan datang dengan tujuan supaya roda organisasi berjalan
maksimal. Materi Muktamar IPM XX disusun atas kajian mengenai beragam
kondisi yang terjadi di Indonesia, dengan harapan dapat memajukan gerak
IPM.
Pengenalan atas kondisi-kondisi tersebut akan membantu
organisasi memetakan jalan yang tepat dan bermakna bagi semua
kalangan. Indonesia tentu saja mengalami beberapa kondisi yang hanya
bisa diatasi oleh partisipasi kelompok sipil. Reformasi dunia pendidikan,
kebijakan yang bersifat inklusif, penegakan HAM, dan pengelolaan sumber
daya alam yang bertanggungjawab dan sadar, adalah beberapa hal penting
yang harus terus didorong kemajuannya. Peran kelompok sipil terutama dari
kalangan muda pada akhir-akhir ini semakin terasa pentingnya.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) adalah bagian dari kelompok
sipil yang memiliki peran penting, terutama dalam memfasilitasi aspirasi dan
kebutuhan kelompok muda. Muktamar IPM XX menjadi momentun untuk
memikirkan ulang apa saja yang dapat dilakukan oleh IPM. Selama ini IPM
telah melakukan banyak kontribusi besar dalam mengadvokasi kepentingan
pelajar. Perlu disebutkan beberapa di antaranya ialah mengembangkan
paradigma pendidikan yang tercermin lewat upaya serius merumuskan
Sistem Perkaderan IPM (SPI); mendorong kebijakan yang ramah terhadap
perkembangan kualitas pelajar dengan menolak standardisasi Ujian
Nasional (UN) sebagai patokan kelulusan; memastikan hak-hak pelajar tidak
dilangkahi oleh penyedia jasa pendidikan; sistematisasi gerakan dan spirit
„Iqro (literasi) dalam setiap kegiatan dan aktivitas IPM; hingga menempatkan
posisi pelajar sebagai stakeholder langsung Negara.
Kontribusi-kontribusi semacam itu bukan perkara mudah. Organisasi
pelajar di Indonesia pada umumnya harus berjibaku demikian keras dan

15
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

konsisten untuk mencapai hasil yang demikian gemilang. Kita tidak


bermaksud untuk mengutarakan apa saja yang telah dicapai oleh IPM
sebagai kebanggaan yang nostalgik. Lebih dari itu, IPM membutuhkan
terobosan yang menjawab kebutuhan mendasar pelajar pada khususnya,
dan masyarakat Indonesia secara umum. Ada beberapa pencapaian IPM
yang bagus, baik yang dilakukan secara individual atau organisasi yang
seringkali kurang diapresiasi.
Bagaimana caranya menciptakan kembali pencapaian-pencapaian
gemilang IPM? Caranya ialah dengan memahami dan siap mengambil
peran sekecil apapun. Berikut beberapa pemetaan kondisi yang dialami oleh
pelajar Indonesia secara umum, yang harus disadari oleh IPM, dan
membuka kemungkinan strategi seperti apa yang dapat dilakukan oleh IPM.
Informasi-infomasi di bawah ini berfungsi secara praktis bagi perencanaan-
perencaaan program terutama bagi struktur Pimpinan Pusat IPM karena
berkaitan dengan realitas di tingkat nasional, dan menjadi isu tingkat global

 Jumlah kelompok muda Indonesia1


Dalam statistik sensus tahun 2014, kelompok muda seringkali
dikategorikan sebagai “pemuda”, berjumlah 61,8 juta jiwa atau sekitar
24,58 % dari 252,04 juta jiwa penduduk Indonesia. Dirincikan sebagai
berikut:

Usia Jumlah
Di bawah 16 tahun 76,68 juta jiwa
Di atas 30 tahun 113,53 juta jiwa

Jumlah pemuda laki-laki lebih besar daripada pemuda perempuan (atau


yang disebut pemudi). Proporsi keberadaan pemuda di daerah perkotaan
mencapai 25,92 % sedangkan di pedesaan 23,14 %. Sebesar 23, 52
persen berstatus pelajar (masih bersekolah), dan ada sekitar 75,43 %
yang berstatus tidak bersekolah (terdiri dari pelajar putus sekolah, tamat
sekolah, melanjutkan ke bangku kuliah, dan bekerja). Jumlah pemuda
yang belum pernah mengakses pendidikan sebesar 1,05%.

1BPS, Statistik Pemuda Indonesia 2014, (Jakarta: BPS, 2015). Seluruh data diolah dari
hasi statistik tahun 2014.

16
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pertumbuhan partisipasi sekolah meningkat dari tahun ke tahun, pada


tahun 2012 berjumlah 19,05%, dan pada 2014 menjadi 23,52 %.
Angka pelajar yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga
Sekolah Menengah (SMA/sederajat) berjumlah 43,78% sedangkan
SMP/sederajat berjumlah 31,99%, dan 18,51% yang berhenti sekolah
ketika tamat SD/sederajat, dan 4,67 % yang tidak melanjutkan
menyelesaikan pendidikan SD.

 Minat Membaca dan Tantangan Buta Huruf


Menurut data statistik BPS tahun 2014, sebesar 0,64 % pemuda
Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Angka
buta huruf pemuda di pedesaan sebesar 1,26%, dan di perkotaan
sebesar 0,10%. Rincian mengenai kondisi minat baca dapat disajikan
dalam kenyataan mengenai kemampuan rata-rata manusia Indonesia
dalam membaca. Berikut adalah data dua tahun terakhir yakni antara
tahun 2014 hingga 2015. Tabel berikut menjelaskan persentase
penduduk buta huruf berdasarkan tiga kategorisasi usia yakni usia 15
tahun ke atas, usia 15-44 tahun, dan usia 45 tahun ke atas. Persentase
ini juga dirincikan berdasarkan provinsi.

Tabel Persentase Penduduk Buta Huruf Berdasarkan Usia tahun 2014-


2015
2014 2015
Persentase Penduduk Buta Persentase Penduduk Buta
Provinsi
Huruf (Persen) Huruf (Persen)
15+ 15-44 45+ 15+ 15-44 45+
ACEH 2.58 0.43 8.31 2.37 0.27 7.73
SUMATERA UTARA 1.43 0.66 3.19 1.32 0.51 3.08
SUMATERA BARAT 1.56 0.43 3.72 1.44 0.32 3.52
RIAU 1.25 0.48 3.59 1.13 0.33 3.42
JAMBI 2.23 0.57 6.34 2.16 0.49 6.06
SUMATERA SELATAN 1.86 0.52 5.06 1.78 0.48 4.73
BENGKULU 2.48 0.54 7.20 2.37 0.48 6.77
LAMPUNG 3.46 0.42 9.91 3.33 0.34 9.52
KEP. BANGKA
2.40 0.91 5.94 2.37 0.87 5.86
BELITUNG
KEP. RIAU 1.29 0.38 4.62 1.21 0.29 4.42
DKI JAKARTA 0.46 0.08 1.44 0.41 0.06 1.26

17
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

JAWA BARAT 2.04 0.41 5.56 1.99 0.29 5.45


JAWA TENGAH 7.02 0.65 16.68 6.88 0.50 16.10
DI YOGYAKARTA 5.56 0.09 13.71 5.50 0.19 12.80
JAWA TIMUR 8.64 1.43 19.66 8.53 1.24 19.24
BANTEN 2.76 0.48 9.21 2.63 0.33 8.69
BALI 7.44 1.06 18.72 7.23 0.61 18.31
NUSA TENGGARA
13.04 3.54 34.32 13.03 3.31 33.78
BARAT
NUSA TENGGARA
8.82 3.48 19.87 8.55 3.10 19.47
TIMUR
KALIMANTAN BARAT 7.70 2.06 21.18 7.68 2 20.78
KALIMANTAN TENGAH 1.18 0.32 3.56 1.12 0.30 3.32
KALIMANTAN
1.81 0.28 5.46 1.79 0.19 5.40
SELATAN
KALIMANTAN TIMUR 1.41 0.19 4.75 1.31 0.13 4.34
KALIMANTAN UTARA - - - 5.01 1.36 14.89
SULAWESI UTARA 0.40 0.18 0.77 0.37 0.17 0.71
SULAWESI TENGAH 2.92 1.38 6.45 2.66 0.91 6.42
SULAWESI SELATAN 8.74 2.58 21.44 8.71 2.22 21.34
SULAWESI
5.97 1.62 17.10 5.90 1.37 17.07
TENGGARA
GORONTALO 2.10 1.10 4.43 1.76 0.61 4.35
SULAWESI BARAT 7.73 3.93 17.66 7.36 3.33 17.37
MALUKU 1.23 0.81 2.21 1.15 0.80 1.96
MALUKU UTARA 1.64 0.57 4.67 1.51 0.47 4.28
PAPUA BARAT 3.25 2.27 6.36 3.12 2.09 6.32
PAPUA 29.22 28.50 31.85 29.17 28.47 31.57
INDONESIA 4.88 1.24 12.25 4.78 1.10 11.89

Data yang disajikan dalam statistik di atas menunjukkan bahwa tingkat


minat baca, akses bahan bacaan, dan tersedianya pendidikan alternatif
bagi pemuda usia pelajar secara khusus, dan rakyat Indonesia secara
umum belum maksimal.
Rilis tambahan dari PISA tahun 2012 menempatkan tingkat literasi
Indonesia pada peringkat 64 dari 65 negara. Indonesia tertinggal dari
Vietnam yang berada pada posisi 20 besar. Posisi minat baca pelajar
Indonesia berada pada angka 57 dari 65 negara yang diteliti. Data ini
memang tidak bisa dipegang sebagai gambaran utuh kondisi literasi di
Indonesia, akan tetapi cukup baik untuk memulai agenda gerakan literasi

18
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

kembali masif, baik itu di sekolah, universitas, hingga di sekitar


masyarakat.

 Kondisi Kerusakan Lingkungan Hidup


Kerusakan lingkungan hidup merupakan salah-satu tantangan yang tak
bisa dihindari oleh manusia. Pelajar di Indonesia harus segera menyadari
tantangan yang bersumber dari kerusakan lingkungan hidup sebelum
terlambat. Kerusakan lingkungan tidak saja mengakibatkan konflik
kemanusiaan tetapi juga mengakitbakan sumber daya alam yang tak
terwarisi untuk generasi selanjutnya di masa depan.
Sekitar 70% kerusakan diakibatkan oleh eksploitasi pertambangan.
Sebesar 34% daratan di Indonesia telah diserahkan sebagai area
eksploitasi, yang dapat dirinci dari 10.235 surat izin.2 Data terbaru juga
disajikan oleh BPS yang di antaranya memperlihatkan tingkat eksploitasi
yang berbahaya bagi sistem ekologi, termasuk tercemarnya sungai dan
laut, penebangan hutan yang melanggar ketentuan UU yang telah
menyebabkan kelompok adat tersingkir.

Tabel Bencana Ekologi/Lingkungan Hidup


Bencana Ekologi Lokasi
Sekolah, lingkungan tempat
Sampah tinggal, kawasan pesisir
laut, badan sungai
Sungai, laut, pemukiman
Limbah pabrik dan polusi
masyarakat
Pedesaan dan perkotaan
industri atau padat
Kekurangan cadangan air
pembangunan hotel dan
mall

2 Kompas, “70 Persen Kerusakan Lingkungan Akibat Operasi Tambang”,


http://regional.kompas.com/read/2012/09/28/17313375/70.Persen.Kerusakan.Lingkungan.a
kibat.Operasi.Tambang (akses September 2016). Berita ini penting untuk mengingatkan
bahwa peningkatan ekses dari proses eksploitasi alam terus terjadi dan cenderung
meningkat hingga tahun 2016. Ada banyak data baru yang diberikan untuk
menggambarkan dampak kerusakan ekologis bagi masyarakat rentan yang terdiri atas
kelompok masyarakat kelas menengah, dan kelas menengah ke bawah. Dua kelompok ini
harus menanggung dampak buruh kebijakan pro pertambangan dan keserakahan
korporasi. Hingga tahun 2012, kondisi terus memburuk.

19
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Ancaman kekurangan
pangan (sayur, ikan, Pedesaan dan perkotaan
daging, dlsb)
Ancaman gizi/ kelaparan Kota-kota menengah

 Kasus-Kasus Kekerasan yang Menimpa Pelajar


Pelajar adalah bagian dari kelompok yang paling rentan mengalami
kekerasan. Setiap tahun kasus-kasus kekerasan yang dialami pelajar
terus meningkat. Kekerasan yang dialami oleh pelajar terutama dengan
identitas gender perempuan, dikategorikan menjadi dua, yakni kekerasan
fisik dan non-fisik. Kekerasan fisik di antaranya ialah pemukulan,
pembunuhan (intensitas tertinggi terjadi di Papua), eksploitasi tenaga
kerja pelajar (pelajar buruh), pemerkosaan, dan lain sebagainya.
Sedangkan kekerasan non-fisik di antaranya ialah penahanan ijazah oleh
sekolah, stereotip budaya dan gender terhadap pelajar, perlakuan
diskriminasi, terbatasnya aksesibilitas pelajar difabel terhadap sejumlah
fasilitas pendidikan dan lain sebagainya.

 Hak akses informasi dan ketersediaan informasi bermutu bagi


pelajar
Salah-satu hal penting bagi pelajar adalah hak akses informasi dan
ketersediaan informasi bermutu bagi pelajar. Kendati demikian akses
informasi pelajar masih sangat terbatas. Sarana dan prasarana yang
mendukung akses informasi bagi pelajar sangat terbatas. Berikut adalah
daftar kebutuhan akses informasi bagi pelajar:

Media Akses Informasi


Perpustakaan
Buku braile
Biaya internet murah dan berkualitas (Indonesia salah-
satu negara dengan biaya internet termahal dengan
layanan yang terburuk di dunia)
Sosialisasi rutin informasi

Selain mendapatkan akses informasi yang mudah, pelajar juga memiliki


hak untuk disediakan informasi yang berkualitas. Pelajar Indonesia yang

20
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

berasal dari kelas menengah ke bawah pada umumnya hanya diberikan


informasi dengan kualitas terburuk; sinetron TV, channel berita yang
tidak edukatif, dan program-program TV yang tidak bermutu
(infotainment selebriti, kuis game yang mengandung rasisme dan
kekerasan). Maka penting bagi IPM untuk menjalankan gerakan
tandingan yang mampu memberikan pelajar akses informasi yang
bermutu.

 Mekarnya Gerakan Sosial Baru


Beberapa tahun terakhir, gerakan sosial baru berkembang begitu pesat
di Indonesia. Gerakan sosial baru tidak saja muncul sebagai gerakan
sosial yang memperjuangkan gender, hak politik sipil, gerakan pasifisme/
perdamaian. Muncul juga dua jenis gerakan sosial baru yakni berbentuk
komunitas, dan berbentuk kolektif. Jenis yang pertama disebut sebagai
gerakan sosial berbasis komunitas. Sedangkan jenis kedua disebut
sebagai Kolektif.
Gerakan sosial baru berbentuk komunitas misalnya yang digagas
oleh pegiat literasi, misalnya Rumah Baca Komunitas (Yogyakarta),
Griya Membaca (Lampung), Radiobuku (Yogyakarta) dan masih banyak
lagi. Gerakan sosial baru berbentuk komunitas literasi menurut data
RBK3 hingga pertengahan tahun 2016 berjumlah lebih dari 70 komunitas
yang tersebar di kota-kota besar hingga kota-kota menengah di
Indonesia. Sedangkan gerakan sosial baru berbentuk Kolektif misalnya
digagas oleh kelompok pekerja seni, mulai dari Kolektif Mural (misalnya
Mural Kediri), Kolektif Stensil (Media Legal, Anti-Tank, di Yogyakarta),
Kolektif Pro Hak Belajar Anak-Anak (Ketjil Bergerak Yogyakarta),
jumlahnya juga sangat banyak.

3 Sebagian besar data diperoleh lewat penelusuran berbasis jejaring. Data resmi gerakan
literasi di Indonesia (gerakan literasi dengan definisi Taman Baca Masyarakat atau TBM)
berjumlah 5.000 TBM. Jumlah Kolektif di Indonesia juga tidak tersedia secara resmi. Tetapi
diperkirakan lebih dari di atas 30 hingga 50 jenis Kolektif tersebar di Indonesia. Jumlah
sebenarnya lebih banyak daripada itu. Sulitnya mendata Kolektif disebabkan oleh polanya
sebagai gerakan sosial yang sangat fleksibel, di luar jangkauan definitif formal.

21
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

 Tanggungjawab Mengembangkan Cabang dan Ranting IPM Serta


Optimalisasi Peran IPM di Ranting Muhammadiyah
Ada asumsi bahwa pasca perubahan nama IRM (Ikaan Remaja
Muhammadiyah) ke IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) 2008, IPM
cenderung elitis. Mengapa? Karena terjadi pergeseran basis masa dari
remaja yang lebih luas menjadi pelajar secara khusus yang identik
dengan sekolah. Seakan-akan gerakan IPM mengalami kecenderungan
penyempitan ruang gerak. Padahal dalam AD-ART jelas dikatakan
bahwa ranting tidak hanya sekolah tetapi pesantren dan desa.
Konsekuensinya, IPM kehilangan peran di ranting Muhammadiyah.
Memang persoalan basis massa kadang membingungkan, namun
urgensi perubahan nama sejak tahun 2008 lalu kini harus dibuktikan
apakah sejarah akan berpihak pada IPM untuk meneguhkan jati diri
gerakan? Lebih-lebih ranting adalah ujung tombak gerakan IPM secara
nasional.
Cabang dan Ranting adalah tulang punggung dari IPM. Selama
beberapa dasawarsa, pembahasan mengenai Cabang dan Ranting IPM
hanya ditekankan pada fungsinya sebagai basis massa atau sebagai
objek dari pengembangan program sentralistik. Posisi Cabang dan
Ranting dalam IPM jelas sebagai subjek, bukan semata objek yang
pertama kali menerima dampak dari kebijakan-kebijakan pimpinan di
atasnya. Apalagi jika kebijakan-kebijakan tersebut sama sekali tak
menyentuh kebutuhan yang sebenarnya. Beberapa eksperimen pernah
ditempuh untuk menampakkan apresiasi terhadap keberadaan Cabang
dan Ranting, meksipun tetap saja karena kurangnya data maka program
atau kebijakan yang dihasilkan tak mengjangkau kebutuhan yang
sebenarnya.
Sebagian besar anggota IPM di tingkat Cabang dan Ranting
beberapa waktu belakangan ini juga melakukan banyak kontribusi
penting. Hal tersebut membanggakan, tidak saja untuk IPM tapi untuk
seluruh pelajar Indonesia. Beberapa di antara kontribusi tersebut ialah:

22
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Tahun Nama Sekolah Daerah Provinsi Kreasi


2011 SMA Muhammadiyah Wonosobo Jawa Tengah Membuat Parfum dari Buah Carica
2015 SMP Muhammadiyah Riau Alat Deteksi Asap
SD Muhammadiyah 3 Wirobrajan Sekolah Digital
2014 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Pesawat Pengintai
2014 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya Jawa Timur Robo Cup Singapore 2014
SMK Muhammadiyah Rembang Rembang Jawa Tengah Pendidikan Perakitan Mobil
Mts Muhammadiyah 7 Kejobong Purbalingga Jawa Timur Kembangkan Roket Air
2015 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Jawa Timur Menciptakan SkateBag (tas plus skateboard)
2014 SMA Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang Jawa Timur Microbus Solar-Car Suryawangsa 2
2014 SMK Muhammadiyah Haurgelulis Indramayu Jawa Barat Giwangkara Solar-Car 7.5
SD Muhammadiyah Sudagaran Robot
SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Jawa Tengah Rakit Mobil (bus, pemadam kebakaran, pick up, ambulan, mobil pariwisata, mobil jualan roti

Kreasi-kreasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa pelajar


Muhammadiyah merupakan subjek penting dalam membentuk
kolaborasi-kolaborasi bersama. Menjadi tanggungjawab setiap aktivis
IPM baik di tingkat Ranting hingga Pusat untuk mengapresiasi daya-
kreatif pelajar Muhammadiyah karena memberi manfaat bagi manusia
dan alam/lingkungan. Kreasi-kreasi pelajar Muhammadiyah tidak saja
dalam bidang sains atau bidang terapan, melainkan juga bidang sosial
humaniora. Tak terhitung banyaknya jumlah inovasi sosial yang
dilakukan oleh pelajar Muhammadiyah yang berdaya transformasi bagi
masyarakat. Di masa yang akan datang selain arsip data jumlah Cabang
dan Ranting IPM se-Indonesia, juga dibutuhkan arsip data mengenai
kreasi-kreasi pelajar Muhammadiyah.

 Rekomendasi Internal Konpiwil Surabaya 2016


Beberapa rekomendasi internal hasil Konpiwil Surabaya tahun 2016
merupakan informasi yang penting untuk menjadi rujukan
pengembangan program IPM pada periode berikutnya. Terdapat enam
rekomendasi internal IPM berdasarkan hasil Konpiwil Surabaya 2016.
Kendati demikian hanya empat yang akan dikutip kembali pada bagian
ini karena dua rekomendasi internal sudah diolah menjadi tindak lanjut.
Dua isu internal tersebut adalah (1) Optimalisasi peran IPM di Ranting
Muhammadiyah; (2) Urgensi Bidang Media atau Lembaga Media dan
Informasi IPM. Isu internal yang nomor (1) sudah dijelaskan di bagian
sebelumnya, sedangkan isu internal nomor (2) sudah ditindaklanjuti

23
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

dengan membentuk Bidang Media, Komunikasi, Teknologi, dan


Informasi.
1. Pembinaan Pelajar Muhammadiyah di Sekolah Negeri
Pembinaan pelajar di sekolah negeri kini harus menjadi program
prioritas IPM. Sebagai organisasi dakwah di kalangan pelajar, tentu
peran IPM harus menyentuh kepada sekolah negeri. IPM tidak
boleh ekslusif dengan kata-kata “Pelajar Muhammadiyah”, maka
kegiatan IPM kemudian menjadi sempit hanya menangani sekolah-
sekolah Muhammadiyah. Di era globalisasi seperti ini, IPM harus
memperkuat taring dakwahnya untuk membentengi karakter.
Tujuannya untuk menunjang dan membantu mewujudkan
keberhasilan pembinaan moral pelajar yang terancam. Kemasan
kaderisasi yang khusus untuk sekoleh negeri harus segera
dirumuskan. Program seperti MABITA (Malam Bina Iman dan
Takwa) sangat penting dihidupkan lagi di IPM sebagai wadah untuk
melakukan pengembangan dan pembinaan keagamaan siswa di
sekolah negeri. “Paling tidak ada dua alasan mengapa MABITA IPM
dibutuhkan di Sekolah Negeri. Pertama, jam belajar keislaman di
sekolah negeri terbatas. Hanya dua jam dan tidak cukup. Kedua,
untuk membentengi moral pelajar supaya selain menjadi pelajar
berilmu juga berakhlak mulia.

2. Stabilisasi Konstitusi Organisasi


Selama ini, IPM terkenal sangat tertib organisasi. Dalam muktamar
ke muktamar selalu merumuskan keputusan-keputusan penting bagi
gerakannya. Namun ada hal yang paradok di tubuh organisasi IPM,
ketika di setiap forum muktamar selalu membahas Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga. Akibatnya terjadi masalah dalam hal
distribusi kebijakan dan keputusan organisasi di struktur IPM.
Dikarenakan periode yang hanya 2 tahun, maka perubahan institusi
IPM setiap Muktamar akan menjadi problem organisasi. Idealnya
perubahan AD-ART jangan setiap periode, minimal ada jangka
waktu 10 tahun atau memang ada hal-hal fundamental yang
mengharuskan organisasi IPM terancam sehingga harus mengubah
AD-ART-nya.

24
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

3. Pengembangan Ranting Teladan


Ujung tombak gerakan nasional IPM adalah ranting. Sukses
tidaknya gerakan IPM adalah tergantung kepada dinamis atau
stagnannya ranting. Fokus gerakan IPM dengan demikian harus
mampu mobilisasi peran IPM di tingkat ranting. Oleh karena itu
Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, dan Pimpinan Daerah
berkewajiban dan harus membuat invovasi panduan-panduan
kegiatan yang menarik, aplikatif, sederhana, bermakna dan
menyenangkan untuk ranting. Panduan-panduan seperti Pedoman
IPM Rating, Fortasi, MABITA (MABICA), Pedoman Jurnalis,
Pedoman Advokasi, Materi Kultum, Pedoman Persidangan, dan
media-media lainnya harus diciptakan untuk menciptakan ranting
telada yang unggulan.

4. Pembumian SPI dan Pembentukan Korp Fasilitator


Perkaderan adalah nafas gerakan IPM. Dan kader adalah jantung
ikatan. Jika kaderisasi mandek, maka akan mengancam eksistensi
dan kelanjutan organisasi IPM. Maka SPI sebagai sebuah sistem
gerakan kaderisasi IPM tak hanya berupa panduan yang kaku dan
mati, lalu minus inovasi dan kreatifitas. Oleh karena itu diperlukan
sebuah perangkat perkaderan seperti Modul, Silabus, dan Materi
perkaderan harus segera dibuat untuk pembumian SPI. Selanjutnya
adalah perangkat perkaderan membutuhkan subyek yang mampu
menggerakkan dan mengimplementasikan sistem tersebut yaitu
Fasilitator. Jadi setelah dibuatnya SPI yang baru maka sudah
menjadi tugas PP IPM bersama PW IPM dan PD IPM untuk
massifikasi Sistem Perkaderan IPM dengan mengadakan sosialisasi
dan pelatihan-pelatihan serta pembentukan Korp-Korp Fasilitator.

 Paradigma Islam Berkemajuan Muhammadiyah


Konsep Islam Berkemajuan menurut Abdul Mu‟ti dapat dilandaskan pada
lima fondasi dasar. Pertama adalah karakter tauhid yang murni. Kedua,
memahami Al-Qur‟an dan Sunnah secara mendalam. Ketiga,
melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif. Keempat

25
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

berorientasi kekinian dan masa depan. Kelima, bersikap toleran,


moderat, dan suka bekerjasama.4
Fondasi pertama yang menyatakan bahwa Tauhid yang murni
sebagai landasan primer atau yang utama didasarkan pada kenyataan
historis bahwa Muhammadiyah lahir dari satu model “puritanisme” dalam
pendekatan gerakan sosial-keagamaan. Fondasi pertama tersebut
menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai sosial-keagamaan
senantiasa membuat rujukan literer atau kepustakaan dari kitab Al-
Qur‟an serta Sunnah. Posisi sentral Kitab Al-Qur‟an serta Sunnah
merupakan keniscayaan atau konsekuensi dari doktrin keagamaan Islam
yang meletakkannya sebagai acuan historis sekaligus kontemporal.
Dalam konteks historis Muhammadiyah, makna dari jargon kembali
kepada Al-Qur‟an serta Sunnah merupakan bagian dari implikasi
kehendak gerakan untuk mengkonsolidasi pemahaman bahwa hanya
dengan memahami Islam secara utuh dari sumber utamanya, umat Islam
dapat mencapai kemajuan. Berhubungan dengan kehendak tersebut,
maka proses ajakan untuk kembali kepada tauhid yang murni, seringkali
dilekatkan dengan persuasi merujuk Al-Qur‟an dan Sunnah sebagai
faktor kunci dalam membangun kemajuan umat Islam. Fondasi pertama
tersebut berhubungan secara khas dengan kenyataan bahwa Islam
Berkemajuan sebagai konsepsi mengharuskan terdapatnya pemahaman
sumber-sumber epistemologi, ontologi, dan aksiologi Islam yang
mendalam. Sumber-sumber tersebut, di antara yang utama tentu saja
adalah Al-Qur‟an dan Sunnah. Oleh karena itu, antara fondasi pertama
dan kedua, berhubungan sangat erat dan membentuk satu relasi yang
integratif.
Dalam doktrin Islam sebagai agama tauhid, dimensi manusia
didekati melalui fungsi-fungsi perubahan evolutif manusia menjadi
komunitas yang komunal. Artinya, manusia dalam pandangan Islam
memanifestasikan kehidupannya melalui dua dimensi pertama berkaitan
dengan manusia sebagai makhluk yang mampu liberatif (merdeka,
bebas, dan berdaulat), sekaligus sebagai makhluk yang meniscayakan
kehidupan komunal atau saling membutuhkan. Maka tidak heran dalam

4 Abdul Mu‟ti, “Lima Fondasi Islam Berkemajuan” dalam Faozan Amar (ed), Anang
Rohwiyono (ed), Mohammad Dwi Fajri (ed), Reaktualisasi & Kontekstualisasi Islam
Berkemajuan di Tengah Peradaban Global, (Jakarta: Al-Wasat, 2009), hlm. 27-45.

26
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Islam, manusia mengemban misi selain untuk menjadi individu yang taat
kepada Allah Swt, sekaligus melakukan transformasi sosial sebagai
bentuk amal shalih. Dalam bahasa normatif disebutkan bahwa manusia
harus berkelompok dan berbuat, menyeru, mengajak kepada yang ma‟ruf
dan meninggalkan yang mungkar. Berkaitan dengan eksplanasi tersebut,
maka fondasi tiga, empat, dan lima diderivasikan, sehingga mewujud
dalam kehidupan manusia.
Paradigma Islam Berkemajuan penting untuk dipahami oleh setiap
aktivis IPM karena berkaitan sebagai landasan epistemologi, ontologi,
dan aksiologi Islam menurut Muhammadiyah. Paradigma Islam
Berkemajuan akan memberi arah bagi aktivis IPM dalam membaca
realitas. Paradigma Islam Berkemajuan memberi implikasi bahwa segala
gerak IPM harus memuat dimensi dakwah Muhammadiyah.

27
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB II
BEDAH TEMA MUKTAMAR XX
“MENGGERAKKAN DAYA KREATIF MENDORONG GENERASI
BERKEMAJUAN”

Titik tolak perumusan konsep dasar Muktamar IPM XX terutama yang


menyangkut dengan materi muktamar, sebagian besar berangkat dari
pemahaman atas tantangan dan kondisi yang telah dijelaskan di Bagian I.
Oleh karena itu penting untuk memahami penjelasan-penjelasan Bagian I
sebagai sumber dari pengetahuan utama yang menyusun dasar-dasar
asumsi materi ini secara keseluruhan hingga ke bidang-bidang yang
dibutuhkan IPM dan agenda aksi. Sebelum membahas konsep dasar
Muktamar IPM XX, ada baiknya menjelaskan secara singkat dan garis besar
perjalanan IPM.
Serangkaian transformasi penting di tubuh Ikatan Pelajar
Muhammadiyah (IPM) menjadi petunjuk bagaimana dinamika gerakan ini
terus hidup. Dinamika tersebut tidak saja yang terlihat pada diskursus formal
semacam keputusan Muktamar yang sifatnya internal organisasi, melainkan
juga sikap IPM dalam merespon realitas. Satu hal yang seringkali terlupakan
adalah peran IPM dalam sejarah pembentukan identitas pelajar Muslim
Indonesia. Peran tersebut berkelindan dengan sejarah benturan ideologis
yang terjadi di arena kebudayaan populer. Gerakan Membaca, Gerakan
Matikan TV, Gerakan Tolak UN, Gerakan Anti-Kekerasan Tanpa Kekerasan,
Gerakan Komunitas Kreatif, adalah beberapa polarisasi eksperimentasi
kebudayaan populer IPM. Tentu saja jika hari ini kelas menengah muslim
tengah memanen kesadaran baru identitas pelajar Muslim, maka IPM tak
bisa lepas dari proses tersebut. Dua tahun belakangan ini antara 2014
hingga 2016, eksperimentasi IPM semakin berwarna, yakni gerakan
berbasis komunitas yang perhatian terhadap isu literasi dan isu lingkungan.
Mengapa eksperimentasi gerakan di IPM masih memberikan sisi lain
semacam itu?.
Perkembangan gerakan pelajar di Indonesia sesungguhnya menerima
cukup banyak tantangan (beberapa di antaranya sudah dijelaskan pada
bagian A). Distribusi bahan literasi, kasus-kasus kekerasan yang dialami
oleh pelajar, eksploitasi pelajar, kebijakan yang memicu kekerasan-
kekerasan baru terhadap pelajar, hingga rekonstruksi pop culture yang

28
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

menyajikan kelaziman teror, intimidasi, dan kekerasan pada pelajar. Sejak


tahun 1945, bahan-bahan literasi tertumpuk di kota-kota besar Indonesia.
Jumlah rata-rata buku yang diterbitkan di Indonesia menurut data IKAPI
hanya berjumlah 30.000. Hal ini berbeda dengan Inggris yakni sebesar
184.000, dan Amerika yang mencapai 304.912 publikasi per tahun. Kasus-
kasus korupsi juga kerap menghantui pengadaan buku di Indonesia.
Sejumlah kasus criminal juga menunjukkan bahwa pelajar tak bisa
lepas dari rantai kekerasan, baik yang dilakukan oleh sipil maupun negara.
Tahun 2015, dua orang pelajar di Mimika Papua menjadi korban tembak
aparat. Tahun 2016, kasus kekerasan seksual yang menimpa pelajar juga
tak diusut tuntas. Negara dalam hal ini tak mampu melakukan banyak hal.
Kebijakan perundang-undangan di tingkat Provinsi semacam Perda No. 1
tahun 2014 di DIY sarat memicu kekerasan terhadap anak dan remaja.
Sekali lagi, tantangan advokasi yang dihadapi IPM sesungguhnya semakin
kompleks.
Tantangan-tantangan yang dihadapi IPM bagaimana pun akan
merefleksikan arti penting keberadaannya. Jika IPM tak mampu
membangun dialektika terhadap tantangan-tantangan tersebut, bisa jadi IPM
akan kehilangan perannya menyusul sejumlah gerakan pelajar yang redup
ditelan pragmatisme. Maka sangat penting bagi IPM untuk mengolah daya-
kreatif yang dimilikinya sebagai kekuatan penting dalam menyikapi berbagai
tantangan yang ada. IPM harus mampu menggerakkan daya-kreatif dan
kekuatannya melalui banyak strategi. Era IPM yang baru bersandar pada
dua kata kunci penting sebagai cara merawat daya-kreatifnya. Pertama
adalah kemampuan IPM untuk berkolaborasi dengan gerakan lain dan
seluas-luasnya dalam rangka memperkaya khazanah internal.
Meskipun IPM tergolong gerakan yang tua, tetapi etos kolaborasi
harus terus melekat dalam dirinya. Etos kolaborasi akan memberi IPM
banyak kesempatan dalam mengolah strategi-strategi baru memperbaharui
posisi elanvitalnya. Perkembangan gerakan sosial berbentuk komunitas
dengan eksperimentasi yang kian beragam merupakan kesempatan IPM
memperdalam daya-kreatifnya. Etos kolaborasi akan membawa IPM pada
eksperimentasi baru gerakan Muhammadiyah yang kreatif dan mampu
menjawab tantangan zaman. Perubahan konstelasi gerakan sosial menjadi
komunitas harus menjadi catatan penting IPM untuk merespon perubahan-
perubahan yang terjadi.

29
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Daya-kreatif IPM sangat bergantung pada kemampuannya


berkolaborasi. Kehadiran banyak komunitas seharusnya direspon oleh IPM
sebagai sumberdaya baru yang akan membantunya menemukan solusi
menghadapi berbagai tantangan. Kolaborasi IPM dengan komunitas-
komunitas literasi misalnya akan menjadi salah-satu terobosan berbagi
peran antara IPM dan para penggerak eksperimen komunitas literasi.
Melalui etos kolaborasi, IPM justru akan semakin memperkuat gerakannya
sekaligus memperkuat berbagai inisiasi-inisiasi eksternal lainnya. IPM tidak
mungkin menafikan perkembangan terbaru dari perubahan konstelasi yang
sangat cepat akibat dari perkembangan teknologi. Sama seperti platform
inisiasi lainnya yang ikut berubah atau memanfaatkan perubahan zaman,
IPM juga dapat melakukan hal yang serupa. Kehadiran platform semacam
petisi online misalnya merupakan cerminan dari pemutakhiran platform
inisiasi model baru. Petisi online misalnya mendorong perubahan cara
partisipasi banyak individu atau kelompok menembus batas-batas geografis.
Tentu saja dengan berbagai kelemahan latennya, perubahan partisipasi
individu atau kelompok melalui platform era baru ini tetap patut diperhatikan.
Bukti bahwa etos kolaborasi merupakan kunci dari cara menyambut
era menggerakkan daya-kreatif IPM lainnya ialah munculnya gap baru
antara generasi muda urban yang beralih dari konsumsi media konvensional
menjadi media digital sekaligus sebuah generasi muda yang terbatas akses
literasinya. Generasi muda urban tentu saja merupakan sebuah klas sosial
baru yang menikmati berbagai kemudahan teknologi, sedangkan pada sisi
lain terdapat generasi muda di beberapa tempat di Indonesia yang akses
informasinya dibatasi. Pentingnya cara pikir yang kolaboratif akan
menyelamatkan IPM dari dilema laten dalam proses penyusunan disain
program. Maka selain memperhatikan wujud kolaborasi IPM dengan
berbagai inisiasi yang lahir dari kekayaan urban semacam (akses literasi;
internet, perpustakaan, universitas, sekolah) maka pentingnya juga untuk
melihat kemungkinan kolaborasinya dengan gerakan-gerakan kecil yang
berusaha merawat kehidupan generasi muda. Misalnya gerakan mural di
desa-desa, jaringan Kaukus (semacam kolaborasi jaringan antara
organisasi, individu yang fokus pada advokasi) dan gerakan literasi yang
beberapa tahun belakangan ini berorientasi-kerja pada kelompok sub-altern
atau juga kelompok lainnya yang seringkali disebut sebagai Kaum Miskin
Kota (KMK; anak jalanan, buruh anak/remaja) merupakan partner kolaborasi
penting IPM.

30
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

IPM sebagai gerakan tak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi


berbagai pemutakhiran tantangan. IPM harus mampu membuka kembali
wajah barunya dalam merespon berbagai perkembangan. IPM harus
menghidupkan kembali spirit kolaborasi dalam berbagai aspek. Meksipun
begitu sebagaimana yang telah dicatat di atas, kerja-kerja kolaboratif IPM
harus meningkat menjadi mitra kolaborasi yang setara. Hal ini untuk
menghindarkan model kolaborasi yang selama ini diperankan oleh IPM
misalnya dengan Negara yang selalu saja timpang. IPM memiliki kualitas-
kualitas yang seharusnya menjadi kebanggaan aktivisnya; kekuatan massa
aktif yang besar, dinamika yang terus dirawat dalam setiap muktamar,
gerakan pelajar dengan kordinasi yang kolektif-setara. Kualitas-kualitas itu
harusnya menjadi identitas penting IPM ketika berhadap dengan mitra
kolaborasi semacam Negara. Kualitas itu juga menjadi peluang IPM dalam
memperkuat berbagai gerakan-gerakan berbasis komunitas yang diinisiasi
oleh masyarakat sipil.
Kesadaran IPM terhadap kerja kolaborasi sebenarnya merupakan
sebuah kekuatan baru yang akan menjadi salah satu jawaban bagaimana
cara IPM berkelindan menemukan ejawantahnya. Kehadiran inisiasi-inisiasi
transformatif kontemporer sebagai wujud dari gerakan sosial baru (New
Social Movement) seperti komunitas literasi atau komunitas pro-ekologi
merupakan kekuatan bagi IPM dalam menggembirakan proses transformatif.
Kerja-kerja kolaborasi dengan demikian bermakna bagi penguatan antar
setiap gerakan dalam mendorong transformasi yang bermakna. Maka kerja
kolaboratif harus membawa dimensi keberpihakan yang kuat jika tidak, kerja
kolaboratif akan dianggap sebagai pembenaran dari relasi-relasi yang justru
memperlemah transformasi. Misalnya dengan menetapkan prinsip
menghindari kolaborasi bersama pihak-pihak yang teridentifikasi merusak
lingkungan, atau yang terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran HAM.
Kata kunci selanjutnya bagi IPM dalam menggerakan daya-kreatifnya
adalah berbagi (sharing). Etos berbagi merupakan kunci bagi IPM untuk
menemukan kembali kesegaran cara-cara IPM berpartisipasi dalam
transformasi sosial. Era baru yang tengah dihadapi oleh IPM adalah era
distribusi informasi. Era sharing ditandai dengan munculnya ruang-ruang
publik baru baik digital maupun non-digital. Perubahan ruang-ruang publik
baru ini juga diikuti oleh perebutan arah diskursus. Maka etos sharing akan
menjaga IPM dari kecenderungan yang sangat laten terjadi dalam perebutan
arah diskursus yakni sikap pasif. Jika IPM tak mampu mengambil bagian

31
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

dari perebutan arah diskursus, dengan mudah dapat ditenggelamkan. IPM


akan jadi kehilangan daya-kreatifnya. IPM punya kepentingan dalam
mempertahankan etos berbagi, yang dengan demikian juga harus mau
mengubah caranya berpartisipasi selama ini. Pada tahun 2015 saat
diluncurkan aplikasi IPM berbasis sistem android smartphone, wujud sharing
IPM yang baru sebenarnya telah diupayakan kembali. Hanya saja perlu
ditekankan bahwa etos berbagi IPM harus dibarengi oleh spirit berdaya
aktivisnya. Artinya, masing-masing aktivis IPM memiliki caranya masing-
masing dalam berpartisipasi. Aktivis IPM yang memiliki bakat dalam bidang
teknologi tentu akan menentukan jalan sendiri dibandingkan dengan aktivis
IPM yang menyenangi sastra.
Etos berbagi harus berangkat dari perasaan berdaya setiap aktivis
IPM. Persis dalam konteks inilah etos berbagi akan menemukan
kegairahannya melahirkan daya-kreatif yang senantiasa segar dan
bermakna. Etos berbagi yang berlandaskan pada rasa berdaya akan
menghasilkan inisiasi-inisiasi yang membawa makna bagi kemanusiaan.
Secara otomatis program-program yang dibentuk pun akan membawa
warna yang tak sekedar baru, mengikuti tren, atau dengan setting yang
mewah. Penekanannya adalah bahwa dalam etos berbagi, inisiasi-inisiasi
kreatif aktivis IPM memiliki nilai yang setara terutama bagi misi-misi
kemanusiaan. Misalnya gerakan pro-ekologi aktivis IPM dapat dipandang
sebagai percobaan kreatif yang membawa makna.
Generasi Berkemajuan ditandai oleh keberhasilannya menemukan
ruang diri yang selalu kontekstual dengan semangat zaman. KH. Ahmad
Dahlan menjadi contoh generasi muda yang berhasil mengejawantahkan
etos kolaborasi dan etos berbagi yang sangat kuat bagi kemanusiaan. KH.
Ahmad Dahlan tak segan-segan berkolaborasi dengan gerakan lainnya
semacam Syarikat Dagang Islam (berdiri tahun 1905, kemudian berubah
nama menjadi Syarikat Islam pada tahun 1906) atau Budi Utomo (berdiri
tahun 1908). Begitu juga yang terjadi ketika KH. Ahmad Dahlan membangun
komunikasi dengan Jam‟iatul Khair yang baru berdiri pada tahun 1919, lebih
muda dari Muhammadiyah yang didirikan bersama para muridnya. Etos
kolaborasi dan berbagi yang dirawat oleh KH. Ahmad Dahlan merupakan
salah-satu topik yang seringkali kurang diapresiasi sebagai salah-satu faktor
daya-tahan dan daya-kreatif Muhammadiyah sejak tahun 1912. Catatan
penting dari contoh kerja kolaborasi dan berbagi KH. Ahmad Dahlan terletak
pada orientasi kemanusiaan yang dibangunnya, bukan sekedar pada siapa

32
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

mitranya. Bagi KH. Ahmad Dahlan, tujuan transformatif merupakan tujuan


utamanya memperkuat Muhammadiyah dengan berkolaborasi dengan
berbagai gerakan lain.

Daya-Kreatif
Istilah “kreatif” berarti bentuk aktivitas, tindakan, atau strategi, dalam
mengatasi hambatan dan tantangan secara inovatif. Istilah kreatif juga
mengacu pada proses menciptakan suatu hal baru berdasarkan inspirasi
atau imajinasi. Individu atau kelompok yang mampu menjadikan tindakan-
tindakan keseharian dan memberi dampak bagi perubahan penting dapat
dikategorikan sebagai kreatif. Tindakan kreatif tidak selalu mendatangkan
manfaat praktis seperti peningkatan pada aspek ekonomi masyarakat, tetapi
pada perannya secara aktual dan historis.
Makna diksi “kreatif” yang digunakan terletak pada dua pertimbangan.
Pertama, diksi ini bisa dipahami oleh banyak kalangan dengan definisi yang
sekalipun berbeda secara prinsipil tetapi punya potensi untuk membuka cara
baru memahami keadaan. Kata “kreatif” sendiri bisa berubah posisi dan
dipertukarkan dengan berbagai istilah (baik sepadan atau tidak) untuk
kepentingan dan peruntukan yang dengan kadar tertentu bisa saja sama.
Diksi kreatif memainkan peran penting dalam ungkapan apresiatif. Sewaktu
menggunakan kata “kreatif” pertama kali, ada pertimbangan bahwa kata ini
dapat digunakan untuk menggambarkan tindakan-tindakan kreatif. Pada
satu sisi ada semangat untuk mengapresiasi segala sesuatu dengan bumbu
sifat “kreatif”, dan itu peluang baik untuk dipergunakan.
Daya-kreatif berarti dorongan dalam menciptakan kemungkinan-
kemungkinan alternatif dari suatu wujud yang tampak terbatas, terhambat,
atau tidak mungkin. Daya-kreatif pada umumnya muncul karena
kepemimpinan, peran, strategi, kebijakan, kesempatan, atau situasi yang
mendorong penciptaan inovatif. Menurut Bernard Rose dalam bukunya
Breakthrough Thinking for Nonprofit Organizations (2002) menjelaskan
bahwa daya-kreatif adalah proses mengungkap dan mengolah realitas
menjadi menarik yang berguna bagi manusia dan alam. Daya-kreatif yang
diasah akan menjadi keterampilan penting bagi individu atau pun organisasi.
Rose juga menjelaskan bahwa daya-kreatif merupakan faktor pendorong
kerja maksimal setiap organisasi non-profit.
IPM adalah organisasi non-profit yang berfungsi sebagai wadah
pengembangan diri mau pun komunitas pelajar tentu saja membutuhkan

33
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

pengetahuan dalam mengelola daya-kreatif sehingga membantu organisasi


mencapai visinya. Daya-kreatif juga telah menjadi jawaban mengapa IPM
mampu bertahan konsisten sebagai organisasi sejak tahun 1961. Dalam
IPM, daya-kreatif anggota sangat diapresiasi dan telah menginspirasi. Daya-
kreatif yang diapresiasi terbukti mendorong replikasi yang bermakna bagi
setiap anggota dan struktur yang tercermin dalam kebijakan-kebijakannya.
Daya-kreatif memungkinkan IPM mengembangkan eksistensinya karena
selalu merespon perubahan zaman dengan pemahaman yang matang dan
visioner.

Generasi Berkemajuan
Generasi berkemajuan menurut Muhammadiyah, merujuk pada
kelompok, atau komunitas yang “mendorong pada kebaikan, dan mencegah
kemungkaran” (amar ma‟ruf dan nahy munkar). Generasi berkemajuan
memanfaatkan etos kolaborasi dan etos berbagi sebagai caranya
memperoleh inspirasi sekaligus caranya memperkuat proses amar ma‟ruf
dan nahy munkar. Bercermin dari KH. Ahmad Dahlan, generasi
berkemajuan merupakan kelompok, atau komunitas yang mampu berpikir
mendalam atas kondisi realitas, potensi mengubahnya, dan cara
memanfaatkan kekuatan yang tersedia. KH. Ahmad Dahlan memiliki visi
mendalam terhadap kondisi masyarakat yang tertindas di bawah hegemoni
suprastruktur baik yang dijalankan oleh kolonial maupun feodalisme para
priyayi. Dengan demikian berpikir kritis-analitis melalui telaah literasi yang
mendalam akan menjadi landasan penting generasi berkemajuan.
Arti penting menjadi generasi berkemajuan bagi aktivis IPM terletak
pada lima hal. Pertama, sebagai proses pemurnian tauhid, yang juga berarti
purifikasi motif segala tindakan transformasi sosial sebagai bentuk
pengabdian terhadap Allah Swt. Kedua, sebagai proses pembelajaran
kembali nilai-nilai al-Qur‟an dan hadits yang mendorong inisiasi kreatif bagi
ummat dalam rangka rahmatan lil alamin. Ketiga, pelembagaan inisiasi-
inisiasi kreatif dalam rangka merawat keberlanjutan transformasi sosial
sehingga mudah direplikasi. Keempat, berorientasi pada pembaruan-
pembaruan yang mampu mendukung kebermanfaatan yang bermakna.
Kelima, bersikap kolaboratif dengan berbagai pihak sebagai kehendak murni
mendorong kemajuan kehidupan.

34
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB III
KEBIJAKAN PROGRAM JANGKA PANJANG 2014-2024
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

Program IPM bukan semata-mata rencana dan pelaksanaan seperangkat


kegiatan yang praktis. Program IPM ialah perwujudan dari misi utama IPM
yaitu “Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan
terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai
ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-
benarnya”. Adapun visi ideal (tujuan utama), misi ideal (misi utama), dan
agenda aksi IPM diwujudkan melalui program sebagai berikut.

A. VISI IDEAL IPM


Terwujudnya pelajar Muslim yang Berkemajuan

B. MISI IDEAL IPM


1. Membebaskan pelajar dengan Tauhid yang murni berdasarkan Al-
Quran dan As-Sunnah.
2. Mencerdaskan pelajar dari kebodohan, dengan melakukan tradisi
Iqra‟ dan keilmuan
3. Memberdayakan individu dan komunitas pelajar, dengan pendekatan
apresiatif terhadap minat, bakat dan potensi pelajar.

C. LANDASAN YURIDIS
Bahwa program Muhammadiyah dengan rangkaian kebijakan dan
kegiatannya senantiasa berpijak pada:
1. Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran dan hukum Islam.
2. Mengindahkan falsafah dan dan dasar negara serta hukum yang
sah dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.
3. Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan-
peraturan yang berlaku dalam Persyarikatan.

35
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

D. PRINSIP PELAKSANAAN PROGRAM


Program IPM dirumuskan dan dilaksanakan dengan berpedoman pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Ketauhidan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan
perwujudan dari iman dan tauhid kepada Allah;
2. Prinsip Kerahmatan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan
penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi rahmatan lil alamin
3. Prinsip Kerisalahan; maksudnya program IPM hendaknya merupakan
penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi kerisalahan umat Islam, yaitu
dakwah amar makruf nahi munkar dalam arti yang luas;
4. Prinsip Kemaslahatan; maksudnya program IPM hendaknya
memperhatikan kemaslahatan umum;
5. Prinsip Keilmuan; maksudnya program IPM direncanakan dan
dilaksanakan secara rasional dengan memperhatian dan
memanfaatkan secara ilmu pengetahuan dan teknologi yang
memungkinkan;
6. Prinsip Kekaderan; maksudnya program IPM selalu dijiwai nilai-nilai
kekaderan. Semua yang dilakukan IPM dalam rangka proses kaderisasi
yang bersifat pemberdayaan anggota;
7. Prinsip Kemandirian; maksudnya program IPM direncanakan dan
dilaksanakan secara mandiri dengan tujuan menciptakan kemandirian
pelajar.
8. Prinsip Kreativitas; maksudnya program IPM hendaknya merupakan
penjabaran dan pelaksanaan dari fungsi kekhalifahan umat Islam
dalam mengelola kehidupan secara kreatif;
9. Prinsip Kemanusiaan; maksudnya program IPM direncanakan dan
dilaksanakan tidak secara ekslusif. Artinya orientasi program IPM selalu
diarahkan untuk kemanusiaan, tanpa memandang suku, agama, ras,
dan budaya.

E. TUJUAN PROGRAM JANGKA PANJANG (VISI IPM 2024)


Program IPM Jangka Panjang adalah suatu tahapan pencapaian tujuan
IPM itu sendiri. Secara spesifik rumusan tujuan Program Jangka Panjang
sebagai Visi IPM 2024 adalah: “Membumikan Gerakan Pelajar

36
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Berkemajuan dengan Menjadikan IPM sebagai Rumah Minat dan Bakat


Pelajar Indonesia disertai Nilai-nilai Ajaran Islam sebagai Komponen
Masyarakat Islam yang Sebenar-Benarnya ”, yang ditandai dengan:
1. Tebentuknya sistem gerakan IPM sebagai gerakan pelajar Indonesia
yang unggul di bandingkan gerakan-gerakan pelajar lain dalam
melaksanakan misi dakwah dan pencerdasan yang ditunjukkan dengan
sistem gerakan yang maju, profesional, modern yang dilandasi nilai
keikhlasan dan komitmen penggerakknya, disertai dengan pemahaman
ideologi, paradigma, dan visi gerakan IPM yang didalam individu-
individu teraktualisasi nilai-nilai publik dan sosial dalam ruang
organisasi.
2. Terbentuknya sistem manajemen organisasi dan kepemimpinan
kolektif-kolegial yang efektif, produktif, dinamis sehingga mampu
menghadirkan keteladanan, memproyeksikan masa depan
(berkemajuan) untuk perubahan dengan memobilisasi seluruh potensi
pelajar Indonesia untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang berkualitas dengan meningkatnya kehidupan
keagamaan, moralitas, keilmuan, dan etos kerja kemanusiaan.
3. Terbentukknya model dan pola jaringan pada level komunitas,
keummatan, kebangsaan dan cita-cita menuju peradaban global
dengan mendorong berkembangnya fungsi-fungsi kekuatan sosial dan
pemerintahan yang menjamin terwujudnya kehidupan bangsa dan
negara yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat di bawah
naungan ridha Alah SWT (baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur).
4. Terbentukknya sumberdaya sebagai wahana melahirkan generasi
Islami yang berkemajuan (sumberdaya manusia) ditandai dengan
sistem kaderisasi yang berkelanjutan dan anggota organisasi sebagai
subyek gerakan serta transformasi kader di berbagai lini kehidupan,
juga tersedianya modal bagi berjalannya roda organisasi yang
berorintasi sosial (sumberdaya finansial), serta membangun tatanan
infrastruktur seperti sistem informasi,komunikasi dan karya yang
memadai untuk keberlangsungan IPM.
5. Terbentuknya kesadaran bahwa IPM dalam melakukan aksi dan
pelayanan ialah sebagai wahana dakwah di dunia pelajar, baik lewat
karya kreatif, program dan kegiatan unggul yang sesuai dengan
kebutuhan pelajar Indonesia. Sehingga nilai-nilai ajaran Islam dan

37
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

tumbuhnya kesadaran sebagai warga dunia yang lebih luas akan


keutamaan kehidupan Islami, yang menjamin terciptanya tatanan
kehidupan (pergaulan) yang utama di segala bidang kehidupan sebagai
wujud kehadiran Islam yang bersisifat rahmatan lil‟‟alamin.

F. TAHAPAN KEBIJAKAN PROGRAM


Pokok kebijakan program jangka panjang merupakan pedoman dan
arah gerak Persyarikatan yang dilaksanakan secara bertahap melalui
program dua (2) tahunan selama sepuluh (10) tahun. Tahapan-tahapan
program jangka panjang tersebut adalah sebagai berikut.
1. Muktamar XVIII (2012-2014) : diarahkan kepada penumbuhan
kesadaran kritis dan aksi kreatif pelajar serta penjagaan karakter
pelajar dengan paradigma gerakan pelajar berkemajuan menuju
gerakan yang kritis dan progresif.
2. Muktamar XIX (2014-2016): diarahkan kepada pembangunan kekuatan
dan kualitas pelaku gerakan, ideologi gerakan IPM dengan
mengoptimalkan sistem perkaderan sebagai pendukung terwujudnya
“Gerakan Pelajar Berkemajuan” dan berorientasi ke masa depan,
sehingga IPM memiliki sumberdaya yang siap menjadi aktor dan
subyek gerakan.
3. Muktamar XX (2016-2018) : diarahkan kepada IPM sebagai gerakan
ilmu, manifestasi Gerakan Pelajar Berkemajuan yang unggul di
kalangan pelajar serta terciptanya tradisi dan habitus iqra’ di dunia
pelajar sebagai faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya
masyarakat utama yang berperadaban.
4. Muktamar XXI (2018-2020), diarahkan kepada pembangunan
komunitas kreatif sebagai strategi kultural Gerakan Pelajar
Berkemajuan untuk melakukan transformasi individu, transformasi
sosial, dan transformasi kebudayaan di tengah masyarakat global.
5. Muktamar XXII (2020-2022), diarahkan transformasi (perubahan cepat
ke arah kemajuan) dan terciptanya seluruh elemen sistem organisasi
dan jaringan IPM yang maju, profesional, dan modern; berkembangnya
sistem kaderisasi, gerakan ilmu, serta peningkatan dan pengembangan
peran strategis IPM dalam kehidupan umat, bangsa, dan dinamika
global.

38
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

6. Muktamar XXIII (2022-2024), diarahkan perjuangan pembentukan


masyarakat ilmu sebagai cikal bakal terwujudnya tujuan
Muhammadiyah, yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya atau
masyarakat utama, yang bertujuan terbentuknya peradaban utama.

G. SASARAN KEBIJAKAN IPM


Sasaran kebijakan IPM diarahkan pada dua, sasaran persoal dan
sasaran institusional. Berikut ini penjelasannya.
1. Sasaran Personal. Diarahkan pada terwujudnya tradisi kesadaran kritis-
progresif dalam berfikir dan bertindak sesuai dengan maksud dan tujuan
IPM.
2. Sasaran Institusional. Diarahkan pada terciptanya struktur kelembagaan
yang kuat dan fungsional melalui pengembangan ranting serta
mekanisme kepemimpinan yang mantap dalam mendukung gerakan
Ikatan menuju gerakan ilmu yang berparadigma pelajar berkemajuan.

H. HIRARKI KEBIJAKAN
1. PP IPM
a. Penentu kebijakan organisasi secara nasional
b. Melakukan koordinasi dengan PW IPM Se-Indonesia
c. Melakukan kerja-kerja dalam lingkup menggagas nilai-nilai baru dan
penguatan kapasitas kader IPM secara nasional
2. PW IPM
a. Menerjemahkan kebijakan-kebijakan Muktamar atau kebijakan yang
telah diputuskan oleh PP IPM di tingkat wilayahnya
b. Mensosialisasikan keputusan-keputusan PP IPM atau keputusan
bersama di tingkat nasional
c. Mengatur kebijakan-kebijakan strategis dalam lingkup
kewilayahannya
d. Melakukan koordinasi dengan PP IPM dan konsolidasi dengan PD
IPM-nya
e. Melakukan kerja-kerja konkrit di tingkat wilayah sebagai upaya
pengembangan jaringan dan penguatan kapasitas organisasi
maupun para kadernya
3. PD IPM
a. Motor penggerak IPM secara daerah
b. Melakukan aksi-aksi riil yang telah menjadi keputusan Muktamar

39
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

dan keputusan musywarah di atasnya


c. Selalu berkoordinasi dengan PW IPM dan konsolidasi dengan PC
IPM atau PR IPM di tingkat daerahnya
4. PC IPM
a. Melakukan aksi-aksi riil yang telah menjadi keputusan Muktamar
dan keputusan musywarah di atasnya
b. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang langsung tertuju dan
bermanfaat pada sekolah dan kalangan pelajar
c. Selalu berkoordinasi dengan PD IPM dan konsolidasi dengan PR
IPM di tingkat daerahnya
5. PR IPM
a. Melaksanakan kebijakan-kebijakan kongkrit yang telah menjadi
keputusan Muktamar dan keputusan musywarah di atasnya
b. Selalu berkoordinasi dengan PD IPM atau PC IPM-nya

I. INDEKS PROGRESIVITAS GERAKAN IPM


Indeks Progresivitas Gerakan (IGP) IPM merupakan satu metode
yang digunakan oleh IPM untuk mengukur keberhasilan sebuah organisasi
dalam satu periode tertentu. Di sini, IPM telah merumuskan empat ranah
yang menjadi tolok ukur keberhasilan gerakan IPM dalam setiap satu
periodenya di berbagai jenjang struktur, baik dari Ranting hingga Pusat.
Keempat ranah itu adalah ranah kepemimpinan, ranah kaderisasi, ranah
program kerja, dan ranah produk Masing-masing ranah memiliki indikator
yang menjadi tolok ukur keberhasilan dari masing-masing ranah tersebut.
Berikut ini penjelasannya:

No. Ranah Indikator


1. Visi tentang IPM yang ideal
2. Mampu membangun kesadaran kolektif
3. Memproduksi wacana-wacana gerakan
1. Kepemimpinan 4. Mampu menggerakkan aktor dan struktur
5. Mampu mengartikulasikan kepentingan basis
gerakan
6. Mampu membangun jaringan eksternal

40
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

1. Pelaksanaan Taruna Melati atau kegiatan


kaderisasi pendukung lainnya yang sesuai
SPI
2. Kaderisasi 2. Ada kegiatan follow up kaderisasi
3. Pendampingan yang berkelanjutan
4. Munculnya komunitas-komunitas hasil
perkaderan sebagai basis gerakan
1. Adanya program-program di setiap bidang
sebagai penerjemahan gerakan
2. Adanya follow up dari program
3. Program Kerja
3. Adanya komunitas-komunitas
pascapelaksaan program
4. Ada kegiatan rutin di masing-masing bidang
1. Setiap bidang melahirkan produk dalam
bentuk artefak-artefak, seperti: buku, majalah,
4. Produk buletin, website, kaos, striker, dll.
2. Distribusi artefak baik di internal IPM maupun
ke eksternal.

41
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB IV
PEDOMAN PROGRAM IPM

A. Tahapan Program
Alur logika materi muktamar IPM XX disusun berdasarkan pada tahapan
kebijakan program IPM sebagaimana yang termaktub di dalam Tanfidz
Muktamar IPM XIX tahun 2014. Tahapan kebijakan program IPM
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

2022-2024
Pembentukan
masyarakat ilmu

2020-2022
Sistem organisasi yang profesional
dan modern, jaringan IPM mencapai
lingkup global (internasional), peran
IPM bagi bangsa

2018-2020
Terbentuknya komunitas
kreatif, mendorong
transformasi individu, sosial,
dan kebudayaan

2016-2018
Gerakan Ilmu, pematangan
habitus ‘Iqra, mendukung
terwujudnya masyarakat
utama

42
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Bagan Alur Logika Materi

Alur materi Muktamar IPM XX disusun menggunakan siklus


Appreciative Inquiry (AI). Definisi “that inquires into, identifies, and further
develops the best of what is in an organization in order to create a better
future” (Coghlan, Preskill, Catsambas, 2003). AI adalah pendekatan yang
digunakan untuk mempelajari, menganalisis, dan membuat perencanaan
pengembangan organisasi berdasarkan pada kekuatan apa saja yang
selama ini berfungsi dan bermakna bagi organisasi. AI memanfaatkan
best practice atau keberhasilan-keberhasilan yang selama ini dicapai
oleh organisasi, kemudian mengembangkannya sebagai kekuatan yang
akan mendorong perubahan lebih baik di masa ini dan di masa yang
akan datang.
Bagan alur materi Muktamar IPM XX terdiri atas lima siklus;
Discovery, Dream, Design, Delivery. Masing-masing siklus akan
dijelaskan sebagai berikut:
 Discovery: berkaitan dengan proses penemuan inti kekuatan yang
menggerakkan organisasi. Pertanyaannya diawali dengan apa yang
selama ini berfungsi dan bermakna bagi setiap aktivis IPM?, dalam

43
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

kondisi yang bagaimana semua aktivis IPM memaknai


keberadaannya bersama IPM?.
 Dream: berkaitan dengan apa yang diimpikan oleh organisasi. Dream
adalah visi dan atau misi yang ditentukan oleh organisasi dalam
jangka waktu tertentu.
 Design: berkaitan dengan apa yang harus dilakukan, disediakan,
atau dikondisikan agar Dream muncul?.
 Destiny: berkaitan dengan strategi atau bentuk aksi semacam apa
yang harus dilakukan agar Design dapat berjalan?.
 Delivery: berkaitan dengan strategi apa yang dibutuhkan agar destiny
mampu berjalan maksimal. Delivery juga berkaitan dengan upaya
mendampingi proses penerapan rancangan strategi, hingga
mengevaluasinya.
Alur logika materi Muktamar IPM XX dibuat untuk memfasilitasi
diskursus bagi periode kepemimpinan IPM 2016-2018. Alur logika materi
Muktamar IPM XX dengan demikian tidak saja menyangkut dengan
kepentingan muktamar, melainkan juga berkaitan dengan keseluruhan
rancangan besar arah kebijakan IPM selama 2016-2018. Segala yang
tergambar pada bagan alur logika materi merupakan dasar dari
pembahasan materi secara keseluruhan. Cara membaca alur logika
materi adalah sebagai berikut:
 Discovery (kekuatan yang ditemukan dalam IPM): Kekuatan atau
faktor mendasar yang menggerakkan aktivitas IPM adalah daya-
kreatif. Daya-kreatif dimaknai sebagai kesempatan yang diberikan
IPM bagi setiap anggotanya untuk menjadikan IPM sebagai tempat
pembelajaran sekaligus sebagai tempat mengembangkan
keterampilan-keterampilan yang bermakna. Daya-kreatif juga menjadi
ciri utama dari faktor yang menggerakkan banyak organisasi atau
komunitas berbasis pelajar secara umum, tidak saja IPM. Organisasi
atau komunitas mana pun yang ingin mempertahankan eksistensinya
memerlukan pengapresasian daya-kreatif yang dimilikinya, terutama
yang bermanfaat bagi banyak orang.
 Dream (mimpi apa yang dibangun oleh IPM untuk periode 2016-
2018?): berdasarkan pada tahapan kebijakan, mimpi utama IPM pada
periode 2016-2018 adalah terwujudnya IPM sebagai gerakan ilmu.

44
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Daya-kreatif sebagai kekuatan IPM harus digunakan untuk


mewujudkan mimpi IPM sebagai gerakan ilmu.
 Design (apa yang harus dirancang oleh IPM?): tujuan IPM menjadi
gerakan ilmu dirancang melalui sejumlah program dan kebijakan yang
memungkinkan tujuan tersebut dapat dicapai. Program yang
dibutuhkan berkaitan dengan pengembangan program literasi,
program peduli lingkungan, program yang berkaitan langsung dengan
kebutuhan Ipmawati (peka gender), dan penguatan media informasi
(dibutuhkan bidang yang khusus mengelola media informasi IPM).
 Destiny (strategi apa yang harus digunakan IPM): strategi yang
dibutuhkan IPM untuk mewujudkan visi sebagai gerakan ilmu,
setidaknya membutuhkan tiga strategi. Pertama adalah memperkuat
gerakan literasi dan sosio-entrepreneurship, serta menggunakan AI
sebagai metode pengembangan organisasi (struktur dan wujud
program).
 Delivery: IPM harus mendampingi proses untuk mewujudkan visi
gerakan ilmu melalui program-program yang telah dirancang dan
sedang digerakkan. Setiap jenjang kepemimpinan IPM wajib
mendampingi perkembangan struktur kepemimpinannya (internal)
mau pun struktur kepemimpinan di bawahnya (PP  PW  PD 
PC  PR).

B. Basis Nilai Sistem Gerakan IPM


Sistem Gerakan IPM berkaitan dengan nilai-nilai yang mendasari seluruh
program dan aktivitas IPM. Sistem Gerakan IPM dirumuskan sebagai
acuan utama yang mendasar untuk IPM sebagai gerakan dakwah dan
gerakan amar ma‟ruf nahyi munkar. Sistem Gerakan IPM dilandaskan
pada Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Secara spesifik, dasar nilai dari Sistem
Gerakan IPM adalah surat Al-Qolam ayat 1. Sistem Gerakan IPM juga
dapat dimaknai sebagai “kesadaran mendasar” yang dimiliki oleh setiap
aktivis IPM. Sistem Gerakan IPM sebagai kesadaran mendasar
mengambil inspirasi dari surat Al-Qolam ayat 1, sehingga bisa disebut
sebagai kesadaran Al-Qolam atau kesadaran Nûn.
Surat Al-Qolam ayat 1 berbunyi “Nûn, WalQalami Wamâ
Yasthurûn”. Nun dapat dimaknai sebagai “nur” atau “cahaya”. Allah Swt
di dalam surat Al-Qolam ayat 1 mengumpakan Al-Qolam (pena) sebagai

45
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

media untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman. Al-


Qolam menjadi simbol pencerahan bagi akal dan nurani manusia (tanwir
al-.uqul wa al-qulub). Melalui Al-Qolam manusia diajak untuk mendorong
perubahan, sebagaimana sifat tajdid Muhammadiyah (Z. Baidhawy,
dalam Azaki Khoirudin, 2015).
Nûn adalah salah satu huruf hijaiyah, unsur sebuah kalimat. Nûn
sebagai huruf yang bergerak-dinamis, menjadi tanda atau simbol yang
mengandung pesan untuk memahami realitas sosial. Nûn juga dapat
dimaknai sebagai teori-teori atau rumus-rumus pengetahuan yang meru-
pakan hasil kerja keras keilmuan para ilmuan terdahulu (Azaki Khoirudin,
2015). Kesadaran Al-Qolam atau kesadaran Nûn dengan demikian
menuntun manusia untuk membaca, menulis, dan mengupayakan
transformasi sosial sebagai konsekuensi logisnya. Kesadaran Nûn
mengajarkan manusia bahwa realitas dapat dipahami dengan
memaksimalkan peran akal. Segala upaya yang ditempuh atas
kesadaran Nûn akan membawa manusia mengenal Allah Swt sebagai
Yang Maha Memiliki Ilmu. Dengan demikian kesadaran Al-Qolam atau
kesadaran Nûn tidak saja menuntun manusia ke jalan yang lurus tetapi
juga membuka pemahaman atas tanggungjawabnya sebagai khalifah fil-
ardh. Di antara beberapa tugas manusia ialah menjaga alam semesta
dari kerusakan yang ditimbulkan akibat pengabaian kesadaran Nûn.
Maka penting bagi IPM untuk menjadikan kesadaran Al-Qolam atau
kesadaran Nûn sebagai basis dari ideologi, paradigma, dan gerakannya.

Ideologi berarti teori atau strategi perjuangan untuk mewujudkan nilai-


nilai Al-Qolam dalam kehidupan sehari-hari. IPM memaknai ideologi
sebagai panduan mengimplementasikan keyakinan dan cita-citanya
secara konkret di kehidupan pelajar Indonesia. Ideologi juga

46
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

mempengaruhi cara pandang IPM dalam empat aspek pokok


pembahasan; kebangsaan, kenegaraan, kemanusiaan, dan
persyarikatan. Dalam perihal kebangsaan sudah jelas, berdasarkan nilai
Al-Qolam yang berarti melek terhadap realitas sejarah mengakui bahwa
sifat kebangsaan Indonesia adalah “bhineka tunggal ika” yang tidak
keras menghadapi perbedaan.
Dalam perihal kenegaraan berarti IPM memegang prinsip darul
ahdi wa syahadah, dan tidak mengakui kategori selain itu karena akan
bertentangan dengan ajaran Islam Berkemajuan. Perihal kemanusiaan,
ideologi IPM sudah sangat jelas mengacu pada prinsip “pencerdasan,
pembelaan, pemberdayaan, dan pembebasan”. Sedangkan perihal
persyarikatan, ideologi dituntun oleh konsep Islam Berkemajuan yang
memegang teguh tauhid dan sikap moderat serta mengedepankan amal
sosial.
Paradigma sebagai aspek kedua dari Al-Qolam berarti kerangka
berpikir utama IPM selalu disandarkan pada nilai-nilai Al-Qolam.
Paradigma bagi IPM didefinisikan sebagai seperangkat konsep yang
berhubungan sama lain secara logis dan membentuk sebuah kerangka
pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan
menjelaskan realitas yang dihadapi. Paradigma Al-Qolam dengan
demikian membantu IPM untuk menerjemahkan konsep Islam
Berkemajuan yang sesuai dengan konteks gerakan IPM.
Tertib Ibadah,
Tertib Belajar,
Tertib Organisasi

Pencerdasan,
Tiga Paradigma Pemberdayaan,
IPM dan Pembebasan

Penyadaran,
Pemberdayaan,
dan Pembelaan

Pelajar Berkemajuan

47
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Gerakan sebagai aspek ketiga dari Al-Qolam berarti IPM harus


konsisten dengan tiga identitas besarnya yakni sebagai gerakan ilmu,
gerakan aksi, gerakan transformatif. Muktamar XIX merumuskan gerakan
ilmu IPM sebagai berikut:
“..(gerakan ilmu adalah) perwujudan dari etos pengabdian sebagai
dasar dalam paradigma pelajar berkemajuan. Nilai utama dari ilmu
adalah ”beribadah” sebagai ”pengabdian”, penghambaan.
Penghambaan atau pengabdian ini dalam Islam berupa rukun
Islam. Dalam “paradigma gerakan ilmu”, pengabdian
ditransformasikan menjadi pengabdian pada lima hal, yakni pada
(a) Allah; (b) Pengetahuan; (c) diri-sendiri;(d) sesama dan (e) alam
[baca: tiga implikasi praktis; diri-sendiri, sosial, dan lingkungan].”

Diri Sendiri

Implikasi Praktis Sosial

Lingkungan

Dengan demikian gerakan ilmu memiliki cakupan; yakni sebagai


proses transformasi diri menjadi dekat dengan Allah Swt. Gerakan ilmu
juga sebagai proses menimba pengetahuan yang berguna bagi diri
sendiri, orang lain, dan bagi alam semesta (ilmu pengetahuan sebagai
cara mengerem kerusakan alam). Oleh karena itu dalam IPM muncul
empat narasi besar gerakan IPM: Gerakan Tiga T; Gerakan Kritis-
Transformatif (GKT); Gerakan Pelajar Kreatif (GPK); dan Gerakan
Pelajar Berkemajuan (GPB). Empat narasi besar gerakan IPM itu
bersumber dari inspirasi surat Al-Qolam ayat 1.
Gerakan ilmu mendapat prioritas utama karena basis IPM berasal
dari komunitas pelajar. IPM memaknai gerakan ilmu sebagai proses
mengejawantahkan pemikiran-pemikiran yang memungkinkan
masyarakat terberdayakan sehingga membuat kehidupan sosial semakin
dinamis dan transformatif. Oleh karena itu gerakan ilmu selalu
bersamaan dengan dua jenis gerakan aksi dan gerakan transformatif.

48
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Gerakan ilmu akan memperkuat basis


pengetahuan aksi sehingga memungkinkan proses transformatif terjadi.

C. Aktualisasi Nilai IPM


Aktualisasi Sistem Gerakan IPM adalah sejumlah nilai-nilai yang
dipegang oleh IPM dalam menyusun sistem gerakan, baik untuk program
kerja organisasi maupun untuk program kerja bidang. Aktualisasi nilai
dibagi ke dalam tiga aspek; individu, organisasi, dan sosial, yakni
sebagai berikut:

Nilai Individu Nilai Berorganisasi Nilai Sosial


1. Kemurnian Aqidah 1. Good Governance 1. Keunggulan
2. Ketaatan beribadah 2. Tersistem 2. Amar ma‟ruf
3. Istiqamah 3. Kolektif-kolegial 3. Nahyi munkar
4. Keikhlasan 4. Musyawarah 4. Orientasi misi
5. Berjiwa gerakan 5. Menggembirakan 5. Amal shalih
6. Suka beramal (tabsyir) 6. Kemashlahata
7. Bermasyarakat 6. Shidiq n umum
8. Keteladanan 7. Amanah 7. Ekoliterasi
9. Moderat 8. Fathonah 8. Pro-dhuafa
10. Tajdid 9. Disiplin 9. Keandalan
11. Ekoliterasi 10. Komitmen 10. Keterpaduan
11. Ukhuwah 11. Kesinambung
12. Visioner an
13. Dinamis 12. Pencerahan
14. Ekoliterasi 13. Demokrasi
14. Transparansi
15. Toleransi
16. Anti
kekerasan

49
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB V
PROGRAM KERJA IPM PERIODE 2016-2018

A. Dasar Program Kerja


Sistem Gerakan IPM adalah seperangkat nilai spesifik yang melandasi
segala aktivitas IPM, baik dalam manajemen organisasi, landasan
program, atau aktvitias IPM. Sistem Gerakan IPM berarti apa saja yang
menjadi kriteria keberhasilan gerakan IPM baik itu yang melingkupi
pendekatan struktural (struktur kepemimpinan) atau pun pendekatan
kultural (komunitas). Terdapat enam Sistem Gerakan IPM; keilmuan,
kekaderan, keberpihakan, pemberdayaan, keislaman, kemanusiaan, dan
keorganisasian.

Keilmuan

Keberpihakan

Pemberdayaan
Capaian Umum
Keislaman

Kemanusiaan

Keorganisasian

1. Keilmuan, maksudnya program dan aktivitas IPM sebagai organisasi


harus dilandasi oleh prinsip keilmuan yang dicirikan sebagai berikut:
 Rasional/logis
 Berbasis kebutuhan pelajar
 Berbasis riset
 Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan yang
sedang terjadi.
Keilmuan juga berarti segala program dan aktivitas IPM harus
karena tujuan keilmuan yakni sebagai sarana mempelajari
ilmu dan pengetahuan.

50
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2. Kekaderan, maksudnya program dan aktivitas IPM selalu dilandasi


oleh nilai-nilai kekaderan. Semua yang dilakukan IPM dalam proses
berorganisasi selalu bersifat pemberdayaan anggota. Kekaderan
meliputi:
 IPM memfasilitasi pengembangan kapasitas diri anggotanya
dalam aspek pemahaman ideologi.
 IPM memfasilitasi pengembangan kapasitas diri anggotanya
dalam aspek pemahaman paradigma.
 IPM memfasilitasi pengembangan kapasitas diri anggotanya
dalam aspek pemahaman gerakan.

3. Keberpihakan
Keberpihakan maksudnya ialah segala program dan aktivitas IPM
harus jelas letak keberpihakannya terhadap aspirasi pelajar. IPM
memiliki tanggungjawab untuk membawa aspirasi pelajar dan
mengadvokasinya. Kata “keberpihakan” menunjukkan bahwa posisi
IPM tidak netral terhadap keadaan. IPM harus terlibat aktif atas
kepentingan pelajar. Keberpihakan adalah salah-satu kriteria capaian
umum yang sangat penting bagi IPM. Dalam banyak kasus IPM harus
mampu berpihak mengadvokasi kepentingan kelompok pelajar-rentan
(pelajar difabel, pelajar perempuan, pelajar putus sekolah, pelajar dari
kelas sosial menengah ke bawah). Dengan demikian capaian umum
keberhasilan IPM terletak pada kemampuannya menunjukkan
keberpihakan yang semakin dibutuhkan.

4. Pemberdayaan
Pemberdayaan sebagai kriteria capaian umum IPM berarti segala
gerak IPM senantiasa ditujukan bagi proses pengembangan
kemampuan anggotanya. Pemberdayaan berarti proses
pengembangan kapasitas, kemampuan, kreatifitas, dan kekuatan
pelajar. Konsep pemberdayaan yang digunakan oleh IPM selalu
bersifat partisipatoris dan dua arah. Proses pemberdayaan dalam IPM
bertujuan sebagai cara membentuk integritas, kemandirian,
kecakapan, dan keterampilan yang dibutuhakn dalam kehidupan
sehari-hari.

51
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

5. Keislaman
IPM merupakan organisasi berbasis pelajar dengan nilai-nilai
keislaman; tauhid. Keislaman sebagai salah-satu kriteria capaian
umum berarti IPM dalam menjalankan organisasi harus menyadari
posisinya sebagai sayap dakwah Islam Muhammadiyah. IPM
bertanggungjawab memformulasikan model dakwah yang ramah,
menyenangkan, dan membawa manfaat bagi pelajar dan remaja pada
umumnya. IPM dituntut untuk selalu menawarkan inovasi dakwah
bagi mad‟u muda.

6. Kemanusiaan
Kemanusiaan berarti segala proses yang terjadi di dalam
pengembangan organisasi harus bersifat manusiawi. Mengakomodir
segala kapasitas yang ada pada anggota IPM. IPM
bertanggungjawab untuk menjadi wadah bagi pelajar secara
keseluruhan tanpa terkecuali. IPM tidak hanya mewadahi aspirasi
kelompok sosial pelajar tertentu, tetapi secara menyeluruh.

7. Keorganisasian
Keorganisasi berarti berfungsinya IPM sebagai sebuah sistem.
Landasan semua program IPM adalah sistem, di mana IPM bergerak
atas sistem yang berfungsi. Pemimpin IPM harus mampu mengayomi
dan mewadahi setiap anggota agar dengan ikhlas berperan maksimal
di IPM, dengan berbagai strategi manusiawi yang dapat ditempuhnya.
IPM adalah organisasi, maka sudah sewajarnya dijalankan
berdasarkan pada sifat keorganisasian. Semua program dan
kebijakan IPM harus didasarkan pada musyawarah mufakat.
Organisasi IPM dijalankan dengan melibatkan kesepakatan semua
pihak.

52
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

B. Lima Aspek Pengembangan Program Kerja


Sistem Gerakan IPM adalah bentuk konkret penerapan sistem gerakan.
Capaian bidang berbasis program ditentukan melalui lima aspek
pengembangan program kerja yang menjadi penerjemah Visi IPM yang
bersifat tujuan yang sifatnya adiluhung, berjangka panjang, dan
menunjukkan kedalaman nilai.
1. Sistem Gerakan: Sistem Gerakan berkaitan dengan alur internalisasi
dan eksternalisasi nilai organisasi. Internalisasi nilai berarti nilai apa
saja yang diharapkan menjadi pegangan bersama antara setiap
anggota organisasi. Jika berkaitan dengan bidang-bidang, berarti nilai
semacam apakah yang diharapkan oleh bidang yang bersangkutan
menjadi pegagan dan komitmen bersama. Sedangkan eksternalisasi
nilai berarti nilai apa sajakah yang diharapkan mampu menjadi tujuan
organisasi atau secara spesifik setiap bidang yang ada di IPM. Sistem
gerakan disusun dengan berpedoman pada nilai-nilai yang tertuang
dalam Aktualisasi Sistem Gerakan IPM (BAB IV, Sub-Bab C).
2. Organisasi dan Kepemimpinan: organisasi dan kepemimpinan
berarti hal apa saja yang dibutuhkan atau harus disediakan oleh
organisasi dan kepemimpinan dalam memfasilitasi perjalanan
organisasi menuju terwujudnya visi.
3. Jaringan: jaringan berkaitan dengan apa yang harus dilakukan oleh
bidang atau organisasi dalam memfasilitasi tercapainya visi yang
berkaitan dengan kemitraan. Misalnya untuk mencapai visi gerakan
Iqro‟ maka perlu ditentukan bagaimana, dengan siapa, IPM harus
membangun jejaring.
4. Sumber daya: sumber daya adalah hal apa saja yang dapat dicapai
oleh kerja organisasi atau bidang berkaitan dengan peningkatan
kapasitas anggota dan sasaran program. Sumber daya juga berarti
dukungan apa yang dibutuhkan oleh organisasi atau bidang agar
visinya tercapai (dukungan finansial atau infrastruktur).
5. Aksi: aksi adalah wujud konkret dari strategi perencanaan visi. Aksi
juga berarti garis besar dari apa yang dapat dilakukan agar visi
tercapai.

53
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

C. Program Kerja Bidang-Bidang dan Lembaga-Lembaga

No. Aspek-Aspek Bidang-Bidang

Bidang Organisasi
1 Terwujudnya IPM sebagai organisasi
terdepan dalam merespon dinamika zaman
Visi
dan perkembangan global sebagai wujud
gerakan pelajar berkemajuan.
2 Mengembangkan sistem organisasi IPM yang
Sistem Gerakan
maju, efektif, dan profesional berbasis data
3 Meningkatkan kualitas dan fungsi-fungsi
kepemimpinan organisasi di berbagai
Organisasi dan
tingkatan yang berbasis pada penerapan
Kepemimpinan
budaya kerja organisasi yang manusiawi,
apresiatif, amanah dan terukur.
4 Memperkuat jaringan kelembagaan IPM di
Indonesia melalui komunikasi intensif dan
Jaringan
pendampingan sehingga mampu bersinergi
membangun organisasi.
5 Meningkatkan kualitas kepemimpinan di
Sumber daya berbagai tingkatan yang mampu menjalankan
misi ikatan.
6  Meningkatkan konsolidasi gerakan di
berbagai tingkatan yang berorientasi
pada penguatan jejaring internal dan
akar rumput melalui pembinaan dan
Aksi
pendampingan
 Melengkapi dan menguatkan basis data
organisasi sebagai dasar pelaksanaan
program yang terukur dan tepat sasaran.
Bidang Perkaderan
1 Berkembangnya kapasitas anggota dan
Visi kader IPM sebagai pelaku gerakan yang
memiliki keunggulan kapasitas, komitmen

54
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ideologis, dan mampu memajukan serta


menyebar-luaskan peran IPM sebagai
gerakan pelajar dalam dinamika
kemanusiaan, umat, bangsa, dan
Muhammadiyah.
2 Memperkuat kapasitas kader dan ideologi
dengan mengoptimalkan Sistem Perkaderan
IPM dengan mengadakan Pelatihan Kader
Sistem Gerakan
Taruna Melati secara massif yang berdaya
emansipatif dan mencerahkan dengan spirit
Islam Berkemajuan.
3 Mendukung segala proses kaderisasi baik
dalam wujud formal, informal, dan non-formal.
Organisasi dan Berkomitmen untuk menjaga proses
Kepemimpinan perkaderan yang manusiawi, apresiatif, dan
fokus pada pengembangan kapasitas diri
kader sebagai generasi berkemajuan.
4 Meningkatkan koordinasi dan kerjasama
secara tersistem antar pimpinan dalam hal
Jaringan
pelaksanaan perkaderan di lingkungan
masing-masing.
5 Membentuk dan meningkatkan kualitas
fasilitator dan membina fasilitator yang
mampu mengembangkan perkaderan
Sumber daya
fungsional yang lebih relevan dan kompatible
dengan kepentingan dan kebutuhan para
kader.
6  Mengadakan kajian-kajian perkaderan
untuk pengembangan konsep, model,
pendekatan, dan metode yang lebih
berkualitas dalam pelaksanaan perkaderan
Aksi IPM untuk dijadikan pedoman kegiatan
perkaderan di setiap tingkatan pimpinan.
 Identifikasi, penyusunan database, dan
pemetaan kader yang dimiliki IPM di
semua lini.

55
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

 Mengadakan hari ber-IPM disaat momen-


momen liburan sekolah atau saat milad
IPM.
Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP)
1 Terbentuknya tradisi iqro‟ (membaca,
menulis, riset), serta pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek), dan
Visi eksplorasi aspek-aspek kehidupan yang
bercirikan Islam, sehingga mampu menjadi
alternatif kemajuan dan keunggulan
Peradaban.
2 Mengembangkan tradisi iqro‟ di lingkungan
IPM sebagai bagian dari pengembangan
Sistem Gerakan
gerakan ilmu melalui gerakan literasi dan
komunitas ilmiah remaja
3 Menguatkan kapasitas kepemimpinan yang
mampu mengembangkan program-program
Organisasi dan
penelitian dan ilmu pengetahuan-teknologi
Kepemimpinan
sebagai basis pengambilan kebijakan dan
pengembangan kemajuan.
4 Membentuk dan bersinergi dengan komunitas
Jaringan literasi untuk menumbuhkan tradisi keilmuan
di kalangan pelajar.
5 Meyiapkan kader yang mampu berpikir kreatif
Sumber daya dan bersikap ilmiah dalam mengoptimalkan
gerakan ilmu di kalangan pelajar.
6  Membentuk pusat-pusat keilmuan,
seperti perpustakaan, rumah baca, dan
komunitas kreatif-ilmiah di kalangan
pelajar.
 Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
Aksi
pencerdasan seperti bedah buku,
seminar, bedah film, diskusi, dan lain-
lain.

56
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Bidang Kajian dan Dakwah Islam (KDI)


1 Berkembangnya dakwah islam pelajar yang
bersifat inspiratif, menggembirakan dan
mencerahkan. Dakwah yang memahami
Visi
karakteristik mad‟u kontemporer. Sehingga
Islam menjadi sumber hidup kreatif bagi
pengembangan kehidupan sehari-hari pelajar.
2 Menghidupkan dakwah dan kajian Islam yang
mampu merespon dinamika dan kebutuhan
Sistem Gerakan zaman sehingga menjadikan Islam sebagai
sumber inspirasi melalui Pelatihan Da‟i
Pelajar Muhammadiyah.
3  Mengoptimalkan peran bidang kajian
dakwah Islam dalam mendorong spirit
Islam berkemajuan secara keorganisasian
Organisasi dan
dan kepemimpinan
Kepemimpinan
 Mengoptimalkan bidang kajian dan
dakwah islam sebagai sumber inspirasi
daya-kreatif pelajar Muhammadiyah.
4 Membangun sinergi dan kerjasama secara
sistemik untuk memperkuat kerja dakwah
pelajar Muhammadiyah sekaligus dalam
Jaringan
rangka menciptakan kolaborasi yang mampu
memberi dampak luas spirit Islam
berkemajuan.
5 Meningkatkan kapasitas, kualitas dan
kuantitas mubaligh pelajar untuk memenuhi
Sumber daya kebutuhan dakwah di kalangan pelajar
sehingga ajaran Islam menjadi inspirasi
kreatif pelajar.
6  Membentuk dan mengembangkan pusat
penelitan, kajian, dan informasi bidang
keislaman dan Menyusun pedoman-
Aksi
pedoman/tuntunan-tuntunan dan materi
keislaman dengan merujuk pada
Himpunan Putusan Tarjih yang dapat

57
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

menjadi acuan pelajar secara umum


atau anggota IPM, seperti pedoman
kultum, kurikulum kultum, materi
khutbah, dan tuntunan kehidupan
beragama sehari-hari
 Meningkatkan fungsi media dakwah
seperti buletin, leaflet, website, tabligh
seluler, android, dan media lainnya yang
menyajikan materi/pesan Islam yang
bersifat mem-bimbing, meneguhkan,
menggembirakan, dan mencerahkan
 Responsif terhadap isu-isu lokal,
nasional bahkan internasional.
Bidang Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga (ASBO)
1 Berkembangnya seni-budaya dan olahraga di
kalangan pelajar berspiritkan Islam
berkemajuan dan mencerahkan peradaban
Visi
manusia sebagai makhluk yang berbudaya
dan berakhlak mulia dan sehat jasmani-
rohani.
2 Meningkatkan upaya pengembangan seni
budaya dan olahraga di kalangan pelajar
yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan
Sistem Gerakan
Muhammadiyah melalui Kegiatan Apresiasi
Seni dan Budaya serta dengan
menyelenggarakan Pekan Olahraga Pelajar
3 Menguatkan kapasitas kelembagaan seni,
Organisasi dan
budaya, dan olahraga di semua jenjang
Kepemimpinan
kepemimpinan IPM.
4 Menguatkan jejaring komunitas-komunitas
seni, baik di IPM, sekolah, ataupun luar dalam
Jaringan
pengembangan seni, budaya, dan olahraga di
kalangan pelajar.
5 Mengangkat potensi seni, budaya, dan
Sumber daya olahraga pelajar agar mampu bersaing di
kancah yang lebih luas.

58
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

6 Membentuk komunitas-komunitas seni,


budaya, dan olahraga serta
Aksi
menyelenggarakan kegiatan pelatihan,
apresiasi, dan penciptaan seni budaya.
Bidang Advokasi
1 Terwujudnya kesadaran advokasi di
lingkungan IPM atas persoalan-persoalan
agama, pendidikan, budaya, sosial-politik,
Visi dan ekonomi yang menjadi lokus gerakan
IPM sebagai “Gerakan Pelajar Berkemajuan”
wujud dakwah amar ma‟ruf dan nahi munkar
di kalangan pelajar.
2 Mengembangkan kesadaran advokatif dan
emansipatif serta mengintensifkan kajian-
kajian khusus tentang isu-isu strategis
Sistem Gerakan advokasi hak-hak pelajar serta kebijakan
nasional yang menyangkut kepentingan
pelajar melalui pengembangan sekolah
advokasi dan tindakan pendampingan
advokatif.
3 Menguatkan kapasitas kepemimpinan dan
Organisasi dan kelembagaan dikalangan pelajar yang
Kepemimpinan responsif terhadap isu-isu strategis dan
kebijakan publik serta menjadi rumah
advokasi bagi pelajar muhammadiyah.
4 Meningkatkan usaha dan Mengembangkan
kerjasama dengan pemerintah dan berbagai
Jaringan lembaga untuk kepentingan penegakkan
hukum dalam berbagai aspek termasuk
dalam pemberatasan korupsi.
5 Memfasilitasi pengembangan kualitas pelajar
Sumber daya yang memiliki kapasitas dalam bidang
advokasi yang amanah,professional dan
mengemban misi IPM.
6 Aksi  Pembentukan kesadaran hukum melalui
berbagai lembaga sosial termasuk lewat

59
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

jalur pendidikan
 Menyelenggarakan pendidikan kader
advokasi dan menyusun panduan
mengenai pendampingan pelajar
terutama yang berkaitan dengan kasus-
kasus kekerasan yang menimpa pelajar,
dan juga yang berkaitan dengan
pengembangan kapasitas advokatif
pelajar, serta yang berkaitan dengan
advokasi kepentingan pelajar difabel,
pelajar buruh, dan pelajar yang dilanggar
hak-hak dasarnya.
 Mengembangkan forum-forum kajian
khusus tentang berbagai isu
internasional yang strategis,
seminar/publik mengenai situasi dunia,
untuk menjadi bahan penyikapan dan
langkah IPM dalam menghadapi
perkembangan dunia internasional.
Bidang Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan (PKK)
1 Berkembangnya budaya kewirausahaan di
Visi kalangan pelajar sebagai wujud dari daya-
kreatif dan prinsip kemandirian pelajar.
2 Menumbuhkan kemandirian pelajar dengan
nilai-nilai entrepreneurship sejak dini menuju
Indonesia yang berdaulat secara ekonomi
Sistem Gerakan
melalui Pendidikan Sosio-Enterpreneurship
dan pendampingan pengembangan
kewirausahaan pelajar.
3 Menguatkan lembaga/bidang kewirausahaan,
mengembangkan sistem manajemen bisnis
Organisasi dan
dan tata kelola ekonomi serta pemanfaatan
Kepemimpinan
aset-aset untuk mendorong kemandirian
ekonomi IPM.
4 Mengintensifkan kerjasama dan kolaborasi
Jaringan
dalam rangka pengembangan daya-kreatif

60
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

bidang sehingga menjadi kekuatan yang


bermanfaat luas.
5 Menciptakan sikap mandiri, terampil, dan
Sumber daya
kreatif
6  Memberikan motivasi bagi para pelajar
untuk berwirausaha berbasis ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni serta
minat bakat pelajar, serta didorong oleh
keinginan membangun kemandirian
emansipatif pelajar.
 Pemberdayaan pelajar dalam
Aksi meningkatkan keterampilan diri sejak dini
menuju kemandirian
 Pemberdayaan pelajar dalam
meningkatkan keterampilan diri sejak dini
menuju kemandirian seperti: membentuk
unit-unit
bisnis,koperasi,kedai/warung,bisnis
online dll
Bidang Ipmawati
1 Memperkuat dan mendukung penuh peran
pelajar perempuan sebagai kader
kemanusiaan, kebangsaan, keummatan, dan
Visi persyarikatan melalui pengarusutamaan dan
dukungan emansipatif bagi keterlibatan
pelajar perempuan dalam berbagai dimensi
kehidupan.
2  Mengkaji, mengembangkan, dan
mendorong isu-isu tentang hak-hak
aksesibilitas pelajar perempuan dalam
menggunakan ruang publik, bebas dari
Sistem Gerakan diskriminasi, kekerasan, dan stigma atau
stereotip kultural yang menciptakan
perempuan sebagai kelompok rentan
 Meningkatkan kepedulian dan respon
terhadap permasalahan pelajar

61
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

perempuan serta permasalahan remaja


perempuan pada umumnya.
 Meningkatkan pengkajian gerakan-
gerakan perempuan peduli pendidikan
baik dikalangan pelajar dan kalangan
perempuan pada umumnya.
 Meningkatkan kepedulian terhadap isu-
isu perekambangan hukum, politik,
sosial, ekonomi dan budaya.
 Meningkatkan progrefitas perempuan
dalam memandang isu-isu kekinian
terutama kekerasan pelajar perempuan
dan perempuan pada umumnya.
 Mengoptimalisasi potensi kader putri
Muhammadiyah dan proses kaderisasi
melalui Pendidikan Khusus Ipmawati
(Diksusti)
 Meningkatkan kesadaran akan
pentingnya memahami kebutuhan pelajar
perempuan terutama yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi melalui
Pendampingan Kesehatan Reproduksi
Pelajar (Pekarejar)
3  Mampu mengajak dan meningkatkan
usaha-usaha advokasi terhadap
kekerasan perempuan terutama human
trafficking yang merusak kehidupan
keluarga dan masa depan bangsa
dikalangan antar organisasi perempuan
Organisasi dan
maupun OKP.
Kepemimpinan
 Menjadikan kader perempuan seagai
penyelaras dan penegasan terkait
perannya dengan isu-isu kontenporer
seperti perdagangan perempuan
khususnya diawah umur, ekploitasi
pelajar sampai pada persoalan secara

62
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

struktur mapun secara teologis .


 Mampu memperjuangkan hak-hak
pelajar perempuan tanpa memandang
diskriminasi terhadap kelompok yang
cenderung memarjinalkan perempuan.
4  Mengoptimalisasikan potensi kader putri
(IPM) dalam proses kaderisasi
khususnya di lembaga ortom
Muhammadiyah yaitu Nasyiatul Aisyiyah
dan Aisyiyah.
 Meningkatkan usaha dan kerjasama
dengan beragai pihak dalam mencegah
sekaligus mengadvokasi kejahatan
Human Trafficking yang pada umumnya
Jaringan menimpa kaum pelajar perempuan.
 Mengembangkan kerjasama dengan
stakeholder yang peduli terhadap
perempuan dengan memberikan
pendampingan serta, pencerdasan
emosional maupun spiritual di kalangan
pelajar.
 Mendukung program-program yang
berkomitmen terhadap proses
emansipasi perempuan
5 Terus melakukan pencerdasan,
pendampingan dan penyadaran terhdap
perempuan di beragai sektor publik
sehingga adanya tranformasi kader
Sumber daya perempuan dari masa kemasa sehingga
tidak adalagi diksriminatif, maupun
termarjinalkan baik di lingkungan sekolah
serta lingkungan masyarakat secara
luas.
6  Aktif melaksanakan pengajian dan
Aksi diskusi dalam rangka peneguhan ideologi
gerakan Muhammadiyah dan IPM.

63
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

 Menguatkan gerakan perempuan melalui


komunitas-komunitas anti kekerasan.
 Melaksanakan seminar kesehatan
produksi yang mampu menamah
pemahaman terhdap perempuan.
 Mengemangkan gerakan litarasi untuk
mengajak para pelajar perempuan serta
perempuan pada umumnya untuk terus
ergerak pada pencerdasan diri.
 Konsen terhadap isu-isu terkini terkait
persoalan perempuan melalui kerjsama
antar LSM perempauan.

Lembaga Lingkungan Hidup


1 Membangun paradigma kesadaran atas
lingkungan hidup di kalangan pelajar IPM
Visi sebagai wujud tanggungjawab khalifah
filardh yang wajib melindungi
lingkungan.
2 Meningkatkan proses penyadaran,
kampanye, dan pengarusutamaan isu
Sistem Gerakan peduli lingkungan hidup melalui
Konferensi dan Workshop Pelajar Peduli
Lingkungan Hidup.
3  Menjadikan organisai sebagai gerakan
yang menumbuhkan kesadaran akan
pentingnya menjaga lingkungan
sehingga IPM mampu menjawab dan
paling tidak sudah siap menjadi
Organisasi dan
organisasi yang tidak hanya konsen pada
Kepemimpinan
isu-isu pendidikan melainkan ikut
mengambil peran dalam mencegah
kerusakan lingkungan.
 Mampu megartikulasiksn pentingnya
basis gerakan berjamaah untuk ikut

64
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

mencegah kerusakan lingkungan


sehingga IPM tidak hanya mampu
memproduksi wacana-wacana gerakan
serta melakukan aksi dan pelayanan
tetapi juga sebagai wahana dakwah
dikalangan pelajar dan masyarakat
secara nyata dan merata.

4 Mampu membangun relasi sosial secara luas


baik di kalangan pelajar, masyarakat,
Jaringan pemerintah, dan lembaga sosial sehingga
semakin sadar akan pentingnya menjaga dan
melindungi lingkungan semakin terbangun.
5 Menguatkan peran bersama Muhammadiyah
Disaster Medical Centre (MDMC) dan Majelis
Lingkungan Hidup (MLH) agar mampu
Sumber daya bekerja sama dan tampil sebagai gerakan
pelajar yang juga konsen terhadap
konsekuensi alam, serta upaya melestarikan
lingkunga hidup.
6  Melakukan pencerdasan kepada
masyarakat melalui gerakan sadar
lingkungan baik pendidikan formal
maupun pendidikan non formal.
 Meningkatkan gerakan ekoliterasi
(kesadaran melek lingkungan hidup)
secara konsen sebagai upaya
pentingnya menjaga dan melestarikan
Aksi
lingkungan.
 Mengembangkan forum-forum sadar
lingkungan untuk mengkaji isu-isu
kerusakan lingkungan serta terus
melakukan seminar/publik mengenai
situasi dunia terutama pemasan global,
penipisan ozon, limbah pabrik, dan
eksploitasi sumber daya alam oleh

65
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

korporasi asing.
 Turut berpartisipasi dalam
mengkampanyekan hidup cinta
lingkungan.
Lembaga Media, Komunikasi, Teknologi dan Informasi (LKTI)
1 Berkembangnya kemampuan pemanfaatan
media, komunikasi, teknologi, dan informasi di
Visi
IPM sebagai sarana dakwah dan syiar Islam
di kalangan pelajar.
2 Mengembangkan model pengembangan
media, komunikasi, teknologi, dan informasi
sebagai sarana penguatan internal organisasi
Sistem Gerakan
dan penyebarluasan gagasan melalui
penyelenggaraan Kelas Manajemen Media
bagi Pelajar
3 Memperkuat kapasitas internal organisasi
Organisasi dan
melalui pemanfaatan media, komunikasi,
Kepemimpinan
teknologi, dan informasi.
4 Membangun jaringan dengan berbagai pihak
di bidang media, komunikasi, teknologi, dan
Jaringan
informasi sebagai langkah penguatan strategi
gerakan.
5 Melahirkan kader yang sadar dan mampu
mengoptimalkan media, komunikasi,
Sumber daya
teknologi, dan informasi sebagai sarana
dakwah dan syiar IPM.
6 Mengembangkan jaringan media yang dapat
Aksi menyuarakan kepentingan pelajar dan sesuai
dengan nilai-nilai dasar IPM.

66
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB VI
AGENDA AKSI

Agenda aksi pada dasarnya merupakan bagian dari implementasi visi IPM
yang bersifat langsung, nasional, dan kelanjutan dari diskursus yang
dibangun pra-Muktamar (forum TMU, forum Konpiwil, dan Pleno). Agenda
aksi dirancang sebagai strategi umum dalam upaya mendorong daya-kreatif
sehingga mampu mewujudkan visi IPM sebagai gerakan ilmu. Skema
agenda aksi bergantung pada strategi penguatan struktur, sekaligus strategi
kultural berupa pengembangan komunitas. Struktur akan menjadi faktor
penting dalam merancang dan mengimplementasikan agenda aksi.
Sedangkan komunitas akan berperan sebagai strategi kreatif yang
membantu struktur memaksimalkan implementasi agenda aksi.

A. Gerakan Jihad Literasi


1. Pendahuluan
Gerakan Jihad Literasi adalah gerakan yang dibentuk untuk
membumikan tradisi literasi. Gerakan ini dibentuk sebagai manifestasi
gerakan ilmu yang menjadi paradigma pelajar berkemajuan.
Kemunculannya didasari oleh rendahnya tingkat literasi masyarakat
Indonesia. Rendahnya tradisi literasi di kalangan masyarakat menjadi
sebab ketertinggalan masyarakat Indonesia.

2. Konsep Dasar
Membumikan tradisi literasi sebagai manifestasi gerakan ilmu Ikatan
Pelajar Muhammadiyah

3. Tujuan
a. Mengenalkan dan membudayakan tradisi literasi dalam ikatan
b. Mewujudkan tradisi baca tulis di kalangan pelajar
c. Membentuk pelajar yang berwawasan luas dan berkemajuan

4. Bentuk Aksi
a. Pembentukan pojok-pojok baca di kelas dan kantor IPM
b. Pembentukan komunitas „Sahabat Buku‟
c. Penyelenggaraan perpustakaan keliling

67
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

d. Diskusi buku dan arisan buku


e. Pelatihan jurnalistik

5. Penyelenggara
IPM di setiap jenjang struktur kepemimpinan

6. Sasaran
Pelajar, remaja, dan pimpinan IPM di berbagai jenjang tingkatan

7. Penutup
Meningkatnya tradisi literasi menjadi prasyarat peningkatan kualitas
kehidupan. Jihad literasi oleh karenanya harus dilandasi semangan
pencerdasan, pemberdayaan, dan pembebasan masyarakat.

B. Gerakan Pendampingan Teman Sebaya


1. Pendahuluan
Gerakan Pendampingan Teman Sebaya adalah gerakan advokasi
yang diselenggarakan oleh pelajar untuk memperoleh hak-haknya.
Gerakan ini dilatarbelakangi atas maraknya tindakan yang merugikan
dan merenggut hak-hak pelajar di sekolah dan lingkungan sekitar.
Pendampingan yang dilakukan oleh teman sebaya dan berada di
lingkungan sama dirasa lebih efektif dibandingkan upaya advokasi
yang dilakukan oleh pihak luar yang belum mengerti konteks latar
kondisinya.

2. Konsep Dasar
Pembelaan hak-hak pelajar yang dimulai dari individu dan jejaring
pertemanan

3. Tujuan
a. Memperjuangkan terpenuhinya hak-hak pelajar
b. Mengupayakan regulasi yang berpihak kepada pelajar
c. Membentuk budaya kritis

4. Bentuk Aksi
a. Pembentukan kelompok advokasi teman sebaya di sekolah

68
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

b. Pelatihan advokasi
c. Seminar dan diskusi pemetaan isu
d. Pembuatan modul atau buku panduan advokasi
e. Kampanye advokasi

5. Penyelenggara
IPM di setiap jenjang struktur kepemimpinan

6. Sasaran
Pelajar dan remaja

7. Penutup
Gerakan membela teman sebaya diharapkan dapat membentuk
kesadaran kritis di kalangan pelajar sehingga mampu
memperjuangkan hak-haknya secara mandiri.

C. Gerakan Konservasi Lingkungan


1. Pendahuluan
Kerusakan ekologi yang mengancam keberlangsungan hidup
manusia menjadi persoalan yang disorot banyak pihak. Tindakan
culas manusia yang hanya mengeksploitasi alam tanpa menjaga dan
merehabilitasinya seringkali berdampak pada munculnya bencana.
Para penjarah ekologi seperti tidak sadar bahwa apa yang
dilakukannya mengancam anak cucunya. Tindakan buruk ini harus
diputus dengan meningkatkan kesadaran menjaga dan melestarikan
lingkungan sejak dini. Usia remaja adalah masa yang strategis untuk
memupuk kesadaran ini.

2. Konsep Dasar
Meningkatkan kesadaran ekoliterasi di kalangan pelajar dan pimpinan
IPM

3. Tujuan
a. Meningkatkan kesadaran generasi muda dalam melestarikan
lingkungan
b. Membentuk agen-agen muda penyelaman lingkungan

69
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Bentuk Aksi
a. Membentuk komunitas muda pelestari lingkungan
b. Diskusi buku, film dokumenter kerusakan lingkungan
c. Bakti sosial membersihkan sekolah, sungai, pantai, dan lain
sebagainya
d. Penanaman bibit tanaman
e. Kampanye sosial penyelamatan lingkungan
f. Penanaman pohon di lingkungan sekolah
g. Pelatihan pengelolaan sampah
h. Kampanye peduli lingkungan

5. Penyelenggara
Pelajar dan pimpinan IPM di semua jenjang tingkatan

6. Sasaran
Pelajar dan pimpinan IPM di semua jenjang tingkatan

7. Penutup
Mewujudkan generasi yang sadar terhadap kelestarian lingkungan
adalah bagian dari semangat berkemajuan ala Muhammadiyah.
Sadar bahwa lestarinya lingkungan di masa kini akan berpengaruh
pada keberlangsungan hidup di masa depan adalah pandangan yang
melampaui zaman. Oleh karena itu, semangat ini perlu dipupuk sedini
mungkin.

70
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR


DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

71
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ANGGARAN DASAR
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Nama dan Tempat Kedudukan
1. Organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah disingkat IPM,
yang didirikan di Surakarta pada tanggal 5 Shafar 1381 Hijriyah
bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1961 Miladiyah.
2. Ikatan Pelajar Muhammadiyah berkedudukan di Pimpinan Pusat.

BAB II
ASAS, IDENTITAS, LAMBANG, DAN SEMBOYAN

Pasal 2
Asas
Ikatan Pelajar Muhammadiyah berasaskan Islam

Pasal 3
Identitas
Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah Organisasi Otonom Muhammadiyah,
merupakan gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar di kalangan
pelajar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah Al-
Maqbulah.

Pasal 4
Lambang
Lambang Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah segi lima berbentuk perisai
runcing di bawah yang merupakan deformasi bentuk pena dengan jalur
besar tengah runcing di bawah berwarna kuning, diapit oleh dua jalur
berwarna merah dan dua jalur berwarna hijau dengan matahari bersinar
sebagai keluarga Muhammadiyah di mana tengah bulatan matahari terdapat

72
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

gambar buku dan tulisan Al-Qur’an surat Al-Qolam ayat 1 dan tulisan IPM di
bawah matahari.

Pasal 5
Semboyan
IPM bersemboyan
ُ ‫ ََو ْالقَلَمَ َو َمايَ ْس‬, ‫ن‬
ََ‫ط ُر ْون‬
Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun
yang berarti : Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis.

BAB III
MAKSUD DAN TUJUAN SERTA USAHA

Pasal 6
Maksud dan Tujuan
Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil
dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam
sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Pasal 7
Usaha
1. Menanamkan kesadaran beragama Islam, memperteguh iman,
menertibkan peribadatan dan mempertinggi akhlak karimah.
2. Mempergiat dan memperdalam pemahaman agama Islam untuk
mendapatkan kemurnian dan kebenaran-Nya.
3. Memperdalam, memajukan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan,
teknologi, sosial dan budaya.
4. Membimbing, membina, dan menggerakkan anggota guna
meningkatkan fungsi dan peran IPM sebagai kader persyarikatan,
umat, dan bangsa dalam menunjang pembanguan manusia seutuhnya
menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
5. Segala usaha yang tidak menyalahi ajaran Islam dengan
mengindahkan hukum dan falsafah yang berlaku.

73
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB IV
BASIS MASSA

Pasal 8
Basis Massa
Basis massa Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah pelajar.

Pasal 9
Pengertian Pelajar
Pelajar adalah kelas sosial yang menuntut ilmu secara terus-menerus serta
memiliki hak dan kewajiban dalam bidang pendidikan.

BAB V
KEANGGOTAAN, KADER, DAN SIMPATISAN

Pasal 10
Anggota
Anggota IPM adalah:
1. Pelajar muslim yang belajar di sekolah Muhammadiyah maupun non
Muhammadiyah setingkat SMP dan atau SMA.
2. Pelajar muslim yang berusia 12 tahun sampai 21 tahun yang mendaftar
sebagai anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
3. Mereka yang pernah menjadi anggota sebagaimana ketentuan ayat 1
dan 2, yang diperlukan oleh organisasi dengan usia maksimal genap 24
tahun.
4. Anggota sebagaimana tersebut dalam ayat 3 di atas yang karena
terpilih menjadi pimpinan bisa melanjutkan keanggotaannya sampai
masa jabatannya selesai.

Pasal 11
Kader
Kader IPM adalah anggota yang telah mengikuti perkaderan serta mampu
dan pernah menjadi penggerak inti ikatan.

74
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 12
Simpatisan
Simpatisan adalah mereka yang menyetujui maksud dan tujuan IPM tetapi
tidak memenuhi syarat sebagai anggota.

BAB VI
SUSUNAN, PEMBENTUKAN, PENETAPAN, PELEBURAN, DAN
PEMEKARAN, ORGANISASI

Pasal 13
Susunan Organisasi
1. Ranting adalah kesatuan anggota di sekolah atau madrasah atau
pondok pesantren atau desa/kelurahan atau panti asuhan.
2. Cabang adalah kesatuan ranting-ranting di tingkat kecamatan. cabang
membawahi ranting.
3. Daerah adalah kesatuan cabang dan atau ranting di tingkat
kabupaten/kota. Daerah membawahi cabang dan atau ranting.
4. Wilayah adalah kesatuan daerah di tingkat provinsi. Wilayah
membawahi daerah, cabang dan ranting.
5. Pusat adalah kesatuan kesatuan anggota di tingkat nasional yang
membawahi wilayah, daerah, cabang dan ranting.

Pasal 14
Penetapan Organisasi
1. Penetapan Wilayah dan Daerah dengan ketentuan luas lingkungannya
ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
2. Penetapan Cabang dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan
oleh Pimpinan Wilayah.
3. Penetapan Ranting dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan
oleh Pimpinan Daerah.

75
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 15
Pembentukan, Peleburan, dan Pemekaran
Pembentukan, peleburan, dan pemekaran organisasi diatur oleh pimpinan
di atasnya.

BAB VII
PIMPINAN

Pasal 16
Pimpinan Pusat
1. Pimpinan Pusat adalah pimpinan tertinggi yang memimpin IPM secara
nasional.
2. Pimpinan Pusat dipilih dan ditetapkan dalam Muktamar dengan surat
keputusan Pimpinan Pusat IPM.
3. Perubahan dan penambahan personil (reshuffle) Pimpinan Pusat
menjadi wewenang Pimpinan Pusat dilaksanakan dalam pleno pimpinan
yang menjamin adanya peningkatan efisiensi dan penyegaran jalannya
kepemimpinan dan ditetapkan dengan surat keputusan serta
diumumkan ke pimpinan wilayah.

Pasal 17
Pimpinan Wilayah
1. Pimpinan Wilayah adalah pimpinan dalam wilayah dan melaksanakan
kepemimpinan di wilayahnya.
2. Pimpinan Wilayah dipilih dan ditetapkan dalam Musyawarah Wilayah
dengan surat keputusan Pimpinan Pusat.
3. Pimpinan Wilayah adalah wakil Pimpinan Pusat di wilayahnya.
4. Perubahan dan penambahan personal (reshuffle) Pimpinan Wilayah
menjadi wewenang Pimpinan Wilayah dilaksanakan dalam pleno
pimpinan yang menjamin adanya peningkatan efisiensi dan penyegaran
jalannya kepemimpinan dan ditetapkan dengan surat keputusan
Pimpinan Pusat serta diumumkan ke pimpinan daerah.

76
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 18
Pimpinan Daerah
1. Pimpinan Daerah adalah pimpinan dalam daerah dan melaksanakan
kepemimpinan di daerahnya.
2. Pimpinan Daerah dipilih dan ditetapkan dalam Musyawarah Daerah
dengan surat keputusan Pimpinan Wilayah.
3. Pimpinan Daerah karena jabatannya adalah menjadi wakil Pimpinan
Wilayah di daerahnya.
4. Perubahan dan penambahan personal (Reshuffle) Pimpinan Daerah
menjadi wewenang Pimpinan Daerah dilaksanakan dalam pleno
pimpinan yang menjamin adanya peningkatan efisiensi dan penyegaran
jalannya kepemimpinan dan ditetapkan dengan surat keputusan
Pimpinan Wilayah serta diumumkan ke pimpinan cabang dan atau
ranting.

Pasal 19
Pimpinan Cabang
1. Pimpinan Cabang adalah pimpinan dalam cabang dan melaksanakan
kepemimpinan di Cabangnya.
2. Pimpinan Cabang dipilih dan ditetapkan dalam Musyawarah Cabang
dengan surat keputusan Pimpinan Daerah.
3. Pimpinan Cabang karena jabatannya adalah menjadi wakil Pimpinan
Daerah di cabangnya.
4. Perubahan dan penambahan personal (Reshuffle) Pimpinan Cabang
menjadi wewenang Pimpinan Cabang dilaksanakan dalam pleno
pimpinan yang menjamin adanya peningkatan efisiensi dan penyegaran
jalannya kepemimpinan dan ditetapkan dengan surat keputusan
Pimpinan Daerah serta diumumkan ke pimpinan ranting.

Pasal 20
Pimpinan Ranting
1. Pimpinan Ranting adalah pimpinan dalam ranting dan melaksanakan
kepemimpinan di rantingnya.

77
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2. Pimpinan Ranting dipilih dan ditetapkan dalam Musyawarah Ranting


dengan surat keputusan pimpinan di atasnya.
3. Pimpinan Ranting karena jabatannya adalah menjadi wakil Pimpinan
Cabang di rantingnya.
4. Penambahan dan perubahan personal (Reshuffle) Pimpinan Ranting
menjadi wewenang Pimpinan Ranting dilaksanakan dalam pleno
pimpinan yang menjamin adanya peningkatan efisiensi dan penyegaran
jalannya kepemimpinan dan ditetapkan dengan surat keputusan
pimpinan di atasnya.

Pasal 21
Pemilihan Pimpinan
1. Pemilihan Pimpinan dilakukan pada musyawarah tertinggi masing-
masing tingkatan struktur dengan sistem pemilihan formatur.
2. Syarat anggota pimpinan dan cara pemilihan diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga.

Pasal 22
Pergantian Pimpinan
1. Pergantian pimpinan yang dimaksud adalah pergantian pimpinan dalam
periode tertentu
2. Pimpinan IPM yang telah habis masa jabatannya, tidak lagi
menjalankan tugas dan fungsinya
3. Pergantian pimpinan harus menjamin adanya peningkatan kualitas
kepemimpinan
4. Pergantian pimpinan dinyatakan sah jika sudah terjadi serah terima
jabatan yang dilakukan pada saat pergantian ketua umum yang baru.
5. Serah terima jabatan dilakukan pada saat pergantian Ketua Umum
yang baru.

78
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 23
Masa Jabatan Pimpinan
1. Masa jabatan Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah,
dan Pimpinan Cabang selama 2 tahun, sedangkan Pimpinan Ranting
selama 1 tahun.
2. Masa jabatan terhitung mulai dari terpilihnya Ketua Umum yang
dilakukan pada saat permusyawaratan tertinggi di masing-masing
tingkatan struktur.
3. Jabatan Ketua Umum di setiap tingkatan struktur dijabat maksimal satu
kali masa jabatan.
4. Jabatan anggota pimpinan di setiap tingkatan struktur maksimal selama
dua kali periode secara berturut-turut.

Pasal 24
Perangkapan Jabatan
1. Rangkap jabatan di setiap tingkatan struktur IPM adalah dilarang.
2. Rangkap jabatan dalam Organisasi Otonom Muhammadiyah, hanya
dapat dibenarkan setelah mendapat izin dari pimpinan yang
bersangkutan.
3. Rangkap jabatan dengan organisasi politik dan/atau organisasi massa
yang berafiliasi dengan organisasi politik adalah dilarang.
4. Rangkap jabatan dengan organisasi kepelajaran dan kepemudaan
lainnya adalah dilarang.

Pasal 25
Perubahan Pimpinan
1. Perubahan pimpinan yang dimaksud adalah perubahan komposisi
pimpinan baik berupa penambahan, pengurangan, dan perubahan
tugas bidang.
2. Perubahan pimpinan harus menjamin adanya peningkatan kualitas
kepemimpinan

79
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB VIII
LEMBAGA IPM

Pasal 26
Lembaga IPM
1. Pimpinan IPM dapat membentuk lembaga IPM.
2. Lembaga IPM adalah badan pembantu pimpinan yang melaksanakan
hal-hal yang tidak dapat ditangani langsung oleh pimpinan dalam hal
pelaksanaan dan pengembangan operasional program.
3. Pimpinan IPM mempunyai wewenang membuat pedoman untuk
mengatur lembaga IPM.

BAB IX
PERMUSYAWARATAN

Pasal 27
Muktamar
1. Muktamar adalah permusyawaratan tertinggi dalam ikatan yang
diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Pusat.
2. Muktamar diselenggarakan setiap 2 (dua) tahun sekali.

Pasal 28
Muktamar Luar Biasa
(MLB)
1. Muktamar Luar Biasa adalah Muktamar yang diselenggarakan apabila
keberadaan ikatan dalam bahaya dan atau terancam dibubarkan, yang
Tanwir tidak berwenang untuk memutuskan dan tidak dapat
ditangguhkan sampai Muktamar berikutnya.
2. Muktamar Luar Biasa diadakan oleh Pimpinan Pusat atas Keputusan
Tanwir.

80
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 29
Tanwir
1. Tanwir adalah permusyaratan tertinggi ikatan setelah Muktamar yang
diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Pusat.
2. Tanwir diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu periode.

Pasal 30
Musyawarah Wilayah
(Musywil)
1. Musyawarah Wilayah adalah permusyawaratan tertinggi di tingkat
wilayah yang diselenggarakan oleh dan atas tangung jawab Pimpinan
Wilayah.
2. Musyawarah Wilayah diselenggarakan setiap 2 (dua) tahun sekali.

Pasal 31
Konferensi Pimpinan Wilayah
(Konpiwil)
1. Konferensi Pimpinan Wilayah adalah permusyawaratan tertinggi tingkat
wilayah setelah Musyawarah Wilayah yang diselenggarakan oleh dan
atas tanggungjawab Pimpinan Wilayah.
2. Konferensi Pimpinan Wilayah diselenggarakan sekurang-kurangnya
sekali dalam satu priode.

Pasal 32
Musyawarah Daerah
(Musyda)
1. Musyawarah Daerah adalah permusyaratan tertinggi di tingkat daerah
yang diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Daerah.
2. Musyawarah daerah diselenggarakan setiap 2 (dua) tahun sekali.

81
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 33
Konferensi Pimpinan Daerah
(Konpida)
1. Konferensi Pimpinan Daerah adalah permusyawaratan tertinggi di
tingkat daerah setelah Musyda, yang diselenggarakan oleh dan atas
tanggung jawab Pimpinan Daerah.
2. Konferensi Pimpinan Daerah diselenggarakan sekurang-kurangnya
sekali dalam satu periode.

Pasal 34
Musyawarah Cabang
(Musycab)
1. Musyawarah Cabang adalah permusyawaratan tertinggi di tingkat
Cabang yang diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan
Cabang.
2. Musyawarah Cabang diselenggarkan setiap 2 (dua) tahun sekali.

Pasal 35
Konferensi Pimpinan Cabang
(Konpicab)
1. Konferensi Pimpinan Cabang adalah permusyawaratan tertinggi di
tingkat cabang setelah Musycab, yang diselenggarakan oleh dan atas
tanggung jawab Pimpinan Cabang.
2. Konferensi Pimpinan Cabang diselenggarakan sekurang-kurangnya
sekali dalam satu periode.

Pasal 36
Musyawarah Ranting
(Musyran)
1. Musyawarah Ranting adalah permusyawaratan tertinggi di tingkat
ranting yang diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab Pimpinan
Ranting.
2. Musyawarah Ranting di selenggarakan setiap 1 (satu) tahun sekali.

82
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 37
Keabsahan dan Keputusan Permusyawaratan
1. Permusyawaratan dapat berlangsung tanpa memandang jumlah yang
hadir, asal yang bersangkutan telah diundang secara sah.
2. Keputusan permusyawaratan diusahakan diambil berdasarkan
musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai diambil dengan
pemungutan suara maka putusan dengan suara terbanyak.
3. Keputusan Muktamar berlaku setelah diberitahukan kepada Pimpinan
Pusat Muhammadiyah dan ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat IPM.
4. Keputusan Musywil, Musyda, dan Musycab berlaku setelah
diberitahukan kepada Pimpinan Muhammadiyah setingkat dan disahkan
oleh pimpinan di atasnya.
5. Keputusan Musyran berlaku setelah diberitahukan kepada pimpinan
sekolah atau Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat dan disahkan
oleh pimpinan di atasnya.
6. Keputusan Tanwir, Konpiwil, Konpida dan Konpicab berlaku setelah
ditanfidzkan oleh Pimpinan yang bersangkutan dan diberitahukan
kepada Pimpinan Muhammadiyah setingkat.

Pasal 38
Tanfidz
1. Tanfidz adalah pernyataan berlakunya keputusan setiap
permusyawratan (Muktamar, tanwir, Musywil, Konpiwil, Musyda,
Konpida, Musycab, Konpicab, dan Musyran) dan rapat pleno yang ada
di IPM.
2. Keputusan Muktamar dan Tanwir berlaku sejak ditanfidzkan oleh PP
IPM dan diberitahukan kepada untuk mendapatkan pengesahan dari
Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
3. Keputusan Musywil, Konpiwil, Musyda, Konpida, Musycab, Konpicab,
dan Musyran, serta rapat berlaku setelah ditanfidzkan oleh pimpinan
masing-masing tingkatan struktur setelah mendapat pengesahan dari
pimpinan di atasnya dan diberitahukan kepada pimpinan
Muhammadiyah di masing-masing tingkatan struktur.

83
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Tanfidz bersifat redaksional, mempertimbangkan kemaslahatan dan


tidak bertentangan dengan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah
Tangga IPM.

BAB X
RAPAT

Pasal 39
Rapat dibedakan menjadi dua jenis : Rapat Pimpinan dan Rapat Kerja.

BAB XI
KEUANGAN DAN KEKAYAAN

Pasal 40
Pengertian
Keuangan dan Kekayaan IPM adalah semua harta benda yang diperoleh
dari sumber yang sah dan halal serta digunakan untuk kepentingan
pelaksanaan organisasi.

Pasal 41
Sumber
Keuangan IPM diperoleh dari:
1. Iuran Anggota
2. Uang Pangkal
3. Pimpinan Muhammadiyah setingkat.
4. Sumber lain yang halal dan tidak mengikat.

Pasal 42
Pengelolaan dan Pengawasan
Ketentuan mengenai pengelolaan dan pengawasan keuangan dan
kekayaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

84
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB XII
LAPORAN

Pasal 43
Laporan
Pimpinan IPM semua tingkatan struktur wajib membuat laporan
perkembangan organisasi, laporan pertanggungjawaban, laporan kebijakan
dan keuangan disampaikan kepada permusyawaratan masing-masing
tingkatan struktur.

BAB XIII
ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 44
Anggaran Rumah Tangga
1. Anggaran Rumah Tangga menjelaskan Anggaran Dasar dan mengatur
segala sesuatu yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini.
2. Anggaran Rumah Tangga disahkan oleh Muktamar.

BAB XIV
PEMBUBARAN
Pasal 45
Pembubaran
1. Pembubaran dan atau perubahan konstitusi IPM menjadi wewenang
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muktamar IPM, dan Muktamar Luar
Biasa IPM.
2. Pembubaran IPM ditetapkan oleh Tanwir atau Muktamar
Muhammadiyah atas usulan PP Muhammadiyah.
3. Sesudah IPM dibubarkan, maka segala hak miliknya menjadi hak milik
Muhammadiyah.

85
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

BAB XV
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 47
Perubahan Anggaran Dasar
Anggaran dasar Ikatan Pelajar Muhammadiyah merupakan keputusan
mutlak dan tidak dapat diganggu gugat kecuali
1. Anggaran dasar tidak sesuai dengan kondisi IPM.
2. Anggaran dasar dapat diubah berdasarkan kajian dari Pimpinan
Wilayah dengan menyerahkan bukti kajian.
3. Perubahan anggaran dasar dapat diusulkan pada tanwir dan
disahkan di muktamar.

BAB XVI
PENUTUP
Pasal 48
Penutup
1. Anggaran Dasar ini disusun sebagai penyempurnaan dan pengganti
Anggaran Dasar sebelumnya, disahkan pada Muktamar IPM XX di
Samarinda, Kalimantan Timur.
2. Setelah Anggaran Dasar ini ditetapkan, maka Anggaran Dasar
sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi.

86
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ANGGARAN RUMAH TANGGA


IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

Pasal 1
Keberadaan Organisasi
Ikatan Pelajar Muhammadiyah berdiri pada tanggal 5 Shafar 1381 Hijriyah,
bertepatan dengan tanggal 18 Juli 1961 dalam Konferensi Pemuda
Muhammadiyah di Surakarta. Ikatan Pelajar Muhammadiyah pernah
mengalami perubahan menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) yang
ditetapkan dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat IRM No.
VI/PP.IRM/1992 tertanggal 24 Rabi’ul Akhir 1413 Hijriyah, bertepatan
tanggal 22 Oktober 1992 dan disahkan oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah melalui SK No.53/SK/IV.13/1.b/1992 tertanggal 22 Jumadil
‘Ula 1413 Hijriyah bertepatan pada tanggal 18 November 1992. Pada
tanggal 28 Syawal 1429 Hijriyah bertepatan pada tanggal 28 Oktober 2008
pada Muktamar IRM di Surakarta kembali lagi menjadi Ikatan Pelajar
Muhammadiyah (IPM).

Pasal 2
Kedudukan Pimpinan Pusat
Pimpinan Pusat IPM berkedudukan di Yogyakarta. Sedangkan
penyelenggaraan aktivitasnya berada di dua kantor yaitu di Yogyakarta dan
Jakarta.

Pasal 3
Lambang
1. Lambang Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagaimana tersebut dalam
Anggaran Dasar adalah sebagai berikut :

87
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2. Makna lambang IPM adalah :


a. Bentuk segi lima perisai, runcing dibawah merupakan deformasi
bentuk pena.
b. Warna kuning berarti keilmuan; putih berarti kesucian; merah
berarti keberanian; hijau berarti kerahmatan; dan hitam berarti
ketauhidan.
c. Gambar matahari yang berwarna kuning menunjukan bahwa IPM
adalah kader Muhammadiyah.
d. Di tengah bulatan matahari terdapat gambar kitab Al-Qur’an
yang berarti sumber pengetahuan.
e. Di bawah bulatan matahari terdapat tulisan ayat Al-Qur’an, surat
Al-Qalam ayat 1 yang berbunyi “Nuun Walqalami Wamaa
Yasthuruun” (dalam tulisan Arab). Artinya : Nuun, Demi pena dan
apa yang dituliskannya.
f. Tulisan Al-Qur’an tersebut ditulis dengan menggunakan huruf
Arab, warna hitam dan merupakan semboyan IPM. Huruf IPM
berwarna merah dengan kontur hitam. Merah berarti berani serta
aktif menyampaikan dakwah Islam karena IPM mengemban tugas
sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha
Muhammadiyah.

Pasal 4
Bendera
1. Bendera Ikatan Pelajar Muhammadiyah berbentuk persegi panjang
berukuran panjang berbanding lebarnya dua berbanding tiga berwarna
kuning, di bagian tengah bergambar lambang Ikatan Pelajar

88
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Muhammadiyah dengan tulisan IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH


font arial berwarna merah di bawahnya seperti berikut :

IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

2. Warna kuning dalam dasar bendera berarti keilmuan yang


menggambarkan keluasan pengetahuan dan keluhuran budi pekerti.
3. Ketentuan lain tentang lambang dan bendera ditetapkan oleh Pimpinan
Pusat.

Pasal 5
Pengajuan Kartu Tanda Anggota
1. Pengajuan kartu tanda anggota diajukan secara tertulis disampaikan
kepada Pimpinan Ranting atau Cabang atau Daerah.
2. Pimpinan Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sekali
melaporkan tentang keanggotaan di daerah kepada Pimpinan Wilayah
dan Pimpinan Pusat.
3. Bagi mereka yang telah memenuhi persyaratan menjadi anggota,
berhak mendapatkan kartu anggota.
4. Ketentuan pelaksanaan dan pembuatan KTA diatur oleh Pimpinan
Pusat.

Pasal 6
Kewajiban dan Hak Anggota
1. Setiap anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah wajib untuk :
a. Taat kepada AD/ART, keputusan organisasi dan IPM.
b. Setia pada nilai-nilai perjuangan IPM.

89
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

c. Menjaga nama baik IPM, dan menjadi teladan utama sebagai


pelajar muslim.
d. Turut mendukung dan mengembangkan kebijakan dan amal
perjuangan IPM.
e. Membayar Uang Pangkal yang ditetapkan oleh Pimpinan Pusat
IPM dan Iuran Anggota yang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah
IPM.
2. Hak Anggota :
a. Memiliki kartu tanda anggota IPM.
b. Mendapatkan pengkaderan dari IPM.
c. Mendapatkan informasi yang sama terkait perkembangan
organisasi.
d. Memberikan saran dan menyatakan pendapat demi kebaikan
organisasi.
e. Berhak memilih dan dipilih dalam permusyawaratan pada
tingkatan struktur pimpinannya.

Pasal 7
Kewajiban dan Hak Kader
1. Kewajiban Kader :
a. Taat kepada AD/ART IPM dan menjalankan keputusan dan
peraturan IPM.
b. Setia pada nilai-nilai perjuangan IPM.
c. Menegakkan dan menjunjung nama baik IPM dan
Muhammadiyah.
d. Menjadi teladan yang utama sebagai pelajar muslim.
e. Turut mendukung dan melaksanakan kebijakan dan amal
perjuangan IPM.
f. Menjadi penggerak dan bertanggung jawab dalam melaksanakan
kebijakan dan amal perjuangan IPM.
2. Hak Kader :
a. Menyatakan pendapat di dalam dan di luar permusyawaratan.
b. Memilih dan dipilih di dalam permusyawaratan pada tingkatan
struktur kepemimpinannya.

90
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

c. Mendapatakan pembinaan secara terus menerus dari IPM.

Pasal 8
Pemberhentian Anggota
1. Anggota berhenti karena :
a. Meninggal dunia
b. Keluar dari Islam
c. Meminta berhenti atas kehendak sendiri
d. Diberhentikan
e. Habis masa kenggotaannya
2. Anggota diberhentikan oleh Pimpinan karena :
a. Melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
dasar perjuangan IPM
b. Melakukan tindakan yang merugikan dan merusak nama baik
organisasi
c. Melakukan tindak pidana dan terbukti kesalahannya di depan
pengadilan
3. Anggota yang diberhentikan berhak mengajukan keberatan kepada
tingkatan struktur yang memberhentikan. Apabila tingkatan struktur
yang bersangkutan menolak maka anggota yang diberhentikan berhak
melakukan banding kepada tingkatan struktur di atasnya.

Pasal 9
Ranting
1. Ranting adalah kesatuan anggota di sekolah, madrasah, pondok
pesantren, masjid/mushalla, panti asuhan, desa/kelurahan atau
komunitas yang berfungsi melakukan pembinaan dan pemberdayaan
angoota.
2. Ranting sekurang-kurangnya mempunyai :
a. Pimpinan ranting terdiri atas sekurang-kurangnya 10 orang.
b. Pengajian pimpinan secara rutin sekurang-kurangya 1 kali dalam
sebulan.
c. Memiliki kegiatan atau program pemberdayaan dan pembinaan
pelajar.

91
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

d. Memiliki tempat sebagai pusat kegiatan.


3. Pengesahan pendirian Ranting dan ketentuan luas lingkungannya
ditetapkan oleh Pimpinan Daerah dengan surat keputusan.
4. Pembina IPM di sekolah Muhammadiyah tingkat SMP/sederajat dan
atau SMU/sederajat adalah Kepala Sekolah atau orang yang ditunjuk
oleh Kepala Sekolah.
5. Pembina IPM di ranting non-sekolah adalah Pimpinan Ranting
Muhammadiyah, Ketua Panti Asuhan, Ketua Takmir Masjid, atau
Direktur Pondok Pesantren.
6. Syarat Pembina IPM Ranting adalah alumni IPM dan atau Angkatan
Muda Muhammadiyah.

Pasal 10
Cabang
1. Cabang didirikan atas rekomendasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah
dan atau Musyawarah Cabang IPM kemudian disahkan oleh Pimpinan
Wilayah IPM dengan Surat Keputusan.
2. Surat Keputusan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 di atas
ditembuskan kepada PD, dan PP IPM serta Pimpinan Cabang
Muhammadiyah setempat.
3. Cabang sekurang-kurangnya mempunyai :
a. 2 (dua) Pimpinan Ranting
b. Pengajian pimpinan secara rutin sekurang-kurangnya sekalidalam
sebulan
c. Pengajian umum secara rutin tingkat cabang sekurang-kurangnya
sekali dalam sebulan
d. Memiliki program kerja dan kegiatan
e. Pelatihan kader pimpinan tingkat cabang
4. Cabang membawahi Ranting-ranting.

92
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 11
Daerah
1. Daerah didirikan atas rekomendasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah
dan atau Musywarah Daerah IPM kemudian disahkan oleh Pimpinan
Pusat IPM dengan Surat Keputusan.
2. Surat Keputusan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 2 di atas
ditembuskan kepada PW IPM, Pimpinan Daerah Muhammadiyah
(PDM), dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) setempat.
3. Daerah sekurang-kurangnya mempunyai :
a. 2 (Dua) Pimpinan Cabang
b. Pengajian pimpinan secara rutin sekurang-kurangnya dua kali
dalam sebulan
c. Pengajian umum secara rutin tingkat daerah sekurang-kurangnya
sekali dalam sebulan
d. Memiliki program kerja dan kegiatan
e. Pelatihan kader Pimpinan tingkat Daerah
4. Daerah membawahi Cabang dan Ranting.

Pasal 12
Wilayah
1. Wilayah didirikan atas rekomendasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
dan atau Musywarah Wilayah IPM kemudian disahkan oleh Pimpinan
Pusat IPM dengan Surat Keputusan.
2. Surat Keputusan sebagaimana dimaksud yang dimaksud dalam ayat 1
diterbitkan oleh PP IPM, dan ditembuskan kepada Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah (PWM) setempat, dan Pimpinan Pusat
Muhammadiyah.
3. Wilayah sekurang-kurangnya mempunyai :
a. 3 (tiga) Pimpinan Daerah
b. Pengajian pimpinan secara rutin sekurang-kurangnya dua kali
dalam sebulan
c. Memiliki program kerja dan kegiatan
d. Pelatihan kader pimpinan tingkat wilayah
4. Wilayah membawahi Daerah, Cabang, dan Ranting.

93
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 13
Pusat
1. Pusat ditetapkan berdasarkan Keputusan Muktamar.
2. Pusat membawahi Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting.

Pasal 14
Kepemimpinan
1. Kepemimpinan IPM menggunakan prinsip kolektif-kolegial.
Maksudnya dalam melaksanakan dan memutuskan segala sesuatu
dilakukan dengan bersama-sama dengan penuh pertimbangan dan
kebijaksanaan.
2. Kepemimpinan IPM bersifat kritis-apresiatif. Maksudnya senantiasa
memperhatikan pendapat anggota, menghargai eksistensi anggota dan
menerima kritik dan masukan dari anggotanya.

Pasal 15
Susunan Pimpinan
Susunan Pimpinan terdiri atas :
1. Pimpinan Pusat
2. Pimpinan Wilayah
3. Pimpinan Daerah
4. Pimpinan Cabang
5. Pimpinan Ranting

Pasal 16
Pimpinan Pusat
1. Pimpinan Pusat menentukan kebijakan IPM berdasarkan keputusan
Muktamar dan Tanwir serta pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
2. Pimpinan Pusat mentanfidzkan permusyawaratan tingkat pusat,
memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan IPM.
3. Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pimpinan Pusat
membuat pedoman kerja dan pembagian tugas serta wewenang antar
anggota Pimpinan Pusat.

94
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Dalam melaksanakan kebijakan ekstern yang menyangkut masalah


penting, Pimpinan Pusat berkewajiban konsultasi dengan Pimpinan
Pusat Muhammadiyah.
5. Pimpinan Pusat dapat memberntuk perwakilan yang wewenang dan
kedudukannya dalam rapat pleno Pimpinan Pusat atas dasar ketentuan
Muktamar.
6. Personal Pimpinan Pusat harus berdomisili di Yogyakarta dan atau
Jakarta.

Pasal 17
Pimpinan Wilayah
1. Pimpinan Wilayah menentukan kebijakan IPM dalam wilayahnya
berdasarkan garis kebijakan pimpinan di atasnya dan keputusan
permusyawaratan wilayah.
2. Pimpinan Wilayah mentanfidzkan keputusan-keputusan
permusyawaratan wilayah, memimpin dan mengawasi pelaksanaan
kebijakannya.
3. Pimpinan Wilayah memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan
atau intruksi Pimpinan Pusat di wilayahnya.
4. Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pimpinan Wilayah
membuat pedoman kerja dan pembagian tugas serta wewenang antar
personil Pimpinan Wilayah atas dasar pedoman kerja yang dibuat oleh
PP IPM.
5. Pimpinan Wilayah membimbing dan meningkatkan kegiatan daerah
dalam wilayahnya.
6. Dalam melaksanakan kebijakan ekstern yang menyangkut masalah
penting, Pimpinan Wilayah berkewajiban berkonsultasi dengan
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.
7. Pimpinan Wilayah dapat membentuk Perwakilan Pimpinan Wilayah
sesuai dengan keputusan Musyawarah Wilayah.
8. Personal Pimpinan Wilayah berdomisili di tempat kedudukan Pimpinan
Wilayah, dan apabila tidak demikian maka harus mendapatkan
persetujuan dalam rapat pleno pimpinan tingkat Wilayah.

95
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 18
Pimpinan Daerah
1. Pimpinan Daerah menentukan kebijakan IPM dalam daerahnya
berdasarkan garis kebijakan pimpinan di atasnya dan keputusan
permusyawaratan daerah.
2. Pimpinan Daerah mentanfidzkan keputusan-keputusan
permusyawaratan daerah, memimpin dan mengawasi pelaksanaan
kebijakannya.
3. Pimpinan Daerah memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan
atau instruksi Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah.
4. Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pimpinan Daerah
membuat pedoman kerja dan pembagian tugas serta wewenang antar
personal Pimpinan Daerah atas dasar pedoman kerja yang dibuat oleh
PP IPM.
5. Pimpinan Daerah membimbing dan meningkatkan amal usaha atau
kegiatan cabang dan atau ranting dalam daerahnya.
6. Dalam melaksanakan kebijakan ekstern yang menyangkut masalah
penting, Pimpinan Daerah berkewajiban berkonsultasi dengan
Pimpinan Daerah Muhammadiyah.
7. Personal Pimpinan Daerah berdomisili di tempat kedudukan Pimpinan
Daerah, dan apabila tidak demikian maka harus mendapatkan
persetujuan dalam rapat pleno pimpinan tingkat Daerah.

Pasal 19
Pimpinan Cabang
1. Pimpinan Cabang menentukan kebijakan IPM dalam cabangnya
berdasarkan garis kebijakan pimpinan di atasnya dan keputusan
permusyawaratan cabang.
2. Pimpinan Cabang mentanfidzkan keputusan-keputusan
permusyawaratan daerah, memimpin dan mengawasi pelaksanaan
kebijakannya.
3. Pimpinan Cabang memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan
atau intruksi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah.

96
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pimpinan Daerah


membuat pedoman kerja dan pembagian tugas serta wewenang antar
personal Pimpinan Cabang atas dasar pedoman kerja yang dibuat oleh
PP IPM.
5. Pimpinan Cabang membimbing dan meningkatkan amal usaha atau
kegiatan cabang ranting-ranting dalam cabangnya.
6. Dalam melaksanakan kebijakan ekstern yang menyangkut masalah
penting, Pimpinan Cabang berkewajiban berkonsultasi dengan
Pimpinan Cabang Muhammadiyah.
7. Personal Pimpinan Cabang berdomisili di tempat kedudukan Pimpinan
Cabang, dan apabila tidak demikian maka harus mendapatkan
persetujuan dalam rapat pleno pimpinan tingkat Cabang.

Pasal 20
Pimpinan Ranting
1. Pimpinan Ranting menentukan kebijakan IPM dalam rantingnya
berdasarkan garis kebijakan pimpinan di atasnya dan keputusan
permusyawaratan ranting.
2. Pimpinan Ranting mentanfidzkan keputusan-keputusan
permusyawaratan ranting, memimpin dan mengawasi pelaksanaan
kebijakannya.
3. Pimpinan Ranting memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan
atau intruksi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, dan
Pimpinan Cabang.
4. Untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, Pimpinan Ranting
membuat pedoman kerja dan pembagian tugas serta wewenang antar
personal Pimpinan Ranting atas dasar pedoman kerja yang dibuat oleh
PP IPM.
5. Pimpinan Ranting membimbing anggota dalam beragama,
meningkatkan kesadaran berorganisasi dan menyalurkan aktivitas
dalam amal usaha IPM sebagai bakat, minat, dan kemampuannya.
6. Dalam melaksanakan kebijakan ekstern yang menyangkut masalah
penting, Pimpinan Ranting berkewajiban berkonsultasi dengan Kepala
Sekolah, Pimpinan Ranting Muhammadiyah atau pembina IPM.

97
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

7. Pimpinan Ranting di perguruan Muhammadiyah tingkat SMP/sederajat


atau SMA/sederajat dibina oleh kepala sekolah dan atau yang
dimandati oleh kepala sekolah untuk membantunya dalam upaya
menggerakkan IPM ranting di sekolah yang bersangkutan.
8. Pimpinan Ranting yang berkedudukan di luar sekolah Muhammadiyah
adalah personal IPM yang tergabung dalam sekolah non-
Muhammadiyah atau Komunitas dapat dibina langsung oleh
Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah atau Pimpinan Cabang IPM.

Pasal 21
Pemilihan Pimpinan
1. Pemilihan Pimpinan dilakukan dengan memilih formatur.
2. Pedoman tata tertib pemilihan Pimpinan dibuat oleh Pimpinan
setingkatnya, sesuai dengan hasil keputusan musyawarah.
3. Untuk pemilihan pimpinan dibentuk panitia pemilihan :
a. Untuk Pimpinan Pusat ditetapkan oleh Tanwir.
b. Untuk Pimpinan Wilayah, Daerah dan Cabang ditetapkan oleh
musyawarah masing-masing atas usul Pimpinan IPM yang
bersangkutan.
c. Untuk Pimpinan Ranting ditetapkan dalam rapat pleno Pimpinan.
4. Syarat untuk dapat dicalonkan sebagai anggota Pimpinan IPM :
a. Telah menjadi kader IPM dan mengamalkan ajaran Islam sesuai
Al-Qur’an dan As-Sunnah Al-Maqbulah.
b. Setia pada maksud dan tujuan serta perjuangan IPM.
c. Taat pada garis perjuangan IPM.
d. Cakap dan amanah menjalankan tugasnya.
e. Tidak merangkap keanggotaan/jabatan, sebagaimana diatur
dalam AD.
f. Memenuhi syarat-syarat administrasi.

Pasal 22
Pergantian Pimpinan
1. Pergantian pimpinan hanya dilaksanakan pada permusyawaratan
tertinggi tiap tingkatan struktur.

98
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2. Pergantian pimpinan dilaksanakan apabila masa jabatan pimpinan


genap 2 tahun atau 1 tahun untuk ranting atau dinyatakan sudah
selesai.
3. Pergantian pimpinan maksimal dilaksanakan 3 (tiga) bulan setelah
masa jabatannya selesai atau satu bulan untuk pimpinan ranting.

Pasal 23
Batas Umur Pimpinan
Batas maksimal umur :
1. Pimpinan Pusat IPM adalah 24 tahun tepat pada saat Muktamar.
2. Pimpinan Wilayah IPM adalah 24 tahun tepat pada saat Musywil.
3. Pimpinan Daerah IPM adalah 22 tahun tepat pada saat Musyda.
4. Pimpinan Cabang IPM adalah 20 tahun tepat pada saat Musycab.
5. Pimpinan Ranting IPM adalah 18 tahun tepat pada saat Musyran.

Pasal 24
Perubahan Pimpinan (reshufle)
1. Perubahan pimpinan dapat dilakukan dalam setiap Rapat Pleno IPM
dengan persyaratan 2/3 pimpinan hadir.
2. Perubahan pimpinan disahkan melalui surat keputusan pimpinan di
atasnya atau surat keputusan Pimpinan Pusat.
3. Perubahan pimpinan harus disosialisasikan kepada pimpinan
dibawahnya paling lambat 3 bulan setelah di SK-kan.

Pasal 25
Pemberhentian Personal Pimpinan
1. Personal pimpinan dinyatakan berhenti, dengan alasan :
a. Meminta berhenti atas kehendak sendiri
b. Diberhentikan
2. Personal pimpinan diberhentikan oleh pimpinan bersangkutan.
3. Personal pimpinan dapat diberhentikan karena :
a. Melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
dasar perjuangan IPM

99
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

b. Melakukan tindakan yang merugikan dan merusak nama baik


organisasi
c. Melakukan tindak pidana dan terbukti kesalahannya di depan
pengadilan
4. Personal pimpinan yang diberhentikan dapat mengajukan banding
pada pimpinan diatasnya.
5. Personal pimpinan yang dinyatakan berhenti sebagaimana ayat 1,
dapat diberhentikan melalui rapat pleno.

Pasal 26
Pedoman Kerja
Untuk ketertiban jalannya pimpinan, maka Pimpinan Pusat IPM membuat
pedoman umum kerja.

Pasal 27
Bidang-Bidang
1. Bidang adalah unsur pimpinan yang menjalankan tugas pokok dan
program-program organisasi.
2. Bidang wajib di IPM adalah bidang Perkaderan, Bidang KDI dan
Bidang PIP.
3. Selain Bidang wajib dibentuk oleh masing masing tingkat
pimpinan, berdasarkan hasil permusyawaratan tertinggi di masing
masing tingkatan pimpinan.

Pasal 28
Lembaga
1. Pimpinan IPM dapat membentuk lembaga IPM.
2. Lembaga IPM adalah badan pembantu pimpinan yang melaksanakan
hal-hal yang tidak dapat ditangani langsung oleh pimpinan dalam hal
pelaksanaan dan pengembangan operasional program.
3. Batas wewenang dan kedudukan lembaga IPM seperti yang dimaksud
ayat 1 di atas ditentukan dalam surat keputusan pimpinan yang
bersangkutan.

100
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Lembaga IPM bertanggung jawab kepada Pimpinan IPM yang


bersangkutan.
5. Personal lembaga IPM direkrut dari anggota IPM, simpatisan atau
pelajar muslim lain yang dianggap dapat mengemban amanah lembaga
dan diberi tanggung jawab oleh masing-masing pimpinan.
6. Pimpinan IPM dapat membubarkan lembaga IPM atau merubah
susunan anggota pengurusnya.
7. Pimpinan IPM membuat kaidah umum lembaga IPM yang disyahkan
dalam permusyawaratan di tingkatannya.
8. Pimpinan IPM berhak dan berkewajiban melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap lembaga khusus di tingkatan struktur yang
bersangkutan.

Pasal 29
Susunan Jabatan
1. Susunan jabatan Pimpinan IPM disusun oleh Ketua Umum dan
formatur IPM yang terpilih dalam tiap permusyawaratan IPM.
2. Susunan jabatan pimpinan IPM terdiri atas Ketua Umum, Ketua Bidang,
Sekretaris Umum, Sekretaris Bidang, Bendahara Umum, dan Anggota
Bidang.

Pasal 30
Muktamar
1. Muktamar diselenggarakan atas undangan Pimpinan Pusat.
2. Undangan, acara dan materi muktamar minimal telah sampai kepada
yang bersangkutan 2 (dua) bulan sebelumnya.
3. Muktamar dinyatakan sah apabila dihadiri muktamirin dengan tidak
memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara sah sudah
sampai disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Muktamirin terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum Pimpinan Pusat IPM

101
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2) Ketua Umum Pimpinan Wilayah atau yang mewakili dan 6


orang utusan Pimpinan Wilayah
3) Ketua Umum Pimpinan Daerah atau yang mewakili dan 2
orang utusan Pimpinan Daerah
b. Peninjau :
1) Personil Pimpinan Pusat yang tidak menjadi peserta
muktamar
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat secara sah
5. Setiap peserta muktamar berhak atas satu suara.
6. Isi dan susunan acara Muktamar ditetapkan oleh Pimpinan Pusat IPM
berdasarkan keputusan Tanwir pertama.
7. Ketentuan tata tertib Muktamar diatur oleh Pimpinan Pusat dan
dibacakan pada Pleno Muktamar.
8. Acara pokok dalam Muktamar :
a. Laporan pertanggung jawaban Pimpinan Pusat
1) Kebijakan Pimpinan Pusat
2) Pelaksanaan keputusan Muktamar dan Tanwir sebelumnya
3) Keuangan
b. Laporan perkembangan dan pandangan umum Pimpinan Wilayah
terhadap kinerja Pimpinan Pusat sesuai dengan Indeks
Progresifitas IPM
c. Penyusun kebijakan program kerja periode berikutnya
d. Pemilihan Pimpinan Pusat
e. Masalah-masalah IPM yang bersifat urgen/penting
f. Rekomendasi
9. Selambat-lambatnya sebulan setelah Muktamar Pimpinan Pusat harus
mentanfidzkan hasil keputusan Muktamar dan menyampaikannya pada
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah IPM, dan Pimpinan
Daerah se-Indonesia.
10. Keputusan Muktamar mulai berlaku sejak ditanfidzkan oleh Pimpinan
Pusat sampai diubah atau dicabut kembali oleh Muktamar berikutnya.

102
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 31
Muktamar Luar Biasa
(MLB)
1. Muktamar Luar Biasa diselenggarakan atas undangan Pimpinan Pusat
berdasarkan desakan 50% + 1 dari jumlah Pimpinan Wilayah.
2. Muktamar Luar Biasa dinyatakan sah apabila dihadiri Muktamirin
dengan tidak memandang jumlah yang hadir asalkan undangan sudah
secara sah telah disampaikan kepada yang bersangkutan.
3. Muktamirin terdiri atas :
a. Peserta :
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum, dan
Bendahara Umum Pimpinan Pusat
2) Ketua Umum Pimpinan Wilayah atau yang mewakilinya dan 2
orang utusan Pimpinan Wilayah
3) Ketua Umum Pimpinan Daerah atau yang mewakilinya dan 2
orang utusan Pimpinan Daerah
b. Peninjau :
1) Personil Pimpinan Pusat yang tidak menjadi peserta
Muktamar Luar Biasa
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat
4. Muktamirin berhak atas satu suara.
5. Isi dan susunan acara Muktamar Luar biasa disesuaikan dengan
alasan penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa.
6. Keputusan Muktamar Luar Biasa mulai berlaku setelah ditanfidzkan
oleh Pimpinan Pusat sampai diubah atau dicabut oleh Muktamar
berikutnya.
7. Selambat-lambatnya 2 (dua) minggu setelah Muktamar Luar Biasa,
Pimpinan Pusat harus menyampaikan hasil keputusan Muktamar Luar
Biasa kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai pemberitahuan.

Pasal 32
Tanwir
1. Tanwir diselenggarakan atas undangan Pimpinan Pusat.

103
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2. Undangan, acara dan materi konferensi pimpinan nasional Tanwir


minimal sampai kepada yang bersangkutan 1 (satu) bulan sebelum
acara konferensi pimpinan nasional Tanwir diselenggarakan.
3. Tanwir dinyatakan sah apabila dihadiri musyawirin dengan tanpa
memandang jummlah yang hadir, asalkan undangan secara sah sudah
disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Musyawirin Tanwir terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum, dan
Bendahara Umum Pimpinan Pusat
2) Ketua Umum Pimpinan Wilayah atau yang mewakilinya dan 2
orang utusan
b. Peninjau :
1) Personil Pimpinan Pusat yang tidak menjadi peserta Tanwir
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat secara sah
5. Setiap peserta Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
6. Isi dan susunan acara Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
7. Acara pokok dalam Tanwir :
a. Progres report perkembangan IPM Nasional
b. Evaluasi dan kebijakan IPM Nasional
c. Masalah penting yang tidak dapat ditangguhkan sampai Muktamar
d. Mempersiapkan acara-acara Muktamar yang akan datang
8. Sebelum Muktamar dapat diselenggarakan Tanwir dengan agenda
khusus persiapan Muktamar dan masalah penting.
9. Ketentuan tata tertib Tanwir ditentukan oleh Pimpinan Pusat dan
dibacakan pada pleno Tanwir.
10. Keputusan Tanwir mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan
Pusat.
11. Selambat-lambatnya sebulan setelah Tanwir, keputusan harus
ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat menyampaikannya pada Pimpinan
Wilayah IPM, dan Pimpinan Daerah IPM se-Indonesia.
12. Agenda pokok Tanwir Pra-Muktamar :
a. Pembacaan tata tertib Tanwir Pra Muktamar

104
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

b. Pembacaan Tanwir sebelumnya (pertama), seperti Panitia


Pemilihan, Tim Verifikasi Keuangan, Tim Materi Muktamar, dll.

Pasal 33
Musyawarah Wilayah
(Musywil)
1. Musyawarah wilayah diselenggarakan atas undangan Pimpinan
Wilayah.
2. Musywil diselenggarakan sekurang-kurangnya 3 bulan setelah
Muktamar.
3. Undangan, acara dan materi musyawarah wilayah minimal sampai
kepada yang bersangkutan sebulan sebelumnya.
4. Musyawarah wilayah dinyatakan sah apabila dihadiri oleh musyawirin
dengan tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara
sah sudah disampaikan kepada yang bersangkutan.
5. Musyawirin terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum Pimpinan Wilayah, Ketua Bidang, Sekretaris
Umum, dan Bendahara Umum Pimpinan Wilayah.
2) Ketua Umum Pimpinan Daerah atau yang mewakili dan 6
orang utusan Pimpinan Daerah
3) Ketua Umum Pimpinan Cabang atau yang mewakili dan 2
orang utusan
b. Peninjau :
1) Pimpinan Wilayah yang tidak menjadi peserta musyawarah
wilayah
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Wilayah
6. Setiap peserta musyawarah wilayah berhak atas satu suara.
7. Isi dan susunan acara Musyawarah Wilayah ditetapkan oleh Pimpinan
Wilayah dengan berdasarkan Konferensi Pimpinan Wilayah
(Konpiwil) sebelumnya.
8. Acara pokok dalam Musyawarah Wilayah :
a. Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Wilayah :
1) Kebijakan Pimpinan Wilayah

105
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2) Organisasi dan administrasi


3) Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan kebijakan
pimpinan di atasnya serta Keputusan Musyawarah Wilayah
dan Konpiwil sebelumnya
4) Keuangan
b. Laporan perkembangan dan pandangan Pimpinan Daerah
terhadap kinerja Pimpinan Wilayah
c. Penyusunan program IPM berikutnya
d. Pemilihan Pimpinan Wilayah
e. Masalah urgen dalam wilayah
f. Rekomendasi
9. Pimpinan Daerah dalam memberikan pandangan kepada PW IPM,
sekaligus memberikan penilaian terhadap tingkat pencapaian
keberhasilan program pimpinan pusat wilayah sesuai dengan Indeks
Progresifitas Gerakan IPM.
10. Hasil penilaian sebagaimana ayat 9, digunakan sebagai acuan untk
periode kepemimpinan selanjutnya.
11. Ketentuan Tata Tertib Musyawarah Wilayah diatur oleh Pimpinan
Wilayah dan dibacakan pada pleno Musyawarah Wilayah.
12. Keputusan Musyawarah Wilayah mulai berlaku sejak ditanfidzkan oleh
Pimpinan Wilayah sampai diubah atau dicabut oleh Musyawarah
Wilayah berikutnya.
13. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyawarah Wilayah, Pimpinan
Wilayah harus memyampaikan hasil keputusan Musyawarah Wilayah
kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah setempat sebagai
pemberitahuan dan kepada Pimpinan Pusat untuk mendapatkan
pengesahan.
14. Apabila sampai dua minggu setelah penyerahan hasil Musyawarah
Wilayah tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Pusat, maka
keputusan tersebut dianggap sah.
15. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Wilayah dapat
diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak
mengganggu jalannya Musyawarah wilayah.

106
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 34
Konferensi Pimpinan Wilayah
(Konpiwil)
1. Konferensi Pimpinan Wilayah (Konpiwil) diselenggarakan atas
undangan Pimpinan Wilayah.
2. Undangan, acara dan materi Wilayah (Konpiwil) minimal sampai
kepada yang bersangkutan sebulan sebelumnya.
3. Konpiwil dinyatakan sah apabila dihadiri Musyawirin Konpiwil dengan
tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara sah
sudah disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Musyawirin Konpiwil terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum Pimpinan Wilayah
2) Ketua Umum Pimpinan Daerah atau yang mewakilinya dan 2
orang utusan Pimpinan Daerah
b. Peninjau :
1) Pimpinan Wilayah yang tidak menjadi peserta Konpiwil.
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Wilayah
5. Setiap peserta konpiwil berhak atas satu suara.
6. Isi dan susunan acara konpiwil ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah.
7. Acara pokok dalam Konpiwil :
a. Laporan Kebijakan Pimpinan Wilayah
b. Masalah urgen yang tidak dapat ditangguhkan sampai
Musyawarah Wilayah
c. Masalah yang oleh Musywil diserahkan kepada Konpiwil
d. Evaluasi gerak organisasi dan pelaksanaan program
e. Mempersiapkan acara-acara Musywil berikutnya
8. Sebelum Musywil dapat diselenggarakan Konpiwil dengan agenda
khusus Persiapan Musywil dan masalah urgen.
9. Ketentuan tata tertib konpiwil ditentukan oleh Pimpinan Wilayah dan
dibacakan dalam sidang pleno Konpiwil.
10. Keputusan Konpiwil mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan
Wilayah.

107
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

11. Selambat-lambatnya sebulan setelah Konpiwil, Pimpinan Wilayah harus


menyampaikan hasil keputusan Konpiwil kepada Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah setempat sebagai pemberitahuan dan kepada
Pimpinan Pusat IPM untuk mendapatkan pengesahan.
12. Apabila sampai dua minggu sesudah penyerahan hasil keputusan
Konpiwil tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Pusat, maka
keputusan tersebut dianggap sah.
13. Pada waktu berlangsungnya Konpiwil dapat diselenggarakan acara
atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Konpiwil.
14. Agenda Pokok Konpiwil Pra-Musywil :
a. Pembacaan tata tertib Konpiwil dan Musywil
b. Pembacaan hasil kerja Konpiwil sebelumnya (pertama), seperti
Panitia Pemilihan, Tim Verifikasi, Tim Materi, Panitia Musywil, dll.

Pasal 35
Musywarah Daerah
(Musyda)
1. Musyawarah Daerah diselenggarakan atas undangan Pimpinan
Daerah.
2. Musyda diselenggarakan sekurang-kurangnya 3 bulan setelah akhir
periode kepemimpinan PW IPM dan dikeluarkannya keputusan Induk
Musywil.
3. Undangan, acara, dan materi Musyawarah Daerah minimal sampai
kepada yang bersangkutan sebulan sebelumnya.
4. Musyawarah dinyatakan sah apabila dihadiri oleh Musyawirin dengan
tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara sah
sudah disampaikan kepada yang bersangkutan.
5. Musyawirin terdiri atas :
a. Peserta :
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum Pimpinan Daerah.
2) Ketua Umum Pimpinan Cabang atau yang mewakilinya dan 6
orang utusan.

108
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

3) Ketua Umum Pimpinan Ranting atau yang mewakilinya


dan 2 orang utusan.
b. Peninjau :
1) Pimpinan Daerah yang tidak menjadi peserta Musyawarah
Daerah.
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Daerah.
6. Setiap peserta Musyawarah Daerah berhak atas satu suara.
7. Isi dan susunan acara Musyawarah Daerah ditetapkan oleh Pimpinan
Daerah dengan berdasarkan keputusan Konpida sebelumnya.
8. Acara pokok Musyawarah Daerah :
a. Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Daerah
1) Kebijakan Pimpinan Daerah
2) Organisasi dan Administrasi
3) Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan kebijakan
pimpinan di atasnya serta Pelaksanaan keputusan
Musyawarah Daerah dan Konpicab sebelumnya
4) Keuangan
b. Laporan perkembangan Pimpinan Cabang atau Ranting dan
pandangan Pimpinan Cabang atau Ranting terhadap kinerja
Pimpinan Daerah
c. Penyusunan Program Kerja IPM periode berikutnya
d. Pemilihan Pimpinan Daerah
e. Masalah IPM yang urgen dalam Daerahnya
9. Pimpinan Cabang atau Ranting dalam memberikan pandangan kepada
PD IPM, sekaligus memberikan penilaian terhadap tingkat pencapaian
keberhasilan program pimpinan daerah sesuai dengan Indeks
Progresifitas Gerakan IPM.
10. Hasil penilaian sebagaimana ayat 9, digunakan sebagai acuan untuk
periode kepemimpinan selanjutnya.
11. Ketentuan tata tertib Musyawarah Daerah diatur oleh Pimpinan Daerah.
12. Keputusan Musyawarah Daerah mulai berlaku setelah sejak
ditanfidzkan oleh Pimpinan Daerah sampai diubah atau dicabut kembali
oleh Musyawarah Daerah berikutnya.

109
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

13. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyda, Pimpinan Daerah harus


menyampaikan hasil keputusan Musyda kepada Pimpinan Daerah
setempat sebagai pemberitahuan dan kepada Pimpinan Wilayah IPM
untuk mendapatkan pengesahan dengan tembusan kepada Pimpinan
Pusat.
14. Apabila sampai sebulan sesudah penyerahan hasil Musyawarah
Daerah tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Wilayah, maka
keputusan tersebut dianggap sah.
15. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Daerah dapat
diselenggarakan acara atau kegiatan yang tidak mengganggu jalannya
Musyawarah Daerah.

Pasal 36
Konferensi Pimpinan Daerah
(Konpida)
1. Konferensi Pimpinan Daerah (Konpida) diselenggarakan atas
undangan Pimpinan Daerah.
2. Undangan, acara dan materi Konpida minimal sampai kepada yang
bersangkutan sebulan sebelumnya.
3. Konpida dinyatakan sah apabila dihadiri oleh Musyawirin Konpida
dengan tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara
sah sudah disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Musyawirin Konpida terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum Pimpinan Daerah
2) Ketua Umum Pimpinan Cabang atau yang mewakilinya dan 2
orang utusan Pimpinan Cabang (Jika dalam Pimpinan Daerah
ada yang tidak mewakili cabang, maka yang diundang adalah
Pimpinan Ranting)
b. Peninjau :
1) Pimpinan Daerah yang tidak menjadi peserta Konpida
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Daerah
5. Setiap peserta Konpida berhak atas satu suara.

110
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

6. Isi dan susunan acara Konpida ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.


7. Acara pokok Konpida :
8. Ketentuan tata tertib Konpida ditentukan oleh Pimpinan Daerah dan
dibacakan dalam rapat pleno Konpida.
9. Keputusan Konpida mulai berlaku sejak ditanfidzkan oleh Pimpinan
Daerah.
10. Selambat-lambatnya sebulan setelah Konpida, Pimpinan Daerah harus
menyampaikan hasil keputusan Konpida kepada Pimpinan Daerah
Muhammadiyah setempat sebagai pemberitahuan dan kepada
Pimpinan Wilayah IPM untuk mendapatkan pengesahan dengan
tembusan kepada Pimpinan Pusat.
11. Apabila sampai sebulan sesudah penyerahan hasil keputusan Konpida
tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Wilayah, maka keputusan
tersebut dianggap sah.
12. Pada waktu berlangsungnya Konpida dapat diselenggarakan acara
pendukung atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya
Konpida.
13. Agenda pokok Konpida Pra-Musyda :
a. Pembacaan tata tertib Konpida dan Musyda
b. Pembacaan hasil kerja Konpida sebelumnya (pertama) seperti
Panitia Pemilihan, Tim Verifikasi, Tim Materi, dll.
14. Pimpinan Daerah bertanggungjawab atas penyelenggaraan Konpida.

Pasal 37
Musyawarah Cabang
(Musycab)
1. Musyawarah Cabang diselenggarakan atas undangan Pimpinan
Cabang.
2. Musycab diselenggarakan sekurang-kurangnya 3 bulan setelah akhir
periode kepemimpinan PD IPM dan dikeluarkannya keputusan induk
Musyda.
3. Undangan, acara dan materi Musyawarah Cabang minimal sampai
kepada yang bersangkutan dua minggu sebelumnya.

111
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

4. Musyawarah Cabang dinyatakan sah apabila dihadiri oleh peserta


Musyawarah Cabang Musyawirin dengan tidak memandang jumlah
yang hadir, asalkan undangan sudah disampaikan secara sah kepada
yang bersangkutan.
5. Musyawarah Cabang Musyawirin terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum, dan
Bendahara Umum Pimpinan Cabang
2) Ketua Umum Ketua Bidang, Sekretaris Umum, dan
Bendahara Umum Pimpinan Ranting
b. Peninjau :
1) Pimpinan Cabang yang tidak menjadi peserta Musyawarah
Cabang
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Cabang
6. Setiap Peserta Penuh Musyawarah Cabang berhak atas satu suara.
7. Isi dan Susunan Musyawarah Cabang ditetapkan oleh Pimpinan
Cabang dengan berdasarkan keputusan Konpicab sebelumnya.
8. Acara Pokok dalam Musyawarah Cabang :
a. Laporan Pertanggung jawaban Pimpinan Cabang :
1) Kebijakan Pimpinan Cabang
2) Organisasi dan Administrasi
3) Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan kebijakan
pimpinan di atasnya serta pelaksanaan keputusan
Musyawarah Cabang dan Konpicab sebelumnya
4) Keuangan
b. Laporan perkembangan Pimpinan Ranting dan pandangan
Pimpinan Ranting dan pandangan Pimpinan Ranting terhadap
kinerja Pimpinan Cabang
c. Pernyusunan program IPM periode berikutnya
d. Pemilihan Pimpinan Cabang
e. Masalah IPM yang urgen di cabangnya
f. Rekomendasi
9. Pimpinan Ranting dalam memberikan pandangan kepada PC IPM,
sekaligus memberikan panilaian terhadap tingkat pencapaian

112
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

keberhasilan program pimpinan Cabang sesuai dengan Indeks


Progresifitas Gerakan IPM.
10. Hasil penilaian sebagaimana ayat 9, digunakan sebagai acuan untuk
periode kepemimpinan selanjutnya.
11. Keputusan Musyawarah Cabang mulai berlaku sejak ditanfidzkan oleh
Pimpinan Cabang sampai diubah atau dicabut oleh Musyawarah
Cabang berikutnya.
12. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyawarah Cabang, Pimpinan
Cabang harus menyampaikan hasil keputusan Musyawarah Cabang
kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah setempat sebagai
pemberitahuan dan kepada Pimpinan Daerah IPM untuk mendapatkan
pengesahan dengan tembusan Pimpinan Wilayah.
13. Apabila sampai sebulan sesudah penyerahan hasil Musyawarah
Cabang tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Daerah, maka
keputusan tersebut dianggap sah.
14. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Cabang dapat
diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak
mengganggu jalannya Musyawarah Cabang.

Pasal 38
Konferensi Pimpinan Cabang
(Konpicab)
1. Konferensi Pimpinan Cabang (Konpicab) diselenggarakan atas
undangan Pimipnan Cabang.
2. Undangan, acara dan materi Konpicab minimal sampai kepada yang
bersangkutan 2 minggu sebelumnya.
3. Konpicab dinyatakan sah apabila dihadiri oleh Musyawirin Konpicab
dengan tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara
sah sudah disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Musyawirin terdiri atas :
a. Peserta:
1) Ketua Umum Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum Pimpinan Cabang

113
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

2) Ketua umum pimpinan ranting atau yang mewakili dan 2


orang utusan Pimpinan Ranting
b. Peninjau :
1) Pimpinan Cabang yang tidak menjadi peserta Konpicab
2) Mereka yang diundang oleh Pimpinan Cabang
5. Setiap peserta berhak atas satu suara.
6. Isi dan susunan acara Konpicab ditetapkan oleh Pimpinan Cabang.
7. Acara Pokok Konpicab :
a. Laporan Kebijakan Pimpinan Cabang
b. Masalah urgen yang tidak dapat ditangguhkan sampai Musycab
c. Masalah yang oleh Musycab diserahkan kepada Konpicab
d. Evaluasi gerak organisasi dan pelaksanaan program
e. Mempersiapkan acara-acara Musyda berikutnya
8. Ketentuan tata tertib Konpicab ditentukan oleh Pimpinan Cabang dan
dibacakan dalam rapat pleno Konpicab.
9. Keputusan Konpicab mulai berlaku setelah sejak ditanfidzkan oleh
Pimpinan Cabang.
10. Selambat-lambatnya sebulan setelah Konpicab, Pimpinan Cabang
harus menyampaikan hasil keputusan Konpicab kepada Pimpinan
Cabang Muhammadiyah setempat sebagai pemberitahuan dan kepada
Pimpinan Daerah IPM untuk mendapatkan pengesahan dengan
tembusan kepada Pimpinan Pusat.
11. Apabila sampai sebulan sesudah penyerahan hasil keputusan
Konpicab tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Daerah, maka
keputusan tersebut dianggap sah.
12. Pada waktu berlangsungnya Konpicab dapat diselenggarakan acara
atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Konpicab.
13. Agenda pokok Konpicab Pra Musycab :
a. Pembacaan tata tertib Konpicab dan Musycab
b. Pembacaan hasil kerja Konpicab sebelumnya (pertama), seperti
Panitia Pemilihan, Tim Verifikasi, Tim Materi, Panitia Musycab, dll
14. Pimpinan Cabang bertanggung jawab atas penyelenggaraan Konpicab.

114
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 39
Musyawarah Ranting
(Musyran)
1. Musyawarah Ranting diselenggarakan atas undangan Pimpinan
Ranting.
2. Undangan, acara dan materi Musyawarah Ranting minimal sampai
kepada yang bersangkutan seminggu sebelumnya.
3. Musyawarah Ranting dinyatakan sah apabila dihadiri oleh Musyawirin
dengan tidak memandang jumlah yang hadir, asalkan undangan secara
sah disampaikan kepada yang bersangkutan.
4. Musyawirin terdiri atas :
a. Peserta:
1) Personal Pimpinan Ranting
2) Seluruh anggota Ranting atau wakil-wakil anggota sesuai
kebijakan Pimpinan Ranting
b. Peninjau :
Mereka yang diundang oleh Pimpinan Ranting
5. Setiap peserta Musyawarah Ranting berhak atas satu suara.
6. Isi dan susunan acara Musyawarah Ranting ditetapkan oleh Pimpinan
Ranting.
7. Acara pokok dalam Musyawarah Ranting :
a. Laporan Pertanggung Jawaban Pimpinan Ranting
1) Program Kerja Pimpinan Ranting
2) Organisasi dan Administrasi
3) Pelaksanaan keputusan Musyawarah dan kebijakan pimpinan
di atasnya serta keputusan Musyawarah Ranting sebelumnya
4) Keuangan
b. Penyusunan Program Kerja IPM periode berikutnya
c. Pemilihan Pimpinan Ranting
d. Masalah IPM yang urgen di Rantingnya
e. Rekomendasi
8. Ketentuan tata tertib Musyawarah Ranting diatur oleh Pimpinan Ranting
dan disahkan dalam sidang pleno Musyawarah Ranting.

115
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

9. Keputusan Musyawarah Ranting mulai berlaku setelah sejak


ditanfidzkan oleh Pimpinan Ranting sampai diubah atau dicabut oleh
Musyawarah Ranting berikutnya.
10. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyawarah Ranting, Pimpinan
Ranting harus menyampaikan hasil keputusan Musyawarah Ranting
kepada Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat sebagai
pemberitahuan dan kepada Pimpinan Cabang atau Daerah IPM untuk
mendapatkan pengesahan dengan tembusan kepada Pimpinan
Daerah.
11. Apabila sampai sebulan sesudah penyerapan hasil Musyawarah
Ranting tersebut belum ada jawaban dari Pimpinan Cabang atau
Daerah, maka keputusan tersebut dianggap sah.
12. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Ranting dapat
diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak
mengganggu jalannya Musyawarah Ranting.
13. Pimpinan Ranting bertanggung jawab atas penyelenggaraan
Musyawarah Ranting.

Pasal 40
Keputusan Musyawarah
1. Keputusan Musyawarah diusahakan dengan mufakat.
2. Keputusan dilakukan dengan pemungutan suara dengan kondisi jikalau
dari musyawarah mufakat tidak menemukan keputusan, maka
keputusan diambil dengan suara terbanyak mutlak.
3. Pemungutan suara atas seseorang atau maslah yang penting dapat
dilakukan secara tertulis atau secara langsung.
4. Apabila dalam pemungutan suara terdapat suara yang sama banyak,
maka pemungutan suara dapat diulani dengan terlebih dahulu memberi
kesempatan kepada masing-masing pihak untuk menambah
penjelasan, apabila setelah tiga kali hasil pemungutannya masih tetap
sama, atau tidak memenuhi syarat untuk pengambilan keputusan,
maka persoalannya dibekukan atau diserahkan kepada Pimpinan di
atasnya atau Pimpinan Muhammadiyah setingkat atau Kepala Sekolah.

116
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 41
Keputusan Induk
1. Keputusan Induk adalah keputusan keseluruhan hasil sidang
permusyawaratan di masing–masing tingkatan.
2. Keputusan induk berisi :
a. Keputusan sidang pleno dan komisi
b. Keputusan sidang formatur
3. Keputusan induk berlaku sejak ditetapkan.

Pasal 42
Formatur
1. Formatur adalah 9 orang yang memeroleh suara terbanyak pada
permusyawaratan tertinggi di masing – masing tingkatan pimpinan.
2. Formatur bertugas :
a. Menentukan ketua umum dan sekretaris jendral / umum
b. Menyusun struktur pimpinan
3. Tugas formatur berakhir sampai dengan tersusunnya struktur pimpinan.

Pasal 43
Rapat Pimpinan
1. Rapat pimpinan adalah rapat yang diadakan untuk membicarakan
masalah kebijakan, program dan atau masalah-masalah yang
mendesak untuk segera diselesaikan dalam waktu cepat yang
diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab pimpinan
bersangkutan.
Rapat pimpinan terdiri atas :
a. Rapat Rutin
b. Rapat Pleno
2. Rapat rutin dilaksanakan minimal dua minggu sekali, sedangkan rapat
pleno dilaksanakan minimal 6 bulan sekali.
3. Fungsi Rapat Rutin :
a. Koordinasi gerakan dan program IPM secara mingguan
b. Hal-hal urgen
4. Fungsi Rapat Pleno :

117
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

a. Koordinasi gerakan dan program IPM secara bulanan


b. Personalia
c. Up Grade Pimpinan
d. Hal-hal yang urgen
5. Ketentuan lain mengenai rapat pimpinan diatur dalam pedoman umum.

Pasal 44
Rapat Kerja
1. Rapat kerja adalah rapat yang diadakan untuk merumuskan
pelaksanaan keputusan musyawarah tertinggi di setiap struktur yang
menyangkut program dan kegiatan organisasi.
Rapat kerja terdiri atas :
a. Rapat Kerja Pimpinan
b. Rapat Kerja Nasional/Wilayah/Daerah/Cabang/Ranting
2. Ketentuan lain mengenai rapat kerja diatur dalam pedoman umum.

Pasal 45
Laporan
Setiap Pimpinan berkewajiban untuk membuat laporan tentang keadaan
IPM meliputi bidang organisasi, amal usaha, administrasi, inventarisasi
organisasi dan kegiatan-kegiatan termasuk laporan bidang/lembaga khusus,
problematika, usul dan saran dari tingkat Pimpinan IPM masing-masing
disampaikan kepada Pimpinan di atasnya, dengan ketentuan bagi Pimpinan
Wilayah, Daerah, setiap tiga bulan dan Pimpinan Ranting setiap dua bulan.

Pasal 46
Keuangan
1. Uang Pangkal ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.
2. Iuran Anggota besarnya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.
3. Pengelolaan/penarikan Iuran Anggota akan diatur dalam peraturan
khusus yang dibuat oleh Pimpinan Daerah masing-masing.
4. Distribusi Iuran Anggota adalah sebagai berikut :
a. 40% untuk Pimpinan Ranting
b. 30% untuk Pimpinan Cabang

118
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

c. 20% untuk Pimpinan Daerah


d. 10% untuk Pimpinan Wilayah
5. Setiap tahun Pimpinan IPM masing-masing tingkat mengadakan
perhitungan, pemeriksaan kas dan hak milik serta melaporkannya
kepada permusyawaratan yang bersangkutan.
6. Musyawarah memeriksa pertanggungjawaban keuangan IPM dengan
membentuk tim verifikasi/pemeriksaan keuangan.
7. Perorangan, badan-badan, lembaga-lembaga, organisasi-organisasi
dan sebagainya dapat menjadi donatur IPM dengan tidak mengikat.
8. Laporan keuangan IPM harus didasari pada prinsip transparansi dan
akuntabilitas.
9. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan akan diatur
dalam pedoman Administrasi Keuangan dan ditanfidzkan oleh
Pimpinan Pusat IPM.

Pasal 47
Perubahan Anggaran Rumah Tangga
Anggaran Rumah Tangga ini diubah atas usulan Tanwir melalui pengkajian
dan tawaran draf perubahan Muktamar selanjutnya, dan disetujui oleh 2/3
(dua pertiga) peserta yang hadir.

Pasal 48
Aturan Tambahan
1. IPM menggunakan tahun Hijriah dimulai sesuai dengan penanggalan
yang dikeluarkan oleh PP Muhammadiyah.
2. Pedoman administrasi IPM diatur oleh Pimpinan Pusat.
3. Hal-hal dalam peraturan Anggaran Rumah Tangga ini yang
memerlukan peraturan pelaksanaan, diatur lebih lanjut dengan
peraturan yang dibuat oleh Pimpinan Pusat.
4. Serah terima jabatan dilaksanakan pada akhir permusyawaratan
tertinggi di masing-masing tingkatan pimpinan.
5. Segala ketentuan yang bertentangan dengan anggaran rumah tangga
ini dinyatakan tidak berlaku lagi.

119
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Pasal 49
Penutup
Anggaran Rumah Tangga ini disahkan pada Muktamar XX.

120
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

121
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

PENUTUP

IPM dalam beberapa tahun terakhir semakin kuat dalam dua hal. Pertama
adalah gerakan literasi, sebagai proses pematangan IPM dalam menjaga
spirit Iqro‟. Kedua adalah keberhasilan IPM dalam gerakan sosio-
entrepreneurship dalam kategori organisasi. Dua hal ini tentu saja menjadi
catatan penting bagi IPM, tidak saja bagi beberapa wilayah melalui kerja
kerasnya melakukan inovasi-inovasi penting. Lebih daripada itu, semuanya
adalah hasil dari kerja keras kolaborasi semua pihak. IPM seluruh Indonesia
punya andil penting dalam mengembangkan dan meneruskan langkah
positif organisasi.
Pada masa ini IPM dengan massa nasional terbesar sebagai gerakan
pelajar, dituntut untuk terus memperlihatkan kontribusinya yang bersifat
global, terutama dalam isu-isu ekologi (lingkungan hidup). Pelajar
memegang peranan penting dalam mengontrol atau mengerem kerusakan
alam. Isu ini sama sekali tidak berhubungan dengan program-program
lembaga funding dunia, tetapi menjadi kewajiban setiap aktivis IPM karena
dengan jelas merupakan salah-satu amanah penting Islam Berkemajuan.
Muhammadiyah periode 2005-2015 yang berhasil menggugat UU No. 7
tahun 2004 tentang Sumberdaya Air serta merevisi UU Nomor 22 tahum
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi menjadi UU Migas. Muhammadiyah
telah membuktikan diri sebagai gerakan Islam Berkemajuan.
Pelajar IPM pada masa ini memiliki kesadaran ekologis (ekoliterasi)
yang tinggi. Terlihat dari pendekatan yang digunakan oleh pelajar IPM
dalam mengkritisi proses kerusakan alam menggunakan pendekatan
struktural dan analisa yang kritis atas peran lembaga funding melalui
program MDG‟S dan SDG‟S. Hal ini menunjukkan bahwa IPM teliti dalam
melihat akar persoalan yang dalam. Semoga hal ini dapat dilanjutkan secara
berkesinambungan.
Demikian, Tanfidz Muktamar XX disusun atas bantuan banyak pihak,
oleh karena itu diucapkan penghargaan yang sebesar-besarnya. Semoga
Allah senantiasa membantu kita dalam menggerakkan IPM.

122
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

LAMPIRAN I

STRUKTUR PIMPINAN
IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH

Struktur Ikatan Pelajar Muhammadiyah bersifat desentralisasi dan kolektif-


koligeal. Artinya, bahwa posisi ketua dan sekretaris tidak hanya dimiliki oleh
satu orang, tetapi masing-masing bidang juga berhak memiliki posisi
tersebut. Berikut ini adalah strukturnya.

STRUKTUR
PIMPINAN PUSAT IPM
KETUA Umum
KETUA BIDANG (Organisasi)
KETUA BIDANG (Perkaderan)
KETUA BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
KETUA BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
KETUA BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
KETUA BIDANG (Advokasi)
KETUA BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
KETUA BIDANG (Ipmawati)

SEKRETARIS Jenderal
SEKRETARIS BIDANG (Organisasi)
SEKRETARIS BIDANG (Perkaderan)
SEKRETARIS BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
SEKRETARIS BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
SEKRETARIS BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
SEKRETARIS BIDANG (Advokasi)
SEKRETARIS BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
SEKRETARIS BIDANG (Ipmawati)

BENDAHARA Umum
Bendahara I
Bendahara II

123
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ANGGOTA Bidang
Anggota Bidang (Organisasi)
Anggota Bidang (Perkaderan)
Anggota Bidang (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
Anggota Bidang (Kajian dan Dakwah Islam)
Anggota Bidang (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
Anggota Bidang (Advokasi dan Kebijakan Publik)
Anggota Bidang (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
Anggota Bidang (Ipmawati)

STRUKTUR
PIMPINAN WILAYAH IPM
KETUA Umum
KETUA BIDANG (Organisasi)
KETUA BIDANG (Perkaderan)
KETUA BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
KETUA BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
KETUA BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
KETUA BIDANG (Advokasi)
KETUA BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
KETUA BIDANG (Ipmawati)

SEKRETARIS Umum
SEKRETARIS BIDANG (Organisasi)
SEKRETARIS BIDANG (Perkaderan)
SEKRETARIS BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
SEKRETARIS BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
SEKRETARIS BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
SEKRETARIS BIDANG (Advokasi)
SEKRETARIS BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
SEKRETARIS BIDANG (Ipmawati)

BENDAHARA Umum
Bendahara I
Bendahara II

124
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ANGGOTA Bidang
Anggota Bidang (Organisasi)
Anggota Bidang (Perkaderan)
Anggota Bidang (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
Anggota Bidang (Kajian dan Dakwah Islam)
Anggota Bidang (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
Anggota Bidang (Advokasi dan Kebijakan Publik)
Anggota Bidang (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
Anggota Bidang (Pemberdayaan Pelajar Perempuan)

STRUKTUR
PIMPINAN DAERAH IPM
KETUA Umum
KETUA BIDANG (Organisasi)
KETUA BIDANG (Perkaderan)
KETUA BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
KETUA BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
KETUA BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
KETUA BIDANG (Advokasi)
KETUA BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
KETUA BIDANG (Ipmawati)

SEKRETARIS Umum
SEKRETARIS BIDANG (Organisasi)
SEKRETARIS BIDANG (Perkaderan)
SEKRETARIS BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
SEKRETARIS BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
SEKRETARIS BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
SEKRETARIS BIDANG (Advokasi)
SEKRETARIS BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
SEKRETARIS BIDANG (Ipmawati)

BENDAHARA Umum
Bendahara I
Bendahara II

125
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

ANGGOTA Bidang
Anggota Bidang (Organisasi)
Anggota Bidang (Perkaderan)
Anggota Bidang (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
Anggota Bidang (Kajian dan Dakwah Islam)
Anggota Bidang (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
Anggota Bidang (Advokasi)
Anggota Bidang (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
Anggota Bidang (Ipmawati)

STRUKTUR
PIMPINAN CABANG IPM
KETUA Umum
KETUA BIDANG (Perkaderan)
KETUA BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
KETUA BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
KETUA BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
KETUA BIDANG (Advokasi)
KETUA BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
KETUA BIDANG (Ipmawati)

SEKRETARIS Umum
SEKRETARIS BIDANG (Perkaderan)
SEKRETARIS BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
SEKRETARIS BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
SEKRETARIS BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
SEKRETARIS BIDANG (Advokasi)
SEKRETARIS BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
SEKRETARIS BIDANG (Ipmawati)

BENDAHARA Umum
Bendahara I
Bendahara II

ANGGOTA Bidang
Anggota Bidang (Perkaderan)
Anggota Bidang (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)

126
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Anggota Bidang (Kajian dan Dakwah Islam)


Anggota Bidang (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
Anggota Bidang (Advokasi dan Kebijakan Publik)
Anggota Bidang (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
Anggota Bidang (Ipmawati)

STRUKTUR
PIMPINAN RANTING IPM

KETUA Umum
KETUA BIDANG (Perkaderan)
KETUA BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
KETUA BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
KETUA BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
KETUA BIDANG (Advokasi)
KETUA BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
KETUA BIDANG (Ipmawati)

SEKRETARIS Umum
SEKRETARIS BIDANG (Perkaderan)
SEKRETARIS BIDANG (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
SEKRETARIS BIDANG (Kajian dan Dakwah Islam)
SEKRETARIS BIDANG (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
SEKRETARIS BIDANG (Advokasi)
SEKRETARIS BIDANG (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)
SEKRETARIS BIDANG (Ipmawati)

BENDAHARA Umum
Bendahara I
Bendahara II

ANGGOTA Bidang
Anggota Bidang (Perkaderan)
Anggota Bidang (Pengkajian Ilmu Pengetahuan)
Anggota Bidang (Kajian dan Dakwah Islam)
Anggota Bidang (Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga)
Anggota Bidang (Advokasi dan Kebijakan Publik)

127
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Anggota Bidang (Pengembangan Kreatifitas dan Kewirausahaan)


Anggota Bidang (Ipmawati)

KETERANGAN:
1. Struktur IPM bersifat desentralisasi. Artinya, setelah posisi Ketua
Umum dan Sekretaris Umum tidak ada Wakil Ketua dan Wakil
Sekretaris, tetapi langsung Ketua dan sekretaris bidang yang bekerja
sesuai dengan tugas bidangnya masing-masing.
2. Jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen) khusus untuk Pimpinan Pusat
IPM.
3. Untuk Bidang Organisasi hanya ada pada struktur PP, PW, dan PD
IPM. Sedangkan di tingkat PR dan PC IPM tidak ada.
4. Sesuai dengan ART IPM, BIDANG WAJIB yang ada di struktur
Ranting adalah Bidang Perkaderan, KDI, dan PIP.

128
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Data Personel PP IPM 2016-2018


Nama Jabatan Domisili No. HP Alamat Email
Velandani Prakoso Jogja/ 085747000596 andanprakoso85@gmail.com
Ketua Umum
Jakarta
Amiruddin Awalin Ketua Organisasi Jakarta 08227499889 awalin.amiruddin@gmail.com
Rafika Rahmawati Ketua Perkaderan Jogja 085425281436 rafikarahmawati@gmail.com
Ansar HS Ketua Kajian dan 082152306799 ansorhs99@gmail.com
Jakarta
Dakwah Islam
Maharina Novia Ketua Pengkajian 082232871090 maharinanovi@gmail.com
Jogja
Zahro Ilmu Pengetahuan
Syahrian Ketua Seni Budaya 082114385136 syahrianipm@gmail.com
Jakarta
dan Olahraga
Muhammad Irsyad Jakarta 082385956154 ajoicad22@gmail.com
Ketua Advokasi
Azhar Nasih Ulwan Ketua Pengembangan 085762670135 azharnasihy@gmail.com
Kreativitas dan Jogja
Kewirausahaan
Muhammad Abid 081255085399 muhammadabidmujaddid09123
Ketua Ipmawati Jakarta
Mujaddid @gmail.com
Hafizh 085624228155/ hafizh_orang@muslim.com
Sekretaris Jenderal Jakarta
Syafaaturrahman 081224905743
Adam Syarief 087852343022 adamsyariefthamrin
Sekretaris Organisasi Jogja
Thamrin @gmail.com
Abdullah As Syi 081235403991 abdullahcakwo29@gmail.com
Sekretaris Perkaderan Jakarta
Abul Huda
Muh. Salman Sekretaris Kajian dan 087879439514 elfaris3037@gmail.com
Jogja
Alfarisi Dakwah Islam
Imam Akbari Sekretaris Pengkajian 085810339000 imamakbari@gmail.com
Jakarta
Ilmu Pengetahuan
Innasya Yudita S. Sekretaris Apresiasi 085223338797 innasyayudita@gmail.com
Seni Budaya dan Jakarta
Olahraga
Teo Rendra Arifin Sekretaris Advokasi Jakarta 082279424040 teorendra1@gmail.com
M. Fadhil Abdillah Sekretaris 085362725242 fadhil.muhammad.ad
Pengembangan @gmail.com
Jakarta
Kreativitas dan
Kewirausahaan
Siska Dewi 085374336780/ siskadewi.ipm@gmail.com
Sekretaris Ipmawati Jakarta
083193898756
Nurcholis Ali 087871448839 nurcholisali1@gmail.com
Bendahara Umum Jakarta
Sya‟bana /081295225725
Tarra Prayoga Bendahara I Jakarta 08998906446 taragie08@gmail.com
Amalia Nur Latifah Bendahara II Jogja 085729376823 aenlatifa@yahoo.com
Rangga Yudha Anggota Organisasi Jakarta 085766887194 ranggay2@gmail.com
Uswatun Hasanah Anggota Organisasi Jogja 085241165420 uhasanah1709@gmail.com
Ghassan Nikko 085743161911 ghassannikkohasbi
Anggota Perkaderan Jogja
Hasbi @yahoo.co.id
Zaka Mubarok Anggota Perkaderan Jakarta 087882007887 zakamubarok@hotmail.com
Muhammad Arif Anggota Kajian dan 08562812813 arifhusein300@gmail.com
Jogja
Husein Dakwah Islam
Khairul Sakti Lubis Anggota Kajian dan 085360024431 sakti.khairul@gmail.com
Jakarta
Dakwah Islam

129
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Khairul Arifin Anggota Pengkajian 081578224533 khairul.arifin16@gmail.com


Jogja
Ilmu Pengetahuan
Galih Qoobid Mulqi Anggota Pengkajian 085735445596 galih.qm@gmail.com
Jogja
Ilmu Pengetahuan
Fathya Fikri Anggota Apresiasi 081219020395 fathyafikri@gmail.com
Izzuddin Seni Budaya dan Jogja fathyafikri@radiomu.web.id
Olahraga
Achmad Rezza Anggota Apresiasi 085738286648 edja.adja.ya@gmail.com
Seni Budaya dan Jakarta
Olahraga
Muhammad Ihsan 085323366693 mihsanas13@gmail.com
Anggota Advokasi Jakarta
Abdusani
Taufik Hidayat Anggota Advokasi Jakarta 082324000042 taufiik.hid12@gmail.com
Ibnu Setyawan Anggota 085743513511 ibnusetyawan86@gmail.com
Pengembangan
Jogja
Kreativitas dan
Kewirausahaan
Sadida Inani Anggota Ipmawati Jogja 085755598557 inanisadida@gmail.com
Annisa Nur Fitriana Anggota Ipmawati Jogja 085793763067 sayaannisanf@gmail.com

130
Tanfidz Muktamar XX Ikatan Pelajar Muhammadiyah

131