Anda di halaman 1dari 42

TUGAS MATA KULIAH

MANAJEMEN LOGISTIK OBAT, ALAT, DAN FASILITAS KESEHATAN


PENGHAPUSAN DAN PEMUSNAHAN LOGISTIK

Dosen:
Tito Yustiawan, drg., M.Kes

Oleh Kelompok 8:
Kurnia RizqiWardani 101411131063
Septi Ismadayu 101411131123
Widya Nur Azizah 101411131168
Dwi Ratna Paramitha 101411131169

DEPARTEMEN ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ......................................................................................................... 1


BAB I PENGHAPUSAN LOGISTIK .................................................................. 2
1.1 Definisi Penghapusan ................................................................................ 2
1.2 Tujuan dan Fungsi Penghapusan ............................................................... 3
1.3 Prinsip Penghapusan ................................................................................. 4
BAB II PEMUSNAHAN LOGISTIK ................................................................... 6
2.1 Definisi Pemusnahan Logistik .................................................................. 6
2.2 Tujuan Pemusnahan Logistik .................................................................... 7
2.3 Prinsip Pemusnahan Logistik .................................................................... 7
BAB III METODE PENGHAPUSAN DAN PEMUSNAHAN LOGISTIK ........ 8
3.1 Tahapan Penghapusan dan Pemusnahan ................................................... 8
3.2 Metode Penghapusan ................................................................................ 24
3.3 Metode Pemusnahan ................................................................................. 26
BAB IV SIMULASI EXCEL ............................................................................... 27
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 39
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 40

1
BAB I

PENGHAPUSAN LOGISTIK

1.1 DEFINISI PENGHAPUSAN

Penghapusan merupakan proses menghilangkan aset dari layanan dan

memastikan barang tersebut diperlakukan dengan tepat, baik didaur ulang,

dikubur, atau perlakukan lainnya (Davis, 2012).

Sedangkan menurut sumber lainnya, penghapusan adalah tindakan

menghapus Barang Milik Negara (logistik dan peralatan) dari daftar barang

dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk

membebaskan pengguna barang (logistik dan peralatan) dari tanggung jawab

administrasi dan fisik logistik dan peralatan yang berada dalam

penguasaannya (BNPB, 2011).

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96 Tahun 2007,

penghapusan diartikan sebagai tindakan menghapus Barang Milik Negara

dari daftar barang dengan menerbitkan keputusan dari pejabat yang

berwenang untuk membebaskan Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna

Barang dan/atau Pengelola Barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik

barang yang berada dalam penguasaannya.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun

2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, penghapusan juga

dapat diartikan sebagai tindakan menghapus Barang Milik Negara/Daerah

dari daftar barang dengan menerbitkan keputusan dari pejabat yang

berwenang untuk membebaskan Pengelola Barang, Pengguna Barang,

2
dan/atau Kuasa Pengguna Barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik

atas barang yang berada dalam penguasaannya.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 83 tahun 2016,

penghapusan adalah tindakan menghapus BMN dari daftar barang dengan

menerbitkan keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan

Pengelola Barang, Pengguna Barang, dan/ atau Kuasa Pengguna Barang dari

tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam

penguasaannya.

Penghapusan dapat berupa kegiatan untuk menjual, menghibahkan, atau

bentuk lain dalam memindahkan hak kepemilikan atau memusnahkan

seluruh/sebuah unit atau unsur terkecil dari aset yang dimiliki. Penghapusan

barang milik negara/daerah meliputi penghapusan dari daftar barang

pengguna dan/atau kuasa pengguna dan penghapusan dari daftar barang milik

negara / daerah. Penghapusan biasa dilakukan ketika umur ekonomis suatu

aset telah habis atau ketika kebutuhan atas pelayanan yang disediakan aset

tersebut telah hilang.

Berdasarkan pengertian penghapusan diatas, dapat disimpulkan bahwa

penghapusan merupakan tindakan menghapus aset dari daftar aset yang

dimiliki untuk membebaskan dari tanggung jawab pengelolaan, baik karena

sudah habis umur ekonomisnya atau karena hal lain, yang dapat dilakukan

dengan berbagai cara seperti pemindahan, daur ulang, ataupun pemusnahan.

1.2 FUNGSI DAN TUJUAN PENGHAPUSAN

Fungsi penghapusan adalah kegiatan dan usaha pembebasan barang dari

pertanggung jawaban yang berlaku. Dengan kata lain fungsi penghapusan

3
adalah untuk menghapus kekayaan (east) karena kerusakan yang tidak dapat

perbaiki lagi,dinyatakan sudah tuadari segi ekonomis maupun teknis, hilang,

susut, dan karena hal-hal lain menurut peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

Kegiatan penghapusan barang tentu memiliki tujuan dibalik proses

pelaksanaannya. Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan

Bencana Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi

Manajemen Logistik Penanggulangan Bencana, tujuan penghapusan adalah:

a. Memastikan barang yang rusak, tidak layak pakai, dan

kadaluarsa dihapuskan sesuai dengan peraturan yang mengatur

tentang penghapusan barang.

b. Memastikan barang yang hilang dihapuskan sesuai dengan

peraturan yang mengatur tentang penghapusan barang.

Selain itu adanya penghapusan akan mengurangi beban penyimpanan

maupun mengurangi risiko terjadi penggunaan obat yang sub standar.

1.3 PRINSIP PENGHAPUSAN

Penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap obat/alat

kesehatan yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi

standar. Penghapusan dilakukan dengan cara membuat usulan penghapusan

obat/alat kesehatan kepada pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Dalam penjelasan PP nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan

BMN/D dijelaskan penghapusan BMN/D merupakan kegiatan akhir dari

pelaksanaan pengelolaan BMN/D, sebagai upaya untuk membersihkan

pembukuan dan laporan BMN/D dari catatan atas BMN/D yang sudah tidak

4
berada dalam penguasaan pengelola barang/pengguna barang/kuasa pengguna

barang dengan selalu memperhatikan asas-asas dalam pengelolaan BMN/D.

Menurut PP nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan BMN/D

terdapat pada Bab XI Penghapusan, penghapusan meliputi penghapusan dari

daftar barang pengguna dan/atau daftar barang kuasa pengguna dan

penghapusan dari daftar barang milik negara/daerah. Penghapusan dari daftar

barang pengguna dan/atau daftar barang kuasa pengguna sebagaimana

dimaksud adalah dalam hal BMN/D sudah tidak berada dalam penguasaan

pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang. Sedangkan penghapusan

dari daftar barang milik negara/daerah dilakukan dalam hal BMN/D sudah

beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab lain.

Penghapusan untuk Barang milik negara (BMN) dilaksanakan oleh

pengguna barang setelah mendapat persetujuan pengelola barang, sedangkan

pemusnahan untuk Barang milik daerah (BMD) dilaksanakan oleh pengguna

barang setelah mendapat persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota setempat.

Pemusnahan ini dilakukan dengan cara dibakar, dihancurkan, ditimbun,

ditenggelamkan atau cara lain sesuai ketentuan perundang-undangan.

Hal ini menjadi penting, mengingat sepanjang BMN tersebut masih

dalam penguasan PB/KPB ataupun pengelola barang, maka para pihak

tersebut masih bertanggungjawab untuk melakukan administrasi dan

pengamanan, baik secara hukum maupun secara fisik barang, sekalipun BMN

tersebut sudah tidak dapat digunakan karena rusak, tidak sesuai teknologi,

hilang dan lain-lain.

5
BAB II

PEMUSNAHAN LOGISTIK

2.1 DEFINISI PEMUSNAHAN

Pemusnahan sering dikaitkan dengan penghapusan, namun

sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Pemusnahan dalam Peraturan

Menteri Kesehatan Nomor 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Rumah Sakit, merupakan bagian dari pengelolaan logistik

yang dilakukan pada sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis

habis pakai dengan kondisi produk yang tidak memenuhi persyaratan

mutu, telah kadaluwarsa, tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan

dalam pelayanan kesehatan, atau kepentingan ilmu pengetahuan dan

dicabut izin edarnya. Apabila dipelajari lebih lanjut dari pernyataan

mengenai pengertian penghapusan dan pemusnahan, dapat dambil

kesimpulan bahwa pemusnahan merupakan salah satu bagian dan teknik

dari penghapusan.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 tahun 2014,

pemusnahan pada sediaan farmasi, alat kesehatan, dan barang medis habis

pakai dapat dilakukan apabila produk tidak memenuhi persyaratan mutu,

telah kadaluwarsa, tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam

pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan, atau dicabut izin

edarnya.

2.2 TUJUAN PEMUSNAHAN

Pemusnahan logistik dalam pelayanan kesehatan maupun suatu

organisasi merupakan hal yang wajar. Berikut adalah tujuan dari

6
pemusnahan logistik di suatu organisasi ataupun di suatu pelayanan

kesehatan:

a. Mencegah kerugian pemborosan biaya untuk keperluan

pemeliharaan atau perbaikan

b. Meringankan ebban kerja dan tanggung jawab pelaksanaan

inventaris

c. Membebaskan ruangan dari penumpukan barang

Membebaskan barang dan tanggung jawab pengurusan kerja

2.3 PRINSIP PEMUSNAHAN

Prinsip pemusnahan obat yang rusak/kadaluarsa adalah sebagai

berikut:

a. Adanya tim pemusnahan ibat dan perbekalan kesehatan yang jelas

b. Adanya prosedur pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan

c. Dapat dilaksanakan

d. Menghilangkan atau mengurangi resiko yang berdampak terhadap

kesehatan dan lingkungan

e. Pelatihan sumber daya manusia

Tim pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan dibagi menjadi tim

di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Untuk tingkat provinsi tim diketuai

oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan diwakili oleh Kepala Subdin

Farmasi, sedangkan tingkat Kabupaten/Kota diketuai oleh Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota diwakili oleh Kepala Subdin/Bidang Farmasi.

7
BAB III

METODE PENGHAPUSAN DAN PEMUSNAHAN LOGISTIK

3.1 Tahapan Penghapusan dan Pemusnahan Logistik


penghapusan
Syarat penghapusan:
a) Persyaratan teknis yaitu secara fisik barang tidak dapat digunakan dan tidak ekonomis
apabila diperbaiki, secara teknis barang tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi, telah
melampaui batas waktu kegunaannya/kadaluarsa, mengalami perubahan dalam spesifikasi
karena penggunaan, berkurangnya barang dalam timbangan/ukuran atau penyusutan
disebabkan penggunaan/susut dalam penyimpanan/pengangkutan.
b) Persyaratan ekonomis, yaitu lebih menguntungkan bagi negara apabila barang dihapus,
karena biaya operasional dan pemeliharaan barang lebih besar daripada manfaat yang
diperoleh.
c) Barang hilang, atau dalam kondisi kekurangan perbendaharaan atau kerugian karena
kematian hewan atau tanaman.

hibah retur Penjualan/ pemin


Pemanfaatan pemusnahan lelang dahan Pemanfaatan
kembali langsung

Syarat pemusnahan:
1. Diproduksi tanpa memenuhi standard dan persyaratan yang berlaku, atau tidak dapat diolah kembali
2. Telah kadaluarsa
3. Tidak memenuhi syarat untukdigunakan pada dan perkembangan iptek, termasuk sisa penggunaan
4. Dibatalkan izin edarnya
5. Berhubungan dengan tindak pidana
Pelaksanaan pemusnahan tidak boleh:
1. Mencemari lingkungan
2. Membahayakan kesehatan masyarakat

Jika memenuhi, maka dapat dilakukan pemusnahan oleh


:
SENDIRI PIHAK LAIN
Apabila; Apabila:
1. Diproduksi tanpa memenuhi standard dan 1. Pemusnahan obat dan sediaan farmasi poin 1-4 yang
persyaratan yang berlaku, atau tidak dapat diolah ada di puskesmas harus dikembalikan kepada
kembali instalasifarmasi pemerintah daerah dengan
2. Telah kadaluarsa berlandaskan peraturan perundangan mengenai
3. Tidak memenuhi syarat untukdigunakan pada dan pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah
perkembangan iptek, termasuk sisa penggunaan 2. Pemusnahan narkotika, psikotropika dan prekursor
4. Dibatalkan izin edarnya farmasi poin 5 dilaksanakan oleh instansi
Maka pemusnahan dilaksanakan oleh fasilitas pemerintah yang berwenang sesuai dengan
kesehatan atau instansi tersebut yang memiliki ketentuan peraturan perundangan
kewenangan dan kemampuan untuk melakukan
pemusnahan .

8
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan selanjutnya,

pemusnahan merupakan salah satu cara penghapusan. Bagan diatas

merupakan tahapan dari pelaksanaan penghapusan dengan cara pemusnahan.

Pada makalah ini penulis lebih berkonsentrasi pada pembahasan

penghapusan dengan cara pemusnahan.

Logistik yang telah memenuhi persyaratan penghapusan, yaitu

memenuhi peryaratan teknis dan persyaratan ekonomis maka akan dihapus,

dengan kata lain sudah tidak lagi menjadi beban tanggung jawab

pengelolaan. Berikut adalah persyaratan penghapusan logistik:

1) Persyaratan teknis

a) secara fisik barang tidak dapat digunakan karena rusak, dan

tidak ekonomis apabila diperbaiki

b) secara teknis barang tidak dapat digunakan lagi akibat

modernisasi

c) telah melampaui batas waktu kegunaannya/kadaluarsa

d) mengalami perubahan dalam spesifikasi karena penggunaan,

seperti terkikis, aus, dan lain-lain

e) berkurangnya barang dalam timbangan/ukuran atau

penyusutan disebabkan penggunaan/susut dalam

penyimpanan/pengangkutan.

2) Persyaratan ekonomis, yaitu lebih menguntungkan bagi negara

apabila barang dihapus, karena biaya operasional dan pemeliharaan

barang lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.

9
3) Barang hilang, atau dalam kondisi kekurangan perbendaharaan atau

kerugian karena kematian hewan atau tanaman.

Penghapusan logistik di Rumah sakit dilaksanakan sesuai dengan

kebijakan Rumah Sakit. Beberapa metode penghapusan logistik yang dapat

digunakan oleh Rumah sakit adalah Pemnfaatan langsung, pemanfaatan kembali,

pemindahan, hibah, ditukar dengan logistik lain yang dibutuhkan oleh organisasi,

penjualan atau pelelangan, dan pemusnahan.

Pelaksanaan penghapusan memiliki beberapa prosedur tetap yakni sebagai

berikut:

a. Memilah, memisahkan dan menyusun daftar obat dan perbekalan

kesehatan yang akan dihapuskan.

Petugas yang menjadi penanggungjawab harian

obat/perbekalan kesehatan mencatat semua obat/perbekalan kesehatan

yang akan dihapuskan. Barang-barang tersebur dapat dikumpulkan

pada ruangan tertentu untuk memudahkan proses berikutnya.

b. Menentukan metode penghapusan

Langkah ini dibuat untuk membuat beberapa metode

penghapusan perbekalan yang hendak ditempuh hingga menemukan

satu cara penghapusan yang menguntungkan, baik dengan

pertimbangan finansial maupun non finansial. Metode Metode yang

digunakan sesuai dengan kebijakan Rumah Sakit dan sesuai dengan

kondisi barang. Metode penghapusan dapat berupa pemanfaatan

langsung, pemanfaatan kembali, pemindahtanganan, penjualan atau

10
pelelangan, ditukar dengan logistik lain yang dibutuhkan oleh

organisasi, hibah dan pemusnahan.

c. Menyiapkan pelaksanaan penghapusan

Kepala Rumah Sakit sebagai penanggung jawab umum

perbekalan kesehatan menghubungi Dinas kesehatan Kab/Kota

setempat tentang adanya obat/perbekalan kesehatan yang rusak dan

mengusulkan penghapusan. Usul penghapusan, sebaiknya disusun dan

dilengkapi dengan keterangan sebagai berikut :

a. Identitas dan ciri-ciri barang

b. Lokasi/tempat beradanya barang

c. Harga perolehanbarang bersangkutan

d. Sebab/alasan penghapusan

e. Jumlah dan status barang

d. Menetapkan lokasi penghapusan

e. Pelaksanaan penghapusan

Implementasi penghapusan perbekalan kesehatan ini sesuai

dengan cara penghapusan perbekalan kesehatan yang telah ditentukan

bersama. Agar proses berjalan dengan baik dan lancar maka sebaiknya

Dinas Kesehatan Kab/Kota melakukan program penghapusan setahun

sekali.

f. Membuat berita acara penghapusan dengan tembusan kepada

Gubernur/Bupati/Walikota sebagai laporan.

Bupati/kepala daerah membentuk panitian penghapusan barang

milik/kekayaaan milik Negara untuk menindak lanjuti semua

11
permohonan penghapusan barang dari seluruh instansi/lembaga

daerah. Sedangkan panitia lain dapat tetap melakukan pemeriksaan

perbekalan kesehatan yang lainnya yang akan dihapus, sehingga

panitia penghapusan dapat melakukan rekomendasi yang menyetujui

atau menolak. Bila panitia penghapusan menyetujui maka panitia akan

mengusulkan pengesahan penghapusan kepada DPRD setempat.

Setelah mendapatkan persetujuan melalui siding DPRD maka barang

yang diusulkan untuk dihapuskan akan dicoret dari data kepemilikan

Rumah Sakit/instansi kesehatan lainnya.

Gambar 1. Berita Acara Penghapus

g. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan

penghapusan logistik

Ketika suatu logistik dihapuskan memenuhi peryaratan pemusnahan,

yaitu diproduksi tanpa memenuhi standard dan persyaratan yang berlaku,

12
atau tidak dapat diolah kembali, telah kadaluarsa, tidak memenuhi syarat

untukdigunakan pada dan perkembangan iptek, termasuk sisa penggunaan,

dibatalkan izin edarnya, atau berhubungan dengan tindak pidana. Maka,

akan dilakukan tindakan pemusnahan.

Proses pemusnahan tidak boleh mencemari lingkungan dan berbahaya

terhadap kesehatan masyarakat. Proses pemusnahan dapat dilakukan oleh

fasilitas kesehatan itu sendiri, ataupun oleh pihak lain. Pemusnahan

dilaksanakan sendiri apabila diproduksi tanpa memenuhi standard dan

persyaratan yang berlaku, atau tidak dapat diolah kembali, telah kadaluarsa,

tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada dan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, termasuk sisa penggunaan, atau dibatalkan izin

edarnya. Pemusnahan dilaksanakan oleh fasilitas kesehatan atau instansi itu

sendiri, yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk melakukan

pemusnahan. Pemusnahan dilakukan oleh pihak lain apabila:

a. Logistik obat dan sediaan farmasi yang diproduksi tanpa memenuhi

standard dan persyaratan yang berlaku, atau tidak dapat diolah kembali,

telah kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk digunakan, termasuk

sisa penggunaan, atau dibatalkan izin edarnya dan harus dikembalikan

kepada instalasi farmasi pemerintah daerah dengan berlandaskan

peraturan perundangan mengenai pengelolaan Barang Milik Negara/

Daerah.

b. Pemusnahan obat dan sediaan farmasi yang berhubungan dengan tindak

pidana dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang berwenang sesuai

dengan ketentuan peraturan perundangan.

13
Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan

bentuk sediaan sesuai dengan peraturan yang ada. Pemusnahan Obat

kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika atau psikotropika

dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota. Berikut ini prosedur pemusnahan obat:

a. Sediaan padat dan setengah padat seperti tablet, kapsul, salep, krim

dikeluarkan dari wadah/pembungkusnya kemudian dimasukkan dalam

insinerator, dibakar hingga menjadi abu, abunya dikumpulkan dan

dibuang ketempat pembuangan sampah.

b. Sediaan cair seperti sirup dan cair infus dikeluarkan dari wadahnya,

dicampur dengan sejumlah air dan dibuang ke septictank khusus yang

sudah tersedia.

c. Sediaan cair berupa injeksi, dipecahkan bersama wadahnya, cairannya

dialirkan kedalam septictank, dan pecahan wadahnya dikumpulkan dan

dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir.

Tahapan pemusnahan obat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58

Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, adalah

sebagai berikut:

a. membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis

Habis Pakai yang akan dimusnahkan

b. menyiapkan Berita Acara Pemusnahan

c. mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak

terkait

d. menyiapkan tempat pemusnahan

14
e. melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan

serta peraturan yang berlaku.

Dalam proses pemusnahan obat harus tersedia daftar inventaris bahan

obat dan obat-obat tertentu yang akan dimusnahkan, dimana sekurang-

kurangnya mencakup nama, bentuk dan kekuatan sediaan, kuantitas obat,

nomor bets, dan tanggal daluwarsa.

Kebenaran bahan obat dan obat-obat tertentu yang akan dimusnahkan

harus dibuktikan dengan dokumen pendukung yang disetujui oleh Kepala

Bagian Pemastian Mutu bahwa bahan obat dan obat-obat tertentu sudah tidak

memenuhi syarat untuk digunakan dan/atau diedarkan.

Pelaksanaan pemusnahan harus dibuat dengan memperhatikan

pencegahan diversi dan pencemaran lingkungan. Kegiatan pemusnahan ini

dilakukan oleh Apoteker Penanggung Jawab Produksi dan disaksikan oleh

petugas Balai Besar/Balai POM atau Dinas Kesehatan setempat.

Kegiatan pemusnahan harus didokumentasikan dalam Berita Acara.

Pemusnahan yang ditandatangani oleh pelaku dan saksi. Pelaku pemusnahan

merupakan apoteker dan teknisi, dimana apoteker merupakan petugas yang

memiliki kewajiban dan wewenang terhadap penerimaan hingga penghapusan

dan pemusnahan obat. Sedangkan saksi berasal dari Kementerian Kesehatan,

Badan Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan Provinsi, Balai

Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, dan Dinas Kesehatan

Kabupaten / Kota sesuai dengan permohonan sebagai saksi, yang telah

diajukan oleh penanggung jawab fasilitas produksi / fasilitas distribusi /

15
fasilitas pelayanan kefarmasian / pimpinan lembaga / dokter praktik

perorangan. Berita Acara Pemusnahan sekurang-kurangnya memuat:

a. hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan

b. tempat pemusnahan

c. nama lengkap penanggung jawab produksi

d. nama lengkap petugas Balai Besar/Balai POM atau Dinas Kesehatan

setempat yang menjadi saksi dan saksi lain dari pihak ketiga bila

pemusnahan dilakukan oleh pihak ketiga

e. nama, bentuk dan kekuatan sediaan, kuantitas, nomor bets, dan tanggal

daluwarsa obat-obat tertentu yang dimusnahkan. Khusus untuk obat-obat

tertentu yang ditarik dari peredaran harus dilakukan pemusnahan

mengacu kepada ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pemusnahan yang dilakukan terhadap obat/bahan obat-obat tertentu di

pedagang besar farmasi dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pemusnahan obat/bahan obat-obat tertentu dilakukan oleh Apoteker

penanggung jawab PBF dan disaksikan oleh petugas Balai Besar/Balai

POM atau Dinas Kesehatan setempat, serta dibuat berita acara

pemusnahan yang ditandatangani oleh penanggung jawab PBF dan saksi.

b. Harus tersedia daftar inventaris bahan obat dan obat-obat tertentu yang

akan dimusnahkan sekurang-kurangnya mencakup nama, bentuk dan

kekuatan sediaan, kuantitas obat, nomor bets, dan tanggal daluwarsa.

c. Pelaksanaan pemusnahan harus dibuat dengan memperhatikan

pencegahan diversi dan pencemaran lingkungan.

16
d. Berita Acara Pemusnahan yang menggunakan pihak ketiga harus

ditandatangani juga oleh pihak ketiga

Sedangkan pemusnahan obat-obat tertentu yang dilakukan di apotek,

instalasi farmasi rumah sakit, serta instalasi farmasi klinik memiliki ketentuan

sebagai berikut:

a. Pemusnahan dilaksanakan terhadap obat-obat tertentu yang rusak dan

kedaluwarsa.

b. Obat-obat tertentu yang akan dimusnahkan harus dicatat dalam daftar

inventaris yang mencakup nama obat, produsen, bentuk dan kekuatan

sediaan, isi dan jenis kemasan, jumlah, nomor bets, dan tanggal

daluwarsa.

c. Pelaksanaan pemusnahan harus memerhatikan pencegahan diversi dan

pencemaran lingkungan. Kegiatan pemusnahan ini dilakukan oleh

penanggung jawab sarana dan disaksikan oleh petugas Balai Besar/Balai

POM atau Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

d. Penanggungjawab sarana yang melaksanakan pemusnahan obat-obat

tertentu harus membuat Berita Acara Pemusnahan.

e. Berita Acara Pemusnahan harus ditandatangani oleh Apoteker

Penanggung Jawab/Kepala Instalasi Farmasi dan saksi

f. Berita Acara Pemusnahan yang menggunakan pihak ketiga harus

ditandatangani juga oleh pihak ketiga.

g. Pemusnahan terhadap Obat-Obat Tertentu di sarana Instalasi Farmasi

Rumah Sakit milik pemerintah mengacu kepada Peraturan Perundang-

17
undangan. Format surat laporan, berita acara, serta lampiran berita acara

pemusnahan telah diatur dalam peraturan perundangan tersebut.

Kepada Yth.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan

Nomor : Kota, Tanggal


Lampiran :
Perihal : Laporan Pemusnahan Obat-Obat Tertentu
Cq. Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat

Dengan Hormat
Bersama ini kami melaporkan bahwa kami telah melakukan pemusnahan Obat-Obat
Tertentu sesuai dengan berita acara terlampir.
Demikian laporan ini kami buat, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami
Apoteker Penanggung Jawab Produksi/PBF

Nama Lengkap
No SIKA
Tembusan :
1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi/Kab/Kota………..(setempat)
2. Kepala Balai Besar/Balai POM di…………..(setempat)

Gambar 2. Surat Pengantar Laporan Pemusnahan

18
BERITA ACARA PEMUSNAHAN OBAT-OBAT TERTENTU
Nomor :..........

Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun... sesuai dengan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 7
Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Obat-obat Tertentu yang Sering Disalahgunakan,
kami yang bertandatangan di bawah ini:
Nama Apoteker Penanggung Jawab : ........
SIPA/SIKA : ........
Nama Sarana : ........
Alamat Sarana : ........
Dengan disaksikan oleh :
1. Nama : ........
Jabatan : ........
NIP : ........
2. Nama : ........
Jabatan : ........
3. Nama : .....
Jabatan : ........
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa pada pukul....., bertempat di........., kami telah
memusnahkan sejumlah Obat-Obat Tertentu sebagaimana tersebut dalam lampiran.
Pemusnahan ini kami lakukan dengan cara.............
Berita acara ini dibuat rangkap 3 (tiga), dan dikirimkan kepada:
1. Badan POM RI
2. Dinas Kesehatan Provinsi...........
3. Pertinggal
Demikian Berita Acara ini kami buat dengan sesungguhnya agar dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Saksi-saksi:
1. Petugas Balai Besar/Balai POM atau Dinas Kesehatan setempat
Tanda tangan

(.....................)
2. Saksi lain
Tanda tangan

(.....................)
3. Saksi lain
Tanda tangan

(.....................)
Mengetahui: Nama Kota, Tgl, Bln, Tahun
Pimpinan, Apoteker Penanggung Jawab

Tanda tangan & Stempel Tanda tangan


(Nama Apoteker Penanggung
Jawab/Apoteker Penanggung Jawab
Produksi)
SIK/SIPA/NIP

Gambar 3. Berita Acara Pemusnahan

19
Lampiran Berita Acara Pemusnahan Obat-Obat Tertentu:
Nomor :.................

Daftar Obat-Obat Tertentu yang dimusnahkan:


No. Urut Nama Obat Satuan Jumlah Keterangan
(Rusak/Expired)

Mengetahui: Nama Kota, Tgl, Bln, Tahun


Pimpinan, Apoteker Penanggung Jawab

Tanda tangan & Stempel Tanda tangan

(Nama Apoteker Penanggung


Jawab/Apoteker Penanggung Jawab
Produksi)
SIK/SIPA
Saksi-saksi:
1. Petugas Balai Besar/Balai POM atau Dinas Kesehatan Setempat
Tanda tangan

(.....................)
2. Saksi lain
Tanda tangan

(.....................)
3. Saksi lain
Tanda tangan

(.....................)

Gambar 4. Lampiran Berita Acara Pemusnahan

Standar mengenai penghapusan obat dalam Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek adalah sebagai berikut:

a. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan

bentuk sediaan. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang

20
mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan

disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

b. Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh

Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki

surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan

berita acara pemusnahan menggunakan Formulir 1 sebagaimana

terlampir.

c. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat

dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan

oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar

atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara

Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2 sebagaimana terlampir dan

selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

DAFTAR OBAT YANG DIMUSNAHKAN

No. Nama Obat Jumlah Alasan


Pemusnahan

……………………………….20……..
Saksi-saksi yang membuat berita acara
1
……………………………………. ………………………………………
NIP. NO. SIPA.
2
……………………………………..
NIP

Gambar 5. Formulir Daftar Obat yang Dimusnahkan

21
BERITA ACARA PEMUSNAHAN OBAT KADALUWARSA/RUSAK

Pada hari ini ........................ tanggal................ bulan..................... tahun .....................


sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek , kami yang bertanda tangan
di bawah ini :
Nama Apoteker Pengelola Apotek : ……………………………………
Nomor SIPA : ……………………………………
Nama Apotek : ……………………………………
Alamat Apotek : ……………………………………

Dengan disaksikan oleh :


1. Nama : ………………………………………
NIP : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
2. Nama : ………………………………………
NIP : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
Telah melakukan pemusnahan Obat sebagaimana tercantum dalam daftar terlampir.
Tempat dilakukan pemusnahan :................................................................
Demikianlah berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab.
Berita acara ini dibuat rangkap 4 (empat) dan dikirim kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
3. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
4. Arsip di Apotek
……………………………….20……..
Saksi-saksi yang membuat berita acara
1
…………………………………… ………………………………………
NIP. NO. SIPA.
2
……………………………………..
NIP.

Gambar 6. Berita Acara Pemusnahan Obat Kadaluwarsa/Rusak

22
BERITA ACARA PEMUSNAHAN RESEP

Pada hari ini ........................ tanggal................ bulan..................... tahun .....................


sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Nomor 35
Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek , kami yang bertanda
tangan di bawah ini :
Nama Apoteker Pengelola Apotek : ……………………………………
Nomor SIPA : ……………………………………
Nama Apotek : ……………………………………
Alamat Apotek : ……………………………………

Dengan disaksikan oleh :


1. Nama : ………………………………………
NIP : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
2. Nama : ………………………………………
NIP : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
Telah melakukan pemusnahan Resep pada Apotek kami, yang telah melewati batas
waktu penyimpanan selama 5 (lima) tahun, yaitu :
Resep dari tanggal....................sampai dengan tanggal ..............................
Seberat .............................. kg.
Resep Narkotik.................. lembar
Tempat dilakukan pemusnahan : ……………………………………………………

Demikianlah berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab.

Berita acara ini dibuat rangkap 4 (empat) dan dikirim kepada :


1. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
3. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
4. Arsip di Apotek

……………………………….20……..
Saksi-saksi yang membuat berita acara
1
……………………………………… ………………………………………
NIP. NO.SIPA.
2
……………………………………..
NIP

Gambar 7. Berita Acara Pemusnahan Resep

23
Tahapan pemusnahan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72

Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit adalah

sebagai berikut:

1. membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis

Habis Pakai yang akan dimusnahkan

2. menyiapkan Berita Acara Pemusnahan

3. mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak

terkait

4. menyiapkan tempat pemusnahan

melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan

serta peraturan yang berlaku.

3.2 Metode Penghapusan Logistik

Penghapusan logistik di Rumah sakit dapat berupa penghapusan obat dan

persediaan farmasi, alat kesehatan dan aset atau fasilitas. Penghapusan logistik di

Rumah sakit dilaksanakan sesuai dengan kebijakan Rumah Sakit. Berikut ini

merupakan beberapa metode penghapusan logistik.

a. Pemanfaatan langsung

Pemanfaatan langsung merupakan usaha merehabilitasi komponen-

komponen yang masih dapat digunakan kembali dan dimasukkan sebagai

barang persediaan baru.

b. Pemanfaatan kembali

Usaha meningkatkan nilai ekonomis dari barang yang dihapus menjadi

barang lain.

c. Pemindahan

24
Metode ini merupakan mutasi barang yang sudah tidak diperlukan kepada

instansi cabang atau unit kerja yang memerlukan dalam rangka pemanfaatan

langsung. Pemusnahan dengan metode ini terjadi dalam satu organisasi.

d. Hibah

Hibah yaitu pemanfaatan langsung atau peningkatan potensi kepada badan

atau pihak di luar instansi (pemerintah).

e. Ditukar dengan logistik lain yang dibutuhkan oleh organisasi (Retur)

Metode ini dilakukan dengan menukarkan logistik yang dimiliki dengan

logistik yang dibutuhkan oleh organisasi. Logistik yang ditukarkan harus

benar-benar sudah tidak dibutuhkan oleh organisasi. Nilai logistik yang

ditukarkan harus sepadan dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

f. Penjualan/Pelelangan

Metode ini merupakan menjual atau melelang barang yang sudah tidak

dibutuhkan oleh organisasi tapi masih bisa digunakan. Penjualan atau

pelelangan dapat dilakukan ketika nilai aset atau barang persediaan

merugikan organisasi.

g. Pemusnahan

Metode ini dilakukan dengan memusnahkan logistik secara fisik. Metode

ini digunakan ketika metode lainnya tidak dapat diterapkan. Proses

pemusnahan sendiri perlu diperhatikan karena menyangkut keamanan dan

keselamatan lingkungan.

25
3.3 Metode Pemusnahan Logistik

3.3.1 Obat dan Sediaan Farmasi

Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan

jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang

mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan

disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten. Sedangkan

pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh

Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki

surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibujktikan dengan

berita acara pemusnahan menggunakan Formulir 1 (Terlampir).

Selebihnya terkait dengan adanya resep obat, pemusnahan resep juga

dilakukan pada resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5

tahun.

Prinsip pemusnahan obat adalah tidak mencemari lingkungan dan

tidak membahayakan kesehatan. Pelaksanaan pemusnahan harus sesuai

dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Dalam pelaksanaan

pemusnahan obat dan sediaan farmasi diawali dengan melakukan

penilaian terhadap obat apakah obat cukup dihapuskan atau

dimusnahkan.

Kriteria obat yang layak dimusnahkan adalah rusak akibat

perubahan warna/bentuk, kadaluwarsa atau expired, tidak bersegel lagi,

rusak karena terputusnya rantai dingin (contoh : vaksin, insulin,

hormone), label yang tidak jelas atau bahasa yang tidak dimengerti dan

26
kotor. Semua obat harus dibuang dengan cara yang aman dan tepat sesuai

dengan karakteristik obat.

1. Sediaan padat

Tablet dan kapsul dapat dihapus dari kemasan luarnya,

dikeluarkan dari kemasan blister dan ditempatkan dalam kit drugs

denasturasi. Dalam melakukan hal ini seseorang harus

menggunakan sarung tangan. Metode alternatif denaturasi untuk

menghancurkan atau menggiling formulasi dosis padat yaitu

dengan menempatkannya ke dalam sedikit air panas, aduk dengan

sabun, pastikan obat telah dilarutkan atau didispersikan, kemudian

dapat dibuang ke bin pembuangan limbah yang tepat disediakan

oleh kontraktor limbah.

2. Sediaan cair

Obat dengan sediaan cair dapat dituangkan dari wadahnya

dan dimasukkan ke daam wadah denaturasi kit dimana akan

bercampur dengan bahan limbah lainnya, sehingga tidak dapat

digunakan kembali. Metode alternatif lainnya adalah dengan

membuang sejumlah obat cair pada tempat pembuangan yang

berukuran besar sesuai dengan banyaknya obat. Namun hal ini

perlu mempertimbangkan peraturan kesehatan dan keselamatan

agar dapat menjaga lingkungan dari bahaya dan polusi.

3. Formula parenteral

Ampul cair harus dibuka dan isinya dikosongkan ke dalam

denaturasi kit atau dibuang dengan cara yang sama seperti

27
membuang obat sediaan cair. Ampul harus dibuang di tempat

sampah benda tajam dan harus diberi label “mengandung lombah

farmasi dicampur dengan benda tajam – untuk insinerasi”. Begitu

pun dengan ampul berisi sediaan obat bubuk. Seseorang yang

membuka ampul harus memakai sarung tangan sebagai tindak

pencegahan untuk meminimalkan risiko cedera dari benda tajam.

ALternatif lain namun kurang disukai adalah ampul dimasukkan

dan dihancurkan di wadah plastik kosong. Setelah rusak berikan

sedikit air sabun panas (untuk ampul bubuk) atau tempatkan pada

tempat pembuangan khusus (untuk ampul cair). Namun pelru

diperhatikan bahwa kaca tidak merugikan orang yang

menghancurkan obat.

4. Formula aerosol

Formulasi aerosol harus dikeluarkan ke dalam air (untuk

mencegah tetesan obat memasuki udara). Sebagai tindakan

pencegahan maka dianjurkan untuk menggunakan masker bagi staf

yang melaksanakan kegiatan pemusnahan dan pastikan bahwa

tempat pemusnahan memiliki ventilasi yang baik. Cairan yang

dihasilkan dapat dibuang sesuai dengan pedoman pada pemusnahan

formulasi cair.

5. Narkotika dan Psikotropika

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Peredaran, Penyimpanan,

Pemusnahan dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor

28
Farmasi dijelaskan bahwa Narkotika dan Psikotropika dilakukan

pemusnahan apabila memenuhi persyaratan :

a. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang

berlaku dan/atau tidak dapat diolah kembali

b. Telah kadaluarsa

c. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan

kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan,

termasuk sisa penggunaan

d. Dibatalkan ijin edarnya, atau

e. Berhubungan dengan tindak pidana

Pemusnahan narkotika dan psikotropika harus dilakukan dengan

tidak mencemari lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan

masyarakat. Sebelum dilakukan pemusnahan, terlebih dahulu

dilakukan sampling oleh petugas untuk kepentingan pengujian dan

juga dilakukan pemastian kebenaran secara organoleptis oleh saksi.

Pemusnahannya dilakukan dengan disaksikan oleh Kementerian

Kesehatan dan BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi atau BPOM

setempat. dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3.3.2 Alat Kesehatan/Peralatan Medis

Alat kesehatan atau peralatan medis dapat dimusnahkan apabila

memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Diproduksi dan/atau disalurkan tidak memenuhi persyaratan yang

berlaku

2. Telah melebihi masa pakai atau kadaluwarsa

29
3. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan

atau kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi

4. Dicabut izin edarnya akibat adanya efek yang tidak diingini

Pemusnahan alat kesehatan atau peralatan medis ini dapat dilaksanakan

oleh:

1. Perusahaan yang memproduksi dan/atau mendistribusikan alat

kesehatan tersebut

2. Pimpinan fasilitas kesehatan temoat alat kesehatan berada

3. Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah

kabupaten/kota

4. Pemusnahan alat kesehatan yang berhubungan dengan tindak pidana

dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

Produk yang akan dimusnahkan yang belum dikirim ke tempat

pemusnahan harus ditempatkan terpisah dan teridentifikasi secara jelas

agar tidak tercampur dengan produk layak jual dan mencegah terjual

secara tidak sengaja. Kegiatan pemusnahan harus memperhatikan hal

berikut:

1. Keselamatan personil yang melaksanakn pemusnahan

2. Kemungkinan penyalahgunaan produk/kemasan

3. Meminimalkan dampak terhadap lingkungan

4. Peraruran perundnag-undangan mengenai pembuangan limbah

Pemusnahan barang milik Negara dilakukan dengan cara:

1. Dibakar

2. Dihancurkan

30
3. Ditimbun/dikubur

4. Ditenggelamkan

5. Atau sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Setelah pelaksanaan pemusnahan selanjutnya dituangkan dalam Berita

Acara Pemusnahan dan dilaporkan kepada Pengelola Barang.

3.3.3 Aset atau Fasilitas Kesehatan

Pemusnahan adalah tindakan memusnahkan fisik dan/atau kegunaan

asset. Pemusnahan asset pada pengguna barang dapat dilakukan dalam

hal:

a. Aset tidak dapat digunakan, tidak dapat dimanfaatkan, dan tidak

dapat dipindahtangankan; atau

b. Alasan lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Pemusnahan asset atau fasilitas kesehatan dapat dilakukan dengan cara

sebagai berikut :

a. Dibakar

b. Dihancurkan

c. Ditimbun/dikubur

d. Ditenggelamkan

e. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

31
BAB IV

SIMULASI EXCEL

Penghapusan logistik dapat diimplementasikan dalam Ms. Excel. Berikut

ini adalah langkah-langkah implementasi penghapusan logistik pada Microsoft

Excel:

1. Dari data, sudah tertulis jenis obat yang dibeli dari distributor yang

berbeda. Jumlah obat yang dibeli dan harga belinya juga sudah diketahui.

Langkah pertama adalah menghitung nilai biaya dari masing-masing obat

dengan cara mengalikan jumlah obat yang dibeli dengan harga beli.

Kemudian di drag kebawah sampai baris terakhir. Mengasumsikan bahwa

kesepakatan pemesanan pada distributor A, apabila terdapat barang yang

rusak tidak bisa di return maka harus di hapuskan. Kesepakatan

pemesanan pada distributor B, apabila terdapat barang yang rusak dapat di

return dan diganti dalam bentuk barang yang sama sesuai jumlahnya.

Gambar 4.1 Pembelian obat

2. Mengasumsikan jumlah obat yang rusak dari setiap pembelian. Kemudian

menghitung nilai rupiah akibat obat yang rusak dengan cara mengalikan

jumlah obat yang rusak dengan harga beli.

32
Gambar 4.2 Jumlah Obat yang rusak

3. Mengetahui jumlah ganti rugi obat yang rusak sesuai dengan kesepakatan

pada masing-masing distributor. Langkah ini dibantu dengan formula

logical IF yang dihubungkan dengan distributor dan jumlah obat yang

rusak. Kemudian drag kebawah untuk mengisi baris dibawahnya dengan

fungsi yang sama.

Gambar 4.3 Ganti rugi kerusakan obat

4. Menghitung pertambahan nilai rupiah dengan cara mengalikan ganti rugi

obat yang rusak dengan harga beli. Apabila Distributor tidak memberikan

ganti rugi terhadap kerusakan obat maka pertambahan nilainya 0. Drag

kebawah formula di cell sampai baris terakhir.

33
Gambar 4.4 Pertambahan nilai

5. Menghitung jumlah masing-masing obat yang masih tersedia di gudang

dengan perhitungan jumlah pembelian obat dikurangi jumlah obat yang

rusak dijumlahkan dengan ganti rugi yang rusak tergantung dengan

kesepakatan dengan masing-masing distributor. Drag kebawah sampai

baris terakhir.

Gambar 4.5 Jumlah obat saat ini

6. Di sheet baru buat tabel seperti dibawah dan mengisinya dengan me-link

kan informasi yang sama dengan tabel sebelumnya di sheet 1. Kemudia

mengisi cell pada kolom “Rusak yang Tidak Bisa Direturn” dengan cara

menyambungkan pada kolom “Rusak” khusus untuk pembelian obat pada

distributor A. Sedangkan untuk pembelian obat pada distributor B diisi

dengan 0, karena sesuai dengan kesepakatan, distributor B tidak melayani

return obat yang rusak. Formula dapat di drag kebawah.

34
Gambar 4.6 Jumlah obat yang rusak tidak bisa di-return

7. Menuliskan tanggal expired obat, tanggal maksimal pakai dan tanggal saat

ini. Tanggal pemakaian obat adalah 3 bulan sebelum tanggal expired obat.

Sedangkan, tanggal saat ini diasumsikan tanggal 1 April 2017.

Gambar 4.7 Tanggal obat

8. Mengasumsikan jumlah obat yang digunakan untuk pelayanan dan

menghitung nilai rupiah obat yang digunakan untuk pelayanan dengan

cara mengalikan harga beli dengan jumlah obat yang dipakai. Kemudian

drag kebawah.

35
Gambar 4.8 Nilai rupiah obat yang sudah dipakai

9. Menghitung jumlah obat yang belum dipakai dengan cara mengurangi

jumlah obat yang dibeli dikurangi dengan yang dipakai. Kemudian drag

kebawah formula tersebut untuk menentukan sisa masing-masing obat.

Gambar 4.9 Jumlah obat yang belum dipakai

10. Menghitung jumlah nilai rupiah yang belum dipakai dengan cara

mengalikan harga beli dengan jumlah obat yang belum dipakai. Lalu drag

kebawah.

Gambar 4.10 Nilai rupiah obat yang belum dipakai

11. Menghitung sisa obat yang ada di gudang dengan cara menjumlahkan obat

yang rusak tetapi tidak bisa direturn dengan obat yang belum dipakai dan

drag kebawah.

36
Gambar 4.11 Menghitung sisa masing-masing obat

12. Menghitung nilai rupiah sisa obat dengan cara mengalikan jumlah sisa

obat di gudang dengan harga beli. Kemudian drag kebawah formula

tersebut.

Gambar 4.12 Nilai rupiah sisa obat

13. Memutuskan apakah perlu dilakukan penghapusan atau tidak dengan

menggunakan bantuan rumus logical IF. Drag kebawah formula tersebut

sampai baris terakhir.

37
Gambar 4.13 Menentukan keputusan

14. Menghitung jumlah nilai rupiah yang hilang akibat penghapusan obat

menggunakan logical IF. Kemudian formula tersebut di drag kebawah

sampai baris terakhir.

Gambar 4.14 Menghitung nilai rupiah yang hilang akibat keputusan

38
BAB V

PENUTUP

Deletion is the act of removing an asset from a list of assets held to exempt

from management responsibility, either because it is exhausted its economic life

or because of other things, which can be done in various ways such as transfering,

recycling, or exterminating. Deletion is different from extermination which is one

of deletion’s technique.

The deletion and extermination of assets (whether in the form of goods or

otherwise) has been regulated in Indonesian law. The methods and procedures for

deletion and destruction with various techniques of implementation have also

been described and arranged there in.

Implementation of deletion and extermination can vary, adjusted for the

type of assets. At health facilities, commonly used assets are medicines and

medical equipment or medical devices. From each of these assets, the execution of

deletion and destruction also varies according to the characteristics of each asset.

39
DAFTAR PUSTAKA

BNPB, 2011. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana


Nomor20 Tahun 2011 tentang Pedoman Monitoring dna Evaluasi
Manajemen Logistik Penanggulangan Bencana, Jakarta: Badan Nasional
Penanggulangan Bencana.
BPOM, 2016. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Obat-obat
tertentu yang Sering Disalahgunakan
Davis, R., 2012. An Introduction to Asset Management. United Kingdom: The
Institute of Asset Management.
Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
2010. Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta
Griffin, R. W., 2001. Management. 7th ed. Texas: Texas A & M University.
Indonesia, P. R., 2014. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27
Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Jakarta:
s.n.
Juan, D. A.-S., 2007. Fundamentals of Accounting: Basic Accounting Principles
Simplified For Accounting Students. Bloomington: AuthorHouse.
Kemenetrian Kesehatan RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit
Koonzt, et al. 1984. Management a System and Contingensy Analysis of
Managerial
Menteri Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
Jakarta
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan
Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi. Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit. Jakarta
Menteri Keuangan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 50/PMK.06/2014 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penghapusan Barang Milik Negara. Jakarta
Menter Keuangan Republik Indonesia. 2007. Tata Cara Pelaksanaan
Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan
Barang Milik Negara. Jakarta
Pemerintah RI. (2004). Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 20 Tahun
2011 tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi Manajemen Logistik
Penanggulangan Bencana

40
Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2010. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan
Akibat Bencana Ed. 2. Jakarta : Indonesia
Stickney, C. P., Weil, R. L., Schipper, K. & Francis, J., 2010. Financial
Accounting: An Introduction to Concepts, Methods, and Uses. Mason:
South-Western Cengage Learning.

41