Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

“Trauma Abdomen”

1. Konsep Dasar
a) Anatomi Fisiologi

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai


anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima
makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke
dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut,
tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan
anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Gambar 1
Sistem Pencernaan Manusia
http://www.berbagaireviews.com/2015/03/sistem-pencernaan-pada-manusia-beserta.html
1) Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada
hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian
awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan
jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh
selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di
permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin
dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih
rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi
depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi
bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan
membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim
pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan
enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri
secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara
otomatis.

Gambar 2
Rongga Mulut
http://www.andasehat.com/rongga-mulut/
2. Tenggorokan ( Faring )
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal
dari bahasa yunani
Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe
yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan
terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan
makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas
tulang belakang.
Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan
perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan
rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium
Tekak terdiri dari; Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan
hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian
inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut
nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak
dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut orofaring,bagian ini
berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring
yang menghubungkan orofaring dengan laring.

3. Kerongkongan ( Esofagus )
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan
berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik.
Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: οiσω, oeso – “membawa”,
dan έφαγον, phagus – “memakan”).
Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang.
Menurut histologi, Esofagus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian superior
(sebagian besar adalah otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan
otot halus), serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

4. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti
kandang keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot
berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan
normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam
kerongkongan.
Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara
ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi
lambung menghasilkan 3 zat penting lendir, yaitu : lendir melindungi sel-sel
lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan
lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya
tukak lambung. Asam klorida (HCl) menciptakan suasana yang sangat asam,
yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang
tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara
membunuh berbagai bakteri. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan
protein)

Gambar 3
Lambung
https://dosenbiologi.com/manusia/bagian-bagian-lambung

5. Usus halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh
darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta.
Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang
membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus
juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus ; lapisan mukosa ( sebelah dalam ), lapisan otot melingkar
( M sirkuler ), lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa (
Sebelah Luar ).
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum),
usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
a. Usus dua belas jari ( Duodenum )
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong
(jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari
usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum
Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak
terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari
yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari
terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.
Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang
berarti dua belas jari. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua
belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam
jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan
megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
b. Usus Kosong ( Jejenum )
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah
bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan
usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus
halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong
dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat
jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara
histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya
kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus
penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit
untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara
makroskopis.
Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti “lapar” dalam
bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus,
yang berarti “kosong”.
c. Usus Penyerapan (Ileum )
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus.
Pada sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.
Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi
menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
d. Usus Besar ( Kolon )
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus
buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.
Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon
desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna
beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam
usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K.
Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit
serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam
usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan
dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
e. Usus Buntu ( Sekum )
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah
anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta
bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada
mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora
memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki
sekum yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai
cacing.
f. Umbai Cacing (Appendix )
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu.
Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing.
Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan
membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi
rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam
bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung
buntu tabung yang menyambung dengan caecum.
Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang
dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari
2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung
umbai cacing bisa berbeda – bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis)
yang jelas tetap terletak di peritoneum. Banyak orang percaya umbai
cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain
percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik.
Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.
g. Rektum dan Anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah
sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja
disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika
kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul
keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum
karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi
tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di
mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi
untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi
bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam
pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan
lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari
tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian
lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air
besar – BAB), yang merupakan fungsi utama anus.
6. Pankreas
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi
utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting
seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan
erat dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankreas terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu asini, menghasilkan enzim-
enzim pencernaan, pulau pankreas, menghasilkan hormon Pankreas
melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon
ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein,
karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk
yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim
ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga
melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi
duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.
7. Hati
Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan
memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan
pencernaan.
Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki
beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein
plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam
pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai
dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar.
Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan
pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke
dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya
masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi
pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah
diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Hati
adalah organ yang terbesar di dalam badan manusia.
8. Kandung Empedu
Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk buah
pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk
proses pencernaan. Pada manusia, panjang kandung empedu adalah sekitar 7-
10 cm dan berwarna hijau gelap – bukan karena warna jaringannya, melainkan
karena warna cairan empedu yang dikandungnya. Organ ini terhubungkan
dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu.
Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu membantu pencernaan dan
penyerapan lemak dan berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari
tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah
merah dan kelebihan kolesterol.

b) Pengertian
Abdomen adalah bagian tubuh yang berbentuk rongga terletak diantara toraks
dan pelvis. Rongga ini berisi viscera dan dibungkus dinding (abdominal wall) yang
terbentuk dari dari otot-otot abdomen, columna vertebralis, dan ilium. Trauma
adalah sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga
menyebabkan luka atau cedera pada bagian tubuh. Jika trauma yang didapat cukup
berat akan mengakibatkan kerusakan anatomi maupun fisiologi organ tubuh yang
terkena. Trauma abdomen adalah terjadinya cedera atau kerusakan pada organ
abdomen yang menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan
metabolisme, kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ (MH Assiddqi,
2014).
Trauma abdomen didefinisikan sebagai trauma yang melibatkan daerah
antara diafragma atas dan panggul bawah. Trauma abdomen merupakan pukulan /
benturan langsung pada rongga abdomen yang mengakibatkan cidera
tekanan/tindasan pada isi rongga abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas,
ginjal, limpa) atau berongga (lambung, usus halus, usus besar, pembuluh-pembuluh
darah abdominal) dan mengakibatkan ruptur abdomen (Guilon, 2011).

c) Etiologi
Penyebab trauma abdomen antara lain: trauma, iritasi, infeksi, obstruksi dan
operasi. Kerusakan organ abdomen dan pelvis dapat disebabkan trauma tembus,
biasanya tikaman atau tembakan dan trauma tumpul akibat kecelakaan mobil,
pukulan langsung atau jatuh. Luka yang tampak ringan bisa menimbulkan cedera
eksterna yang mengancam nyawa (MH Assiddqi, 2014).

d) Klasifikasi
Trauma pada dinding abdomen terdiri dari:
1. Trauma penetrasi: trauma tembak, trauma tusuk (MH Assiddqi, 2014).
Trauma penetrans merupakan 8-12% dari abdominal trauma yang datang ke
trauma center. Luka tembak merupakan penyebab yang sering pada trauma
penetrasi pada populasi anak dan menyebabkan kematian pada laki-laki kulit
hitam pada umur 15-24 tahun.
Penyebab lain trauma penetrans adalah stab wound, impalements, gigitan
anjing, dan kecelakaan mesin. Oleh karena kebanyakan trauma penetrans pada
abdomen biasanya memerlukan tindakan pembedahan maka persiapan di ruang
operasi harus simultan dengan assessment pasien (Pratama, 2014).
2. Trauma non-penetrasi atau trauma tumpul: diklasifikasikan ke dalam 3
mekanisme utama, yaitu tenaga kompresi (hantaman), tenaga deselerasi dan
akselerasi. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa
hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi.
Misalnya hancur akibat kecelakaan, atau sabuk pengaman yang salah (seat belt
injury). Hal yang sering terjadi adalah hantaman, efeknya dapat menyebabkan
sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera. Hantaman juga dapat
menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan
menyebabkan rupture (MH Assiddqi, 2014).
Trauma tumpul abdomen lebih dominan pada populasi anak. Lebih dari 80%
trauma pada anak adalah berupa trauma tumpul dan kebanyakan berhubungan
dengan kecelakan kendaraan bermotor. Cedera abdominal dapat disebabkan
juga oleh karena terjatuh dan langsung mengenai dinding abdomen misalnya
pada handlebar injuri (Pratama, 2014).
e) Tanda dan Gejala
Secara umum manifestasi klinik trauma abdomen antara lain :
1. Nyeri
2. Nyeri tekan lepas menandakan iritasi peritoneum karena cairan gastrointestinal
atau darah
3. Distensi abdomen
4. Demam
5. Anoreksia
6. Mual dan muntah
7. Takikardi
8. Peningkatan suhu tubuh
Sementara manifestasi berdasarkan etiologinya:
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi ke dalam rongga peritonium):
Manifestasi klinis dari trauma tembus tergantung pada berbagai faktor,
termasuk jenis objek yang menembus, area tempat cedera terjadi, organ yang
mungkin terkena, dan lokasi serta jumlah luka. Tanda dan gejala yang seringkali
muncul adalah:
a. Terdapat nyeri dan/atau nyeri tekan lepas serta perdarahan
Nyeri dapat menjadi petunjuk terjadinya kerusakan organ. Semisal, terdapat
nyeri bahu, mungkin nyeri tersebut merupakan akibat dari limpa yang rusak
dengan darah subphrenic
b. Biasanya disertai dengan peritonitis
Tanda-tanda peritoneal terjadi ketika katup peritoneal dan aspek posterior
dari dinding abdomen anterior mengalami inflamasi. Darah dan organ di
dalam peritoneal atau retroperineal terangsang oleh ujung saraf yang lebih
dalam (serabut visceral aferen nyeri) dan mengakibatkan rasa yang sangat
nyeri. Iritasi pada peritoneum parietal mengarah ke nyeri somatik yang
cenderung lebih terlokalisasi.
c. Distensi abdomen. Apabila distensi abdomen pada pasien tidak responsif,
hal tersebut dapat menunjukkan adanya perdarahan aktif.
d. Pada laki-laki, prostat tinggi-naik menunjukkan terjadinya cedera usus dan
cedera saluran urogenital. Jika ditemukan terdapat notasi darah di meatus
uretra juga merupakan tanda adanya cedera saluran urogenital.
e. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
Hilangnya fungsi organ dapat menjadi penanda terjadinya syok, karena
pada saat syok, darah akan dipusatkan kepada organ yang vital, sehingga
untuk organ yang tidak begitu vital kurang mendapatkan distribusi darah
yang mencukupi untuk dapat bekerja sesuai dengan fungsinya sehingga
kinerja organ dapat mengalami penurunan atau bahkan fungsi organ
menjadi terhenti (Offner, 2014).

2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi ke dalam rongga peritonium)


Penilaian klinis awal pada pasien trauma abdomen tumpul seringkali sulit dan
akurat. Tanda dan gejala yang paling nampak antara lain:
a. Nyeri
b. Perdarahan gastrointestinal
c. Hipovolemia
d. Ditemukannya iritasi peritoneal
Sebagian besar darah dapat menumpuk di rongga peritoneal dan panggul
tanpa adanya perubahan signifikan atau perubahan awal dalam temuan
pemeriksaan fisik. Bradikardi dapat mengindikasikan adanya darah
disekitar intraperitoneal.

f) Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat disebabkan karena trauma abdomen adalah:


1. Perforasi
Gejala perangsangan peritonium yang terjadi dapat disebabkan oleh zat kimia
atau mikroorganisme. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya lambung,
maka terjadi perangsangan oleh zat kimia segera sesudah trauma dan timbul
gejala peritonitis hebat. Bila perforasi terjadi di bagian bawah seperti kolon,
mula-mula timbul gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk
berkembang biak. Baru setelah 24 jam timbul gejala-gejala akut abdomen
karena perangsangan peritoneum. Kolon merupakan tempat bakteri dan hasil
akhirnya adalah feses, maka jika kolon terluka dan mengalami perforasi perlu
segera dilakukan pembedahan. Jika tidak segera dilakukan pembedahan,
peritonium akan terkontaminasi oleh bakteri dan feses. Hal ini dapat
menimbulkan peritonitis yang bisa memberikan dampak yang lebih berat.
2. Perdarahan dan syok hipovolemik
Setiap trauma abdomen (baik trauma tumpul dan trauma tembus) dapat
menimbulkan perdarahan. Yang paling banyak terkena robekan pada trauma
adalah alat-alat parenkim, mesenterium, dan ligamenta; sedangkan alat-alat
traktus digestivus pada trauma tumpul biasanya tidak terkena. Diagnostik
perdarahan pada trauma tumpul lebih sulit dibandingkan dengan trauma tajam,
lebih-lebih pada taraf permulaan. Dalam taraf pertama darah akan berkumpul
dalam sakus lienalis, sehingga tanda-tanda umum perangsangan peritoneal
belum ada sama sekali. Apabila perdarahan tidak segera ditangani dengan baik
dan tepat maka dapat terjadi syok hipovolemik yang ditandai dengan hipotensi,
takikardia, dehidrasi, penurunan turgor kulit, oliguria, kulit dingin dan pucat.
3. Menurunnya atau menghilangnya fungsi organ
Penurunan fungsi organ dapat disebabkan karena terjadinya perdarahan yang
masif tanpa penanganan yang adekuat sehingga pasokan darah ke organ tertentu
menjadi berkurang sehingga dapat mengakibatkan penurunan fungsi organ,
bahkan fungsi organ bisa menghilang.
4. Infeksi dan sepsis
Peradangan dan penumpukan darah dan cairan pada rongga peritoneal dapat
menyebabkan mudahnya bakteri untuk menginfeksi sehingga risiko terjadinya
infeksi sangat tinggi, dan apabila infeksi tak terkendali, mikroorganisme
penyebab infeksi dapat masuk ke dalam darah dan mengakibatkan syok sepsis.
5. Komplikasi pada organ lainnya
a. Pankreas: pankreatitis, Pseudocyta formasi, fistula pankreas-duodenal, dan
perdarahan
b. Limfa: perubahan status mental, takikardia, hipotensi, akral dingin,
diaphoresis dan syok
c. Usus: obstruksi usus, peritonitis, sepsis, nekrotik usus, dan syok
Ginjal: Gagal ginjal akut (Legome, 2016).

g) Patofisiologi ( Narasi & Skema)


Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat
kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari
ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor–
faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi
berhubungan dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan
tubuh. Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan
tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari
permukaan yang menghentikan tubuh juga penting.

Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas dari jaringan tubuh.
Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang
sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya
walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua
keadaan tersebut.. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh
gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus
dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap
permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang
disebabkan beberapa mekanisme:

1. Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya
tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak
benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ
berongga.

2. Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan


vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.

3. Terjadi gaya akselerasi-deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya


robek pada organ dan pedikel vaskuler.
Pathway

Trauma paksa (jatuh, benda Trauma benda tajam (Pisau,


tumpul, kompresi dll) peluru, dll)

Gaya predisposisi trauma > elastisitas & Viskositas tubuh

Ketahanan jaringan tidak mampu mengkompensasi

Trauma Abdomen

Trauma Tajam Trauma Tumpul

Kerusakan Kerusakan organ Kerusakan Kompresi organ abdomen


Jaringan Kulit abdomen jaringan vaskuler
Perdarahan intra
Luka terbuka Perforasi lapisan Perdarahan abdomen
abdomen(Kontusio,
Laserasi, jejas,
Resiko Peningkatan TIA
hematoma)
Resiko kekurangan
infeksi volume cairan Distensi Abdomen

Nyeri akut
Mual/muntah
Syok
Hipovilemik
Kerusakan
Resiko ketidak
integritas kulit
seimbangan nutrisi

Sumber
http://eprints.undip.ac.id/44820/4/M.Hasbi_Asshiddiqi_22010110110072_Bab2K
TI.pdf.
h) Penatalaksanaan
1. Pre Hospital
Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam
nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi dilokasi kejadian.
Paramedik mungkin harus melihat apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka
trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani, penilaian awal dilakukan
prosedur ABC jika ada indikasi. Jika korban tidak berespon, maka segera buka
dan bersihkan jalan napas.

a. Airway
Dengan kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas menggunakan
teknik ‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat
dagu,periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya
jalan napas, muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.

b. Breathing
Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan
menggunakan cara ‘lihat – dengar – rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk
memastikan apakah ada napas atau tidak. Selanjutnya lakukan pemeriksaan
status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan).

c. Circulation
Dengan kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban tersengal-
sengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak
ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio
kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30kali kompresi
dada dan 2 kali bantuan napas).

d. Penanganan awal trauma non- penetrasi (trauma tumpul):


 Stop makanan dan minuman
 Imobilisasi
 Kirim kerumah sakit

e. Penetrasi (trauma tajam)


 Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya)
tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
 Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan
kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga
tidak memperparah luka.
 Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak
dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang
keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban
steril.
 Imobilisasi pasien.
 Tidak dianjurkan memberi makan dan minum.
 Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
 Kirim ke rumah sakit.

2. Hospital

a. Trauma penetrasi
Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli
bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk
menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka
masuk dan luka keluar yang berdekatan.

b. Skrinning pemeriksaan rontgen


Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan
hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intra
peritonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan
jalan peluru atau adanya udara retro peritoneum.

c. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning Ini di lakukan untuk


mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada

d. Uretrografi
Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra. Jika di terjadi
ruptur uretra dengan ciri-ciri per uretra post trauma dan retensi urine
sehingga akan ada kontraindikasi pemasangan kateter.

e. Sistografi
Ini digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung
kencing, contohnya pada fraktur pelvis dan trauma non – penetrasi
f. Pengambilan contoh darah dan urine

Darah di ambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan


laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti
pemeriksaan darah lengkap, potasium, glukosa, amilase.

g. Pemeriksaan rontgen
Pemeriksaan rongten servikal lateral, toraks antero posterior dan pelvis
adalah pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi
trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retro
peritoneum atau udara bebas di bawah diafragma, yang keduanya
memerlukan laparotomi segera.

h. Study kontras urologi dan gastrointestinal


Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon
ascendensatau decendens dan dubur.

2. Konsep Keperawatan
a) Pengkajian
1) Pengkajian Primer (A, B, C, D, E)
Arahan protokol Advanced Trauma Life Support adalah untuk
mengidentifikasi dan melakukan pencegahan terhadap kondisi yang
mengancam jiwa. Protokol ini terdiri dari:
a. Airways
1. Sumbatan benda asing atau darah
2. Snoring
3. Wheezing atau krekles
b. Breathing
1. Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat
2. RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal
3. Ronchi, krekles
4. Ekspansi dada tidak penuh
5. Penggunaan otot bantu nafas
c. Circulation
1. Nadi lemah , tidak teratur
2. Takikardi
3. TD meningkat / menurun
4. Edema
5. Gelisah
6. Akral dingin
7. Kulit pucat, sianosis
8. Output urine menurun
d. Dissability
Periksa kesadaran pasien

e. Exposure
Lakukan pemeriksaan pada bagian tubuh lainnya, cari adanya jejas atau
tanda-tanda trauma di bagian tubuh yang lain.

2) Pengkajian Sekunder ( Pemeriksaan fisik, laboratorium, penunjang lain)


Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Rambut dan Higiene Kepala
Rambut hitam, coklat, pirang, warna perak, berbau.
Pada kulit kepala bisaditemui lesi seperti vesicular, pustule, crusta karena
varicella, dermatitis.Ada/tidak hematoma maupun jejas.
2) Pupil dan Refleks Cahaya
Isokor/anisokor ukuran 3mm/3mm, simetris kanan-kiri, sklera ikterik
anikterik, konjungtiva anemis atau aninemis, reaksi terhadap cahaya
baik/tidak, menggunakan alat bantu penglihatan atau tidak.
3) Hidung
Bentuk simetris, ada/tidak polip maupun sekret, peradangan mucosa.
4) Telinga
Simetris kanan-kiri, ada/tidak penumpukan serumen, ada/tidak
menggunakan alat bantu pendengaran.
5) Mulut
Ada/tidak perdarahan pada gusi, periksa adanya radang mukosa
(stomatitis), ada/tidak sariawan, tonsil diperiksa apakah meradang atau
tidak.
6) Leher
Kelenjar tyroid diperiksa apakah terjadi pembesaran kelenjar tyroid,
ada/tidak peningkatan JVP (Jugularis Vena Pressure).
7) Pernafasan (paru)
I: Bentuk thorax normal/tidak, pengembangan dada simetris antara kanan-
kiri, normal pernafasan : 16-22 x/menit, amati suara batuk yang terdengar
P : Sonor/pekak
P : Fremitus vokal sama antara kanan- kiri.
A: Suara nafas (vesikuler/broncho-vesicular, bronchial), suara tambahan
(rales, ronchi, wheezing, dan pleural friction-rub)

8) Sirkulasi (jantung)
I : Ictus cordis tampak/tidak
P : Ictus cordis teraba kuat/pelan di mid klavikula intercosta V sinistra,
ada/tidaknya thill
P : Pekak/sonor
A : Bunyi jantung (S1- S2) reguler, ada/tidak suara jantung tambahan.
9) Neurologi
Kaji skala nyeri PQRST (P: Provoke, Palliates, Precipitation; Q: quality;
R: radiance; S: severity; T: time.
10) Abdomen
Pemeriksaan fisik pada pasien trauma tumpul abdomen harus dilakukan
secara sistematik meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi.
I : Adanya luka lecet di dinding perut, hal ini dapat memberikan petunjuk
adanya kemungkinan kerusakan organ di bawahnya. Adanya perdarahan di
bawah kulit, dapat memberikan petunjuk perkiraan organ-organ apa saja
yang dapat mengalami trauma di bawahnya. Ekimosis pada flank (Grey
Turner Sign) atau umbilicus (Cullen Sign) merupakan indikasi perdarahan
retroperitoneal, tetapi hal ini biasanya lambat dalam beberapa jam sampai
hari. Adanya distensi pada dinding perut merupakan tanda penting karena
kemungkinan adanya pneumoperitonium, dilatasi gastric, atau ileus akibat
iritasi peritoneal. Pergerakan pernafasan perut, bila terjadi pergerakan
pernafasan perut yang tertinggal maka kemungkinan adanya peritonitis.
A : Pada auskultasi, perlu diperhatikan ditentukan apakah bising usus ada
atau tidak, pada robekan (perforasi) usus bising usus selalu menurun,
bahkan kebanyakan menghilang sama sekali. Adanya bunyi usus pada
auskultasi toraks kemungkinan menunjukkan adanya trauma diafragma.
Pada palpasi, perlu diperhatikan : Adanya defence muscular menunjukkan
adanya kekakuan pada otot-otot dinding perut abdomen akibat peritonitis.
Ada tidaknya nyeri tekan, lokasi dari nyeri tekan ini dapat menunjukkan
organ-organ yang mengalami trauma atau adanya peritonitis.
P : Redup hati yang menghilang menunjukkan adanya udara bebas dalam
rongga perut yang berarti terdapatnya robekan (perforasi) dari organ-organ
usus. Nyeri ketok seluruh dinding perut menunjukkan adanya tanda-tanda
peritonitis umum. Adanya “Shifting dullness” menunjukkan adanya cairan
bebas dalam rongga perut, berarti kemungkinan besar terdapat perdarahan
dalam rongga perut.
P : Pemeriksaan rektal toucher dilakukan untuk mencari adanya penetrasi
tulang akibat fraktur pelvis, dan tinja harus dievaluasi untuk gross atau
occult blood. Evaluasi tonus rektal penting untuk menentukan status
neurology pasien dan palpasi high-riding prostate mengarah pada trauma
salurah kemih.
Pemeriksaan abdominal tap merupakan pemeriksaan yang penting
untuk mendapatkan tambahan keterangan bila terjadi pengumpulan darah
dalam rongga abdomen, terutama bila jumlah perdarahan masih sedikit,
sehingga klinis masih tidak begitu jelas dan sulit ditentukan. Caranya dapat
dilakukan dengan buli- buli dikosongkan, kemudian penderita dimiringkan
ke sisi kiri. Disinfeksi kulit dengan yodium dan alcohol. Digunakan jarum
yang cukup besar dan panjang, misalnya jarum spinal no. 18 – 20. Sesudah
jarum masuk ke rongga perut pada titik kontra Mc Burney, lalu diaspirasi.
Dianggap positif bila diperoleh darah minimal sebanyak 0.5 cc
11) Genitoririnaria
a. Pria
Kulit sekitar kalamin mengalami infeksi/jamur/kutu, teraba testis
kiri/kanan,
b. Wanita
Amati vula secara keseluruhan adakah prolapsus uteri,
benjolankelenjar Bartholin
12) Kulit
Turgor kulit elastis, kembali kurang dari 3 detik, tidak ada lesi,
tidak adakelainan pada kulit.
13) Ekstremitas
Pemeriksaan edema/tidak edema, rentak gerak, uji kekuatan otot, reflek-
reflek fisiologik, reflex patologik babinski
Pemeriksaan Laboratorium
Menurut Salomone & Salomone (2011), pemeriksaan laboratorium yang
direkomendasikan untuk korban trauma biasanya termasuk glukosa serum,
darah lengkap, kimia serum, amylase serum, urinalisis, pembekuan darah,
golongan darah, arterial blood gas (ABG), ethanol darah, dan tes kehamilan
(untuk wanita usia produktif).

a. Pemeriksaan darah lengkap


Hasil yang normal untuk kadar hemoglobin dan hematokrit tidak bisa
dijadikan acuan bahwa tidak terjadi perdarahan. Pasien pendarahan
mengeluarkan darah lengkap. Hingga volume darah tergantikan dengan
cairan kristaloid atau efek hormonal (seperti adrenocorticotropic hormone
[ACTH], aldosteron, antidiuretic hormone [ADH]) dan muncul pengisian
ulang transkapiler, anemia masih dapat meningkat.
Pemberian transfusi trombosit pada pasien dengan trombositopenia
berat (jumlah trombosit<50,000/mL) dan terjadi perdarahan. Beberapa
penelitian menunjukkan hubungan antara rendahnya kadar hematokrit
(<30%) dengan cidera berat. Peningkatan sel darah putih tidak spesifik dan
tidak dapat menunjukkan adanya cidera organ berongga. Pada pasien ini
dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan serial Hb, hematokrit , leukosit,
eritrosit, trombosit, MCV, MCHC dan laju endap darah (LED).
b. Kimia serum
Jika pengukuran gas darah tidak dilakukan, kimia serum dapat
digunakan untuk mengukur serum glukosa dan level karbon dioksida.
Pemeriksaan cepat glukosa darah dengan menggunakan alat stik pengukur
penting pada pasien dengan perubahan status mental.
c. Tes fungsi hati
Tes fungsi hati pada pasien dengan trauma tumpul abdomen penting
dilakukan, namun temuan peningkatan hasil bisa dipengaruhi oleh beberapa
alasan (contohnya penggunaan alkohol). Sebuah penelitian menunjukkan
bahwa kadar aspartate aminotransferase (AST) atau alanine
aminotransferase (ALT) meningkat lebih dari 130 U pada koresponden
dengan cedera hepar yang signifikan. Kadar Lactate Dehydrogenase (LDH)
dan bilirubin tidak spesifik menjadi indikator trauma hepar.
d. Pengukuran Amilase
Peningkatan abnormal kadar amylase 3-6 jam setelah trauma memiliki
keakuratan yang cukup besar terhadap cedera pankreas. Meskipun beberapa
cedera pankreas dapat terlewat dengan pemeriksaan CT scan segera setelah
trauma, semua dapat teridentifikasi jika scan diulang 36-48 jam.
Peningkatan amylase atau lipase dapat terjadi akibat iskemik pancreas
akibat hipotensi sistemik yang menyertai syok.
e. Urinalisis
Indikasi untuk urinalisis termasuk trauma signifikan pada abdomen dan
atau panggul, gross hematuria, mikroskopik hematuria dengan hipotensi,
dan mekanisme deselerasi yang signifikan. Gross hematuri merupakan
indikasi untuk dilakukannya cystografi dan IVP atau CT scan abdomen
dengan kontras.
f. Penilaian gas darah arteri (ABG)
Kadar ABG dapat menjadi informasi penting pada pasien dengan trauma
mayor. Informasi penting sekitar oksigenasi (PO2, SaO2) dan ventilasi
(PCO2) dapat digunakan untuk menilai pasien dengan kecurigaan asidosis
metabolic hasil dari asidosis laktat yang menyertai syok.
g. Skrining obat dan alkohol
Pemeriksaan skrining obat dan alkohol pada pasien trauma dengan
perubahan tingkat kesadaran. Nafas dan tes darah dapat mengindentifikasi
tingkat penggunaan alkohol.
h. Ultrasonografi
Pada pasien dengan trauma tumpul abdomen dan cidera multisystem,
ultrasonografi portabel dengan operator yang berpengalaman dapat dengan
cepat mengidentifikasi cairan bebas di intraperitoneal. Cidera organ
berongga jarang teridentifikasi, namun cairan bebas bisa tervisualisasi pada
beberapa kasus (Salomone & Salomone,2011).
i. Computed Tomography (CT) Scan
Cidera diafragma dan perforasi saluran pencernaan masih dapat
terlewat dengan pemeriksaan CT scan, khususnya jika CT scan dilakukan
segera setelah trauma. Cidera pankreas dapat terlewatkan dengan
pemeriksaan awal CT scan, tapi secara umum dapat ditemukan pada
pemeriksaan follow up yang dilakukan pada pasien resiko tinggi. Untuk
beberapa pasien, endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)
dapat ditambahan bersama CT scan untuk mendukung cedera duktus

b) Diagnosa Keperawatan Utama


1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan

2. Nyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi


abdomen

3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya


pertahanan tubuh.

4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.
c) Intervensi dan Rasional

No. Diag Tujuan Rencana Rasionl


1. Tujuan: Setelah Mandiri
diberikan tindakan — Kaji tanda-tanda vital. — untuk mengidentifikasi
keperawatan defisit volume cairan.
diharapkan volume — Pantau cairan — mengidentifikasi
cairan tidak parenteral dengan keadaan perdarahan,
mengalami elektrolit, antibiotik serta Penurunan
kekurangan. dan vitamin sirkulasi volume cairan
menyebabkan
Kriteria hasil:
kekeringan mukosa dan
 Intake dan output
pemekatan urin. Deteksi
seimbang
dini memungkinkan
 Turgor kulit baik
terapi pergantian cairan
 Perdarahan (-)
segera.
— Kaji tetesan infus. — awasi tetesan untuk
mengidentifikasi
Kolaborasi : kebutuhan cairan.
— Berikan cairan — cara parenteral
parenteral sesuai membantu memenuhi
indikasi. kebutuhan nuitrisi
tubuh.
— Cairan parenteral ( IV — Mengganti cairan dan
line ) sesuai dengan elektrolit secara adekuat
umur. dan cepat.
— Pemberian tranfusi — menggantikan darah
darah. yang keluar.
2. Tujuan: setelah Mandiri
diberikan tindakan — Kaji karakteristik — Mengetahui tingkat
keperawatan nyeri. nyeri klien.
diharapkan nyeri
dapat hilang atau — Beri posisi semi — Mengurngi kontraksi
terkontrol. fowler. abdomen
— Anjurkan tehnik — Membantu mengurangi
Kriteria hasil:
manajemen nyeri rasa nyeri dengan
 Skala nyeri 0 seperti distraksi mengalihkan perhatian
 Ekspresi tenang — Managemant — lingkungan yang
lingkungan yang nyaman dapat
nyaman. memberikan rasa
nyaman klien
— Kolaborasi pemberian — analgetik membantu
analgetik sesuai mengurangi rasa nyeri.
indikasi.
3. Tujuan: setelah Mandiri
diberikan tindakan — Kaji tanda-tanda — Mengidentifikasi
keperawatan infeksi. adanya resiko infeksi
diharapkan infeksi lebih dini.
tidak terjadi. — Kaji keadaan luka. — Keadaan luka yang
diketahui lebih awal
Kriteria hasil:
dapat mengurangi
 Tanda-tanda resiko infeksi.
infeksi (-) — Kaji tanda-tanda vital. — Suhu tubuh naik dapat
 Leukosit 5000- di indikasikan adanya
10.000 mm3 proses infeksi.
— Lakukan cuci tangan — Menurunkan resiko
sebelum kntak dengan terjadinya kontaminasi
pasien. mikroorganisme.
— Lakukan pencukuran — Dengan pencukuran
pada area operasi klien terhindar dari
(perut kanan bawah infeksi post operasi
— Perawatan luka — Teknik aseptik dapat
dengan prinsip menurunkan resiko
sterilisasi. infeksi nosokomial
— Kolaborasi pemberian — Antibiotik mencegah
antibiotik adanya infeksi bakteri
dari luar.
4. Tujuan: setelah Mandiri
diberikan tindakan — Ajarkan dan bantu — Keletihan berlanjut
keperawatan klien untuk istirahat menurunkan keinginan
diharapkan nutrisi sebelum makan untuk makan.
pasien terpenuhi — Awasi pemasukan — Adanya pembesaran
diet/jumlah kalori, hepar dapat menekan
Kriteria hasil:
tawarkan makan saluran gastro intestinal
 Nafsu makan sedikit tapi sering dan dan menurunkan
meningkat tawarkan pagi paling kapasitasnya.
 BB Meningkat sering.
 Klien tidak lemah — Pertahankan hygiene — Akumulasi partikel
mulut yang baik makanan di mulut dapat
sebelum makan dan menambah baru dan
sesudah makan . rasa tak sedap yang
menurunkan nafsu
makan.
— Anjurkan makan pada — Menurunkan rasa penuh
posisi duduk tegak. pada abdomen dan
dapat meningkatkan
pemasukan.
— Berikan diit tinggi — Glukosa dalam
kalori, rendah lemak karbohidrat cukup
efektif untuk
pemenuhan energi,
sedangkan lemak sulit
untuk
diserap/dimetabolisme
sehingga akan
membebani hepar..
d) Evaluasi
Setelah mendapat implementasi keperawatan, maka pasien dengan trauma
abdomen diharapkan sebagai berikut:

1. Kebutuhan cairan terpenuhi.


2. nyeri dapat hilang atau terkontrol.
3. Tidak terjadinya infeksi
4. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
DAFTAR PUSTAKA

Legome EL. 2016. Blunt Abdominal Trauma Clinical Presentation”. Di akses pad tanggal 31
Januari 2018 dari https://emedicine.medscape.com/1980980-clinical#b3
Morton, P.G, Fontaine, D, Hudak, C. M, Gallo, B. M. 2008. Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC
MH Assiddqi. 2014. Bab II Tinjauan Pustaka. Di akses pad tanggal 31 Januari 2018 dari
http://eprints.undip.ac.id/44820/4/M.Hasbi_Asshiddiqi_22010110110072_Bab2KTI.pd
f.
Muttaqin A, Sari K. 2013. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Muttaqin, Arif. 2013. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta : Salemba Medika
Pratama, Andi, Djaja. 2014. Trauma Abdomen pada Anak. Di akses pad tanggal 31 Januari
2018 dari https://www.academia.edu/9479086/TRAUMA_ABDOMEN_PADA_ANAK
Salomone A. J., Salomone, J. P. 2011. Emergency Medicine: Abdominal Blunt
Trauma.Emedicine. WebMD. Di akses pad tanggal 31 Januari 2018 dari
http://www.docstoc.com/docs/30321684/Blunt-Abdominal-Trauma-Evaluation.