Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Assesment
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau
kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial
ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan (Mubarak, 2009). Proses
pengkajian yang dilakukan tanggal 17 Januari 2018 pada pasien An. I A
berumur 5 tahun anak pertama dari 2 bersaudara yang terdiri dari 1 saudara
perempuan, dengan dianosa medis saat pasien masuk Susp Dengue
Hemoragic Fever, pasien dirawat di ruang Alexandri RSUD Anshari Saleh
Banjarmasin. Data pasien menyangkut riwayat penyakit serta keluhan –
keluhan diperoleh dari pengkajian dengan cara wawancara dengan orangtua
pasien, mengobservasi langsung, melakukan pengkajian fisik langsung kepada
pasien. Selain itu data lainnya diperoleh penulis melalui catatan medis dokter,
catatan perawat, data – data pemeriksaan penunjang dari laboratorium serta
data – data yang ada pada status rawat inap pasien.
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi juga disesuaikan
dengan konsisi pasien, pada saat pengkajian pasien cukup terbuka untuk
berkomunikasi dengan perawat begitu juga dengan bibi pasien mau bekerja
sama dengan baik, serta terjalin hubungan saling percaya, sehingga
mempermudah dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Data yang didapat
pada saat dilakukan pengkajian pada An. A I dengan diagnosa medis Dengue
Hemoragik Fever yaitu Ibu pasien mengatakan anaknya demam sudah kurang
lebih 4 hari dan muntah dan terdapat bintik-bintik merah pada kulit sudah 3
hari, sudah diberi obat paracetamol sirup yang didapatkan dari berobat ke
puskesmas dan bye-bye fever penurun demam, namun demam tak kunjung
membaik, dan akhirnya orang tua pasien memutuskan untuk membawa

85
86

berobat ke IGD RSUD H.Moch Anshari Saleh Banjarmasin, sesampainya di


IGD pasien dianamnesa dan diberikan tindakan pemasangan infus RL 10 tpm,
Antrain 17 mg, omeprazole 3,5 mg, dan oleh dokter jaga IGD pasien
disarankan untuk rawat inap karena curiga DBD, keluarga pun setuju, pasien
dirawat di ruang Alexandri kamar 2b. Diruangan dilakukan pengkajian
keperawatan oleh mahasiswa tanggal 17-01-18 pukul 10.00 WITA,
didapatkan keluhan terdapat berak berwarna hitam, pasien mulai panas 5 hari
yang lalu, panasnya tinggi secara mendadak dan naik turun, nafsu makan
berkurang, minum juga tidak terlalu banyak. Pasien merasa gatal pada seluruh
tubuh, lokasi kulit pucat dan ada bintik-bintik merah pada kulit mulai 4 hari
yang lalu Selain itu pengakajian juga dilihat dari 11 pola gordon yaitu
mengenai Persepsi terhadap kesehatan- manajemen kesehatan, pasien
mengatakan, kebisaan sehari-hari jika sakit minum obat yang dibeli diwarung,
jika tidak sembuh berobat ke Puskesmas didekat rumah. Untuk keadaan saat
ini, anak nampak sakit sedang, dengan keluhan demam. Pola aktivitas dan
latihan, sehari-hari pasien beraktivitas dengan melakukan kegiatannya sebagai
murid. Untuk keadaan saat ini, pasien terbaring ditempat tidurnya, dapat
mobilisasi dengan bebas, dan untuk memenuhi kebutuhan dasar hanya
sebagian yang perlu bantuan dari orang lain, seperti ke toilet. Pola istirahat
dan tidur, orangtua pasien mengatakan, tidur siang kadang-kadang biasanya
kurang lebih hanya 2 jam, untuk tidur malam biasanya jam 9 malam.Untuk
keadaan saat ini, orangtua pasien mengatakan sudah kurang lebih 1 setengah
hari anak tidur di RS kadang nyenyak, kadang tidak nyenyak.

Orangtua pasien mengatakan, sehari makan 3x, dengan porsi yang


cukup dan makanan apa adanya dirumah, dan terkadang jajanan makanan
disekitar sekolah. Untuk keadaan saat ini, pasien mengatakan dapat
menghabiskan makanan yang diberikan RS. Pola eliminasi orangtua pasien
mengatakan, tidak ada masalah dengan kebiasaan BAB maupun BAK nya
sehari-hari.Untuk saat ini orangtua pasien mengatakan, BAB dan BAK lancar,
87

tidak nyeri. Pola kognitif – perceptual, orangtua pasien mengatakan, karena


sehari-hari sebagai murid, jadi pasien mampu berorientasi dan mengingat
segala sesuatu dengan baik. Untuk keadaan saat ini, pasien mampu mengingat
dan berorientasi dengan baik. Pola konsep diri untuk identitas diri, pasien
adalah seorang anak yang aktif..
Pola koping keluarga, setiap ada masalah dirumah, orangtua pasien
mengatakan selalu bertukar pikiran dengan keluarga. Setiap ada masalah di
RS pun, yang berhubungan dengan penyakit dan keluhan pasien dibicarakan
dengan keluarga dan perawat. Pola seksualitas – reproduksi, pasien seorang
anak perempuan. Pola peran – hubungan, orangtua pasien mengatakan
hubungan pasien dengan keluarga sebelum sakit baik dan harmonis. Selama
sakit pun, hubungan dengan keluarga, perawat dan dengan pasien di
sekitarnya baik Pola nilai dan kepercayaan, Pasien beragama islam seperti
kedua orantunya, orangtua pasien mengatakan sebelum sakit dapat melakukan
ibadah dengan mengajarkan pasien membaca doa, namun saat sakit seperti ini
kemampuan untuk bisa beribadah menjadi berkurang, karena anak tampak
lemah.
Sedangkan menurut Sudoyo Aru, dkk 2011 teori kepustakaan Demam
Berdarah Dengue mempunyai karakteristik yaitu adanya demam, nyeri otot
dan/atau nyeri sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan ditesis hemoragik. Pada DBD terjadi pembesaran plasma
yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau
penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock
sydrome) adal demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.
Dari hasil pemeriksaan penunjang serta pemeriksaan fisik pasien
dokter yang merawat Nn. R menyatakan diagnosa medis Nn. R adalah
Dengue Hemoragic Fever, kemudian melihat hasil laboratorium yang
berkaitan dengan penyakit tersebut yaitu penurunan Trombosit karena adanya
infeksi pada darah sehingga menyebabkan kerusakan pada trombosit di
88

peredaran darah atau bisa juga disebabkan karena kurangnya produksi di


dalam sum-sum tulang.

B. Nursing Diagnosis
Dari hasil pengkajian fisik, observasi langsung, wawancara dengan
pasien dan keluarga pasien, serta melihat data – data hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan masalah keperawatan pasien An.I A yang dirawat di
ruang Nilam RSUD Dr H. Moch Anshari Saleh adalah
1. Hipertermia berhubungan dengan penyakit ditandai dengan Ibu pasien
mengatakan mulai panas 5 hari yang lalu, panasnya tinggi secara
mendadak dan naik turun. Kulit tampak bintik-bintik merah, pasien
tampak lemah, konjungtiva anemis, TTV : Pulse : 98 x / menit, Temp :
38,5 o C, Resp : 30 x/ menit
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme
regulasi ditandai dengan Ibu pasien mengatakan ananknya minum tidak
terlalu banyak Kurang lebih 300-500 cc. Mukosa mulut tampak kering
dan anemis, demam 38,50C, tidak selera makan, turgor kulit kering, CRT
3 detik, nilai hematokrit 37,5 % (33-35), nilai trombosit 121 x 103u/l
(150-400).
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai
dengan Ibu pasien mengatakan cemas dan takut karena demam turun
naik. Keluarga masih belum memahami tentang penyakt anaknya
4. Resiko syok dengan faktor resiko hipovolemi ditandai dengan terdapat
berak hitam, bintik-bintik merah pada kulit, nilai HB 11,2 g/dl (11,8 –
15,6), nilai hematokrit 37,5 % (33-35), nilai trombosit 121 x 103u/l (150-
400)
Setelah diagnosa atau masalah keperawatan ditegakkan selanjutnya
dilakukan pembuatan rencana tindakan dan kriteria hasil untuk mengatasi
masalah keperawatan yang ada pada klien.
89

C. Intervensi
Perencanaan dalam keperawatan di mulai setelah data terkumpul,
dikelompokan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan
disusun berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi klien.
Adapun prioritas masalah keperawatan An. I A adalah Hipertermia
berhubungan dengan penyakit ditandai dengan Ibu pasien mengatakan mulai
panas 5 hari yang lalu, panasnya tinggi secara mendadak dan naik turun. Kulit
tampak bintik-bintik merah, pasien tampak lemah, konjungtiva anemis, TTV :
Pulse : 98 x / menit, Temp : 38,5 o C, Resp : 30 x/ menit. Kekurangan volume
cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi ditandai dengan
Ibu pasien mengatakan ananknya minum tidak terlalu banyak Kurang lebih
300-500 cc. Mukosa mulut tampak kering dan anemis, demam 38,50C, tidak
selera makan, turgor kulit kering, CRT 3 detik, nilai hematokrit 37,5 % (33-
35), nilai trombosit 121 x 103u/l (150-400). Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi ditandai dengan Ibu pasien mengatakan cemas dan
takut karena demam turun naik. Keluarga masih belum memahami tentang
penyakt anaknya. Resiko syok dengan faktor resiko hipovolemi ditandai
dengan terdapat berak hitam, bintik-bintik merah pada kulit, nilai HB 11,2
g/dl (11,8 – 15,6), nilai hematokrit 37,5 % (33-35), nilai trombosit 121 x
103u/l (150-400).
Setelah masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan pelayanan
keperawatan ditetapkan. Tujuan bisa ditetapkan dalam jangka panjang atau
jangka pendek, harus jelas dapat diukur dan realistis. Ditegaskan dalam
bentuk perubahan, kriteria hasil sebagai alat ukur pencapaian tujuan yang
mengacu pada tujuan yang disusun pada rencana keperawatan. Perencanaan
disusun berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi anak.
Perencanaan yang disusun mengandung unsur tindakan pengkajian, mandiri,
health education dan kolaborasi.
Berdasarkan kasus An. I A dengan 4 (empa) diagnosa keperawatan yang
ada, dalam kategori tindakan pengkajian, intervensi mandiri, dan kolaborasi
90

serta health education. Pada kategori tindakan pengkajian paling banyak


dibuat penulis dikarena kondisi pasien yang mengalami penurunan nilai
trombosit dan kurang nafsu makan dan membutuhkan observasi yang
komperehensif.

D. Implementasi
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan
pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperwatan merupakan kegiatan
atau tindakan yang diberikan pada pasien An.I A dengan diagnosa medis
Dengue Hemoragic Fever di ruangan Alexandri RSUD Dr. H. Moch. Anshari
Saleh Banjarmasin. Dengan menerapkan pengetahuan klinik yang dimiliki
oleh penulis berdasarkan ilmu – ilmu keperawatan dan ilmu – ilmu lainnya
yang terkait. Seluruh perencanaan tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana
semua dengan baik.

E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi
dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data
objektif yang akan menunjukkan apakah tujuan asuhan keperawatan sudah
tercapai sepenuhnya, sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan masalah
apa yang perlu di kaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana
keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui
perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan
standar yang telah ditetapkan lebih dulu.
Pada tahap evaluasi yang penulis lakukan pada pasien An.I A dengan
diagnosa medis Dengue Hemoragic Fever di ruangan Alexandri RSUD Dr. H.
Moch. Anshari Saleh Banjarmasin adalah melihat apakah masalah yang telah
diatasi sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditetapkan. Pada tanggal 19
Januari 2018 diagnosa keperawatan (1) Hipertermia berhubungan dengan
91

penyakit ditandai dengan Ibu pasien mengatakan mulai panas 5 hari yang lalu,
panasnya tinggi secara mendadak dan naik turun. Kulit tampak bintik-bintik
merah, pasien tampak lemah, konjungtiva anemis, TTV : Pulse : 98 x / menit,
Temp : 38,5 o C, Resp : 30 x/ menit. Teratasi sepenuhnya dengan kritera hasil
TTV anak dalam batas normal, (2) Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kegagalan mekanisme regulasi ditandai dengan Ibu pasien
mengatakan ananknya minum tidak terlalu banyak Kurang lebih 300-500 cc.
Mukosa mulut tampak kering dan anemis, demam 38,50C, tidak selera makan,
turgor kulit kering, CRT 3 detik, nilai hematokrit 37,5 % (33-35), nilai
trombosit 121 x 103u/l (150-400). Teratasi sebagian dengan kriteria hasil TTV
dalam batas normal, tidak terjadi dehidrasi, input dan output seimbang. (3)
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai dengan
Ibu pasien mengatakan cemas dan takut karena demam turun naik. Keluarga
masih belum memahami tentang penyakt anaknya. Teratasi sepenuhnya
dengan kriteria hasil keluarga tidak merasa cemas dan tidak bertanya-tanya
lagi. (4) Resiko syok dengan faktor resiko hipovolemi ditandai dengan
terdapat berak hitam, bintik-bintik merah pada kulit, nilai HB 11,2 g/dl (11,8
– 15,6), nilai hematokrit 37,5 % (33-35), nilai trombosit 121 x 103u/l (150-
400). Teratasi sepenuhnya karena selama masa perawatan 3 hari syok tidak
terjadi.