Anda di halaman 1dari 33

LEMBAR KERJA MAHASISWA

A. SKENARIO
Tn. Rudolf (41 tahun) sudah hampir 1 minggu di rawat di RS Lekas Sembuh,
awal keluhan Tn. Rudolf merasa lemas, nafsu makan berkurang dan diare.
Karena keluhan seperti ini berlangsung cukup lama, maka pasien segera
kedokter untuk memeriksakan diri.Dokter menganjurkan pasien untuk cek Hb.
Dari hasil pemeriksaan Hb pasien 7,4 g/dl. Karena hasil Hb sekian, maka pasien
dianjurkan untuk MRS oleh dokter dan pasien memutuskan untuk MRS di RS
Lekas Sembuh. Selama di RS pasien Transfusi PRC, dan kondisi pasien semakin
menurun. Pasien merasa penasaran sebenarnya penyakit apa yang ia alami.
Sehingga pasien memutuskan untuk bertanya pada perawat tentang catatan
medis dan hasil-hasil laboratorium yang lainnya tetapi perawat melarang pasien
untuk meminjam dan membaca catatan medis dan hasil labotarium milik pasien
dengan alasan kebijakan dari Rumah Sakit dan dokter yang merawat. Karena hal
ini pasien merasa tidak puas dan marah karena tidak mendapatkan haknya.

B. DEFINISI ISTILAH/KATA SULIT


Transfusi PRC (Packed Red cells) bertujuan untuk menaikkan Hb pasien tanpa
menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC
dibandingkan dengan darah jenuh adalah kenaikkan Hb dapat diatur sesuai
dengan yang diinginkan, mengurangi kemungkinan penularan penyakit,
mengurangi kemungkinan reaksi imunologis, volume darah yang diberikan lebih
sedikit sehingga kemungkinaan overload berkurang, komponen darah lainnya
dapat diberikan pada pasien lain.

C. IDENTIFIKASI KATA KUNCI


a) Usia 41 tahun
b) Jenis kelamin laki-laki
c) 1 minggu di rawat di RS Lekas Sembuh
d) Merasa lemas, nafsu makan berkurang dan diare
e) Pasien dianjurkan cek laboratorium
f) Hasil cek laboratorium didapatkan Hb : 7,4 g/dl
g) Pasien dianjurkan untuk MRS

1
h) Pasien memutuskan untuk MRS Lekas Sembuh
i) Pasien mendapatkan transfusi PRC
j) Keadaan pasien semakin menurun

D. INFORMASI TAMBAHAN
a) Hasil laboratorium CD4+ = +45
b) Hasil TTV :
a. BP : 110/80 mmHg
b. P : 80x/menit
c. R : 20x/menit
d. T : 37,9°C
c) Beberapa waktu yang lalu pasien pernah kecelakaan dan mendapatkan
transfusi eritrosit sebanyak 2 kantong
d) Pasien mengalami demam, sakit kepala (kepala berdenyut) dan mual
e) Mengalami penurunan berat badan
f) Terlihat bintik merah disekujur tubuh
g) Sariawan yang tampak berlebihan didalam mulut pasien
h) Pasien mengalami diare secara terus menerus sehingga membuat pasien
merasa lemas

E. KLARIFIKASI DAN ANALISA INFORMASI TAMBAHAN


a) CD4+
Terjadi saat virus HIV masuk kedalam tubuh dan menyerang sel T helper dimana
dalam sel ini terdapat CD4 atau biasanya disebut Limfosit T penolong yang
berfungsi dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan
tubuh(misalnya,limfosit B,makrofag dan limfosit T) yang semuanya membantu
menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.Infeksi HIV menyebabkan
hancurnya CD4 atau limfosit T penolong ,sehingga terjadi kelemahan sistem
kekebalan tubuh dalam melindungi dirinya.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui
3 tahap selama beberapa bulan atau tahun:
1) Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL
darah.Pada beberapa bulan pertama setelah terinveksi HIV,jumlahnya
menurun sebanyak 40-50%.Selama bulan-bulan inipenderita bisa

2
menularkan HIV kepada orang lain karena banyak pertikel virus yang
terdapat di dalam darah.Meskipun tubuh berusaha melawan virus,tetapi
tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
2) Setelah sekitar 6 bulan,jumlah partikel virus di dalam darah mencapai
kadar yang stabil,yang berlainan pada setiap penderita.Perusakan sel CD4+
dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut.
3) 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS ,jumlah limfosit CD4+ biasanya
menurun drastis.Jika kadarnya mencapai 200sel/mL darah,maka penderita
menjadi rentan terhadap infeksi.
b) Menurut buku NANDA mengatakan bahwa kebanyak seseorang yang
terkena penyakit AIDS sebelumnya telah mendapatkan transfusi darah yang
mengandung virus HIV karena pada kasus terdapat informasi tambahan
bahwa pasien beberapa waktu yang lalu pernah mengalami kecelakaan dan
mendapatkan transfusi eritrosit sebanyak 2 kantong.
c) Menurut buku NANDA mengatakan bahwa tanda gejala dari pasien yang
terinfeksi virus HIV pada fase klinik 3 adalah: penurunan berat badan
(>10%), diare tanpa sebab sampai >1bulan, demam >1bulan, lemas, sakit
kepala berdenyut, sariawan, ruam kulit (bintik merah dikulit). Keterangan
ini berhubungan dengan informasi tambahan yaitu pasien mengalami
demam, sakit kepala (kepala berdenyut) dan mual, mengalami penurunan
berat badan, Terlihat bintik merah disekujur tubuh, sariawan yang tampak
berlebihan didalam mulut pasien dan pasien mengalami diare secara terus
menerus sehingga membuat pasien merasa lemas.

F. PERTANYAAN PENTING
1. Berapa banyak transfusi PRC dilakukan sesuai dengan Hb ?
2. Berapa TTV yang normal pada usia 41 tahun (Paruh baya) ?
3. Apa yang menyebabkan kondisi pasien semakin menurun ?
4. Apa tujuan transfusi PRC pada pasien HIV?AIDS ?
5. Apa tindakan perawat pada pasien seperti ini ?

3
G. JAWABAN
1. Transfusi PRC diberikan sesuai Hb dengan rumusan
Kebutuhan darah (ml) :
3 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB

Ket :

-Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal


-Hb pasien : Hb pasien saat ini
2. Tekanan Darah :110-125 /60-70mmHg
Nadi :60-70 x/menit
Pernapasan :16-20 x/menit
Suhu :36,6°C-37,2°C
3. Kondisi pasien menjadi menurun karena CD4 terus saja menurun karena sel T telah
banyak yang hancur diserang virus sehingga pertahanan tubuh pun tak ada dan
selain itu karena pasien kurang nafsu makan sehingga mengakibatkan kondisi
semakin menurun karena tidak adanya asupan makanan yang masuk kedalam
tubuh. Hal tersebutlah yang mengakibatkan keadaan pasien semakin menurun.
4. Tujuan transfusi PRC pada penderita HIV/AIDS yaitu :
a) Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
b) Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
c) Untuk menaikkan Hb pasien tanpa harus menaikkan volume darah
d) Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.
5. Tindakan perawat pada pasien seprti kasus ialah dilakukan pengkajian,
menanyakan riwayat kesehatan, menanyakan pola aktivitas sehari-hari, melakukan
pemeriksaan fisik, menganalisa data, dan mengambil diagnosa keperawatan.

H. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA


1) Mengetahui penyebab AIDS serta bahaya yang ditimbulkan
2) Lebih banyak mempelajari tentang penyakit pada sistem imun
3) Mengetahui lebih banyak diagnosa keperawatan pada gangguan sistem imun
4) Mengetahui pemeriksaan medis dan terapi yang tepat untuk pasien gangguan
sistem imun

4
I. HAMBATAN PELAKSANAAN PBL
1) Susahnya menyatukan pemikiran menjadi satu
2) Ketika temu dengan tutor, anggota kelompok lebih sering bersifat pasif dan
kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapat.
3) Kesulitan dalam membuat pathway
4) Kesulitan dalam menentukan diagnose
5) Bingung dalam membuat Asuhan Keperawatan

5
DAFTAR PUSTAKA

Budiyono, Setiadi. 2002. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta


Istiqomah, Endah.”Asuhan Keperawatan pada Klien dengan HIV/AIDS”,(Online)

(http://ndandahndutz.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-

dengan.html, diakses 20 Oktober 2012)

Kunoli, J. Firdaus. 2012. Asuhan Keperawatan Penyakit Tropis. Jakarta


Nurarif, A. Husada ; Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA Jilid 1. Yogyakarta
Price, A. Sylvia ; Lorraine M.Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6. Jakarta
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses –
Proses Penyakit . Jakarta

6
LAMPIRAN

1. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala-
gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency
Virus) yang ditandai dengan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Penderita AIDS mudah diserang infeksi oportunistik (infeksi yang disebabkan
oleh kuman yang pada keadaan sistem kekebalan tubuh normal tidak terjadi)
dan kanker dan biasanya berakhir dengan kematian. (Iman, 2011)
AIDS disebabkan oleh HIV yakni sejenis virus RNA dalam genus
Lentivirus dan famili Retroviridae. Dikenal ada dua serotype HIV yaitu HIV-1
dan HIV-2, HIV-1 merupakan penyebab tersering AIDS. Dasar utama
penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jenis sel darah putih (Limfosit T
helper) yang mengandung marker CD4. Limfosit T mempunyai pusat dan sel
utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam
menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan, sehinggan kelainan-
kelainan fungsional pada limfosit T akan menimbulkan tanda-tanda gangguan
respon kekebalan tubuh. (Iman, 2011)
Angka kejadian HIV/AIDS menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data
WHO tahun 2002 terdapat lebih dari 25 juta orang didaerah sub sahara afrika
yang terinfeksi HIV. Meski telah dilakukan pencegahan, HIV terus menyebar
keseluruh dunia dengan perkiraan 14 ribu infeksi baru setiap harinya.
DiIndonesia berdasarkan statistik kasus HIV/AIDS pada tahun 2010 terjadi
peningkatan kasus sebanyak 591 kasus sehingga pada tahun 2010 telah tercatat
sebanyak 20.564 kasus dengan angka kematian sebanyak 3.936 kasus. (Ditjen
PPM & PL Depkes RI, 2010)
Maka diharapkan untuk mencegah kejadian pada penyakit HIV perlu upaya
serta langkah-langkah yang cepat dan tepat.

7
B. MANFAAT PENULISAN
Mahasiswa dapat mempelajari secara rinci tentang penyakit serta
penatalaksanaan klien, baik dari segi keperawatan maupun medis. Dengan
menerapkan teori yang dipelajari terhadap kasus yang ada, sehingga membuat
mahasiswa dapat mempelajari teori dan mengaplikasikannya. Dengan
demikian, ilmu yang didapat mudah melekat dalam ingatan mahasiswa, yang
khususnya jika menemukan kasus yang sama.

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUN

Gambar 1.1 Organ Sistem Imun


(Sumber : www.aids/gov/hiv-aids-basic/just-diagnosed-with-hiv-aids/Hiv-in-your-
body/immune-system-101)

8
Gambar 1.2 Symptom Of AIDS
(Sumber : www.sciencekids.co.n2/pictures/health/aidssymptoms.html)

9
A. SISTEM IMUN
Sistem imun adalah serangkaian molekul, sel dan organ yang bekerja sama
dalam mempertahankan tubuh dari serangan luar yang dapat mengakibatkan penyakit,
seperti bakteri, jamur dan virus. Kesehatan tubuh bergantung pada kemampuan sistem
imun untuk mengenali dan menghancurkan serangan ini. Kelainan sistem imun berarti
kemampuan untuk mempertahankan kekebalan tubuh terganggu sehingga mudah
diserang penyakit.

B. FUNGSI SISTEM IMUN


1) Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit mengahancurkan dan
menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan
virus, serta tumor) yang masuk kedalam tubuh.
2) Menghilangkan jaringan atau sel yang mati atau rusak untuk perbaikan jaringan
3) Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal, sasaran utama bakteri patogen
dan virus leukosit merupakan sel imun utama (disamping sel plasma, makrofag,
dan sel mast)

C. ORGAN YANG TERLIBAT DALAM SISTEM KEKEBALAN TUBUH


1) Nodus Limfe
Terdiri atas pembuluh limfatik yang terdifusi diseluruh tubuh, nodus limfe yang
terdapat dibeberapa tempat tertentu pada pembuluh limfatik, limfosit yang
diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli disepanjang pembuluh limfatik, serta
cairan getah bening tempat limfosit berenang didalamnya, yang bersirkulasi
dalam pembuluh limfatik.
2) Timus
Selama bertahun-tahun timus dianggap sebagai organ vestigial atau organ yang
belum berkembang sempurna dan oleh para ilmuwan evolusionist diamanfaatkan
sebagai bukti evolusi. Namun beberapa tahun belakangan ini terungkap bahwa
organ ini merupakan sumber dari sistem pertahanan tubuh kita.
3) Sumsum Tulang
Sumsum tulang janin dirahim ibunya tidak sepenuhnya mampu memenuhi
fungsinya memproduksi sel-sel darah. Sum-sum tulang belakang ini mampu
mengerjakan tugas hanya setelah lahir. Tidak pada tahap ini limfa akan bermain
dan memegang kendali. Merasakan bahwa tubuh membutuhkan sel darah merah,

10
trombosit, dan granulosit, maka limfa mulai memproduksi sel-sel ini selain
memproduksi limfosit yang merupakan tugas utamanya.
4) Limpa
Limpa merupakan organ limfoid terbesar dan terletak dibagian depan dan dekat
punggung rongga perut diantara diafragma dan lambung. Secara anatomis, tepi
limpa yang normal berbentuk pipih, fungsi limpa yaitu mengakumulasi limfosit
dan makrofag, degradasi eritrosit, tempat cadangan darah dan sebagai organ
pertahanan terhadap infeksi partikel asing yang masuk kedalam darah.
5) Kelenjar Getah Bening
Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring disepanjang perjalanan
limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, axillae, selangkangan dan
para aorta-daerah. Getah adalah basa (pH> 7,0) cairan yang biasanya jelas,
transparan dan tidak berwarna. Tidak da sel darah merah dalam getah bening dan
memiliki kandungan protein lebih rendah dari darah.
Sistem limfoid manusia sebagai berikut :
a) Organ utama : sumsum tulang (dipusat cekungan tulang) dan kelnajra timus
(terletak dibelakang tulang belakang dada di atas jantung)
b) Sekunder organ pada atau dekat portal kemungkinan masuknya patogen : kelenjar
gondok, amandel, limfa (terletak dibagian kiri atas), kelenjar getah bening
(disepanjang pembuluh limfatik dengan konsentrasi dileher, ketiak, perut, dan
pangkal paha), Peyer’s Patch (dalam usus), usus buntu.

D. MEKANISME PERTAHANAN
a) Non-Spesifik
Mekanisme pertahan non-spsesifik disebut juga respon imun alamiah.
Pertahanan non-spesifik dalam tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya, lapisan
mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air
mata.
Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan
komplemen merukan komponen mekanisme untuk mengoptimalkan efektivitas
kerja dan hanya bereaksi terhadap mikroba bahan-bahan akibat kerusakan sel (heat
shock protein) dan memberikan respon yang sama untuk infeksi yang berulang.
1) Pertahanan fisik : kulit, selaput lendir, silia dalam pernapasan

11
2) Pertahanan kimia : bahan yang disekresi mukosa salura napas, kelenjar
sebasea kulit, kelenjar kulit, kelenjar, asam HCL dalam cairan lambung,
lisozim yang dikeluarkan oleh makrofag mengeluarkan menghancurkan
kuman dengan komplemen, keringat, ludah, air mata, air susu.
3) Pertahanan humoral komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu
destruktif bakteri dan parasit.
b) Spesifik
Mekanisme pertahan spesifik adalah mekanisme pertahanan yang diperankan
oleh sel limfosit dengan atau tanpa komponen sitem imun lainnya seperti sel
makrofag dan komplemen. Mekanisme pernatahan spesifik disebut juga dengan
rspon imun didapat. Mekanisme pertahanan spesifik dibagi menjadi 2 yaitu :
imunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel limfosit B dengan atau
tanpa bantuan sel imunokopeten lainnya. Tugas sel B dilaksanakan oleh
imunoglobulin yang disekresikan oleh sel plasma. Imunoglubolin dibagi menjadi
IgA, IgG, IgD, IgE dan IgM. Imunitas seluar adalah imunitas yang didefinisikan
sebagai suatu respon imun erhadap antigent yang diperankan oleh limfosit T
dengan atau tanpa bantuan ko mponen sistem imun lainnya.

E. ANTIBODI
Antibodi adalah glikoprotein dengan struktur tertentu yag disekresi dari
pencerap limfosit B yang telah teraktivasi menjadi sel plasma, sebgaia respon dari
antigen tersebut. Pembagian Immunoglobulin yaitu :
1) Immunoglobulin A adalah antibodi yang memainkan peran penting dalam
imunitas mukosis. Immunoglobulin A banyak ditemukan pada sekresi tubuh.
2) Immunoglobulin D adalah sebuah monomer dengan fragmen yang mengikat 2
epitop. IgD ditemukan pada permukaan pencerap sel B bersama dengan IgM.
IgD dapat mengendalikan supresi dan aktivasi sel B.
3) Immunoglobulin E adalah jenis antibodi yang hanya ditemukan pada mamalia.
IgE memiliki peran besar terutama pada hipersensitivitas 1. IgE juga tersirat
dalam cacing parasit.
4) Immunoglobulin G adalah antibodi monomeris yang terbentuk dari dua rantai
berat dan rantai rigan yang saling mengikat dengan ikatan disulfida yang
mempunyai dua fragmen antigen-biding.
5) Immunoglobulin M adalah antibodi dasar yang berada ada plasma B.

12
3. KONSEP PENYAKIT
A. DEFINISI
Human Immunodificiency Virus adalah virus sitopatik yang dklasifikasikan
dalam famili retrovirus. Retrovirus adalah virus RNA yang mampu membuat DNA
dan NA dengan bantuan enzim reverse transcriptase yang kemudian disisipkan ke
dalam DNA sel host sebagai mesin genetik. Orang yang telah terinfeksi HIV akan
disebut sebagai HIV positif yang berarti HIVtelah ada di dalam darahnya. Bila
penderita HIV positif tidak mendapat perawatan, infeksi tersebut akan berkembang
dengan cepat menjadi AIDS (Bayer dan Oppenheimer, 2011).
Human Immunodificiency Virus adalah retrovirus yang termasuk dalam famili
lentivirus. Dua jenis HIV yang secara genetiknya berbeda tetapi sama dari antigennya
berhubungan dengan HIV-1 dan HIV-2 diisolasi dari penderita AIDS HIV-1 lebih
banyak dijumpai pada penderita AIDS di Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika Tengah.
Sedangkan HIV-2 kebanyakan ditemukan didaerah Afrika Barat. Periode antara
infeksi pertama kali dengan timbul gejala penyakit lebih lama dan penyakiya lebih
lebih ringan pada infeksi HIV-2 (WHO, 2008).

Gambar 1.3
Struktur Virus HIV

Acquired Immunodificiency Syndrom (AIDS) merupakan sindrom yang terjadi


akibat menurunnya sistem imun kekebalan tubuh (Sigalingging,2009). Seseorang
yang menderita HIV positif tidak dapat dikatakan AIDS, seseorang baru dikatakan
AIDS bila seseorang HIV posiif ditandai dengan adanya gejala spesifik infeksi
opurtunistik (WHO-UNAIDS, 2011).

13
Acquired Immunodificiency Syndrom (AIDS) adalah kumpulan gejala yang
timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang didapat, disebabkan oleh
infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). AIDS bukan merupakan suatu
penyakit, tetapi merupakan suatu gejalan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
berbagai jenis mikroorganisme sperti infeksi bakteri, virus, jamur bahkan timbulnya
keganasan akibat menurunnya daya tahan tubuh penderita (Murtiastutik, 2008).
Berdasarkan kesimpulan diatas kelompok kami menyimpulkan bahwa
HIV/AIDS adalah infeksi virus progresif menghancurkan sel-sel darah putih infeksi
oleh HIV sehingga mengakibatkan kerusakan sistem kekebalan tubuh dan
menyebabkan infeksi opurtunistik.

B. ETIOLOGI
Beberapa penyebab terjadinya HIV/AIDS meliputi
1. Melalui hubungan seksual
2. Berganti pasangan
3. Penggunaaan jarum suntik yang tidak steril
4. Transfusi darah
5. Virus
6. Sistem imun menurun

Gejala AIDS adalah hasil dari kondisi umumnya tidak terjadi pada individu
dengan system kekebalan yang sehat. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi yang
disebabkan oleh bakteri, virus, fungi dan parasit yang dalam keadaan normal bisa
dikendalikan oleh elemen sistem tubuh.

1) Deman
Demam ringan adalah gejala awal yang paling umum terjadi saat seseorang
terpapar virus HIV. Demam ringan ini seringkali disertai dengan sakit
tenggorokan, kelelahan yang ekstrim, dan pembekakan kelenjar getah bening.
Demam adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh sebagai akibat dari masuknya
virus HIV ke aliran darah dengan jumlah yang berlipat ganda.
2) Ruam Kulit
Ruam bisa berupa bercak-bercak kemerahan pada kulit atau benjolan menyerupai
jerawat dalam jumlah banyak yang tak sembuh-sembuh. Gejala ini akan muncul
jika paparan virus HIV telah mencapai pada tingkat yang lebih parah.

14
3) Mual Muntah dan Diare
Antara 30- 60 persen pengidap HIV akan mengalami gejala singkat mual, muntah,
dan serangan diare. Selain sebagai gejala HIV tahap lanjut, gejala-gejala di atas
juga bisa muncul sebagai efek samping dari terapi pengobatan.
4) Berat Badan Turun Drastis
Berat badan turun drastis merupakan gejala tahap lanjut bahwa tubuh telah
terinfeksi HIV. Berat badan turun drastis bisa terjadi akibat diare atau kurangnya
nutrisi tubuh akibat sering memuntahkan makanan.
5) Infeksi Jamur Pada Mulut
Jika jamur sudah menginfeksi mulut, maka pengidap HIV akan sulit untuk
mengunyah dan menelan makanan.

Gejala klinis terdiri dari 2 gejal yaitu gejala mayor ( umum terjadi ) dan gejala minor (
tidak umum terjadi ) :

a. Gejala mayor :
 Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
 Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
 Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
 Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
 Demensia/HIV ensefalopati
b. Gejala minor :
 Batuk menetap lebih dari 1 bulan
 Dematitis generalitas
 Adanya herpekszoster multisegmental dan herpes zoster berulang
 Kondidias orofaringeal
 Herpes simpleks kronis progresif
 Limfadenopati generalisata
 Renitis virus sitomegalo

( Mayo Foundation for Medical Education and Resare (MFMER), 2008)

15
Gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi menjadi fase, yaitu :
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda –tanda infeksi.
Tapi ditemukan gejala mirifp flu seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan,
ruam dan pembekakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai gejala
infeksi penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi sema 8 atau 9 tahun atau lebih.
Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh,
penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti
pembesaran kelenjar getah bening ( sering merupakan gejala yang pas ), diare,
berat badan menurun, demam, batuk, dan pernapasan pendek.
c. Fase akhir
Selam fase ahir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir
pada penyakit yang disebut AIDS.

C. EPIDEMIOLOGI
Angka terjadi menunjukan peningkatan berdasarkan data WHO tahun 2002
terdapat lebih dari 25 juta orang didaerah Sub Sahara Afrika yang terinfeksi HIV.
Mesti telah dilakukan pencegahan, HIV terus menyebar keseluruh dunia dengan
perkiraan 14000 infeksi baru setiap harinya. Pada akhir tahun 2010 didapatkan 34 juta
orang didunia hidup dengan menderita HIV. Dengan rincian laki-laki dewasa
sebanyak 13,3 juta jiwa, wanita dewasa sebanyak 16,8 juta jiwa, anak-anak < 15
tahun sebanyak 3,4 juta jiwa dan anak-anak <15 tahun sebesar 390.000 jiwa. Dan
yang meninggal akibat AIDS pada tahun 2010 sebanyak 1,8 jiwa dengan rincian
dewasa sebanyak 1,5 juta jiwa dan pada anak-anak <15 tahun sebanyak 250.000 jiwa
( WHO-UNAIDS ,2010 ).
Di indonesia AIDS di temukan pada tahun 1987 di Bali, tetapi penyebab HIV
di Indonesia meningkat setelah tahun 1995. Terbaru di Indonesia dari 01 April 1987-
31 Desember 2011 jumblah penderita HIV/AIDS 106.758 orang, terdiri dari 76.879
kasus infeksi HIV dan 29.879 khasus AIDS dan kematian terjadi pada 5.430 orang (
Ditjen PP dan PL Kemetkes RI, 2012 ).

16
D. MASA INKUBASI
Waktu dari tertular HIV hingga terdiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun
hingga 10 tahun lebih. Tanpa pengobatan anti HIV yang efektif, sekitar 50% dari
orang dewasa yang terinfeksi akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi.

Masa inkubasi virus HIV sangat lama yaitu kurang lebih 10 tahun. Begitu
masuk dalam tubuh manusia, virus HIV tidak serta merta menyerang orang tersebut
dengan ganas sampai akhirnya meninggal. Virus ini membunuh manusia secara pelan
tapi pasti.
Diperlukan waktu kurang lebih 10 tahun bagi virus ini baru mulai
menampakkan gejalanya. Selama 10 tahun tersebut hampir tidak ada gejala yang
menonjol yang menyebabkan penderitanya waspada atau melakukan sesuatu untuk
bertahan hidup. Biasanya seseorang baru tahu terinfeksi virus HIV ketika sudah
menjadi AIDS. Padahal, kalau sudah memasuki tahap AIDS, kemungkinan untuk
memperpanjang hidup sangat kecil.

E. MANISFESTASI KLINIS
Stadium Skala Aktivitas Gambaran Klinis
I Asimptomatic, aktivitas normal
a. Asimptomatic
b. Limfodenopati generalisata
II Simptomatic, aktivitas normal
a. BB menurun < 10%
b. Kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti: dermatitis,
pruigo, ulkus oral, seboroik, onikomikosis yang rekuren dan
kheilitis angularis
c. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi saluran afas bagian atas seperti: sinusitis bakteriaslis
III Pada umumnya lemah, aktivitas di tempat tidur kurang dari 50%
a. BB > 10%
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Kandidiasi orofaringeal
e. Oral hairy leukoplakia

17
f. TB Paru dalam tahun terakhir
g. Infeksi bacterial yang berat seperti: pneumonia dan piomiositish
IV Pada umumnya sangat lemah, aktivitas di tempat tidur lebih dari
50%
a. HIV wasting syndrome seperti: yang didefenisikan oleh CDC
b. Pneumonia pneumocytis carinii
c. Toksoplasmosis otak
d. Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan
e. Retinitis virus sitomegalo
f. Kriptokokosis extra pulmonal
g. Herpes simplex mukokutan > 1 bulan
h. Leukoensepalopati multifokal progresif
i. Mikosis disminata seperti histoplasmosis
j. Kandidiasis disofags, trakea, bronkus dan paru
k. Mikobakteriasis atipikal diseminata
l. Septisemia salmonelosis nontifoid
m. Tuberkulosis di luar paru
n. Limfoma
o. Sarkoma Kaposi

18
F. PATHOFISIOLOGI

19
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Tes Laboratorium

Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat

penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human

Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta

responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

a. Serologis

1) Tes antibody serum

Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif,

tapi bukan merupakan diagnosa

Tes blot western

Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)

2) Sel T limfosit

Penurunan jumlah total

3) Sel T4 helper

Indikator system imun (jumlah <200>

4) T8 ( sel supresor sitopatik )

Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8

ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.

5) P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)

Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi

6) Kadar Ig

Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal

7) Reaksi rantai polimerase

Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer

monoseluler.

20
8) Tes PHS

Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif

2) Budaya

Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum,

dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur,

bakteri, viral.

3) Neurologis

EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)

4) Tes Lainnya

1) Sinar X dada

Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya

komplikasi lain

2) Tes Fungsi Pulmonal

Deteksi awal pneumonia interstisial

3) Skan Gallium

Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.

4) Biopsis

Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi

5) Brankoskopi / pencucian trakeobronkial

Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-

paru.

H. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi kien dengan HIV/AIDS (Arif Mansjoer, 2000 ) antara lain :

1. Pneumonia pneumocystis (PCP)

2. Tuberculosis (TBC)

3. Esofagitis

21
4. Diare

5. Toksoplasmositis

6. Leukoensefalopati multifocal prigesif

7. Sarcoma Kaposi

8. Kanker getah bening

9. Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV).

22
I. ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa 1
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan ditandai dengan
pasien mengeluh diare, turgor kulit jelek

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Setelah 1 x 24 jam 1. Observasi tanda-tanda 1. Untuk mengetahui
dilakukan perawatan vital bertahap perubahan tanda-tanda
pasien tidak menunjukkan 2. Kaji turgor kulit, vital secara bertahap
adanya tanda-tanda membran mukosa dan 2. Indikator tidak langsung
dehidrasi, dengan kriteria : rasa haus dari status cairan
1. Turgor kulit membaik, 3. Pantau pemasukan oral 3. Mempertahankan
CRT < 3 detik dan masukan cairan keseimbangan cairan,
2. Pasien mulai mau sedikitnya 2500 ml/ hari mengurangi rasa haus,
minum lagi 4. Dorong keluarga ikut dan melembabkan
3. Feses mulai berbentuk serta dalam pemberian membran mukosa
4. Tidak mengalami diare cairan kepada pasien 4. Dukungan dari keluarga
5. Ajarkan pasien untuk sangat penting bagi pasien
menggunakan obat 5. Untuk melakukan
antidiare tindakan mandiri kepada
pasien ketika menghadapi
diare

23
Diagnosa 2
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai
dengan pasien mengeluh lemas, nafsu makan kurang, k/u lemas

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Dalam waktu 2 x 24 jam 1. Observasi status nutrisi 1. Memvalidasi dan
diharapkan kebutuhan pasien menetapkan derajat
nutrisi pasien terpenuhi. 2. Auskultasi bising usus masalah untuk
Dengan kriteria : 3. Anjurkan pasien untuk menetapkan intervensi
1. Pasien melaporkan makan dalam porsi sedikit yang tepat
nafsu untuk makan tetapi sering 2. Peristaltik usus
sudah mulai kembali 4. Anjurkan pasien untuk menunjukan adanya
2. Pasien tidak mengeluh menjaga kebersihan mulut kerja usus dalam proses
pusing 5. Timbang berat badan absorpsi makanan
3. Turgor kulit normal, pasien setiap pagi sebelum 3. Dapat mempertahankan
CRT < 3 detik sarapan kebutuhan tubuh dan
4. Pasien mampu mempercepat proses
menghabiskan penyembuhan
setengah porsi 4. Kebersihan mulut dapat
makanan yang meningkatkan nafsu
disediakan RS makan
5. Penimbangan berat
badan dilakukan sebagai
evaluasi terhadap
intervensi yang diberikan

24
Diagnosa 3
Resiko terjadi komplikasi berhubungan dengan penurunan sistem imunologik

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Stelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-tanda 1. Untuk pengobatan dini
keperawatan selama 3x24 infeksi baru mencegah pasien
jam diharapkan 2. Gunakan tehnik terpapar oleh kuman
1. Demam (-) antiseptik pada setiap patogen yang diperoleh
2. Pusing (-) tindakan invasif. Cuci dirumah sakit
3. TTV : tangan terlebih dahulu 2. Mencegah bertambahnya
a. TD : 120/80 sebelum memberikan infeksi
b. P : 80x/menit tindakan 3. Mencegah tertularnya
c. T : 37°C 3. Berikan lingkungan penyakit lainnya karena
d. R : 20x/menit yang nyaman, bersih kekurangan sistem imun.
dan berventilasi baik.
Periksa
pengunjung/staf
terhadap tanda infeksi
dan pertahankan
kewaspadaan sesuai
indikasi

25
Diagnosa 4
Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan lesi karena defisit imunologis ditandai
dengan sariawan berlebihan pada mulut

PATIENT OUT COME INTERVENTION RATIONAL


Setelah dilakukan 1.Kaji membrane mukosa/ 1. Edema, lesi, membrane
perawatan ± 24 jam catat seluruh lesi oral. mukosa oral dan
dilakukan perawatan Perhatikan keluhan tenggorokan kering
Dengan kriteria : nyeri, bengkak, sulit menyebabkan rasa sakit
Dapat menunjukkan mengunyah/menelan dan sulit mengunyah /
membrane mukosa utuh, 2. Berikan perawatan oral menelan
berwarna merah jambu, setiap hari dan setelah 2. Mengurangi rasa tidak
basah dan bebas dari makan, gunakan sikat nyaman, meningkatkan
inflamasi / ulserasi gigi halus, pasta gigi non rasa sehat dan mencegah
abrasif, obat pencuci pembentukan asam yang
mulut non akohol dan dikaitkan dengan partikel
pelembab bibir makanan yang tertinggal
3. Cuci lesi mukosa oral 3.Mengurangi penyebaran
dengan menggunakan lesi dan meningkatkan
hydrogen peroksida / kenyamanan
salin 4. Merangsang saliva untuk
4. Anjurkan pasien minum menetralkan asam dan
air putih melindungi membrane
mukosa

26
Diagnosa 5
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan peradangan kulit ditandai dengan seluruh
permukaan kulit terdapat bintik-bintik merah, turgor kulit jelek

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Setlah diberikan tindakan 1. Kaji kulit setiap hari, 1. untuk mengetahui
keperawatan selam 3 x 24 catat warna kulit, turgor perubahan bintik merah
jam diharapkan tidak kulit bertembah atau berkurang
terjadi kerusakan integritas 2. Pertahankan hygiene 2. Mempertahankan
kulit lebih lanjut. Dengan kulit : membasuh kebersihan kulit, masase
kriteria : bintik-bintik kemudian untuk meningkatkan
merah pada seluruh tubuh mengeringkannya sirkulasi dan meningkatkan
berkurang dengan hati-hati dan kenyamanan dan untuk
melakukan masase mengurangi stress pada titik
dengan menggunakan tekanan, meningkatkan
lotion atau krim aliran darah ke jaringan
3. Lindungi bintik-bintik 3. Melindungi area ulserasi
merah pada kulit dengan dari kontaminasi dan
balutan basah atau salep meningkatkan
antibiotik untuk penyembuahan
menyatakan perubahan
status dan dasar
melakukan intervensi.

27
Diagnosa 6
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan produksi metabolisme ditandai dengan pasien
mengeluh lemas, k/u lemas

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Dalam waktu ± 30 menit 1. Bantu pasien dalam 1. Menghemat energi untuk
dilakukan perawatan beraktivitas, perawatan mencegah kebanyak
intoleransi aktivitas dapat diri sesuai keperluan bergerak
diatasi dengan kriteria : 2. Berikan lingkungan yang 2. Menurunkan stress dan
tenang dan batasi ransangan berlebihan,
1. Pasien dapat melakukan
pengunjung selama fase meningkatkan istirahat
aktivitas secara
akut sesuai indikasi 3. Memberikan kemajuan
bertahap
3. Berikan dorongan untuk aktivitas secara bertahap
2. Kebutuhan sehari-hari
secara bertahap yang yang dilakukan pasien
dapat terpenuhi
dilakukan pasien dapat dapat membantu proses
3. Mandi, makan, BAB,
membantu proses penyembuhan
dan BAK
penyembuhan

28
Diagnosa 7
Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan kurang pengetahuan

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan informasi akurat 1. Dapat mengurangi rasa
keperawatan ± 24 jam dan konsisten mengenai cemas dan
diharapkan cemas dapat prognosis, hindari ketidakmampuan pasien
berkurang dengan kriteria : argumentasi mengenai untuk membuat keputusan
persepsi pasien terhadap 2. Memberikan penenangan
1. Melaporkan penurunan
situasi tersebut dan kemampuan bagi
cemas
2. Jamin pasien tentang pasien untuk memecahkan
2. Pasien tampak senang
kerahasiaan dalam masalah pada situasi yang
batasan situasi tertentu diantisipasi

29
Diagnosa 8

Isolasi sosial berhubungan dengan mudahnya transmisi atau proses penularan penyakit

PATIENT OUT COME INTERVENSION RATIONALE


Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji pola interaksi sosial 1. Menetapkan dasar untuk
keperawatan, pasien bisa yang lazim intervensi individual.
menunjukkan peningkatan 2. Dorong adanya 2. Membantu
perasaan harga diri dan hubungan yang aktif memamntapkan
berpartisipasi dalam dengan orang terdekat partisifasi pada hubungan
aktivitas atau program pada 3. Waspadai gejala-gejala sosial. Dapat mengurangi
tingkat kemampuan/hasrat. verbal/ nonverbal, kemungkinan upaya
misalnya menarik diri, bunuh diri.
putus asa, perasaan 3. Indikasi bahwa putus asa
kesepian. Tanyakan dan ide untuk bunuh diri
kepada pasien apakah sering muncul ketika
pernah berpikir untuk tanda-tanda ini diketahui
bunuh diri. oleh pemberi perawatan,
pasien umumnya ingin
bicara mengenai perasaan
ingin bunuh diri,
terisolasi dan putus asa.

30
PENUTUP
a. KESIMPULAN
AIDS disebabkan oleh virus yang bernama HIV. Apabila anda terinfeksi HIV
maka tubuh akan mencoba untuk melawan infeksi tersebut. Tubuh akan membentuk
antibodi yaitu molekul-molekul khusus untuk melawan HIV.
Test darah untuk HIV berfungsi untuk mencari keberadaan antibody tersebut.
Apabila anda memiliki antibody ini dalam tubuh anda, maka artinya anda telah
terinfeksi HIV.
Menjadi HIV positif atau terkena HIV tidaklah sama dengan terkena AIDS.
Banyak orang yang terkena HIV positif tetapi tidak menunjukkan gejala sakit selama
bertahun-tahun. Namun selama penyakit HIV berlanjut, virus tersebut secara
perlahan-lahan merusak system kekebalan tubuh. Apabila kekebalan tubuh anda
rusak, berbagai virus, parasit, jamur, dan bacteria yang biasanya tidak mengakibatkan
masalah dapat membuat anda sakit. Inilah yang disebut infeksi oportunistik.

b. SARAN
6) Semoga hasil diskusi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

7) Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi tercapainya

kesempurnaan dari hasil diskusi ini.

31
ABSENSI PBL

Kehadiran

No Nama 30-09-2014 02-10-2014 Keterangan

1 Ayu Karolina

2 Damian M.D Ngaga

3 Dede Hatlin Sanditojaya

4 Ernita Harti Dahyuni

5 Etri Lolita

6 Jians Fauji

7 Karmila

8 Lorenza Audia

9 Nalau Sapu Rata

32
ABSENSI SGL

Kehadiran

No Nama 30/09 01/10 03/10 04/10 05/10

1 Ayu Karolina

2 Damian M.D Ngaga

3 Dede Hatlin Sanditojaya

4 Ernita Harti Dahyuni

5 Etri Lolita

6 Jians Fauji

7 Karmila

8 Lorenza Audia

9 Nalau Sapu Rata

33