Anda di halaman 1dari 27

MODUL 01

OSILOSKOP

Osiloskop merupakan alat yang dapat mengukur tegangan listrik yang tetap atau juga yang
berubah terhadap waktu. Kita dapat mengamati sinyal listrik.dengan menggunakan osiloskop.

I. Tujuan Percobaan
Pada praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memperoleh pengetahuan praktis tentang bagaimana menggunakan osiloskop.
2. Mengukur tegangan DC (yang tidak berubah terhadap waktu) dan tegangan AC (yang
berubah terhadap waktu, gelombang sinus, gergaji dan kotak).

II. Alat dan Bahan


A. Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
1. Osiloskop 1 buah
2. Function Generator 1 buah
3. Multimeter analog 1 buah
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu
1. Kabel banana-aligator 30 cm (merah) 1 buah
2. Kabel banana-aligator 30 cm (kuning) 1 buah
3. Kabel banana-banana 30 cm (merah) 2 buah
4. Baterai 1,5 Volt 2 buah
5. Baterai holder 2 buah
6. Passive Probe 100 MHz 1 buah
7. Probe Generator Fungsi 1 buah
8. Kabel multimeter 1 set

III. Teori
Osiloskop merupakan salah satu alat ukur listrik yang penting disamping alat ukur lainnya.
Tidak seperti multimeter yang hanya memberikan pembacaan suatu tegangan. Osciloskop
juga memberikan grafik perubahan tegangan dalam suatu periode waktu atau bentuk
sinyal tegangan. Ada dua jenis osiloskop yaitu osiloskop analog dan osiloskop digital.
Osiloskop analog menggunakan tabung sinar katoda (Cathode Ray Tube (CRT)) yang
sepenuhnya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip listrik analog. Sedangkan osiloskop digital
bekerja berdasarkan prinsip digital. Gambar 1.1a menunjukkan salah satu bentuk osiloskop
analog dan gambar 1.1b sketsa prinsip kerja CRT.

Modul 01. Osiloskop 1


(a)

(b)

Gambar 1.1 (a)Sebuah Osiloskop Analog, (b) Sketsa prinsip kerja CRT.

Panel Depan Osiloskop


Bagian-bagian pada panel depan osiloskop diperlihatkan pada Gambar 1.2.

Modul 01. Osiloskop 2


Gambar 1.2. Panel kontrol depan pada sebuah osiloskop.

Modul 01. Osiloskop 3


KETERANGAN:
CRT
POWER................................................................(6)
LED ......................................................................(5)
INTEN .................................................................(2)
FOCUS.................................................................(3)
TRACE ROTATION .........................................(4)
FILTER ................................................................(33)

Vertical Axis :
CH1 (X) input .....................................................(8)
CH2 (Y) input .....................................................(20)
AC-GND-DC......................................................(10)(18)
VOLTS/DIV........................................................(7)(22)
VARIABLE (CAL) .............................................(9)(21)
CH1 dan CH2 DC BAL. ...................................(13)(17)
POSITION ..................................................(11)(19)
VERT MODE .....................................................(14)

Triggering:
EXT TRIG (EXT HOR) terminal input ..........(24)
SOURCE..............................................................(23)
SLOPE..................................................................(26)
LEVEL ..................................................................(28)
TRIGGER MODE .............................................(25)

TIME BASE
TIME /DIV ..........................................................(29)
SWP.VAR............................................................(30)
POSITION ..................................................(32)
X 10 MAG............................................................(31)

Others
CAL ......................................................................(1)
GND.....................................................................(15)

Modul 01. Osiloskop 4


Teknik Mengukur Tegangan AC dan DC

(i) Tegangan Alternating Current (AC)


Tegangan "puncak ke puncak" (peak to peak) Vpp dapat diukur dengan mengukur
ketinggian sinyal seperti yang ditampilkan pada Gambar 1.3, sebuah contoh tampilan layar
panel depan osiloskop.

Gambar 1.3. Contoh gambar sinyal AC


Untuk sinyal sinus, hubungan antara tegangan peak to peak (pp) dan root-mean-square
(rms) adalah
Vpp = 22 V rms 1.1.

Tegangan Direct Current (DC)

Untuk mengukur tegangan DC, kita terlebih dahulu memposisikan “jejak” atau “trace”
pada posisi nol ketika tidak ada sinyal input. Kita memposisikan jejak tepat ditengah skala
menggunakan kontrol posisi Y (acuan nol Volt). Kemudian, setelah tegangan DC
terhubung, jejak akan berpindah sesuai dengan nilai tegangan inputnya. Tegangan DC
diukur dengan melihat dfleksi vertikal. /arah y dari garis tengah. Tegangan DC yang diukur
adalah nilai divisi yang dikalikan dengan pengaturan skala Volts / div.

IV. Prosedur Percobaan


A. Kalibrasi Penguat X dan Y Osiloskop
Langkah-langkah untuk mengecek kalibrasi penguat X dan Y osiloskop adalah

Modul 01. Osiloskop 5


1. Hubungkan power cord osiloskop ke stop kontak jala-jala listrik 220V.
2. Hidupkan osiloskop dengan menekan tombol power.
3. Pasang passive probe pada CH1 (X) input.
4. Hubungkan 2 Vp-p (peak to peak) sinyal gelombang kotak (pin 1) ke CH1 (X) input
(8) menggunakan passive probe.
5. Putar variabel volts/div CAL (9) secara penuh searah jarum jam.
6. Putar sweep variabel (30) secara penuh searah jarum jam.
7. Atur variabel volts/div (7) ke posisi 2 V/div. Defleksi sinar menjadi 1 cm (1 div).
8. Atur variabel volts/div (7) ke posisi 1 V/div. Defleksi sinar menjadi 2 cm (2 div).
9. Gambarkan/Foto berkas sinar yang anda lihat di layar.
10. Ulangi langkah (1 s.d. 6) dengan menghubungkan sinyal gelombang kotak (pin 1) ke
CH2 (Y) input (20).

B. Mengukur Tegangan Arus Searah (DC)


Dalam percobaan ini kita akan mengukur tegangan dari perangkat batere. Batere yang
diukur terdiri atas batere tunggal, dua batere berhubungan seri dan dua batere
berhubungan paralel.
Langkah percobaan:
1. Pasang passive probe pada CH1 (X) input.
2. Atur tombol AC-GND-DC ke posisi DC.
3. Atur tombol Volts/div pada posisi 0,5 V/div.
4. Atur vertikal position agar berkas sinar pada layar tepat di tengah-tengah skala
horizontal.
5. Ukurlah batere yang sudah disiapkan, dengan menempatkan ujung positif passive
probe di kutub positif dan ground passive probe di kutub negatif batere.
6. Catat nilai dan gambarkan/foto bentuk gelombang yang teramati pada layar
osiloskop.
7. Lakukan juga pengukuran dengan multimeter.
8. Ulangi langkah 5 – 7 dengan membalik kutub-kutub batere, yaitu ujung positif
passive probe di kutub negatif batere dan ground di kutub positif batere.
9. Ulangi langkah 5 – 8 untuk hubungan seri dan paralel dari batere.
Catatan: Jika berkas sinar hilang dari layar maka ubahlah tombol Volts/div ke posisi
1 V/div.

C. Mengukur Tegangan Arus Bolak Balik (AC)


Dalam percobaan ini, akan dilakukan pengukuran tegangan AC yang bersumber dari
generator fungsi.
Langkah percobaan:
1. Hubungkan power cord generator fungsi ke stop kontal jala-jala listrik 220V.
2. Hidupkan generator fungsi dengan menekan tombol power.
3. Pilih bentuk gelombang sinus Atur tombol AMPL pada posisi minimum. Dan Atur
frekuensi sebesar 1 KHz.

Modul 01. Osiloskop 6


4. Pasang probe generator fungsi pada port output 50.
5. Pasang passive probe pada CH1 (X) input.
6. Atur tombol AC-GND-DC ke posisi AC.
7. Atur tombol Volts/div pada posisi 0,5 V/div.
8. Atur tombol Time/div pada posisi 1 ms/div.
9. Atur vertikal position agar berkas sinar pada layar tepat di tengah-tengah skala
horizontal.
10. Hubungkan passive probe dengan probe generator fungsi.
11. Catat nilai skala vertikal dan gambarkan/foto bentuk gelombang yang teramati pada
layar osiloskop.
12. Lakukan juga pengukuran dengan multimeter.
13. Ulangi langkah di atas untuk nilai amplitude yang berbeda.
Catatan: Jika Berkas sinar pada layar melebihi skala vertikal, ubahlah posisi
Volts/div ke skala yang lebih besar, Misalnya 1 V/div.

D. Mengukur Frekuensi
Dalam percobaan ini, akan dilakukan pengukuran frekuensi yang bersumber dari
generator fungsi.
Langkah percobaan:
1. Hubungkan power cord generator fungsi ke stop kontal jala-jala listrik 220V.
2. Hidupkan generator fungsi dengan menekan tombol power.
3. Pilih bentuk gelombang sinus Atur tombol AMPL pada posisi minimum. Dan Atur
frekuensi sebesar 1 KHz.
4. Pasang probe generator fungsi pada port output 50.
5. Pasang passive probe pada CH1 (X) input.
6. Atur tombol AC-GND-DC ke posisi AC.
7. Atur tombol Volts/div pada posisi 0,5 V/div.
8. Atur tombol Time/div pada posisi 1 ms/div.
9. Atur vertikal position agar berkas sinar pada layar tepat di tengah-tengah skala
horizontal.
10. Hubungkan passive probe dengan probe generator fungsi.
11. Catat nilai skala horizontal dan gambarkan/foto bentuk gelombang yang teramati
pada layar osiloskop.
12. Ulangi langkah di atas untuk nilai frekuensi yang lebih tinggi.
Catatan: Jika Berkas sinar pada layar terlalu rapat, ubahlah posisi Time/div ke posisi
yang lebih kecil.

V. Pertanyaan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini sebelum anda praktikum:
1. Dalam kertas millimeter, gambarkanlah sketsa sebuah gelombang sinus pada suatu
posisi tertentu, yang mempunyai amplitudo 2 cm dan perioda 0,02 sekon (ambillah
sumbu X sebagai sumbu waktu, dan buatlah skalanya 3 cm = 0,01 sekon)

Modul 01. Osiloskop 7


2. Apakah perbedaan antara antara tegangan puncak ke puncak dengan tegangan rms
pada tegangan AC (arus bolak balik)?

VI. Tugas Akhir


1. Bandingkan hasil pengamatan anda dengan perhitungan teori.
2. Gambarkan bentuk gelombang yang anda amati. Bagaimanakah hubungan antara
pengukuran dengan menggunakan osiloskop dan dengan multimeter?
3. Gambarkan bentuk gelombang untuk beberapa frekuensi yang telah anda amati

VII. Daftar Pustaka


Nishino, Sapiie. 2005. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita.
Department Of Physics, 1995. Laboratory Manual. Australia: University of Wollongong

Modul 01. Osiloskop 8


MODUL 02
RANGKAIAN LISTRIK SEARAH (DC)

Voltmeter dan amperemeter merupakan alat-alat ukur listrik untuk mengukur tegangan listrik
dan arus listrik.

I. Tujuan
Melalui praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami penggunaan voltmeter dan amperemeter.
2. Mengukur tegangan dan arus pada rangkaian resistor seri.
3. Mengukur tegangan dan arus pada rangkaian resistor paralel.

II. Peralatan dan Bahan


A. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Amperemeter (2 buah)
2. Voltmeter (1 buah)
3. Power Supply (1 buah)
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Kabel Banana – Banana 50 cm (Merah) (3 buah)
2. Kabel Banana – Banana 50 cm (Hitam) (3 buah)
3. Papan Rangkaian (1 buah)
4. Resistor 100 , 470, 1K (1 buah)
5. Jumper set (1 set)

III. Teori
A. Amperemeter
Alat untuk mengukur kuat arus listrik disebut ammeter (amperemeter). Arus listrik
pada suatu rangkaian listrik harus melalui ammeter secara langsung sehingga
ammeternya harus dihubungkan secara seri dengan elemen-elemen lainnya pada
rangkaian, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1. Saat menggunakan ammeter
untuk mengukur arus searah, Anda harus menghubungkannya sehingga arus mengalir
memasuki alat ukur ini di kutub positif dan keluar dari kutub negatif.

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 9


R1 R2

_
A
+

Gambar 2.1.Pemasangan ammeter untuk mengukur arus searah di dalam rangkaian

Idealnya, ammeter harus memiliki hambatan nol sehingga arus yang sedang diukur
tidak berubah ketika ammeter terhubung. Dalam rangkaian yang ditunjukkan pada
Gambar 2.1, idealnya hambatan dari ammeter harus jauh lebih kecil dari R1 dan R2
sehingga arus tidak terpengaruh oleh ammeter. Tetapi setiap ammeter selalu memiliki
suatu hambatan dalam, sehingga kehadiran ammeter dalam rangkaian sedikit
mengurangi nilai arusnya daripada nilai sebenarnya yang diperoleh seandainya
pengukurannya dilakukan oleh ammeter yang ideal.

Pembacaan skala alat ukur arus, amperemeter, dapat dihitung dengan persamaan:
Angka yang ditunjuk
I= x Batas Ukur Amperemeter
skala maksimum

B. Voltmeter
Alat untuk mengukur beda potensial disebut voltmeter. Beda potensial di antara dua
titik sembarang dalam sebuah rangkaian dapat diukur dengan memasangkan kutub-
kutub voltmeter di antara titik-titik tersebut tanpa memutuskan rangkaian, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.2. Beda potensial pada resistor R2 diukur dengan
menghubungkan voltmeter secara paralel dengan R2. Sangat penting untuk
diperhatikan polaritas voltmeternya. Kutub positif voltmeter harus dihubungkan
dengan ujung resistor yang memiliki potensial lebih tinggi dan kutub negatifnya ke
ujung resistor yang potensialnya lebih rendah.

R1 R2

Gambar 2.2.Pemasangan voltmeter untuk mengukur beda potensial dalam ssbuah rangkaian

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 10


Voltmeter ideal memiliki hambatan tak terhingga sehingga tidak terdapat arus di
dalamnya. Pada Gambar 2.2, kondisi ini mengharuskan voltmeternya memiliki
hambatan yang jauh lebih besar dari R2. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, kita harus
mengoreksi nilainya sebagai kompensasi dari hambatan di dalam voltmeter.

Pembacaan skala alat ukur voltmeter dapat dihitung dengan persamaan:


Angka yang ditunjuk
V= x Batas Ukur Voltmeter
skala maksimum

C. Rangkaian Resistor Seri


Rangkaian seri merupakan rangkaian yang disusun pada satu jalur rangkaian listrik.
Rangkaian ini tidak memiliki percabangan seperti Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Resistor-resistor yang dirangkai secara seri

Dari Gambar 2.3, nampak bahwa tegangan yang diukur berbeda pada setiap
hambatannya. Artinya jika besar hambatannya berbeda pada setiap hambatan maka
tegangannya pun ikut berbeda. Namun Arus pada rangkaian ini sama pada masing-
masing setiap hambatan dikarenakan tidak memiliki percabangan aliran listrik. Maka
secara sistematis diperoleh :
I1=I2=I3=I
dan
Vab = V1 + V2 + V3
Menggunakan hokum ohm, V=IR, didapatkan hubungan hambatan ekuivalen yaitu

Rseri = R1 + R2 + R3 + … + Rn (2.1)

D. Rangkaian Resistor Paralel


Rangkaian paralel merupakan rangkaian yang disusun secara sejajar dan
memiliki percabangan seperti pada Gambar 2.4.

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 11


Gambar 2.4. Resistor disusun parallel

Pada Gambar 2.4 terlihat bahwa arus pada rangkaian paralel berbeda pada tiap
hambatan. Prinsip Khirchof yang menyatakan bahwa jumlah arus listrik yang masuk
pada suatu titik percabangan akan sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik
percabangan. Namun tegangan atau beda potensial (a-b) pada rangkaian ini sama.
Untuk rangkaian parallel diperoleh:
V1=V2=V3=V
dan
I = I1 + I2 + I3
Menggunakan I = V/R, sehingga didapatkan
1 1 1 1 1
    ...  (2)
R paralel R1 R2 R3 Rn

IV. Prosedur Percobaan

Catatan Penting: Perhatikanlah selalu posisi alat ukur di dalam rangkaian. Kesalahan
dalam menempatkan alat ukur akan mengakibatkan kerusakan pada alat ukur
tersebut atau alat ukur tidak bisa berfungsi. Perhatikan batas ukur alat yang dipilih
jangan sampai kurang dari nilai besaran yang akan diukur. Pilihlah batas ukur yang
paling besar terdahulu.

1. Rangkaian Seri Resistor


Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengukuran arus dan tengangan pada rangkaian
resistor seri yaitu:

1. Menyusun rangkaian seri seperti Gambar 2.5.

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 12


R1 R2 R3
a b c e

V1 V2 V3

Gambar 2.5. Rangkaian Resistor Seri

2. Mencatat nilai resistor R1, R2, dan R3 yang digunakan.


3. Mengatur tegangan sumber menjadi 6 volt
4. Mencatat arus yang terbaca pada amperemeter (arus total)
5. Mengukur tegangan pada setiap resistor R1 dan R2 dan R3
6. Mengulangi langkah 3 - 5 untuk tegangan 9V dan 12V.

2. Rangkaian Paralel Resistor


Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengukuran arus dan tengangan pada rangkaian
resistor paralel yaitu:
1. Menyusun rangkaian paralel seperti Gambar 2.6

Gambar 2.6. Rangkaian Resistor Paralel


2. Mencatat nilai resistor R1, R2, dan R3 yang digunakan.
3. Mengatur tegangan sumber menjadi 6 volt
4. Mencatat arus yang terbaca pada amperemeter (arus total)
5. Mengukur tegangan pada ujung-ujung resistor (V)
6. Mengukur arus pada setiap resistor R1 dan R2 dan R3
7. Mengulangi langkah 3 - 5 untuk tegangan 9V, dan 12V.

3. Rangkaian Resistor Seri dan Paralel


Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengukuran arus dan tengangan pada rangkaian
seri dan paralel yaitu:

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 13


1. Menyusun rangkaian seperti Gambar 2.7.

Gambar 2.7. Rangkaian Resistor dihubungkan secara Seri dan Paralel

2. Mencatat nilai resistor yang digunakan


3. Mengatur tegangan sumber sebesar 6 volt
4. Mencatat arus yang terbaca pada amperemeter (Arus Total)
5. Mengukur tegangan pada titik (ab) dan (bc)
6. Mengukur arus pada setiap Resistor R1 dan R2
7. Mengulangi langkah 3 - 6 untuk tegangan 9V, dan 12V.

V. Pertanyaan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini sebelum anda praktikum.

1. Bagaimana cara memasang dan menggunakan amperemeter dan voltmeter pada


komponen yang ada dalam rangkaian listrik? Jelaskandan buat gambar rangkaiannya!
2. Berdasarkan jawaban anda pada nomor 1, maka bagaimanakah hambatan dalam dari
amperemeter dan voltmeter tersebut?
3. Jelaskan cara menaikkan batas ukur ampermeter dan voltmeter, tuliskan rumus
beserta gambar rangkaiannya?
4. Apakah rangkaian seri atau paralel yang digunakan untuk instalasi listrik dalam
rumah anda?, jelaskan kenapa harus demikian?

VI. Tugas Akhir


1. Hitunglah besar masing-masing hambatan dan juga hambatan pengganti dengan
menggunakan hukum Ohm.
2. Hitunglah besar arus pada rangkaian gambar 2.5, 2.5, dan 2.7 dengan persamaan yang
ada. Bandingkan hasilnya dengan pengamatan !.
3. Buatlah grafik hubungan antara tegangan dan arus berdasarkan percobaan anda!
4. Tuliskan kesimpulan dan analisa dari percobaan yang anda lakukan !

VII. Daftar Pustaka


Serway, Jewett. 2004. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Salemba Teknika.
Nishino, Sapiie. 2005. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita.

Modul 02. Rangkaian Listrik Searah (DC) 14


MODUL 03
KAPASITAS KAPASITOR

Kapasitor sangat lazim digunakan dalam berbagai rangkaian listrik. Sebagai contoh kapasitor
digunakan untuk mengubah frekuensi penerima sinyal radio, sebagai penstabil dalam catu
daya, menghilangkan percikan api dalam system pengapian mobil, dan sebagai perangkat
penyimpanan energi dalam peralatan lampu flash elektronik. Pada praktikum ini kapasitansi
kapasitor diukur dengan metode perbandingan dengan bantuan pembagian tegangan kapasitif.

I. Tujuan Percobaan
Pada praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengukur kapasitansi kapasitor dengan metode perbandingan dengan bantuan
pembagian tegangan kapasitif.
2. Mengukur kapasitansi kapasitor plat sejajar.

II. Alat dan Bahan


A. Peralatan
Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Penguat electrometer (1 bh)
2. Power Supply 450V (1bh)
3. Volmeter 3V (max 100V) (1bh)
4. Kapasitansimeter (1 bh)
B. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. Batang penghubung (1 bh)
2. Plat besi (29 cm)
3. Adapter 4 mm (1 bh)
4. Spacer (5bh)
5. Kabel merah 10 cm (1)
6. kabel biru 10 cm (1)
7. kabel merah 25 cm (1)
8. Kabel biru 25 cm (1)
9. kabel hitam 50 cm (1)
10. Kabel biru 50 cm (1)
11. Kabel hitam 1 m (1)
12. Kapasitor (3 bh)

III. Teori
A. Kapasitans Kapasitor
Sebuah kapasitor terdiri dari dua konduktor yang dipisahkan oleh suatu isolator (atau
disebut dielektrik). Kapasitans dari kapasitor bergantung pada geometri konduktor dan

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 15


pada bahan insulatornya. Kapasitans (C) dari kapasitor didefinisikan sebagai
perbandingan besar muatan di salah satu konduktor dengan besarnya beda potensial di
antara kedua konduktor (Serway dan Jewett, 2010: 311):
Q
C
V (3.1)
dengan C adalah kapasitansi kapasitor (dalam farad), Q adalah muatan konduktor
(dalam coulomb), dan V adalah beda potensial pada kedua konduktor (dalam volt).

Beda potensial meningkat secara linier dengan muatan yang tersimpan dan
perbandingan Q/V bernilai konstan untuk suatu kapasitor. Karena ada pemisahahan
muatan, kapasitor dapat menyimpan energy listrik yang besarnya
Q2 1
U  C (V ) 2
2C 2 (3.2).
Oleh karena itu, nilai kapasitansi juga digunakan sebagai ukuran kemampuan kapasitor
untuk menyimpan energy.

B. Kapasitor Keping Sejajar


Dua keping logam yang sejajar dengan luas permukaan , A, yang sama terpisah sejauh
d, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1. Ketika kapasitor diisi dengan cara
menghubungkan kedua keping ini ke kutub-kutub baterai, kedua keping akan
memperoleh muatan yang sama besarnya. Salah satu keping bermuatan positif, yang
lain bermuatan negatif.

Gambar 3.1. Sebuah kapasitor keping sejajar yang terhubung dengan baterai.

Besar medan listrik di antara keping sejajar adalah:

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 16


 Q
E 
0 0 A (3.3)
Oleh karena medan di antara kedua keping ini terdistribusi merata, besar beda potensial
antara kedua keping adalah
Qd
V  Ed 
0 (3.4)
Dengan menggunakan persamaan 3.1, kapasitans keping sejajar adalah
0 A
C
d (3.5)
Kapasitans kapasitor keping sejajar sebanding dengan luas permukaan keping dan
berbanding terbalik dengan jarak pemisah antara kedua kepingnya.

C. Kombinasi Kapasitor
Kombinasi Paralel
Dua kapasitor yang dihubungkan seperti pada Gambar 3.2a dikenal dengan kapasitor
dihubungkan secara parallel. Gambar 3.2(a) menunjukkan diagram rangkaian untuk
kombinasi kapasitor ini.

Gambar 3.2 (a) Kombinasi paralel dua kapasitor di dalam rangkaian listrik dengan beda
potensial yang berasal dari kedua kutub baterai V. (b) Diagram rangkaian untuk
kombinasi parallel. (c) Kapasitans ekuivalennya adalah Cekuivalen =C1+ C2.

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 17


Jika muatan maksimum di kedua kapasitor adalah Q1 dan Q2, maka muatan total Q
yang tersimpan oleh kedua kapasitor adalah
Q = Q1 + Q2
Oleh karena tegangan di semua kapasitornya sama, muatan yang dibawanya adalah
Q1 = C1V Q2 = C2V
Anggap kita mengganti kedua kapasitor ini dengan satu kapasitor ekuivalen yang
memiliki kapasitans Cekuivalen, seperti gambar 3.2c. Dengan demikian, untuk kapasitor
ekuivalen,
Q = CekuivalenV
Dengan menyubstitusikan hubungan ketiganya di dalam muatan ke dalam Persamaan
3.5, kita peroleh
CekuivalenV = C1V + C2V
Cekuivalen =C1+ C2 (kombinasi paralel)
Jika kita mengembangkan pernyataan di atas menjadi tiga kapasitor atau lebih yang
terhubung paralel,kita peroleh kapasitans ekuivalennya menjadi
Cekuivalen =C1+ C2 + C3 + …. (kombinasi paralel) (3.7)

Kombinasi Seri
Dua kapasitor yang dihubungkan seperti pada Gambar 3.3a dan diagram rangkaian
ekuivalennya di gambar 3.3b dikenal sebagai kombinasi seri.

Gambar 3.3 (a) Kombinasi seri dua kapasitor. (b) Diagram rangkaian untuk kombinasi
seri. (c) Kapasitans ekuivalen

Muatan kapasitor yang terhubung seri adalah sama


Q = Q1= Q2
Oleh karena tegangan di semua kapasitornya Vsama di baterai terbagi oleh kedua
kapasitor
V = V1 + V2 (3.7)

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 18


Anggap kita mengganti kedua kapasitor ini dengan satu kapasitor ekuivalen yang
memiliki kapasitans Cekuivalen, seperti Gambar 3.3c. Dengan demikian, untuk kapasitor
ekuivalen,
Q
V 
Cekuivalen
Beda potensial masing-masing kapasitor adalah
Q Q
C C
V1 = 1 V2 = 2
Dengan menyubtitusikan rumus ini ke dalam persamaan (3.7) kita peroleh
Q Q Q
 
Cekuivalen C1 C2
1 1 1
 
Cekuivalen C1 C2 (Kombinasi seri)
Jika kita mengembangkan pernyataan di atas menjadi tiga kapasitor atau lebih yang
terhubung paralel,kita peroleh kapasitans ekuivalennya menjadi
1 1 1 1
    ...
Cekuivalen C1 C2 C3 (kombinasi seri) (3.8)

D. Menentukan Kapasitansi Kapasitor dengan Metode Perbandingan


Sebuah kapasitor yang nilai kapasitansinya sudah diketahui, C1, dihubungkan secara
seri dengan sebuah kapasitor yang ingin diukur, C2. Sesuai dengan pambahasan pada
rangkaian seri, keduanya membawa muatan yang sama dan Q = CV, sehingga
diperoleh hubungan tegangan pada kapasitor dengan nilai kapasitansinya melalui

C2V2 = C1 V1= C1 (V0 – V2)


Atau nilai kapasistansi yang ingin diketahui adalah
V0  V2
C2   C1
V2 (3.9)
Dengan V0 adalah beda potensial pada rangkaian seri, dan V1 adalah beda potensial
pada kapasitor C1, dan V2 adalah beda potensial pada kapasitor C2.

IV. Prosedur Percobaan

A. Percobaan 1. Kapasitas Kapasitor


Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengukur nilai kapasistansi sebuah kapasitor
adalah
1. Menyusun rangkaian seperti pada Gambar 3.4 (Tegangan 3V dan 12V dapat diambilkan
dari power supply 450V).

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 19


Gambar 3.4. Rangkaian percobaan 1
2. Memasang Kapasitor 1 nF (C1) sesuai Gambar 3.4.
3. Mengukur tegangan dengan cara sebagai berikut: Masukkan plug c ke dalam soket a.
Mencatatlah tegangan pada voltmeter (V0)
4. Memasang Kapasitor C2
5. Memasukkan plug c ke dalam soket b.Catatlah tegangan pada Voltmeter (V1)
6. Mengulangi langkah percobaan d atas, tetapi dengan harga kapasitor yang berbeda C1 =
10 nF dan C2 = 1 nF, dan catatlah tegangan V1. Gantilah C2 dengan kapasitor yang lain (C
= 100 nF)

B. Percobaan 2. Kapasitas kapasitor lempeng.


Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengukur nilai kapasistansi sebuah kapasitor
plat sejajar adalah

1. Menempatkan sekat-sekat 1 mm pada pojok-pojok lempeng, tempatkan pasangan


lempeng pada tepi meja dan kemudian hubungkan kabel pada lempeng atas, panjang 10
cm dan hubungkan melalui adapter 4 mm.

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 20


Gambar 3.2. rangkaian percobaan 2

a. Mengukur tegangan V0 seperti pada percobaan 1, kemudian kosongkan kapasitor


lempeng dan kapasitor 1 nF dengan menghubung-singkatkan dengan batang
penghubung, kemudian masukkan kapasitor 1 nF pada posisi yang sudah ditandai.
Catatlah tegangan V1.

V. Pertanyaan
Kerjakan soal-soal berikut ini sebelum anda praktikum:
1. Dua pelat logam persegi dengan panjang sisil = 29 cm terpisah dengan jarak d = 1 mm.
Tentukan nilai kapasitansi kapasitor.
2. Buktikan persamaan (3.9)?
3. Berapa tegangan V1 yang terukur jika dipilih C1 berikut dengan V0 = 3V dan C2 = 1 nF?
a. C1 = 2,2 nF
b. C1 = 4,7 nF

VI. Tugas Akhir


1. Tentukan nilai kapasitor yang tidak diketahui dan bandingkanlah dengan nilai
sebenarnya
2. Tentukan hubungan antara muatan dengan pasangan kapasitor dalam percobaan
tersebut?
3. Berikan kesimpulan anda!

VII. Daftar Pustaka


Serway, Jewett. 2004. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Salemba Teknika.
Brausers. 1990. Electrostatics 2 Charge and Fields, Student’s work sheets. Germany.

Modul 03. Kapasitas Kapasitor 21


MODUL 04
LENSA

Lensa biasanya digunakan untuk membentuk bayangan melalui pembiasan pada alat-alat optik
seperti kamera, teleskop, dan mikroskope. Kita tahu bahwa cahaya yang melewati sebuah lensa
dibiaskan oleh dua permukaan.

I. Tujuan Percobaan
Praktikum lensa ini bertujuan untuk :
1. Memahami prinsip kerja lensa
2. Memahami persamaan lensa tipis.

II. Alat dan Bahan


Dalam melakukan percobaan lensa dibutuhkan beberapa alat dan bahan yang perlu di
sediakan terlebih dahulu. Adapun alat dan bahan yang diperlukan yaitu:
1. Bangku optis. (1 buah)
2. Sumber cahaya (1 buah)
3. Power supply (1 buah)
4. Lensa positif dan negatif (masing-masing 2 buah)
5. Layar.(1 buah)
6. Meteran (1 buah)

III. Teori
Sebuah bayangan bisa terjadi melalui proses pembiasan cahaya menggunakan lensa.

A. Lensa Tipis
Ada dua macam lensa tipis yaitu lensa cembung/lensa positif/lensa konvergen
yang bersifat mengumpulakan sinar dan lensa cekung/lensa negatip/lensa divergen
yang bersifat menyebarkan sina. Bentuk-bentuk lensa tipis dapat digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 6.1. bentuk-bentuk lensa cembung dan lensa cekung


Dalam sistem lensa dikenal sumbu utama optik, pusat optik, titik fokus dan
panjang fokus (f) dan bidang fokus. Suatu lensa tipis mempunyai dua titik fokus yang
berjarak fokus (f) di kiri kanan dari pusat optik.
Hubungan antara jarak benda,bayangan dan fokus lensa tipis memenuhi
persamaan:

Modul 04. Lensa 22


1 1 1
  (5.1)
s s' f
dengan :
s = Jarak benda terhadap lensa.
s’= Jarak bayangan terhadap lensa
f = jarak lensa.
Jarak fokus lensa sederhana dapat dihitung dengan rumus :
 1 1 
 n  1 
1
 (5.2)
f  R1 R2 
disini R1 dan R2 masing-masing merupakan jari-jari permukaan lensapertama dan kedua
dan n merupakan indeks bias bahan lensa.sedangkan Pembesaran lensa (M)
didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak bayangan s’ dengan jarak benda
sebenarnya s.(Serway-Jewet. Buku 3 Edisi 6 : 70)
s'
m= (5.3)
s

IV. Cara Kerja


Dalam praktikum lensa, kita akan mengetahui bagaimana prinsip kerja dari
lensa tipis baik lensa konverge, divergen dan gabungan dari kedua lensa tersebut serta kita
aka mengukur jarak fokus dari lensa konvergen dan divergen. Adapun langkah-langkah
kerja yang harus dilakukan sebagai berikut :
A. Menentukan jarak fokus lensa positif
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengukur jarak focus lensa sebagai
berikut :
1. Susunlah alat seperti pada gambar 6.2!
2. Atur jarak benda ke layar > 1 meter
3. Ukur dan catat jarak benda ke layar (L)
4. Geser-geserkan lensa hingga diperoleh bayangan yang jelas pada layar.
5. Catatlah jarak benda terhadap lensa (s)dancatat jarak bayangan (s’) dan ukurlah
tinggi bayarangan pada layar.
6. Geserkan lagi kedudukan lensa sehingga diperoleh bayangan jelas yang lain (jarak
benda ke layar (L) jangan diubah) dan ulangi langkah (5).
7. Ulangi percobaan 2 s/d 6 beberapa kali (ditentukan asisten) dengan harga L yang
berbeda.
8. Ulangi percobaan 1 dan 7 untuk lensa positip yang lain!

Gambar 6.2. Menentukan fokus lensa tipis

Modul 04. Lensa 23


B. Menentukan jarak fokus lensa negatif dengan lensa gabungan
Adapun untuk mengukur fokus lensa gabungan sebagai berikut :
1. Susunlah alat-alat seperti gambar 6.3.lensa pertama negatif dan lensa kedua positif!
2. Letakkan benda pada jarak 10 cm terhadap lensa pertama dan atur jarak antara
kedua lensa (d) = 10 cm!
3. Atur posisi layar sehingga bayangan tertangkap dengan jelas dan catat jaraknya
terhadap lensa kedua!
4. Lakukan langkah 2 dan 3 untuk jarak benda : 15, 20,25 dan 30 cm. Jarak kedua lensa
tetap!
5. Ulangi langkah 2 , 3 dan 4 untuk d = 15 cm!

Gambar 6.3. Menentukan fokus lensa gabungan

V. Pertanyaan
Untuk lebih memahami dan memudahkan praktikan dalam melakukan praktikum lensa
berikut beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi lensa :
1. Untuk masing-masing lensa, lukiskan jalan cahaya dari sebuah benda didepan lensa!
2. Buktikan rumus (5.2) !
3. Apakah keuntungan yang diperoleh dengan memakai lensa gabungan?
4. Buktikan rumus (5.6) !
5. Sebutkan macam-macam aberasi pada lensa dan jelaskan !
6. Bagaimana hubungan antara pembesaran bayangan dengan jarak fokus lensa dan jarak
benda ?
7. Apa yang terjadi bila lensa negatif berada di belakang lensa positif ? Lukiskan jalan
cahayanya !

VI. Tugas Akhir


Setelah melakukan praktikum lensa ini kerjakanlah tugas akhir dibawah ini sebagai
pendukung dalam pembuatan laporan praktikum.
1. Buat grafik antara ss’terhadap s + s’dan hitung jarak fokus dan kuat lensa !
2. Hitung jarak fokus lensa negatif serta kuat lensanya!
3. Hitung indeks bias masing-masing lensa !

VII. Daftar Pustaka


Halliday, Resnick, Walker, 2005. Fisika Dasar, Edisi 7 Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Serway, Jewett. 2004. Fisika Untuk Sains dan Teknik, Buku 3 Edisi 6. Jakarta : Salemba
Teknika.

Modul 04. Lensa 24


MODUL 05
DIFRAKSI CAHAYA

I. Tujuan Praktikum
Pada praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami prinsip dasar difraksi oleh kisi

2. Menentukan panjang gelombang cahaya laser menggunakan difraksi cahaya pada kisi.

II. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
1. Sumber Laser (1 buah)
2. Kisi (1 buah)
3. Layar (1 buah)
4. Penggaris (1 buah)

III. Teori
Difraksi merupakan peristiwa pembelokan cahaya akibat melalui celah yang sempit,
gangguan/halangan. Jika lebar celah sempit proporsional dengan panjang gelombang sinar
datang maka akan terbentuk pola gelap terang yang ditangkap pada layar. Pada praktikum
ini akan dibahas difraksi pada celah banyak (kisi). Persamaan umum difraksi pada celah
banyak adalah:
m = d sin 

dengan  adalah panjang gelombang cahaya, d adalah jarak antar celah,  adalah sudut
perbedaan fasa, dan m menyatakan orde terang.

Gambar 7.1. Mekanisme difraksi pada kisi.

Modul 05. Difraksi Cahaya 25


IV. Prosedur Percobaan

Untuk keselamatan, meskipun laser yang digunakan berenergi


rendah dan tidak merusak pakaian atau kulit, tidak boleh dilihat
secara langsung atau dari pantulannya oleh cermin/permukaan
mengkilat karena dapat merusak kornea mata. Jagalah sinar laser
anda tidak mengenai mata teman anda

A. Percobaan Menentukan Panjang Gelombang Sinar Laser


Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan panjang gelombang sinar laser
yaitu:
1. Meletakkan sumber laser pada meja, sinar diarahkan mendatar dan tegak lurus pada
layar atau tembok.
2. Meletakkan kisi difraksi 300 garis/mm (dengan jarak antara celah yang telah
diketahui) di depan lubang tempat sinar laser keluar, sehingga pada difraksi terletak
tepat horizontal apda layar.
3. Mengukur jarak antara kisi difraksi dengan layar, L, seperti pada Gambar 7.2.
4. Mengukur jarak y tiap pola difraksi yang terjadi (terang ke m) ke pola difraksi pusat.
5. Menentukan nilai sin(theta), dan kemudian menentukan panjang gelombang sinar
laser.
6. Mengulangi 3-5 dengan kisi 100 garis/mm dan kisi 600 garis/mm.

Gambar 7.2. Ilustrasi percobaan difraksi kisi.

V. Pertanyaan
1. Apakah yang dimaksud dengan difraksi dan interferensi?
2. Apa yang dimaksud dengan pola difraksi dan bagaimana terjadinya!
3. Tentukan persamaan sin (theta) terhadap L dan y.

Modul 05. Difraksi Cahaya 26


VI. Tugas Akhir
1. Tentukan panjang gelombang laser berdasarkan percobaan anda.
2. Berikan kesimpulan anda!

VII. Daftar Pustaka


Halliday, Resnick, Walker, 2005. Fisika Dasar, Edisi 7 Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Serway, Jewett. 2004. Fisika Untuk Sains dan Teknik, Buku 3 Edisi 6. Jakarta : Salemba
Teknika.

Modul 05. Difraksi Cahaya 27