Anda di halaman 1dari 12

A.

PENGERTIAN

Varises adalah vena normal yang mengalami dilatasi akibat pengaruh peningkatanan
tekanan vena. Varises ini merupakan suatu manifestasi yang dari sindrom insufiensi vena
dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami arah aliran retrograde atau
aliran balik menuju tungkai yang kemudianmengalami kongesti.
Bentuk ringan dari insufisiensi vena hanya menunjukkan keluhan berupa perasaan yang
tidak nyaman, menggangu atau penampilan secara kosmetik tidak enak, namun pada penyakit
vena berat dapat menyebabkan respon sistemuk berat yang dapat menyebabkan kehilangan
tungkai atau berakibat kematian.
Keadaan insufisiensi vena kronis akhirnya akan menyebabkan terjadinya perubahan
kronis kulit dan jaringan lunak yang dimulai dengan bengkak ringan. Perjalanan sindrom ini
akhirnya akan menghasilkan perubahan warna kulit, dermatitis stasis, selulitis kronis atau
rekuren, infark kulit, ulkus, dan degenerasi ganas. Komplikasi berat yang dapat muncul
sebagai akibat dati insufisiensi vena dapat berupa ulkus pada tungkai yang kronis dan sulit
menyembuh, phlebitis berulang, dan perdarahan yang berasal varises, dan hal ini dapat diatasi
dengan penanganan dan koreksi pada insufisiensi vena itu sendiri.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat dari perdarahan yang bersumber dari varises vena
friabel, tapi kematian yang diakibat oleh varises vena paling dekat dihubungkan dengan
adanya troboemboli vena sekunder. Pasien dengan varises vena mempunyai risiko tinggi
mengalami trobosis vena profunda (deep vein thrombosis, DVT) karena menyebabkan
gagguan aliran darah menjadi aliran darah statis yang sering menyebabkan phlebitis
superfisial kemudian berlanjut menjadi perforasi pembuluh darah vena termasuk pembluluh
darah venaprofunda. Pada penatalaksaan penderita dengan varises vena perlu diperhatikan
kemungkinan adanya DVT karena adanya tromboemboli yang tidak diketahui dan tidak
diterapi akan meningkatkan terjadinya mortalitas sekitar 30-60%.
Varises vena baru mungkin dapat muncul setelah adanya episode DVT yang tidak
diketahui yang menyebabkan kerusakan pada katup vena. Pada pasien ini adanya faktor risiko
yang mendasari untuk terjadinya tromboemboli dan memiliki risiko tinggi untuk terjadi
rekurensi.

Klasifikasi
Vena varikosa diklasifikasikan (Sabiston 1994):
a. Vena varikosa primer, merupakan kelainan tersendiri vena superficial ekstremitas
bawah
b. Vena varikosa sekunder, merupakan manifestasi insufisiensi vena profunda dan
disertai dengan beberapa stigmata insufisiensi vena kronis, mencakp edema, perubahan
kulit, dermatitis stasis dan ulserasi.

B. ANATOMI FISIOLOGI

Vena Safena Magna (VSM) berawal dari sisi medial kaki merupakan bagian dari
lengkung vena dan mendapat percabangan dari vena profunda pada kaki yang kemudian
berjalan keatas sepanjang sisi anterior malleolus medialis. Dari pergelangan
kaki, VSM berjalan pada sisi anteromedial betis sampai lutut dan ke bagian paha dimana
terletak lebih medial. Dari betis bagian atas sampai pelipatan paha VSM ditutupi oleh sebuah
fasia tipis dimana fasia ini berfungsi untuk mencegah agar vena ini tidak berdilatasi
secara berlebihan. NormalnyaVSM memiliki ukuran normal 3-4 mm pada pertengahan paha.
Sepanjang perjalanannya sejumlah vena peforata mungkin menghubungkan
antara VSM dengan sistem vena profunda pada regio femoral, tibia posterior, gstrocnemius,
dan vena soleal (gambar 1). Antara pergelangan kaki dan lutut terdapat Cockett perforator,
yang merupakan kelompok vena perforata yang menghubungkan sistem
vena profunda dengan lengkung vena posterior yang memberikan percabangan ke v. Safena
Magna dari bawah pergelangan kaku dan berakhir di VSM di bawah lutut.
Selain vena perforata pada beberapa vena superfisial juga memberikan cabang ke VSM.
Sedikit di bawah Safenofemoral Junction (SFJ), VSM menerima percabangan dari cabang
kutaneus lateral dan medial femoral, vena iliaka sirkumfleksa eksterna, vena episgatrika
superfisialis, dan vena pudenda interna. Apabila vena-vena ini mengalami refluks akan
bermanifestasi pada paha bagian bawah dan bêtis bagian atas. Akhir dari perjalanan VSM
berakhir di vena femoralis bercabangan ini disebut dengan Safenofemoral junction. pada
pertemuan antara vena safena magna dengan vena femoralis terdapat katup terakhir dari
VSM.

C. ETIOLOGI
Berbagai faktor intrinsik berupa kondisi patologis dan ekstriksi yaitu faktor lingkungan
bergabung menciptakan spektrum yang luas dari penyakit vena. Penyebab terbanyak dari
varises vena adalah oleh karena peningkatan tekanan vena superfisialis, namun pada beberapa
penderita pembentukan varises vena ini sudah terjadi saat lahir dimana sudah terjadi
kelenahan pada dinding pembuluh darah vena walaupun tidak adanya peningkatan tekanan
vena. Pada pasien ini juga didapatkan distensi abnormal vena di lengan dan tangan.
Herediter merupakan faktor penting yang mendasari terjadinya kegagalan katup primer,
namun faktor genetik spesifik yang bertanggung jawab terhadap terjadi varises masih belum
diketahui. Pada penderita yang memiliki riwayat refluks pada safenofemoral junction (tempat
dimana v. Safena Magna bergabung dengan v. femoralis kommunis) akan memiliki risiko dua
kali lipat. Pada penderita kembar monozigot, sekitar 75 % kasus terjadi pada pasangan
kembarnya. angka prevalensi varises vena pada wanita sebesar 43 % sedangakan pada laki-
laki sebesar 19 %.
Keadaan tertentu seperti berdiri terlalu lama akan memicu terjadinya peningkatan
tekanan hidrostatik dalam vena hal ini akan menyebakan distensi vena kronis dan inkopetensi
katup vena sekunder dalam sistem vena superfisialis. Jika katup penghubung vena dalam
dengan vena superfisialis di bagian proksimal menjadi inkopeten, maka akan terjadi
perpindahan tekanan tinggi dalam vena dalam ke sistem vena superfisialis dan kondisi ini
secara progresif menjadi ireeversibel dalam waktu singkat.
Setiap orang khususnya wanita rentan menderita varises vena, hal ini dikarenakan pada
wanita secara periodik terjadi distensi dinding dan katup vena akibat pengaruh peningkatan
hormon progrestron. Kehamilan meningkatkan kerentangan menderita varises karena
pengaruh faktor hormonal dalam sirkulasi yang dihubungkan dengan kehamilan. Hormon ini
akan meningkatkan kemampuan distensi dinding vena dan melunakkan daun katup vena.
pada saat bersaan, vena harus mengakomodasikan peningkatan volume darah sirkulasi. Pada
akhir kehamilan terjadi penekanan vena cava inferior akibat dari uterus yang membesar.
penekanan pada v. cava inferior selanjutnya akan menyebabkan hipertensi vena dan distensi
vena tungkai sekunder. berdasarkan mekanisme tersebut varises vena pada kehamilan
mungkin akan menghilang setelah proses kelahiran. pengobatan pada varises yang sudah ada
sebelum kehamilan akan menekan pembentukan varises pada vena yang lain selama
kehamilan.
Umur merupakan faktor risiko independen dari varises. Umur tua terjadi atropi pada
lamina elastis dari pembuluh darah vena dan terjadi degenerasi lapisan otot polos
meninggalkan kelemahan pada vena sehingga meningkatkan kerentanan mengalami dilatasi.
Varises vena juga dapat terjadi apabila penekanan akibat adanya obstruksi. Obstruksi
akan menciptakan jalur baypass yang penting dalam aliran darah vena ke sirkulasi sentral,
maka dalam keadaan vena yang mengalami varises tidah dianjurkan untuk diablasi.

D. PATOFISIOLOGI

Biasanya kerusakan diakibatkan kerena adanya suatu hambatan aliran darah dan tekanan
hidrostatik yang terlau besar.
Pada keadaan normal katup vena bekerja satu arah dalam mengalirkan darah vena naik
keatas dan masuk kedalam. Pertama darah dikumpulkan dalam kapiler vena superfisialis
kemudian dialirkan ke pembuluh vena yang lebih besar, akhirnya melewati katup vena ke
vena profunda yang kemudian ke sirkulasi sentral menuju jantung dan paru. Vena superficial
terletak suprafasial, sedangkan vena vena profunda terletak di dalam fasia dan otot. Ven
perforate mengijinkan adanya aliran darah dari ven asuperfisial ke\ vena profunda.
Di dalam kompartemen otot, vena profunda akan mengalirkan darah naik keatas
melawan gravitasi dibantu oleh adanya kontraksi otot yang menghasikan suatu mekanisme
pompa otot. Pompa ini akan meningkatkan tekanan dalam vena profunda sekitar 5 atm.
Tekanan sebesar 5 atm tidak akan menimbulakan distensi pada vena profunda dan selain itu
karena vena profunda terletak di dalam fasia yang mencegah distensi berlebihan. Tekanan
dalam vena superficial normalnya sangat rendah, apabila mendapat paparan tekanan tinggi
yang berlebihan akan menyebabkan distensi dan perunbahan bentuk menjadi berkelok-kelok.
Keadaan lain yang meyebabkan vena berdilatasi dapat dilihat pada pasien dengan dialisis
shunt dan pada pasien dengan arterivena malformation spontan. Pada pasien tersebut terjadi
peningkatan tekanan dalam pembuluh darah vena yang memberikan respon terhadap vena
menjadi melebar dan berkelok-kelok. Pada pasien dengan kelainan heresiter berupa
kelemahan pada dinding pembuluh darah vena, tekanan vena normal pada pasien ini akan
menyebabkan distensi venambuluh vena paling sering dan vena menjadi berkelok-kelok.
Peningkatan di dalam lumen paling sering disebabkan oleh terjadinya insufisiensi vena
dengan adanya refluks yang melewati katup vena yang inkompeten baik terjadi pada vena
profunda maupun pada vena superficial. Peningkatan tekanan vena yang bersifat kronis juga
dapat disesbabkan oleh adanya obstruksi aliran darah vena. Penyebab obstruksi ini dapat oleh
karena thrombosis intravascular atau akibat adanya penekanan dari luar pembuluh darah.
Pada pasien dengan varises oleh karena obstruksi tidak boleh dilakukan ablasi pada
varisesnya karena segera menghilang setelah penyebab obstruksi dihilangkan.
Kegagalan katup pada vena superfisal paling umum disebabkan oleh karena peningkatan
tekanan di dalam pembuluh darah oleh adanya insufisiensi vena. Penyebab lain yang
mungkin dapat memicu kegagalan katup vena yaitu adanya trauma langsung pada vena
adanya kelainan katup karena thrombosis. Bila vena superficial ini terpapar dengan adanya
tekanan tinggi dalam pembuluh darah , pembuluh vena ini akan mengalami dilatsi yang
kemudian terus membesar sampai katup vena satu sama lain tidak dapat saling betemu.
Kegagalan pada satu katup vena akan memicu terjadinya kegagalan pada katup-katup
lainnya. Peningkatan tekanan yang berlebihan di dalam system vena superfisial akan
menyebabkan terjadinya dilatasi vena yang bersifat local. Setelah beberapa katup vena
mengalami kegagalan, fungsi vena untuk mengalirkan darah ke atas dan ke vena profunda
akan mengalami gangguan. Tanpa adanya katup-katup fungsional, aliran darah vena akan
mengalir karena adanya gradient tekanan dan gravitasi.
Varises vena pada kehamilan paling sering disebabkan oleh karena adanya perubahan
hormonal yang menyebabkan dinding pembuluh darah dan katupnya menjadi lebih lunak dan
lentur, namun bila terbentuk bvarises selama kehamilan hal ini memerlukan evaluasi lebih
lanjut untuk menyingkir adanya kemungkinan disebabkan oleh keadaan DVT akut.
Kerusakan yang terjadi akibat insufisiensi vena berhubungan dengan tekanan vena dan
volume darah vena yang melewati katup yang inkompeten. Sayangnya penampilan dan
ukuran dari varies yang terlihat tidak mencerminkan keadaan volume atau tekanan vena yang
sesungguhnya. Vena yang terletak dibawah fasia atau terletak subkutan dapat mengangkut
darah dalam jumlah besar tanpa terlihat ke permukaan. Sebaliknya peningkatan tekanan tidak
terlalu besar akhirnya dapat menyebabkan dilatasi yang berlebihan.

E. TANDA DAN GEJALA


 Tegang, kram otot, sampai kelelahan otot tungkai bawah.
 Edema tumit dan rasa berat tungkai dapat pula terjadi, sering terjadi kram di malam
hari.
 Terjadi peningkatankepekaan terhadap cedera dan infeksi.
 Apabila terjadi obstruksi vena dalam pada varises, pasien akan menunjukkan tanda
dan gejala insufisiensi vena kronis; edema, nyeri, pigmentasi, dan ulserasi.
 Gejala subjektif biasanya lebih berat pada awal perjalanan penyakit, lebih ringan pada
pertengahan dan menjadi berat lagi seiring berjalannya waktu.Gejala yang muncul
umunya berupa kaki terasa berat, nyeri atau kedengan sepanjang vena, gatal, rasa
terbakar, keram pada malam hari, edema, perubahan kulit dan kesemutan. Nyeri
biasanya tidak terlalu berat namun dirasakan terus-menerus dan memberat setelah
berdiri terlalu lama.
 Nyeri yang disebabkan oleh insufisiensi vena membaik bila beraktifitas seperti
berjalan atau dengan mengangkat tungkai, sebaliknya nyeri pada insufisiensi arteri
akan bertambah berat bila berjalan dan tungkai diangkat.
F. FAKTOR PEMICU

Beberapa faktor pemicu terjadinya varises, antara lain:

 Peningkatan tekanan pembuluh darah vena permukaan (vena superfisialis) oleh


berbagai sebab.

 Obesitas (kegemukan)

 Berdiri lama (terutama para pekerja yang dituntut berdiri lama)

 Faktor hormonal

 Kehamilan

 Obat-obat kontrasepsi (KB)

 Faktor keturunan (genetik)

G. GEJALA DAN KELUHAN

Berdasarkan berat ringannya penyakit dan keluhan, varises terbagi menjadi 4 stadium,
yakni:

Stadium I : Pada stadium ini keluhan biasanya tidak spesifik. Pada umumnya ditandai
dengan keluhan tungkai, diantaranya: gatal, rasa terbakar, rasa kemeng, kaki mudah capek,
kesemutan (gringgingen), rasa pegal.
Stadium II: Pada stadium ini ditandai dengan warna kebiruan yang lebih nyata pada
pembuluh darah vena (fleboekstasia).
Stadium III: Pembuluh darah vena nampak melebar dan berkelok-kelok. Keluhan pada
tungkai makin nyata dan makin kerap dialami.
Stadium IV: Pada stadium ini ditandai dengan timbulnya berbagai penyulit
(komplikasi), antara lain: dermatitis, tromboplebitis, selulitis, luka (ulkus), perdarahan
varises, dan gangguan pembuluh darah vena lainnya.

H. KOMPLIKASI

1. Ulkus

Ulkus atau luka sering terjadi 1/3 bagian bawah tungkai bawah atau di daerah maleolus.
Reaksi radang disekitar vena diakibatkan gangguan makanan di daerah kuliat yang
bersangkutan. Jika kulit terkena trauma biasanya tidak dapat sembuh secara normal, jaringan
dapat hancur dan timbul luka. Oleh sebab itu, luka, varises bukan disebabkan vena varises.
Luka varises juga bukan disebabkan oleh sumbatan karena jarang terjadi luka di kaki. Aliran
darah yang relatif kurang pada kulit di atas maleolus dan luka yang khas di daerah tersebut
merupakan factor penyebab timbulnya flebitis. Biasanya luka varises lebih banyak di anggota
tubuh yang terserang tromboflebitis vena bagian dalam yang mengalami komplikasi
gangguan sirkulasi pada kulit.

2. Edema

Walaupun edema tidak selalu akibat atau gambaran dari penderita untuk varises tanpa
komplikasi, tetapi sering didapatkan pada sebagian besar pendderita. Edema yang terjadi
tanpa komplikasi cenderung akan bertambah berat pada sore hari dan menghilang jika kaki
diangkat. Jika edema berhubungan dengan rasa sakit kulit yang mengilap, jaringan yang
nyeri, kita harus curiga sumbatan vena yang dalam atau tromboflebitis.

3. Pecahnya Varises / Pendarahan

Pecahnya varises akan menyebabkan pendarahan yang hebat tanpa gejala, terutama pada
penderita superfisialis. Pada penderita tersebut, warna vena biru tanpa menyilangkan kaki
dapat menyebabkan perdarahan, dapat dilihat aliran darah yang banyak mengalir ke bagian
bawah tungkai tanpa rasa sakit.

4. Tromboflebitis

Tromboflebitis merupakan komplikasi yang relative banyak. Tromboflebitis pada vena


superfisialis mungkin lebih banyak akibat statis atau penyumbatan serta trauma atau dari
kuman. Bentuk klinis tromboflebitis adalah rasa sakit, merah, nyeri pada kulit di atas vena.
Kelainan tersebut dapat merupakan reaksi peradangan yang ringan hingga berat dan bernanah
dengan gejala infeksi sistemik seluruh tubuh atau sepsis. Biasanya bentuk peradangan dari
tromboflebitis dari vena superfisialis tidak menimbulkan embolisme.

5. Dermatitis

Dermatitis pada varises bentuknya bermacam-macam, seperti warna kulit pucat yang
sering terlihat pada penderita varises yang lama dan lesi peradangan yang kemerah-merahan,
gatal dan rasa panas. Dermatitis biasanya dijumpai pada 1/3 bagian bawah anggota tubuh.
Lesi ini disebut eksim varises dan dapat disebabkan (pada beberapa kasus) oleh proses alergi.
Tidak jarang adanya infeksi sekunder atau jamur.

I. ASSESSMENT DAN DIAGNOSA

I. Anamnesis Umum
1. Nama : Aulia Putri
2. Umur : 25 tahun
3. Agama : Islam
4. Alamat : Jl. Jend.Sudirman No.14
5. Pekerjaan : PNS
6. Hobby : Travelling
II. Anamnesis Khusus
1. Keluhan utama : Nyeri, kram, dan kaku
2. Lokasi keluhan : Kedua tungkai kaki atau betis
3. Penyebab keluhan : Dalam keadaan hamil berdiri terlalu lama dan sering jalan
4. Sejak kapan keluhan terjadi : Sejak sebulan yang lalu
5. Pada aktivitas seperti apa timbul nyeri : Saat berdiri lama dan berjalan dengan
kurun waktu yang lama
6. Pada akivitas apa nyeri berkurang : Saat beristirahat, dengan kaki berselonjor.

 Riwayat Kehamilan
1. Usia kandungan : 6 bulan
2. Kehamilan keberapa : Kehamilan kedua
3. Pernah abortus: Tidak pernah
4. Pola nutrisi : Terkontrol baik (lebih banyak mengonsumsi protein)

III. Pemeriksaan Fisik

1. Vital Sign
- Tekanan Darah : 110/80 mmHg
- Nadi : 72x per menit
- Pernapasan Perut : 20x per menit
- Berat Badan : Sebelum hamil 47 kg, sekarang 60 kg
- Tinggi Badan : 158 cm
- Suhu : 35.5ºc
2. Inspeksi Statik : Wajah agak pucat, menahan nyeri, dan adanya eodom pada
tungkai
3. Inspeksi Dinamis : Pada saat berjalan sangat jelas vena melebar, berkelok-kelok,
dan berwarna kebiruan.
4. Palpasi : Palpasi diawali dari sisi permukaan anteromedial kemudian dilanjutkan
pada sisi lateral diraba apakah ada varises dari vena nonsafena yang merupakan
cabang kolateral dari Vena Safena Magna , selanjutnya dilakukan palpasi pada
permukaan posterior untuk menilai keadaan Vena Safena Parfa. Dilakukan juga
palpasi denyut arteri distal dan proksimal untuk mengetahui adanya insufisiensi
arteri dengan menghitung indeks ankle-brachial. Nyeri pada saat palpasi
kemungkinan adanya suatu penebalan, pengerasan, thrombosis vena.

IV. Pemeriksaan Fungsi Dasar

Gerak Aktif
 Fleksi - Ekstensi (HIP) :
 Abd - Add (HIP) :
 Endo – Ekso (HIP) :
 Fleksi - Ekstensi (Knee) :
 Abd - Add (Knee) :
Gerak Pasif

 Fleksi - Ekstensi (HIP) :


 Abd - Add (HIP) :
 Endo – Ekso (HIP) :
 Fleksi - Ekstensi (Knee) :
 Abd - Add (Knee) :

TIMT

 Fleksi - Ekstensi (HIP) :


 Abd - Add (HIP) :
 Endo – Ekso (HIP) :
 Fleksi - Ekstensi (Knee) :
 Abd - Add (Knee) :

Quick Test

1. Tes Trendelenburg
Tes ini digunakan untuk menentukan derajat insuffisiensi katup pada vena
komunikans. Mula-mula penderita berbaring dengan tungkai yang akan diperiksa
ditinggikan 30°-45° selama beberapa menit untuk mengosongkan vena. Setelah itu
dipasang ikatan yang terbuat dari bahan elastis di paha, tepat di bawah percabangan
safenofemoral untuk membendung vena superfisial setinggi mungkin. Kemudian
penderita berdiri dan pengisian vena diperhatikan. Bila vena lambat sekali terisi ke
proksimal, berarti katup komunikans baik. Vena terisi darah dari peredaran darah kulit
dan subkutis. Bila vena cepat terisi misalnya dalam waktu 30 detik, berarti terdapat
insuffisiensi katup komunikans. Uji Trendelenburg positif berarti terdapat pengisian
vena safena yang patologis.

2. Tes Perthes
Tes ini dilakukan untuk menentukan baik atau tidaknya vena bagian dalam.
Pemeriksaan dilakukan dengan menekan vena safena magna di paha dengan torniket.
Minta pasien untuk menggerakkan tungkai bawahnya dengan menyepak ke depan dan
ke belakang dengan kuat atau berjalan kaki dalam ruangan. Tindakan tersebut akan
menyebabkan pengosongan vena akibat pengaliran darah ke bagian dalam. Jika
terdapata kerusakan vena pada bagian dalam atau adanya peningkatan tekanan
hirdrostatis pada vena bagian dalam maka besarnya varises tidak berkurang.

V. Diagnosa

Berdasarkan hasil dari pemeriksaan fisik dan fungsi dasar dan gejala-gejala yang
dialami pasien, maka pasien positif mengalami varises pada kedua tungkai.
J. PROBLEMATIK FISIOTERAPI

1. Anatomical Impairment : Nyeri, rasa berat dan lelah pada kedua tungkai, kejang pada
calf muscle.
2. Functional Limination :
3. Participation Restrictive : Sulit mempertahankan posisi kaki lebih lama dan bepergian
jauh atau berdiri lama.

K. PLANNING

Jangka Panjang : Untuk memperbaiki kualitas hidup penderita, dan juga membantu
pasien kembali beraktivitas dengan normal.
Jangka Pendek :

 Menghilangkan keluhan
 Melancarkan sirkulasi darah
 Memperbaiki fungsi vena
 Menghilangkan kejang/spasme pada calf muscle
 Perbaikan kosmetik
 Mencegah komplikasi

L. INTERVENSI

Ada beberapa intervensi Varises pada ibu hamil menurut pengobatan secara fisioterapis.
Yang passtinya setelah melakukan pemeriksaan lngkap atau melakukan prosedur
assessment. Setelah itu dapat diberikan bebrapa penanganan seperti, Istirahat, Support,
Massage, dan Latihan.

1. Istirahat
Istirahat dilakukan dengan posisi tidur terlentang atau setengah tertidur dengan kaki
diangkat keatas setinggi 15-30 derajat. Diperlukan penggunaan gaya berat untuk
mempercepat pengaliran kembali darah vena di daerah tungkai bawah, selanjutnya
tungkai harus dinaikkan selama pengobatan.
2. Support
pemberian support atau stoking elastis, atau verban yang kuat. Stoking atau verban
dipasang dari jari kaki hingga lipatan paha. Tindakan ini akan menekan vena
superfisioalis dan darah yang mengalir didalamnya. Ketika bangun pagi stoking atau
verban boleh dibuka hingga malam hari sebelum tidur.tindakan ini bertujuan untuk
mengirangi pembengkakan dalam pembuluh darah vena dan mencegah thrombosis, dan
membantu kelancaran aliran darah vena.

3. Massase
Teknik massase yang digunakan adalah efflurange, kneeding, dan picking up untuk
seluruh tungkai bawah. Sebelum melakukan massase dierlukan persiapan penderita
maupun terapi atau alat. Penderita diminta untuk tengkurap dan bagian tungkai yang akan
di massase bebas dari pakaian. FT harus selalu menjaga kebersihan dalam melakukan
massase. Oleh karena itu FT harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum melakukan
massase dan memastikan bahwa kukunya tidak panjang agar tidak mengganggu saat
melakukan massase. Daerah sekitar yang dimassase harus diperhatikan untuk memastikan
tidak ada bengkak atau luka. Gunakan bedak atau pelican seperti baby oil untuk menjaga
kelancaran kontak tangan FT dengan kulit penderita.

 Teknik Pelaksanaan Massase:

a. Efflurange. Merupakan teknik massase dengan gosokan atau arah gerakannya


menuju Jantung. Efflurang diberikan dengan menggunakan seluruh telapak
tangan. Penderita dalam posisi tengkurap dengan terpis berdiri disamping
penderita dan tangan berada di tungkai bawah. Massase dilakukan mulai dari
distal kearah proximal kemudian dilanjutkan ke tungkai atas.
b. Kneeding. Merupakan tenik massase dengan menekan jaringan secara tegak
lurus. Penekanan ini dapat melingkar atau stengah dengan mengunakan ibu jari,
atau jari tangan. Dengan posisi penderitatengkura dan therapist berada di samping
penderita. Teknik massase ini dilakukan pada otot tungkai bawah.
c. Picking up. Merupakan teknik massase menggunakan seluruh telapak tangan atau
satu tanga kemudian jaringan diangkat tegak lurus kemudian pelan-pela di
kembalikan seperi semula.
4. Terapi Latihan

• Terapi latihan dilakukan baik secara aktif maupun pasif. Terapi bertujuan membantu
aliran darah atau limfe dan penguatan otot tungkai bawaah dengan jalan pemberian
gerakan atau latihan berupa latihan pernapasan.
• Latihan pernapasan (ekspirasi dan inspirasi) dilkukan secara bebas. Ketika ekspirasi,
pasian dalam keadaan setengah duduk atau duduk kemudian diajarkan
menghembuskan nafas melalui mulut. Jika perlu ajarkan pasien untuk belajar menkan
tulang rusuk bawah (costa) dengan tangan penderita sendiri atau tangan therapist
disertai getaran secara perlahan dan konsentrasi ang diikuti dengan ayunan tangan.
Latihan I :
• Tidur terlentang dengan kedua tangan dibawa kepala.
• Angkat kedua kakai hingga pinggu dan lutut mendekati badan secara maksimum. Lalu
luruskan dan angkat kaki kiri dan kanan secara vertical dan perlahan-lahan turunkan
kembali seperti biasa.
• Lakukan latihan ini sebanyak 15-20 kali.
Latihan II :
• Tidur terlentang dengan kedua kaki diangkat keatas. Hal ini mungkin dikerjakan
dengan meletakkan kursi di ujung kasur. Badan harus sedikit melengkung dengan
letak paha dan bagian awah kaki lebih keatas.
• Lakukan gerakan pada jari kaki seperti gerakan mencakar dan meregangkan.
• Lakkan selama 30 detik.
Latihan III :
• Posisi badan dan kaki seperti latihan II.
• Gerakan ujung kaki melingkar seperti dari dalam keluar dan sebaliknya.
• Lakukan latihan ini sebanyak 30 detik.
Latihan IV :
• Posisi badan dan kaki seperti latihan II.
• Lakukan gerakan pada ujung kaki kiri dan kanan seperti kerakan menggergaji.
• Lakukn selam 30 detik.
Latihan V :
• Tidur terlentang dengan tangan bebas bergerak.
• Lakukan gerakan menekuk lutut hingga mendekati badan (bergantian untuk kaki kiri
dan kanan), sedangkan tangan memegang ujung kaki. Urut mulai dari ujung kaki,
betis, lutut dan paha.
• Lakukan latihan ini selama 8-10 kali setiap hari.
Latihan VI :
• Tidur terlentang dengan kaki terentang keatas dan kedua tangan dibawah kepala.
• Jepit bantal diantara kedua kaki dan tekan sekuatnya. Pada saat yang sama
lengkungkan badan.
• Lakukan latihan ini sebanyak 4-6 kali selama 30 detik. Gerakan mengegangkan dan
mengendurkan otot harus dilakukan secara perlahan.

Latihan VII :

• Tidur terlentang dengan kaki terangkat keatas dan kedua tangan mendatar di kasur.
• Kaki kanan disilangkan keatas kaki kiri dan tekan yang kuat. Pada saat yang sama
tegangkan kaki dan kendurkan kembali secara perlahan. Sekitas 4 detik setiap satu
gerakan.
• Lakukan latihan in sebanyak 4-6 kali selama 30 detik.

Latihan VIII:

• Jalan dengan ujung jari kaki.


• Jalan dengan tumit kaki dengan jari kaki diatas.
• Selama melakukan latihan ini sebaiknya ridak menggunakan alas kaki dan lakukan
diatas lantai yang keras (sudah dilapisi karpet). Latihan dilakukan selama 30 detik
pada setiap Gerakan.
• Pada saat terakhir latihan, bernafas di ruangan atau di depan jendela dengan ventilasi
udara yang baik.

Anda mungkin juga menyukai