Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Studi perbandingan hukum pidana pada dasarnya memperbandingkan

berbagai sistem hukum yang ada. Menurut Barda Nawawi Arief dalam

bukunya ia mengatakan bahwa.

Dalam Black’s Law Dictionary di definisikan: “Comparative


Jurisprudence is the study of the principles of legal science by the
comparison of various systems of law” dalam hal ini yang
diperbandingkan adalah dua atau lebih sistem hukum yang berbeda.
Hukum pidana positif Indonesia ialah berasal dari keluarga hukum Civil
Law System yang mementingkan sumber hukum dari peraturan
perundangan yang ada dan berlaku di Indonesia. Sementara Inggris
menganut sistem hukum Common Law System yang mengutamakan
kebiasaan yang berlaku di sana. Kebiasaan tersebut dapat berupa Norma
maupun putusan-putusan hakim sebelumnya.1
Menurut penulis selain perbedaan seperti yang tersebut di atas, kedua

sistem hukum pidana kedua Negara sebenarnya memiliki kesamaan. Di

Indonesia dikenal hukum pidana adat yang sampai saat ini masih diakui dan

dipakai dalam masyarakat. Dilihat dari sumber hukumnya, sebenarnya hukum

pidana adat tersebut berasal dari kebiasaan yang berlaku dimasyarakat. Hal

tersebut sama halnya dengan sumber hukum common law yang berasal dari

kebiasaan yang ada di masyarakat.

Menurut Barda Nawawi Arief di dalam bukunya ia mengatakan bahwa.

“Negara Inggris ialah Negara yang menggunakan sistem hukum yang

1
Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, Cet. Delapan, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2010, hal. 22.

1
bersumber dari Common law dan Statute law. Common law ialah hukum yang

bersumber pada kebiasaan atau adat istiadat atau hukum tidak tertulis,

sedangkan Statute law adalah hukum yang mengikat (berdasarkan UU)”.2

Negara Indonesia juga sebenarnya menggunakan sistem hukum yang

hampir sama dengan sistem hukum Inggris yang juga bersumber dari hukum

tidak tertulis/kebiasaan. Untuk mengetahui perbedaan sumber hukum pidana

Indonesia dan sumber hukum pidana Inggris tersebut, dan Berdasarkan latar

belakang masalah tersebut maka penulis ingin mengangkat masalah tersebut ke

dalam makalah yang berjudul “Perbandingan sumber hukum pidana

Indonesia dan sumber hukum pidana Inggris”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dan untuk lebih

mempertajam pembahasan pada bab pembahasan maka penulis merumuskan

masalah yang ingin dibahas yaitu:

1. Apa saja yang termasuk ke dalam sumber-sumber hukum pidana Indonesia?

2. Apa saja yang termasuk ke dalam sumber-sumber hukum pidana Inggris?

C. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode penulisan

deduktif ke induktif yaitu menggunakan penulisan dari umum ke khusus,

penulis pertama-tama menerangkan masalah perbandingan hukum pidana

secara umum kemudian membahas perbandingan hukum pidana secara khusus

2
Ibid.

2
pada bab pembahasan yaitu mengenai sumber hukum pidana Indonesia dan

sumber hukum pidana Inggris.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Konseptual

Untuk memudahkan pembahasan dan pencegahan penafsiran yang

berbeda, maka penulis menjelaskan beberapa pengertian yang berkaitan

dengan judul makalah ini, yaitu:

1. Perbandingan

Menurut G. Guitens Bourgouis yang dikutif oleh Barda Nawawi Arief

di dalam bukunya ia mengatakan yaitu:

Perbandingan hukum adalah metode perbandingan yang diterapkan


pada ilmu hukum. Perbandingan hukum bukanlah ilmu hukum,
melainkan hanya suatu metode studi, suatu metode untuk meneliti
sesuatu, suatu cara kerja yakni perbandingan. Apabila hukum itu
terdiri atas seperangkat peraturan, maka jelaslah bahwa “hukum
perbandingan” (vergelijkende recht) itu tidak ada. Metode untuk
membanding-bandingkan aturan hukum dari berbagai sistem hukum
tidak mengakibatkan perumusan-perumusan aturan-aturan yang berdiri
sendiri: tidak ada aturan hukum perbandingan. 3

2. Sumber

Menurut kamus besar bahasa Indonesia sumber, memiliki arti “Asal”.4

3. Hukum Pidana

Menurut kamus hukum, hukum pidana berarti “Hukum yang

mencakup keharusan dan larangan serta bagi pelanggarnya akan dikenakan

sanksi hukuman pidana terhadapnya”.5

3
Ibid., hal. 5.
4
Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. Media Pustaka Phoenix,
Jakarta, 2010, hal. 813.
5
M. Marwan dan Jimmy P, Kamus Hukum, Cet. Kesatu, Reality Publisher, Surabaya,
2009, hal. 269.

4
4. Indonesia

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, “Indonesia berarti nama

Negara kepulauan di asia tenggara yang terletak diantara benua asia dan

benua Australia”.6

5. Inggris

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Inggris berarti “Nama bangsa

yang mendiami kepulauan Inggris”.7

Berdasarkan pengertian di atas yang penulis maksud adalah untuk

mengetahui bagaimana perbandingan hukum pidana khususnya perbandingan

sumber hukum pidana Indonesia dan sumber hukum pidana Inggris.

B. Kerangka Teoritis

Untuk melakukan perbandingan hukum, perlu terlebih dahulu

mempelajari sistem hukum dari Negara asing. Setiap Negara mempunyai

sistem hukumnya sendiri-sendiri. Untuk mengetahui sistem hukum asing itu

sangatlah sulit. Oleh karena itu untuk memudahkan diadakan klasifikasi

sistem hukum yang ada di dunia dalam beberapa keluarga hukum.

Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai kriteria penggolongan

keluarga hukum itu. Di dalam buku Rene David yang dikutif oleh Barda

Nawawi Arief dikemukakan bahwa. Beberapa penulis mendasarkan klasifikasi

keluarga hukum pada, struktur konseptual dari hukum, (law’s conceptual

structure) atau pada teori sumber-sumber hukum, (the teori of sources of the

law). Penulis lain menekankan pada tujuan sosial yang ingin dicapai dengan

6
Tim Pustaka Phoenix, Op.Cit., hal. 351.
7
Ibid., hal. 355.

5
bantuan sistem hukum, (the social objectives to be achieved with the help of

the legal system) atau pada tempat hukum itu sendiri dalam tatanan sosial (the

place of law itself within the social order).8

Meneurut R. David dan Brierly yang dikutif oleh Barda Nawawi Arief

mengenai hal di atas adalah yaitu:

Kedua pertimbangan itu agaknya sama-sama menentukan untuk tujuan


pengklasipikasian. Ditegaskan selanjutnya, bahwa dua hukum tidaklah
dapat dimasukkan dalam keluarga hukum yang sama sekalipun
keduanya menggunakan konsepsi-konsepsi dan tehnik-tehnik yang sama
apabila mereka 1)didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis, politis dan
prinsip-prinsip ekonomi yang berbeda dan apabila mereka 2) berusaha
untuk mencapai dua tipe masyarakat yang berbeda secara keseluruhan.
Kedua kriteria ini menurut R.David harus digunakan secara kumulatif
dan tidak secara terpisah.9

Menurut Zweigert dan Kotz yang dikutif oleh Barda Nawawi Arief di

dalam bukunya ia mengatakan bahwa ia membedakan 8 (delapan) lingkungan

hukum (Rechtskreise), yaitu:

1. Lingkungan hukum romanistis.


2. Lingkungan hukum jerman.
3. Lingkungan hukum skandinavia.
4. Stelsel-stelsel hukum common law.
5. Stelsel-stelsel hukum sosialistis.
6. Stelsel-stelsel hukum timur jauh.
7. Stelsel hukum islam.
8. Stelsel hukum hindu.10

Menurut Marc Ancel yang dikutif oleh Barda Nawawi Arief yang

mengatakan bahwa:

Para sarjana hukum komparatif setuju dalam membedakan sekurang-


kurangnya lima jenis hukum nasional yang dikelompokkan dalam satu
keluarga berdasarkan a) asal usulnya b) sejarah perkembanganya c)
metode penerapanya d). kelima keluarga besar hukum itu ialah:
8
Barda Nawawi Arief, Op. Cit., hal. 15.
9
Ibid.
10
Ibid., hal. 16.

6
1. Sistem eropa continental dan amerika latin (atau disebut system of
civil law).
2. Sistem anglo-american (atau disebut common law system).
3. Sistem timur tengah (middle east system). Missal Irak, Yordania,
Saudi Arabia, Libanon, Siria, Maroko, Sudan dan sebagainya.
4. Sistem Timur Jauh (Far East System). Missal Cina, Jepang.
5. Sistem Negara-negara sosialis (socialist law system).11

Berdasarkan pembahasan di dalam makalah ini sesuai dengan keluarga

hukum di atas maka yang dibahas adalah sistem eropa continental atau disebut

system of civil law, yang digunakan oleh Negara Indonesia dan sistem anglo

american atau disebut common law system yang digunakan oleh Negara

Inggris, dan yang menjadi pembahasan inti dalam makalah ini adalah khusus

membahas masalah sumber hukum dari Negara Indonesia dan Negara Inggris.

11
Ibid.

7
BAB III

PEMBAHASAN

A. Sumber Hukum Pidana Indonesia

Hukum pidana yang berlaku di Indonesia pada saat ini adalah hukum

pidana yang telah dikodifikasi, yaitu aturan-aturanya telah disusun dalam satu

kitab undang-undang hukum pidana KUHP. Menurut Sudarsono yang dikutif

oleh Tonggat di dalam bukunya ia mengatakan bahwa. “Pada prinsipnya

hukum pidana adalah mengatur tentang kejahatan dan pelanggaran terhadap

kepentingan umum dan perbuatan tersebut diancam dengan pidana yang

merupakan suatu penderitaan”. Berkaitan dengan sumber-sumber hukum

pidana di Indonesia dapat dibedakan atas sumber hukum tertulis dan sumber

hukum tidak tertulis:

1. Sumber hukum pidana tertulis

Sumber hukum Pidana tertulis adalah sumber hukum pidana yang

berupa peraturan hukum pidana yang dikeluarkan oleh lembaga Negara yang

berhak membuat peraturan hukum. Sumber hukum tertulis ini sendiri ada

yang terkodifikasi dan ada yang tidak terkodifikasi yaitu:

a. Sumber Hukum Tertulis yang Terkodifikasi (Sumber hukum utama)

Sumber hukum ini tersusun dalam satu buku. Sumber hukum

pidana tertulis yang terkodifikasi yakni Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana (KUHP). KUHP dikatakan sebagai sumber hukum utama

dikarenakan dalam KUHP terdapat aturan-aturan umum hukum pidana

8
yang berlaku bagi semua peraturan hukum pidana selama peraturan

tersebut tidak mengatur sendiri. Dalam hal ini berlaku asas Lex Specialis

Derograt Lex Generale. Sebagai sumber hukum pidana yang tertulis dan

terkodifikasi, KUHP memiliki sistematika sebagai berikut:

1) Buku I memuat Pasal 1 sampai dengan Pasal 103, berisi Ketentuan

Umum Buku I ini disebut sebagai ketentuan umum karena berlaku

untuk semua peraturan pidana, baik yang terdapat dalam KUHP

maupun peraturan lain di luar KUHP sepanjang tidak mengatur secara

khusus.

2) Buku II memuat Pasal 104 sampai dengan Pasal 448, berisi tentang

Kejahatan.

3) Buku III memuat Pasal 449 sampai dengan Pasal 669, berisi tentang

Pelanggaran.

b. Sumber hukum tertulis yang tidak terkodifikasi

Sumber hukum ini meliputi segala peraturan Perundangan hukum

pidana lain diluar KUHP, yaitu:

1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor

20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan

Kekerasan dalam Rumah Tangga.

9
3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana

Pencucian Uang. Dan undang-undang pidana yang lain yang berada

diluar KUHP.

2. Sumber hukum pidana tidak tertulis

Sumber hukum pidana tidak tertulis adalah kebiasaan-kebiasaan yang

berlaku dalam suatu masyarakat tertentu sehingga menjadi suatu peraturan

hukum pidana adat. Keberadaan hukum pidana adat ini masih diakui

keberadaannya dengan masih berlakunnya Pasal 5 Ayat 3 sub b Undang-

Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka Negara Indonesia yang termasuk

kedalam golongan keluarga hukum civil law sistem sumber hukumnya terdiri

dari dua sumber yaitu sumber hukum pidana tertulis baik yang dikodifikasi

maupun yang tidak dikodifikasi. Dan sumber hukum tidak tertulis yaitu hukum

pidana adat yang terdapat pada masing-masing daerah di Indonesia yang

sampai saat ini keberadaanya masih tetap diakui oleh Negara.

B. Sumber Hukum Pidana Inggris.

Menurut Munir Fuandi di dalam bukunya ia mengatakan bahwa. Negara

Inggris adalah Negara kesatuan (Unitary State) dengan sebutan United

Kingdom yang terdiri dari: England, Wales, dan Irlandia Utara, pemerintahanya

berbentuk Monarki dan sistem kenegaraan yang terdesentralisasi. Negara

Inggris menganut sistem pemerintahan parlementer dimana kekuasaan

pemerintah terdapat pada perdana menteri dan menteri bisa juga disebut

10
kabinet sedangkan kekuasaan sebagai kepala Negara berada di tangan ratu.

Seperti teori dari sistem pemerintahan parlementer, ratu tidak mempunyai

kekuasaan politik karena ratu hanya berperan sebagai simbol kedaulatan dan

persatuan Negara. Kekuasaan legislatif berada di tangan parlemen atau biasa

disebut House of commons dan house of lords. Sistem hukum Angglo saxxon

disebut hukum Common Law merupakan suatu sistem hukum yang berlaku di

Inggris.12 Sumber hukum pidana Inggris sendiri yaitu:

1. Common Law

Menurut Barda Nawawi Arief di dalam bukunya ia mengatakan

bahwa, Hukum pidana Inggris terutama bersumber pada Common Law,

yaitu bagian dari hukum Inggris yang bersumber pada kebiasaan atau adat

istiadat masyarakat yang dikembangkan berdasarkan keputusan pengadilan.

jadi bersumber dari hukum tidak tertulis dalam memecahkan masalah atau

kasus-kasus tertentu yang dikembangkan dan diunifikasikan dalam

keputusan-keputusan pengadilan sehingga merupakan Precedent. Oleh

karena itu Common Law ini sering juga disebut Case Law atau juga hukum

Precedent.

Common Law yang dikembangkan dalam keputusan-keputusan

pengadilan ini mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena di Inggris

berlaku asas Stare Decisis atau asas The binding force of precedents.

11
Menurut barda Nawawi Arief di dalam bukunya asas ini mewajibkan

hakim untuk mengikuti keputusan hakim yang ada sebelumnya. Selain itu

hakim tidak dapat mendengar argument hukum penuh tetapi berkonsentrasi

pada temuan faktual. Jadi pengadilan tinggi mengeluarkan putusan yang

mengikat dan pengadilan yang lebih rendah harus mengikuti, kekuatan

mengikat dari hukum precedent ini terletak pada bagian putusan yang

disebut ratio decidendi, yaitu semua bagian putusan atau dalam kasus

konkret hal-hal lainya yang berupa penyebutan fakta-fakta yang tidak ada

relevansinya secara langsung dengan perkara-perkaranya, yang disebut

Orbiter dicta tidak mempunyai kekuatan mengikat.

Dalam prakteknya sistem precedent itu tidak seketat yang

dibayangkan, sebab dapat menghindari kekuatan mengikat dari racio

decidendi itu apabila ia dapat menunjukkan bahwa perkara yang sedang

dihadapinya itu ada perbedaan dengan perkara yang diputuskan terdahulu.

Hakim atau advokat dapat menggunakan pembedaan seperti itu untuk

melumpuhkan kekuatan mengikat dari precedent.13

2. Statute Law

Menurut Barda Nawawi Arief di dalam bukunya ia mengatakan

bahwa, Statute Law adalah, hukum yang berasal dari perundang-undangan.

Seperti halnya dengan Common Law, Statute Law ini pun mempunyai

Binding Authority (kekuatan mengikat). Berbeda dengan di Indonesia,

hukum pidana materil yang berbentuk hukum undang-undang (statute law)

13
Ibid., hal. 31-32.

12
di Inggris hanya memuat perumusan tindak pidana kejahatan tertentu,

misalnya:

a. UU mengenai tindak pidana terhadap orang (Offences against the Person

Act) tahun 1861.

b. UU Sumpah Palsu (Perjury Act) tahun 1911.

c. UU tindak Pidana Seksual (Sexual Offecens Act) 1956.

d. UU mengenai pembunuhan (Homicide Act) 1957.

e. UU mengenai pembunuhan anak (Infanticide Act) 1922, yang telah

diubah dengan UU tahun 1938.

f. UU mengenai pembunuhan berencana atau UU mengenai penghapusan

pidana mati (Murder/Abolition of death Penalty Act) tahun 1965.

g. UU mengenai abortus (Abortion Act) tahun 1967.

h. UU mengenai pencurian (Theft Act) tahun 1968.

i. UU mengenai obat-obatan berbahaya (The Dangerous Drugs Act) tahun

1965.

j. UU mengenai pembajakan pesawat udara (Hijacking Act) 1971.14

Menurut penulis dari contoh undang-undang di atas terlihat, bahwa

perumusan tindak pidana di Inggris tidak dikodifikasikan dalam satu kitab

undang-undang secara tunggal, tetapi tersebar dalam beberapa undang-

undang tersendiri. Dengan demikian pula tidak dikenal undang-undang yang

memuat ajaran-ajaran umum hukum pidana seperti halnya dengan aturan

umum buku I KUHP Indonesia.

14
Ibid., hal. 32-33.

13
Menurut Barda Nawawi Arief di dalam bukunya ia mengatakan

bahwa. Di samping kedua sumber hukum tersebut (Common law dan

Statute law), ada pula beberapa texbook yang memuat pendapat atau

ajaran/doktrin dari para penulis terkenal. Textbook atau pendapat para

penulis ini tidak mempunyai binding authority (kekuatan mengikat), tetapi

beberapa diantaranya mempunyai kekuatan persuasif, artinya yang bersifat

memberikan keyakinan/dorongan kuat, antara lain yaitu:

a. Hale,s History Of The Crown (1736)

b. Foster’s Crown Law (1762)

c. Blackstone’s Commentaries (1765).

Ajaran-ajaran umum hukum pidana pada umumnya terdapat dalam

textbooks para penulis.15

Dari pembahasan di atas maka penulis dapat mengartikan bahwa

perbedaan antara sumber hukum pidana Indonesia dan Inggris adalah yaitu:

1. Sistem hukum yang berlainan Indonesia menganut sistem hukum Civil

law sistem sedangkan Inggris menganut sistem hukum Common law

sistem.

2. Di Indonesia peraturan perundang-undangan ada yang dikodifikasi

dan ada yang tidak dikodofikasi. Sedangkan di Inggris peraturan

perundang-undangan sama sekali tidak ada yang dikodifikasi.

3. Di Inggris tidak mengenal ketentuan umum yang memuat asas seperti

dalam buku I KUHP Indonesia.

15
Ibid., hal. 33.

14
Menurut penulis selain perbedaan yang terdapat seperti di atas antara

sumber hukum pidana Indonesia dan sumber hukum pidana Inggris juga

terdapat sedikit persamaan yaitu tentang penggunaan hukum pidana adat.

15
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sumber hukum pidana Indonesia yaitu Negara Indonesia yang termasuk

kedalam golongan keluarga hukum civil law sistem, sumber hukumnya terdiri

dari dua sumber, yaitu sumber hukum pidana tertulis baik yang dikodifikasi

maupun yang tidak dikodifikasi. Dan sumber hukum tidak tertulis yaitu hukum

pidana adat yang terdapat pada masing-masing daerah di Indonesia yang

sampai saat ini keberadaanya masih tetap diakui oleh Negara.

Sumber hukum pidana inggris terbagi dua, yaitu Common Law dan

Statute law. Common law ialah hukum Inggris yang bersumber pada kebiasaan

atau adat istiadat masyarakat yang dikembangkan berdasarkan keputusan

pengadilan. Sedangkan Statute law ialah hukum yang berasal dari perundang-

undangan. Di samping kedua sumber hukum tersebut Common law dan Statute

law, ada pula beberapa texbook yang memuat pendapat atau ajaran/doktrin dari

para penulis terkenal.

B. Saran

Dalam makalah ini penulis ingin memberikan saran, bahwa untuk

kedepanya pemerintah dan DPR perlu mempercepat pengesahan terhadap

RKUHP Indonesia karena mengingat KUHP yang berlaku pada saat ini

bersumber dari peninggalan zaman colonial Belanda, yang tentu saja banyak

aturan-aturan hukumnya tidak sesuai lagi dengan keadaan masyarakat

Indonesia pada saat ini.

16
17