Anda di halaman 1dari 8

TEMU ILMIAH IPLBI 2017

Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove


dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene
Fadhil Surur(1), Nurul Wahdaniyah(2), Ayyul Hizbayn(2)
fadhil.surur@uin-alauddin.ac.id

(1)
Laboratorium Keahlian Perencanaan Tata Ruang Pesisir dan Kepulauan, Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
(2)
Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Abstrak

Pesisir barat Majene di Kecamatan Pamboang memegang peran penting menjaga kestabilan ruang
ekosistem darat dan laut, sentra produksi perikanan, lahan permukiman dan pengembangan hasil
hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun desain kebijakan dalam mengurangi dampak
kerusakan lingkungan melalui integrasi pendekatan bioregion, pola spasial dan konservasi mangrove
menjadi satu dimensi yang komprehensif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Juli 2016.
Jenis data terdiri dari data primer mencakup kondisi fisik wilayah pesisir, prasarana dan sarana, pola
penggunaan lahan serta ekosistem pesisir dan data sekunder yaitu pola ruang RTRW, hidro-
oceanografi, fasilitas serta demografi wilayah. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
observasi lapangan, pendataan instansional dan studi literatur. Pengkajian bioregion wilayah
dilakukan dengan analisis penetapan fungsi kawasan untuk menilai karakteristik bioregion lahan,
sedangkan penilaian pola spasial menggunakan analisis skalogram dan analisis sarana dan prasarana
wilayah sebagai pembentuk struktur wilayah. Pengembangan konservasi menggunakanan analisis
kesesuaian lahan mangrove.Analisis SWOT bertujuan merangkum seluruh hasil pendekatan yang
digunakan sehingga menghasilkan alternatif kebijakan yang komprehensif. Berdasarkan pendekatan
bioregion menunjukkan terdapat 3 fungsi yaitu kawasan lindung, penyangga dan budidaya. Hasil
kajian pola spasial dibagi menjadi 3 hierarki spasial yaitu PPL primer, sekunder dan tersier. Pada
pendekatan konservasi secara kuantitatif layak dikembangkan menjadi kawasan konservasi. Strategi
integrasi ketiga pendekatan diwujudkan dalam pengembangan zona kegiatan sehingga interaksi
antara kawasan lindung dan budidaya dapat seimbang.

Kata-kunci : bioregion, pola spasial, konservasi

Pendahuluan Kecamatan Pamboang merupakan kecamatan


yang memiliki potensi pengembangan konser-
Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam vasi mangrove di Kabupaten Majene Sulawesi
pada wilayah pesisir, salah satunya adalah Barat. Berdasarkan perda RTRW Kabupaten
hutan mangrove. Hutan mangrove sebagai Majene nomor 12 tahun 2012, Kecamatan
sumber daya alam hayati mempunyai keraga- Pamboang masuk dalam rencana pengemba-
man potensi yang memberikan manfaat bagi ngan hutan lindung khususnya hutan bakau,
kehidupan manusia baik dalam bentuk produk dimana sebagian besar wilayah pesisirnya dike-
maupun jasa. Nilai estetik hutan mangrove lilingi oleh mangrove. Potensi pengembangan
dapat dilihat dari potensi keindahan alam dan mangrove di kawasan ini dapat diamati dengan
lingkungan berupa komponen penyusun eko- adanya pembibitan mangrove di kawasan pesisir
sistem yang terdiri dari vegetasi, biota atau pantai. Sumber daya ini juga memberikan ba-
organisme asosiasi, satwa liar, dan lingkungan nyak manfaat dari segi ekonomi dan ekologi,
sekitarnya. disisi lain keberadaan mangrove dijadikan seba-
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | E 031
Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene
gai media masyarakat dalam kegiatan yang Metode Pengumpulan Data
bertentangan dengan budaya setempat.
1. Observasi lapangan yaitu teknik pengum-
Seiring perkembangan ragam aktivitas masya- pulan data melalui pengamatan yang lang-
rakat yang berdampak pada penurunan kualitas sung pada objek yang menjadi sasaran
lingkungan mengakibatkan banyak terjadi de- penelitian untuk memahami kondisi dan
gradasi lingkungan karena masih rendahnya potensi kawasan pesisir yang menjadi
pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan objek penelitian.
lingkungan. Selain itu kurangnya partisipasi
masyarakat dalam perencanaan dan pembangu- 2. Pendataan instansional, yaitu salah satu
nan wilayah sehingga masih banyak pemukiman teknik pengumpulan data melalui insatansi
masyarakat pada kawasan lindung yang meng- terkait guna mengetahui data kuantitatif
akibatkan perubahan fungsi hutan secara tidak dan kualitatif objek penelitian.
langsung.
3. Studi Literatur (library research) adalah
Pengembangan wilayah harus didukung dengan cara pengumpulan data dan informasi
pemanfaatan layanan fasilitas sosial, ekonomi, melalui literatur yang terkait dengan studi
mempertimbangkan bentang alam wilayah dan yang akan dilakukan.
upaya menjaga kelestarian lingkungan. Berang-
kat dari permasalahan tersebut maka perlu Metode Analisis
menemukenali potensi dan strategi pengemba-
1. Analisis Penetapan Fungsi Kawasan ;Dalam
ngan kawasan melalui pendekatan bioregion,
analisis ini variabel yang digunakan antara
pola spasial dan konservasi mangrove sebagai
lain; topografi/kelerengan, jenis tanah dan
inovasi pengembangan wilayah yang memper-
intensitas curah hujan dengan kategori
hatikan kelestarian lingkungan pada umumnya
kawasan yang kemudian dioverlay dalam
dan hutan mangrove pada khususnya.
peta sehingga menghasilkan fungsi kawa-
Metode Penelitian san.

Lokasi dan Waktu Penelitian 2. Analisis Kebutuhan Sarana Prasarana;


Untuk mengukur tingkat kebutuhan sarana
Lokasi penelitian ditetapkan di Kecamatan Pam- dan prasarana di wilayah penelitian 20
boang Kabupaten Majene Sulawesi Barat. Lokasi tahun kedepan, dapat diketahui dengan
penelitian terkait dengan kawasan konservasi menggunakan metode analisis SPM (Stan-
mangrove berada di 9 kelurahan/desa yaitu dar Pelayanan Maksimum) berdasar-kan
Kelurahan Sirindu, Desa Balombong, Desa Pasu- Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/ 2005
loang, Kelurahan Lalampanua, Desa Tinambung, dan Standar Nasional Indonesi Tahun 2004.
Bonde, Bonde Utara, Bababulo dan Bababulo
Utara dengan total luas kawasan adalah 2.419 3. Analisis Skalogram ; Analisis Skalogram
Ha. digunakan untuk mengetahui ketersediaan
sarana dan prasarana dalam suatu wilayah
Jenis dan Sumber Data yang kemudian menghasilkan indeks sen-
tralitas setiap wilayah. Nilai dari indeks
Menurut jenisnya data terbagi atas dua yaitu sentralitas ini yang akan menentukan hie-
jenis data kualitatif yang berupa non angka rarki wilayah perencanaan. Hasil akhir
yaitu kebijakan pemerintah, kondisi fisik wilayah dibagi menjadi 3 hierarki yaitu PPL primer,
studi, kondisi hutan mangrove, fasilitas dan pe- sekunder dan tersier.
layanan, sosial budaya masyarakat. Data kuant-
itatif yang merupakan jenis data berupa angka 4. Analisis Kesesuaian Mangrove ;Penentuan
atau numerik antara lain data jumlah penduduk, kesesuaian berdasarkan perkalian skor dan
luas wilayah, kondisi geografis wilayah maupun bobot yang diperoleh dari setiap parameter.
ketinggian wilayah. Kesesuaian kawasan dilihat melalui tingkat
E 032 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017
Fadhil Surur
persentase kesesuaian dari penjumlahan dari segi ekonomi maupun ekologi. Dari segi
nilai seluruh parameter. Pada penelitian ini ekologi dapat melindungi daerah pesisir dari
tingkat kesesuaian dibagi menjadi 3 kelas, abrasi dan menahan air laut yang akan naik
yaitu Sangat Sesuai (S1), Sesuai (S2), kedarat.
Sesuai Bersyarat (S3) dan Tidak Sesuai (N).
Potensi lahan dengan nilai S1 dan S2 Jenis mangrove yang terdapat di Kecamatan
menjadi prioritas utama (Hutabarat dan Pamboang juga berpariatif yaitu rhizophora
Khomsin dalam Wardhani, 2014). apiculata, avicennia marina, aegiceras sp,
bruguiera gymnorrhiza dan sonneratia alba. Ber-
5. Analisis SWOT ; Analisis ini digunakan dasarkan data dari Pemda Sulawesi Barat dan
untuk melihat apa saja yang menjadi FKIP Unhas Tahun 2011, Keadaan salinitas di
kekuatan, potensi, kelemahan serta anca- Kecamatan Pam-boang tercatat 29 o/oo, DO
man wilayah. Berdasarkan beberapa indi- 6,90 ppm, pH 8,70 dengan kecepatan arus 0,15
kator tersebut maka akan dilakukan pem- m/det. Besarnya potensi tersebut maka wilayah
bobotan untuk mengetahui strategi pe- pesisirnya semakin terjaga dari degradasi
ngembangan yang mengintegrasikan ke- lingkungan.
tiga pendekatan tersebut.

Hasil dan Pembahasan

Gambaran Umum Wilayah

Kecamatan Pamboang merupakan salah satu


dari 8 Kecamatan di Kabupaten Majene dengan
luas wilayah 7.019 Ha. Letak Kecamatan Pam-
boang secara geografis terletak antara 118° 52’
BT serta 3°24’ LS hingga 3°32’LS. Lokasi
penelitian ditetapkan sebagai pengembangan Gambar 1. Kondisi magrove
kawasan konservasi mangrove dengan wilayah
perencanaan meliputi 9 kelurahan/desa dengan Bioregion
luas total kawasan adalah 2.419 Ha. Secara
Pendekatan bioregion dalam penelitian ini
umum lokasi penelitian merupakan daerah
menggunakan analisis fungsi kawasan yang me-
pantai dengan topografi 0-750 mdpl dengan
ngeluarkan batas-batas fungsi wilayah lindung,
kemiringan lereng 0->40 %. Jenis tanah yang
penyangga dan budidaya yang melindungi,
terdapat diwilayah penelitian terdiri dari dua
menjaga dan mempertahankan keberlanjutan
jenis yaitu Mediteran merah kuning Brown
dari segi ekologi dan produktivitas sumberdaya
Forest Soil dengan luas 1.117 Ha dan Rendzina
alam. Hasil overlay mengkombinasikan 3 data
seluas 1.302 Ha.
spasial berupa peta fisik dasar yaitu jenis tanah,
Potensi Sumberdaya Pesisir kemiringan lereng dan curah hujan yang sesuai
ketentuan.
Produksi perikanan laut berupa Teripang dan
sirip ikan Hiu menjadi skala prioritas masyarakat Berdasarkan analisis overlay dan skoring
khususnya di Desa Bonde dan Desa Bonde Utara. terdapat tiga fungsi kawasan yaitu kawasan
Selain itu, potensi wilayah pesisir yang menonjol budidaya, lindung dan penyangga. Hasil untuk
adalah sebagian besar wilayah pesisirnya di- kawasan lindung sebesar 831 ha, kawasan
kelilingi oleh mangrove. penyangga 1.371 Ha dan untuk kawasan
budidaya 217 Ha.
Potensi pengembangan mangrove teridentifikasi
dengan adanya pembibitan mangrove di bebe-
rapa lokasi yang memiliki banyak manfaaat baik
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | E 033
Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene
Tabel 1. Analisis Fungsi Kawasan Bababulo
86,67 III PPL Tersier
Utara
Fungsi Luas Persentase
No. Bonde
Kawasan (Ha) (%) 64,28 III PPL Tersier
Utara
1 Lindung 831 34,35
Balombong 64,28 III PPL Tersier
2 Penyangga 1.371 56,68
(Sumber: Hasil analisis tahun 2016)
3 Budidaya 217 8,97
Jumlah 2.419 100
(Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016) Wilayah penelitian secara administrasi ber-
batasan langsung dengan laut sehingga per-
Kondisi bioregion di Kecamatan Pamboang di- kembangan pola keruangannya berorientasi
dominasi oleh kawasan penyangga dengan luas pada wilayah pesisir dan jaringan jalan.
1.371 Ha sehingga dapat menopang keberadaan
kawasan lindung yang akan menjaga kestabilan Pola spasial yang terbentuk mengarah pada tipe
wilayah secara umum, diluar dari fungsi budi- kawasan linear atau memanjang karena masya-
daya. rakat cenderung memilih permukiman dekat
akses transportasi dan mata pencaharian me-
reka sebagai nelayan dan menjadikan Desa
Lalampanua sebagai pusat utama kegiatan.

Gambar 2. Peta fungsi lahan

Pola Spasial

Pola spasial dikaji dengan pendekatan skalo- Gambar 3. Peta pola spasial
gram dengan hasil analisis Kelurahan Lalam-
panua berada pada orde 1 PPL Primer (pusat Kesesuaian Lahan
pelayanan lokal), karena pada wilayah tersebut
memiliki fasilitas terbanyak dibandingkan de- Potensi mangrove yang teridentifikasi kemudian
ngan wilayah lainnya. Desa Tinambung berada dikaji kesesuaiannya. Potensi wilayah pesisir di
pada orde 2 PPL Sekunder dan Desa Buttu kawasan ini adalah sebagian besar wilayah
Pamboang berada pada Orde III PPL Tersier. pesisirnya dikelilingi oleh mangrove.

Tabel 2. Hirarki Pusat-Pusat Pelayanan di Kecamatan Aktivitas masyarakat dengan berbagai peruntu-
Pamboang kan seperti permukiman, perikanan, kebutuhan
rumah tangga menjadikan gangguan ekologis
Kelurahan Indeks terhadap ekosistem mangrove.
Hirar Keteranga
/ Sentralis
ki n
Desa asi Maka diperlukan upaya pengelolan lingkungan
Lalampanua 234,28 I PPL Primer
PPL
hidup yang dapat menjamin keberlanjutan eko-
Tinambung II sistem mangrove sejalan dengan kebutuhan
150,95 Sekunder
PPL lahan budidaya.
Sirindu II
114,28 Sekunder
PPL
Bababulo 103,33 II
Sekunder
Bonde 97,61 III PPL Tersier
Pesuloang 86,67 III PPL Tersier
E 034 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017
Fadhil Surur
Tabel 3. Hasil Analisis Kesesuaian Lahan Mangrove (Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016)
No Tingkat Kesesuaian Luas (ha)
Tabel 5. Pembobotan Analisis SWOT ditinjau dari
1 Sangat Sesuai (S1) 417
2 Sesuai Bersyarat (S2) 931 Faktor Eksternal
3 Tidak Sesuai (N) 1.071
No Faktor Bobot Rating BxR
Jumlah 2.419
(Sumber: Hasil Analisis 2016) 1 Peluang
Pola Spasial 2 0,2 0,4
Fungsi Kawasan 3 0,3 0,9
Jumlah 0,5 1,3
2 Ancaman
Degradasi
Lingkungan 2 0,5 1
(Konversi Hutan)
Jumlah 0,5 1
Total 1 2,3
(Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016)

Selisih nilai kekuatan dan kelemahan serta


peluang dan ancaman memperoleh faktor inter-
nal dan eksternal nilai positif. Hasil analisis
diatas menunjukkan bahwa kawasan penelitian
berada pada kuadran I (Srategi Agresif) dengan
Gambar 4. Peta hasil kesesuaian lahan nilai internal dan eksternal (+).

Hasil analisis kesesuaian lahan memperlihatkan Oleh karena itu strategi yang dapat diambil
luas lahan yang sangat sesuai untuk ditanami dalam merencanakan kawasan konservasi
mangrove adalah 417 ha. Sementara untuk mangrove yang berkelanjutan adalah dengan
kategori sesuai bersyarat sebesar 931 ha dan mempertahankan kekuatan dan memaksimal-
tidak sesuai sebesar 1.071 ha, maka pengemba- kan peluang.
ngan konservasi mangrove diprioritaskan pada
lahan dengan nilai S1 dan S2 dengan total luas Konsep Pengembangan
pengembangan 1.348 Ha.
Berdasarkan hasil analisis maka integrasi pen-
Analisis SWOT dekatan bioregion, pola spasial dan konser-vasi
mangrove mangacu pada:
Komponen analisis SWOT yaitu faktor internal
tentang kekuatan dan kelemahan sedangkan Rencana Struktur Ruang Kawasan Pesisir
eksternal menyangkut peluang dan ancaman Berbasis Konservasi
dari luar kawasan penelitian. Hasil identifikasi
ditabelkan pada tabel berikut. a. Pusat Pelayanan Lingkungan PPL adalah
pusat permukiman yang berfungsi untuk
Tabel 4. Pembobotan Analisis SWOT ditinjau dari melayani kegiatan skala antar desa.
Faktor Internal
b. Pusat Pelayanan Lingkungan Primer (PPL
Primer) adalah pusat permukiman yang
No Faktor Bobot Rating BxR
berfungsi untuk melayani kegiatan skala
1 Kekuatan
antar desa dalam suatu kawasan yang
Hutan mangrove 4 0,3 1,2
Terletak berada di Desa Lalampanua. Kegiatan yang
3 0,2 0,6
didaerah pesisir diarahkan adalah pusat pengembangan
Jumlah 0,5 1,8
2 Kelemahan industri perikanan, pelayanan pelatihan
Batasan
3 0,35 1,05 konservasi berupa pengawasan, pengelolaan
pengelolaan
Kesesuaian dan penelitian.
2 0,15 0,3
Lahan Mangrove
Jumlah 0,5 1,35 c. Pusat Pelayanan Lingkungan Sekunder (PPL
Total 1 3,15
Sekunder) ditetapkan di Desa Tinambuang,
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | E 035
Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene
Sirindu dan Bababulo yang berfungsi mela- Fungsi
No Luas
yani wilayah yang menjadi PPL Tersier. Ke- Jenis
(Ha)
Utama
Kawasan
giatan yang dilakukan dalam kawasan ini budidaya.
Pertanian
adalah pengembangan fasilitas sosial. lahan kering 3,90
camuran
d. Pusat Pelayanan Lingkungan Tersier (PPL Mangrove 0,65
Tersier) ditetapkan di Desa Bonde, Pesu- Lahan
1,98
loang, Bababulo Utara, Bonde Utara dan Kosong

Balombong yang berfungsi melayani wilayah Permukiman 0,92 Dipusatkan


Zona
3 untuk kawasan
administrasinya sendiri. Kegiatan yang dila- Pemanfaatan Pertanian pemanfaatan
kukan dalam kawasan ini adalah pe-ngem- Lahan
4,32
Kering
bangan kawasan permukiman masyarakat. Camputan
(Sumber: Hasil Analisis 2016)
Rencana Zonasi Kawasan Pesisir Berbasis
Konservasi

Kebijakan pengembangan pola ruang ditujukan


untuk mewujudkan pola penggunaan ruang
yang seimbang antara kawasan lindung dengan
kapasitas produksi dan pemanfaatan kawasan
budidaya secara asri dan lestari. Wilayah Ke-
camatan Pamboang yang memiliki kawasan
lindung dan kawasan budidaya sangatlah pen-
ting untuk menjaga keseimbangan lingkungan
dan kehidupan masyarakat. Pembagian zona
sangat dibutuhkan dalam upaya konservasi
hutan mangrove. Rencana pola ruang dalam pe- Gambar 5. Peta Rencana Zonasi
nelitian ini berorientasi pada pembagian zona
kegiatan konservasi berdasarkan UU No.5 tahun Strategi Pengembangan
1990 dan PP No. 108 tahun 2015 yang membagi
kawasan konservasi menjadi 3 zona yaitu zona Strategi yang disusun berusaha mengidentifikasi
inti, zona rimba (penyangga) dan zona pe- ketiga pendekatan yang berbeda. Hal ini sebagai
manfaatan. upaya mengembangkan potensi wilayah pesisir,
menata kawasan dan menjaga kelestarian
Tabel 6. Rencana Zonasi lingkungan. Inovasi yang dapat dipertimbangkan
Fungsi
yaitu:
No Luas
Jenis Utama
(Ha)
Kawasan
Pendekatan Bioregion
Hutan 0,54

Lahan Pendekatan bioregion dalam pengelolaan kawa-


0,68
Kosong
Dipusatkan
san konservasi mangrove dilakukan dengan
Lapangan 0,12 untuk pembagian wilayah berdasarkan fungsi peman-
konservasi
1 Zona Inti
Mangrove 1,78 mangrove dan faatannya.
pelayanan
Permukiman 0,83 kawasan
Kawasan lindung diprioritaskan seba-gai kawa-
Pertanian
lahan kering 3,35 san konservasi dibatasi dengan aktiv-itas masya-
campuran rakat yang dapat merubah fungsi kawasan.
Hutan 0,99 Dipusatkan Sedangkan pada kawasan penyangga dilakukan
Zona Rimba Lahan
untuk kegiatan yang dapat mendukung aktivitas
2 0,87 pengembangan
(Penyangga) Kosong
hutan konservasi pada kawasan lindung. Kegiatan
mangrove dan
Permukiman 0,51 pembangunan yang lebih intensif seperti industri

E 036 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017


Fadhil Surur
perikanan, perumahan dan fasilitas pendukung analisis skalogram dengan penentuan hierarki
lainnya hanya bisa dilakukan pada kawasan struktur ruang dan melakukan kegiatan sesuai
budidaya. kemampuan kawasan. Sedangkan inovasi kon-
servasi mangrove dilakukan dengan pembagian
Maka inovasi pengembangan melalui pende- zonasi kegiatan konservasi berdasarkan UU No.5
katan bioregion yaitu menetapkan batas alam tahun 1990 dan PP No.8 tahun 2011 yaitu zona
antara kawasan lindung dan budidaya berupa inti, rimba dan pemanfaatan dan penerapan
jalur hijau. slyvo-fishery. Pembagian zona tersebut diharap-
kan mampu mendukung kegiatan konservasi
Pendekatan Pola Spasial mangrove yang berkelanjutan di Kecamatan
Pamboang.
Inovasi pengelolaan kawasan konservasi melalui
pendekatan pola spasial dilakukan dengan stra- Daftar Pustaka
tegi pengembangan sarana sosial ekonomi yang
mendukung kegiatan sosial yaitu pembangunan Akib, M., Jackson C. dkk. (2013). Hukum Penataan
industri perikanan dan pusat pelayanan pelati- Ruang. Bandar lampung: Pusat Kajian Konstitusi
han konservasi mangrove di kawasan PPL pri- dan Peraturan Perundang-Undangan Fakultas
mer. Hukum Universitas Lampung.

Pendekatan Konservasi Rizky, A. (2014). Identifikasi Potensi dan Strategi


Pengembangan Ekowisata Mangrove pada
Upaya konservasi mangrove dapat dilakukan Kawasan Suaka Margasatwa Memlie di
dengan sistem slyvo-fishery yang dapat diaplika- Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali
sikan dengan sistem empang inti yaitu dengan Mandar (Skripsi). Makassar: Universitas
sistem mina hutan dengan kolam di tengah dan Hasanuddin
hutan mengelilingi kolam. Penerapan slyvo-
Anonim 2007c, Konservasi Alam, URL: http://gang-
fishery ini diharapkan dapat tetap memberikan
camera.blogspot.com/2007/09/ konservasi-alam.
lapangan kerja bagi nelayan di sekitar kawasan
html, 25 Agustus 2016
tanpa merusak hutan.
Kartodiharjo, H. (2004). Pendekatan Bioregion
Kesimpulan dalam Pengelolaan sumberdaya Alam.Bahan
penyusunan naskah akademis RUU-PSDA. Institut
Kondisi bioregion di Kecamatan Pamboang Pertanian Bogor
berdasarkan hasil analisis fungsi kawasan dibagi
menjadi kawasan lindung, penyangga dan budi- Kepmen Kimpraswil No. 534/KPTS/M/2005 tentang
daya. Hasil analisis skalogram membentuk pola Standar Pelayanan Maksimum
spasial Kecamatan Pamboang yang mengarah
pada pola linear yaitu berorientasi pada sepan- Lumbessy Henriyani dkk. 2015. Strategi Konservasi
Ekosistem Mangrove Desa Mangega dan Desa
jang jalan dan pesisir pantai.
Bajo sebagai Destinasi Ekowisata di Kabupaten
Konservasi mangrove di Kecamatan Pamboang Kepulauan Sula. Jurnal Unsrat Vol.2 No.3.
Manado: UNSRAT.
berangkat dari hasil analisis kesesuaian lahan
mangrove yang menunjukkan prioritas konser- Peraturan Daerah Kabupaten Majene nomor 12
vasi berpusat pada kawasan dengan nilai tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
kesesuaian S1 dan S2. Kabupaten Majene

Inovasi bioregion dapat dilakukan dengan PP No. 108 tahun (2015) tentang Pengelolaan
penentuan fungsi kawasan yaitu kawasan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian
lindung, penyangga dan budidaya dengan me- Alam.
netapkan kegiatan yang dapat mendukung dan
tidak merubah fungsi masing-masing kawasan.
Inovasi pola spasial dilakukan berdasarkan hasil
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | E 037
Pendekatan Bioregion, Pola Spasial dan Konservasi Mangrove dalam Pemanfaatan Ruang Pesisir Kabupaten Majene
Standar Nasional Indonesi Tahun (2004) tentang
Tata Cara Perencanaan Lingkungan Peruma han
di Perkotaan.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun (2007) tentang


Penataan Ruang.

UU No.5 tahun (1990) tentang Konservasi Sumber


Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Wardhani, M K. (2014). Analisis Kesesuaian Lahan


Konservasi Hutan Mangrove di Pesisir Selatan
Kabupaten Bangkalan. Jurnal Kelautan Volume 7
Nomor 2. Universitas Trunojoyo Madura.

E 038 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017