Anda di halaman 1dari 122

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bencana merupakan suatu peristiwa yang mengancam dan

mengganggu kehidupan ataupun penghidupan masyarakat.Bencana dapat

disebabkan baik oleh faktor alam maupun faktor manusia, sehingga

mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta

benda, dan dampak psikologis. Bencana tidak terjadi begitu saja, namun ada

faktor kesalahan dan kelalaian manusia dalam mengantisipasi alam dan

kemungkinan bencana yang dapat menimpanya (Handmer, 2007).

Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah longsor lahan.

Indonesia teridentifikasi setidaknya 918 lokasi tergolong rawan longsor. Menurut

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana lokasi tersebut tersebar di daerah : Jawa

Tengah 327 lokasi, Jawa Barat 276 lokasi, Sumatera Barat 100 lokasi, Sumatera

Utara 53 lokasi, Yogyakarta 30 lokasi, Kalimantan Barat 23 lokasi, sisanya

tersebar di NTT, Riau, Kalimantan Timur, Bali dan Jawa Timur.Adapun beberapa

penyebab yang mengakibatkan tanah longsor di Indonesia seperti, hujan, batuan

yang kurang kuat, lereng terjal, tanah yang kurang padat dan tebal, atau tata

gunalahan, getaran, adanya beban tambahan, bekas longsoran lama, pengikisan/

erosi, dan penggundulan hutan (Karnawati, 2005).

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Jawa Timur

merupakan daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor selama musim hujan.

Daerah rawan tanah longsor tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Jember yang


2

mengalami ancaman bencana ketika cuaca ekstrim. Cuaca ekstrim yang sering

terjadi pada tahun 2016-2017 ini terjadi disekitar pegunungan Argopuro yang

meliputi 10 Kecamatan tersebut yaitu kecamatan Jelbuk, Kecamatan Arjasa,

Kecamatan Patrang, Kecamatan Sukorambi, Kecamatan Panti, Kecamatan

Rambipuji, Kecamatan Bangsalsari, Kecamatan Tanggul, Kecamatan Sumber

Baru dan Kecamatan Semboro. Pada tahun 2002 di Kecamatan Panti terjadi banjir

bandang akibat hujan deras dengan waktu yang sangat lama. Bencana alam yang

sering terjadi di Kabupaten Jember selain banjir adalah tanah longsor. Pada tahun

2016 terjadi tanah longsor di Desa Siaga Kecamatan Arjasa, tanah longsor terjadi

akibat curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan hutan lindung longsor

terbawa arus aliran sungai rembangan dan mengakibatkan beberapa kerusakan

lahan perkebunan. Data yang didapat dari BPBD Kabupaten Jember berupa Peta

Rawan Bencana menunjukkan bahwa Kecamatan Arjasa adalah kecamatan yang

paling rawan terjadi bencana longsor.Kecamatan Arjasa terbagi menjadi 6 desa

dan 3 desa yang berpotensi terjadinya bencana tanah longsor yaitu Desa

Kemuning Lor, Desa Siaga dan Desa Darsono.

Data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan menunjukkan bahwa dari 6

desa di Kecamatan Arjasa yang rawan terjadi bencana longsor adalah Desa

Kemuning Lor atau yang terkenal dengan daerah wisata Rembangan. Insidensi

kejadian longsor terakhir dan yang paling sering berada tepat di Dusun Rayap

Desa Kemuning Lor. Tahun 2001 terjadi tanah longsor yang cukup membuat

kerusakan cukup parah di PTPN 12 Kebun Rayap Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa dan mengakibatkan jembatan kembali terputus. Kejadian


3

longsor terus terjadi di dusun tersebut setiap tahunnya. BPBD Kabupaten Jember

sudah menetapkan status siaga bencana alam dan cuaca ekstrim dengan mulainya

musim hujan yang mengguyur kabupaten setempat, sehingga masyarakat

dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan yang tinggi di

Kabupaten Jember megakibatkan ancaman terjadinya bencana banjir bandang dan

tanah longsor.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa kepada 20 orang masyarakat melalui wawancara dengan

mengajukan pertanyaan yang memuat tentang informasi bencana, pola tidur, jam

tidur, perasaan mengantuk ketika bekerja, terbangun tengah malam, penggunaan

obat tidur dan penyebab tidur larut. Peneliti mendapatkan informasi dari

masyarakat bahwa insidensi bencana longsor kerap terjadi di Desa Kemuning Lor.

Selama musim penghujan diawal tahun 2016 sampai awal tahun 2017 tercatat

sudah 4 kali terjadi longsor dimana 3 insiden longsor dalam kategori ringan

dengan kerusakan hanya pada lahan pertanian dan sisanya dalam kategori cukup

parah dengan kerusakan meliputi lahan pertanian dan pemukiman warga.

Hasil yang diperoleh peneliti dari 20 orang masyarakat yang telah

diwawancarai yaitu sebanyak 17 orang mengalami insomnia atau kesulitan tidur.

Tiga dari 20 masyarakat mengatakan dapat tidur cukup baik danjarang terbangun

tengah malam.Mayoritas masyarakat yang diwawancarai mengeluhkan tidak bisa

tidur pulas dan sering terbangun pada tengah malam. Kebiasaan terbangun tengah

malam juga sering dialami oleh masyarakat ketika musim penghujan datang.

Masyarakat merasa cemas, was was dan ketakutan. Masyarakat juga mengalami
4

perasaan khawatir yang berlebihan akan datangnya bencana. Masyarakat setempat

menunjukkan ekspresi yang tegang saat menceritakan kronologis bencana yang

terjadi. Beberapa data yang diperoleh saat wawancara diatas mencerminkan

bahwa ada respon kecemasan yang muncul pada masyarakat setempat saat terjadi

bencana.Keterangan yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara tersebut maka

keluhan-keluhan tentang tidur yang dialami oleh masyarakat masuk kedalam

komponen kualitas tidur. Sehingga ada kemungkinan bahwa masyarakat yang

tinggal didaerah rawan longsor mengalami kualitas tidur yang buruk akibat rasa

takut yang dialami.

Fenomena tanah longsor merupakan hal biasa ketika terjadi peralihan dari

musim kemarau ke musim hujan. Ada dua hal penyebab tanahlongsor yang

berkaitan dengan hujan, yakni hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat dan

menerpa daerah yang kondisi tanahnya labil. Tanah kering ini menjadi labil dan

mudah longsor saat terjadi hujan. Kondisi lain adalah akumulasi curah hujan

di musim hujan pada tebing terjal yang menyebabkannya runtuh. Tanah

longsor ini cukup berbahaya dan dapat mengakibatkan korban jiwa dalam

jumlah yang tidak sedikit (Kusnoto, 2008).

Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah

perbukitan di daerah tropis basah, karena adanya curah hujan yang tinggi.

Ancaman masyarakat sering terjadi ketika musim hujan datang dan ketika angin

kencang. Masyarakat yang tinggal di lereng-lereng gunung akan lebih beresiko

terjadinya tanah longsor. Tanah longsor akan menimbulkan beberapa kerusakan

antara lain rusaknya fasilitas umum, lahan pertanian, adanya korban jiwa,
5

kegiatan pembangunan dan aktivitas ekonomi terhambat pada daerah yang terkena

bencana, tetapi juga mengakibatkan adanya sejumlah penduduk yang mengungsi

ke daerah yang relatif lebih aman. Bencana tanah longsor mengakibatkan korban

jiwa dan kerugian yang sangat besar. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan

bencana misalnya daerah yang rawan longsor dapat menjadi faktor pemicu stres

bagi seseorang karena menimbulkan perasaan cemas (Yusuf, 2005).

Cemas merupakan bagian dari kehidupan yang dialami oleh setiap

individu. Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang

berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi dalam

hal tersebut tidak memiliki obyek yang spesifik. Kecemasan dialami secara

subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal (Stuart, 2005). Kejadian yang

satu dengan yang lainnya dapat saling mempengaruhi, demikian juga seperti yang

dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tanah longsor.

Hasil penelitian oleh Anggunsari (2015) menunjukkan bahwa tingkat kecemasan

dalam menghadapi bencana di Dusun Panjang Panjangrejo Pundong terbanyak

pada kategori sedang yaitu 57 orang (74,0%), kategori kecemasan berat sebanyak

6 orang (7,8%), sedangkan kategori kecemasan ringan sebanyak 14 orang

(18,2%).Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tanah longsor akan

merasa cemas ketika musim hujan datang. Masyarakat merasa takut, was-was

sehingga denyut nadi meningkat. Kekhawatiran masyarakat mengakibatkan

hilangnya nafsu makan dan cemas sebagai akibatnya, terjadi perubahan pada diri

seseorang, salah satunya perubahan kualitas tidur. Cemas akan berespon pada

fisiologis terhadap kualitas tidur seseorang (Potter & Perry 2010).


6

Respon sistem saraf otonom terhadap rasa takut dan cemas

menimbulkan aktivitas involunter pada tubuh yang termasuk dalam mekanisme

pertahanan diri. Serabut saraf simpatis “mengaktifkan” tanda-tanda vital pada

setiap tanda bahaya untuk mempersiapkan pertahanan tubuh. Kelenjar adrenal

melepas adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan tubuh mengambil lebih banyak

oksigen, mendilatasi pupil dan meningkatkan tekanan arteri serta frekuensi

jantung sambil membuat kontriksi pembuluh darah perifer dan memicu darah dari

sistem gastrointestinal dan reproduksi serta meningkatkan glikogenolisis menjadi

glukosa bebas guna menyokong jantung, otot dan sistem saraf pusat. Ketika

bahaya berakhir, serabut saraf parasimpatis membalik proses ini dan

mengembalikan tubuh ke kondisi normal sampai tanda ancaman berikutnya

mengaktifkan kembali proses simpatis (Videbeck, 2008). Cemas menyebabkan

respon kognitif, psikomotor dan fisiologis yang tidak nyaman, misalnya kesulitan

berfikir logis, peningkatan aktivitas motorik, agitasi dan peningkatan tanda-tanda

vital serta adanya kesulitan tidur (Videbeck, 2008).

Kecemasan yang dialami seseorang karena masalah yang dihadapinya

membuat seseorang menjadi tegang dan berusaha keras untuk tertidur sehingga

stres yang berlanjut dapat menyebabkan seseorang mempunyai kebiasaan tidur

yang buruk (Potter & Perry, 2005). Perasaan cemas akan hal yang dialaminya

membuat seseorang sulit tidur, sering terbangun tengah malam, perubahan siklus

tidur, bahkan terlalu banyak tidur sehingga stres emosional dapat menyebabkan

kebiasaan tidur buruk (Potter & Perry, 2005). Kecemasan yang berlebih pada

seseorang akan membuat seseorang tersebut terlalu keras dalam berfikir sehingga
7

seseorang akan sulit untuk mengontrol emosinya yang berdampak pada

peningkatan ketegangan dan kesulitan dalam memulai tidur. Kesulitan ini yang

nanti akan mengganggu seseorang tersebut untuk mendapatkan kualitas tidur yang

diinginkan. Menurut Rafknowledge (2004) stres yang dialami dapat

mempengaruhi kebutuhan waktu untuk tidur sehingga semakin tinggi tingkat stres

maka kebutuhan waktu untuk tidur juga akan berkurang. Kozier (2002) juga

mengungkapkan bahwa kecemasan meningkatkan kadar norepinephrin didalam

darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis, zat kimia ini mengakibatkan

perubahan pada berkurangnya tidur tahap 4 NREM dan tidur REM serta

terbangun.

Pola tidur mencakup kualitas dan kuantitas tidur. Kualitas tidur adalah

jumlah tahapan NREM dan REM yang dialami seseorang dalam siklus tidurnya.

Kuantitas tidur adalah jumlah lamanya waktu tidur yang dihabiskan seseorang

dalam sehari. Umumnya pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana

tahapan NREM dan REM akan terganggu karena merasa khawatir jika sewaktu-

waktu terjadi suatu bencana. Pola tidur yang tidak menetap akan memberikan

dampak terhadap kekurangan tidur sehingga akan mempengaruhi psikologis

masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. Hal ini lebih sering dialami

oleh masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan longor yang kemudian

akan mengakibatkan tidur yang tidak adekuat dan kualitas yang buruk dapat

mengakibatkan gangguan fisiologi dan psikologi masyarakat (Potter & Perry,

2010).
8

Tidur yang tidak adekuat dan kualitas tidur yang tidak baik dapat

mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologis. Dampak

fisiologi meliputi penurunan aktifitas sehari-hari, rasa lelah, lemah, proses

penyembuhan lambat, daya tahan tubuh menurun dan ketidakseimbangan tanda-

tanda vital. Sedangkan dampak psikologis meliputi depresi, cemas dan tidak

konsentrasi (Bukit, 2011)

Menurut penelitian Budayani (2015),terdapat hubungan yang bermakna

antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada pederita asma. Dari hasil analisa

data diketahui bahwa p-value (0,00) < (a=0,05). Pada Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa pasien di RSUD Karanganyar memiliki kecemasan yang

ringan dan mengalami perubahan kualitas tidur. Terjadinya gangguan pola tidur

pada pasien yang dirawat inap di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan

lainnya dapat disebabkan oleh dampaklingkungan rumah sakit serta kecemasan

yang diakibatkan proses penyakit yang dialaminya yang biasanya ditandai dengan

bertambahnya jumlah waktu bangun dan sering terbangun. Kecemasan seorang

pasien akan mempengaruhi kualitas tidurnya, pada keadaan sakit dan dirawat di

rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Peneliti yang berbeda Dariah (2015) menunjukkan ada hubungan tingkat

kecemasan dengan kualitas tidur pada lansia di Posbindu Anyelir Desa

Kartawangi Kabupaten Bandung Barat. Dengan nilai korelasi 0,765 yang

menandakan bahwa kedua variabel yang kuat dan nilai p 0,000 (a < 0,001).

Masalah psikologis yang sering dihadapi pada lansia meliputi kesepian, rasa takut
9

kehilangan, rasa takut akan kematian, perubahan keinginan dan cemas pada lansia

akan mempengaruhi kualitas tidur.

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk memenuhi kualitas tidur

yang baik untuk masyarakat rawan longsor yaitu dengan cara mengurangi tingkat

kecemasan, stres dan menjaga pola tidur yang teratur. Masyarakat yang tinggal

didaerah rawan longsor harus mengatur pola tidur dan bangun yang seimbang.

Keadaan tidur dan bangun yang seimbang dapat memaksimalkan fungsi tubuh

secara fisiologis dan psikologis (Asmadi, 2008). Kecemasan akan sering terjadi

pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana dan hal ini akan

mempengaruhi kualitas tidur dengan keadaan cuaca yang tidak menentu . oleh

karena itu, peneliti tertarik mengangkat judul Hubungan Tingkat Kecemasan

Dengan Kualitas Tidur Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning

Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur

Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember?
10

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisa Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur

Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada masyarakat daerah rawan

longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

b. Mengidentifikasi kualitas tidur pada masyarakat daerah rawan longsor di

Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

c. Menganalisa hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada

masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan

Arjasa Kabupaten Jember

1.4 Manfaat Peneliti

1.4.1 Instansi Pendidikan

Manfaat penelitian ini bagi institusi pendidikan adalah menambah informasi

dan evaluasi lebih lanjut apabila terdapat hubungan tingkat kecemasan dengan

kualitas tidur pada masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Selain itu sebagai tambahan referensi serta

pengembangan penelitian tentang hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas


11

tidur pada masyarakat daerah rawan longsor di lereng Rembangan Kabupaten

Jember.

1.4.2 Institusi Kesehatan

Manfaat penelitian bagi instansi kesehatan khususnya Dinas Kesehatan

Kabupaten dan Puskesmas adalah data dan hasil yang diperoleh dari penelitian

dapat dijadikan suatu gambaran tentang hubungan tingkat kecemasan dengan

kualitas tidur pada masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

1.4.3 Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam

melakukan upaya pencegahan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada

masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember. Selain itu dapat sebagai referensi terkait program yang dapat

diberikan pada masyarakat oleh perawat jiwa berupa penyuluhan kesehatan jiwa

salah satunya terkait kecemasan.

1.4.4 Masyarakat

Manfaat penelitian bagi masyarakat adalah dapat menambah dan

meningkatkan wawasan serta pengetahuan terhadap pentingnya kualitas tidur pada

masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember.
12

1.4.5 Peneliti

Manfaat bagi peneliti adalah menambah pengetahuan dan wawasan terkait

dengan hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada masyarakat

daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten

Jember. Penelitian ini juga sekaligus sebagai dasar acuan terhadap penelitian

selanjutnya sehingga penelitian dapat dikembangkan.

1.5 Keaslian Penelitian

Terdapat berbagai penelitian mengenai tingkat kecemasan yang mendasari

penelitian ini, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Sri Satiti

Budyani (2015) dengan judul hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur

pada penderita asma di RSUD Kabupaten Karanganyar. Desain penelitian yang

digunakan adalah Deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectionaldengan

teknik pengambilan data menggunakan Proportional Stratified Random sampling

sebanyak seluruh pasien pada salah satu RSUD Kabupaten Karanganyar yang

sedang menderita asma. Teknik analisa yang dilakukan yaitu dengan Uji

Spearman’s Rho. Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 95% sehingga nilai

P (p value) < 0,05. Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan tingkat

kecemasan dengan kualitas tidur pada pendetita asma.


13

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No. Perbedaan Penelitian sebelumnya Penelitian sekarang


1. Judul Penelitian “Hubungan Tingkat “Hubungan Tingkat
Kecemasan dengan Kecemasan dengan Kualitas
Kualitas Tidur Penderita Tidur Masyarakat Daerah
Asma di RSUD Kabupaten Rawan Longsor di Desa
Karanganyar” Kemuning Lor Kecamatan
Arjasa Kabupaten Jember”
2. Peneliti Sri Satiti Budayani Berlinda Damar Asri
3. Tahun Penelitian 2015 2017
4. Variabel Kualitas Tidur Kualitas Tidur
Dependen
5. Variabel Tingkat kecemasan Tingkat kecemasan
independen
6. Populasi Penderita Asma di RSUD Masyarakat Daerah Rawan
Kabupaen Karanganyar longsor di Lereng
Rembangan Kabupaten
Jember
7. Desain Deskriptif korelasi dengan Korelasi observational
Penelitan pendekatan cross sectional dengan pendekatan cross
sectional
8. Alat Ukur Kuesioner tingkat Kuesioner tingkat kecemasan
kecemasan menggunakan menggunakan Anxiety Scale
Anxiety Scale (SAS) dan (SAS) dan kuisioner kualitas
kuisioner kualitas tidur tidur menggunakan Self
menggunakan Pittsburgh Rating Pittsburgh Sleep
Sleep Quality Index (PSQI) Quality Index (PSQI).
dan kuisioner.
9. Teknik Sampling Total sampling Purposive sampling
10. Analisis Bivariat Spearman’s Rho Kendall-Tau
14

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Bencana

2.1.1 Definisi Bencana

Bencana (disaster) merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-

komponen pemicu (trigger), ancaman (hazard), dan kerentanan (vulnerability)

bekerja bersama secara sistematis, sehingga menyebabkan terjadinya risiko (risk)

pada komunitas (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2011). Bencana

adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang mengancam yang

mengancam masyarakat sehingga menyebabkan masyarakat merasa takut dan

tidak tenang tenang atau menimbulkan kesusahan, kerugian materi,

memburuknya kesehatan penderitaan karena kehilangan, menimbulkan kesusahan,

kerugian materi(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2001).

2.1.2 Jenis-jenis Bencana

Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara lain:

1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa

gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,

dan tanah longsor.


15

2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi,

gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau

serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi

konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror

(UU RI, 2007).

Bencana alam menurut Solehudin (2005) mengelompokkan bencana menjadi

2 jenis yaitu:

1. Bencana alam (natural disaster) yaitu kejadian-kejadian alami seperti

kejadian-kejadian alami seperti banjir, tanah longsor, genangan, gempa

bumi, gunung meletus, badai, kekeringan, wabah, serangga dan lainnya.

2. Bencana ulah manusia (man made disaster) yaitu kejadian-kejadian karena

perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau kendaraan,

kebakaran, huru-hara, sabotase, ledakan, gangguan listrik, ganguan

komunikasi, gangguan transportasi dan lainnya.

2.1.3 Dampak Bencana

Dampak yang terjadi secara mendadak dan cepat akan mengakibatkan

syok dan ketidakberdayaan pada korban bencana. Dampak bencana yang

ditimbulkan adalah:
16

a. dampak bencana pada aspek fisik

Setiap bencana akan mempengaruhi sistem tubuh manusia. Pada aspek

fisik dampak ditimbulkan dapat berupa badan terasa tegang cepat

lelah, susah tidur, mudah terkejut, palpitasi, mual, perubahan nafsu

makan dan kebutuhan seksual menurun (Tomoko, 2009).

b. dampak bencana pada aspek psikologis

Dampak bencana pada aspek psikis adalah emosi dan kognitif korban.

Pada aspek emosi terjadi gejala seperti syok, rasa takut, rasa sedih,

marah, dendam, rasa bersalah, malu, rasa tidak berdaya, kehilangan

emosi seperti perasaan cinta, kasih sayang, kematian, kegembiraan

atau perhatian pada kehidupan sehari-hari. Pada aspek kognitif, korban

bencana juga mengalami perubahan seperti pikiran kacau, salah

persepsi, menurunnya kemampuan untuk mengambil keputusan, daya

konsentrasi dan daya ingat menurun, membanyangkan hal-hal yang

tidak menyenangkan, dan terkadang menyalahkan diri sendiri

(Tomoko, 2009).

2.2 Konsep Cemas

2.2.1 Definisi Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu ketakutan yang bercampur samar dan

berhubungan dengan perasaan ketidakpastian dan tidak berdaya, perasaan

terisolasi dan kegelisahan. Kecemasan akan menjadikan perasaan menjadi tidak

nyaman yang dimulai dari sejak kecil dan berlanjut di sepanjang kehidupan
17

(Stuart & Laraia, 2005).Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai

dengan ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam yang berkelanjutan, individu

tidak mengalami gangguan dalam realitas (Reality Testing Ability), kepribadian

masih utuh dan perilaku masih dalam batas normal (Hawari, 2013).

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

Stuart dalam Wahyuni (2015) menjelaskan bahwa penyebab kecemasan

individu adalah faktor predisposisi dan faktor presipitasi.:

a. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis-jenis

dan jumlah sumber yang dapat digunakan individu untuk mengatasi

kecemasan. Faktor predisposisi kecemasan diuraikan melalui beberapa

teori yaitu:

1. teori psikoanalitis

Menurut teori psikoanalitis kecemasan adalah konflik emosional yang

terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id adalah

dorongan insting atau firasat dan impuls primitif, sedangkan superego

mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma

budaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang

bertentangan tersebut dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego

bahwa ada bahaya;


18

2. teori interpersonal

Menurut teori interpersonal kecemasan timbul dari perasaan takut

terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan

juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti

kehilanganyang akanmenimbulkan kerentanan tertentu pada individu;

3. teori perilaku

Menurut teori perilaku kecemasan merupakan produk frustasi yaitu

segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk

mencapai tujuan. Ahli teori perilaku lain menganggap kecemasan

sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari

dalam diri individu untuk menghindari kepedihan. Ahli teori konflik

memandang kecemasan sebagai pertentangan antara dua kepentingan

yang berlawanan. Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik

antara konflik dan kecemasan. Konflik menimbulkan kecemasan, dan

kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya

meningkatkan konflik yang dirasakan;

4. kajian keluarga

Menurut teori kajian keluarga kecemasan biasanya terjadi dalam

keluarga. Gangguan kecemasan terkadang juga terjadi tumpang tindih

dengan kejadian depresi; dan

5. kajian biologis

Menurut teori kajian biologis otak mengandung reseptor khusus untuk


19

benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan neuro regulator

inhibisi asam gama-amino butirat (GABA), yang berperan penting

dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan.

Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya

menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stresor.

b. Faktor Presipitasi

Faktor presipitas adalah ketegangan dalam keng dapat hidupan yang dapat

menimbulkan kecemasan dan dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Ancaman terhadap integritas fisik yang meliputi:

a) Sumber internal: yang mana kegagakan mekanisme fisiologi sitem

imun, regulasi suhu tubuh dan perubahan biologis normal

b) Sumber eksternal:

Paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polusi lingkungan,

kecelakaan, kekurangan nutrisi dan tidak adekuatnya tempat

tinggal.

2. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal:

a) Sumber internal: kesulitan individu dalam berhubungan

interpersonal dirumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap

tempat atau lingkungan baru.

b) Sumber eksternal: kehilangan orang yang disayang atau dicintai,

perceraian, perubahan statu pekerjaan dan tekanan dalam suatu

kelompok.
20

Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terkait meliputi

hal berikut:

a. Potensi Stresor

Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang

menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang

itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk

menanggulanginya.

b. Maturasi (kematangan)

Individu yang matang yaitu yang memiliki kematangan kepribadian

sehingga akan lebih sukar mengalami gangguan akibat stres, sebab

individu yang matang mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap

stressor yang timbul. Sebaliknya individu yang berkepribadian tidak

matang akan bergantung dan peka terhadap rangsangan sehingga

sangat mudah mengalami gangguan akibat adanya stres.

c. Status Pendidikan dan Perekonomian

Status pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang

menyebabkan orang tersebut mengalami stres dibanding dengan

mereka yang status pendidikan dan status ekonomi yang tinggi.

d. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan

orang tersebut mudah stres.


21

e. Keadaan Fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, penyakit

badan, operasi, cacat badan lebih mudah mengalami stres. Disamping

itu orang yang mengalami kelelahan fisik juga akan lebih mudah

mengalami stres.

f. Tipe Kepribadian

Individu dengan tipe kepribadian tipe A lebih mudah mengalami

gangguan akibat adanya stres dari individu dengan kepribadian B.

Adapun ciri – ciri individu dengan kepribadian A adalah tidak sabar,

kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa buru – buru waktu,

sangat setia (berlebihan) terhadap pekerjaan, agresif, mudah gelisah,

tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah tersinggung,

otot – otot mudah tegang. Sedangkan individu dengan kepribadian tipe

B mempunyai ciri – ciri yang berlawanan dengan individu kepribadian

tipe A.

g. Sosial Budaya

Cara hidup individu di masyarakat yang sangat mempengaruhi pada

timbulnya stres. Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur

dan mempunyai falsafat hidup yang jelas maka pada umumnya lebih

sukar mengalami stres. Demikian juga keyakinan agama akan

mempengaruhi timbulnya stres.


22

h. Lingkungan atau situasi

Individu yang tinggal pada lingkungan yang dianggap asing akan lebih

mudah mangalami stres.

i. Usia

Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudah

mengalami stres dari pada usia tua, tetapi ada yang berpendapat

sebaliknya.

j. Jenis Kelamin

Umumnya wanita lebih mudah mengalami stres, tetapi usia harapan

hidup wanita lebih tinggi dari pada pria.

2.2.3 Respon Kecemasan

Menurut Stuart dan Laraia (2005), ada dua macam respon yang dialami

seorang ketika mengalami kecemasan:

1. Respon fisiologis terhadap kecemasan

a. Kardiovaskuler akan meningkatkan tekanan darah, palpitasi, jantung

berdebar, denyut nadi meningkat dan syok. Pernapasan cepat dan

dangkal serta rasa tertekan pada dada dan rasa tercekik

b. Kulit: perasaan panas atau dingin pada kulit, muka terlihat pucat dan

berkeringat seluruh tubuh, rasa terbakar pada permukaan kulit muka

telapak tangan terasa gatal dan berkeringat

c. Gastrointestinal: anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, rasa terbakar

di apigastrium, nausea, diare.


23

d. Neuromuskuler: reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-

kedip, insomnia, tremor, kejang, wajah tegang dan gerakan lambat.

2. Respon psikologis terhadap kecemasan

a. Perilaku: gelisah, tremor, gugup, bicara cepat dan tidaj ada koordinasi,

manrik diri, menghindar.

b. Kognitif: gangguan perhatian, konsentrasi hilang, mudah lupa, salah

tafsir, kebingungan, lapangan persepsi menurun, kesadaran diri yang

berlebihan, khawatir yang berlebihan, obyektifitas menurun, takut

kecelakaan dan takut mati

c. Afektif: tidak sabar, tegang, neurosis, tremor, gugup yang luar biasa,

sangat geliah.

2.2.4 Rentang Respon Kecemasan

Menurut Stuart (2005), rentang respon individu terhadap cemas berfluktuasi

antara respon adaptif dan maladaptiv. Rentang respon yang paling adaptif adalah

antisipasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang

kemungkin muncul. Sedangkan rentang yang paling maladaptif adalah panik

dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi

sehingga mengalami gangguan fisik, perilaku maupun kognitif.


24

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik

Gambar 2.1 Rentang respon kecemasan (Stuart, 2006)

2.2.5 Tingkat Kecemasan

Kecemasan menurut Peplau dalam Suliswati dkk (2005) terdapat 4 tingkat

yaitu, ringan, sedang, berat dan panik. Tingkat kecemasan yang semakin tinggi

terhadap individu maka akan mempengaruhi kondisi fisik dan psikis. Kapasitas

untuk mengalami kecemasan diperlukan untuk bertahan hidup, namun tingkat

kecemasan yang berat tidak sejalan dengan kehidupan. Tingkat kecemasan

menurut Stuart (2006) adalah sebagai berikut:

a. Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan berhubugan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari,

individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas dan menajamkan

indra. Dapat memotivasi individu untuk dapat belajar dan mampu

memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan

kreativitas.

b. Kecemasan Sedang

Individu berfokus pada pikiran yang aan menjadi perhatiannya dan

menyempitkan lapangan persepsinya akan tetapi masih dapat melakukan

sesuatu dengan arahan orang lain.


25

c. Kecemasan Berat

Kecemasaan ini sangat mengurangi persepsi individu dan cenderung berfokus

pada sesuatu yang merinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain.

Semua perilaku individu ditunjukkan untuk mengurangi ketergantungan.

Individu tersebut memerlukan banyak arahan atau perintah untuk lebih fokus.

d. Panik

Individu akan kehilangan kendali diri pada saat merasakan panik karena

individu tersebut kehilangan kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun

meskipun ddengan perintah. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan aktivitas

motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,

penyimpangan dan persepsi dan kehilangan pikiran rasional yang tidak mampu

berfungsi secara efektif.

2.3 Konsep Tidur

2.3.1 Pengertian Tidur

Tidur merupakan keadaan bawah sadar tetapi seseorang masih dapat

dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya

(Guyton & Hall, 2007). Tidur adalah suatu proses perubahan kesadaran yang

terjadi berulang-ulang selama periode tertentu. Seseorang dengan tidur yang

cukup akan merasa tenaganya telah pulih (Potter & Perry, 2005b).
26

2.3.2 Fisiologi Tidur

Tidur adalah proses fisiologis yang bersiklus bergantian dengan periode

yang lebih lama dari keterjagaan. Orang mengalami irama siklus sebagai bagian

dari kehidupan mereka setiap hari yang dikenal dengan irama sirkardian. Pola

fungsi biologis utama dan fungsi perilaku mempengaruhi irama sirkardian.

Pemeliharaan siklus sirkardian 24 jam bergantung pada denyut jantung, fluktuasi

dan perkiraan suhutubuh, tekanan darah, sekresi hormon, kemampuan sensorik

dan suasana hati. Irama sirkardian, termasuk siklus tidur-bangun harian,

dipengaruhi oleh cahaya dan suhu serta faktor-faktor eksternal seperti aktivitas

sosial dan rutinitas pekerjaan. Jika siklus tidur bangun seseorang berubah secara

bermakna mengakibatkan kualitas tidur yang buruk.

Tidur melibatkan urutan fisiologis yang dipertahankan oleh integrasi tingkat

aktivitas sistem saraf pusat yang berhubungan dengan perubahan endokrin, sistem

perifer, kardiovaskular, pernapasan dan muskular. Hubungan antara dua

mekanisme serebral pada kontrol dan pengaturan tidur berfungsi mengaktivasi

secara intermiten dan menekan pusat otak tertinggi untuk mengontrol tidur dan

terjaga. Sebuah mekanisme menyebabkan terjaga dan yang lain menyebabkan

tertidur (Potter & Perry, 2005b).

Proses fisiologis yang bersiklus dan bergantian dengan periode yang lebih

lama dari waktu keterjagaan dan pada siklus tidur terjaga akan mempengaruhi

respon perilaku dan fungsi fisiologis hal ini merupakan defisini dari tidur (Potter

& Perry, 2005). RAS merupakan jaringan sel susunan saraf pusat dan kemudian

membentuk sistem komunikasi dua arah. RAS dapat menerima rangsangan visual,
27

nyeri, visual, audio dan stimulasi dari korteks serebri termasuk dalam rangsangan

emosi dan proses pikir. RAS terletak pada bagian atas pons dan di dalam

mesenfalon. Individu yang mengalami kesadaran, neuron dalam RAS akan

melepaskan ketekolamin seperti noreprineprin, hal ini dapat membuat individu

terjaga. Individu yang sedang dalam keadaan tidur, disebabkan karena adanya

pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak

tengah, yaitu BSR (Potter & Perry, 2005).

2.3.3 Irama Tidur

Seseorang akan mengalami irama sirkadian sebagai siklus dari kehidupan

setiap harinya. Irama sirkadian lebih dikenal sebagai siklus 24 jam. Siklus 24 jam

pada irama sirkadian ini adalah siang-malam dan lebih dikenal dengan irama

diurnal atau sirkadian (Potter & Perry 2010). Irama sirkadian termasuk siklus

tidur-bangun harian yang dipengaruhi oleh cahaya dan suhu serta faktor-faktor

eksternal seperti aktivitas sosial dan rutinitas pekerjaan. Setiap orang memiliki

jam yang sinkron dengan siklus tidurnya. Beberapa orang dapat tertidur pada

pukul 8 malam, sementara yang lain tidur pada tengah malam atau dini hari.

Orang yang berbeda juga berfungsi terbaik pada waktu yang berbeda dalam satu

hari (Potter &. Perry, 2010).

2.3.4 Fungsi Tidur

Fungsi tidur adalah mengistirahatkan otak dan memperbaiki kembali organ

tubuh akibat kelelahan dalam aktivitas sehari-hari. Fungsi tidur juga memiliki dua

fase yaitu fase Non Rapid Eye Movement (NREM) dan fase Rapid Eye
28

Movement(REM) Selama tidur dalam fase NREM sehingga fungsi biologis akan

menurun. Pada saat seorang tertidur sehingga denyut jantung akan menurun

sampai 60 kali permenit dari jumlah denyut jantung normal yaitu 80 kali per

menit. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya penurunan denyut jantung 10

hingga 20 kali lebih sedikit dalam setiap menit selama seseorang mengalami masa

tidur . Dalam hal ini dapat disimpulkan tidur yang nyenyak sangat bermanfaat

untuk menjaga kesehatan jantung (Potter & Perry, 2005).

2.3.5 Tahap Tidur

Tidur yang normal pada seseorang akan melibatkan dua fase yaitu, fase Non

Rapid Eye Movemen (NREM) yaitu pergerakan mata yang tidak cepat dan fase

Rapid Eye Novement (REM) yaitu pergrakan mata yang cepat. Fase tidur awal

seseorang adalah fase NREM yang mana terdiri dari tingkat 1, 2, 3, dan 4 sebelum

masuk tahap fase REM. Empat tahap menurut Patlak(2005), yaitu:

a. Tidur NREM stadium 1

Pada stadium ini seseorang mengalami tidur yang dangkal dan dapatterbangun

dengan rangsangan stimulus seperti suara, ketika bangun seseorangmerasa

seperti melamun. Selama tahap ini terjadi pengurangan aktifitas fisiologis

seperti menurunnya tanda-tanda vital dan metabolisme. Tahap ini akan

berakhir beberapa menit saja (Potter & Perry, 2010; Patlak, 2005).

b. Tidur NREM stadium 2

Biasanya berlangsung selama 10 hingga 20 menit. Denyut jantungmelambat

dan suhu tubuh menurun (Smith & Segal & Segal, 2010). Relaksasi menjadi
29

lebih meningkat namun masih relatif mudah terbangun. Pada tahap ini

biasanya merupakan periode tidur bersuara (Potter & Perry, 2010).

c. Tidur NREM stadium 3

Tahap ini merupakan tahap awal dari tidur yang dalam, sulit

untukdibangunkan, jarang bergerak dan otot-otot dalam keadaan relaksasi

penuh. Tanda-tanda vital menurun namun tetap dalam keadaan stabil. Tahap ini

akan berakhir selama 15 sampai 30 menit (Potter & Perry, 2010). Pada tahap

ini individu sulit untuk dibangunkan, dan jika terbangun, individu tersebut

tidak dapat segera menyesuaikan diri dan sering merasa bingung selama

beberapa menit (Smith & Segal, 2010).

d. Tidur NREM stadium 4

Tahap ini merupakan tahap tidur yang paling dalam. Sulit dibangunkandan jika

kurang tidur maka orang yang tidur akan menghabiskan porsi malamyang

seimbang pada tahap ini. Tanda-tanda vital menurun secara bermakna danpada

tahap ini terkadang terjadi tidur sambil berjalan. Tahap ini akan

berakhirkurang lebih 15 sampai 30 menit (Potter & Perry, 2010). Gelombang

otak sangatlambat. Aliran darah diarahkan jauh dari otak dan menuju otot,

untuk memulihkanenergi fisik (Smith & Segal, 2010).

Tahap tiga dan empat dianggap sebagai tidur dalam atau deep sleep, dan

sangat restorativebagian dari tidur yang diperlukan untuk pemulihan

konsolidasimemori dan pemulihan psikologis (Potter & Perry, 2010; Patlak,

2005). Fase tidurNREM ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 90

menit, setelah ituakan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama
30

prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih intens dan panjang pada

siklus REM berikutnya (Potter & Perry, 2010; Japardi, 2002).

Selama tidur REM, mata bergerak cepat ke berbagai arah, walaupun

kelopak mata tetap tertutup. Pernafasan juga menjadi lebih cepat, tidak teratur,

dan dangkal. Denyut jantung dan nadi serta terjadi fluktuasi tekanan darah

yang meningkat (Patlak, 2005). Selama tidur baik NREM maupun REM, dapat

terjadi mimpi tetapi mimpi pada tidur REM terasa lebih nyata dan hidup. Hal

tersebut diyakini penting secara fungsional untuk konsolidasi memori jangka

panjang (Potter & Perry, 2010).

Siklus ini merupakan salah satu dari irama sirkadian yang merupakan

siklus dari 24 jam kehidupan manusia. Keteraturan irama sirkardian ini juga

merupakan keteraturan tidur seseorang. Jika terganggu maka fungsi fisiologis

dan psikologis dapat terganggu (Potter & Perry, 2010).

2.3.6 Siklus Tidur

Secara normal, pada dewasa muda pola tidur rutin dimulai dengan periode

sebelum tidur, selama seseorang terjaga hanya dengan rasa kantuk yang bertahap

berkembang secara teratur. Periode ini secara normal akan berakhir pada 10

hingga 30 menit, akan tetapi akan lebih merasa kesulitan pada seseorang yang

mengalami kesulitan untuk tertidur. Seseorang mengalami tidur malam kurang

lebih 7-8 jam, dan akan melewati REM dan NREM sebanyak 4 sampai 6 siklus

tidur penuh. Seseorang yang mengalami REM dengan cukup makan setelah

bangun tidur cenderung akan labil emosi, hiperaktif, dan nafsu makan akan
31

bertambah, akan tetapi sebaliknya jika seseorang mengalami NREM yang kurang

cukup maka seseorang tersebut akan akan mengalami kurang gesit pada fisiknya

seperti tidak berdaya dan lemas (Mardjono, 2008).

Tidur REM berakhir pada 60 menit selama masa siklus tidur berakhir.

Setiap orang akan mengalami kemajuan yang berbeda dan tidak selalu konsiten

untuk menuju tahap tidur yang biasa. Jumlah waktu yang digunakan pada setiap

tahap berbeda-beda, contohnya seperti tidur dapat berfluktuasi untuk interval

pendek yaitu NREM antara tingkat 2, 3 dan 4 sebelum memasuki tahap REM

(Potter & Perry, 2005).

Gambar 2.1Tahap-tahapsiklustidur orang dewasa


32

2.3.7 Kebutuhan dan Pola Tidur Normal

Kebutuhan tidur tiap individu satu dengan individu lainnya berbeda.

Beberapa seseorang merasa cukup tidur kurang dari 5 jam, akan tetapi beberapa

orang merasa kurang cukup dengan waktu tidur 5 jam di rasa masih kurang dan

membutuhkan waktu normal 7 sampai 8 jam atau bisa lebih dari 8 jam. Lama

tidur menurut usia juga mempengaruhi.Usia dewasa muda kebanyakan tidur

malam hari selama 6 sampai 8 jam. Masa dewasa muda akan lebih jarang atau

tidak pernah tidur pada siang hari. Kurang lebih untuk usia dewasa muda hanya

menghabiskan 20% dari Rapid Eye Movement (REM) dan akan lebih konsisnten

sepanjang hidup. Karena pada usia dewasa muda banyak gaya hidup yang akan

mengganngung pola tidur mada usia dewasa muda. Gaya hidup yang akan

mengganggu tidur dewasa muda misalnya seperti, stres tuntutan pekerjaan,stres

tuntutan perkuliahan, aktivitas sosial yang akan mengakibatkan insomnia, masalah

keluarga. Pola tidur yang mengganggu tersebut akan menjadikan seseorang lebih

kesulitan memulai dan mempertahankan tidurnya (Potter & Perry, 2005).

2.3.8 Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah suatu keadaan atau gambaran yang ditentukan oleh

perasaan energik atau tidak setelah terbangun dari tidur. Kulitas tidur pada suatu

gambaran tersebut bersifat subjektif (Kozier, 2008). Siklus ini merupakan salah

satu dari irama sirkadian yang merupakan siklus dari 24 jam kehidupan manusia.

Keteraturan irama sirkardian ini juga merupakan keteraturan tidur seseorang. Jika
33

terganggu maka fungsi fisiologis dan psikologis dapat terganggu (Potter & Perry,

2010).

Menurut Asmadi (2008) kualitas dapat dilihat melalui tujuh komponen,

yaitu:

a. kualitas tidur subjektif: yaitu penilaian subjektif diri sendiri terhadap

kualitas tidur yang dimiliki, adanya perasaan terganggu dan tidak nyaman

pada diri sendiri berperan terhadap penilaian kualitas tidur;

b. latensi tidur: yaitu berapa waktu yang dibutuhkan sehingga seseorang bisa

tertidur, ini berhubungan dengan gelombang tidur seseorang;

c. efisiensi tidur: yaitu didapatkan melalui presentase kebutuhan tidur

manusia, dengan menilai jam tidur seseorang dan durasi tidur seseorang

sehingga dapat disimpulkan apakah sudah tercukupi atau tidak;

d. penggunaan obat tidur dapat menandakan seberapa berat gangguan tidur

yang dialami, karena penggunaan obat tidur diindikasikan apabila orang

tersebut sudah sangat terganggu pola tidurnya dan obat tidur dianggap

perlu untuk membantu tidur;

e. gangguan tidur: yaitu seperti adanya mengorok, gangguan pergerakan,

sering terbangun dan mimpi buruk dapat mempengaruhi proses tidur

seseorang;

f. durasi tidur: yaitu dinilai dari waktu mulai tidur sampai waktu terbangun,

waktu tidur yang tidak terpenuhi akan menyebabkan kualitas tidur yang

buruk;
34

g. daytime disfunction atau adanya gangguan pada kegiatan sehari-hari

diakibatkan oleh perasaan mengantu.

2.3.9 Pola Tidur Normal

a. Bayi

Pada bayi baru lahir membutuhkan tidur selama 14-18 jam sehari,

pernapasan teratur, gerak tubuh 50% adalah tahap REM dan terbagi dalam

7 periode. Dan pada bayi tidur selama 12-14 jam sehari, sekitar 20-30%

tidur REM, tidur lebih lama pada malam hari dan punya pola terbangun

sebentar (Asmadi, 2008).

b. Toddler

Kebutuhan tidur pada Toddler menurun menjadi 10-12 jam/hari, tahap

REM 20-25%. Tidur siang dapat hilang pada usia 3 tahun karena sering

terbangun pada malam hari yang menyebabkan mereka tidak ingin tidur

pada malam hari (Asmadi, 2008).

c. Preschooler

Memerlukan waktu tidur 11-12 jam pada malam hari, tahap REM 20%.

Bisa jadi anak usia 4-5 mengalami kurang istirahat dan mudah sakit jika

kebutuhan tidurnya kurang terpenuhi (Asmadi, 2008).

d. Usia Sekolah

Tidur antara 8-12 jam pada malam hari tanpa tidur siang, tahap REM

berkurang sekitar 20%. Anak usia 8 tahun membutuhkan waktu kurang

lebih 10 jam setiap malam (Asmadi, 2008).


35

e. Adolensia

Tidur 8-10 jam pada malam hari untuk mencegah kelemahan dan

kerentanan terhadap infeksi, tahap REM 20%. Pada remaja laki-laki

mengalami Noctural Emission (orgasme dan mengeluarkan cairan semen

pada tidur malam hari) yang biasa kita kenal dengan mimpi basah (Potter,

2005).

f. Dewasa Muda

Pada masa ini umumnya mereka sangat aktif membutuhkan waktu tidur 7-

8 jam/hari, tahap REM 20%. Dewasa muda yang sehat membutuhkan

cukup tidur untuk berpartisipasi dalam kesibukan aktifitas karena jarang

sekali mereka tidur siang (Asmadi, 2008).

g. Dewasa Akhir

Kebutuhan akan tidur kurang dari 6 jam/hari, tahap REM 20-25% dan

tidur tahap IV mengalami penurunan (Asmadi, 2008).

2.3.10 Faktor-faktor yang Mempengarungi Tidur

Menurut Kozier dkk, (2004) kualitas tidur merupakan kemampuan

seseorang untuk dapat tidur dan mendapatkan tidur REM dan NREM yang tepat.

Faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur:

a. Usia

Faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas

tidur. Meningkatnya keluhan terhadap kualitas tidur terjadi seiringdengan

bertambahnya usia. Usia di atas 60 tahun terjadi proses penuaan secara


36

alamiah yang menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi, dan

psikologis. Lansia yang sehat sering mengalami perubahan pada polatidurnya

yaitu memerlukan waktu yang lama untuk dapat tidur. Mereka menyadari

lebih sering terbangun dan hanya sedikit waktu yang dapat digunakan untuk

tahap tidur dalam sehingga mereka tidak puas terhadap kualitas tidurnya

(Nugroho, 2008).

b. Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah status gender dari seseorang yaitu laki-laki dan

perempuan. Secara psikologis wanita memiliki mekanisme koping yang lebih

rendah dibandingkan dengan laki-laki dalam mengatasi suatu masalah.

Dengan adanya gangguan secara fisik maupun secara psikologis tersebut

maka wanita akan mengalami suatu kecemasan. Jika kecemasan itu

berlanjut maka akan mengakibatkan seseorang wanita lebih sering

mengalami kejadian gangguan tidur dibandingkan dengan laki-laki (Potter &

Perry, 2005b).

c. Penyakit

Keadaan sakit menyebabkan nyeri dapat menimbulkan gangguan tidur.

Seseorang yang sedang sakit membutuhkan waktu tidur lebih lama dari pada

keadaan normal. Seseorang yang sakit akan mengalami perubahan pola tidur

karena penyakitnya seperti rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh luka, tumor

atau kanker pada stadium lanjut (Kozier dkk. 2004).


37

d. Lingkungan

Lingkungan dapat mendukung atau menghambat tidur. Ventilasi, suhu

ruangan, penerangan ruangan, dan kondisi kebisingan sangat berpengaruh

terhadap tidur seseorang (Kozier dkk, 2004). Menurut Potter dan Perry (2005b)

kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat

membangunkan seseorang dari tidur. Gangguan tidur akan terjadi apabila tidur

di ruangan terlalu panas atau terlalu dingin (Lee dkk, 2007). Menurut Sack

dkk,(2007) sorot lampu terlalu terang dapat menyebabkan gangguan tidur dan

menghambat sekresi melatonin, terjadi pergeseran sistem sirkadian, dimana

jadwal tidur maju secara bertahap.

e. Kelelahan

Kelelahan akan berpengaruh terhadap pola tidur seseorang. Semakin lelah

seseorang maka akan semakin pendek tidur REMnya. Kondisi lelah dapat

menyebabkan seseorang merasa seolah-olah bangun saat tidur dan tidak

mendapatkan tidur yang dalam (Martin. 2000).

f. Gaya hidup

Orang yang berkerja shift dan sering berubah shiftnya harus mengatur

kegiatannya agar dapat tidur pada waktu yang tepat. Keadaan rileks sebelum

istirahat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang

untuk dapat bisa tidur (Kozier dkk, 2004).


38

g. Stres Emosi

Depresi dan kecemasan seringkali mengganggu tidur. Seseorang yang dipenuhi

dengan masalah mungkin tidak bisa rileks untuk bisa tidur. Kecemasan akan

meningkatkan kadar norepinephrine dalam darah yang akan merangsang sistem

saraf simpatetik. Perubahan ini menyebabkan berkurangnya tahap IV NREM

dan tidur REM (Kozier dkk, 2004).

h. Obat-obatan dan Alkohol

Beberapa obat-obatan berpengaruh terhadap kualitas tidur. Obat-obatan yang

mengandung diuretik menyebabkan insomnia, anti depresan akan memsupresi

REM. Orang yang minum alkohol terlalu banyak seringkali mengalami

gangguan tidur (Kozier dkk, 2004). Alkohol yang dikombinasikan dengan obat

hipnotik mengakibatkan kesulitan tidur. Efek tenang dengan mengkonsumsi

alkohol dapat memperlambat metabolisme tubuh dampaknya yaitu terjadi

kesulitan tidur (Martin. 2000).

i. Diet

Diet L-troptophan seperti terkandung dalam keju dan susu akan mempermudah

orang untuk tidur. Hal ini bisa menjelaskan mengapa seseorang yang sebelum

tidur meminum susu hangat, karena bias membantu seseorang untuk jatuh

tidur (Kozier dkk. 2004).

j. Merokok dan Konsumsi Kafein

Perokok seringkali mempunyai lebih banyak kesulitan untuk bisa tidur

dibandingkan dengan yang tidak perokok.Hal ini disebabkan karena nikotin

dalam rokok mempunyai efek menstimulasi tubuh. Menahan untuk tidak


39

merokok setelah makan malam dapat membantu tidur lebih baik. Pola tidur

akan menjadi lebih baik ketika mereka berhenti merokok (Kozier dkk. 2004).

Kafein juga menyebabkan gangguan tidur. Kafein tidak hanya ditemukan

dalam kopi, tetapi dalam makanan lain, minuman dan obat-obatan, seperti

coklat, soda, steroid, analgesik, bronkodilator, beberapa anti-hipertensi,

dekongestan dan penekan nafsu makan. Kafein dan stimulan lainnya seperti

nikotin telah terbukti meningkatkan latensi tidur dan fragmentasi tidur, dan

untuk menurunkan total waktu tidur (Martin, 2000).

k. Motivasi.

Keinginan untuk tetap terjaga seringkali berpengaruh terhadaptidur seseorang.

Sebagai contoh adalah saat dimana seorang ingin tetapterjaga ketika melihat

pertunjukkan musik, maka orang tersebut akantetap terjaga meskipun dalam

keadaan lelah (Kozier dkk. 2004).

2.3.11. Gangguan Tidur

Gangguan tidur dapat dialami oleh semua individu baik kaya,

miskin,berpendidikan tinggi dan rendah, orang muda serta yang paling sering

ditemukanpada usia lanjut. Pada orang normal, gangguan tidur yang

berkepanjangan akanmengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur

biologisnya, menurunkandaya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja,

mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya

dapat mempengaruhikeselamatan diri sendiri atau orang lain (Potter & Perry,

2010). Menurut Smith & Segal (2010), kualitas tidur dapat dinilai dengan melihat
40

masa laten tidur, lama waktu tidur, efisiensi kebiasaan tidur, gangguan

tidur,penggunaan obat tidur, gangguan di siang hari, dan kualitas tidur umum.

Kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan meningkatnya resiko hipertensi,

dengan demikian akan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (Potter &

Perry, 2010).

Gangguan tidur dapat mengganggu kualitas tidur pada individu serta akan

dijelaskan lebih lanjut tentang jenis-jenis gangguan tiduryang biasa terjadi (potter

& Perry, 2005).

1. Insomnia

2. Insomnia adalah kesulian untuk memenuhi kualitas dan kuantitas saat tidur.

Insomnia akan ditandai dengan kesulitan individu dalam memulai tahap

NREM 1.

3. Hipersomnia

Hipersomnia adalah keadaan ketika seseorang tidur secara berlebihan dari

waktu normal dan kelebihan dari insomnia yaitu kelebihan tidur lebih dari 9

jam di waktu malam hari.

4. Parasomnia

Parasomnia adalah gangguan tidur yang terjadi pada anak-anak. Anak-anak

yang mengalami parasomnia ini mengalami gejala seperti berjalan saat tertidur

dan perasaan takut.

5. Apnea

Apnea dalah suatu keadaan dimana individu tertidur mengalami henti nafas.
41

2.4 Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur

Kecemasan merupakan suatu ketakutan yang bercampur samar dan

berhubungan dengan perasaan ketidakpastian dan tidak berdaya, perasaan

terisolasi dan kegelisahan. Kecemasan akan menjadikan perasaan menjadi tidak

nyaman yang dimulai dari sejak kecil dan berlanjut di sepanjang kehidupan

(Stuart & Laraia, 2005). Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan

menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan

emosi dalam hal tersebut tidak memiliki obyek yang spesifik. Kecemasan dialami

secara subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal (Stuart, 2005).

Kejadian yang satu dengan yang lainnya dapat saling mempengaruhi, demikian

juga seperti yang dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana

tanah longsor. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana tanah longsor

akan merasa cemas ketika musim hujan datang. Masyarakat merasa takut, was-

was sehingga denyut nadi meningkat. Kekhawatiran masyarakat mengakibatkan

hilangnya nafsu makan dan cemas sebagai akibatnya, terjadi perubahan pada diri

seseorang, salah satunya perubahan kualitas tidur. Cemas akan berespon pada

fisiologis terhadap kualitas tidur seseorang (Potter & Perry 2010).

Respon sistem saraf otonom terhadap rasa takut dan cemas

menimbulkan aktivitas involunter pada tubuh yang termasuk dalam mekanisme

pertahanan diri. Serabut saraf simpatis mengaktifkan tanda-tanda vital pada setiap

tanda bahaya untuk mempersiapkan pertahanan tubuh. Kelenjar adrenal melepas

adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan tubuh mengambil lebih banyak oksigen,

mendilatasi pupil dan meningkatkan tekanan arteri serta frekuensi jantung sambil
42

membuat kontriksi pembuluh darah perifer dan memicu darah dari sistem

gastrointestinal dan reproduksi serta meningkatkan glikogenolisis menjadi

glukosa bebas guna menyokong jantung, otot dan sistem saraf pusat. Ketika

bahaya berakhir, serabut saraf parasimpatis membalik proses ini dan

mengembalikan tubuh ke kondisi normal sampai tanda ancaman berikutnya

mengaktifkan kembali proses simpatis (Videbeck, 2008). Cemas menyebabkan

respon kognitif, psikomotor dan fisiologis yang tidak nyaman, misalnya kesulitan

berfikir logis, peningkatan aktivitas motorik, agitasi dan peningkatan tanda-tanda

vital serta adanya kesulitan tidur (Videbeck, 2008).

Kecemasan yang dialami seseorang karena masalah yang dihadapinya

membuat seseorang menjadi tegang dan berusaha keras untuk tertidur sehingga

stres yang berlanjut dapat menyebabkan seseorang mempunyai kebiasaan tidur

yang buruk (Potter & Perry, 2005). Perasaan cemas akan hal yang dialaminya

membuat seseorang sulit tidur, sering terbangun tengah malam, perubahan siklus

tidur, bahkan terlalu banyak tidur sehingga stres emosional dapat menyebabkan

kebiasaan tidur buruk (Potter & Perry, 2005). Kecemasan yang berlebih pada

seseorang akan membuat seseorang tersebut terlalu keras dalam berfikir sehingga

seseorang akan sulit untuk mengontrol emosinya yang berdampak pada

peningkatan ketegangan dan kesulitan dalam memulai tidur. Kesulitan ini yang

nanti akan mengganggu seseorang tersebut untuk mendapatkan kualitas tidur yang

diinginkan. Menurut Rafknowledge (2004) stres yang dialami dapat

mempengaruhi kebutuhan waktu untuk tidur sehingga semakin tinggi tingkat stres

maka kebutuhan waktu untuk tidur juga akan berkurang. Kozier (2002) juga
43

mengungkapkan bahwa kecemasan meningkatkan kadar norepinephrin didalam

darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis, zat kimia ini mengakibatkan

perubahan pada berkurangnya tidur tahap 4 NREM dan tidur REM serta

terbangun. Siklus tidur yang berkurang dan tidak teraturdapat mengakibatkan

kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur adalah suatu keadaan atau gambaran yang

ditentukan oleh perasaan energik atau tidak setelah terbangun dari tidur. Kulitas

tidur pada suatu gambaran tersebut bersifat subjektif (Kozier, 2008). Kualitas

tidur yang buruk dapat terjadi pada masyarakat yang memiliki perasaan cemas

berlebihan khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana.


44

2.6 Kerangka Te
Dampak Bencana:(Tomoko, 2009).
Bencana : Bencana merupakan Faktor faktor yang
fenomena yang terjadi karena a. Dampak Bencana pada Aspek Fisik mempengaruhi tidur :(Potter &
Perry, 2005).
komponen-komponen pemicu, ancaman b. Dampak Bencana pada Aspek Psikologis
1. Penyakit Fisik
dan kerentanan bekerja bersama secara 2. Gaya Hidurp
sistematis, sehingga menyebabkan 3. Stres Emosional
terjadinya risiko pada komunitas (Badan 4. Lingkungan
NasionalPenanggulangan Bencana, 2011). Kecemasan akan menjadikan 5. Latihan Fisik dan Kelelahan
perasaan menjadi tidak nyaman yang 6. Asupan Makanan dan
dimulai dari sejak kecil dan berlanjut Kalori
Faktor yang mempengaruhi di sepanjang kehidupan(Stuart & Laraia, 2005).
kecemasan :(Stuart dalam wahyuni,
2015)
1. Faktor predisposisi Patofisiologi
a. Teori Psikoanalitatis Kecemasan: Perubahan pada siklus
Respon Kecemasan:
b. Teori Interpersonal (Stuart & Laraia. 2005) (Kozier, 2002) tidur tahap 4 NREM
c. Teori Perilaku kadar norepinephrin dan tidurREM
d. Kajian Keluarga 1. Respon fisiologis meningkat didalam menyebabkan
e. Kajian biologis terhadap kecemasan darah melalui kesulitan tidur (Kozier,
2. Faktor presipitasi : Kardiovaskuler, 2008)
stimulasi sistem saraf
kulit,
a. Ancaman terhadap simpatis
gastrointesstinal,
integritas fisik
neuromuskuler
b. Ancaman terhadap
2. Respon psikologis
harga diri Indikator kualitas tidur Gangguan tidur : (Potter
terhadap kecemasan & Perry, 2005).
:(Asmadi, 2008)
: Perilaku, kognitif, a. Insomnia
a. Kualitas tidur subjektif
afektif b. Hipersomnia
b. Latensi tidur
c. Efisiensi tidur. c. Parasomnia
d. Penggunaan obat tidur d. Apnea
e. Gangguan tidur
f. Durasi tidur
g. Daytime disfunction
45

BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konseptual

Indikator Kualitas Tidur :

1. Kualitas tidur sebjektif

2. Latensi tidur

3. Efisiensi tidur
Tingkat Kecemsan:
4. Penggunaan obat-obatan
1. Ringan
2. Sedang 5. Gangguan tidur
3. Berat
4. Panik 6. Durasi

7. Daytime disfuction

Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Tingkat Kecemasan dengan

Kualitas Tidur Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

Keterangan :

: tidak diteliti : diteliti


46

3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan hipotesis alternatif (Ha),

yaitu hipotesis yang menyatakan adanya suatu hubungan, pengaruh, dan

perbedaan antara dua atau lebih variabel (Nursalam, 2008). Hipotesis dalam

penelitian ini adalah Ha diterima yaitu ada hubungan tingkat kecemasan dengan

kualitas tidur masyarakat daerah rawan longsor di Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Hipotesis Ha diterima apabila p value <

0,05 dan Ha ditolak apabila p value > 0,05.


47

BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah korelasi observasionaldengan pendekatan

cross sectional yaitu suatu penelitian yang mempelajari faktor-faktor resiko

dengan efek antara dinamika korelasi, dengan cara pendekatan, observasi atau

pengumpulan data pada satu waktu (Setiadi, 2007; Sugiyono, 2014; Menurut

Notoatmodjo). Peneliti melakukan analisis hubungan variabel independen yaitu

tingkat kecemasan dan variabel dependen yaitu kualitas tidur pada Masyarakat

Daerah Rawan Longsor Di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten

Jember.

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian

4.2.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Populasi

penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti

(Notoatmodjo, 2012). Populasi dibagi menjadi dua bagian yaitu populasi

terjangkau dan populasi target. Populasi terjangkau adalah bagian dari populasi

target yang dibatasi oleh waktu dan tempat, dari populasi terjangkau dipilih

sampel yang dijadikan sebagai subyek yang akan langsung di teliti. Populasi
48

target adalah populasi yang merupakan sasaran terakhir penerapan hasil penelitian

(Sastroasmoro, 2010). Populasi target pada penelitian ini adalah masyarakat yang

tinggal di daerah rawan longsor Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember sejumlah 84 orang.

4.2.2 Sampel Penelitian

Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan aplikasi GPower

3, yaitu aplikasi yang didesain sebagai program analisis power untuk uji statistik

yang umumnya digunakan pada penelitian sosial dan perilaku (Erdfelder, Faul,

dan Buchnert, 1996 dalam Faul, Erdfelder, Lang, dan Buchnert, 2007). Data yang

diinput ke dalam aplikasi GPower 3, yaitu:

a. Test family, pilih Exact

b. Statistical test, pilih Correlations: Difference from constant (one sample

case)

c. Type of power analysis, pilih A priori: Compute requaired sample size –

given α, power, and effect size

d. Input parameters, yang terdiri dari:

1. tail(s), pilih two

2. Effect size (r), sesuai dengan uji statistik analisa bivariat yang

akandigunakan yaitu pearson. Cohen telah menentukan effect size

terstandarisasi, yaitu 0,10 (small), 0,30 (medium), 0,50 (large). Jika

terdapat data penelitian sebelumnya, GPower 3 dapat menggunakan

mean-mean untuk menghitung effect size dengan mengklik tombol


49

determine di dekat kotak effect size. Jika tidak ada penelitian

sebelumnya yang relevan, maka analisis GPower 3 dapat dilakukan

menggunakan effect size standar yang telah ditentukan oleh Cohen

(Prajapati, Dunne, dan Armstrong, 2010). Sehingga penelitian ini

menggunakan standar effect size yaitu 0,30.

3. α error probability, diisi sesuai dengan tingkat kesalahan yang akan

digunakan yaitu 0,05 4) Power (1-β error probability) secara umum

menggunakan 0,80 (Prajapati, Dunne, dan Amstrong, 2010).

4. Population correlation ρ, diisi 0.

e. Klik Calculate

f. Output dapat dilihat pada protocol of power analyses Jadi, total sample

size yang didapatkan pada penelitian ini menggunakan aplikasi GPower 3

sejumlah 84 orang.

4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik non propability

sampling yang berarti sampel diambil bukan secara acak atau random dimana

pengambilan sampel tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi anggota

populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2014). Teknik pengambilan

sam menggunakan pendekatan Purposive Sampling yaitu teknik penentuan sampel

dengan pertimbangan tertentusesuai dengan yang dikehendaki (Setiadi, 2007).


50

4.2.4 Kriteria Sampel Penelitian

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah subjek penelitian dari suatu populasi target yang

memenuhi yang diteliti dengan karakteristik umum (Notoatmodjo, 2012). Kriteria

inklusi di dalam penelitian ini adalah :

1. masyarakat yang tinggal di Dusun Rayap Desa Kemuning Lor Kecamatan

Arjasa Kabupaten Jember;

2. tidak mengalami disorientasi;

3. bisa berkomunikasi dengan jelas;

4. bersedia menjadi responden dan menandatangani lembar informed

concent;

5. usia dewasa awal-dewasa akhir (30 tahun sampai 55 tahun).

b. Kriteria Ekslusi

Kriteria ekslusi adalah mengeluarkan atau menghilangkan suatu subyek yang

mana tidak memenuhi kriteria inklusi dikarenakan berbagai sebab sehingga tidak

dapat menjadi responden dalam penelitian (Notoadmodjo, 2012). Kriteria eksklusi

didalam penelitian ini adalah :

1. masyarakat yang tidak bersedia menjadi responden;

2. masyarakat yang sakit asma, stroke, gangguan kejiwaan yang ditandai

dengan surat keterangan dokter ;

3. ibu hamil

4. ibu menyusui.
51

4.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti adalah di daerah rawan longsor

di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.

4.4 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2017.

Waktu penelitian dihitung mulai dari pembuatan proposal sampai penyusunan

laporan dan publikasi hasil penelitian. Pengambilan data primer dilakukan ,mulai

bulan Januari sampai Mei 2017.

4.5 Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu

variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian

ini adalah tingkat kecemasan dan variabel dependennya adalah kualitas

tidur.Penjelasan definisi operasional terdapat pada tabel 4.1


52

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Indikator Alat Ukur Skala Skor


operasional
1. Variabel Keadaan 1. respon fisiologis; Kuisioner Zung Ordinal Skor 20-44 : kecemasan ringan
independen: seseorang yang 2. responpsikologis. Self Anxiety Scale Skor 45-59: kecemasan sedang
tingkat menggambarkan Skor 60-74 kecemasan berat
kecemasan perasaan tidak Skor 75-80: kecemasan panik
tenang, takut dan
gelisah terhadap (Zung Self-Rating Anxiety Scale dalam Ian Mc
sesuatu. Dowell, 2006).

2. Variabel Kepuasan tidur 1. kualitas tidur Kuisioner PSQI Ordinal Kategori kualitas tidur yaitu :
dependen: seseorang yang subyektif; Baik = 0 ≤5
kualitas tidur meliputi 2. latensi tidur; Buruk = >5
kemudahan untuk 3. durasi tidur;
memulai tidur, 4. efiensi kebiasaan
mampu tidur
mempertahankan 5. gangguan tidur;
tidur, dan merasa 6. penggunaan obat (Buysee et al, 1988; Smyth, 2012).Item
rileks setelah tidur;
bangun dari tidur. 7. daytime disfunction.
53

4.6 Teknik Pengumpulan Data

4.6.1 Sumber Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langung oleh peneliti yang

berasal dari subjek penelitian melalui lembar kuesioner atau angket

(Notoadmodjo, 2012). Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari

hasil penulisan tingkat kecemasan dan kualitas tidur masyarakat daerah

rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kaecamatan Arjasa Kabupaten

Jember. Melalui lembar kuesioner. Lembar kuesioner berisikan beberapa

pertanyaan tertutup yang dapat digunakan sebagai acuan dalam penilaian

yang meliputi komponen-komponen dari tingkat kecemasan dan kualitas

tidur.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang didapatkan peneliti berdasarkan sumber

lain (Notoadmodjo, 2012). Data sekunder didapatkan dari data Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember yaitu berupa

data yang terdiri dari peta rawan bencana, data kejadian bencana di

kabupaten Jember dan wawancara dengan kepala departemen 1 Badan

Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember.

4.6.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan oleh peneliti mulai dari pengambilan

sampel penelitian hingga penyebaran kuisioner dan pengumpulan data secara


54

keseluruhan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dalam melakukan

penelitian ini dengan cara mengisi lembar kuisioner tingkat stres dan PSQI. Proses

pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa

langkah-lang kah sebagai berikut:

a. sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu mengurus surat ijin

penelitian dari pihak Program Studi Ilmu Kperawatan dan Lembaga Penelitian

Universitas Jember;

b. menentukan responden penelitian yang sesuai kriteria berdasarkan data dari

pihak Bapan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD);

c. melakukan survei tempat terkait pengisian kuesioner;

d. peneliti menuju tempat penelitian yang baru terkena longsor, kemudian menuju

ke rumah warga yang ada disana dan mencari sebanyak jumlah sampel yang

dibutuhkan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dan peneliti memulai

pengambilan data dengan cara door to door;

e. responden dimintai untuk menandatangani lembar (informed concent) dalam

penelitian;

f. peneliti menanyakan karakteristik responden dengan mengisi lembar identitas

yang mencakup nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan;

g. peneliti memberikan lembar kuesioner ZSAS dan PSQI kepada respondenyang

disi maksimal alokasi wakt 10-15 menit;

h. setelah responden selesai menuliskan jawaban, peneliti melakukan cros-ceck

ulang apabila ada jawaban yang sebelum terjawab atau terlewati dan segera

meminta responden menjawab pertanyaan yang terlewati atau belum terjawab.


55

4.6.4 Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan dalam peneilitan ini adalah kuesioner Zung Self-Rating

AnxietyScale (ZSAS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan Pittsburgh Sleep

Quality Index(PSQI) untuk mengukur kualitas tidur.

a. Kuesioner ZSAS

Zung Self-Rating AnxietyScale (SAS/ZRAS) adalah penilaian kecemasan

pada pasien dewasa yang dirancang oleh William W.K.Zung,

dikembangkan berdasarkan gejala kecemasan dalam Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV). Alat ukur ini

merupakan instrumen yang dirancang untuk meneliti tingkat kecemasan

secara kuantitatif. Bertujuan untuk menilai kecemasan sebagai kelainan

klinis dan menentukan gejala kecemasan. Terdapat 20 pertanyaan, dimana

setiap pertanyaan dinilai 1-4 (1: tidak pernah, 2: kadang-kadang, 3:

sebagian waktu, 4: hampir setiap waktu). Terdapat 15 pertanyaan ke arah

peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan ke arah penurunan kecemasan

(Zung Self-Rating Anxiety Scale dalam Ian Mc Dowell, 2006).

Rentang penilaian 20-80, dengan pengelompokan antara lain:

Skor 20-44 : normal/tidak cemas

Skor 45-59 : kecemasan ringan

Skor 60-74 : kecemasan sedang

Skor 75-80 : kecemasan berat


56

Tabel 4.2 Blue Print Kuisioner ZSAS

Variabel Indikator Nomor Pertanyaan Jumlah


Tingkat 1. Psikologis 1, 2, 3, 4, 5, 20 5
Kecemasan

2. Fisiologis 3, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 15


12, 12, 14, 15, 16,
17, 18, 19
Jumlah 20

b. Kuesioner PSQI

Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) adalah alat ukur yang digunakan

untuk meneliti kualitas tidur seseorang. PSQI terdiridari 18 item yang dinilai oleh

individu (Buysee et al, 1988; Smyth, 2012). Item 1-4 merupakan pertanyaan

terbuka tentang kebiasaan individu tidur dan bangun, total waktu tidur, dan sleep

latency (menit). Item 5-18 menggunakan skala Likert, yaitu 0 = tidak selama satu

bulan terakhir, 1= kurang dari sekali seminggu, 2= sekali atau dua kali seminggu,

3= tiga kali atau lebih dalam seminggu. Item 19 menggunakan skala Likert dalam

penilaian kualitas tidur secara keseluruhan, yaitu 0= sangat baik, 1= cukup baik,

2= cukup buruk, 3= sangat buruk. Item tambahan yang dinilai oleh teman sekamar

hanya digunakan untuk informasi klinis dan tidak ditabulasikan dalam penilaian

dari instrumen ini. Delapan belas belas item pernyataan menilai berbagai faktor

yang berkaitan dengan tidur yang berkualitas dan dikelompokkan dalam tujuh

komponen. Ketujuh komponen skor tersebut kemudian dijumlahkan untuk

menghasilkan skor global dari PSQI yang memiliki jangkauan skor 0-21.

Minumum Skor = 0 (baik), maximum skor = 21 (buruk). Interpretasi total, jika


57

nilai < 5 = kualitas tidur baik dan jika nilai >5 = kualitas tidur buruk. Semakin

tinggi skor global yang didapat semakin buruk pula kualitas tidur individu

tersebut (Buysse et al, 1988).

Tabel 4.3Blue Print Kuisioner PSQI

Variabel Indikator Nomor Pertanyaan Jumlah


Kualitas tidur 1. Kualitas tidur subyektif 9 1
2. Latensi tidur 2, 5a 2
3. Durasi tidur 4 1
4. Efisiensi Kebiasaan tidur 1, 3 2
5. Gangguan tidur 5b-j 9
6. Penggunaan obat tidur 6 1
7. Daytime dysfunction 7,8 2

Jumlah 18

4.6.4 Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Uji Validitas

Peneliti tidak melakukan uji validitas karena sebelumnya telah dilakukan

uji validitas oleh Flowerenty (2015) kepada 20 klien PPOK di Poli

Spesialis ParuB Rumah Sakit Paru Kabupaten Jember. Hasil uji validitas

penelitian PSQI tersebut yaitu hasil r tabel 0,444 dan r hitung lebih dari r

tabel yaitu 0,556-0,880. Menurut Hastono (2007), suatu pertanyaan

dikatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari pada r tabel.

Berdasarkan pernyataan tersebut, pertanyaan pertanyaan dalam kuesioner

yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan valid. Validitas instrumen

ZSAS signifikan berkorelasi dengan Taylor Manifestasi Anxiety Scale

(TIMAS) yaitu 0,5 (William, 1971).

b. Uji Reliabilitas
58

Item instrumen penelitian yang valid dilanjutkan dengan uji reliabilitas

dengan rumus alpha cronbach yaitu membandingkan nilai r hasil (Alpha)

dengan nilai r tabel. Kuesioner PSQI telah dilakukan uji reliabilitas

olehUniversity of Pittsburgh (1988) dengan nilai alpha cronbach sebesar

0,83. Pada penelitian Flowerenty (2015) juga dilakukan uji reliabilitas

dengan nilai alpha cronbach sebesar 0,766. Berdasarkan kriteria hasil

yang dikemukakan oleh Arikunto (2010), hasil uji reliabilitas penelitian

ini termasuk dalam kriteria tinggi sehingga instrumen reliabel dan layak

untuk diujikan. Kuesioner ZSAS telah dilakukan uji reliabilitas oleh

Haryana (2012) dengan nilai alpha cronbach 0,965 termasuk dalam

kategori sangat tinggi.

4.7 Pengolahan Data

4.7.1 Editing

Proses editing merupakan kegiatan memeriksan lembar observasi pengisian

kuesioner yang telah diserahkan pengumpul data untuk dilakukan pengecekan

ataupun perbaikan. Pengambilan data ulang dilakukan jika pengisian kuesioner

belum atau tidak lengkap (Notoatmodjo, 2012).

4.7.2 Coding
59

Coding merupakan pemberian tanda atau mengklasifikasikan jawaban-

jawaban dari responden ke dalam kategori tertentu. Kegiatan ini mengubah data

huruf menjadi data angka sehingga mudah dalam menganalisa (Notoatmodjo,

2012). Pemberian kode pada kuesioner penelitian berdasarkan karakteristik

responden meliputi:

a. Jenis kelamin memiliki kategori

1. Laki-laki = 1

2. Perempuan = 2

b. Pendidikan terakhir responden memiliki kategori

1. Tidak sekolah = 1

2. SD = 2

3. SMP = 3

4. SMA = 3

5. S1 (sarjana) = 4

c. Tingkat kecemasan

1. Ringan = 1

2. Sedang = 2

3. Berat = 3

4. Panik = 4

d. Kualitas tidur

1. Baik = 1

2. Buruk = 2

4.7.3 Entry Data


60

Jawaban-jawaban yang sudah diberi kategori kemudian dimasukkan dalam

tabel dengan cara menghitung frekuensi data (Notoatmodjo, 2012). Memasukkan

data dengan cara manual atau melalui pengolahan komputer.

4.7.4 Cleaning

Cleaning adalah teknik membersihkan data, dengan melihat variable apakah

data saudah benar atau belum. Data yang sudah dimasukkan diperiksa kembali

sejumlah sampel dari kemungkinan data yang belum di entry (Notoatmodjo,

2012). Hasil dari cleaning didapatkan bahwa tidak ada kesalahan sehingga seluruh

data dapat digunakan.

4.8 Analisa Data

Pengelompokan data berdasarkan karakteristik responden, menyajikan data

dari setiap variabel yang diteliti menggunakan perhitungan untuk menguji

hipotesis yang diajukan (Sugiyono, 2011). Analisa data dalam penelitian ini

menggunakan anaisa univariat data dan analisa bivariat.

4.8.1 Analisa Univariat

Analisa univariat digunakan oleh peneliti bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012).

Karakteristik responden yaitu umur, jenis kelamin, suku, pendidikan, pekerjaan,

tingkat kecemasan dan kualitas tidur disajikan dalam bentuk presentase atau
61

proporsi. Tingkat kecemasan dan Kualitas tidur ditambahkan dalam bentuk

kategori untuk memperjelas dalam pembahasan.

4.8.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan

atau korelasi antara dua variabel yakni hubungan tingkat kecemasan dengan

kualitas tidur masyarakat daerah rawan longsor. Jenis variabel independen dan

dependen adalah ordinal (kategorik) sehingga analisa data menggunakan uji korelasi

Kendall Tau.Pada penelitian ini kriteria uji Ha diterima jika p value < dengan significant

yang digunakan adalah 0,05.

4.9 Etika Penelitian

4.9.1 Lembar Persetujuan (Informed Consent)

Peneliti memberikan informed concent (lembar persetujuan) kepada

responden sebelum dilakukan penellitian. Lembar persetujuan merupakan

kesadaran peneliti dan usahanya untuk memberikan informasi tentang studi

penelitian kepada peserta penelitian. Peneliti dan peserta dapat bersama-sama

mencapai persetujuan tentang hak-hak dan tanggung jawab masing-masing selama

penelitian. Dalam lembar peretujuan ini responden juga dapat menolak jika tidak

setuju untuk menjadi responden (Notoatmodjo, 2012). Peneliti memberikan

penjelasan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria inklusi tentang tujuan,

manfaat, prosedur penelitian dan peran responden, kemudian peneliti memberikan

kessempatan untuk menentukan bersedia atau tidak manjadi reponden pada


62

penelitian ini. Klien yang bersedia menjadi reponden, maka diminta untuk

menandatangani pernyataan persetujuan menjadi responden.

4.9.2 Otonomi (autonomy)

Otonomi adalah setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih rencana

kehidupannya sendiri (Potter & Perry, 2010). Penelitian mengharagai pendapat

yang dikemukakan oleh reponden. Peneliti memberikan kebebasan kepada

reponden untuk menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan kehendak masyarakat

tersebut tanpa paksaan.

4.9.3 Kerahasiaan (Confidentiality)

Kerahasiaan adalah untuk menghindari membicarakan masalah seseorang

kepada orang lain yang secara langsung tidak terlibat (Potter & Perry, 2010).

Notoatmodjo menyatakan bahwa setiap orang behak untuk tidak memberikan apa

yang diketahui kepda orang lain. Peneliti menjaga kerahasiaan informasi yang

didapatkan dari responden. Peneliti tidak menyampaikan informasi yang

didapatkan dari responden. Peneliti tidak menyampaikan informasi kepada pihak

lain diluar kepentingan atau pencapaian tujuan penelitian. Peneliti

menggunakananonim berupa kode reponden untuk merahasiakan identitas

responden.
63

4.9.4 Keadilan (Justice)

Keadilan merupakan prinsip moral berlaku adil dan memberikan apa yang

menjadi kebutuhan seseorang (Potter & Perry, 2010). Tindakan yang sama tidak

selalu identik, tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunya kontribusi yang

relatif sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Peneliti memperlakukan setiap

responden sama, berdasarkan moral, martabat, hak asasi manusia dan tidak

membeda bedakan responden.

4.9.5 Kemanfaatan (beneficience)

Kemanfaatan merupakan prinsip untuk memberikan manfaat, keseimbangan

manfaat terhadap risiko dan menentukan cara terbaik untuk membantu seseorang

(Potter & Perry, 2010). Peneliti memberi jaminan bahwa responden bebas dari

segala penderitaan selama penelitian berlangsung karena tidak ada intervensi yang

membahayakan.
64

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Gambaran Umum

Bab ini menguraikan tentang hasil dan pembahasan tentang hubungan

tingkat kecemasan dan kualitas tidur masyarakat daerah rawan longsor di desa

Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Desa Kemuning Lor lebih

terkenal dengan sebutan desa wisata rembangan. Desa wisata rembangan ini

terletak di dataran tinggi dan berada di bawah lereng-lereng pegunungan

Argopuro. Menurut data yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana

(BPBD) desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember selain berada

di dataran tinggi dan dibawah lereng pegunungan Argopuro, desa kemuning Lor

juga lebih sering terjadi bencana seperti tanah longsor ketika musim penghujan

datang. Data dari BPBD juga menyebutkan bahwa hampir setiap tahunnya desa

Kemuning Lor mengalami musibah tanah longsor. Penduduk desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember ini kebanyakan menempati rumah yang

bersusun-susun dan memiliki jarak terlalu dekat antar rumah bagian atas dan

rumah bagian bawah. Lokasi rumah yang bersusun mengakibatkan resiko tinggi

terhadap longsor. Akses jalan antar rumah warga sangat sempit dan jalan nampak

sangat menanjak.
65

5.1.2 Analisis Univariat

a. Karakteristik responden

1. Umur

Analisis univariat karakteristik responden berdasarkan umur menggunakan

nilai mean, median, standar deviasi, minimal dan maksimal. Berikut rerata

responden berdasarkan umur di masyarakat Desa Kemuninglor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Gambaran distribusi umur responden di Desa kemuning Lor (n=84)

Karakteristik Anggota Mean Median Standar Minimum-Maksimum


Keluarga Deviasi
Usia (tahun) 38,86 39,00 6,198 30-50
Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan tentang distribusi responden menurut usia

diperoleh bahwa usia termuda di Desa kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember adalah 30 tahun dan usia tertua adalah 50 tahun. Usia rata-rata

klien adalah 38,86 tahun, usia tengah adalah39 tahun dengan nilai standar deviasi

6.198.

2. Jenis Kelamin

Analisis univariat karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

menggunakan nilai persentase dari keseluruhan responden yang disajikan dalam

tabel 5.2
66

Tabel 5.2 Gambaran distribusi responden berdasarkan jenis kelamindi Desa


kemuning Lor (n=84)

Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%)


Jenis kelamin
1. Laki-laki 22 26,2
2. Perempuan 62 73,8
Total 84 100
Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan jenis kelamin responden laki-laki berjumlah

22orang dengan persentase 26,2 %, jenis kelamin perempuan berjumlah 62orang

dengan persentase 73,8 %, dan total keseluruhan responden berjumlah 84orang.

3. Pendidikan

Analisis univariat karakteristik responden berdasarkan pendidikan

menggunakan nilai presentase dari keseluruhan responden yang disajikan dalam

tabel 5.3

Tabel 5.3 Gambaran distribusi responden berdasarkan pendidikan pada


masyarakat Desa kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember
(n=84)

Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%)


Kelas
1. Tidak sekolah/SD 24 28,6
2. SMP 33 39,3
3. SMA 19 22,6
4. Sarjana 8 9,5
Total 84 100
Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan responden berdasarkan pendidikan

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

menunjukkan hasil responden yang tidak ssekolah/SD berjumlah 24 orang dengan

persentase 28,6 %, responden SMP berjumlah 33 orang dengan persentase 39,3%,


67

responden SMA berjumlah 19 orang dengan persentase 22,6%, serta responden

sarjana berjumlah 8 orang dengan persentase 9,5% dengan total keseluruhan

responden berdasarkan pendidikan sejumlah 84.

4. Pekerjaan

Analisis univariat karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

menggunakan nilai persentase dari keseluruhan responden yang disajikan dalam

tabel 5.4.

Tabel 5.4 Gambaran distribusi responden berdasarkan pekerjaan pada masyarakat


Desa kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%)


Kelas
1. Tidak Bekerja 32 38,1
2. Bekerja 52 61,9

Total 84 100
Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan responden berdasarkan pekerjaan masyarakat

Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember menunjukkan hasil

responden yang tidak bekerja berjumlah 32 orang dengan persentase 38,1% dan

responden yang bekerja berjumlah 52 orang dengan jumlah persentase 61,9%

dengan total keseluruhan responden berdasarkan pekerjaan sejumlah 84.

5. Status Perkawinan

Analisis univariat karakteristik responden berdasarkan status perkawinan

menggunakan nilai persentase dari keseluruhan responden yang disajikan dalam

tabel 5.5
68

Tabel 5.5 Gambaran distribusiresponden berdasarkan pekerjaan pada masyarakat


Desa kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%)


Kelas
1. Menikah 61 72,6
2. Belum Menikah 23 27,4

Total 84 100
Sumber : Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan responden berdasarkan status perkawinan

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

menunjukkan hasil responden yang sudah menikah berjumlah 61 orang dengan

persentase 72,6% dan responden yang belum menikah berjumlah 23 orang dengan

jumlah persentase 27,4% dengan total keseluruhan responden berdasarkan status

perkawinan sejumlah 84.

b. Variabel Kecemasan

1. Kualitas Tidur Subjektif

Distribusi data variabel kecemasan ditentukan berdasarkan hasil kuisioner

kecemasan yang mengacu pada nilai mean. Pengkategorian kecemasan jika skor

yang diperoleh 20-22 adalah normal/tidak cemas, skor 45-59 adalah kecemassan

ringan, skor 60-74 adalah kecemasan sedang, skor 75-80 adalah kecemasan berat.

Hasil penelitian tentang kecemasan dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut.
69

Tabel 5.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan kecemasan di Desa


Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

No Tingkat Kecemasan Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Kecemasan Sedang 54 64,3
2. Kecemasan Berat 30 35,7

Total 84 100
Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa kecemasansedang dengan jumlah 54

orang (64,3%) dan kecemasan berat dengan jumlah 30 orang (35,7%).

c. Variabel Kualitas Tidur

1. Distribusi data kualitas tidur subjektif ditentukan berdasarkan hasil

kuisioner kualitas tidur yang mengacu pada nilai mean. Pengkategorian

kualitas tidur subjektif jika nilai 0 = sangat baik, 1 = cukup baik, 2 =

cukup buruk, 3 = sangat buruk. skor Hasil penelitian tentang kualitas tidur

subjektifdapat dilihat pada tabel 5.7 berikut.

Tabel 5.7 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan kualitas


tidur subjektif masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan
Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Sangat baik 10 11,9
2. Cukup baik 25 29,8
3. Cukup buruk 26 54,8
4. Sangat buruk 3 3,6

Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)


70

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa kualitas tidur subjektif

dengan nilai sangat baik berjumlah 10 orang (11,9%), cukup baik 25 orang

(29,8%), cukup buruk berjumlah 46 orang (54,8%), sangat buruk

berjumlah 3 orang (3,6%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan

kualitas tidur subjektif sejumlah 84 orang.

2. Latensi

Tabel 5.8 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan latensi


tidu masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa
Kabupaten Jember (n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Sangat baik 12 14,3
2. Cukup baik 28 33,3
3. Cukup buruk 28 33,3
4. Sangat buruk 16 19,0

Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa latensi tidur dengan nilai

sangat baik berjumlah 12 orang (14,3%), cukup baik 28 orang (33,3%),

cukup buruk berjumlah 28 orang (33,3%), sangat buruk berjumlah 16

orang (19,6%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi

tidur sejumlah 84 orang.


71

3. Durasi Tidur

Tabel 5.9 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan durasi


tidur masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa
Kabupaten Jember (n=84)
No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Sangat baik 25 25,0
2. Cukup baik 33 39,3
3. Cukup buruk 24 28,6
4. Sangat buruk 6 7,1

Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.9 dapat diketahui bahwa kualitas tidur subjektif

dengan nilai sangat baik berjumlah 21 orang (25,0%), cukup baik 33 orang

(39,3%), cukup buruk berjumlah 24 orang (28,6%), sangat buruk

berjumlah 6 orang (7,1%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan

durasi tidur sejumlah 84 orang.

4. Efisiensi Tidur

Tabel 5.10 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan


efisiensi tidu masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan
Arjasa Kabupaten Jember (n=84)
No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Sangat baik 7 8,3
2. Cukup baik 20 23,8
3. Cukup buruk 6 7,1
4. Sangat buruk 51 60,7

Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.10 dapat diketahui bahwa kualitas efisiensi tidur

dengan nilai sangat baik berjumlah 7 orang (8,3%), cukup baik 20 orang
72

(23,8%), cukup buruk berjumlah 6 orang (7,1%), sangat buruk berjumlah

51 orang (60,7%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi

tidur sejumlah 84 orang.

5. Gangguan Tidur

Tabel 5.11 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan


gangguan tidur masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa
Kabupaten Jember (n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Sangat baik 9 10,7
2. Cukup baik 29 34,5
3. Cukup buruk 37 44,0
4. Sangat buruk 9 10,7

Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.11 dapat diketahui bahwa gangguan tidur masyarakat

Desa Kemuning Lor Kecamat Arjasa Kabupaten Jember dengan nilai

sangat baik berjumlah 9 orang (34,5%), cukup baik 29 orang (34,5%),

cukup buruk berjumlah 37 orang (44,0%), sangat buruk berjumlah 9 orang

(10,7%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur

sejumlah 84 orang.
73

6. Penggunaan Obat Tidur

Tabel 5.12 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan


gangguan tidur masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan
Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Sangat baik 72 85,7
2. Cukup baik 9 10,7
3. Cukup buruk 3 3,6
Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.12 dapat diketahui bahwa penggunaan obat tidur

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamat Arjasa Kabupaten Jember

dengan nilai sangat baik berjumlah 72 orang (85,7%), cukup baik 9 orang

(10,7%), cukup buruk berjumlah 3 orang (3,6%), dengan total keseluruhan

responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang.

7. Daytime disfunction

Tabel 5.13 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan day


time disfuction masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan
Arjasa Kabupaten Jember (n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Sangat baik 7 8,3
2. Cukup baik 30 35,7
3. Cukup buruk 35 41,7
4. Sangat buruk 12 14,3
Total 84 100

Sumber: Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.13 dapat diketahui bahwa day time disfuction

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamat Arjasa Kabupaten Jember

dengan nilai sangat baik berjumlah 7 orang (8,3%), cukup baik 30 orang
74

(35,7%), cukup buruk berjumlah 35 orang (41,7%), sangat buruk

ssejumlah 12 orang dengan presentase (14,3%) dengan total keseluruhan

responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang.

c. Variabel Kualitas Tidur

Distribusi data variabel kualitas tidur ditentukan berdasarkan hasil skoring

total pertanyaan kuisioner PSQI. Pengkategorian kualitas tidur jika skor yang

diperoleh adalah <5 adalah kualitas tidur baik dan skor >5 adalah kualitas tidur

buruk . Hasil penelitian tentang kualitas tidur dapat dilihat pada tabel 5.14 berikut.

Tabel 5.14 Distribusi data variabel kualitas tidurditentukan


berdasarkanindikatorkualitas tidur masyarakat Desa Kemuning Lor
Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember(n=84)

No Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)


1. Buruk 60 71,4
2. Baik 24 28,6
Total 84 100

Sumber : Data Primer (Mei, 2017)

Berdasarkan tabel 5.14 dapat diketahui bahwa kualitas tidur masyarakat Desa

Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember yang kualitass tidurnya

buruk sejumlah 60 orang (71,4%) dan kualitas tidur yang baik dengan jumlah 24

orang (28,6%).

5.1.3 Analisa Bivariat

Hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur masyarakat daerah

rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

berdasarkan hasil uji statistik kendall-tau diperoleh nilai pvalue = 0,007 (α <

0,05), artinya ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur
75

masyarakat daerah rawan longssor.Disamping itu berdasarkan uji analisis

Kendall’s-Tau didapatkan nilai korelasi = 0,299 artinya arah korelasi positif

dengan kekuatan korelasi rendah.

Tabel 5.15 Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur Masyarakat


Daerah Rawan Longsor Di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa
Kabupaten Jember(n=84)

Kualitas Tidur
Tingkat Kecemasan R 0,299
p 0,007
n 84
Sumber : Data Primer (Mei, 2017)

5.2 Pembahasan

5.2.1 Karakteristik Responden

Hasil karakteristik masyarakat diperoleh dalam penelitian ini meliputi

usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan status perkawinan.

a. Usia

Hasil data pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa responden penelitian adalah

kelompok remaja awal dengan rata-rata klien adalah 38 tahun. Usia 38 tahun

dikategorikan dalam usia dewasa pertengahan. Masa dewasa pertengahan ditandai

dengan sikap mantap memilih teman hidup dan membangun keluarga. Dewasa

tengah menggunakan energi sesuai kemampuannya untuk menyesuaikan konsep

diri dan citra tubuh terhadap realita fisiologis dan perubahan pada penampilan

fisik. Secara biologis, perkembangan fisik pada fase dewasa awal pertengahan

merupakan pertumbuhan fisik yang sudah banyak mengalami penurunan dan tidak

sedikit juga yang mengalami sakit karena gaya hidup tidak sehat (Hurlock, 1981).
76

Bertambahnya usia dapat mempengaruhi penurunan kebutuhan tidur. Usia

12 tahun kebutuhan untuk tidur adalah 9 jam, usia 20 tahun berkurang menjadi 8

jam, usia 40 tahun menjadi 7 jam, 6,5 jam pada usia 60 tahun, dan 6 jam pada usia

80 tahun (Prayitno, 2002).Perubahan psikososial pada masa dewasa tengah

dapat meliputi kejadian seperti, perpindahan anak dari rumah, atau peristiwa

perpisahan dalam pernikahan atau kematian teman. Perubahan ini mungkin

mengakibatkan kecemasan dan sters yang dapat mempengaruhi seluruh tingkat

kesehatan dewasa (Erikson, 1982).

b. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitan pada tabel 5.2 menunjukkan jenis kelamin

responden pada masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten

Jember didominasi oleh perempuan, yaitu sebanyak 62 (73,8%) orang dan jumlah

responden laki-laki adalah 22 (26,2%) orang. Menurut Potter & Perry (2005b)

jenis kelamin adalah status gender dari seseorang yaitu laki-laki dan perempuan.

Secara psikologis perempuan memiliki mekanisme koping yang lebih rendah

dibandingkan dengan laki-laki dalam mengatasi suatu masalah. Dengan adanya

gangguan secara fisik maupun secara psikologis tersebut maka perempuan akan

mengalami suatu kecemasan.

c. Pendidikan

Berdasarkan hasil penelitan pada tabel 5.3 menunjukkan pendidikan

responden pada masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten

Jember yang lulusan SD atau tidak sekolah sebanyak 24 (28,6%) orang , lulusan
77

SMP sebanyak 33 (39,3%) orang, lulusan SMA sebanyak 19 (22,6%) orang, dan

lulusan sarjana sebanyak 8 (9,5%) orang. Pendidikan akan mempengarhui tingkat

kecemasan karena rata-rata masyarakat hanya menyelesaikan sekolahnya sampai

pada tingkat dasar saja. Masyarakat yang hanya lulusan SD dan SMP

pengetahuannya tidak seluas dengan masyarakat yang lulusan SMA atau Sarjana.

Teori menyebutkan bahwa tingkat pendidikan yang ditempuh oleh individu

merupakan salah satu faktor yang akan mendukung kemampuannya untuk

menerima informasi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka

semakin luas pula cara pandang dan cara pikirnya dalam menghadapi suatu

keadaan yang terjadi disekitarnya (Nursalam, 2003). Tingkat pendidikan

seseorang akan mempengaruhi tingkat penerimaan dan pemahaman terhadap

suatu objek atau materi yang di manifestasikan dalam bentuk

pengetahuan.Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang akan mempengaruhi

tingkat penguasaan terhadap materi yang harus dikuasai sesuai dengan tujuan dan

sasaran (Gumiarti, 2002).

Dari data yang diperoleh peneliti banyaknya pendidikan responden adalah

SMP. Tingkat pendidikan yang rendah pada masyarakat akan menyebabkan

masyarakat tersebut mudah mengalami kecemasan, tingkat pendidikan seseorang

atau masyarakat akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, semakin tinggi

tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir secara rasional dan menangkap

informasi baru termasuk dalam mengurangi masalah yang baru (Stuart, 2006).
78

d. Pekerjaan

Pekerjaan memiliki peran yang sangatpenting dalam memenuhi kebutuhan

hidupmanusia, terutama kebutuhan hidup sosialdan psikologis (Embi, 2008).

Pekerjaan adalah suatu usahayang dilakukan seseorang untukmemperoleh nafkah

untuk memenuhikebutuhan hidup.Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4

menunjukkan pendidikan responden pada masyarakat Desa Kemuning Lor

Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember didominasi oleh masyarakat yang bekerja

sebanyak 52 (61,9%) orang. Sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 32 (38,1%)

orang.

e. Status Perkawinan

Berdasarkan hasil penelian pada tabel 5.4 menunjukkan pendidikan responden

pada masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

didominasi oleh masyarakat yang sudah menikah sebanyak 61 (72,6%) orang dan

yang belum menikah sebanyak 23 (27,4%). Status perkawinan sangat

mempengaruhi tidur seseorang. Seseorang yang sudah menikah cenderung

mengalami gangguan kualitas tidur yang lebih tinggi karena bertambanya

tanggung jawab terhadap keluarga seperti istri atau suami dan anak-anak.

Seseorang yang belum menikah lebih bebas memulai tidur kapan saja ketika

selesai berkerja tanpa harus terbebani oleh tugas-tugas (Alawiyah, 2009).

Masyarakat yang bekerja di malam hari seperti penjaga perkebunan

cenderung akan mengalami gangguan kualitas tidur dan kecemasan yang lebih

tinggi karena bertambahnya tanggung jawab terhadap keluarga seperti, anak, istri

atau suami. Mayarakat yang belum menikah juga akan mengalami hal yang sama
79

akan tetapi tidak seberat tanggung jawabnya seperti yang sudah menikah. Rata-

rata masyarakat yang belum menikah mengalami kesulitan tidur dikarenakan

faktor lain seperti merasakan nyeri sakit kepala dan kekhawatiran atau ketakutan

yang tidak jelas pada malam hari.

5.2.2 Tingkat Kecemasan

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui bahwa tingkat kecemasan pada

masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor dalam kategori

kecemasansedang dengan jumlah 54 orang (64,3%) dan kecemasan berat dengan

jumlah 30 orang (35,7%). Cemas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak

didukung oleh situasi. Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang tidak

menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala

fisiologis (Tomb, 2000).

Kecemasan sedang adalah cemas yang memungkinkan seseorang untuk

memusatkan pada hal-hal yang penting dan mengesampingkan yang tidak penting

atau bukan menjadi prioritas. Hal ini ditandai dengan perhatian menurun

penyelesaian masalah menurun, tidak sabar, mudah tersinggung, ketegangan otot

sedang, tanda-tanda vital meningkat, mulai berkeringat, sering mondar-mandir,

sering berkemih dan sakit kepala (Videbeck, 2008).

Kecemasan berat adalah cemas ini sangat mengurangi persepsi individu,

cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, dan tidak

dapat berfikir tentang hal yang lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk

mengurangi ketegangan individu memerlukan banyak pengesahan untuk dapat

memusatkan pada suatu area lain ditandai dengan sulit berfikir, penyelesaian
80

masalah buruk, takut, bingung, menarik diri, sangat cemas, kontak mata buruk,

berkeringat, bicara cepat, rahang menegang, menggertakkan gigi, mondar mandir

dan gemetar (Videbeck, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian Anggunsari (2015) menunjukkan bahwa

tingkat kecemasan dalam menghadapi bencana di Dusun Panjang Panjangrejo

Pundong terbanyak pada kategori sedang yaitu 57 orang (74,0%), kategori

kecemasan berat sebanyak 6 orang (7,8%), sedangkan kategori kecemasan ringan

sebanyak 14 orang (18,2%). Kecemasan merupakan perasaan tidak nyaman yang

biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan faktor dari

psikologi (Mansjoer, 2005). Sebanyak 70-80% orang mengalami peristiwa

traumatik akibat bencana alam akan memunculkan gejala-gejala distress mental.

Ada banyak gangguan jiwa yang terjadi akibat trauma atau bencana, salah satunya

adalah kecemasan (Ramadhani, 2011).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Lamba dkk (2017) digunakan oleh

peneliti sebagai pembanding tentang kecemasan pada masyarakat daerah rawan

longsor dengan masyarakat daerah rawan bencana lainnya yaitu contohnya banjir.

Hasil penelitian memperlihatkan responden yang tidak mengalami gangguan

kecemasan sebanyak 2 orang (6,7%), gangguan kecemasan ringan sebanyak 10

orang (33,3%); gangguan kecemasan sedang sebanyak 12 orang (40%); dan

gangguan kecemasan berat sebanyak 6 orang (20,0%). Kesimpulan sebagian

besar masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan dan

terbanyak ialah kecemasan sedang.


81

Menurut Stuart (2001), rentang respon individu terhadap cemas

berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptife. Rentang respon yang paling

adaptif adalah antisipasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan

cemas yang mungkin muncul. Sedangkan rentang yang paling maladaptife adalah

panik dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang

dihadapi sehingga mengalami gangguan fisik, perilaku maupun kognitif.

Tingkatan kecemasan dibagi menjadi ringan, sedang, berat dan panik.

Pada penelitian ini, responden paling banyak mengalami kecemasan sedang

dari pada berat dan tidak ada yang mengalami kecemassan ringan.Menurut Stuart

dan Sundeen (1995) kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan

peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan

individu akan berhati-hati dan waspada.Masyarakat daerah rawan longsor

teridentifikasi tidak ada yang mengalami cemas ringan disebabkan lahan persepsi

masyarakat yang sudah mulai menyempit karena sudahterfokus pada kejadian

longsor yang akan terjadi sewaktu-waktu. Sehingga kategori cemas yang

ditemukan saat penelitian adalah dalam kategori cemas sedang dan berat.

Masyarakat lebih banyak mengalami kecemasan sedang dari pada

kecemasan berat dikarenakan masyarakat sudah sering terpapar oleh bencana

tanah longsor di setiap tahunnya, sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan

musibah tanah longsor. Namun masyarakat akan sangat khawatir dan cemas pada

saat hujan deras dan hujan angin di waktu malam hari. Kecemasan sedang

memungkinkan seseorang memusatkan pada hal yang penting dan


82

mengesampingkan hal yang lain, sehingga individu mengalami perhatian yang

selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.

Respon fisiologi nya yaitu sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,

mulut kering, gelisah, konstipasi. sedangkan respon kognitif yaitu lahan persepsi

menyempit, rangsangan luar tidak mampu diterima, berfokus pada apa yang

menjadi perhatiaannya (Potter & Perry, 2005).Respon psikologinya antara lain

ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis, tidak

nyaman, dan kepercayaan diri goyah (Peplau dalam Videback, 2008).Fokus dari

responden penelitian ini yaitu terkait adanya bencana longsor yang sewaktu-waktu

dapat terjadi pada penduduk masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa

Kabupaten Jember.

Perawat sebagai tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting

dalam membantu warga mengatasi kecemasan, perawat juga seringkali diperlukan

untukmengidentifikasi dan mengurangi kecemasan warga. Perawat harus mampu

memahami respon warga terhadap kecemasan,untuk bisa memahami dan

memenuhi kebutuhan warga dengan kecemasan, perawat perlu mengidentifikasi

dan mengenali mekanisme atau strategi koping yang sering digunakan oleh

masyarakat, sehingga perawat akan mudah dalam memberikan asuhan

keperawatan pada masyarakat,mengidentifikasi penyebab kecemasan dapat

mewujudkan intervensi yang sesuai, khususnya dalam mengatasi kecemasan.

5.2.3 Kualitas Tidur

a. Variabel Kualitas Tidur


83

1. Kualitas tidur subjektif

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa kualitas tidur subjektif dengan

nilai sangat baik berjumlah 10 orang (11,9%), cukup baik 25 orang (29,8%),

cukup buruk berjumlah 46 orang (54,8%), sangat buruk berjumlah 3 orang (3,6%)

dengan total keseluruhan responden berdasarkan kualitas tidur subjektif sejumlah

84 orang. Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga

seseorang tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah tersinggung dan gelisah,

lesi dan apatis, kehitaman di daerah sekitar mata, kelopak mata bengkak,

konjungtiva merah (Hidayat, 2006). Kualitas tidur secara subjektif merupakan

evaluasi singkat terhadap tidur seseorang tentang apakah tidurnya sangat baik atau

sangat buruk (Saputri, 2009).

Seseorang menilai baik atau tidak kualitas tidurnya berdasarkan pada

perasaan yang muncul saat bangun tidur. Masyarakat yang tinggal di daerah

rawan longor mayoritas memiliki evaluasi kualitas tidur subjektif yang cukup

buruk. Hal ini dapat disebabkan karena ada ketakutan atau kecemasan dalam

perkiraan akan adanya bencana yang bisa berdampak pada pola serta kualitas

tidurnya. Tingkat kecemasan dan tekanan yang dialami masyarakat juga dapat

menyebabkan keadaan tidak dapat tidur pada malam hari (Bailey, 2005) .

Penelitian yang dilakukan Wicaksono (2012) tentang hubungan cemas

dengan kualitas tidur pada Mahasiswa Fakultas Keperawatan, didapatkan

hasil tiga responden (6%) mempunyai cemas dengan tingkat ringan dan kualitas

tidur yang cukup baik. Tujuh responden (14%) mempunyai cemas dengan tingkat

ringan dan kualitas tidur yang kurang baik, dua responden (4%) mempunyai
84

cemas dengan tingkat sedang dan kualitas tidur yang cukup baik, satu responden

(2%) mempunyai cemas dengan tingkat sedang dan kualitas tidur yang sangat

buruk, satu responden (2%) mempunyai cemas dengan tingkat berat dan kualitas

tidur yang cukup baik, dua responden (4%) mempunyai cemas dengan tingkat

berat dan kualitas tidur yang sangat buruk, saturesponden (2%) mempunyai cemas

dengan tingkat sangat berat dan kualitas tidur yang cukup baik, satu responden

(2%) mempunyai cemas dengan tingkat sangat berat dan kualitas tidur yang

kurang baik. Analisis menunjukkan hubungan antara tingkat cemas dengan

kualitas tidurnya. Nilai r=0,318 dapat diartikan bahwa kekuatan hubungan antara

tingkat cemas dengan kualitas tidurnya adalah lemah.

Tidur adalah pengalaman subjektif. Hanya klien yang dapat melaporkan

apakah tidurnya cukup dan nyenyak atau tidak (Marliani, 2012). Pada penelitian

ini dtemukan mayoritas masyarakat memiliki kualitas tidur subjektif yang cukup

buruk karena masyarakat disana memiliki kecemasan akan adanya bencana longor

yang sering kali terjadi. Masyarakat memiliki kewaspadaan yang cukup pula

karena sudah terbiasa terpapar dengan bencana jadi kualitas tidur masyarakat

termasuk dalam kategori cukup buruk .

2. Latensi tidur

Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa latensi tidur dengan nilai

sangat baik berjumlah 12 orang (14,3%), cukup baik 28 orang (33,3%), cukup

buruk berjumlah 28 orang (33,3%), sangat buruk berjumlah 16 orang (19,6%)

dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang.

Latensi tidur adalah durasi mulai dari berangkat tidur hingga tertidur. Seseorang
85

dengan kualitas tidur baik menghabiskan waktu kurang dari 15 menit untuk dapat

memasuki tahap tidur selanjutnya secara lengkap. Sebaliknya, lebih dari 20 menit

menandakan level insomnia yaitu seseorang yang mengalami kesulitan dalam

memasuki tahap tidur selanjutnya (Buysse et al., 1989 cit.Modjod, 2007).

Ketika orang mencoba tidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam

posisi relaks. Stimulus ke SAR menurun jika ruangan gelap dan tenang, maka

aktivasi SAR menurun. Pada beberapa bagian, BSR mengambil alih, yang

menyebabkan tidur. Secara normal, pada orang dewasa, pola tidur rutin dimulai

dengan periode sebelum tidur (Marliani, 2012). Latensi tidur tiap orang berbeda-

beda tergantung beberapa faktor yang menyebabkannya. Pada penelitian ini

diketahui bahwa latensi tidur rata-rata berada pada kategori cukup baik dan cukup

buruk pada jumlah responden yang sama.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor memiliki kecenderungan

mengalami tingkat kecemasan yang cukup tinggi. Kecemasan tersebut dapat

mempengaruh masyarakat dalam segala aktivitasnya termasuk saat akan memulai

istirahat tidurnya. Kecemasan menyebabkan seseorang berusaha terlalu keras

untuk dapat tertidur, sering terbangun selama sirklus tidur, atau tidur terlalu lama

(Potter & Perry, 2010)

3. Durasi tidur

Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa durasi tidur dengan nilai

sangat baik berjumlah 21 orang (25,0%), cukup baik 33 orang (39,3%), cukup

buruk berjumlah 24 orang (28,6%), sangat buruk berjumlah 6 orang (7,1%)


86

dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang.

Durasi tidur dihitung dari waktu seseorang tidur sampai terbangun di pagi hari

tanpa menyebutkan terbangun pada tengah malam. Orang dewasa yang dapat tidur

selama lebih dari 7 jam setiap malam dapat dikatakan memiliki kualitas tidur yang

baik (Buysse et al., 1989 cit. Modjod, 2007).

Durasi tidur berperan dalam mengatur metabolisme hormon leptin dan

ghrelin, jika durasi tidur kurang dari 6 jam maka akan mengakibatkan

menurunnya hormone leptin bahkan dapat membuat seseorang resistensi terhadap

leptin dan dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu nafsu makan yang

berlebihan, sedangkan jika durasi tidur lebih dari 8 ½ jam maka akan

meningkatkan nafsu makan berupa konsumsi energi yang berlebihan (Nuraliyah,

2013) Durasi dan kualitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua

kelompok usia. Seseorang mungkin merasa cukup beristirahat dengan tidur

selama 4 jam, sementara yang lain membutuhkan tidur selama 10 jam.

Hasil penelitian yang dilakukan Marliani 2012 diketahui hampir

setengahnya dari responden (45%) tidur pulas lebih dari 7 jam, sebagian

responden (22%) tidur selama 7 jam, (25%) tidur 5-6 jam dan (7%) tidur selama

kurang dari 5 jam. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah adanya durasi tidur

yang sangat baik yang ditunjukkan oleh responden.

Pada penelitian ini durasi tidur masyarakat daerah rawan longsor mayoritas

masih tergolong cukup baik yaitu tidur rata-rata selama 7 jam. Durasi tidur yang

cukup baik saja belum menjamin bahwa kualitas tidur masyarakat pun baik pula.

Durasi tidur juga dapat dikatakan sebagai kuantitas kebutuhan jam tidur yang
87

dibutuhkan oleh masyarakat. Jumlah jam yang ditunjukkan pada penelitian ini

memang jam yang ideal bagi dewasa awal untuk melakukan istirahat tidur .

4. Efisiensi tidur

Berdasarkan tabel 5.9 dapat diketahui bahwa efisiensi tidur dengan nilai

sangat baik berjumlah 7 orang (8,3%), cukup baik 20 orang (23,8%), cukup buruk

berjumlah 6 orang (7,1%), sangat buruk berjumlah 51 orang (60,7%) dengan total

keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang. Efisiensi

kebiasaan tidur adalah rasio persentase antara jumlah total jam tidur dibagi

dengan jumlah jam yang dihabiskan di tempat tidur. Seseorang dikatakan

mempunyai kualitas tidur yang baik apabila efisiensi kebiasaan tidurnya lebih dari

85% (Buysse et al., 1989 cit. Modjod, 2007).

Efisiensi tidur didefinisikan sebagai rasio lama tidur yang sebenarnya

dengan lama tidur kita di atas tempat tidur. Kelompok dengan jam tidur panjang

kebanyakan mengalami tidur jenis NREM-dangkal dan REM, sehingga akhirnya

tidur yang tidak berkualitas pun menjadi berkesinambungan. Padahal kuantitas

tidur NREM-dalam yang dialami kelompok jam tidur panjang dan jam tidur

pendek adalah sama. Oleh sebab itu, untuk memperoleh tidur dengan kualitas

baik, sebaiknya tidur panjang dihindari (Marliani, 2012)

Pada penelitian ini diketahui bahwa masyarakat mayoritas memiliki

efisiensi tidur yang sangat buruk. Lama waktu untuk tidur memang cukup baik

tetapi ternyata efisiensi yang dimiliki termasuk dalam kategori sangata buruk

yaitu kurang dari 65%. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor
88

cenderung memiliki beban pikiran yang tidak sedikit. Jadi proses NREM dan

REM masyarakat pun ikut terganggu. Akibat yang ditimbulkan yaitu rasio jam

tidur yang sebenarnya dengan waktu yang dihabiskan masyarakat diatas temat

tidur menjad kurang. Hal ini menyebabkan adanya efisiensi kualitas tidur yang

sangat buruk.

5. Gangguan tidur

Berdasarkan tabel 5.10 dapat diketahui bahwa gangguan tidur masyarakat

Desa Kemuning Lor Kecamat Arjasa Kabupaten Jember dengan nilai sangat baik

berjumlah 9 orang (34,5%), cukup baik 29 orang (34,5%), cukup buruk berjumlah

37 orang (44,0%), sangat buruk berjumlah 9 orang (10,7%) dengan total

keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84 orang. Gangguan

tidur merupakan kondisi terputusnya tidur yang mana pola tidur-bangun seseorang

berubah dari pola kebiasaannya, hal ini menyebabkan penurunan baik kuantitas

maupun kualitas tidur seseorang (Buysse et al., 1989 cit.Modjod, 2007).

Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan

mengakibatkan perubahan perubahan pada siklus tidur biologiknya,menurun daya

tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi,kurang

konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri

sendiri atau orang lain (Japardi,2002). Tiga penyebab utama yang paling

berpengaruh menyebabkan gangguan tidur yaitu kondisi medis, kondisi psikiatri,

dan kondisi lingkungan sekitar seseorang. Beberapa gangguan tidur yang paling

sering dialami masyarakat adalah penyakit yang menyebabkan nyeri,

ketidaknyamanan fisik (misal, kesulitan bernapas), atau masalah suasana hati


89

seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur. Seseorang

dengan perubahan itu menpunyai masalah kesulitan tidur atau tetap tidur (Potter

& Perry, 2005).

Pada penelitian ini mayoritas masyarakat memiliki gangguan tidur yang

cukup buruk. Gangguan tidur yang dimaksud meliputi tidak bisa tertidur dalam

tempo 30 menit, sering terbangun tengah malam atau terlalu pagi, harus ke kamar

manditengah malam, sulit bernafas, batuk, merasa kedinginan atau kepanasan saat

tidur, mengalami mimpi buruk, nyeri ataupun pegal-pegal dan alasan lain yang

menyebabkan tidak bisa tidur. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor

rata-rata mengalami gangguan tersebut selama 1-2 kali seminggu. Hal ini

disebabkan adanya kondisi fisiologis dewasa awal maupun kondisi psikologis

masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

6. Penggunaan obat tidur

Berdasarkan tabel 5.12 dapat diketahui bahwa penggunaan obat tidur

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember dengan

nilai sangat baik berjumlah 72 orang (85,7%), cukup baik 9 orang (10,7%), cukup

buruk berjumlah 3 orang (3,6%), dengan total keseluruhan responden berdasarkan

durasi tidur sejumlah 84 orang. Penggunaan obat tidur adalah kebiasaan

mengkonsumsi obat saat akan tidur karena alasan tertentu. Medikasi yang

diresepkan untuk tidur sering memberi banyak masalah daripada keuntungan.

Orang dewasa muda dan tengah dapat tergantung pada obat tidur untuk mengatasi

cemassor gaya hidupnya. Penggunaan medikasi untuk tidur dalam jangka panjang
90

dapat mengganggu pola tidur dan memperburuk masalah insomnia (Potter &

Perry, 2005).

Penggunaan obat-obatan yang mengandung sedatif mengindikasikan adanya

masalah tidur. Obat-obatan mempunyai efek terhadap terganggunya tidur pada

tahap REM. Oleh karena itu, setelah mengkonsumsi obat yang mengandung

sedatif, seseorang akan dihadapkan pada kesulitan untuk tidur yang disertai

dengan frekuensi terbangun di tengah malam dan kesulitan untuk kembali tertidur,

semuanya akan berdampak langsung terhadap kualitas tidurnya (Buysse et

al.,1989 cit. Modjod, 2007).

Pada penelitian ini masyarakat termasuk dalam kategori yang sangat baik

dalam indikator penggunaan obat tidur karena mayoritas masyarakat tidak ada

yang mengkonsumsi obat tidur selama 1 bulan terakhir. Beberapa faktor yang

menyebabkan adalah karena obat tidur adalah obat yang tidak dijual bebas di

masyarakat dan penggunaan obat tidur mengindikasikan adanya masalah tidur

karena faktor lain. Meskipun tergolong memiliki tingkat kecemasan yang cukup,

masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor masih dalam batas yang adaptif

saat akan istirahat tidur tanpa mengkonsumsi obat.

7. Day time disfunction

Berdasarkan tabel 5.13 dapat diketahui bahwa day time disfuction

masyarakat Desa Kemuning Lor Kecamat Arjasa Kabupaten Jember dengan nilai

sangat baik berjumlah 7 orang (8,3%), cukup baik 30 orang (35,7%), cukup buruk

berjumlah 35 orang (41,7%), sangat buruk ssejumlah 12 orang dengan presentase


91

(14,3%) dengan total keseluruhan responden berdasarkan durasi tidur sejumlah 84

orang. Seseorang dengan kualitas tidur yang buruk menunjukkan keadaan

mengantuk ketika beraktivitas di siang hari, kurang antusias atau perhatian, tidur

sepanjang siang, kelelahan, depresi, mudah mengalami dicemas, dan penurunan

kemampuan beraktivitas (Buysse et al., 1989 cit. Modjod, 2007).

Mengantuk menjadi patologis ketika mengantuk terjadi pada waktu ketika

individu harus atau ingin terjaga. Orang yang kehilangan tidur sementara karena

kegiatan sosial malam yang aktif atau jadwal kerja yang memanjang biasanya

akan merasa mengantuk pada hari berikutnya (Marliani, 2012). Pada penelitian ini

mayoritas masyarakat mengalami daytime function yang cukup buruk.

Penyebanya adalah kualitas tidur yang cukup buruk yang dialami masyarakat. Hal

ini terjadi dlam waktu lebih dari 3 kali selama seminggu. Beberapa keterangan

mengatakan bahwa masyarakat sering kali mengantuk hingga tertidur ketika

mengemudi, makan, atau terlibat dalam aktivitas.

5.3.4 Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur Masyarakat Daerah

Rawan Longsor

Hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur masyarakat daerah

rawan longsor di Desa Kemuning Lor Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember

berdasarkan hasil uji statistik kendall-tau diperoleh nilai pvalue = 0,007 (α <

0,05), artinya ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur

masyarakat daerah rawan longssor.Disamping itu berdasarkan uji analisis

Kendall’s-Tau didapatkan nilai korelasi = 0,299 artinya arah korelasi positif


92

dengan kekuatan korelasi rendah. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu ada

hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur masyarakat daerah

rawan longsor di Desa Kemunig Lor Kecamatan Arjasa.

Berdasarkan tabel 5.16 diketahui bahwa proporsi klien dengan kualitas tidur

buruk dan memiliki tingkat kecemsan sedang sebanyak 44 orang (52,4%). Klien

dengan kualitas tidur buruk dan memiliki tingkat kecemsan berat sebanyak 16

orang (19,0%). Kecemasan yang dialami seseorang karena masalah yang

dihadapinya membuat seseorang menjadi tegang dan berusaha keras untuk tertidur

sehingga cemas yang berlanjut dapat menyebabkan seseorang mempunyai

kebiasaan tidur yang buruk (Potter & Perry, 2005).

Penelitian lain mengenai kecemasan dan kualitas tidur yaitu penelitian

Komalasari (2010) didapatkan hasil ada hubungan antara kecemasan dengan

kualitas tidur pada ibu hamil trimester III. Tingkat keeratan hubungan antara

kecemasan dengan kualitas tidur sebesar 0,365 menunjukkan hubungan yang

rendah antara kecemasan dengan kualitas tidur. Perasaan cemas akan hal yang

dialaminya membuat seseorang sulit tidur, sering terbangun tengah malam,

perubahan siklus tidur, bahkan terlalu banyak tidur sehingga cemas emosional

dapat menyebabkan kebiasaan tidur buruk (Potter & Perry, 2005).

Kecemasan yang berlebih pada seseorang akan membuat seseorang tersebut

terlalu keras dalam berfikir sehingga seseorang akan sulit untuk mengontrol

emosinya yang berdampak pada peningkatan ketegangan dan kesulitan dalam

memulai tidur. Kesulitan ini yang nanti akan mengganggu seseorang tersebut

untuk mendapatkan kualitas tidur yang diinginkan. Menurut Rafknowledge (2004)


93

cemas yang dialami dapat mempengaruhi kebutuhan waktu untuk tidur sehingga

semakin tinggi tingkat cemas maka kebutuhan waktu untuk tidur juga akan

berkurang. Kozier (2002) juga mengungkapkan bahwa kecemasan meningkatkan

kadar norepinephrin didalam darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis, zat

kimia ini mengakibatkan perubahan pada berkurangnya tidur tahap 4 NREM dan

tidur REM serta terbangun. Siklus tidur yang berkurang dan tidak teraturdapat

mengakibatkan kualitas tidur yang buruk.

Penelitian lain dilakukan oleh Albar (2014) tentang hubungan tingkat

kecemasan dengan kualitas tidur mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Hasil

penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat

kecemasan dengan kualitas tidur mahasiswa selama penyusunan skripsi yang

ditandai dengan nilai p sebesar 0,004 (<0,05). Data deskriptif didapatkan 49

mahasiswa (83,1%) mengalami kualitas tidur yang buruk dengan tingkat

kecemasan berat.

Berdasarkan tabel 5.16 klien dengan kualitas tidur baik dan memiliki tingkat

kecemasan sedang sebanyak 10 orang (11,9%). Klien dengan kualitas tidur baik

dan memiliki tingkat kecemsan berat sebanyak 14 orang (16,7%). Seseorang yang

memiliki kecemasan berat dan sedang dapat memungkinkan memiliki kualitas

tidur yang baik karena respon tubuh yang adaptif terhadap perubahan perasaan

yang dialami. Tetapi pada dasarnya prevalensi seseorang yang memiliki tingkat

kecemasan sedang dan buruk lebih banyak memiliki kualita tidur yang buruk.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Iriana (2013), yang menyatakan

bahwa responden dengan kecemasan ringan lebih banyak yang memiliki kualitas
94

tidur yang baik yaitu 25 responden (36%), dan 21 responden (30,4%) mengalami

kecemasan sedang dan memiliki kualitas tidur yang buruk, serta responden

dengan kecemasan berat dan memiliki kualitas tidur buruk dua kali lebih banyak

dibandingkan dengan responden yang memiliki kualitas tidur baik yaitu (2,9%).

Pada uji analisa data didapatkan p-value = 0,00 (a=<0,05).

5.3 Keterbatasan Penelitian

Setiap penelitian mempunyai risiko mengalami kelemahan yang diakibatkan

adanya keterbatasan-keterbatasan dalam proses pelaksanaan penelitian.

Keterbatasan penelitian terjadi di luar dari kehendak peneliti saat pelaksanaan

penelitian. Keterbatasan penelitian ini adalah penelititidak dapat menyampaikan

pertanyaan dengan menggunakan Bahasa Madura.Lokasi penelitian yang terlalu

beresiko menyebabkan peneliti hanya dapat menjangkau masyarakat disekitar

jalan raya Dusun Rayap.

5.4 Implikasi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukkan bagi perawat serta memberikan

informasi tentang pentingnya dukungan keluarga bagi klien katarak. Pemberian

pendidikan kesehatan yang berkelanjutan terkait penyakit katarak dan pentingnya

operasi katarak juga penting untuk dilakukan.Pendidikan kesehatan tersebut dapat

diberikan saat keluarga ataupun klien katarak memeriksakan diri ke pelayanan

kesehatan. Perawat juga dapat berperan sebagai pemberi konseling untuk

mencarikan jalan keluar bila klien ataupun keluarga mengalami permasalahan

terkait informasi untuk melakukan operasi katarak, dimana kondisi permasalahan


95

yang sulit tersebut dapatberpengaruh pada motivasi klien yang belum melakukan

operasi katarak.

BAB 6. PENUTUP

6.2 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat

didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

a. rata-rata usia responden penelitian ini adalah39 tahun,responden paling banyak

adalah berjenis kelamin perempuan sebanayak 62 orang (73,8%), dengan

pendidikan paling banyak adalah SMP sebanyak 33 orang (39,3%), responden

yang bekerja paling banyak sebesar 52 orang (61,9%), status perkawinan

responden paling banyak menikah sebanyak 61 orang (72,6%);

b. masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana longsor paling banyak

mengalami kecemasan sedang sebanyak 54 orang (64,3%);

c. kualitas tidur yang dialami masyrakat daerah rawan longgor adalah kualitas

tidur buruk sebanyak 60 orang (71,4%);


96

d. terdapat hubungan anatara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur masyarakat

daerah rawan longsor berdasarkan hasil uji Kendall-Tau diperoleh nilai p value

= 0,007 (α <0,05).

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah

sebagai berikut.

a. Bagi Penelitian

Hasil penelitian ini menambah pengetahuan dan wawasan tentang pengaruh

hubungan tingkat kecemasan pada masyarakat daerah rawan longsor.

Penelitian lanjutan yang bisa dilakukan untuk lebih menyempurnakan

pembahasan dari peneliti sebelumnya anatara lain :

1) mengetahui tingkat kecemasan dengan kualitas tidur dengan metode

sampling yang berbeda misalnya dengan teknik purposive sampling,

jumlah sampel yang lebih besar;

2) menambah faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat kecemasan

responden.

b. Bagi Profesi Keperawatan


97

Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi peneliti selanjutnya.

Hasil penelitian ini juga menjadi tambahan referensi untuk perawat sebagai

educator sehingga masyarakat akan mengetahui bahwa perawat juga

membantu dalam hal peningkatan status kesehatan masyarakat khususnya

pada tindakan penanganan masalah kesehatan.

c. Bagi Masyarakat

Manfaat hasil penelitian bagi masyarakat adalah masyarakat dapat

mengetahui bahwa kecemasan dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang

sehingga akan memunculkan upaya dari masyarakat itu sendiri untuk

mengontrol kecemasan yang dialami. Masyarakat juga dapat mengambil

informasi terkait manfaat menjaga kualitas tidursehingga dapat memberikan

pengaruh bagi masyarakat sekitar daerah rawan longsor yang lain.

d. Bagi Instansi Kesehatan

Manfaat penelitian bagi instansi kesehatan dapat sebagai laporan insidensi

masytarakat rawan bencana yang mengalami kualitas tidur yang buruk

sehingga instansi kesehatan dapat memberikan program penyuluhan dalam

upaya mengontrol kecemasan masyrakat.


98

DAFTAR PUSTAKA

Alawiyah, T. 2009. Gambaran Gangguan Pola Tidur Pada Perawat Di RS. Syarif
Hidayatullah, Jakarta. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.
Arikuntoro. 2008. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: salemba
medika.[SerialOnline]..https://books.google.co.id/books. [18 Februari
2017].
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2012. Peratura Kepala BNPB No. 02
Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko
Bencana.Jakarta.
Budayani, S. S. 2015. Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur
Penderita Asma di RSUD Kabupaten Karanganyar. Skripsi. Program
tudi S1 Ilmu Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta.
Bukit, S.T. 2011. Gangguan Tidur dengan Intensitas Nyeri pada Penderita Nyeri
Punggung Bawah dan Nyeri Kepala Primer di RSUP H Adam Malik
Medan.[Serial
Online]http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29432/4/Chapter
%20II.pdf [20 Februari 2017]
Buysse, D.J., Reynolds, C.F., Monk, T.H., Berman, S.R., dan Kupfer, D.J. 1988.
The Pittsburgh Sleep Quality Index: a new instrument for psychiatric
practice and research. Psychiatri Research, 28, 193-213 [serial
online].http://xa.yimg.com/kq/groups/20795556/421574977/name/psqi+a
rticle.pdf [20April 2017].
99

Dariah. 2015. Hubungan Kecemasan dengan Kualitas Tidur Lansia di Posbindu


Anyelir Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Jurnal. Ilmu
Keperawatan Volume III.
Depkes RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/MENKES/II/2004
tentang Kebijakan Dasar Pussat Kesehatan Masyarakat. [serial
online]https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=PHDtWL-
kBsnKvgTkgLiwAg#q [20 Maret 2017]
Embi, A. M. (2008). Cabaran dunia pekerjaan. Kuala Lumpur: PRIN_AD SDN.

Eser, Ismet, Khorshid, Leyla, Gunes, Yapucu, Ulku, Demir and Yurdanur. 2007.
Jounral of Clinical Nursing. Vol 16, No 1: pp. 137-140(4). [Serial
Online]http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.13652702.2005.0149
4.x/full. [21 januari 2017].
Faul, F., E. Erdfelder., A-G. Lang., dan A. Buchner. 2007. G*Power 3: A Flexible
Atatistical Power Analysis Program for The Social, Behavioral, and
Biomedical Sciences. Behavior Research Methods.
http://link.springer.com/article/10.3758/BF03193146 [Diakses pada 5 Maret
2017].
Flowerenty, D. D. 2015. Pengaruh Therapeutic Exercise Walking terhadap
Kualitas Tidur Klien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) di
Poli Spesialis Paru B Rumah Sakit Paru Kabupaten Jember. [Serial
Online]http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/65768/11
2310101022.pdf?sequence=1. [17 februari 2017].

Gumiarti, et al. 2002. Hubungan Antara Pendidikan, Umur, Jumlah Anak,


danTingkat Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Motorik Pada
Anak Usia1 – 3 Tahun (Toddler) di Desa Kemuning Lor Kecamatan
ArjasaKabupaten Jember. Jurnal Kesehatan (The Journal of Health)
Vol. 3 No. 1Hal 1 – 54, Mei 2005. Malang : Politeknik Kesehatan
Malang.

Guyton. A. C and J. E Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.


Jakarta: EGC.
Handmer, J and Dovers, S. 2007. The Handbook of Disaster and
Emergency Policies and Isntitutions. United Kingdom: Antony Rowe.
Haryana, D. 2012. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dan Kepercayaan Diri
Dengan Kinerja Wasit Bulutangkis Dalam Memimpin Suatu
Pertandingan. [Serial Online] http://repository.upi.edu/id/eprint/8409
[20April 2017].
Hastono, S. P. 2007. Analisa Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
100

Hawari, D. (2007). Manajemen Stres, Cemas, Depresi. Jakarta: Balai Penerbit


Fakultaas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hurlock, E. B. 1981. Perkembangan Anak.Jilid I. Edisi ke-6. Erlangga.

Japardi, I. 2002. Gangguan Tidur. Universitas Sumatra Utara Digital Library.


[Serial Online]
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedahiskandar%20japardi12.pdf. [19
Januari 2017].
Karnawati, Dwikorita. 2005. Bencana Alam Gerak Massa Tanah di Indonesia dan
Upaya Penanggulangannya. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Kozier, B., Erb, G., Berman,A., dan Snyder S.J. 2004. Fundamentals of
Nursing.Seventh Edition. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Kozier, B., Erb, G., Berman,A., dan Snyder S.J. 2008. Fundamentals of
Nursing.Seventh Edition. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Kusnoto, Alvin. 2008. Tanah Longsor dan Antisipasinya. Salatiga: Aneka Ilmu.
Lee, C. Y. et al. 2007. Older Patients’ Experiences of Sleep in the Hospital:
Disruptions and Remedies. [serial online].
http://www.benthamscience.com/open/toslpj/articles/V001/29TOSLPJ.p
df [13 Maret 2016].
Mardjono, M. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat. [Serial
Online]http://library.um.ac.id/freecontents/index.php/buku/detail/neurolo
giklini-dasar-mahar-mardjono-priguna-sidharta-28960.html [9 Januari
2017].

Martin, J. 2000. Assessment and Treatment of Sleep Disturbance in Older


Adults.[Serial
online].https://www.researchgate.net/publication/222539075_Assessment
_and_treatment_of_sleep_disturbances_in_older_adults_Clin_Psychol_R
ev_206_783-805 [6 Maret 2017].
Mansjoer, Arif M. 2005. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Cetakan Ketujuh.
Jakarta : Media Aesculapius.
Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, W. 2008.Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Jakarta: EGC.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
101

Patlak, M. 2005. Your Guide to Healthy Sleep. U. S. Department of Health and


Human Services. [Serial Online]n
http://www.nhlbi.nih.gov/health/public/sleep/healthy_sleep.pdf. [12
Januari 2017].
Potter, P. A., & Perry, A. G. 2005. Keperawatan Dasar; Konsep, Proses dan
Praktik Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P.A & Perry, A.G. 2005a. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, & Praktik. Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC.
Potter, P.A & Perry, A.G. 2005b. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, & Praktik. Edisi 4 Volume 1. Jakarta: EGC.
Potter, P. A., & Perry, A. G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan;
Konsep, Proses dan Praktik Volume 2 Edisi 4. Alih Bahasa Renata
Komalasari, dkk. Jakarta: EGC.
Potter, P. A., & Perry, A. G. 2010. Fundamental Keperawatan; Konsep, Proses
dan Praktik Volume I Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.
Prajapati, B., M. Dunne., dan R. Armstrong. 2010. Sample Size Estimation and
Statistical Power Analyses.http://www.floppybunny.org/robin/web/virtual
classroom/stats/basics/articles/gpower/Gpower_tutorial_Prajapati_2010-.pdf
[12 Maret 2017].

Prayitno, A. 2002. Gangguan Pola Tidur Pada Kelompok Usia Lanjut Dan
Penatalaksanaannya. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa. Jakarta. FKUT.
http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Prayitno.pdf [26 Mei
2012].
Tomb, D. A. 2000. Buku Saku Psikiatri .Edisi ke-6. Jakarta: EGC.
Tomoko, O. 2009. E-learning Disaster.Jakarta: FIK UI.
Putra, S. R. 2011. Tips Sehat dengan Pola Tidur Tepat dan Cerdas.Yogyakarta:
Penerbit Buku Biru.
Rafknowledge. 2004. Insomnia dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.
Ramli, Soehatman. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS
18001. Jakarta : Dian Rakyat, 2010.
Sack, R. L. et al. 2007.Circadian Rhythm Sleep Disorders: Part I, Basic
Principles, Shift Work and Jet Lag Disorders An American Academy of
Sleep Medicine Review. [serial online].
102

http://www.aasmnet.org/resources/practiceparameters/review_circadia
nrhythm.pdf [6 Maret 2017].
Sastroasmoro, S dan Sofyan, I. 2010. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis
edisi ketiga. In: Pemilihan Subyek Penelitian dan Desain Penelitian.
Jakarta: Sagung Seto.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Smith, M., & Segal, R. 2010. How Much Sleep Do You Need? Sleepp Cycles &
Stages, Lack of Sleep, and Getting The Hours You Need. [Serial Online]
http://www.helpguide.org/articles/sleep/how-much-sleep-do-you-need.htm
[18Februari 2017].
Solehudin, Usep. 2005. Business Continuity and Disaster Recovery Plan. Depok:
Universitas Indonesia
Stuart G. W & Laraia, M. T. 2005. Principles and Practice of Psychiatric Nursing
7th edition. St Louis: Mosby.
Stuart, G.W., dan Sundden, S.J., 1995, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3,
Jakarta : EGC.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana. (2007). Jakarta: Masyarakat Penanggulangan
Bencana Indonesia (MPBI).
Videbeck. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Wahyuni, S.A. 2015. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Perioperatif
Katarak Dengan Tingkat Kecemasan Pada Klien Pre Operasi Katarak di
RSD dr. Soebandi Jember. Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Jember 2015
Yusuf, Indra. 2005. Mitos dan Kearifan Lokal. Bandung: Jurusan Geografi UPI
Zung, W. W. K. 1997. Rating Anxiety for Disorder Physychosamatic. USA:
Mosbay Company.
103

LAMPIRAN

Lampiran A. Lembar Informed


104

SURAT PERMOHONAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


nama : Berlinda Damar Asri
NIM : 122310101077
pekerjaan : mahasiswa
alamat : Jl. Jawa 2c No.9. Jember
adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Unversitas Jember,
bermaksud akan mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat Kecemasan
dengan Kualitas Tidur Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning Lor
Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan tingkat kecemasandengan kualitas tidur masyarakat daerah rawan longsor di
desa kemuning lor kecamatan arjasa kabupaten jember. Penelitian ini tidak akan
menimbulkan akibat yang merugikan bagi anda sebagairesponden namun dapat
memberikan manfaat dalam mengetahui ada tidaknya hubungan tingkat kecemasan
dengan kualitas tidur masyarakat daerah rawan longsor. Kerahasiaan semua informasi
akan dijaga dan dipergunakan untuk kepentingan penelitian. Jika anda tidak bersedia
menjadiresponden, maka tidak ada ancaman bagi anda maupun keluarga. Jika anda
bersedia menjadi responden, maka saya mohon kesediaan untuk menandatangani lembar
persetujuan yang saya lampirkan dan mengikuti kegiatan yang akan saya lakukan. Atas
perhatian dan kesediaannya menjadi responden saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Berlinda Damar Asri


NIM 122310101077
Lampiran B. Lembar Consent
105

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Setelah saya membaca dan memahami dari penjelasan pada lembar


permohonan menjadi responden, maka saya bersedia untuk turut serta
berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh
mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember yaitu:
nama : Berlinda Damar Asri
NIM : 122310101077
alamat : Jl. Jawa 2C. No 9. Jember.
judul : Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur
Masyarakat Daerah Rawan Longsor di Desa Kemuning Lor
Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Saya mengerti dan percaya bahwa peneliti akan menghargai dan
menjunjung hak-hak saya sebagai responden. Saya juga memahami bahwa
penelitian ini tidak membahayakan dan merugikan saya maupun keluarga, maka
saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

Jember, ..........................2017
Responden,

(.............................................)

Nama lengkap dan tanda tangan

Lampiran C. Instrumen A
106

Kuesioner Karakteristik Responden

Tanggal : Kode Responden:

Petunjuk pengisian:

1. Pertanyaan berikut ini berkaitan dengan karakteristik responden;

2. Berikan tanda (√) atau uraian singkat dan jelas untuk pertanyaan dibawah

ini;

3. Mohon untuk tidak mengosongkan jawaban walaupun hanya satu

pertanyaan.

A. Karakteristik Responden

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : =L =P

Pendidikan : = SD/Tidak Sekolah = SMP

= SMP = SMA = Sarjana

Pekejaan : = Tidak Bekerja = Bekerja

Status Perkawinan : = Menikah = Belum menikah

Lampiran D.
107

Kuesioner Zung Self-rating Anxiety Scale

Petunjuk pengisian:
1. Berilah tanda (√) pada jawaban yang paling tepat sesuai dengan
keadaan anda atau apa yang anda rasakan.
2. Mohon untuk mengisi semua pertanyaan yang ada dan tidak
mengosongkan jawaban.
NO PERTANYAAN Tidak Kadang- Sering Selalu
pernah kadang
1 Saya merasa lebih gelisah atau
gugup dan cemas dari biasanya
2 Saya merasa takut tanpa alasan yang
jelas
3 Saya merasa seakan tubuh saya
berantakan atau hancur
4 Saya mudah marah, tersinggung atau
panik
5 Saya selalu merasa kesulitan
mengerjakan segala sesuatu atau
merasa sesuatu yang jelek terjadi
6 Kedua tangan dan kaki saya sering
gemetaran
7 Saya sering terganggu oleh sakit
kepala, nyeri leher atau nyeri otot
8 Saya merasa badan saya lemah dan
mudah lelah
9 Saya merasa tidak dapat istirahat
atau duduk dengan tenang
10 Saya merasa jantung saya berdebar
debar dengan keras dan kencang
11 Saya sering mengalami pusing
108

12 Saya sering pingsan atau merasa


seperti pingsan
13 Saya mudah sesak napas tersengal-
sengal
14 Saya merasa kaku atau mati rasa dan
kesemutan pada jari-jari saya
15 Saya merasa sakit perut atau
gangguan pencernaan
16 Saya sering kencing dari pada
biasanya
17 Saya merasa tangan saya dingin dan
sering basah oleh keringat
18 Wajah saya terasa panas dan
kemerahan
19 Saya sulit tidur dan tidak dapat
istirahat malam
20 Saya mengalami mimpi-mimpi
buruk

Lampiran E. Kode responden:


109

Kuesioner Kualitas Tidur


Petunjuk Pengisian :
1. Beritahukan kepada responden bahwa pertanyaan-pertanyaan di bawah ini
berhubungan dengan kebiasaan tidur responden selama satu bulan terakhir.
2. Beritahukan kepada responden bahwa jawaban yang responden berikan harus
menunjukkan jawaban yang paling tepat pada sebagian besar kejadian di
siang dan malam hari dalam satu bulan terakhir.
Pertanyaan :
1. Selama satu bulan terakhir, kapan (jam berapa) biasanya anda pergi tidur di
malam hari ?
.............................................................................................................................
2. Selama satu bulan terakhir, berapa lama (dalam menit) yang biasanya anda
butuhkan untuk mulai tertidur setiap malamnya ?
..............................................................................................................................
3. Selama satu bulan terakhir, kapan (jam berapa) biasanya anda bangun tidur di
pagi hari ?
..............................................................................................................................
4. Selama satu bulan terakhir, berapa jam lamanya waktu tidur anda di malam
hari ? (hal ini mungkin berbeda dengan jumlah jam yang anda habiskan di
tempat tidur)
.............................................................................................................................
Untuk setiap pertanyaan di bawah ini, pilih jawaban yang paling tepat. Silahkan
menjawab seluruh pertanyaan di bawah ini.
5. Selama satu bulan terakhir, seberapa sering anda mengalami masalah dalam
tidur karena anda ...
a. Tidak dapat tidur dalam waktu 30 menit
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
110

b. terbangun di tengah malam atau dini hari


□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
c. harus bangun untuk pergi ke kamar mandi
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
d. tidak dapat bernapas dengan nyaman
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
e. batuk atau mendengkur dengan keras
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
f. merasa terlalu dingin
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
g. merasa terlalu panas
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
111

h. mengalami mimpi buruk


□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
i. mengalami nyeri
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
j. jika terdapat alasan lain, dapat dijelaskan
........................................................................................................................
...............................................................................................selama satu
bulan terakhir, seberapa sering anda mengalami masalah dalam tidur
karena hal tersebut ?
□ tidak selama satu bulan terakhir
□ kurang dari sekali seminggu
□ sekali atau dua kali seminggu
□ tiga kali atau lebih dalam seminggu
6. Selama satu bulan terakhir, bagaimanakah anda menilai kualitas tidur anda
secara keseluruhan?
□ Sangat baik
□ Cukup baik
□ Cukup buruk
□ Sangat buruk
7. Selama satu bulan terakhir, seberapa sering anda minum obat untuk membuat
anda tidur?
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
112

□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu


8. Selama satu bulan terakhir, seberapa sering anda mengalami kesulitan untuk
tetap terjaga ketika mengemudikan kendaraan, makan, atau terlibat dalam
kegiatan sosial?
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu
9. Selama satu bulan terakhir, berapa banyak masalah yang anda hadapi?
□ Tidak ada masalah sama sekali
□ Sangat sedikit masalah
□ Sedikit masalah
□ Masalah yang sangat besar
10. Apakah anda memiliki teman sekamar?
□ Tidak memiliki teman sekamar
□ Teman sekamar di kamar yang berbeda
□ Teman sekamar dalam kamar yang sama, namun berbeda tempat
tidur
□ Teman sekamar dalam tempat tidur yang sama
Jika anda memiliki teman sekamar, tanyakan pada teman sekamar anda seberapa
sering anda mengalami hal berikut ini selama satu bulan terakhir
a. Mendengkur dengan keras
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu
b. Jeda panjang antara napas saat tidur
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
113

□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu


c. Kaki berkedut atau menyentak saat tidur
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu
d. Episode disorientasi atau kebingungan selama tidur
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu
e. Kegelisahan lain saat anda tidur, silahkan
dijelaskan........................................................................................................
□ Tidak selama satu bulan terakhir
□ Kurang dari sekali seminggu
□ Sekali atau dua kali seminggu
□ Tiga kali atau lebih dalam seminggu

(Sumber: Buysse et al dalam Angelia, 2012)

Penilaian PSQI
1. Komponen 1 : Kualitas tidur subjektif-pertanyaan no. 6
Respon terhadap pertanyaan no. 6 skor dari komponen 1
Sangat baik 0
Cukup baik 1
Kurang baik 2
Sangat buruk 3
Skor komponen 1:......

2. Komponen 2 : Latensi tidur- Pertanyaan no. 2 dan 5a


114

Respon terhadap pertanyaan no. 2 subskor dari komponen 2


≤ 15 menit 0

16-30 menit 1

31-60 menit 2

> 60 menit 3

Respon terhadap pertanyaan no. 5a subskor dari komponen 2


tidak selama satu bulan terakhir 0
kurang dari sekali seminggu 1
sekali atau dua kali seminggu 2
tiga kali atau lebih dalam seminggu 3

Jumlah subskor pertanyaan no. 2 dan 5a skor dari komponen 2


0 0
1-2 1
3-4 2
5-6 3
Skor komponen 2:........

3. Komponen 3 : Durasi tidur- Pertanyaan no. 4


Respon terhadap pertanyaan no. 4 skor dari komponen 3
>7 jam 0
6-7 jam 1
5-6 jam 2
< 5 jam 3
Skor komponen 3:......

4. Komponen 4 : Efisiensi tidur- Pertanyaan no. 1, 3 dan 4


Efisiensi tidur = (total jumlah jam tidur/ total waktu di tempat tidur) X
100% Total
115

Jumlah jam tidur – pertanyaan no. 4


Total waktu di tempat tidur – yang dikalkulasikan dari respon terhdadap
pertanyaan no.1 dan no.3
Efisiensi tidur skor dari komponen 4
>85% 0
75-84% 1
65-74% 2
<65% 3
Skor komponen 4:.....

5. Komponen 5 : Gangguan tidur-Pertanyaan no. 5b-5j


Respon terhadap pertanyaan no. 5b-5j skor dari komponen 5
tidak selama satu bulan terakhir 0
kurang dari sekali seminggu 1
sekali atau dua kali seminggu 2
tiga kali atau lebih dalam seminggu 3
Jumlah subskor pertanyaan no. 5b-5j skor dari komponen 5
0 0
1-9 1
10-18 2
19-27 3
Skor komponen 5:.....

6. Komponen 6 : Pemakaian obat tidur-Pertanyaan no. 7


Respon terhadap pertanyaan no.7 skor dari komponen 6
tidak selama satu bulan terakhir 0
kurang dari sekali seminggu 1
sekali atau dua kali seminggu 2
tiga kali atau lebih dalam seminggu 3
Skor komponen 6:.........
116

7. Komponen 7 : Disfungsi pada siang hari- Pertanyaan no. 8 dan 9


Respon terhadap pertanyaan no.8 subskor dari komponen 7
tidak selama satu bulan terakhir 0
kurang dari sekali seminggu 1
sekali atau dua kali seminggu 2
tiga kali atau lebih dalam seminggu 3
Respon terhadap pertanyaan no.9 subskor dari komponen 7
Tidak ada masalah sama sekali 0
Sangat sedikit masalah 1
Sedikit masalah 2
Masalah yang sangat besar 3
Skor gabungan pertanyaan no.8 dan 9 skor dari komponen 7
0 0
1-2 1
3-4 2
4-6 3
Skor komponen 7:.....
Jumlah totalSkorPSQI:Jumlah dari skor ketujuh komponen: .........

LampiranF. Surat Ijin Studi Pendahuluan


117

LampiranG. Lembar Bimbingan Skripsi


118
119
120
121
122