Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Prinsip dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) adalah ketentuan-
ketentuan umum dan khusus yang bersifat memandu dan mengarahkan pikiran
dan perilaku guru dalam menyikap dan mengelola pembelajaran.
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) seperti pembelajaran pada umumnya
memiliki prinsip umum baik yang bersifat psikologis-paedagogis adalah yang
berkenaan dengan perubahan perilaku siswa, sedang yang bersifat didaktik-
metodik adalah yang berkenaan dengan strategi atau prosedur pembelajaran.
Menguasai kemampuan pembelajaran dalam Pembelajaran Kelas Rangkap
(PKR) penting bagi setiap guru kelas , baik yang selalu mengajar kelas
rangkap di SD kecil maupun bila sewaktu-waktu harus mengajar kelas
rangkap karena ada guru lain yang terpaksa tidak hadir mengajar. Apabila kita
tampil dengan mantap maka, murid akan merasa senang untuk belajar karena
suasana kelas lebih menarik , menantang dan menyenangkan.
Agar kita dapat tampil sebagai guru Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)
yang mantap, maka dalam maklah ini akan dibahas beberapa hal yang
berkaitan dengan model pengelolaan dan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)
terutama prinsip dan model pengelolaan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR
dengan fokus model Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)221, model
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) 222, dan model Pembelajaran Kelas
Rangkap (PKR) 333.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa prinsip pembelajaran kelas rangkap ?
2. Apa saja pola dasar pembelajaran kelas rangkap?
3. Bagaimana model pembelajaran kelas rangkap 221?
4. Bagaimana model pembelajaran kelas rangkap 222?
5. Bagaimana model pembelajaran kelas rangkap 333?

1
6. Apa hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan pola dasar
pembelajaran kelas rangkap?

1.3 Tujuan
1. Untuk memahami prinsip pembelajaran kelas rangkap.
2. Untuk memahami pola dasar pembelajaran kelas rangkap.
3. Untuk memahami model pembelajaran kelas rangkap 221.
4. Untuk memahami model pembelajaran kelas rangkap 222.
5. Untuk memahami model pembelajaran kelas rangkap 333.
Untuk mengetahui apa yang harus diperhatikan dalam menerapkan pola
dasar pembelajaran kelas rangkap.

2
BAB II
ISI.

2.1 Prinsip Pembelajaran Kelas Rangkap


Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) seperti pada umumnya memiliki prinsip-
prinsip umum memiliki prinsip-prinsip umum baik yang bersifat psikologis-
paedagogis maupun didaktik-metodik. psikologis-paedagogis berkenaan dengan
perilaku siswa, sedangkan didaktik metodik berkenaan dengan startegi atau
prosedur pembelajaran.
Prinsip umum psikologis-paedagogis antara lain :
a. Perbedaan individual anak dalam pekembangan kognitif, sikap dan
perilakunya menuntut perlakuan pembelajaran yang cocok dengan
tingkatannya. Misalnya perilaku terhadap siswa kelas I tentu berbeda dengan
perlakukan terhadap siswa kelas V dikarenakan pada tingkat usia kelas I
proses berpikir konkret lebih dominan, sedangkan siswa kelas V sudah mulai
berpikir abstrak. (Piaget dalam Bell-Gedler:1986).
b. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar baik yang datang dari dalam diri
siswa (motivasi intrinsic) maupun yang datang dari luar diri siswa (motivasi
instrumental).Oleh karena itu, pembelajaran harus diawali dengan
menumbuhkan motivasi siswa agar merasa butuh dan mau belajar. Bila sudah
tumbuh, motivasi tersebut perlu dipelihara dan malah ditingkatkan melalui
berbagai bentuk penguatan (reinforcement) . (Skinner dalam Turney:1997)
c. Belajar sebagai proses akademis dalam diri individu untuk membangun
pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui transformasi pengalaman. Proses
tersebut dapat dipandang sebagai suatu siklus pengalaman konkret (concrete
experience), pengamatan mendalam (reflective observation), pemikiran
abstract (abstract consptualization), dan percobaan atau penerapan secara aktif
(active experimentation).(Kolb:1986).
d. Belajar dari teman seusia (peer group) terutama mengenai sikap dan
keterampilan sosial dapat berhasil dengan baik melalui interaksi sosial yang
sengaja dirancang.

3
e. Pencapaian damapk intruksional (instructional effects) dan dampak pengiring
(nurturant effect) menuntut lingkungan dan suasana belajar yang
memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan belajar yang dirancang
dengan baik oleh guru dan terciptanya suasana belajar secara kontekstual.

Implementasi dari prinsip umum psikologis-pedagogis terhadap pembelajaran


adalah munculnya prinsip-prinsip didaktik-metodik sebagai berikut :

a. Penganekaragaman pembelajaran agar dapat melayani perbedaan individual


siswa.
b. Pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar agar dapat membangkitkan ,
memelihara, dan meningkatkan motivasu siswa.
c. Penerapan aneka pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang
berpotensi mengaktifkan siswa dalam keseluruhan siklus proses belajar.
d. Penekanan pada pencapaian dampak instruksional dan dampak pengiring.
PKR memiliki beberapa prinsip khusus seperti berikut (Djalil dan
Wardani:1997, Rake Joni:1998).
a. Keserempakan kegiatan belajar mengajar
Dalam PKR seorang guru dalam waktu yang bersamaan, misalnya dari pukul
08.00-09.20 (2 jam pelajaran) menangani pembelajaran IPA untuk kelas V dan
IPS kelas VI.Pada saat itu siswa kelas V dan kelas VI dalam satu atau dua
ruangan secara serempak belajar di bawah bimbingan seorang guru. Dengan
prinsip ini memanfaatkan sumber dayua dalam hal ini guru dan waktu yang
tersedia dapat lebih optimal.
b. Kadar tinggi waktu keaktifan akademik
Yang dikamsud dengan waktu keaktifa akademik (WKA) adalah waktu yang
benar-benar digunakan oleh siswa untuk belajar (membaca, menyimak,
menulis, berlatih keterampilan, berdiskusi).Misalnya dalam dua pelajaran
tersedia 2 x 40 ‘ = 80’ . Selama 15’ digunakan oleh guru untuk mengabsen,
mengatur kelompok , 65’ sisanya digunakan oleh siswa untuk berbagai
kegiatan belajar.Dalam 65’ itulah siswa benar-benar melakukan kegiatan
belajar atau sering disebut juga “on-task” (Falnder:1972).Bila selama 65’ itu
ternyata ada sebagian waktu yang digunakan untuk ‘ngobrol’ selainmateri

4
pelajaran atau mungkin melamun misalnya selama 10 ‘ maka yang benar-
benar dipakai belajar hanya 55’ on task.Selama 10’ tersebut para siswa tidak
belajar atau sering disebut “off-task” (Falnder:1972).Dengan menerapkan
PKR seorang guru dapat mengurangu lama waktu kosong karena dua kelas
ditangani secara serempak sehingga waktu keaktifan akademik menjadi
semakin tinggi.
c. Kontak Psikologis guru-murid yang berkelanjutan
Dengan menerapkan PKR interaksi guru-murid baik yang berupa perhatian,
pengarahan, bimbingan pembelajaran, dan monitoring menjadi suatu proses
akan berlangsung secara bervariasi dan terus menerus terutama PKR dengan
satu ruangan.Bila PKR siterapkan dalam dua atau tiag ruangan memang ada
sebagian perhatian misalnya kontak pandang guru-murid yang
terputus.Kontak psikologis guru murid yang bervariasi ini sangat penting
untuk dibangun dan dipelihara , bila tidak maka pembelajaran disiplin siswa
akan berkurang.
d. Pemanfaatan sumber belajar yang efisien
Kita menyadari bahwa di skeolah dasar terutama di pedesaan sumber belajar
tertulis dirasakan sangat kurang. Banyak sekali SD yang tidak memiliki
perpustakaan sekolah.Malah dalam beberapa kasus hanya terdapat satu
eksemplar buku pelajaran untuk satu keals.Dengan menerapkan PKR sumber
belajar tertulis yang jumlahnya terbatas dapat digunakan secara bersama-sama.

2.2 Pola Dasar Pembelajaran Kelas Rangkap


Sebelum kita mengenali pola – pola dasar Pembelajaran Kelas Rangkap , ada
baiknya kita perhatikan lebih dulu rumusan singkat mengenai ciri-ciri
Pembelajaran Kelas Rangkap, yaitu :
a. Seorang guru
b. Menghadapi dua kelas atau lebih, atau satu kelas dengan dua atau beberapa
kelompok murid yang berbeda kemampuan.
c. Untuk membimbing belajar dalam satu mata pelajaran atau lebih , atau
beberapa topic yang berebda dalam satu mata pelajaran
d. Dalam satu atau lebih dari satu ruangan

5
e. Pada jam pelajaran yang bersamaan.
Dilihat dari pengorganisasian mata pelajaran, kelas atau rombongan belajar
(rombel) dan ruangan, terdapat beberapa pola dasar Pembelajaran Kelas Rangkap
sebagai berikut :
Model PKR 211 : dua kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 221 : dua kelas, dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 311 : tiga kelas, satu mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 321 : tiga kelas, dua mata pelajaran, satu ruangan
Model PKR 322 : tiga kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 333 : tiga kelas, tiga mata pelajaran, tiga ruangan
Model PKR 222 : dua kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan
Model PKR 111 : dua kelas, satu mata pelajaran dengan dua atau tiga topic
berjenjang satu ruangan.
Sebagai contoh singkat dapat dikemukakan sebagai berikut :
Model PKR 211 : kelas I dan II belajar menyanyi dalam satu ruangan
Model PKR 221 : kelas III belajar IPA , dan kelas IV belajar IPS dalam satu
ruangan
Model PKR 222 : kelas III belajar IPA di ruangan I dan kelas IV belajar IPS
di ruangan 2 yang terhubung dengan ruang 1.
Model PKR 311 : Kelas IV, V dan VI belajar menyanyi dalam satu ruangan
Model PKR 322 : Kelas III dan IV belajar IPS di ruangan 1 dan kelas V
belajar IPA di ruangan 2 yang terhubung ke ruangan 1.
Model PKR 333 : Kelas III belajar IPA, kelas IV belajar IPS, dan kelas V
belajar Matematika di tiga ruangan yang satu sama lain terhubung dengan
pintu.
Khusus untuk model PKR 111 iyakni satu kelas belajar satu mata pelajaran
dengan beberapa topic yang berbeda dalam satu ruangan merupakan model PKR
:neka aras”atau “multi-level teaching “. Model ini memerlukan pengorganisasian
siswa dengan menerapkan prinsip perbedaan individual dan “belajar tuntas” .
Model ini akan berjalan dengan baik bila di dukung dengan sumber belajar yang
diindividualisasikan dan bersifat modular misalnya menggunakan “modul” atau

6
“kit” seperti di SD Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada tahun
1980-an dan di SD Kecil di daeerah terpencil (Kalimantan).
Dilihat dari sudut pengelolaan kelas khususnya dalam penanganan disiplin
siswa , model PKR 211, 221, 311, dan 321, jauh lebih terkendali daripada model
PKR 222,322,333. Dapat kita pahami bahwa mengelola satu ruangan lebih
terkonsentrasi daripada lebih dari satu ruangan. Malah sangat dianjurkan untuk
lebih banyak menggunakan model 211, 221, 311, 321 bila jumlah gabungan siswa
kedua atau ketiga kelas itu paling banyak 30 orang. Bila lebih dari 30 orang
dianjurkan menggunakan model PKR 222, 322, atau 333.

2.2.1 Model PKR 221


Model PKR 221 merupakan model PKR murni karena prinsip keserempakan
terpenuhi tanpa batas fisik. Perhatian tatap muka sebagai wahana paedagogis
kontrol guru terhadap kelas dapat berlangsung terus menerus . Model ini sangat
dianjurkan untuk digunakan karena paling efektif diantara model PKR lainnya.
Namun, model ini hanya mungkin diterapkan jika jumlah siswa tidak terlampau
banyak (15-20 orang).
Pada model PKR 221 ini, seorang guru mengajar dua kelas misalkan kelas 5
dan kelas 6 , dengan dua mata peljaran IPS dan IPA dalam satu ruangan.
Langkah-langkah pembelajaran pada model ini, dapat diperhatikan matrik berikut
ini :
Kegiatan/Waktu Kelas V (IPS) Kelas VI (IPA)
1. Pendahuluan (10’) Pengantar dan pengarahan dalam satu ruangan
penjelasan skenario dan hasil belajar.
2. Kegiatan Inti 1 (20’) Tugas individual Kerja kelompok
3. Kegiatan Inti 2 (20’) Kerja kelompok Ceramah, Tanya
jawab
4. Kegiatan Inti 3 (20’) Ceramah, kerja Diskusi, Tanya jawab
kelompok
5. Penutup (10’) Review, penguatan, komentar dan tindak
lanjut.
Persiapan kegiatan belajar berikutnya.

7
Dalam menerapkan model ini ikutilah petunjuk berikut :
a. Pada kegiatan pendahuluan, lebih kurang 10 menit pertama, guru memberikan
gambar pengantar dan pengarahan dalam satu ruangan. Gunakan dua papan
tulis atau satu papan tulis dibagi dua. Tuliskan topic dan hasil belajar yang
diharapkan dari kelas 5 dan kelas 6 . Ikuti langkah-langkah untuk masing-
masing kelas yang akan ditempuh selama pertemuan.
b. Pada kegiatan inti 1,2,3 lebih kurang 60 menit, terapkan aneka metode yang
sesuai dengan tujuan untuk masing-masing kelas. Selama kegiatan
berlangsung adakan pemantapan, bimbingan , balikan sesuai dengan
keperluan. Gunakan keterampilan dasar mengajar yang sesuai.
c. Pada kegiatan penutup lebih kurang 10 menit terakhir, berdirilah di depan
kelas menghadapi kedua kelas untuk mengadakan review atas materi dan
kegiatan yang baru berlaku. Berikan komentar dan penguatan sesuai
keperluan.Kemudian berikan tindak lanjut berupa tugas atau apa saja sebagai
bahan untuk pertemuan berikutnya atau mungkin untuk hari berikutnya.

2.2.2 Model PKR 222

Model PKR 222 merupakan model PKR modifikasi untuk kondisi jumlah
siswa lebih dari 20 orang, yang tidak mungkin ditampung dalam satu
ruangan.Penerapan model ini mempunyai dampak antara lain perhatian tatap
muka sebagai wahana paedagogis kontrol guru terhadap kelas tidak dapat
berlangsung terus – menerus karena masing-masing kelas harus menunggu
hadirnya guru secara fisik secara bergiliran. Waktu tunggu tentunya lebih lama
karena guru harus berpindah-pindah diantara dua ruangan. Oleh karen itu, harus
dirancang dengan cermat agar tanpa kehadiran guru untuk sementara , siswa tetap
dapat belajar dengan penuh perhatian.Dalam praktik, model tidak seefektif Model
PKR 221.

Pada model pembelajaran kelas rangkap 222, guru menghadapi dua kelas,
Misalnya kelas 5 dan kelas 6, untuk mengajar mata pelajara Matematika di kelas 5
dan IPA di kelas 6. Topik yang akan diajarkan tidak memiliki saling keterkaitan.

8
Proses pembelajaran berlangsung dalam dua ruangan berdekatan yang
berhubungan dengan pintu. Langkah-langkah pembelajaran dapat diperhatikan
matrik berikut ini :

Kegiatan/Waktu Kelas V (Matematika) Kelas VI (IPA)


1. Pendahuluan (10’) Pengantar dan pengarahan dalam satu ruangan
penjelasan skenario dan hasil belajar.
2. Kegiatan Inti 1 (15’) Penjelasan guru Kegiatan individual
3. Kegiatan Inti 2 (15’’) Tanya jawab Kegiatan individual
4. Kegiatan Inti 3 (15’) Kerja individual Tanya jawab
5. Kegiatan Inti 4 (15’) Kerja individual Tanya jawab
6. Penutup (10’) Review umum, pergantian, penguatan, tindak
lanjut, tugas.Pengantar jam pelajaran
berikutnya.

Untuk menerapkan model ini Anda perlu mengikuti petunjuk sebagai berikut :
a. Pada kegiatan pendahuluan lebih kurang 10 menit, satukan murid kelas V dan
kelas IV dalam satu ruangan yang tempat duduknya mencukupi. Berikan
pengantar dan pengarahan umum seperti yang Anda lakukan pada model PKR
221.Bila tidak mungkin bisa menyatukan muris dalam satu ruangan, gunakan
halaman/teras,dan bila tidak mungkin lagi murid tetap di ruang masing-masing
tetapi guru berada di pintu yang menghubungkan antara dua kelas.
b. Pada kegiatan inti lebih kurang 60 menit berikutnya, terapkan aneka metode
yang sesuai untuk masing-masing kelas. Yang perlu diperhatikan adalah
jangan sampai pada saat Anda sedang menghadapi kelas yang satu, kelas yang
lain tidak ada kegiatan sehingga murid rebut.Atur kepindahan Anda dari ruang
ke ruang secara seimbang, artinya jangan banyak menggunakan waktu di satu
ruang. Ada saat dimana Anda harus berdiri di pintu penghubung.
c. Pada kegiatan penutup lebih kuran 10 menit terakhir berdirilah di pintu
penghubung menghadapi kedua kelas untuk mengadakan review umum
mengenai materi dan kegiatan belajar yang baru berlaku. Berikan komentar
dan penguatan sesuai dengan keperluan. Setelah itu berikan tindak lanjut

9
berupa tugas untuk masing-masing kelas, kemudian persiapan untuk jam
pelajaran.
d. Sebaiknya menerapkan model PKR 222 ini, aturlah tempat duduk murid
sedemikian rupa sehingga pandangan murid mengarah kedepan dan kearah
pintu penghubung.

2.2.3 Model PKR 333

Model PKR 333, sama dengan model PKR 222, merupakan model PKR
modifikasi karena prinsip keserempakan tidak terkendalikan dengan utuh secara
tatap muka mengingat terdapat batas fisik.Dampaknya, perhatian tatap muka
sebagai wahana paedagogis kontrol guru terhadap kelas tidak dapat berlangsung
terus menerus karena masing-masing kelas harus menunggu hadirnya guru secara
fisik. Waktu tunggu tentunya jauh lebih lama lagi karena guru harus berpindah-
pindah diantara 3 ruangan. Model ini tidak dianjurkan untuk sering digunakan
karena kurang efektif. Model ini hanya digunakan apabila memang secara fisik
tidak dimungkinkan penerapan model 222.

Pada model pembelajaran kelas rangkap 333 guru menhadapi tiga kelas untuk
mengajarkan tiga mata pelajaran. Misalnya kelas 4 dengan mata pelajaran
matematika, kelas 5 dengan mata pelajaran IPS, dan kelas 6 dengan mata
pelajaran IPA dalam tiga ruangan. Untuk memahami langkah-langkah
pembelajaran perhatikan matrik berikut ini :

Kegiatan/Waktu Kelas IV (Mat) Kelas V (IPS) Kelas VI


(IPA)
1. Pendahuluan (10’) Pengantar dan pengarahan umum diberikan secara
bersama-sama di salah satu ruangan .Penjelasan
scenario dan hasil belajar yang ingin dicapai.
2. Kegiatan Inti 1 (20’) Tugas individual Kerja kelompok Ceramah
dan Tanya
jawab
3. Kegiatan Inti 2 (20’) Ceramah dan Tugas individual Kerja
Tanya jawab kelompok

10
4. Kegiatan Inti 3 (20’) Kerja kelompok Ceramah dan Tugas
Tanya jawan individual
5. Penutup (20’) Review umum, pergantian, penguatan, tindak lanjut,
tugas.Pengantar jam pelajaran berikutnya.

Untuk menerapkan model ini, Anda perlu mengikuti petunjuk berikut ini .

a. Pada kegiatan lebih kurang 10 menit pertama, kumpulkan semua murid kelas
4, 5 , dan 6 dalam satu ruangan yang memiliki tempat duduk yang
cukup.Berikan pangantar dan pengarahan umum. Bila tidak mungkin
menyatukan murid dalam satu ruangan, dapat mencari tempat di luar ruangan
misalnya di halaman sekolah atau taman sambil berdiri atau duduk. Berikan
pengantar atau pengarahan umum yang berisi prosedur kegiatan belajar yang
akan dilakukan oleh semua murid.
b. Pada kegiatan inti lebih kurang 60 menit, terapkan berbagai metode yang
cocok dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Penggunaan
lembar kerja murid sangat dianjurkan terutama pada kegiatan belajar murid
yang bersifat mandiri. Dengan demikian kegiatan belajar murid tidak banyak
bergantung pada kehadiran guru di muka kelas atau tempat belajar.
Tingkatkan kadar kemandirian belajar murid. Proses saling membimbing antar
tutoe sangat dianjurkan. Guru selalu memanfaatkan kegiatan murid dan untuk
itu guru berada diantara masing-masing kelompok.
c. Pada kegiatan penutup lebih kurang 10 menit terakhir, guru harus berada
diantara masing-masing kelompok atau kelas untuk mengadakan review
umum tentang kegiatan belajar yang telah dilakukan murid.Berikan komentar
dan penguatan sesuai keperluan. Selanjutnya berikan tindak lanjut berupa
tugas untuk masing-masing kelas. Kemukakan hal-hal yang perlu dipersiapkan
untuk kegiatan pembelajaran berikutnya.
d. Model PKR 333 ini memang agak rumit dalam pengelolaannya .Maka Anda
harus memiliki daya gerak paedagogis yang tinggi. Keunggulan model ini
adalah terletak pada intensitas kemandirian belajar setiap kelas dan terbebas
dari situasi belajar kelas lainnya.

11
2.3.Hal-Hal Yang perlu diperhatikan dalam Menerapkan Pola Dasar PKR
Di dalam emnerapkan pola dasar PKR selain model PKR 111, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan seperti berikut .
a. Kelas yang dapat dirangkapa dalam satu ruangan adalah kelas I,II, III atau
kelas IV,V,VI atau kelas I,II,III,IV.Kelas I,II sebaiknya tidak dirangkap dalam
satu ruangan dengan IV,V,VI , karena alasan perbedaan manusia dan
perbedaan lama belajar. Dalam satu jam pelajaran kelas I dan II adalah 30’
sedangkan kelas III,IV,V, dan IV 40’.Bila terpaksa mislanya di SD itu hanya
seorang guru dan hanya satu ruangan seperti terdapat di daerah terpencil,
dalam ruaangan itu , dibuat dua bagian dengan memamkai partisi/penyekat
tidak permanen setinggi bahu guru.
b. Mata pelajaran yang menekankan pada keterampilan melafalkan ayau bersuara
seperti membaca , menyanyi, atau bergerak seperti praktek olahraga tidak bole
dirangkap dengan mata pelajaran yang menekankan pada proses kognitif
seperti Matematika, IPA, IPS,PPKn,Bahasa Indonesia.Alasannya adalah
dalam pembelajaran aspek kognitif siswa memerlukan konsentrasi dalam
berpikir yang apabila dirangkap dengan pembelajaran keterampilan gerak atau
verbal satu sama lain akan merasa saling terganggu.
c. Perangkapan kelas dalam ruangan lebih dari tiga tidak dianjurkan karena sukar
untuk dikelola antara lain guru akan sangat repot mengesak dari kelas ke
kelas. Waktu tunggu setiap kelas akan sangat banyak sehingga waktu
keaktifan akademik akan sangat terbatas karena waktu siswa “off-task” bisa
jadi lebih banyak daripada untuk siswa “on-task”.Karena itu jumlah ruangan
yang sebaiknya dipakai dalam satu perangkapan kelas paling banyak tiga
ruangan dan yang paling ideal adalah 1-2 ruangan.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada hakikatnya pengelolaan PKR adalah upaya untuk mencapai tujuan yang
setinggi-tingginya dengan memanfaatkan segala sumber daya manusia, alam dan
sosial budaya yang tersedia ..

Penglolaan PKR yang efektif ditandai oleh pemanfaatan sebagian terbesar dari
waktu yang tersedia untuk kegiatan belajar murid, penampilan kualitas
pembelajaran yang memadai, dan keterlibatan yang luas dari seluruh murid dalam
kegiatan belajar.

Guru PKR dituntut untuk melakukan aneka cara mengisi waktu belajar ,
menampilkan kualitas pembelajaran dan melibatkan murid dalam belajar.

Ada tiga model dasar pengelolaan pembelajaran kelas rangkap , yaitu :

1) PKR 221 : dua kelas, dua mata pelajaran dalam satu ruangan.
2) PKR 222 : dua kelas , dua mata pelajaran dalam dua ruangan.
3) PKR 333 : tiga kelas , tiga mata pelajaran dalam tiga ruangan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan apabila ingin mengadakan kelas rangkap yaitu :
1. kelas yang dirangkap memperhatikan perbedaan manusia dan perbedaan
lama belajar. Kelas I, II tidak dapat dirangkap dengan kelas IV,V dan VI.
2. Mata pelajaran yang menekankan pada keterampilan melafalkan atau
bersuara seperti membaca, menyanyi, atau bergerak seperti praktek
olahraga tidak boleh dirangkap dengan mata pelajaran yang menekankan
pada proses kognitif seperti Matematika, IPA, IPS ,PPKn, Bahasa
Indonesia.

3.2 Saran

Dengan adanya pembahasan mengenai prinsip dan model pengelolaan PKR


diharapkan kita memahami pola-pola dasar PKR lalu dapat menerapkannya
apabila sewaktu-waktu kita diharuskan mengajar di kelas rangkap.

13
DAFTAR PUSTAKA

Susilowati,dkk.2009. Pembelajaran Kelas Rangkap.Jakarta:Depdikbud

Winantraputra,Udin.1999.Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)


.Jakarta:Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi

14