Anda di halaman 1dari 5

ASMA RINGAN

No. Kode
Terbitan 25 Juli 2017
SOP No.Revisi 00
Halaman 1/1
PUSKESMAS SIMTITI
SAMBAS Nip.196306041986031022

1.Pengertian Adalah
1.Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penatalaksanaan Asma
2.Kebijakan Keputusan Kelapa Puskesmas Nomor
3.Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK 02.02/514/2015 tentang Panduan
Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Tingkat Primer
4.Langkah-
langkah
6. Bagan Alir

a. Unit Pendaftaran
7. Distribusi
b. Pelayanan Umum
8.Dokumen a. Rekam Medis
Terkait
b. Formulir permintaan Pemeriksaan Penunjang

HIPERTENSI ESENSIAL

No ICPC-2 : K86 Hypertension uncomplicated


No ICD-10 : I10 Essential (primary) hypertension
Tingkat Kemampuan 4A

Masalah Kesehatan
Hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyababnya.
Hipertensi menjadi masalah karena meningkatnya prevalensi, masih banyak
pasien yang belum mendapat pengobatan, maupun yang telah mendapat terapi
tetapi target tekanan darah belum tercapai serta adanya penyakit penyerta dan
komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas

Hasil Anamnesis (Subjective)


Keluhan
Mulai dari tidak bergejala sampai dengan bergejala. Keluhan hipertensi antara
lain:
1. Sakit atau nyeri kepala
2. Gelisah
3. Jantung berdebar-debar
4. Pusing
5. Leher kaku
6. Penglihatan kabur
7. Rasa sakit di dada

Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah lelah dan
impotensi.

Faktor Risiko
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Riwayat hipertensi dan penyakit kardiovaskular dalam keluarga.

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi:


1. Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan)
2. Konsumsi alkohol berlebihan
3. Aktivitas fisik kurang
4. Kebiasaan merokok
5. Obesitas
6. Dislipidemia
7. Diabetus Melitus
8. Psikososial dan stres

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana(Objective)

Pemeriksaan Fisik
1. Pasien tampak sehat, dapat terlihat sakit ringan-berat bila terjadi komplikasi
hipertensi ke organ lain.
2. Tekanan darah meningkat sesuai kriteria JNC VII.
3. Pada pasien dengan hipertensi, wajib diperiksa status neurologis dan
pemeriksaan fisik jantung (tekanan vena jugular, batas jantung, dan ronki).

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Urinalisis (proteinuria), tes gula darah, profil lipid, ureum, kreatinin
2. X raythoraks
3. EKG
4. Funduskopi

Penegakan Diagnosis (Assessment)


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Tabel 6.1 Klasifikasi TD Sistolik TD Diastolik
tekanan darah
berdasarkan Joint
National Committee VII
(JNC VII) Klasifikasi
Normal < 120 mmHg < 80 mm Hg
Pre-Hipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage -1 140-159 mmHg 80-99 mmHg
Hipertensi stage -2 ≥ 160 mmHg ≥ 100 mmHg

Diagnosis Banding
White collar hypertension, Nyeri akibat tekanan intraserebral, Ensefalitis

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan

Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup dan terapi
farmakologis.

Tabel 6.2 Modifikasi gaya hidup untuk hipertensi

Modifikasi Rekomendasi Rerata penurunan TDS


Penurunan berat badan Jaga berat badan ideal 5 – 20 mmHg/ 10 kg
(BMI: 18,5 - 24,9
kg/m2)
Dietary Approaches to Diet kaya buah, 8 – 14 mmHg
Stop Hypertension sayuran, produk rendah
(DASH) lemak dengan jumlah
lemak total dan lemak
jenuh yang rendah
Pembatasan asupan Kurangi hingga <100 2 – 8 mmHg
natrium mmol per hari (2.0 g
natrium atau 6.5 g
natrium klorida atau 1
sendok teh garam
perhari)
Aktivitas fisik aerobic Aktivitas fisik aerobik 4 – 9 mmHg
yang teratur (mis: jalan
cepat) 30 menit sehari,
hampir setiap hari
dalam seminggu
Stop alkohol 2 – 4 mmHg

Hipertensi tanpa compelling indication

a. Hipertensi stage1 dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari, atau


pemberian penghambat ACE (captopril 3x12,5- 50 mg/hari), atau
nifedipin long acting 30-60 mg/hari) atau kombinasi.

b. Hipertensi stage2
Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu,
dapat diberikan kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan
penghambat ACE atau penyekat reseptor beta atau penghambat
kalsium.

c. Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi dari


masing-masing antihipertensi diatas. Sebaiknya pilih obat hipertensi
yang diminum sekali sehari atau maksimum 2 kali sehari.

Kondisi khusus lain


a. Lanjut Usia
i.Diuretik (tiazid) mulai dosis rendah 12,5 mg/hari.
ii.Obat hipertensi lain mempertimbangkan penyakit penyerta.
b. Kehamilan
i. Golongan metildopa, penyekat reseptor β, antagonis kalsium,
vasodilator.
ii. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan
selama kehamilan.

Komplikasi
1. Hipertrofi ventrikel kiri
2. Proteinurea dan gangguan fungsi ginjal
3. Aterosklerosis pembuluh darah
4. Retinopati
5. Stroke atau TIA
6. Gangguan jantung, misalnya infark miokard, angina pektoris, serta gagal
jantung

Konseling
1. Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara obat-obatan
yang harus diminum untuk jangka panjang (misalnya untuk mengontrol
tekanan darah) dan pemakaian jangka pendek untuk menghilangkan gejala
(misalnya untuk mengatasi mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang
digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
2. Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang.
Kontrol pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk
mengoptimalkan hasil pengobatan.
3. Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga kecukupan
pasokan obat-obatan dan minum obat teratur seperti yang disarankan
meskipun tak ada gejala.
4. Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan
pengukuran kadar gula darah, tekanan darah dan periksa urin secara teratur.
Pemeriksaan komplikasi hipertensi dilakukan setiap 6 bulan atau minimal 1
tahun sekali.

Kriteria Rujukan
1. Hipertensi dengan komplikasi
2. Resistensi hipertensi
3. Hipertensi emergensi (hipertensi dengan tekanan darah sistole >180)
Peralatan
1. Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan urinalisis dan glukosa
2. EKG
3. Radiologi (X ray thoraks)

Prognosis
Prognosis umumnya bonam apabila terkontrol.