Anda di halaman 1dari 1

Sebelum saya mengenal Kristus, hidup saya dipenuhi oleh ketakutan yang berlebihan.

Terutama takut gagal. Ketakutan itu muncul karena semasa sekolah (TK-SMA), saya selalu
mendapat nilai yang terbaik dalam berbagai bidang mata pelajaran, jadi membuat saya
terbiasa mendapat pujian dari orangtua, keluarga dan teman-teman. Ketakutan itu muncul
ketika saya kuliah semester 1. Saya takut ‘bagaimana ya kalau saya tidak cumlaude?’
bagaimana kalau nilai saya lebih rendah dari teman-teman?’ Ketakutan tersebut semakin
lama semakin menjadi, dan semakin berkuasa, sehingga membuat saya menangis hampir
setiap malam. Setiap menjelang pagi, selalu merasa tidak damai. Karena itu, saya berusaha
menceritakan ke orang-orang apa yang saya rasakan dengan tujuan orang tersebut memberi
saya solusi, tp malah orang-orang menjuluki saya si panik. Akhirnya, saya memutuskan
untuk menarik diri dari orang-orang sekitar. Saya lebih memilih untuk sepulang kuliah
langsung pulang dan menghabiskan waktu dikosan untuk belajar, saya juga menarik diri dari
organisasi kemahasiswaan dan organisasi kerohanian. Saya jadi pelit terhadap waktu.
Bahkan, ketika ibadah minggu saja saya selalu terburu-buru untuk segera pulang dan selama
ibadah pikiran saya ‘pulang ke kos langsung mengerjakan tugas ini tugas itu’. Baca firman
sesempatnya. Lupa jaga kesehatan, sering malas makan. Akhirnya jatuh sakit. Selama 2
semester dipenuhi ketakutan.

Akhir semester 2, awal semester 3, saya berdoa, supaya ketakutan ini berhenti karena
sangat mengganggu. Pulang gereja, saya bertemu dengan seorang kakak tingkat. Saya
menceritakan kalau saya takut. Kemudian beliau mengajak saya untuk bertemu dikosan.
Pertemuan kami setiap minggunya. Dan saya diajak berdoa, menggali alasan ketakutan saya.
Alasan ketakutan saya adalah karena ada dosa yang belum diselesaikan. Saya mulai diajak
ikut kegiatan pendalaman Alkitab. Saya diingatkan bahwa saya harus menyelesaikan dosa
tersebut. Saya dikenalkan dengan karya keselamatan. Dan saya diajak untuk percaya dan
menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. 14/4/2014 saya menerima Kristus.

Setelah saya menerima Kristus, ketakutan yang dialami semakin lama semakin berkurang.
Saya pegang Yesaya 30:5 ‘dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. Saya
memusatkan diri kepada Kristus yang telah menolong saya dan membawa saya keluar dari
keberdosaan saya. Saya menjadi lebih berani dalam menggunakan waktu saya, karena saya
percaya, Kristus bekerja menolong saya dan senantiasa setiap apa yang saya kerjakan saya
pakai untuk kemuliaan nama Tuhan.

Point2:
1. Menunjukkan sisi kebutuhan Juruselamat dan bagaimana cara menerima Juruselamat.
2. Koneksi yang jelas keselamatan dengan keluarnya saya dari ketakutan2 tersebut.
3. Cari ayat yang lebih mendukung ke bagian untuk pemberitaan injil