Anda di halaman 1dari 9

Manifestasi Oral Pada Penyakit Hipertensi

Beberapa manifestasi oral yang ditemukan pada penderita hipertensi,

di antaranya adalah xerostomia, reaksi likenoid, gingival enlargement

(pembesaran gingiva), eritema multiform (EM), angioedema, dysgeusia

(gangguan pengecapan).

1. Xerostomia
Xerostomia atau mulut kering merupakan keadaan rongga

mulut yang paling banyak dikeluhkan. Keadaan ini umumnya

berhubungan dengan berkurangnya aliran saliva, namun adakalanya

jumlah atau aliran saliva normal tetapi seseorang tetap mengeluh

mulutnya kering. Xerostomia bukanlah suatu penyakit, tetapi

merupakan gejala dari berbagai kondisi medis. Banyak faktor yang

menyebabkan mulut kering, salah satunya adalah obat – obat anti

hipertensi seperti Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (ACEI),

thiazide diuretik, loop diuretik, clonidine. (Villa A, Connell CL,

Abati S. Diagnosis and management of xerostomia and

hyposalivation. Therapeutics and Clinical Risk Management.

2015;11: 45–51 )
Xerostomia memiliki banyak konsekuensi diantaranya dapat

menyebabkan gigi berlubang, kesulitan dalam mengunyah, menelan

dan berbicara, kandidiasis, dan sindrom mulut terbakar. Dalam

keadaan tersebut, maka obat anti hipertensi harus diganti.

Xerostomia juga sering diobati dengan obat parasympathomimetic

seperti pilocarpine atau cevimeline. Meminum banyak air putih,


mengurangi konsumsi kopi, dan menghindari pemakaian obat kumur

yang mengandung alkohol juga di rekomendasikan untuk mengobati

atau menghindari xerostomia. (Popescu SM, Scrieciu M, Mercut V,

Tuculina M, Dascalu I. Hypertensive patient and their management

in dentistry. ISRN hypertension. 2013; 1-8)

2. Reaksi likenoid
Pada lesi likenoid terdapat white striae atau papula seperti

liken planus, lesi dapat terlihat ulseratif dengan adanya rasa peka

terhadap rasa sakit serta lokasi yang paling sering adalah mukosa

bukal dan gingiva cekat, namun daerah lain juga dapat dikenai.

Reaksi likenoid dapat bersifat bilateral dan unilateral.(Kumar P,

Mastan KMK, Chowdhary R, Shanmugam K. Oral manifestations in

hypertensive patient: a clinical study. Journal Oral Maxillofacial

Pathol. 2012; 16(2): 215-221)


Reaksi likenoid terkadang terlihat pada pasien hipertensi

sebagai manifestasi sekunder akibat penggunaan obat anti hipertensi.

Obat yang paling umum menyebabkan efek samping ini adalah obat

ACE-Inhibitor terutama kaptopril. ditandai dengan akantosis

(penebalan epidermis yang dihasilkan dalam pembentukan papula

dan plak), degenerasi sel basal, hiperparakeratosis, banyak infiltrasi

sel inflamasi kronis di seluruh jaringan ikat terutama sel plasma dan

histiosit.(Kumar P, Mastan KMK, Chowdhary R, Shanmugam K.

Oral manifestations in hypertensive patient: a clinical study. Journal

Oral Maxillofacial Pathol. 2012; 16(2): 215-221)


Gambar 1. Reaksi likenoid pada mukosa bukal.

3. Gingival enlargement (pembesaran gingiva)


Pembesaran gingiva merupakan salah satu temuan klinis

yang paling umum pada penderita dengan hipertensi yang

menggunakan obat anti-hipertensi terutama calcium channel

blockers seperti amlodipine, dan nifedipin yang bekerja dengan

memperlambat gerakan kalsium ke dalam sel jantung dan dinding

pembuluh darah, yang membuat lebih mudah bagi jantung untuk

memompa dan memperlebar pembuluh darah. Pembesaran gingiva

terlihat pada bukal atau facial dan lingual atau palatal dari margin

gingiva. Terkadang pembesaran gingiva dapat mencapai mahkota

gigi menyebabkan kesulitan untuk makan. Pembesaran gingiva dapat

diperparah dengan kesehatan gigi dan mulut yang buruk. (Kumar P,

Mastan KMK, Chowdhary R, Shanmugam K. Oral manifestations in

hypertensive patient: a clinical study. Journal Oral Maxillofacial

Pathol. 2012; 16(2): 215-221)


Patogenesis terjadinya pembesaran gingiva oleh karena obat-

obatan sebagai akibat dari terjadinya sintesa/produksi kolagen oleh

fibroblast gingiva, pengurangan degradasi kolagen akibat


diproduksinya enzim kolagenase yang inaktif dan pertambahan

matriks non-kolagen, sebagai contoh glikosaminoglikans dan

proteoglikans dalam jumlah yang lebih banyak dari matriks kolagen.

(Daliemunthe, SH. Periodonsia. Departemen Periodonsia Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Medan, 2008 :161)

Gambar 2. Gingival Enlargement

4. Eritema multiform (EM)


Merupakan penyakit kulit dan membrana mukosa dengan tanda-

tanda klinis yang luas, gangguan inflamasi akut, sering berulang dan

merupakan reaksi hipersensitifitas yang berdampak pada jaringan

mukokutaneus yang dapat menyebabkan beberapa jenis lesi kulit,

maka dinamakan multiforme.( Lynch MA. Disease of the

cardiovascular system, in: Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg

MS, eds Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment. 9th ed,

Philadelphia. JB Lippincott Co; 463), (Scully.Oral and maxillofacial

medicine the basis of diagnosis and treatment.London : Wright,

2004:96-339). Pada mulut terlihat peradangan yang luas, dengan

pembentukan vesikel kecil serta erosi yang luas dengan dasar yang

berwarna merah. Dapat terjadi pada bibir dan terbentuk ulser yang

luas. Berdasarkan banyaknya mukosa yang terlibat EM terbagi atas 2


tipe yaitu tipe minor dan tipe mayor. (Scully.Oral and maxillofacial

medicine the basis of diagnosis and treatment.London : Wright,

2004:96-339)
1. Eritema multiform minor
Terjadi hanya pada satu daerah saja. Dapat mengenai mulut

saja, kulit atau mukosa lainnya.


2. Eritema multiform mayor
Tipe ini juga dikenal dengan istilah Steven-Johnson

syndrome. Dimana hampir seluruh muko sa mulut terlibat dan

juga dapat mengenai mata, laring, esophagus, kulit, dan genital.


Eritema multiform yang dipicu oleh obat-obat antihipertensi

terjadi sebagai reaksi hipersensitifitas imunitas dari tubuh ditandai

dengan hadirnya sel-sel efektor sitotoksik dan CD8+ limfosit T pada

epitel yang menyebabkan apoptosis dari keratinosit sehingga sel

menjadi nekrosis. (Scully.Oral and maxillofacial medicine

the basis of diagnosis and treatment.London : Wright,

2004:96-339)

5. Angioedema
Angioedema adalah pembengkakan pada lapisan dermis,

jaringan subkutaneus atau submukosa yang mempengaruhi setiap

bagian tubuh terutama kelopak mata, bibir, lidah, dan bahkan

jaringan dari dasar mulut yang dapat menyebabkan terbentuknya

edema laryngeal. (Scully.Oral and maxillofacial medicine

the basis of diagnosis and treatment.London : Wright,

2004:96-339). Terdapat perbedaan warna antara jaringan yang

terlibat dengan jaringan sekitarnya atau seperti eritematus.


( Anonymous. Angioedema can hit you hard.<

www.angioedematreatment. .com/> (25 Agustus 2010)). Karena

sering terjadi pada leher dan kepala, maka pasien sering terlihat

dengan wajah, bibir, dan kelopak mata yang bengkak. (Scully.Oral

and maxillofacial medicine the basis of diagnosis and

treatment.London : Wright, 2004:96-339)


Angioedema sebagai manifestasi dari pemakaian obat-obatan

digolongkan sebagai angioedema yang bukan disebabkan karena

reaksi alergi karena tidak ada keterlibatan IgE dan histamine dalam

hal ini. Melainkan terjadi karena meningkatnya kadar dari bradikinin

atau berubahnya fungsi dari C1 inhibitor.(Scully.Oral and

maxillofacial medicine the basis of diagnosis and

treatment.London : Wright, 2004:96-339)

Gambar 3. Angioedema

6. dysgeusia (gangguan pengecapan).


Dysgeusia adalah suatu keadaan dimana terjadinya gangguan

dalam hal pengecapan dan terkadang disertai gangguan dalam hal

penciuman. Dysgeusia juga dihubungkan dengan ageusia, yaitu

hilanganya kemampuan dalam pengecapan, dan hypogeusia, yaitu


menurunnya kemampuan dalam pengecapan. Dysgeusia dapat

disebabkan oleh beberapa hal. Sebagai contoh flu, infeksi sinus,

sakit tenggorokan dapat menyebabkan dysgeusia. Faktor-faktor lain

yang dapat menyebabkan dysgeusia seperti rokok, xerostomia,

defisiensi vitamin dan mineral, depresi, radiasi di daerah leher dan

kepala, obat-obatan seperti ACE-inhibitor (obat anti hipertensi),

antibiotik, dan obat-obat kemoterapi. Dysgeusia juga dihubungkan

dengan sindroma mulut terbakar atau glossitis dan kondisi oral

lainnya. (Leopold D. Disorders of taste and smell. <

www.emedicine.medscape.com /article/861242-overview> (11

Desember 2010) )
Perawatan dari dysgeusia adalah dengan menghilangkan

faktor penyebabnya. Jika dysgeusia terjadi karena kerusakan saraf

yang permanen maka dysgeusia tidak bisa diobati. (Leopold D.

Disorders of taste and smell. < www.emedicine.medscape.com

/article/861242-overview> (11 Desember 2010) )


MANIFESTASI ORAL AKIBAT PENGGUNAAN
OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PENDERITA
PENYAKIT HIPERTENSI

Disusun Oleh :

Ivana Fadhilah Effendi (2017-16-151)


Kania Faratika (2017-16-152)
Marvina Fitriani (2017-16-153)

Pembimbing :
drg. Solva Yuditha, MARS

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2017
MANIFESTASI ORAL PADA PENYAKIT
HIPERTENSI

Disusun Oleh :

Ivana Fadhilah Effendi (2017-16-151)


Kania Faratika (2017-16-152)
Marvina Fitriani (2017-16-153)

Pembimbing :
drg. Solva Yuditha, MARS

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2017