Anda di halaman 1dari 12

Ceftriaxone OGB HJ

CEFTRIAXONE OGB HJ

Komposisi:
Ceftriaxone 1 g.

Bentuk Sediaan:
Vial 1 g.

Farmakologi:
Menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga terjadi kebocoran sel bakteri dan
bakteri lisis.

Indikasi:
infeksi saluran napas, infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis, infeksi
tulang, sendi dan jaringan lunak, infeksi intra abdominal dll.

Dosis:
- Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 - 2 gram satu kali sehari. dosis dapat dinaikkan
sampai 4 gram satu kali
sehari.
- Ceftriaxone dapat diberikan secara injeksi I.V. dan I.M.
- Anak: 30 - 50 mg/kgBB/hari.
Kontraindikasi:
- Hipersensitif terhadap antibiotik cephalosporin.
- Neonatus.

Peringatan dan Perhatian:


- Pregnancy category B.
- Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar plasma obat
perlu dipantau.

Efek Samping:
- Gastrointestinal : faeces encer / diare, mual, muntah, stomatitis dan glositis.
- Kulit : pruritus, urtikaria, dermatitis alergi, udema, eksantem, eritema multiforma.
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Ranitidin adalah obat yang diindikasikan untuk sakit maag. Pada penderita sakit maag,
terjadi peningkatan asam lambung dan luka pada lambung. Hal tersebut yang sering kali
menyebabkan rasa nyeri ulu hati, rasa terbakan di dada, perut terasa penuh, mual, banyak
bersendawa ataupun buang gas.

Di dalam lambung, ranitidin akan menurunkan produksi asam lambung tersebut dengan cara
memblok langsung sel penghasil asam lambung. Ranitidin sebaiknya diminum sebelum makan
sehingga saat makan, keluhan mual penderita telah berkurang. Ranitidin dianggap lebih potensial
dibandingkan antasida (obat maag yang sering ditemui dijual bebas di apotek ataupun warung).
Bila sakit maag cukup berat atau gejala tidak membaik dengan antacida, biasanya ranitidin akan
diresepkan.

Selain untuk sakit maag, ranitidin juga dapat digunakan untuk pengobatan radang saluranan
pencernaan bagian atas (kerongkongan), dan luka lambung. Ranitidin termasuk kedalam obat
maag yang aman. Pada beberapa kondisi berikut ranitidin sebaiknya tidak diberikan, yakni:

1. Riwayat alergi terhadap ranitidin;


2. Ibu yang sedang menyusui;
3. Pemberian ranitidin juga perlu diawasi pada kondisi gagal ginjal.

EFEK SAMPING

Efek samping yang ditimbulkan sangat jarang ditemukan. Adapun efek samping tersebut beserta
persentase frekuensi kemunculannya adalah sebagai berikut:

1. Sakit kepala (3%);


2. Sulit buang air besar (<1%);
3. Diare (<1%);
4. Mual (<1%);
5. Nyeri perut (<1%);
6. Gatal-gatal pada kulit (<1%).

DOSIS

Ranitidin tersedia dalam sediaan sirup, tablet, maupun cairan suntikan. Ranitidin juga tersedia
sebagai obat generik maupun obat paten.

Ranitidin dalam bentuk tablet tersedia dalam ukuran dosis 75 mg, 150 mg, dan 30 mg. Ranitidin
dalam bentuk sirup tersedia dalam ukuran dosis 15 mg/ml. Sedangkan ranitidin dalam bentuk
cairan untuk disuntikan tersedia dalam ukuran dosis 1 mg/ml dan 25 mg/ml. Cairan suntikan
tersebut dapat disuntikan langsung ke dalam pembuluh darah atau ke dalam otot.

Dosis ranitidin untuk orang dewasa ialah 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari.
Untuk peradangan kerongkongan, ranitidin dapat diberikan hingga 150 mg tiga kali sehari. Dosis
untuk anak-anak ialah 2-4 mg/kg berat badan dua kali sehari. Dosis maksimal untuk anak-anak
ialah 300 mg sehari.
KETOROLAC
Injeksi

:: KOMPOSISI ::

KETOROLAC 10 mg
Tiap ampul (1 ml) mengandung ketorolac tromethamine 10 mg

KETOROLAC 30 mg
Tiap ampul (1 ml) mengandung ketorolac tromethamine 30 mg

:: INDIKASI ::

Untuk penatalaksanaan nyeri akut yang berat jangka pendek (< 5 hari).

:: DOSIS DAN CARA PEMBERIAN ::

Injeksi bolus intravena diberikan dalam waktu minimal 15 detik. Pemberian intramuskular
dilakukan dalam dan perlahan.

Untuk pengobatan intramuskular jangka pendek, diberikan dosis 30-60 mg, dan kemudian
dengan dosis 15-30 mg/6 jam, jika diperlukan. Dosis maksimum yang diberikan dalam sehari
adalah 120 mg. Untuk meringankan rasa sakit derajat sedang pasca-operasi diberikan dosis 30
mg dan dosis 90 mg dapat diberikan untuk pasien dengan nyeri berat. Durasi maksimum
pengobatan dengan ketorolac adalah selama 5 hari. .

:: KONTRAINDIKASI ::

 Hipersensitif terhadap ketorolac tromethamine dan pernah menunjukkan reaksi alergi


terhadap aspirin atau obat AINS lainnya.
 Pasien dengan atau yang mempunyai riwayat ulkus peptikum akut, perdarahan saluran
cerna atau perforasi.
 Penderita gangguan ginjal berat atau berisiko menderita gagal ginjal.
 Pasien yang diduga menderita perdarahan serebrovaskular, diatesis hemoragik.
 Pasien yang sedang mengalami proses persalinan.
 Ibu menyusui.
 Mendapatkan obat AINS lainnya dan probenecid.
 Tidak boleh diberikan secara intratekal atau epidural.
:: PERINGATAN DAN PERHATIAN ::

Hati-hati jika digunakan pada pasien yang sedang menjalani terapi antikoagulan atau dengan
hemofilia, pasien dengan gangguan hemostasis (efek pada hematologi), penderita penyakit
jantung, gagal ginjal akut, hipertensi atau kondisi lain yang berhubungan dengan retensi cairan,
kegagalan fungsi hati atau memiliki riwayat gangguan hati dan anak-anak yang berusia kurang
dari 16 tahun..

:: EFEK SAMPING ::

Ulkus, perdarahan saluran cerna dan perforasi, hemoragis pasca bedah, gagal ginjal akut, reaksi
anafilaktoid, dan gagal hati.

:: KEMASAN ::

KETOROLAC 10 mg. Kotak, 10 ampul 10 mg/ml @ 1 ml.

KETOROLAC 30 mg. Kotak, 10 ampul 30 mg/ml @ 1 ml.


Transamin 500 Mg
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Transamin adalah obat golongan anti fibrinolitik, tersedia di pasar dalam bentuk sediaan kapsul
250 mg, tablet salut selaput 500 mg, serta sediaan injeksi 250 mg/5 mL dan 500 mg/5 mL.
Dalam obat ini mengandung bahan aktif berupa asam traneksamat yang merupakan turunan
sitetik dari asam amino lisin. Asam traneksamat umum digunakan untuk mencegah,
menghentikan, ataupun mengurangi pendarahan yang masif saat menjalani prosedur
pembedahan, epistaksis atau mimisan, pendarahan menstruasi yang berat, angioedema herediter,
dan beberapa kondisi medis lainnya. Saat seseorang mengalami pendarahan tubuh akan
membentuk bekuan darah sehingga pendarahan tersebut dapat berhenti. Asam traneksamat
bekerja dengan mencegah degradasi atau pemecahan bekuan darah tersebut sehingga dapat
mencegah, menghentikan, ataupun mengurangi pendarahan yang tidak diinginkan.

Kontraindikasi dari penggunaan obat ini adalah bagi orang yang memiliki riwayat alergi terhadap
obat ini, wanita yang mengkonsumsi obat kontrasepsi hormonal kombinasi, pasien wanita
prepubertas, penyakit tromboemboli yang aktif, dengan riwayat resiko mengalami trombosis atau
tromboemboli, gangguan penglihatan warna yang didapat, serta pendarahan subaraknoid. Selain
itu, tidak disarankan untuk menggunakan obat ini atau perlu perhatian kusus dalam
penggunaannya, bagi orang dengan riwayat gangguan fungsi ginjal, kelainan pembuluh darah,
penderita desseminated intravascular coagulation (DIC), pasien dengan perdarahan saluran
kemih bagian atas, pengguan bersamaan dengan anti-inhibitor coagulant complex, penggunaan
bersamaan dengan tretinoin, penggunaan jangka panjang pada pasien edema angioneurotik
herediter, serta ibu hamil ataupun menyusui.

EFEK SAMPING

Efek samping yang umum timbul pada penggunaan obat ini berupa nyeri kepala, keluhan pada
hidung dan sinus, nyeri punggung, nyeri perut, selain itu dalam frekuensi yang kecil, ditemukan
efek samping lainnya berupa nyeri sendi, kaku dan keram otot, nyeri kepala sebelah, anemia,
rasa lelah, gangguan penglihatan, mual – muntah, diare, rasa pusing, penurunan tekanan darah
pada penyuntikan obat secara cepat, serta tromboemboli.

DOSIS

 Kapsul

1 – 2 kapsul 3 – 4 kali/hari.

 Tablet salut selaput

1/2 – 1 tablet 3 – 4 kali/hari. Telan utuh, jangan dikunyah, digerus, atau dihancurkan.
 Injeksi

250 – 500 mg terbagi dalam 1 – 2 dosis/hari intramuskular atau intravena. Saat atau setelah
operasi 500 – 1000 mg intravena atau 500 – 2500 mg drip injeksi intravena
Metronidazole
DAN KONTRAINDIKASI

Metronidazol adalah salah satu obat antibiotika yang banyak diresepkan di Indonesia.
Metronidazol adalah antibiotik yang cukup baik untk bakteri anaerob, yakni bakteri yang dapat
hidup tanpa membutuhkan oksigen. Bakteri jenis ini biasanya hidup di dalam luka tertutup atau
di dalam organ tubuh, misal pada luka kaki penderita kencing manis (diabetes) yang biasanya
sudah terdapat nanah, pada infeksi perut bagian dalam, dan sebagainya.

Metronidazol juga baik untuk sejumlah parasit dan bakteri penyebab penyakit kelamin.
Selengkapnya, metronidazol digunakan untuk penyakit berikut:

1. Infeksi yang diduga disebabkan oleh bakteri anaerob;


2. Infeksi menular seksual;
3. Infeksi bakterial vaginosis (penyakit infeksi tidak spesifik pada vagina);
4. Infeksi parasit trichomonas (misal pada diare atau keputihan akibat trichomonas);
5. Infeksi kuman amoeba (misal pada diare akibat amoeba).

Metronidazol tidak boleh diberikan pada pasien yang pernah mengalami alergi terhadap
antibiotik ini. Metronidazol juga tidak boleh diberikan untuk wanita hamil trimester pertama
(hamil usia 0-3 bulan) dan saat menyusui.

EFEK SAMPING

Sejumlah efek samping yang pernah ditemukan dan persentase kemunculannya adalah sebagai
berikut:

1. Nafsu makan turun (10%);


2. Muncul infeksi jamur (10%);
3. Diare (10%);
4. Pusing (10%);
5. Mual dan muntah (10%);
6. Air kencing berwarna gelap (1-10%);
7. Alergi (1-10%);
8. Kejang (1-10%).

DOSIS

Metronidazol tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan botol infusan. Metronidazol tablet
tersedia dalam ukuran 250 mg dan 500 mg. Untuk kapsul, metronidazol tersedia dalam ukuran
375 mg. Sedangkan dalam kemasan botol infusan, metronidazol tersedia dalam ukuran 500
mg/100ml. Metronidazol dapat ditemukan sebagai obat paten maupun generik.

Dosis metronidazol sebagai terapi infeksi anaerob (misal pada luka diabetes atau infeksi orga
dalam tubuh) ialah 7,5 mg/kg berat badan sebanyak 3-4 kali sehari selama 7-10 hari. Secara
praktis, metronidazol biasa diresepkan berupa tablet 500mg, diminum tiga kali sehari selama 7
hari. Pada pasien yang dirawat di rumah sakit, metronidazol diberikan lewat infusan dengan
dosis 15 mg/kg berat badan. Dosis maksimal ialah 4 gram per hari. Untuk infeksi kelamin dan
diare akibat trichomonas, metronidazol diberikan 500 mg, dua kali sehari selama 7 hari.
Sedangkan untuk diare akibat amoeba, metronidazol diberikan sebanyak 750 mg, 2-3 kali sehari
selama 5-10 hari.

Untuk anak-anak, dosis Metronidazol tergantung berat badan. Dosisnya ialah 15 mg/kg berat
badan/hari tiga kali sehari. Untuk bayi umur kurang dari 7 hari, dosisnya ialah 7,5 mg/kg berat
badan/hari
Pengertian Oksitosin
Obat oksitosin memiliki fungsi serupa dengan hormon oksitosin alami yang diproduksi tubuh.
Obat ini berfungsi memicu atau memperkuat kontraksi pada otot rahim. Karena itu, oksitosin
dapat digunakan untuk merangsang kelahiran dan menghentikan pendarahan setelah persalinan.

Pemberian oksitosin harus dilakukan oleh petugas medis. Penerapannya dapat melalui suntikan
maupun infuse

Tentang Oksitosin
Jenis obat Hormon neurohipofisis sintetis

Golongan Obat resep

 Memicu kontraksi pada rahim


Manfaat
 Mengatasi pendarahan setelah proses persalinan

Dikonsumsi oleh Dewasa

Bentuk obat Obat suntik

Peringatan

 Bagi wanita yang sedang hamil atau menjalani persalinan, penggunaan oksitosin harus sesuai
anjuran dan dengan pemantauan dokter.
 Harap berhati-hati bagi yang berusia di atas 35 tahun, memiliki kontraksi rahim yang lemah,
tidak merespons terhadap oksitosin, berisiko mengalami penggumpalan darah, pernah
menjalani operasi caesar, menerima prostagladin melalui vagina dalam enam jam terakhir, serta
menderita hipertensi, gangguan ginjal, gangguan hati, gangguan kardiovaskular, dan toksemia.
 Oksitosin sebaiknya dihindari oleh ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal, misalnya
karena memiliki panggul yang kecil, menderita plasenta previa, atau mengalami kontraksi rahim
yang terlalu kuat.
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.

Dosis Oksitosin

Dalam persalinan, oksitosin umumnya diberikan melalui infus dengan dosis yang ditentukan oleh
dokter per menit. Dosis akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan mungkin diubah seiring
berjalannya proses persalinan. Dalam proses persalinan, pengaruh obat ini pada detak jantung
bayi dalam kandungan juga harus dipantau.
Mengonsumsi Oksitosin dengan Benar
Oksitosin harus diberikan dengan dosis yang tepat sesuai yang dibutuhkan sehingga harus diberikan oleh
petugas medis sesuai dengan anjuran dan pemantauan dokter.

Perhatikan isi kemasan oksitosin sebelum digunakan. Cairan oksitosin harus bening dan tanpa
partikel. Jangan digunakan jika cairan telah berubah warna, berisi partikel, atau kemasannya
bocor. Mintalah pada petugas medis untuk memberikan yang baru.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Oksitosin


Semua obat tentu memiliki efek samping, begitu juga dengan oksitosin. Beberapa efek samping yang
mungkin terjadi saat diberikan obat ini meliputi:

 Mual.
 Muntah.
 Sakit kepala.
 Kontraksi rahim yang berlebihan.