Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


 Memahami prinsip analisa dengan menggunakan UV-VIS
 Mampu mengoperasikan alat UV-VIS DR/2400
 Mampu mempersiapkan sampel dengan cermat.
 Untuk mengetahui kadar Besi (II) yang terdapat dalam air dengan menggunakan
metode phenantroline

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan metode analisa berdasarkan spektroskopi, yaitu
adanya interaksi antara materi dengan cahaya. Spektrofotometri dapat dibayangkan
sebagai suatu perpanjangan dari penilikan visual dalam mana studi yang lebih rinci
mengenai penyerapan energi cahaya oleh spesies kimia memungkinkan kecermatan yang
lebih besar dalam pencirian dan pengukuran kuantitatif. Dengan menggantikan mata
manusia dengan detektor-detektor radiasi lain, dimungkinkan studi absorbsi (serapan)
diluar daerah spektrum tampak, dan seringkali eksperimen spektrofotometri dilakukan
secara automatik. Dalam penggunaan dewasa ini, istilah spektrometri menyiratkan
pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai fungsi
dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri
pada suatu panjang gelombang tertentu(Underwood,1986).
1.2.2 Spektrofotometri UV-Visible
Spektrofotometri UV-Visible adalah bagian teknik analisa spektroskopi yang memakai
sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm)
dengan memakai instrument spektrofotometer.(Mulja,Muhammad;1995)
Prinsip kerja dari spektrofotometri UV-Visible adalah penyerapan cahaya oleh molekul-
molekul. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-Visible (tampak) karena
mereka mengandung elektron, baik berpasangan maupun sendiri yang dapat dieksitasi ke tingkat
energi yang lebih tinggi, panjang gelombang bila mana absorpsi itu terjadi, bergantung pada

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 1


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

kekuatan elektron itu terikat dalam molekul. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat
dengan kuat dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang rendah untuk
eksitasinya.
Spektrofotometri UV-Visible dapat menentukan penentuan terhadap sampel yang berupa
larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa
persyaratan pelarut yang dipakai antara lain:
1. Pelarut yang dipakai tidak mengandung ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur
molekulnya dan tidak berwarna
2. Tidak terjadi interksi dengan molekul senyawa yang dianalisa
3. Kemurniannya harus tinggi untuk dianalisa
Spektrofotometri UV-Visible melibatkan energi elektromagnetik cukup besar pada molekul yang
dianalisis, sehingga Spektrofotometri UV-Visible lebih banyak dipakai untuk analisa kuantitatif
dibanding analisa kualitatif. Analisa dengan Spektrofotometri UV-Visible selalu melibatkan
pembacaan radiasi elektromagnetik oleh molekul atau radiasi elektromagnetik yang diteruskan,
keduanya dikenal dengan absorbansi (A) tanpa satuan dan transmitansi dengan satuan persen
(%).
1.2.3 Hukum Lambert Beer
Analisis dengan spektrofotometri UV – Visible selalu melibatkan pembacaan absorbansi
radiasi elektromagnetik oleh molekul atau radiasi elektromagnetik yang diteruskan. Keduanya
dikenal sebagai absorbansi (A) tanpa satuan dan transmitansi dengan satuan persen (% T ),
(Mulja,Muhammad;1995).
Apabila suatu radiasi elektromagnetik dikenakan pada suatu larutan dengan intensitas radiasi
semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (I), dipantulkan (Ip) dan diabsorpsi
(Ia) sehingga :
I0 = Ip + Ia + I
Harga Ip (± 4 % ) dengan demikian dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode
spektrofotometri UV – Visible dipakai larutan pembanding sehingga :
I0 = Ia+ I
Bouguer, Lambert dan Beer membuat formula secara matematik hubungan antara transmitansi
atau absorbansi terhadap intensitas radiasi atau konsentrasi zat yang akan dianalisa dan tebal
larutan yang mengabsorpsi sebagai :

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 2


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

A=εbC
It
T = I0 = 10 –εbC
1
A = log T = ε b C

Dimana:
T = persen transmitansi
I0 = intensitas radiasi yang datang
It = intensitas radiasi yang diteruskan
ε = absorsivitas molar ( L mol-1cm-1)
C = konsentrasi
b = tebal larutan
A = absorbansi

1.2.4 Proses pengadsorpsian cahaya


Proses pengadsorpsian cahaya, baik UV maupun Visible, terutama terjadi karena
pengeksitasi elektron-elektron yang terikat, sehingga panjang gelombang dari puncak adsorpsi
akan sangat ditentukan oleh jenis ikatan yang ada dalam molekul yang diamati. Pengadsorpsian
pada daerah UV dan Visible, terutama sekali terbatas untuk gugus-gugus fungsi yang
mempunyai elektron-elektron valensi dengan energi eksitasi rendah.
Spektra serapan dapat diperoleh dengan mengunakan sampel dalam berbagai bentuk: gas,
lapisan tipis cairan, larutan dalam berbagai pelarut, dan bahkan zat padat. Kebanyakan kerja
analitis melibatkan larutan, dan mengembangkan pemberian kuantitatif dari hubungan antara
konsentrasi suatu larutan dan kemampuan menyerap radiasi. Tingkat kejadian absorbsi juga
bergantung pada jarak yang dilewati radiasi melewati larutan itu. Serapan juga bergantung pada
panjang gelombang radiasi dan sifat dasar spesies molekul dalam larutan.
1.2.5 Instrumentasi Spektrofotometri UV-Visible
Spektrofotometri adalah alat untuk mengukur transmitansi atau penyerapan suatu contoh
sebagai fungsi dari panjang gelombang. Selain itu juga digunakan untuk pengukuran sederetan
contoh pada suatu panjang gelombang tunggal. Secara blok diagram dapat digambarkan sebagai
berikut:

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 3


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

Sumber Monokromator Sampel Detektor


Radiasi

Pengganda

Display

Gambar 1.2 Bagan optis instrumentasi UV-Visible

a. Sumber
Sumber radiasi yang digunakan untuk analisa spektrofotometri harus memenuhi beberapa
persyaratan antara lain:
1. sumber radiasi harus menghasilkan berkas sinar dengan daya yang cukup untuk
deteksi dan pengukuran.
2. sumber radiasi harus memberikan radiasi kontinu, yaitu bahwa spektrumnya harus
mencakup semua panjang gelombang pada daerah yang digunakan.
3. sumber radiasi harus stabil, daya berkas radiasi harus tetap konstan pada periode yang
diperlukan untuk mengukur I dan Io.
Ada dua macam sumber radiasi :
1. Sumber radiasi sinar tampak
Sebagian besar sumber radiasi sinar tampak pada umumnya adalah lampu tungsten.
Lampu tungsten menghasilkan spektrum kontinu pada daerah antara 320 – 2500 nm.
2. Sumber radiasi ultra lembayung
Pada umumnya digunakan lampu deuterium yang menghasilkan intensitas radiasi
kontinu yang tinggi.Lampu deuterium kontinu pada daerah 180 – 375 nm.

b. Monokromator
Monokromator adalah peralatan optik yang dapat mengisolasi suatu berkas radiasi dari
sumber kontinu dengan kemurniaan spektral yang tinggi untuk panjang gelombang

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 4


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

manapun. Alat ini bisa diatur secara manual maupun secara otimatik sampai diperoleh
setiap panjang gelombang yang dikehendaki.
Unsur-unsur terpenting sebuah monokromatis adalah sistem celah dan unsur dispersif.
 Celah (slit)
Celah monokromator merupakan bagian yang penting dalam menentukan unjuk kerja
karakteristik dan kualitasnya. Setiap monokromator selalu dilengkapi sepasang celah,
yaitu celah masuk dan celah keluar. Keduanya berperan menentukan sifat monokromatis
sinar yang dihasilkan dan resolusi panjang gelombang. Celah ini terdiri dari dua buah
pelat logam yang telah diasah ujung-ujungnya dengan menggunakan mesin sehingga sisi-
sisinya tajam.
Harus diperhatikan bahwa kedua sisi celah benar-benar sejajar satu sama lain dan
berada pada bidang yang sama. Ada dua jenis monokromator, yang satu menggunakan
grating (kisi) sebagai pendispersi radiasi dan yang menggunakan prisma.
 Monokromator prisma
Komponen ini terbuat dari bahan kuarsa untuk daerah ultraviolet, tampak dan infra
merah dekat. Gelas menghasilkan pemilihan (resolution) yang baik pada daerah panjang
gelombang antara 350-2500 nm.
Prinsip bekerjanya suatu prisma, apabila seberkas sinar melewati antar medium yang
berbeda, seperti udara dan gelas, pembelokkan berlangsung yang disebut rekraksi.
Besarnya pembelokkan tergantung pada indeks bias gelas. Indeks bias ini berubah-ubah
dengan panjang gelombang cahaya, cahaya biru lebih dibelokkan dari pada yang merah.
Kemurniaan spektral dari radiasi yang keluar dari monokromator tergantung pada
daya dispersif prisma dan lebar celah keluar. Pada dugaan pertama, bahwa monokromatis
dapat dideteksi dengan hanya mempersempit celah. Ternyata tak demikian, karena celah
yang sedemikian sempit mengakibatkan difraktif pada tepinya. Hal ini hanya
menciptakan suatu kehilangan energi radiasi tanpa peningkatan kemurnian spektral.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 5


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

Gambar 1.3 Dispersi Cahaya pada Prisma

Monokromator grating (kisi) dispersi radiasi ultraviolet dan tampak dapat diperoleh
dengan menjatuhkan sinar polikromatis pada grating transmisi atau pada permukaan
grating refleksi yang lebih praktis banyak digunakan. Tahap pertama pada pembuatan
grating refleksi yaitu penyediaan master grating yang dari bahan ini dapat dibentuk
banyak replika grating. Master grating terdiri dari lekukan paralel dengan jarak rapat
disusun pada permukaan keras yang telah dilapisi dengan peralatan seperti intan.
c. Wadah sampel (kuvet)
Pada umumnya spektrofotometer melibatkan larutan, dengan demikian memerlukan suatu
wadah atau sel untuk menempatkan larutan di dalam sinar spektrofotometer. Sel atau
kuvet tersebut harus terbuat dari bahan yang dapat meneruskan sinar dari daerah
spektrum yang dipakai. Kaca silika biasa dapat digunakan antar 350 – 3,6 nm.pada
daerah 100 nm sampai daerah tampak dapat menggunakan sel dari bahan kaca corex.
Tetapi bahan demikian tidak boleh digunakan untuk daerah ultra violet, karna bersifat
menyerap sinar ultraviolet. Sehingga untuk pengukuran daerah ultra violet dibawah 350
nm,sel harus terbuat dari bahan kuarsa dan leburan silikat. Kedua bahan tersebut dapat
digunakan juga didaerah tampak sampai 3,5 nm, tetapi harganya cukup mahal. Bahan
yang murah seperti plastik dapat digunakan hanya untuk daerah tampak.
d. Detektor
Prinsip detektor pada spektrofotometer adalah energi foton sinar yang jatuh mengenai
dan mengubah energi tersebut menjadi suatu besaran yang dapat diukur. Salah satu jenis
detektor yang sering digunakan adalah detector foto listrik, yang mengubah energi sinar
menjadi energi listrik.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 6


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

Detektor yang digunakan mempunyai beberapa sifat : mempunyai kepekaan yang tinggi,
perbandingan sinyal dan noise tinggi, dan mempunyai respon tetap pada daerah panjang
gelombang pengamatan. Disamping itu sinyal listrik yang dihasilkan oleh pengubahan
harus berbanding lurus dengan energi radiasi. (Mulja,Muhammad;1995)
1.2.6 Metode yang digunakan dalam Analisa Kuantitatif
a. Metode satu standar
Pengukurannya berdasarkan hukum Beer, namun standar yang dipakai yang satu, jika
tidak bias didapatkan suatu grafik yang baik atau sesuai. Kelemahan sistem ini, jika
standar salah maka hasil analisa yang dilakukan semua akan salah.
Rumus pada larutan standar :
As = εbCs
Rumus pada larutan sampel :
Ax = εbCx

A
Jadi, Cx= Ax × cs
s

Keterangan :
Cx = Konsentrasi sampel
As = Absorbansi larutan standar
Ax = Absorbansi sampel
Cs = Konsentrasi larutan standar
b. Metode kurva kalibrasi
Metode kurva kalibrasi/standar yaitu dengan membuat kurva antara konsentrasi larutan
standar (sebagai absis) lawan absorbansi (sebagai ordinat) di mana kurva tersebut berupa
garis lurus. Kemudian dengan cara menginterpolasikan absorbansi larutan sampel ke
dalam kurva standar tersebut dan akan diperoleh konsentrasi larutan sampel.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 7


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

Absorbansi A= a + bC
sampel
A= Absorbansi
C = Konsentrsai
a = Intersep
Absorbansi
b = Slope
larutan standar

Konsentrasi
sampel

Konsentrasi larutan standar

Gambar 1.3 Kurva kalibrasi

1.2.6 Kegunaan UV-Visible Spektrofotometer


UV-Visible spektrofotometer dapat digunakan untuk menentukan kandungan zat organik
maupun anorganik dalam suatu larutan. Absorbsi energi radiasi pada daerah spektrum UV dan
Visible tergantung pada jumlah dan susunan elektron pada molekul-molekul atau ion-ion
penyerap terjadi bilamana ada energi level yang kosong tertutup oleh energi level yang penuh,
biasanya terbentuk dengan koordinat kovalen dengan atom lain. Absorbsi pada molekul-molekul
organik tergantung pada sebaran elektron-elektron pada molekul. Senyawa organik jenuh tidak
menunjukkan adanya absorbsi untuk daerah Visible dan UV. Senyawa dengan ikatan ganda
menyerap dengan kuat pada daerah UV. Ikatan rangkap terkonjugasi menyerap panjang
gelombang yang lebih panjang. System terkonjugasi sempurna dalam sebuah senyawa disebut
dengan chromophor dari senyawa itu.
1.2.7 Besi-Ortophenantroline
Reagensia Orto (1,10) Penantroline
Larutan besi (II) adalah senyawa anorganik, oleh karena itu maka ditambahkan dengan
larutan Orto-phenantroline untuk membentuk senyawa kompleks Fe-Ortophenatroline sebagai
reaksi berikut :

+ Fe2+ [Fe(C18H8N2)3]2+
N
N
..
..

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 8


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

Larutan ini berwarna jingga, dengan Orto-phenantroline sendiri bereaksi pada konsentrasi
1 : 500.000. Sementara itu Pewarna merah yang disebabkan oleh kation kompleks
[Fe(C18H8N2)3]2+ dalam larutan yang sedikit asam (pH 2,5-3,0).
Besi (III) tak mempunyai efek dan harus direduksi dulu menjadi keadaan bivalen dengan
hidroksiamina jika reagensia hendak dipakai untuk menguji besi.
Reaksi yang terjadi pada reduksi besi (III) menjadi besi (II) dengan hidroksilamina pada
suasanan asam adalah sebagai berikut :
4 Fe3+ + 2NH2OH 4Fe2+ + N2O + H2 + 4H+

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 9


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

BAB II

METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat yang digunakan
 Spektrofotometer UV-Visible DR/2400
 Botol semprot
 Bulp
 Gelas kimia 100 ml, 1 L
 Indikator universal
 Labu ukur 50 ml, 100 ml
 Pipet tetes
 Pipet volume 5 ml, 10ml, 25 ml
 Tabung reaksi dan rak tabung
2.1.2 Bahan yang digunakan
 Aquadest
 Larutan Induk Fe2+ 100 ppm
 Larutan Orto phenantroline
 HCL 37%
 Larutan Buffer asetat
 Hidroksilamin
 Sampel air
2.2 Prosedur Percobaan
 Pembuatan Larutan Fe2+ 10 ppm
 Memipet 10 ml larutan induk Fe2+100 ppm ke dalam labu ukur 100 mL.
 Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.

 Pembuatan Larutan Standar Fe2+ (0,1 ppm ; 0,3 ppm ; 0,5 ppm; 0,7 ppm; dan 0,9 ppm)
 Mengambil masing-masing 1 mL, 3 mL, 5 mL, 7 mL, dan 9 mL larutan Fe2+ 10
ppm ke dalam labu ukur 100 mL.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 10


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

 Menambahkan masing-masing 5 mL larutan Hidroksolamin.


 Kemudian menambahkan masing-masing 1 mL larutan HCl.
 Menambahkan masing-masing 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-
phenantroline.
 Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
 Memindahkan larutan ke dalam gelas kimia.
 Pembuatan Larutan Sampel
 Mempipet 25 mL air sampel dan memasukkan kedalam labu ukur 100 mL
 Menambahkan 5 mL larutan Hidroksolamin.
 Kemudian menambahkan 1 mL larutan HCl.
 Menambahkan 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-phenantroline.
 Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
 Memindahkan larutan ke dalam gelas kimia.

 Pembuatan larutan Blangko


 Mempipet 5 mL larutan Hidroksolamin kedalam labu ukur 100 mL.
 Kemudian menambahkan 1 mL larutan HCl.
 Menambahkan 5 mL larutan buffer asetat dan 5 mL O-phenantroline.
 Menambahkan aquadest hingga tanda batas, lalu mengocoknya sampai larutan
menjadi homogen.
 Memindahkan larutan ke dalam tabung reaksi.

 Menentukan Absorbansi ( λ = 510 nm )


 Menghubungkan spektrofotometer UV Visible DR/2400 dengan sumber listrik.
 Menghidupkan alat dengan menekan tombol power.
 Menekan single wavelenght.
 Menunggu hingga tampil λ dan absorbansi pada display.
 Memasukkan nilai λ (510 nm).

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 11


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

 Memasukkan kuvet yang berisi larutan blanko ke dalam alat uv vis dan
menutupnya sampai rapat agar tidak ada cahaya yang masuk dam mempengaruhi
analisis..
 Menekan tombol “zero” lalu menunggu sampai muncul angka 0,000 A
(Absorbansi) dan %T = 100% pada display.
 Mengeluarkan kuvet yang berisi larutan blanko lalu mengganti dengan larutan
stándar dengan konsentrasi 0,1 ppm (sebelum memasukan larutan standar,
sebaiknya kuvet dibilas dengan sedikit larutan standar yang akan dianalisa).
 Memasukkan kedalam alat uv –visible dan menutupnya, lalu menekan ”Read”.
 Menunggu nilai absorbansi dan %T muncul pada display.
 Mencatat hasil pembacaan.
 Melakukan prosedur yang sama pada point 6 – 11 untuk larutan standar
selanjutnya(0,3;0,5;0,7;0,9 ppm).

 Menentukkan Absorbansi Sampel Air pada λmaks


 Menginput nilai λmaks larutan yang telah diperoleh pada alat Uv-Vis.
 Memasukkan kuvet yang berisi larutan sampel pada alat Uv-Vis lalu menekan
read dan ditunggu hingga muncul nilai absorbansinya dan % T.
 Mencatat hasil pembacaan.
 Melakukan point 2-3 untuk sampel yang lain.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 12


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Tabel 3.1.1 Absorbansi Larutan Standar
No Konsentrasi Larutan Standar (ppm) Absorbansi

1. 0,1 0,063
2. 0,3 0,188
3. 0,5 0,271
4. 0,7 0,342
5. 0,9 0,426

Tabel 3.1.2 Absorbansi Larutan Sampel


NO Sampel Absorbansi

1. Air Sumur (Veron) 0,396


2. Air Sumur (Zairina) 0,525
3. Air Sumur (Shara Haqen) 0,822

3.2 Pembahasan

Pada percobaan kali ini yaitu mengenai UV-VIS yang bertujuan untuk memahami prinsip
analisa dengan menggunakan UV-VIS , mampu mengoperasikan alat UV-VIS, mampu
mempersiapkan sampel dengan cermat, serta dapat menganalisa sampel seperti kadar besi dalam
ikan kaleng. Prinsip dasar UV-VIS yaitu menggunakan interaksi antara cahaya dan materi.
Cahaya yang dilewatkan pada suatu larutan akan mengalami penyerapan, banyaknya penyerapan
tergantung pada jumlah partikel yang dapat diserap.
Hal pertama yang dilakukan yaitu membuat larutan stabdar dari larutan induk yang sudah
distandarisai dengan cara mengencerkan larutan induk sesuai dengan konsentrasi yang
diinginkan yaitu 0,1 ppm ; 0,3 ppm ; 0,5 ppm ; 0,7 ppm ; 0,9 ppm , larutan standar
berfungsiuntuk membuat kurva standar yaitu kurva yang menghubungkan antara absorbansi dan
konsentrasi. Pada saat membuat laruta standar ditambahkan 5 ml Hidroksilamin yang berfungsi
untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ , kemudian menambahkan 1 ml HCL 37% , selanjutnya
menambahkan Buffer Asetat 5 ml yang berfungsi untuk mempertahankan nilai pH, kemudian

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 13


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

menambahkan 5 ml Orthopenatrolin yang berfungsi untuk membuat senyawa kompleks, dan


menambahkan Aquadest sampai tanda batas.
Selanjutnya membuat larutan blanko yang berfungsi untuk membuat baseline. Larutan
blanko dibuat tanpa larutan induk dan larutan standar. Kemudian membuat larutan sampel dari
air tanah.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil nilai absorbansi yang dapat dilihat
pada table 3.1.1 dan tabel 3.1.2 , sehingga dapat dihasilkan persamaan kurva standar antara
absorbansi dan konsentrasi y = 0,38 + 0,44x , R=0,9940.
Konsentrasi sampel didapatkan dengan mengalikan konsentrasi larutan sampel dan factor
pengencer,sehingga konsentrasi yang dihasilkan yaitu :
1. Air Danau (Veron) = 0,1627
2. Air Sumur (Zairina) = 5,48
3. Air Sumur (Shara) = 8,91

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 14


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Persamaan kurva kalibrasi : y = 0,38 + 0,44x , R=0,9940
2. Konsentrasi Sampel yaitu : Air Danau (Veron) = 0,1627
Air Sumur (Zairina) = 5,84
Air Sumur (Shara) = 8,91

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 15


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J., R.C Denney. G.H. Jeffery. J. Mendham.1994.”Buku Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik” Edisi 4. Surabaya : EGC.
Day, R.A. & JR.AL.Underwood. 2002. “Analisis Kimia Kuantitatif” Edisi keenam. Jakarta :
Erlangga.
Mulja, Muhammad & Suharman. 1995. “Analisis Instrumental” Surabaya : Erlangga University
Press.
Tim Penyusun. 2008. “Penuntun Praktikum Analisa Instrumen”. Samarinda : Politeknik Negeri
Samarinda.

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 16


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

LAMPIRAN
1. Kurva Kalibrasi
0.5
0.45 y = 0.44x + 0.038
0.4 R² = 0.9881

0.35
0.3
0.25 Series1
0.2 Linear (Series1)
0.15
0.1
0.05
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

Persamaan Kurva Standar :


y= A+Bx
y=0,038 + 0,44
R= 0,998
2. Perhitungan
 Konsentrasi Larutan Sampel
a. Air Danau (Veron)
y = 0,038 + 0,44x
0,396 = 0,038 + 0,44x
0,385 = 0,44x
x = 0,8136 ppm
b. Air Sumur (zairina)
y = 0,038 + 0,44x
0,552 = 0,038 + 0,44x
0,514 = 0,44x
x = 1,168 ppm
c. Air Sumur (Shara)
y = 0,038 + 0,44x

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 17


PRAKTIKUM INSTRUMENT UV-VISBLE I

0,822 = 0,038 + 0,44x


x = 1,782 ppm
 Konsentrasi Sampel
a. Air Danau (Veron)
Konsentrasi Sampel = Konsentrasi larutan sampel x fp
= 0,8136 x 50/25
= 0,1627 ppm
b. Air Sumur (Zairina)
Konsentrasi Sampel = Konsentrasi larutan sampel x fp
= 1,168 x 50/10
= 5,84 ppm
c. Air Sumur (Shara)
Konsentrasi Sampel = Konsentrasi larutan sampel x fp
= 1,782 x 50/10
= 8,91 ppm

POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA Page 18