Anda di halaman 1dari 20

Referat Kelompok

TUBERKULOSIS KUTIS

Oleh :
Taufan Diantaroli
Dwipa Dhurandhara
Sherly Asriani
Nodia Adilah syukri
Ridha Faisal
Yeri Estu Risunang
Hafiza Azhar

Pembimbing :dr. Noorsaid Masadi, Sp.KK,FINSDV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD
PEKANBARU
2017
Tuberkulosis Kutis
Taufan Diantaroli1, Dwipa Dhurandhara1, Sherly Asriani1, Nodia Adilah syukri1,
Ridha Faisal1, Yeri Estu Risunang1, Hafiza Azhar1, Noorsaid Masadi2.

KJF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin


Fakultas Kedokteran Universitas Riau/RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru

ABSTRAK
Tuberkulosis kutis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Infeksi tuberkulosis kutis sebanyak 1-2% dari
seluruh kasus infeksi tuberculosis di dunia. Infeksi tuberkulosis pada kulit sangat
sulit didiagnosis karena memiliki gambaran klinis yang bervariasi, diagnosis
tuberkulosis kutis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan
pemeriksaan penunjang. Klasifikasi tuberkulosis kutis dibagi berdasarkan jumlah
basil tahan asam yang ditemukan dan cara penyebaran infeksinya. Tipe terbanyak
yaitu skrofuloderma. Prinsip penatalaksanaan dari tuberkulosis kutis sama dengan
prinsip penatalaksanaan tuberkulosis paru yaitu dengan menggunakan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) dengan Kombinasi Dosis Tepat (KDT).

Kata kunci : Tuberkulosis kulit, M. Tuberculosis, Skrofuloderma.

ABSTRACT
Cutaneous tuberculosis is an infection that caused by Mycobacterium
tuberculosis. Cutaneous tuberculosis infection estimated 1-2% of all tuberculosis
cases worldwide. Diagnosis could hardly to make because it may present varied
of clinical manifestation, however it can be diagnosed by taking history, clinical
manifestation and work-up. Classification of cutaneous tuberculosis based on
number of bacterial load and mechanism of infection. The most common type is
scrofuloderma. Treatment principles of cutaneous tuberculosis similar with
pulmonary tuberculosis which is Anti-Tuberculosis Drugs and Fixed Drug
Combination.

Key words: Cutaneous tuberculosis, Mycobacterium tuberculosis, Scrofuloderma.

1
PENDAHULUAN

Tuberkulosis kutis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh

mycobacterium tuberculosis dan mikrobakteria atipikal.1 Tuberkulosis adalah

penyakit yang sering terjadi terutama di negara berkembang. Infeksi tuberkulosis

tidak hanya mengenai paru tetapi bisa menyebar ke organ di luar paru seperti

kulit. Infeksi tuberkulosis pada kulit disebut tuberkulosis kutis.1 Faktor

predisposisi infeksi tuberkulosis adalah keadaan sosial ekonomi kurang, kondisi

gizi buruk, lingkungan tempat tinggal kumuh dan padat, serta kondisi imunitas

menurun akibat infeksi HIV.1

Infeksi tuberkulosis pada kulit sangat sulit didiagnosis karena memiliki

gambaran klinis yang bervariasi dan menyerupai penyakit kulit lain

(leishmaniasis, lepra, actinomycosis, dermatomikosis profunda, dll).2 Diagnosis

tuberkulosis kutis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan

didukung pemeriksaan penunjang. Keterlambatan mendiagnosis kasus ini dapat

menyebabkan komplikasi serius karena terlambatnya penanganan.

DEFINISI

Tuberkulosis kutis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh

mycobacterium tuberculosis dan mikrobakteria atipikal.1

EPIDEMIOLOGI

World Health Organization (WHO) memperkirakan 1,5 sampai 2 juta

orang meninggal setiap tahun akibat infeksi tuberkulosis. Infeksi tuberkulosis

dominan terjadi di paru-paru, sisanya 10% kasus di luar paru (ekstrapulmoner).

2
Tuberkulosis kutis hanya 1-2% dari seluruh kasus infeksi tuberkulosis.2

Tuberkulosis kutis yang paling sering ditemukan adalah skrofuloderma dan lupus

vulgaris. Di daerah tropis, skrofuloderma lebih dominan. Lupus vulgaris lebih

sering ditemukan pada wanita, sedangkan tuberkulosis verukosa sering ditemukan

pada laki-laki.3 Tuberkulosis kutis yang sering ditemukan pada anak-anak adalah

skrofuloderma. Pada daerah endemis tuberkulosis, 50% kasus tuberkulosis kutis

dapat terjadi pada usia kurang dari 19 tahun. Sebanyak 3-12% kasus tuberkulosis

kutis memiliki gambaran abnormal pada rontgen thorax.3,4

Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), skrofuloderma

merupakan bentuk yang tersering ditemukan yaitu 84%, disusul oleh tuberkulosis

verukosa yaitu 13%, sedangkan bentuk bentuk yang lain jarang ditemukan.1

ETIOLOGI

Penyebab utama tuberkulosis kutis adalah Mycobacterium tuberculosis

(91,5%). Penyebab lain sebanyak 8,5% adalah mikobakteria atipikal yang terdiri

atas M. bovis, M. marinum, M. kansasii, M. scrofulaceum, M. avium-

intracellulare, M. ulceran, M. fortuitum, M. abscessus.1,3-5 Penularan bisa

melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan kontak langsung melalui

membran mukosa maupun kulit yang tidak intak.5

KLASIFIKASI

Berdasarkan rute infeksinya, tuberkulosis kutis bisa diklasifikasikan

menjadi, penyebaran infeksi secara eksogen, endogen, limfogen, dan

hematogen.2,3 Berdasarkan banyaknya bakteri tahan asam yang ditemukan melalui

3
pemeriksaan mikroskop biopsi kulit dengan pewarnaan Ziehl-Nielson,

tuberkulosis kutis dapat dibedakan menjadi bentuk multibasiler dan pausibasiler.6

Pada tuberkulosis kutis multibasiler ditemukan banyak basil tahan asam yang

termasuk tipe multibasiler adalah tuberkulosis inokulasi primer, skrofuloderma,

tuberkulosis orifisialis, tuberkulosis miliaris akut, dan tuberkulosis gumosa. Pada

tuberkulosis kutis pausibasiler sangat jarang ditemukan basil tahan asam,

mikroorganisme sangat sulit diisolasi yang termasuk tipe pausibasiler adalah

tuberkulosis verukosa, lupus vulgaris, dan tuberkulid.2,6

Tabel 1. Klasifikasi Tuberkulosis kulit berdasarkan rutenya7

Beberapa klasifikasi tuberkulosis kulit menurut Pillsburry yaitu

tuberkulosis sejati dan tuberkulid. Pada tubekulosis sejati dapat ditemukan basil

tuberkulosis, sedangkan pada tuberkuloid tidak. Tuberkulosis sejati terdiri dari

primer yang terjadi karena infeksi eksogen pada penderita yang belum pernah

terpapar dengan mycrobacterium tuberculosis dan sekunder yang merupakan

reinfeksi baik lokal, maupun general pada individu yang pernah terinfeksi dengan

kuman tuberkulosis. Sedangkan tuberkulid merupakan reaksi hipersensitif dari

ndividu yang sebelumnya telah sensitive dengan kuman tuberkulosis.1

4
Tabel 2. Klasifikasi Tuberkulosis Kutis berdasarkan Pillsburry1

TUBERKULOSIS SEJATI TUBERKULID

Primer Papul

1. Tuberkulosis Chanchre 1. Lupus miliaris diseminatus


2. Tuberkulosis Miliar fasicel
2. Tuberkulid papulonekrotik
3. Likhen Skrofulosorum

Sekunder Granuloma dan Ulseronodulus

1. Tuberkulosis kutis miliaris 1. Eritema nodosum


2. Skrofuloderma 2. Eritema induratum
3. Tuberkulosis kutis verukosa
4. Tuberkulosis kutis gumosa
5. Tuberkulosis kutis orifisialis
6. Lupus vulgaris

PATOGENESIS1

Cara infeksi ada 6 macam :

1. Penjalaran langsung ke kulit dari organ yang telah ternfeksi tuberkulosis

misalnya skrofuloderma.

2. Inokulasi langsung pada kulit sekitar orifisium alat dalam yang dikenai

penyakit tuberkulosis, misalnya tuberculosis kutis orifisialis.

3. Penjalaran secara hematogen misalnya tuberkulosis kutis miliaris

4. Penjalaran secara limfogen misalnya Lupus Vulgaris

5. Penjalaran langsung dari selaput lender yang sudah di serang penyakit

tuberkulosis misalnya lupus vulgaris.

6. Kuman langsung masuk ke kulit jika ada kerusakan kulit dan resistensi

lokalnya telah menurun, contohnya tuberkulosis verukosa.

5
Tuberkulosis kutis primer

Afek primer tuberkulosis ini dapat berupa papul, pustul atau ulkus indolen,

berdinding dan di sekitarnya livid. Masa tunas 2-3 minggu, limfangitis dan

limfadenitis dapat timbul beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah afek

primer. Pada saat tersebut, apabila dilakukan tes tuberculin makan hasilnya adalah

positif. Keseluruhannya merupakan kompleks primer. Saat ulkus tersebut, dapat

terjadi suatu indurasi yang disebut tuberculous chancre.1 Predileksi dari

tuberkulosis ini yaitu wajah, termasuk konjungtiva, rongga mulut, tangan dan

ekstremitas bawah.2 Makin muda usia pasien, maka gejala yang ditimbulkan

makin berat.1

Gambar 1. Tuberkulosis Kutis Primer3

Tuberkulosis kutis miliaris

Tuberkulosis ini terjadi karena penjalaran ke kulit dari fokus infeksi di

badan. Reaksi terhadap tes tuberkulin biasanya adalah negatif. Ruam pada

tuberkulosis ini yaitu eritema sirkumskrip, papul, vesikel, pustule, skuama atau

purpura generalisata. Biasanya prognosis dari tuberkulosis ini adalah buruk.1

6
Pada pemeriksaan histopatologis ditemukan nekrosis jaringan dengan infiltrat

nonspesifik dan basis tuberkel banyak ditemukan.1

Skrofuloderma

Skrofuloderma paling sering terjadi pada kelenjar parotis, submandibular,

dan supraclavicular dan mungkin bilateral.3 Skrofuloderma terjadi akibat

penjalaran perkontinuitatum dari organ di bawah kulit yang telah diserang

Mycobacterium, paling sering berasal dari kelenjar getah bening, namun dapat

juga berasal dari sendi, tendon, cairan sinovial dan tulang.8 Gambaran klinis

skrofuloderma bervariasi tergantung lamanya penyakit. Jika sudah menahun akan

didapatkan kelainan yaitu pembesaran KGB yang banyak, dengan konsistensi

kenyal dan lunak tanpa tanda-tanda radang akut lain, selain tumor, periadenitis,

abses dan fistel multiple, ulkus dengan sifat yang khas, sikatriks yang memanjang

dan tidak teratur serta adanya jembatan kulit.1 Pada pemeriksaan histopatologis,

bagian tengah lesi tampak masif nekrosis dan pembentukan abses/ tepi abses/

dermis terdiri dari granuloma tuberkuloid.9

Gambar 2. Skrofuloderma3

7
Tuberkulosis kutis verukosa

Tuberkulosis kutis verukosa adalah gangguan paucibacillary yang

disebabkan oleh reinfeksi eksogen (inokulasi) sebelumnya sudah peka terhadap

individu dengan imunitas tinggi.3 Tempat predileksi pada tuberkulosis ini yaitu

pada ekstremitas bawah, terutama pada tempat yang lebih sering mendapat trauma

yaitu lutut. Gambaran klinisnya sangat khas yaitu berbentuk ruam berbentuk

bulan sabit akibat penjalaran secara serpiginosa (penyakit menjalar ke satu jurusan

diikuti penyembuhan di jurusan lainnya).1 Ruam terdiri dari papul-papul lentikular

yang eritem. Pada bagian yang cekung terdapat sikatriks.1,3 Pada pemeriksaan

histopatologi dapat di temukan gambaran hiperplasia pseudoepitheliomatous

dengan hiperkeratosis, infiltrasi inflamasi padat, dan abses di dermis superficial.

Sel epithelioid dan giant cells ditemukan di dermis atas dan tengah.3

Gambar 3. Tuberkulosis kutis verukosa3

Tuberkulosis kutis gumosa

Tuberkulosis kutis ini terjadi akibat penjalaran secara hematogen, biasanya

dari paru. Kelainan kulit berupa guma yakni infiltrat subkutan, sirkumskrip dan

kronis, kemudian melunak dan bersifat destruktif. Untuk membedakan dengan

diagnosis banding lain yaitu sifilis dan frambusia, perlu dilakukan pemeriksaan
8
histopatologik.1 Pada hasil histologik akan ditemukan granuloma tuberkuloid

superfisial berkembang di sekitar folikel rambut atau terlepas dari adneksa.

Mycobacteria tidak terlihat di bagian dan tidak dapat dikultur dari bahan biopsi.3

Tuberkulosis kutis orifisialis

Tempat predileksi pada tuberculosis ini yaitu sekitar orifisium dan yang

paling sering terkena yaitu lidah.1,3 Orifisial TBC adalah bentuk langka

tuberkulosis lendir membran dan lubang yang disebabkan oleh autoinokulasi

Mycobacteria dari tuberkulosis progresif organ dalam. Gambaran klinis nya

berupa nodul kecil kekuningan atau kemerahan di mukosa dan apabila pecah akan

membentuk ulkus lunak dengan punched-out yang khas.3 Pada TBC paru dapat

terjadi ulkus di mulut, bibir atau disekitarnya akibat berkontak langsung dengan

sputum. Pada TBC saluran cerna, ulkus dapat ditemukan di sekitar anus akibat

berkontak langsung dengan feses yang mengandung kuman TBC. Pada TBC

saluran kemih, ulkus dapat dijumpai di sekitar orifisium ureter eksternum akibat

berkontak dengan urin yang mengandung kuman TBC.1

Gambar 4. Tuberkulosis kutis orifisialis3

9
Lupus vulgaris

Tempat predileksi yang mungkin yaitu wajah, badan, ekstremitas dan

bokong. Cara infeksi dapat secara endogen maupun eksogen.1 Lesi awal adalah

merah kecoklatan, dengan makula atau papula yang permukaannya halus atau

hiperkeratotik.3Gambaran lainnya yaitu kelompok nodul eritem yang berubah

menjadi kuning pada penekanan (apple jelly colour). Bila nodul tersebut

berkonfluensi terbentuk plak, bersifat destruktif, sering terjadi ulkus. Pada waktu

terjadi involusi terbentuk sikatriks. Bila mengenai bagian wajah, tulang rawan

hidung maka dapat terjadi kerusakan.3Pada pemeriksaan histopatologik dapat

pembentukan tuberkel yang khas. Perubahan sekunder mungkin yaitu penipisan

epidermis dan akantosis, hyperkeratosis atau hiperplasia pseudoepitheliomatosa.3,9

Gambar 5. Tuberkulosis Lupus Vulgaris3

Lupus miliaris diseminatus fasiel

Tempat predileksi yaitu wajah dan timbul secara bergelombang. Ruam

berupa papul-papul eritem yang kemudian meninggalkan sikatriks. Pada diaskopi

akan terdapat gambaran apple jelly colour seperti pada LV.3

10
Gambar 6. Lupus miliaris disseminates fasiel2

Tuberkulid papulonekrotika

Selain berbentuk papulonekrotika, juga dapat berbentuk papulopustul.

Tempat predileksinya yaitu pada wajah, anggota badan bagian ekstensor dan

batang tubuh. Mula-mula terdapat papul eritem yang timbul secara bergelombang,

membesar perlahan-lahan dan kemudian menjadi pustul,. Apabila pecah akan

menjadi krusta dan membentuk jaringan nekrotik dalam waktu 8 minggu, lalu

sembuh dan meninggalkan sikatrik. Kemudian timbul lesi-lesi baru.1

Gambar 7. Tuberkulid papulonekrotik3

11
Liken skrofulosorum

Terutama terdapat pada anak-anak. Kelainan kulit terdiri dari papul miliar,

warna dapat serupa dengan kulit atau kemerahan. Mula-mula tersusun tersendiri

kemudian berkelompok tersusun sirsinar, kadang terdapat skuama halus

disekitarnya. Tempat predileksinya yaitu dada, perut, punggung dan daerah

sacrum.1

Gambar 8. Liken Skrofulosorum2

Eritema nodosum

Kelainan kulit berupa nodul-nodul indolen terutama pada ekstremitas

bagian ekstensor. Banyak penyakit yang dapat member gambaran klinis seperti ini

seperti kusta sebagai eritema nodosum leprosum, reaksi id karena Streptococcus B

hemolyticus, alergi obat secara sistemik dan demam reumatik.1

12
Gambar 9. Eritema Nodosum3

Eritema induratum

Kelainan kulit juga berupa eritema dan nodul-nodul indolen seperti EN,

tetapi tempat predileksinya pada ekstremitas daerah fleksor. Perbedaan lain yaitu

terjadi supurasi sehingga membentuk ulkus-ulkus. Kadang tidak terjadi supurasi,

namun regresi sehingga terjadi hipotrofi berupa lekukan-lekukan.1

Gambar 10. Eritema induratum3

13
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu:1,9

 Pemeriksaan LED. Pada tuberkulosis kutis LED meningkat, tetapi

peninggian LED ini lebih penting untuk pengamatan hasil pengobatan

daripada untuk membantu diagnosis.

 Tes tuberkulin. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pemberian 5 unit

Puriviet Protein Derivat (PPD) intradermal pada lengan atas. Hasil

dikatakan positif jika ditemukan diameter indurasi >10 mm.

 Pemeriksaan bakteriologik. Hal ini penting untuk menentukan etiologinya,

namun kurang efektif untuk membantu diagnosis karena membutuhkan

waktu yang lama (8 minggu).

 Pemeriksaan histopatologis. Pemeriksaan ini lebih bermakna karena

hasilnya cepat yaitu dalam 1 minggu.

TERAPI

Tuberkulosis terbagi menjadi 2 yaitu tuberkulosis pulmonal dan

tuberkulosis ekstrapulmonal. Tuberkulosis kutis merupakan salah satu

tuberkulosis ekstrapulmonal. Prinsip terapi tuberkulosis terdiri dari 2 tahapan

yaitu tahapan awal (Intensif) selama 2 bulan dan lanjutan selama 4 bulan. Intensif

bertujuan membunuh kuman yang aktif membelah, dengan obat bakterisidal yaitu

rifampisin dan Isoniazid sedangkan lanjutan melalui kegiatan sterilisasi

membunuh kuman yang tumbuh lambat.1

14
Tabel 3. Obat anti tuberkulosis

Nama obat Dosis Cara pemberian Efek samping

Isoniazid (H) 5-10 mg/kgbb Per os dosis Neuritis perifer,


tunggal Gg hepar

Rifampisin (R) 10 mg/kgbb Per os, dosis Gangguan Hepar


tunggal waktu
lambung kosong

Pirazinamid (P) 20-35 mg/kgbb Per dosis terbagi Gangguan Hepar

Etambutol (E) Bulan I/II 25 Per dosis tunggal Gangguan Nervus


mg/kgbb,bulan II
berikutnya15
mg/kgbb

Streptomisin (S) 25 mg/kg BB i.m Gangguan Nervus


VIII, terutama
cabang
vestibularis

Paduan pengobatan dan peruntukannya.10

Pemberian Obat anti Tuberkulosis(OAT) terdiri dari 2 kategori yaitu

kategori-1 dan kategori-2. OAT tersebut disediakan dalam bentuk paket obat

kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis

obat dalam 1 tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini

dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.10

Adapun keuntungan dalam pengobatan TB dengan menggunakan OAT-

KDT , yaitu:

1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin

efektifitas obat dan mengurangi efek samping.

2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya

resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep

15
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat

menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

a. Kategori-1 : 2(HRZE) / 4(HR)3

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:

 Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis

 Pasien TB paru terdiagnosis klinis


 Pasien TB ekstra paru

Tabel 3. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1: 2(HRZE)/4(HR)3

Berat Badan Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan 3 kali


selama 56 hari RHZE seminggu selama 16 minggu
(150/75/400/275) RH (150/150)

30-37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT

38-54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT

55-70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT

>70 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT

b. Kategori -2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati

sebelumnya (pengobatan ulang):10

• Pasien kambuh

• Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya

• Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)

16
Tabel 4. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2: 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3

Berat Tahap Intensif tiap hari RHZE Tahap Lanjutan 3 kali


Badan (150/75/400/275) + S seminggu RH
(150/150) + E (400)

Selama 56 hari Selama 28 Selama 20 minggu


hari

30-37 kg 2 tab 4 KDT + 500 mg 2 tab 4 KDT 2 tab 2 KDT + 2 tab


Streptomisin Inj Etambutol

38-54 kg 3 tab 4 KDT + 750 mg 3 tab 4 KDT 3 tab 2 KDT + 3 tab


Streptomisin Inj Etambutol

54-70 kg 4 tab 4 KDT + 1000 4 tab 5 KDT 4 tab 2 KDT + 4 tab


mg Streptomisin Inj Etambutol

>71 kg 5 tab 4 KDT + 1000 5 tab 6 KDT 5 tab 2 KDT + 5 tab


mg Streptomisin Inj Etambutol

Apabila pengobatan diberikan secara tepat, maka pada saat pengecekkan

BTA kembali pada 2 bulan setelah pengobatan atau setelah tahap awal selesai,

makan akan didapatkan hasil BTA negatif.10

Pemantauan kemajuan pengobatan TB10

Pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan pada orang dewasa

dilaksanakandengan pemeriksaan ulang BTA.Hasil dari pemeriksaan mikroskopis

semua pasien sebelum memulai pengobatanharus dicatat. Pemeriksaan ulang BTA

merupakan suatu caraterpenting untuk menilai hasil kemajuan pengobatan.10

Setelah pengobatan tahap awal,tanpa memperhatikan hasil pemeriksaan

ulang BTA apakah masih tetap BTA positif atau sudah menjadi BTA negatif,

pasien harus memulai pengobatan tahap lanjutan(tanpa pemberian OAT sisipan

apabila tidak mengalami konversi). Pada semua pasienTB BTA positif,

pemeriksaan ulang BTA selanjutnya dilakukan pada bulan ke 5.Apabila hasilnya

17
negatif, pengobatan dilanjutkan hingga seluruh dosis pengobatanselesai dan

dilakukan pemeriksaan ulang BTA kembali pada akhir pengobatan.

Ringkasan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan ulang BTA untuk

memantau kemajuan hasil pengobatan:

1) Apabila hasil pemeriksaan pada akhir tahap awal negatif :

 Pada pasien baru maupun pengobatan ulang, segera diberikan

dosispengobatan tahap lanjutan

 Selanjutnya lakukan pemeriksaan ulang BTA sesuai jadwal (pada bulan ke

5dan Akhir Pengobatan)

2) Apabila hasil pemeriksaan pada akhir tahap awal positif :

Pada pasien baru (mendapat pengobatan dengan paduan OAT kategori 1) :

Lakukan penilaian apakah pengobatan tidak teratur. Apabila tidak

teratur,diskusikan dengan pasien tentang pentingnya berobat teratur.10

PROGNOSIS

Pada umumnya selama pengobatan diikuti sesuai syarat maka

prognosisnya baik.1

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda Adhi. Tuberkulosis kutis. Dalam: Menaldi SL, bramono K,


Indriatmi W, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketujuh. Jakarta:
Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2016; h.78-86.

2. Francisco GB, Eduardo G. Cutaneus tuberculosis. Clinics in


Dermatology.2007;25:173–180.

3. Sethi A. Tuberculosis and infections with atypical mycobacteria. In:Wolff


K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest B, Paller AS, Leffel DJ : Fitzpatrick’s
Dermatology General Medicine. 8th edition. New York: Mc Graw Hill;
2012. p 2225–38. 


4. William D, Timothy G, Dirk. Andrew’s diseases of the skin. 11th ed. USA:
Elsevier; 2011. p319-325.

5. Almaguer J, Ocampo J, Rendon A. Current panorama in the diagnosis of


cutaneus tuberculosis. Actas Dermosi liorg.2009;100:562–70.

6. Yasarate B, Madegedara D. Tuberculosis of the skin. J. Ceylon Coll. of


Physician.2010;41:83–8.

7. Andriani PI. Pendekatan klinis infeksi tuberkulosis pada kulit. CDK Jurnal.
2014;41(8):584-88.

8. Hehanussa A, Lawalata T, Kartini A, Kandou RT. Diagnosis skrofuloderma


dan tuberkulosis kutis verukosa pada seorang pasien. Berkala ilmu
kesehatan kulit dan kelamin. 2010;22(3):221-26.

9. Perhimpunan dokter spesialis kulit dan kelamin Indonesia. Panduan layanan


klinis dokter spesialis dermatologi dan venerelogi. Tuberkulosis kutis.
2014:88-92.

10. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Kementerian Kesehatan RI


Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
2014.

19