Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN


MIOMA UTERI

Oleh:
Debora Florencia Kambey
17014101220
Masa KKM 14 Agustus 2017 – Oktober 2017

Supervisor Pembimbing
Dr. Rudy Lengkong, SpOG(K)

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul :


“DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN MIOMA UTERI”

Oleh :
Debora Florencia Kambey
17014101220

Telah dikoreksi, dibacakan dan disetujui pada tanggal September 2017 untuk
memenuhi syarat tugas Kepaniteraan Klinik Madya di bagian Obstetri dan
Ginekologi FK UNSRAT Manado

Koordinator Pendidikan
Bagian Obstetri dan Ginekologi Supervisor Pembimbing
FK UNSRAT Manado

dr. Suzanna Mongan, SpOG(K) dr. Rudy Lengkong, SpOG(K)


BAB 1

PENDAHULUAN

Kesehatan reproduksi wanita merupakan salah satu aspek penting dalam


mencapai derajat kesehatan yang optimal.Masalah yang terjadi pada kesehatan
reproduksi wanita dapat memberikan pengaruh yang besar dalam kelanjutan
generasi penerus suatu negara.1 Salah satu masalah yang sering dijumpai adalah
mioma uteri. Mioma uteri yang dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid
ataupun leiomyoma adalah tumor jinak ginekologi yang struktur utamanya berasal
dari otot polos uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya.2

Mioma uteri merupakan tumor ginekologi terbanyak kedua yang sering


muncul pada wanita usia reproduktif. Mioma uteri belum pernah ditemukan
sebelum terjadinya menarche dan hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh
setelah menopause.Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20-30% dari seluruh
wanita. Prevalensi mioma uteri mengalami peningkatan hingga 14,1% pada
kelompok umur 40 tahun ke atas.3Di Indonesia, insiden mioma uteri ditemukan
2,39-11,70% pada semua penderita ginekologi yang dirawat.3

Penyebab sebenarnya dari mioma uteri masih belum jelas4.Tidak ada bukti
bahwa hormon strogen berperan sebagai penyebab mioma,namun diketahui
estrogen berpengaruh dalampertumbuhan mioma.Mioma terdiri darireseptor
estrogen dengan konsentrasi yang lebihtinggi dibanding dari miometrium
sekitarnyanamun konsentrasinya lebih rendah dibanding endometrium5.

Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada


pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu.6Tanda dan gejala
dari mioma uteri hanya terjadi pada 35 - 50% pasien dan sangat tergantung pada
tempat sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus, subserus),
besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi, serta jumlah
mioma.Gejala yang sering ditemui antara lain adalah perdarahan abnormal, nyeri
panggul, gejala penekanan, dan disfungsi reproduksi.5 Pendekatan diagnosis
diawali dengan menanyakan keluhan berupa gejala-gejala yang mengarah ke
mioma uteri seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yang kemudian
dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik berupa adanya massa kenyal berbatas
tegas pada daerah suprapubis, dan dikonfirmasi lagi dengan menggunakan
pemeriksaan ultrasonografi yang menunjukkan adanya massa pada uterus.4-6

Penatalaksanaan mioma uteri bisa berupa pengobatan farmakologik berupa


hormon, ataupun tindakan operatif dengan melakukan miomektomi ataupun
histerektomi.Histerektomi merupakan terapi kuratif terbaik.2Pada miomektomi,
perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya kekambuhan. Hasil penelitian
menunjukkan kekambuhan sebesar 2-3% per tahun setelah dilakukan
miomektomi.4

Berikut ini akan dilaporkan kasus mioma uteri pada seorang wanita usia
45 tahun yang dirawat di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D.
Kandou Manado.
BAB II
LAPORAN KASUS
1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.N.E
Umur : 41 tahun
Pekerjaan : Pegawai Negeri
Pendidikan : S-1
Alamat : Melonguane
Agama : Kristen Protestan
Suku/Bangsa : Talaud/ Indonesia
MRS : 23 Agustus 2017

2. ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Perut membesar 3 bulan SMRS serta perdarahan dari jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan rencana operasi histerektomi elektif. Pasien memiliki
keluhan perut membesar sejak 3 bulan yang lalu dan riwayat pendarahan pada
jalan lahir. Riwayat keluhan perdarahan dari jalan lahir dialami sejak 4 hari
sebelum masuk rumah sakit. Perdarahan terjadi diluar siklus menstruasi. Darah
yang keluar bergumpal-gumpal. Sebelum mengalami perdarahan terus-menerus
saat ini, pasien tidak pernah mengalami masalah pada siklus menstruasinya.
Pasien tidak mengeluh adanya mual dan muntah, namun nafsu makan menurun
serta perut terasa membesar. Keputihan (-), buang air kecil dan buang air besar
tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu : (-)

Riwayat Obstetrik :(-)


Riwayat Ginekologi :
Menarche saat 13 tahun.Siklus haid teratur setiap 28 hari dengan lama haid 3-4
hari. Banyaknya haid 3-4 kali ganti pembalut. Nyeri haid (+)

Riwayat KB : (-)

Riwayat Perkawinan :
Pasien menikah 1 kali.Sudah menikah dengan suami selama 20 tahun

Riwayat Penyakit Keluarga :


Keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini

Riwayat Sosio Ekonomi :


Pasien bekerja sebagai ibu pegawai swasta .Suami bekerja sebagai pegawai
swasta. Biaya kesehatan ditanggung oleh BPJS.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Praesens
Keadaan Umum : Cukup
Kesadaran : Kompos Mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu : 36,4ᵒc
Berat badan : 54 kg
Tinggi Badan : 143 cm
IMT : 25,4kg/m2

Kepala
Mata : Conjungtiva Anemis (+/+), Sklera Ikterik (-/-)
Hidung : Sekret (-/-), Hiperemis (-/-)
Telinga : Sekret (-/-)
Mulut : Karies (-)
Tenggorokan : Tonsil T1-T1
Leher : Pembesaran KGB (-)

Thoraks
Cor : Bunyi Jantung Reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Pulmo : Sp. Vesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen
Inspeksi : Cembung
Palpasi : Lemas, Teraba massa 3 jari dibawah processus xyphoid,
immobile, nyeri tekan (-)
Perkusi : WD (-)
Auskultasi : BU (+) N

PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Inspeksi :fluksus (+), fluor (-), vulva tak
Inspekulo : fluksus (+), vagina tak ,
portio teraba massa, erosi (–), livide (-), OUE terbuka
PD : flukus (+), vulva/vagina tak,
Portio teraba licin, OUE tertutup, nyeri goyang portio (-)
CUT : ukuran 18-20 minggu.
Adneksa/parametrium bilateral : lemas, massa (-), nyeri (-)
CD : tak menonjol

PEMERIKSAAN PENUNJANG

USG :12 Juli 2017


Hasil USG :
VU terisi kurang
Tampak gambaran hiperechoic pada cavum uteri
Ukuran +/- 28 x 15 cm
EL Sukar dievaluasi, tampak gambaran massa dengan batas irreguler di
cavum uteri
Adneksa bilateral tidak ditemukan kelainan
FF (-)
Kesan : Mioma Uteri

EKG : 20 Juli2017
Dalam Batas Normal

Radiologi: 21 Juli 2017


Foto thorax : Dalam batas normal
Laboratorium 17 Juli 2016
HEMATOLOGI
Leukosit : 18300 /uL
Eritrosit : 3.59 10^6/uL
Hemoglobin : 9.0 g/dL
Hematokrit : 30.7 %
Trombosit : 362 10^3/uL
MCH : 28.1 pg
MCHC : 32.9 g/dL
MCV : 85.4 fL

DIAGNOSIS
P0A0 40 tahun dengan Mioma Uteri

RENCANA TERAPI
R/ Histerektomi Totalis MRS

RESUME MASUK
P0A0 40 tahun masuk rumah sakit pada tanggal 22 Juli2017, jam 12.00 dengan
keluhan perut terasa membesar sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Mual (-
), muntah (-),buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) normal. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda vital dalam batas normal, konjungtiva
anemis (+/+), pembesaran kelenjar getah bening (-), c/p dalam batas normal,
abdomen cembung dan teraba massa 3 jari dibawah processus xyphoid, immobile,
nyeri tekan (-). Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan leukosit meningkat dan
hemoglobin menurun. Pada pemeriksaan USG ditemukan massa dengan batas
irreguler di cavum uteri ukuran +/- 28 x 15 cm, kesan mioma uteri. Pemeriksaan
EKG dalam batas normal dan foto Thoraks dalam batas normal
Follow Up
22 Juli 2017 di Irina D Atas
S: Perut membesar
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/80 mmHg
N: 75 x/m
R: 21 x/m
S: 36,8ᵒc
Abdomen : Teraba massa 3 jari dibawah processus xyphoid
A: P0A040 tahun dengan Mioma Uteri susp. Malignancy
P : R/ HTSO tanggal 25 Juli 2017
Konseling informed consent
Crossmatch
Konfirmasi pendampingan bedah digestif

23 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Perut membesar
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 120/70 mmHg
N: 80 x/m
R: 20 x/m
S: 36,4ᵒc
A: P0A040 tahun dengan Mioma Uteri
P : R/ Pre Operatif
R/ HTSO tanggal 25 juli 2017

24 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Perut membesar
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/70 mmHg
N: 90 x/m
R: 20 x/m
S: 36,9ᵒc
A: P0A040 tahun dengan Mioma Uteri
P :R/ HTSO tanggal 25 juli 2017

25 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Perut membesar
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 120/80 mmHg
N: 92 x/m
R: 22 x/m
S: 36,5ᵒc
A: P0A040 tahun dengan Mioma Uteri
P :HTSO hari ini

LAPORAN OPERASI
Tanggal Operasi : 25 Juli 2017
Jam Operasi dimulai : 09.10WITA
Jam Operasi selesai : 13.10 WITA
Lama Operasi : 4 jam
Operator : dr. Bismarck J. Laihad, SpOG(K)
Asisten : dr. Dislih
Diagnosa pre op : P0A040 tahun dengan mioma uteri
Diagnosa post op : P0A040 tahun dengan Mioma Uteri intramural telah
dilakukan Histerektomi Totalis
Tindakan Pembedahan : Histerektomi Totalis

Uraian Pembedahan :
Pasien dibaringkan terlentang diatas meja operasi. Dilakukan tindakan desinfeksi
dengan povidone iodine pada daerah abdomen dan sekitarnya, kemudian ditutup
dengan doek steril kecuali lapang pandang operasi. Dalam general anestesi di
lakukan insisi pfannenstiel. Insisi diperdalam lapis demi lapis sampai fascia,fascia
di insisi lalu dijepit dengan 2 kocher, diperlebar kekiri dan kekanan. Otot
disisihkan secara tumpul kelateral, tampak peritoneum. Peritoneum dijepit
dengan 2 pinset, diangkat, setelah yakin tidak ada jaringan usus yang terjepit
dibawahnya, digunting kecil dan diperlebar kekiri dan kekanan. Setelah
peritoneum dibuka tampak uterus ukuran ± 28 x 27 cm. Eksplorasi tampak mioma
uteri pada corpus anterior sebesar 16 x 14 cm, kedua tuba dan ovarium bentuk dan
ukuran normal. Diputuskan dilakukan histerektomi totalis. Ligamentum rotundum
sinistra dijepit dengan 2 klem, digunting dan dijahit, demikian juga pada sisi
sebelahnya. Identifikasi plika vesika urinaria, dijepit dengan pinset, digunting
kecil dan diperluas kekiri dan kekanan sampai pada pangkal ligamentum
rotundum. Vesika urinaria disisihkan kebawah dan dilindungi dengan hag
abdomen. Ligamnetum infundibulum dekstra, ligamentum ovarium propium
dekstra, tuba pars isthmus dijepit dengam 3 klem, digunting dan dijahit double
ligase, kontrol pendarahan (-). Demikian juga dilakukan pada sisi sebelahnya
ligamentum latum sinistra di tembus secara tumpul untuk membuat jendela.
Ligamentum kardinale sinistra dijepit dengan 3 klem, digunting dan dijahit,
demikian juga dengan sisi sebelahnya. Ligamentum sakroterinal dijepit 2 klem,
digunting dan dijahit, demikian juga dengan sisi sebelahnya. Identifikasi puncak
vagina. Puncak vagina dijepit dengan klem bengkok dan digunting. Puncak vagina
dijepit dengan 4 klem kocher panjang, kemudian dimasukkan kasa betadine
kedalamnya. Puncak vagina dijahit secara jelujur dengan safil I. Kontrol
pendarahan (-). Dilakukan retroperitonealisasi. Dinding abdomen ditutup lapis
demi lapis. Peritoneum dijahit jelujur dengan cromic catgut 2/0. Otot dijahit
simpul dengan cronic cetgut 2/0. Fasia dijahit jelujur dengan simpul 1. Lemak
dijahit simoul dengan plan cetgut. Kulit dijahit subkutikuler luka oprasi ditutup
dengan doek steril. Operasi selesai.
KU Post Op:
T: 107/50 mmHg, N: 70x/m, R: 20x/m, S: 36,5C
Perdarahan : 2000cc

Diuresis : 1000 cc

Diagnosa PostOp : P0A040 tahun dengan Mioma Uteri telah dilakukan


Histerektomi Totalis + Anemia
Sikap : - IVFD RL :D5% 2 : 2  28gtt/m
- Drips Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- As. Tranexamat 3 x 500 mg
- Cek Lab 6 jam post OP
- Obsevasi KU dan TTV
- Transfusi darah sampai Hb > 10
Hasil Laboratorium Post Op (25/07/2017)
HEMATOLOGI
Leukosit : 18100/uL
Eritrosit : 2.73 10^6/uL
Hemoglobin : 8.1 g/dL
Hematokrit : 22.8 %
Trombosit : 292 10^3/uL
MCH : 29.7 pg
MCHC : 35.5 g/dL
MCV : 83.5 fL

KIMIA KLINIK
Gula Darah Sewaktu : 257 mg/dL
SGOT :7 U/L
SGPT :6 U/L
Ureum Darah : 38 mg/dL
Creatinin Darah : 2.1 mg/dL
Fosfor : 7.8 mg/dL
Magnesium : 1.26 mg/dL
Albumin : 1.59 g/dL
Chlorida Darah : 111.0 mEq/L
Kalium Darah : 3.60 mEq/L
Natrium Darah : 133 mEq/L
Calsium : 6.88 mg/dL

HEMOSTASIS
PT
@Detik
Pasien : 18.9 detik
Kontrol : 13.1 detik
@INR
Pasien : 1.71 detik
Kontrol : 1.05 detik
APPT
Pasien : 29.4 detik
Kontrol : 28.8 detik

26 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Nyeri pada luka post Operasi
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 107/50 mmHg
N: 70 x/m
R: 20 x/m
S: 36,5ᵒc
Abdomen : Luka post op tertutup
A: P0A040 tahun dengan Mioma Uteri telah dilakukan Histerektomi Totalis +
Anemia
P: - IVFD RL :D5% 2 : 2  28gtt/m
- Drips Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- As. Tranexamat 3 x 500 mg
- Cek Lab 6 jam post OP
- Obsevasi KU dan TTV
- Transfusi darah sampai Hb > 10

27 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Nyeri paska operasi ↓↓
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 120/70 mmHg
N: 83 x/m
R: 18 x/m
S: 36,4ᵒc
A: P0A0 40 tahun Post Histerektomi Totalis + anemia + Hipoalbumin
P : R/ Rawat luka
- Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- As. Tranexamat 3 x 500 mg
- SF 1 x1
- Obsevasi KU dan TTV
- Transfusi PRC sampai Hb > 10
- Transfusi albumin

28 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Nyeri paska operasi ↓↓
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/70 mmHg
N: 80 x/m
R: 22 x/m
S: 36,4ᵒc
A: P0A0 40 tahun Post Histerektomi Totalis + anemia + Hipoalbumin
P:
- Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- As. Tranexamat 3 x 500 mg
- SF 1 x1
- Obsevasi KU dan TTV
- Transfusi PRC 1 kantong
- Vip Albumin 3 x 2 tab

29 Juli 2017 di Irina D Atas


S: Nyeri paska operasi ↓↓
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/70 mmHg
N: 80 x/m
R: 22 x/m
S: 36,4ᵒc
A: P0A0 40 tahun Post Histerektomi Totalis + anemia + Hipoalbumin
P:
- Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- As. Tranexamat 3 x 500 mg
- SF 1 x1
- Obsevasi KU dan TTV
- Transfusi PRC 1 kantong
- Vip Albumin 3 x 2 tab
-
30 Juli 2017 di Irina D Atas
S: Tidak ada keluhan
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/70 mmHg
N: 80 x/m
R: 22 x/m
S: 36,4ᵒc
A: P0A0 40 tahun Post Histerektomi Totalis
P:
- Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- Obsevasi KU dan TTV
31 Juli 2017 di Irina D Atas
S: Tidak ada keluhan
O: KU : Cukup Kes : CM
T: 110/70 mmHg
N: 79 x/m
R: 20 x/m
S: 36,3ᵒc
A: P0A0 40 tahun Post Histerektomi Totalis
P:
- Metrodinazol 2 x 500 mg
- Levoflxacine 2 x 500 mg
- Kaltrofen Supp 1 x 2
- Obsevasi KU dan TTV
- Aff kateter

01 Agustus 2017 di Irina D Atas


Pasien Pulang.
BAB III

PEMBAHASAN

Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai diagnosis dan penatalaksanaan
mioma uteri. Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,kemudian akan dibahas mengenai
diagnosis banding, penanganan, komplikasi, serta prognosis mioma uteri.

A. Tanda dan Gejala Mioma Uteri


Berdasarkan teori, walaupun kebanyakan asimtomatik, mioma uteri dapat
bergejala seperti seperti menoragia, metroragia, nyeri, hingga infertilitas.6
Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan oleh hambatan
pasokan darah endometrium, tekanan dan bendungan pembuluh darah di area
tumor (terutama vena) atau ulserasi endometrium di atas tumor.6 Beberapa
mekanisme yang menjelaskan terjadinya perdarahan yang banyak pada mioma
uteri yaitu berupa anovulasi, perluasan permukaan endometrium, gangguan
kontraktilitas uterus, serta dilatasi vena-vena kecil pada miometrium dan
endometrium yang mengandung fibroid dan mengganggu efek hemostatis
trombosit dan fibrin.7
Keluhan lain yang juga dirasakan adalah dismenorea. Dismenorea
bukanlah gejala khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada
sarang mioma, yang disertasi nekrosis setempat dan peradangan.8-10 Mioma
yang berukuran besar juga dapat menyebabkan penyempitan pada kanalis
servikalis sehingga terjadi nyeri berupa dismenore.8 Dismenorea juga dapat
disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal
miometrium.6
Riwayat sering buang air kecil tidak dikeluhkan oleh pasien. Begitu pula
riwayat sulit buang air besar tidak dikeluhkan oleh pasien. Berdasarkan teori,
hal ini disebabkan adanya efek penekanan yang sering dikaitkan dengan
mioma uteri, namun bila ukuran mioma lebih besar baru dapat menyebabkan
efek penekanan pada ureter, kandung kemih dan rektum.6
Seperi pada teori pasien juga mengalami keluhan nyeri perut bagian
bawah. Dan juga ditemukan perdarahan namun masih minimal. Serta pasien
tidak mengeluhakan gangguan pada BAB dan BAB, dimana sesuai teori
mioma belum menekan bagian uretra dan rektum sehingga BAB dan BAK
masih normal.

B. Faktor Risiko Mioma Uteri


Selain manifestasi klinis, pada kasus juga ditemukan adanya faktor resiko
yang berhubungan dengan terjadinya mioma uteri. Faktor risiko
berkembangnya mioma uteri berupa nullipara, usia menarche dini, riwayat
dismenorea, riwayat keluarga dengan mioma uteri, ras, dan usia.11
Pada kasus ini pasien juga belum pernah melahirkan, serta ada riwayat
dismenorea. Pada kasus ini pasien berusia 40 tahun. Hal ini berhubungan
dengan faktor risiko usia dimana kejadian mioma uteri didapat lebih tinggi
pada usia di atas 35 tahun, yaitu mendekati angka 40%. Tingginya kejadian
mioma uteri antara usia 35-50 tahundan jarang pada wanita 20 tahun dan
wanita post menopause, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan
estrogen.3 Dengan adanya stimulasi estrogen, menyebabkan terjadinya
proliferasi di uterus, sehingga menyebabkan perkembangan yang berlebihan
dari garis endometrium, sehingga terjadilah pertumbuhan mioma.Mioma uteri
banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan
sterilitas.12

C. Pemeriksaan Fisik Mioma Uteri


Pada pemeriksaan fisik abdomen ditemukan teraba massa padat setinggi 3
jari dari simfisis pubis, mobile, tidak ada nyeri tekan. Sesuai kepustakaan,
pada pemeriksaan fisik ditemukan uterus yang membesar, mobile, dengan
kontur yang ireguler khas pada mioma uteri. Ukuran, kontur dan mobilitas
uterus harus diperhatikan juga dengan temuan lain, seperti massa adneksa dan
serviks. Temuan ini dapat membantu untuk melihat perubahan uterus dan
untuk perencanaan operasi.11,14 Mioma uteri mudah ditemukan melalui
pemeriksaan bimanual rutin uterus. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila
dijumpai gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin, tetapi
sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari
uterus.15

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada mioma uteri berupa
pemeriksaan laboratorium, USG (Ultasonography), histeroskopi, dan MRI
(Magnetic Resonance Imaging).9 Pemeriksaaan laboratorium yang perlu
dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap terutama untuk mencari kadar
hemoglobin karena pada mioma uteri sering terjadi anemia akibat perdarahan
uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi.16 Pada kasus, kadar
hemoglobin MRS penderita yaitu 9.0 g/dL, karena pasien masuk dengan
keluhan perdarahan sedikit dan datang untuk persiapan operasi.
Ultrasonografi (USG) adalah modalitas yang sering digunakan karena
mudah digunakan, tersedia, dan efektif.12 USG dapat melihat pertumbuhan
mioma dan adneksa untuk konfirmasi diagnosis mioma uteri dan
menyingkirkan kemungkinan massa adneksa lainnya.11,14 Pada pasien
dilakukan pemeriksaan USG dan didapatkan massa dengan batas irreguler di
cavum uteri ukuran +/- 28 x 15 cm, kesan mioma uteri.
Transvaginal USG memiliki sensitivitas yang tinggi (95-100%) dalam
mendeteksi mioma uteri yang berukuran < ~ 10 minggu, serta dapat
menemukan lokasi mioma uteri yang lebih besar.14 Mioma berukuran besar
dapat ditemukan dengan kombinasi transabdominal dan transvaginal USG.
Mioma uteri sering terlihat sebagai massa yang simetris, mudah ditemukan,
hipoekhoik, dan heterogen. Namun, area yang mengalami kalsifikasi atau
perdarahan dapat terlihat hiperekhoik dan degenerasi kistik dapat terlihat
anekhoik.5 Pada kasus ini pemeriksaan USG memberikan gambaran kesan
mioma uteri.
Histeroskopi digunakan untuk melihat adanya mioma uteri submukosa,
jika mioma kecil serta bertangkai.Mioma tersebut sekaligus dapat diangkat.12
Sedangkan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) sangat akurat
dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang
diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan
dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil
3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa.MRI
dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat
disimpulkan.9,10 Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan histereskopi
maupun MRI karena anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi,
dan USG yang telah dilakukan pada kasus telah menunjang diagnosis mioma
uteri.

E. Diagnosis Mioma Uteri


Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan pada anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Namun dalam mendiagnosis
mioma uteri, diagnosis banding terkait tumor abdomen bagian bawah atau
panggul perlu dipikirkan. Pada mioma subserosum, harus dibedakan dengan
kehamilan. Mioma submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan
inversio uteri. Mioma intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis,
khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau suatu sarkoma uteri. Dengan
menggunakan USG abdominal dan transvaginal dapat membantu dan
menegakkan dugaan klinis. Pertumbuhan mioma diperkirakan memerlukan
waktu 3 tahun agar dapat mencapai ukuran sebesar tinju, akan tetapi beberapa
kasus ternyata tumbuh cepat. Setelah menopause banyak mioma yang menjadi
lisut, hanya 10% saja yang masih dapat tumbuh lebih lanjut.8
Adanya perdarahan abnormal dan pembesaran uterus pada kasus ini
memungkinkan untuk didiagnosis banding dengan adenomiosis. Adenomiosis
atau endometriosis interna merupakan lesi pada lapisan miometrium yang
ditandai dengan invasi jinak endometrium yang secara normal hanya melapisi
bagian dalam kavum uteri.8Pembesaran oleh adenomiosis bersifat difus dan
tidak nodular seperti mioma uteri.6 Gejala utama adenomiosis adalah
menoragia dan dismenorea yang semakin lama semakin berat, terutama pada
perempuan usia 40 tahunan.6 Pada kasus pasien berusia 40 tahun dan ada
keluahan perdarahan abnormal diluar menstruasi.
Selain itu, tumor padat ovarium juga dapat merupakan massa yang mirip
dengan mioma uteri, dengan konsistensi padat, permukaan berbenjol dan
mudah digerakkan bila tak ada perlekatan dengan sekitarnya. Tumor ovarium
padat merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering
ditemukan pada penderita pada massa menopause dan sesudahnya.Pada
pemeriksaan, tumor ovarium berada di samping atau diatas uterus dan dapat
ditentukan hubungan dengan uterus.Bila massa abdomen digerakkan atau
ditekan ke bawah maka portio ikut bergerak, ini menandakan bahwa massa
tersebut berhubungan dengan uterus. Sedangkan tumor ovarium, bila massa
abdomen digerakkan ke bawah maka portio tidak ikut bergerak bila tak ada
perlekatan.10P ada kasus ini kedua adneksa pada pemeriksaan bimanual
maupun USG memberikan kesan normal dan lebih mengarah pada mioma
uteri sehingga diagnosis banding tumor padat ovarium dapat disingkir.

F. Penatalaksanaan
Penanganan mioma uteri adalah berdasarkan gejala, ukuran dan lokasi
tumor, umur penderita, fungsi reproduksi dan fertilitas dari penderita, serta
terapi yang tersedia
a. Konservatif
Penderita dengan mioma berukuran <12 minggu, tanpa gejala, dan tanpa disertai
penyulit lain, serta usia mendekati menopause tidak memerlukan pengobatan,
tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma lebih besar dari
kehamilan 10-12 minggu, tumor yang berkembang cepat perlu diambil tindakan
operasi.12,16Pada kasus ini penanganan ini tentu tidak tepat karena ukuran mioma
lebih besar dari 12 minggu disertai gejala perdarahan haid yang banyak.
b. Medikamentosa
Terapi yang dapat memperkecil volume atau menghentikan pertumbuhan mioma
uteri secara menetap belum tersedia pada saat ini. Terapi medikamentosa masih
merupakan terapi tambahan atau terapi pengganti sementara dari operatif.12
Penanganan ini juga kurang tepat karena hanya bersifat sementara, sementara
gejala yang dikeluhkan masih tampak.
c. Operatif
Tindakan operatif dilakukan jika terjadi perdarahan uterus abnormal dengan
anemia, dan tidak respon terhadap hormonal managemen, nyeri kronik dengan
dismenore berat, dispareunia, tekanan pada perut bawah, nyeri akut, torsi
pedunculated mioma atau prolapsus submukosal fibroid, pembesaran uterus yang
cepat pada masa premenopause atau postmenopause, infertilitas dengan
leiomioma, dan pembesaran ukuran uterus > 12 minggu dengan gejala kompresi
atau perasaan tidak enak pada bagian bawah perut.16Pengobatan operatif meliputi
miomektomi, histerektomi dan embolisasi arteri uterus.
1) Miomektomi, adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa
pengangkatan uterus.12Miomektomi dapat dilakukan berdasarkan
jumlah, ukuran, dan lokasi dari mioma uteri dengan cara laparatomi,
minilaparatomi, laparoskopi, histeroskopi, atau
kombinasinya.Perencanaan operasi harus dilakukan dengan akurat
berdasarkan lokasi, ukuran, dan jumlah mioma uteri melalui teknik
imaging preoperasi.12Pada mioma geburt dilakukan dengan cara
ekstirpasi lewat vagina.16 Pada kasus ini juga tidak dilakukan
miomektomi karena ukuran mioma yang besar dan banyak,
terjadinya rekurensi juga lebih tinggi.
2) Embolisasi arteri uterus (Uterin Artery Embolization / UAE), adalah
injeksi arteri uterina dengan butiran polyvinyl alkohol melalui kateter
yang nantinya akan menghambat aliran darah ke mioma dan
menyebabkan nekrosis. Nyeri setelah UAE lebih ringan daripada
setelah pembedahan mioma dan pada UAE tidak dilakukan insisi
serta waktu penyembuhannya yang cepat.12 Pada kasus tindakan ini
tidak dilakukan karena jumlah mioma yang banyak.
3) Histerektomi, adalah pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan
terpilih. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan
mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri.12Wanita yang
telah memiliki anak dapat dilakukan histerektomi sebagai solusi
permanen untuk mioma uteri yang simptomatik. Indikasinya adalah
untuk mencegah terjadinya keganasan ketika penderita sudah
menopause dan tidak menggunakan hormone replacement therapy
(HRT).11 Histerektomi dilakukan jika fungsi reproduksi tidak
diperlukan lagi, pertumbuhan tumor sangat cepat, terjadi perdarahan
terus menerus dan banyak serta tidak membaik dengan pengobatan.16
Pada kasus penanganan yang dipilih adalah histerektomi totalis.

Untuk persiapan pra operatif, dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu


periksa darah lengkap, fungsi hemostasis, fungsi ginjal, fungsi hati, gula
darah, EKG dan foto toraks.Maksud pemeriksaan ini untuk mengetahui
penyakit penyerta dan untuk mengantisipasi adanya penyulit disaat tindakan
anestesi saat operasi dan pasca operasi.
Pada kasus ini dilakukan Histerektomi Total mengingat ukuran mioma
yang besar yaitu setara dengan usia kehamilan 18-20 minggu dan adanya
perdarahanyang dapat membahayakan penderita. Setelah histerektomi berhasil
dilakukan, jaringan dibelah dan tampak mioma uteri merupakan mioma jenis
intramural.
Penanganan penderita setelah operasi berupa pemberian antibiotik,
analgesik dan anti perdarahan untuk mencegah timbulnya komplikasi pasca
operasi.Penderita kemudian dipindahkan ke ruangan setelah keadaan umum
penderita cukup pulih.Setelah dirawat selama 4hari pasca operasi tidak
ditemukan adanya komplikasi dan luka operasi baik maka penderita sudah
dapat dipulangkan dan dianjurkan untuk kontrol kembali ke poliklinik
ginekologi RSUP Prof. R.D. Kandou Manado.

G. Komplikasi Mioma Uteri


Bila terjadi perubahan pasokan darah selama pertumbuhannya, maka
mioma dapat mengalami perubahan sekunder atau degeneratif sebagai
berikut.6
1. Atrofi
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
2. Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya
sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot
dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi
cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat
juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai
limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kista
ovarium atau suatu kehamilan.
4. Degenerasi membatu (calcereus degeneration)
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka
mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.
5. Degenerasi merah (carneus degeneration)
Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis diperkirakan karena
suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat
dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen
hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada
kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada
uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada
putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak
Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
Adapun komplikasi yang terjadi pada mioma uteri sebagai berikut.15
a. Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari
seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan
umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan
apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
b. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen
akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.
c. Nekrosis dan infeksi
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena
gangguan sirkulasi darah padanya.

H. Prognosis
Prognosis pre operasi pada kasus ini adalah dubia ad dubia dimana waktu
pemeriksaan ditemukan adanya massa yang membesar setinggi 3 jari dibawah
procesus xyfoideus, dan adanya perdarahan abnormal uterus yang sudah
berlangsung lama. Rencana operasi yang akan dilakukan adalah histerektomi
totalis sehingga sudah tidak bisa memiliki anak dan kemungkinan rekurensi
sangat kecil karena dapat terhindar dari komplikasi degenerasi keganasan. Dengan
demikian prognosis post op adalah dubia ad bonam melihat dari keadaan umum
dan tanda – tanda vital post operasi baik.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Telah dilaporkan wanita P0A040 tahun dengan mioma uteri datang ke
poliklinik ginekologi untuk rencana operasi Histerektomi Totalis. Pasien
didiagnosis dengan mioma uteri berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan penunjang yang baik. Selama masa pre-operasi tidak ada gangguan
hemostasis demikian juga selama masa post-operasi. Tindakan ini dipilih
berdasarkan gejala, ukuran dan lokasi tumor, umur penderita, fungsi
reproduksi dan fertilitas dari penderita, serta terapi yang tersedia.Setelah
dilakukan operasi pasien dirawat di ruangan pemulihan dengan observasi
tanda-tanda vital dan dilanjutkan dengan perawatan di bangsal selama 10 hari.
Pada saat uterus dibelah, didapatkan pasien menderita mioma uteri intramural.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sparic R, Mirkovic L, Malvasi A, Tinelli A. Epidemiology of uterine


myomas: a review. Int J Fertil Steril. 2016;9(4):424-435
2. Vilos G, Allaire C, Laberge PY, Leyland N. The management of uterine
leiomyomas. J Obstet Gynaecol Can. 2015;37(2):157-78
3. Pasinggi S, Freddy W, Max Rarung. Prevalensi Mioma Uteri Berdasarkan
Umur di RSUP Prof. Kandou.
4. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Current diagnosis
&treatment : obstetrics &gynecology, 10thed. New York: McGraw-Hill; 2007.
5. Hadibroto BR. Mioma uteri. Majalah Kedokteran Nusantara. 2005 Sept;
38(3): 254-9.
6. Wiknjosastro H. Ilmu kandungan, ed 2. Jakarta: YBPSP; 2007.
7. Ekine AA, Lawani LO, Iyoke CA, Jeremiiah I, Ibrahim IA. Review of the
Clinical Presentation of Uterine Fibroid and the Effect of Therapeutic
Intervention on Fertility. American Journal of Clinical Medicine Research.
2015;3:9-13.
8. DeCherney, A., Nathan L., Goodwin M., Laufer N.. Benign Disorders of the
Uterine Corpus. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics & Gynecology,
Tenth,2007:134-145.
9. Uterine masses. In: Berek and Novak’s gynecology. 14th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins; 2007.p.469-71.
10. Schorge, Schaffer, Halvorson, Hoffman, Bradshaw, Cunningham. Benign
general gynecology. In: Williams’ gynecology. The McGraw-Hill
Companies; 2008
11. Vilos GA, Allaire C, Laberge PY, Leyland N. The Management of Uterine
Leiomyomas. J Obstet Gynaecol Can 2015;37(2):157–178
12. Kurniasari T. Karakteristik mioma uteri di RSUD Dr. Moewardi Surakarta
Periode Januari 2009-Januari 2010 [Skripsi]. ]Surakarta]:Universitas Sebelas
Maret Surakarta;2010.
13. Lilyani DI, Sudiat M, Basuki R. Hubungan faktor risiko dan kejadian mioma
uteri di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang. Jurnal Kedokteran
Muhammadiyah. 2012;1:14-9
14. Stewart EA. Epidemiology, clinical manifestations, diagnosis, and natural
history of uterine leiomyomas (fibroids). 1 Juni 2011 [diakses: 12 Desember
2016]. Available from : http://www.uptodate.com/contents/epidemiology-
clinical-manifestations-diagnosis-and-natural-history-of-uterine-leiomyomas-
fibroids
15. Joedosapoetro MS. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital. Ilmu Kandungan
Edisi Kedua. Jakarta: PT Bina Pustaka. 2009:38-41
16. Achadiat CM. Prosedur tetap obstetri dan ginekologi. Jakarta: EGC. 2004:94-
5
SEMINAR LAPORAN KASUS MAHASISWA

KEPANITERAAN KLINIK MADYA

Nama : Faisal Sugiarto Hutapea

NRI : 16014101023

Masa KKM : 26 Juni 2017 – 09 September 2017

Judul : Diagnosis dan Penatalaksanaan Mioma Uteri

Tanggal Baca : 2017

Pembimbing : Dr. dr.Joice M.M. Sondakh, SpOG(K)

No Nama NRI TandaTangan

1 1

2 2

3 3

4 4

5 5

6 6

7 7

8 8
9 9

10 10

11 11

12 12

13 13

14 14

15 15

16 16

17 17

18 18

19 19

20 20

21 21

22 22

23 23

24 24

25 25

26 26

27 27

28 28

29 29
30 30

Koordinator Pendidikan Pembimbing Presentan

Bagian Obstetri dan Ginekologi

FK UNSRAT

dr. Suzanna Mongan, Sp.OG(K) Dr. dr.Joice M.M. Sondakh, SpOG(K) Faisal Sugiarto Hutapea

Frisky S. Badi

dr. Juneke J. Kaeng, SpOG(K)