Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS RAYAPAN BATUAN UNTUK PEMILIHAN

JENIS PENYANGGA DI RAMP DOWN TAMBANG


BAWAH TANAH PADA PT. ABC

ANSHAR ABDULLAH JAWIL


NIM : 212160030
(Software Studi Magister Teknik Pertambangan)

KONSENTRASI GEOMEKANIKA
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2016
A. Latar Belakang

Dalam industri pertambangan sering dijumpai sifat batuan yang relatif


keras, sehingga tidak dapat digali secara langsung karena berpengaruh
pada produktifitas alat gali muat tersebut. Dengan berkembangnya
teknologi, ditemukan solusi untuk memberaikan batuan tersebut yaitu
dengan proses peledakan. Dimana proses ini merupakan salah satu metode
yang paling sering digunakan dalam pemberaian batuan keras sehingga
operasi penambangan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Dalam proses peledakan ada beberapa macam indikator keberhasilan dari


peledakan itu sendiri, salah satunya adalah fragmentasi. Dimana ukuran
fragmen yang dihasilkan berpengaruh untuk proses penggalian dan
pemuatan batuan yang terledakkan. Oleh karena itu diperlukannya
rancangan geometri peledakan yang optimal dengan mengkaji geometri
peledakan yang telah digunakan dan fragmentasi yang dihasilkan agar
tujuan dari adanya proses peledakan tersebut sesuai dengan sasaran.

Dalam penelitian ini, distribusi fragmentasi hasil peledakan diukur dengan


metode Digital Image Processing (DIP) dengan Split Dekstop Software
dan menghitung menggunakan metode prediksi fragmentasi Kuz-Ram. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui fragmentasi hasil peledakan aktual dengan
melakukan simulasi. Sedangkan hasil dari Split Desktop berupa prosentase
ukuran fragmen yang digunakan untuk membandingkan hasil fragmentasi
aktual dari simulasi geometri peledakan yang digunakan.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan diteliti pada Tugas Akhir ini secara umum terletak
pada ukuran fragmen hasil peledakan.
1. Rancangan geometri yang digunakan apakah menghasilkan
fragmentasi yang ideal atau tidak ditinjau dari produktifitas alat crusher dan
target produksi monthly.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi fragmentasi hasil peledakan
selain dari geometri peledakan yang digunakan yang dapat menyebabkan
produktifitas alat gali muat rendah dan kesesuaian fragmen terhadap
crusher yang digunakan.

C. Hipotesa
Adapun hipotesa yang dapat di ambil oleh penulis dari penelitian ini adalah
sebagai berikut
1. Fragmentasi batuan dari hasil desain peledakan yang digunakan
belum sesuai yang diharapkan (≥ 800 mm).
2. Geometri peledakan yang digunakan belum memberikan hasil yang
diinginkan perusahaan.

D. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengkaji desain peledakan dan kekerasan batuan pada lokasi
penambangan
2. Mengetahui dan menganalisis perolehan hasil peledakan
berdasarkan geometri yang diterapkan
3. Menganalisis distribusi fragmentasi hasil peledakan.
4. Melakukan evaluasi peledakan dan memberikan rekomendasi
untuk meningkat produktivitas alat muat dan crusher bagi perusahaan.

E. Manfaat
Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi fragmentasi
hasil peledakan, sehingga dalam penelitian ini dilakukan analisa
menggunakan metode Kuz-Ram guna mendapatkan fragmentasi yang baik
sesuai dengan alat gali muat yang digunakan.
2. Bagi perusahaan
Manfaat penelitian bagi perusahaan adalah memberikan masukan untuk
mendapatkan fragmentasi peledakan yang baik dan rekomendasi tersebut
dapat digunakan untuk kegiatan peledakan selanjutnya.
F. Tinjauan Pustaka
1. Pengeboran dan Peledakan
Tujuan utama dari pengeboran dan peledakan yaitu untuk memberaikan
batuan untuk proses selanjutnya dalam tahapan penambangan yaitu proses
muat dan angkut. Tujuan akhir dari peledakan batuan sebenarnya bukan
hanya dalam hal muat dan angkut akan tetapi juga harus memperhatikan
apakah material hasil peledakan tersebut lulus alat crusher atau sesuai
dengan alat crusher yang digunakan.
Suatu operasi peledakan dinyatakan berhasil dengan baik pada kegiatan
penambangan apabila (Koesnaryo, 1988 ; 58):
a.) Target produksi terpenuhi (dinyatakan dalam ton/hari atau
ton/bulan).
b.) Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah
batuan yang berhasil dibongkar per kilogram bahan peledak (powder
factor).
c.) Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit
bongkah (kurang dari 15% dari jumlah batuan yang terbongkar per
peledakan).
d.) Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak,
overhang, retakan-retakan)
e.) Aman
f.) Dampak terhadap lingkungan minimal

2. Pemanfaatan energi dan proses fragmentasi batuan


Pemanfaatan energi peledakan dalam proses fragmentasi dibagi dalam dua
bagian yaitu :
a.) Tegangan gelombang kejut (extremely short duration) yang diikuti
dengan tekanan udara yang dihasilkan oleh ledakan tersebut.Di dalam
proses pecahnya batuan, intensitas pengaruh gelombang akan menurun
sesuai dengan pertambahan jarak yang dimana terjadi penambahan lubang
dinding hingga mencapai zona transisi luar dan mengakibatkan efek lain
dari proses tersebut.
b.) Secara singkat, proses pecahnya batuan saat peledakan pada
dasarnya mengalami beberapa tahap, yaitu dimulai dengan membesarnya
lubang ledak yang disebabkan oleh tekanan ledakan dari bahan peledak.
Pada tahap selanjutnya, energi ledakan akan menuju bidang bebas terdekat
sambil melakukan tekanan terhadap batuan di sekitarnya. Pada tahap
terakhir, energi ledakan tersebut dipantulkan kembali oleh bidang bebas dan
menekan permukaan batuan dengan tekanan yang melebihi kuat tarik dari
batuan tersebut sehingga batuan menjadi pecah

3. Faktor Peledakan
1. Bidang Diskontinuitas
Struktur geologi yang berpengaruh pada kegiatan peledakan adalah bidang
diskontinuitas (kekar) dan struktur perlapisan batuan. Berkaitan dengan
struktur kekar ini dapat digunakan untuk penentuan arah peledakan. Struktur
perlapisan batuan juga mempengaruhi hasil peledakan.Apabila lubang ledak
yang dibuat berlawanan dengan arah perlapisan, maka akan menghasilkan
fragmentasi yang lebih seragam dan kestabilan lereng yang lebih baik bila
dibandingkan dengan lubang ledak yang dibuat searah dengan bidang
perlapisan.
Secara teoritis, bila lubang ledak arahnya berlawanan dengan arah
kemiringan bidang pelapisan, maka pada posisi demikian kemungkinan
terjadinya backbreak akan sedikit, lantai jenjang tidak rata tetapi
fragmentasi hasil peledakan akan seragam dan arah lemparan batuan tidak
terlalu jauh. Sedang jika arah lubang ledak searah dengan arah kemiringan
bidang perlapisan, maka kemungkinan yang terjadi adalah timbul backbreak
lebih besar, lantai jenjang rata, fragmentasi batuan tidak seragam dan batu
akan terlempar jauh serta kemungkinan terhadap terjadinya longsoran akan
lebih besar (lihat Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Arah Pemboran Pada Bidang Perlapisan


2. Rock Blastability
Rock blastability ditentukan sebagai tahanan batuan terhadap peledakan dan
sangat dipengaruhi oleh kondisi massa batuan yang berhubungan dengan
peledakan. Penilaian rock blastibilty dengan cara membobotkan kondisi
batuan berdasarkan nilai indeks peledakan (Lilly, 1986). Nilai indeks
peledakan ini dapat digunakan untuk mencari besarnya faktor batuan.
Parameter untuk pembobotan tersebut meliputi deskripsi massa batuan,
spasi kekar, orientasi bidang kekar, specifik graviti dan kekerasan batuan.
(lihat Tabel 4.1).
3. Pola Pemboran
Kegiatan pemboran lubang ledak dilakukan dengan menempatkan lubang–
lubang ledak secara sistematis, sehingga membentuk suatu pola. Macam-
macam pola pemboran yang biasa dipakai dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Berdasarkan letak lubang bor maka pola pemboran dibagi menjadi dua pola
dasar, yaitu:
a.) Pola pemboran sejajar (paralel pattern)
b.) Pola pemboran selang seling (staggered pattern)

Tabel 4 . 1 Pembobotan Massa Batuan Untuk Peledakan (Lilly, 1986)


PARAMETER PEMBOBOTAN
1. Rock Mass Description ( RMD )
1.1. Powdery/ Friable 10
1.2. Blocky 20
1.3. Totally massive 50
2. Joint Plane Spacing ( JPS )
2.1. Close ( Spasi < 0,1 m ) 10
2.2. Intermediate ( Spasi 0,1 – 1 m ) 20
2.3. Wide ( Spasi > 1 m ) 50
3. Joint Plane Orientation ( JPO )
3.1. Horizontal 10
3.2. Dip Out of Face 20
3.3. Strike Normal to Face 30
3.4. Dip into Face 40
4. Specific Gravity Influence ( SGI )
SGI = 25 x SG – 50
5. Hardness ( H ) 1 – 10

Indeks Peledakan = 0,5 x (RMD + JPS + JPO + SGI + H)


Faktor Batuan (A) = BI x 0,12
……………………………………(4.1)

Gambar 4.2. Pola Pemboran. (a) Pola Bujur Sangkar (b) Pola Persegipanajng
(c) Pola zig zag bujursangkar (d) Pola zigzag persegipanjang
4. Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang–lubang
bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun
antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya.
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai
berikut :
a.) Box Cut, yaitu pola ini arah lemparan seluruhnya ke tengah area
peledakan, biasa digunakan apabila kesulitan atau tidak ada free face lain
selain di atas.
b.) Echelon, yaitu pola peledakanyang arah runtuhan batuannya ke
salah satu sudut dari bidang bebasnya.
c.) “V” cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya
kedepan dan membentuk huruf V.
d.) Flat Face, yaitu pola peledakan dengan waktu tunda yang sama
untuk tiap deret lubang ledak (row by row).
5. Geometri Peledakan
Untuk memperoleh hasil pembongkaran batuan sesuai dengan yang
diinginkan maka perlu suatu perencanaan ledakan dengan memperhatikan
besaran-besaran geometri peledakan. Terminologi dan simbol yang
digunakan pada geometri peledakan seperti terlihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Pola Peledak Jenjang


6. Powder Factor
Powder factor adalah bilangan yang menyatakan jumlah massa bahan
peledak yang digunakan untuk meledakkan sejumlah batuan. Ada 2 cara
untuk menyatakan powder factor dari suatu peledakan :
1. Berat bahan peledak per volume batuan yang diledakkan (kg/m3)
2. Berat bahan peledak per berat batuan yang diledakkkan (kg/ton)
Powder factor di lokasi penelitian dihitung dengan persamaan 4.1

Powder Factor = …………………………………(4.2)

4. Fragmentasi Batuan
Model Kuz-Ram merupakan gabungan dari persamaan Kuznetsov dan
persamaan Rossin – Rammler. Persamaan Kuznetsov memberikan ukuran
fragmen batuan rata-rata dan prsamaan Rossin – Rammler menentukan
persentase material yang tertampung di ayakan dengan ukuran tertentu.
Persamaan Kuznetsov adalah sebagai berikut :

x = Ax × …………………………………………(4.3)

Dimana :
x = Ukuran rata-rata fragmentasi batuan (cm)
A = Faktor Batuan
V = Volume batuan yang terbongkar (m3)
Q = Berat bahan peledak tiap lubang ledak (kg)

Persamaan di atas untuk tipe bahan peledak TNT. Untuk itu Cunningham
memodifikasi persamaan tersebut untuk memenuhi penggunaan ANFO
sebagai bahan peledak. Sehingga pesamaan tersebut menjadi :
x = Ax × × ……….…………………(4.4)

Dimana :
Q = Berat bahan peledak tiap lubang ledak (kg)
E= RWS bahan peledak : ANFO = 100, TNT = 115

Untuk menentukan distribusi fragmen batuan hasil peledakan digunakan


persamaan Rossin – Rammler, yaitu :

R= ………………………………………………………(4.5)

Dimana :
R = Presentase massa batuan yang lolos dengan ukuran x (cm)
Xc = Karakteristik ukuran (cm)
X = Ukuran Ayakan (cm)
n = Indeks Keseragaman

Xc dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini :

Xc = ..………………….……………………………(4.6)

Indeks n adalah indeks keseragaman yang dikembangkan oleh Cunningham


dengan menggunakan parameter dari desain peledakan. Indeks keseragaman
(n) ditentukan dengan persamaan di bawah ini :

……………………(4.7)

Dimana :
B = Burden (m)
W = Standar deviasi lubang bor (m)
PC = Panjang muatan handak (m)
D = Diameter (mm)
A = Ratio spasi/burden
H = Tinggi jenjang (m)

5. Point Load Index Franklin (Is) dan kuat tekan (c)


Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui dalam mekanika
batuan dan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Sifat fisik batuan seperti bobot isi, berat jenis, porositas,
absorpsi, dan void ratio.
b. Sifat mekanik batuan seperti kuat tekan, kuat tarik, modulus
elastisitas, dan nisbah Poisson.
Kedua sifat tersebut dapat ditentukan baik di laboratorium maupun di
lapangan (in-situ).
Uji point load ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan (strength) dari
contoh batu secara tak langsung di lapangan. Contoh batu dapat berbentuk
silinder atau tidak beraturan. Peralatan yang digunakan mudah dibawa-
bawa, tidak begitu besar dan cukup ringan Uji cepat, sehingga
kekuatan batuan dapat segera diketahui di lapangan, sebelum uji di
laboratorium dilakukan. Contoh yang disarankan untuk uji ini adalah yang
berbentuk silinder dengan diameter = 50 mm (NX = 54 mm).
Hubungan antara indeks Franklin (Is) dengan kuat tekan ( c) menurut
Bieniawski adalah sebagai berikut :
c = 23 Is untuk diameter contoh = 50 mm.

Jika Is = 1 MPa maka indeks tersebut tidak lagi mempunyai arti sehingga
disarankan untuk menggunakan uji lain dalam penentuan kekuatan
(strength) batuan.

6. Split Desktop
Split Desktop merupakan program pemprosesan gambar (image analysis)
untuk menentukan distribusi ukuran dari fragmen batuan pada proses
penghancuran batuan yang terjadi pada proses penambangan.
Program Split desktop dijalankan oleh engineer tambang atau teknisi di
lokasi tambang dengan mengambil input data berupa foto digital
fragmentasi. Sistem Split desktop terdiri dari software, computer, keyboard
dan monitor. Terdapat mekanisme untuk mengunduh gambar dari kamera
digital ke dalam computer. Unsur – unsur terkait dalam Split desktop yaitu :
1. Fragmen batuan
2. Foto digital
3. Perangkat Komputer
4. Hasil analisis