Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

SEJARAH ZAKAT DAN POTENSI ZAKAT

Oleh

MARNI

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


IAI DDI POLMAN
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
SEJARAH ZAKAT DAN POTENSI ZAKAT

SEJARAH ZAKAT

Mengenai awal diwajibkan zakat ini para ulama berbeda pendapaat.


Diantaranya Ibnu Khuzaimah mengatakan, "Zakat diwajibkan pada tahun
sebelum hijrah". An-Nawawi mengatakan, "Zakat diwajibkan pada tahun kedua
darii hijrah". Ibnul Atsir mengatakan, "Pada tahun ke sembilan hijrah". Tetapi
pendapaat ini terlalu jauh, karenaa pada hadits tanya jawabnya Abu Sufyan
dengaan Hiraklius Kaisar Rum, didalaam tanya jawab keduanya, Abu Sufyan
sudah menyebut kata-kata: Ia menyuruh kami mengeluarkan zakat. Peristiwa
tersebut terjadi pada tahun ketujuh di awal islam. Imam An-Nawawi
menyatakan, "Bahwasannya zakat diwajibkan pada tahun kedua hijrah sebelum
diwajibkan Shaum romadhon, sebagaimana ditegaskannya pada bab As-sair
minar raudhah".

Akan tetapi mengenai resminya turun kewajiban zakat yangg diiringi


dengaan pedoman dan kaifiyat mengeluarkan zakat kebanyakan ulama
menyatakan setelah hijrah. Dan sekali lagi, pendapaat yangg disebut terakhir ini
menjadi pegangan jumhur ulama. Lihat Fathul bari, III:266 dan Misykatul
mashabih ma'a syarhihi mura'ah. VI:8.

POTENSI ZAKAT INDONESIA

Potensi zakat Indonesia dalam setahun mencapai Rp 217 triliun.


Angka potensial ini muncul dalam riset berjudul Economic Estimation and
Determinations of Zakat Potential in Indonesia oleh Institut Pertanian Bogor
(IPB), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan Islamic Development Bank
(IDB) tahun 2011. Namun sayangnya, potensi besar penghimpunan zakat
nasional tersebut belum sejalan dengan realisasi di lapangan. Serapan realisasi
penghimpunan zakat nasional baru mencapai sekitar 1 persen dari potensi zakat
tersebut.

“Ini tugas kita semua untuk bisa mengoptimalkan potensi zakat di Indonesia,
terutama lembaga amil zakat (LAZ) seperti Dompet Dhuafa. Dana zakat sebesar
Rp. 217 triliun bila terkumpul akan sangat membantu dalam upaya pengentasan
kemiskinan,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi dalam acara
Tasyakuran Milad 23 Tahun Dompet Dhuafa di Aula Masjid Al Madinah, Bogor,
Jawa Barat, Jumat (1/7).

Ahmad menambahkan banyak rumah sakit dan sekolah gratis berkualitas yang
dapat dibangun, beasiswa untuk pelajar/mahasiswa dhuafa, perumahan rakyat,
bantuan dana untuk pelaku usaha kecil, dan berbagai program pengentasan
kemiskinan lainnya. Semua dapat dioptimalkan bila potensi dana zakat terserap
dengan maksimal. Apalagi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada
September 2015, penduduk miskin di Indonesia saat ini mencapai 28,51 juta
orang atau 11,13 persen dari total jumlah penduduk.

“Dana zakat sejatinya mampu berkontribusi dalam upaya menggapai cita-cita


bangsa Indonesia sebagaimana dalam Undang-Undang Dasar 1945 yakni
mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdasakan kehidupan bangsa,” terang
Ahmad.

Sebab itu, para institusi pengelola zakat tersebut harus bekerja secara
profesional. Para LAZ tidak hanya harus memperhatikan dalam aspek
penggalangan dana zakat dan menciptakan program pengentasan kemiskinan
yang berkualitas. Tetapi juga dalam aspek sosialisasi dan komunikasi. Aspek
sosialisasi dan komunikasi sebagai syiar kebermanfaatan zakat amat
perlu digalakkan kepada publik. Masih jauhnya realisasi penghimpunan dengan
potensi zakat ditengarai salah satunya masih banyak publik belum memahami
perihal zakat.

Sebagian masyarakat Indonesia baru memahami berupa zakat fitrah yang


dikeluarkan saat bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri. Padahal, jenis zakat
beragam mulai darizakat maal (zakat harta), zakat perniagaan, zakat pertanian,
dan zakat peternakan. Dari banyaknya jenis zakat tersebut, perlu adanya edukasi
yang lebih kepada masyarakat untuk semakin sadar menunaikan kewajiban
berzakat.

“Sebagian masyarakat pun masih belum menyalurkan zakatnya lewat badan


atau lembaga amil zakat. Para muzaki (pemberi zakat) umumnya memilih
secara konvensional dengan langsung memberi kepada mustahik (penerima
zakat),” terang Ahmad. (Dompet Dhuafa)

Optimalisasi Pengelolaan Zakat Nasional

Sejak 14 tahun dilembagakan secara formal, pengelolaan zakat nasional


seakan berjalan di tempat. Upaya pemerintah dengan menghidupkan Badan Amil
Zakat (BAZ) dan partisipasi aktif masyarakat dalam Lembaga Amil Zakat (LAZ),
belum juga mampu mendongkrak pendayagunaan potensi zakat yang sedemikian
besar. Proyeksi besar zakat sebagai instrumen alternatif pengentasan kemiskinan
masih sebatas potensi, yang belum juga terealisasi.

Data terakhir dirilis oleh BAZNAS (2011), bahwa realisasi penghimpunan


zakat nasional di tahun 2011 mampu mencapai 1,729 triliun rupiah. Nominal
tersebut merupakan hasil kenaikan positif 15,3 persen dari penghimpunan tahun
sebelumnya. Angka ini juga merupakan 25 kali lipat dari penghimpunan zakat di
tahun pertama saat pengelolaan zakat disahkan dalam undang-undang. Namun, jika
melihat potensi zakat nasional yang mencapai 217 triliun rupiah, rasanya proporsi
keterhimpunan zakat tersebut menjadi relatif tidak signifikan.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa pemanfaatan dana zakat ini masih sangat
minim. Pertama, pemahaman masyarakat terhadap harta yang wajib dikeluarkan
zakatnya masih rendah (Hafidhuddin, 2002). Pengetahuan masyarakat terkait harta
wajib zakat masih terbatas pada sumber-sumber konvensional yang secara literal
tertulis dalam al-Qur’an dan hadits. Padahal, kegiatan ekonomi terus berkembang
dari masa ke masa. Ini tentu berdampak pada definisi subjek dan sumber harta saat
ini, yang akan sangat berbeda dengan konteks harta pada masa 14 abad lalu.

Hal yang paling nyata adalah zakat profesi dan zakat perusahaan. Dua jenis zakat ini
jelas tidak ada dalam nash al-Qur’an dan hadits. Pemahaman zakat profesi dan zakat
perusahaan memang merupakan ijtihad kontemporer yang termaktub dalam
kitab Fiqh Zakat karya Yusuf Al-Qaradhawi (1991). Tentu pemahaman yang sangat
literal pasti akan menolak keberadaan kedua jenis zakat ini. Padahal, zakat profesi
dan zakat perusahaan ditaksir memiliki kontribusi sebesar 54,05 persen dari potensi
zakat nasional.

Kedua, ketiadaan sistem pengendalian dan pelaporan atas pengelolaan zakat


nasional. UU 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat pada satu sisi memang telah
menciptakan arus baru pengelolaan zakat di Indonesia. Seketika itu, banyak terjadi
pembentukan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), terutama LAZ. Sayangnya,
pertumbuhan jumlah OPZ tidak diimbangi dengan pengembangan mutu pengelolaan
zakat yang benar oleh OPZ. Sehingga, akuntabilitas publik OPZ relatif rendah (IMZ,
2010). Hal ini berdampak pada minimnya kepercayaan publik untuk menyalurkan
dana zakat mereka melalui OPZ.

Ketiadaan sistem pengendalian dan pelaporan atas pengelolaan zakat juga


berdampak pada minimnya informasi pemanfaatan dana zakat. Ini juga disebabkan
banyaknya OPZ, baik BAZ maupun LAZ, yang tidak melaporkan dengan baik
pemanfaatan dana zakat mereka. Memang, dalam peraturan yang ada, tidak
ditentukan kewajiban OPZ untuk memberikan laporan atas pengelolaan dana zakat
kepada satu institusi tertentu. Akibatnya, menjadi sangat sulit untuk memetakan
secara akurat posisi penghimpunan dan pemanfaatan dana zakat sebagai instrumen
alternatif pengentasan kemiskinan; di samping juga transparansi pengelolaan zakat
yang melemah.

Ketiga, peran pemerintah yang belum optimal dalam pengelolaan zakat nasional.
Sejak pertama kali disahkan oleh DPR pada tahun 1999 dan hingga pengesahan atas
revisi terbaru pada 2011 lalu, UU Pengelolaan Zakat belum juga memiliki Peraturan
Pemerintah (PP) sebagai payung hukum penjelas yang bersifat teknis. Kondisi ini
tentu berdampak pada kegamangan pengelola zakat dalam mengimplementasikan
UU Pengelolaan Zakat sebagai dasar hukum pengelolaan zakat nasional.