Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH ANALISIS PT GARUDA INDONESIA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Strategik


Dosen Pengampu: Rini Setyo Witiastuti

Disusun oleh:
Lutfatul Nadzifah (7311413067)
Puput Yuniasih (7311413076)

Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Semarang
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
PT Garuda Indonesa (Persero) Tbk adalah maskapai penerbangan nasional yang dimiliki
oleh Pemerintah Indonesia ( BUMN ). Garuda adalah nama burung mitos dalam legenda
pewayangan. Sejak Juni 2007, maskapai ini, bersama dengan maskapai Indonesia lainnya,
dilarang menerbangi rute Eropa karena alasan keselamatan, namun larangan ini dicabut dua
tahun kemudian. Setahun sebelumnya, maskapai ini telah menerima sertifikasi IATA Operational
Safety Audit (IOSA) dari IATA yang berarti bahwa Garuda telah seluruhnya memenuhi standar
keselamatan penerbangan internasional. Garuda masuk dalam daftar maskapai bintang empat
dari Skytrax yang berarti memiliki kinerja dan pelayanan yang bagus.
Tahun 2014 Garuda akan bergabung dengan aliansi penerbangan SkyTeam.Pada 2012,
Garuda Indonesia mendapat penghargaan Best International Airline di antara maskapai-maskapai
kelas dunia lainnya dengan 91 persen penumpang menyatakan sangat puas dengan pelayanan
maskapai ini.Garuda juga merupakan sponsor SEA Games 2011 dan telah menandatangani
perjanjian kerjasama dengan Liverpool FC Inggris.
Pada tanggal 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno,
Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada Presiden di Yogyakarta bahwa KLM
Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil Konferensi Meja
Bundar (KMB) dan meminta kepada beliau memberi nama bagi perusahaan tersebut karena
pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta nanti akan dicat sesuai nama itu.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawab dengan mengutip satu baris dari sebuah
sajak bahasa Belanda gubahan pujangga terkenal, Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial, Ik
ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden (“Aku adalah
Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas
kepulauanmu”).
Maka pada tanggal 28 Desember 1949, terjadi penerbangan yang bersejarah yaitu
pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden
Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran – Jakarta untuk pelantikannya sebagai Presiden
Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan logo baru, Garuda Indonesian Airways, nama yang
diberikan Presiden Soekarno kepada perusahaan penerbangan pertama ini.
Garuda Indonesia berawal dari tahun 1940-an, di mana Indonesia masih berperang
melawan Belanda. Pada saat itu, Garuda terbang jalur spesial dengan pesawat DC-3.Pada tanggal
26 Januari 1949 dianggap sebagai hari jadi Garuda Indonesia. Pada saat itu nama maskapai
adalah Indonesian Airways. Pesawat pertama mereka bernama Seulawah atau Gunung Emas,
yang diambil dari nama gunung terkenal di Aceh. Dana untuk membeli pesawat ini didapatkan
dari sumbangan rakyat Aceh, pesawat tersebut dibeli seharga 120,000 Dollar Malaya yang sama
dengan 20 kg emas. Maskapai ini tetap mendukung Indonesia sampai revolusi terhadap Belanda
berakhir.Garuda Indonesia mendapatkan konsesi monopoli penerbangan dari Pemerintah
Republik Indonesia pada tahun 1950 dari Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart
Maatschappij, perusahaan penerbangan nasional Hindia Belanda.Garuda pada awalnya adalah
hasil joint venture antara Pemerintah Indonesia dengan maskapai Belanda, Koninklijke
Luchtvaart Maatschappij (KLM). Pada awalnya, Pemerintah Indonesia memiliki 51% saham dan
selama 10 tahun pertama, perusahaan ini dikelola oleh KLM. Karena paksaan nasionalis, KLM
menjual sebagian dari sahamnya pada tahun 1953 ke pemerintah Indonesia.
Pemerintah Burma banyak menolong maskapai ini pada masa awal maskapai ini. Oleh
karena itu, pada saat maskapai ini diresmikan sebagai perusahaan pada 31 Maret 1950, Garuda
menyumbangkan sebuah pesawat DC-3 kepada Pemerintah Burma.Pada mulanya, Garuda
memiliki 27 pesawat terbang, staf terdidik, bandara dan jadwal penerbangan, sebagai kelanjutan
dari KNILM.Ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan pionir lainnya di Asia.Pada tahun
1953, maskapai ini memiliki 46 pesawat.Tahun 1956 mereka mengangkut jamaah haji dan
membuat jalur penerbangan pertama ke Mekkah.
Pada tanggal 11 Februari 2011.Garuda memulai IPO sebagai langkah awal menuju bursa
saham.Pemerintah menyatakan bahwa harga saham Garuda adalah Rp.750 per saham dan
mengurangi penawaran saham dari 9.362 lembar ke 6.3 lembar saham. Garuda Indonesia
memutuskan mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia. Pada 27 April 2012, CT Corp melalui PT
Trans Airways membeli 10.9% saham Garuda Indonesia di harga Rp620 per lembar dengan total
sebesar Rp 1,53 triliun. Harga ini lebih rendah dari harga terendah yaitu Rp395 per lembar, tapi
masih dibawah harga IPO sebesar Rp750 per lembar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang profil perusahaan, maka yang menjadi permasalahan dan
diungkapkan dalam makalah ini adalah:
1. Mengidentifikasi visi, misi, tujuan, dan strategi PT. Garuda Indonesia Airlines
2. Mengembangkan visi dan misi PT. Garuda Indonesia Airlines
3. Mengidentifikasi peluang dan tantangan eksternal PT. Garuda Indonesia Airlines
4. Bagaimana EFE Matrix PT. Garuda Indonesia Airlines?
5. Bagaimana competitive provide matrix PT. Garuda Indonesia Airlines?
6. Mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan internal PT. Garuda Indonesia Airlines
7. Bagaimana IFE Matrix PT. Garuda Indonesia Airlines?
8. Bagaimana analisis SWOT dan BCG matrix PT. Garuda Indonesia Airlines?
9. Bagaimana merekomendasikan strategi spesifik dan tujuan jangka panjang PT. Garuda Indonesia
Airlines?
10. Bagaimana spesifikasi rekomendasi-rekomendasi bisa di terapkan dan memperoleh hasil yang
ingin diraih?
11. Bagaimana merekomendasikan tujuan tahunan yang spesifik berikut kebijakan untuk satu tahun
ke depan bagi PT. Garuda Indonesia Airlines?
12. Bagaimana merekomendasikan tahapan-tahapan untuk review dan evaluasi strategi untuk PT.
Garuda Indonesia Airlines?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui visi, misi, tujuan, dan strategi PT. Garuda Indonesia Airlines
2. Dapat mengembangkan visi dan misi PT. Garuda Indonesia Airlines
3. Untuk mengetahui peluang dan tantangan eksternal serta EFE Matrix PT. Garuda Indonesia
Airlines
4. Untuk mengetahui competitive provide matrix dengan perusahaan pesaing
5. Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan internal serta IFE Matrix PT. Garuda Indonesia
6. Dapat menganalisis SWOT dan BCG Growth-Share Matrix PT. Garuda Indonesia Airlines
7. Dapat merekomendasikan strategi spesifik dan tujuan jangka panjang untuk PT. Garuda
Indonesia
8. Dapat mengetahui spesifikasi rekomendasi-rekomendasi bisa di terapkan dan memperoleh hasil
yang diinginkan oleh PT. Garuda Indonesia Airlines
9. Dapat merekomendasikan tujuan tahunan yang spesifik beserta kebijakan untuk satu tahun ke
depan untuk PT. Garuda Indonesia Airlines
10. Dapat merekomendasikan tahapan-tahapan untuk review dan evaluasi strategi untuk PT. Garuda
Indonesia Airlines

BAB II
PEMBAHASAN

A. Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi PT. Garuda Indonesia Airlines


1. Visi
Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan yang berkualitas
kepada masyarakat dunia mengunakan keramahan Indonesia.
2. Misi
Sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia yang mempromosikan
Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan
pelayanan yang professional.
3. Tujuan
Tujuan utama Garuda Indonesia adalah kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dalam
jangka waktu dua tahun, Garuda telah menghidupkan kembali kebudayaan perusahaan, yaitu
higher Seat Load Factor, improve On Time Performance, menambah penghasilan dan
profitabilitas dan mengembangkan kepuasan pelanggan. Anak perusahaan Garuda juga
menerapkan tujuan yang sejalan dengan perusahaan induknya, yaitu kepuasan pelanggan.
4. Startegi
Garuda Indonesia mendirikan beberapa UBS dan menggaet beberapa usaha strategis untuk
mendukung operasional yaitu Unit Bisnis Garuda Sentra Medika (GSM) dan Unit Bisnis Garuda
Cargo. Garuda Indonesia juga mempunyai anak perusahaan untuk mendukung seluruh
kegiatannya dan diatur secara independen namun tetap di bawah pengawasan induk perusahaan.
Anak Perusahaan Garuda Indonesia adalah PT. Aerowisata, PT. Abacus DSI, PT. Garuda
Maintenance Facility Aero Asia dan PT. Aero System Indonesia. PT. Aerowisata didirikan di
Jakarta tanggla 30 Juni 1973 yang mengembangkan usaha jasa yang berkaitan dengan industri
pariwisata seperti bidang perhotelan, jasa boga, transportasi darat, dan agen perjalanan. PT.
Abacus Distribution Systems Indonesia, cakupan kegiatan perusahaan ini meliputi layanan
sistem reservasi yang terkomputerisasi, penyewaan peralatan komputer yang digunakan oleh
agen-agen perjalanan, menyediakan fasilitas pelatihan pegawai untuk agen-agen perjalanan serta
menyediakan bantuan teknis dalam sistem pemesanan tiket terkomputerisasi. PT. Garuda
Maintenance Facility Aero Asia berdiri tanggal 26 April 2002.PT. Aero Systems Indonesia
(ASYST) didirikan pada tahun 2005. Kegiatan ASYST meliputi layanan konsultasi dan sistem
teknik teknologi informasi serta layanan pemeliharaan penerbangan dan industri lainnya.
A. Pengembangan Visi dan Misi PT. Garuda Indonesia Airlines
1. Pengembangan Misi
a. Customers
Yang menjadi pelanggan Garuda Indonesia adalah pelanggan kalangan menegah ke atas.
b. Products or services
Garuda Indonesia merupakan perusahaan jasa yang menawarkan layanan yang berkualitas,
professional, full services, dan merupakan layanan yang berkelas Internasional. Hal ini didukung
dengan adanya“Garuda Experience”.
c. Markets
Garuda Indonesia bersaing dalam perusahaan penerbangan domestik maupun Internasional yang
menargetkan pada konsumen kalangan menengah atas.
d. Technology
Garuda Indonesia memiliki teknologi informasi yang mutakhir dalam menjalankan bisnis
sehingga menempatkan Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan dengan TI tercanggih
di Indonesia.
e. Concern for survival, growth, and profitability
Untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kemampuan untuk mengahsilkan laba
(profitabilitas) Garuda Indonesia memiliki beberapa anak perusahaan diantaranya adalah PT.
Aerowisata, PT. Abacus DSI, PT. Garuda Maintenance Facility Aero Asia dan PT. Aero System
Indonesia.
f. Philosophy
Garuda Indonesia sudah mempunyai kepercayaan yang baik di mata konsumen, ini dibuktikan
dengan banyaknya penghargaan yang diraih oleh Garuda Indonesia.
g. Self-concept
Dilihat dari keunggulan Garuda Indonesia yaitu maskapai penerbangan dengan full services
pertama di Indonesia yang memiliki image dan prestasi yang baik di mata Internasional,
maskapai penerbangan yang memiliki sertifikat IATA Operational Safety Audit.
h. Concern for public image
Garuda Indonesia melakukan berbagai program kerjasama yang dapat menigkatkan
pemberdayaan masyarakat dan lingkungan. Melalui program-program CSR yang disebut Garuda
Indonesia Cares ( Garuda Indonesia Peduli ), upaya pemberdayaan masyarakat dan menjaga
lingkungan itu akan terus menjadi bagian dari kerja keras untuk memajukan perusahaan.
i. Concern for employees
Bagi Garuda Indonesia, para karyawan merupakan asset yang berharga. Ini dibuktikan dengan
perekrutan yang dilakukan berdasarkan strategi dan tujuan Garuda Indonesia. Dalam pandangan
Garuda Indonesia, karyawan dapat dilihat sebagai modal manusia, menyiratkan bahwa karyawan
Garuda Indonesia memiliki pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan kerja potensial yang dapat
mendukung produktivitas perusahaan. Agar menjadi modal berharga dengan kontribusi yang
kuat untuk organisasi, setiap karyawan harus memiliki semangat kerja yang sehat dan karenanya
akan cukup kompeten untuk organisasi.

2. Pengembangan Visi
Dari sisi Visi, dapat dikatakan bahwa PT Garuda Indonesia sudah baik. Dapat dilihat dari
apa yang ingin dicapai PT Garuda Indonesia di masa depan, yaitu sebagai penyedia jasa
penerbangan pilihan utama.
B. Identifikasi Peluang dan Tantangan Eksternal PT. Garuda Indonesia Airlines
1. Peluang
1.1. Telah dikeluarkannya Garuda Indonesia dari daftar perusahaan penerbangan yang dilarang
terbang di kawasan Eropa, yang menyebabkan semakin terbukanya kesempatan untuk
mewujudkan pengembangan jaringan penerbangan internasional jarak jauh
1.2. Adanya Asean Economic Community 2015.
1.3. Pertumbuhan pasar penerbangan udara cukup pesat.
1.4. Industri Penerbangan Asia Pasifik berkembang dengan cepat
2. Ancaman
2.1 Sumber utama pasokan bahan bakar pesawat Garuda Indonesia berasal dari Pertamina, sehingga
harga bahan bakar pesawat, persediaan bahan bakar sangat tergantung dengan Pertamina.
2.2. Adanya bencana alam seperti letusan gunung merapi, wabah penyakit dsb yang dapat
mengakibatkan penurunan permintaan.
2.3. Adanya peningkatan kapasitas, penurunan harga tiket dan semakin banyaknya rute penerbangan
baru yang dibuka oleh maskapai penerbangan lain.
2.4. Maskapai asing yang melakukan penetrasi pasar ke Indonesia untuk mengimbangi penurunan
penumpang internasional akibat adanya krisis global.
C. EFE Matrix
Bobot Pangkat Nilai
Faktor-faktor Eksternal
Peluang
1. Bukan maskapai yang dilarang terbang dinegara tertentu 0,1 4 0,4
0,1 3 0,3
0,1 4 0,4
2. Industri Penerbangan Asia Pasifik berkembang dengan cepat 0,2 3 0,6
Ancaman

1. Bahan bakar tergantung pasokan dari pertamina 0,1 2 0,2


2. Adanya bencana Alam 0,1 2 0,2
3. Maskapai penerbangan local yang menawarkan harga lebih murah 0,15 2 0,3
4. Maskapai asing yang melakukan penetrasi ke pasar indonesia 0,15 2 0,3
Total 1 2,7

D. Competitive Provide Matrix


Garuda Indonesia (GA) Emirates (EK) Korean Air (KE)
Critical Success Factors Bobot Peringkat Nilai Peringkat Nilai Peringkat Nilai
1. Armada, teknologi 0,1 4 0,4 4 0,4 4 0,4
komunikasi dan standar
keamanan
2. Brand Reputation 0,1 4 0,4 4 0,4 3 0,3
3. In-Flight/Cabin Services 0,05 4 0,2 4 0,2 3 0,15
4. Kualitas dan 0,1 3 0,3 4 0,4 3 0,3
pengalaman manajemen
5. Route System 0,1 3 0,3 4 0,4 4 0,4
6. Strategic Alliances 0,1 4 0,3 4 0,4 4 0,4
7. Rasio finasial 0,1 2 0,2 3 0,4 2 0,2
8. Price competitive 0,1 3 0,3 4 0,4 2 0,2
9. Diversifikasi produk 0,05 2 0,1 4 0,2 3 0,15
10. Airport Services 0,05 3 0,15 3 0,15 3 0,15
11. Kegiatan pemasaran dan 0,1 4 0,4 4 0,4 3 0,3
promosi
12. Online ticketing 0,05 4 0,2 4 0,2 4 0,2
TOTAL 1 3,25 3,95 3,15
Alasan memilih Emirates (EK) dan Korean Air (KE) sebagai Competitive Provide
Matrix Garuda Indonesia:
Kami memilih Emirates Airlines dalam Competitive Provide Matrix karena Emirates
merupakan maskapai penerbangan yang sudah sangat terkenal dunia Internasinal. Maskapai
penerbangan milik Pemerintah Dubai ini mengalami perkembangan yang sangat pesat sekitar era
2000-an disaat maskapai lain berjuang untuk bertahan dari kebangkrutan. Hingga sekarang,
Emirates Airlines telah melayani rute penerbangan hamper diseluruh dunia.
Kami juga memilih Korean Air dalam Competitive Provide Matrix karena Korea Air
merupakan salah satu dari beberapa maskapai dengan rating bintang empat dari Skytrax yang
merupakan pesaing dari Garuda Indonesia yang juga merupakan maskapai rating bintang empat
di Asia.
E. Kelemahan dan Kekuatan Internal PT. Garuda Indonesia Airlines
1. Kekuatan
1.1. Maskapai penerbangan dengan full service pertama di Indonesia
1.2. Maskapai Penerbangan yang memiliki sertifikat IATA Operational Safety Audit.
1.3. Maskapai Penerbangan yang memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik sesuai dengan standar
maskapai full service.
1.4. Memiliki image dan prestasi yang baik di mata Internasional.
1.5. Konsep layanan yang selalu menempatkan pelanggan sebagai fokus utama yang didasarkan
keramahtamahan dan keunikan Indonesia yang disebut dengan “Garuda Indonesia Experience”
yang didasarkan pada 5 senses yaitu sight, sound, smell, taste, and touch, menyebabkan Garuda
Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan maskapai penerbangan lain.
1.6. Memiliki teknologi informasi yang mutakhir dalam menjalankan bisnis sehingga menempatkan
Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan dengan TI tercanggih di Indonesia.
1.7. Maskapai Penerbangan yang memiliki layanan “Immigration on Board” yang merupakan inovasi
Garuda dan merupakan satu-satunya di dunia, yaitu layanan pemberian visa di atas pesawat.
1.8. Diakui oleh dunia Internasional.
2. Kelemahan
2.1. Tingginya tingkat hutang lancar yang diakibatkan adanya peningkatan dalam jumlah kewajiban
pada akun-akun lancar seperti hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar.
2.2. Garuda sangat bergantung kepada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnis sehingga apabila
terjadi kesalahan sistem, proses bisnis perusahaan akan terganggu.
2.3. Beban keuangan meningkat hingga 100 % ditahun 2013.

F. IFE Matrix
Faktor-faktor Internal Bobot Peringkat Nilai

Kekuatan
1. Penerbangan dengan full servis pertama di Indonesia 0,05 3 0,15
2. Memiliki sertifikat IATA Operational Safety Audit 0,1 4 0,4
3. Memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik sesuai standar maskapai 0,1 4 0,4
full service
4. Memiliki image dan prestasi yang baik dimata Internasional 0,1 4 0,4
5. Memiliki cirri khas tersendiri disbanding dengan maskapai 0,05 3 0,15
penerbangan lain
6. Memiliki teknilogi informasi yang mutakhir 0,05 3 0,15
7. Memiliki layanan “immigration On Board” 0,1 3 0,3
8. Diakui oleh dunia Internasional 0,15 4 0,6
Kelemahan
1. Tingginya tingkat utang lancar 0,1 2 0,2
2. Ketergantungan system otomatisasi 0,05 2 0,1
3. Beban keuanga meningkat hingga 100 % ditahun 2013 0,15 2 0,3
Total 1 3,15

G. Analisis SWOT dan BCG Matrix


1. Analisis SWOT
Internal Strength Weakness
1. Maskapai penerbangan dengan 1. Tingginya tingkat hutang lancar
full service pertama di Indonesia. yang diakibatkan adanya peningkatan
2. Maskapai Penerbangan yang dalam jumlah kewajiban pada akun-
memiliki sertifikat IATA akun lancar seperti hutang usaha dan
Operational Safety Audit. hutang yang masih harus dibayar.
3. Maskapai penerbangan yang 2. Garuda sangat bergantung kepada
memberikan pelayanan dan sistem otomatisasi dalam
fasilitas terbaik sesuai dengan menjalankan bisnis sehingga apabila
standar maskapai full service. terjadi kesalahan sistem, proses
4. Memiliki image dan prestasi bisnis perusahaan akan terganggu.
yang baik di mata Internasional. 3. Beban keuangan meningkat hingga
5. Diakui oleh dunia Internasional. 100% di tahun 2013.

Eksternal
Opportunities Strategi S-O Strategi W-O
1. 1.
Telah dikeluarkannya Garuda Indonesia Menambah rute regional dan 1. Mengurangi beban operasional dan
internasionalnya agar keuangan secara proporsional untuk
dari daftar perusahaan penerbangan yang memberikan pelanggan sekaligus menekan harga jual tiket yang lebih
dilarang terbang di kawasan Eropa, yang mempromosikan layanan Garuda kompetitif kepada pelanggan.
Indonesia dengan snagat baik (W3O3)
menyebabkan semakin terbukanya khususnya di Negara yang
kesempatan untuk mewujudkan tergabung dalam ASEAN
Economic Community 2015.
pengembangan jaringan penerbangan
(S2O2)
internasional jarak jauh. 2. Terus mempertahankan standar
2. Adanya Asean Economic Community keselamatan dan keamanan yang
2015. tinggi sekaligus meningkatkan
kualitas pelayanan. (S4O4)
3. Pertumbuhan pasar penerbangan udara
cukup pesat.
4. Industri Penerbangan Asia Pasifik
berkembang dengan cepat.
Threat Strategi S-T Strategi W-T
1. 1.
Sumber utama pasokan bahan bakar Menambah jumlah armada
1. Mengatur beban operasional dengan
Indonesia dengan pesawat yang efektif dan efisien agar harga jual
pesawat Garuda Indonesia berasal dari memiliki kapasitas yang lebih tiketnya tidak terlalu tinggi jika
Pertamina, sehingga harga bahan bakar besat agar dapat lebih banyak dibandingkan dengan maskapai asing
mengangkut penumpang. (S4T3) lainnya yang mungkin menawarkan
pesawat, persediaan bahan bakar sangat
2. Membuka rute-rute penerbangan harga jual tiket untuk rute
tergantung dengan Pertamina. yang baru yang belum banyak penerbangan yang sama yang lebih
dibuka oleh maskapai murah. (W1T4)
2. Adanya bencana alam seperti letusan
penerbangan lainnya. (S5T4)
gunung merapi, wabah penyakit dsb yang
3. Melakukan promosi khusus yang
dapat mengakibatkan penurunan menarik perhatian pelanggan.
permintaan. (S1T2)

3. Adanya peningkatan kapasitas,


penurunan harga tiket dan semakin
banyaknya rute penerbangan baru yang
dibuka oleh maskapai penerbangan lain.
4. Maskapai asing yang melakukan
penetrasi pasar ke Indonesia untuk
mengimbangi penurunan penumpang
internasional akibat adanya krisis global.

2. Analisis BCG Growth-Share Matrix


a. Stars
Merupakan unit bisnis di dalam suatu perusahaan korporasi yang memiliki pertumbuhan pasar
dan pangsa pasar relatif yang tinggi. Pada hal ini yang masih memiliki pertumbuhan pasar dan
pangsa pasar relatif yang tinggi yaitu Garuda Indonesia sendiri yang memperlihatkan
kemampuan perusahaan memiliki “long-run opportunities” terbaik dalam hal pertumbuhan.
b. Cash Cows
Merupakan unit bisnis di dalam suatu perusahaan korporasi yang memiliki tingkat pertumbuhan
pasar kecil tetapi memiliki pangsa pasar relatif yang besar. Pada “cash cows” ini yaitu semua
anak perusahaan Garuda Indonesia memiliki pertumbuhan pasar dan pangsa pasar relatif yang
besar salah satuya adalah PT. Aerowisata yang masih bekembang dengan baik dalam industri
pariwisata seperti bidang perhotelan, jasa boga, transportasi darat, dan agen perjalanan.
c. Question Marks
Merupakan unit bisnis di dalam suatu perusahaan korporasi yang memiliki tingkat pertumbuhan
pasar tinggi tetapi masih memiliki pangsa pasar relatif yang kecil. Pada “question marks” ini
tidak ada karena baik Garuda Indonesia maupun anak perusahaannya bergerak dalam industri
yang pertumbuhan pasarnya tinggi dan besar.
d. Dogs
Merupakan unit bisnis di dalam suatu perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan pasar kecil
serta memiliki pangsa pasar relatif yang rendah. Untuk “dogs” sendiri bagi Garuda Indonesia
tidak ada karena baik Garuda Indonesia maupun anak perusahaan sudah memiliki pasar dan
pangsa pasar relatif yang baik.
H. Strategi Spesifik dan Tujuan Jangka Panjang
1. Strategi Spesifik:
1.1. Garuda Indonesia secara konsisten meningkatkan standar layanan untuk menjadi maskapai
dengan layanan kelas dunia.
1.2. Meluncurkan berbagai inisiatif.
1.3. Menargetkan ketepatan penerbangan (on time performance / OTP).
2. Tujuan Jangka Panjang:
2.1. Menjadi maskapai dengan standar layanan kelas dunia.
2.2. Pengembangan usaha dengan memfokuskan keanggotaan Garuda Indonesia sebagai anggota
aliansi global.
2.3. Memperluas network coverage perusahaan.
2.4. Menjaga konsistensi terhadap kualitas produk dan pelayanan dari sisi operasional.

I. Spesifikasi Rekomendasi Dapat di Terapkan dan Memperoleh Hasil Yang Diinginkan


1. Untuk meningkatkan standar layanan kelas dunia, Garuda Indonesia harus memiliki nilai-nilai
dasar yaitu tepat waktu dan aman (tentang produk), cepat dan tepat (tentang proses), bersih dan
nyaman (tentang pembangunan), serta andal, professional, dan siap membantu (tentang staf).
2. Untuk meluncurkan berbagai inisiatif dalam memperluas network coverage yaitu dengan
mendatangkan pesawat-pesawat baru dan membuka rute-rute penerbangan baru.
3. Garuda Indonesia berusaha melakukan penerbangan dengan tepat waktu. Artinya, penerbangan
dilakukan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

J. Tujuan Tahunan Yang Spesifik dan Kebijakan Selama Satu Tahun Ke Depan
PT. Pertamina (Persero) dan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk menandatangani
perjanjian pemanfaatan asset bersama kedua perusahaan. Bandara Pondok Cabe dan beberapa
bandara lain milik Pertamina akan dikelola sebagai destinasi penerbangan Garuda Indonesia.
Tahun 2016 Garuda Indonesia resmi menggunakan bandara tersebut sebagai bandara
komersial.Kerja sama dengan Pertamina ini akan membantu pengembangan bisnis dan
operasional Garuda Indonesia.
K. Tahapan-tahapan Untuk Review dan Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi dilakukan dengan menilai tingkat pelayanan perusahaan.Garuda
Indonesia mempunyai pelayanan yang memuaskan, ini didukung dengan adanya konsep
“Garuda Indonesia Experience” yang menyajikan aspek-aspek terbaik dari Indonesia kepada
penumpang. Mulai dari saat reservasi penerbangan hingga tiba di bandara tujuan, para
penumpang akan dimanjakan dengan pelayanan yang tulus dan bersahabat yang menjadi ciri
keramahan Indonesia.
Alat ukur selanjutnya adalah pangsa pasar perusahaan, peningkatan pangsa pasar
perusahaan mengindikasikan bahwa perusahaan mampu memperluas positioningnya dan
jangkauan konsumennya.Garuda Indonesia mencatat peningkatan pangsa pasar pada kuartal I
tahun 2015 sebesar 44% karena adanya penambahan 18 unit pesawat tahun ini yang terdiri dari 5
pesawat wide body dan 13 narrow body. Ini naik dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya 37%.
Kinerja Garuda Indonesia dapat dikatakan sudah baik didukung dengan staf-staf yang
memiliki kemampuan yang handal dan berkualitas.Selain itu, standar Garuda Indonesia sudah
sesuai dengan standar Internasional, seperti pada visi Garuda Indonesia yang ingin menawarkan
layanan yang berkualitas kepada masyarakat dunia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Garuda Indonesia merupakan salah satu perusahaan jasa penerbangan yang sudah bertaraf
Internasional yang mengutamakan kualitas dan kepuasan pelanggan.Garuda Indonesia sudah
mampu untuk memenuhi apa yang menjadi harapan pelanggan, hal ini ditandai dengan
banyaknya pelanggan yang merasa puas dengan pelayanan yang diberikan Garuda Indonesia.

B. Saran
Diharapkan Garuda Indonesia tetap mengontrol dan melakukan perbaikan dalam segi
pelayanan dan kualitas.Garuda Indonesia tidak boleh cepat merasa puas dengan keberhasilan
yang telah di raih agar visi Garuda Indonesia semakin nyata dalam perjalan hidup Garuda
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

www.garuda-indonesia.com
Filsufgaul. 2012. “Garuda Indonesia Airways dalam Perspektif Inovasi, Restrukturisasi, dan Transformasi
Kepemimpinan”.https://filsufgaul.wordpress.com/2012/12/15/garuda-indonesia-airways-dalam-
perspektif-inovasi-restrukturisasi-dan-transformasi-kepemimpinan/(diakses pada tanggal 27
November 2015)
Berbudi, Sahabat. 2012. “Makalah Pelayanan Terbaik PT Garuda
Indonesia”.http://sahabatberbudi.blogspot.co.id/2013/03/makalah-pelayanan-terbaik-
ptgaruda.html (diakses pada tanggal 2 Desember 2015)
Nurrachmawati, Suri. 2013. “Analisis Strategi Industri Garuda
Indonesia”.http://www.slideshare.net/surinurrachmawati/analisis-strategi-industri-
garuda (diakses pada tanggal 27 November 2015)
Sandy, Yuven. 2014. “Evaluasi Strategi “.http://yuvensandy.blogspot.co.id/2014/05/normal-0-false-false-
false-in-x-none-x_8.html (diakses pada tanggal 1 Desember 2015)
Solihin, Ismail. 2012. Manajemen Strategik. Penerbit Erlangga. Jakarta

Pertanyaan-pertanyaan

1. Noor Indah Fitriani


Mengapa Garuda Indonesia harga tiketnya mahal sedangkan Garuda Indonesia banyak
mensponsori acara-acara traveling?
Jawab : Karena Garuda Indonesia memiliki layanan yang berkualitas, profesional, full services,
dan merupakan penerbangan yang bertaraf Internasional sehingga wajar saja bila harga tiket
Garuda Indonesia mahal dibandingkan maskapai penerbangan lainnya.
2. Icha Puspaning Dewanti
Apa penyebab hutang lancar Garuda Indonesia pada tahun 2013 meningkat? Berdampak pada
apa saja?
Jawab : Penyebab dari hutang lancar Garuda Indonesia karena beban usaha meningkat, sehingga
berdampak pada harga tiket yang relatif mahal. Dari harga tiket yang mahal tersebut Garuda
Indonesia dapat menutupi hutang-hutangnya.

http://lutfatuln.blogspot.co.id/2016/01/makalah-analisis-pt-garuda-indonesia_17.html

Judul: Analisis SWOT Garuda Indonesia dalam Menghadapi Persaingan Pasar Penerbangan
di Indonesia
Penulis: Yuki Sato

Analisis SWOT Garuda Indonesia dalam Menghadapi Persaingan Pasar Penerbangan di


Indonesia
995045116840
Oleh:
Natalia Nerissa
BHP Semester 6
NIM: 10101007
STP NUSADUA BALI
Bisnis Hospitaliti
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi merupakan industri jasa yang mengemban fungsi pelayanan public, yang
secara umum menyediakan jasa yang dapat membantu masyarakat untuk berpindah
tempat dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Namun dirasa pelayanan transportasi
bukanlah hanya sekedar jasa yang mampu membantu masyarakat untuk menuju ke sebuah
destinasi. Melainkan, didalam proses awal mereka melakukan pemesanan tiket, sampai
ditempat tujuan masyarakat juga membutuhkan pelayanan yang dapat membantu mereka
merasa nyaman dan aman selama melakukan perjalanan. Industri jasa yang kini sudah
menjadi bagian dari kebutuhan primer adalah jasa transportaso. Menurut Warpani (2002:5),
Transportasi atau pengangkutan adalah kegiatan perpindahan orang dan barang dari suatu
tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan menggunakan sarana (kendaraan)
Banyak pilihan sarana transportasi yang dapat dipilih oleh masyarakat. Mulai dari sarana
transportasi darat, laut maupun udara. Namun nampaknya kini masyarakat mulai berpikir
cepat dan praktis, mereka memilih untuk menggunakan jasa transportasi yang nyaman, dan
tidak memakan jangka waktu yang lama untuk berpindah tempat, namun dengan harga
yang masih terjangkau khususnya untuk kelas ekonomis. Hal ini menyebabkan, masyarakat
memilih menggunakan jasa penerbangan. Karena jika dibandingkan harus menggunakan
jasa transportasi darat maupun laut, jasa penerbangan lah yang dirasa paling nyaman dan
praktis walaupun terkadang harga nya sedikit lebih mahal.
Perkembangan Industri Jasa Penerbangan yang semakin pesat, kian bergulat dalam
meraih perhatian pasar. Persaingan yang ketat dilakukan oleh beberapa maskapai
penerbangan yang ada di Indonesia. Sejumlah armada terus bersaing untuk duduk di pasar
domestik maupun internasional. Banyak cara yang digunakan demi meraup pasar
sebanyak-banyaknya. Sebagian armada penerbangan ada yang memilih untuk perang tarif,
yaitu memberikan tarif semurah mungkin kepada masyarakat dan pasti tentunya
mengurangi beberapa komponen penting dalam pelayanan dalam bentuk fisik maupun non
fisik. Namun nampaknya, ada juga beberapa armada yang tetap bertahan dengan visi misi
awal yang dimiliki. Tetap bertahan dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan maskapai
penerbangan lain, tanpa khawatir akan ditinggalkan masyarakat. Karena dari sana, ada
keunggulan kompetitif lain yang dimilliki yaitu dari segi kenyamanan dan pelayanan.
Menurut Data Pusat Statistik (BPS) 2010 jumlah pertumbuhan penumpang pesawat pada
tahun 2007 mencapai 15 persen menjadi 39,1 juta orang dari jumlah penumpang pada
tahun 2006 berjumlah 34,0 juta orang. Kemudian julah pertumbuhan penumpang pesawat
pada tahun 2008 mengalami penurunan hingga 4,6 persen menjadi 37,3 juta orang dari
jumlah penumpang pada tahun 2007 berjumlah 39,1 juta orang. Berbeda dengan tahun
2008, jumlah pertumbuhan penumpang pesawat tahun 2009 dan 2010 mengalami
peningkatan cukup besar. Jumlah pertumbuhan penumpang pesawat pada tahun 2009
mencapai 16,89 persen menjadi 43,6 juta orang dari jumlah penumpang pada tahun 2008
berjumlah 37,3 juta orang. Kemudian jumlah pertumbuhan penumpang pesawat pada tahun
2010 mencapai 22,24 persen menjadi 53,3 juta orang dari jumlah penumpang pada tahun
2009 sebanyak 43,6 juta orang. Pertumbuhan industri ini terjadi karena makin murahnya
tarif tiket pesawat dari maskapai penerbangan yang masuk ke layanan low cost carier. Data
jumlah penumpang pesawat, kereta api, dan kapal laut dapat dilihat di tabel di bawah ini:
Tabel 1.1 Jumlah Penumpang Angkutan Udara, Angkutan, Darat dan Laut Rute Domestik
Periode 2006-2010
Jumlah Penumpang
Tahun Udara Darat Laut
2006 34,0 juta 159 juta 27,7 juta
2007 39,1 juta 175 juta 29,9 juta
2008 37,3 juta 194 juta 37,6 juta
2009 43,6 juta 207 juta 29,7 juta
2010 53,3 juta 201 juta 35,3 juta
Sumber : http://www.bps.go.idBerdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa jumlah penumpang
pesawat pada angkutan udara dari tahun 2008-2010 selalu mengalami peningkatan,
berbeda hal nya dengan tahun 2007-2008 jumlah penumpang
Tabel 1.2 Jumlah Penumpang Pesawat Garuda Indonesia, Lion Air dan Sriwijaya Air
Periode 2006-2010
Jumlah Penumpang (orang)
Tahun Garuda Indonesia Lion Air Sriwijaya Air
2006 9,2 juta 7,3 juta 3,6 juta
2007 9,8 juta 8,6 juta 4,0 juta
2008 10,4 juta 12,1 juta 4,3 juta
2009 11,1 juta 18,4 juta 4,9 juta
2010 12,7 juta 21,9 juta 6,3 juta
Sumber: *Annual Report Garuda Indonesia 2010
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa Garuda Indonesia masih tetap menjadi juara. Dari
tahun 2006-2010 mengalami peningkatan yang cukup besar. Namun peningkatan jumlah
penumpang ini juga dialami oleh Lion Air dan Sriwijaya Air. Bahkan jumlah penumpang Lion
Air lebih banyak dibandingkan penumpang Garuda Indonesia.
Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa industri jasa penerbangan di Indonesia
telah mengalami pertumbuhan yang demikian pesatnya. Kondisi ini secara langsung sangat
berpengaruh terhadap struktur pasar yang ada. Pertumbuhan jumlah perusahaan
penerbangan yang menyediakan jasa penerbangan domestik dilihat dari perspektif
konsumen, memberikan dampak yang positif. Masyarakat memperoleh keuntungan dengan
semakin banyaknya pilihan jasa penerbangan yang menawarkan berbagai kemudahan,
seperti pemberian servise yang semakin baik dan harga ticket yang sangat bersaing.
Pertanyaan yang paling mendasar selanjutnya adalah apakah kondisi tersebut akan secara
otomatis berpengaruh terhadap tingkah laku konsumen (consumer behaviour). Banyak
faktor yang berpengaruh terhadap konsumen untuk memilih salah satu operator angkutan
udara tertentu atau bahkan memilih salah satu jenis alat pengangkutan yang ada. Apakah
harga murah merupakan satu-satunya alasan konsumen untuk memilih salah satu
maskapai penerbangan tertentu. Bagaimana dengan pandangan konsumen terhadap
tingkat keamanan yang ditawarkan oleh suatu operator angkutan udara, apakah menjadi
bahan masukan dalam memilih suatu maskapai penerbangan. Bagaimana dengan
penawaran pelayanan yang diberikan oleh suatu operator angkutan udara, kemudahan
fasilitas check in, ketepatan jadwal waktu, dll, apakah menjadi alasan dalam pemilihan
suatu operator angkutan udara.
Tabel 1.3 Alasan Pemilihan Maskapai Penerbangan
No.
Alasan Jumlah %
1 harga murah 168 28.00
2 pelayanan baik 108 18.00
3 tepat waktu 42 7.00
4 keamanan/keselamatan 37 6.17
5 jadwal/ jaringan banyak 36 6.00
6 kenyamanan 34 5.67
7 dipesankan kantor 28 4.67
8 kebiasaan 19 3.17
9 kepercayaan/ pengalaman 14 2.33
10 fasilitas 13 2.17
11 makanannya enak 4 0.67
12 Lainnya 116 19.33
Kemampuan masyarakat konsumen untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan
suatu jenis produk akan sangat berpengaruh pada waktu proses pengambilan keputusan
untuk menggunakan produk barang atau jasa yang bersangkutan. Kualitas maupun
kuantitas suatu informasi yang diterima oleh konsumen akan mempengaruhi persepsi
konsumen terhadap suatu produk tertentu, hal ini sesuai dengan prinsip optimal
information. Kondisi ini tentunya juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kemudahan
masyarakat untuk mengakases informasi yang benar mengenai produk tersebut. Dalam
kaitannya dengan perlindungan konsumen apakah iklan mengenai jasa penerbangan di
Indonesia merupakan salah satu sumber informasi penting bagi konsumen dalam memilih
suatu maskapai penerbangan. Pertanyaan selanjutnya adalahapakah iklan yang ditampilkan
tersebut dapat mewakili kondisi sebenarnya dari tingkat pelayanan yang diberikan oleh
maskapai penerbangan tersebut. Informasi yang salah akan dapat menyebabkan
konsumen melakukan pilihan-pilihan yang irrasional atau tidak tepat.
Untuk menentukan apakah penentuan suatu harga yang sangat rendah tersebut
merupakan tindakan untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya perlu dilihat
dari jangka waktunya. Perlu dilihat apakah rentang waktu penawaran penjualan ticket
dengan harga spesial tersebut merupakan bulan promosi yang merupakan salah satu
strategi bisnis ataukah penawaran tarif spesial tersebut benar-benar ditujukan untuk
mematikan kompetitor pada pasar yang sama. Semakin lama hal ini terjadi, semakin besar
adanya indikasi bahwa penjualan ticket pesawat dengan harga murah tersebut merupakan
strategi untuk mematikan kompetitornya.
Melihat kondisi ini, masyarakat yang berlaku sebagai customer (pengguna jasa)
dihadapkan beberapa pilihan. Masyarakat diminta untuk memilih apakah menggunakan
jasa penerbangan Garuda Indonesia yang menyediakan jasa full service, atau
menggunakan jasa penerbangan Lion Air yang menyediakan harga terjangkau namun
terkesan minim akan pelayanan yang sempurna. Kondisi seperti ini terbukti dari proses
pengambilan keputusan konsumen yang dijelaskan oleh Schiffman dan Kanuk (2010).
Beliau mendefinisikan suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau
lebih pilihan alternatif. Engel et al. (1994) menambahkan bahwa proses keputusan
pembelian ditentukan oleh tiga hal pokok, yaitu informasi, proses informasi, dan faktor-
faktor yang menentukan proses keputusan. Faktor yang menentukan keputusan pembelian
pada konsumen terdiri dari pengaruh lingkungan, perbedaan individu, dan proses psikologis
konsumen. Penulis membatasi persepsi risiko konsumen yang dipengaruhi oleh keputusan
pembelian konsumen ,karena berhubungan dengan evaluasi alternatif konsumen sebelum
melakukan pembelian.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kekuatan pasar (market share) dari
Garuda dibandingkan dengan pesaing usaha lain. Dalam melihat hal ini apakah akan
melihat pasar secara sempit yaitu hanya jalur penerbangan Jakarta-Surabaya ataukah
semua jalur penerbangan yang dilalui oleh Garuda. Dalam melihat apakah PT. Garuda
Indonesia mempunyai kedudukan monopoli atau memiliki posisi dominan dapat dilihat pada
parameter yang dipenuhi yaitu ada tidaknya pesaing yang berarti di pasar yang
bersangkutan, atau mempunyai posisi yang tertinggi dalam kaitannya dengan kemampuan
keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk
menyesuaikan pasokan. Meskipun pelaku usaha memiliki posisi pasar yang kuat tidak
dengan sendirinya melanggar ketentuan ini karena harus ada pembuktian bahwa
pemusatan kekuatan pasar tersebut mengakibatkan dikuasainya produksi atau pemasaran
sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan
umum.
PT. Garuda Indonesia, yang menjadi pelopor perusahaan penerbangan di Indonesia yang
tak terpisahkan dengan sejarah bangsa Indonesia. Perusahaan penerbangan yang telah
hadir sejak tahun 1949 ini telah mengantarkan presiden RI pertama yaitu Bapak Soekarno
untuk mengantarkan beliau untuk menjalankan tugas kenegaraannya. Maka dari itu,
sebagai salah satu perintis maskapai penerbangan di Indonesia, Garuda tetap bertahan
untuk menjaga eksistensi kwalitas nya tanpa menghiraukan panasnya perang tarif yang kini
tengah terjadi.
Saat ini Garuda Indonesia mengoperasikan 82 armada untuk melayani 33 rute domestik
dan 18 rute internasional termasuk Asia (Regional Asia Tenggara, Timur Tengah, China,
Jepang dan Korea Selatan), Australia serta Eropa (Belanda). Dengan banyaknya rute dan
maskapai yang disediakan tentu saja PT. Garuda Indonesia sudah mempersiapkan diri
untuk terus menjaga mutu dan kepercayaan masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, pengamat merasa tertarik strategi manajemen apakah yang
dimiliki oleh PT. Garuda Indonedia sehingga dapat terus bertahan menjadi maskapai
penerbangan yang berkualitas, membanggakan dan berprestasi di Indonesia. Walaupun
harus bersaing dengan maskapai lain yang menyediakan tarif yang murah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, yang menjadi pokok permasalahanm penelitian
ini adalah "Bagaimanakah strategi manajemen yang dilakukan oleh PT. Garuda Indonesia
untuk bertahan dengan adanya perang tarif yang dilakukan oleh maskapai penerbangan
pesaing lainnya?"
1.3 Batasan Masalah
Untuk menghindari terlalu luasnya cakupan masalah dalam pembahasan ini, maka
penelitian ini akan difokuskan pada dua maskapai penerbangan pembanding dan untuk
maskapai penerbangan lainnya tidak akan dibahas pada penelitian ini, sedangkan ruang
lingkup pembahasan penelitian akan difokuskan pada strategi manajemen "SWOT" yaitu,
strength, weakness, oportunity, threat
1.4 Tujuan Penelitian
Untuk mengkaji manajemen strategi SWOT yang dilaksanakan dalam strategi PT. Garuda
Indonesia menghadapai perang tarif oleh maskapai penerbangan.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Mahasiswa
Merupakan tugas akhir semester untuk memenuhi salah satu syarat tugas akhir di semeter
enam untuk menerapkan atau mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari selama
masa perkuliahan di semester enam.
1.5.2 Bagi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali
Untuk menambah referensi dan sebagai sumber informasi serta pembelajaran untuk
penelitian selanjutnya.
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Obyek dan Lokasi Penelitian
1.6.1.1 Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini difokuskan pada manajemen strategi yang dilakukan oleh PT. Garuda
Indonesia.
1.6.1.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Departemen Kantor Depan dan Departemen Penjualan dan
Pemasaran PT. Garuda Indonesia yang berlokasi di :
Sanur Beach Hotel, level 2, Jl. Danau Tamblingan, Sanur
Phone: (62-361) 288-011
Fax: (62-361) 287-915
Website: www.garuda-indonesia.com
1.6.2 Jenis dan Sumber Data
1.6.2.1 Jenis Data
1.6.2.1.1 Data Kuantitatif
Data Kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat dihitung
dengan satuan tertentu seperti data target dan realisasi tingkat penjualan, data kontribusi
dan saluran distribusi, dan data price berdasarkan competitor.
1.6.2.1.2 Data Kualitatif
Data Kualitatif adalah data yang dituliskan dalam bentuk paparan data atau penjelasan
mengenai informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti seperti halnya
manajemen strategi yang dilakukan oleh PT. Garuda Indonesia.
1.6.2.2 Sumber Data
1.6.2.2.1 Data Primer
Data primer adalah data ang diperoleh langsung oleh penulis melalui hasil wawancara
mengenai manajemen strategi yang telah dilakukan oleh pihak PT. Garuda Indonesia
dalam usaha mempertahankan eksistensi dan persaingan di tengah-tengah perang tarif
yang terjadi di di pasar penerbangan.
1.6.2.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang tidak diperoleh dan diolah secara langsung melainkan hasil
data olahan suatu bahan usaha riset dan atau lembaga lain misalnya data target dan
realisasi tingkat penjualan, data kontribusi dan saluran distribusi, dan data price
berdasarkan competitor di PT. Garuda Indonesia.
1.6.3 Teknik Pengumpulan
1.6.3.1 Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi yaitu suatu kegiatan pengumpulan data yang dilakukan terhadap
beragam bahan tertulis yang berupa data melalui catatan-catatan dan dokumen-dokumen
yang berhubungan dengan masalah yang diteliti (Moleong 2007:5). Data yang diperoleh
berupa target dan realisasi tingkat penjualan, data kontribusi dan saluran distribusi, dan
data price berdasarkan competitor di PT. Garuda Indonesia.
1.6.4 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisi data deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan
atau menerangkan data yang telah berkumpul secara logis dan disertai dengan
argumentasi untuk dapat ditarik suatu kesimpulan. Analisisi ini digunakan sebagai
pemecahan masalah seperti halnya manajemen strategi yang digunakan oleh PT. Garuda
Indonesia untuk bertahan di tengah persaingan perang tarif yang terjadi di perusahaan
maskapai di Indonesia. Teori SWOT yang akan digunakan yaitu Menurut David (Fred R.
David, 2008,8), Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area fungsional
bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya dalam semua area bisnis.
Kekuatan ataupun kelemahan internal, digabungkan dengan peluang/ancaman dari
eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan
strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan internal
dan mengatasikelemahan. Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David,Fred
R.,2005:47) yaitu:
Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang
berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani
oleh perusahaan.. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan
kompetitif bagi perusahaan di pasar.
Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan
kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut
daoat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan
pemasaran dapat meruoakan sumber dari kelemahan perusahaan.
Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan.
Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti
perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli
atau pemasokk merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.
Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan
perusahaan..Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang
diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang
direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Manajemen
2.1.1 Pengertian Manajemen
Pada umumnya, sebuah organisasi bisnis tentunya membutuhkan manajemen. Baik
dipandang sebagai disiplin ilmu yang mengajarkan tentang proses untuk meperoleh tujuan
organisasi melalui upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi.
Manajemen dirasa amat penting peranan nya karena dapat dianggap sebagai tuntunan
atau landasan sebuah perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya dalam sebuah
pencapaian akhir yang diharapkan.
Menurut G.R Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan
bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan
organisasional atau maksud yang nyata. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ricky
W. Griffin: Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara
efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan,
sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir,
dan sesuai dengan jadwal.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan rangkaian
proses yang akan menghasilkan tujuan akhir secara terorganisir , tersusun secara rapi,
terarah dan dapat dijadikan panduan maupun acuan.
2.2 Strategi
2.2.1 Pengertian Strategi
Dalam menjalankan suatu perusahaan dibutuhkan suatu pelaku bisnis yang berkompeten
dalam melakukan suatu proses bisnis. Karena nantinya si pelaku bisnis ini akan
memberikan banyak masukan dan memberikan banyak pemikiran tentang bagaimana cara
agar perusahaan tempat mereka bekerja ini dapat berjalan dengan baik. Suatu pemikiran
tersebut sering dianggap sebagai strategi bisnis suatu perusahaan, yaitu bagaimana agar
perusahaan itu tetap berjalan lancerbagaimana menghadapi segala masalah internal
maupun masalah dari eksternal termasuk bagaimana cara bertahan dalam menghadapi
persaingan. Strategi adalah semua keputusan dan tindakan untuk berubah dan mencapai
kondisi yang diinginkan perusahaan di masa depan. Hal ini adalah sebagai respon atas
perubahan lingkungan bisnis.
Menurut Dick dan Carey (2005:7) Strategi pembelajaran adalah komponen-komponen dari
suatu set materi termasuk aktivitas sebelum pembelajaran, dan partisipasi peserta didik
yang merupakan prosedur pembelajaran yang digunakan kegiatan selanjutnya.
Disamping itu, menurut Rangkuti (2003:3) strategi adalah alat untuk mencapai tujuan jangka
panjang dari suatu perusahaan, serta pendayagunaan dan alokasi semua sumber daya
yang penting untuk mencapai tujuan tersebut. Pendapat senada juga dikemukakan oleh
Hayden (1997:306) bahwa strategi adalah suatu pendekatan pemakaian sumber daya di
dalam kendala iklim kompetitif agar seperangkat sasaran dapat dicapai. Sedangkan
pendapat berbeda dikemukakan oleh Gluek dan Jauch (1991:9) bahwa
strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan
keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan yang dirancang untuk
memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan itu dapat dicapai melalui pelaksanaan
yang tepat oleh organisasi. Dari beberapa difinisi di atas dapat disimpulkan bahwa strategi
merupakan alat yang digunakan oleh perusahaan untuk mencapai keunggulan dalam
persaingan.
2.2.2 Manajemen Strategi
Dalam menghadapi persaingan dari masa ke masa, tentunya PT. Garuda Indonesia
memiliki manajemen strategi yang tepat. Menurut Nawawi adalah perencanaan berskala
besar (disebut perencanaan strategi) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang
jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan pimpinan tertinggi (keputusan yang
bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif
(disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operaional untuk
menghasilkan barang dan/atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan
pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut tujuan strategis) dan berbagai sasaran (tujuan
operasional) organsasi. Lain hal nya menurut J. David Hunger dan Thomas L.
Wheelen adalah "Strategic Management is that a set of managerial decisions and actions
that determines the long-run performance of a corporation", dan jika diterjemahkan secara
bebas maka Manajemen strategis adalahserangkaian keputusan dan tindakan manajerial
yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.Lain hal nya menurut Gregory
G Dees dan Alex Miller adalahsuatu proses kombinasi antara tiga aktivitas yaitu analisis
strategi, perumusan strategi dan implentasi strategi (Djaslim Saladin, 2003). Demikian juga
menurut Pearch dan Robinson (1997) dikatakan bahwa manajemen
stratejik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan
pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-
sasaran organisasi.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa manajemen strategis merupakan proses atau
rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh,
disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh pimpinan dan
diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuan.
2.3 SWOT
2.3.1 Analisis SWOT
Analisis SWOT (Strength, Weakness, Oportunity dan Threat) adalah salah satu bagian dari
manajemen strategi yang seringkali diterapkan oleh perusahaan. Hal ini dirasa penting
karena, perusahaan dapat lebih dulu mengetahui keunggulan kompetitif yang dimiliki,
kelemahan yang dimiliki, peluang yang ada untuk progres perusahaan maupun ancaman
yang akan datang dari dalam maupun dari luar perusahaan.
Metode analisa SWOT bisa dianggap sebagai metode analisa yang paling dasar, yang
berguna untuk melihat suatu topik atau permasalahan dari empat sisi yang berbeda. Hasil
analisa biasanya adalah arahan/rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan
menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi kekurangan dan
menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar, analisa SWOT akan membantu
perusahaan untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidak terlihat oleh perusahaan itu
sendiri.Menurut A. Wijaya Tunggal (2001:74-75), "SWOT adalah Akronim untuk kekuatan
(strenghts) dan kelemahan (weakness) internal suatu perusahaan dan peluang
(opportunities)dan ancaman (threats) lingkungan yang dihadapi perusahaan". Analisa
SWOT merupakan identifikasi yang sistematis dari faktor-faktor ini dan strategi yang
menggambarkan pedoman yang terkait antara mereka. Analisa SWOT dapat definisikan
sebagai berikut:
1. Peluang (opportunities)
Suatu peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan
perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama adalah salah satu dari peluang.
Identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dan
keadaan bersaing, peraturan-peraturan dalam perubahan teknologi, serta hubungan
pembeli dan pemasok yang dapat diperbaiki dapat menunjukkan peluang bagi perusahaan.
2. Ancaman (threats)
Suatu ancaman adalah situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan suatu
perusahaan. Ancaman adalah suatu rintangan-rintangan utama bagi posisi perusahaan
sekarang atau yang diinginkan dari perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan
pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan
teknologi dan peraturan yang direfisi atau peraturan baru dapat merupakan ancaman bagi
perusahaan.
3. Kekuatan (strenghts)
adalah sumberdaya, keterampilan dan keunggulan lain yang relatif terhadap pesaing dan
kekuatan dari pasar suatu perusahaan untuk melayani.
4. Kelemahan (weaknesses)
Kelemahan merupakan keterbatasan atau kekurangan dalam sumberdaya, ketrampilan dan
kemauan yang secara serius menghalangi kinerja suatu perusahaan.
Selanjutnya, Daft (2003:314) menjelaskan bahwa Analisis SWOT merupakan analisis
terhadap empat elemen yang terdiri dari:
a. Kekuatan (Strenght)
Merupakan karakteristik positif internal yang dapat dieksploitasi organisasi unruk meraih
sasaran kinerja strategi.
b. Kelemahan (Weakness)
Merupakan karakteristik internal yang dapat menghalagi atau melemahkan kinerja
organisasi.
c. Peluang (Opportunity)
Merupakan karakteristik dari lingkungan eksternal yang memiliki potensi untuk membantu
organisasi meraih atau melampaui sasaran strategi nya.
d. Ancaman (Treath)
Merupakan karakteristik dari lingkungan eksternal yang dapat mencegah organisasi meraih
sasaran strategi yang telah ditetapkan.
Selanjutnya Tripomo dan Udan (2005:118) mendefinisikan analisis
SWOT adalah"Penilaian/assessment terhadap indentifikasi situasi untuk menemukan
apakah suatu kondisi dikatakan sebagai kekuatan, kelemahan, peluang, atau ancaman
yang dapat di uraikan sebagai berikut:
a. Kekuatan (Strenght) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompentesi
/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk menangani
peluang dan ancaman.
b. Kelemahan (Weakness) adalah situasi internal organisasi yang berupa
kompentesi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk
menagani kesempatan dan ancaman.
c. Peluang (Opportunity) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi
menguntungkan. Organisasi-organisasi yang berada dalam suatu industri yang sama
secara umum akan merasa diuntungkan bila dihadapkan pada kondisi eksternal tersebut.
d. Ancaman (Thraet) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menimbulkan
kesulitan. Organisasi-organisasi yang berada dalam satu industri yang sama secara umum
akan merasa dirugikan /dipersulit/terancam bila di hadapkan pada kondisi eksternal
tersebut.
2.3.2 Tujuan Analisis SWOT
Tujuan utama perencanaan strategi adalah untuk memperoleh keunggulan bersaing dan
memiliki produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dan dukungan yang optimal dari
sumber daya yang ada.Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian
terhadap kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta peluang dan ancaman
lingkungan eksternalnya.
Proses pengambilan keputusan strategi selau berkaitan dengan pengambilan misi, tujuan,
strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi harus
menganalisis faktor-faktor perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman)
dalam kondisi yang ada saat ini.
Faktor eksternal adalah faktor lingkungan luar perusahaan baik langsung maupun tidak
langsung. Faktor eksternal ini dapat berdampak positif ataupun negatif bagi perusahaan,
artinya ada yang memberikan peluang dan sebaliknya ada yang memberikan ancaman
HYPERLINK "http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5568159809448076158" . Faktor
internal adalah lingkungan yang berada dari dalam perusahan itu sendiri. Faktor inilah yang
menunjukkan adanya kekuatan atau kelemahan perusahaan itu sendiri, baik yang sudah
lampau, kini maupun yang akan datang.
2.3.3 Manfaat dan Fungsi Analisis SWOT:
Manfaat Analisis SWOT
Analisis SWOT bermanfaat apabila telah secara jelas ditentukan dalam bisnis apa
perusahaan beroprasi, dan arah mana perusahaan menuju ke masa depan serta ukuran
apa saja yang digunakan untuk menilai keberhasilan manajemen dalam menjalankan
misinya dan mewujudkan visinya. Manfaat dari analisis SWOT adalah merupakan strategi
bagi para stakeholder untuk menetapkan sarana-sarana saat ini atau kedepan terhadap
kualitas internal maupun eksternal.
Fungsi Analisis SWOT
Ketika suatu perusahan mengorbitkan suatu produk tentunya pasti telah mengalami proses
penganalisaan terlebih dahulu oleh tim teknis corporate plan. Sebagian dari pekerjaan
perencanaan strategi terfokus kepada apakah perusahaan mempunyai sumber daya dan
kapabilitas memadai untuk menjalankan misinya dan mewujudkan visinya. Pengenalan
akan kekuatan yang dimiliki akan membantu perusahaan untuk tetap menaruh perhatian
dan melihat peluang-peluang baru. Sedangkan penilaian yang jujur terhadap kelemahan-
kelemahan yang ada akan memberikan bobot realisme pada rencana-rencana yang akan
dibuat perusahaan.
Maka, fungsi dari analisis SWOT adalah untuk menganalisa mengenai kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki perusahaan yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi
internal perusahaan, serta analisa mengenai peluang dan ancaman yang dihadapi
perusahaan yang dilakukan melalui telaah terhadap kondisi eksternal perusahaan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tinjauan Umum Perusahaan
3.1.1 Sejarah Perusahaan
Garuda Indonesia adalah sebuah perusahaan milik negara Republik Indonesia. Garuda
Indonesia berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Selain berpusat di Jakarta, Garuda
Indonesia juga memiliki kantor perwakilan yang tersebar di hampir seluruh kota besar di
Indonesia dan juga kota – kota di luar negeri.
Tepat pada tanggal 26 Januari 1949 – pesawat RI-001 Seulawah diterbangkan dari
Calcutta, India menuju Rangon, ibukota Burma sebagai penerbangan niaga. Untuk
mengabadikan dan mengenang misi komersial yang dilaksanakan oleh Seulawah tersebut,
kemudian peristiwa itu diperingati sebagai hari lahirnya Garuda Indonesia, yang ketika itu
bernama Indonesian Airways, maskapai penerbangan komersial pertama yang mengudara
membawa bendera Republik Indonesia.
Pada tanggal 1 Maret 1950 Garuda Indonesia baru dapat beroperasi dengan sejumlah
pesawat yang diterima pemerintah Republik Indonesia dari perusahaan penerbangan KLM.
Armada Garuda Indonesia yang pertama untuk melayani jaringan penerbangan di dalam
negeri terdiri dari 20 pesawat DC-3/C-47 dan 8 17 pesawat jenis PBY – Catalina Amphibi.
Untuk melebarkan sayapnya, Garuda kemudian mengadakan pembaruan armadanya untuk
melayani penerbangannya. Jaringan penerbangan Garuda Indonesia diperluas meliputi
seluruh wilayah Republik Indonesia kecuali Irian Jaya sedangkan ke luar negeri
menjangkau kota – kota seperti Singapura, Bangkok dan Manila.
Garuda semakin berkembang dan seluruh pesawatnya kemudian terdiri dari pesawat
bermesin jet. Kekuatan armadanya berturut – turut ditambah dengan tipe – tipe pesawat
seperti DC-10, MD-11, Boeing 747, 737, Airbus 300 dan Airbus 330. Garuda Indonesia saat
ini tercatat sebagai perusahaan penerbangan terbesar ke tiga puluh di dunia. Jumlah
karyawan Garuda Indonesia saat ini mencapai 6.424 orang. Sedangkan jumlah armadanya
terdiri dari 49 pesawat yang terdiri dari : 3 pesawat Boeing 747-400, 6 pesawat Airbus
A330-300, 40 pesawat Boeing 737, seperti seri 400 (19), seri 300 (14), seri 500 (5) dan seri
800 NG (2). Garuda Citilink beroperasi dengan Boeing 737 seri 300.
Garuda bukan hanya sebuah perusahaan penerbangan kecil tetapi merupakan sebuah
perusahaan yang besar dan juga memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak dalam
bisnis atau usaha pendukung bisnis penerbangan salah satunya seperti PT. GMF Aero Asia
(merupakan pusat pelayanan perawatan pesawat terbang). 18 PT. Garuda Maintenance
Facility (GMF) merupakan pusat perawatan pesawat Garuda Indonesia. Fasilitas perawatan
pesawat ini dibangun di area seluas 115 Ha di kawasan Bandara Soekarno – Hatta
Cengkareng. GMF beroperasi 24 jam setiap harinya dengan mempekerjakan kurang lebih
1.600 karyawan.
3.1.2 Visi dan Misi Perusahaan
Sebagai perusahaan yang besar, Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF AA)
memiliki visi dan misi dalam menjalankan organisasi perusahaannya. Visi dan misi
tersebut adalah:
A. Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan global dalam jasa Maintenance, Repair, dan Overhaul pesawat
terbang, komponen, mesin dan produk pendukungnya secara kompetitif dalam quality, cost,
dan delivery.
B. Misi Perusahaan
Misi yang diemban perusahaan ini meliputi tiga buah hal, yaitu :
1. Bisnis, yaitu dengan meningkatkan profit dan pendapatan usaha serta dapat tumbuh
berkembang.
2. Servis, yaitu dapat memberikan solusi dengan lengkap kepada customer melalui one
stop service. 19
3. Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu sebagai wahana aktualisasi profesionalisasi.
3.1.3 Struktur Organisasi
Setelah status GMF berubah menjadi PT. GMF Aero Asia, maka secara otomatis struktur
organisasi dan manajemen yang semula menjadi satu bagian dari PT Garuda Indonesia
menjadi terpisah dan berdiri sendiri. Struktur Organisasi PT. GMF Aero Asia:

GAMBAR 1
Sumber : PT. GARUDA INDONESIA
Saat ini Dewan Direksi GMF beranggotakan empat orang, yang terdiri dari satu orang
Direktur Utama dan Tiga orang Direktur yang membidangi masingmasing fungsi. Tugas
pokok Direksi adalah :
1. Melaksanakan manajemen perusahaan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan dan
bertindak selaku pimpinan dalam perusahaan.
2. Memelihara dan mengurus kekayaan perusahaan sebelas orang Vice President. Dimana
masingmasing VP tersebut menangani masing-masing unit, yaitu :
1. Engine Maintenance (TR), unit ini bertanggung jawab atas jasa perawatan mesin.
2. Base Maintenance (TB), unit ini yang bertanggung jawab dalam perawatan pesawat yang
meliputi berbagai layanan, mulai dari perawatan rutin menengah hingga overhaul,
pelaksanaan perbaikan struktur dan sistem pesawat yang ringan hingga perawatan besar,
termasuk modifikasinya.
3. Component Maintenance (TC), mempunyai tugdas dan wewenang untuk memperbaiki
dan merawat komponen pesawat agasr selalu layak pakai.
4. Line Maintenance (TL), unit yang mempunyai tugas dalam jasa perawatan ringan
pesawat seperti perawatan sebelum terbang (Pre Flight Check), perawatan harian (Daily
Check) dan Transit Check.
5. Engineering Service (TE), mempunyai tugas dalam rekayasa perawatan pesawat terbang
seperti standar perawatan modifikasi, program pengendalian kehandalan, perpustakaan &
distribusi dokumentasi teknik dan pelayanan jasa tenaga ahli.
6. Trade & Asset Management (TM) unit ini bertugas dalam mengelola asset, mengelola
pergudangan (logistic), penjualan asset terutama yang tidak terpakai dan mengenai eksport
maupun import
7. Internal Audit & Control (TI), bertugas dalam pengendalian program kerja, masalah
angaran dan internal audit.
8. Quality Assurance (TQ), bertanggung jawab atas standard an kualitas produk pekerjaan
perawatan pesawat serta pengembangannya.
9. Corporate Strategic & Development (TS), bertugas untuk menangani masalah fasilitas
perusahaan, sumber daya manusia, mengembangkan & memelihara sistem informasi
manajemen, dan menjaga hubungan komunikasi antar karyawan, manajemen dan
pemegang saham di perusahaan sesuai dengan tujuan perusahaan.
10. Corporate Finance (TA), meliputi tanggung jawab atas aktivitas keuangan, administrasi
dan control arus kas.
11. Business Coorporate & Development (TP), mempunyai tugas dan wewenang mencari
pelanggan dan memasarkan produk-produk PT. GMF Aero Asia ke pasar domestic maupun
internasional dan juga menangani masalah pengembangan bisnis.
3.2 Keunggulan Bersaing
Menurut Porter dalam Purnama dan Setiawan (2003), keunggulan
bersaing adalahkemampuan suatu perusahaan untuk meraih keuntungan ekonomis di atas
laba yang mampu diraih oleh pesaing di pasar dalam industri yang sama. Perusahaan yang
memiliki keunggulan kompetitif senantiasa memiliki kemampuan dalam memahamui
perubahan strukturpasar dan mampu memilih strategi pemasaran yang efektif. Berdasarkan
studi yang dilakukan oleh Porter, beberapa cara untuk memperoleh keunggulan bersaing
antara lain dengan menawarkan produk atau jasa dengan harga minimum (cost leadership),
menawarkan produk atau jasa dengan yang memiliki keunikan dibanding pesaingnya
(differntiation), atau memfokuskan diri pada segmen tertentu (focus).
Pemilihan strategi yang tepat oleh suatu perusahaan akan bergantung kepada analisis
lingkungan usaha untuk menentukan peluang dan ancaman yang bertujuan untuk
memperoleh keunggulan.bersaing (Competity Advantage).
Hal itu sangat dipengaruhi oleh sistem informasi yang dimiliki oleh perusahaan. Beberapa
strategi yang dapat menujang keunggulan perusahaan dalam persaingan (Purnama dan
Setiawan, 2003):
a. Kinerja Optimum
Agar perusahaan memiliki keunggulan dari para pesaingnya, maka perusahaan harus
mampu memproduksi barang atau jasa yang sejenis dengan barang atau jasa yang
diproduksi oleh perusahaan pesaing dengan harga yang lebih rendah.
b. Adaptif
Agar perusahaan tetap mampu survive dizaman yang selalu mengalami perubahan, maka
hal yang harus diperhatikan adalah adaptif. Perubahan menuntut perusahaan untuk
menyesuaikan diri agar keberadaannya tetap diakui oleh masyarakat. Agar perusahaan
selalu mampu malakukan adaptif terhadap perubahan, maka perusahaan memerlukan
informasi yang lengkap mengenai yang ada disekitarnya.
c. Continuous Improvement
Merupakan suatu strategi untuk memperbaiki kualitas barang atau jasa yang dihasilkan
perusahaan secara terus menerus. Strategi ini merupakan salah satu faktor yang
mendukung keunggulan dalam persaingan.
d. Implementasi Sistem
Pemanfaatan teknologi informasi menyebabkan perubahann yang sangat pesat dalam
persaingan, pengelolaan sumberdaya, produksi dan sebagainya. Manajemen dapat dengan
mudah memperolah informasi yang diperlukan untuk menjalankan perusahaannya. Hal ini
juga mempengaruhi perilaku konsumen, dalam waktu yang relaif singkat konsumen dapat
memperoleh informasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan mengenai bagai
mana harus mengalokasikan dananya.
3.3 Analisis SWOT Garuda Indonesia
Analisis SWOT akan mengdentifikasi berbagai faktor yang akan mempengaruhi potensi-
potensi yang ada disebuah perusahaan. Potensi tersebut bisa berfiat baik maupun buruk.
Alangkah baiknya, jika hal itu buruk dapat diantisipiasi namun juga hal nya jika baik dapat
berpotensi sebagai strategi untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Sama hal nya
mengenai analisis SWOT yang dilakukan oleh Garuda Indonesia, berikut adalah faktor-faktor
analisis Garuda Indonesia:
A. Faktor Internal Perusahaan
1. Kekuatan (Strengths):
• Maskapai penerbangan terbesar di Indonesia;
• Garuda saat ini mengoperasikan 89 pesawat yang terdiri dari 3 pesawat jenis Boeing 747-
400, 6 pesawat jenis Airbus 330-300, 5 pesawat jenis Airbus 330-200 dan 33 pesawat jenis
B737 Classic (seri 300, 400, 500) dan 42 pesawat B737-800 NG;
• Garuda mempunyai 36 rute penerbangan domestik dan 26 rute internasional hingga tahun
2010;
• Konsep layanan yang selalu menempatkan pelanggan sebagai fokus utama yang
didasarkan keramahtamahan dan keunikan Indonesia yang disebut dengan "Garuda
Indonesia Experience" yang didasarkan pada 5 senses yaitu sight, sound, smell, taste, and
touch, menyebabkan Garuda Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan
dengan maskapai penerbangan lain;
• Adanya layanan "Immigration on Board" yang merupakan inovasi Garuda dan merupakan
satu-satunya di dunia, yaitu layanan pemberian visa di atas pesawat;
• Memiliki teknologi informasi yang mutakhir dalam menjalankan bisnis sehingga
menempatkan Garuda Indonesia sebagai maskapai penerbangan dengan TI tercanggih di
Indonesia;
• Garuda Indonesia banyak melakukan kegiatan CSR seperti program kemitraan dan bina
lingkungan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab kepada masyarakat;
• Garuda Indonesia termasuk dalam kategori baik untuk hal tata kelola perusahaan;
• Garuda Indonesia telah memiliki brand yang kuat dan telah diakui di pasar domestik;
2. Kelemahan (Weakness):
• Adanya faktor teknis dan flight operations seperti keterbatasan jumlah cockpit dan cabin
crew sehingga menyebabkan keterlambatan penerbangan;
• Tingginya tingkat hutang lancar yang diakibatkan adanya peningkatan dalam jumlah
kewajiban pada akun-akun lancar seperti hutang usaha dan biaya yang masih harus
dibayar;
• Garuda sangat bergantung kepada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnis
sehingga apabila terjadi kesalahan sistem, proses bisnis perusahaan akan terganggu;
• Perseroan memiliki atau tetap memiliki defisit pada modal kerja pada masa yang datang;
Biaya operasional yang tinggi menyebabkan harga tiket pesawat lebih tinggi dibandingkan
dengan maskapai penerbangan lainnya;
B. Faktor Eksternal Perusahaan
1. Peluang (Opportunities):
• Telah dikeluarkannya Garuda Indonesia dari daftar perusahaan penerbangan yang
dilarang terbang di kawasan Eropa, yang menyebabkan semakin terbukanya kesempatan
untuk mewujudkan pengembangan jaringan penerbangan internasional jarak jauh;
• Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan
yang pesat. Karena pertumbuhan penumpang transportasi udara di Indonesia tahun 2010
mencapai 22,39% dibandingkan dengan pertumbuhan dunia yang hanya sebesar 8,20%;
• Bergabungnya Garuda sebagai anggota aliansi global maskapai penerbangan yang
bernama SkyTeam Global Airline Alliance.
• Berkembangnya secara cepat industri penerbangan Asia Pasifik
2. Ancaman (Threats)
• Adanya faktor fasilitas bandara merupakan faktor yang tidak dapat dikontrol yang
menghambat ketepatan waktu penerbangan (On Time Performance/OTP), seperti landasan
pacu/runway yang terbatas;
• Sumber utama pasokan bahan bakar pesawat Garuda Indonesia berasal dari Pertamina,
sehingga harga bahan bakar pesawat, persediaan bahan bakar sangat tergantung dengan
Pertamina.
• Adanya bencana alam seperti letusan gunung merapi, wabah penyakit dsb yang dapat
mengakibatkan penurunan permintaan;
• Adanya peningkatan kapasitas, penurunan harga tiket dan semakin banyaknya rute
penerbangan baru yang dibuka oleh maskapai penerbangan lain;
• Maskapai asing yang melakukan penetrasi pasar ke Indonesia untuk mengimbangi
penurunan penumpang internasional akibat adanya krisis global;
Penilaian atau Skor Analisis SWOT PT. Garuda Indonesia
Faktor-Faktor Internal Utama Bobot Peringkat Skor Bobot
Kekuatan
Maskapai terbesar di Indonesia 0.20 4 0.80
Garuda saat ini mengoperasikan 89 pesawat 0.10 4 0.40
Garuda mempunyai 36 rute penerbangan domestik dan 26 rute internasional hingga tahun
2010 0.07 4 0.28
Garuda Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan maskapai
penerbangan lain 0.05 4 0.20
Hadirnya produk baru Citilink sebagai gagasan baru dari Garuda, untuk memenuhi
permintaan pasar terhadap produk akan harga tiket yang rendah 0.05 4 0.20
Adanya layanan "Immigration on Board", yaitu layanan pemberian visa di atas pesawat 0.05
4 0.20
Pangsa pasar Garuda Indonesia di pasar Internasional mencapai 23.2% 0.05 4 0.20
Memiliki teknologi informasi yang mutakhir 0.04 3 0.12
Garuda Indonesia banyak melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responbility). 0.04 3
0.12
Garuda Indonesia termasuk dalam kategori baik untuk hal tata kelola perusahaan 0.05 3
0.15
Garuda Indonesia telah memiliki brand yang kuat dan telah diakui di pasar domestik 0.07 4
0.28

Kelemahan
Adanya faktor teknis dan flight operations seperti keterbatasan jumlahcockpit dan cabin
crew sehingga menyebabkan keterlambatan penerbangan 0.05 3 0.15
Tingginya tingkat hutang lancar 0.02 3 0.06
Garuda sangat bergantung kepada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnis sehingga
apabila terjadi kesalahan sistem, proses bisnis perusahaan akan terganggu 0.04 3 0.12
Perseroan memiliki atau tetap memiliki defisit pada modal kerja pada masa yang akan
datang 0.02 2 0.04
Biaya operasional yang tinggi menyebabkan harga tiket pesawat lebih tinggi dibandingkan
dengan maskapai penerbangan lainnya 0.10 2 0.20
Total 1 3.52
Tabel Matriks Evaluasi Faktor Eksternal untuk Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesia
Faktor-Faktor Eksternal Utama Bobot Peringkat Skor Bobot
Peluang
Telah dikeluarkannya Garuda Indonesia dari daftar perusahaan penerbangan yang dilarang
terbang di kawasan Eropa, yang menyebabkan semakin terbukanya kesempatan untuk
mewujudkan pengembangan jaringan penerbangan internasional jarak jauh 0.08 3 0.24
Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan
yang pesat 0.10 4 0.40
Berkembangnya secara cepat industri penerbangan Asia Pasifik 0.15 4 0.60
Pertumbuhan penumpang transportasi udara di Indonesia tahun 2010 mencapai 22,39%
0.10 4 0.40
Bergabungnya Garuda sebagai anggota aliansi global maskapai penerbangan yang
bernama SkyTeam Global Airline Alliance 0.06 3 0.18
Ancaman
Adanya faktor fasilitas bandara merupakan faktor yang tidak dapat dikontrol yang
menghambat ketepatan waktu penerbangan (On TimePerformance/OTP), seperti landasan
pacu/runway yang terbatas 0.05 4 0.20
Sumber utama pasokan bahan bakar pesawat Garuda Indonesia berasal dari Pertamina,
sehingga harga bahan bakar pesawat, persediaan bahan bakar sangat tergantung dengan
Pertamina. 0.05 4 0.20
Adanya krisis global 0.07 4 0.28
Maskapai asing yang melakukan penetrasi pasar ke Indonesia 0.04 2 0.08
Adanya peningkatan kapasitas, penurunan harga tiket dan semakin banyaknya rute
penerbangan baru yang dibuka oleh maskapai penerbangan lain 0.10 3 0.30
Adanya bencana alam seperti letusan gunung merapi, wabah penyakit 0.04 3 0.12
Biaya operasional yang tinggi menyebabkan harga tiket pesawat lebih tinggi dibandingkan
dengan maskapai penerbangan lainnya 0.10 3 0.30
Total 1 3.30
Kekuatan Garuda Indonesia
Setelah mengetahui tingkat persaingan yang dihadapi oleh industri penerbangan maka
penulis menganalisis strategi-strategi yang dilakukan oleh PT. Garuda Indonesia
(PERSERO), Tbk dalam menghadapi kekuatan industri. Setelah mengevaluasi
masingmasing elemen dari kekuatan industri dilakukan kesimpulan apakah PT. Garuda
Indonesia (PERSERO), Tbk mampu menghadapi persaingan diantara perusahaan saingan
dan menilai perusahaan Garuda apakah baik untuk pilihan investasi atau tidak
1. Persaingan antar perusahaan saingan
a. Maskapai penerbangan internasional,
Garuda bersaing dengan maskapai yang berbeda pada setiap rute internasional yang
dilayani, seperti di Asia, antara lain: Japan Airlines, Korean Air, China Southern Airlines,
Singapore Airlines, Malaysia Airlines dan Thai Airways untuk rute-rute dari dan ke Jepang,
Korea, China, Singapura, Malaysia dan Thailand. Pada pasar Australia, Garuda bersaing
dengan Qantas dan Jetstar, pada pasar Timur Tengah, bersaing dengan Saudi Airlines,
Emirates, dan Qatar Airways, sedangkan untuk pasar Eropa bersaing dengan KLM,
Singapore Airlines, dan Emirates.
Kekuatan yang timbul dari perusahaan persaing tersebut dibandingkan dengan perusahaan
Garuda ialah:
• Perusahaan penerbangan pesaing internasional tersebut memiliki pengalaman
operasional yang cukup lama, memiliki sumber keuangan dan teknologi yang lebih baik,
serta pengakuan brand yang lebih baik.
b. Maskapai penerbangan domestik
Untuk rute domestik, Garuda merupakan satu-satunya maskapai FSC (Full Service Carrier)
yang memberikan layanan maksimum dengan tarif yang juga premium dengan sasaran
para pebisnis sehingga Garuda memiliki pangsa pasar tersendiri. Sedangkan untuk segmen
budget traveler, Garuda bersaing dengan maskapai jenis LCC (Low Cost Carrier) seperti
Lion Air, Air Asia, Sriwijaya Air dan sebagainya yang menawarkan harga dibawah Garuda
dengan pelayanan berstandard medium dan minimum.
c. Jasa kargo udara
Garuda bersaing dengan perusahaan layanan kargo udara yang terintegrasi seperti DHL
dan UPS yang memiliki ground transport sendiri. Garuda juga bersaing dengan Singapore
Airlines, Malaysia Airlines, Cathay Pasific, Korean Air dan China Airlines yang
mengoperasikan armada yang lebih besar dengan pesawat berbadan lebar dibandingkan
dengan Garuda yang memiliki kapasitas kargo yang terbatas.
Potensi Masuknya Pesaing Baru
Ketika syarat pendirian perusahaan penerbangan mudah dilakukan yang mengakibatkan
mudahnya masuknya perusahaan ke dalam maskapai penerbangan, maka pemilik
perusahaan tersebut dengan mudahnya menutup perusahaan dan kembali membuka
usahanya dengan nama baru ketika perusahaan mereka mengalami kemunduran Tetapi
dengan diperketatnya persyaratan pendirian maskapai penerbangan baru yang tercantum
dalam Undang-Undang Penerbangan No.1 Tahun 2009, maka potensi masuknya
perusahaan penerbangan baru yang juga dapat menjadi pesaing baru Garuda
kemungkinan sangat kecil.
Pada pertengahan tahun 2006 dari 11 kandidat perusahaan penerbangan yang
mengajukan permohonan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) baik penerbangan
berjadwal maupun penerbangan carter, ada 5 kandidat yang tidak dapat memenuhi kriteria
yang disyaratkan sehingga 5 kandidat tersebut dengan sendirinya mengundurkan diri dalam
mendirikan perusahaan penerbangan. Perusahaan baru yang masuk sebagai maskapai
penerbangan baru tersebut ialah, Jatayu Airlines, Life Air, Love Air Services, PT Firefly
Indonesia Berjaya, PT Aviastar Mandiri, dan Martabuana Abadi. Dengan sulitnya hambatan
perusahaan maskapai baru ke industri penerbangan tersebut maka semakin kecil ancaman
yang akan dihadapi oleh PT.Garuda Indonesia, Tbk.
Strategi Menghadapi Kekuatan Industri
Kekuatan yang ditimbulkan dari industri penerbangan cenderung tinggi. Semakin tingginya
kekuatan dari industri tersebut maka semakin tinggi pula persaingan yang harus dihadapi
oleh PT. Garuda Indonesia (PERSERO), Tbk. Untuk menghadapi persaingan tersebut dan
menjaga supayaperusahaan Garuda tetap menjadi perusahaan penerbangan terbesar di
Indonesia maka perusahaaan Garuda melakukan strategi-strategi kompetitif dengan tujuan
dapat melakukan sesuatu yang lebih baik dari pesaing.
Selanjutnya penulis mengidentifikasikan strategi-strategi yang dilakukan Garuda dalam
menghadapi kekuatan-kekuatan industri. Strategi-strategi tersebut ialah:
1. Melakukan penambahan armada pesawat, rute penerbangan dan bergabungnya Garuda
ke dalam SkyTeam Global Airline Alliance agar tidak kalah bersaing dengan maskapai lain.
2. Dalam kondisi persaingan yang ketat, Garuda meluncurkan program layanan bernama
Garuda Frequent Flyer (GFF). GFF tersebut merupakan program yang diadakan Garuda
bagi penumpang setia Garuda dengan cara memberikan benefit sebagai imbalan atas
pengumpulan jarak yang telah ditempuh dengan Garuda baik ke rute domestik maupun ke
rute internasional
3.Garuda Indonesia secara khusus memberikan potongan harga sebesar 10% bagi
penumpang yang membeli tiket pulang pergi (return ticket) dari sebelumnya hanya sebesar
5%. Garuda Indonesia juga memberikan harga khusus berupa potongan sebesar 25%. bagi
anak – anak (umur 2 – 12 tahun), penyandang cacat dan atau veteran, serta orang lanjut
usia (60 tahun ke atas) untuk sub kelas C, Y, M dan L.
4. Walau dengan tiket yang mahal, Garuda memberikan full service airlines yang
mengutamakan keramahan seluruh karyawan dan awak kabin Garuda dalam melayani
penumpangnya. Sehingga Garuda memiliki pangsa pasarnya tersendiri.
5.Dari sisi pemasok, dalam memenuhi bahan bakar pesawat, Garuda telah melakukan
upaya dengan melakukan negosiasi dengan Pertamina. Negosiasi tersebut bertujuan agar
memperoleh bahan baku yang memadai dalam melakukan kegiatan operasionalnya dan
untuk mendapatkan harga yang terbaik. Dari perjanjian itu pula, Garuda mendapatkan
pengadaan 70% bahan bakar dibandingkan maskapai penerbangan yang lain. Dengan
adanya perjanjian tersebut maka Garuda mendapatkan persediaan bahan baku yang
didahulukan dibandingkan maskapai penerbangan yang lainnya.
6. Untuk mengurangi ancaman dari maskapai-maskapai penerbangan yang berbiaya
rendah, maka Garuda membuat unit bisnis strategi yaitu Citilink. Citilink merupakan layanan
yang disediakan Garuda untuk menangkap segmen budget traveler di pasar domestik.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keberanian sebuah perusahaan untuk bersaing masuk di pasar yang tentunya memiliki
jangkauan luas tidak cukup tanpa didasari analisis yang kuat untuk melihat situasi pasar.
Tidak hanya itu, perusahaan juga harus mampu menyesuaikan kondisi perusahaan dengan
faktor eksternal yang ada diluar perusahaan. Seperti hal nya perusahaan Garuda
Indonesia, yang menjadi perusahaan peerbangan senior di Indonesia.Tanpa harus banting
setir, perusahaan Garuda Indonesia tetap menjaga kwalitas mutu walaupun dengan harga
mahal tapi tetap mempertahankan mutu perusahaan. Justru, Garuda Indonesia menelurkan
inovasi baru yaitu dengan melahirkan anak perusahaan "Citilink". Inilah inovasi yang
cemerlang, tanpa harus merubah strategi tapi justru menelurkan "Citilink" sebagai
perusahaan penerbangan dengan tarif murah seperti perusahaan penerbangan yang kini
sedang trend banting harga dengan menyediakan banyak promo.
4.2 Saran
Saran positif dari penulis, berdasarkan pengamatan yang ada sesuai dengan sudut
pandang keberadaan Garuda Indonesia di tengah-tengah perusahaan penerbangan yang
beragam dan menyediakan harga murah, posisi serta citra perusahaan Garuda Indonesia
masih sangat mampu bertahan. Asal masih menjaga kwalitas dan menjadi yang terdepan
sebagai pelopor penerbangan di Indonesia. Saran penulis adalah, agar Garuda Indonesia
terus berinovasi dan boleh sesekali melakukan promo seperti perusahaan penerbangan
pesaing agar lebih dilirik oleh konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
David, Fred R. (2004) Manajemen Strategis Konsep-konsep. Edisi ke-9. Ahli bahasa
Kresno Sansu. Indeks,Jakarta
Kluyver, Cornelis A.De dan John A.Pearce II. (2006). Strategy : A View From The Top (An
Executive Perspective). Edisi Kedua. Pearson Education, Inc,Upper Saddle River,New
jersey.
Michaelson, Gerald A. (2004). The Art Of War For Managers. Interaksara, Jakarta.
Musa,Hubeis dan Najib,Mukhamad. (2008). Manajemen Strategis Dalam Pengembangan
Daya Saing Organisasi. PT Elex Media Komputindo,Jakarta
Hariadi, Bambang. (2003). Strategic Manajement in Action. PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Rangkuti, Freddy. (2004). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
David, Fred R. 2005. Strategic Management, Concept & Cases, 10th edition. Prentice Hall.
New Jersey.
Jatmiko, RD. 2004. Pengantar Bisnis, Edisi I, UMM Press 2004. Malang
Umar, Husein. 2001. Strategic Management in Action. cetakan kedua, Penerbit : Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.

Download Analisis SWOT Garuda Indonesia dalam Menghadapi Persaingan Pasar


Penerbangan di Indonesia.docx
Download Now

Terimakasih telah membaca Analisis SWOT Garuda Indonesia dalam Menghadapi Persaingan
Pasar Penerbangan di Indonesia. Gunakan kotak pencarian untuk mencari artikel yang ingin
anda cari.
Semoga bermanfaat
https://akademikita.blogspot.co.id/2016/10/analisis-swot-garuda-indonesia-dalam.html