Anda di halaman 1dari 16

CV.

CAKRA WISMA CIPTA MANDIRI


Konsultan Arsitek & Manajemen Konstruksi

RENCANA KERJA DAN SYARAT - SYARAT


PEMBANGUNAN PAGAR BALAI ARSIP TSUNAMI ACEH
ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KONSULTAN PERENCANA
CV. CAKRA WISMA CIPTA MANDIRI

TA 2016
RENCANA KERJA DAN SYARAT - SYARAT
PEMBANGUNAN PAGAR BALAI ARSIP TSUNAMI ACEH
ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

BAB I
KETENTUAN UMUM

1. Umum.
Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan peraturan-peraturan seperti tercantum
dibawah ini:
a. Peraturan-peraturan Umum (Algemene Voorwarden) disingkat A.V.
b. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982), DPMB.
c. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI-1991).
d. Peraturan Direktorat Jenderal Perawatan Departemen Tenaga Kerja,
Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja.
e. Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung Negara
oleh Departemen Pekerjaan Umum.
f. Jika ternyata pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini terdapat kelainan/
penyimpangan terhadap peraturan-peraturan sebagaimana dinyatakan didalam
ayat (1) diatas, maka Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini yang mengikat.
g. Pemakaian Umum
1) Kontraktor tetap bertanggungjawab dalam menepati semua ketentuan yang
tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat serta Gambar Kerja berikut
tambahan dan perubahannya.
2) Kontraktor wajib memeriksa kebenaran dari ukuran-ukuran keseluruhan
maupun bagian-bagiannya dan segera memberitahukan kepada Konsultan
Pengawas tentang setiap perbedaan yang ditemukannya di dalam Rencana
Kerja dan Syarat serta Gambar Kerja dalam pelaksanaan.
3) Kontraktor baru diijinkan membetulkan kesalahan gambar dan
melaksanakannya setelah ada persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas
atau Direksi.
h. Pengambilan ukuran-ukuran yang keliru dalam pelaksanaan, didalam hal apapun
menjadi tanggungjawab Kontraktor, oleh karenanya Kontraktor diwajibkan
mengadakan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap gambar- gambar dan
dokumen yang ada.
2. Kondisi Lapangan
a. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus benar-benar memahami
kondisi/keadaan lapangan pekerjaan atau hal-hal lain yang mungkin akan
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan dan harus sudah memperhitungkan
segala akibatnya.
b. Kontraktor harus memperhatikan secara khusus mengenai pengaturan lokasi
tempat bekerja, penempatan material, pengamanan dan kelangsungan operasi
selama pekerjaan berlangsung.
c. Kontraktor harus mempelajari dengan seksama seluruh bagian gambar, RKS dan
agenda-agenda dokumen lelang, guna penyesuaian dengan kondisi lapangan
sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.
2

3. Kebersihan dan Ketertiban


a. Selama berlangsungnya pembangunan, Direksi Keet, gudang dan bagian dalam
bangunan yang dikerjakan harus tetap bersih dan tertib, bebas dari bahan bekas,
bongkaran dan lain-lain.
b. Kelalaian dalam hal ini dapat menyebabkan Konsultan Pengawas atau Direksi
memberi perintah menghentikan seluruh pekerjaan dan Kontraktor harus
menanggung seluruh akibatnya.
c. Penimbunan bahan-bahan yang ada dalam gudang-gudang maupun yang berada
di alam bebas, harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu kelancaran
dan keamanan pekerjaan/umum dan juga agar memudahkan jalannya
pemeriksaan serta penelitian bahan-bahan oleh Konsultan Pengawas / Direksi
maupun oleh Pemberi Tugas.
d. Kontraktor wajib membuatkan Kamar mandi serta WC untuk pekerja pada
tempat-tempat tertentu yang disetujui oleh Konsultan Pengawas demi terjaminnya
kebersihan dan kesehatan dalam proyek.
e. Peraturan lain mengenai ketertiban akan dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas
atau Pengelola Teknis Proyek (PTP) pada waktu pelaksanaan.

4. Pemeriksaan dan Penyediaan Barang dan Bahan


a. Bila dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu material,
maka hal ini dimaksudkan bahwa spesifikasi teknis dari material tersebut yang
digunakan dalam perencanaan dan untuk menunjukkan material/ bahan yang
digunakan dan untuk mempermudah Kontraktor mencari barang tersebut.
b. Setiap penggantian spesifikasi teknis dari material, nama dan pabrik pembuat dari
suatu bahan/ barang harus disetujui oleh Konsultan Pengawas yang telah
dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Konsultan Perencana dan bila tidak
ditentukan dalam RKS serta Gambar Kerja, maka bahan dan barang tersebut
diusahakan dan disediakan oleh Kontraktor yang harus mendapatkan persetujuan
dahulu dari Konsultan Perencana melalui Konsultan Pengawas / Direksi.
c. Contoh material yang akan digunakan dalam pekerjaan harus segera disediakan
atas biaya Kontraktor, setelah disetujui Konsultan Pengawas / Direksi, harus
dinilai bahwa material tersebut yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan
nanti dan telah memenuhi syarat spesifikasi teknis perencanaan.
d. Contoh material tersebut, disimpan oleh Konsultan Pengawas, Pengelola Teknis
Proyek atau Pemberi Tugas untuk dijadikan dasar penolakan bila ternyata bahan
dan barang yang dipakai tidak sesuai kualitas, sifat maupun spesifikasi teknisnya.

e. Dalam pengajuan harga penawaran, Kontraktor harus sudah memasukkan sejauh


keperluan biaya untuk pengujian berbagai material. Tanpa mengingat jumlah
tersebut, Kontraktor tetap bertanggung jawab pula atas biaya pengujian material
yang tidak memenuhi syarat atas Perintah Pemberi Tugas / Konsultan Pengawas.

5. Perbedaan Dalam Dokumen Lampiran Kontrak


a. Jika terdapat perbedaan-perbedaan antara Gambar Kerja dan Rencana Kerja
dan Syarat ini, maka Kontraktor harus menanyakannya secara tertulis kepada
Konsultan Pengawas dan Kontraktor harus mentaati keputusan tersebut.
3

b. Ukuran-ukuran yang terdapat dalam gambar yang terbesar dan terakhirlah yang
berlaku dan ukuran dengan angka adalah yang harus diikuti dari pada ukuran
skala dari gambar-gambar, tapi jika mungkin ukuran ini harus diambil dari
pekerjaan yang sudah selesai.
c. Apabila ada hal-hal yang disebutkan pada Gambar Kerja, RKS atau Dokumen
yang berlainan dan atau bertentangan, maka ini harus diartikan bukan untuk
menghilangkan satu terhadap yang lain tetapi untuk menegaskan masalahnya.
Kalau terjadi hal ini, maka yang diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai
bobot teknis dan atau yang mempunyai biaya yang tinggi.
d. Apabila terdapat perbedaan antara :
1) Gambar arsitektur dengan gambar struktur, maka yang dipakai sebagai acuan
dalam ukuran fungsional adalah gambar arsitektur, sedangkan untuk jenis dan
kualitas bahan dan barang adalah gambar struktur.
2) Gambar arsitektur dengan gambar sanitasi, maka yang dipakai sebagai acuan
dalam ukuran kualitas dan jenis bahan adalah gambar sanitasi, sedangkan
untuk ukuran fungsional adalah Gambar Arsitektur.
3) Gambar arsitektur dengan gambar elektrikal, maka yang dipakai sebagai acuan
dalam ukuran fungsional adalah gambar arsitektur, sedangkan untuk ukuran
kualitas dan bahan adalah gambar elektrikal.

6. Gambar Sesuai Pelaksanaan (Asbuilt Drawing)


a. Termasuk semua yang belum terdapat dalam gambar kerja baik karena
penyimpangan, perubahan atas perintah Pemberi Tugas atau Konsultan
Pengawas, maka Kontraktor harus membuat gambar-gambar yang sesuai dengan
apa yang telah dilaksanakan, yang jelas memperlihatkan perbedaan antara
gambar kerja dan pekerjaan yang dilaksanakan.
b. Gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga) berikut kalkirnya
(gambar asli) yang biaya pembuatannya ditanggung oleh Kontraktor.

7. Lingkup Pekerjaan.
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Pondasi Batu Kali
c. Pekerjaan Beton
d. Pekerjaan Pasangan Bata
e. Pekerjaan Plesteran
f. Pekerjaan Pengecatan
4

BAB II
PEKERJAAN PERSIAPAN

8. Umum.
Pekerjaan persiapan untuk mengerjakan suatu bangunan yaitu meliputi :
a. Pematokan/Pengukuran lokasi bangunan yang akan dikerjakan
b. Pembersihan lokasi dari rumput dan akar-akar pohon yang mengganggu
c. Pekerjaan cut and fill untuk menentukan peil lantai dasar bangunan dan peil
halaman
d. Pembersihan dan perataan tanah akhir proyek
e. Pembersihan dalam gedung dari bercak-bercak, kotoran-kotoran, sisa bahan
bangunan.
f. Pembersihan lokasi dari kotoran-kotoran dan sisa-sisa bahan bangunan.
g. Perataan/pembuangan/perapihan tanah bekas galian.

9. Pekerjaan Persiapan
a. Kantor Direksi dan Pemborong (Bouwkeet).
1) Kontraktor wajib menyediakan, pada tempat yang disetujui Direksi, dan selama
berlangsungnya pekerjaan : Kantor Direksi seluas 18 m2, transport dan
komunikasi (radio) untuk dipakai Direksi beserta stafnya, dilengkapi dengan
KM/WC, meja dan kursi kerja, meja dan kursi rapat, white board dan
perlengkapan yang tersebut dalam spesifikasi khusus atas petunjuk Direksi.
2) Pada akhir pelaksanaan, Kantor beserta peralatannya harus dipindah atau
dibongkar sesuai dengan petunjuk Direksi dan tanah bekas penempatan kantor
tersebut harus dirapikan kembali.
3) Penyediaan dan pengerjaan hal tersebut diatas sudah termasuk dalam
pembiayaan dalam kontrak.
b. Perumahan Buruh dan Gudang-gudang.
Kontraktor bertanggung jawab untuk menyediakan dan membiayai pembuatan
rumah buruh (bedeng) dan gudang yang diperlukan sehubungan pelaksanaan
pekerjaan.
c. Air dan Listrik Kerja.
Kontraktor harus menyediakan air bersih dan listrik untuk penerangan kantor,
rumah buruh, gudang dan daya listrik untuk keperluan alat-alat berupa mesin.
d. Alat-alat Kerja/Bantu
Kontraktor harus menyediakan alat-alat kerja sendiri untuk kesempurnaan
pelaksanaan pekerjaan seperti beton molen, fibrator, genset, mesin pemotong
ubin/keramik dan lain sebagainya yang diperlukan.
e. Kebersihan dan Ketertiban
1) Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, kantor, gudang, los kerja dan
tempat pekerjaan dilaksanakan dalam bangunan, harus selalu dalam keadaan
bersih.
2) Penimbunan/penyimpanan berang, bahan dan peralatan baik di dalam gudang
maupun di luar (halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan
jalannya pemeriksaan dan tidak mengganggu pekerjaan dari bagian lain.
3) Peraturan-peraturan yang lain tentang ketertiban akan dikeluarkan oleh Direksi
pada waktu pelaksanaan.
5

10. Pekerjaan Pematokan


a. Kontraktor mengerjakan pemasangan patok-patok untuk menentukan letak
bangunan yang akan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini
harus seluruhnya telah disetujui oleh direksi sebelum memulai pekerjaan
selanjutnya. Direksi dapat melakukan revisi atas pemasangan patok tersebut bila
dipandang perlu, dan Kontraktor harus mengerjakan revisi tersebut sesuai dengan
petunjuk direksi. Pekerjaan pematokan yang telah selesai, diukur oleh kontraktor
untuk disetujui direksi.
b. Kontraktor wajib menyediakan alat-alat ukur dengan perlengkapannya. Semua
tanda-tanda di lapangan yang diperlukan oleh Direksi atau dipasang sendiri oleh
Kontraktor harus tetap dipelihara dan dijaga dengan baik. Apabila ada tanda-
tanda yang rusak dan harus diganti sesuai petunjuk Direksi.
c. Pada keadaan di mana ada penyimpangan dari gambar rencana, kontraktor harus
mengajukan tiga lembar gambar penampang dari daerah yang dipatok itu. Direksi
akan membubuhkan tanda tangan persetujuan revisi pada gambar tersebut.
Gambar tersebut harus digambar kembali di kertas kalkir agar dapat direproduksi.
Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar tersebut harus sesuai dengan
ketentuan Direksi.
6

BAB III
PEKERJAAN PONDASI BATU KALI

11. Metode Pemasangan


Metode pelaksanaan pekerjaan pasangan batu kali mengikuti beberapa tahap, yaitu
yang pertama adalah tahap persiapan. Dimana pada proses persiapan ini, pelaksana
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Approval material yang akan digunakan.
b. Persiapan lahan kerja.
c. Persiapan material kerja, antara lain : batu kali, semen PC, pasir pasang, air, dll.
d. Persiapan alat bantu kerja, antara lain : theodolith, waterpass, meteran, benang,
selang air, dll.
Setelah tahap persiapan selesai, maka tahap berikutnya yang dilaksanakan
dilapangan adalah tahap pekerjaan pengukuran dengan mengikuti proses sebagai
berikut:
a. Sebelum pekerjaan pemasangan pasangan batu kali dimulai, terlebih dahulu
dilakukan pengukuran dengan menggunakan theodolith untuk mendapatkan level
pasangan batu kali.
b. Tandai hasil pengukuran dengan menggunakan patok kayu yang diberi warna cat.
Apabila proses persiapan dan pebgukuran telah dilaksanakan, maka tahap
selanjutnya adalah Pelaksanaan pekerjaan pasangan batu kali, dengan mengikuti
langkah pekerjaan sebagai berikut :
a. Gali tanah untuk lubang pasanagan batu kali.
b. Pastikan galian tanah untuk pasangan batu kali, ukuran lebar dan kedalaman
sudah sesuai rencana.
c. Pasang patok kayu dan benang sebagai acuan leveling pasangan batu kali.
d. Buat adukan untuk pasangan pondasi batu kali.
e. Hamparkan pasir urug dan ratakan.
f. Basahi batu kali dengan air telebih dahulu sebelum dipasang.
g. Pasang batu aanstamping terllebih dahulu.
h. Pasang batu kali di atas pasangan batu aanstamping dengan menggunakan
adukan yang merata mengisi rongga-rongga antar batu kali.
i. Batu kali disusun sedemikian rupa sehingga pasangan batu kali tidak mudah
retak/patah dan berongga besar.
j. Cek elevasi pekerjaan pasangan batu kali apakah sudah sesuai rencana.
k. Pekerjaan akhir adalah finish pasangan batu kali dengan plesteran siar.
7

BAB IV
PEKERJAAN BETON

12. Umum
a. Persyaratan-persyaratan Konstruksi Beton, istilah teknis dan syarat-syarat
pelaksanaan beton secara umum menjadi kesatuan dalam bagian buku
persyaratan teknis ini. Kecuali ditentukan lain dalam buku persyaratan teknis ini,
maka semua pekerjaan beton harus sesuai dengan referensi dibawah ini :
1) Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI 1991)
2) Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
3) American Society of Testing and Materials (ASTM)
4) Standar Industri Indonesia (SII)
5) Standard Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.
SKSNI T-15-1991-03
6) Pedoman Perencanaan Beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk
Rumah dan Gedung (SKBI 2362-1986), yang diterbitkan oleh Departemen
Pekerjaan Umum.
b. Bilamana ada ketidaksesuaian antara peraturan-peraturan tersebut diatas, maka
Peraturan-peraturan Indonesia yang menentukan.
c. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan ini dengan tepatan serta kesesuaian
yang tinggi menurut persyaratan teknis, gambar rencana dan instruksi-instruksi
yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas untuk pekerjaan yang tidak
memenuhi persyaratan harus dibongkar dan diganti atas biaya Kontraktor sendiri.
d. Semua material harus baru dengan kualitas yang terbaik sesuai persyaratan dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas.
e. Konsultan Pengawas berhak untuk meminta diadakan pengujian bahan-bahan
tersebut dan Kontraktor bertanggung jawab atas segala biayanya. Semua
material yang tidak disetujui oleh Konsultan Pengawas harus segera dikeluarkan
dari proyek/lapangan pekerjaan dalam waktu 3 x 24 jam.

13. Lingkup Pekerjaan


a. Meliputi segala pekerjaan yang diperlukan untuk pelaksanakan pekerjaan beton
sesuai dengan gambar rencana termasuk pengadaan bahan, upah, pengujian dan
peralatan pembantu.
b. Pengadaan, detail, fabrikasi dan pemasangan semua penulangan dan
bagian-bagian dari pekerjaan lain yang tertanam dalam beton.
c. Ring Balok, kolom menggunakan beton bertulang dengan spesifikasi sesuai
gambar kerja.
d. Beton menggunakan beton dengan Mutu 1 : 2 : 3.

14. Bahan-Bahan
a. Semen :
1) Semua semen yang digunakan adalah jenis Portland Cement sesuai dengan
persyaratan NI-2 pasal Bab 3 Standar Indonesia NI-8/1964, SII 0013-81 atau
“Specification for Portland Cement” (ASTM C-150) dan produksi dari satu
merk/pabrik.
8

2) Kontraktor harus menempatkan semen dalam gudang untuk mencegah


terjadinya kerusakan dan tidak boleh ditaruh langsung diatas tanah tanpa alas
kayu.
3) Semen yang menggumpal, sweeping, tercampur kotoran atau kena air/lembab
tidak diijinkan digunakan dan harus segera dikeluarkan dari proyek dalam batas
3 x 24 jam.
4) Penggunaan semen harus sesuai dengan urutan pengirimannya.

15. Pengadukan Dan peralatannya


a. Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai
ketelitian cukup untuk menetapkan dan mengawasi jumlah takaran dari
masing- masing bahan pembentukan beton dengan persetujuan dari Konsultan
Pengawas.
b. Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan pencampuran dari
material- material harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan seluruh
operasi harus dikontrol dan diawasi terus menerus oleh seorang inspektor yang
berpengalaman dan bertanggung-jawab.
c. Pengadukan harus dilakukan dengan mesin pengaduk beton (Batch Mixer atau
Portable Continous Mixer).
d. Mesin pengaduk harus betul-betul kosong sebelum menerima bahan-bahan dari
adukan selanjutnya, dan harus dicuci bila tidak digunakan lebih dari 30 menit.
e. Bahan-bahan pembentuk beton harus dicampur dan diaduk selama 1.5 menit
sesudah semua bahan ada dalam mixer. Waktu pengadukan harus ditambah, bila
kapasitas mesin lebih besar dari 1.5 m3. Konsultan Pengawas berwenang untuk
menambah waktu pengadukan jika ternyata pemasukan bahan dan cara
pengadukan gagal untuk mendapatkan hasil adukan dengan kekentalan dan
warna yang merata/seragam. Beton yang dihasilkan harus seragam dalam
komposisi dan konsistensi dalam setiap adukan.
f. Mesin pengaduk tidak boleh dibebani melebihi kapasitas yang telah ditentukan.
Air harus dituang terlebih dahulu untuk selanjutnya ditambahkan selama
pengadukan. Tidak diperkenankan melakukan pengadukan yang berlebihan yang
membutuhkan penambahan air untuk mendapatkan kosistensi beton yang
dikehendaki.

16. Acuan/Cetakan Beton/Bekisting


a. Rencana cetakan beton menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya. cetakan
harus sesuai dengan bentuk, ukuran, batas-batas dan bidang dari hasil beton
yang direncanakan, serta tidak boleh bocor dan harus cukup kaku untuk
mencegah terjadinya perpindahan tempat atau kelonggaran dari penyangga harus
menggunakan Multiplex.
b. Jika memungkinkan, cetakan beton dapat menggunakan material lain seperti
pasangan batako atau pasangan bata merah atau sesuai Bill of Quantity dan/atau
dengan persetujuan Konsultan Pengawas.
Setiap pengajuan material cetakan beton harus dapat dipertanggungjawabkan
dan disetujui oleh konsultan pengawas. Bagaimanapun setiap kegagalan yang
terjadi menjadi tanggungjawab Kontraktor sepenuhnya.
c. Permukaan cetakan harus cukup rata dan halus serta tidak boleh ada lekukan,
lubang-lubang atau terjadi lendutan. Sambungan pada cetakan diusahakan lurus
dan rata dalam arah horisontal dan vertikal, terutama untuk permukaan beton
yang tidak di "finish".
9

d. Tiang-tiang penyangga harus direncanakan sedemikian rupa agar dapat


memberikan penunjang seperti yang dibutuhkan tanpa adanya "overstress" atau
perpindahan tempat pada beberapa bagian konstruksi yang dibebani.
e. Struktur dari tiang penyangga harus kuat dan kaku untuk menunjang berat sendiri
dan beban yang ada diatasnya selama pelaksanaan. Cetakan harus diteliti untuk
memastikan kebenaran letaknya, cukup kuat dan tidak akan terjadi penurunan
dan pengembangan pada saat beton dituangkan.
f. Permukaan cetakan harus bersih dari segala macam kotoran, dan diberi "form oil"
untuk mencegah lekatnya beton pada cetakan. Pelaksanaannya harus
berhati-hati agar tidak terjadi kontak dengan baja tulangan yang dapat
mengurangi daya lekat beton dan dengan tulangan.
g. Pembongkaran cetakan harus dilaksanakan dengan hati-hati sehingga tidak
menyebabkan cacat pada permukaan beton dan dapat menjamin keselamatan
penuh atas struktur-struktur yang dicetak.
h. Dalam hal terjadi bentuk beton yang tidak sesuai dengan gambar rencana,
Kontraktor wajib mengadakan perbaikan atau pembentukan kembali.
i. Permukaan beton harus bersih dari sisa-sisa kayu cetakan dan pada
bagian-bagian konstruksi yang terpendam dalam tanah, cetakan harus dicabut
dan dibersihkan sebelum pengurugan dilakukan.

17. Penyelesaian Beton


a. Semua permukaan, pekerjaan beton harus rata, lurus tanpa ada bagian-bagian
yang membekas. Ujung-ujung atau sudut-sudut harus berbentuk penuh dan
tajam.
b. Bagian-bagian yang rapuh, kasar, berlubang dan tidak memenuhi persyaratan
harus segera diperbaiki dengan cara memahatnya dan mengisinya kembali
dengan adukan beton yang sesuai baik kekuatan maupun warnanya untuk
kemudian diratakan. Bila diperlukan, seluruh permukaan beton dihaluskan dengan
ampelas, carborondum atau gurinda.
c. Permukaan pekerjaan beton harus mempunyai bentuk jadi yang rata. Toleransi
kerataan pada permukaan lantai tidak boleh melampaui 1 cm dalam jarak 10 m.
Tidak dibenarkan untuk menaburkan semen kering pada permukaan beton
dengan maksud menyerap kelebihan air.
10

BAB V
PEKERJAAN PASANGAN BATA

18. Lingkup pekerjaan :


Meliputi semua pekerja, peralatan dan bahan-bahan untuk memasang bata, seperti
pekerjaan dinding pagar

19. Jenis Dinding & Adukan


a. Jenis Dinding
1) Pasangan Batu Bata.
Pasangan batu bata digunakan untuk seluruh pasangan dinding yang ada
dalam bangunan ini, dan sesuai dengan gambar rancangan.
2) Pasangan Bata Expose sesuai gambar rancangan.
b. Jenis Adukan
Adukan biasa dengan campuran 1 PC : 5 Pasir. Digunakan untuk seluruh
pasangan dinding batu bata.

20. Syarat-syarat bahan :


a. Semen Portland harus memenuhi NI-8.
b. Pasir harus memenuhi NI – 3 Pasal 14 ayat 2.
c. Adukan digunakan spesi 1 semen dan 4 pasir. 30 cm di atas dan di bawah lantai
digunakan spesi 1 semen dan 2 pasir.
d. Batu bata ukuran 6 x 12 x 24 cm harus memenuhi NI – 10.

21. Pemasangan dan tata kerja :


a. Adukan harus diaduk dengan mesin pengaduk seperti yang dipersyaratkan dalam
pekerjaan beton.
b. Semua pemasangan harus diletakkan tegak lurus, datar dalam satu garis lurus
dan berjarak sama.
c. Sebelum dipasang batu bata tersebut harus dibasahi dengan air. Bata yang
lebarnya kurang dari 12 cm tidak boleh dipergunakan.
d. Tebal spesi adalah 1 cm – 2 cm.
e. Berikan contoh dari batu bata untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas/M.K.
f. Setiap bidang pasangan bata yang lebarnya melebihi 3 meter harus ditambahkan
kolom praktis, demikian pula untuk bidang yang tingginya melebihi 3 meter harus
ditambahkan dengan balok praktis untuk mencegah agar pasangan bata kaku.
Atau ketentuan lain atas petunjuk konsultan pengawas.
g. Pemasangan batu bata harus bertahap setiap tahap 24 lapis dan diikuti cor kolom
praktis.
h. Sebelum diplester batu bata harus disiram air lebih dahulu.
i. Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan. Sedangkan bata merah yang
patah 2 tidak boleh dipasang melebihi dari 5 %.
j. Pasangan batu bata harus menghasilkan finish 15 cm untuk ½ batu dan finish 25
cm untuk 1 bata.
11

22. Syarat Kualitas


a. Dinding
Bata Ukuran standar.
b. Adukan
Bahan campuran air, semen dan pasir yang digunakan harus memenuhi
ketentuan seperti untuk bahan campuran beton dalam PBI-1971 PB-1988, NI-2,
NI-3 dan ASTM.

23. Syarat Pelaksanaan


a. Pelaksana Pekerjaan terlebih dahulu harus memeriksa (untuk dikoordinasikan)
diantaranya adalah :
1) Pekerjaan Instalasi pada dinding
2) Pekerjaan Waterproofing (jika ada)
3) Pekerjaan Kusen
4) Dan lain sebagainya yang terkait dalam terlaksananya pekerjaan ini.
b. Pelaksana Pekerjaan harus mempersiapkan angkur-angkur pengikat dan kolom-
kolom praktis (bahan besi beton): ukuran dan diameter disesuikan dengan
kebutuhan. Biaya pekerjaan persiapan ini sudah termasuk dalam penawaran
Pelaksana Pekerjaan.
c. Pasangan dinding bata
1) Dinding harus dipasang/didirikan dengan ketebalan dan ketinggian sesuai
gambar rancangan.
2) Masing-masing bata dipasang dengan jarak 1 cm diberi dasar adukan dan
adukan pengikat dengan baik.
3) Setiap tahapan pemasangan dinding bata diperkenankan maksimal ketinggian 1
meter.
4) Pemasangan tidak diperbolehkan memakai potongan bata, kecuali untuk bagian
dinding yang harus menggunakan potongan bata.
5) Potongan yang boleh digunakan untuk maksud tersebut minimal ½ bagian.
6) Setiap hubungan dinding dengan permukaan beton harus diberi angkur yang
dibuat dari besi beton, diameter 8 mm.
7) Kolom beton 1 PC : 2 pasir : 3 split dengan tulangan praktis diameter 8 mm
sebagai penguat harus dipasang pada setiap luas dinding maksimal 10 m².
pada pertemuan sudut dinding dan disesuaikan dengan kondisi lapangan
dengan pengarahan/persetujuan Direksi Lapangan.
d. Hasil pemasangan pasangan dinding, plesteran dan acian harus lurus tepat pada
sudut sikunya serta tegak lurus terhadap lantai yang ada disekitarnya, permukaan
rata tidak bergelombang.
e. Toleransi kemiringan untuk penerimaan pasangan dinding sebesar 1 mm/m² luas
permukaan bidang kerja.
12

BAB VI
PEKERJAAN PLESTERAN

24. Lingkup pekerjaan


Meliputi semua pekerja, peralatan dan bahan-bahan yang berhubungan dengan
plesteran.

25. Jenis Plesteran


a. Jenis Plesteran Biasa
b. Plesteran biasa dengan campuran 1 PC : 5 Pasir. Digunakan untuk permukaan-
permukaan dinding pasangan batu bata pada bagian luar
c. Jenis Plesteran Trasraam
d. Plesteran biasa dengan campuran 1 PC : 2 Pasir. Digunakan untuk permukaan-
permukaan dinding pasangan batu bata pada bagian dalam.

26. Syarat-syarat bagian yang diplester


a. Permukaan pasangan batu bata diplester 1pc : 4ps, kecuali pasangan batu bata
di bawah 0.00, di atas 30 cm dan 1.60 m dari lantai (khusus daerah basah)
diplester dengan adukan 1pc : 2ps.
b. Semua kolom, balok, dinding, langit-langit beton diplester dengan adukan 1pc :
3ps.
c. Khusus dinding beton yang berhubungan langsung dengan tanah dan plat atap
beton yang berhubungan dengan air hujan dilapisi dengan water proofing terlebih
dahulu sebelum diplester dengan adukan 1pc : 2ps.

27. Bahan-bahan :
a. Portland Cement : Cibinong, Tiga Roda, Gresik.
b. Pasir untuk campuran plester : 1pc : 2ps, 1pc : 3ps, 1pc : 4ps.
c. Air bersih, tidak berwarna bebas dari minyak-minyak, garam dan asam alkali.

28. Tata kerja


a. Campurlah lebih dulu bahan-bahan kering sebelum diberi air.
b. Tidak diijinkan untuk memakai kembali adukan yang sudah mengeras/kering.
Plesterkanlah campuran 1pc : 2ps (trasram) pada permukaan pasangan bata
seperti yang telah ditentukan dalam gambar (30 cm di atas dan di bawah
permukaan tanah atau daerah yang basah).
Plesteran trassram toilet harus setinggi minimal 1,60 meter.
c. Permukaan beton; tebal minimal 0,50 cm dan maksimal 0,80 cm.
d. Permukaan batu bata ; tebal plesteran minimal 1,50 cm dan maksimal 2 cm.
e. Logam pelindung plesteran :
Tempelkan tepat pada pasangan batu bata dengan menggunakan baut-baut
pengikat sedemikian rupa sehingga lurus dan tidak miring.
Logam pelindung harus rata dengan plesteran sekitarnya.
f. Plesteran semen portland dijaga agar permukaan yang baru diplester tetap basah
selama 48 jam.
13

Basahilah secukupnya tiap-tiap plesteran, bila plesteran tersebut mulai mengeras,


untuk mencegah retak-retak. Lindungilah plesteran dari penguapan yang
berlebihan selama udara panas dan kering.
g. Permukaan bidang plesteran setelah diaci yang tampak harus terlihat rata dan
tidak bergelombang.

29. Syarat Kualitas


Bahan campuran air, semen dan pasir yang digunakan harus memenuhi ketentuan
seperti untuk bahan campuran beton dalam PBI-1971, PB-1988, NI-2, NI-3 dan
ASTM.

30. Syarat Pelaksanaan


a. Tebal plesteran 1,5 cm dan ketebalan dinding finish maksimum 15 cm atau sesuai
dengan ketebalan dinding yang ditunjukkan pada gambar.
b. Ketebalan plesteran yang melebihi 2 cm harus diberi kawat ayam untuk
memperkuat daya lekat plesteran.
c. Pertemuan plesteran dengan jenis pekerjaan lain (kusen dan lain sebagainya)
diselesaikan dengan pengadaan tanpa naat.
d. sebelum diaci plesteran harus dibasahi secukupnya.
e. Untuk acian plesteran harus dipergunakan campuran PC + air yang homogen,
pelaksanaannya setelah dinding dan plesteran dalam kondisi berumur ± 7 hari.
Sebelum pekerjaan acian plesteran dilaksanakan dinding harus dibasahkan terus
menerus ± 7 hari setelah didirikan.
f. Pertemuan dinding yang dihasilkan pada pekerjaan plesteran dan acian harus
benar-benar vertical, rata permukaan, tidak melengkung atau bergelombang.
g. Untuk permukaan beton yang difinishing cat, hanya diaci (screed) sampai seluruh
bidang rata.
14

BAB VII
PENGECATAN

31. Lingkup pekerjaan


a. Meliputi semua pengadaan pekerja, peralatan dan bahan-bahan sehubungan
dengan pengecatan.
b. Semua permukaan dinding, Kolom, besi dan lain-lain dicat kecuali kalau
ditentukan lain dalam gambar. Pengecatan terdiri dari :
1) Dinding / Kolom : plamuur, cat dasar 1 kali dan warna tembok
2) Besi : meni besi jenis resin Alkyd/zinc chromate,
plamuur, cat dasar 1 kali dan minimal 2 kali cat.

32. Jenis Bahan dan Penggunaan


a. Jenis : Cat Acrylic Emulsion
1) Pada permukaan dinding, kolom, dan atau sesuai dengan gambar rancangan.
2) Dan lain-lain sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rancangan.
b. Cat Weathershield ex ICI
Penggunaan untuk dinding exterior/kulit luar bangunan.

33. Syarat Pelaksanaan


Untuk dinding
a. Permukaan dinding harus dibersihkan dan bebas dari debu, minyak dan bahan-
bahan yang tidak dapat mengikat dengan cat. Sedikitnya 1 jam setelah kering
baru kemudian diplamur dan dicat. Untuk pengecatan kembali, jamur, lempengan
dan debu cat yang terkelupas harus dihilangkan dan disikat.
Kemudian diulas terlebih dahulu dengan Masonry – Sealer dan setelah kering
sedikitnya 6 jam baru kemudian di plamur dan dicat.
b. Pemborong harus memberikan jaminan tertulis kepada pemilik selama 2 tahun
sesudah penyerahan terakhir dari pekerjaan.
c. Sebelum pengecatan yang dimulai, Pemborong harus melakukan pengecatan
pada satu bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang
untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan. Bidang-bidang tersebut akan
dijadikan contoh pilihan warna, tekstur, material dan cara pengerjaan. Bidang-
bidang yang akan dipakai sebagai mock-up ini akan ditentukan oleh Direksi
Lapangan.
d. Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Direksi Lapangan dan
perencana, bidang-bidang ini akan dipakai sebagai standar minimal keseluruhan
pekerjaan pengecatan.
e. Warna akan ditentukan kemudian atas persetujuan Perencana dan Direksi
Lapangan.
Cat Acrylic Emulsion
1) Sebelum memulai pengecatan, permukaan lantai harus dibersihkan dengan air
terlebih dahulu agar tidak ada debu-debu beterbangan.
2) Permukaan dinding yang akan dicat harus benar-benar sudah kering & rata.
3) Semua pekerjaan plesteran atau acian yang cacat harus dipotong dan
diperbaiki dengan plesteran atau acian dari jenis yang sama hingga diperoleh
permukaan yang benar-benar rata.
15

4) Debu-debu yang menempel pada permukaan yang akan dicat, harus


dibersihkan dengan lap kering dan kasar, lalu diseka dengan lap basah,
kemudian dibiarkan hingga kering.
5) Lubang-lubang atau retak-retak kecil harus ditutup dengan dempul yang khusus
dibuat untuk itu dan dihasilkan oleh produksi yang sama dengan produsen
catnya.
6) Semua pekerjaan mengecat, plamuur dan cat dasar menggunakan kuas/roll
yang benar-benar sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.
Cat Logam
1) Sebelum memulai pekerjaan pengecatan logam, permukaan logam yang akan
dicat harus dibersihkan dahulu dengan menggunakan amplas dan sikat kawat
sehingga diperoleh permukaan logam yang bersih, kering, bebas dari karat,
minyak dan debu-debu halus. Permukaannya harus dalam keadaan rata.
2) Cat dipakai untuk pengecatan logam harus mengandung bahan-bahan OXID
MERAH dan SYNTHETIC RESIN khusus untuk logam.
3) Segera setelah permukaan logam dibersihkan, permukaan logam tersebut
diberi meni (primer) besi (Red OXIDE) setebal 35 Mikron, kemudian dicat dasar,
dan terakhir cat akhir sebanyak 3 lapis dengan rata menggunakan sprayer.
4) Semua plamur dan cat dasar yang digunakan harus sesuai tipe dan cara
penggunaannya menurut petunjuk pabrik.

34. Syarat Pemeliharaan


a. Perbaikan
1) Apabila permukaan dinding ataupun logam yang telah dicat terkena
noda/kotoran, maka harus segera dibersihkan.
2) Pekerjaan logam yang telah dicat sebelum dikirim ke tempat pekerjaan harus
diperiksa terlebih dahulu oleh Direksi Lapangan. Apabila tidak memenuhi syarat,
pekerjaan tersebut harus diperbaiki dengan cara membuang seluruh catnya
dengan digosok. Semua karat yang terdapat di permukaan logam harus
dibersihkan dengan sikat kawat, hingga terlihat permukaan logam yang bersih,
lalu segera permukaan luarnya diberi cat dasar dengan cara seperti tertulis
pada syarat pelaksanaan di atas.
b. Pengamanan
Pelaksanan Pekerjaan harus menjaga pekerjaan pengecatan tembok/dinding
ataupun logam yang sudah selesai dilaksanakan sehingga terhindar dari kejadian-
kejadian yang bisa menimbulkan pentoran pada tembok/dinding dan logam.

35. Syarat Penerimaan


Hasil pengecatan pada setiap permukaan dinding dan logam harus rapi dan rata
(tidak belang-belang).