Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Program Jamban

2.1.1 Sejarah Program Jamban di Indonesia

Pada dasarnya sejarah program jamban di Indonesia dilatar belakangi adanya

kegagalan dalam program pembangunan sanitasi pedesaan, khususnya penggunaan

jamban yang masih rendah. Salah satu penyebab mengenai kegagalan tersebut,

terlihat dari beberapa hasil studi evaluasi bahwa tidak ada demand atau kebutuhan

yang muncul ketika program dilaksanakan dan banyak sarana yang dibangun tidak

digunakan dan dipelihara oleh masyarakat (Depkes RI, 2003).

Selain itu dalam kebijakan nasional tentang penyehatan lingkungan berbasis

masyarakat tahun 2003 disebutkan rendahnya kepedulian masyarakat dan pemerintah

dalam mendukung kualitas lingkungan merupakan penyebab kegagalan dalam

program pembangunan sanitasi. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa program

tersebut tidak berfungsi secara optimal disebabkan tidak dilibatkannya masyarakat

sasaran, baik pada perencanaan maupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. Hal

ini mengakibatkan sarana dan prasarana tersebut tidak berfungsi secara optimal dan

tidak memberikan manfaat bagi masyarakat pengguna (Depkes RI, 2003).

Dalam kebijakan nasional penyehatan lingkungan berbasis masyarakat tahun

2003, salah satu dari pelbagai masalah kesehatan yang masih merupakan masalah

besar di negara berkembang tentang program pembangunan sanitasi penyehatan

12

Universitas Sumatera Utara


13

lingkungan adalah rendahnya kebutuhan masyarakat terhadap jamban. Hal ini

disebabkan ketidaktahuan mereka terhadap pentingnya hidup bersih dan sehat yang

tercermin dari perilaku masyarakat yang hingga sekarang masih banyak yang buang

air besar di sungai, kebun, sawah maupun di sembarang tempat.

Selain lemahnya visi menyangkut pentingnya sanitasi, terlihat pemerintah

belum melihat anggaran untuk perbaikan sanitasi ini sebagai investasi, tetapi mereka

masih melihatnya sebagai biaya (cost). menurut perhitungan Organisasi Kesehatan

Dunia (WHO) dan sejumlah lembaga lain, setiap 1 dollar AS investasi di sanitasi,

akan memberikan manfaat ekonomi sebesar 8 dollar AS dalam bentuk peningkatan

produktivitas dan waktu, berkurangnya angka kasus penyakit dan kematian (WHO,

2005).

2.1.2 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Keadaan masa depan masyarakat Indonesia yang ingin dicapai melalui

pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh

penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat, baik jasmani,

rohani maupun sosial. Lingkungan masyarakat merupakan salah satu variabel yang

kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat.

Masalah penyehatan lingkungan khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah

satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas (Depkes RI,

2008).

Universitas Sumatera Utara


14

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.852/MENKES/SK/IX/2008

tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program pemerintah

dalam rangka memperkuat upaya pembudayaan hidup bersih dan sehat, mencegah

penyebaran penyakit berbasis lingkungan, serta mengimplementasikan komitmen

pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar

berkesinambungan. Melalui program STBM pemerintah membuat sebuah pendekatan

untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi dengan pemberdayaan masyarakat

dalam pembangunan sanitasi. Pendekatan ini berawal dari keberhasilan pembangunan

sanitasi total di Bangladesh dengan menerapkan model Community Lead Total

Sanitation (CLTS) pada tahun 2004 (Kepmenkes RI, 2008).

CLTS adalah pendekatan perubahan perilaku higiene dan sanitasi melalui

pemberdayaan masyarakat untuk stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Di

Indonesia penerapannya dimulai pertengahan tahun 2005 pada 6 desa yang terletak di

6 provinsi. Pada Juni 2006, Departemen Kesehatan mendeklarasikan pendekatan

CLTS sebagai strategi nasional dan pada tahun 2008 STBM sebagai strategi nasional

(Kepmenkes RI, 2008).

2.2 Pengertian Jamban

Jamban merupakan salah satu fasilitas sanitasi dasar yang dibutuhkan dalam

setiap rumah untuk mendukung kesehatan penghuninya sebagai fasilitas pembuangan

kotoran manusia, yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher

Universitas Sumatera Utara


15

angsa atau tanpa leher angsa yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan

air untuk membersihkannya (Proverawati, 2012).

Selain itu menurut Madjid (2009), jamban adalah suatu bangunan yang

dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran manusia yang lazim disebut kakus.

Menurut Kusnoputranto (2005), jamban adalah suatu bangunan yang digunakan

untuk membuang dan mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan

dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab suatu penyakit serta tidak

mengotori permukaan.

Jamban sangat berguna bagi manusia dan merupakan bagian dari kehidupan

manusia, karena jamban dapat mencegah berkembangbiaknya berbagai penyakit yang

disebabkan oleh kotoran manusia yang tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya jika

pembuangan tinja tidak baik dan sembarangan dapat mengakibatkan kontaminasi

pada air, tanah, atau menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi

kesehatan, karena penyakit yang tergolong water borne disease seperti diare, kolera,

dan kulit akan mudah berjangkit (Chandra, 2007).

2.2.1 Pengaruh Tinja Bagi Kesehatan Masyarakat

Dilihat dari segi kesehatan masyarakat, masalah pembuangan kotoran manusia

merupakan masalah yang pokok untuk diatasi sedini mungkin, karena kotoran

manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Proses

pemindahan kuman penyakit dari tinja yang dikeluarkan manusia sebagai pusat

infeksi sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air, tangan,

Universitas Sumatera Utara


16

seranggaa, tanah, makanan, serta minuman yang mengandung bakteri E.coli yang

tercemar oleh kotoran manusia.

Beberapa penyakit yang disebabkan tidak tersedianya sanitasi dasar seperti

penyediaan jamban antara lain : tifus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing

(gelang, kremi, tambang, pita), dan schistosomiasis. Bakteri E.Coli dijadikan sebagai

indikator penyebab terjadinya penyakit tersebut dan seperti kita ketahui bahwa

bakteri ini hidup dalam saluran pencernaan manusia (Notoatmodjo, 2010).

2.2.2 Jenis-Jenis Jamban

Jamban yang didirikan mempunyai beberapa pilihan. Pilihan yang terbaik

adalah jamban yang tidak menimbulkan bau, dan memiliki kebutuhan air yang

tercukupi. Menurut Chayatin (2009), jenis-jenis jamban dibedakan berdasarkan

konstruksi dan cara menggunakannya yaitu:

1. Jamban Cemplung

Bentuk jamban ini adalah yang paling sederhana. Jamban cemplung ini hanya

terdiri atas sebuah galian yang di atasnya diberi lantai dan tempat jongkok. Lantai

jamban ini dapat dibuat dari bambu atau kayu, tetapi dapat juga terbuat dari batu bata

atau beton. Jamban semacam ini masih menimbulkan gangguan karena baunya.

2. Jamban Plengsengan

Jamban semacam ini memiliki lubang tempat jongkok yang dihubungkan oleh

suatu saluran miring ke tempat pembuangan kotoran. Jadi tempat jongkok dari

jamban ini tidak dibuat persis di atas penampungan, tetapi agak jauh. Jamban

Universitas Sumatera Utara


17

semacam ini sedikit lebih baik dan menguntungkan daripada jamban cemplung,

karena baunya agak berkurang dan keamanan bagi pemakai lebih terjamin

3. Jamban Bor

Dinamakan demikian karena tempat penampungan kotorannya dibuat dengan

menggunakan bor. Bor yang digunakan adalah bor tangan yang disebut bor auger

dengan diameter antara 30-40 cm. Jamban bor ini mempunyai keuntungan, yaitu bau

yang ditimbulkan sangat berkurang. Akan tetapi kerugian jamban bor ini adalah

perembesan kotoran akan lebih jauh dan mengotori air tanah

4. Angsatrine (Water Seal Latrine)

Di bawah tempat jongkok jamban ini ditempatkan atau dipasang suatu alat

yang berbentuk seperti leher angsa yang disebut bowl. Bowl ini berfungsi mencegah

timbulnya bau. Kotoran yang berada di tempat penampungan tidak tercium baunya,

karena terhalang oleh air yang selalu terdapat dalam bagian yang melengkung.

Dengan demikian dapat mencegah hubungan lalat dengan kotoran

5. Jamban di Atas Balong (Empang)

Membuat jamban di atas balong (yang kotorannya dialirkan ke balong) adalah

cara pembuangan kotoran yang tidak dianjurkan, tetapi sulit untuk

menghilangkannya, terutama di daerah yang terdapat banyak balong. Sebelum kita

berhasil menerapkan kebiasaan tersebut kepada kebiasaan yang diharapkan maka cara

tersebut dapat diteruskan dengan persyaratan sebagai berikut:

a. Air dari balong tersebut jangan digunakan untuk mandi

b. Balong tersebut tidak boleh kering

Universitas Sumatera Utara


18

c. Balong hendaknya cukup luas

d. Letak jamban harus sedemikian rupa, sehingga kotoran selalu jatuh di air

e. Ikan dari balong tersebut jangan dimakan

f. Tidak terdapat sumber air minum yang terletak sejajar dengan jarak 15 meter

g. Tidak terdapat tanam-tanaman yang tumbuh di atas permukaan air

6. Jamban Septic Tank

Septic tank berasal dari kata septic, yang berarti pembusukan secara

anaerobic. Nama septic tank digunakan karena dalam pembuangan kotoran terjadi

proses pembusukan oleh kuman-kuman pembusuk yang sifatnya anaerob. Septic tank

dapat terdiri dari dua bak atau lebih serta dapat pula terdiri atas satu bak saja dengan

mengatur sedemikian rupa (misalnya dengan memasang beberapa sekat atau tembok

penghalang), sehingga dapat memperlambat pengaliran air kotor di dalam bak

tersebut. Dalam bak bagian pertama akan terdapat proses penghancuran, pembusukan

dan pengendapan. Dalam bak terdapat tiga macam lapisan yaitu:

a. Lapisan yang terapung, yang terdiri atas kotoran-kotoran padat

b. Lapisan cair

c. Lapisan endap

Banyak macam jamban yang digunakan tetapi jamban pedesan di Indonesia

pada dasarnya digolongkan menjadi 2 macam yaitu :

1. Jamban tanpa leher angsa. Jamban yang mempunyai bermacam cara pembuangan

kotorannya yaitu:

a. Jamban cubluk, bila kotorannya dibuang ke tanah

Universitas Sumatera Utara


19

b. Jamban empang, bila kotorannya dialirkan ke empang

2. Jamban leher angsa. Jamban ini mempunyai 2 cara pembuangan kotorannya yaitu:

a. Tempat jongkok dan leher angsa atau pemasangan slab dan bowl langsung di

atas galian penampungan kotoran

b. Tempat jongkok dan leher angsa atau pemasangan slab dan bowl tidak berada

langsung di atas galian penampungan kotoran tetapi dibangun terpisah dan

dihubungkan oleh suatu saluran yang miring ke dalam lubang galian

penampungan kotoran.

2.2.3 Syarat-Syarat Jamban Sehat

Menurut Depkes RI (2004), jamban keluarga sehat adalah jamban yang

memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15

meter dari sumber air minum

2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus

3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari

tanah di sekitarnya

4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya

5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna

6. Cukup penerangan

7. Lantai kedap air

8. Ventilasi cukup baik

Universitas Sumatera Utara


20

9. Tersedia air dan alat pembersih

Menurut Arifin dalam Abdullah (2010) ada tujuh syarat-syarat jamban sehat

yaitu:

1. Tidak mencemari air

a. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran

tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Dinding dan dasar lubang

kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester

b. Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter

c. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada permukaan sumur agar air kotor dari

lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur

2. Tidak mencemari tanah permukaan

Jamban yang sudah penuh, segera disedot untuk dikuras kotorannya, kemudian

kotoran ditimbun di lubang galian

3. Bebas dari serangga

a. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap

minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam

berdarah

b. Ruangan jamban harus terang karena bangunan yang gelap dapat menjadi sarang

nyamuk

c. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bias menjadi

sarang kecoa atau serangga lainnya

d. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering

Universitas Sumatera Utara


21

e. Lubang jamban harus tertutup khususnya jamban cemplung

4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

a. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai

digunakan

b. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup

rapat oleh air

c. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk

membuang bau dari dalam lubang kotoran

d. Lantai jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus

dilakukan secara periodik

5. Aman digunakan oleh pemakainya

Untuk tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran

seperti: batu bata, selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lain

6. Mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

a. Lantai jamban seharusnya rata dan miring ke arah saluran lubang kotoran

b. Jangan membuang plastik, puntung rokok atau benda lain ke saluran kotoran

karena dapat menyumbat saluran

c. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban

akan cepat penuh

7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

a. Jamban harus berdinding dan berpintu

Universitas Sumatera Utara


22

b. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari

hujanan dan panas (Abdullah, 2010).

Menurut Notoatmodjo (2003), suatu jamban disebut sehat untuk daerah

pedesaan apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut.

2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.

3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.

4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan

binatang-binatang lainnya.

5. Tidak menimbulkan bau.

6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance).

7. Sederhana desainnya.

8. Murah.

Menurut Entjang (2000), ciri-ciri bangunan jamban yang memenuhi syarat

kesehatan yaitu harus memiliki:

a. Rumah jamban

Rumah jamban mempunyai fungsi untuk tempat berlindung pemakainya dari

pengaruh sekitarnya. Baik ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika.

Konstruksinya disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga

Universitas Sumatera Utara


23

b. Lantai jamban

Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik,

kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga

disesuaikan dengan bentuk rumah jamban

c. Slab (tempat kaki berpijak waktu si pemakai jongkok)

d. Closet (lubang tempat feces masuk)

e. Pit (sumur penampungan feces)

Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang fungsinya sebagai tempat

mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksinya dapat berbentuk sederhana berupa

lubang tanah saja.

f. Bidang resapan

Adalah sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang lengkap untuk

mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur kotoran/tinja.

2.2.4 Tujuan Penggunaan Jamban

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 852 Tahun 2008 tentang Strategi

Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, menyebutkan bahwa tujuan

penggunaan jamban sehat merupakan suatu fasilitas pembuangan tinja yang efektif

untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit.

Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik

dan memenuhi syarat kesehatan memiliki manfaat sebagai berikut:

a. Melindungi masyarakat dari penyakit

Universitas Sumatera Utara


24

b. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan sarana yang aman

c. Bukan sebagai tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit

d. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan (Azwar, 2000).

Menurut Firmansyah (2009), tujuan penggunaan jamban adalah sebagai

berikut:

1. Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau

2. Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya

3. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular

penyakit diare, kolera, disentri, tifus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan,

penyakit kulit dan keracunan.

2.3 Penggunaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), penggunaan adalah suatu

proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu dan pemakaian sesuatu yang

bermanfaat sehingga dapat mendatangkan kebaikan (keuntungan) bagi yang

menggunakannya. Penggunaan ini erat kaitannya dengan perilaku manusia yang

nyata dilakukan oleh seseorang dalam bentuk perbuatan.

2.4 Konsep Perilaku

Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia,

sedangkan dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam

diri manusia. Perilaku manusia tidak pernah berhenti pada suatu saat, perbuatan yang

dulu merupakan persiapan perbuatan yang kemudian dan perbuatan yang kemudian

Universitas Sumatera Utara


25

merupakan kelanjutan perbuatan sebelumnya (Purwanto, 1998). Perilaku manusia

adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung,

maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Teori yang pernah diujicobakan untuk mengetahui faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku kesehatan adalah teori kesehatan dari Lawrence Green

(1980). Green (1980) telah mengembangkan suatu model pendekatan yang dapat

digunakan untuk membuat perencanaan kesehatan yang dikenal sebagai kerangka

PRECEDE. PRECEDE ini merupakan singkatan dari Predisposing, Reinforcing, dan

Enabling Causes in Educational Diagnosis and Evalution. Green menganalisis

perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat

dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku dan faktor di luar perilaku.

Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor, yakni :

a. Faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,

keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

b. Faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau

tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas,

obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban, dan sebagainya.

c. Faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan

atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok yang berpengaruh terhadap

perubahan perilaku masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


26

Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan

ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang

atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap, dan

perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan

memperkuat terbentuknya perilaku.

Predisposing Factor

Pengetahuan
Kebiasaan
Nilai
Sikap
(beberapa variabel
demografi terpilih)

Enabling Factor

Ketersediaan fasilitas Perilaku


Keterjangkauan fasilitas
Keterampilan petugas
Komitmen pemerintah

Reinforcing Factor

Sikap dan perilaku


petugas, keluarga, guru,
tokoh masyarakat dan
sebagainya

(Sumber : Lawrence W. Green et al, Health Education Planning, A Diagnostic


Aprroach, 1980)

Gambar 2.1 Model PRECEDE dari Green (1980)

Universitas Sumatera Utara


27

2.5 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Jamban

2.5.1 Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini

terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Pengetahuan juga dapat diperoleh dari pengalaman orang lain yang disampaikan

kepadanya, dari buku, teman, orang tua, guru, radio, televisi, poster, majalah dan

surat kabar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), pengetahuan merupakan

segala sesuatu yang diketahui. Pengetahuan juga merupakan domain yang sangat

penting dalam terbentuknya perilaku seseorang. Menurut Notoatmodjo (2003),

pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang

objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya

Universitas Sumatera Utara


28

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke

dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut

dan masih ada kaitannya satu sama lain

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru

f. Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap

suatu materi atau objek.

2.5.2 Kebiasaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), kebiasaan disebut sebagai

sesuatu yang biasa dikerjakan dan dilakukan secara berulang untuk hal yang sama.

Menurut Tampubolon (2000), kebiasaan disebut sebagai perilaku atau kegiatan yang

bersifat fisik atau mental yang telah mendarah daging dan membudaya dalam diri

seseorang.

Buang air besar sembarangan merupakan prilaku yang masih sering dilakukan

masyarakat pedesaan. Kebiasaan ini disebabkan tidak tersedianya sarana sanitasi

berupa jamban. Penyediaan sarana pembuangan kotoran manusia (jamban) adalah

bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting peranannya, khususnya dalam usaha

pencegahan penularan penyakit saluran pencernaan. Ditinjau dari sudut kesehatan

Universitas Sumatera Utara


29

lingkungan, maka pembuangan kotoran yang tidak saniter akan dapat mencemari

lingkungan, terutama dalam mencemari tanah dan sumber air (Soeparmin, 2003).

2.5.3 Ketersediaan Jamban Umum

Ketersediaan adalah kestabilan dan kesinambungan penyediaan sarana dan

prasarana (Suryana, 2004). Ketersedianya sarana sanitasi merupakan hal yang penting

dalam kesehatan lingkungan sebagai upaya untuk lokalisasi pembuangan tinja dan

limbah cair lainnya secara terpusat, menjaga kebersihan air baik air tanah maupun air

permukaan seperti sungai, dan merupakan upaya untuk mengurangi resiko penularan

penyakit dan gangguan kesehatan lainnya (Soenarto, 2000).

2.5.4 Keterjangkauan Jamban Umum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), keterjangkauan disebut

sebagai kemudahan dalam mencapai. Menurut Notoatmodjo (2007), keterjangkauan

masyarakat dalam mencapai tempat-tempat fasilitas sanitasi seperti sarana jamban

merupakan bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting peranannya untuk

mencegah kontaminasi kotoran manusia.

Menurut Soenarto (2000), untuk memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang

atau masyarakat dalam penggunaan fasilitas sanitasi seperti sarana jamban maka

harus mempertimbangkan jarak fasilitas yang tidak terlalu jauh dengan tempat

pemukiman masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


30

2.5.5 Kebijakan Daerah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), kebijakan merupakan

rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam

pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Kebijakan berisi

peraturan untuk mengatur secara sah batasan-batasan perilaku masyarakat agar

bertindak sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Usman (2004), kebijakan bukan sekedar pernyataan cita-cita, tujuan,

atau garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran, tetapi suatu

kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan. Menurut Supriyadi

(2007), kebijakan adalah jawaban terhadap suatu masalah, dan merupakan upaya

untuk memecahkan, mengurangi, mencegah suatu masalah dengan cara tertentu yaitu

dengan tindakan terarah.

Kebijakan daerah adalah serangkaian tindakan yang ditetapkan dan

dilaksanakan pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan

tertentu demi kepentingan masyarakatnya. Menurut Dunn (2003), kebijakan daerah

adalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu

di masyarakat dimana dalam penyusunannya melalui berbagai tahapan.

2.5.6 Dukungan Tenaga Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2007), dukungan adalah suatu upaya yang diberikan

kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi seseorang atau

masyarakat dalam melaksanakan kegiatan. Perubahan perilaku seseorang atau

Universitas Sumatera Utara


31

masyarakat tentang kesehatan ditentukan dan dibentuk oleh pengetahuan yang

diterima kemudian timbul persepsi dari individu yang memunculkan sikap dan niat

untuk mewujudkan suatu perilaku. Menurut Notoatmodjo (2005), untuk

memberdayakan perubahan perilaku kesehatan masyarakat dengan baik diperlukan

dukungan dari tenaga kesehatan untuk memberikan contoh yang baik maupun

membekali masyarakat dengan pengetahuan/informasi yang bermanfaat.

Menurut Notoatmodjo (2003), memberikan contoh yang baik sebagai tokoh

panutan bagi masyarakat merupakan suatu dukungan agar masyarakat berperilaku

atau mengadopsi perilaku kesehatan baik dengan cara persuasi, bujukan, himbauan,

ajakan, melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan. Dampak yang timbul

dari cara ini terhadap perubahan perilaku masyarakat akan memakan waktu lama,

namun bila perilaku tersebut berhasil diadopsi masyarakat maka akan langgeng

bahkan selama hidup dilakukan. Dukungan tenaga kesehatan juga merupakan suatu

bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku individu, kelompok,

atau masyarakat agar perilaku tersebut mempunyai pengaruh terhadap pemeliharaan

dan peningkatan kesehatan.

Dari beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dukungan tenaga

kesehatan dalam memberikan contoh yang baik maupun memberikan

informasi/pengetahuan kepada masyarakat merupakan suatu upaya pemberdayaan

perubahan perilaku kesehatan masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan

derajat kesehatan.

Universitas Sumatera Utara


32

2.5.7 Dukungan Tokoh Masyarakat

Menurut Notoatmodjo (2005), salah satu pembentuk perilaku seseorang atau

masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh adanya acuan atau referensi dari

seseorang atau pribadi yang dipercayai (personnal references). Di dalam masyarakat,

sikap paternalistic masih kuat sehingga perubahan perilaku masyarakat masih

bergantung kepada tokoh masyarakat setempat sebagai acuan pribadi yang

dipercayai.

2.6 Kerangka Konsep

Pengaruh predisposing factor (pengetahuan dan kebiasaan), enabling factor

(ketersediaan, keterjangkauan, dan kebijakan daerah), dan reinforcing factor

(dukungan tenaga kesehatan dan dukungan tokoh masyarakat) terhadap penggunaan

jamban di Desa Gunungtua Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Tahun 2014.

Variabel Bebas Variabel Terikat


Predisposing Factor:
Pengetahuan
kebiasaan

Enabling Factor:
Ketersediaan Jamban Umum Penggunaan
Keterjangkauan Jamban Umum Jamban
Kebijakan Daerah

Reinforcing Factor:
Dukungan Tenaga Kesehatan
Dukungan Tokoh Masyarakat

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara


33

Berdasarkan kerangka konsep, dapat dirumuskan definisi konsep variabel

penelitian sebagai berikut:

1. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003).

2. Kebiasaan merupakan sebagai sesuatu yang biasa dikerjakan dan dilakukan secara

berulang untuk hal yang sama yang telah mendarah daging dan membudaya

dalam diri seseorang (Tampubolon, 2000).

3. Ketersediaan adalah kestabilan dan kesinambungan penyediaan fasilitas sarana

dan prasarana (Suryana, 2004).

4. Keterjangkauan disebut sebagai kemudahan dalam mencapai (KBBI, 2007).

5. Kebijakan daerah adalah jawaban terhadap suatu masalah, dan merupakan upaya

untuk memecahkan, mengurangi, mencegah suatu masalah dengan cara tertentu

yaitu dengan tindakan terarah (Supriyadi, 2007).

6. Dukungan tenaga kesehatan adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain,

baik moril maupun materil untuk memotivasi seseorang atau masyarakat dalam

melaksanakan kegiatan untuk perubahan perilaku kesehatan masyarakat

(Notoatmodjo, 2007).

7. Dukungan tokoh masyarakat adalah acuan atau referensi dari seseorang atau

masyarakat dalam membentuk perilakunya, dimana pembentukan perilaku

seseorang atau masyarakat tersebut masih bergantung kepada tokoh masyarakat

setempat sebagai pribadi yang dipercayai (Notoatmodjo, 2005).

Universitas Sumatera Utara


34

8. Penggunaan adalah suatu proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu dan

pemakaian sesuatu yang bermanfaat sehingga dapat mendatangkan kebaikan

(keuntungan) bagi yang menggunakannya (KBBI, 2007).

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh predisposing factor

(pengetahuan dan kebiasaan), enabling factor (ketersediaan, keterjangkauan, dan

kebijakan daerah), dan reinforcing factor (dukungan tenaga kesehatan dan dukungan

tokoh masyarakat) terhadap penggunaan jamban di Desa Gunungtua Kecamatan

Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2014.

Universitas Sumatera Utara