Anda di halaman 1dari 14

5 Benang Merah dalam Asuhan Persalinan

1 Keputusan klinis
Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk menyelesaikan masalah dan
menentukan asuhan yang diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman,
baik bagi pasien
dan keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan. Membuat keputusan klinik tersebut
dihasilkan melalui serangkaian proses metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari
olah kognitif dan intuisif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan intervensi berdasarkan bukti
(evidence-based), ketrampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang
logis dan diperlukan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney,
1997) Langkah" membuat keputusan klinik diantaranya :
 Pengumpulan data
 Diagnosa
 Penatalaksanaan
 Evaluasi
2 Sayang ibu dan Bayi
Beberapa prinsip dasar Asuhan Sayang Ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga
selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasilnpenelitian menunjukkan bahwa jika para
ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan
baik mengenai prose perslinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa
aman dan hasil yang lebih baik (Enkin, 2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut diatas dapat
mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum,, cunam, seksio sesar, dan persalinan berlangsung
lebih cepat (Enkin, 2000)
Berikut penerapan asuhan sayang ibu :
 Panggil nama ibu
 Jelaskan sebelum/sesudah asuhan yang diberikan
 Jelaskan proses persalinan pada ibu dan keluarga
 Anjurkan ibu bertanya
 Hargai privacy
3 Pencegahan infeksi
Tujuan tindakan" pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan :
 Minimalkan infeksi
 Menentukan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti Hepatitis dan HIV/AIDS
4 Dokumentasi
Aspek" penting dalam pencatatan termasuk :
 Tanggal dan waktu asuhan kebidanan
 Identitas penolong
 Paraf atau TTD pada semua catatan
 Informasi berkaitan harus ditulis tepat, jelas dan dapat dibaca
 Sistem pencatatan pasien harus terpelihara dan siap sedia
5 Rujukan
Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan dan Kelahiran Bayi

Ada lima aspek dasar atau Lima Benang Merah, yang penting dan saling terkait dalam asuhan
persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal
maupun patologis. Lima Benang Merah tersebut adalah:

1. Membuat Keputusan Klinik


2. Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi
3. Pencegahan Infeksi
4. Pencatatan (Rekam Medik) Asuhan Persalinan
5. Rujukan

Lima benang merah ini akan selalu berlaku dalam penatalaksanaan persalinan, mulai dari kala satu
hingga kala empat, termasuk penatalaksanaan bayi baru lahir.
Tujuan yang diharapkan adalah dapat:

1. Memahami langkah-langkah pengambilan keputusan klinik


2. Menjelaskan asuhan sayang ibu dan bayi
3. Menjelaskan prinsip dan praktik pencegahan infeksi
4. Menjelaskan manfaat dan cara pencatatan medik asuhan persalinan
5. Menjelaskan hal-hal penting dalam melakukan rujukan

Kerangka pembahasan Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan dan Kelahiran Bayi:
Membuat Keputusan Klinik

oPengumpulan Data
oInterpretasi Data untuk Mendukung Diagnosis atau Identifikasi Masalah
oMenetapkan Diagnosis Kerja atau Merumuskan Masalah
oMenilai Adanya Kebutuhan dan Kesiapan Intervensi untuk Menghadapi Masalah
oMenyusun Rencana Asuhan atau Intervensi
oMelaksanakan Asuhan
oMemantau dan Mengevaluasi Efektifitas Asuhan atau Intervensi Solusi
2. Asuhan Sayang Ibu
o Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan
o Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pasca Persalinan
3. Pencegahan Infeksi
o Tujuan Pencegahan Infeksi dalam Pelayanan Asuhan Kesehatan
o Definisi Tindakan-tindakan Pencegahan Infeksi
o Prinsip-prinsip Pencegahan Infeksi
o Tindakan-tindakan Pencegahan Infeksi
 Cuci Tangan
 Memakai Sarung Tangan
 Menggunakan Teknik Aseptik
 Memproses Alat Bekas Pakai
 Dekontaminasi
 Pencucian dan Pembilasan
 DTT dan Sterilisasi
 Penggunaan Peralatan Tajam Secara Aman
 Pengelolaan Sampah dan Mengatur Kebersihan dan Kerapihan
o Pertimbangan-pertimbangan Mengenai PI Diluar Institusi
4. Pencatatan (Dokumentasi)
5. Rujukan

Sumber referensi: Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR 2008


Membuat Keputusan Klinik

Membuat keputusan merupakan proses yang menentukan untuk menyelesaikan masalah dan menentukan
asuhan yang diperlukan oleh pasien. Keputusan itu harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi pasien dan
keluarganya maupun petugas yang memberikan pertolongan. Membuat keputusan klinik tersebut dihasilkan
melalui serangkaian proses dan metode yang sistematik menggunakan informasi dan hasil dari olah kognitif
dan intuitif serta dipadukan dengan kajian teoritis dan invervensi berdasarkan bukti (evidence-based),
keterampilan dan pengalaman yang dikembangkan melalui berbagai tahapan yang logis dan diperlukan dalam
upaya untuk menyelesaikan masalah dan terfokus pada pasien (Varney, 1997).
Semua upaya diatas akan bermuara pada bagaimana kinerja dan perilaku yang diharapkan dari seorang
pemberi asuhan dalam menjalankan tugas dan pengalaman ilmunya kepada pasien atau klien. Pengetahuan
dan keterampilan saja ternyata tidak dapat menjamin asuhan atau pertolongan yang diberikan dapat
memberikan hasil maksimal atau memenuhi standar kualitas pelayanan dan harapan pasien apabila tidak
disertai dengan perilaku yang terpuji.

Tujuan langkah dalam membuat keputusan klinik:

1. Pengumpulan data utama dan relevan untuk membuat keputusan


2. Menginterpretasikan data dan mengidentifikasi masalah
3. Membuat diagnosis atau menentukan masalah yang terjadi/ dihadapi
4. Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk mengatasi masalah
5. Menyusun rencana pemberian asuhan dan intervensi untuk solusi masalah
6. Melaksanakan asuhan/ intervensi terpilih
7. Memantau dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi.

Pengumpulan Data

Semua pihak yang terlibat mempunyai peranan penting dalam setiap langkah untuk membuat keputusan klinik.
Data utama (misalnya, riwayat persalinan), data subyektif yang diperoleh dari anamnesis (misalnya, keluhan
pasien), dan data obyektif dari pemeriksaan fisik (misalnya, tekanan darah) diperoleh melalui serangkaian
upaya sistematik dan terfokus. Validitas dan akurasi data akan sangat membantu pemberi pelayanan untuk
melakukan analisis yang pada akhirnya, akan menghasilkan keputusan klinik yang tepat. Data subyektif adalah
informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dan telah dialaminya. Data
subyektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu,
terutama jika ibu merasa sangat nyeri atau sangat sakit. Data obyektif adalah informasi yang dikumpulkan
berdasarkan pemeriksaan/ pengamatan terhadap ibu atau bayi baru lahir.

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara:

 Anamnesa dan observasi langsung:


Berbicara dengan ibu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi dan mencatat riwayat
kesehatan ibu. Termasuk juga mengamati perilaku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit,
merasakan nyaman atau nyeri.
 Pemeriksaan fisik:
inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
 Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan laboratorium, USG, Rontgen, dan sebagainya.
 Catatan medik.

Interpretasi Data untuk Mendukung Diagnosis atau Identifikasi Masalah

Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan melakukan analisis dan mengikuti algoritma diagnosis.
Peralihan dari analisis data menuju pada pembuatan diagnosis bukanlah suatu proses yang linear (berada pada
suatu garis lurus) melainkan suatu proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung terus menerus. Suatu diagnosis
kerja diuji dan dipertegas atau dikaji ulang berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data secara terus
menerus.

Untuk identifikasi masalah dan membuat diagnosis, diperlukan:

 Data yang lengkap dan akurat


 Kemampuan untuk menginterpretasi/ analisis data
 Pengetahuan esensial, intuisi dan pengalaman yang relevan dengan masalah yang ada.

Diagnosis dibuat sesuai dengan istilah atau nomenklatur (istilah yang dikenal/ biasa dipakai) spesifik kebidanan
yang mengacu pada data utama, analisis dan subyektif dan obyektif yang diperoleh. Diagnosis menunjukkan
variasi kondisi yang berkisar antara normal dan patologik yang memerlukan upaya korektif untuk
menyelesaikannya. Masalah dapat memiliki dimensi yang luas dan mungkin berada di luar konteks sehingga
sulit untuk segera diselesaikan. Masalah obstetrik merupakan bagian dari diagnosis sehingga selain upaya
korektif dalam penatalaksanaan, juga diperlukan upaya penyertaan untuk mengatasi masalah.
Contoh:

Diagnosis : G2P1A0, hamil 37 minggu, ketuban pecah dini


2 jam

Masalah : kehamilan yang tidak diinginkan atau takut


untuk menghadapi persalinan

Menetapkan Diagnosis Kerja dan Merumuskan Masalah

Bagian ini dianalogikan dengan proses diagnosis kerja setelah mengembangkan berbagai kemungkinan
lain (diagnosis banding). Rumusan masalah mungkin saja terkait langsung maupun tidak langsung
terhadap diagnosis tetapi dapat pula merupakan masalah utama yang paling terkait dengan beberapa
masalah penyerta atau faktor lain yang berkontribusi dalam terjadinya masalah utama.
Dalam pekerjaan sehari-hari, penolong persalinan yang terampil, akan segera mengetahui bahwa
seorang pasien adalah primigravida dalam fase aktif persalinan (diagnosis). Tetapi apabila sang ibu
juga mengalami anemia (masalah) maka identifikasi penyebab masalah ini tidak mudah seperti
membuat diagnosis di atas. Hal tersebut memerlukan analisis lanjutan untuk menentukan apakah
anemia tadi disebabkan oleh definisi zat besi (kurang asupan), investasi parasit (malaria, cacing, dsb)
atau budaya setempat (faktor sosial dan rendahnya pendidikan) yang melarang ibu hamil
mengkonsumsi makanan bergizi (malnutrisi). Dengan kata lain, walaupun sudah ditegakkan diagnosis
kerja tetapi bukan berarti bahwa tidak ada masalah lain yang dapat menyertai atau mengganggu upaya
pertolongan yang akan diberikan oleh seorang penolong pesalinan.
Contoh:
Ibu hamil dengan hidramanion, bayi makrosomia, kehamilan ganda yang jelas secara diagnosis tetapi
masih dibarengi dengan masalah lanjutan walaupun kasus utamanya diselesaikan. Bayi besar yang
mungkin dapat dengan selamat dilahirkan oleh penolong persalinan harus tetap diwaspadai sebagai
faktor yang potensial untuk menimbulkan masalah, misalnya: terjadi hipoglikemia pada bayi baru lahir
(bayi makrosomia dari ibu dengan diabetes melitus) atau perdarahan pasca persalinan karena
makrosomia adalah faktor predisposisi untuk atonia uteri.

Menilai Adanya Kebutuhan dan Kesiapan Intervensi untuk Menghadapi Masalah

Petugas kesehatan di lini depan atau bidan di desa, tidak hanya diharapkan terampil membuat diagnosis
bagi pasien atau klien yang dilayaninya tetapi juga harus mampu mendeteksi setiap situasi yang dapat
mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Untuk mengenai situasi tersebut, para bidan harus
pandai membaca situasi klinik dan budaya masyarakat setempat sehingga mereka tanggap dalam
mengenali kebutuhan terhadap tindakan segera sebagai langkah penyelamatan ibu dan bayinya apabila
situasi gawat darurat memang terjadi.

Upaya ini dikenal sebagai kesiapan menghadapi persalinan dan tanggap terhadap komplikasi yang
mungkin terjadi (birth preparedness and complication readiness). Dalam uraian-uraian berikutnya,
petugas pelaksana persalinan akan terbiasa dengan istilah rencana rujukan yang harus selalu disiapkan
dan didiskusikan diantara ibu, suami dan penolong persalinan.

Contoh:
Untuk menghadapi ibu hamil dengan preeklampsia berat dan tekanan darah yang cenderung selalu
meningkat maka seorang bidan harus berkonsultasi dengan tenaga ahli di rumah sakit atau spesialis
terdekat untuk menyiapkan tindakan/ upaya yang dapat dilakukan bila sang ibu mulai menunjukkan
gejala dan tanda gawat darurat. Pada keadaan tertentu, mungkin saja seorang bidan harus menangani
kasus distosia bahu tanpa bantuan siapapun. Apabila ia tidak pernah dilatih untuk mengatasi hal itu atau
ia tidak mengetahui tanda-tanda distosia bahu maka ia tidak pernah tahu bahwa perlu disiapkan sesuatu
(pengetahuan, keterampilan, dan rujukan) untuk mengatasi hal tersebut. Hal yang paling buruk dan
mungkin saja terjadi adalah sang bayi tidak dapat dilahirkan dan kemudian meninggal dunia karena
bidan tersebut berupaya melahirkan bayi tetapi tidak pernah tahu bagaimana cara mengatasi hal
tersebut.

Menyusun Rencana Asuhan dan Intervensi

Rencana asuhan atau intervensi bagi ibu bersalin dikembangkan melalui kajian data yang telah
diperoleh, identifikasi kebutuhan atau kesiapan asuhan dan intervensi, dan mengukur sumberdaya atau
kemampuan yang dimiliki. Hal ini dilakukan untuk membuat ibu bersalin dapat ditangani secara baik
dan melindunginya dari berbagai masalah atau penyulit potensial dapat mengganggu kualitas
pelayanan, kenyamanan ibu ataupun mengancam keselamatan ibu dan bayi.

Rencana asuhan harus dijelaskan dengan baik kepada ibu dan keluarganya agar mereka mengerti
manfaat yang diharapkan dan bagaimana upaya penolong untuk menghindarkan ibu dan bayinya dari
berbagai gangguan yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwa atau kualitas hidup mereka.

Contoh:
Rencana asuhan kala satu:

 denyut jantung janin: setiap ½ jam


 frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap ½ jam
 nadi: setiap ½ jam
 pembukaan serviks: setiap 4 jam
 penurunan bagian terbawah janin: setiap 4 jam
 tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
 produksi urin, aseton dan protein: setiap 2 sampai 4 jam

Rencana asuhan pada kasus tali pusat menumbung:

 pemberian oksigen nasal 6 L/menit


 mengatur posisi ibu untuk mencegah kompresi tali pusat oleh bagian tubuh bayi
 menghubungi rumah sakit rujukan untuk tindakan lanjutan
 stabilisasi kondisi ibu dan bayi yang dikandungnya
 pemantauan DJJ.

Melaksanakan Asuhan

Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara tepat waktu dan aman. Hal ini
akan menghindarkan terjadinya penyulit dan memastikan bahwa ibu dan/ atau bayinya yang baru lahir
akan menerima asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang
beberapa intervensi yang dapat dijadikan pilihan untuk kondisi yang sesuai dengan apa yang sedang
dihadapi sehingga mereka dapat membuat pilihan yang baik dan benar. Pada beberapa keadaan,
penolong sering dihadapkan pada pilihan yang baik dan benar. Pada beberapa keadaan, penolong sering
dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ibu dan keluarga meminta penolong yang menentukan
intervensi yang terbaik bagi mereka. Penjelasan bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan hak klien,
memerlukan pengertian dan kerja sama yang baik dari ibu dan keluarganya. Jelaskan bahwa kewajiban
petugas adalah memberikan konseling, penjelasan objektif dan mudah dimengerti agar klien dan
keluarga memahami situasi yang dihadapi dan mampu membuat keputusan untuk memperoleh hasil
yang terbaik bagi ibu, bayi dan keluarga.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pilihan adalah:
 Bukti-bukti ilmiah
 Rasa percaya ibu terhadap penolong persalinan'
 Pengalaman saudara atau kerabat untuk kasus yang serupa
 Tempat dan kelengkapan fasilitas kesehatan
 Biaya yang diperlukan
 Akses ke tempat rujukan
 Luaran dari sistem dan sumberdaya yang ada.

Memantau dan Mengevaluasi Efektifitas Asuhan atau Intervensi Solusi

 Penatalaksanaan yang telah dikerjakan kemudian dievaluasi untuk menilai efektivitasnya.


Tentukan apakah perlu dikaji ulang atau diteruskan sesuai dengan rencana kebutuhan saat itu.
Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, memilih intervensi, menilai kemampuan diri,
melaksanakan asuhan atau intervensi dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar). Lanjutkan
evaluasi asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir. Jika pada saat evaluasi
ditemukan status ibu atau bayi baru lahir telah berubah, sesuaikan asuhan yang diberikan untuk
memenuhi perubahan kebutuhan tersebut.

Asuhan atau intervensi dengan membawa manfaat dan teruji efektivitasnya apabila masalah
yang dihadapi dapat diselesaikan atau membawa dampak yang menguntungkan terhadap
diagnosis yang telah diberikan. Apapun jenisnya, asuhan dan intervensi yang diberikan harus
efisien, efektif, dan dapat diaplikasikan pada kasus serupa dimasa datang. Bila asuhan atau
intervensi tidak membawa hasil atau dampak seperti yang diharapkan maka sebaiknya
dilakukan kajian ulang dan penyusunan kembali rencana asuhan hingga pada akhirnya dapat
memberikan dampak seperti yang diharapkan.

Asuhan Sayang Ibu

Asuhan Sayang Ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Cara proses
paling mudah membahayakan mengenai Asuhan Sayang Ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri,
“Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan?” atau “Apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan
untuk keluarga saya yang sedang hamil?”.
Beberapa prinsip dasar Asuhan Sayang Ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses
persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi
dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan
asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik (Enkin, et al.,
2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut di atas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum,
cunan, dan seksio sesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat (Enkin et. al., 2000).

Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan


1. Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan jaga martabatnya
2. Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum memulai asuhan tersebut
3. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya
4. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir
5. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu
6. Berikan dukungan, besarkan dan tentramkan hatinya serta anggota-anggota keluarganya
7. Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/ atau anggota keluarga lain selama persalinan dan kelahiran
bayinya
8. Ajarkan suami dan anggota-anggota keluarga tentang bagaimana mereka memperhatikan dan
mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya
9. Laksanakan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik secara konsisten
10. Hargai privasi ibu
11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi
12. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi
13. Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan sepanjang ia menginginkannya
14. Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak merugikan kesehatan ibu
15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi, insiasi
menyusu dini dan membangun hubungan psikologis
16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah bayi lahir
17. Siapkan rencana rujukan (bila perlu)
18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan mencukupi semua bahan yang
diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran.

Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pasca Persalinan

1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung)


2. Bantu ibu untuk menyusukan bayinya, anjurkan memberikan ASI sesuai dengan yang diinginkan
bayinya dan ajarkan tentang ASI eksklusif
3. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan
4. Anjurkan suami dan keluarganya untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran bayi
5. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya yang mungkin terjadi dan anjurkan
mereka untuk mencari pertolongan jika timbul atau kekhawatiran.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa ibu-ibu di Indonesia tidak mau meminta pertolongan tenaga terlatih
untuk memberikan asuhan persalinan dan melahirkan bayi. Sebagian dari mereka beralasan bahwa penolong
terlatih tidak memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam
persalinan dan kelahiran bayinya. Penyebab lain dari kurangnya utilisasi atau pemanfaatan fasilitas kesehatan
adalah peraturan yang rumit dan prosedur tak bersahabat/ menakutkan bagi para ibu. Contohnya adalah tak
memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga
menemani ibu, membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan kelahiran bayi dan
memisahkan ibu dari bayinya segera setelah bayi dilahirkan.

Pencegahan Infeksi
Penolong persalinan secara konsisten dan sistematis harus menggunakan praktik pencegahan infeksi seperti
cuci tangan, penggunaan sarung tangan, menjaga sanitasi lingkungan yang sesuai bagi proses persalinan,
kebutuhan bayi dan proses ulang peralatan bekas pakai.

Pembahasan pencegahan infeksi ini terdiri dari:

1. Tujuan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan


2. Definisi tindakan-tindakan pencegahan infeksi
3. Prinsip-prinsip pencegahan infeksi
4. Tindakan-tindakan pencegahan infeksi
o Cuci tangan
o Memakai sarung tangan
o Menggunakan teknik aseptik
o Memproses alat bekas pakai
 Dekontaminasi
 Pencucian dan pembilasan
 DTT dan sterilisasi
5. Penggunaan peralatan tajam secara aman
6. Pengelolaan sampah dan mengatur kebersihan dan kerapihan
7. Pertimbangan-pertimbangan mengenai PI di luar institusi

Pencatatan (Dokumentasi)

Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/ atau bayinya. Jika asuhan tidak dicatat, dapat
dianggap hal tersebut tidak dilakukan. Pencatatan adalah bagian penting dari proses membuat
keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan
asuhan yang diberikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan
memungkinkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam
merumuskan suatu diagnosis dan membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atau bayinya.
Partograf adalah bagian terpenting dari proses pencatatan selama persalinan. (lihat bagian partograf
untuk penjelasan lengkap mengenai partograf).
Pencatatan rutin adalah penting karena:

 Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan mengevaluasi apakah
asuhan atau perawatan sudah sesuai dan efektif, mengidentifikasi kesenjangan pada asuhan
yang diberikan dan untuk membuat perubahan dan peningkatan pada rencana asuhan atau
perawatan
 Dapat digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan proses membuat keputusan klinik. Dari aspek
metode keperawatan, informasi tentang intervensi atau asuhan yang bermanfaat dapat dibagikan
atau diteruskan kepada tenaga kesehatan lainnya
 Merupakan catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yang diberikan
 Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan. Hal ini menjadi penting jika ternyata
rujukan memang diperlukan karena hal ini berarti lebih dari satu penolong persalinan akan
memberikan perhatian dan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir
 Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, dari
satu penolong persalinan ke penolong persalinan lainnya, atau dari seorang penolong persalinan
ke fasilitas kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan akan mendapat
informasi yang relevan dari setiap ibu atau bayi baru lahir yang diasuhnya
 Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus
 Diperlukan untuk memberi masukan data statistik nasional dan daerah, termasuk catatan
kematian dan kesakitan ibu/ bayi baru lahir

Aspek-aspek penting dalam pencatatan termasuk:

 Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan


 Identitas penolong persalinan
 Paraf atau tanda tangan (dari penolong persalinan) pada semua catatan
 Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas dan dapat dibaca
 Suatu sistem untuk memelihara catatan pasien sehingga selalu siap tersedia
 Kerahasiaan dokumen-dokumen medis.

Ibu harus diberikan salinan catatannya (catatan klinik antenatal, dokumen-dokumen rujukan, dll)
beserta panduan yang jelas mengenai:

 Maksud dari dokumen-dokumen tersebut


 Kapan harus dibawa
 Kepada siapa harus diberikan
 Bagaimana menyimpan dan mengamankannya baik di rumah atau selama perjalanan ke tempat
rujukan.

“Ingat:

 Catat semua data, hasil pemeriksaan, diagnosis, obat-obatan, asuhan/ perawatan, dll
 Jika tidak dicatat, dapat dianggap bahwa asuhan tersebut tidak dilakukan
 Pastikan setiap partograf bagi setiap pasien telah diisi dengan lengkap dan benar.”

Rujukan

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas rujukan atau fasilitas yang memiliki sarana
lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Meskipun
sebagian besar ibu akan mengalami persalinan normal namun sekitar 10-15% diantaranya akan
mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk ke fasilitas
kesehatan rujukan. Sangat sulit untuk menduga kapan penyulit akan terjadi sehingga kesiapan untuk
merujuk ibu dan/ atau bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat waktu( jika
penyulit terjadi) menjadi syarat bagi keberhasilan upaya penyelamatan.
Setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas yang mampu untuk menatalaksana kasus
gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir seperti:

 Pembedahan, termasuk bedah sesar


 Transfusi darah
 Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau cunam
 Pemberian antibiotik intravena
 Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bayi baru lahir

Informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna waktu,
biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ke tempat rujukan adalah wajib untuk diketahui oleh
setiap penolong persalinan. Jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur yang singkat dan jelas. Jika
ibu bersalin atau bayi baru lahir dirujuk ke tempat yang tidak sesuai maka mereka akan kehilangan
waktu yang sangat berharga untuk menangani penyulit atau komplikasi yang dapat mengancam
keselamatan jiwa mereka.

Pada saat ibu melakukan kunjungan antenatal, jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan
meminta kerja sama yang baik dari suami atau keluarga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan
bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayinya, termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan. Pada
waktu terjadi penyulit, seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan ketidaksiapan
ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan ibu untuk membahas dan
membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya. Tawarkan agar penolong mempunyai
kesempatan untuk berbicara dengan suami dan keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya
rencana rujukan apabila diperlukan.

Masukkan persiapan-persiapan dan informasi berikut ke dalam rencana rujukan:

 Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir


 Tempat-tempat rujukan yang lebih disukai ibu dan keluarga? (Jika ada lebih dari satu
kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan
yang diperlukan)
 Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mengemudikannya. Ingat bahwa
tranportasi harus segera tersedia, baik siang maupun malam
 Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika transfusi darah diperlukan
 Uang yang disisihkan untuk asuhan medik, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan
 Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah

Kaji ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus dilakukan selama ibu
melakukan kunjungan asuhan antenatal atau di awal persalinan (jika mungkin). Jika ibu belum
membuat rencana rujukan selama kehamilannya, penting untuk dapat mendiskusikan rencana tersebut
dengan ibu dan keluarganya di awal persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan rencana
rujukan belum dibicarakan maka seringkali sulit untuk melakukan semua persiapan-persiapan secara
tepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu
dan bayi baru lahir.
Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan
rujukan untuk ibu dan bayi

B: (Bidan) Pastikan bahwa ibu dan/ atau bayi baru lahir didampingi
oleh penolong pesalinan yang kompeten untuk
menatalaksana gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir
untuk dibawa ke fasilitas rujukan

A: (Alat) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan


persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik,
selang IV, alat resusitasi, dll) bersama ibu ke tempat
rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin
diperlukan jika ibu melahirkan dalam perjalanan menuju
fasilitas rujukan

K: Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu


Keluarga) dan/ atau bayi dan mengapa ibu dan/ atau bayi perlu
dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan tujuan merujuk
ibu ke fasilitas rujukan tersebut. Suami atau anggota
keluarga yang lain harus menemani ibu dan bayi baru lahir
hingga ke fasilitas rujukan

S: (Surat) Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus


memberikan identifikasi mengenai ibu dan/ atau bayi baru
lahir, cantumkan alasan rujukan dan uraikan hasil
pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu
dan/ atau bayi baru lahir. Sertakan juga partograf yang
dipakai untuk membuat keputusan klinik

O: (Obat) Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke


fasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin diperlukan
selama di perjalanan

K: Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk


(Kendaraan) merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu,
pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai
tujuan pada waktu yang tepat

U: (Uang) Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah


yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan
dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama
ibu dan/ atau bayi baru lahir tinggal di fasilitas rujukan