Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia, fasilitas
pembangunan lebih diutamakan sehingga terjadi peningkatan angka
kemakmuran masyarakat, maka terjadilah penurunan angka kematian akibat
penyakit infeksi dan diikuti peningkatan penyakit geriatrik antara lain CVD
(Cerebrovascular Accident), hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung
koroner dan penyakit ginjal kronis.
Penyakit gagal ginjal kronik merupakan penyakit yang sangat berbahaya
karena penyakit ini dapat berlangsung lama dan mematikan. Disamping itu
pula penyakit gagal ginjal kronik sangat membutuhkan biaya yang cukup
banyak dan penyakit gagal ginjal kronik sangat sukar disembuhkan.
Gagal ginjal sebenarnya bukan penyakit batu, American Kidney Asosiation
misalnya menyebutkan gagal ginjal menjadi penyebab kematian nomor lima
di amerika pada tahun 2008 (Misnardiarly, 2008).
Di negara Afrika insiden gagal ginjal kronik 3-4 kali lipat dibandingkan
dengan negara maju. Angka kematian nya mencapai 200 kejadian perjuta
penduduk. Kejadian baru 34-200 perjuta populasi Afrika Selatan (Arizal,
2009).
Berdasarkan RIKERDAS (2013) prevalensi berdasarkan umur yang paling
tinggi umur >75 tahun (0,6%), berdasarkan jenis kelamin laki-laki (0,3%),
berdasarkan tempat tinggal pedesaan (0,3%), berdasarkan status pekerjaan
wiraswasta (0,3%), buruh (0,3%).

B. Tujuan
Untuk mengetahui konsep dan teori yang berkaitan dengan gagal ginjal
kronik dan memahami tentang pelaksanaan asuhan keperawatan dengan gagal
ginjal kronik melalui pendekatan proses keperawatan.

1
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Gagal ginjal kronis adalah gagal ginjal atau penyakit renal tahap akhir
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolism dan
keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan
sampah nitrogen lain dalam darah (Purnomo, 2008).
Menurut Suharyanto (2009) gagal ginjal kronik adalah penurunan faal
ginjal yang menahun yang tidak reversible yang cukup lanjut. Penyakit ginjal
dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal
progresif dan pada umumnya.
Sedangkan meurut Nursalam (2006) gagal ginjal kronik adalah gagal ginjal
progresif yang berakibat fatal dan di tandai dengan uremia (ure dan limbah
nitrogen lainnya beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan
dialysis atau transplantasi ginjal).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan gagal ginjal
kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif menahun dan
ireversibel yang mengakibatkan gejala seperti sindrom uremia.

B. Etiologi
Menurut Padila (2012) ada beberapa yang menyebabkan gagal ginjal kronik
yaitu:
1. Pielonefritis
Identifikasi dan penyebab pielonefritis kronis masih kontroversial.
Masalah utama dalam identifikasi adalah banyaknya daerah peradangan dan
penyakit iskemik ginjal lain yang menghasilkan daerah fokal segmental
yang tidak dapat dibedakan dengan yang dihasilkan oleh infeksi bakteri.

2
2. Glomerulonephritis Kronis
Glomerulonephritis kronis (CGN) di tandai dengan kerusakan
glomelurus secara progresif lambat akibat glomerulonephritis yang sudah
berlangsung lama.
3. Hipertensi
Pada ginjal arteriorsklerosis ginjal akibat hipertensi lama menyebabkan
nefrosklerosis benigna. Gangguan ini merupakan akibat langsung iskemia
karean penyempitan lumen pembuluh darah intra renal.
4. Diabetes Mellitus
Nefropati diabetika merupakan salah satu penyebab kematian penting
pada diabetes melitus yang lama. Lebih dari sepertiga dari semua pasien
baru masuk dalam program ESRD menderita gagal ginjal.

C. Manifestasi Klinis
Karena pada gagal ginjal kronik setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh
kondisi uremia, maka pasien akan perlihatkan sejumlah tanda dan gejala.
Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagaian dan tingkat kerusakan
ginjal, kondisi lain yang mendasari dan usia pasien. manifestasi
kardiovaskuler, pada gagal ginjal kronik mencakup hipertensi (akibat rentensi
cairan dan natrium dari aktivitas sistem reni-angiotensin-aldosteron), gagal
jantung kongestif dan edema pulmonary (akibat cairan berlebihan), dan
pericarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik). Gejala
dermatologi yang sering terjadi mencakup rasa gatal yang parah (pruritus).
Butiran uremik suatu penumpukan Kristal urea dikulit, saat ini jarang terjadi
akibat penanganan yang dini dan agresuf pada penyakit ginjal tahap akhir.
Gejala gastrointestinal juga sering terjadi dan mencakup anoreksia, mual,
mintah dan cegukan. Perubahan neuromuskuler mencakup perubahan tingkat
kesadaran tidak mampu berkonsentrasi, kedutan otot, dan kejang. Mekanisme
yang pasti pada setiap manifestasi belum dapat diidentifikasi. Namun
demikian produk sampah uremik sangat dimungkinkan sebagai penyebabnya
(Smeltzer dan Bare, 2002).

3
D. Komplikasi
Menurut Smeltzer dan Bare (2002) komlikasi potensial gagal ginjal kronik
mencakup:
1. Hyperkalemia: akibat penurunan eksresi, asidosis metabolik, katabolisme,
dan masukan diet berlebih.
2. Pericarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung: akibat retensi produk
sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi: akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin-
angiostensi-aldosteron.
4. Anemia: akibat penurunan eritropoetin penurunan rentang usia sel darah
merah, perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh toksin dan kehilangan
darah selama hemodialysis.
5. Penyakit tulang: akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum yang rendah
metabolism vitamin D abnormal dan peningkatan kadar aluminium.

E. Patofisiologi dan Pathway


Menurut Padila (2012) proses terjadinya gagal ginjal kronis adalah sebagai
berikut:
1. Penurunan GFR
Penurunan GFR dapat di deteksi dengan mendapat urin 24 jam untuk
pemeriksaan kliners kreatinin. Akibat dari penurunan GFR, maka klierns
kreatinin akan menurun, kreatinin akan meningkat dan nitrogen urea darah
(BUN) juga akan meningkat.
2. Gangguan Klirens Renal
Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan
jumlah glomeruli yang berfungsi yang menyebabkan penurunan klirens
(subtansi darah yang seharusnya di bersihkan oleh ginjal).
3. Retensi Cairan dan Natrium
Ginjal kehilangan kemampuan untuk mengosentrasikan atau
mengencerkan urin secara normal. Terjadi penahanan cairan dan natrium,
meningkatnya resiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif dan
hipertensi.

4
4. Anemia
Anemia terjadi sebagai akibat dari produksi eritropoetin yang tidak
adekuat, memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan
kecenderungan untuk terjadi perdarahan akibat status ureum pasien
terutama dari saluran GI.
5. Ketidakseimbangan Kalsium dan Fosfat
Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan yang saling
timbal balik, jika salah satunya meningkat antara lain akan turun dengan
menurunnya GFR maka terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan
sebaliknya penurunan kadar kalsium (Padila, 2012).

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Urin: biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine taka da
(anuria) secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus,
bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat atau urat, sedimen kotot kecoklatan
menunjukkan adanya darah, hemoglobin, myoglobin, porfirin.
2. Darah: kreatinin meningkat biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar
kreatinin 10 mg/dl di duga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5). Hitung
darah lengkap hemoglobin menurun adanya anemia. Hemoglobin biasanya
kurang dari 7-8 g/dl
3. Osmolalitas serum: lebih dari 285 mOsm/kg.
4. Pelogram retrograt: abnormalitas pelvis ginjal dan ureter.
5. Ultrasono ginjal: menentukan ukuran ginjal dan adanya massa, kista,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
6. Endoskopi ginjal: dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal; keluar batu,
hematuria dan pengangkatan tumor selektif.
7. Arteriogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi
ekstravaskular, massa.
8. EKG: ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.

5
G. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Medis
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal
dan homeostasis selama mungkin. Seluruh faktor yang berperan
pada gagal ginjal tahap akhir dan faktor yang dapat dipulihkan (mis.,
obstruksi) diidentifikasi dan ditangani. Komplikasi dapat dicegah atau
dihambat dengan pemberian antihipertensif, eritopoetin, suplemen besi,
agens pengikat fosfat, dan suplemen kalsium. Pasien juga perlu
dapat penanganan dialisis yang adekuat untuk menurunkan kadar produk
sampah uremik dalam darah (Smeltzer dan Bare, 2002).
Intervensi diet juga perlu pada gangguan fungsi renal dan mencakup
pengaturan yang cermat terhadap masukan protein, masukan cairan
untuk mengganti cairan yang hilang, masukan natrium untuk mengganti
natrium yang hilang, dan batasan kalium. Pada saat yang sama, masukan
kalori yang adekuat dan suplemen vitamin harus dianjurkan. Protein
akan dibatasi karena urea, asam urat, dan asam organik-hasil pemecahan
makanan dan protein jaringan-akan menumpuk secara cepat dalam darah
jika terdapat gangguan pada klirens tebal. Protein yang dikonsumsi harus
memiliki nilai biologis yang tinggi adalah subtansi protein lengkap dan
menyuplai asam amino yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perbaikan sel. Biasanya cairan yang diperbolehkan adalah 500 sampai
600 ml untuk 24 jam. Kalori diperoleh dari karbohidrat dan lemak untuk
mencegah kelemahan. Pemberian vitamin juga penting karena diet
rendah protein tidak cukup memberikan komplemen vitamin yang
diperlukan. Selain itu, pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut
air melalui darah selama penanganan dialisis (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hiperfosfatemia dan hipokalemia ditangani dengan antasida
mengandung aluminum yang mengikat fosfat makanan disaluran
gastrointestinal, namun demikian perhatian terhadap potensial toksitas
aluminum jangka panjang dan hubungan antara tingginya kadar
aluminum dan gejala neurologis dan osteomalasia menyebabkan dokter

6
meresepkan natrium karbonat dosis tinggi sebagai penggantinya.
Medikasi ini juga mengikat fosfor diet disaluran intestinal menyebabkan
antasida yang digunakan cukup diberikan dalam dosis kecil. Kalsium
karbonat dan antasida pengikat fosfat harus diberikan bersama dengan
makanan agar efektif. Antasida mengandung magnesium harus dihindari
untuk mencegah toksisitas magnesium.
Hipertensi ditangani dengan bebagai medikasi antihipertensif kontrol
volume intravaskuler. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner juga
memerlukan pembatasan cairan, diet rendah natrium, diuretik, agens
inotropik seperti digitalis atau dobutamine dan dialisis. Asidosis
metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tanpa gejala dan tidak
memerlukan penanganan, namun demikian, suplemen natrium karbonat
atau dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis jika kondisi
ini menimbulkan gejala.
Hiperkalemia biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang
adekuat disertai pengambilan kalium dan pemantauan yang cermat
terhadap kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun
intravena. Pasien diharuskan diet rendah kalium. Kadang-kadang
Kayexelate, perlu diberikan secara oral (Smeltzer dan Bare, 2002).
Abnormalitas neurologi dapat terjadi dan memerlukan observasi dini
terhadap tanda-tanda seperti kedutan, sakit kepala, delirium, atau
aktivitas kejang. Pasien dilindungi dari cedera dengan menempatkan
pembatas tempat tidur. Awibn kejang dicatat dalam hal tipe, durasi dan
efek umum terhadap pasien. Dokter segera diberitahu. Diazepam
intravena (valium) atau fenitoin (dilatin) biasanya diberikan untuk
mengendalikan kejang. Anemia pada gagal ginjal kronik ditangani
dengan Epogen (eritopoetin manusia rekombinan). Anemia pada
pasien (hematokrit kurang dari 30%) muncul tanpa gejala spesifik
seperti malaese, keletihan umum, dan penurunan toleransi aktivitas.
Terapi epogen diberikan untuk memperoleh nilai hematokrit sebesar
33% sampai 38%, yang biasanya memulihkan gejala anemia. Epogen
diberikan secara intarvena atau subkutan tiga kali seminggu. Naiknya

7
hematokrit memerlukan waktu 2 sampai 6 minggu, sehingga epogen
tidak diindikasi untuk pasien yang memerlukan koreksi anemia dengan
segera. Efek samping terapi epogen mencakup hipertensi (terutama
selama tahap awal penanganan), peningkatan bekuan pada tempat akses
vaskuler, kejang dan penipisan cadangan besi tubuh (Smeltzer dan Bare,
2002).
b. Terapi Dialisis
Dilakukan pada gagal ginjal untuk mengeluarkan zat-zat toksik dan
limbah tubuh yang dalam keadaan normal disekresikan oleh ginjal yang
sehat. Dialisis juga dilakukan dalam penanganan pasien dengan edema
yang membandel (tidak responsif terhadap terapi), koma hepatikum,
hiperkalemia, hiperkalsemia, hipertensi dan uremia. Bagi penderita gagal
ginjal kronik, hemodialisis akan mencegah kematian, namun demikian,
hemodialisis tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan
tidak mampu mengimbangi hilangnya aktivitas metabolik atau endokrin
yang dilaksanakan ginjal dan dampak dari gagal ginjal serta terapinya
terhadap kualitas hidup pasien. Pasien- pasien ini harus harus menjalani
terapi dialisis sepanjang hidupnya (biasanya tiga kali seminggu selama
paling sedikit 3 atau 4 per kali terapi) atau sampai mendapat ginjal
baru melalui operasi pencangkokan yang berhasil. Pasien memerlukan
terapi dialisis yang kronis kalau terapi ini diperlukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengendalikan gejala
uremia (Smeltzer dan Bare, 2002).
c. Terapi Diet
Pengatuaran diet penting sekali pada pengobatan gagal ginjal kronis.
Penderita azotemia biasanya di batasi asupan protein meskipun masih
diperdebatkan seberapa jauh pembatasan harus dilakukan. Pembatasan
protein tidak hanya mengurangi kadar BUN dan mungkin juga hasil
metabolisme protein toksin yang belum diketahui, tetapi juga
mengurangi asupan kalium, fosfat, dan produksi ion hidrogen yang
berasal dari protein. Gejala-gejala seperti mual, muntah, dan letih
mungkin membaik. Hiperkalemia umumya menjadi masalah dalam

8
gagal ginjal lanjut, dan juga menjadi penting untuk membatasi asupan
kalium dalam diet. Jumlah yang di perbolehkan dalam diet 40 hingga 80
mEq/ hari. Tindakan yang harus dilakukan adalah dengan tindakan
memberikan obat-obatan atau makanan yang tinggi kandungan kalium.
Makanan obat-obatan ini mengandung tambahan garam (yang
mengandung amonium klorida dan kalium klorida), ekspektoran,
kalium sitrat, dan makanan sperti sup, pisang dan jus buah murni.
Pemberian makanan atau obat-obatan yang tidak di perkirakan akan
menyebabkan hiperkalemia yang berbahaya.
2. Konsep Dasar Keperawatan
a. Pengkajian
1) Aktivitas/ istirahat
Gejala : Kelelahan ekstrem, kelemahan malaise, gangguan tidur
(insomnia/gelisah atau samnolen).
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2) Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi; nyeri dada
(angina).
Tanda : Hipertensi, DVJ, nadi kuat, edema jaringan umum, pitting
pada kaki, telapak tangan, distritmua jantung, nadi lemah
halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovelemia yang
jarang pada penyakit tahap akhir.
3) Integritas ego
Tanda : Faktor stress contoh finansial, hubungan dan sebagai
perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
Gejala : Menolak, ansietas, takut, mudah marah, perubahan
kepribadian.
4) Eliminasi
Gejala : Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap
lanjut)
Tanda : Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat
berawan, oliguria dapat berubah anuria.

9
5) Makanan/ cairan
Gejala : Peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat
badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual/ muntah,
rasa metalik tidak sedap pada mulut (pernapasan ammonia)
Tanda : Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir),
perubahan turgor kulit/ kelebaban, edema (umum,
tergantung), ulserasi gusi, perdarahan gusi/lidah, penurunan
otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga.
6) Neurosensory
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kram/ otot/ kejang, sindrom
“kaki gelisah”, kebas rasa terbakar pada telapak kaki, kebas/
kesemutan dan kelelahan, khususnya ekstremitas bawah
(neuropati perifer).
Tanda : Gangguan status mental, contih penurunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau,
penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma, penurunan DTR,
tanda chvostek dan trousseau posistif kejang fasikulasi otot
aktivitas kejang rambut tipis.
7) Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/nyeri kaki
(memburuk pada malam hari).
Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi gelisah.
8) Pernapasan
Gejala : Nafas pendek, dipsnea noktural paroksimal, batuk
dengan/tanpa sputum kental dan banyak.
Tanda : Takipnea, dipnea, peningkatan frekuensi/kedalaman
(pernapasan kussmaul).
9) Keamanan
Gejala : Kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi.
Tanda : Pruritus, demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat
secara actual terjadi peningkatan pada pasien yang
mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal (efek GGK.

10
Depresi repson imun). Petekie daerah ekimosis pada kulit.
Fraktur tulang, deposit fospat pada kalsium (klasifikasi
metatastik) pada kulit, jaringan lunak, sendi, perbatasan
gerak sendi.
10) Seksualitas
Gejala : Penurunan libido, amenorea, ifertilitas
11) Interaksi social
Gejala: Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja,
mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
12) Penyuluhan pembelajaran
Gejala: Riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal)
penyakit polikistik, nefritis herediter, kalkus urinaria,
malignansi. riwayat terpajan pada toksin contoh obat racun
lingkungan penggunaan antibiotic nefrotoksik saat
ini/berulang.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi cairan serta
natrium
2) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi
5) Gangguan pertukaran gas
6) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
7) Nyeri
c. Rencana tindakan keperawatan
1) Kelebihan volume cairan berhubungan dnegan retensi cairan serta
natrium
NOC : - Electrolit and acid base balance
- Fluid balance
- Hydration
Kriteria hasil : - Terbebas dari edema

11
- Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler
paru. Output jantung dan vital sign dalam batas
normal
NIC : - Fluid monitoring :
1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan
dan eliminasi.
2. Monitor berat badan.
3. Catat secara akurat intake dan output.
4. Monitor tanda dan gejala dari odem.
- Fluid management :
1. Monitor tanda-tanda vital.
2. Kolaborasi pemberian diuretic sesuai instruksi.
3. Kolaborasi untuk dialysis sesuai indikasi.
2) Ketidakefektifan perfusi jaringan.
NOC : - Circulation status

Kriteria hasil : - tekanan darah dalam rentang yang diharapkan


- Menunjukkan perhatian,
konsentrasi, dan orientasi
NIC : - Manajemen sensasi perifer :
1. Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka
terhadap panas/dingin/tajam/tumpul.
2. Batasi gerakan kepala, leher, punggung.
3. Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit
jika ada laserasi.
4. Monitor adanya tromboplebitis.
5. Kolaborasi pemberian analgesic.
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah.
NOC : - Nutritional status: food and fluid intake.
- Nutritional status: nutrient
intake.

12
- Weight control
Kriteria hasil : - Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan
tujuan
NIC : - Nutrition monitoring :
1. Berat badan pasien dalam batas normal.
2. Timbang berat badan.
3. Perhatikan adanya mual muntah.
4. Kolaborasi pemeriksaan kadar albumin, total
protein, natrium, kalium.
- Nutrition management:
1. Kaji/catat pemasukan diet.
2. Berikan makanan yang terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi).
3. Kolaborasi dengan ahli gizi.
4. Berikan kalori tinggi rendah protein.
4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi.
NOC : - Toleransi aktivitas.
- Konservasi energy.
Kriteria hasil : - Berpartisipasi dalam aktivitas tanpa disertai
peningkatan tekanan darah, nadi, respirasi.
- Mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara
mandiri.
- Status respirasi: pertukaran gas dan ventilasi
adekuat.
NIC : - Activity therapy :
1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan.
2. Bantu pasien atau keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam aktivitas.
3. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang
sesuai dnegan kemampuan fisik, psikologis, dan
social.

13
4. Bantu untuk mendapatkan alat bantu aktivitas
seperti kursi roda dan krek.
5. Kolaborasi dengan rehabilitasi medik dalam
merencanakan program terapi yang tepat.
5) Gangguan pertukaran gas
NOC : - Respiratory status: gas exchange
- Repiratory status: ventilation
- Vital sign status
Kriteria hasil : - Mendemontrasikan peningkatan ventilasi dan
oksigenasi yang adekuat
- TTV dalam rentang normal
NIC : - Airway management:
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
- Respiratory monitoring:
1. Monitor rata-rata kedalaman irama, dan usaha
respirasi
2. Monitor suara nafas seperti dengkur
3. Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan
penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular.

14
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

A. Pengkajian
Pada tahap pengkajian ini penulis mengumpulkan data dari
klien,kelurga klien, perawat rungan, dokter, dan cacatan medik, Tn.E dengan
gagal ginjal kronis yang di rawat di rungan perawatan non bedah Dahlia
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Surakarta serta dengan melakukan
pemeriksaan fisik langsung pada Tn.E. maupun observasi langsung pada
tanggal 15 Agustus 2016 pukul 10.00 wib.
1. Biodata
- Nama : Tn.E
- Usia : 23 tahun
- Status : Belum menikah
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Agama : Kristen
- Suku bangsa : Toraja, Indonesia
- Pendidikan : SMA
- Pekerjaan : Wiraswasta
- Alamat : Jl. Ir. Soekarno No. 1 Mojosongo, Surakarta
- Tanggal masuk : 15 Agustus 2016
- No register : 204512
- Diagnosa medis : Gagal Ginjal Kronis
B. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
a) Saat masuk (tanggal 15 Agustus 2016, pukul 10.00 wib)
Keluarga klien mengatakan klien di bawa ke rumah sakit karena
klien mengeluh klien mengeluh sesak dan mual muntah
b) Saat mengkaji (tanggal 15 Agustus 2016, pukul 15.30 wib)
Klien mengatakan batuk di sertai nyeri dada dan sesak

15
b. Riwayat keluhan utama
Klien mengatakan sudah 3 hari mengalami batuk kering di sertai
dengan nyeri dada, klien mengatakan batuk timbul secara tiba-tiba, dan
nyeri dada yang di rasakan seperti tertusuk-tusuk, dengan skala 4
(sedang), nyeri dada yang di rasakan hanya pada saat klien batuk klien
juga mengeluh sesak napas seperti di tindih benda berat bila
beraktifitas, klien merasa sesak berkurang dengan duduk telungkup
atau duduk dengan posisi fowler.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Keluarga klien mengatakan pada tanggal 15 Agustus 2016 pada saat
di rumah klien tiba-tiba mengeluh sesak dan mual muntah, oleh
keluarga klien langsung di bawah ke RSUD Kota Surakarta, di IGD
klien mendapat perawat. Setelah kondisi membaik klien di rujuk untuk
menjalani rawat inap di ruangan dahlia.
d. Riwayat penyakit dahulu
Keluarga klien mengatakan klien sudah 1 tahun menderita penyakit
ginjal dan sudah 2 kali menjalani cuci darah dan klien pernah di rawat
di RSUD Kota Surakarta ±3 bulan yang lalu dengan penyakit yang
sama.
e. Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan tidak ada alergi obat-obatan di keluarga ibu klien
mempunyai riwayat penyakit darah tinggi dan dalam keluarga tidak
ada yang menderita penyakit diabetes melitus dan gagal ginjal kronis.
f. Genogram keluarga

19
9

16
Keterangan :

: laki-laki : pernikahan
: perempuan X : meninggal
: Tinggal serumah
: pasien

Penjelasan dari genogram keluarga Tn E, klien mengatakan tidak


mengetahui penyebab dari meninggalnya nenek dan kakeknya, klien
mengatakan tinggal serumah dengan ibu, ayah dan satu orang saudara.

C. Data psiko sosial ekonomi


Klien mengatakan di rumah hubungan antar anggota keluarga dan klien
harmonis, klien berperan sebagai kakak dan klien mempunyai beberapa
teman dekat, dan berharap klien cepat sembuh sehingga dapat melakukan
aktivitasnya kembali.
D. Data spritual
Klien mengatakan bahwa ia menganut agama Kristen Protestan, sebelum
sakit ia selalu melaksanakan ibadah ke gereja setiap hari minggu sejak sakit
klien tidak dapat melakukan ibadah seperti biasa.
E. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi (makan dan minum)
Klien mengatakan belum pernah makan karena tidak ada selera,
keluarga klien mengatakan tidak tahu tentang diet pada penyakit gagal
ginjal.
2. Cairan
Klien mengatakan minum minum sejak masuk rumah sakit ±50 cc
3. Eliminasi alvi dan urine
Klien mengatakan sebelum maasuk rumah sakit sampai sekarang belum
BAK. Pada saat di kaji klien belum BAK, klien mengatakan belum pernah
buang air besar karen pada saat di kaji klien baru masuk rumah sakit
4. Istirahat tidur

17
Pada saat di kaji klien belum tidur, karena baru 4 jam menjalani
perawatan di rumah sakit sehingga data untuk istirahat tidur belum dapat
di kaji.
5. Aktivitas gerak
Klien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas sendiri harus di
bantu orang lain, klien tampak di bantu aktivitas, klien mengatakan setelah
beraktivitas klien sesak/ nilai untuk pola aktivitas 2 (di bantu orang lain).
6. Personal hygiene
Pada saat di kaji klien belum mandi karena baru 4 jam menjalani
perawatan.
F. Pemeriksaan fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)
Keadaan umum
A. Keadaan sakit
Klien tampak sakit sedang
B. Tanda-tanda vital
Kesadaran composmentis, klien lemah
Glasgow coma scale (GCS) : R.motorik =6
R.bicara =5
R.pembukaan mata =4
Total = 15
Tanda vital:tekanan darah : 180/90 mmHg, pernapasan 24x/menit, nadi
110x/menit, suhu 37oc (axila), antropometri : tinggi badan 164 cm,
berat badan 50 kg, terjadi penurunan berat badan 2 kg sejak 1 bulan
180+(2x90)
MAP = =240 MmHg
3
C. Pemeriksaan sisitemik
1) Kepala
Bentuk kepala normal oval bulat, tidak ada benjolan, rambut klien
berwarna hitam, tidak ada ketombe tidak ada kotoran distribusi
merata.
2) Mata

18
Ukuran pupil isokor pada saat di beri rangsangan cahaya,
konjungtiva anemis, simetris antara kiri dan kanan, N II optikus :
klien dapat membaca jarak 30 cm, NIV trochlearis, NVI abdusen:
klien dapat mengikuti pergerak tangan ke kiri kanan atas dan
bawah.
3) Hidung
Hidung klien simetris kiri dan kanan, tidak ada devisiasi septum,
tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada polip tidak ada
epitaksis, NI olfaktorius:klien dapat membedakan bau minyak kayu
putih dan kopi.
4) Mulut dan tenggorokan
Bibir tampak lembab, tidak ada labioskizis, karies, dan kesulitan
menelan, tonsil T1, N IX glosofaringeus: reflek menelan baik, N
VII : klien dapat membedakan bermacam rasa seperti asin, manis,
pahit, N XII hipoglosus : klien dapat mendorong pipi menggunakan
lidah,dan menjulurkan.
5) Telinga
Daun telinga simetris antara kiri dan kanan, lubang telinga tidak
ada serumen, dan nodul.

6) Leher
Tidak ada deviasi trakea, peningkatan vena jugularis, lesi, dan
pembesaran kelenjar tyroid, N XI accecorius : klien dapat
mengangkat kedua bahu pada saat di beri tahanan.
7) Thorax
Bentuk dada normo chest, tidak ada lesi, pengembang dada simetris
antara kiri, pada saat di palpasi teraba vocal premitus sama
getaranya antara kiri dan kanan, di perkusi terdengar pekak, suara
napas auskultasi vesikuler di paru kiri ICS 2, suara napas wezzing
pada paru kanan.

19
8) Jantung
Terlihat ictus cordis di ICS 5, tidak ada nyeri tekan, batas jantung
atas ICS 2 dan batas jantung bawah ICS 5,terdengar suara pekak
saat di perkusi, suara jantung tidak teratur, S1 lup, pada S2 dup
terdengar di ICS 4 dan ICS 5, irama jantung cepat.
9) Abdomen
Abdomen bentuk buncit, tidak ada lesi, bising usus 8x/ menit
terdapat nyeri tekan pada daerah epigastri, terdengar hipertimpani
perkusi ginjal nyeri, terdapat asites.
10) Genetalia
Tidak di kaji
11) Anus
Tidak di kaji
12) Lengan dan tungaki
Terdapat edema derajat 1 pada kedua ekstremitas bawah, tidak ada
kelainan bentuk dan lesi, masa otot normal tonus otot normal,
kekuatan otot 5 5
5 5
13) Kulit
Warna kulit putih, kulit kering, kulit tampak kusam, CRT 4 detik,
klien mengatakan kakinya gatal- gatal.
G. Pemeriksaan penunjang
3.1 Tabel Pemeriksaan Laboratorium tanggal 15 Agustus 2016
Jenis pemeriksaan Data Nilai normal
Darah lengkap
Wbc 12.0x103/µ 5,0-10,0x103/µ
Rbc 2.99x103/µ 4,0-5,0 (p) 4,5-5,5 (L)
Hgb 8.7 g/dl 12,0-14,0 (P) 13,0-
16,0 (L) g/dl
Hct 269% 40-50 (P) 45-55 (L)
%
Mcv 90.0 fl 80-96

20
Mch 29.1 pg 27-31
Mchc 32.39 g/dl 32-36
Plt 75x103/µ 150-400
Gds 93 mg/dl 100-140 mg/dl
Ureum 132,6 mg/dl 0.5-1.5 mg/dl
Kreatinin 12,7 mg/dl 10-50 g/dl

H. Terapi obat
3.2 Tabel terapi obat pada Tn. E
Terapi Dosis Rute
Clonidin 2x ½ tab 150 mg Oral
As. Folat 2x2 tab 400 mg Oral
Lasik 2 amp/12 jam 2mg Intravena
O2 3 liter Nasofaringeal

I. Klasifikasi data
1. Data subjektif
a) Klien mengatakan batuk di sertai nyeri dada
b) Klien mengatakan sesak pada saat beraktivitas
c) Klien mengatakan kurang nafsu makan
d) Klien mengatak sesak klien mengatakan terjadi penurunan berat badan
2kg sejak 1 bulan
e) Keluarga klien tidak mengetahui tentang diet pasien ginjal
f) Klien mengatakan di bantu dalam melakukan aktivitas
g) Klien mengatakan kakinya gatal-gatal
h) Klien merasa nyaman dan sesak berkurang pada saat duduk dengan
posisi telungkup atau fowler
2. Data objektif
a) Klien tampak lemah
b) Konjungtiva pucat
c) CRT 4 detik
d) Klien tampak sesak
21
e) HGB 8,7 g/dl
f) Edema pada esktremitas bagian bawah derajat 1
g) Klien tampak di bantu dalam melakukan aktivitas
h) Tanda-Tanda Vital : - Tekanan Darah : 180/90 mmHg
- Nadi : 110x/menit
- Pernapasan : 24x/menit
- Suhu : 36ºc
i) Suara nafas wezzing pada paru sebelah kiri
j) Irama jantung cepat
k) Terpasang O2 3 liter
l) Klien posisi semi fowler
m) Ureum 132,6 g/dl
n) Kreatinin 12,7 g/dl
o) Turgor kulit buruk
p) Kulit klien kering
J. Analisa data
1. Pengelompokan data diagnosa I pada 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan sesak pada saat beraktifitas
2) Klien mengatakan batuk di sertai nyeri dada
b) Data objektif
1) Tanda-Tanda Vital : - Tekanan Darah: 180/90 mmHg
- Nadi:110x/menit
- Pernapasan: 24x/menit
2) Ureum 132,6 g/dl
3) Kreatinin 12,7 g/dl
4) Irama jantung tidak teratur
5) Konjungtiva anemis
6) Edema derajat 1
7) CRT 4 detik
c) Penyebab : ketidakseimbangan elektrolit
d) Masalah : penurunan curah jantung

22
2. Pengelompokan data diagnosa II pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan sesak pada saat beraktifitas
2) Klien mengatakan nyaman dengan duduk telungkup atau posisi
fowler.
3) Klien mengatakan batuk di sertai nyeri dada
b) Data objektif
1) Klien tampak sesak
2) Pernapasan : 24x/menit
3) Terpasang O2 3 liter pada saat di kaji
4) Posisi klien fowler
c) Penyebab : ketidakseimbangan O2 ke seluruh tubuh
d) Masalah : pola nafas tidak efektif
3. Pengelompokan data diagnosa III pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan sesak
b) Data objektif
1) CRT 4 detik
2) Klien tampak lemah
3) Edema di ekstremitas kanan derajat 1
4) Ureum :132,6 g/dl
5) Kreatinin : 12,7 g/dl
6) HGB : 8,9 g/dl
c) Penyebab : Ketidak mampuan ginjal mengsekresi air dan natrium
d) Masalah : Kelebihan volume cairan
4. Pengelompokan data diagnosa IV pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjekif
1) Klien mengatakan mengalami penurunan berat badan sebanyak 2 kg
dalam 1 bulan
2) Klien mengatakan tidak selera makan
3) Klien mengatakan makan di rumah makan 1 porsi 1 kali sehari
4) Klien mengatakan selama masuk rumah sakit belum makan.

23
5) Kelurga klien tidak tahu diet tentang penyakit ginjal
6) Klien mengatakan sebelum dibawa ke rumah sakit klien sempat
mengalami mual muntah.
b) Data objektif
1) HGB : 8,9 g/dl
2) Konjungtiva anemis
3) Ureum 132,6 g/dl
4) Kreatinin 12,7 g/dl
5) BB : 50 Kg
6) IMT : 20
7) Klien tampak lemah
c) Penyebab : Tinggi kadar toksin uremik.
d) Masalah : Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. Pengelompokan data diagnosa V pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan lemah
2) Klien mengatakan sesak
b) Data objektif
1) Ureum : 132,6 g/dl
2) Kreatinin : 12,7 g/dl
3) Terdapat edema pada ekstremitas bawah derajat 1
4) Konjungtiva anemis
5) HGB : 8,9 g/dl
6) Perkusi ginjal nyeri
c) Penyebab : kerusakan nefron sehingga tidak dapat mengeluarkan sisa
metabolism
d) Masalah : ganguan perfusi jaringan renal
6. Pengelompokan data diagnosa VI pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan di bantu dalam melakukan aktivitas
2) Klien mengatakan sesak saat beraktivitas
3) Klien mengatakan lemah

24
b) Data objektif
1) Klien tampak di bantu dalam melakukan aktivitas
2) Klien tampak lemah
3) Pernapasan: 24x/menit
4) Tekanan Darah : 180/80mmHg
5) Posisi folwer
6) Terpasang oksigen 3 liter
c) Penyebab : oksigenasi jaringan tidak adekuat
d) Masalah : intoleran aktivitas
7. Pengelompokan data VII pada tanggal 15 Agustus 2016
a) Data subjektif
1) Klien mengatakan kakinya gatal-gatal
b) Data objektif
1) Ureum : 132,6 g/dl
2) Kreatinin 12,7 g/dl
3) Turgor kulit buruk
4) Kulit klien kering
5) HGB : 8,9 g/dl
c) Penyebab : akumulasi toksin dalam kulit.
d) Masalah : kerusakan integritas kulit.

B. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan prioritas diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. E
dengan gagal ginjal kronis :
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan
elektrolit
2. Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nefron
sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidak seimbangan O2 ke
seluruh tubuh
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidak mampuan ginjal
mengsekresi air dan natrium

25
5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tinggi
kadar toksin uremik
6. Intoleran aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan tidak adekuat
7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi toksin dalam
kulit.

C. Perencanaan keperawatan
1. Diagnosa I : Penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidakseimbangan elektrolit
Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam di
harapkan penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
a. Tekanan darah 120/80 mmHg
b. Nadi batas normal 60-100
c. Irama jantung teratur
d. Edema berkurang
e. CRT < 3 detik
f. Sesak berkurang
g. Batuk tidak ada
Intervensi keperawatan :
1) Awasi TD dan frekuensi jantung
2) Observasi EKG atau telemetri untuk perubahan irama
3) Auskultasi bunyi jantung
4) Kaji warna kulit, membran mukosa, dan dasar kuku.
5) Perhatikan terjadinya nadi lambat, hipotensi, mual muntah
6) Kolaborasi pemberian obat
7) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium darah.

2. Diagnosa II : Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan


kerusakan nefron sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolism
Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam tidak
terjadi perfusi jaringan renal dengan kriteria hasil :
a) Intake-output seimbang

26
b) Tidak ada bunyi nafas tambahan
c) Tanda-Tanda Vital dalam batas normal :
- Tekanan Darah 120/80 mmHg
- Nadi: 60-100x/ menit
- Pernapasan: 16-20x/ menit
Intervensi keperawatan :
1) Observasi tanda-tanda cairan berlebihan
2) Pertahankan intake dan output secara akurat
3) Timbang berat badan setiap hari
4) Observasi tanda-tanda vital
5) Hemodialisa sesuai indikasi
6) Pemberian obat anti dieuretik

3. Diagnosa III : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidak


seimbang suplai O2 keseluruh tubuh.
Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di
harapkan pola nafas dapat teratur dengan kriteria hasil:
a) Frekuensi pernapasan 16-20x/ menit
b) Klien tidak sesak
c) Klien tampak rileks
d) Klien tidak terpasang oksigen
Intervensi keperawatan :
1) Auskultasi bunyi nafas
2) Observasi keadaan umum
3) Beri oksigen bila sesuai kebutuhan
4) Atur posisi senyaman mungkin
5) Batas untuk beraktivitas

4. Diagnosa IV : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidak


mampuan ginjal mengsekresi air dan natrium.
Tujuan : mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.
Dengan kriteria hasil :

27
a) Tidak ada edema
b) Keseimbangan antara input dan output
c) Turgor kulit baik
Intervensi keperawatan :
1) Kaji status cairan, BB, balance cairan, turgor kulit, adanya edema setiap
hari
2) Batasi masukan cairan setiap hari
3) Identifikasi potensial cairan: medikasi dan cairan yang di gunakan untuk
pengobatan
4) Jelaskan pada pasien dan keluarga alasan pembasan cairan
5) Bantu pasien dalam menghadapi ketidak nyamanan akibat pembatasan
cairan

5. Diagnosa V : resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan tinggi kadar toksin uremik
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di
harapkan nutrisi dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :
a) Porsi makan di habiskan
b) Terjadi peningkatan berat badan
c) Konjungtiva tidak anemis
Intervensi keperawatan :
1) Kaji status nutrisi
2) Anjurkan makan sedikit tapi sering
3) Perhatikan adanya mual dan muntah
4) Timbang BB setiap hari
5) Beri pendidikan kesehatan tentang diet GGK

6. Diagnosa VI : Intoleran aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan


tidak adekuat.
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan intoleran dapat teratasi dengan kriteria hasil :
a) Klien dapat memenuhi ADL

28
b) Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri
c) Klien tampak rileks
d) Klien tidak sesak lagi
Intervensi keperawatan :
1) Kaji faktor yang menimbulkan keletihan
2) Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat di
toleransi
3) Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
4) Anjurkan untuk istirahat setelah dialysis

7. Diagnosa VII : kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi


toksin dalam kulit.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam di
harapkan integritas kulit dapat terjaga. Dengan kriteria hasil :
a) Klien melaporkan gatal berkurang
b) Kelembapan kulit terjaga
Intervensi Keperawatan :
1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, perhatikan kemerahan.
2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa.
3) Inspeksi area tergantung terhadap edema
4) Selidiki keluhan gatal.

D. Implementasi
Kamis, 15 Agustus 2016
1. Diagnosa keperawatan I
Pukul 10.00 wib
1) Mengawasi Tekanan Darah dan frekuensi jantung
Subjektif : -
Objektif : - Tekanan Darah : 180/80 mmHg
- Nadi : 110x/menit

29
Pukul 10.10 wib
2) Mengobservasi EKG atau telemetri untuk perubahan irama
Subjektif : -
Objektif : - tidak ada di lakukan
Pukul 10:20 wib
3) Mendengarkan suara jantung
Subjektif : -
Objektif : suara jantung klien tidak teratur
4) Berkolaborasi pemeriksaan darah
Subjektif :-
Objektif : - Ureum 132,6 g/dl
- Kreatinin : 12,7 g/dl

2. Diagnosa keperawatan III


Pukul 11.30 wib
1) Mendengarkan suara nafas
Subjektif : -
Objektif : suara nafas di paru kanan vesikuler, di paru kiri wezzing
Pukul 11.40 wib
2) Mengatur posisi senyaman mungkin
Subjektif : klien mengatakan nyaman dengan posisi tersebut
Objektif : klien di beri posisi fowler
Pukul 11.50 wib
3) Membatasi untuk beraktivitas
Subjektif : klien mengatakan akan mengikuti anjuran yang di berikan
Objektif : klien tampak sedang istirhat
Pukul : 11:55 wib
4) Mengobservasi keadaan umum klien
Subjektif : klien mengatakan lemah
Objektif : klien sedang berbaring

30
Pukul 12:05 wib
5) Memberikan oksigen sesuai indikasi
Subjektif : klien mengatakan sesak
Objektif : terpasang O2 3 liter/ menit

3. Diagnosa keperawatan II
Pukul 12.10 wib
1) Mengobservasi tanda-tanda vital
Subjektif : -
Objektif : - Tekanan Darah : 180/90 mmHg
- Nadi : 110x/menit
- Pernapasan : 24x/menit
- Suhu : 36 ºc
Pukul 12.20 wib
2) Mempertahankan input dan output secara akurat
Subjektif : klien mengatakan minum cuma sedikit
Objektif : klien minum 50cc
Pukul 12.30wib
3) Menimbang berat badan setiap hari
Subjektif : -
Objektif : BB : 50 kg
Pukul 15:30
4) Berkolaborasi pemberian obat anti diuretik
Subjektif : -
Objektif : lasik 1 amp melalui intravena

4. Diagnosa keperawatan V
Pukul 13.20 wib
1) Mengkaji status nutrisi
Subjektif : klien mengatakan cuma sedikit
Objektif : klien tampak lemah

31
Pukul 13.30 wib
2) Mengajurkan makan tapi sering
Subjektif : klien mengatakan akan mengikuti ajuran yang telah di
berikan
Objektif : klien tampak sedang makan
Pukul 13.40 wib
3) Mengkaji faktor yang menimbulkan keletihan
Subjektif : klien mengatakan sesak
Objektif : klien tampak lemah

5. Diagnosa keperawatan VI
Pukul 15.20 wib
1) Meningkat kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat di
toleransi
Subjektif : klien mengatakan belum mandi
Objektif : klien tampak kusam
Pukul 15.30 wib
2) Mengajurkan beri istirahat setelah dialisis
Subjektif : klien mengatakan akan mengikuti anjuran
Objektif : klien tampak sedang duduk
3) Memberi motivasi ke pada klien
Subjektif : klien mengatakan semangat untuk berobat
Objektif : klien tampak tenang

6. Diagnosa keperawatan IV
Pukul 18.10 wib
1) Mengkaji status cairan
Subjektif : Klien mengatakan minum sedikit

32
Objektif :
balance cairan = IWL = 5 x BB input : infus: 100cc
15x50 = 750 minum 50cc = 150cc
An : 5x50= 250 input-output
400 cc -750= -350 cc
2) Menjelaskan pada keluarga pembatasan cairan
Subjektif : klien mengatakan mengerti dengan penjelaskan di berikan
Objektif : klien tampak mengerti

7. Diagnosa keperawatan VII


Pukul 18.20
1) Menginspeksi kulit terhadap perubahan warna turgor kulit, perhatikan
kemerahan
Subjektif : -
Objektif : kulit kering, turgor kulit buruk, CRT 4 detik, tidak terjadi
kemerahan pada kulit.
2) Memantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
Subjektif : -
Objektif : masukan cairan via oral 50 cc
3) Menginspeksi area tergantung terhadap edema
Subjektif : -
Objektif : edema pada ekstremitas bawah derajat 1, kulit kering
4) Mengawasi keluhan gatal
Subjektif : klien mengatakan kakinya gatal
Objektif : klien tampak menggaruk kakinya.

E. Evaluasi (SOAP)
Minggu 17 Agustus 2016
1. Diagnosa 1 : penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidakseimbangan elektrolit
Subjektif : -
Objektif : - Tekanan Darah : 160/80 mmHg

33
- Nadi : 85 x/menit
- Pernapasan : 20x/mnt
- Klien mengatakan nyeri dada
Analisa : penurunan curah jantung teratasi sebagian
Planing : intervensi di lanjutkan
1) awasi Tekanan Darah dan frekuensi jantung
2) warna kulit dan membran mukosa
2. Diagnosa 2 : gangguan perfusi jarigan renal berhubungan dengan
kerusakan nefron sehingga tidak mampu mengeluarkan metabolisme
Subjektif : -
Objektif : - bunyi nafas vesikuler
- terdapat edema pada ekstremitas bawah derajat 1
Analisa : ganguan perfusi jaringan renal teratsi sebagian
Planing : intervensi di lanjutkan
1) anjurkan teratur melakukan Hemodialisa sesuai dengan
jadwal
2) pertahankan intake dan output secara akurat
3. Diagnosa 3 : pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidak
seimbangan O2 ke seluruh tubuh
Subjektif : klien mengatakan tidak sesak
Objektif : - klien tampak tidak sesak lagi
- Pernapasan : 22x/menit
Analisa : masalah teratasi
Planing : intervensi di pertahankan
1) obsevasi keadaan umum klien
2) batasi untuk beraktivitas
4. Diagnosa 4 : kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidak
mampuan ginjal mengsekresi air dan natrium
Subjektif : klien mengatakan minum kurang lebih 100cc,
Objektif : balance cairan -395
Analisa : kelebihan volume cairan belum teratasi
Planing : intervensi di lanjutkan

34
1) kaji status cairan, turgor kulit adaya edema
2) pemberian obat sesuai indikasi
5. Diagnosa 5 : resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan tinggi kadar toksin uremik
Subjektif : klien mengatakan menghabiskan setengah porsi dari yang di
sediakan
Objektif : klien tampak menghabiskan setengah porsi
Analisa : resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi sebagian
Planing : intervensi di lanjutkan
1) timbang berat badan
2) kaji status nutrisi
3) kaji makan sedikit tapi sering

6. Diagnosa 6 : intoleran aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan


tidak adekuat.

Subjketif : klien mengataka melakukan aktivitas secara mandiri

Objektif : klien tampak rileks

Analisa : intoleran aktivitas teratasi

Planing : intervensi di pertahankan

1) tingkatkan kemandirian dalam aktivitas


7. Diagnosa 7 : kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulai
toksin dalam kulit
Subjektif : klien mengatakan tidak gatal lagi
Objektif : - Turgor kulit kering.
- Hemoglobin 8,9 g/dl
Analisa : kerusakan integritas kulit teratasi sebagian
Planing : intervensi di lanjutkan
1) inspeksi kulit terhadap warna, turgor
2) pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran
mukosa.

35
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn. E dengan gagal ginjal


kronik di Ruang Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah Kota Surakarta, maka
penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pelaksanaan proses keperawatan
kepada Tn. E dengan gagal ginjal kronik dimulai dari pengkajian, menentukan
masalah/ diagnosa, menyusun rencana, mengimplementasikan dari rencana
yang telah disusun dan mengevaluasi dari hasil implementasi tersebut.
Dalam melaksanakan proses keperawatan banyak terdapat kesenjangan
antara teori dan praktek yaitu pada pengkajian, diagnosa, intervensi,
implementasi, dan evaluasi. Pemecahan masalah pada klien Tn. E dengan
gagal ginjal kronik dilakukan dengan melaksanakan intervensi-intervensi yang
telah direncanakan yang terdiri dari diagnostik, terapeutik, edukatif dan
kolaboratif dengan tim kesehatan lainnya.

B. Saran
1. Bagi penulis
Penulis memperoleh wawasan tentang gagal ginjal kronis baik dari konsep
medis dan konsep keperawatan yang dapat penulis pergunakan dalam
memberikan asuhan keperawatan yang dapat dijadikan sebagai sumber ilmu
dan wawasan penulis, sehingga penulis mengetahui tentang penanganan,
penyebab dari gagal ginjal kronis.
2. Bagi pendidikan
Asuhan keperawatan pada klien Tn. E dengan diagnosa medis gagal ginjal
kronis dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang di lahan
praktek, khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
dengan diagnosa gagal ginjal kronis sehingga mahasiswa mempunyai
pengetahuan tentang masalah pada kasus gagal ginjal kronis.

36