Anda di halaman 1dari 8

1

LAPORAN PENDAHULUAN

CERVICAL INTRAEPITHALIAL NEOPLASIA (CIN)

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Cervical Intraepithalial Neoplasia (CIN) merupakan pertumbuhan abnormal
(displasia) sel epitel skuamosa pada permukaan serviks (kumar et al, 2007).
Displasia ditunjukan dengan meningkatnya mitosis, gambaran histologis sel yang
atipik baik ukuran, bentuk, kondisi nukleus, diferensiasi, dan polaritas. CIN
bukanlah keganasan dan dapat kembali menjadi sel yang normal (ACOG, 2010).
Pada beberapa kasus CIN berubah menjadi kanker serviks jika tidak segra
diterapi. Awalnya sel epitel serviks berubah menjadi sel epitel yang atipik,
kemudian meningkat menjadi sel karsinoma insitu dan berakhir menjadi sel
kanker serviks yang invasif (Agorastos et al, 2005)
2. Etiologi
Imflamasi kronis merupakan penyebab utama terjadinya cervical
intraepithelia neoplasia (CIN). Organisme penyebab inflamasi yang telah
dipastikan berhubungan langsung dengan CIN adalah Human papilloma Virus
(HPV). HPV merupakan salah satu organisme penyebab infeksi saluran
reproduksi (ISR). HPV merupakan virus epitheliotropik yang menginisiasi
proliferasi sel di saluran reproduksi, saluran respirasi, saluran pencernaan, dan
kulit. HPV pada saluran reproduksi dibagi menjadi dua jenis yaitu resiko tinggi
kanker dan resiko rendah kanker. Resiko tinggi kanker terdiri dari HPV tipe 16,
18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59 dan 68. Resiko rendah kanker terdiri dari
HPV tipe 6, 11, 42, 44, 53, 54, 62, 66. (Adenkulen, 2012; schottenfeld dan
Dimmer, 2006; Diaz, 2008). Selain HPV, organisme ISR yang diprediksi mampu
menyebabkan terjadinya CIN adalah bakteri (Gardnarella vaginalis, bacterioides
spp), candida albicans, Trichomonas Vaginalis, Clamidia trachomatis, dan
Neisseria gonorhoe. ISR menyebabkan adanya inflamasi pada sel epitel serviks
yang berakhir dengan apoptosis dan degenarasi sel epitel serviks. Masing-masing
organisme mempunyai mekanisme khusus dalam menginfeksi sel epitel serviks.
Mekanisme secara umum adalah ISR mengakibatkan adanya produksi sitokin
imunosupresif dan protein penyebab mutasi DNA sel epitel serviks sehingga
terjadi reaksi seluler seperti hiperkromasi, pernuklear halo, kelainan sitoplasma
dan deskuamasi sel epitel serviks (Janjic et al, 2011; Fichrorova et al, 2009; Singh
et al 2009; Moriarty et al, 2009). Tetapi hubungan langsung antara ISR dengan
CIN Masih kontroversial karena beberapa penelitian membuktikan tidak adanya
hubungan antara keduanya (Kaur et al, 2008; Fischer dan Ali, 2011).
3. Manifestasi klinis
Gejala klinis yang biasanya dialami pasien adalah vagina berbau amis
terutama setelah senggama, cairan vagina tidak terlalu banyak dan kental seperti
susu, homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina, tidak ada tanda
inflamasi, Ph Vagina > 7,4 (Hasteh, 2012; PHAC, 2006;Nguyen Dan Smith,
2011).
4. Komplikasi
Kemungkinan komplikasi yang dapat dialami oleh klien dengan carsinoma
uteri adalah terjadinya metastase sel-sel ganas ke dinding vagina, ligamentum
kardinale, rongga endometrium serta ke organ-organ yang lain/ke tempat yang
jauh, perdarahan, gagal ginjal (CRF : Cronic Renal Failure) akibat infiltasi
tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih, yang menyebabkan obstruksi
total.
5. Patofisiologi dan pathway
Kondisi serviks dipengaruhi oleh usia, hormon, dan paritas. Perubahan sel atau
metaplasia sel serviks dibagi menjadi tiga fase sesuai usia, yaitu fase pertama: saat
lahir hingga sebelum pubertas, fase kedua: saat pubertas sampai kehamilan
pertama, dan fase ketiga: kehamilan kedua atau selanjutnya sampai menapouse
(Adenkule, 2012 ASC, 2012)
Pada fase pertama bagian endoserviks terdiri dari sel epitel kolumner dan
bagian ektoserviks terdiri dari sel epitel skuamosa.memasuki fase kedua yaitu
pubertas terjadi peningkatan jumlah hormon pada wanita. Sel epitel bagian
endoserviks meluas sampai bagian ektoserviks. Sel epitel kolumner menggantikan
sel epitel skuamosa pada bagian ekstoserviks untuk menjaga keasaman vagina saat
memasuki usia menopause, proses metaplasiasel sel epitel skuamosa merubah sel
epitel kolumner di ekstoserviks dan bagian endoserviks menjadi sel skuamosa.
Metaplasia fisiologis terjadi saat sel epitel dewasa menjadi sel epitel tipe lain
dalam keadaan dewasa juga. Adanya proses patologis seperti infeksi HPV dapat
merubah sel epitel dewasa menjadi sel epitel tipe lain yang tidak dewasa imatur.
Metaplasia yang imatur menjadi pencetus terjadinya kanker. Sehinga pada zona
transformasi merupakan area paling sering terjadi kanker (CDC, 2012)

2
Pathway
Virus HPV virus herpes simplex

CIN Penekanan sel Ca pada


saraf

Psikologis Pendarahan Bau busuk Nyeri

Pengobatan
Kurang pengetahuan Hipovolemi Ggn. Bodi Ggn. Pola Radiasi
image Seksual
Anemia
Cemas/
Resti
Takut
infeksi Kulit merah, Depresi Mulut
Intoleransi Kering sumsum kering
aktifitas
tulang stomatitis

Resti kerusakan
integritas kulit Hb
Anemia
Sel-sel kurang O2
Resti kekurangan volume Gastrointestin kurang O2
cairan
Mual, muntah

Nutrisi kurang

Daya tahan tubuh berkurang Kelemahan/kelelahan

Resiko tinggi infeksi Resiko injury

6. Penatalaksanaan (medis dan keperawatan)

1. Diagnosis

3
Pap smear dilakukan untuk pemeriksaan penyaring guna mendeteksi
perubahan-perubahan neoplastik. Hasil apusan yang abnormal dilanjutkan
dengan biopsi untuk memperoleh jaringan guna pemeriksaan sitologik. Kerena
serviks biasanya tampak normal maka dipakai alat bantu kolposkopi guna
mengarahkan tindakan biopsi pada daerah yang abnormal untuk mengambil
sampel. Biopsi jarum pada derah yang mengalami kelainan atau biopsi kerucut
pada seluruh sambungan skuamokolumnar juga dilakukan.
2. Penanganan
Stadium dini dari CIN dapat dilakukan pengangkatan seluruhnya dengan
biopsi kerucut, atau dibersihkan dengan laser, kauter atau dengan bedah beku,
tindakan lanjut yang teratur dan sering dilakukan untuk memantau
kekambuhan lesi perlu dilakukan setelah penanganan dengan cara-cara ini.
Pada tingkat klinis (KIS) tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi atau
elektrofulgerasi, bedah krio (cryosurgery) atau dengan sinar lase, kecuali bila
yang menangani adalah ahli dalam kolposkopi dan penderitanya masih muda
dan belum mempunyai anak.
3. Kemoterapi
Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika
yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Demografi
 Umur
Terjadi pada usia 45-50 tahun tetapi dapat juga terjadi pada usia 18 tahun.
 Lingkungan
Sosial ekonomi rendah dan personal higine kurang.
 Kebiasaan
Seseorang yang sering ganti-ganti pasangan.
Riwayat Kesehatan

 Riwayat Kesehatan Keluarga

Adakah anggota keluarga yang sebelumnya mengalami kanker.

 Riwayat Penyakit Sekarang

Apakah klien mengeluh nyeri, perdarahan yang berlebihan dan apakah


mengeluarkan cairan putih dari vagina ( keputihan ).

4
 Riwayat Penyakit Dahulu.

Wanita dengan kehamilan dini, pemberian estrogen, atau steroid lainnya dapat
menimbulkan berkembangnya masalah fungsional genital pada keturunannya.
Pola kesehatan Fungsional

 Pola Persepsi

Personal hygine yang kurang pada daerah genitalia.

 Pola Nutrisi dan Metabolik

Anoreksia, BB menurun.

 Pola Aktivitas dan Latihan

Klien mengalami kelelahan.

 Pola Istirahat dan Tidur

Ada gangguan tidur.

 Persepsi diri dan Konsep diri

Harga diri rendah.

 Pola reproduksi dan Seksual

Nyeri dan perdarahan saat koitus.


Pemeriksaan Fisik

 Rambut

 Conjungtiva

Anemis

 Wajah.

Pucat

 Abdomen

Distensi abdomen

 Vagina

Keputihan berbau, warna merah, perdarahan merah tua, berbau dan kental

 Serviks

Ada nodul
Pemeriksaan Penunjang

5
 Laboratorium

HB menurun, Leukosit meningkat, Trombosit meningkat

 Patologi Anatomi

Untuk memeriksa keganasan

 Pemeriksaan Diagnostik

Pap smear, kalposkopi, biopsy kerucut, MRI atau CT-Scan abdomen ataupun
pelvis.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Pre op & pre Radiasi
 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infiltrasi ke saraf.
 Harga Diri Rendah berhubungan dengan adanya jaringan mati dan busuk,
keputihan yang berbau busuk dari vagina
2) Post operasi dan post Radiasi
 Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan jaringan terbuka akibat luka
pembedahan.
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi.
3. Perencanaan Keperawatan
1. Pre op & pre Radiasi
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infiltrasi ke saraf
Tujuan : melaporkan nyeri berkurang
Kriteria Hasil : klien tidak gelisah dan ekspresi wajah tidak gelisah.
Intervensi :
 Kaji skala nyeri & intensitas nyeri
 Awasi dan pantau tanda-tanda vital
 Ajarkan klien relaksasi dalam dan masase pada daerah sekitar nyeri.
 Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang
2) Harga Diri Rendah berhubungan dengan adanya jaringan mati dan busuk,
keputihan yang berbau busuk dari vagina.
Tujuan : Harga diri meningkat
Kriteria Hasil : Klien mengatasi masalahnya dengan positif
Intervensi :
 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.
 Kaji kemampuan klien yang bersifat positif.
 Libatkan keluarga untuk memotifasi klien
3) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia trombositopenia
Tujuan : Mampu mengenali dan menangani anemia pencegahan terhadap
terjadinya komplikasi perdarahan.
Intervensi :

6
 Kolaborasi dalam pemeriksaan hematokrit dan Hb serta jumlah trombosit.
 Berikan cairan secara cepat.
 Pantau dan atur kecepatan infus.
 Kolaborasi dalam pemberian infus
2. Post operasi dan post Radiasi
1. Resiko tinggi Infeksi berhubungan dengan jaringan terbuka akibat luka
pembedahan.
Tujuan : Infeksi dapat di cegah
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi pada daerah luka.
Intervensi :
 Monitor tanda-tanda infeksi pada daerah luka
 Jaga kebersihan lokasi
 Rawat luka dengan tehnik aseptic dan anti septic
 Anjurkan klien untuk mobilisasi fisik secara aktif
 Kolaborasi dengan medis untuk memberikan antibiotic
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
Tujuan : agar kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil : nafsu makan meningkat dan pasien tidak lemah dan pucat
Intervensi :
 Jelaskan nutrisi untuk penyembuhan pasien
 Anjurkan porsi makan dengan porsi kecil tapi sering
 Anjurkan pasien untuk mengurangi minum disela-sela makan.
 Temani dan Bantu pasien makan

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi.


Tujuan : agar intregitas kulit dapat di pertahankan
Kriteria Hasil : kulit tampak utuh dan bersih
Intervensi :

 Jaga kebersihan kulit

 Pertahankan hidrasi adekuat

 Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker

 Jelaskan pada pasien untuk menghindari menggaruk.

3. Evaluasi
a. Perfusi jaringan efektif (anemia) hilang atau teratasi.
b. Skala nyeri hilang atau berkurang.
c. Nutrisi terpenuhi atau adekuat.
d. Kecemasan menurun atau hilang.
e. Tidak terjadi gangguan citra tubuh.

7
DAFTAR PUSTAKA

Nurwijaya, Hartati. (2010). Cegah dan Deteksi Kanker Serviks. Yogyakarta: Alex Media
Komputerindo.
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
S., Imam Rasjidi. (2010). Epidemiologi Kanker pada Wanita. Jakarta: Sagubg Seto.
Geri Morgan, C. H. (2009). Obstetri dan Ginekologi Panduan Praktikum Jilid 2. Jakarta:
ECG.
Mulyani, D. (2010). Stop Kanker Panduan Deteksi Dini dan pengobatan Menyeluruh
Berbagai Jenis Kanker. Jakarta: Mizan Publika.