Anda di halaman 1dari 6

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Kemandirian melindungi diri dari kejahatan seksual

Tempat : SD

Hari/Tanggal : Rabu / 25 januari 2017

Waktu : 10.00 wib

Penyuluh : Ridiarno Jamelau, S.Ked

A.TUJUAN

1. Tujuan Umum

Pada akhirnya proses penyuluhan, siswa dan siswi di sekolah dasar dapat mengetahui dan dapat
mengerti tentang kemandirian .

2. Tujuan Khusus

Setelah diberikan penyuluhan dapat :

a. Mengetahui dan memahami bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh
b. Mengetahui cara melindungi diri dari bahaya pedofil
c. Mengetahui cara mencegah diri dari kejahatan sexual

B. SASARAN

Sasaran penyuluhan adalah murid SD kelas 1.

C. MATERI

Terlampir

D. METODE

Metode yang digunakan saat penyuluhan adalah ceramah dan tanya jawab.

E. MEDIA

Media yang digunakan adalah Leaflet.


F. KEGIATAN PENYULUHAN

NO. Tahap Waktu Uraian Kegiatan Metode


1. Pembukaan 5 menit a. Membuka kegiatan dengan Ceramah
mengucapkan salam
b. Memperkenalkan diri
c. Menjelaskan tujuan penyuluhan
d. Menyebutkan materi yang akan
diberikan
2. Isi 15 menit a. Menjelaskan pengertian Ceramah
kemandirian
b. Menjelaskan bagian-bagian tubuh
yang tidak boleh disentuh orang
lain
c. Menjelaskan cara mencegah diri
dari kejahatan
3. Evaluasi 5 menit Melakukan tanya jawab pada peserta Diskusi dan Tanya
penyuluhan tentang materi yang jawab
disampaikan.
4. Penutup 5 menit a. Mengucapkan terimakasih atas Ceramah
peran serta masyarakat
b. Mengucapkan salam penutup

G. MATERI PENYULUHAN

Pengertian pelecehan seksual

Kekerasan seksual terhadap anak menurut ECPAT (End Child Prostitution In Asia
Tourism) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dan seorang
yang lebih tua atau anak yang lebih banyak nalar atau orang dewasa seperti orang asing, saudara
sekandung atau orang tua dimana anak tersebut dipergunakan sebagai sebuah objek pemuas bagi
kebutuhan seksual pelaku. Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan, ancaman,
suap, tipuan atau tekanan. Kegiatan-kegiatan tidak harus melibatkan kontak badan antara pelaku
dengan anak tersebut. Bentuk-bentuk kekerasan seksual sendiri bisa berarti melakukan tindak
perkosaan ataupun pencabulan.

Pengertian pelecehan seksual pada anak adalah segala jenis kontak seksual antara orang
dewasa kepada siapa pun yang berumur di bawah 18 tahun. Selain itu, dikatakan pelecehan
seksual pada anak jika salah satu pelakunya lebih tua atau lebih dominan. Kriteria kedua ini
tanpa melihat seberapa tua usia para pelakunya. Yang menjadi inti persoalan adalah salah satu
pihak tidak berdaya terhadap pihak lainnya.

Pelaku pelecehan seksual pada anak bukan saja berasal dari pihak luar. Ada juga pihak
keluarga yang melakukan hal semacam itu. Jika pelecehan seksual pada anggota keluarga
dilakukan oleh salah satu anggota keluarga, maka hal tersebut disebut inses. Beberapa tindakan
pelecehan seksual pada anak bisa berupa ciuman, menyentuh kemaluan anak, berhubungan
seksual, atau memberikan paparan pornografi pada anak.

Pelecehan seksual pada anak terjadi karena anak dipaksa atau dibujuk. Sayangnya,
banyak anak yang tidak menyadari atau memahami tindakan yang diminta kepada dirinya.
Apalagi, saat ini pelecehan seksual tidak semata-mata berbentuk kontak fisik. Pelecehan seksual
pada anak kini juga bisa terjadi secara daring (online).

Beberapa Gejala dan Efek Akibat Pelecehan Seksual


Susah mendeteksi seorang anak mengalami pelecehan seksual. Kebanyakan dari mereka
takut untuk mengungkapkannya karena menganggap hal tersebut diakibatkan oleh kesalahan
yang mereka perbuat. Anak-anak juga sering ditakut-takuti pelakunya bahwa cerita mereka tidak
akan dipercayai sehingga mereka takut untuk bercerita.
Selain itu, pelaku pelecehan seksual mungkin saja melakukan aneka ancaman sehingga
membuat anak merasa lebih aman jika memendam kejadian yang menimpanya. Meski susah
mendeteksi apakah seorang anak mengalami kejadian memilukan ini, beberapa hal bisa dijadikan
patokan.

Perhatikan apakah ada perubahan perilaku pada anak. Anak-anak yang mengalami
pelecehan seksual biasanya akan menarik diri, menjadi lebih agresif, tiba-tiba manja,
sering mengompol, atau susah tidur. Kejadian tidak pantas ini juga bisa menimbulkan masalah
kesehatan pada dirinya. Jika anak merasa nyeri pada kemaluan atau dubur mereka, maka orang
tua harus waspada. Bisa jadi hal tersebut menandakan anak mengalami infeksi menular seksual
atau bahkan hamil. Selain itu, dapat ditemukan anak mengalami kesulitan berjalan atau susah
duduk.

Selanjutnya, perhatikan apakah anak tersebut terlihat menghindari seseorang. Anak yang
mengalami pelecehan seksual tentu tidak ingin kejadian tersebut terulang. Maka wajar saja jika
anak tersebut kemudian takut menghabiskan waktu dengan pelaku tanpa ditemani orang lain.

Tanda-tanda lain yang mungkin muncul adalah anak memperlihatkan perilaku atau
pengetahuan tentang seks yang tidak sesuai dengan umur mereka. Hal lain yang perlu diwaspadai
adalah kemungkinan anak yang mengalami pelecehan seksual juga melakukan hal yang sama
kepada anak-anak lain.

Jika anak mengalami ciri-ciri di atas, periksalah secara seksama pakaian mereka.
Pelecehan seksual biasanya meninggalkan bekas berupa bercak darah di pakaian anak.Pelecehan
seksual pada anak juga bisa mengganggu pendidikan mereka. Anak yang mengalami hal ini
biasanya mengalami penurunan prestasi karena mereka kesulitan belajar dan fokus.Yang penting
untuk juga diketahui orang tua dalam mendeteksi kemungkinan terjadinya pelecehan seksual
pada anak adalah membaca petunjuk yang mungkin diberikan anak. Mereka mungkin akan sulit
untuk berbicara langsung mengenai tragedi yang menimpanya, namun mereka bisa memberikan
petunjuk-petunjuk tidak langsung terkait hal tersebut. Oleh karena itu, orang tua harus peka akan
hal semacam ini.

Pencegahan

1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya


Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan
yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih ‘menghaluskan’ istilah
anatomi tubuh seperti “payudara”, “penis”, atau “vagina” dengan kata-kata yang menurut mereka
lebih bisa diterima. Cara ini salah.

Dengan mengajarkan anak nama-nama yang tepat untuk setiap bagian tubuh, mereka
akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan
mereka. Dengan menggunakan istilah anatomi yang sesuai, semua orang yang terlibat akan
memahami persis apa yang anak-anak maksud guna meminimalisir kemungkinan salah tafsir.
Misalnya, akan jauh lebih jelas jika seorang anak bisa melaporkan pelecehan yang terjadi
dengan, “orang itu menyentuh vaginaku dengan penisnya” dibanding dengan jika ia mengatakan
“orang itu pegang burungku.”

2. Ajarkan anak mengenai batasan


Prinsip yang paling utama yang harus Anda ajarkan sejak dini adalah tubuh adalah milik
pribadi, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dan akan mereka
lakukan terhadap tubuhnya masing-masing, siapa yang boleh menyentuhnya, dan bagaimana
orang lain menyentuh tubuh mereka. Hak setiap anak harus dijamin dan diperlakukan sama,
layaknya orang dewasa.

Ajarkan pula bahwa ada area-area tertentu yang tidak boleh dilihat atau disentuh sama
sekali oleh orang lain, dengan catatan, jika kondisi tubuh anak mengharuskan untuk diperiksa
oleh tenaga medis, jelaskan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja karena pemeriksaan ini
berkaitan dengan kesehatannya, dan temani anak selama pemeriksaan berlangsung.

Ajarkan anak untuk menghormati tubuhnya dengan mengajarkan mereka untuk


menghormati tubuh orang lain. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk tidak melakukan apapun
terhadap orang lain jika orang tersebut tidak menginginkannya. Contohnya, jika ia menggelitik
Anda, atau saudaranya, terus menerus, Anda bisa dengan lugas katakan, “Aku tidak mau
dikelitikin. Tolong hentikan, ya.” dan pastikan anak-anak Anda menghormati keputusan Anda.
Mengajarkan dengan contoh akan lebih mudah bagi anak untuk mengerti.
Hormati pula keinginan mereka, dan pastikan mereka mengetahui bahwa tidak siapapun,
termasuk Anda, memiliki hak untuk menyentuh mereka tanpa seizin mereka. Tanyakan pada
anak sebelum menyentuh mereka, seperti, “Mau mama gendong, nggak?” dan jangan berasumsi
segala hal tidak apa-apa untuk dilakukan. Minta izin mereka untuk berikan ciuman, jangan
langsung lakukan hal tersebut. Jangan sembarangan meminta mereka untuk memberikan ciuman
atau pelukan kepada orang lain jika mereka tidak mau. Ajarkan mereka untuk bisa menolak
dengan sopan.

Mana sentuhan yang baik dan yang tidak baik?

Sentuhan yang baik adalah sentuhan yang bisa memberikan kita kenyamanan dan merasa
dipedulikan. Jelaskan pula pada anak bahwa terkadang, sentuhan yang baik bisa saja terasa sakit,
misalnya, saat membersihkan luka. Memang sakit, tapi akan membuat ia jadi lebih baik.

Sedangkan sentuhan yang tidak baik adalah sentuhan yang menyakitkan, baik secara fisik
maupun emosional. Contohnya: saat seseorang memukul, mencubit, atau menendangnya.

Satu jenis sentuhan lainnya adalah sentuhan yang tidak diinginkan, yang biasanya adalah
sentuhan yang baik, tapi tidak diinginkan untuk saat ini. Misalnya, diayunkan di ayunan rasanya
sangat menyenangkan, tapi jika dilakukan setelah makan siang, mungkin anak Anda akan merasa
pusing dan mual, makanya mereka cenderung tidak menginginkannya.

Mana yang termasuk pelecehan seksual?

Sentuhan yang termasuk pelecehan seksual sangat jelas, tidak akan membingungkan
orang lain bahkan jika menggunakan istilah yang tidak lazim digunakan. Sentuhan pelecehan
seksual adalah jenis-jenis sentuhan yang membuat anak-anak takut, cemas, atau gelisah di
bagian-bagian tubuh privat (yang biasanya tertutup pakaian sehari-hari, termasuk baju renang).
Jelaskan kepada anak bahwa sentuhan ini mungkin seperti “baik”, tapi terasa tidak nyaman.
Jelaskan pada anak bahwa jika seseorang menyentuh mereka dan kemudian meminta mereka
untuk menjaga rahasia tentang sentuhan tersebut, maka sentuhan tersebut adalah pelecehan
seksual. Terangkan dengan jelas bahwa pelecehan seksual juga bisa terjadi jika mereka disentuh
saat mereka menggunakan pakaian lengkap, contohnya seseorang meraba celana atau rok
mereka.

Saat Anda menyentuh anak Anda, tanyakan mereka tentang arti sentuhan tersebut
untuknya. Tanyakan pertanyaan seperti, “Sekarang, boleh nggak aku memegang tanganmu?”
atau, “Kalo sekarang orang lain (kakak/om/tante) pegang perutmu, boleh nggak?” Coba untuk
minta anak menjelaskan alasan mereka mengenai boleh atau tidaknya sentuhan tersebut.

Ajarkan anak berkata tidak

Adalah hal yang sangat umum bagi anak untuk mendengar perintah seperti, “Turuti kata
ayahmu!” atau, “Jangan bandel, kan ibu sudah bilang jangan lakukan itu!”. Namun, di usia sedini
itu akan sangat sulit bagi anak-anak untuk bisa membedakan mana perintah yang harus mereka
turuti dan perintah yang tidak harus mereka jalankan.
Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk menolak dan berkata tidak. Mayoritas
kasus pelecehan anak dilaporkan berdasarkan paksaan dan bukan kekerasan fisik. Mengajarkan
anak untuk bisa berkata “tidak!” dengan jelas dan tegas dapat memberikan perbedaan yang
signifikan di banyak situasi.

Memang ada beberapa batasan jelas di mana anak tidak bisa berkata tidak, dan disinilah
kebingungan orangtua bisa terjadi. Saat berdiskusi dengan anak, perjelas bahwa mereka bisa
bilang tidak kepada siapapun yang ingin mencium mulut, menyentuh vagina, penis, dada, atau
bokong mereka, atau bagian-bagian tubuh lainnya yang biasanya tertutupi pakaian. Perjelas pula
bahwa mereka punya hak untuk menolak dengan keras jika orang tersebut mengatakan bahwa
sentuhan ini aman dan tidak akan membuat mereka dihukum. Ajari anak untuk mempercayai
insting mereka dan jika sesuatu terasa aneh, katakan tidak.

Selalu dampingi anak di kehidupannya

Sisihkan sebagian waktu Anda untuk bersama anak di mana mereka bisa mendapatkan
perhatian penuh dari Anda. Pastikan kepada mereka bahwa mereka bisa curhat kapan saja
mengenai segala hal yang terjadi di keseharian mereka, atau jika mereka memiliki pertanyaan
tertentu, atau jika mereka merasa seseorang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pastikan
pula bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak
pelaku pelecehan yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia
tentang kekerasan yang mereka alami. Dibandingkan dengan menggunakan pertanyaan tertutup,
seperti, “Sekolah hari ini seru?”, berikan pertanyaan lanjutan yang memberikan anak kesempatan
untuk mengelaborasi ceritanya, seperti, “Ada lagi yang ingin kamu ceritakan ke mama?”

Selalu ingatkan anak bahwa tidak apa-apa untuk berbicara dengan Anda, terlepas dari
apapun topik pembicaraannya. Dan ingat, peran Anda sebagai orangtua adalah untuk selalu tepati
janji dan jangan berikan hukuman saat mereka bicara jujur dengan Anda.