Anda di halaman 1dari 22

Profil Tanthawi Jauhari

Thanthawi Jauhari adalah seorang cendekiawan mesir yang lahir pada tahun
1287 H/1870 M di desa Kifr Iwadillah (sebuah kota yang berada di Mesir sebelah
timur). Ia adalah seorang pembaharu yang memotivasi kaum muslimin untuk menguasai
ilmu secara luas, ia juga seorang mufassir yang luas ilmunya.[1] Semasa kecil ia belajar
di al-Ghar sambil membantu orangtuanya sebagai petani. Karena didorong oleh
keinginan orangtuanya agar kelak tanthawi menjadi orang yang terpelajar, maka ia
disuruh untuk melanjutkan studinya ke universitas al-Azhar di Kairo. Disinilah ia
bertemu dan berguru dengan tokoh pembaharu Mesir terkemuka yaitu Muhammad
Abduh dan Rasyid Ridha. Tanthawi wafat pada tahun 1357 H/1940 M dalam usia 70
tahun.[2]
Disamping kecintaannya dengan ilmu tafsir, ia juga tertarik dengan ilmu-ilmu alam. Hal
ini dikarenakan ilmu-ilmu tersebut dapat menjadi penangkal atas kesalahpahaman orang
yang mengatakan bahwa islam menentang ilmu dan teknologi modern.
Gagasan pemikiran yang membuat Tanthawi diperhitungkan dalam jajaran pemikir
islam terlihat pada tiga hal berikut ini:
1. Obsesinya untuk memajukan daya pikir umat islam.
2. Pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom-idiom modern.
3. Pengkajiannya terhadap al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang memotivasi
pengembangan imu pengetahuan.

Kitab al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim


Kitab ini ditulis oleh al-Jauhari ketika ia berusia 60 tahun. Adapun mengenai alasan
serta motivasi al-Jauhari dalam menulis kitab ini diantaranya:
1. Ia ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam
kehidupan.
2. Ia ingin mengintegrasikan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan modern, karena
sebagian besar orang mengatakan bahwa al-Qur’an seringkali bertentangan dengan ilmu
pengetahuan.
3. Ia heran mengapa para ulama terdahulu tidak terlalu memperhatikan tentang ayat-ayat al-
Qur’an yang berbicara mengenai ilmu pengetahuan, padahal dalam penelitiannya
didapatkan bahwa lebih dari 750 ayat al-Qur’an yang membahas ilmu pengetahuan
daripada ayat yang berbicara tentang hukum yang jumlahnya lebih sedikit yaitu sekitar
150 ayat.[3]

Metodologi Penafsiran
1. Menjelaskan terlebih dahulu mengenai makna mufradat ayat (Tafsir al-Mufradat).
2. Ketika yang ditafsirkan adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah alam (ilmu
pengetahuan modern) maka ia menyisipkan gambar, tabel untuk menjelaskannya.
3. Dalam beberapa kasus, disamping mengambil pendapat-pendapat ulama dari dunia timur
barat, ia juga mengambil penjelasan dari kitab injil (barnabas). Karena ia menganggap
bahwa injil tersebut kebenarannya mendekati al-Qur’an.
4. Ketika menafsirkan ayat-ayat hukum dan teologi, ia menjelaskannya seperti kitab tafsir
pada umumnya (menafsirkan dengan al-Qur’an, hadits, qaul sahabat, asbabun nuzul,
dll). Namun ketika tanthawi mengutip hadits maupun pendapat ulama/ilmuwan
biasanya hanya sekedar mengutip tanpa ada kritik darinya.

1] Dewan redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 2 (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve,
1993), hlm. 307.
[2] Muhammad Husein adz-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun (Maktabah bin Amr Mus’ab,
2004). hlm. 370.
[3] Lihat Muqaddimah dalam kitab al-Jawahir hlm. 3.
AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL-QURAN AL-KARIM
T}ant}awi Jauhari

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Tafsir al-Quran Timur Tengah Kontemporer

Team Teaching : Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, MA (koord.)


Prof. Dr. Hamdani Anwar, MA
Prof. Dr. Salman Harun, MA
Dr. M. Muchlis M. Hanafi, MA

Oleh :
Eka Adi Candra
NIM: 10.2.00.0.05.01.0128

SEKOLAH PASCASARJANA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1432 H/ 2011
AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL-QURAN AL-KARIM

A. Pendahulan
Seseorang yang mempelajari dan menelaah al-Qur’an, ibarat orang yang haus
meminum air laut, semakin meminumnya maka semakin haus dan senantiasa ingin
minum lagi. Ibarat ini tidaklah berlebihan bila melihat perpustakaan Islam yang
dipenuhi dengan kitab-kitab tafsir dari berbagai generasi. Metode yang digunakan
sangat beragam mulai tahli>li>, muqarri>n, mujma>l ataupun maudu>'iy. Begitu juga
coraknya bermacam-macam yang mencerminkan kekayaan khasanah intelektual
keislaman yang senantiasa dibaca, ditelaah, diteliti dengan mengritisinya untuk
mendapatkan suatu pemahaman yang mendekati pesan Allah dalam al-Qur’an.
Perkembangan tafsir senantiasa beriringan dengan perkembangan keilmuan
keislaman. Pada awalnya kecenderungan penafsiran al-Qur’an hanya menggunakan
riwayat (al-tafsir bi al-ma’thsur), yang disusul dengan penafsiran menggunakan
ijtihad1[1]. Para penafsir di masa kejayaan ilmu keislaman, baik dari kalangan penganut
aliran riwayat ataupun ijtihad biasanya lebih menekankan pada penafsiran dengan
menggunakan pendekatan kebahasaan dari aspek balaghah, nahwu (kaidah bahasa
Arab), dan pendekatan fiqih atau falsafi. Dan setelah datang masa di mana semangat
dan kreativitas umat mulai melemah yang dilakukan oleh para mufassir dengan
menggunakan pola ringkasan, menukil atau memberikan syarah (catatan pinggir suatu
karya).
Al Quran telah memberikan contoh berkenaan dengan kehidupan nyata,
bagaimana pengembangan sumber daya manusia, pengembangan llmu pengetahuan,
pengorganisasian masyarakat, teknologi dan juga pemikiran serta pandangan, bahwa
alam semesta berikut seluruh isinya bukanlah merupakan realitas independen, apalagi
terakhir (ultimate), melainkan ‘tanda-tanda’ dari kebesaran dan keberadaan Allah SWT.
Kitab al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an al-Karim T}ant}awi bin Jawhari dinilai
oleh sebagian ulama sebagai kitab tafsir yang bercorak ilmiah (tafsir bi al-'ilmy), yang
pada masanya telah memberikan ghirah tersendiri bagi umat Islam, khususnya dalam
memahami, mendalami, dan menguasai perkembangan ilmu pengetahuan. Kendati
terjadi perdebatan seputar eksistensi penafsiran bercorak ilmiah, kehadiran jenis tafsir
ini secara umum masih dapat diterima dan dianggap tidak bertentangan dengan Al
Quran.

B. Biografi T{ant}awi al-Jauhari

1[1] Muhammad Husain al-Zahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, (Cairo : Da>r al-Hadist, 2005, jilid I,
137.
T}ant}awi bin Jawhari al-Mishriy dilahirkan tahun 1287 H/1862 M, (ada yang
menyebut tahun 1870 M) di desa 'Iwadillah, di propinsi administratif Mesir Timur.2[2]
Masa kecilnya, T}ant}awi hidup bertani bersama orang tuanya, tapi ia juga belajar di
kuttab (semacam pesantren penghafal al-Quran) yang berada di desa al-Ghar, di
samping belajar pada pamannya, yang masih keturunan bangsawan. Menuntut ilmu di
masa kecilnya pada perguruan al-Azhar dan melanjutkan pendidikan menengahnya pada
sekolah pemerintah3[3].
Tahun 1889, T}ant}awi pindah ke Universitas Dar al-'Ulum, hingga tamat pada
1893 M/ 1310 H4[4]. Di sini ia mempelajari beberapa mata kuliah yang tidak diajarkan
di al-Azhar, seperti matematika (al-Hisab), ilmu ukur (handasah), aljabar, ilmu falak,
botani ('Ilm al-Nabat), fisika ('Ilm al-Habi'ah), dan kimia (al-Kimiya'), Setelah
menyelesaikan studinya, beberapa waktu lamanya T}ant}awi mengajar di tingkat
Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Kemudian ia mengajar di almamaternya, Dar 'Ulum. serta
sempat melamar sebagai seorang qadli namun tidak terkabulkan. Dan pernah menjadi
pemimpin redaksi majalah “al-Ikhwan al-Muslimin” tetapi dalam waktu yang tidak
lama, kemudian memutuskan untuk berhenti dan mengonsentrasikan diri dalam menulis
berbagai karya, Di samping mengajar, T}ant}awi juga aktif menulis artikel-artikel yang
selalu muncul di Marian Al-Liwa, ia telah menulis lebih kurang dari 30 judul buku,
sehingga dirinya dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan dua peradaban. yaitu
agama dan perkembangan modern pemikiran sosial-politik.5[5]
Lalu tak lama kemudian (1912) ia juga mengajar di al-Jami'ah ai-Mishriyyah
untuk bidang studi Filsafat Islam. Ada dua bidang keilmuan yang dipandangnya
menjadi dasar untuk mencapai tingkat pengetahuan ilmiah, yaitu tafsir dan fisika.,

2[2] Muhammad Husain al-Zahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, 441.

3[3] Muhammad Husain al-Zahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, 441.

4[4] Muhammad Husain al-Zahabiy, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, 441.

5[5] M. Ali al-lyazi , Al-Mufassirun Hayatuhum wa Manhajuhum , 1373 H, 429.


T}ant}awi telah menghabiskan umurnya untuk mengarang dan menerjemahkan buku-
buku asing ke bahasa Arab, sejak ia mulai menjadi guru hingga pensiun tahun 1930.
Tanthawi wafat pada 1940 M/1358 H
C. LATAR BELAKANG PENULISAN TAFSIR AL-JAWAHIR
Bagi T{ant}awi, tuanya usia bukan soal untuk tetap konsen di dunia tulis
menulis. Bahkan keriputan kulit jari jemarinya memberikan ‘ilham’ tersendiri untuk
memunculkan berbagai karya. Di usia senjanya (60 tahun), T}ant}awi mampu
menghadirkan karya besarnya, yaitu kitab al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an al-Karim. Pada
tahun 1922-1935 terdiri dari 25 jilid6[6] dan pertama kali dicetak di Kairo oleh penerbit
Muassasah Musthafa al-Babi al-Halabi tahun 1350 H/ 1929 M, Sementara cetakan
ketiga di Beirut, Dar ai-Fikr tahun 1395 H/1974 M.
Adapun latar belakang penulisan kitab ini yang dituangkan dalam muqaddimah,
antara lain adanya kesadaran akan besarnya insting untuk mencintai keajaiban dunia,
keindahan alam, baik yang di langit maupun yang di bumi. Semuanya serba teratur dan
mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi orang yang mau memperhatikan dan
menggali semua rahasianya.
"Sejak dahulu aku senang menyaksikan keajaiban alam, mengagumi dan
merindukan keindahannya baik yang ada di langit atau kehebatan dan kesempurnaan
yang ada di bumi. Perputaran atau revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang
bersinar, awan yang berarak datang dan menghilang kilat yang menyambar seperti
listrik yang membakar, barang tambang yang elok, tumbuhan yang merambat, burung
yang beterbangan, binatang buas yang berjalan, binatang ternak yang digiring, hewan-
hewan yang berlarian, mutiara yang berkilauan, ombak laut yang menggulung, sinar
yang menembus udara, malam yang gelap, matahari yang bersinar dan sebagainya".7[7]
Itulah yang mendorong T}ant}awi menyusun pembahasan-pembahasan yang dapat
mengkornpromikan pemikiran Islam dengan kemajuan studi Ilmu Alam.

6[6] ʻAbd al-ʻAzīz Jādū, Syeh T{ant}awi Jauhari: Dirasatu wa Nus}us}, Dar Ma'arif 1980, 38.

7[7] T{ant}awi Jauhari, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, Mesir : Mus}t}afa al-Babi al-
H}alabiy wa>wala>h, jilid I, 2.
Al Quran menuliskan keajaiban-keajaiban tersebut, menampakkan alam fisik
yang tersebar, langit yang ditinggikan. Kesemuanya memberikan kebahagiaan bagi
orang yang memiliki 'mata hati' (Dzu al-Bashair) dan memberikan sinar serta pelajaran
(Tabsirah) bagi orang-orang yang membenarkan rahasia-rahasia Tuhan.
Selanjutnya ia menyatakan : "Tatkala diriku berfikir untuk merenungi keadaan
umat Islam sekarang, dan kondisi pendidikan agamanya, maka aku menuliskan surat
kepada beberapa tokoh cendekiawan (al-'Uqala) dan sebagian para ulama besar (Ajiilah
al-'Ulama ) tentang makna-makna alam yang ditinggalkan, juga tentang jalan keluarnya
yang masih banyak dilalaikan dan dilupakan. Sebab sedikit sekali di antara para ulama
yang memikirkan realitas alam sernesta dan keanehan-keanehan yang ada di
dalamnya."8[8]
Selanjutnya Tanthawi menyatakan bahwa: "...di dalam karangan-karangan
tersebut aku memasukkan ayat-ayat Al Quran dengan keajaiban-keajaiban alam
semesta; dan aku menjadikan wahyu Iiahiyah itu sesuai dengan keajaiban-keajaiban
penciptaan, hukurn alam, munculnya bumi disebabkan cahaya Tuhan-Nya. Maka aku
rneminta petunjuk (tawajjuh) kepada Tuhan yang Maha Agung agar memberikan taufik
dan hidayah-Nya sehingga aku dapat menafsirkan Al Quran dan menjadikan segala
disiplin ilmu sebagai bagian dari penafsiran serta penyempurnaan wahyu Al Quran.9[9]
Tafsir ini, ditulisnya pertama kali ketika ia mengajar di Universitas Dar Al-
'Ulum. Mesir, lalu dimuat di majalah AI-Malaji' Al-'Abasiyah. Tujuannya agar umat
Islam 'menyenangi' keajaiban alam semesta. keindahan-keindahan bumi, dan agar para
generasi berikutnya cenderung pada nilai agama, sehingga Allah SWT mengangkat
peradaban mereka ke tingkat yang tinggi.10[10]
Dan ketika T{ant}awi Jauhari memperhatikan kondisi umat Islam serta ajaran-
ajaran keagamaan yang berkembang saat itu, didapatkan bahwa kebanyakan ilmuan dan
sebahagian ulama memalingkan diri dari fenomena tersebut. Sebahagian merasa enggan

8[8]T{ant}awi Jauhari, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, 2.

9[9]T{ant}awi Jauhari, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, 2.

10[10] T{ant}awi Jauhari, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, 3.


untuk membedahnya, dan hanya sedikit yang mau merenungkan faktor-faktor yang
terkandung dalam keajaiban tersebut. Realitas inilah yang mendorongnya untuk menulis
berbagai macam karya dalam bentuk risalah ataupun kitab seperti Niz}am al-Alam,
Jawahir al-Ulum, Jamal al-Alam dan sebagainya. Dari karya–karya itulah pada
akhirnya melahirkan tafsir yang paling sensasional yaitu al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an
al-Karim sebagai suatu usaha aktualisasi dari obsesinya untuk memadukan antara ayat-
ayat wahyu dan keajaiban alam.
Dalam berbagai kesempatan T{ant}awi mengungkapkan, bahwa kecenderungan
menggunakan tafsir ilmiah lebih dibangkitkan oleh rasa tidak puas terhadap tafsir yang
ada. Ulama terdahulu terlalu berlebihan mengarahkan perhatiannya terhadap kitab-kitab
fiqih, dan mengabaikan ayat-ayat tentang alam semesta. Menurut penelitian T{ant}awi,
tidak kurang dari 750 ayat al-Quran berbicara dan rnendorong manusia ke arah
kemajuan ilmu pengetahuan. Ia heran mengapa mufassir klasik hanya mengkaji dan
menekankan banyak hal tentang ilmu fikih - yang tidak lebih dari 500 ayat shareh - dan
lengah terhadap arahan Al Quran tentang ilmu tumbuh-tumbuhan, biologi, ilmu hitung,
fisika, sosial dan seterusnya. Inilah salah satu hujjah mengapa Tanthawi kemudian
memunculkan satu corak tafsir dengan pendekatan ilmiah, sebagaimana tertuang dalam
mukaddimah tafsirnya. 11[11]
Sebagai contoh, menurut para ulama fiqih terlalu melampaui batas dalam
membahas air wudhu’ sehingga muncul ratusan jilid kitab fiqih dalam empat mazhab.
Apakah umat islam tidak memperhatikan terhadap ilmu agama hakiki yaitu ilmu alam
ini, suatu ilmu untuk mengetahui dan mengenal Allah?, memang fiqih memelihara
kehidupan umat, namun ilmu alam untuk sampai pada ma’rifah dari kehidupan umat.
Menurutnya lebih utama menjaga umat supaya hidup daripada menjaga kehidupan itu
sendiri, kerena ibadah tidak akan terwujud bila tidak ada kehidupan.
Sedangkan kitab tauhid kebanyakannya merupakan retorika yang
berkepanjangan yang tidak membawa manfaat bagi umat secara konkrit. Begitu juga
Ilmu Fara’id} mempelajarinya merupakan fard}u kifayah. Sedangkan ilmu alam ini
merupan fard}u 'ain dalam mempelajarinya. Sikap yang ditonjolkan dari jeritan jiwa

11[11] T{ant}awi al-Jauhari, Muqadimah Tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim, 3.


T{ant}awi tersebut pada hakikatnya merupakan akumulasi ketidakpuasan terhadap
kondisi umat islam yang dilihatnya sejak usia muda. Tatkala dalam usia sekolah di
perguruan Azhar, dia harus berhenti menuntut ilmu dengan datangnya tentara Inggris.
Sehingga harus bekerja di lahan pertanian membatu orang tuanya. Maka ditemukannya
rel dan kereta api yang melintasi Mesir, ternyata bukan buatan umat islam. Sedangkan
umat islam baik laki-laki dan perempuan bergelut dengan tenaga untuk menyambung
kehidupan tanpa henti-hentinya. Sehingga sampailah pada suatu pendapat bahwa dia
percaya Tuhan di dunia ini ada, bila diketahui oleh orang yang menggunakan kekuatan
dan kemampuan akalnya.
D. METODE PENULISAN
Kitab al-Jawahir ini ditulis berdasarkan urutan Mushaf Utsmani. Sebelum
menafsirkan surah al-Fatihah, T{ant}awi terlebih dahulu megutip surah Al-Nahl [16];89
dalam uraian "Kata Pendahuluan" (Mukaddimah). Berbeda dengan jilid kedua dan
selanjutnya, di mana ia menjadikan ayat AI-Nahl [16]:44 sebagai 'motto'
uraiannya.12[12]
Setiap surah yang ditafsirkan, T{ant}awi kerapkali mengklasifikasikannya
sebagai surah Makkiyah atau surah Madaniyah sesuai periode turunnya al-Quran.
Namun ia tidak menjelaskan secara rinci tentang adanya ayat tertentu yang berbeda
klasifikasi periode turunnya dengan karakteristik umum dari induk atau surah-nya,
sebagaimana ia tidak mengungkapkan perbedaan riwayat yang muncul terkait dengan
klasifikasi suatu surah.
Kemudian T{ant}awi menuliskan alasan, latar belakang, maksud dan tujuan
penulisan tafsirnya ini, sebagaimana telah disinggung di atas, ide-idenya yang
berkenaan dengan tafsir al-Quran yang pernah diterbitkan dalam beberapa media
sebelumnya kembali ia rangkum. Gambar atau foto juga menjadi media pelengkap
ketika T{ant}awi menjelaskan ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan alam.

12[12]T{ant}awi Jauhari, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, 2.


T{ant}awi memfokuskan terhadap ayat-ayat kauniyah dalam al-Quran dengan
tren modern di dalam tafsirnya, secara global tafsir ini di kenal tafsir ilmi dan
menetapkan bagwa al-Quran mencakup pada seluruh ilmu-ilmu dan menjawab semua
permasalahan. Akan tetapi T{ant}awi di pengaruhi oleh pemikiran imam Ghazali di
dalam kitabnya Jawa>hir al-Quran dalam bab yang menjelaskan bagaimana cabang-
cabang ilmu-ilmu keseluruhan yang ada dalam al-Quran13[13].
Membagi Muhammad Abduh dalam tafsir tebagi ini menjadi dua, yang
Pertama: Keyakinan hamba terhadap Allah dan kitab-Nya adalah apa yang di maksud
dengan keadaan lafaz dan mengungkapkan secara global dan penjelasan apa yang
terdapat pada ibarat dan isyarat dari seni, ini tidak boleh di sebut tafsir, sesunguhnya
jenis ini adalah latihan dari seni-seni ilmu seperti nahwu dan maknanya atau yang
lainnya. Kedua : Wajib terhadap manusia atas tafsir ini fardu kifayah yang
mengumpulkan syarat-syarat, menjadi amalan dan tujuannya, melakukan mufassir
kepada pemahaman dari perkataan, hikmah syari'ah pada kenyataan dan hukum atas
bentuk yang menarik, dan didorong kepada amalan dan hidayah terhadap kalam.14[14]
T{ant}awi Jauhari tidak mengurangi sedikit pun malahan ia menambahkan
terhadap tafsirnya seperti perkataanya : "Wahai umat islam , ayat yang telah Allah
tentukan dalam faraid telah emnarik satu cabang dari cabang-cabang ilmu yaitu ilmu
matematika, wahai sekalian manusia ada sekitar 750 ayat yang merupakan ayat
keajaiban dunia secara keseluruhan. Ini zaman munculnya cahaya keislaman, kenapa
kita tidak mengetahui tentang ilmu ayat-ayat kauniyahapa yang dilakukan nenek
moyang kita dulu tentang ayat waris? Akan tetapi aku katakan: Alhamdulillah,
Alhamdulillah bahwa sesungguhnya engkau membaca tafsir ini ringkasan dari ilmu-
ilmu mempelajari keutamaan dari pelajaran ilmu faraid, sesungguhnya ini menjadi
fardhu kifayah, ini adalah penambahan untuk lebih mengenal kepada Allah maka bisa
dikatakan menjadi fardhu 'ain15[15].

13[13] T{ant}awi al-Jauhari, Dira>sah wa Nus}us}, 55. Lihat juga Imam Ghazali, Jawahir al-Quran,
Dar Hayah Al-Ulum, Bairut : Dar Ihyaa al-Ulum, 1991, 31-34.

14[14] Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, al-Qahira: Dar al-Manaar, 1947. juz 1, 22.

15[15] T{ant}awi Jauhari, al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, 19.


Sudah barang tentu ketika ia menafsirkan kalam-kalarn suci Allah SWT,
argumentasi ilmiah menyertai penjelasannya, terutama yang bersentuhan dengan alam
secara umum. Sehingga 'hampir semua tokoh' sepakat mengkategorikan tafsir ini
sebagai tafsir ilmiah.16[16]
Akan tetapi ada juga pendapat bahwa corak ilmiah tafsir T{ant}awi tidak
sepenuhnya dapat dibenarkan, karena al-Quran bukanlah kitab 'llmu' melainkan kitab
hudan bagi manusia. 17[17] Petunjuk al-Quran ada yang berbentuk lafzi, kiasi, isyarat
dan yang tersurat berkenaan dengan ilmu pengetahuan guna mendukung fungsinya
sebagai hudan.
Sebagai bukti bahwa apa yang telah didapat oleh para ilmuan tentang kecocokan
hasil penelitlan mereka dengan pesan al-Quran sangat terbatas. Misalnya, ketika para
dokter berhasil 'menciptakan' alat untuk mengetahui apakah janin dalam kandungan
seorang ibu hamil itu laki-laki atau perempuan berikut perkiraan lahirnya. Narnuri
prediksi itu kerapkali keliru, mereka juga tidak tahu pasti kapan bayi itu akan lahir,
berapa beratnya, bagaimana bentuk rarnbut, wajahnya dan Iain-lain.
Achmad Baiquni melontarkan pertanyaan di dalam bukunya, Al-Qur'an dan ilmu
Pengetahuan Kealaman (1997:187), kenapa seorang anak mewarisi sifat atau mungkin
watak kedua orang tuanya"? Secara ilmiah hal ini disebabkan oleh percampuran
kromoson (sel laki-laki dan perempuan). Setelah kromosom berkumpul menjadi satu
kemudian membelah dan berakhir dengan terjadinya dua buah sel keturunan. Lalu sel-
sel keturunan itu meneruskan pembelahan, dan tiap sel yang dihasilkan merupakan
kopian dari pendahulunya. Itulah sebabnya, kenapa setiap anak harnpir dapat dikatakan
pasti mewarisi sifat orang tuanya.
Rija'> al-Naqa>s seorang wartawa pernah berkata tentang T{ant}awi al-Jauhari,
dia berkata " Tafsir Syeh T{ant}awi Jauhari al-Quran al-Karim terkesan tafsir Qurani ,
yang dikenal oleh akal orang arab, tafsir keseluruhannya mengajak bahawa quran
menuntut manusia untuk meluaskan wawasanya dalam kejeniusan macam-macam

16[16] Su'ud ibn Abdul Falah al-Fanisan, Ikhtiiaf al-Mufassinn, Asbabuhu wa atsaru 1997:53

17[17] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur'an, 1999, 72.


pengetahuan dan mempertimbangkan didalam berbagai macam ilmu, T{ant}awi
menggunakan di dalam lebaran tafsirnya dengan gambaran otopsi kehewanan, tumbuh-
tumbuhan dan peta, Rija'> al-Naqa>s berkesimpulan dalam tafsir T{ant}awi
mengandung ruh ilmiyah dan alasanya serta menyeru kepada da'wah yang jelas18[18].
Berkata juga salah satu Iran menjabat sebagai Departemen Pengetahuan Umum
Pemuka yang dipelopori oleh Abu Abdullah al-Zanja>wiy berkata: "Bahwa menuntut
ilmu modern di sekolah Iran dan membaca Tafsir ini , menghilangkan keraguan dan
was-was beragama19[19]".
Kaitan antara al-Quran dan alam semesta adalah sebagi bukti-bukti yang
komplementer bagi kebenaran kenabian, kebenaran agama Islam serta keagungan Allah
Swt, al-Quran dapat di pandang sebagai perkataan sedangkan alam semesta di pandang
sebagai bukti kejadian20[20].
E. SISTIMATIKA PENAFSIRAN
Dalam menafsirkan setiap surat, T{ant}awi memulainya dengan suatu
muqaddimah yang berisikan klasifikasi surat, apakah surat tersebut tergolong makkiyah
atau madaniyah. Selanjutnya dicantumkan jumlah ayat dan terkandang menyebutkan
tertib turunnya dan hubungan surat dengan sebelumnya.
Surat yang panjang dibagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian terdiri dari beberapa
ayat dan senantiasa memisahkan bismillah pada setiap awal surat. Dalam satu kelompok
ayat dimulai dengan al-Tafsir al-Lafdhiy dari ayat-ayat tersebut yang menyerupai pola
dalam tafsir al-Jalalain. Kemudian diikuti dengan apa yang disebut Lat}a’if haz}a al-
Qism, terkadang disebut Abhats, Jawahir atau cerita-cerita.
Terkadang membuat judul khusus yang mempunyai hubungan dengan judul
sebelumnya, dan diakhir surat dicantumkan suplemen penafsiran surat tersebut yang
meliputi beberapa fas}l. Terkadang membuat al-Lat}a’if umum pada setiap bagian.
Semua pembahasan tersebut kecuali al-Tafsir al-Lat}a’if dipenuhi dengan pembahasan

18[18] Rija'> al-Naqa>s, dalam majalah al-mans}ur, tanggal 3 Novmber 1972.

19[19] Muhammad bala>siy, Majalah al-Da>'iy , Februari 2011

20[20] Sahirul Alim, et.al Islam Untuk Disiplin Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi, Departemen
Agama RI, Jakarta, 1995, 75
ilmiah eksperimental yang diperjelas dengan gambar-gambar dan rincian yang
mendalam. Berhubungan dengan pembahasan-pemabahasan dalam tafsir ini, Fahd al-
Rumi mensinyalir adanya unsur-unsur pengalaman kehidupan sehari-hari T{ant}awi
yang dijadikan sumber penafsirannya, bahkan dari mimpinya atau hasil pengembaraan
imajinasinya dari alam nyata ke alam metafisika yang kebanyakannya disebut dengan
ilham. Sehingga terkadang tidak bisa dipilah di antara sumber-sumber keterangan
tersebut satu dengan lainnya.
Untuk memperjelas pembahasan ilmiah diberikan gambar ilustrasi dalam jumlah
yang banyak sekali, seperti gambar galaksi, bintang, matahari, bulan, air, tumbuh-
tumbuhan, batu-batuan, hewan, ikan, manusia, kuman dan bakteri. Dan memuat daftar
ilmiah matematika, kimia, fisika, peta bumi serta penemuan-penemuan baru di alam
fisik ini.
F. POSISI T}ANT}AWI
Para ilmuwan memberikan ragam penilaian terhadap T{ant}awi. Ada yang
menyatakan, ia seorang sosiolog (Hakim Ijtima’i) yang selalu memperhatikan kondisi
umat. Pernyataan ini didasarkan pada dua karya tulisnya: (1) Nahd}ah al-Ummah wa
Hayatuha (Kebangkitan dan Kehidupan Umat) yang membahas sistem kehidupan
sosial, kondisi umat Islam, ilmu dan peradaban, hubungan antara dua peradaban Timur
dan Barat yang mestinya saling menguntungkan. (2) Aina al-lnsan. membahas tentang
hubungan antara organisasi atau kelompok, masalah politik dan sistem pemerintahan
Ada juga yang memposisikan T}ant}awi sebagai seorang Teosofi Alam (Hakim
Thabi'i Lahuti) yang banyak mengkaji permasalahan sekitar ruh, keajaiban atau
keanehannya. Penilaian ini dilandasi oleh beberapa bukunya, seperti (1) Jawahir al-
'Ulum (Mutiara Ilmu), dijadikan sebagai buku pegangan di sekolah-sekolah Mesir,
mengisahkan pemuda Mesir yang ingin menikah dengan putri Persia keturunan Turki;
(2) al-Aiwah (Ruh). dan (3) al-Nidzam wa al-lslam (Peraturan Hukum dan Islam).
Selain itu T{ant}awi juga banyak membahas tentang objek materi dan hukum alam,
sebagaimana terungkap dalam bukunya Nidzam al-'Alam wa al-Umam (Keteraturan
Alam Semesta dan Girl Bangsa-bangsa), membahas tentang dunia tumbuhan, hewan,
manusia, pertambangan, sistem ruang angkasa (Nidzam al-Samawat) fenomena
kehidupan Raja, politik Islam, dan " Politik Konvensional, terbit 1905. Ia mengangkat
dua ide besar yaitu: bahwa agama Islam merupakan agama fitrah, relevan dengan rasio
manusia dan penciptaan jasmani manusia (al-Jhiba' al-Basyariyah), dan bahwa agama
Islam Kompatibel dengan hukum alam dan ilmu- ilmu modern.
Peneliti lain menempatkan T{ant}awi pada posisi pakar keislaman yang
menafsirkan Al Quran sesuai dengan zaman modern. Pernyataan ini terlihat jelas dalam
kitab Tafsir al-Jawahir dan karya lainnya, yaitu al-Ta>j wa al-Muras}s{h} bi Jawa>hir
al-Quran wa al-'Ulu>m (Mahkota dan Mutiara), yang menjelaskan berbagai fenomena
alam serta membahas titik temu antara filsafat Yunani. Ilmu modern dan teks al-Quran.
G. TINTA EMAS THANTHAWI
Di antara karya tulisnya yang beredar antara lain ;
1. al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim,
2. al-Arwah,
3. Ashl al-Alam,
4. Aina al-Insan ?,
5. al-Taj al-Mursyi` Jawahir al-Qur’an wa al-Ulum,
6. Jamal al-Alam: Dirasat fi al-Hayawan wa al-Thair wa al-Hawam wa al-Hasyarat,
7. Jawahir al-Ulum,
8. Jawahir al-Taqwa,
9. al-Nadhru fi al-Kauni Bahjah al-Hukama wa Ibadah al-Adzkiya,
10. al-Zahrah fi Nidham al-Alam,
11. al-Sirr al-Ajib fi Ta`addud Azwaj al-Nabi,
12. Sawanih al-Jauhari,
13. Nidham al-Alam wa al-Umam,
14. al-Nidham wa al-Islam,
15. al-Qur’an wa al-Ulum al-`Ashriah

Sebagian karya tulis T>>{>>ant}awi telah disebutkan di atas, sebagiannya pula telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa. Beberapa buku lainnya adalah:
1. Jamal al-'Alam (Keindahan Alam), membahas tentang hewan, burung, serangga,
dikemas dengan cara ilmiah dan agamis, dicetak 1902 M/ 1320 H atas dorongan penyair
sungai Nil1, Hafidz Bek Ibrahim.
2. Buhjah al-'Ulum fi al-Falsafah al- 'Arabiyah wa Muwazanatuha bi al-'Ulum al-
'Ashriyah (Keelokan ilmu pengetahuan dalam Filsafat Arab serta Posisinya-dalam Ilmu-
ilmu Kontemporer), terbit 1936, memuat uraian agama dan filsafat, filsafat Al-Farabi,
serta sejarah filsafat Yunani.
3. Al-Musiqa al-'Arabi (Musik Arab), memuat tiga artikel tentang seni musik dan filsafat
musik,asal usul ilmu arud serta pendapat ahli hikmah tentang musik.
4. Sawanih al-Jawhary (Kesempatan Berharga), kumpulan catatan harian
T{ant}awi. tentang alam sekitar dan perkembangan manusia, tabiat anak kecil, sikap
kebarat-baratan yang menghalangi putra-putri muslim di negeri timur. Ia juga
menafsirkan tentang "nafsu syahwat" yang dapat mencegah meningkatnya peradaban
umat manusia, perlunya menyatukan langkah dan kebijakan dalam memajukan bidang
dan akhlak yang mulia.
5. Al-Sirr al- 'Ajib fi Hikmah Ta 'addud Azwaj al-Nabi (Rahasia Agung Tentang Hikmah
Poligami Nabi). Sesuai dengan judulnya buku ini membahas tentang poligami di
kalangan umat Islam, serta praktek poligami yang dilakukan Nabi saw.
6. Bara'ah al-'Abbasiyah, buku sejarah yang dikemas dalam bentuk
sastra, mengklarifikasi kekeliruan sejarah antara George Zaidan dan Ja'far al-Barmaki
yangh ditulis semasa Kihalifah Harun al-Rasyid.
7. Risalah 'Ain al-Namiah (Tulisan Tentang Semut), mengungkapkan perjalanannya
bersama ahli kedokteran dan dosen-dosen lain mengenai keajaiban semut, seperti mata
semut yang tersusun alas 200 "bola mata" dan setiap mata bersifat otonorn penuh.
8. Al-Qur'an wa al- Vium al-Ashriyyah (Al Quran dan llmu-llmu Modern), terbit tahun
1342 H/1923, isinya mendorong umat Islam untuk menghimpun kemampuan mereka
dan menguasai ilmu-ilmu mdern, sehingga mereka menjadi pemilik yang sah, dari ilmu
pengetahuan sebagaimana yang telah Allah janjikan agar umat Islam menguasai burni
dengan adil.
Adapun karyanya yang paling mengagumkan dan fenomenal yang dapat dinikmati
hingga sekarang adalah al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim yang dikenal dengan
“Tafsir al-Jawahir” merupakan salah satu kitab tafsir modern dengan kecenderungan
ilmiah.

H. APA PERBEDAAN ANTARA T{ANT{AWI AL-JAUHARI DENGAN SYAID


T{AN{TAWI
Kita mengenal bahawa nama T{antawi ada dua, penulis pingin menjelaskan
supaya yang mebaca maklah ini tidak salah melihat sosok T{ant}awi, kalu di lihat dari
sepintas lalu kita akan merasa bahwa T{ant}awi cuman ada satu padahal ada dua nama
yaitu T{ant}awi al-Jauhari yang mengarang kitab Tafsir Jawahir fi Tafsir al-Quran dan
Tafsir Washid karangan Syaid T{ant}awi. Kedua mufasir ini ada sedikit perbedaan
dalam menafsirkan al-Quran, kita lihat dari metode yang dipakai Syaid Tantawi adalah
bahwa ia tidak panjang lebar menjelaskan permasalahan Wujuh al-'irab, dan apabila ia
menemukan pendapat-pendapat dan ia hanya memokuskan pendapat yang dianggap
lebih besar dan lebih kuat alasannya. Berbeda dengan Tantawi Jauhari jarang sekali
menggunakan pendekatan dengan 'irab, akan tetapi ada sedikit keunikan dari tafsir
tantawi jauhari menurut hemat pemakalah, permasalah dari lathaif yang di gunakan, di
lathaif tantawi menjabarkan tentang apa yang bisa kita ambil dari yang di terangkan
sebelumnya dengan kata lain faidah-faidah dari ayat itu. Kalu di tafsir Syaid tantawi
bahwa yang di gunakan sangat mudah di pahami baik di semua kalangan.
Ditafsir Tanrawi juga tidak mencamtumkan nomor pada tiap ayat. Kita harus
teliti terlebih dahulu dikarenakan kesulitan bagi kita menemukan ayat yang kita cari,
akan tetapi di tafsir wasit mencamtumkan nomor ayat, memudahkan kita untuk mencari
ayat mana yang hendak kita teliti. Di tafsir tantawi banyak menggunakan kata ilmiah,
bagi tahap pemula agak kesulitanmengartikan, berbeda dengan tafsir wasit sangat
mudah dipahami baik di kalangan tahap pemula bahasa arab.
Dari perbedaan di atas keduanya mempunyai kelebihan masing-masing, akan
tetapi mereka berusaha memberikan penafsiran yang bisa dimanfaatkan oleh manusia.__

I. ADA APA DENGAN TAFSIR ILMIAH


Ada berbagai penilaian para pakar tentang Tafsir llmiah. Pertama, ada pendapat
bahwa tatsir ilmiah berfungsi sebagai tabyin, yakni menjelaskan teks Al Quran dengan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki sang mufassir. Kelompok ini diwakili
oleh al-Zahabi dan Abu Hamid Al-Ghazali (w 1111 M).
Kedua, ada yang cenderung melihat fungsinya sebagai i'jaz al-Qur'an,
pembuktian atas kebenaran teks Al Quran dalam pandangan ilmu pengetahuan yang
selanjutnya dapat memberikan stimulan bagi umat Islam, khususnya para ilmuwan
dalam meneliti (investigate) ilmu pengetahuan lewat teks al-Quran, Kelompok ini
diwakili oleh Imam al-Suyuthi dan Muhammad bin Ahmad al-lskandaran
Ketiga, berkeinginan menjadikan penafsiran ini sebagai Istikhraj al-'Ilm atau
fa'zfz, yaitu teks atau ayat-ayat Al Quran mampu melahirkan dan memperkuat teori-
teori ilmu pengetahuan mutakhir dan modern. Kelompok terakhir ini diwakili oleh
Muhammad al- lyazi (1333 H) dan Abu Al-Fadl al-Mursi.
Menurut Jansen dalam Diskursus Tafsir al-Qur'an Modern (1977:72), model
penafsiran Tanthawi cukup mempengaruhi sebagian besar masyarakat ketika itu, bahkan
hingga kini, terutama mereka yang bergerak di bidang ilmu alam, fisika, biologi dsb.
Tetapi ada saja sekelompok orang yang justru menyerang pendapat-pendapat Tanthawi.
'Serangan-serangan itu dijawabnya dengan senyum dan hujjah intelektual.
J. ULAMA MENOLAK TAFSIR ILMI
Al-Syatibi Al-Andalusi (w. 790 M) disebut-sebut sebagai orang yang menentang
penggunaan tafsir ilmi terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Menurut Al-Syatibi,
‫ع فِي ِه‬ ِ ُ‫ف ِبالقُ ْرا َ ِن َو ِبالعُل‬
َ َ‫وم ِه َو َما اَ ْود‬ ُ ‫ص َحا َب ِة َوالتَّا ِبعِينَ َو َم ْن َي ِل ْي ِه ْم َكنُوا اَع َْر‬
َ ‫صا ِل َح ِمن‬ َ َ‫سل‬
َ ‫ف ال‬ َ ‫ا َِّن ال‬
Artinya:
Bahwa semua ulama’ terdahulu dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, dan dan yang
setelahnya, lebih mengetahui al-Qur’an, ilmu, dan segala problemnya.
Asy-Syatibi berpendapat bahwa metode yang diterapkan siapapun yang tidak
pernah digunakan oleh para sahabat dan tabi’in maka metode itu tidak releven
diterapkan dalam penafsiran. Termasuk yang tidak pernah dipraktekkan oleh sahabat
dan tabi’ain adalah tafsir ilmi(saintifik). Oleh karena itu, menurut beliau tafsir saintifik
ini tidak releven dalam tafsir Qur’an. Al-Syathibi berlebih-lebihan pula, sehingga ia
mengatakan bahwa "Al-Quran tidak diturunkan untuk maksud tersebut," dan bahwa
"Seseorang, dalam rangka memahami Al-Quran, harus membatasi diri menggunakan
ilmu-ilmu bantu pada ilmu-ilmu yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa
turunnya Al-Quran. Siapa yang berusaha memahaminya dengan menggunakan ilmu-
ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesat atau keliru dan mengatasnamakan Allah dan
Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak pernah dimaksudkannya." Ulama ini menurut
Qurais Shihab, telah lupa akan perintah untuk memfikirkan ayat-ayatnya tidak hanya
ditujukan kepada sahabat saja tapi juga ditujukan kepada generasi sesudahnya yang
tentunya generasi tersebut cara berfikirnya tidak sama dengan cara berfikirnya para
sahabat, generasi sesudahnya berfikir sesuai dengan perkembangan lingkungan
disekitarnya masing-masing.
Abu Hayyan Al-Andulisi saat mengkritik mufasir Fahrur Razi mengatakan,
tafsir ilmi merupakan bentuk tafsir yang menyimpang dari cakupan ilmu tafsir. Dr. Abd
al-Majid Abdussalam al-Muhtasib, dalam kitabnya Ittijahat at-Tafsir fi al-Ashr al-
Hadis, dengan tegas menolak tafsir ilmi. Menurutnya penafsiran seperti ini merupakan
pemaksaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, dalam pendapatnya ini beliau menilai orang-
orang yang menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan sebenarnya menempatkan
ayat-ayat al-Qur’an pada posisi yang tidak semestinya.
“Saya tidak mengakui (mengingkari) orientasi tafsir Ilmi terhadap Al-Qur’an.
Tidak dibenarkan memaksakan ayat-ayat Al-Qu’ran terhadap ilmu-ilmu kealaman. Saya
tidak setuju kepada orang-orang yang berusaha mengambil teori-teori ilmiyah dari ayat-
ayat Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qu’ran Al-Karim bukanlah kitab ilmu pengetahuan
seperti Kimia, ilmu Atom, Geometri, ilmu Falak, ilmu Fisik, dan lain sebagainya. Tetapi
, Al-Qur’an diturunkan Allah kepada nabi Muhammad S.A.W agar menjadi kitab
hidayah, dan rahmat bagi manusia…”
Adapun kritikan yang paling tajam yang pernah dilontarkan kepada para mufasir
ilmi adalah apa yang telah dilakukan oleh Dr. Mahmud Syaltut dalam kitabnya Tafsir
Al-Qur’an al-Karim, pada bagian muqaddimahnya ia menulis bahawa ada dua segi yang
harus di jauhi atau dibersihkan dalam menafsirkan Al-Qur’an; pertama, menta’wilkan
Al-Qur’an menurut pendirian berbagai aliran mazhab; dan kedua, mentafsirkan Al-
Qur’an atas dasar teori-teori ilmiah. Hal ini (kata Mahmud Syaltut lebih lanjut) karana
Allah SWT tidak menurunkan Al-Qur’an kepada manusia dengan tujuan menyajikan
teori-teori ilmiah, teknologi, yang rumit-rumit dan bermacam-macam ilmu pengetahuan.
Secara sederhana dapat di simpulkan hujjah-hujjah mengapa tafsir ilmi tertolak
adalah sebagai berikut:

1. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab aqidah, syariat, adab dan kitab hidayah. Dan
bukanlah tujuannya kita memperkatakan tentang kajian-kajian ilmiah, tapi cukup hanya
mengarahkan manusia agar melihat dan berfikir. Dan ia tidak bertentangan dengan
hakikat ilmiah.

2. Sesungguhnya aliran ini (yang setuju tafsir ilmi) bisa memalingkan manusia dari
hidayah Al-Qur’an dan tujuannya yang asas dan utama, serta boleh menimbulkan syak
umat Islam terhadap Al-Qur’an.

3. Sesungguhnya teori-teori sains sentiasa berubah dari semasa ke semasa. Apabila kita
sandarkan teori-teori tersebut kepada Al-Qur’an akan membuat Al-Qur’an sendiri
berubah mengikut perubahan tersebut.

4. Dengan tafsiran berbentuk ilmi ini banyak menyebabkan perubahan pada asal bahasa
dan keluar dari balaghah Al-Qur’an.
Sebenarnya, semua hujjah yang telah dikemukakan oleh ulama-ulama yang
menolak tafsir ilmi tidak lebih hanya sekedar ingin menjaga kesucian Al-Qur’an, agar
tidak tercemar dengan segala perubahan yang sentiasa berkisar pada teori-teori sains.

K. PENAFSIRAN TANTAWI
Kita lihat pada hewan lebah. Karena lebah hewan yang disebutkan dalam al-
Quran malahan menjadi nama surat dari surah yang ada di dalam al-Quran. Secara
logika kita berpikir kenapa hewan ini di jadiakn allah sebagai penamaan surah? Menurut
hemat pemkalah salah satu jawabanya adalah ketiga hewan ini mempunyai ke
istimewaan yang bisa manusia mengambil keistimewaan yang di miliki hewan tersebut.
Penejalsan hewan tersebuat antara lain adalah kita mulai dari Hewan lebah: Bagai mana
Allah memberikan kasih sayang kepadanya. Kita lihat yang namanya laba-laba
kebiasaanya mengambil sari pati bunga, padahal dia tidak menyadari bahwa
kecerdasannya untuk membuka bunga lain dari macam-macam bunga, dan tidak
mengetahui kapan buka itu mekar atau tidak, salah satu kasih sayng allah yang di
berikan mengetahui bunga itu mekar pada awal waktu siang serta menyerap kelezatan
terhadab bunga dengak kata lain mengambil sari pati tumbuh-tumbuhan dan kembali
untuk meletakkan apa yang dibawa, yang mengherankan adalah sebanyak itu bunga
lebah tau mana yang baik untuk diambil. Serta manfaat untuk manusia dapat dirasakan
adalah kesegaran alam.
Dalam surat al-Insaan, tiga cakupan yang terdapat didalamnya pertama :
bagaimana Allah menciptakan manusia?akhir surat al-Qiamah sampai firman Allah
sami'an bas}iraa. Kedua: balasan orang-orang yang bersyukur dan orang kafir dan sifat
surga dan neraka dari inna> h{adaina>hu al-sabi>la sampai firman Allah wa ka>na
sa'iyan masykura>. Ketiga perintah nabi Saw dengan sabar, mengingat Allah, tahajjud
di malam hari, dari inna nahnu nazzalna 'alaika al-Quran tanzi>la sampai akhir surat.
Sesuai dengan metode penafsiran tantawi, tantawi menggunakan cara tafsir
secara lafzi, ini ditrerangkan secara mendalam. Salah satu contoh penciptaan manusia
dijelaskan bahwa adam adalah bapak manusia, diciptakan adam 40 tahun dari tin
(tanah), 40 tahun h{ammain masnu>n (tanah liat), 40 tahun s}alsal, maka terciptalah
adam pada 120 tahun.
Terciptanya manusia terdiri dari dua unsur yaitu nabati dan hewan yang masuk
kedalam makanan bapak dan ibu dan air yang di minumnya yang mengandung unsure
10 macam yaitu : oksigen, hedrogen, karbon, auzon, fosfor, botasium, magnesium,
kalsium dan zat besi.
L. PENUTUP
Kehadiran kitab tafsir ini membawa arti yang besar dalam kehidupan ilmiah
umat islam di jaman medern in setelah terjadi stagnasi pemikiran yang melanda umat
Islam. Kalaulah pada awalnya, Syeh T{ant}awi menginginkan adanya kajian yang
menurutnya mampu mengenalkan kita kapada Allah, namun hal itu dapat malupakan
maksud dan tujuan awal dalam menulis tafsinya sehingga sebagian ulama menolak
kehadiran kitab ini.
Maka pada saat kebangkitan ilmu keislaman di abad modern, tafsir al-Qur’an
juga mengalami perubahan sebagai pengaruh induksi ilmiah islam. Hal ini dapat dilihat
dari hasil karya para ulama yang menafsirkan al-Qur’an pada abad modern ini. Salah
satu kitab tasir yang mengalaminya adalah al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Adhim
merupakan karya besar dari Syekh T{ant}awi Jauhari.

Daftar Pustaka

Alim, Sahirul, et.al Islam Untuk Disiplin Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi, Departemen Agama
RI, Jakarta, 1995.
al-Naqa>s, Rija'>, dalam majalah al-mans}ur, tanggal 3 Novmber 1972.
al-Zahabiy, Muhammad Husain, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, Cairo : Da>r al-Hadist, 2005.
Imam Ghazali, Jawahir al-Quran, Bairut : Dar Ihyaa al-Ulum, , 1991.
Jādū, ʻAbd al-ʻAzīz. Syeh T{ant}awi Jauhari: Dirasatu wa Nus}us}, Dar Ma'arif 1980.
Jauhari, T{ant}awi, Dira>sah wa Nus}us}.
Jauhari, T{ant}awi, Muqadimah al-Jawa>hir fi Tafsir al-Quran, Mesir : Mus}t}afa al-Babi al-H}alabiy
wa>wala>h, jilid I, 2.
M. Ali al-lyazi , Al-Mufassirun Hayatuhum wa Manhajuhum 1373 H.
Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, al-Qahira: Dar al-Manaar, 1947.
Muhammad bala>siy, Majalah al-Da>'iy , Februari 2011
Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur'an, 1999.
Su'ud ibn Abdul Falah al-Fanisan, Ikhtiiaf al-Mufassinn, Asbabuhu wa atsaru , 1997