Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PENYAKIT AKIBAT KERJA

“GANGGUAN NEUROLOGI DAN BEHAVIOR DI TEMPAT KERJA”

Dosen Pengampu :
Dr. dr. Fauziah Elytha, M.Sc

Oleh:
KELOMPOK 3
Riska 1511211022
M. Ibnu Dzaky 1511211043
Ariffaldy Asdafi 1511211061
Helmidawati 1511211070
Amelia rahmana 1511212015
Ogid Meisi Ludipa 1511212053
Diyanah Fadhilah 1611216001
Haznuria Septina 1611216022
Yanisa Anasthasia 1611216033
Suci Fitria 1611216049
Ulfiatmi putri arma 1611216073

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan

rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah

tentang Gangguan Neurologi Dan Behavior di Tempat Kerja ini dengan baik

meskipun banyak kekurangan didalamnya. Terima kasih kami ucapkan kepada ibu Dr.

dr. Fauziah Elytha, MSc selaku dosen pengampu mata kuliah Penyakit Akibat Kerja

yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita mengenai Gangguan Neurologi dan Behavior di

Tempat Kerja. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat

kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,

saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan

datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami

sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya, kami mohon maaf apabila

terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran

yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Padang, 5 Februari 2018

Kelompok

i
DAFTAR ISI

halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................................1

1.3 Tujuan .................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................3

2.1 Konsep Behavior .................................................................................................3

2.1.1 Faktor yang mempengaruhi perilaku ...........................................................3

2.2 Konsep Behavior Kerja .......................................................................................3

2.2.1 Definisi ........................................................................................................3

2.2.2 Pentingnya perilaku kerja ............................................................................4

2.2.3 Indikator perilaku kerja ...............................................................................5

2.2.4 Faktor-faktor perilaku kerja .........................................................................8

2.2.5 Perilaku kerja menurut gender .....................................................................8

2.3 Neurological Disorder .........................................................................................9

2.3.1 Definisi Neurological Disorder ...................................................................9

2.3.2 Jenis Kelainan Neurologi.............................................................................9

2.3.3 Contoh Penyakit Kelainan Neurologi ........................................................10

2.4 Behavior Disorders ...........................................................................................12

2.4.1 Definisi Behavior Disorders ......................................................................12

2.4.2 Faktor Penyebab Behavior Disorder..........................................................13

2.4.3 Contoh Behavioral Disorders ....................................................................14

ii
BAB III PENUTUP .........................................................................................................16

3.1 Kesimpulan .......................................................................................................16

3.2 Saran .................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit neurologi akibat kerja adalah penyakit mengenai sistem syaraf pusat
dan perifer yang penyebabnya antara lain adalah trauma, gangguan vaskuler,
infeksi, degenerasi,keganasan, gangguan metabolisme, dan intoksikasi yang
bermanifestasi berupa keluhan-keluhan subjektif seperti nyeri, rasa berputar,
kehilangan keseimbangan, penglihatan kabur/double,gangguan kognitif (atensi,
bahasa, kalkulasi, memory) den gangguan emosi. Dan keluhan objektif berupa
gangguan fungsi sistem motorik, sistem sensorik, sistem autonom. Sedangkan
Behavior Disorders (gangguan tingkah laku) adalah pola tingkah laku yang
berulang dan menetap dimana terjadi pelanggaran norma-norma sosial dan
peraturan utama setempat. Gangguan tingkah laku tersebut mencakup perusakan
benda, pencurian, berbohong berulang-ulang, pelanggaran serius terhadap
peraturan, dan kekerasan terhadap hewan atau orang lain.

Menurut Geller (2001), faktor perilaku merupakan aspek manusia dan


faktor tersebut lebih sedikit diperhatikan dari faktor lingkungan. Perilaku
tidak aman (unsafe behavior) merupakan penyebab dasar pada sebagian
besar kejadian hampir celaka dan kecelakaan di tempat kerja. Oleh karena itu,
perlu dilakukan observasi mendalam terhadap kalangan pekerja mengenai
perilaku kerja tidak aman.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:

1. Bagaimana konsep behavior kerja?

2. Apa yang dimaksud dengan neurologi disorders?

3. Apa saja jenis kelainan neurologi?

4. Apa saja contoh penyakit neurologi?

1
5. Apa yang dimaksud dengan behavior disorders?

6. Apa faktor penyebab behavior disorders?

7. Apa saja contoh behavior disorders?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui konsep behavior kerja.

2. Untuk mengetahui defenisi neurologi disorders.

3. Untuk mengetahui jenis-jenis kelainan neurologi.

4. Untuk mengetahui contoh penyakit neurologi.

5. Untuk mengetahui defenisi behavior disorders.

6. Untuk mengetahui faktor penyebab behavior disorders.

7. Untuk mengetahui apa saja contoh behavior disorders.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Behavior
Skinner (1938) merumuskan bahwa perilaku merupakanrespons/reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar)(Notoatmodjo, 2005).Menurut
Munandar (2001) dalam The Psychology of Safety Handbook, perilaku mengacu
pada tindakan seseorang yang dapat diamati oleh oranglain.Malott dalam buku
Notoatmodjo (2007) mengemukakan bahwa perilaku merupakan sesuatu yang
dilakukan atau dikatakan oleh seseorang,sebagai sebuah aktivitas baik aksi
maupun reaksi (Mc Sween, 2003).

2.1.1 Faktor yang mempengaruhi perilaku

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehan yaitu :

a. Faktor dasar (predisposing factor), mencakup pengetahuan, sikap, kebiasaan,


kepercayaan, norma sosial dan unsur lain yang terdapat dalam diri individu di
dalam masyarakat yang terwujud dalam motivasi;

b. Faktor pendukung (enabling factor), mencakup sumber daya atau potensi


masyarakat, terwujud dalam tersedianya alat dan fasilitas serta peraturan;

c. Faktor pendorong (reinforcing factor), mencakup sikap dan perilaku dari


orang lain yang terwujud dalam dukungan sosial. (Green, 2000)

2.2 Konsep Behavior Kerja

2.2.1 Definisi

Perilaku kerja merupakan tindakan dan sikap yang ditunjukkan oleh orang-
orang yang bekerja.

3
1. Perilaku Kerja menurut Bond and Meyer (1987)
Perilaku kerja yaitu kemampuan kerja dan perilaku-perilaku dimana hal
tersebut sangat penting di setiap pekerjaan dan situasi kerja.
2. Perilaku Kerja menurut Robbins (2002)
Perilaku kerja yaitu dimana orang-orang dalam lingkungan kerja dapat
mengaktualisasikan dirinya melalui sikap dalam bekerja. (Robbins
menekankan pada sikap yang diambil oleh pekerja untuk menentukan apa
yang akan mereka lakukan di lingungan tempat kerja mereka).
3. Definisi yang lain menyebutkan bahwa perilaku kerja merupakan
kemampuan kerja dan perilaku-perilaku darai para pekerja dimana mereka
menunjukkan tindakan dalam melaksanakan tugas-tugas yang ada di
tempat mereka bekerja.

2.2.2 Pentingnya perilaku kerja

Kerberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ternyata ditentukan oleh


perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku
kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Oleh karena itu
diupayakan untuk membentuk perilaku kerja yang konsisten dan positif. Menurut
Sinamo (2002), ada delapan paradigma di tingkat perilaku kerja yang sanggup
menjadi basis keberasilan baik di tingkat pribadi, organisasional maupun sosial,
yaitu :

a. Bekerja tulus,

b. Bekerja tuntas,

c. Bekerja benar,

d. Bekerja keras,

e. Bekerja serius,

4
f. Bekerja kreatif,

g. Bekerja unggul, dan

h. Bekerja sempurna.

2.2.3 Indikator perilaku kerja

1. Indikator menurut kamus Oxford (2000)

Indikator menurut kamus Oxford is a sign that shows you what something
is like or how situation is changing. Yang artinya yaitu suatu petunjuk atau tanda
yang menunjukkan bagaimanakah dengan suatu keadaan atau bagaimana suatu
situasi berubah-ubah. Di dalam perilaku kerja juga terdapat indikatornya, dimana
indikator tersebut juga merupakan hal-hal yang dapat mengukur sampai sejauh
mana perilaku kerja dapat berperan di tempat kerja.

2. Indikator perilaku kerja menurut Anthony & Jansen (1984)

a. Getting along (keramahtamahan)

Menurut kamus idiomatic NTC’s (1993) yaitu (for people or other creatures)
to be amiable with one another. Yang artinya ramah terhadap satu dengan yang
lainnya. Contohnya yaitu seperti hubungan dengan antar para pekerja dan atasan.
Hal ini berarti bahwa suatu hubungan yang ramah dapat mempengaruhi perilaku
kerja antar pekerja dan atasan.

b. Doing the job(melakukan pekerjaan, contoh : kualitas pekerjaan)

Melakukan suatu pekerjaan harus dilakukan dengan baik agar dapat mengukur
suatu kualitas pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.

c. Being dependable (dapat diandalkan, dalam hal ini contohnya ketepatan waktu)

5
Menurut Oxford Dictionary “being dependable” is that can be relied on to do
what you want or need. Yang artinya seorang pekerja harus bisa diandalkan.
Contohnya seperti ketepatan waktu untuk mask kerja atau menghadiri rapat.

3. Indikator kerja menurut Griffiths (1973), yaitu :

a. Social relationships—response to supervision

Seorang pekerja harus memiliki hubungan sosial yang baik dengan pekerja
yang lain, dimana masing-masing pekerja harus mengawasi rekan kerja agar
bertindak di jalan yang benar dan mengingatkan apabila ada kesalahan.

b. Task competence (kemampuan untuk melakukan pekerjaan)

Ada tanggung jawab dan kesadaran dari para pekerja dalam melaksanakan
seluruh tugasnya karena mereka memiliki kemampuan untuk melakukan hal
tersebut.

c. Work motivation (motivasi kerja)

Adanya kemauan untuk bekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu

d. Initiative—confidence (inisiatif—percaya diri)

Menurut kamus Oxford (2000) initiative is the ability to decide and act on
your won without waiting for somebody to tell your what to do. Sedangkan
menurut kamus Oxford (2000) confidence is a belief in your own ability to do
things and be succesfull. Keduanya dapat diartikan yaaitu dalam perilaku kerja
yang baik harus memupuk rasa percaya diri yang penuh serta mengambil inisiatif
bahwa semua pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan jobdesc yang ada.

4. Indikator perilaku kerja menurut Bryson et al (1997)

a. Cooperatives—social skills (kemampuan berhubungan sosial)

Menurut Oxford (2000) cooperativeness is involving doing something


together or working together with others towards a shared aim. Yang memiliki arti

6
yaitu mengandalkan kemampuan sosial untuk bekerjasama dengan antar para
pekerja untuk mencapai suatu tujuan bersama.

b. Work quality (kualitas pekerjaan)

Para pekerja harus menunjukkan kualitas kerja yang baik agar dapat diakuai
dan dihargai.

c. Work habits (kebiasaan kerja)

Kebiasaan kerja dihubungkan dengan perilaku yang positif dan negatif di


tempat kerja.

d. Personal presentation (pengendalian diri, contoh : tidak menjadi mudah marah


dan agresif dan tidak berperilaku aneh). Di tempat kerja harus dapat
mengendalikan diri dan menunjukkan pribadi yang profesional dalam bekerja.

Indikator perilaku kerja menurut Tsang & Chiu (2000) yaitu :

a. Social behavior (hubungan sosial)

Dapat menunjukkan perilaku sosial yang sesuai dengan aturan dan norma
yang ada di tempat kerja.

b. Vocational skill (keahlian atau jemampuan berdasarkan kejuruan)

Menurut Oxford (2000) vocational skills is connected with the skills,


knowledge. That you need to have in order to do a particular job. Yang artinya hal
tersebut berhubungan dengan kemampuan atau pengetahuan. Dan hal tersebut
dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan. Contohnya yaitu kemampuan
kejuruan memasak dibutuhkan oleh seorang koko sehingga keahlian memasaknya
yang sesuai dengan kejuruan yang diambil diperlukan di tempat ia bekerja.

c. General behavior (perilaku umum)

7
Perilaku umum yang ditunjukkan akan dapat diketahui untuk mendeteksi
perilaku kerja para karyawan

2.2.4 Faktor-faktor perilaku kerja


1. Lingkungan kerja

Di dalam suatu lingkungan kerja harus benar-benar memberikan rasa aman


bagi para pekerja. Para pekerja atau karyawan menaruh perhatian yang besar
terhadap lingkungan kerja, baik dari strategi kenyamanan pe\ribadi maupun
kemudahan untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Lingkungan fisik yang
aman, nyaman, bersih dan memiliki tingkat gangguan minimum sangat disukai
oleh para pekerja.

2. Konflik

Konflik dapat konstruktif atau destruktif terhadap fungsi dari suatu kelompok
atau unit. Tapi sebagian besar konflik cenderung merusak perilaku kerja yang baik
karena konflik akan menghambat pencapaian tujuan dari suatu pekerjaan.

3. KomunikasiDalam memahami perilaku kerja, komunikasi merupakan salah satu


faktor terpenting yang berperan sebagai penyampaian dan pemahaman dari sebuah
arti.

2.2.5 Perilaku kerja menurut gender

Menurut Gray (2002), mengemukakan bahwa antara pria dan wanita harus
mengetahui bahwa perbedaan gender bisa mempengaruhi perilaku kerja mereka.
Tanpa disadari oleh kaum pria dan wanita, banyak ucapan atau perilaku yang
dianggap wajar oleh masing-masing gender dapat menyinggung perasaan dan
harga diri lawan jenis. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan konflik yang ujung-
ujungnya juga dapat mempengaruhi perilaku kerja serta mengganggu suasana
kerja yang nyaman.

Gray (2002) untuk menciptakan perilaku kerja yang baik harus memperhatikan :

8
1. Komunikasi pria dan wanita,

2. Perasaan di tempat bekerja,

3. Menetapkan batasan dalam tiap perilaku kerja,

4. Mengingatkan berbagai perbedaan yang ada

Perilaku kerja antara pria dan wanita tidak sama. Dalam memahami perilaku
kerja menurut gender dibutuhkan komunikasi dan pemahaman yang penuh,
sehingga tidak mengakibatkan konflik dalam bekerja.

2.3 Neurological Disorder

2.3.1 Definisi Neurological Disorder

Penyakit neurologi akibat kerja adalah penyakit yang mengenai sistem


syaraf pusat dan perifer yang penyebabnya antara lain adalah trauma, gangguan
vaskuler, infeksi, degenerasi,keganasan, gangguan metabolisme, dan intoksikasi
yang bermanifestasi berupa keluhan-keluhan subjektif seperti nyeri, rasa berputar,
kehilangan keseimbangan, penglihatan kabur/double,gangguan kognitif (atensi,
bahasa, kalkulasi, memory) den gangguan emosi. Dan keluhan objektif berupa
gangguan fungsi sistem motorik, sistem sensorik, sistem autonom.

2.3.2 Jenis Kelainan Neurologi

1. Kelainan motorik
Gerakan yang tidak normal/ketidakwajaran gerakan otot seperti lemas,
lumpuh, kekakuan, gerakan yang tidak dapat dikendalikan, kelainan gaya berjalan,
dan kejang otot. Tidak dapat menelan/berbicara.

2. Kelainan sensibilitas
Perasaan pada kulit, selaput dan otot (rasa sakit, suhu, perabaan, dan
posisi) yang bertentang dengan pengindera khusus seperti alat penglihatan,

9
pendengaran, keseimbangan, cinta rasa dan pembau, halusinasi, sakit kepala, dan
kejang.

3. Kelainan otonom

Gangguan seperti Hipotensi ortostatik, Intoleransi ortostatik, Sindrom


takikardia ortostatik, Sinkop (pingsan), gangguan gerakan usus, konstipasi,
disfungsi ereksi dan gangguan kandung kemih neurogenic

2.3.3 Contoh Penyakit Kelainan Neurologi


1. Stroke (Cerebrovascular accident ( CVA ) atau Cerebral apoplexy ), adalah
kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pecahnya pembuluh darah otak.
2. Poliomielitis, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang
menyerang neuron-neuron motoris sistem saraf ( otak dan medula spinalis
). Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus
(PV).
3. Migrain, adalah nyeri kepala berdenyut yang disertai mual dan muntah
yang terjadi akibat adanya hiperaktivitas impuls listrik otak yang
meningkatkan aliran darah di otak dan mengakibatkan terjadinya
pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi (peradangan).
4. Parkinson, penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya neurotranslator
dopamin pada dasar ganglion dengan gejala tangan gemetaran sewaktu
istirahat (tetapi gemetaran itu hilang sewaktu tidur), sulit bergerak,
kekakuan otot, otot muka kaku menimbulkan kesan seolah-olah bertopeng,
mata sulit berkedip dan langkah kaki menjadi kecil dan kaku.
5. Transeksi , kerusakan atau seluruh segmen tertentu dari medula spinalis.
Misalnya karena jatuh, tertembak yang disertai dengan hancurnya tulang
belakang.
6. Neurasthonia, (lemah saraf) , penyakit ini ada karena pembawaan lahir,
terlalu berat penderitanya, rohani terlalu lemah atau karena penyakit
keracunan.

10
7. Neuritis, radang saraf yang terjadi karena pengaruh fisis seperti patah
tulang, tekanan pukulan, dan dapat pula karena racun atau defisiensi
vitamin B1, B6, B12.
8. Amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat atau
mengenali kejadian yang terjadi dalam suatu periode di masa lampau.
Biasanya kelainan ini akibat guncangan batin atau cidera otak.
9. Cutter, kelainan di mana penderitanya selalu melukai dirinya sendiri pada
saat depresi, stres, atau bingung.
10. Alzheimer, atau pikun, bukan penyakit menular, melainkan merupakan
sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir
bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga
dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.

11. Ayan atau Epilepsi, penyakit karena dilepaskannya letusan-letusan listrik (


impuls) pada neuron-neuron otak. Epilepsi adalah penyakit saraf menahun
yang menimbulkan serangan mendadak berulang-ulang tak beralasan.
Pada penderita ayan, Sinyal-sinyal yang berhubungan dengan perasaan
penglihatan, berpikir, dan bergerak tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
12. Kelumpuhan atau paralisis adalah hilangnya fungsi otot untuk satu atau
banyak otot. Kelumpuhan dapat menyebabkan hilangnya perasaan atau
hilangnya mobilitas di wilayah yang terpengaruh. Kelumpuhan sering
disebabkan akibat kerusakan pada otak.
13. Leukoensefalopati kurang, contohnya pasien yang terinfeksi HIV.
14. Meningitis adalah radang selaput pelindung sistem saraf pusat (meninges).
Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker,
atau obat-obatan tertentu.

Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK) bidang neurologi ditegakkan


berdasarkan:

1. Anamnesis

11
2. Pemeriksaan fisik :

a. Umum

b. Pemeriksaan Neurologi

3. Pemeriksaan Penunjang Neurologi :

a. Pengukuran sensitivitas getaran.

b. Uji neurofisiologis

c. Elektroensefalografi.

d. Uji psikologis (neuro behavior).

2.4 Behavior Disorders

2.4.1 Definisi Behavior Disorders

Perilaku/behavior adalah kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumber-


sumber di dalam suatu masyarakat atau kelompok akan menghasilkan suatu pola
hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Dalam buku
Notoatmodjo (2007) mengatakan, perilaku adalah salah satu aspek dari
kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam
terhadap perilaku ini.

Perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-


kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restining
forces). Perilaku itu dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua
kekuatan tersebut di dalam diri seseorang sehingga ada kemungkinan terjadinya
perubahan perilaku pada diri seseorang yakni kekuatan-kekuatan pendorong
meningkat, kekuatan-kekuatan penahan menurun, atau kekuatan pendorong
menurun dan kekuatan penahan meningkat (Lewin, 1970).

Behavior Disorders (gangguan tingkah laku) adalah pola tingkah laku yang
berulang dan menetap dimana terjadi pelanggaran norma-norma sosial dan

12
peraturan utama setempat. Gangguan tingkah laku tersebut mencakup perusakan
benda, pencurian, berbohong berulang-ulang, pelanggaran serius terhadap
peraturan, dan kekerasan terhadap hewan atau orang lain. Perilaku manusia dalam
bekerja dapat menciptakan munculnya risiko yang berkaitan dengan keselamatan
kerja. Perilaku yang tidak aman dianggap sebagai hasil dari kesalahan yang
dilakukan baik oleh pekerja yang terlibat secara langsung (Wibisono, 2013).

Menurut Geller (2001), faktor perilaku merupakan aspek manusia dan


faktor tersebut lebih sedikit diperhatikan dari faktor lingkungan. Perilaku
tidak aman (unsafe behavior) merupakan penyebab dasar pada sebagian
besar kejadian hampir celaka dan kecelakaan di tempat kerja. Oleh karena itu,
perlu dilakukan observasi mendalam terhadap kalangan pekerja mengenai
perilaku kerja tidak aman.

Umpan balik mengenai observasi terhadap perilaku telah terbukti sukses


dalam mengurangi perilaku tidak aman para pekerja. Umpan balik yang diberikan
dapat berupa lisan, grafik, tabel dan bagan, atau melalui tindakan perbaikan.

Menurut Tarwaka (2015), setiap organisasi perusahaan memiliki


pendekatan yang berbeda-beda dalam penerapan perilaku K3 di tempat
kerjanya, tetapi sebagian besar pendekatan yang digunakan pada prinsipnya
sangat fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan jenis organisasi perusahaan dan
situasi yang terjadi di perusahaan masing-masing.

2.4.2 Faktor Penyebab Behavior Disorder

Faktor penyebab behavioral disorder dapat berupa :

1. Psikobiologik
a. Riwayat genetika
b. Malnutrisi
c. struktur otak yang tidak normal
d. Pengaruh prenatal

13
e. Trauma kelahiran yang berhubungan dengan berkurangnya suplai
oksigen pada janin saat dalam kandungan
f. Penyakit kronis atau kecacatanFaktor keturunan
2. Faktor lingkungan dan kehidupan sosial yang tidak menguntungkan.
3. Dinamika keluarga yang tidak sehat seperti penganiayaan anak dan
disfungsi sistem keluarga
4. Perceraian atau bentuk kekece,aan dalam rumah tangga
5. Gaya disiplin hidup yang tidak sehat

2.4.3 Contoh Behavioral Disorders

1. Attention Deficit Hyperactivity Disorders (ADHD)


ADHD adalah suatu kondisi yang mengganggu kemampuan individu
untuk benar fokus dan untuk mengontrol perilaku impulsive atau mungkin
membuat orang yang terlalu aktif. ADHD lebih sering terjadi
pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Menurut Medical
center wexner di Ohio State University, laki-laki lebih memungkinkan dua
sampai tiga kali untuk mendapatkan ADHD dibandingkan perempuan.

2. Gangguan perilaku emosional


Gangguan perilaku emosional mempengaruhi kemampuan seseorang
untuk menjadi bahagia, mengendalikan emosi mereka dan mempengaruhi
perhatian dlm belajar. Menurut Gallaudet University, gejala gangguan
perilaku emosional meliputi :
a. Tindakan yang tidak pantas atau emosi dalam keadaan normal
b. Kesulitan bela"ar yang tidak disebabkan oleh faktor kesehatan lain
c. Kesulitan dengan hubungan interpersonal, termasuk hubungan dengan
guru dan teman sebaya
d. Perasaan tidak bahagia atau depresi
e. Perasaan takut dan kecemasan yang berhubungan dengan pribadi atau
urusan sekolah

3. Oppositional Defiant Disorders (ODD)

14
ODD adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan sikap bermusuhan,
mudah tersinggung dan tidak kooperatif pada anak-anak. Anak-anak
dengan ODD mungkin dengki atau sengaja mengganggu, dan mereka
umumnya mengarahkan tindakan negatif mereka pada figur otoritas.

4. Anxiety
Kecemasan adalah emosi normal. Tapi bagi sebagian orang kecemasan dapat
mengganggu kehidupan sehari-hari menyebabkan insomnia dan
mempengaruhi kinerja di tempat kerja. Contoh jenis kondisi mental yang
meliputi :
a. Gangguan stres pasca &trauma
b. Gangguan obsesif kompulsif
c. Gangguan kecemasan umum
d. Gangguan panic

5. Obsessive-Compulsive Disorders (OCD)


OCD ditandai dengan ketakutan dan pikiran irasional yang menyebabkan
obsesi, yang mana pada gilirannya menyebabkan dorongan. Penderita
OCD terlibat dalam kompulsif yaitu melakukan perbuatan yang
berulang&ulang meskipun menyadari konsekuensi negatif atau bahkan
sifat yang tidak masuk akal dari tindakan tersebut.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyakit neurologi akibat kerja adalah penyakit yang mengenai sistem syaraf
pusat dan perifer yang penyebabnya antara lain adalah trauma, gangguan vaskuler,
infeksi, degenerasi,keganasan, gangguan metabolisme, dan intoksikasi yang
bermanifestasi berupa keluhan-keluhan subjektif seperti nyeri, rasa berputar,
kehilangan keseimbangan, penglihatan kabur/double,gangguan kognitif (atensi,
bahasa, kalkulasi, memory) den gangguan emosi.

Contoh penyakit kelainan neurologi :

1. Stroke
2. Poliomielitis
3. Migrain
4. Parkinson
5. Transeksi
6. Neurasthonia, (lemah saraf)
7. Neuritis
8. Amnesia
9. Cutter
10. Alzheimer
11. Ayan atau Epilepsi
12. Kelumpuhan atau paralisis
13. Leukoensefalopati kurang
14. Meningitis

Behavior Disorders (gangguan tingkah laku) adalah pola tingkah laku yang
berulang dan menetap dimana terjadi pelanggaran norma-norma sosial dan
peraturan utama setempat. Contohnya :

1. Attention Deficit Hyperactivity Disorders (ADHD)


2. Gangguan perilaku emosional
3. Oppositional Defiant Disorders (ODD)

16
4. Anxiety
5. Obsessive-Compulsive Disorders (OCD)

3.2 Saran
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat, menambah wawasan, dan

memberikan inspirasi bagi pembaca.

17
DAFTAR PUSTAKA

eprints.ums.ac.id/44301/1/Naskah%20Publikasi.pdf hubungan antara perilaku


keselamatan dan kesehatan kerja (k3) diakses pada 04 Februari 2018 pukul 18:20
WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Neurologi diakses pada 04 Februari 2018 pukul
19:00 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik diakses pada 04
Februari 2018 pukul 19:15 WIB
https://www.academia.edu/4691859/FAKTOR-
FAKTOR_YANG_MEMPENGARUHI_PERILAKU_KESELAMATAN_DAN_
KESEHATAN_KERJA_K3_DI_AREA_PENGOLAHAN_PT._ANTAM_Tbk_U
NIT_BISNIS_PERTAMBANGAN_EMAS_PONGKOR_KABUPATEN_BOGO
R_TAHUN_2008 diakses pada 04 Februari 2018 pukul 20:00 WIB

18