Anda di halaman 1dari 3

BAHAN DAN METODE

 Bahan Tanaman. Bahan tanaman berasal dari C. cajucara yang tumbuh di sekitar wilayah
Amazona, Brazil.
 Ekstraksi Minyak Atsiri. Daun dari C. cajucara dikeringkan pada suhu ruang dan dalam bentuk
bubuk kasar. Minyak diperoleh dari hidrodistilasi daun C. cajucara selama 5 jam dengan alat
Clevenger yang dimodifikasi. Yield yang diperoleh adalah 0.4% (dengan berat kering).
 Purifikasi Linalool. Linalool dipurifikasi dengan GC-MS (gas chromatography-mass
spectrometry) dengan menggunakan dua instrumen yaitu HP 6890 gas chromatograph yang cocok
dengan BP-5 fused-silica capillary column dan HP 5973 MSD system. Gas pembawanya adalah
helium (1 ml/min). Indeks retensi diperoleh dengan serangkaian injeksi n-alkana.
 Kultur Parasit. L. amazonensis dalam bentuk promastigote (suatu fase dari protozoa) dijaga dalam
suatu medium segar brain heart infusion pada suhu 26 C.
 Evaluasi MIC. MIC diasumsikan sebagai konsentrasi terendah dari komponen yang digunakan
untuk mencegah pertumbuhan L. amazonensis secara in vitro. L. amazonensis diinkubasi dengan
kehadiran minyak atsiri / linalool murni ( 1 pg/ml sampai 1 mg/ml).
 Makrofag Peritoneal Tikus. Makrofag peritoneal dari tikus diletakkan dalam 0.85% air garam
lalu makrofag yang melekat pada coverslips dicuci dua kali dengan 0.9% air garam dan dikulturkan
selama 24 jam dalam medium kultur.
 Purifikasi Amastigot. Sel utuh prosmatigote L. amazonensis (dari evaluasi MIC) ditambahkan
pada plate wells yang mengandung makrofag peritoneal tikus yang sebelumnya telah dikulturkan.
Diperoleh amastigote yang lalu disuspensikan pada suatu RPMI culture medium untuk diuji
aktivitas antileishmanial nya.
 Aktivitas Antileishmanial. Promastigote atau amastigotes dari L. amazonensis diinkubasi dalam
RPMI culture medium dengan (1) adanya kehadiran linalool murni pada suhu 37 C dan (2) tanpa
kehadiran linalool murni. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengevaluasi ketahanan hidup sel
parasit dengan menggunakan mikroskop elektron .
 Electron Microscopy. Pengamatan di mikroskop menentukan jumlah sel yang hidup. Viabilitas sel
ditentukan dengan rumus: [100-(L2/L1)]x100, di mana L1 adalah persentase control cells hidup
dan L2 adalah persentase treated cells hidup.
Gambar di atas menunjukkan pengaruh minyak atsiri yang kaya linalool (15.0 ng/ml)
terhadap L. amazonensis dalam bentuk promastigote-nya yang diamati melalui mikroskop
transmisi elektron. Gambar A adalah variabel kontrol. Gambar selanjutnya adalah parasit yang di-
treatment dengan linalool selama 5 min (gambar B); 10 min (gambar C), 15 min (gambar D), dan
30 min (gambar E), yang menunjukkan promastigot dengan derajat kerusakan yang berbeda-beda.
Gambar B dan gambar C menunjukkan membran flagella mulai mengalami gangguan; gambar C
dan D menunjukkan pembengkakan mitokondria serta perubahan pada kinetoplast dan nukleus.
Setelah 30 menit dengan kehadiran minyak atsiri yang kaya linalool, parasit akan mati secara
sempurna (gambar E).
Grafik di atas menunjukkan efek dari minyak atsiri yang kaya linalool hasil ekstraksi dari
C. cajucara terhadap interaksi L. amazonensis dengan makrofag. Parasit dan makrofag peritoneal
dari tikus; ada yang diberi dan ada yang tidak diberi 15, 1.5, dan 2.0 mg minyak atsiri per ml, 20
menit sebelum interaksi parasit-makrofag dimulai. Makrofag yang melekat dan telah dikulturkan
serta parasit bebas dibersihkan sekali dan disuspensikan dalam medium kultur segar. Parasit yang
mati dipisahkan dari medium dengan cara sentrifugasi (1000 x g, 5 min) dan promastigot L.
amazonesis yang utuh dan hidup kemudian ditambahkan pada kultur makrofag dalam suatu plate
well.
Indeks asosiasi ditentukan dengan cara light microscopy, dengan 600 sel dalam coverslips
dihitung setelah 90 menit interaksi. Indeks asosiasi dari tiap uji untuk parasit-makrofag yang diberi
minyak atsiri menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dari kontrol (makrofag yang tidak di-
treatment).